Artikel-artikel dari kategori Makanan (halaman ke-1 dari 3)

Kape Barako, Warung Kopi Dadakan di London


Warung kopi yang mungil tapi lengkap. Bisa berlaptop ria segala.

Saya bukan penggemar kopi sejati, tapi senang ke warung kopi. Senang minum kopi racikan bagaimana pun, terutama dengan coklat atau lebih sering disebut moka. Ketika berkunjung ke London, Inggris, baru-baru ini, saya menemukan sebuah warung kopi lucu nan mungil di utara London. Tepatnya di daerah Hampstead, yang bisa diakses dengan tube ke stasiun Hampstead.

Istimewanya warung kopi ini adalah karena ia berada di kotak telepon merah yang ikonik itu. Bagaimana bisa? Sejak kehadiran teknologi seluler, kotak-kotak telepon merah di London yang ikonik itu sudah tidak digunakan sebagai sarana berkomunikasi lagi. Akhirnya, mereka terbengkalai. Isinya kosong. Untungnya, karena menjadi ikon pariwisata, mereka dirawat dengan baik, menjadi ajang foto-foto bagi turis.


Suasana sekitar warung kopi.

Namun, tidak begitu dengan Khalid, seorang wirausahawan Jerman yang menetap di London bersama istrinya yang berasal dari Filipina. Ia melihat peluang bisnis di kotak-kotak telepon yang terbengkalai ini. Mendengar ada perusahaan yang sudah membeli beberapa kotak telepon di daerah tempat tinggalnya di Hampstead, dan menyewakannya kepada siapa saja yang berminat, ia langsung memutuskan untuk berbisnis warung kopi pinggir jalan di kotak-kotak telepon ini. Mirip seperti pedagang kopi keliling di Indonesia, atau yang menjajakan kopi di kios pinggir jalan. Yang menjadikannya unik adalah nilai sejarah dan budayanya.


Tulisan menu sederhana di samping kotak telepon.

Nama “Kape Barako” sendiri diambil dari istilah varietas kopi dari Filipina. Istri Khalid berasal dari Filipina. Ada pun varietas kopi yang digunakan ternyata bukan varietas barako itu sendiri. “Mahal jika diimpor ke sini. Saya pakai nama ini karena istri saya dari Filipina. Namanya keren, jadi kenapa tidak (dijadikan nama warung),” kata Khalid.

Walaupun biji kopinya diambil dari supplier lokal, tetap saja nikmat. Yang membuat lebih nikmat adalah suasana pinggir jalan. Apalagi musim semi yang masih sejuk. Duduk di pinggir jalan melihat orang-orang lalu-lalang.

Ah, kape barako. Nikmat.


Tentang Kopi

Tulisan ini adalah kontribusi dari Arif Widianto, sahabat kami sejak lama yang juga penginisiasi Ransel Kecil. Terima kasih, Mas Arif!

Biji kopi

Minum kopi akan selalu berbeda.

Saya kenal kopi ya kopi murni. Kopi sejati. Asli. Kopi racikan nenek saya.

Biji kopi mentah berwarna hijau itu dipanggang di atas wajan. Setelah itu biji kopi matang digiling halus. Kopi bubuk dimasukkan kaleng. Setiap hari, kakek dan nenek saya bisa bikin kopi asli seperti itu. Ada dua anak beruntung di rumah, saya dan adik, ya, kita boleh cicip kopi.

Kopi gaya orang Jawa biasanya ditambah gula. Manis. Kental. Kopi akan menghangatkan suasana pagi itu sebelum kakek pergi ke sawah. Atau sebelum nenek pergi ke pasar.

Ketika saya mulai bekerja, saat itu baru mulai budaya minum kopi instan.

Kopi bubuk instan, begitu awalnya. Urusan gula harus ditambah sendiri.

Kemudian ada yang membuat kopi susu. Saya ingat agak merasa aneh saat itu, kopi kok dicampur susu? Mana saya anak desa ini gak senang susu. Eh ternyata semua orang suka saja, termasuk saya. Laris.

Varian kopi instan pun beragam: kopi bubuk, kopi dan gula, kopi-susu-gula, kopi-gula-ginseng, kopi-gula-coklat, dan banyak macam lagi. Ada pula kopi instan dalam kaleng, kopi instan botol plastik. Dengan aneka rasa.

Orang kemudian mengenal kopi dingin. Sebelumnya, kopi itu selalu panas.

Semua yang serba instan mungkin dibuat untuk membuat segalanya gampang. Bahkan untuk urusan kopi.

Tak terasa, setelah puluhan tahun, setelah merasuki jutaan rumah, ratusan juta cangkir, milyaran tegukan, kopi instan sudah menjadi budaya.

Gemerisik bungkus plastik. Tinggal sobek. Tuang air panas. Aduk. Jadilah, kopi instan. Kopinya kita, hingga beberapa saat kemudian…

Budaya instan kemudian menghadirkan kedai kopi. Ada kedai kopi murahan hingga kedai kopi mahal.

Kedai kopi bisa hadir dalam bentuk waralaba kedai yang tertata rapi dan cantik di pojok perempatan di depan Sarinah. Kedai kopi bisa maujud dalam remang-remang berbau busuk got dan semerbak sampah di pinggir terminal Pulogadung.

Bersyukurlah Anda yang pernah menikmati kedua sensasi kedai kopi macam itu. Itulah kehidupan. Kehidupan bisa dikenal dari secangkir kopi setiap orang.

Saya lupa berapa kali minum kopi di warung yang menyajikan kopi bungkus seperti itu. Tak terhitung. Semua itu membawa kenangan tersendiri.

Ada saat tengah malam nongkrong makan Indomie telor bersama kawan-kawan kos di Pasar Cideng.

Ada juga saat ketika di Jakarta tak ada angkutan dan mobil di jalan raya. Hanya lalu lalang mobil tentara, ambulan, dan bunyi sirine. Bahkan saya pun bisa berdiri di tengah jalan Thamrin saking sepinya. Tapi masih ada saja penjaja kopi beredar di jalanan. Dari mereka lah dahaga kopi terpuaskan.

Juga ketika saya terjebak di Terminal Tirtonadi Solo dalam perjalanan ke Jombang menumpang bus. Tak ada bus ke Jawa Timur karena jalan rusuh oleh pendukung Bu Mega yang gagal terpilih jadi presiden. Kopi di terminal mengingatkan saya kejadian ketika saya harus balik lagi naik bus ke Jakarta.

Kopi memang kawan yang tepat untuk saat menunggu.

Jadi ingat pula saat minum kopi berdua saat bersama pacar yang kemudian jadi ibunya anak-anak.

Kopi menciptakan kenangan. Atau kenangan tercipta karena kopi?

Hingga kemudian, saya, dan juga banyak orang lain, kembali ingat bahwa negara ini ada produsen kopi berkualitas.

Kalau kita punya kopi berkualitas, kenapa kita hanya merasakan gula berasa kopi? Karena saking manisnya. Atau kenapa pula hanya puas dengan kopi berasa jagung? Meski sudah diberi banyak tulisan tentang “murni”, “asli”, dll.

Hanya dari kedai kopi lah kita berharap bisa mendapat kopi bermutu. Ya, memang tidak semua kedai kopi. Mayoritas kedai kecil menjual kopi instan. Tapi saya pernah mencicipi kopi asli, khas, kuat, diracik secara tubruk di sebuah kedai pinggir jalan di sebuah kota kecil (lupa di mana!). Beberapa kedai kopi mahal menyajikan varian kopi berkualitas dari lokal hingga asing.

Eh, omong-omong kopi mahal, kopi mahal pertama saya cicipi di kota Las Vegas.

Saya pernah berlagak demikian. Jadi tuan berkantong tebal minum kopi di kedai mahal. Tidak sepenuhnya ingin berlagak sih, tapi keadaan memaksa demikian.

Saya baru kenalan dengan anak Venezuela ini. Saat itu saya tak bisa tidur karena jetlag. Tampaknya dia juga demikian, entah karena apa. Saat itu sudah lewat tengah malam. Kami ketemu di tengah jalan, dan kebetulan ada kedai kopi itu, Saya ajak kawan ini. Perlente dan ganteng anaknya. Hush, jangan curiga macam-macam. Bayangkan Marlon Brando muda ketemu Rano Karno muda, kira-kira begitulah wajah dua orang di kedai itu, tak bisa dibayangkan…

Kami berdua dari negara miskin. Wajar dong sekali-kali ngopi, di Amerika lagi. Ingat pesan istri saya ini, kalau ingin merasakan kemewahan memuaskan mulut dan perut, cicipi makanan atau minuman di tempat makanan itu berasal. Ingin sushi, ya nanti makan di Jepang. Ingin kopi Starbucks, jadi wajar dong di Amerika. Begitulah argumentasi pikiran saya.

Saya bayar $4 untuk secangkir kopi hangat di kedai berlogo hijau itu. Saya kira relatif tidak mahal kalau makanan cepat saji pun dijual seharga $7-$10. Hampir tiap hari makan di restoran cepat saji, sebab itu makanan termurah. Tidak ada warung pojok yang jual nasi bungkus di negeri Amerika. Harga kopi itu relatif murah. Relatif untuk situasi saat itu.

Itulah kopi pertama saya di Starbucks. Bahkan saya lupa bagaimana rasa kopinya.

Secangkir kopi

Kedai kopi yang awalnya murni urusan jual beli kopi, saat ini jadi ranah publik. Tempat untuk bertemu dan bikin janji. Mungkin itulah mereka berani jual lebih mahal.

Kopi instan dan kedia kopi menawarkan budaya instan. Segala yang instan awalnya dibuat sebagai pengganti. Bila bepergian, kita pasti repot bila harus membuat kopi sendiri, maka dibuatlah kopi instan seperti itu. Ironisnya, budaya kopi instan justru menjadi gaya minum kopi massif. Hingga gaya ngopi di rumah pun menjadi budaya kopi instan. Industri punya peran besar dalam hal ini. Tak tak sepenuhnya salah mereka. Kita sendiri yang terlalu terlena. Atau kita sendiri juga menikmatinya.

Konyolnya, produk kopi instan dari dua perusahaan kopi terbesar di Indonesia saat ini sudah menyasar pasar negara lain seperti Malaysia dan bahkan higga Afrika sana.

Tapi jangan lupa, negeri kita mempunya kopi berkualitas. Beragam varian rasa dari seluruh nusantara. Ragam kopi ini, bila dibikin sendiri di rumah, seperti yang dilakukan nenek saya dulu, pasti jadi pengalaman minum kopi tak terlupakan dan tidak mahal.

Kopi Arabika 1.000 gram berkualitas cukup bagus bisa kita beli seharga Rp120.000, termasuk ongkos kirim. Bila dicampur kopi Robusta lokal, biaya itu bisa lebih murah lagi. Katakanlah kita memakai 8 gram biji kopi untuk satu cangkir, sejumlah kopi tadi cukup untuk membuat sekitar 125 cangkir. Ingat 8 gram kopi bisa jadi sudah terlalu “kuat” bagi sebagian orang. Jika satu bungkus kopi instan dijual seharga paling murah Rp1.000, maka kita perlu dana Rp 125.000 untuk membuat 125 cangkir kopi. Di luar gula, bila kita memang suka, dana yang kita keluarkan hampir sama. Anda bisa mencicipi aneka kopi dari Aceh, Jawa, Toraja, Papua, Flores, dan lain-lain. Dengan kualitas dan rasa yang jauh berbeda!

Ada kopi yang pahitnya minta ampun. Ada yang diselingi asam menyakitkan perut, bila Anda tak cocok. Ada pula aneka rasa buah-buahan, coklat, juga aroma sekitar kopi yang bisa masuk ke rasa kopi. Bahkan ada satu jenis kopi asing dari Afrika yang punya tiga rasa berbeda ketika baru masuk mulut, ketika kita hisap di dalam rongga mulut, dan setelah kopi masuk tenggorokan. Sensasi ngopi tak akan sama.

Ah, membahas kopi aja jadi panjang lebar begini. Tapi membahas kopi rasanya tak akan pernah selesai.

Karena terkenalnya kopi sebagai minuman kaum muslim, Paus Pope Clement VIII konon ditekan sejawatnya untuk mendeklarasikan sebagai “Temuan Pahit Setan”. Setelah mencicipinya, konon katanya Paus berkata, “Minuman setan ini begitu lezat. Kita harus mencurangi Setan dengan membaptisnya”. Hehehe, ada-ada saja, anggap saja cerita hiburan.

Kita pergi ke kedai kopi bila memang ada keperluan. Atau, bila suasana tidak mendukung dan perlu tendangan kafein, kadang bikin kopi instan juga tak masalah. Lalu ingatlah saat-saat memilih varian kopi, suara gilingan menghancurkan biji kopi, menunggu tetesan air panas merayu bubuk kopi agar menyumbangkan aroma dan rasanya, hingga kemudian siap satu cangkir kopi hitam. Kemudian saat duduk sendiri, bersama kawan, atau bersama orang yang kita cintai, masuknya rasa pahit, asam, aroma rempah, buah-buahan, coklat, dan ragam rasa lainnya merasuk ke dalam otak kita. Seolah ingin mengatakan dunia begitu berwarna. Pahit, memang. Tapi kita akan selalu menikmatinya.

Pada akhirnya minum kopi adalah merasakan pengalaman yang berbeda.


Bunga Rampai: Nostalgia Penuh Rasa

Bagian belakang yang menawan
Bagian belakang yang menawan.

Sabtu kemarin kami akhirnya mencoba makan siang di Bunga Rampai, rumah makan fine dining dengan spesialisasi menu Indonesia di bilangan Menteng, tepatnya di depan Jakarta Eye Center (JEC). Tempatnya dari luar sungguh penuh nostalgia: rumah klasik dari era kolonial, kami perkirakan, bentuknya hanya sedikit berubah setelah direnovasi. Barangkali, dulu rumah ini adalah tempat tinggal para ningrat atau pegawai Belanda.

Ketika kami datang pukul 11 pagi, parkir masih sepi. Tentu saja, tinggal di Jakarta, parkiran selalu menjadi masalah. Untung saja pada hari itu kami naik Uber, karena mobil lagi di-servis.

Janis tampak sangat menikmati area yang luas!
Janis tampak sangat menikmati area yang luas!

Ketika masuk, suasana dalamnya luar biasa nyaman dan cantik. Tidak pretensius sama sekali, seperti beberapa restoran yang mengaku Indonesia, tapi interiornya sedikit memaksa dengan menambah sangkar burung atau pintu gebyok di sudutnya. Tidak, Bunga Rampai tidak seperti itu. Cantik, elegan dan tidak berusaha menjadi Indonesia. Biasa saja. Ada elemen klasik Eropa di sana-sini. Bersih mengkilat. Pendingin udara yang merata sejuknya membuat suasana menjadi semakin nyaman untuk berbincang-bincang.

Sajian menu di sini sangat bervariasi. Kami sampai bingung dibuatnya. Seperti restoran fine dining lain, selalu ada appetizer, main course dan dessert, tetapi, lebih dari itu, ada juga kategori spesifik lain seperti sajian berbasis nasi, sajian berbasis mi, salad, daging, poultry, ikan sampai specialty.

Elegan, tanpa memaksakan diri
Elegan, tanpa memaksakan diri.

Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang
Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang.

Nama-nama sajiannya pun menggugah kenangan dan selera makan secara bersamaan. Siapa yang tidak akan tertarik dengan “Putik Sari Dua Rasa”, “Sate Sekar Sari” atau “Sekoteng Anggrek Bulan”? Tidak terlalu berlebihan, tetapi tetap terdengar cantik.

Beberapa makanan yang kami coba
Beberapa makanan yang kami coba.

Harganya terhitung mahal, tetapi untuk kunjungan beberapa bulan sekali atau setahun sekali dengan keluarga, semua jadi terbayar. Terima kasih, Bunga Rampai. Semoga kau tetap bisa merangkai warisan kuliner Indonesia sampai kapan pun.


Minum Cantik di Brunetti, Tanglin, Singapura

Sejak ke Melbourne pada Maret lalu, kami sekeluarga kesengsem Brunetti, bakeri/patiseri yang berasal dari Carlton, sebuah wilayah di Melbourne. Konsepnya adalah “Italian pasticceria“. Intinya, patiseri ala Italia. Waktu di Melbourne, kami diundang Iliyas, teman dari teman kami, Carol, untuk makan siang di sana. Benar saja, pilihan kue, gelato, kopi, roti isi dan salad-nya menggugah selera.

Pintu masuk utama Brunetti di Tanglin Mall
Pintu masuk utama Brunetti di Tanglin Mall.

Interior
Interior kafe.

Mosaik di lantai yang sangat cantik di pintu masuk
Mosaik di lantai yang sangat cantik di pintu masuk.

Setelah googling pada suatu malam soal Brunetti, kami sadari ternyata Brunetti punya cabang di Singapura. Dengan semangat membara, kami impulsif membeli tiket ke Singapura dua minggu kemudian. Ya, sebenarnya, ada acara lain juga, tapi sekalian kan tidak ada salahnya ya?

Kue stroberi yang berbentuk seperti buahnya
Kue stroberi yang berbentuk seperti buahnya.

Ketika baru buka, petugas masih menata kue-kue di etalase
Ketika baru buka, petugas masih menata kue-kue di etalase.

Tempat duduk favorit kami ada di luar
Tempat duduk favorit kami ada di luar.

Letaknya di Tanglin Mall, di persimpangan Grange Rd dan Tanglin Rd. daerah yang berbatasan langsung dengan kawasan Orchard yang terkenal itu. Lingkungannya sepi, malnya juga sepi, walau dekat dengan Orchard.

"Pameran" gelato yang begitu menggoda...
“Pameran” gelato yang begitu menggoda…

Brunetti sendiri kalau di Indonesia mungkin mirip dengan Harvest Cakes, tapi mungkin tidak ada kue keringnya.

Untuk ke Brunetti di Tanglin Mall, silakan naik bis no. 7, 77, 106, 111, 123 dan 174, langsung dari seberang stasiun MRT Orchard. Cari Orchard Parksuites dan seberangi jalan, dan naik dari halte itu. Gampangnya, Uber atau taksi ke sana.

Untuk ngemil kue dan minum kopi atau teh, siapkan anggaran S$30-40 (Rp300.000 – Rp400.000) untuk dua orang, karena satu kue bisa berharga S$8-12 (Rp80.000 – Rp120.000).

Janis dan Lintang menunggu minuman dan kue
Janis dan Lintang menunggu minuman dan kue.




Menurut kami, rasanya masih lebih enak di Melbourne, apa mungkin terpengaruh suasananya? Tapi, kelebihan Brunetti di Singapura adalah tidak seramai di Australia dan kursi-kursi di bagian luar suasananya lebih enak dengan angin semilir yang menambah nikmatnya kopi atau teh sore.

Kaunter kopi
Kaunter kopi dan minuman lain.

Pear and Cheese Crumble
Pear and Cheese Crumble, favorit kami.

Latte dan iced chocolate
Latte dan iced chocolate.

Saat itu, kami tidak makan besar, tapi mereka juga menjual makanan utama/pembuka seperti pasta, pizza dan sup.

Alamat & Kontak

Brunetti
163 Tanglin Rd, Tanglin Mall #01-35,
Singapore 247933
Telepon: +65 6733 9088
Jam buka: 09:00 – 21:00


Sarapan Mengesankan di Pinggir Rel

Satu-satunya pengalaman makan di pinggir rel yang saya punya di Indonesia adalah Bakso Presiden di Malang. Baksonya lumayan, suasananya juga cukup nyaman walau selang beberapa waktu kita harus rela “berangin-angin” seperti mau terbang karena kereta lewat tepat di samping kuping kita.

Di Melbourne, ada tempat jajan serupa, tapi untungnya, bukan di rel kereta api, tapi di pinggir rel tram. Adalah di salah satu sudut Albert Park, sebuah stasiun tram tua yang sudah direnovasi, dan fungsinya sebagai stasiun seutuhnya sudah diganti dengan sebuah kafe mungil bernama Mart 130.

Di Dalam Kafe
Interior kafe.

Papan Marka Stasiun Middle Park
Papan marka Stasiun Middle Park.

Penampakan Kafe dari Luar
Penampakan kafe dari luar.

Pintu Masuk ke Kafe
Pintu masuk ke kafe, yang juga difungsikan sebagai peron.

Ruang Makan di Teras
Ada ruang makan di teras belakang juga! Menghadap taman!

Kami tahu kafe ini dari sebuah review blog, dan karena bingung mau makan di mana, kami putuskan pergi ke tempat ini. Tempat ini menyajikan makan brunch dan makan siang, sehingga buka hanya dari pukul tujuh pagi hingga tiga petang.

Hampir semua comfort food untuk sarapan, brunch dan makan siang ada di sini. Bayangkan roti bakar, oats, grains, telur, pancake, buah-buahan sampai pide, pizza ala timur tengah yang bentuknya seperti wajik itu. Urusan kopi juga ada, juga chai latte dengan bonsoy dan madu (hm!), lassi stroberi, mangga dan tak lupa jus penambah stamina.

Scrambled Egg on Toast
Scrambled egg on toast.

Bircher Muesli
Bircher muesli. Salah satu yang terenak yang pernah saya makan.

Setelah enam hari pertama yang hiruk-pikuk dan sibuk, kami putuskan untuk memulai hari ini dengan bersantai di tempat yang jauh dari keramaian sambil menikmati pagi. Pilihan kami ternyata tepat. Di Mart 130, tidak ada orang lain lalu-lalang, karena memang letaknya agak jauh dari jalan raya dan pusat bisnis, lalu di sebelah timurnya ada taman yang besar (Albert Park), yang biasa dipakai untuk Formula 1. Saat itu tidak ada Formula 1, jadi taman tampak sepi.

Di Dalam Tram
Di dalam tram.

Perjalanan ke kafe ini cukup panjang. Kami mulai dari Jolimont Terrace di timur Melbourne dengan mengambil kereta atau tram ke Southern Cross, setelah itu lanjut tram no. 96 ke arah selatan. Sekitar lima atau enam pemberhentian, anda akan menemukan pemberhentian tram Middle Park. Jangan lupa, untuk naik tram di Melbourne, anda harus tekan tombol berhenti agar operatornya dapat memberhentikan tram. Jika tidak, ada kemungkinan keterusan.

Stasiun Southern Cross
Stasiun Southern Cross tempat menunggu tram no. 96.

Setelah Makan, Pose Dulu!
Setelah makan, pose dulu.

Alamat & Kontak

107A Canterbury Road
Middle Park, Victoria, 3206
Telepon: (03) 9690 8831
Email: mart130cafe@gmail.com


Sepuluh Perintah Makan Sushi

Sushi Ten Commandments

Dalam “The Ten Commandments of Sushi“, Tom Downey bercerita tentang perjalanan kulinernya ke Jepang dan beliau menemukan beberapa “perintah” makan sushi, yang tidak kita temukan di Indonesia.

Antaranya yang saya suka:

1. “Makan penuh semestinya selesai dalam 10-15 menit.”
2. “Makan sushi untuk makan siang, bukan makan malam.”
3. “Sushi tidak hanya soal rasa, tapi juga indera penciuman.”
5. “Makan sushi dengan tangan, bukan dengan sumpit.”
9. “Jangan berbicara sambil makan sushi. Nikmati saja!”


Tembok Berlin, Sorong, Papua Barat: Rajanya Makanan Laut

Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.
Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.

Namanya “Tembok Berlin”, seperti nama kota di Eropa, namun ini hanya kemiripan nama saja dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Eropa. Tembok Berlin adalah tempat makan makanan laut paling ramai di kunjungi di Kota Sorong, Papua Barat.

Saya kurang begitu paham mengapa tempat ini dinamakan Tembok Berlin. Saya sempat bertanya kepada pedagang disekitar Tembok Berlin dan petugas hotel tempat saya menginap, namun mereka pun kurang begitu paham mengenai filosifi asal-muasal nama itu.

Saya berjalan menyusuri Tembok Berlin, megarahkan pandangan ke arah laut, terlihat kapal-kapal besar mulai dari kapal tanker sampai dengan kapal pinisi, angin berhembus sejuk membawa hawa kesegaran. Saya menghentikan langkah di sebuah tenda, tempat penjual makanan kecil untuk rehat sejenak ditemani segelas susu hangat. Saya duduk tepat di depan tembok pembatas antara pantai dengan jalan raya tepi pantai, santai sambil menyeruput susu hangat, kehangatannya sangat cocok di udara dingin akibat mendung.

Sore hari yang damai, awan-awan terlihat sedikit menghitam, namun tidak mengurangi magnet keindahan Kota Sorong menjelang senja. Suasana begitu santai, berkumpul bersama penduduk lokal, kawula muda, berdialog santai menunggu senja.

Senja yang ditunggu tidak begitu sempurna, terhalang awan-awan hitam, sang surya pun tidak begitu terlihat jelas, namun tetap terlihat rona jingga khas senja yang menjadi pemanis suasana.

***

Kepiting asam-manis sungguh menggugah selera.
Kepiting asam-manis sungguh menggugah selera.

Penjual sedang membakar ikan.
Penjual sedang membakar ikan.

Selepas senja, lapar melanda, perutku serasa memanggil-manggil untuk segera diisi. Saya kembali menyusuri Tembok Berlin ke arah selatan, mencari warung-warung penjual makanan laut. Saya amat penasaran dengan dengan sensasi makan makanan laut di pinggir laut Tembok Berlin. Sebelum pergi ke Sorong, kawanku pernah berpesan pada saya agar menyempatkan diri makan makanan laut di Tembok Berlin. Katanya tidak sah ke Sorong bila tidak menikmati makanan di Tembok Belin.

Saya terus melangkah mengamati warung-warung seafood yang mulai ramai. Dari kejauhan sudah tercium aroma sedapnya ikan-ikan laut yang dibakar. Saya sempat bingung ingin makan di mana, ada beberapa warung yang menjual makanan laut. Saya sempat berputar-putar mencari warung yang paling ramai dengan asumsi bahwa tempat yang ramai berarti makanannya paling enak dan favorit.

Saya menghentikan langkah di Warung Miranda. Warung ini tidak terlihat seperti restoran mewah, namun ramai, bangunan warung menggunakan bangunan semi permanen dan tanpa pendingin udara, hanya menggunakan pendingin alam, semilir angin laut yang membawa udara yang cukup sejuk. Belum mulai makan namun saya sudah bisa membayangi betapa nikmatnya menyantap seafood makanan laut langsung di tepi laut.

Warung Miranda kala itu amat ramai, saya sempat kebingungan mencari tempat, butuh beberapa menit sampai akhirnya saya dapat tempat meja di pojok kanan. Saya langsung membuka menu. Saya lihat harga makanan di daftar menu, cukup menyenangkan karena harganya tidak terlalu mahal. Menunya banyak pilihan, mulai dari udang, cumi, kepiting, dan ikan bakar, semuanya dengan pilihan bumbu saus mentega, goreng tepung dan asam-manis.

Warung makan Marinda yang ramai pengunjung.
Warung makan Marinda yang ramai pengunjung.

“Pak, saya mau pesan,” kataku sedikit teriak memanggil seorang bapak paruh baya yang sedang sibuk merapikan piring. “Iya mas, mau pesan apa?” tanya bapak itu sambil menyiapkan catatan dan pena. “Saya pesan kepiting asam manis, kangkung cah satu, dan minumnya air es jeruk nipis,” pesanku dengan porsi yang tidak terlalu banyak. “Siap ditunggu pesanannya, Mas.” bapak itu kemudian langsung bergegas menuju tempat masak.

Sepuluh menit menunggu, semua makanan yang saya pesan terhidang lengkap. Saatnya makan! Satu ekor kepting basar terhidang di hadapan saya, inilah menu yang saya tunggu-tunggu, sebelum sampai di Sorong bahkan saya sudah bertekad dalam hati untuk makan kepiting di Tembok Berlin, akhirnya kesampaian juga.

Belajar dari pengalaman makan kepiting menggunakan alat pemecah cangkang di Rumah Makan Dandito Balikpapan, Kalimantan Timur. Saya melihat ke sekeliling meja mencari alat untuk membuka cangkang kepiting, semacam tang atau palu khusus, namun nampaknya tidak disediakan.

Sebelum makan saya mencuci tangan sampai bersih, saya siap makan kepiting hanya dengan tangan. Seperti biasa, saya merasakan sensasi memecah cangkang kepiting, makin membuat makan terasa nikmat. Aroma saus asam-manis, yang menjadi saus kepiting makin menyeruak. Saus ini menyelimuti dan menyerap ke dalam kepiting rongga-rongga kepiting, saya makan perlahan, saya hisap perlahan, begitu nikmat dan lezat!

Dimakan bersama cah kangkung terasa lebih nikmat.
Dimakan bersama cah kangkung terasa lebih nikmat.

Rasa pedas sausnya sungguh amat terasa, makin mantaplah rasanya. Tak lupa saya menimati kelezatan cah kangkung yang tak kalah menggugah selera saya, begitu nikmat rasanya perpaduan yang sempurna.

Usai makan cangkang kepiting bertebaran di sekeliling piring, meja tempat saya makan menjadi sedikit kotor, saya makan berantakan seperti anak kecil. Saya puas dengan rasanya, amat enak dan sesuai dengan harapan saya. Harga makanan yang murah, suasana yang nyaman di pinggir laut, dan rasanya yang amat memanjakan lidah menjadikan Tembok Berlin sebagai tempat rajanya makanan laut.

  • Disunting oleh SA 27/09/2014

Soto Ayam Pak Sungeb, Purwokerto

Barangkali ini pengecualian bagi saya yang tak begitu suka soto.

Soto Ayam Pak Sungeb “Jl. Bank” di Jl. R. A. Wiria Atmaja, Purwokerto, Jawa Tengah, menjadi labuhan kami pada waktu itu setelah turun dari stasiun Purwokerto setelah lima jam perjalanan dari Gambir, Jakarta. Bak Sroto Sokaraja yang berisi daging sapi, soto ayam yang juga cukup populer di Purwokerto ini juga dilengkapi dengan sambal kacang.

Soto Ayam Kampung Pak Sungeb, Purwokerto

Awalnya, saya tak begitu simpatik dengan sambal kacang: Kenapa kacang bisa dijadikan sambal? Apa yang menarik dari sambal kacang? Warnanya coklat, pucat, rasanya pun biasa saja. Terkadang, ternyata, kacang menjadi tekstur yang menarik. Rasanya tidak sehebat sambal lain yang benar-benar terbuat dari cabai dan bawang, atau olahan terasi dan udang. Tidak begitu nendang, kata orang.

Melihat kualitas soto kebanyakan yang persentase kuahnya hingga 50%-60%, dilimpahi oleh tauge dan pelengkap seadanya, saya sedikit senang melihat isi soto yang cukup memenuhi mangkok ukuran sedang yang bisa digenggam kedua telapak tangan itu. Isinya suwiran ayam kampung, ketupat, taoge, daun bawang, taburan bawang goreng, dilengkapi kerupuk mi dan kerupuk warna. Suwiran ayamnya istimewa, warnanya kecoklatan seperti daging bebek. Kuahnya manis berkaldu. Dipadu dengan samnbal kacang, teksturnya terasa lebih kaya.

Jangan tertipu dengan nama “Soto Ayam Jl. Bank”, karena jalan aslinya adalah Jl. R. A. Wiria Atmaja — disebut demikian, mungkin karena ada museum bank di jalan yang sama. Sudah turun-temurun dikelola sejak 1958.


Menyantap Mie Aceh dan Sate Gurita di Aceh

Kedai Sate Gurita di Pujasera Pulau Sabang
Kedai Sate Gurita di Pujasera Pulau Sabang

Saat saya berkunjung ke Aceh, saya mencoba beberapa menu masakan khas daerah ini, di antaranya yang menurut saya memiliki cita rasa tersendiri adalah mie aceh dan sate gurita. Mie aceh saya nikmati di Banda Aceh dan sate gurita saya nikmati di Sabang.

Restoran Mie Razali
Restoran Mie Razali

Mie Aceh yang digoreng kering
Mie Aceh yang digoreng kering

Menikmati mie aceh langsung di Aceh tentunya terdapat sensasi tersediri bagi saya, rasanya beda dengan menikmati mie aceh di kota asal saya yaitu Jakarta. Saat di Aceh, saya menimati mie aceh di salah satu restoran mie aceh yang cukup terkenal, Restoran Mie Razali. Letak restoran ini tidak jauh dari hotel tempat saya menginap yaitu di Hotel 61 Jalan Panglima Polim, Banda Aceh. Saya saat berkunjung ke restoran ini, tempatnya tak sepi, tempatnya ramai mungkin karena strategis, mudah dijangkau karena letaknya di pusat kota.

Saya tahu dari papan nama restoran ini Mie Razali nampaknya sudah ada sejak tahun 1967. Namanya diambil sesuai dengan nama pemiliknya, Razali, yang kini telah almarhum. Bisnis mie di retsoran tersebut kini ditangani dan diteruskan oleh keluarganya.

Secara umum di restoran Mie Razali ini ada tiga menu, yaitu mie kuah basah, mie goreng basah dengan sedikit kuah, dan mie goreng kering tanpa kuah. Di restoran ini saya memesan mie kesukaan saya, yaitu mie aceh goreng yang kering. Setelah pesanan saya terhidang di meja saya, aromanya begitu menggoda selera. Setelah saya makan, suapan pertama rasanya begitu menggoda, saya pun makan dengan enaknya, rasanya amat maknyus.

Sate Gurita dengan Bumbu Kacang
Sate Gurita dengan Bumbu Kacang

Mie aceh terlihat unik bila dibandingkan dengan mie lainnya, perbedaan dengan mie lainnya terutama pada bentuknya. Mie yang saya makan di restoran Mie Razali ini terbuat dari tepung dan berwarna kuning, ukurannya sedikit lebih besar dari mie biasanya. Bila saya rasakan dengan lidah saya, mie aceh terdiri dari berbagai macam bumbu masakan, yang saya rasakan ada rasa cabai, bawang putih, kemiri, bawang merah dan kacang tanah.

Di Restoran Mie Razali, menu hidangannya sangat variatif. Sebagai pelengkap, mie acehnya juga bisa dihidangkan dengan mencampurkan daging, udang atau kepiting. Kala itu sebenarnya saya penasaran dengan mie aceh yang dicampur dengan kepiting besar, namun saya urungkan memesannya, karena saya takut alergi kepiting.

Menu lain yang saya coba saat saya berkunjung ke Aceh adalah sate gurita, makanan khas ini lebih tepatnya saya coba saat saya berkunjung ke Sabang, Pulau Weh, salah satu pulau yang terletak di Aceh.

Makanan laut memang menjadi primadona kuliner di kota yang menjadi titik nol kilometer Indonesia ini, dari berbagai jenis makanan laut, gurita merupakan salah satu kuliner yang paling unik dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia. Gurita memang mudah ditemui di sekitar perairan dangkal Pulau Weh. Nelayan lokal sering kali menemukan gurita di antara hasil tangkapan mereka.

Saya menikmati sate gurita ini di Kedai Pujasera Kota Sabang bersama teman saya dan supir mobil yang sewa di Sabang. Letaknya tidak jauh dari Hotel Tempat saya menginap. Di kedai ini, sate gurita bisa dihidangkan dengan bumbu padang yang terdiri dari paduan cabai merah, kunyit, serta jintan yang dikentalkan dengan tepung beras dan sagu, atau dengan pilihan kedua yaitu bumbu kacang. Kala itu saya dan teman saya memesan sate gurita dengan bumbu kacang.

Saat saya mencicipi sate gurita ini, tanpa sadar, tusuk demi tusuk sate ini habis saya nikmati. Begitu nikmat terasa di lidah saya, daging yang saya rasakan sedikit kenyal dan gurih berbalur bumbu kacang, Sensasi kenyalnya, waktu saya kuyah dan bumbu rasa manis khas pada gurita keluar dan bercampur dengan bumbu dagingnya keluar, makyus sekali! sate ini menjadi santapan nikmat dan cocok sebagai pengisi perut yang lapar di malam hari itu setelah sebelumnya seharian saya berkeliling di Pulau Weh.

Secara keseluruhan sate gurita di Kedai Pujasera ini rasanya cukup lezat, manis, serta dagingnya kenyal dan gurih. Sekali menikmati sate gurita, saya merasa ketagihan.

Intinya, bila berkunjung ke Aceh dan Sabang jangan lupa menikmati kedua makanan tersebut. Rasanya enak dan harganya juga sangat terjangkau. Selamat berlibur sekaligus menikmati kuliner nusantara!

  • Disunting oleh SA 04/03/2014

Rumah Makan di Israel dikelola pasangan Muslim-Yahudi

Sebuah rumah makan di Ein Rafa, di luar Jerusalem, sebuah rumah makan bernama “Majda” dirintis dan dikelola oleh pasangan suami-istri Muslim-Yahudi. Sang suami, Yakub, adalah seorang muslim, termuda dari 10 bersaudara. Michal adalah istri keturunan Yahudi dari Netanya. Bersama, mereka mendirikan rumah tangga dan mengelola restoran di rumah mereka yang hanya dibuka Sabtu dan Minggu. Apakah ini secuplik masa depan yang lebih baik bagi Israel dan Palestina?

Update: Jika tertarik melihat seperti apa rumah makannya, makanan yang disajikan dan cuplikan wawancara dengan pemiliknya, silakan tonton episode Israel/Palestina dari serial dokumenter Parts Unknown oleh Anthony Bourdain ini.


Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil