Arsip untuk kategori Makanan

Icip-Icip Ayam Taliwang Asli Lombok

Bagi saya belum resmi ke Pulau Lombok kalau belum menyantap Ayam Taliwang. Kala berlibur di Lombok, saya sempatkan diri saya untuk icip-icip Ayam Taliwang di salah satu restoran di sekitar Pantai Senggigi Lombok. Bagi yang belum tahu Ayam Taliwang, makanan ini adalah menu khas Lombok yang khas dengan bumbu pedasnya. Sejarahnya, menu lezat ini ditemukan oleh juru masak dari kalangan Kesultanan Sumbawa. Pertama kali menu ini dirintis oleh sang Ibu Tua Maknawiyah bernama Pupuq yang berasal dari Kampung Taliwang, Ibu ini bekerja sebagai penjual nasi ayam. Kala itu Ayam Taliwang amat tenar dan kemudian bermunculan pedagang-pedagang baru asal kampung itu yang semakin menjamur menggunakan nama Ayam Taliwang pula.

Ayam Taliwang Bumbu Pedas
Ayam Taliwang Bumbu Pedas.

Baca seutuhnya →

Kudapan Legendaris Indonesia

Ini tentang hasil perburuan jajanan tradisional waktu pulang kampung kemarin. Bersama adik paling kecil, pada suatu Minggu pagi, kami niatkan pergi ke Pasar Wage, pasar terbesar se-kabupaten Banyumas, untuk berburu kudapan jaman dulu.

Ternyata tidak mudah menemukan jajanan pasar yang sudah tergolong antik. Untuk beberapa jenis jajanan alasannya antara lain adalah karena jajanan itu tidak memiliki nilai ekonomis yang cukup layak untuk dijual atau karena memiliki masa kadaluarsa yang pendek.

Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: grebi, mendut, golang-galing, carabikang, talam.
Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: grebi, mendut, golang-galing, carabikang, talam.

Ambil saja misalnya awug-awug dan ongol-ongol. Biasanya jajanan tersebut dibuat guna pra-syarat yang harus ada pada acara slametan pengantinan, khitanan, ruwatan, wayangan dan acara sejenis lainnya. Jajanan macam itu sengaja dimasak pagi hari untuk untuk dapat dihidangkan langsung siang harinya, karena kalau tidak habis dimakan hari itu, dapat dipastikan besoknya pasti basi.

Baca seutuhnya →

Roti Isi Ikan Khas Eminonu

Susunan meja kayu berukuran kecil tumpah ruah ke area publik. Tempat duduk pun penuh diduduki ramainya pengunjung yang sedang bersantap siang. Belum lagi terlihat antrian panjang di depan perahu yang terombang ambing di pinggir dermaga. Beberapa pria dengan seragam hitam dan bordiran warna kuning berlomba lomba memanggil pengunjung, “Balik Elmek… Balik Elmek… Balik Elmek…” untuk masuk ke dalam tendanya.

Roti dijual melalui perahu kecil yang bersandar
Roti dijual melalui perahu kecil yang bersandar

Baca seutuhnya →

Memesan Kopi/Teh Ala Singlish

Sudah menjadi kebiasaan kalau tidak bisa tidur, saya selalu keluar mencari cemilan atau sekedar minum sambil menikmati suasana menjelang hari berganti. Malam itu di North Bridge Rd., Singapura, sudah terlihat sepi. Lampu pusat perbelanjaan di seberang jalan sudah dipadamkan. Jalanan terasa lenggang oleh lalu lalang kendaraan. Pelanggan kopitiam (rumah makan yang menyediakan kopi dan teh) bisa dihitung dengan jari.

Di malam yang hampir larut itu, saya memesan segelas es teh susu. “Can I have iced milk tea please?”. Dengan muka bertanya-tanya, tukang kopi itu pun mengulangi “Tea with ice, ah?”, “…and milk!” lanjut saya. “It’s iced tea lor…” tukang kopi kembali meyakinkan pesanan saya. Daripada pusing saya pun meng-iya-kan saja kesimpulan si tukang kopi sambil mengeluarkan recehan S$1.20.

Tukang kopi itu pun membuatkan pesanan saya, memasukkan beberapa sendok susu kental manis, disusul menuangkan air teh dan es batu ke dalam gelas dan mengaduk rata. “Nah, your iced tea, one twenty cents.” Dalam hati saya, “It’s iced milk tea, not iced tea!” Masih terheran dan penasaran dengan perdebatan kecil itu pun saya tetap membayar pada akhirnya.

Baca seutuhnya →

Nikmatnya Kuliner Cirebon

Indonesia tak hanya kaya wisata alam yang memukau. Untuk urusan perut, berbagai daerah di Tanah Air memiliki daftar menu teramat panjang untuk dijajal. Kota Cirebon salah satu contoh yang cukup menggambarkan melimpahnya ragam kuliner nusantara yang tak terkira lezatnya. Apa sajakah warisan kuliner dari Cirebon itu?

Tahu Gejrot
Tahu Gejrot

Baca seutuhnya →

Cerita Si Pembuat Roti

Pembuat Naan di Kabul, Afghanistan

Di bawah sinar matahari yang perlahan bergerak ke arah barat, di depan pintu sebuah toko swalayan kecil yang berada di jalan Wazir Akhbar Khan, terletak tepat di depan bundaran jalan terlihat hal yang menarik. Seorang anak lelaki kecil dengan rambut coklat yang berantakan dan berpipi kemerahan berjalan cepat sambil memeluk roti yang berbentuk panjang. Seorang kakek tua dengan garis kerut tegas di wajahnya dan berjanggut putih lengkap dengan turbannya mengayuh sepeda dengan tumpukan roti di dudukan belakang. Seorang wanita dengan wajah tertutup burqa berwarna biru membawa roti yang dibungkus selembar kain tipis.

Baca seutuhnya →

Ksatria Pengantar Makan Siang di Mumbai

Dabbawalla di Mumbai
Dabbawalla di Mumbai. Foto oleh Steve Evans, (lisensi Creative Commons)

Ketika makan siang bersama kolega kantor saya beberapa minggu lalu, di sela-sela santapan yang menggugah selera dan diskusi produktif tentang pekerjaan, kami sampai pada cerita tentang ksatria-ksatria Mumbai. Kolega kantor saya memang berasal dari Mumbai, India, namun sudah bekerja di Indonesia hampir 15 tahun lamanya. Ksatria apa yang dimaksud? Jangan membayangkan mereka ksatria berbaju besi yang naik kuda untuk membela kepentingan negaranya. Ksatria yang kami bicarakan adalah ksatria pelanjut kehidupan: sang dabbawalla. Mereka adalah pekerja-pekerja gigih yang berkontribusi membantu jutaan rakyat Mumbai untuk makan siang. Kenapa saya juluki ksatria, kita akan tahu sebentar lagi.

Baca seutuhnya →

Kopitiam dan Mamak

Foto Oriental Kopitiam, Malaysia
Oriental Kopitiam, Malaysia. Foto oleh Mohd. Fahmi Mohd. Azmi, (lisensi Creative Commons)

Di Jakarta khususnya akhir-akhir ini sering ditemukan restoran atau warung makan yang di depannya ada panggilan “kopitiam”. Setidaknya, sepengetahuan saya, ada beberapa merek kopitiam di Jakarta: Kopitiam Oey, milik pengamat kuliner Bondan Winarno, Killiney Kopitiam, Lau’s Kopitiam, KL Village Kopitiam, Old Town Kopitiam, dan barangkali beberapa kopitiam lain yang tidak kita ketahui. Sekilas, penampilan kopitiam hampir tak ada bedanya dengan restoran biasa, baru bisa diketahui bedanya ketika melihat perabotan dan dekorasi yang digunakan, biasanya menyiratkan khazanah visual dan budaya peranakan. Peranakan sendiri adalah asimilasi dari budaya Cina dan budaya setempat, dalam hal ini, Melayu, karena asal kopitiam adalah dari ranah Singapura dan Malaysia.

Baca seutuhnya →

Mencari Santapan Halal di Ho Chi Minh City

Interior Halal@Saigon

Bagi Anda yang memeluk agama Islam, setiap perjalanan selalu disibukkan dengan kegiatan mencari makanan halal, terutama di negeri yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam. Tentu, kita dapat mengunjungi beragam tempat makan yang ada dan memesan menu vegetarian atau ikan dan ayam, tetapi banyak juga dari kita yang cemas dengan cara mereka memasak, dan peralatan yang digunakan (apakah bekas memasak yang mengandung babi dan lain sebagainya). Kebutuhan mencari tempat makan yang benar-benar berkomitmen menyediakan makanan halal dengan metode yang halal pun tak terelakkan. Di Vietnam, relatif sulit menemui tempat makan yang 100% halal.

Baca seutuhnya →

‘Banchan’, ‘Side Dish’ dari Korea

Banchan di Restoran

Untuk sebagian besar penggemar makanan Korea, _bibimbap_ dan _bulgogi_
mungkin merupakan hal yang tidak asing lagi. Terlebih lagi _kimchi_, yang
jenisnya mencapai lebih dari seratus jenis. Tapi mungkin banyak yang tidak
mengetahui bahwa kimchi merupakan bagian dari _banchan_ (반찬) atau side
dish
ala Korea. Bagi saya pribadi, banchan adalah kenikmatan tersendiri dalam
menyantap hidangan korea karena selain lezat, banchan juga disajikan cuma-
cuma ketika kita memesan main dish sebagai wujud layanan lebih dan bisa di-refill (diisi ulang).

Baca seutuhnya →