Artikel-artikel yang ditulis oleh Sigit Adinugroho (halaman ke-1 dari 11)

Vlogging: Alternatif untuk Dokumentasi Perjalanan

Hari ini, banyak sekali vlog-vlog bertebaran di Youtube. Vlog, atau singkatan dari “video blog”, alias mendokumentasikan peristiwa melalui video, sebenarnya adalah konsep yang sudah lama ada. Tapi, baru mulai tahun 2015 mulai populer. Pengalaman saya pribadi, pertama kali mengenal konsep vlog ini adalah tahun 2015, tentu saja dengan Casey Neistat. Namun, pada saat itu, tak terpikir oleh saya ada orang-orang lain juga yang melakukan vlog ini hampir setiap hari. Sebelumnya, saya sempat melanggan beberapa Youtuber, terutama Mark Wiens, yang mengulas kuliner. Tapi tentu saja, istilah vlog itu belum sempat saya asosiasikan dengan Mark Wiens, karena beliau hanya menerbitkan video setiap Rabu dan Sabtu.

Vlog pada dasarnya menyiratkan kita harus bisa melakukannya hampir setiap hari, mengingat konsep blog pada awalnya juga begitu, seperti diary atau jurnal harian. Isinya juga tidak mesti bertema atau bermanfaat dalam arti memecahkan masalah orang lain, misalnya berbagi ilmu. Cukup keseharian saja, tapi dikemas dan diceritakan semenarik mungkin. Salah satu tema vlog yang paling populer tentu saja adalah perjalanan. Ada beberapa pejalan yang menceritakannya dalam vlog, contoh saja Louis Cole, Ben Brown, Vagabrothers atau Mike Dewey.

Saya sempat ngobrol dengan teman saya blogger Arif Widianto (yang dulu pernah ikut bersama mengelola Ransel Kecil), tentang apakah vlog benar-benar memberi manfaat bagi orang banyak. Menurut saya, tidak selalu konten harus memberi manfaat secara langsung. Membangun konten dan audiens itu bisa banyak caranya. Ada dua jenis tipe konten: vanity dan yang bermanfaat. Vanity artinya konten yang condong pada gimik, kosmetik, visual. Ini kita lihat dalam beberapa konten vlog, atau konten media sosial yang lebih bercerita pada sisi material: apakah kegiatannya itu dilakukan secara menarik, ditampilkan dan disunting sehingga “menjual”, tapi tidak perlu memiliki bobot atau filosofi tertentu. Yang kedua, konten bermanfaat, adalah konten yang berusaha untuk memberi nilai bagi orang lain. Misalnya, konten ulasan produk, tips dan trik fotografi, belajar mendesain web, dan lain sebagainya. Menurut saya, tidak ada yang salah dari keduanya. Yang penting, fokus menelurkan konten-konten secara konsisten, jelek atau baik.

Vlog bertema perjalanan ini cukup bagus menurut saya, karena lebih berkata banyak hal melalui visual dan suara. Tidak hanya kata. Selain itu, lebih dekat dengan pejalannya, lebih otentik. Kami juga ingin memulai vlogging, tapi belum pasti apakah akan bertema perjalanan. Yang jelas, untuk awalnya, kami akan coba untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan akhir minggu kami di Singapura. Mudah-mudahan kami punya anggaran untuk jalan-jalan lagi dan bisa memberikan konten perjalanan yang menarik dan juga bermanfaat bagi anda semua.

Oh ya, kalau penasaran, ini dia vlog termutakhir kami di channel Youtube kami (jangan lupa subscribe, ya!):


Merencanakan Perjalanan dengan Trello

Mungkin saat ini anda bertanya-tanya, “Apa pula Trello itu?”, atau yang sudah biasa menggunakannya di kantor akan menggerutu, “Aduh, di kantor sudah jenuh pakai itu, malah pas jalan-jalan disuruh pakai itu lagi!”

Ini bukan artikel berbayar, murni karena kecintaan saya pada aplikasi yang satu ini. Jika anda pernah mendengar papan kanban, atau sederhananya adalah metode perencanaan dan pengembangan produk atau proyek yang berdasar pada visualisasi apa yang direncanakan, apa yang sedang dilakukan, dan apa yang sudah selesai dilakukan. Berikut definisi situs LeanKit:

Kanban is Japanese for “visual signal” or “card.” Toyota line-workers used a kanban (i.e., an actual card) to signal steps in their manufacturing process. The system’s highly visual nature allowed teams to communicate more easily on what work needed to be done and when. It also standardized cues and refined processes, which helped to reduce waste and maximize value.

Terdengar berat? Ya, memang, awalnya metode ini digunakan dalam produksi pabrik di Jepang, lalu sekarang populer lagi di dunia startup yang gemerlap itu, untuk merencanakan dan mengembangkan perangkat lunak atau aplikasi yang sering kita pakai sehari-hari, misalnya aplikasi berbasis web atau aplikasi di ponsel. Intinya adalah pada visualisasinya sehingga lebih gampang dicerna. OK, sebelum kita jadi pusing, mari kita selami langsung Trello itu sendiri. Berikut adalah contoh papan kanban di Trello.


Wah, unyu juga, ya, background-nya?

Standarnya, dibagi menjadi tiga bucket, yakni “To Do” (yang akan dilakukan), “Doing” (yang sedang dilakukan), dan “Done” (yang selesai dilakukan). Tentu saja ada banyak cara lain untuk menggolongkan dan menamai bagian-bagian vertikal ini. Bebas sih. Tapi pada dasarnya struktur ini paling berguna untuk kebanyakan situasi.


Menambahkan lampiran seperti gambar


Jadinya ada preview seperti ini

Intinya, semacam to do list, tapi lebih komprehensif, lebih mendetil. Buat saya, satu vertikal to do list saja tidak cukup, karena untuk beberapa perjalanan yang kompleks, setiap aktivitas punya “anak-anaknya” lagi yang membutuhkan penjabaran. Bahkan dalam satu aktivitas ada check list yang lebih khusus. Belum lagi mengumpulkan pranala atau melampirkan foto, PDF, dan lain-lain. Bisa juga menggunakan Google Drive atau Dropbox, tapi tidak bisa melihat dengan jelas dan cepat apa yang harus dilakukan dan apa yang sedang dilakukan.

Setiap vertikal (disebut “list”) dapat memiliki sebanyak mungkin kartu (“card”), dan setiap kartu ini bisa dipindahkan ke vertikal lain dengan mudah, semudah menggesernya saja. Asyik, bukan?

Teman saya bahkan menggunakannya untuk merencanakan perjalanan dari hari ke hari, mirip seperti kalender. Jadi, misalnya:


Contoh itinerary per hari

Dalam setiap kartu di situ, dia akan memasukkan informasi tempat dari website lain, atau menambahkan check list apa yang akan dilakukannya.

Jadi, banyak sekali manfaat Trello ini untuk merencanakan perjalanan. Cara memakainya pun terserah anda, sesuai kebutuhan. Semua bisa diakses dari browser atau download aplikasinya di iOS maupun Android. Berbagi dengan sesama pejalan yang akan berkelana bersama-sama, dan tak perlu khawatir kehilangan arah atau dokumen tertentu.


Trik Memilih Kursi Penerbangan

Buat saya, posisi menentukan prestasi. Sama halnya dengan kursi penerbangan. Posisi menentukan situasi. Situasi apakah saya akan menjadi lebih nyaman dalam perjalanan pesawat atau tidak. Untuk penerbangan jarak jauh, ini menjadi penting. Ini beberapa “formula” saya. Tentu saja, kelasnya kelas ekonomi karena jarang-jarang saya punya kesempatan duduk di kelas bisnis atau kelas pertama.

Window vs. Aisle

Jika bepergian sendiri, untuk penerbangan jarak pendek, saya selalu mencoba memilih duduk dekat jendela (window seat, kursi A dalam diagram di atas). Ini karena saya terkadang takut terbang, dan melihat keluar jendela membantu sedikit untuk mengurangi ketakutan itu. Untuk penerbangan jarak jauh, saya lebih suka memilih duduk di gang (aisle seat, kursi B), agar mudah ke toilet atau jalan kaki agar sirkulasi darah lebih lancar.

Depan, Tengah, vs. Belakang

Jika saya membawa bayi yang masih bisa tidur dalam bassinet, saya akan duduk di paling depan, dekat dinding, atau sering disebut sebagai bulkhead seat (deretan C). Alasannya jelas, karena bassinet hanya bisa digantungkan di dinding. Jika saya bepergian sendiri, saya suka di tengah pesawat (deretan D), karena lebih tenang (jauh dari bayi dan toilet). Jika bepergian dengan anak kecil yang sudah bisa duduk, saya lebih memilih di baris paling belakang dari satu segmen, tapi bukan di belakang pesawat (deretan E). Ini karena saya dapat memastikan ruang privasi yang lebih buat saya dan anak saya, serta tidak ada orang yang akan terganggu di belakang saya. Memang sih, resikonya kursi tidak fully reclined, tapi tak apa.

3-4-3 vs. 3-3-3 vs. 2-4-2

Beberapa pesawat berbadan lebar memiliki skema 3-4-3, yakni 3 di sayap kiri, 4 di tengah dan 3 di kanan. Dalam hal ini, jika grup saya jumlahnya 3 orang, maka lebih baik berada di sayap kiri atau kanan. Logika mudah. Tapi, jika skemanya 3-3-3, saya lebih suka di tengah karena kami menguasai dua gang (aisle). Dalam kasus 2-4-2, agak lebih tricky. Saya mungkin akan memilih kursi tengah, dengan resiko ada orang lain di situ. Atau mungkin, tukar jam/pesawat jika memungkinkan. Untuk pesawat berbeadan sempit yang biasanya 3-3, sudah jelas, saya bebas memilih mana saja.

Bagian Tengah Pesawat

Beberapa riset menunjukkan bahwa duduk di bagian tengah pesawat (dekat sayap) berpotensi mengurangi guncangan turbulensi karena (katanya) lebih “seimbang”. Saya tak tahu pasti ini hoax apa bukan, tapi boleh dicoba, dan sejauh ini saya tak mengalami masalah berarti. Malah, ketika saya pernah duduk di kursi paling belakang sebuah pesawat Boeing 777-300ER, saya mengalami guncangan luar biasa dan mendengar bising mesin yang begitu kuat.

Kursi “premium”

Beberapa kursi dijual sebagai kursi “premium”, biasanya yang dekat dengan pintu darurat. Kalau anda sendiri, bolehlah dicoba, asal tahan dingin. Jika membawa anak-anak, biasanya tidak diperbolehkan duduk di dekat pintu darurat.


6 Hal Kenapa Singapura Lebih Baik Buat Anak-Anak


Terpukau di National Library, Bugis

Suatu ketika, saya mengobrol dengan teman saya. Saya bertanya, “Kenapa orang Indonesia kalau ke Singapura selalu mengeluh Singapura itu membosankan? Sudah ke mal ini dan itu, lalu tidak ada apa-apa lagi.”

Teman saya itu kemudian menjawab, “Karena mereka tidak melihat sisi lain dari Singapura. Mereka ke sini hanya ingin bersenang-senang tapi dari sudut pandang mereka saja. Tidak salah sih, tapi andaikan mereka melihat dari sisi lain, Singapura itu tidak membosankan.”

Dia melanjutkan, “Di sini, anakmu bisa leluasa berjalan dan bermain, tanpa takut kena polusi, macet, bahaya ditabrak, atau kejadian-kejadian lain. Coba saja melakukan itu di Jakarta. Paling aman anak diajak ke mal atau ke luar kota. Lihat di sini, begitu banyak ruang publik, gratis pula.”


Berlarian tanpa henti di Marina Bay Sands

Betul. Saya mensyukuri saya tinggal di sini saat ini. Memang, semuanya mahal, paling tidak lebih mahal dari di Indonesia. Tapi mahal-nya itu sebanding dengan apa yang saya dapatkan di sini. Terutama, untuk saat ini, buat anak saya yang masih dua tahun.

Jika dipikir-pikir, ada beberapa hal yang membuat anak saya, Janis, bahagia di sini:

1. Perpustakaan yang selalu punya ruang khusus anak

Stigma perpustakaan yang membosankan, kusam dan jelek sirna seketika, ketika mengunjungi hampir semua perpustakaan umum di Singapura. Rasanya, Singapura lebih punya banyak perpustakaan per 10 km persegi dibanding kota mana pun di Indonesia. Ini bukti komitmen pemerintahnya untuk meningkatkan minat baca dan literasi penduduknya. Pendidikan benar-benar utama di sini, baik formal maupun informal. Bayangkan, bagian anak-anak di perpustakaan nasional di Bugis saja punya ruang bermain yang luas. Anak-anak bisa berlari-lari sepuasnya di sini. Orang tuanya? Malah membaca buku anak-anak. Nah, Bugis bukan hanya belanja, kan?

2. Main air, tak perlu bayar

Main air di Indonesia, di tempat yang bersih dan terjamin keselamatannya, biasanya harus bayar. Mahal pula. Di Singapura, taman bermain air tersedia banyak dan gratis. Contohnya, Gardens by the Bay. Berapa banyak dari turis Indonesia tipikal yang tahu ada tempat bermain air anak gratis di belakang Flower Dome dan Cloud Forest?

Atau, di mal apakah cuma makan dan belanja, tapi anaknya dibiarkan saja tanpa bermain? VivoCity, Katong I12 Mall dan Kallang Wave semuanya adalah pusat perbelanjaan yang di atasnya ada tempat bermain air anak. Kalau pun bayar, biasanya tidak mahal. Go splash your heart out, kids!


Aku main air, tidak ya?

3. Menikmati hutan kota

“Lho, bukannya Singapura itu kota besar yang isinya gedung semua?” Begitulah pemikiran orang Jakarta yang di kotanya memang susah ditemukan ruang terbuka hijau. Di Singapura, pemerintahnya berusaha untuk merencanakan hutan dan taman kota sebagai bagian utama, bukan “selipan”. Contoh saja, dekat tempat tinggal kami, ada East Coast Park, taman dengan pantai terpanjang di Singapura sepanjang 15km dari Marine Parade ke Changi. Di sini, anak-anak bisa bersepeda dan berlari dengan aman. Pantai juga ada, walau tak sebagus di Bali, tapi cukup.

Alternatifnya, tidak usah ke taman yang besar dan terkenal. Bahkan, di antara gedung-gedung dan kompleks perumahan tempat tinggal, juga ada taman-taman kecil yang dilengkapi fasilitas bermain dan olahraga. Semua taman-taman itu dipelihara dengan baik, dan tentu saja, ada burung-burung yang terbang, menandakan betapa sehatnya lingkungan di sini.


Bersantai di hamparan rumput di Botanic Gardens


Piknik di telaga di MacRitchie Reservoir

4. Trotoar dan ruang publik yang besar

Tak perlu jauh-jauh untuk menemani anak ke ruang yang cukup besar untuknya berlari-lari ke sana kemari, atau membayar uang ke tempat bermain anak di dalam mal-mal. Cukup jalan-jalan di Esplanade, Gardens by the Bay, Clarke Quay, atau bahkan di antara flat-flat dan apartemen, ada saja trotoar lebar yang cukup aman dan nyaman untuk berlari-lari. 

Ingin naik bukit atau hutan? Bisa saja ke MacRitchie Reservoir. Selain itu, anak-anak bisa saja main ke sekitar Asian Civilisations Museum atau Bishan Park dan habiskan petang di sana dengan rasa senang di hati, energi pun tersalurkan.


Kanopi, ruang yang luas untuk berlarian, bahkan “berpose ala putri duyung”

5. Aturan yang berpihak pada keselamatan

Keselamatan di ruang publik adalah hal yang penting dan ditegakkan di Singapura. Di dalam bis, orang tua yang membawa anak diwajibkan untuk diberi ruang untuk duduk, dan itulah yang kami alami. Hampir setiap saat ada orang yang berbaik hati merelakan tempat duduk di bis atau di MRT untuk kami. Supir bis pun menunggu kami untuk duduk dengan sempurna sebelum menginjak pedal gas. Jika anda penyandang disabilitas, supir bis wajib membantu menurunkan anda sebelum mempersilakan orang lain untuk masuk. Di jalan-jalan hampir selalu ada trotoar dan kanopi sambung-menyambung, melindungi anda dari kecelakaan dan cuaca. Menyeberang juga tidak sembarangan dan jelas aturannya, dibantu lampu penyeberangan orang. Jembatan hampir selalu ada lif atau ramp untuk stroller.


Sarana bis yang memadai, dan jalan yang aman untuk dilintasi

6. Tidak selalu ke mal

Seperti saya bilang di atas, a good weekend is not always about going to the malls. Anak saya punya opsi untuk pergi ke taman, ruang publik mana pun, ke pantai, ke tempat bermain air. 

Bahkan, jika anaknya suka pesawat, kita bisa mengajaknya berkunjung ke bandara (dapat ditempuh hanya 20 menit dari tempat kami). Bandara Changi tidak membosankan, kami dapat menghabiskan waktu berjam-jam di situ bersama Janis. 

Museum juga menjadi opsi yang sangat memungkinkan. Kami belum memutuskan apakah anak kami akan kami daftarkan ke pre-school, tapi kami bisa ajak mereka ke museum dan mendapatkan pengalaman yang sama mendidiknya. Museum di sini tidak kusam, malah selalu dihidupkan (tidak mesjid saja yang dihidupkan, ya). Suka seni? Bisa ke National Gallery, ArtScience Museum atau Singapore Arts Museum. Jangan lupa pula, di Esplanade Theatres on the Bay, ada banyak acara yang bisa dipilih untuk anak anda.


Mau ke kafe tanpa ke mal? Bisa! Mau ke museum dan tetap bersenang-senang? Bisa!


Perbedaan Berkelana Saat Sendiri dan Sesudah Berkeluarga


Berjalan di tepi Clarke Quay, Singapura

Dulu, ketika saya masih belum menikah, bepergian ke mana pun terasa lebih ringan, tetapi mungkin lebih kesepian. Kita dengan mudahnya membeli tiket (karena di situs pemesanan pesawat, biasanya sudah default untuk satu orang, berkemas untuk satu orang, dan menganggarkan semuanya untuk satu orang. Di perjalanan, bisa saja kita tidak makan atau ngemper di jalan. Tidak banyak yang dikhawatirkan.

Setelah berkeluarga, tentu semuanya berbeda. Bukan berarti tidak bisa menikmati perjalanan, tetapi memang banyak hal yang harus dipertimbangkan pada saat merencanakan dan menjalani perjalanan itu sendiri. Positifnya, semua terasa lebih indah, karena hal-hal kecil menjadi lebih bermakna dan kita belajar mengapresiasi hidup lebih baik.

Oh ya, tentu saja, melakukan perjalanan ketika belum punya anak, dan sesudah punya anak, adalah dua spektrum yang berbeda jauh. Tanpa anak, mirip seperti pacaran, dan keputusan relatif lebih mudah dibuat. Tapi tentu saja, ego masing-masing bisa berperan lebih besar, sehingga rencana gagal juga bisa terjadi.

Berikut beberapa tips untuk menghadapi perjalanan ketika sudah berkeluarga, apalagi memiliki anak.

Manusia berencana, situasilah yang menentukan

Kita bisa merencanakan segala sesuatu hingga detil ke menitnya, dan lokasinya, serta aktivitasnya, tetapi pada realitanya, situasi dan kondisi pada saat itulah yang menentukan. Misalnya, ketika kami berencana ingin pergi ke Philip Island di selatan kota Melbourne, semua tampak memungkinkan. Sampai pada hari-H di mana Janis, anak kami, tidak betah berada di kursi bayi di mobil di sana yang masih terlalu besar buatnya. Akibatnya, perjalanan itu kami batalkan. Rencana boleh dibuat, tapi lebih fleksibel-lah. Utamakan menikmati hal-hal yang ada di sekitar tanpa harus pergi jauh-jauh.

Lebih lama di satu tempat

Dulu, ketika single, saya ingin sapu jagat. Dua hari di kota A, satu hari di kota B, bahkan kadang dua kota untuk satu hari. Pokoknya, harus semuanya dapat. Buat apa sudah menabung banyak-banyak dan lama-lama tapi tidak melihat semuanya? Sekarang, semua berubah. Saya dan istri lebih banyak ingin menikmati suasana di satu kota atau satu tempat, selain karena tidak repot berkemas dan berpindah-pindah, juga dapat menikmati vibe satu kota.

Belajar apresiasi hal-hal kecil

Jika dulu kita lebih senang untuk mengejar tren, misalnya berkunjung ke tempat-tempat tertentu, mencoba makanan dan minuman tertentu, atau mengalami atraksi tertentu, maka saat ini kami dalam tahap dapat menikmati hal-hal kecil seperti jalan kaki dengan nyaman menghirup udara segar, mengamati orang-orang lalu-lalang, menyelami kehidupan di sebuah tempat seolah menjadi penghuni kota, berimajinasi lebih jauh: bagaimana kalau kita benar tinggal di sini? Lalu, berbahagia dengan apa yang ada dan yang lebih baik dari tempat asal. Atau, sekedar berbahagia bisa datang ke suatu tempat yang jauh setelah menabung berbulan-bulan.

Perlindungan perjalanan itu penting, jenderal!

Saya selalu rutin membeli asuransi perjalanan dengan coverage yang cukup baik. Bukan apa, jika terjadi apa-apa, dan biayanya banyak, tentu kita tak mau tabungan terkuras habis begitu saja, kan? Memang, kita keluar lebih banyak uang, tapi dengan jaminan yang membuat perjalanan kita lebih aman dan nyaman, tidak apa, kan? Anggaran yang saya keluarkan untuk keluarga biasanya Rp1-2 juta untuk asuransi perjalanan dengan durasi perjalanan 7-14 hari, tergantung dari produk asuransi yang Anda butuhkan. Biasanya saya menggunakan AIG, tapi saya juga ingin mencoba FWD dan WorldNomads. Beberapa asuransi juga melindungi perjalanan dari pembatalan misalnya karena sakit atau hal-hal mendadak lain dalam hidup, sampai puluhan ribu dolar Amerika.

Memilih penerbangan yang lebih nyaman

Jika melakukan perjalanan dengan bayi dan anak-anak yang lebih kecil, cobalah untuk berinvestasi sedikit dengan membeli tiket maskapai full-service dengan pelayanan prima. Anda tidak akan menyesal. Saya pernah beli tiket AirAsia dan tanpa membeli tambahan antrian cepatnya, saya barangkali harus mengantri panjang bersama penumpang lain, padahal saya membawa bayi yang waktu itu sedang rewel-rewelnya. It’s always good to splurge on flights.

Rumah vs. hotel

Menginap di rumah atau apartemen seperti model Airbnb atau HomeAway menjadi alternatif yang baik jika anda mengutamakan luas ruang dan fasilitas, tetapi bersiap untuk memasak dan membersihkan ruang sendiri. Saya biasanya menggunakan rumah atau apartemen karena tingkat privasi lebih tinggi dan beberapa host lebih bersahabat dari resepsionis hotel. Pada kasus lain, saya gunakan hotel jika saya merasa akses di sebuah tempat agak sulit, misalnya kendala bahasa, atau saya butuh fasilitas tambahan seperti sarapan pagi.

Belanja di tempat

Terkadang, belanja kebutuhan sehari-hari di tempat tujuan lebih masuk akal daripada membawa semuanya dari rumah. Misalnya, belanja toiletries atau makanan dan minuman untuk si kecil. Tentu saja, jangan lupa untuk menyiapkan makanan dan minuman si kecil selama di perjalanan pesawat, tapi secukupnya saja.


Buku-Buku Penginspirasi Perjalanan

Berikut beberapa buku yang dapat menginspirasi anda untuk melakukan perjalanan. Ketagihan tidak ditanggung, ya. Bukan, bukan “Eat, Pray, Love”, kok.

The Great Railway Bazaar oleh Paul Theroux

Paul Theroux adalah salah satu penulis perjalanan paling terkenal di dunia. Buku-bukunya menangkap esensi perjalanan dengan narasi yang jujur tetapi tetap imajinatif. Dalam buku ini, ia menceritakan tentang perjalananannya melalui kereta api di benua Asia, mulai dari The Orient Express di Singapura, Malaysia dan Thailand, Khyber Pass di Afganistan, Golden Arrow di Malaysia, Mandalay Express di Myanmar sampai Trans-Siberian Express yang membentang dari Cina, Mongolia sampai Rusia.

Istanbul oleh Orhan Pamuk

Siapa yang tidak tertarik pada Istanbul? Sejatinya, kota ini memang selalu dalam persimpangan, bahkan sejak dulu, jaman Kekaisaran Ottoman. Orhan Pamuk, seorang sastrawan terkemuka dari Turki, dilahirkan dan dibesarkan di Istanbul. Dalam buku ini, beliau menceritakan dan menggambarkan dengan detil dan menarik tentang semua sudut-sudut kota tempat ia dibesarkan. Tapi, tidak hanya itu, ia juga membumbuinya dengan cerita-cerita masa kecilnya, mulai dari hal-hal yang menyenangkan seperti makanan masa kecilnya, ketidaksukaannya pada beberapa aspek di keluarganya, sampai bagaimana kota ini membentuknya sebagai penulis. Jika ada tulisan yang “cantik dan menawan”, inilah hasilnya.

The Rice Mother oleh Rani Manicka


Saya tak pernah merasa jatuh cinta lebih besar pada Asia Tenggara, terutamanya Malaysia, sebelum membaca buku ini. Namun, fiksi yang berlatar belakang Malaysia dan Sri Lanka ini membuat saya lebih mengapresiasi detil-detil kultural dan kehidupan sehari-hari di ranah geografi yang lebih dekat dengan tempat saya dibesarkan: Indonesia dan Malaysia. Mulai dari detil-detil seperti kain, rumah, buah dan makanan lokal, sampai detil-detil sosiokultural seperti kebiasaan atau adat-istiadat. Semuanya diramu dalam fiksi tentang pubertas, pernikahan, pertikaian keluarga sampai konflik eksternal: penjajahan Jepang pada Perang Dunia II. Di sini, kita bisa melihat perjuangan seorang Lakshmi, gadis desa dari Sri Lanka yang pindah ke Malaysia karena pernikahan (yang agak dipaksakan). Melihat budaya dari sisi pendatang dan bagaimana pendatang itu berusaha dengan keras untuk berasimilasi, walau dengan konflik batin.

The Lonely Planet Story oleh Tony Wheeler dan Maureen Wheeler

Tidak banyak yang tahu tentang pendiri (atau istilah kerennya sekarang, founders) Lonely Planet, penerbit buku-buku panduan perjalanan. Adalah Tony Wheeler dan Maureen Wheeler, sepasang suami istri yang awalnya berasal dari Inggris, dan mengawali konsep backpacking dengan melakukan perjalanan darat dari Inggris ke Australia. Dari hasil perjalanannya ini, mereka memutuskan untuk membuat sebuah panduan perjalanan pertama di dunia, yang diberi judul “Across Asia on the Cheap“. Ternyata, edisi pertama laku keras. Mereka akhirnya “ketagihan” untuk menulis buku-buku lainnya, hingga pada akhirnya meminta penulis-penulis lain untuk berkontribusi dalam satu brand yang sama, yakni Lonely Planet.

Mereka memutuskan untuk berdomisili di Melbourne, Australia, dan beroperasi dari situ.

Di buku ini, mereka bercerita tidak hanya soal detil perjalanan lintas negara dari Inggris ke Australia melalui jalan darat, tetapi juga tentang motivasi bagaimana Lonely Planet lahir, serta apa visi dan misi mereka melalui publikasi ini.


Tempat-Tempat Ramah Anak Kecil di Singapura

Sebenarnya, agak bingung juga membuat daftar ini karena hampir semua tempat wisata atau tempat umum di Singapura itu ramah anak kecil. Bayangkan saja, setiap sudut ditata rapi, trotoar hampir selalu tidak putus, keamanan dan kenyamanan ruang publik selalu dijaga. Tapi, tentu saja kami suka bingung jika akhir pekan tiba, karena opsi-opsinya biasanya mal lagi, mal lagi. Syukurlah, tidak seperti ketika kami tinggal di Jakarta, untuk sekedar ngadem, tidak perlu ke mal. Berikut beberapa tempat yang sudah kami kunjungi, yang kiranya cocok untuk keluarga dengan anak kecil seperti kami.

Satu hal yang kami cari adalah ruang publik atau lokasi yang tidak terlalu ramai pengunjung, sehingga anak-anak pun lebih betah.

National Library

Terletak di Bugis, gedung perpustakaan pusat ini terdiri dari 16 lantai yang isi koleksinya bermacam-macam. Terdapat juga ruang kuliah dari beberapa universitas ternama. Tapi, yang paling penting, ada surga untuk anak-anak di lantai B1. Begitu masuk ke ruang perpustakaan pusat, carilah My Tree House, ruang buku dan bermain khusus anak-anak. Ruang ini sangat luas, dan ada replika rumah pohon di tengahnya, semuanya karpet, sehingga anak-anak bisa leluasa berlari-lari dengan membuka sepatunya. Orang tua pun senang dan adem ayem, sambil sesekali membacakan buku kepada anaknya.

Bandara Changi

Warga Singapura menganggap bandara kesayangannya sebagai sebuah destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Setiap ujung minggu, ada saja yang berkunjung hanya untuk makan, minum, belajar atau bermain. Ruang publik yang melimpah, opsi makanan dan belanja yang juga seperti mal, membuat bandara ini praktis menjadi tempat nyaman untuk menghabiskan waktu walau tidak terbang ke mana-mana. Di semua terminal terdapat ruang bermain anak yang tak kalah menarik dengan apa yang ada di mal, bahkan jauh lebih baik.

National Gallery

Atraksi baru ini terdapat di dekat MRT City Hall, tepat di depan Padang, lapangan besar yang menjadi saksi perayaan kemerdekaan tiap tahun. Baru saja diresmikan tahun 2015, museum seni ini memiliki ruang khusus anak-anak, yang bernama Keppel Center for Art Education. Di sini, ada bagian yang gratis, dan ada yang berbayar. Untuk yang gratis, ada ruang bermain dengan replika taman yang mengingatkan saya pada pesta teh di Alice in Wonderland. Untuk opsi berbayar, ada berbagai workshop menarik buat si kecil, tentunya bertema kesenian.

Stadium

Kami sekeluarga suka ruang terbuka, karena di sini si kecil bisa menyalurkan energinya secara bebas tanpa harus khawatir akan celaka atau mengganggu orang lain. Di Stadium, ada banyak ruang terbuka, mulai dari lingkaran untuk berlarinya di sekitar stadium—yang tertutup—sehingga bisa menghindari hujan, sampai di kawasan tepi airnya yang cukup luas. Ada juga taman air yang bisa digunakan jika anak anda ingin bermain air.

Changi Beach Park

Untuk opsi alternatif selain East Coast Park, bisa dicoba berkunjung ke Changi Beach Park, di timur Singapura dekat dengan bandara Changi. Ukurannya lebih kecil, tapi juga cukup leluasa untuk berjalan kaki. Yang menjadi sumber keramaian di sini adalah Changi Food Village, pujasera serba ada, tapi lumayan untuk mengisi perut ketika sudah lapar.

Kira-kira itulah tempat-tempat yang sudah kami kunjungi dan rekomendasi. Tentunya, ini bukan daftar yang definitif dan terbatas, nanti pasti kami perbaharui lagi.


Pindah ke Singapura

Hari pertama di Singapura

Mohon maaf karena kami sudah sangat sibuk akhir-akhir ini, untuk pindah ke Singapura. Ya! Kami sekeluarga akhirnya bisa merasakan hidup hijrah di luar negeri, walau hanya dekat, ke Singapura. Tapi, ini pengalaman yang luar biasa buat kami. Anak kami, Janis, yang baru berusia 1,5 tahun, ikut bersama kami.

Ketika tahu akan pindah ke Singapura, kami mulai mencari-cari apartemen. Pilihan pertama kali selalu ke Airbnb, lalu baru beberapa situs lokal seperti 99.co dan Nestia. Kami juga sempat melihat-lihat PropertyGuru. Tetapi, pilihan selalu jatuh pada properti yang ada di Airbnb. Menurut kami, properti-properti yang ada di Airbnb terasa lebih bersahabat dan bernada “selamat datang”. Properti yang ada di situs-situs khusus properti lebih bersifat berjualan, dan kami selalu was-was apakah kami akan diwajibkan membayar banyak hal. Trik kami, cari apartemen yang disewakan utuh, kelihatan biasa saja, dengan pemilik langsung yang profilnya baik dan bersahabat, lalu mencoba negosiasi sewa jangka panjang. It always worked like a charm.

Ada beberapa pilihan daerah yang kami inginkan di Singapura, walau sebenarnya hampir setiap daerah baik. Paling hanya masalah jarak. Tapi, bertahun-tahun tinggal di pinggiran di Bekasi dan Depok, lalu bekerja di Jakarta setiap hari pulang-pergi, tidak membuat kami goyah hanya karena dapat tempat tinggal jauh. Beberapa pilihan kami adalah Pasir Ris, Katong, Tanah Merah dan sekitar Botanic Gardens.

Taman di samping tempat tinggal kami

Pasir Ris, karena menurut kami daerah itu cukup ramah dengan keluarga, dan relatif masih murah, tetapi sangat jauh dari kantor. Tapi, dekat dengan bandara. Katong, karena saya pribadi senang dengan suasananya yang seperti Kemang, namun aksesnya agak nanggung dengan MRT, walau akses bis cukup banyak. Tanah Merah juga punya beberapa lokasi yang cukup mumpuni, tapi terlalu ramai buat saya karena daerah persinggungan. Botanic Gardens, karena daerahnya tenang, banyak penghijauan, tetapi mungkin agak mahal.

Ketika memilih, akhirnya pilihan jatuh pada Katong. Terutama karena dapat Airbnb yang bersahabat di sini. Sebuah kondominium tua yang masih terawat, dikelola oleh sebuah perusahaan keluarga yang memang memiliki tanah dan propertinya sejak bertahun-tahun. Saya merasa lebih percaya karena langsung berhubungan dengan salah satu anggota keluarga yang mengelolanya, dan lebih percaya karena mereka sudah mengelolanya paling tidak 20 tahun. Kami menemukan sebuah unit apartemen sederhana satu kamar dengan luas lebih kurang 90 meter persegi (total). Pikir saya, paling tidak ini cukup buat sekarang. Harga sewa per bulan sudah termasuk listrik, air dan gas (utility). Wah, ini terbaik buat lokasi dan luasnya. Memang, kami bisa mencari unit dua kamar yang lebih luas dengan harga seperti itu, terutama di pinggiran, tapi akhirnya kami memutuskan untuk di sini dulu, minimal setahun. Anak kami, Janis, juga masih kecil.

Yang jadi kekurangan adalah unit ini berada di lantai empat dan tidak ada lif. Artinya, kami harus menaiki dan menuruni tangga setiap hari. Seminggu pertama sulit, tetapi setelah ditekuni, tidak begitu berarti. Kesulitan ini dikompensasi dengan fasilitas umum yang tersedia di dalam kondominium, seperti kolam renang, lapangan tenis, lapangan basket dan area publik (rumput dan fasilitas bermain anak) di tengahnya yang dapat kami akses 24 jam. Selain itu, di sebelah kondominium terdapat taman umum yang juga cukup luas. Tak ada halaman rumah, tapi kami punya dua halaman besar! This is very important!

Syukur, ketika kami datang, walau belum ada seprei, ada beberapa perabot dan alat rumah tangga yang sudah dipersiapkan, seperti kulkas, mesin cuci dengan pengering, AC, sofa dan meja, meja makan dan kursi, jemuran, sampai ketel buat masak air. Alat makan seperti sendok, garpu, piring, mangkok dan gelas juga sudah ada walau sedikit. Hari pertama kami datang, kami hanya perlu membeli rice cooker.

Silakan tunggu cerita-cerita kami selanjutnya di Singapura (dan harapan besar kami, juga di perjalanan lain di luar Singapura dan Indonesia).


Melihat Terminal 3 Baru Cengkareng


Salah satu sisi keren di bandara ini adalah ketika keluar dari pesawat.

Dalam rangka perjalanan kerja, akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba Terminal 3 baru di bandara Soekarno-Hatta, atau yang lebih sering disebut sebagai Terminal 3 Ultimate. Sebenarnya saya agak kurang setuju dengan istilah ini, karena terlalu membesar-besarkan dan seolah sudah final. Bagi saya, bandara akan selalu diperbaiki, ditingkatkan. Tidak pernah selesai.


Hal yang saya kagumi dari bandara ini: langit-langit tinggi dan kaca-kaca besar.

Catatan ini diambil pada bulan September 2016, yaitu satu bulan sejak dibukanya Terminal 3 ini pada bulan Agustus 2016. Saya paham ada beberapa sudut yang mungkin belum optimal. Ada juga berita-berita yang menunjukkan betapa pembukaannya terkesan terburu-buru dengan segudang masalah. Ada soal banjir, ada soal plafon yang rubuh, ada yang soal kualitas bahan bangunan yang kualitas rendah. Saya juga dengar dari teman-teman, kondisinya memang belum siap, papan marka yang tidak ergonomis karena ukuran hurufnya kekecilan, alur yang aneh, dan lain sebagainya. Macam-macam, pokoknya. Hingga, pada akhirnya, saya mencoba sendiri.


Antrian di salah satu pintu.

Pada malam itu saya akan terbang ke Surabaya dengan Garuda Indonesia, satu-satunya maskapai yang beroperasi di Terminal 3 ini, untuk saat ini. Dengan jantung yang berdebar-debar, saya turun dari taksi di area keberangkatan Terminal 3. Kesan pertama, besar dan luas. Mewah? Tidak. Nyaman? Tidak juga. Lantainya seperti lantai ruko atau rumah tinggal. Beberapa pilar tampak seperti tidak selesai, mungkin maksudnya gaya ala “industrial”.


Beberapa sudut masih terlihat suram dan redup.

Ada pemeriksaaan keamanan sesaat setelah masuk di pintu utama mana pun. Ini mungkin mengantisipasi serangan-serangan teroris atau ancaman keamanan lain. Memang, dari teras depan sampai masuk tidak ada pengecekan kendaraan dan siapapun bisa masuk. Kesan pertama? Megah! Tapi agak redup dengan lampu-lampu yang sinarnya kurang merata. Dengan lampu sinar putih, kesan mewah dan nyaman tidak terasa. Seharusnya, jika mereka belajar dan ingin menyaingi Changi, belajar juga ilmu desain interior dan belajarlah bagaimana penerangan mempengaruhi mood para pengguna ruangan itu. Warna kekuningan dapat menimbulkan kesan hangat dan nyaman. Karena itulah Changi cenderung seperti ini. Perhatikan saja.

Tapi, yang saya suka adalah langit-langitnya yang super tinggi. Dibandingkan dengan Terminal 1 dan 2, saya tidak merasa klaustrofobik di sini. Karena semua kaunter check-in adalah untuk Garuda Indonesia, saya bebas memilih di mana saja selain Business Class dan First Class. Hampir tidak ada antrian panjang. Hanya dua atau tiga orang di depan saya. Proses check-in pun dilakukan sempurna selama 10 menit saja termasuk menunggu antrian.


Mengintip sisi internasional yang belum selesai.

Setelah itu, saya kelaparan. Saya lihat opsi makanan dan minuman di sini masih sangat sedikit, terutama di ruang publik sebelum keberangkatan. Oh ya, lain dengan Terminal 1 atau 2, pengantar bisa bebas masuk ke ruang check-in dan makan minum di sini. Opsinya hanya kafe seperti Starbucks, Krispy Kreme, makanan Bali (kalau tidak salah ingat) dan beberapa kios kecil. Itu pun semua masih dalam skala kios kecil. Saya tak paham. Masih ada ruang luas di mana-mana tapi yang digunakan hanya kios-kios kecil. Menumpuklah semuanya di situ. Antrian mengular. Saya putuskan hanya beli donat saja buat makan malam.

Setelah itu, saya pergi ke ruang keberangkatan (air side). Saya harus melalui pemeriksaan keamanan. Tempatnya sungguh luas dan bisa memilih di mana saja. Saya suka bagian ini, karena sangat luas, bisa menghindari antrian-antrian mengular seperti di Terminal 1 atau 2.

Setelah berada di ruang keberangkatan, terkejutlah saya karena areanya jauh lebih besar lagi, ada mezzanine-nya juga. Opsi makanan dan tokonya juga lebih banyak, seperti Liberica, Eat and Eat To Go dan beberapa kios makanan nasi dan lauk. Ada Mothercare dan Periplus. Seperti mal pada umumnya. Ada beberapa gerai lain yang masih dipersiapkan. Yang saya lihat ada FamilyMart. Yang lain tidak tahu apa. Semoga cepat selesai dan buka, karena kami semua kelaparan dan kehausan.


Sesaat setelah pemeriksaan keamanan.

Satu hal lain yang saya suka juga adalah ketersediaan toilet yang sangat memadai, dan ada di setiap dua pintu. Di tempat yang sama pula terdapat ruang menyusui bagi ibu-ibu yang punya bayi. Bersih dan besar. Ada travelator yang membantu kita untuk lebih cepat di pintu tujuan (ya, walau masih digunakan untuk “berdiri santai” instead of jalan cepat). Ini juga kali pertama saya bisa bekerja di laptop dengan tenang karena banyak sekali sudut-sudut yang tenang. Bagi penikmat pesawat, pasti senang ada di sini karena tersedia tempat-tempat duduk yang menghadap ke jendela besar nan tinggi melihat pesawat-pesawat lalu lalang.


Tempat duduk yang lumayan keras tapi yang penting menghadap ke jendela.

Secara pribadi, saya lebih suka ruang air side ini, karena lebih tenang, luas dan akomodatif terhadap kebutuhan pejalan seperti saya, paling tidak pada saat ini ketika semua fasilitas belum siap secara merata. Yang bisa saya sarankan adalah, tetap, suasana menjadi redup ketika malam dan tidak nyaman karena memakai penerangan putih. Silau sekali melihatnya. Satu pintu juga masih ada tiga penerbangan dan antrian akan menumpuk sehingga membuat penerbangan yang terakhir menjadi tertunda 45 menit.

Ketika turun dari pesawat, di dalam garbarata juga sangat panas sekali, tidak ada pendingin udara.


Turun dari pesawat, di garbarata. Panas sekali di sini.


Di area pengambilan bagasi, masih ada pekerjaan seperti ini.

Satu hal lagi, saya melihat ada beberapa sudut dinding yang sudah berjamur, atau pekerjaan yang tidak rapi. Setengah-setengah. Tolonglah, ini bandara internasional.


Ada jamur di beberapa sisi dinding.

Tapi saya harus tetap mendukung ya? Nanti ada yang mengejek-ngejek saya tidak nasionalis…


Bunga Rampai: Nostalgia Penuh Rasa

Bagian belakang yang menawan
Bagian belakang yang menawan.

Sabtu kemarin kami akhirnya mencoba makan siang di Bunga Rampai, rumah makan fine dining dengan spesialisasi menu Indonesia di bilangan Menteng, tepatnya di depan Jakarta Eye Center (JEC). Tempatnya dari luar sungguh penuh nostalgia: rumah klasik dari era kolonial, kami perkirakan, bentuknya hanya sedikit berubah setelah direnovasi. Barangkali, dulu rumah ini adalah tempat tinggal para ningrat atau pegawai Belanda.

Ketika kami datang pukul 11 pagi, parkir masih sepi. Tentu saja, tinggal di Jakarta, parkiran selalu menjadi masalah. Untung saja pada hari itu kami naik Uber, karena mobil lagi di-servis.

Janis tampak sangat menikmati area yang luas!
Janis tampak sangat menikmati area yang luas!

Ketika masuk, suasana dalamnya luar biasa nyaman dan cantik. Tidak pretensius sama sekali, seperti beberapa restoran yang mengaku Indonesia, tapi interiornya sedikit memaksa dengan menambah sangkar burung atau pintu gebyok di sudutnya. Tidak, Bunga Rampai tidak seperti itu. Cantik, elegan dan tidak berusaha menjadi Indonesia. Biasa saja. Ada elemen klasik Eropa di sana-sini. Bersih mengkilat. Pendingin udara yang merata sejuknya membuat suasana menjadi semakin nyaman untuk berbincang-bincang.

Sajian menu di sini sangat bervariasi. Kami sampai bingung dibuatnya. Seperti restoran fine dining lain, selalu ada appetizer, main course dan dessert, tetapi, lebih dari itu, ada juga kategori spesifik lain seperti sajian berbasis nasi, sajian berbasis mi, salad, daging, poultry, ikan sampai specialty.

Elegan, tanpa memaksakan diri
Elegan, tanpa memaksakan diri.

Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang
Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang.

Nama-nama sajiannya pun menggugah kenangan dan selera makan secara bersamaan. Siapa yang tidak akan tertarik dengan “Putik Sari Dua Rasa”, “Sate Sekar Sari” atau “Sekoteng Anggrek Bulan”? Tidak terlalu berlebihan, tetapi tetap terdengar cantik.

Beberapa makanan yang kami coba
Beberapa makanan yang kami coba.

Harganya terhitung mahal, tetapi untuk kunjungan beberapa bulan sekali atau setahun sekali dengan keluarga, semua jadi terbayar. Terima kasih, Bunga Rampai. Semoga kau tetap bisa merangkai warisan kuliner Indonesia sampai kapan pun.


Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil