Penulis: Sigit Adinugroho (halaman 1 dari 12)

Menjelajah Tasmania Selama Dua Minggu (Bagian 3)

Kabut pagi di Launceston

Hari ke-5: 6 Agustus 2018

Kami benar-benar menikmati masa-masa tanpa internet di Cradle Mountain. Sungguh ide yang brilian. Tapi tentu saja, semua yang brilian, biasanya ada akhirnya. Termasuk menyicipi Cradle Mountain selama tiga malam.

Kami tetap harus bergerak. Tujuan selanjutnya: Launceston, via Sheffield.

Perjalanan ke Launceston, menurut Google Maps, akan memakan waktu selama lebih kurang dua jam. Dengan berhenti di Sheffield, sebuah kota kecil di tengah, mungkin akan memakan waktu tiga jam total.

Kenapa Launceston dan Sheffield? Launceston adalah destinasi wajib kunjung di Tasmania, karena ia merupakan kota terbesar kedua setelah Hobart di pulau ini, dan ditasbihkan menjadi kota yang lebih berseni. Entahlah, mungkin karena museum-museumnya? Sheffield kami pilih karena di situ kami bisa mengisi bensin, makan siang dan belanja kebutuhan dapur untuk masak di Launceston nanti. Kabarnya, ada beberapa mural yang bisa kami lihat di situ.

Perjalanan hari itu dimulai dengan jalan yang basah karena hujan sejak pagi. Kami menelusuri lagi jalan kami ke sini ketika datang tiga malam lalu, sebelum memotong di sebuah tikungan untuk mengarah ke timur, lalu sekitar satu jam kemudian, kami sampai di Sheffield.

Sheffield adalah kota yang sepi—sebagaimana kebanyakan kota-kota di Tasmania (dan mungkin, Australia, untuk ukuran orang Indonesia)—namun kami suka kota sepi! Di sini kita bisa jalan tanpa harus khawatir diburu-buru pejalan kaki (seperti di Singapura), diburu-buru sepeda dan skuter (lagi-lagi, seperti di Singapura), atau menghadapi kesemrawutan dan kemacetan (seperti di Jakarta). Janis pun bisa bermain tenang di playground sambil memetik bunga daisy. Supermarket favorit kami, IGA, ada di sini dan syukurlah kami bisa stok beberapa bahan makanan untuk malam ini.

Kota Sheffield dengan latar pegunungan
Salah satu atraksi utama di Sheffield: Mural di beberapa dinding ruko

Sambil memutar lagu di mobil, kami melanjutkan perjalanan. Suasana seperti ini yang kami cari. Tidak ada hiruk-pikuk. Hanya kami bertiga, dari satu kota ke kota lain. Asing. Tapi familiar.

Launceston ternyata lebih ramai dari yang kami duga. Jalan-jalannya lebih sempit, mungkin ilusi karena banyak yang parkir di pinggir jalan. Yang jelas, selain lebih ramai, konturnya kota juga lebih dinamis, sehingga banyak naik-turun “bukit”.

Sesampainya di Airbnb yang kami pesan, kami tak kuat ke mana-mana lagi, dan langsung bongkar muat barang. Mama Janis pun memasak lauk andalan: tumis salmon, brokoli dan wortel. Kami pun puas, dan tertidur pulas.

Agenda kami di Launceston esok harinya adalah mengunjungi Cataract Gorge dan Queen Victoria Museum & Art Gallery.

Cataract Gorge dan chairlift

Cataract Gorge sejatinya adalah formasi ngarai di tengah kota Launceston, yang menurut sejarahnya merupakan salah satu awal pemukiman aborigin yang penting secara tradisi. Di sini ada tiga bukit, dan masing-masing bukit itu memegang peranan penting pada kelangsungan hidup masyarakat aborigin dulu. Selain itu, ngarai ini juga punya signifikansi geologis terkait jembatan alami dari benua utama Australia ke Tasmania. Tapi sekarang, ia jadi taman kota, di mana setiap penduduk dan pengunjung bisa menikmati alam tanpa harus beranjak jauh dari kehidupan kota. Di sini, ada jalur trekking, kolam renang, chairlift terpanjang di Tasmania (A$15 pulang-pergi) dan kafe. Kegiatan yang bisa dilakukan, tentu saja jalan kaki, lari, rekreasi dan makan-minum. Kami habiskan waktu sekitar satu jam di sini, termasuk mencoba chairlift-nya yang ternyata lumayan tinggi!

Jalan kaki di salah satu jalur trekking di Cataract Gorge

Setelah puas, kami pergi ke museum Queen Victoria Museum & Art Gallery. Ternyata, museum ini ada di dua lokasi. Yang pertama di Royal Park, tempat kami pertama berkunjung, dan di Inveresk, di seberang sungai menuju ke utara kota. Museum di Royal Park fokusnya adalah karya seni, sedangkan di Inveresk adalah transportasi, sejarah alam dan ilmu pengetahuan. Tentu saja anak kami lebih tertarik di museum Inveresk, karena banyak hal yang bisa ia coba. Tapi, menurut kami, lebih cantik museum di Royal Park.

Ruang galeri seni di Queen Victoria Museum & Art Gallery di Royal Park
Queen Victoria Museum & Art Gallery di Inveresk, dengan salah satu bagian museum transportasi. Dulu kala, kereta api digunakan di Tasmania untuk mengangkut manusia dan barang, tetapi hari ini hanya barang.
Salah satu bagian menarik di museum transportasi ini adalah marka-marka kereta api yang masih dirawat apik.
Belajar hewan-hewan khas Australia
Memulai bakat seni di museum
Belajar sejarah kehidupan aborigin di Tasmania. Dulu kala, salah satu tempat berlindung sementara dari dingin dan angin adalah gubuk sederhana ini.

Sebenarnya ada satu museum lagi yang ingin kami kunjungi, yaitu Design Tasmania. Tapi setelah ke sana, museum akan tutup 30 menit lagi, dan kami harus membayar A$6 per orang. Sepertinya rugi ya untuk menikmati hanya 30 menit. Kami putuskan untuk menunda sampai besoknya jika sempat. Kami akhiri hari dengan bermain di taman kota yang kebetulan terletak di seberang penginapan.

Menjelajah Tasmania Selama Dua Minggu (Bagian 2)

Dove Lake Circuit

Satu hal yang saya paling khawatirkan ketika berangkat adalah apakah saya bisa menyetir sepanjang ribuan kilometer, berhari-hari, di tanah asing dengan aturan yang berbeda?

Apakah kemudian anak saya yang masih berusia tiga tahun bisa bertahan di kursinya selama minimal satu jam saja, jika harus berhenti-henti?

Domba-domba yang jumlahnya lebih banyak dari manusia. 10 domba : 1 manusia?

Ternyata, kekhawatiran itu tidak menjadi kenyataan. Menyetir di Tasmania terhitung mudah karena jalan relatif sepi, aturan jelas, supir-supir yang lain lebih sabar, serta pemandangan yang menyejukkan mata. Mustahil untuk mengantuk dalam perjalanan ini karena setiap berbelok, ada saja pemandangan yang indah. Tapi, anda tetap harus hati-hati dan patuh pada batas kecepatan atau rekomendasi kecepatan. Anda bisa menyetir di sini dengan SIM A Indonesia, dilengkapi terjemahan resmi (tidak mesti dari polisi atau kedutaan, cukup dari penerjemah bersumpah).

Tips: Untuk menerjemahkan SIM, kami menggunakan jasa Worldnet Translation di Jakarta Timur. Worldnet Translation adalah salah satu penerjemah bersumpah resmi kedutaan besar Australia di Jakarta.

Anak kami juga ternyata tidak segelisah itu. Paling-paling hanya meminta cemilan, atau minta diputarkan lagu anak-anak. Alhasil, playlist yang kami susun dengan lagu-lagu kesukaan saya dan istri pun hanya diputar sesekali. Tak apa, yang penting anak bahagia! 

Hari ke-1: 2 Agustus 2018

Hari di mana kami terbang ke Devonport, sebuah kota pelabuhan di utara Tasmania, melalui Melbourne. 

Sekitar dua minggu sebelumnya, kami sudah mulai berkemas. Bukan apa, karena ini perjalanan nan panjang, kami berusaha untuk memasukkan semua kebutuhan secara berkala, sehingga tidak ada yang lupa. Hasilnya, kami membawa dua koper kecil dan satu koper medium—suatu keniscayaan karena blog ini judulnya “ransel kecil”—tapi apa daya, kami perlu membawa jaket musim dingin yang besar ukurannya, serta sepatu boots. Kami memutuskan membawa dua pasang sepatu, satu pasang boots dan sepasang lain sepatu kasual, karena tidak semua destinasi memiliki salju atau perlu trekking. Saya juga harus menyetir, rasanya pakai boots berlama-lama menyetir akan melelahkan.

Kabin kami di Devonport, dan mobil sewaan, sebuah Mitsubishi ASX.

Satu hal yang paling kami sesalkan adalah ternyata kami membawa baju terlalu banyak, karena ada beberapa hari di mana kami bisa mencuci dan mengeringkan baju. 

Area bermain anak di penginapan

Oh ya, tak lupa, satu yang penting adalah kami membawa penanak nasi mungil dan alat makan. Tidak lupa pula outlet enam colokan dengan converter Australia. Jangan sampai nanti berebut tempat listrik!

Untuk keperluan di mobil, kami bekali diri dengan banyak cemilan, air mineral (baik untuk minum atau keperluan lain, misal isi radiator), surat izin mengemudi Indonesia lengkap dengan terjemahan, serta SIM internasional untuk backup, ponsel dengan Google Maps yang selalu terisi baterai. Tips: untuk memasang ponsel di dasbor mobil, kami sarankan gunakan pelekat magnet yang dipasang di lidah air conditioning dibanding pelekat di kaca, karena lebih stabil. Kami menggunakan merek Scosche MagicMount. Harganya juga jauh lebih murah dari phone holder lain.

Selain itu, untuk menghindari menggunakan sistem audio mobil, kami juga membawa bluetooth speaker sendiri. Benar-benar berusaha mandiri tidak tergantung peralatan di tempat.

Untuk urusan navigasi, kami serahkan sepenuhnya pada Google Maps, dan ternyata cukup efektif.

Hari pertama kami gunakan untuk check-in ke penginapan pertama kami, sebuah kabin sederhana di Discovery Parks Devonport. Setelahnya, kami belanja kebutuhan dasar seperti yang sudah diulas di artikel sebelumnya.

Beruntung, hampir semua yang kami butuhkan ada di Woolworth’s terdekat. Sisa hari kami gunakan hanya untuk beristirahat dan masak makan malam karena besok kami akan berangkat ke Cradle Mountain. Cuaca cerah, namun suhu cukup dingin di kisaran 5-10 derajat Celcius.

Hari ke-2: 3 Agustus 2018

Sambil menunggu waktu checkout, Janis kami ajak bermain di playground di penginapan. Kebetulan penginapan ini menghadap ke laut, jadi kami sempatkan juga untuk melihat sedikit ke pesisir, mengintip kapal yang sedang berada di tengah Selat Bass, selat yang memisahkan Tasmania dan benua Australia yang utama.

Di Tasmania, dan Australia secara umum, banyak sekali penginapan bertema kabin atau chalet yang ada dapur dan beberapa kamar (termasuk bunk bed). Biasanya, penginapan seperti ini disebut self-contained atau self-catering accommodation. Ini bukti bahwa Australia adalah tujuan wisata yang ramah keluarga dan mengapresiasi kebebasan.

Perjalanan menuju Cradle Mountain dilalui dalam waktu lebih kurang 1,5 jam. Hanya berbekal panduan Google Maps, kami pun mulai menyetir. Tidak lebih dari 15 menit, kami sudah berada di pedesaan. Pemandangannya indah sekali. Di kejauhan, tampak pegunungan. Di kanan kiri, tampak lapangan hijau dipenuhi jerami, domba, kuda dan sapi. Jalan berliku nan halus. Rumah-rumah penduduk yang tersebar. Ini sih, seperti di Switzerland, ya! Rasanya ingin berlarian di lapangan hijau sambil bernyanyi The Sound of Music!

Decak kagum kami tak berhenti, sampai terkadang ingin tiba-tiba berhenti mendadak untuk mengambil foto. Tapi kami harus jalan terus sebelum makan siang!

Lanskap berubah sekitar 30 menit menuju lokasi. Jalan lebih berliku, melalui tebing yang tinggi. Ketika keluar dari tebing-tebing ini, kami masuk ke lanskap lain pula: hijau mulai berkurang, lebih “tandus” tapi banyak tanaman perdu, pohon-pohon yang bentuknya semakin berbeda. Kita sudah sampai di dataran tinggi midlands, dengan iklim yang lebih kering dan elevasi yang lebih tinggi, didominasi grasslands dan tanaman perdu. Hal ini jugalah yang membuat Tasmania unik, karena kondisi seperti ini tidak ditemukan di pulau lain di Australia. Kondisi ekologi Tasmania yang terisolir membuat kondisi flora dan faunanya tumbuh unik.

Kami pun melanjutkan perjalanan sambil melihat tanda-tanda di pinggir jalan yang mengatakan jalanan ini akan sangat licin jika ada salju dan kemungkinan ditutup. Syukurlah, pada saat itu, tidak ada salju, tapi memang jalanan agak basah. Saran kami, selalu pantau kondisi jalan.

Tidak banyak kendaraan yang melintas, tapi begitu masuk ke penginapan kami, ternyata banyak yang menginap. 

Kabin kami di Cradle Mountain
Dapur di kabin yang cantik dan lengkap

Kami menginap di sebuah kabin unik yang berarsitektur minimalis. Sangat berbeda dengan penginapan kami di Devonport yang sangat basicThis one is our favourite yet! Ada dua kamar yang lumayan besar ukurannya (dan bukan bunk bed), ruang keluarga yang proper, serta kamar mandi dengan bathtub dan ukuran yang luas. Belum lagi dapur yang—walaupun masih menyatu dengan ruang makan—cukup besar dan nyaman, dengan amenities lengkap.

Kabin di sini semuanya independen, dalam arti tidak dalam satu bangunan. Untuk mencapai masing-masing kabin kita perlu menyetir, karena jaraknya jauh. Di setiap kabin ada area untuk parkir mobil. Jadi, memang idealnya menyewa mobil. Berjalan kaki bisa saja, asal tahan dingin.

Tentu saja, karena sudah lewat makan siang, kami putuskan untuk mengakhiri hari di penginapan. Sorenya kami mampir ke lounge di dekat resepsionis sambil menikmati cokelat panas di depan perapian. Hm, nyaman! A real cabin in the wood experience (bukan film horor itu, ya!).

Bersantai di lounge hotel dekat perapian

Istri pun masak untuk makan siang dan malam berupa pasta spaghetti bolognaise dan cream soup ayam. Sedap!

Oh ya, kami baru tahu, dari pengalaman ini, kalau di dunia ini ternyata ada yang namanya bed warmer alias alat elektronik pemanas tempat tidur yang biasanya ditempatkan di bawah kasur. Fungsinya tentunya untuk menghangatkan tempat tidur/kasur, sehingga bisa tidur lebih nyaman. Suhu pada saat itu lebih dingin dari biasanya, terlebih hujan, dan mencapai 3-5 derajat Celcius. Pemanas yang ada di kamar utama, ruang keluarga dan kamar kedua juga kurang pengaruh. Brrr! Beruntung ada pemanas tempat tidur.

Hari ke-3 & ke-4: 4 & 5 Agustus 2018

Pagi hari tiba, kami bergegas sarapan di kabin, lalu segera menyalakan mobil dan menuju Cradle Mountain Visitor Centre. Pusat pengunjung ini—untungnya—terletak tidak jauh dari pintu masuk utama penginapan. Tapi tetap harus menyetir ke sana. Cukup lima menit sampai.

Air danau Dove Lake yang sungguh jernih (tapi dingin)
 Boatshed di Dove Lake

Agenda hari ini adalah mencapai Dove Lake, situs utama dari Cradle Mountain yang bisa dinikmati hampir semua kalangan. Untuk mencapainya, ada dua opsi. Yang pertama, menyetir sendiri sejauh 7km, tapi melalui jalan berliku dan seringkali harus bergantian karena tidak semua dua jalur; atau yang kedua—opsi yang kami pilih—naik bis shuttle dari Visitor Centre.

Tips: jangan lupa untuk membeli Park Pass atau tiket masuk taman nasional di Tasmania sebelum naik bis. Jenis-jenis Park Pass ini ada yang khusus Cradle Mountain saja, atau yang termasuk taman nasional lain di Tasmania. Selain itu, ada yang berlaku terbatas, 8-minggu atau tiket tahunan. 

Kami memilih opsi tiket 8-minggu yang termasuk unlimited entry ke semua taman di Australia untuk 8 orang dan satu kendaraan, seharga A$60 (Rp700.000). Tampak mahal, tapi kalau beli satuan akan jauh lebih mahal karena kami berencana mengunjungi taman-taman lainnya (sekitar A$16.50 per orang dewasa x 2, dan anak-anak usia 5-7 tahun A$8.25, anak-anak di bawah 5 tahun gratis).

Menikmati hal-hal kecil seperti menemukan sungai kecil di bawah jembatan

Bis shuttle ini berangkat dari Visitor Centre setiap 20 menit, dengan jadwal pertama pukul 09:30 pagi dan jadwal terakhir pulang dari Dove Lake pukul 16:00 petang. Ia berhenti di beberapa tempat. Tujuan akhirnya adalah Dove Lake. Tiketnya gratis jika sudah membeli Park Pass, tapi harus diminta setiap hari dan berlaku 1×24 jam. Jadi misalnya besoknya ingin kembali ke Dove Lake, maka harus menukar dengan tiket bis yang baru keesokan harinya jika sudah lebih dari 1×24 jam.

Dove Lake Circuit dengan Glacier Rock (di latar belakang, batu besar)

Perjalanan ke Dove Lake memang benar berliku, tetapi menelusuri hutan hujan subtropis. Jika kita kuat, bisa berjalan ke Dove Lake sejauh 10km, atau misalnya tertinggal bis terakhir, maka terpaksa naik mobil orang lain (hitchhiking) atau jalan kaki 10km lagi ke Ranger Station (satu perhentian setelah Visitor Centre).

Sesampainya di Dove Lake, kita disambut pemandangan danau dengan latar belakang Cradle Mountain yang diliputi kabut. Jangan lupa untuk mengisi walker book, buku tamu yang akan merekam siapa saja yang melakukan trekking di sekitarnya. 

Ada banyak sekali jalur trekking, mulai dari yang sangat mudah sampai yang menantang. Ada pilihan very short walk sampai long walk dan naik ke puncak Marion’s Lookout, misalnya. Semua terpampang nyata dan jelas di walker centre, di mana ada jalur dan perhentian yang direkomendasikan, waktu yang diperlukan dan jarak yang ditempuh. Begitu pula dengan baju, alat dan perbekalan yang direkomendasikan. Yang paling populer adalah Dove Lake Circuit, jalur sejauh 6km berkeliling Dove Lake yang bisa ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Jangan lupa untuk memeriksa waktu agar tidak tertinggal bis terakhir ke Visitor Centre, ya.

Jika ingin pengalaman trekking yang lebih menantang, maka cobalah Overland Track, yang bisa ditempuh dalam waktu enam malam, sejauh 65km, bermula dari Ronny Creek (satu perhentian sebelum Dove Lake) sampai Lake St. Clair. Kabar baiknya, kita bisa melalui berbagai macam lanskap yang indah dan khas Tasmania, jika kita bisa melakukannya. Kabar buruk atau realitanya, dibutuhkan persiapan dan latihan mental serta fisik yang matang untuk melaksanakannya. Ketika musim panas, akan semakin ramai yang melakukannya, tapi untuk mencegah overcrowding, diperlukan pemesanan jauh-jauh hari. Tidak bisa sembarang melaksanakan begitu saja. Minimum tiga orang dalam satu rombongan. Ada titik-titik pemberhentian dengan lokasi perkemahan dan fasilitas umum seperti toilet dan tempat masak komunal.

Karena kami membawa Janis, kami hanya melakukan trekking sederhana 2km di sekitar Dove Lake, sambil menikmati pemandangan di Boat Shed dan Glacier Rock (yang kebetulan tutup karena akan dibangun sebuah platform yang aman). Sudah cukup buat kami dan anak kami, yang cenderung lebih senang berhenti dan melihat air mengalir atau bertanya soal tanaman ini dan itu. 

Awas! Ada beruang ganas!

Tips: Tidak semua jalan bebatuan di Dove Lake ramah stroller, jadi lebih baik tidak membawanya. Jika ingin membawa stroller, silakan mencoba Enchanted Walk (diulas kemudian). 

Hati-hati ketika hujan, gunakan sepatu yang bisa digunakan untuk permukaan licin. Kami menggunakan winter boots. Jangan menggunakan sepatu hak tinggi.

Jika anda ingin membawa stroller atau dengan orang tua yang tidak bisa berjalan jauh, bisa mencoba Enchanted Walk, sebuah rute jalan kaki sederhana sejauh 1km yang melingkar (looping) dan dilengkapi dengan laluan terbuat dari kayu, pengaman berupa kawat agar tidak licin, serta beberapa bagian yang memiliki pegangan. Anda dapat menikmati suasana hutan hujan subtropis melewati sungai kecil di tengahnya. 

Enchanted Walk yang memesona

Kalau masih kurang puas, di sekitarnya ada banyak rute berjalan yang sederhana tapi juga menarik, seperti The Waterfalls Walk, King Billy Track, Speeler Track dan Dove Canyon Track. Tidak perlu sampai ke Dove Lake, anda sudah bisa menikmati keindahan alam. Jika ingin yang lebih panjang, cobalah Pencil Pine Track di samping Enchanted Walk.

Lapar? Maka kafe terdekat ada di sebuah hotel bernama Cradle Mountain Lodge di samping Enchanted Walk, kopi dan makanannya lumayan enak. Harga di kisaran A$20 untuk makanan utama (mahal tapi porsinya besar, bisa dibagi) dan A$5-6 untuk kopi atau cokelat hangat. Kafe selanjutnya yang kami rekomendasikan ada di Visitor Centre, dengan kisaran harga sama. Di sini juga anda bisa membeli suvenir dan mengisi bensin.

Tips: Mengisi bensin di Australia sangat mudah, walau tidak ada yang akan membantu anda mengisi mobil anda. Biasanya, anda mengisi dulu (cukup pilih bensin yang diinginkan—biasanya unleaded—tekan pengisinya dan tunggu sampai penuh (ketika penuh, pegangannya akan terlepas sendiri atau memaksa anda berhenti). Setelah itu, datang ke kaunter dan informasikan nomor pompanya. Anda bisa membayar pakai kartu kredit atau tunai.

Hari kami akhiri setelah makan siang, lalu bersantai sejenak di lounge hotel sampai petang, sambil meminjam DVD. Oh ya, di sini tidak ada sinyal ponsel maupun wifi, jadi hiburannya hanya DVD dan TV kabel.

Anehnya, kami merasa lebih bahagia tanpa internet, walau sesekali ingin update Instagram juga. Hihihi.

Menjelajah Tasmania Selama Dua Minggu (Bagian 1)

Cradle Mountain

Tasmania adalah negara bagian terkecil dan paling selatan posisinya di Australia. Kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya pernah mendengar namanya, tapi tak pernah berkunjung ke sana. Selama beberapa dekade, ia pun hanya dianggap sebagai halaman belakang oleh orang Australia sendiri, dan dari sejarahnya yang cukup kelam—sebagai tempat pembuangan narapidana dari Inggris—tak banyak yang ingin berkunjung ke sana.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Tasmania, secara pelan tapi pasti, beranjak menjadi destinasi yang semakin terkenal. Jika Islandia menjadi terkenal karena lanskap yang menyerupai planet lain karena aktivitas volkaniknya—dramatis, dari tandus sampai hijau, lapang sampai bergerigi nan memuncak—maka Tasmania adalah kebalikannya, ia adalah tanah yang bersahabat seperti surga, tapi juga memberi kejutan di setiap sisinya.

Ketika kami mulai membuka dan mengikuti akun Instagram @tasmania, dari situlah hati kami jatuh cinta. Kesan pertama kami adalah Tasmania mirip sekali dengan Selandia Baru, dengan gunung menjulang, perjalanan darat, rumput meluas, udara bersih. Tasmania seperti sahabat lama yang hangat, merangkul dan mengundang. Sangat bersahaja. “Hey, kamu. Apa kabar? Bagaimana jalan-jalanmu di tempat lain yang indah itu? Mampirlah, nikmati pekaranganku yang sudah kurapikan dengan bunga, dengan lautan rumput melebar yang sangat hijau, berlatar belakang gunung yang menyingkap dirinya pelan-pelan. Lihatlah wombat, wallaby dan kangguru berlarian menemanimu. Besok hari jika sempat, kita akan melihat pantai dekat rumahku dengan bebatuan yang berapi-api. Nikmatilah, dengan secangkir kopi atau teh manis.”

Ronny Creek, Cradle Mountain

Tasmania memang penuh warna, hangat, bersahabat dan ramah. Seperti surga.

Semua ada di sebuah pulau yang bisa dijangkau relatif mudah dan cepat, serta belum ramai pengunjung. Ia juga menjadi destinasi yang sangat ramah keluarga.

Di sini, semua ada, untuk semua.

Berjalan di hutan hujan subtropis

Mari mulai dari kehidupan kota. Hobart dan Launceston, dua kota terbesar di pulau ini, menjadi nadi utama kehidupan kota. Museum nan berkelas (tanpa antrian gila-gilaan seperti di London atau Paris), pengalaman kuliner yang menyenangkan (tanpa antrian panjang seperti di Eropa atau di Jepang), jalan kaki yang menyenangkan, rileks dan tidak padat. Penuh kejutan kecil di sana-sini. Pemilik warung makan yang ramah. Atau, cobalah Richmond, 30 menit dari Hobart, di mana impian masa kecil tinggal di kota menawan menjadi nyata, hampir seperti kota di sebuah film Walt Disney.

Launceston, kota lembah Tamar Valley yang sendu di pagi hari

Senang dengan alam? Beranjaklah sedikit saja ke luar kota, maka cuplikan menarik dari Tasmania sebagai pulau yang dekat dengan alam akan menampakkan diri. Mount Wellington, sebuah gunung berketinggian 1.200m di atas permukaan laut yang bisa diakses 30 menit dari kota Hobart. Tamar Valley dan Narantwapu National Park, hanya sekitar 1 jam dari Launceston. Beranjaklah beratus-ratus kilometer ke Cradle Mountain, untuk melihat gunung dan danau Dove Lake yang terindah di Tasmania, bagian dari Lake St. Clair National Park yang dicintai para trekker.

Senang dengan pantai? Ketika musim panas, beralihlah ke Bruny Island atau Freycinet National Park untuk bermain di pantai putih berlatar belakang pegunungan menawan serta air biru toska.

Senang dengan hewan? Hampir di setiap taman nasional selalu ada kesempatan untuk melihat hewan asli Australia seperti wallaby, wombat dan yang paling terkenal… Tasmanian devil

Wallaby di depan kabin penginapan kami di Cradle Mountain

Berkelana dengan anak-anak? Kondisi alam yang beragam dan tidak terlalu ekstrem (misal, gunung tinggi atau berapi, atau cuaca ekstrem) membuat Tasmania menjadi pilihan yang tepat buat anak kecil! Musim panasnya tidak terlalu panas, musim dinginnya juga masih boleh tahan. Banyaknya lahan untuk berlari-lari dan kans bertemu hewan liar yang ramah juga menjadi daya tarik buat si kecil.

Yang membuat Tasmania menarik buat kami adalah keseimbangan yang hakiki:

  • Ukuran pulau yang “pas”: Ukurannya yang cukup pas untuk dijelajah dengan mobil. Tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar. Dari ujung ke ujung, maksimal 4 jam, dan bisa dipecah menjadi 2-2 atau 1-1-2 jam untuk istirahat atau berhenti bermalam. Ukuran pulau yang pas juga membuat penyusunan rencana perjalanan (itinerary) menjadi lebih mudah, dan hampir semua yang kami inginkan dapat dicapai dalam dua minggu. Kalau pun kami merasa kurang, itu hanya karena Tasmania terlalu indah dan kami ingin lebih berlama-lama!
  • Kombinasi kota besar dan alam yang seimbang: Alam yang terpencil (remoteness) dapat dicapai hanya 1-2 jam dari kota besar. Jika butuh apa-apa atau terjadi keadaan darurat, bisa dengan mudah kembali ke kota besar.
  • Variasi alam yang seimbang: Kecuali gurun (yang tentu bisa diakses di benua Australia yang utama), semua ada di sini, mulai dari gunung (Cradle Mountain, Hartz Mountain, Ben Lomond) sampai pantai (Bay of Fires, Bruny Island, Freycinet National Park, dan hampir seluruh sisi timur pulau), ada. Pulau-pulau kecil juga ada di sekitarnya, seperti Maria Island dan Flinders Island, atau daratan luas di tengah dengan berbagai kota kecil.
  • Bersahaja, tapi tetap memukau: Tasmania memang tidak sedramatis Selandia Baru atau Islandia, tetapi ia tetap punya ketertarikan tersendiri, dan menarik untuk pengelana ekstrem seperti pendaki gunung, sampai wisatawan keluarga yang ingin menikmati pemandangan dengan aman dan nyaman.
  • Harga masih relatif terjangkau: Pada saat tulisan ini dibuat, Tasmania masih mengarah menjadi bintang pariwisata dunia, seperti apa yang pernah terjadi pada Islandia beberapa tahun lalu. Harga-harga masih relatif terjangkau, seperti sewa mobil seharga $10-20 AUD per hari. Jika memasak sendiri, biaya-biaya pun akan dapat ditekan. Biaya hidup di kota-kota di sini pun juga lebih murah dibanding biaya hidup di kota-kota Australia lain seperti Sydney atau Melbourne, dan opsi menginap juga hadir di kota-kota menawan seperti Richmond dan Deloraine.
  • Ramah jetlagTerutama bagi yang berasal dari Indonesia atau Asia secara umum, perbedaan waktu tidak terlalu menonjol seperti jika kita ke Islandia (7-8 jam ke belakang), atau Selandia Baru (5-6 jam ke depan). Tasmania masih berbeda 3 jam dengan Waktu Indonesia Barat, atau dari kami di Singapura, hanya 2 jam. Efek jetlag tidak terlalu terasa, terutama buat anak kami.

Untuk perjalanan kali ini, kami cukup konservatif dalam membuat rencananya. Awalnya, memang, kami menganut sistem “kebut dua minggu”, di mana setiap satu atau dua hari, kami berhenti dan menginap di suatu tempat, dirancang sedemikian rupa hingga ia benar-benar mengelilingi pulau secara bundar. 

Ronny Creek, Cradle Mountain
Ross, Tasmania: Salah satu dari sekian banyak kota kecil pemberhentian kami

Rencana perjalanan awal kami:

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Stanley, sebuah kota kecil di pesesir utara Tasmania juga, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Strahan, kota kecil dengan latar hutan hujan, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Lake St. Clair, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke New Norfolk, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Hobart, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Port Arthur, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Orford, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Swansea/Coles Bay, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke St. Helens, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam.
  • Pulang.

Tapi setelah dipikir-pikir, rencana di atas memakan waktu 16 hari, terlalu lama untuk jadwal kami. Selain itu, sepertinya sedikit ngoyo, ya? Hidup di jalan terus dan tidak ada waktu bongkar kemas dan menikmati suasana.

Akhirnya, setelah dipilih-pilih, kami membuat rencana baru yang lebih realistis, dengan harapan suatu saat akan kembali lagi ke Tasmania (amin!):

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 3 malam. Mengorbankan Stanley.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 2 malam. Mengorbankan Strahan.
  • Lanjut ke Coles Bay, menginap 2 malam. Mengorbankan Bay of Fires/St. Helens.
  • Lanjut ke Hobart via Port Arthur, menginap 4 malam. Mengorbankan Lake St. Clair, New Norfolk.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam. Di perjalanan mampir ke Richmond, Ross dan Deloraine.
  • Hari terakhir, pulang.
Masak sendiri di hotel/kabin self-catering

Total perjalanan darat adalah 13 hari, dengan perjalanan udara 2 hari.

Dengan begini, kami bisa bongkar kemas dan istirahat di setiap tempat minimal selama 2 malam (kecuali Devonport yang hanya singgah). Devonport adalah persinggahan logistik, di mana kami akan membekali diri di awal dan berkemas final dan istirahat di akhir. Devonport juga dipilih sebagai pintu masuk karena tiket terusan dari Melbourne ke sana lebih murah daripada ke kota-kota lain, dan posisinya paling dekat dengan Cradle Mountain, perhentian pertama kami.

Setelah rencana perjalanan difinalisasi, kami menentukan beberapa hal penting lain seperti:

  • Sewa mobil: Kami memutuskan menggunakan Europcar karena mereka paling transparan ketika proses pemesanan. Kalau cari harga yang lebih murah, mungkin bisa coba Budget. Ada beberapa opsi lain yang lebih murah seperti Apex Rental tetapi ia tidak ada di Devonport, tempat kami mendarat. Pastikan anda memilih opsi ekstra yang diperlukan seperti child seatroad side assistance (jika tidak mahir mengganti ban dan lain sebagainya), serta yang paling penting asuransi yang meliputi kecelakaan. Jangan lupa aktifkan asuransi snow cover jika akan pergi ke daerah bersalju.
  • Menyusun menu makanan: Ini akan menentukan anggaran dan kenyamanan. Untuk kami, kami memutuskan untuk masak sendiri ketika pagi dan malam, dan opsi makan di luar ketika siang, atau ketika sedang bepergian dari satu kota ke kota lain. Tips: kami beli penanak nasi mungil yang bisa menyediakan nasi cukup untuk dua dewasa dan satu anak. Langkah selanjutnya setelah memutuskan masak adalah menyusun menu. Menu ini kami variasikan, tapi secara kasar, beginilah kira-kira menu kami bergantian:
    • Pasta bolognaise dengan daging cincang (atau minimal bumbunya saja)
    • Kari ala Jepang dan nasi putih, dengan sayur wortel, brokoli dan kentang (jika ada)
    • Ayam/daging/tuna tumis teriyaki/saus tiram dengan sayur wortel dan brokoli dan nasi putih
    • Tom yam dengan sayuran seadanya plus ayam atau protein lain
    • Sosis domba digoreng saja (sosis di Australia jauh lebih enak dan alami), biasanya untuk sarapan
    • Sandwich isi salmon asap, alpukat potong atau dihancurkan, keju lembaran dan telur mata sapi, biasanya untuk sarapan
    • Telur mata sapi dan nasi untuk sarapan
  • Menyusun daftar belanja: Ini benar-benar kami anggap serius karena ada beberapa hari seperti di Cradle Mountain di mana kami akan benar-benar jauh dari supermarket, atau pun kalau ada, antara lebih mahal harganya atau kami memang malas keluar karena dingin! Berikut daftar belanja yang kami punya secara kasar:
    • Bahan masak dasar seperti beras, daging, ayam, ikan, sayur seperti wortel dan brokoli, pasta, tomat, telur, minyak zaitun dan lainnya
    • Bumbu masak dasar seperti bawang-bawang dan beragam saus
    • Makanan siap makan yang bisa dijadikan makanan utama juga seperti roti tawar dan selai-selai
    • Kudapan, seperti keripik, cokelat, wafer dan lain sebagainya, berguna untuk di jalan misalnya ketika mendaki gunung
    • Minuman, seperti susu, jus, dan air mineral (penting!)
    • Perawatan tubuh seperti sabun, sampo jika diperlukan
    • Peralatan kebersihan, seperti kantung sampah, ini sangat penting ketika sampah banyak tetapi penginapan hanya menyediakan tempat sampah kecil
  • Pesan penginapan: Kami ingin berusaha untuk menggunakan jenis penginapan yang bervariasi, mulai dari hotel, rumah, apartemen, sampai kabin. Syukurlah, kami bisa mencoba semuanya dalam perjalanan ini. Fokus kami ketika di gunung adalah kenyamanan dan keamanan, oleh karenanya pengeluaran akomodasi di gunung paling mahal, di sebuah hotel yang menurut kami sungguh baik dan nyaman. Di kota, kami fokus pada rumah atau apartemen. Di pantai, kami menyewa kabin.
  • Pesan tiket pesawat: Kami memesan tiket pesawat Emirates dari Singapura ke Melbourne (7,5 jam), lalu QantasLink untuk terusan dari Melbourne ke Devonport (50 menit). Pengalaman kedua kami naik pesawat double-decker A380, dan pengalaman pertama kami semua naik De Havilland Dash-8! 
  • Visa Australia: Kebetulan kami sudah punya visa Australia 3 tahun multiple entry, jadi untuk kali ini, urusan visa menjadi mudah.
Hasil hiking 1,5km dengan anak, pemandangan indah di Wineglass Bay

Proses perencanaan berlangsung kurang lebih 2-3 minggu sebelum berangkat, tapi kami puas. Untuk cerita masing-masing hari di perjalanan Tasmania kali ini, ikuti artikel berikutnya, ya!

Tips Jalan Bersama Anak di Istanbul

Ketika kami memutuskan untuk pergi ke Istanbul, kami tidak tahu apakah kota ini ramah anak-anak atau tidak. Apakah ramah stroller atau tidak. Atau secara umum, apakah kota ini aman dan nyaman, mengingat banyak kejadian terorisme di sini dalam beberapa tahun terakhir. Ketika membeli tiket pun kami berpikir, is this the right thing?


Si kecil di Dolmabahce Palace

Pada saat itu, pikiran saya cuma seputar betapa cantiknya kota ini dan imajinasi berkat membaca buku Orhan Pamuk.

Akhirnya kami pe-de saja, toh kejadian tidak mengenakkan bisa terjadi di mana saja, bahkan di Singapura, tempat kami berdomisili saat ini.

Apakah Janis bisa survive 11 jam di udara, itu lain cerita. Tapi kami lebih percaya diri soal itu. Kami memutuskan naik Turkish Airlines, di antara pilihan lain Singapore Airlines. Yang penting langsung tanpa transit.

Kami sadar, orang tua manapun yang ingin membawa anak-anak-nya jalan di Istanbul, pasti akan berpikir banyak hal, mulai dari biaya, memilih akomodasi, penerbangan sampai rencana perjalanan. Berikut beberapa tips-nya, supaya perjalanan anda lancar.

Pilihlah penerbangan langsung

Sebisa mungkin, pilihlah penerbangan langsung dari Jakarta atau dari kota tempat anda tinggal. Dari Singapura, perjalanan memakan waktu 11 jam, dan di malam hari. Ini membuat kondisi tubuh lebih tidak letih dan tidak repot turun dan naik pesawat lagi. Kami memilih Turkish Airlines, dan servis mereka luar biasa.

Hotel atau Airbnb?

Kami memilih hotel dengan opsi sarapan, untuk memastikan anak kami sudah makan sesuatu setiap harinya sebelum beraktivitas. Tentu saja, Airbnb bisa jadi alternatif yang baik jika anda ingin lebih hemat atau punya ruang lebih lega. Tetapi, pilihlah Airbnb yang dekat dengan supermarket, sehingga anda tak perlu jauh-jauh untuk belanja makanan yang bisa dimasak untuk sarapan.

Sultanahmet atau Beyoglu?

Ada dua area populer untuk menginap di Istanbul: Sultanahmet dan Beyoglu. Keduanya dipisahkan selat Golden Horn yang membelah kota dari utara ke selatan. Sultanahmet adalah kota tua di mana Constantinople, ibukota Romawi, berada. Di sini pulalah anda bisa menemukan sebagian besar atraksi seperti Hagia Sofia, Basilica Cistern, Grand Bazaar dan Blue Mosque. Kelemahannya, area ini cukup padat dan hotelnya pun kecil-kecil. Beyoglu adalah kota “baru” nan trendi dengan pusat perbelanjaan seperti Istiklal Cadesi dan jalan bergaya Eropa modern. Di sini pula terdapat banyak cafe modern. Atraksi lain adalah Galata Tower, beberapa museum, Taksim Square, dan Dolmabahce Palace.

Kami memilih untuk tinggal di Beyoglu, tepatnya di Taksim, karena hotel yang kami inginkan ada di daerah ini. Aksesnya ternyata mudah karena dari Taksim kami bisa naik subway atau tram. Plus, di Beyoglu banyak supermarket dan makanan juga.

Ada alternatif lain jika anda sudah kedua kalinya ke Istanbul, anda bisa tinggal di Kadikoy, di sisi Asia. Dari sini memang untuk ke kota area utamanya harus naik subway atau kapal feri dulu (murah, dan sering), tapi tidak terlalu touristy seperti Sultanahmet atau Beyoglu, dan ada pasar Kadikoy dengan makanan-makanan yang murah meriah.

Belilah kartu Istanbulkart

Jika anda tidak punya banyak anggaran untuk transportasi, maka kartu Istanbulkart jadi solusi handal. Kartu ini sama fungsinya dengan kartu ezLink di Singapura atau Suica/Pasmo di Jepang, di mana kita bisa isi saldo tertentu dan dipakai di berbagai moda transportasi. Lebih kerennya lagi, untuk sampai lima orang, kita bisa menggunakan satu kartu saja. Anda dapat membelinya di stasiun Metro Istanbul atau halte tram mana saja, dengan memasukkan nominal yang diinginkan secara tunai.

Stroller mungkin tidak selalu berguna, tapi jika mesti, pakailah yang ringkas

Jalan dan trotoar di Istanbul masih banyak yang berbatu dan becek, serta trotoar tidak sambung-menyambung sehingga perlu kelihaian luar biasa dalam membawa stroller. Selain itu, di beberapa tempat seperti Beyoglu, naik turun tangga tidak dapat dihindari karena kontur kota yang berbukit. Untuk stasiun Metro Istanbul, kebanyakan dilengkapi lif, jadi aman. Untuk tram, masalah utama adalah ruang yang sempit dan keramaian penumpang. Saran kami, belilah stroller ringan yang mudah dilipat, tapi juga kokoh.

Uang tunai adalah raja

Meskipun pusat perbelanjaan menerima kartu kredit dan debit internasional, uang tunai masih menjadi raja terutama jika anda ingin menikmati street food, berbelanja di Grand Bazaar atau Pasar Kadikoy, atau membayar pengisian Istanbulkart.

Biarkan si kecil memuaskan rasa ingin tahu

Ketika kami berjalan di Jembatan Galata, jembatan yang menghubungkan antara Beyoglu, Janis tiba-tiba berhenti di salah satu kotak berisi ikan hasil pancingan seorang paman. Di jembatan ini memang banyak orang memancing. “Look! Fish!“, ujarnya riang. Ada kalanya, kita biarkan dia bersenang-senang, karena liburan tidak melulu agenda orang dewasa!


Look! Fish!

Makan makanan kesukaan si kecil

Kadang kami harus “mengalah” sedikit untuk tidak mencoba makanan baru atau yang lebih asing, demi si kecil berselera makan. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba hal baru juga!


Makanan enak favorit Janis di Galata Tower

Siapkan mental untuk macet dan antrian museum

Istanbul mirip seperti Jakarta: macet. Bedanya, Istanbul sudah memiliki sistem transportasi yang relatif lebih baik dari Jakarta. Namun, terkadang kita perlu naik Uber atau bis, dan perhitungan waktu di jalan harus memperkirakan waktu di kemacetan. Berangkatlah 30 menit lebih awal, terutama ke bandara. Selain itu, karena banyak atraksi turis di kota ini, antrian masuknya bisa panjang, belum lagi ada pengecekan keamanan, yang juga mengantri. Saran kami, jika anda membawa anak-anak:

  • Belilah tiket terusan museum atau Istanbul Museum Pass, atau Istanbul Tourist Pass, untuk menghindari antrian.
  • Jika tidak sempat beli tiket terusan, datanglah pagi hari ketika tempat itu buka.
  • Jika ada anggaran lebih, gunakanlah tur sehari untuk mengunjungi semua kunjungan wajib (di mana tiket dan transportasi diurus semua), sehingga hari lain anda bisa lebih santai.

Cobalah naik feri ke sisi Asia

Sisi Asia sering terlewatkan, apalagi jika anda hanya berkunjung selama kurang dari 24 jam (untuk transit misalnya). Tapi jika ada waktu, kunjungilah sisi Asia, rekomendasi kami adalah Kadikoy. Jangan lupa naik feri, yang sangat murah tarifnya jika anda membayar dengan Istanbulkart. Nikmati juga teh (chay) di atas feri, sambil melihat burung albatros dan jika beruntung, lantunan musik Turki dari pemusik di dalam kapal. Indah!

Manfaatkan taman bermain

Kami menemukan taman bermain umum di Taksim Square, dan tentunya, anak kami senang sekali bermain di sini. Ingat, kunjungan wisata harus bisa dinikmati semua orang, termasuk si kecil.


Bermain di Taksim Square

Orang Turki hampir semuanya ramah pada anak-anak. Janis bolak-balik dicubit pipinya, digoda, diminta foto bersama. Istanbul adalah kota yang ramah anak, tetapi dengan tips-tips di atas, semoga akan semakin mempermudah dan membahagiakan perjalanan anda sekalian. Selamat berlibur di Istanbul.

Perth, Destinasi Terbaik untuk Keluarga

Kami datang ke Perth tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Ada yang bilang destinasi ini membosankan. Ada yang bertanya, “Ngapain kamu ke Perth? Ada apa di situ?”

Pemandangan dari Kings Park & Botanic Garden

Yang kami tahu, Australia selalu jadi destinasi yang oke buat keluarga, apalagi yang punya anak kecil seperti kami. Jadi, kami pesan saja tiket pesawat ke Perth dari Singapura, sambil berharap cemas (tapi senang). Oh ya, kami liburan ke Perth ini sebenarnya tidak direncanakan. Kami menang undian di kantor, di mana tiap bulan satu orang pegawai bisa pergi ke mana saja dengan budget S$3,000. Enak kan? Makanya, kerja di HomeAway, ya.

Karena sifatnya mendadak, kami agak malas mengurus visa. Kami pun ingat, masih ada visa Australia yang berlaku tiga tahun itu. Perth juga waktunya sama dengan Singapura, jadi tidak ada masalah jet lag. Cus!

Walaupun beberapa orang mengatakan Perth tidak ada apa-apanya, kami justru terkejut. Kenapa bisa begitu, ketika kami melihat justru banyak sekali pantai yang bagus, iklim yang bersahabat, kota yang tidak terlalu ramai seperti Melbourne atau Sydney… sungguh surga bagi kami. Janis pun bisa berlari-larian ke mana-mana dengan leluasa. Teman kami yang sudah lama tinggal di Perth pun bilang, memang banyak penduduk Perth yang kurang bersyukur dengan keadaannya. Padahal, Perth itu tempat yang enak buat hidup!

Tapi benar deh, pantai di sini yang terbaik yang pernah kami lihat. Pasir bersih dan putih, ombak yang bersahabat dan “santai”, air yang bersih dan berwarna biru toska… luar biasa. Belum lagi melihat Samudera Hindia yang membentang luas sampai Afrika. Pantai di pesisir barat Australia membentang beratus-ratus kilometer, mulai dari Geraldton, sebuah kota kecil jauh di utara Perth, sampai Margaret River, dan terus ke Augusta di ujung selatan.

Kami datang tanpa rencana pasti, yang pasti adalah kami menyewa mobil. Sebuah Toyota Corolla Hatch sederhana yang kami sewa dengan total biaya AU$350 per minggu (tanpa besin, tanpa supir, karena supirnya saya, cukup dibayar makan saja).

Berbekal Google Maps, kami secara acak memilih tujuan pertama kali di Perth. Hompimpa, ternyata yang keluar adalah Matilda Bay. Sebenarnya tanpa hompimpa sih, kami cuma mau tujuan yang dekat dengan rumah menginap saja, sembari menunggu check-in jam 3 sore.

Kami tinggal di daerah Crawley, sebuah suburb di barat pusat bisnis (CBD), tidak jauh dari pusat kota. Senang sekali tinggal di daerah ini, karena tidak begitu jauh dari pusat kota, tapi suasananya tenang seperti di pinggiran. Selain itu, kami juga dekat dengan pesisir, mungkin sekitar 15-20 menit menyetir mobil. Matilda Bay adalah waterfront terdekat dari tempat menginap kami, dan ada kafenya.

Kopi sore di Bayside Kitchen, Matilda Bay

Di Matilda Bay ini, kita bisa melihat CBD dari kejauhan, di seberang Swan River, sambil menikmati kopi di Bayside Kitchen, sebuah kafe bertema rumah pantai.

Dari 7 hari di sini, kami merencanakan segalanya dari hari ke hari, alias satu hari sebelumnya, bahkan kadang di pagi harinya.

Di hari ke-2, kami mencoba pergi ke Caversham Wildlife Park, untuk melihat kangguru dan koala buat si kecil. Perjalanan dari tempat menginap kami memakan waktu 1 jam. Di sini, kami bisa berinteraksi dengan kangguru langsung, memberi mereka makan (dari pakan yang sudah disediakan). Kita juga bisa berfoto bareng koala, yang ternyata harus tepat waktu, karena mereka punya waktu tidur siang!

Berpose bersama koala di Caversham

Bermain bersama kangguru di Caversham

Kangguru bersantai

Memberi makan kangguru

Setelah puas ke Caversham Wildlife Park, melihat beberapa hewan lain, seperti burung dan wombat, kami ke tengah kota lagi untuk menikmati kopi sore di South Foreshore, tepatnya di cafe bernama The Boatshed Cafe. Rileksnya!

Di hari ke-3, kami mencoba salah satu pantai. Kami bingung memilih antara Scarborough atau Cottesloe, tapi akhirnya Cottesloe menjadi pilihan karena lebih dekat jaraknya. 15 menit perjalanan menyetir saja. Matahari terik tapi suhu lumayan dingin (20-25 Celcius).

Pantai Cottesloe merupakan salah satu pantai yang populer, selain Scarborough. Oleh karenanya, pantai ini cukup ramai. Ada hotel, pertokoan dan rumah makan di sekitarnya. Tempat parkir banyak. Ini kali pertama anak kami benar-benar main di pantai. Kami makan siang ikan barramundi yang ternyata enak sekali.

Cottesloe Beach

Bermain ayunan di Cottesloe

Kami juga sempatkan berkunjung ke Kings Park dan Botanic Garden, taman botani dan memorial Anzac dengan pemandangan ke arah CBD dan Swan River yang menakjubkan. Lokasinya agak tinggi, dengan rumput yang berkualitas tinggi, membuat piknik menjadi nikmat luar biasa dan kalau tidak berhati-hati, bisa ketiduran sampai sore…

Karena masih belum puas dengan pantai, kami pun pergi ke pantai lain di North Fremantle. Menurut teman kami, ini pantai yang lebih sepi dan pasirnya lebih bagus. Benar. Lebih rileks, walau tidak sedramatis Cottesloe. Kami di sana sambil main air dan menikmati senja.

Janis bermain pasir dari jarak dekat

Bersantai di pantai Coast Port

Puas main di pantai, kami mengakhiri hari dengan makan malam di Chicken Charcoal di bilangan Dianella. Chicken Charcoal, tidak seperti namanya, tidak hanya menyajikan ayam bakar, tapi juga ribs domba bakar, yang luar biasa enaknya. Tekstur luar yang renyah dan dagingnya yang lembut, sangat menggugah selera. Tepat untuk makan malam setelah main di pantai. Apalagi, dilengkapi nasi biryani hangat, kentang goreng dan salad kepiting.

Perth memang bukan destinasi kuliner, tapi jika anda benar-benar ingin mencoba hal baru, cobalah makan daging kangguru. Tenang, daging kangguru di sini berasal dari kangguru yang diternak khusus. Rasanya seperti apa? Sama seperti daging sapi, hanya tidak ada lemaknya. Cukup sehat, bukan?

Perjalanan ini diakhiri dengan klimaks yang cukup menyenangkan: Rottnest Island, atau Pulau Rottnest. Pulau konservasi ini menjadi tujuan wisata banyak orang di Perth, terkenal dengan mamalia unik yang berhabitat di sini: quokka. Pulau ini juga memiliki beberapa pantai mungil yang indah.
Biasanya, pengunjung akan menyewa sepeda dan berkeliling pulau, sembari menginap semalam atau dua malam. Tapi waktu kami datang, sedang hujan, sehingga kami memutuskan untuk berkeliling menggunakan bis yang walau cukup mahal (AU$18 per orang dewasa, gratis buat anak di bawah 4 tahun), bisa membawa kami keliling pulau untuk seharian, tanpa batas.

Pinky Beach, Rottnest Island

Tidak usah khawatir kelaparan, karena di sini banyak makanan dan juga pertokoan, termasuk sebuah supermarket. Bawa makanan ke salah satu tempat duduk yang tersedia, dan voila, kita bisa piknik ditemani quokka yang berkeliaran. Hati-hati, jangan memberi mereka makan karena mereka sudah punya diet khusus.

Mercusuar di Pinky Beach, Rottnest Island

Pinky Beach, Rottnest Island

Sambil menunggu hujan reda, kami makan siang. Waktu menunjukkan pukul 14:30, dan kapal kami kembali ke Fremantle adalah pukul 16:25. Kami sempatkan berkeliling ke pesisir dekat dermaga, untuk melihat sebuah mercusuar di dekat Pinky Beach, sebuah pantai mungil yang sungguh indah.

Quokka

Kami sungguh menyesal karena tidak menyempatkan menginap di Rottnest Island, karena alamnya begitu indah dan tenang. Mungkin lain kali!

Paella Nikmat di Tower Bridge


Naik tube pertama kali

Siapa sangka, pertama kali kami makan paella, makanan kebanggan Spanyol, malah bukan di Spanyol. Tapi di Inggris. Di London. Tepatnya, di pinggir Tower Bridge. Itu pun juga mendadak, karena kami semua keburu lapar, dan Janis lagi senang nasi. Untung, ada bazar makanan di sekitar Tower Bridge waktu itu, dan pilihan jatuh ke paella, antara makanan Thailand dan Korea yang juga ada nasinya.


Makan siang paella di Tower Bridge

Ternyata, Janis pun suka. Syukurlah.

London, buat kami, bukan destinasi kuliner. Walau ternyata kami salah, karena seperti ibukota negara lain yang dinamis, banyak imigran di sini yang pada akhirnya membawa banyak pengaruh budaya, salah satunya makanan.

Tower Bridge adalah atraksi turis pertama yang kami kunjungi, karena dekat dengan hotel. Sebenarnya tidak dekat juga sih, sekitar lima atau enam stop bis kota.

Hari itu juga kami pertama kali naik bis double decker merah yang terkenal itu. Sayangnya, bukan versi routemaster. Namun, jauh lebih modern, dan agak berbeda dari versi bis tingkat Singapura yang kami biasa naiki: penumpang bisa naik dan turun dari tiga pintu, di depan, di tengah dan di belakang. Di Singapura, kami hanya bisa naik dari pintu depan dan turun dari pintu tengah atau depan. Ternyata, stroller bayi juga bisa masuk tanpa harus dilipat.

Kami menghabiskan banyak waktu di Tower Bridge, hanya melihat-lihat keramaian yang ada, sembari menunggu check-in di hotel yang baru bisa pukul dua siang. Kami juga sempat eksplorasi beberapa sudut kota sambil menuju British Museum.


Salah satu fasad kafe di Bloomsbury


Beberapa sudut kota London yang menarik hati kami

Perjalanan kami hari itu sebenarnya dimulai di hotel dekat bandara. Begitu datang, kami memang pesan hotel dekat bandara sehingga bisa cepat istirahat. Pengalaman kami di Melbourne tahun lalu, satu hingga dua hari pertama dihabiskan di tempat tidur karena jetlag. Karena kami membawa anak kecil, maka kami tak ambil resiko. Daripada linglung dan keletihan mencari alamat penginapan di pusat kota London, mungkin ada baiknya kami langsung istirahat saja.


Bersiap naik bis ke bandara dari hotel dekat bandara, untuk naik kereta ke kota


Tiba di stasiun kereta di bandara Heathrow

Benar, kami tertidur pulas delapan jam setelah itu. Janis lebih lama lagi, mungkin sekitar 12 jam.

Bandara Heathrow terletak 23 km di sebelah barat kota London, dan hitungannya mungkin lebih ke “countryside“. Lingkungan sekitarnya cukup rileks dan sepi. Kami berpikir, lucu juga ya, kalau lain kali kita berlibur menghindari kota besar dan hanya mampir di sebuah desa.


Naik kereta Heathrow Express, cuma 15 menit sampai ke kota!

Untuk ke kota London dari bandara, ada banyak opsi. Opsi paling sering digunakan adalah Heathrow Express (tanpa berhenti, sekitar 15 menit, paling mahal) dan Heathrow Connect (berhenti di beberapa stasiun, sekitar 30-45 menit) tube (paling lama, sekitar 1 jam 15 menit), bis (1 jam lebih) dan taksi (1 jam lebih). Saran kami, jika banyak bawaan dan ada anak kecil, naik taksi atau Uber saja. Biayanya memang agak mahal, sekitar Rp1.000.000-an, tapi langsung ke penginapan tanpa basa-basi. Pengalaman kami waktu itu, naik kereta Heathrow Express sampai ke Paddington (karena memang akhirnya di situ), masih harus disambung beberapa line underground yang ternyata tidak ramah stroller dan koper. Alhasil, kami kesulitan menggotong koper dan membawa Janis di gendongan dan stroller. Opsi lain yang murah adalah menyewa penginapan di Paddington atau sepanjang underground jalur biru, Picadilly line.


Ruang stroller di bis kota


Transit di Paddington

Tapi, tak apa. Dari sini belajar. Begitulah gunanya traveling, ya kan?

UPDATE: Tonton vlog kami tentang hari ini di sini:

Perjalanan ke London Itu

Setelah menunggu lebih dari lima tahun, kami sekeluarga akhirnya punya kesempatan untuk pergi ke London, Inggris. Destinasi ini adalah salah satu bucket list kami, selain Iceland. Mengingat usia Janis yang masih dua tahun, kami memutuskan untuk pergi ke London dulu, karena secara tantangan lebih mudah.

Akhir Januari 2017, kami mulai merencanakan kapan berangkat. Setelah menimbang-nimbang, dipilihlah sekitar bulan April atau Mei 2017, karena pada saat itu sudah terkumpul cukup cuti dan uang untuk bisa berangkat. Pertengahan Februari 2017, kami mulai daftar visa Inggris. Kami bisa melakukannya melalui VFS Global di Singapura, dan ternyata prosesnya cukup mudah. Formulirnya diisi online lalu dicetak, dan dilengkapi dengan beberapa dokumen pendukung standar. Karena kami penduduk Singapura, maka kami juga perlu melampirkan izin tinggal di sini.

“Visa diperkirakan jadi 15 hari kerja.”

Tidak masalah buat kami, karena perjalanan masih jauh hari. Beruntung, enam hari kemudian, visa kami semua sudah keluar. Syukurlah!

Kami pun sibuk cari tiket pesawat. Akhirnya, setelah menimbang antara Malaysia Airlines dan Qatar Airways, pilihan jatuh pada Qatar Airways. Harga lebih mahal sedikit, tetapi perjalanan dibagi menjadi dua bagian (masing-masing sekitar tujuh jam dengan transit di Doha, Qatar).

Berbagai persiapan kami lakukan, mulai dari belanja baju hangat (karena diperkirakan suhu masih antara 8 hingga 15 derajat Celcius), sampai makanan, untuk mengantisipasi lapar malam karena jetlag. Dua koper medium, satu tas stroller dan dua ransel menjadi teman kami. Kami juga membeli stroller kompak dan kamera mungil untuk mengurangi beban dalam perjalanan kali ini.

Kamis, 27 April 2017, 18:00. Kami sudah tiba di bandara Changi, dan proses check-in sudah dilakukan untuk penerbangan dari Singapura ke Doha, lalu dari Doha ke London. Kami sempat was-was, apakah Janis bisa tidur? Apakah dia betah? Terakhir kali waktu perjalanan ke Melbourne yang juga tujuh jam lamanya, ia masih berusia satu tahun dan masih muat di baby bassinet. Sekarang, badannya sudah besar, dan sudah mendapatkan tempat duduk sendiri. Kami pasrahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Area bermain di Changi


Menunggu sambil menelepon eyang dan tante


Sudah boarding di Qatar Airways tujuan Doha


Child’s meal versi Qatar Airways

Janis sempat rewel di bandara, mungkin merasa asing. Tapi setelah diajak main jungkat-jungkit di bandara, ia pun senang lagi. Tersenyum bahagia. Kami sempatkan menelepon eyang dan tantenya, agar ia merasa senang. Saya sempat menukar uang secukupnya, supaya dapat digunakan untuk, terutama, makan dan transpor ketika sudah sampai di London.

Ini pertama kali kami naik Qatar Airways. Cukup menyenangkan. Para pramugara dan pramugarinya sangat ramah dan baik hati, terutama terhadap anak kecil. Janis dapat berbagai macam hadiah, dan makanannya diberikan dalam bentuk koper mungil. Perjalanan tujuh jam pun tidak terasa, walau saya tidak bisa tidur. Syukurlah, Janis bisa tidur sepanjang perjalanan!

Sampai di bandara Doha, Qatar, sekitar pukul satu pagi waktu lokal, atau sekitar pukul enam pagi waktu Singapura. Sesuai dengan waktu bangun Janis. Janis pun bangun seketika mendarat, dan kami bisa “sarapan” walau seadanya. Dalam perjalanan kali ini, kami mencoba sebuah lounge berbayar, tapi suasananya ternyata tidak nyaman: ruang sempit dan ada yang merokok di dalam ruangan. Pelajaran: tidak usah begini lagi lain kali, mending di luar saja, pilihan banyak dan ruang lebih luas buat anak untuk berlari-lari.


Berfoto di depan instalasi seni karya Urs Fischer yang populer itu


Tiba di Doha

Transit kali ini sekitar lima jam. Tidak terasa. Hanya saya yang memanfaatkan fasilitas mandi, ibu dan anak tidak karena penuh sekali antriannya. Hanya lap badan dan ganti popok untuk Janis.

Seketika, waktu untuk boarding ke pesawat A380-800 tujuan London pun tiba. Kami sangat terpompa semangatnya. Ini pengalaman pertama kami semua naik pesawat sebesar ini, sayang Janis tidur, walau tak lama setelah lepas landas, ia bangun. Alhamdulillah, lepas landas sangat mulus, pesawat tidak mengalami guncangan berarti, dan walau mata terbuka, Janis tidak rewel dan malah mau makan dan bermain.


Menunggu boarding A380-800!


Pertama kalinya kami sekeluarga naik pesawat sebesar ini


Akhirnya mendarat di London Heathrow!

Kami tiba di bandara Heathrow, London, di terminal 4, dalam cuaca mendung. Setelah melewati antrian imigrasi yang panjang dan melelahkan, kami akhirnya menunggu bis untuk menuju hotel di hari pertama. Hotel di hari pertama ini kami pilih di dekat bandara, untuk bisa segera beristirahat. Esok harinya baru kami akan ke tengah kota.


Menunggu bis Hotel Hoppa ke hotel dekat bandara

Untuk lebih dekat dengan kami, silakan tonton vlog kami di hari perjalanan ini. Bagaimana pengalaman hari ke-2? Tunggu ceritanya ya.

Kape Barako, Warung Kopi Dadakan di London


Warung kopi yang mungil tapi lengkap. Bisa berlaptop ria segala.

Saya bukan penggemar kopi sejati, tapi senang ke warung kopi. Senang minum kopi racikan bagaimana pun, terutama dengan coklat atau lebih sering disebut moka. Ketika berkunjung ke London, Inggris, baru-baru ini, saya menemukan sebuah warung kopi lucu nan mungil di utara London. Tepatnya di daerah Hampstead, yang bisa diakses dengan tube ke stasiun Hampstead.

Istimewanya warung kopi ini adalah karena ia berada di kotak telepon merah yang ikonik itu. Bagaimana bisa? Sejak kehadiran teknologi seluler, kotak-kotak telepon merah di London yang ikonik itu sudah tidak digunakan sebagai sarana berkomunikasi lagi. Akhirnya, mereka terbengkalai. Isinya kosong. Untungnya, karena menjadi ikon pariwisata, mereka dirawat dengan baik, menjadi ajang foto-foto bagi turis.


Suasana sekitar warung kopi.

Namun, tidak begitu dengan Khalid, seorang wirausahawan Jerman yang menetap di London bersama istrinya yang berasal dari Filipina. Ia melihat peluang bisnis di kotak-kotak telepon yang terbengkalai ini. Mendengar ada perusahaan yang sudah membeli beberapa kotak telepon di daerah tempat tinggalnya di Hampstead, dan menyewakannya kepada siapa saja yang berminat, ia langsung memutuskan untuk berbisnis warung kopi pinggir jalan di kotak-kotak telepon ini. Mirip seperti pedagang kopi keliling di Indonesia, atau yang menjajakan kopi di kios pinggir jalan. Yang menjadikannya unik adalah nilai sejarah dan budayanya.


Tulisan menu sederhana di samping kotak telepon.

Nama “Kape Barako” sendiri diambil dari istilah varietas kopi dari Filipina. Istri Khalid berasal dari Filipina. Ada pun varietas kopi yang digunakan ternyata bukan varietas barako itu sendiri. “Mahal jika diimpor ke sini. Saya pakai nama ini karena istri saya dari Filipina. Namanya keren, jadi kenapa tidak (dijadikan nama warung),” kata Khalid.

Walaupun biji kopinya diambil dari supplier lokal, tetap saja nikmat. Yang membuat lebih nikmat adalah suasana pinggir jalan. Apalagi musim semi yang masih sejuk. Duduk di pinggir jalan melihat orang-orang lalu-lalang.

Ah, kape barako. Nikmat.

GB Pockit: Stroller Ringan Ramah Jalan-Jalan


Tampak depan dan samping GB Pockit.

Ini bukan artikel berbayar. Kami menulisnya karena memang pengalaman memakainya, dan kami suka. Kami punya beberapa stroller buat anak kami. Pada awal kelahiran Janis, kami punya dua: Cocolatte New Life (untuk kegunaan utama, dengan sandaran yang bisa direbahkan dan ukuran yang lebih besar untuk bayi) dan Cocolatte iSport (persiapan kami jika Janis sudah bisa duduk, dan lebih ringan serta mudah dilipat).

Kenyataannya, stroller-stroller itu jarang digunakan ketika kami masih tinggal di Jakarta, karena Janis lebih banyak digendong dengan baby carrier.

Tips: Kalau tinggal di Jakarta, sepertinya lebih cocok untuk menghadiahkan baby carrier kepada orang tua-orang tua baru, lebih sering dipakai daripada stroller!

Saat ini, Janis sudah menginjak dua tahun. Ukuran badannya sudah terlalu besar untuk digendong di baby carrier, sehingga kami lebih banyak mengandalkan stroller. Ketika baru pindah ke Singapura, kami membeli stroller City Mini GT, karena kami pikir di sini lebih banyak jalan kaki dan butuh roda serta suspensi yang kuat. Ukurannya pun besar, tapi cukup nyaman buat Janis juga.


Detil pegangan dan tutup kepala.

Kami menyukai kombinasi City Mini GT dan Cocolatte New Life di Singapura. City Mini GT untuk kegiatan yang lebih “adventurous“, seperti ke kebun raya (karena rodanya cukup kuat, penutup kepala juga penuh), taman atau belanja bulanan dengan jalan kaki (ke mana-mana relatif dekat dan bisa dijangkau dengan jalan kaki dari apartemen kami). Cocolatte New Life untuk petualangan yang agak jauh dan menggunakan kendaraan umum seperti taksi, bis atau MRT, karena gampang dilipat dan ringan dibawa.

Ketika merencanakan liburan ke London, Inggris, pada awal tahun, kami mencoba untuk mencari stroller baru yang lebih compact dan kalau bisa tidak perlu check-in bagasi. Tadinya kami ingin menyewa, tapi ternyata harga sewa ditambah sedikit dapat stroller baru. Kebetulan kami sudah lama kesengsem dengan GB Pockit, stroller super compact yang bisa dilipat sampai masuk ke tas yang dapat menampungnya.


Proses melipat.

Pada suatu Sabtu kami pun memutuskan untuk membelinya, dan tidak menyesal sampai sekarang. Ada juga sih alternatif lain, yaitu Cocolatte Pokkit. Lha, kok namanya sama? Memang sama, dan desainnya juga mirip, hanya ada perbedaan sedikit dari sisi desain dan materi. Selain itu, Cocolatte Pokkit kabarnya bisa direbahkan sandarannya. Tapi GB Pockit juga baru saja mengeluarkan edisi baru, yakni GB Pockit Plus, yang juga bisa direndahkan sandarannya, sehingga anak bisa tidur dengan lebih pulas atau rileks. GB Pockit lebih mahal (S$299) dari Cocolatte Pockit (S$199), tapi kami kesulitan menemukan Cocolatte Pokkit di Singapura, adanya online. Namun, kami ingin mencoba merek lain selain Cocolatte, akhirnya pilihan jatuh pada GB Pockit.

Sejauh ini, kami senang. Bahkan, stroller ini hampir menggantikan Cocolatte New Life kami 100%. City Mini GT juga jadi jarang dipakai karena ukurannya masif. Ke mana-mana pun kami pakai GB Pockit. Rasanya best value buy sekali. Untuk perjalanan ke London kami pun, kami merasa adem ayem, karena hadirnya stroller ini. Gampang dilipat, mungil dan ternyata rodanya kuat. Sebagai pembanding, Cocolatte New Life memiliki roda yang suka menyangkut di bebatuan atau besi di jalan, sedangkan roda-roda GB Pockit lebih ampuh melewati halangan. Memang, tidak seampuh roda City Mini GT yang memang dirancang untuk “offroad“, tapi lumayanlah, ya?

Melipatnya pun sederhana. Hanya dorong pegangan ke bawah (harus kedua handle), lalu dorong lagi satu kali untuk melipat. Versi lipatan ada dua. Yang pertama compact fold, yang kedua super compact fold. Lihat gambar di bawah.

Bedanya adalah untuk compact fold, eksekusinya lebih cepat, dan cocok untuk skenario masuk bis, kereta, taksi atau kondisi lain yang butuh kecepatan dan kegesitan. Untuk super compact fold, melipatnya butuh ekstra waktu dan tenaga, karena harus melipat roda belakang masuk ke dalam, tetapi hasilnya menjadi sangat kecil dan bisa masuk ke tas jinjing. Cocok untuk skenario masuk pesawat, bagasi, atau disimpan di gudang.


Ketika dibawa, ukurannya cukup mungil.


Versi lipat “super compact“.


Versi lipat “compact“.

Soal kenyamanan, kami serahkan pada Janis, anak kami. Selama menggunakannya hampir sebulan ke belakang, Janis lebih cepat tidur nyenyak di atas stroller ini, walau sandaran tidak bisa direbahkan. Entah kenapa. Selain itu, dia juga jarang minta turun lagi, hanya sesekali.

Kesimpulannya, untuk jalan-jalan, GB Pockit sangat direkomendasikan. Sekali lagi ini bukan artikel berbayar, murni karena kami telah memakainya, dan suka.

Tertarik?

Memilih Kamera Jalan-Jalan

Memilih kamera untuk jalan-jalan adalah hal yang rumit dilakukan, buat saya. Walau ada yang bilang, dan saya juga percaya akan hal ini, “gears don’t matter“. Tapi ada kalanya kita butuh evaluasi apa peralatan yang harus kita bawa sesuai konteks dan kondisinya.

Saya sudah memiliki Nikon D5000, sebuah DSLR yang sudah lumayan jadul, tapi masih berfungsi dengan baik. Di sisi lain, saya juga punya iPhone 7 dan iPhone 6. Nikon D5000 ini sudah saya beli tujuh tahun yang lalu, saat saya pertama kali backpacking ke Eropa. Waktu itu saya masih sendiri, belum menikah. DSLR masih menjadi tren. Belum banyak alternatif seperti kamera mirrorless. Saya belilah dengan harapan hasil yang saya dapat bisa lebih baik. Saya sempat membuat video-video dokumentasi perjalanan saya, ini dan ini. Bukan vlog sih, hanya klip singkat. Pada saat itu, saya cukup puas dengan kamera itu.


Nikon D5000, teman setia selama 7 tahun

Oh ya, sebenarnya cerita saya soal kamera digital ini panjang. Yang pertama kali saya gunakan dulu adalah Sony Digital Mavica, yang menyimpan data di floppy disk! Bayangkan, dulu saya harus menenteng satu tas penuh disket-disket kecil, dan satu disket biasanya isinya hanya puluhan gambar sebelum diganti lagi. Kamera ini bukan milik saya, tapi milik sekolah yang saya pinjam karena saya terlibat seksi dokumentasi di OSIS sekolah.

Setelah itu, saya sempat memiliki kamera Sony pertama, tipenya adalah DSC-F717. Kamera ini keren di jamannya, dan saya bersyukur bisa memilikinya pada saat itu. Saya gunakan terutama untuk tugas kuliah di Desain Komunikasi Visual. Saya juga sempat membeli kamera film, Nikon FM10, juga untuk tugas kuliah fotografi.


Sony DSC-F717, bentuknya memang unik


Nikon FM10

Dua kamera itu saya jual, sebelum membeli Nikon D5000 yang saya miliki sampai sekarang. Selama tujuh tahun, saya tidak membeli kamera baru, karena memang minat saya kepada fotografi hanya sebatas dokumentasi. Pada perjalanan kami terakhir ke Melbourne, Australia, pun, saya masih menggunakan Nikon D5000 ini.

Tahun ini, saya berencana pergi liburan lagi dengan keluarga. Dengan hadirnya Janis, anak kami yang sudah dua tahun, kami berpikir untuk lebih mengutamakan perjalanannya daripada “ribet” dengan alat-alat yang berkaitan. Saya pun merasa mungkin Nikon D5000 ini tidak cocok lagi dengan gaya jalan-jalan kami yang sudah lebih menurut kondisi Janis, bukan maunya kami saja. Kami memutuskan untuk mencari-cari kamera yang lebih kecil ukurannya. Ukuran jadi pertimbangan utama karena kami ingin lebih fleksibel dalam menemani Janis ke mana pun kami bereskplorasi nantinya.

Pilihan tentu saja jatuh kepada beberapa merek dan tipe kamera mirrorless. Setelah membanding-bandingkan sesuai anggaran, pilihan jatuh pada beberapa merek dan tipe berikut ini:

  • Sony A5000/6000/6300: Kompromi antara kualitas dan harga, serta pilihan lensa yang sepertinya sudah mumpuni.
  • Sony A7 (Mark II): Kualitas dan spesifikasi yang tertinggi, tetapi mahal.
  • Panasonic Lumix GX85: Kualitas dan spesifikasi yang lumayan, sesuai dengan anggaran.

Setelah ditimbang-timbang lagi, kami ternyata juga kepincut beberapa premium compact seperti Sony RX100 (antara Mark IV atau Mark V) dan Canon G7X atau G9X. Pertimbangan utamanya adalah ukuran dan tidak ribet gonta-ganti lensa. Lagipula, menurut banyak ahli fotografi, yang paling kita butuhkan untuk perjalanan kasual adalah kamera yang bisa dengan cepat kita gunakan dalam berbagai situasi, tanpa harus khawatir gonta-ganti lensa atau pengaturan yang berlebihan. Kecuali subjek fotonya adalah kehidupan hewan liar yang harus dipotret dari jarak jauh, atau potret manusia yang butuh mengaburkan latar belakang, sehingga butuh apertur yang lebih besar, misalnya. Lensa zoom juga sebenarnya tidak begitu penting dalam konteks perjalanan kasual, karena mendorong kita untuk memilih subjek atau objek dengan lebih hati-hati, dan mencoba eksplorasi sudut pandang dengan lebih bervariasi.

Sebenarnya, hal ini juga sudah saya praktekkan dengan iPhone, yang mendorong kita untuk hadir di lokasi, dekat dengan subjek atau objek, dan berpikir lebih pada komposisi daripada teknologi. Saya tidak ingin teknologi menjadi penghambat spontanitas. Apalagi jika hasil akhirnya hanya posting di Instagram.

Banyak juga kok di Instagram yang kualitas fotonya bagus, bukan dari kameranya, tapi dari orang yang memotretnya. Setelah dilihat, ternyata mereka hanya mengambil foto dengan iPhone atau kamera ponsel, lalu disunting sedikit dengan aplikasi seperti Snapseed atau VSCO.

Akhirnya, dengan pertimbangan di atas, dan dengan niat untuk memperbaiki kemampuan komposisi terlebih dahulu, kami memutuskan membeli Sony RX100 V, kamera compact dengan bodi yang sangat kecil tapi dengan kemampuan segudang. 


Sony RX100 V, dengan layar yang bisa dilipat ke depan


Sony RX100 V, tampak atas

Mungkin kalau soal spesifikasi, bisa dilihat di sini ya, saya tidak akan bercerita panjang lebar. Yang paling penting buat saya pada saat ini, auto-fokus yang cepat, sehingga tidak perlu lama-lama mengambil gambar. Yang kedua, sensitivitas cahaya gelap (low-light sensitivity) yang walaupun tidak sempurna, tapi sebanding dengan DSLR saya, atau minimal lebih baik dari iPhone saya, apertur yang besar (f1.8-f2.8), sehingga bisa melakukan potret wajah (anak saya, istri saya) dengan lebih baik pada kondisi-kondisi tertentu, kecepatan operasi, dan yang paling penting, video HD dan 4K (jika diperlukan), kalau-kalau saya harus membuat vlog.

Ini beberapa hasilnya:

Hello.

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Little feet.

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Rainless. #SonyRX #SonyRXMoments #SonySG_RX #RXthroughmyeyes #SonyRX100M5 @sonysingapore

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Lumayan, kan!

Kemungkinan, jika ada uangnya lagi, saya akan berinvestasi di kamera Sony lainnya, yakni Sony A7 atau A7 Mark II.

Sejauh ini, saya puas, dan sangat merekomendasikan kamera ini untuk perjalanan jenis apapun!

Halaman sebelumnya

© 2018 Ransel Kecil