Semua tulisan yang ditulis oleh Sigit Adinugroho

Sigit Adinugroho

Sigit Adinugroho. Bekerja sebagai desainer grafis. Senang mengamati desain, branding, fotografi dan desain interaksi. Mimpinya adalah naik kereta api lintas Siberia.

Seberapa Penting Kartu Kredit di Perjalanan?

Pejalan pemula, yang biasanya masih mahasiswa atau baru saja bekerja, dan ingin melakukan perjalanan ke luar negeri biasanya bertanya-tanya, apakah mereka butuh kartu kredit. Jangankan untuk perjalanan, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin belum merasa perlu untuk memilikinya. “Takut boros,” atau “tidak penting dan tidak butuh,” adalah salah satu di antara alasannya. Ada juga yang mungkin beralasan, “tidak mampu membiayainya.”

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama kenapa kita butuh kartu kredit di perjalanan, tidak hanya uang tunai. Uang tunai tentu penting dalam perjalanan, karena ia adalah metode pembayaran yang paling jelas dan dapat diterima. Namun, bayangkan jika kita harus membawa uang tunai sampai beribu-ribu dolar Amerika untuk membiayai dua minggu perjalanan kita ke Cina, misalnya. Apakah itu tidak riskan juga? Tidak hanya soal kecopetan atau kehilangan, tetapi soal ketenangan pikiran dan bagaimana membawanya ke mana-mana. Lebih lagi, banyak penukar uang di Indonesia yang kemudian tidak menerima uang kertas asing yang rusak karena kita masukkan tas atau dilipat-lipat.

Baca seutuhnya →

Ulasan Buku: “Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia’s Capital”

Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia's Capital

Kemarin saya baru dibelikan buku “Jakarta: 25 Excursions In and Around Jakarta’s Capital” oleh istri saya. Sudah lama saya mengincar buku ini karena isinya merekomendasikan jalan kaki (dan menggunakan transportasi umum) ke lokasi-lokasi Jakarta yang umumnya tidak ada di buku panduan wisata atau bahkan tidak direkomendasikan pemerintah, misalnya melalui program “Enjoy Jakarta!“.

Temuilah Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood, pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Pada bagian perkenalan, Andrew mengaku ketika pertama kali pindah ke Jakarta, ia merasa seperti “sudah mati dan masuk neraka”. Sempat frustrasi, namun cepat beradaptasi, Andrew kemudian mulai berkeliling Jakarta dengan sepeda dan peta. Ia mengakui, lama-kelamaan ia jatuh cinta dengan Jakarta. Kehidupan yang dulu “nyaman” di Amerika Serikat dan profesi lalu sebagai penjaga perdamaian di Republik Georgia ditinggalkan untuk kemudian menjadi penulis perjalanan bersama istrinya, Melanie, sang fotografer, yang ditemuinya ketika bekerja di Tbilisi, Republik Georgia dulu.

Baca seutuhnya →

Sang Pengelana Bersepeda

Banyak cara untuk berkelana, salah satunya adalah dengan bersepeda. Ada yang ekstrim, menjelajahi jarak antar kota dengan sepeda, bahkan ada juga yang antar benua. Ada juga yang kasual, menjelajahi kota dengan sepeda. Semuanya sah-sah saja.

Bersepeda saat ini tidak hanya moda transportasi, tapi juga gaya hidup dan kepercayaan. Terlepas dari kontroversi tentang sepeda di jalan raya dan perkotaan, ia sudah lama menjadi bagian dari perjalanan, baik sebagai objek maupun subjek.

Saya mewawancarai Reza Prabowo, seorang penggiat kreatif dan teknologi informasi dari Bandung yang juga senang bersepeda serta jalan-jalan. Setiap aspek dari perjalanan Reza pasti didedikasikan untuk kesenangannya pada sepeda. Menurut kami beliau orang yang cocok untuk topik ini, jadi silakan dibaca kutipannya!

Reza Prabowo

Baca seutuhnya →

Kenapa Dunia Desain Swedia Begitu Terkenal?

Ada kalanya, kita perlu menilik lebih dalam tentang budaya dan ekonomi sebuah negara. Ada kalanya pula, kita bisa melihat sebuah destinasi dari kacamata profesi kita sendiri. Sebagai seorang desainer grafis, saya mau tidak mau mengamati industri dan kebijakan desain sebuah negara, salah satunya adalah Swedia. Beruntung, saya sempat mengunjungi negara ini dua tahun silam. Untuk memenuhi rasa ingin tahu saya, saya lakukan sedikit riset dan merangkum soal kebijakan desain Swedia hingga produk-produknya terkenal di mancanegara sebagai pelopor desain yang baik dan apik.

Baca seutuhnya →

“Airline Mileage”, Pentingkah?

Sering bepergian dengan pesawat terbang? Pasti anda menyadari banyak maskapai yang menawarkan program kesetiaan pelanggan (loyalty) yang bertujuan memberikan insentif untuk anda terbang bersama mereka lagi, dengan bentuk “poin” yang diakumulasikan dalam waktu tertentu. “Poin” ini lazim disebut mileage. Saya tidak tahu padanan Bahasa Indonesia-nya apa. Yang jelas, mulai dari maskapai besar sampai kecil, full-service sampai budget, kiatnya mirip.

Mekanismenya sederhana. Ketika anda terbang bersama sebuah maskapai, anda memiliki opsi untuk mendaftar pada program kesetiaan pelanggan ini, dengan mengisi formulir tertentu, lalu mengakumulasikan mileage dalam jumlah tertentu untuk penerbangan yang anda tumpangi pada hari itu. Jumlah mileage ini dihitung progresif sesuai elemen-elemen penerbangan, seperti jarak atau tarif tertentu. Biasanya, yang bisa dihitung adalah penerbangan dengan tarif normal, bukan tarif promo, dan dengan jarak minimal tertentu. Tentu, parameter ini berbeda bagi setiap maskapai. Semakin sering anda bepergian, semakin seringlah akumulasi mileage-nya, dan semakin “kaya”-lah anda dari sisi mileage.

Baca seutuhnya →

Tentang Bebas Visa Kunjungan ke Negara-Negara Schengen

Beberapa hari yang lalu berkembang berita mengenai kemungkinan warga negara Indonesia (WNI) dibebaskan dari keperluan mengurus visa untuk bepergian ke negara-negara Schengen di Eropa. Perlu ditekankan bahwa negara-negara Schengen ini tetap terbatas, dan tidak menjadi keseluruhan benua Eropa. Oleh karena itu, menyebut kasus ini sebagai “bebas visa ke Eropa” sebenarnya salah kaprah. Negara-negara yang termasuk perjanjian Schengen adalah Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luxembourg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia dan Switzerland.

Berita ini mulai ada di harian Tribun News, yang mengutip perkataan Kepala Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, Rochadi Iman Santoso, yang menyimpulkan bahwa Indonesia tinggal mencapai status “Aneks 1”. Tidak jelas apa yang dimaksud Aneks 1, dan siapa yang memiliki regulasi ini (Indonesia? Negara-Negara Perjanjian Schengen?).

“Saat ini, dalam lingkup keimigrasian dunia, Indonesia baru mencapai status aneks 2. Salah satu hasilnya adalah pengurusan visa untuk negara Schengen tidak lagi memakan waktu berminggu-minggu, melainkan hanya 3-5 hari saja,” kata Rochadi lagi.

Baca seutuhnya →

Luar Negeri vs. Dalam Negeri

Ketika merencanakan perjalanan, pasti ada perdebatan, apakah itu dari dalam diri atau dengan sesama individu yang ikut melakukan perjalanan tentang destinasi manakah yang harus dikunjungi. Salah satu topik yang paling penting biasanya adalah apakah harus berkunjung ke destinasi luar negeri atau ke dalam negeri?

Menurut saya, penentuan destinasi sebaiknya tidak berawal dari keinginan pihak lain, baik itu negara sekali pun. Perjalanan tentunya adalah pengalaman individu yang berawal dari minat dan keinginan sendiri. Kita sendiri yang harus memastikan apa yang ingin kita dapatkan dari perjalanan ini. Jika memang ingin berkunjung ke sebuah destinasi domestik, maka lakukanlah. Sebaliknya, jika memang niat awal sudah ingin ke luar negeri, yang jauh sekali pun, silakan pergi saja. Tidak ada yang menghalangi.

Setidaknya, menurut saya, ada beberapa hal yang menjadi penentu pemilihan destinasi antara dalam negeri dan luar negeri.

Baca seutuhnya →

68 Derajat Lintang Utara

Dua puluh jam perjalanan dari Stockholm melintasi pedesaan Swedia membawa saya ke impian yang jadi nyata: melintasi Lingkar Arktik, di mana kita semakin dekat dengan kutub Utara. Suhu di sini bisa tak bersahabat ketika musim dingin. Kontras antara dataran Swedia yang landai dan Norwegia yang curam menyambut saya di perbatasan.

Gerbong kereta sudah semakin sepi ditinggal penumpang di pos-pos perhentian sebelumnya. Saya menghabiskan kopi yang saya beli satu jam yang lalu, mempersiapkan tas dan membereskan selimut dan bantal yang saya gunakan di gerbong tidur. Lalu saya melihat keluar…

Baca seutuhnya →

Senandung Gedser

Deru kapal feri itu membuat saya tersenyum lebar, girang mengantisipasi petualangan selanjutnya. Inilah kali pertama saya melintas batas negara Schengen, dari Jerman ke Denmark. Setelah melalui empat jam di darat dari Berlin ke Rostock, petualangan Skandinavia saya baru dimulai. Kapal yang saya tumpangi perlahan mulai ramai. Tak pikir panjang, saya langsung berkeliling kapal merekam memori.

Baca seutuhnya →

Dari “Ngetwit” ke Tulisan

Banyak dari kita yang bepergian dengan membawa perangkat komunikasi seperti telepon seluler yang memiliki kemampuan koneksi data, sehingga bisa mengakses internet ketika di perjalanan. Bagi yang aktif di Twitter, pasti tidak ketinggalan untuk melakukan kegiatan “tweeting” atau “ngetwit”. Kapan lagi bisa ngetwit, “Saya lagi di Tembok Cina! Cuacanya cerah dan langitnya biru!”, atau “Okonomiyaki yang asli ternyata enak, ya! [Masukkan TwitPic di sini]“. Dengan begini, tujuannya biasanya memberitahu follower tentang kegiatan kita selama di perjalanan. Lebih cepat dari email dan blog.

Tapi sayangnya, semua itu akan hilang dalam beberapa waktu. Twitter tidak punya kemampuan mengarsipkan pikiran-pikiran secuil kita itu dalam waktu yang lama. Kalaupun ya, mungkin kita harus memasukkan hashtag tertentu agar bisa dilihat secara rapi dan tersaring.

Baca seutuhnya →