Artikel-artikel yang ditulis oleh Setepanus Edi Purnama

Pacu Adrenalin ke Puncak Bromo

Pandangan saya berkeliling. Di depan saya adalah samudera pasir yang seperti hamparan gurun tak bertepi. Bisikan pasirnya sampai di telinga seolah mengucapkan salam. Di sisi kanan, pelangi menyapa seakan mengucapkan selamat datang. Saya berdiri mematung, memandang puncak Bromo yang terus mengepulkan asap tebal berwarna kelabu.

Hardtop tidak boleh mendekat sampai ke kaki gunung, karena terdapat pancang-pancang besi yang membatasi kendaraan. Untuk naik, kita bisa berjalan kaki atau naik kuda. Ongkos naik kuda sendiri sangat variatif. Ada yang menawarkan Rp50.000, ada yang Rp70.000, bahkan ada yang menawarkan ongkos Rp100.000. Namun, bila ingin lebih dalam menikmati sensasinya, berjalan kaki menjadi pilihan yang tepat. Sambil berjalan, resapi pemandangan yang indah dengan latar belakan gunung Semeru yang selalu mengeluarkan asap raksasa secara berkala. Telusuri tiap jengkalnya!

Patahan kawah Gunung Bromo. Patahan kawah Gunung Bromo.

Udara dingin memaksa saya melilitkan syal di leher, menarik rapat-rapat kancing jaket dan sarung tangan. Mengenakan pakaian tebal, saya, dan beberapa kawan menuju kawah Bromo. Memang Gunung yang terletak 2.392 meter di atas permukaan laut ini terkenal memiliki hawa yang sangat dingin mencapai 10 sampai 0 derajat celcius.

Sinar matahari yang terik. Sinar matahari yang terik.

Awalnya saya begitu bersemangat lantaran kontur yang dilalui landai. Tapi setelah berapa lama, rasanya kaki semakin berat diajak melangkah. Medan berundak-undak naik turun, ditambah dengan sinar matahari yang terik menerpa kulit dan tiupan angin yang membuat pasir berterbangan.

Medan berundak-undak naik turun.Medan berundak-undak naik turun.

Melepas lelah, sebelum menaiki anak tangga.Melepas lelah, sebelum menaiki anak tangga.

Hal yang paling mengganggu saat berjalan menuju kawah Gunung Bromo adalah debu. Debunya sangat banyak dari bekas pengunjung lain yang berjalan, bekas kuda, atau debu yang terkena angin. Jadi, jangan lupa menggunakan kacamata dan penutup hidung agar debu tak mengganggu Anda. Kita juga harus hati-hati dengan kotoran kuda yang banyak berserakan di jalan, jangan sampai terinjak. Beberapa kali saya berhenti sekadar istirahat mengatur napas, hingga akhirnya sampailah di dasar ujung tangga menuju kawah Gunung Bromo. Di titik ini adalah tempat melepas lelah kita terakhir, sebelum menaiki ratusan anak tangga untuk sampai bisa dibibir kawah. Saya menyempatkan membeli secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh.

Konon katanya jumlah tangga di tempat ini berubah–ubah jika dihitung. Tapi sebaiknya, nikmati saja perjalanan pendakian ini daripada menghitung dan mengkalkulasikan jumlah anak tangga. Dengan degup jantung yang agak kencang dan langkah berat satu demi satu anak tangga berhasil dilalui. Ada yang memberi strategi untuk setengah berlari karena akan lebih cepat dan tidak terasa tekanan di tulang lutut. Ini berhasil, buktinya rekan saya sudah sampai ke puncak, sementara saya masih tertinggal di belakang dengan napas tersengal-sengal. Perjalanan menuju Puncak Bromo, memang bukanlah perjalanan yang mudah. Apalagi anak tangga dipenuhi debu pasir yang cukup licin, membuat pengunjung harus ekstra hati-hati. 

Pemandangan dari atas kawah. Pemandangan dari atas kawah.

Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.

Tapi seakan tak kenal lelah, kaki saya terus melangkah. Mendebarkan sekaligus memesona. Sensasi itulah yang terasa saat saya harus menaiki ratusan anak tangga ini. Perjuangan tidak berhenti, saya harus meniti jalan sempit yang berbatasan dengan kawah. Sungguh memacu adrenalin. Pengunjung berjejal di bibir kawah, tanpa ada pengaman. Ini yang membuat kawan saya lainnya tepar menyerah pada kondisi.

Hingga akhirnya, rasa pegal kedua kaki tertebus dengan pemandangan begitu indah dan spektakuler dari Puncak Bromo. Trekking yang melelahkan seolah terbayar lunas, letih pun sirna seketika. Saya berhasil menaklukan Puncak Bromo, objek yang telah mendunia dan popularitasnya di Jawa Timur menduduki peringkat pertama. Sesampainya di Puncak Bromo, saya dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap dari dekat. Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.

Pelangi menyapa.Pelangi menyapa.

Selain mengamati kawah Bromo, saya juga menyaksikan keindahan Gunung Batok yang persis berada di sebelah Gunung Bromo. Jika melayangkan pandangan kebawah, kita juga bisa menyaksikan pengunungan di sekitar yang memagari lautan pasir yang menghijau dan terdapat sebuah pura di tengahnya. Pura Poten. Sebuah pura milik masyarakat Suku Tengger yang terletak di tengah lautan pasir gunung Bromo. Sangat indah. Benar-benar pemandangan luar biasa, sulit buat kamera untuk menceritakannya selain dengan sepasang mata. Di atas ini, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Ilahi.

Tunggu apa lagi? Siap bertualang dan pacu adrenalin anda!

  • Disunting oleh SA 20/02/2012

Mengintip Sekolah “Laskar Pelangi”

Sekolah Laskar Pelangi berdiri terseok di tanah tanpa ubin, berdinding kayu berlubang. Pencahayaan masuk dari celah-celah di antara kayu-kayu yang disusun horizontal memanjang dari kiri ke kanan. Kondisi kelas berantakan, dengan lebah berseliweran. Di luarnya tampak dua buah kayu penyangga karena bangunan nyaris roboh. Di sebelah kanan sekolah ada sumur dan di dekatnya ada balai kecil. Dibangun di atas bukit bekas penambangan timah, sekolah ini menjadi replika SD Muhammadiyah yang digunakan untuk keperluan film Laskar Pelangi. Semua ditata sedemikian rupa sehingga mendekati kondisi aslinya.

Berada di Desa Selingsing, Kecamatan Gantong, Belitung Timur, sekolah Laskar Pelangi adalah simbol dan gambaran sekolah dengan fasilitas minim dan serba kurang ideal. Meski demikian, banyak sekali pesan moral dan semangat hidup pantang menyerah yang kita saksikan dari film ini. Laskar Pelangi bukan hanya menginspirasi semua orang, tetapi telah menunjukkan kepada kita bahwa fasilitas sekolah yang apa adanya atau biasa-biasa saja telah mampu melahirkan peserta didik yang luar biasa.

Sekolah "Laskar Pelangi"
Sekolah “Laskar Pelangi”.

Papan sekolah bertuliskan "Laskar Pelangi"
Papan sekolah bertuliskan “Laskar Pelangi”.

Bangku dan meja belajar
Bangku dan meja belajar.

Turis berkunjung
Turis berkunjung.

Papan penyangga bangunan sekolah
Tiang-tiang penyangga bangunan sekolah.

  • Disunting oleh SA 13/08/2012

Menyesapi Panorama Wat Arun

Jam nyaris berdetak ke angka sembilan saat saya sampai di Wat Arun. Keindahan Wat Arun yang berdiri kokoh menantang matahari, mengundang decak kagum saya. Begitu menarik, unik dan memesona. Sejenak saya menatap langit dan menghela nafas, lalu menyisir setiap sudut bangunan yang memiliki arsitektur sangat megah ini. Gontai langkah saya pun perlahan mengukir lantai. Potongan kaca dan keramik warna-warni pada dindingnya membuat bangunan bersejarah tersebut tampak semakin indah dan elegan. Didorong penasaran yang tinggi untuk menyaksikan pemandangan yang lebih leluasa, saya mencoba mengumpulkan keberanian mendaki anak tangga yang menanjak tajam. Sungguh memanjakan mata. Rasa lelah seolah terbayar lunas, manakala disuguhkan panorama memukau. Di atas, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Tuhan.

Ah, beginilah seharusnya hidup. Wat Arun memang menyuguhkan ‘surga’ bagi pecinta wisata.

Wat Arun, Kuil Sang Senja
Wat Arun, Kuil Sang Senja

Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun
Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun

Menara Wat Arun
Menara Wat Arun

Detil Bangunan Wat Arun
Detil Bangunan Wat Arun

Biksu-Biksu Berjalan
Biksu-Biksu Berjalan

Kota Bangkok dari Wat Arun
Kota Bangkok dari Wat Arun

  • Disunting oleh SA 16/02/2012

Nikmatnya Kuliner Cirebon

Indonesia tak hanya kaya wisata alam yang memukau. Untuk urusan perut, berbagai daerah di Tanah Air memiliki daftar menu teramat panjang untuk dijajal. Kota Cirebon salah satu contoh yang cukup menggambarkan melimpahnya ragam kuliner nusantara yang tak terkira lezatnya. Apa saja warisan kuliner dari kota Cirebon itu? Mari kita simak!

Empal Gentong

Empal Gentong
Empal Gentong

Menu ini berupa daging dan jeroan sapi yang dibanjiri kuah mirip soto. Rasanya sungguh lezat, tapi memang sangat berkolesterol. Sesuai namanya, daging dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong yang terbuat dari tanah liat. Empal gentong dapat disajikan dengan nasi atau lontong, kemudian disiram kuah bumbu yang khas, ditambah taburan bawang goreng dan daun kucai. Bagi penyuka pedas, sambal empal gentong sangat cocok untuk uji nyali karena dibuat dari saripati cabai merah kering yang dikemudian ditumbuk.

Nasi Jamlang

Nasi Jamlang
Nasi Jamlang

Nasi putih yang penyajiannya dibungkus dengan daun jati sehingga membuat nasi putih itu terasa berbeda. Anda bisa memilih berbagai jenis lauk sesuai selera. Mulai dari telur dadar, ayam goreng, daging sapi, ati sapi, otak sapi, pepes tahu, udang goreng, perkedel hingga rendang jeroan. Jangan lupa mencoba sambalnya, berupa irisan cabe merah pedas.

Nasi Lengko

Nasi Lengko
Nasi Lengko

Makanan ini mirip nasi pecel yang di atasnya ditaburi irisan kubus-kubus mentimun, taoge, daun bawang, potongan tempe dan tahu, kemudian dilumuri bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng.

Tahu Gejrot

Tahu Gejrot
Tahu Gejrot

Berupa tahu yang di potong kecil-kecil ditaruh di atas piring kecil terbuat dari tanah liat kemudian disajikan dengan bumbu gula merah, cabai, bawang merah dan bawang putih yang diulek. Berbeda dengan tahu lainnya, tahu cirebon rasanya tawar dan teksturnya kasar, tapi justru ini daya tariknya. Tahu Gejrot menjadi jajanan yang membuat kita terus ingin melahapnya, apalagi dengan porsinya yang kecil.

Itu hanya segelintir daftar makanan yang dapat dijadikan referensi jika Anda berkunjung ke kota ini. Di luar menu itu, kota udang ini masih menyimpan segudang khazanah kuliner yang dijamin membuat lidah bergoyang.

Tertarik mengecap sedapnya kuliner kota Cirebon? Segera langkahkan kaki menuju Cirebon.

  • Disunting oleh SA 23/01/12

Bertandang ke Buddha Tooth Relic Temple and Museum

Singapura seolah tak pernah habis dikupas. Terlepas dari objek-objek wisata populer dan identik sebagai tempat wisata belanja, masih banyak sudut lainnya yang bisa dijelajahi. Salah satunya yang sayang jika tidak disinggahi yaitu Buddha Tooth Relic Temple and Museum atau Museum dan Kuil Relik Gigi Sang Buddha. Sebuah monumen budaya hidup yang terletak di South Bridge Road yang merupakan jantung Pecinan (Chinatown). Tidaklah sulit menemukan kuil ini, karena bisa dijangkau dengan Mass Rapid Transit (MRT).

Buddha Tooth Relic Temple and Museum berdiri megah, terdiri dari empat lantai. Umumnya ciri khas vihara atau kuil, dominasi warna merah dan emas kentara sekali. Bangunan ini sendiri dikonsep dan dirancang oleh Shi Fa Zhao. Secara garis besar rancangan kuil ini dilandasi unsur-unsur dan sejarah Dinasti Tang dan Mandala Buddhis, yaitu representasi dari alam semesta Buddhis seperti yang terungkap dalam situs resmi kuil ini.

Buddha Tooth Relic Temple
Buddha Tooth Relic Temple

Begitu memasuki lantai satu, mata kita langsung tertuju kepada Patung Bodhisattva Avalokitesvara yang tengah duduk indah di atas tahta teratai, dan dikelilingi oleh patung-patung kecil sepanjang sisinya. Tata cahaya yang indah semakin menambah kesan menggagumkan bagi siapapun yang mengunjunginya. Saat saya tiba, suasana kuil cukup ramai karena sedang ada aktivitas ibadah. Beruntung saya bertemu dengan biksu dari Indonesia. Saya diajaknya melihat relik yang dipercaya para pemimpin umat Buddha sebagai relik suci Gigi Sang Buddha, terdapat di dalam sebuah stupa yang terbuat dari 320 kilogram emas hasil sumbangan umat. Peninggalan suci ini disimpan di lantai empat. Sayang tidak diperkenankan mengambil gambar, bahkan karena sucinya tempat ini, untuk masuk ke dalam pun harus melepas alas kaki.

Patung Bodhisattva Avalokitesvara
Patung Bodhisattva Avalokitesvara

Selain menyimpan relik suci Gigi Sang Buddha, di lantai empat ini kita dapat menemukan beribu-ribu patung kecil Buddha yang disusun teratur dalam wadah kotak kaca. Ada pula bangunan dengan atap berbentuk pagoda yang di dalamnya terdapat lonceng besar dan dapat diputar-putar. Bagian depannya, ditumbuhi berbagai tanaman hias membuat suasana tampak asri.

Atap Berbentuk Pagoda
Atap Berbentuk Pagoda

Bagian menarik lain dari kuil ini adalah Buddhist Culture Museum yang terletak di lantai tiga. Di sini kita dapat menemui berbagai jenis patung Buddha dari penjuru negeri lengkap dengan penjelasan sejarahnya. Perasaan takjub menghampiri hati saya karena bangga secara langsung dapat melihat koleksi benda-benda bersejarah yang bernilai seni tinggi. Saya juga sempat melihat relik yang dijual dengan harga yang sungguh fantastik. Puas berkeliling museum, saya menurun ke lantai dua, yang adalah ruang perpustakaan. Di tempat ini semua dokumen baik asli maupun replika tentang sejarah Buddha tersimpan rapi.

Buddhist Culture Museum
Buddhist Culture Museum

Buddha Tooth Relic Temple and Museum sendiri merupakan salah satu kuil Buddha dengan bangunan yang masih terjaga dan terawat, di tengah-tengah modernitas masyarakat Singapura. Penasaran? Sediakan waktu luang untuk mengunjunginya, karena kita butuh waktu lama jika ingin detail melihat kuil ini. Ah, Singapura memang tak henti menggoda.

  • Disunting oleh SA 11/01/12

© 2017 Ransel Kecil