Artikel-artikel yang ditulis oleh Samanta Limbrada

Hong Kong: Sebuah Catatan Ringan (Bagian 2)

Pagi pertama, setelah sarapan di sebuah restoran di Tsim Sha Tsui (daging asap, telur, roti bakar dan kopi) saya langsung naik MTR menuju Ngong Ping 360 di Tung Chung untuk naik kereta kabel. Ada dua jenis kereta kabel yang tersedia, yaitu yang standar dan yang memiliki kaca pemandangan di bawahnya. Meski lebih mahal, tentu saja saya memilih yang memiliki kaca pemandangan di bawahnya (HK$188). Kapan lagi?

Cukup deg-degan juga ketika kereta gantung itu bergerak meninggalkan platform, karena kaki kita hanya menapak pada kaca transparan dan bisa melihat dengan jelas apa yang ada di bawahnya baik itu laut, hutan, bukit, ataupun jalan setapak alami yang sangat panjang dan yang juga berakhir di Ngong Ping Village. Pemandangan di jendela pun cukup menyita nafas. Sebetulnya pengalaman naik kereta kabel saya yang paling berkesan adalah di Genting, Malaysia, karena kereta kabel yang kita naiki masuk ke dalam kabut dan semua menjadi putih dan siapa yang tahu jika ada monster di luar sana seperti dalam film “The Mist“…

Saya pun sampai di Ngong Ping Village dan atraksi utama di sana adalah Giant Buddha, yang memang sangat… besar. Menurut saya sebetulnya tidak terlalu istimewa. Untuk naik ke Giant Buddha tidak dikenakan tarif. Namun jika ingin masuk ke dalamnya, kita harus membayar HK$25. Saran saya tidak perlu sampai masuk karena sepertinya tidak ada apa-apa.

Tangga menuju Giant Buddha
Tangga menuju Giant Buddha

Di sekitar Giant Buddha ada beberapa kelenteng dan lagi-lagi menurut saya tidak terlalu menarik karena mirip-mirip saja dengan kelenteng yang sering saya lihat di Indonesia. Namun, itulah bedanya Indonesia dengan Hong Kong ataupun Singapura. Dinas pariwisata mereka sangat pandai mengemas objek-objek wisatanya sehingga yang biasa-biasa pun menjadi sangat menarik dan ramai dikunjungi. Coba saja kita bayangkan bila ada kereta kabel ada di… Dieng misalnya, pasti lebih spektakuler!

Saya pun tidak berlama-lama dan harus merelakan untuk tidak berbelanja di Tung Chung Mall yang sangat terkenal sebagai surga belanja karena adalah pusat outlet di Hong Kong di mana kita dapat membeli banyak pakaian, sepatu, atau tas bermerek dengan harga miring. Padahal harga barang di pusat kotanya pun sudah lebih murah jika dibandingkan dengan Singapura atau Jakarta.

Causeway Bay
Causeway Bay

Kami singgah di Food Republic untuk memesan nasi panggang dengan potongan babi dan ikan yang ternyata adalah makanan khas Macau, saya meninggalkan Tung Chung di Lantau Island menuju Stanley Market di ujung selatan pulau Hong Kong dengan menggunakan bus nomor 6X dari sekitar Causeway Bay (karena tidak ada MTR menuju Stanley Market). Bus ternyata melewati Ocean Park dan kita dapat melihat roller coaster-nya yang terletak di atas bukit. Sebelum sampai di Stanley Plaza, bus juga bergerak menyusuri pantai dan banyak turis dan penduduk yang berjemur dan berenang di pantai yang tenang tanpa ombak.

Keramaian di Stanley Market
Keramaian di Stanley Market

Kawasan Stanley Market awalnya hanyalah sebuah pasar di mana kita dapat membeli segala macam barang mulai dari pakaian, barang antik, lukisan, aksesoris, dan lainnya. Tentu saja dengan sistem tawar-menawar. Namun karena letaknya yang di pinggir pantai, akhirnya bermunculan pub dan bar di kawasan itu dan juga Stanley Plaza yang terbuka dan mempunyai banyak restoran dan tempat jajanan ringan seperti es krim. Suasananya begitu hidup, santai dan menjadi tujuan favorit warga Hong Kong untuk berlibur. Sayangnya, saya tidak sempat untuk masuk ke dalam Murray House, sebuah gedung bersejarah bergaya Victoria, yang direlokasi dari wilayah Central Hong Kong.

Menjelang malam, saya pun kembali ke pusat kota Hong Kong dan menjelajah daerah Mid-Level. Daerah Mid-Level adalah daerah yang berkontur menanjak di antara pusat kota dan Victoria Peak. Yang paling menarik dari daerah ini adalah adanya moda transportasi berupa eskalator sambung menyambung (baik mendatar atapun menanjak) yang adalah rangkaian eskalator terpanjang di dunia. Kita dapat keluar di tengah-tengah dan menyusuri jalan yang bersilangan dengan eskalator, dan di kiri dan kanan terdapat banyak pub dan restoran berkelas yang menyajikan haute cuisine dan dipenuhi para bule. Jika saja tidak ada huruf-huruf Cina di mana-mana, rasanya seperti tidak berada di Hong Kong lagi namun di sebuah kota di Eropa.

Eskalator di Mid-Levels
Eskalator di Mid-Level

Jalan yang terkenal yang dilewati Mid-Level Escalator adalah Hollywood Road dan SoHo (“south of Hollywood“) di mana seorang teman saya menunjukkan sebuah restoran mi Hong Kong terkenal yang mendapat Michelin Star. Saya pun makan di sana dan memesan mi kuning dengan daging sapi dan bakso ikan yang memang sangat enak dan harganya pun hanya HK$26.

Menjelang tengah malam saya pun kembali ke daerah Tsim Sha Tsui, dan kembali minum teh susu dari Gong Cha, serta mencoba sebuah penganan khas Hong Kong, yaitu waffle yang bulat-bulat dan tergulung, disebut egg balls, ditutup dengan sebuah kue tar mangga dari Maxim’s Cake (yang selalu ada di semua stasiun MTR). Hong Kong adalah surga bagi pencinta mangga karena mangga tersedia sepanjang tahun dan kualitasnya pun sangat baik. Saya ingin sekali mencoba kue mangga bundar seloyang dan sepenuhnya tertutup oleh lembaran-lembaran mangga. Hm…

Keesokannya, saya harus berpegian sendirian karena teman saya harus bekerja. Saya pun memutuskan untuk pergi ke Macau setelah menyantap kue tar susu di jalan sebagai sarapan. Untuk ke Macau, kita dapat mengambil feri dari Sheung Wan. Terminal ferinya pun menyatu dengan MTR station, sesuatu yang muskil terjadi di Indonesia, di mana tidak ada integrasi apapun antar moda transportasi.

Naik feri menyeberangi Selat Hong Kong
Naik feri menyeberangi Selat Hong Kong

Saya pun memesan tiket return (HK$291) dan memilih tiket pulang jam tiga sore dari Macau. Sebuah keputusan yang saya sesali kemudian karena saya tidak menyangka Macau semenarik itu. Macau adalah sebuah kota yang sangat aneh menurut saya dan sangat berbeda dengan kota metropolis biasa dan banyak sekali yang dapat dilihat. Selalu terdapat marka dalam bahasa Portugis meskipun saya tidak pernah mendengar sekalipun ada orang yang berbahasa Portugis di sana.

Perjalanan laut ke Macau hanya memakan waktu satu jam. Di terminal feri di Macau kita dapat mengambil peta di pusat pengunjung dan bertanya-tanya ke petugasnya yang dapat berbahasa Inggris. Mayoritas pengunjung akan mengambil bus nomor 3 (MOP$3.10) lalu menuju Ruins of St. Paul dan sekitarnya, termasuk saya. Kita dapat menggunakan HK$ di Macau (yang nilainya sedikit lebih tinggi dari MOP, kira-kira kursnya untuk setiap HK$100 akan mendapatkan MOP$109). Namun jika kita membeli sesuatu yang mahal, ada baiknya menukar HK$ dengan MOP$ karena selisihnya terasa.

Ruins of St. Paul
Ruins of St. Paul

Sesampainya di Rua de Sao Paulo, semua turis pun turun dari bus. Mulailah saya menyusuri jalan yang tidak boleh dilalui mobil itu sampai ke Ruines of St. Paul, sisa reruntuhan gereja St. Paul yang terbakar pada tahun 1835 dan hanya menyisakan sebuah tembok di bagian selatan. Sialnya, hari itu mendung dan hujan pun turun. Turis-turis lari berteduh dan membeli payung. Saya tidak memotret terlalu banyak karena takut terkena air dan akhirnya saya menyusuri pinggir-pinggir dari koridor-koridor di dekat kompleks itu yang terlindung dari air. Terdapat sebuah kafe Portuguese kecil di mana saya memesan caldo verde (sup kentang) dan latte sambil menunggu hujan. Sebelumnya, saya juga sempat membeli dendeng pesanan teman di Pasteleria Kei Koi yang banyak terdapat di jalan kecil menuju St. Paul. Ternyata memang dendeng adalah oleh-oleh Macau yang paling terkenal. Tidak lupa saya menyantap burger babi dan tentunya, Portuguese egg tart.

Beberapa gereja yang ada di Macau juga sangat menarik dan terbuka untuk umum meskipun ada bagian-bagian yang tidak boleh kita masuki, kecuali jika memang ingin berdoa. Ternyata memang ada orang keturunan Portugis (atau campuran Cina-Portugis) di Macau yang dinamakan ras Macanese, dan mereka berbahasa Portugis serta beragama Katolik atau Protestan.

Satu hal yang juga mejadi perhatian saya adalah di pusat kota Macau itu terdapat banyak sekali bunga segar yang sepertinya diganti secara rutin oleh petugas pertamanan kota. Lanskap kota pun menjadi penuh bunga berwarna-warni dan lampu-lampu taman yang digunakan untuk menerangi jalan.

Tidak terasa, waktu saya pun hampir habis dan saya berjalan menyusuri jalan utama menuju halte bus yang ada di tengah-tengah persimpangan besar yang terdapat banyak kasino dan kembali ke terminal feri untuk pulang ke Hong Kong. Lain waktu, saya akan mengunjungi Macau lagi untuk melihat pertunjukan Cirque du Soleil, di samping mungkin mengunjungi kasino-kasino di sana yang pastinya sangat menarik di malam hari.

  • Disunting oleh SA 26/05/2012

Hong Kong: Sebuah Catatan Ringan (Bagian 1)

Hong Kong adalah sebuah tempat yang menarik untuk saya. Sebuah perpaduan Timur dan Barat dari Cina (tepatnya provinsi Guangdong) dan kolonialisme Inggris. Meski Hong Kong sudah diserahkan kembali ke Cina pada tahun 1997 (saya pun masih cukup ingat dengan seremoninya di televisi waktu itu), namun Hong Kong saat ini adalah salah satu Special Administrative Region (SAR, sering disebut “Hong Kong SAR”) dari Cina yang mempunyai hak otonomi khusus. Wilayah otonomi khusus lainnya adalah Macau.

Sekitar awal bulan ini, saya mendapati kenyataan bahwa bulan ini: pekerjaan saya di kantor sedang lengang, kursus bahasa Perancis saya setiap hari Minggu sedang libur, dan seorang teman dekat ditugaskan di Hong Kong selama sekitar enam bulan.

Puncak Hong Kong
Puncak Hong Kong

Saya pun mulai mencari-cari tiket untuk berlibur di bulan ini, karena mulai bulan depan sepertinya akan susah untuk mendapat persetujuan cuti. Awalnya saya memilih tujuan wisata lokal yang lebih hemat atau mungkin Bangkok, yang lebih dekat. Namun saya pikir, kapan lagi saya ke Hong Kong dan mendapatkan akomodasi gratis? Walau, pada akhirnya nanti, saya ternyata menyewa kasur ekstra seharga HK$100 per malam, saya anggap itu sangatlah murah.

Akhirnya, saya mendapatkan tiket Jetstar seharga US$320 dari Jakarta ke Hong Kong dengan persinggahan di Singapura. Setelah dikurs, sekitar dua juta sembilan ratus rupiah. Lumayanlah! Namun, yang baru saya betul-betul sadari kemudian adalah, ternyata saya berangkat pagi hari tanggal 21 April dan baru tiba jam 19:45. Ketika di Singapura pun akan susah untuk keluar dari Changi karena hanya transit selama tiga jam.

Tapi, mau bagaimana lagi?

Pada hari H, saya pun berangkat dengan sebuah ranselk (yang saya check-in-kan, karena takut menjadi beban saat transit, dan lagipula saya membawa beberapa bahan cair). Persinggahan di Changi selama tiga jam tidaklah terasa lama. Waktu itu tepat waktu makan siang dan sayapun memesan sebuah roti lapis tuna di restoran cepat saji Subway dan juga segelas smoothies mangga dari Boost Juice. Selepas makan, saya memutuskan untuk melihat Cactus Garden di Terminal 1 yang ternyata cukup menarik dengan berbagai jenis spesies kaktus yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Penerbangan ke Hong Kong dari Singapura berlangsung selama tiga setengah jam dan tanpa makanan! Saya cukup kecewa dan menyumpahi diri sendiri karena membuang roti cokelat dari penerbangan sebelumnya (yang ternyata dioperasikan oleh ValuAir). Hasilnya, saya mendarat di Hong Kong dengan kondisi sangat lapar. Suhu di Hong Kong saat itu tidak berbeda jauh dengan Jakarta atau Singapura, tapi memang lebih sejuk.

Saya pun langsung mengisi ulang Octopus Card saya (yang saya pinjam dari seorang teman) sebanyak HK$200, dan diberitahu bahwa tarif naik Airport Express (kereta cepat) ke Central Station adalah HK$100 dengan menggunakan Octopus Card tersebut. Cukup mahal. Namun ternyata yang dinamakan Airport Express bukanlah MTR (kereta rapid) biasa, namun sebuah kereta super cepat yang bertempat duduk seperti kabin pesawat dan hanya berhenti di tiga stasiun, yaitu Tsing Yi (di Lantau Island), Kowloon, dan Hong Kong. Saya harus turun di Hong Kong Station. Aneh juga, saya baru saja mendarat di Hong Kong, dan sekarang saya naik kereta ke Hong Kong. Ternyata sebelumnya saya belum sampai di Hong Kong?

Saya pun bertemu dengan teman saya yang sedang ditugaskan di Hong Kong itu di Central Station (hanya berbeda lantai dengan Hong Kong Station). Target malam itu adalah naik Peak Tram dan tentunya ke The Peak. Namun karena saya sangat lapar, saya pun makan sejenak di McDonald’s di mal yang terhubung dengan Central Station tersebut.

Sehabis makan, karena terburu-buru (The Peak tutup jam 11 malam), kamipun naik taksi ke Peak Tram, yang sebetulnya cukup dekat dengan Central Station, dengan ongkos HK$20 (tarif minimal) dan langsung membeli tiket tram pulang pergi dan tiket ke viewing terrace seharga HK$65. Peak Tram adalah tram yang sangat bersejarah karena sudah ada sejak tahun 1888 dan tram-nya pun masih asli (meski sudah tidak terbuat dari kayu lagi) dan berfungsi dengan baik dan terkomputerisasi. Naik Peak Tram adalah pengalaman yang sangat unik karena tram menaiki bukit dengan kemiringan 45 derajat dan seolah-olah gedung-gedung di sekitarnyalah yang miring 45 derajat.

Taksi di Hong Kong
Taksi di Hong Kong

Saya dan teman saya pun langsung bergegas menuju viewing terrace dimana kita dapat melihat pulau Hong Kong dari atas bukit (aslinya bernama Victoria Peak). Dan di atas sana udara cukup dingin (dan sedikit berkabut). Indah sekali gedung-gedung berwarna-warni di wilayah Hong Kong dan Kowloon yang dipisahkan oleh sebuah selat dan juga pemandangan di sekitarnya yang dapat kita lihat 360 derajat. Mungkin lain kali saya akan kembali kesini untuk menikmati matahari terbenam dan sinarnya yang keemasan menerpa gedung-gedung tinggi itu, yang satu-per-satu menyalakan lampunya.

Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan kami pun diusir dari teras karena akan segera tutup, meski masih sempat menikmati plaza yang berada di bawahnya. Kami memutuskan untuk menuju ke hotel (sebetulnya adalah serviced apartment) yang terletak di wilayah Tsim Sha Tsui (baca: Chim Sa Choy) di Kowloon dengan taksi karena tidak yakin MTR masih beroperasi. Kami pun naik taksi dan menyeberangi selat di antara Hong Kong dan Kowloon dengan melewati terowongan yang cukup panjang. Saya pun terkesima karena belum pernah melewati terowongan bawah laut sebelumnya.

Saat turun di Tsim Sha Tsui, betapa kagetnya kami ketika sang supir meminta ongkos sebesar HK$180! Kami pun protes meski sia-sia karena supir taksi kami tidak berbahasa Inggris. Akhirnya kami mengerti bahwa taksi tersebut adalah taksi dari Hong Kong Island, dan untuk melewati terowongan, dikenakan tarif ekstra sebesar HK$45, dan dia pun harus kembali lagi dari Kowloon melewati terowongan tersebut, sehingga total tarif ekstra sebesar HK$90. Sungguh mahal, mengingat secara jarak, Peak Tram dan Tsim Sha Tsui sangatlah dekat meski terpisah oleh selat Hong Kong. Akhirnya sopir taksi kami pun memberi keringanan sedikit dan kami boleh membayar 160HKD. Kami belajar. Jangan pernah naik taksi jika harus menyeberangi selat Hong Kong. Lebih baik naik kapal feri atau MTR (dan ternyata MTR beroperasi sampai jam satu pagi!). Namun dengan MTR pun, jika kita melewati terowongan itu, akan dikenakan tarif ekstra sebesar kira-kira HK$6.

Sebelum ke hotel, saya dan teman saya sempat mencari makanan pencuci mulut di wilayah Tsim Sha Tsui dan akhirnya menemukan sebuah tempat dan saya memesan mango with sago balls in coconut milk, squid balls, dan Portuguese egg tart, ditutup dengan bubble tea dari tempat favorit kami, Gong Cha.

  • Disunting oleh SA 09/05/2012

Melintas Borneo Utara

Mesjid Omar Ali, Bandar Sri Begawan

Sejak tahun 2008 saya ingin mengunjungi Brunei Darussalam. Alasannya hanya karena jarang ada yang pergi ke sana dan penasaran seperti apa, karena tidak ada yang tahu. Akhirnya rasa penasaran itu terpenuhi pada bulan Desember 2010.

Karena cukup mahal untuk terbang langsung dari dan ke Brunei, serta karena ingin mengeksplorasi Borneo bagian utara, saya memperluas rute perjalanan menjadi: Pontianak — Kuching (Malaysia) — Miri (Malaysia) — Brunei — Labuan (Malaysia) — Kota Kinabalu (Malaysia), dengan total durasi tujuh hari. Tiket pesawat pun sudah dipesan sebelumnya untuk rute Jakarta — Pontianak, Kuching — Miri, dan Kota Kinabalu — Jakarta.

Mendekati hari-H, ternyata ada hal mendesak yang memaksa saya untuk menunda perjalanan sampai tanggal 22 dan mempersingkat lamanya menjadi lima hari saja. Saya harus mengganti rencana perjalanan dengan tiket Garuda Indonesia dan Air Asia yang sudah dibeli dengan biaya yang hampir sama dengan tiketnya. Tak apalah, daripada batal berangkat.

Perjalanan ini juga menjadi perjalanan solo saya yang pertama, meski di awal tahun 2010 saya pernah ke Banjarmasin sendirian untuk melihat pasar terapung Lok Baintan. Namun, itu hanya semalam dan dilakukan ketika saya ditugaskan di Balikpapan. Cukup deg-degan juga, apakah akan terasa sepi dan apakah akan aman-aman saja.

Tanggal 24 saya mengejar pesawat Garuda jam 6 pagi tujuan Pontianak. Sampai di Bandara Supadio saya langsung keluar untuk naik ojek ke pusat kota (Rp50.000). Di perjalanan, tukang ojek menawarkan untuk mengantar berkeliling. Setelah menawar, akhirnya saya setuju (Rp70.000).

Mesjid Terbesar di Pontianak

Saya diantarkan ke terminal bis Damri untuk memesan tiket bis ke Kuching, Malaysia nanti malam (Rp165.000), ke Tugu Khatulistiwa, ke rumah makan untuk mencoba Es Lidah Buaya (sangat menyegarkan!), dan ke Mesjid Jami. Ternyata, tukang ojek itu tidak membawa saya ke Mesjid Jami, dan malah membawa saya ke mesjid baru yang memang terbesar se-Pontianak. Dia juga lupa kalau hari itu hari Jumat dan harus shalat Jumat. Akhirnya dia meminta ongkos saat itu juga dan memutuskan segera mengantar saya pulang ke terminal bis Damri. Spontan saya marah karena perjanjian awalnya tidak begitu. Awalnya bahkan dia bilang setuju mengantar ke empat sampai lima tempat. Akhirnya saya mengalah dengan membayar tapi tetap minta diantar ke dermaga untuk naik sampan ke Mesjid Jami. Sebelumnya memang dia sudah mencoba untuk mengantar saya ke Keraton yang ternyata ada di samping Mesjid Jami. Namun, air pasang dan motor tidak bisa lewat. Sepanjang perjalanan dari bandara tadi memang banyak terlihat rumah dan ruko-ruko yang terendam air se-mata kaki.

Sekat Warna-Warni

Anak-anak di Pinggiran Sungai di Pontianak

Sampan ke Mesjid Jami bertarif Rp10.000 pulang pergi dan di depan mesjid saya bertemu dengan anak-anak kecil yang sedang bermain dengan membentangkan sarungnya di atas kepala sehingga tertiup angin kencang. Mereka menghampiri saya dan terlihat penasaran dengan “abang dari Jakarta” ini. Ada satu kakak-beradik kelas 1 SD dan 2 SD yang lucu dan saya ngobrol dengan mereka selama 10 menit, sebelum mereka ikut shalat Jumat.

Sederetan Kapal di Pontianak

Sampan, Pontianak

Pada dasarnya masyarakat di Pontianak itu cukup baik dan santun, meski kesimpulan saya adalah semakin suatu kota ramai dengan turis, semakin banyak penipu yang memanfaatkan ketidaktahuan turis. Sebelas-duabelas seperti Ho Chi Minh City (Vietnam) dan Yogyakarta.

Keraton di Pontianak

Mesjid Jami sendiri adalah mesjid tua yang cukup menarik, tapi saya tidak masuk karena sedang ada shalat. Sekitar 200m dari mesjid ada Keraton Pontianak yang hanya berupa rumah kuno saja tapi cukup menarik dan ada benda-benda bersejarah seperti Kaca Seribu dan Al-Qur’an yang berumur dua abad!

Es Nona di Pontianak

Perjalanan dilanjutkan dengan menumpang angkot Gajah Mada untuk kembali ke terminal Damri dan istirahat di lantai atas. Sekitar pukul empat saya mandi lalu naik ojek ke Jl. Pattimura yang ada banyak tempat jajannya. Es Nona patut dicoba di sini. Karena itu adalah malam Natal, maka saya sempatkan ke gereja terdekat yang dijaga banyak polisi, ditutup dengan makan malam di warung kopi “Tubrux” yang menyediakan koneksi internet nirkabel gratis.

Pukul 10 malam bus saya baru berangkat setelah ditunda satu jam karena ada kemacetan. Saya sempat istirahat dulu di lantai atas dan berbincang-bincang dengan seorang supir bis asal Klaten dan penjaga warung asal Makassar. Perjalanan selama hampir sembilan jam itu saya lewati dengan tidur dan kondisi bus cukup nyaman dengan AC dan tempat duduk yang bisa direbahkan.

Saya sampai di perbatasan Entikong jam 6 pagi di hari Natal. Proses imigrasi berjalan lambat karena hanya ada dua loket. Kita harus jalan sendiri ke gerbang perbatasan, lalu mengantri imigrasi lagi di sisi Malaysia.

Sekitar jam 8 waktu setempat saya akhirnya tiba di Kuching dengan tanpa satu ringgit pun. Beruntung ada penukar mata uang asing di pujasera sebelah terminal. Saya langsung ke perhentian bis untuk mencari transportasi ke pusat kota. Ternyata di Kuching pun ada angkot berupa minivan. Saya memutuskan menaiki itu untuk ke daerah pasar.

Setelah berjalan kaki memikul ransel ke Serawak Museum, saya mendapati museum itu tutup karena libur hari besar! Akhirnya saya langsung menuju waterfront dengan menumpang mobil seseorang yang menawarkan untuk mengantar ke sana.

Waterfront Kuching cantik! Rindang, asri, sepi, dan terawat. Pada dasarnya selama 10 jam di Kuching saya hanya berputar-putar di sekeliling waterfront saja plus menaiki kapal berkeliling sungai bertarif RM19 (sekitar Rp55.000). Tak lengkap ke Malaysia tanpa icip teh tarik, maka saya sambangi After 2 Café untuk memesan satu gelas. Saya sempatkan juga membeli oleh-oleh di pusat kerajinan. Nasi Hainan menjadi makan siang saya. Sempat juga ke India Street tapi tidak beli apa-apa.

Jam delapan malam saya harus meninggalkan Kuching untuk terbang ke Miri, meski belum puas. Mungkin suatu saat saya akan mengunjungi Kuching lagi.

Miri adalah kota terakhir di Serawak sebelum Brunei. Tidak ada yang terlalu menarik dan kebanyakan turis hanya mampir untuk pergi ke Brunei atau ke Mulu National Park. Di Miri saya menginap di hostel (setelah melalui 2 kota tanpa menginap) bernama Highlands (RM25 per malam per orang, sekitar Rp70.000). Pemilik Highlands awalnya cukup galak ketika saya bilang ingin melihat kamar. Rupanya dia mengira saya ingin mengecek apakah ada kutu kasur atau tidak dan merasa tersinggung.

Pagi-pagi saya ketinggalan bis menuju Brunei karena tidak menyangka bahwa bis berangkat jam 8 dari terminal jauh di luar kota, bukan terminal dalam kota. Untungnya owner hostel bilang bisa pakai mobil sewaan, pukul 11 (RM60/Rp180.000, kalau naik bis RM40/Rp110.000). Positifnya, saya jadi bisa keliling Miri dulu selama tiga jam.

Saya sampai di Brunei pukul empat sore karena mobil sewaan yang dimaksud baru jalan pukul 12 dari Miri dan sepanjang jalan harus menjemput dan mengantar penumpang lain. Sebetulnya praktek ini ilegal namun sudah menjadi moda transportasi yang biasa untuk orang lokal.

Brunei tidak semegah yang saya kira. Bahkan jalan menuju Bandar Seri Begawan rusak dan sepanjang jalan relatif tidak ada apa-apa. Saya diturunkan di Pusat Belia (Pusat “Pemuda”) dan untung saja penjaga hostelnya sedang ada di tempat.

Kondisi hostel kurang begitu terawat tapi masih memadai dan nyaman. Kamar saya (B$10/Rp70.000) seharusnya untuk empat orang namun malam itu satu kamar milik saya sendiri. Setelah menaruh tas, saya keluar untuk cari makanan. Panas sekali sore itu di Bandar Seri Begawan. Matahari menyengat. Sepi. Sangat sepi. Sebagai orang dari Jakarta yang sangat padat saya merasa aneh. Saya melewati beberapa restoran India dan Melayu namun kurang berselera. Akhirnya saya masuk ke Jolibee, sebuah restoran makanan cepat saji Filipina yang ada di mal dekat Mesjid Omar Ali. Ternyata, di Brunei memang ada banyak orang Filipina.

Setelah itu baru saya masuk ke mesjid berkubah emas dan berpendingin udara 24 jam seminggu itu. Mesjid Omar Ali membuat orang ternganga ketika masuk ke dalam aulanya yang dingin. Sayang sekali dilarang memotret di dalam mesjid. Bagi yang ingin melihat memang harus datang sendiri ke sana. Waktu itu saya mengenakan celana pendek dan penjaga berkata saya harus memakai jubah juga jika ingin masuk. Alhasil, jadilah saya mengenakan jubah hitam semata-kaki itu seperti pengunjung perempuan! Setidaknya tidak disuruh pakai tudung…

Senja di Kampung Ayer

Dari mesjid saya jalan kaki ke Kampung Ayer, tempat tinggal warga Brunei yang memilih untuk hidup dengan cara tradisional dengan tinggal di rumah di atas air. Saya menyusuri jalan-jalan kayu di antara rumah-rumah dan sempat bermain juga dengan anak kecil di kampung itu. Anak kecil memang objek foto yang paling menarik!

Adik dan Kakak, Kampung Ayer

Satu lagi yang tidak boleh terlewat dari mengunjungi Kampung Ayer adalah keliling kampung dengan menggunakan taksi air alias perahu motor. Saat itu ada sepasang bule juga yang kemudian saya ajak untuk berbagi perahu. Setelah menawar akhirnya disepakati per orangnya B$5 (Rp35.000). Tukang perahu itu membawa keliling Kampung Ayer selama kira-kira 40 menit, termasuk sampai ke dekat Istana Sultan. Ada sekawanan burung yang terbang berputar-putar di atas kepala.
Malamnya saya makan malam bersama sepasang bule tadi yang ternyata dari Belanda (berdasarkan pengalaman, saya hanya pernah bertemu turis bule asal Belanda, Jerman, Australia, dan Perancis). Mereka juga menginap di Pusat Belia dan sama-sama berencana untuk ke Kota Kinabalu besok. Saya pun meminta izin untuk bergabung dalam perjalanan itu.

Bertemu Teman Baru di Brunei

Setelah makan malam saya berpisah dan memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe kecil yang keren dan buka 24 jam untuk mencari koneksi internet nirkabel dan juga untuk menonton pertandingan final AFF antara Indonesia dan Malaysia (Indonesia kalah 3-0, seperti semua Anda tahu). Minuman di sana ternyata mahal dan tidak enak. Mereka tidak punya alkohol karena alkohol dilarang di Brunei.

Esok paginya saya sudah meninggalkan Pusat Belia pukul tujuh pagi dan pergi ke terminal bis untuk naik bis no. 37 (atau no. 38) menuju Muara (B$1/Rp7.000). Perjalanan bis di Brunei ini sangat menyenangkan karena supir bis mengenal semua orang dan menurunkan semua orang di tempat masing-masing tanpa perlu bilang apa-apa. Suasananya seperti keluarga. Saling tegur sapa dan bercanda. Bisnya pun meski sudah tua tetap nyaman dan dingin.

Dari Muara saya harus naik bis lain lagi ke Serasa Ferry Terminal. Saat itu ada satu supir bis yang mau mengantar kita di sela-sela shift-nya, karena bis yang dimaksud belum datang. Mungkin dia tahu kita sudah telat lalu bersedia mengantar (B$1 juga per orang). Jadilah tiga orang diantar menggunakan satu bis besar!

Serasa Ferry Terminal pun sepi dan untungnya saya belum telat. Perjalanan ke Labuan memakan waktu satu jam, lalu transit di Labuan selama tiga jam (sempat makan siang dan foto-foto juga, meski tidak terlalu ada yang menarik), lalu berangkat lagi ke Kota Kinabalu, menempuh waktu selama tiga jam.

Sampai di Kota Kinabalu sudah pukul empat sore. Jesselton Point Ferry Terminal sangat menarik dan santai. Sepertinya menyenangkan melihat matahari terbenam di sana sambil minum teh. Setelah berputar-putar di kota, saya memutuskan untuk menginap di Hotel Capital (RM130/Rp370.000), karena sedang ingin memanjakan diri setelah satu malam di bis dan dua malam di hostel.

Sarapan favorit di Malaysia: Mee Goreng, Kopi Panas dengan Susu, Bakpau

Memberi Makan Merpati

Kota Kinabalu punya atmosfer yang sedikit seperti Bali meski tidak se-menyenangkan Bali! Waterfront-nya menarik dan ada bagian khusus untuk warung-warung penjual makanan seperti ikan bakar, barbeque, es buah, dan lain sebagainya. Suasananya lebih seperti di Indonesia dibanding seperti di Penang misalnya.

Setelah tidur cukup di hotel, jam delapan pagi saya keluar mencari sarapan, karena hotel itu tidak menyediakan sarapan! Syukurlah di samping hotel ada pujasera semacam kopitiam yang enak dan saya pesan mi goreng, secangkir kopi dan tidak lupa sebungkus bakpau juga di jalan pulang.

Saya jalan kaki ke Sabah Museum selama kurang lebih 40 menit, sambil melihat-lihat dan mengambil gambar. Saya sarankan untuk naik bis ke Wawasan Plaza, dan lanjut lagi bis no. 13 ke museum, masing-masing RM0.50 (Rp1.400). Sabah Museum (RM8/Rp22.000) biasa saja, namun Heritage Village-nya bagus, meski tidak sebesar Taman Mini Indonesia Indah. Hutan tanaman obat-obatannya juga menarik. Museum itu memang sangat luas dan memiliki hutan sendiri.

Sore harinya sewaktu saya berencana untuk ke pusat kerajinan dan ke pasar ikan, hujan turun dengan lebatnya. Sayang sekali.

Hujan tidak berhenti juga sampai saat-saat saya harus mengejar pesawat untuk pulang ke Jakarta. Padahal saya ingin sekali melihat matahari tenggelam di waterfront. Saya sempat menunggu bis untuk ke bandara namun bisnya tidak kunjung datang. Daripada ketinggalan pesawat, akhirnya taksi pun dipanggil (RM25/Rp70.000). Ini hal yang paling tidak enak dari berkelana sendirian: membayar ongkos taksi sendiri.

Kota Kinabalu Waterfront

Saya akhiri lima hari perjalanan singkat ini di Kota Kinabalu. Berikutnya, ada keinginan mendaki Gunung Kinabalu. Semoga terwujud!

Disunting oleh SA 13/01/11


© 2017 Ransel Kecil