Artikel-artikel yang ditulis oleh Rika Safrina

Mengintip Korea Utara

Pada suatu Sabtu di musim gugur, saya bangun dini hari dan bersiap-siap untuk mengejar tur ke perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tempat itu biasa disebut Demilitarized Zone (DMZ). Ada tiga gerbang masuk menuju DMZ di Korea Selatan: Yanggu (bagian Timur), Cheorwon (bagian Tengah) dan Paju (bagian Barat). Yang paling populer adalah Paju karena terletak paling dekat dengan ibukota negara Seoul, dan bisa ditempuh sekitar satu-dua jam dari Seoul.

Di sepanjang perjalanan bus dari Seoul, kami menyusuri sisi Hangang (baca: Han-gang, Sungai Han) yang ditutupi dengan kawat pembatas listrik. Beberapa tentara Korea Selatan tampak berjaga di pos di setiap kilometernya, mengawasi Hangang dari penyelundup. Di seberang sungai itu adalah pegunungan daerah Korea Utara, dan di sebelah kanan kami adalah persawahan dan pegunungan Korea Selatan. Perbandingan kedua pegunungan sangat berkebalikan. Pegunungan Korea Selatan tampak hijau dan dipenuhi tumbuhan, sedangkan pegunungan Korea Utara tampak merah dan gundul. Kata pemandu tur kami, Korea Utara membakar dan menggunduli pegunungan di perbatasan mereka untuk memudahkan mereka mengawasi siapa saja yang kabur dan masuk.

Pos Penjaga di Sisi Hangang
Pos penjaga di sisi Hangang

Pemandangan itu perlahan memudar seiring dengan berjalannya bus memasuki perhentian kami yang pertama, yaitu Taman Imjingak (baca: Imjin-gak). Imjingak dipenuhi dengan monumen, patung, jembatan dan bangunan bersejarah yang berhubungan dengan perang Korea. Acara-acara yang berupaya untuk menyatukan kembali atau memperbaiki hubungan kedua Korea biasanya diadakan di Imjingak. Setiap Chuseok (perayaan Thanksgiving ala Korea) dan Seollal (perayaan Tahun Baru Korea), pendatang dari Korea Utara, yang sekarang menetap di Korea Selatan, mengunjungi Mangbaedan di Imjingak untuk melakukan ritual penyembahan leluhur dengan membungkuk ke arah Korea Utara. Di Imjingak juga terdapat Freedom Bridge, jembatan yang dilalui oleh tahanan atau tentara Korea Selatan saat pulang kembali ke kampung halamannya dari Korea Utara.

Mangbaedan, Tempat Pendatang Korea Utara Melakukan Ritual Penyembahan Leluhur
Mangbaedan, Tempat Pendatang Korea Utara Melakukan Ritual Penyembahan Leluhur

'Freedom Bridge' Melintasi Sungai Imjin
Freedom Bridge Melintasi Sungai Imjin

Pita-pita di Imjingak yang ditulisi harapan dan doa untuk perdamaian kedua Korea Imjingak terletak tujuh kilometer dari Military Demarcation Line (MDL), garis yang membatasi Korea Selatan dan Korea Utara. Imjingak adalah tempat terjauh yang dapat didatangi pengunjung tanpa pemandu. Jika pengunjung tidak ingin mengambil paket tur dari agen perjalanan di Seoul, mereka dapat menggunakan transportasi umum ke Imjingak, lalu membeli tiket tur di sana. Saya dengar, tur-tur yang disediakan langsung di Imjingak dipandu oleh tentara Korea Selatan sendiri, dalam bahasa Korea. Jadi pengunjung dari luar negeri lebih disarankan untuk menggunakan jasa agen perjalanan dari Seoul yang menyediakan tur dalam berbagai bahasa.

Dari Imjingak, tujuan kami selanjutnya adalah Third Infiltration Tunnel. Di jalan menuju kesana, bus kami melewati pos penjaga, dimana paspor setiap pengunjung dicek oleh tentara Korea Selatan. Third Infiltration Tunnel adalah terowongan yang dibangun oleh Korea Utara untuk menyerang Korea Selatan. Sampai saat ini sudah 4 terowongan Korea Utara yang ditemukan, dari sekitar 20 terowongan yang diperkirakan. Terowongan kedua (ditemukan tahun 1975 di bagian Tengah DMZ), ketiga (ditemukan tahun 1978 di bagian Barat DMZ, paling dekat dengan Seoul) dan keempat (ditemukan tahun 1990 di bagian Timur DMZ) dapat dikunjungi oleh turis. Perjalanan kami kali ini adalah menuju terowongan ketiga.

Setelah menggunakan helm pengaman, kami menuruni terowongan itu dengan perlahan. Terowongan yang panjangnya sekitar 1.7 kilometer, tinggi dan lebar masing-masing dua meter ini dapat menampung sekitar 60.000 tentara Korea Utara untuk menyusup ke Korea Selatan dalam waktu 1 jam saja. Saat ditemukan, pihak Korea Utara membantah terowongan ini milik mereka. Namun tanda pengeboran di dinding terowongan menunjukkan arah ke Korea Selatan, yang menandakan bahwa terowongan ini dibangun dari arah Korea Utara. Setelah itu pihak Korea Utara melaporkan secara resmi bahwa itu adalah terowongan penambangan batu bara dan melumuri dinding terowongan dengan batu bara sebagai bukti. Akan tetapi, riset geologi menunjukkan tanah di daerah itu tidak mengandung batu bara.

Walaupun panjang asli terowongan adalah 1.7 kilometer, namun hanya 400 meter yang bisa dilewati pengunjung, yaitu sampai batas MDL. Sedangkan, sisa terowongan sudah masuk ke bagian Korea Utara, dan diberi dua dinding pembatas. Setengah perjalanan menuju dinding pembatas itu menurun, dan setengahnya lagi mendatar. Di dinding pembatas pertama, terdapat jendela kecil untuk melihat ke dinding pembatas kedua dan ruangan yang suram.

Pintu Masuk Terowongan
Pintu Masuk Terowongan, Dilarang Mengambil Foto

Kembali ke atas, kami diberi waktu sebentar untuk melihat video dokumenter pendek dan museum DMZ sebelum menuju tempat selanjutnya yaitu Dora Observatory. Di Dora Observatory inilah kami bisa mengintip sedikit pemandangan Korea Utara. Di paling bagian selatan Korea Utara itu, mereka membangun sebuah kota palsu dengan bangunan-bangunan mewah tinggi dan lampu yang diatur untuk menyala dan mati, untuk menunjukkan ke dunia bahwa mereka hidup bahagia dan makmur di Korea Utara. Daerah ini bernama Kijong-dong, dan disebut juga Propaganda Village.

Dari sini, kami juga bisa melihat garis perbatasan dan dua buah tiang bendera. Pada tahun 1980, Korea Selatan membangun tiang bendera setinggi 100 m di dekat perbatasan ini dan mengibarkan benderanya di sana. Pihak Korea Utara kemudian membalasnya dengan membangun tiang yang lebih tinggi, mungkin bukan tiang lagi namanya tapi menara dengan tinggi 160 meter, atau disebut juga Flagpole War.

Mengintip Korea Utara di Dora Observatory
Mengintip Korea Utara di Dora Observatory

Perhentian kami selanjutnya dan yang terakhir di DMZ adalah Dorasan Station. Ini adalah stasiun kereta paling utara di Korea Selatan. Sebelumnya jalur ini digunakan untuk pengiriman barang antara Korea Selatan dan Korea Utara, namun Korea Utara menutup perbatasannya sejak Desember 2008. Sejak itu, tidak ada lagi kereta yang melalui Dorasan Station, dan hanya dibuka untuk turis. Di sini pengunjung bisa meminta foto bersama tentara Korea Selatan dan meminta stempel DMZ. Tapi hati-hati untuk tidak meletakkan stempel itu di paspor. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Jepang, kabarnya menolak orang-orang masuk negaranya jika menemukan cap ini di paspor.

Dorasan Station, Rancangan Arsitek Bandara Internasional Incheon
Dorasan Station, Rancangan Arsitek Bandara Internasional Incheon (Interior)

Dorasan Station, Rancangan Arsitek Bandara Internasional Incheon
Dorasan Station, Rancangan Arsitek Bandara Internasional Incheon (Eksterior)

Itulah cerita perjalanan saya mengintip Korea Utara. Ada perasaan aneh yang menghinggap sepanjang tur berlangsung. Saat melihat pengharapan dan doa-doa yang diletakkan di Imjingak, saat melihat tentara-tentara Korea Selatan yang ‘sialnya’ mendapat tugas berjaga di DMZ yang katanya masih dipenuhi bom dan ranjau darat, saat menuruni terowongan suram dengan membayangkannya dirancang dan dibangun oleh orang-orang Korea Utara untuk berperang, saat memandang jauh ke pegunungan gersang dan kota palsu Korea Utara dan bertanya-tanya bagaimana kehidupan orang-orang di dalam sana, saat melihat stasiun kereta megah yang tidak lagi beroperasi karena pemutusan perjanjian sebelah pihak, ditambah lagi pemandu tur yang selalu menceritakan kelakuan buruk pemerintah Korea Utara terhadap penduduknya dan terhadap Korea Selatan yang membuat seluruh peserta semakin benci dengan Korea Utara.

Semua hanya bisa berharap, semoga perdamaian di antara kedua Korea cepat terjadi.

  • Disunting oleh SA 07/01/12

“Pelarian” Phuket Itu

Pantai Maya di Pulau Phi Phi

Pada akhir Maret 2010, saya dan teman-teman berlibur ke Phuket, Thailand, untuk pertama kalinya. Saya berangkat dari Singapura sendirian pada pagi hari, sedang teman-teman dari Jakarta akan berangkat sore harinya.

Setibanya di Phuket International Airport, sempat bingung bagaimana cara ke Patong, tempat penginapan yang sudah dipesan sebelumnya. Karena sendiri, agak mahal rasanya kalau menyewa taksi sekitar 550 Baht. Transportasi umum yang paling murah adalah Airport Bus, yang berangkat setiap satu jam dari bandara menuju Phuket Town dengan tarif 70 Baht. Dari sana tersedia banyak angkutan kota menuju daerah-daerah Phuket yang lain, termasuk Patong (sekitar 10 menit dari Phuket Town).

Setelah melihat keadaan bisnya yang tidak terlalu bagus dan tanpa pendingin udara. Ini sangat berbeda dari gambar-gambar Airport Bus di artikel yang saya lihat di internet. Apa mungkin kebetulan saja bis yang kurang bagus yang sedang “ngetem“, ya? Saya kemudian kembali ke balai kedatangan untuk mencari alternatif transportasi yang lain. Akhirnya saya putuskan naik minivan, yang meskipun tidak semurah bis, tetapi sangat nyaman dan tidak terlalu mahal. Seperti angkutan ‘travel’ Jakarta-Bandung, minivan ini diisi oleh 10 penumpang dengan harga tiket yang berbeda-beda tergantung tujuannya: Phuket Town 100 Baht, Patong 150 Baht, Kata/Karon 180 Baht. Kendaraan mulai berjalan jika kursi sudah terisi penuh. Tapi tenang saja, tak akan menunggu lama, banyak turis yang juga berangkat menuju Patong.

Pulau James Bond

Minivan berhenti di tengah perjalanan, sebuah agen wisata yang bekerja sama dengan sang supir kemudian menyapa dan mempromosikan paket-paket tur mereka. Setiap orang dilayani oleh satu agen yang menanyakan tempat penginapan yang telah mereka pesan dan tempat-tempat wisata yang ingin kami tuju. Waktu itu saya cukup tertarik dengan paket mereka karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah daripada booking online di situs-situs web agen wisata. Saya memutuskan menolak karena memang harus berdiskusi dulu dengan teman-teman saya yang belum datang. Kami berencana untuk ikut tur sehari ke Phang Nga Bay (Pulau James Bond) dan sehari ke Pulau Phi Phi (Pulau Leonardo DiCaprio).

Sesampainya di Patong Voyage Place Hotel, saya langsung ditawari paket tur dari kenalan dekat pemilik penginapan, yang ternyata lebih murah lagi dari tarif agen wisata tadi. Dengan alasan yang sama saya menolak paket tur Pulau Phi Phi dan Phang Nga Bay. Tapi saya akhirnya mengambil paket tur Elephant Trekking 2 jam di Amazing Bukit Safari (ABS) dengan harga 800 Baht, untuk mengisi waktu sembari menunggu kedatangan teman-teman.

Para tamu duduk di dipan yang telah disiapkan di atas gajah, lengkap dengan tali pengamannya, lalu berjalan masuk ke dalam hutan bersama pawangnya. Walaupun berukuran sangat besar, gajah mampu menjaga keseimbangannya dengan baik. Si pawang memandu gajah melewati jalanan curam dan sempit, lumayan bikin jantung deg-degan! Di tengah jalan si pawang bahkan menawarkan saya untuk duduk di leher gajah, tanpa tali pengaman, tentu saja saya mau! Oh ya, sebelum mulai trekking, pihak ABS menanyakan apakah saya mau foto di atas gajah dengan tambahan biaya. Saya jawab tidak mau. Eh, di dalam hutan si pawang berinisiatif sendiri, meminta kamera saya untuk mengambil gambar saya di atas gajah, dan berpesan jangan memberi tahu pihak ABS. Tentunya setelah trekking selesai saya memberikan sedikit tip.

Balik ke Patong, saya berjalan kaki ke Pantai Patong sambil mengamati harga paket tur di agen-agen sepanjang jalan ke sana. Bayangkan, saya menemukan harga yang lebih murah lagi dari yang ditawarkan oleh kenalan pemilik penginapan! Intinya sih menawar gila-gilaan, biasanya kalau memesan buat banyak orang sekaligus dan kita adalah turis dari Asia Tenggara, bisa dapat lebih murah. Akhirnya saya dapat harga yang paling murah untuk paket tur Phang Nga Bay dan Pulau Phi Phi masing-masing sekitar 800 Baht. Saya jadi menyesal, merasa Elephant Trekking tadi adalah overpriced!

Pantai Patong sangat ramai, sepanjang pesisir pantai penuh dengan kursi dan payung besar. Terdapat palang “Tsunami Hazard Zone” di beberapa tempat, setelah tsunami melanda sebagian besar daerah Patong di tahun 2004 lalu. Walaupun begitu, makin banyak turis yang mengunjungi tempat ini dan air lautnya cukup bersih. Sebenarnya ada daerah pantai lain di Phuket yang lebih sepi dan menyenangkan, yaitu pantai Kata dan pantai Karon. Namun penginapan di sana dikuasai oleh resor-resor mahal, sehingga kebanyakan turis dengan bujet kecil tidak memilih daerah ini.

Malamnya setelah rombongan teman saya tiba, kami berenam berjalan mencari makan di Jungceylon Shopping Mall. Kebetulan waktunya tepat untuk melihat Water Fountain Show, semacam pertunjukan air mancur yang bergerak naik turun mengikuti iringan musik, yang dimainkan setiap hari pukul tujuh dan sembilan malam. Setelah itu kami menelusuri Bangla Road, jalanan yang penuh dengan bar dan diskotik (Patong memang terkenal dengan kehidupan malamnya). Kalau malam, jalanan ini ditutup untuk kendaraan, jadi khusus untuk pejalan kaki saja.

Bangla Road di Patong

Esok paginya kami dijemput agen wisata untuk melakukan perjalanan sehari ke Phang Nga Bay. Lokasi ini terkenal karena keindahan tebing terjal dan batuan karas di perairan, terutama satu batuan kecil dan menjulang ke atas yang muncul di film James Bond: The Man with the Golden Gun. Tapi sebelum ke sana, agenda tur kami yang pertama adalah kayaking atau canoeing. Satu kano diisi oleh dua orang dan satu pengayuh. kami diantar melewati gua-gua dan tebing curam yang warnanya sangat indah. Perairannya sendiri sangat dangkal jadi kami tidak perlu menggunakan baju pelampung.

Canoeing

Setelah itu kami berangkat ke Pulau James Bond. Pemandu tur berulang kali mengingatkan untuk tidak berbelanja di sana dan sebaiknya menggunakan waktu 30 menit untuk melihat-lihat dan berfoto di sekitar pulau. Tidak berbelanja sih bukan masalah bagi saya, lagipula di sana barang-barangnya lebih mahal dari Patong, tapi batasan 30 menit keliling pulau kurang menyenangkan. Ada paket tur lain yang lebih privat, tidak menggunakan long tail boat bersama 20-30 orang lainnya, melainkan speed boat kecil. Bagaikan raja, tapi Anda harus membayar lebih mahal! Dari sana, kami berlanjut ke Fisherman Village, perkampungan muslim yang berada di atas air, dan makan siang di sana. Setelah itu kembali ke daratan, dan dibawa ke Sleeping Buddha Cave Temple, atau disebut juga Monkey Cave karena terdapat banyak monyet di sekitar temple, sebelum diantar pulang kembali ke hotel.

Fisherman Village

Malamnya saya dan teman-teman berpisah, sebagian mau belanja oleh-oleh, sebagian lagi termasuk saya mau menonton Simon Cabaret. Pertunjukan ini berlangsung setiap malam pukul 7.30 dan 9.30 malam, dengan pilihan kursi biasa (regular) di bagian atas dan VIP bagian bawah dekat panggung. Kami membeli tiket regular seat untuk jam 9.30 malam, sekitar 430 Baht per orang, setelah menawar di tiga agen wisata. Pertunjukan tarian dan nyanyian selama 1,5 jam ini dimainkan oleh “ladyboys“, yang dari jauh kelihatan cantik dan seksi tapi dari dekat lumayan menyeramkan! Setelah selesai manggung, mereka berbaris di halaman parkir melambai-lambaikan tangan ke arah tamu. kami dengan semangat minta foto bareng, ternyata sekali jepretnya bertarif 50 Baht dan mereka menghitung berapa kali kami menjepret kameranya. Benar-benar perhitungan! Pertunjukannya sendiri cukup menarik dan menggelikan, dengan dekorasi dan kostum yang sangat meriah sekaligus berlebihan. Mereka membawakan beragam lagu dan tarian, dari yang jadul sampai yang agak baru seperti “Nobody“-nya Wonder Girls, dari yang lokal sampai yang mancanegara, dari yang gerakannya cantik gemulai sampai yang lucu maskulin seperti “I Will Survive“.

Keesokan harinya kami tur ke Pulau Phi Phi, dengan bawaan agak banyak karena seharian akan berenang. Sebelumnya, perjalanan minivan dari Patong ke pelabuhan Chalong Bay, tempat kapal feri yang sudah menunggu, melewati Phuket Town yang jalanan dan bangunannya bernuansa tua dan antik, seperti daerah Braga di Bandung. Agenda pertama tur adalah snorkeling di Pulau Khai Nok. Kapal berhenti di tengah laut dan penumpang dibawa satu-persatu menggunakan long tail boat ke pulau itu, karena kapal tidak bisa berlabuh kesana. Di pulau itu kita bisa menemukan banyak ikan di pinggiran pantai tanpa perlu bergerak jauh ke tengah laut. Kembali ke kapal, penumpang mulai menyantap makan siang yang sudah disiapkan sembari bergerak menuju Pulai Phi Phi.

Walaupun bisa ditempuh dari Phuket, Pulau Phi Phi sebenarnya masuk ke dalam provinsi Krabi, terletak antara Phuket dan Krabi, namun lebih dekat sedikit ke arah Krabi. Phi Phi terdiri dari dua pulau yakni Phi Phi Don yang berpenghuni, dan Phi Phi Lay yang lebih kecil dan tidak berpenghuni, tempat pengambilan gambar film “The Beach“. Kapal pun berhenti di tengah laut menghadap ke pantai Maya, pantai terindah di Phi Phi Lay, yang dikelilingi oleh tebing-tebing. Penumpang dihadapkan dengan pilihan antara naik long tail boat menuju pantai, atau snorkeling di sekitar kapal (karena ikan dan karang adanya di tengah laut), dan tidak bisa memilih keduanya. Rombongan saya dan teman-teman pun terpisah, sebagian yang tidak ingin berenang bergerak menuju pantai Maya untuk foto dan ngécéng (siapa tahu ketemu pria tampan ala Leonardo DiCaprio!), sedangkan saya dengan seorang teman lainnya memutuskan untuk berenang di tengah laut. Surga dunia!

Selama perjalanan dari Phi Phi Lay menuju Phi Phi Don, kapal sempat melaju pelan saat melewati gua Viking, gua di pinggir laut tempat tumbuhnya sarang burung walet. Kenapa dinamakan demikian, karena di dinding gua terdapat banyak lukisan kapal laut yang mengingatkan kita pada kapal Viking. Sayang sekali kami hanya bisa memandang dari jauh, tidak bisa masuk ke dalamnya. Agenda terakhir adalah berjalan-jalan sebentar di Phi Phi Don. Karena seharian capek berenang, saya kalap membeli banyak makanan ringan seperti crepes dan manisan jagung di sana. Pulaunya sendiri mengingatkan saya pada Gili Trawangan.

Tidak mau berpisah begitu cepat dengan lautan dan deretan pulau indah ini, di jalan pulang saya dan seorang teman duduk dan menikmati pemandangan di atas dek kapal bersama turis-turis asing. Biasanya yang duduk di atas dek kapal terbuka cuma turis asing yang mau sekalian berjemur di bawah sinar matahari, sedangkan turis lokal dan Asia yang takut kulitnya hitam lebih memilih duduk di bagian bawah.

Malamnya liburan kami di Phuket ditutup dengan berkeliling daerah Patong mencoba makanan seafood khas Thailand. Pada dini hari keesokan harinya kami berangkat dari hotel ke bandara dengan menggunakan minivan yang juga dipesan dari agen wisata. Tarifnya buat satu orang 150 Baht, tapi kalau sudah pesan terlebih dahulu buat banyak orang sekaligus (bulk) bisa ditawar jadi 100 Baht per orang. Bagian perjalanan ini yang paling berkesan buat saya pribadi tentunya Pulau Phi Phi. Saya ingin sekali kembali ke sana, mungkin lain kali lewat Krabi atau sekalian menginap di Phi Phi Don.

  • Foto-foto oleh Neni Adiningsih.

Disunting oleh SA 06/06/2010 & ARW 07/06/2010


© 2017 Ransel Kecil