Artikel-artikel yang ditulis oleh Pratya Wedayana

Hat Yai, Pesona Thailand Selatan

Tepat jam enam pagi, pintu imigrasi Bukit Kayu Hitam dibuka. Bukit Kayu Hitam yang terletak di negara bagian Kedah ini, merupakan salah satu pintu perbatasan Malaysia dengan Thailand. Kami berdua pun mengantri untuk mendapat cap keluar dari Malaysia di paspor saya.

Pagi ini cuaca cukup dingin. Kamipun bergegas masuk kembali ke dalam bis. Setelah semua penumpang masuk ke dalam bis, bis pun melaju ke arah Sadao, gerbang imigrasi Thailand selatan. Jarak imigrasi Malaysia dan Thailand adalah sekitar 500 meter. Di antara jarak tersebut, di sisi kiri nampak Kedai Bebas Cukai yang telah buka. Di bagian kanan merupakan markas Tentera Darat Diraja Malaysia atau Angkatan Darat Malaysia.

Pemandangan Kota Hat Yai.
Pemandangan Kota Hat Yai.

Tidak sampai lima menit, kita telah sampai kantor imigrasi Sadao, Thailand. Kondektur bis meminta semua penumpang untuk turun dan membawa barang bawaan. Sambil menenteng ransel kecil, saya pun turun untuk mengantri. Setiap warga asing yang akan masuk Thailand, akan diambil foto wajahnya melalui kamera yang terdapat di depan petugas imigrasi. Di paspor, terdapat cap dan tanda mendapatkan 15 hari untuk masa tinggal di Thailand. Berbeda dengan visa yang didapatkan melalui bandara, akan mendapatkan 30 hari masa tinggal. Lalu, saya memasukkan ransel saya ke dalam mesin pemindai.

Kemudian saya mencari bis yang saya tumpangi dari Golden Mile Complex Singapura di tempat parkir. Untuk kedua kalinya saya pergi ke Hat Yai setelah dua bulan sebelumnya, saya mengunjungi Hat Yai melalui Penang. Perjalanan yang tidak terlalu melelahkan. Berangkat dari Singapura pukul enam sore, sehari sebelumnya. Sampai di imigrasi Bukit Kayu Hitam sekitar pukul dua pagi. Ada waktu untuk beristirahat di dalam bis. Lumayan lelap tidur saya rupanya.

Sambil menunggu, saya pun melihat suasana sekitar imigrasi Sadao. Dibanding dengan Malaysia, Sadao tampak lebih kotor dan semrawut dibandingkan dengan suasana Bukit Kayu Hitam tetangganya.

Saya pun memundurkan jam tangan saya satu jam, mengingat waktu Thailand adalah satu jam lebih lambat dari Malaysia. Waktu di Thailand sama dengan Waktu Indonesia Bagian Barat.

Setelah penumpang memenuhi tempat duduknya kembali, bis melaju ke arah Hat Yai. Saya pun melanjutkan tidur kembali. Masih mengantuk rupanya.

Saya terbangun ketika bis memasuki kota Hat Yai. Hat Yai sendiri merupakan kota terbesar di provinsi Songkhla. Meskipun bukan sebagai ibukota provinsi Songkhla, namun Hat Yai lebih dikenal dibanding ibukotanya sendiri, Songkhla.

Bis berhenti di agen tempat penjualan tiket bis. Setelah turun dari bis, saya menanyakan ke petugas mengenai jam keberangkatan bis ke Singapura esok hari. Ternyata bis akan berangkat pukul 12 siang. Saya dan teman saya berkeliling mencari hotel untuk menginap semalam. Setelah menanyakan harga kamar ke beberapa hotel, akhirnya kami mendapatkan hotel yang cukup murah, yang terletak di depan agen bis.

Ternyata, waktu check in di hotel saya menginap adalah pukul 12 siang. Jam di tangan saya menunjukkan waktu delapan pagi. Kami bergegas mencari restoran halal di seputar hotel untuk sarapan. Sangat mudah mencari restoran halal di Hat yai. Banyak komunitas muslim Thai atau Melayu di kota ini.

Setelah selesai sarapan, kami mencari kendaraan yang bisa kami sewa untuk keliling Hat Yai. Ternyata tidak ada tempat persewaan sepeda motor. Yang ada hanyalah sewa mobil sedan ber-AC plus supir termasuk bensin seharga 900 baht (sekitar Rp282.000,-) untuk enam jam atau mobil bak tertutup (menggunakan terpal) sebagian di bagian belakang dengan sopir dan bensin seharga 800 baht (sekitar Rp250.000,-) untuk delapan jam. Pilihan kami jatuh ke alternatif pertama.

Setelah 15 menit menunggu, mobil sedan pilihan kami datang. Berhubung waktu kami hanya enam jam, maka kami memilih tempat wisata yang populer di kalangan wisatawan. Supir yang mendampingi kami tidak dapat berbahasa Inggris, namun bisa berbahasa Hokkian dengan baik. Syukur sekali, teman saya dapat berbahasa Hokkian dengan baik juga, sehingga komunikasi dapat berjalan dengan baik.

Wat Hat Yai Nai.
Wat Hat Yai Nai.

Pilihan pertama kami adalah mengunjungi Wat Hat Yai Nai. Patung Buddha tidur ini bernama Phra Phuttha Hattha Mongkho dan diyakini sebagai patung Buddha tidur terbesar ketiga di dunia. Suasananya sangat sepi, hanya kami berdua yang datang. Seorang wanita langsung menghampiri kami sambil membawa hio, dia menanyakan apakah kami akan berdoa. Teman saya hanya bilang bahwa kami ingin melihat-lihat kuil saja. Setelah melihat lihat suasana kuil dan mengambil beberapa foto, kami bergegas untuk pergi ke tempat lainnya. Wanita tadi menghampiri kami kembali untuk mengajak kami masuk ke dalam ruangan yang berada tepat di bawah patung Buddha tidur, namun kami menolak.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Laem Samila atau Pantai Samila. Di pantai ini terdapat patung putri duyung berwarna emas. Awalnya, pantai ini tidak ada patung putri duyung, hingga akhirnya di tahun 1966, seorang seniman dari Bangkok membuat patung yang terbuat dari perunggu dan dicat warna emas. Banyak wisatawan termasuk kami berdua berfoto di patung ini. Akhirnya, patung putri duyung ini menjadi ikon pantai Samila.

Pantai Samila dengan pasir putih ini sangatlah bersih dengan ombak yang tenang. Selain patung putri duyung, ada patung lain yang terdapat di pantai ini, yakni patung tikus dan kucing. Kedua patung ini menceritakan legenda asal usul daerah Songkhla. Sementara itu, ada patung pria yang sedang membaca buku sambil menyilangkan kaki.

Kami sempat belanja cinderamata di pantai ini. Harga-harga cinderamata termasuk murah untuk ukuran tempat wisata di sini, kami baru mengetahui ketika pada malam harinya kita berbelanja cinderamata di Hat Yai.

Selanjutnya, supir kami menyarankan untuk masuk ke dalam Songkhla Aquarium. Kami sempat melihat suasananya dan kami memutuskan untuk tidak masuk. Kami pikir Sea World di Ancol jauh lebih cantik.

Perjalanan berlanjut tak jauh dari pantai Samila maupun Songkhla Aquarium, kami ingin melihat bukit Tang Kuan. Yakni kuil Relic Buddha yang terdapat di atas bukit. Dengan membayar tiket 60 baht (sekitar Rp18.800,-) per orang pulang-pergi, kami harus menunggu lif atau kereta yang membawa kami ke atas bukit. Bentuk lif ini mirip seperti tram yang berada di Penang Hill, Malaysia—hanya dalam skala lebih kecil.

Selama menunggu, seorang fotografer membidik kami, sambil menyuruh kami untuk tersenyum.

Sekitar 15 menit kemudian, kami masuk ke dalam lif ini, yang berdaya tampung sekitar 20 orang. Untuk yang takut ketinggian, disarankan tidak melihat kaca bagian belakang. Sekitar satu menit kemudian, kami mencapai puncak bukit Khao Tang Kuan. Saat akan keluar dari bangunan lift, lagi-lagi seorang fotografer meminta kami untuk tersenyum. “Klik!”, kami pun difoto lagi.

Untuk mencapai puncak bukit, tidak hanya menggunakan lif, kita bisa mencapai lewat jalan setapak. Namun, dengan cuaca panas seperti ini, saya tidak menyarankan anda melakukannya.

Dari atas bukit, kita dapat melihat kota Songkhla maupun Danau Songkhla, termasuk Pantai Samila. Setelah berfoto sana-sini, kamipun memutuskan untuk turun.

Sesampai di lobi bawah, pengunjung digiring untuk melihat hasil jepretan fotografer mereka. Ternyata, foto kami dicetak di piring kecil dengan peyangga. Kami tidak ambil, karena satu piring di hargai 200 baht (sekitar Rp62.800,-), mahal sekali buat kami.

Saat kami keluar, kami melihat penjual es serut. Mirip es campur atau es teler. Cukup membayar 20 baht (sekitar Rp6.280,-) per mangkok. Lumayan untuk mendinginkan tenggorakan yang kering akibat panasnya cuaca.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju danau Songkhla. Di tengah danau terdapat Pulau Ko Yo. Pulau ini tidak seberapa luas, untuk mencapainya harus melewati jembatan Tinsulanond.

Perjalanan sendiri memakan waktu 30 menit, karena supir sempat salah jalan, sehingga kami harus berputar putar untuk mencari jalan kembali.

Tak lama, kami sudah mencapai jembatan Tinsulanond. Jembatan ini sangat bagus dan kelihatan kokoh. Penduduk Ko Yo sangat mengandalkan jembatan ini untuk mencapai daratan utama. Mereka tidak perlu menggunakan kapal feri lagi seperti dulu.

Saat mencapai pulau Ko Yo, kami melihat di sisi kiri jalan, adanya patung tidur Buddha yang terbuka. Nampak baru selesai dibangun, karena banyak sisa puing di sana sini.

Kami memutuskan untuk kembali kota Hat Yai, karena kami berdua merasa ngantuk dan capek sekali. Di dalam mobil, kami langsung terlelap dengan hembusan AC yang dingin. Keluar dari jembatan Tinsulanond, tiba-tiba hujan deras mengguyur kota Songkhla. Kami tidak bisa membayangkan, seandainya kami menyewa mobil bak terbuka, bisa-bisa kami malah kehujanan dan masuk angin.

Tidak terasa enam jam telah berlalu, dan kami pun sampai di hotel di mana kami akan tinggal. Ya, Hat Yai cukup besar sebagai kota yang bukan ibukota provinsi. Banyak hotel berbintang dan beberapa pusat perbelanjaan.

Banyak wisatawan yang berkunjung ke Hat Yai ini, meski untuk perjalanan pada hari yang sama maupun yang tinggal menginap semalam seperti kami. Ingin meluangkan waktu di Hat Yai? Tidak ada salahnya mencoba.

  • Disunting oleh SA 28/11/2012

Kampung Muslim di Chau Doc

Pertama kali saya mendengar adanya kampung muslim di Vietnam, saya sempat mengernyitkan dahi. Hingga pada akhirnya, kesempatan itu datang untuk melihatnya pertama kali, ketika saya berkunjung ke Vietnam tahun lalu.

Ketika itu saya ingin pergi ke Kamboja dari Ho Chi Minh City. Resepsionis hotel tempat saya tinggal di Ho Chi Minh City menyarankan saya untuk pergi ke Kamboja melalui Sungai Mekong, dan perjalanan tersebut membutuhkan menginap satu malam di Chau Doc, tempat adanya kampung muslim. Tanpa berpikir dua kali, saya mengiyakan dan ambil paket tersebut. Harganya 700.000 dong Vietnam atau sekitar Rp350.000.

Esok pagi, sekitar pukul 07:30 saya dan teman saya dijemput bis yang akan membawa saya ke Kamboja melalui Sungai Mekong.

Perjalanannya cukup lama dan melelahkan, karena baru sekitar pukul tujuh malam, bis yang kita tumpangi sampai di hotel di daerah Chau Doc.

Setelah masuk ke hotel dan mandi, kami berencana mencari makan malam di luar. Pegawai hotel mengatakan mereka tidak menyediakan makanan halal.

Setelah berputar-putar cukup lama, kami tidak menemukan rumah makan yang menyediakan makanan halal. Hanya ada penjual buah dan jajanan pasar. Untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan, kami membeli buah apel dan pir.

Saat kami akan kembali ke hotel, kami berjumpa anak-anak muda dengan wajah Melayu dan berpakaian muslim. Kami ucapkan salam dan berbicara dalam bahasa Melayu, namun mereka tidak mengerti. Syukur, salah satu dari mereka mampu berbahasa Inggris meski terbata-bata. Dia menyarankan untuk menyeberang ke delta di seberang sungai, karena ada kampung muslim dan rumah makan halal.

Dengan membayar 1.500 dong Vietnam, kami menaiki feri yang akan menyeberang ke delta seberang. Selama kami menunggu, ada satu perempuan berjilbab dengan anaknya. Saya berusaha untuk berbahasa Melayu yang sederhana, namun dia hanya paham kalau saya lapar dan ingin makanan halal. Ada hal lucu di atas feri, ada tiga waria yang menggoda saya dan teman saya. Dan perempuan muslim ini sangat marah dan berbicara dalam bahasa Vietnam sambil mengibas tangannya untuk mengusir ketiga waria tersebut.

Setelah kami sampai di delta seberang, ternyata ada acara pernikahan. Peempuan ini menyarankan kami untuk ikut makan malam bersama mereka. Tentu saja kami menolak dengan halus. Mengingat kami mengenakan kaos dan celana pendek selutut, tidak sopan sekiranya kami ikut hadir dan makan malam. Salah seorang remaja pria menanyakan kami dengan kata “lapar?” dan “makan?”, lalu dia mengajak kami ke salah satu rumah tetua di situ.

Kebetulan sekali rumah tersebut sedang ramai dikunjungi ibu-ibu. Tak berapa lama, keluarlah seorang ibu tua yang dipanggil “Ibu Haji”. Remaja ini mengutarakan maksud kami dengan kata lapar dan makan. Ternyata, Ibu Haji ini mampu berbahasa Melayu cukup fasih.

Ibu Haji menawarkan cucu dan menantunya untuk mengantarkan kami ke rumah makan Muslim di bagian lain delta di Chau Doc, karena lokasi rumah makan tersebut lumayan jauh dari rumah Ibu Haji.

Selama menunggu cucu dan menantunya berganti pakaian, kami sempat berbincang-bincang mengenai kaum muslim di Chau Doc. Dia berkata bahwa kaum muslim di sini merupakan keturunan dari pendatang muslim dari Malaysia, Bugis maupun Jawa, sejak abad ke-17. Banyak keturunannya yang sebenarnya sudah tidak bisa berbahasa Melayu, Bugis maupun Jawa. Beliau pernah sekolah di Malaysia di masa mudanya, maka beliau masih bisa berbahasa Melayu.

Dua cucu beliau sekarang belajar agama Islam di Malaysia. Sekolah madrasah yang ada di Chau Doc hanya setingkat SMA. Untuk belajar agama Islam lebih tinggi, harus ke Malaysia. Malaysia lebih dekat juga dengan asal-usul mereka di masa lalu. Sayangnya tak satupun yang bersekolah di Indonesia.

Mesjid di Chau Dhoc.

Kaum muslim di Chau Doc, banyak yang meninggal saat perang Vietnam dulu. Saat itu banyak yang melarikan diri ke Thailand dan Malaysia. Setelah perang mereda, sebagian dari mereka kembali daerah mereka di Chau Doc, sebagian lagi menetap di Thailand dan Malaysia. Beliau teringat, masa perang dulu merupakan masa yang sulit. Mereka harus melarikan diri ke hutan untuk menyelamatkan diri. Percakapan kami terhenti, setelah cucu dan menantu beliau telah siap mengantarkan kami.

Dengan menaiki dua motor, kami diajak menuju delta lain yang lumayan jauh dengan melewati jembatan. Sekitar lima menit, kami sampai di rumah makan terbuka yang memiliki taman dan wifi gratis (canggih juga!). Kami memesan pho, mi rebus daging sapi khas Vietnam. Selama di Ho Chi Minh City, kami belum menemukan pho halal.

Selama menunggu pesanan kami datang, Abdul Rojak, cucu Ibu Haji dan menantunya, bercakap-cakap bersama kami. Sayangnya, Abdul Rojak tidak terlalu mengerti bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Banyak pengunjung yang penasaran tentang kami. Mereka mendekati kami dan menanyakan beberapa hal dalam “bahasa tarzan” atau bahasa isyarat.

Mereka sangat gembira ketika tahu bahwa kami dari Indonesia, lalu menanyakan tujuan kami ke Vietnam. Mereka sungguh penasaran dengan pakaian kami berdua. Pengunjung di rumah makan itu yang perempuan memakai jilbab dan yang pria mengenakan sarung atau celana panjang dan kopiah warna putih. Kami hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaos.

Untungnya, pesanan kami segera datang, dengan membayar 40.000 dong Vietnam, kami membawa dua bungkus pho daging sapi. Kami diantar hingga ke tempat penyeberangan feri untuk kembali di hotel.

Esok paginya, kami berkumpul di lobi hotel untuk menunggu kapal kayu yang akan membawa kami keliling Chau Doc untuk melihat keramba ikan gurame dan perkampungan muslim. Ada hal yang menarik. Pemandu wisata menjelaskan, dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih, yang memiliki keramba ikan gurame adalah kaum miskin. Itu alasan mereka hidup di atas sungai bukan di daratan, karena harga tanah mahal.

Saat akan memasuki kampung muslim, dijelaskan bahwa pelajar di sekolah muslim mampu berbahasa Inggris dan Arab dengan baik. Kami berdua tertawa, karena kami tahu bahwa kemampuan pelajar muslim di Chau Doc dalam berbahasa Inggris sangat minim.

Kami mengelilingi delta yang kami sempat kunjungi malam sebelumnya. Kami mengucapkan salam kepada orang-orang muslim yang sempat kami temui. Kami pun melewati rumah makan yang sempat kami kunjungi. Kami pun harus meninggalkan kampung muslim di Chau Doc untuk menuju perbatasan Kamboja melalu Sungai Mekong.


Pulau Ubin, Destinasi Berbeda di Singapura

Sering kali wisatawan asal Indonesia apabila berkunjung ke Singapura, tidak akan melewatkan wisata ke Patung Merlion, Esplanade, Universal Studio, Sentosa Island, Marina Bay atau belanja di Orchard Road. Sebetulnya, banyak sekali destinasi yang cukup menarik di Singapura. Contohnya Pulau Ubin.

Pulau Ubin merupakan salah satu pulau yang ada di Singapura. Terletak di selat Johor sebelah timur dari pelabuhan udara Changi.

Asal-usulnya, menurut legenda Melayu, adalah dahulu kala terdapat tiga binatang yakni katak, babi dan gajah. Mereka saling menantang untuk mencapai pantai di Johor (Malaysia). Namun, ketiga binatang tersebut gagal mencapai pantai Johor. Babi dan gajah menyatu menjadi Pulau Ubin dan katak menjadi Pulau Sekudu.

Ketika zaman kolonialisme Inggris, ditemukan batu granit di pulau Ubin. Seketika Pulau Ubin menjadi pertambangan batu granit. Batu granit ini dijadikan bahan dasar pembuatan lantai/ubin bagi bangunan di Singapura termasuk Johor.

Suasana Sederhana di Pulau Ubin
Suasana sederhana di Pulau Ubin.

Kini, sejak sekitar tahun 1970-an, pertambangan batu granit perlahan-lahan mulai ditutup. Tahun 1999 pertambangan di Pulau Ubin resmi ditutup. Banyak penambang batu granit meninggalkan pulau ini menuju Pulau Singapura. Sekarang Pulau Ubin menjadi sepi, tetapi menjadi destinasi yang baik untuk mengeksplorasi bagian lain dari Singapura yang selama ini kita kenal. Kelebihan lain dengan ditutupnya pertambangan ini adalah banyak burung maupun hewan lain yang kembali ke pulau ini. Vegetasinya pun juga terjaga.

Banyak penduduk Singapura mengunjungi pulau ini sekedar untuk melepaskan kepenatan ataupun untuk berolahraga sepeda.

Ada beberapa cara untuk mencapai pulau Ubin ini. Bisa menggunakan taksi, tapi akan mahal harganya. Atau bisa juga dengan menggunakan MRT, turun di stasiun Tanah Merah dan lanjut dengan menggunakan bis SBS Transit No. 2 menuju Changi Village Terminal. Turun di Changi Village Terminal, lalu langsung menuju Changi Point Ferry Terminal. Arah petunjuknya sangat mudah. Langsung turun tangga menuju ke dermaga. Ada dua arah yang satu menuju ke perahu pulau Ubin atau ke pulau Pengerang. Khusus ke pulau Pengerang, harus membawa paspor, karena pulau ini termasuk wilayah Malaysia.

Dek di Pantai Pulau Ubin
Dek di Pantai Pulau Ubin.

Perahu (disebut juga bumboat) yang menuju ke pulau Ubin akan menunggu sampai penuh yakni 12 penumpang. Biayanya hanya S$2.50 per orang. Bila tidak sabar menunggu, bisa membayar Sing S$30 untuk langsung jalan. Uniknya, pembayaran ditarik saat di perahu, jadi tidak perlu mengantri membeli tiket.

Perjalanan sendiri akan memakan waktu sekitar 10-15 menit. Begitu sampai dermaga Pulau Ubin, kita akan disambut dengan air yang bening. Tidak berasa di Singapura, meski di kejauhan kelihatan pesawat yang akan mendarat maupun yang terbang, plus gedung-gedung apartemen.

Di dermaga Pulau Ubin banyak sepeda ataupun sepeda motor di sepanjang jalan menuju pulau. Kendaraan-kendaraan ini milik penghuni Pulau Ubin yang mungkin sedang sekolah di pulau utama di Singapura atau ada keperluan. Pulau Ubin tidak memiliki sekolah ataupun toko besar yang menjual keperluan sehari-hari.

Kapal Penyeberangan ke Pulau Ubin
Kapal penyeberangan ke Pulau Ubin.

Tidak jauh dari dermaga kita akan bertemu kantor polisi Pulau Ubin, pusat informasi turis, “ojek” mobil van yang bisa disewa buat keliling pulau plus tempat sewa sepeda. Sepeda disewa dengan harga S$2–S$20. Kondisi sepeda harus diperiksa dan dicoba sebentar. Jangan sampai menyesal karena rusak atau tidak nyaman, karena pulau Ubin lumayan luas dan ada beberapa jalan yang masih tanah dan becek. Tidak disangka, sepeda gunung yang saya sewa seharga S$10 ternyata bermerek Polygon yang notabene produksi Indonesia. Bangga dengan buatan negara sendiri!

Ternyata, banyak juga orang lokal yang mengunjungi pulau Ubin, baik dari anak-anak sekolah maupun orang umum. Yang memilih berjalan kaki untuk mengelilingi pulau, lumayan juga, mungkin sekalian buat jalan sehat.
Karena ingin menjelajah Pulau Ubin sendirian, aku tidak melihat peta yang terpampang di pinggir jalan, hanya ingin mengikuti kata hati dan alur jalan yang ada di Pulau Ubin. Banyak hal yang bisa dilihat di pulau ini, seperti quarry atau ceruk bekas tempat pertambangan granit, kuburan muslim, kuil Fo Shan Ting Da Bao Gong, maupun Chek Jawa.

Quarry yang ditinggalkan
Quarry yang ditinggalkan.

Banyak tanda peringatan di pulau ini untuk kenyamanan maupun keamanan pengunjung, seperti peringatan tertimpa buah yang jatuh, harus menuntun sepeda, tidak boleh berenang di quarry ataupun jalanan yang licin. Keselamatan menjadi yang pertama.

Pulau ini sekarang memiliki hotel yang lokasinya dekat kantor polisi tadi. Untuk yang mau berkemah, harus membawa tenda sendiri dan melaporkan diri, di mana akan berkemah, agar kalau terjadi sesuatu akan diketahui rimbanya.

Ada juga daerah yang memang dilarang untuk dimasuki, kebetulan di bagian sisi timur pulau, ada National Police Cadet Corps (NPCC), yang merupakan sekolah untuk menjadi polisi. Kalau untuk sekedar melewati sah-sah saja, asal jangan memasuki.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah adanya kuburan muslim. Ada dua letak kuburannya, namun kuburan lebih kelihatan seperti hutan, karena kuburannya tidak banyak dan juga tanda nisannya mirip nisan yang ada di kuburan kuno di Pulau Jawa atau kuburan di Jl. Kubor di dekat Kampong Arab (dekat Bugis) di pulau utama Singapura.

Sewaktu memasuki daerah Chek Jawa, di pos penjagaan, tidak ada orang yang menjaga. Ketika itu saya ingin sekali naik ke menara ataupun jalan di dermaga yang ada di Chek Jawa Wetland. Kita tidak diperbolehkan memasuki Chek Jawa Wetland tanpa adanya petugas yang menemani. Karena lama menunggu, saya putuskan untuk bersepeda lagi menuju bukit yang ada di pulau ini.

Ada sekitar lima quarry yang ada di pulau ini, seperti Ketam Quarry atau Ubin Quarry. Semuanya diberi pagar pelindung, supaya pengunjung tidak langsung berenang. Tidak ada penjaga yang mengawasi!

Bagi yang suka bersepeda gunung, jogging ataupun berolahraga yang lain, pulau ini menawarkan sesuatu yang menarik. Dengan udara yang sangat segar, tentunya tempat ini sangat cocok sebagai tempat beraktivitas, sambil melihat “desa” asli Singapura. Sepi dan tenang. Rumah penduduk tidak banyak dan jarang terlihat orang berlalu-lalang.

Sayang sekali, waktu saya berkunjung, belum waktunya buah durian berbuah. Tempat ini terkenal dengan buah duriannya.

Tidak terasa, sudah lebih dari tiga jam saya bersepeda mengelilingi pulau ini. Waktunya untuk meninggalkan Pulau Ubin. Saya ,enunggu isi penumpang perahu sampai 12 orang untuk kembali ke Changi Point Ferry Terminal.
Tidak ada salahnya untuk mengunjungi pulau Ubin sebagai liburan alternatif di Singapura, mencari sisi lain dari Singapura untuk mendapatkan keaslian kehidupan di Pulau Ubin.


© 2017 Ransel Kecil