Artikel-artikel yang ditulis oleh Nina Irawati

Taj Mahal: Sebuah Memorial Cinta atau Kuil Bagi Shiva?

Kemegahan Taj Mahal
Kemegahan Taj Mahal.

Di antara sekian banyak warisan UNESCO di India, Taj Mahal merupakan destinasi utama yang biasanya menjadi niat awal para turis mengunjungi negara ini. Namanya muncul lebih dari 42 ribu kali bila kita memasukan kata kunci ini di kotak pencarian Google. Berbagai ulasan di beberapa situs wisata mengenai tempat ini banyak mengungkap keindahannya yang mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya dan dibuktikan dengan adanya pengunjung yang dapat mencapai sekitar 45 ribu per hari.

Menulis tentang Taj Mahal ternyata lebih sulit daripada menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Taj Mahal adalah salah satu monumen di India yang tidak mampu dideskripsikan keindahannya melalui torehan pena. Mengunjungi Taj kali kedua ini, saya bermaksud membuktikan semua kontroversinya yang pernah marak beberapa tahun lalu. Entahlah, kisah cinta yang melatarbelakangi pembuatan monumen ini yang selalu didengung-dengungkan menurut saya masih “kurang cukup” sebagai alasan pembuatannya.

Berlokasi di Agra yang merupakan bagian utara dari Uttar Pradesh, di pinggir sungai Yamuna, Taj Mahal konon dibangun pada tahun 1631 oleh Shah Jahan, seorang raja dari dinasti Mughal sebagai bentuk cinta kasihnya terhadap istri ketiganya yang bernama Mumtaz ul-Zamani. Mumtaz sendiri diceritakan meninggal dunia saat melahirkan anak ke-14 nya. Bagian utama mausoleum selesai pada tahun 1648, sedangkan lima tahun berikutnya daerah taman dan bangunan lainnya baru dapat diselesaikan. Taj Mahal sendiri merupakan gabungan dari arsitektur Mughal dan Persia, dan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan dari penjuru dunia lainnya, misalnya Afganistan, Arab, Bangladesh, Sri Lanka, Cina, dan lainnya. Marmer putih merupakan bahan utama dalam pendirian bangunan megah ini selain berbagai jenis batu berharga lainnya dan konon diperoleh dari daerah Makrana, Rajashtan. Dua puluh ribu buruh bekerja siang-malam selama 22 tahun untuk membangun Taj yang megah ini.

Agra dapat dicapai dengan menggunakan kereta api, bis ataupun pesawat dari kota-kota besar di India. Perjalanan kereta api dari New Delhi sekitar dua jam saja.

Darwaza i-rauja dengan pasak berjumlah 11
Darwaza i-rauja dengan pasak berjumlah 11.

Memasuki Taj Mahal, pengunjung lokal akan dikenai biaya 10 rupee (kecuali kunjungan malam 510 rupee), sedangkan turis asing 750 rupee, tiga kali lipat bila dibandingkan tempat peninggalan UNESCO lainnya. Barang-barang elektronik, rokok, korek api, dan bahkan makanan atau minuman tidak diperkenankan untuk dibawa. Sebagai gantinya, pengunjung akan mendapatkan satu botol air mineral setelah membayar tiket masuk. Pengamanan saat memasuki Taj Mahal hampir serupa di bandara. Wajar saja, mengingat beberapa kali monumen ini diancam akan dibom oleh teroris. Bagi para fotografer, pemakaian tripod tidak diperkenankan (percayalah, saya tidak pernah mengerti alasannya) dan harus ditinggal di bagian sekuriti. Kotak deposit disewakan di bagian sekuriti dengan biaya 20 rupee saja. Namun saran saya, sejak awal, hanya membawa tas tangan berisikan kacamata hitam, dompet, hp dan kamera saja untuk menghindari masalah dengan sekuriti ini. Taj Mahal dapat dikunjungi kapanpun, kecuali hari Jumat. Tidak disarankan datang saat musim panas, karena temperaturnya biasa mencapai 50 derajat.

Darwaza-i Rauza merupakan pintu gerbang utama yang akan kita temui sesaat sebelum memasuki area utama Taj Mahal. Dari gerbang ini dapat dilihat kekuatan arsitektur Mughal yang seirama dengan tulisan kaligrafi yang terlukis di dinding Taj Mahal nantinya.

Setelah itu, kita akan disambut dengan taman Mughal seluas 300m. Taman ini terbagi empat dengan adanya air mancur dan sepasang jalan setapak. Konon taman ini merupakan penggambaran dari lukisan tentang surga yang memiliki 4 sungai yang mengalir di dalamnya. Desainnya simetris sedemikian rupa bagaikan bayangan pada kaca dan semua mengarah ke mausoleum. Terdapat kolam berbentuk oktagonal di pertengahan taman yang dapat menunjukkan refleksi Taj di dalam air. Hingga kini, taman ini merupakan area yang menjadi tempat bagi para pengunjung untuk mengabdikan momen di Taj Mahal dengan kameranya atau sekedar duduk-duduk menikmati keindahan taman yang cukup teduh. Di pertengahan taman terdapat sebuah bangku marmer yang biasanya menjadi tempat bagi para pengunjung untuk berfoto dengan gaya seperti sedang “menjepit” bagian kubah dari Taj Mahal. Bangku ini merupakan bangku yang sama yang diduduki Ratu Diana saat berfoto di depan Taj Mahal.

Di penghujung taman, menjulanglah sosok bangunan utama dari komplek ini yaitu daerah mausoleum yang berbentuk struktur oktagonal simetris dengan empat buah pintu masuk berbentuk lengkung busur. Bangunan marmer putih ini ditaburi arsitektur campuran Persia dan Hindustani. Di sana-sini tampak berbagai pahatan dekoratif dan bunga lotus. Kaligrafi Qur’an mewarnai dinding dengan torehan surat Ya Sin, Al Fajr, AL Ikhlas, dan lain-lain.

Keempat menara (chattris) yang juga berbentuk simetris berada di sekeliling mausoleum ini. Nampak pula kedua makam dari Mumtaz. Di sinilah pemandu tur biasanya akan membuai Anda dengan kisah cinta sang raja yang telah jatuh cinta pertama kali pada Mumtaz saat melihatnya dari balik dinding istana semenjak usia 15 tahun. Mumtaz digambarkan sedemikian cantiknya, yang bahkan diungkapkan dengan untaian baris kata, “even the moon feels shy to hit her face“. Di kanan dan kiri mausoleum ini terdapat bangunan yang hampir sama miripnya satu sama lain, terbuat dari batu pasir merah, dimana yang satu diperuntukan untuk mausoleum kedua istri Shah Jahan lainnya dan yang satunya sebagai makam pembantu kesayangan Mumtaz itu sendiri. Di penghujung kompleks ini sendiri terdapat dua bangunan lainnya, yang digunakan sebagai masjid dan guest house. Desain masjid ini hampir sama dengan desain Jama Masjid di Delhi yang juga dibangun Shah Jahan. Tampak struktur lain yang lebih kecil yang konon merupakan music house di zamannya dan kini dijadikan museum.

Keindahan Taj selain menimbulkan decak kagum, namun juga berbagai mitos dan kontroversi turut berjalan mengiringinya. Adalah P.N. Oak, seorang penulis dari India yang memperdalam mitologi, mengungkap “cerita sesungguhnya” dari Taj Mahal melalui bukunya pada tahun 2001. Sedemikian kuatnya kontroversi ini sehingga pemerintah India melarang pencetakan buku dan bahkan mengancam para penerbit yang berusaha mencetak ulang. Cerita P.N. Oak inilah yang membawa saya kembali mengunjungi Taj setelah bertahun-tahun larut dengan kisah cinta dari tempat ini, yang mestinya dibangun dengan alasan lebih dari sekedar cinta di baliknya. Bagi saya sendiri, semua monumen di India memiliki cerita yang cukup unik untuk ditelusuri.

Opini mengenai Taj awalnya adalah sebuah kuil Shiva diawali dengan kerancuan arti dari nama Taj itu sendiri. Seperti kita telah tahu bahwa pada kata Mumtaz, terdapat lafal Taz dan bukan Taj. Mahal sendiri dapat diartikan sebagai istana; bukan mausoleum atau makam. Nama Taj Mahal sendiri tidak pernah muncul dalam beberapa pencatatan selama dinasti Shah Jahan atau anaknya, Aurangzeb. Padahal dengan jumlah buruh sedemikian banyak dan modal uang yang sedemikian besar untuk membangunnya, sewajarnya terdapat pencatatan mengenai hal ini. Nama Taj ini bahkan justru lebih sering disebutkan dengan kata Tejo Mahalaya, yang menunjukan sebagai nama kuil Hindu bagi Shiva. Aurangzeb yang memang terkenal anti-hIndu bahkan lebih sering menyebutnya sebagai tempat suci.

Di India, konon pernah disebutkan adanya 12 jyotirlingas (lambang Shiva yang utama) dan dikatakan yang terbesar dan terakhir berada di Taj dalam bentuk Naganathesawar; di mana Shiva berada dalam relung ular kobra. Struktur ini yang diprediksi tertimbun di bawah makam “palsu” dari Mumtaz di areal Taj. Agra sendiri sebagai kota Shiva memiliki ritual dan kepercayaan kuno yang telah berlangsung berabad tahun lamanya. Kepercayaan Agra juga menunjukkan bahwa kota ini memiliki lima patung Shiva, yang hingga kini baru ditemukan empat di antaranya, oleh karena di Taj Mahal-lah patung shiva kelima ini konon berada.

P.N. Oak juga menuturkan berbagai bukti lainnya, misalnya kadar karbon-14 pintu sisi timur Taj yang ternyata berusia 500 tahun sebelum masa pemerintahan Shah Jahan dan hilangnya struktur gajah yang pernah disebutkan oleh turis asing yang pernah mengunjungi Taj pada masa 1700 an. Tidak diketahuinya secara jelas kapan Mumtaz sebenarnya meninggal dunia, kapan Taj didirikan, dan kenyataan bahwa Shah Jahan memiliki lebih dari 5000 wanita di haremnya membuat motif pembuatan Taj berdasar cinta semata rasanya terlalu dipaksakan.

Langkah kaki saya berusaha menyelami bukti arsitektur Taj sebagai kuil Hindu yang konon merupakan rampasan perang dari seorang Raja Rajput bernama Jaisingh dari Jaipur. Di awali dengan gerbang utama, maka dapat dilihat motif seperti kubah atau mangkuk terbalik selalu berjumlah ganjil, yaitu 11, dimana hal ini merupakan kepercayaan dalam Hindu. Memasuki daerah makam yang octagonal. Oktagonal merupakan bangunan bergaya Hindu, karena Hindu sendiri memiliki arti 8 arah mata angin. Keempat menara yang ada di sekililing bangunan utama juga merupakan arsitektur Hindu, karena menara (minaret) dalam bangunan Muslim umumnya berada pada bahu bangunan utama, sedangkan pada Hindu berdiri dari bagian lantainya. Ornamen lotus yang menghiasi di seluruh dinding Taj Mahal jelas bukan menampilkan ciri Islam, karena memang lotus merupakan lambang dari Hindu. Hal ini makin diperkuat oleh adanya lambang Trident yang tersembunyi di antara struktur lotus ini. Trident ini sendiri merupakan lambang dari dewa Shiva. Pada bagian atap dari kubah Taj, tampak lambang yang sering disalahartikan sebagai lambang bulan sabit dan bintang. Namun bila diperhatikan secara awas, maka lambang ini membentuk kalash (pot sesembahan) dan kemudian buah kelapa dan dua buah daun mangga yang jelas merupakan ciri persembahan pemeluk Hindu bagi Dewanya. Tampak di sana-sini motif ular menghiasi dinding Taj, sebuah struktur yang tidak mungkin ada di bangunan Muslim di belahan dunia manapun.

Bila kita memperhatikan dengan seksama, saat kita memasuki bangunan utama Taj, maka dapat terlihat bahwa Taj sebenarnya tidak hanya memiliki satu lantai. Taj sendiri ternyata memiliki tujuh lantai dengan jumlah ruangan hingga 1.000 buah, sebuah kenyataan yang rasanya tidak pas dengan sebutan moumen untuk sebuah makam. Lantai paling dasar yang berada di bawah permukaan air sungai (ciri dari bangunan kuno Hindu) terkubur dalam pintu batu bata. Konon di lantai inilah beberapa patung dewa Hindu ditempatkan di sana. P.N. Oak menuturkan bahwa Taj didirikan di pinggir sungai atau pantai, suatu kekhasan dari kuil Hindu yang memang selalu mendirikan bangunan kuilnya di dekat sungai dan menghadap ke arah Timur.

Mumtaz sendiri meninggal di Bushnapur dan makamnya hingga kini masih terdapat utuh di sana. Maka dipertanyakanlah keberadaan kedua makam di dalam Taj dan mengapa satu makam terletak lebih tinggi dibanding makam yang lain. Apakah bagian tubuh Mumtaz terbelah dua? PN Oak menuliskan bahwa makam ini seakan dibuat untuk menutupi “sesuatu”. Di bagian depan makam akan kita dapati lantai datar tanpa ornamen yang konon awalnya merupakan tempat patung Nandi (sapi) yang memang biasa terletak berhadapan dengan dewa Shiva di setiap bagian depan altar kuil Hindu. Music House yang berada dalam kompleks makin menunjukkan bahwa bangunan ini bukan merupakan bangunan Muslim, karena memang hanya di Hindu terdapat ruang ini untuk mengakomondasi para pemeluknya bernyanyi saat beribadah.

Perjalanan saya ke Taj kali ini tidak membuat saya terjebak dalam opini kontroversi tentang asal muasal Taj. Keindahan bangunan yang dengan seluruh kisah masa lalunya mestinya tidak perlu diperdebatkan. Sebuah bangunan yang membuat India merasa bangga memilikinya sebagai warisan kunonya. Amatlah wajar apabila memang benar Shah Jahan merubah kuil Hindu sebagai bukti kekuasaannya yang telah menang terhadap raja di Rajashtan. Shah Jahan sendiri nampaknya tidak berniat untuk memperoleh kredit atas pendirian Taj. Oleh karenanya struktur awal Taj dirombak dan bagian emas serta batu berlian lainnya dipindahkan dan kaligrafi Quran ditorehkan, hanya agar struktur ini tidak kembali direbut oleh Raja Rajput. Mungkin itulah alasannya mengapa bangunan ini tidak tercatat pendiriannya. Entahlah.

Memandang Taj di kejauhan, maka yang tertinggal hanyalah decak kekaguman dan haru akan suatu monumen megah di pinggir sungai suci Yamuna, yang punya cerita cinta yang sangat besar sebagai latar belakangnya. Sebuah cerita cinta seorang raja terhadap ratu yang paling dikasihinya atau cerita cinta pemeluk Hindu terhadap dewa Shivanya…

Let the splendor of the diamond, pearl and ruby vanish like the magic shimmer of the rainbow. Only let this one teardrop, the Taj Mahal, glisten spotlessly bright on the cheek of time…
(Rabindranath Tagore)


Sepenggal Kisah Fotografer dari Siem Reap

Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.
Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.

Pilihanlah mempertemukan saya dengan seorang Kimleng Sang, dan oleh karenanya saya sama sekali tidak merasa menyesal.

Selesai menjelajah India, saya selalu terpikir untuk menjelajahi Kamboja, tepatnya untuk melihat Angkor Wat yang sangat tersohor itu, walau agak ragu. Jujur saja, sejak awal saya memang tidak terlalu menyukai kuil Buddha yang menurut saya terlalu biasa bila dibandingkan dengan kuil Hindu. Namun demikian, ingatan mengenai film Tomb Rider memang sudah terpatri sedemikian rupa, sehingga cukup untuk menggeret langkah saya untuk terbang ke sana.

Perkenalan saya dengan Kim diawali dengan rangkaian pencarian akan seorang pemandu tur di Siem Reap. Bagi saya ini penting, karena saya memang berkelana seorang diri. Beberapa nama telah saya kantongi dan setelah membaca serta menelusuri lebih lanjut, saya memutuskan untuk menghubungi Kim melalui email. Gayung bersambut, Kim bersedia untuk memandu saya selama dua hari untuk melihat seluruh kompleks Angkor dan mengabadikannya dengan kamera.

Kimleng berpose di salah satu kuil.
Kimleng berpose di salah satu kuil.

Angkor Wat.
Angkor Wat.

Angkor Wat dan danau kecil di depannya.
Angkor Wat dan danau kecil di depannya.

Hari itu pun tiba. Kim dengan sabar telah menunggu saya di lobi hotel sejak pukul delapan pagi sesuai dengan rencana sebelumnya. Tuk-tuk miliknya tampak bersih beralas selembar kain putih pada joknya. Saya pun duduk dengan nyamannya. Caranya mengendarai pun amat hati-hati sambil tidak lupa berhenti untuk menunjukkan tempat-tempat yang layak untuk difoto.

Kim bukan hanya supir tuk-tuk, namun juga fotografer. Nikon D5000-nya setia berada dalam gendongan bahu kanannya sambil menemani saya menyusuri keseluruhan kompleks Angkor Wat. Dengan sabar ia akan membantu memperbaiki kualitas foto saya dengan mengganti pengaturan kamera Nikon D1700 yang saya bawa. Di beberapa tempat yang memerlukan lensa wide angle dan saya tidak memilikinya, ia akan meminjamkannya dengan senang hati. Saya yang penasaran akan isi tas ranselnya, semakin kaget sewaktu mengetahui ia membawa beberapa lensa, pembersih lensa, tripod dan bahkan perlengkapan untuk melindungi kamera bila hujan. “Supaya Madam bisa motret dengan nyaman”, ujarnya perlahan. Tak lama ia pun menawarkan handuk dan air mineral dingin. Usut demi usut rupanya Kim memiliki semacam kotak pendingin kecil di dalam tuk-tuknya.

Kim sangat mengenal seluk-beluk daerah Angkor Wat dan tepatnya mengetahui tempat-tempat terbaik untuk fotografi. Hal terakhir ini yang membedakannya dengan pemandu lain, apalagi bagi saya yang memang sengaja datang untuk memotret (dan dipotret sebagai bonusnya). Kompleks Angkor yang sangat ramai itu hampir tidak pernah terekam dalam hasil bidikan saya. Kim tahu kapan persisnya kami harus berada agar terhindar dari kerumunan. Bayangkan, dalam keramaian di kuil Bayon pun, kami mengetahui jalan setapak yang memisahkan kami dari pengunjung lain. Kim pula yang dapat membuat saya menempuh jalan berlumpur, memanjat reruntuhan, melompat sana-sini untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal. Semut-semut manis yang menggerogoti kaki kami tidak digubrisnya. Saya tidak hanya memerlukan jasanya untuk menjelaskan sejarah bangunan yang kami kunjungi, namun juga ‘mata’ fotografer yang dimilikinya. Kami dapat berlama-lama memotret reruntuhan kuil yang berlumut, karena kami terbuai akan kekontrasan warnanya. Sebagai gantinya, tidak jarang Nikon milik saya berpindah ke tangannya, agar saya dapat diabadikan dengan leluasa. Kim amat hobi memotret orang, dan untungnya saya hobi berpose, jadilah kami pasangan sepadan.

Sambil menyerumput kopi saat makan siang, Kim pun menuturkan kisah hidupnya hingga menjadi seperti sekarang. Kimleng Sang dilahirkan 35 tahun lalu di sebuah desa kecil di provinsi Takeo, dekat perbatasan Kamboja dengan Vietnam. Latar belakangnya yang hanya pendidikan setingkat SD, membuatnya menjadi buruh kasar untuk membantu ekonomi keluarganya yang memang pas-pasan. Takdirlah yang membawanya untuk menjadi petugas keamanan di Phnom Penh sambil menyempatkan untuk belajar bahasa Inggris. Akhirnya ia memutuskan untuk mengadu nasib di Siem Reap tahun 2000 dan membeli tuk-tuk dengan seluruh uang tabungannya. Semakin lama bahasa Inggris Kim pun terasah dengan banyaknya turis asing yang memakai jasanya. Kemampuan fotografinya baru tergali beberapa tahun terakhir, saat ia memiliki beberapa klien yang memang seorang fotografer. Seorang fotografer bernama David Bibbing dari Kanada mengajarinya cara memotret. Penyuntingan foto juga dipelajarinya, hingga kini ia masih sering berkonsultasi bila memiliki kesulitan saat menyunting fotonya. David pula yang memberinya kenang-kenangan berupa sebuah kamera D-SLR.

Berawal dari itu semua, kini Kim menabung untuk membeli kamera Nikon yang lebih canggih. Dengan memungut biaya jasa US$40 untuk sehari penuh tur di Angkor Wat dan US$50 untuk Banteay-Srei, hal ini tentu saja tidak sukar baginya. Jasa Kim ini memang sedikit mahal dari jasa tuk-tuk yang rutin ditawarkan oleh hotel yang saya tempati. Untuk tur Angkor sekitar US$15 dan ekstra biaya untuk pemandu US$22, jadi total yang mereka biasa tawarkan US$37. Namun dengan selisih US$3 saja, saya telah mendapatkan supir tuk-tuk, pemandu dan fotografer pribadi. It’s more than just good deal to me!

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Perjuangan Kim berbuah manis. Kini namanya sudah cukup terkenal di berbagai forum dan banyak fotografer asing yang mengenalnya. Tidak jarang pula pelancong yang sengaja memakai jasanya agar dapat dipotret dengan leluasa. Bagaikan membawa seorang fotografer pribadi ke dalam kompleks Angkor. Kim dapat mengumpulkan foto-foto hasil bidikannya dalam USB flashdisk agar dapat langsung diterima oleh kliennya setelah selesai tur. Dalam sebulan Kim dapat memperoleh klien 7-10 orang. Oleh karenanya, jauh-jauh hari biasanya para klien telah mengontaknya.

Hasil jepretan Kimleng untuk saya.
Hasil jepretan Kimleng untuk saya.

Foto-foto hasil bidikan Kim sendiri tersimpan dengan rapi dalam situs pribadinya. Berbagai ulasan mengenainya dapat ditemukan di situs semacam Trip Advisor. Sebagian besar memuji sikapnya yang sopan, ramah, dan selalu bersedia membantu dalam hal apapun. Saya selalu ingat akan satu ulasan yang menyebutkan saat seorang turis bermaksud memotret Angkor di kala matahari terbit. Tanpa sengaja, filter lensanya terjatuh ke dalam pinggir danau saat ia bermaksud mengabadikan refleksi Angkor dalam air. Turis ini pun merasa bahwa filter ini tidak akan ditemukan dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Yang membuatnya kaget adalah saat Kim menemuinya kembali saat membawa filter tersebut di siang hari. Rupanya Kim kembali mendatangi danau yang sama untuk mencari filter tersebut. Ia beralasan bahwa bila ia mencarinya saat terjatuh tadi, gerakan tubuhnya di dalam air akan mengganggu riakan serta menimbulkan distorsi. Hal ini tentu saja akan mengganggu para fotografer yang memang saat itu sedang duduk-duduk untuk mengabadikan refleksi Angkor dalam air sambil menunggu matahari terbit.

Dua hari bersama Kim membuat perjalanan saya sangat berkesan. Dari Kim pula saya mengetahui bahwa tuk-tuk dalam bahasa Khmer sebenarnya disebut remork motor, namun para turis lebih suka menyebutnya tuk-tuk. Saya selalu mengingatnya setiap kali saya melihat hasil-hasil bidikan saya selama di Angkor. Saya tidak hanya menemukan seorang supir tuk-tuk yang ramah, namun juga seorang fotografer yang handal dan teman perjalanan dengan pribadi yang menyenangkan. Ya, sebuah pilihan lah yang membawa saya ke Siem Reap dan mengenal seorang Kimleng Sang, bukan Angelina Jolie.

  • Disunting oleh LEN 17/12/2013

Wajah Bajai di India

Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning
Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning.

Siapa yang tidak kenal bajai. Kendaraan sederhana ini selalu menemani hari-hari semasa saya belajar di Mumbai. Hal ini dikarenakan bajai di Mumbai mudah didapat, memakai argo dan jelas tarifnya murah. Memang awalnya sulit, mengingat umumnya supir bajai ini tidak bisa berbahasa Inggris. Maka dengan Hindi yang terbata-bata, saya menuntun mereka untuk menuju tempat yang saya inginkan. Yang membedakan supir bajai di India dengan Jakarta adalah mereka sangat mudah menolak penumpang, seringkali malas memutar balik, terlebih jika penumpang ingin bepergian ke arah yang berlawanan. Entah kenapa, supir bajai ini cenderung belok ke arah kiri. Benar-benar menjengkelkan.

Tak kenal maka tak sayang. Karena saya memang sayang akan kendaraan beroda tiga yang setia mengantar saya ke mana saja ini, tak pelak lagi saya pun tertarik mencari tahu tentangnya. Ternyata benar bajai itu berasal dari India. Kendaraan yang di India disebut “auto” ini (walau beberapa turis masih menyebutnya “tuk-tuk”) dibuat oleh perusahaan Bajaj Group, yang didirikan oleh Jamnalal Bajaj di Rajasthan pada tahun 1930-an. Pada tahun 1959, perusahaan ini diizinkan oleh pemerintah India untuk membuat kendaraan beroda dua dan tiga. Perusahaan ini semakin berkembang, hingga dalam kurun waktu setahun terakhir, mereka telah menjual sekitar 480.000 kendaraan roda tiga yang hampir setengahnya di ekspor ke luar India. Jumlah yang sangat fantastis.

Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil
Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil.

Bajai beragam warna menunggu penumpang
Bajai beragam warna menunggu penumpang.

Bajai berwarna biru
Bajai berwarna biru.

Bila bajai di Jakarta umumnya berwarna merah dan biru (sehingga sering diplesetkan sebagai BMW, singkatan dari “Bajai Merah Warnanya”), maka di Mumbai atau Delhi bajai ini biasanya berwarna hitam, dengan argo yang terletak di sisi kiri. Hal yang berbeda saya temui ketika saya menjelajahi wilayah Rajashtan, India. Di wilayah ini, tampak berbagai penampakan dari kendaraan beroda tiga kesayangan saya ini. Secara garis besar, bajai di sana akan diwarnai dengan ornamen warna-warni sesuai khas daerah masing-masing. Yang menjadi favorit saya adalah bajai yang berada di wilayah Juhunjhunu, Rajashtan. Tampak bajai dipenuhi pita warna-warni, lukisan dewa-dewinya dan lonceng. bajai di Jaisalmer biasanya lebih sederhana, berwarna kebiruan. Sedangkan di wilayah Jodhpur, bajai berbentuk lebih ramping dan berhiaskan pita, namun bagian belakangnya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menampung penumpang lebih banyak. Variasi lainnya, ada bajai yang tampak berbentuk sedikit ‘bulat’ dengan warna kekuningan seperti ikan mas koki.

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (1).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (2).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (3).

Umumnya bajai diperuntukkan untuk tiga penumpang di belakang dan seorang supir demi alasan keamanan. Walau jumlah ini juga disesuaikan dengan besarnya badan penumpang. Berhubung teman-teman saya dari Tanzania umumnya bertubuh besar, dengan sendirinya tiga orang di belakang akan membuat sesak. Namun jangan salah, di India 10 orang pun bisa muat di dalam satu bajai. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepala bila melihat supir bajai duduk berimpitan dengan dua hingga empat penumpang di depan. Terkadang polisi bisa menegur bila melihat situasi ini. Namun bukan supir bajai namanya kalau tidak bisa berdalih. Penumpang ekstra tersebut akan turun saat berpapasan dengan polisi untuk kemudian naik kembali setelah berada cukup jauh.

Berbagai wajah bajai dapat ditemukan di India dengan semua ciri khasnya. Namun kesamaannya tetap ada, tetap berjalan dengan bunyi yang berisik dan hanya supir bajai (dan Tuhan) yang tahu kapan mereka akan belok.


Pagoda Shwedagon, Rumah Suci Bagi Rambut Sang Buddha

Di tengah pusat kota Yangon (Ranggon), Myanmar, sebuah pagoda menjulang dengan megahnya membelah cakrawala. Pagoda Shwedagon atau yang juga dikenal sebagai Pagoda Emas memang merupakan tempat tersuci di Myanmar ini, yang didirikan di bagian barat dari Danau Kandawgyi, tepat di daerah perbukitan suci Singgutara. Konon, di tempat inilah terdapat keempat struktur suci Buddha, yaitu staf dari Kakusandha, air suci Koṇāgamana, jubah Kassapa dan rambut suci Siddharta Gautama.

Sekitar 2.500 tahun yang lalu, hidup seorang raja bernama Okkalapa yang memerintah Suvvanabhumi. Raja ini mengetahui bahwa seorang Buddha akan “muncul” setiap 5.000 tahun sekali. Pada saat itu, Siddharta masih menjadi seorang pangeran Hindu di India Utara dan belum mendapatkan ‘pencerahan’. Sesuai perhitungan Okkalapa, saat pemerintahannya, semestinya seorang Buddha baru akan datang.

Bukit Singgutara telah lama memiliki sebutan suci, karena di tempat inilah warisan dari ketiga Buddha terdahulu dikuburkan. Untuk mempertahankan kesucian bukit ini, maka Raja Okkalapa merasa bahwa harus ada hadiah yang diberikan oleh Buddha yang baru. Sedemikian takutnya Okkalapa, sehingga ia pun mengunjungi bukit ini untuk memohon. Okkalapa tidak mengetahui pada saat itu Siddharta sudah mendapatkan pencerahan. Dikisahkan Sang Buddha yang baru muncul dalam alam meditasi Okkalapa dan menyerukan untuk bersabar menantikan hadiah dari-Nya.

Ketika Siddharta sedang menyelesaikan meditasinya di bawah pohon Bodhi, pada hari ke-49, datang seorang pedagang bernama Tappusa dan Bhalika yang rupanya utusan dari Okkalapa. Kedua pedagang ini menawarkan kue madu pada Sang Buddha dan kepada keduanya, Buddha menitipkan kedelapan buah rambut sucinya sebagai ucapan terima kasih. Namun dalam perjalanan kembali menuju Myanmar, keduanya dirampok, sehingga mereka hanya sanggup membawa empat buah rambut suci Buddha. Kedatangan mereka disambut dengan meriah dan keempat rambut suci dikuburkan di bukit Singgutara untuk mempertahankan kesuciannya. Dikisahkan bahwa ketika keempat rambut suci ini dikeluarkan dari kotaknya, maka bumi bergoncang hebat, orang buta dapat melihat kembali, dan pohon-pohon berbunga. Akhirnya didirikanlah sebuah pagoda setinggi 300 kaki, yang hingga kini dapat dilihat dari sudut kota manapun, yang dihiasi dengan emas dan batu permata.

Pendirian pagoda Shwedagon hingga kini tidak diketahui, namun diperkirakan sekitar abad ke-11. Setelah didirikan, pagoda ini mengalami beberapa renovasi dan tetap selamat dari segala ancaman alam dan bahkan saat penjajahan bangsa asing di Myanmar. Keteguhan pagoda ini untuk terus bertahan membangkitkan semangat pada rakyat Myanmar yang sangat menyanjung dan membanggakannya. Bahkan pada tahun 2007, seluruh pendeta melakukan protes dan berjalan dari pagoda ini untuk membebaskan Aung San Suu Kyi.

Dari segi arsitektur, Shwedagon merupakan suatu kompleks luas berwarna keemasan. Terdapat empat buah pintu masuk. Turis asing dapat memasukinya dengan biaya delapan dolar Amerika. Alas kaki harus ditanggalkan di sini. Setelah menaiki lif, kita akan sampai di salah satu pintu masuk kawasan pagoda. Tampak bentuk singa mistis mengawal setiap pintu masuk pagoda ini. Suatu bentuk yang sama yang dapat kita temui pada kuil Hindu di India. Beberapa pemeluk agama Buddha telah bersiap untuk melakukan ritual doa dengan membawa bunga teratai, dupa, daun emas dan lain-lain. Penduduk lokal tidak dikenakan biaya untuk memasuki pagoda ini. Para pemeluk agama Buddha yang mengunjunginya akan mengelilingi pagoda ini sesuai arah jarum jam, umumnya sebanyak tiga kali. Pagoda dapat dicapai dari bandara internasional dengan menggunakan taksi bandara dengan biaya sekitar 7.000 kyat (satu dolar Amerika setara dengan 950 kyat).

Bagian dasar dari stupa atau jedi ini terbuat dari batu bata yang dilapisi oleh batang emas. Bagian selanjutnya adalah teras yang hanya dapat dimasuki para pendeta. Bentukan seperti lonceng adalah struktur yang terdapat di atasnya, selanjutnya semacam bentuk turban, pot sesembahan terbalik, kelopak lotus, tunas pisang, dan selanjutnya mahkota. Bagian mahkota ini dihiasi sekitar 5.500 berlian dan 2.300 batu rubi.

Astrologi dan ajaran Buddha tidak dapat dipisahkan dari hidup warga Myanmar. Posisi planet ditentukan sesuai hari kapan mereka dilahirkan. Satu minggu terbagi menjadi delapan hari, karena hari Rabu terbagi atas siang dan malam. Setiap hari memiliki lambang hewan masing-masing, misalnya macan untuk senin, singa untuk selasa, gajah bercula untuk rabu siang dan tidak bercula untuk malam, tikus untuk kamis, babi untuk jumat, naga untuk sabtu, dan minggu disimbolkan oleh garuda. Setiap planet memiliki patung Buddha masing-masing dan para pemeluknya akan memandikan, menaruh bunga serta berdoa di patung masing-masing.

Oleh karena akar dari Buddha adalah ajaran Hindu, maka dalam beberapa hal cukup banyak kemiripan dari kedua ajaran ini. Namun satu hal yang berbeda, adalah kepercayaan mereka terhadap Rahu dan Ketu. Kedua planet ini pernah saya ungkap saat membahas kuil Konark. Perbedaannya dengan Hindu adalah, bagi warga Buddhist Myanmar, kedua planet ini terpisah. Ketu dianggap sebagai raja dari semua planet dan keseluruhan planet menentukan hidup manusia kecuali Ketu. Planet yang menjadi hari dimana kita dilahirkan akan menentukan jalan hidup kita secara keseluruhan, namun beberapa planet tertentu dapat mempengaruhi fase-fase dalam hidupnya. Warga Myanmar akan mengunjungi ahli astrologi ini untuk meminta saran dalam setiap tahapan penting dalam hidupnya misalnya pernikahan, ujian, lamaran kerja, dan sebagainya.

Kuil-kuil kecil berisikan patung Buddha dengan berbagai gaya dan posisi berada dalam area kompleks ini. Para pemeluk dibebaskan untuk berdoa di kuil manapun yang mereka suka. Dari kejauhan nampak bagian kuil yang sering menjadi tempat untuk doa khusus, misalnya mendapatkan anak. Beberapa wanita dengan khusyuk berdoa dalam kuil ini.

Beberapa orang asing berusaha mencuri lonceng-lonceng dari pagoda ini yang memang luar biasa indahnya. Sebut saja Philip de Brito yang berusaha mencuri 30 ton lonceng, namun saat menuju Portugis, lonceng-lonceng ini terjatuh ke Sungai Bago dan kemudian hilang. Lonceng di pagoda kemudian diganti, dan kembali dicuri oleh prajurit dari Inggris. Namun saat menuju Kolkata, kapalnya karam, walaupun lonceng dapat diselamatkan dan diletakkan pada bagian tenggara pagoda.

Keindahan pagoda emas ini dapat dinikmati kapanpun, waktu terbaik adalah di malam hari, karena pagoda ini akan dilingkupi lampu yang bertaburan berpadu dengan kemolekan cahaya emas dari pagoda itu sendiri. Saya sendiri lebih memilih pagi hari untuk mengunjunginya, saat pagoda berwarna kontras dengan birunya langit di atasnya. Samar-samar tercium bau dupa yang baru saja dibakar dan terdengar suara lonceng-lonceng kecil tertiup angin. Seorang gadis kecil tampak berdiri di dekat saya sambil membawa setangkai lotus di tangan mungilnya untuk dipersembahkan kepada Sang Buddha.


Sebuah Kuil bagi Sang Surya

Kuil dari kejauhan
Kuil dari kejauhan.

Nun jauh di Orissa/Odisha, sekitar dua jam perjalanan dari kota Bhubaneswar, sebuah kuil megah berdiri di daerah yang dinamakan Konark. Konark yang juga dikenal dengan nama Konaditya atau Arkakshetra berasal dari turunan dua kata; “Kona” yang berarti sudut dan “Arka” yang berarti surya.

Berbagai misteri dan cerita mengiringi perjalanan saya memasuki kuil ini. Konark tidak dapat dipisahkan dengan cerita Samba, anak dari Krishna yang menderita lepra dan menjadi sembuh akibat bantuan dari dewa matahari. Lambat laun makin terurai legenda Dharmapada mengenai seorang raja dari abad ke-13 Masehi bernama Narasimhadeva I yang memerintahkan pendirian sebuah kuil bagi dewa matahari. Konark yang juga dikenal sebagai pagoda hitam dibangun dengan bulir-bulir keringat 12.000 pemahat terbaik di wilayah ini yang bekerja di bawah ancaman hukuman mati bila tidak mampu menyelesaikan perintah raja. Kebengisan Narasimha makin terasa saat perintah penyelesaian kuil dipercepat dari jadwal. Sri Samantaray sebagai kepala pemahat mengakui ketidaksanggupannya, sehingga berakhir dengan pemecatan. Kisah bergulir di mana kepala pemahat yang baru bernama Bisu akhirnya berhasil menyelesaikan pembangunan kuil, namun satu hal tertinggal, mahkota dari kuil (“kalasa“) selalu gagal diletakkan di tempatnya. Tidak seorang pun pemahat mengetahui solusinya.

Pintu gerbang
Pintu gerbang.

Sebelum pagi tiba, kuil harus sudah harus diselesaikan. Alkisah seorang anak berusia 12 tahun, anak dari Bisu memberanikan diri untuk menolong. Dalam pemikirannya, ia mengetahui solusi bagaimana mahkota diletakkan setelah mempelajari manuskrip kuil. Ia pun mendaki bangunan kuil dan meletakkan kalasa di tempatnya tepat di penghujung malam. Berita ini sampai ke telinga raja dan menyebabkan ketakutan di antara para pemahat yang mengira raja mungkin akan marah bila mengetahui kuil justru diselesaikan oleh orang lain. Sebagai konsekuensi, bocah tersebut, Dharmapada, akhirnya melakukan bunuh diri agar raja tidak menghukum mati pemahat lain. Raja yang mendengar hal ini langsung merasa bahwa kuil ini membawa sial (“asuva“) dan seluruh penjuru negeri diperintahkan untuk tidak menyembahnya.

Legenda Dharmapada bukanlah satu-satunya cerita yang konon menyebabkan runtuhnya kejayaan kuil ini. Sebuah kisah narasi dari Sri Radhanath Ray mengungkapkan seorang sakti bernama Sumanyu Risi mengutuk dewa matahari karena menggoda anak perempuannya yang bernama Chandrabhaga. Para sejarawan sendiri lebih mempercayai bahwa penyerangan Kalapahad lah yang melatarbelakangi kehancuran kuil ini. Sebagai seorang raja muslim, penyerangan kuil dimulai dengan penghancuran Dadhinauti yang menyebabkan kuil roboh dan berbagai dindingnya hancur. Pahatan dewa surya berhasil diselamatkan para pandeta di Konark denga cara menyimpannya beberapa tahun di bawah pasir dan selanjutnya dipindahkan ke kuil Jaganath di Puri. Cerita lain mengungkapkan patung dewa ini sekarang tersimpan di museum nasional di Delhi. Pemindahan figur dewa dari Konark ini menyebabkan Konark tidak lagi dianggap sebagai tempat untuk ziarah bagi pemujanya saat itu dan kehilangan kejayaannya. Konark menyepi menjadi sebuah runtuhan kuil yang tersembunyi selama beberapa tahun lamanya di balik hutan di Orissa.

Sosok campuran singa, gajah dan manusia
Sosok campuran singa, gajah dan manusia.

Aura misteri semakin kental saat saya memasuki gerbang kuil ini dan menyelami secara dekat bangunan megah ini. Kedua pahatan berwujud seperti singa menyambut saya di muka gerbang ini. Posisi patung singa ini mencengkeram gajah yang sedang menduduki pahatan berwujud manusia. Dipercaya bahwa singa melambangkan kesombongan dan gajah melambangkan uang, sehingga keduanya lah yang mampu menghancurkan manusia. Struktur Konark yang kokoh berpadu harmonis dengan dalamnya filosofi dalam arsitektur yang terkubur di dalam bebatuan yang membangunnya. Konark berwujud seperti sebuah kereta dengan 12 pasang pahatan roda raksasa dan tujuh patung kuda (hanya satu yang selamat dari reruntuhan), sebagai pernyataan simbolis suatu kendaraan dewa surya. Kekuatan misteri Konark bagaikan ucapan selamat datang bagi saya yang tertatih menaiki anak tangganya yang lumayan melelahkan. Konark bermakna lebih dari sekedar bangunan bagi sang surya. Sebuah filosofi Tantrisisme mewarnai dinding kuil ini dalam bentuk pahatan naga dengan segala wujudnya. Sepanjang dinding Konark membisikkan cerita Negara yang diperintah raja Naga yang berwujud ular berkepala tujuh berselang seling dengan pahatan penyatuan pasangan manusia yang terkadang dipisahkan oleh roda kehidupan yang merupakan perlambang dari kendaraan sang dewa surya.

Sosok naga
Sosok naga.

Wujud pahatan sosok naga yang berhamburan di Konark membangkitkan suatu tanya dalam diri saya tentang apakah wujud ini merupakan apresiasi keberadaan dunia lain yang diperintah naga atau merupakan suatu perwujudan Rahu dan Ketu yang merupakan raksasa dalam astrologi Hindu; yang dipercaya menelan matahari atau bulan sehingga menyebabkan gerhana. Entahlah. Bahkan pemandu saya tidak bisa menjawabnya.

Berbagai pahatan erotis Kamasutra antara sepasang manusia (“maithuna“) membuai kedua mata saya bagaikan alunan musik Kanya yang mengiringi langkah saya memasuki bangunan utama kuil ini. Aura misteri pun semakin dalam terasa. Pahatan Kamasutra di Konark memang tidak sehalus dan sedetil di kuil Khajuraho, namun sosoknya yang berukuran lebih besar dan lebih tinggi membuatnya seakan “berteriak” untuk meyakinkan keberadaannya. Maithuna merupakan satu dari lima komponen dalam ritual Panchamakara yang bertujuan untuk mencapai spiritualitas tertinggi. Suatu pemikiran yang cukup menarik bila dikaitkan dengan teori para ahli kuno yang mengisyaratkan bahwa bintang juga hadir secara berpasangan, walau pasangan dari dewa surya tidak diketahui hingga kini.

Dinding kuil dihiasi dengan berbagai pahatan geometris, bunga, penunggang kuda, gajah, aktivitas berburu dan juga ketiga wujud sang surya yang diposisikan sedemikian rupa untuk menangkap sinar pada saat pagi, siang, dan senja.

Konark menyiratkan perjalanan waktu yang berada dalam pengaruh dewa matahari. Ketujuh kuda yang “menarik” kuil ke arah timur mereprestasikan jumlah hari dalam seminggu, sedangkan ke-12 roda kehidupan menyiratkan 12 bulan dalam setahun. Roda raksasa berdiameter sekitar 10 kaki ini memiliki delapan palang yang menyiratkan kedelapan tahapan dalam kehidupan seorang wanita.

Bagian depan kuil utama
Bagian depan kuil utama.

Perpaduan erat antara misteri, legenda, arsitektur, dan kemegahan Konark membawa saya pada dunia lain yang mungkin maknanya di luar batas pemahaman yang kita miliki. Namun demikian berada di sini, membuat saya berusaha mengerti mengapa saat itu Dharmapada bersikeras untuk membantu penyelesaian kuil megah yang pernah ada ini. Seorang bocah yang cukup naif, yang memiliki keberanian untuk menyelamatkan hidup orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri. Konark bukanlah sekedar cerita mengenai kamasutra atau dewa surya, namun lebih kepada makna pengorbanan hidup yang hakiki. Legenda Dharmapada mungkin terkubur dalam reruntuhan kuil, namun namanya tetap menghiasi cerita rakyat dan menjadi aspirasi seluruh pemahat muda hingga kini.


Dari A-Z: Tips Melancong ke India

A: Ambil peta, kenali negara yang kamu ingin tuju. Mulai menelusuri apa yang terkenal dari India dan wilayah mana yang ingin dijelajahi. Hal ini mungkin berhubungan dengan apa yang menjadi minat anda. Sebagai contoh ada yang berminat dengan wisata alam, sedangkan yang lain mungkin lebih ke wisata sejarah. Untuk sejarah, India memiliki 36 Warisan Dunia UNESCO yang daftarnya bisa ditelusuri lewat internet. Buat itinerary selengkap mungkin. Pastikan semua hal yang popular di wilayah tersebut sudah termasuk di dalamnya. Setiap daerah di India punya keunikan masing-masing. Sebagai tambahan, biaya masuk monumen sekitar 250 rupee bagi turis mancanegara.

B: Bollywood hardcore fans? You would love being here. Film Bollywood India terbaru biasanya akan turun di hari Jumat minimal empat film. Umumnya tidak menggunakan terjemahan Inggris, namun alur ceritanya masih dapat ditebak dan dimengerti. Menonton film India di India adalah keharusan. Kapan lagi nonton film Bollywood di negaranya? Bioskop di India tergolong sangat nyaman, dengan biaya 200-300 rupee per film.

C: Camkan baik-baik, India bukanlah Eropa. Jadi, pastikan kamu mengatur segala hal sebelum berangkat sedetil mungkin untuk memastikan perjalanan kamu aman dan nyaman.

D: Dolar (Amerika Serikat) bukan mata uang India, namun akan lebih baik kamu menyisihkan dolar untuk dibawa saat mengunjungi India, karena harga tukar rupee biasanya akan lebih tinggi. Harga beli rupee di luar India biasanya lebih mahal dan lebih sulit. Alternatif lain, bisa membawa kartu ATM bank manapun di Indonesia yang berlogo Visa atau Mastercard. Kartu ini bisa digunakan untuk mengambil uang kontan di ATM, dengan tarif ekstra sekitar Rp20.000 per transaksi, dengan maksimal 10 juta rupiah sehari atau bisa juga dipakai sebagai kartu debit saat belanja.

E: Email orang-orang atau teman-teman yang mungkin sudah pernah berkunjung ke India untuk mencari tahu bagaimana pengalaman mereka.

F: Finding the good deal for ticket is the most important issue. Biasanya harga tiket akan melonjak di saat akhir tahun hingga sekitar Februari. Tiket bergantung pada maskapai penerbangan yang dipilih. Berbagai pilihan untuk kelas budget di antaranya adalah Indigo dan Jet air yang transit di Singapura, namun bila memesan jauh-jauh hari, bahkan tiket Malaysia Airlines, Thai Airways dan Singapore Airlines pun bisa diperoleh dengan harga miring. Jangan membawa barang terlalu banyak, karena kuota bagasi biasanya hanya sekitar 25-30 kg.

G: Go now! Tidak perlu menunggu lama-lama, segera urus cuti. Pastikan kamu bisa meyakinkan manajer untuk membawa cinderamata sepulang dari India bila cuti berhasil diperoleh.

H: Hotel selama di India bisa diurus online. Sebagai permulaan bisa browsing di situs, cari ulasan hotel yang pas dengan budget anda. Hotel di kota-kota besar di India terkenal mahal dan sering tidak sesuai antara harga dengan fasilitas yang ada. Menurut pengalaman, setidaknya harus memesan hotel bintang tiga. Di India jarang ada istilah hotel murah dan meriah, kalo murah biasanya tidak meriah (baca: jelek). Rata-rata hotel yang cukup bersih bertarif minimal Rp600.000 per malam.

J: India bisa dimasuki dengan menggunakan visa yang diurus di kedutaan di negara asal. Untuk wilayah Jakarta, kedutaan India berada di Jl. H. R. Rasuna Said, Kuningan, bersebelahan dengan Erasmus Huis. Sebelumnya kita dapat membuka situs aplikasi visa India. Isi formulir dan kemudian dicetak. Beberapa dokumen lain yang diperlukan adalah: rekening koran 3 bulan terakhir, bukti pemesanan tiket (juga bisa memakai bukti telah melakukan pemesanan tiket saja yang biasanya diberikan agen perjalanan), bukti pemesanan hotel, pasfoto 5x5cm dengan latar belakang putih dua buah, paspor tentunya, dan itinerary. Pembayaran visa harus tunai, visa turis sekitar Rp492.000, sedangkan visa jenis lain bervariasi harganya.

K: Kalau tidak sempat mengurus visa, maka dapat menggunakan jasa agen untuk kepengurusan visa. Lama pembuatan visa berkisar satu atau dua hari. Untuk visa yang sifatnya darurat dapat jadi di hari yang sama saat mendaftar, namun dikenakan biaya ekstra. Biasa digunakan untuk berobat atau pengiriman jenazah. Biasanya visa diambil keesokan harinya di sore hari.

L: Lho, bukannya bisa Visa on Arrival (VOA)? Ya, India sudah memberlakukan VOA yang bisa diperoleh dengan harga kurang lebih USD60, namun baru berlaku untuk masuk lewat bandara Delhi, Mumbai, Chennai dan Kolkata. Namun, terus terang saya tidak terlalu menganjurkan. Toh, kepengurusan visa India tidak rumit. Akan lebih rumit kalo proses VOA di India berlangsung lama dan menyebabkan waktu liburan terbuang sia-sia.

M: Memasuki India tentu saja harus mengenai tata krama yang ada. Cukup sulit karena tiap wilayah India memiliki kebudayaan yang berbeda. Mengerti bahasa Hindi merupakan suatu keuntungan, namun beberapa masyarakat India dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris, dan bahasa tubuh tentunya. Setiap wilayah India memang memiliki bahasa lokal masing-masing dan mereka bangga karenanya.

N: Norma di India agak berbeda memang. Sebagai contoh, jangan pernah merokok atau menawari rokok kaum Sikh (yang biasanya memakai turban di kepalanya) karena rokok dilarang agama ini. Bagi para wanita, harus dipahami tidak semua mesjid mengizinkan wanita untuk beribadah di dalamnya.

O: Orang asing yang memasuki India diharapkan tidak terlalu mengekspos tubuh, jadi usahakan tetap menggunakan celana midi atau panjang dan kaos berlengan bagi para wanita. Beberapa kuil di India juga memiliki norma masing-masing, misalnya hanya boleh memakai salwar kameez atau memakai celana dan kaos berlengan panjang saat memasukinya atau wanita yang sedang berhalangan dan non-Hindu dilarang masuk.

P: Perjalanan domestik antar kota di India bisa dipesan online jauh-jauh hari. Bila dipesan jauh hari, tiket sekali jalan bisa berkisar Rp100.000 – Rp300.000 saja dengan bagasi 20kg. Tiket ini juga bisa dipesan di agen perjalanan sesampai di India. Untuk domestic, dianjurkan menggunakan pesawat, karena harganya terjangkau dan menghemat waktu.

Q: Queue! Saya rasa budaya antri ada di mana saja dan harus diterapkan di manapun anda berada.

R: Reserved taxi dari bandara dianjurkan. Namun satu hal, berdasarkan pengalaman, taksi hitam atau bahkan taksi bandara yang sudah dipesan ini tetap sama-sama bisa berusaha mengecoh para turis. Biasanya mereka meminta biaya tambahan di luar biaya yang sudah dibayar dengan alasan yang dibuat-buat. Pastikan anda acuh, bersikap percaya diri dan bila perlu mengganti taksi. Yeah this is the ugly truth about taxi in India.

S: Saya tak suka curry! No worries, makanan India biasanya bisa dicerna indera pengecap kita. Makanan khas Goa bahkan hampir mirip rasanya dengan makanan Padang. Sebut saja beberapa resto India yang cukup enak seperti Shalimar, Delhi Darbar, dan Zaffran. Beberapa makanan yang dapat dipilih adalah chicken tandoori (ayam bakar), chicken tikka masalla (kari ayam), egg fried rice (must try!), dan lain sebagainya. Bila tetap tidak menyukainya, terdapat beberapa pilihan restoran Cina atau Asia di India. Harga porsi makanan di India juga murah dan tidak berlaku satu porsi untuk satu orang. Biasanya berlaku sistem sharing dengan teman, karena umumnya porsinya cukup besar. Harga tentu saja bergantung dengan restoran, namun sebagai standar harga setengah ekor chicken tandoori berisi 4 potong ayam adalah 110 ruppe, Restoran di India terbagi veg dan non-vegetarian. Walau daging sapi sulit ditemukan, beberapa hotel bintang lima atau Kafe Leopold di Mumbai menyediakan hidangan yang menggunakan daging sapi. Ingin KFC atau McDonald’s? Jangan khawatir, keduanya ada di sini dan halal pula.

T: Tuktuk disebut auto di India atau bajaj di Indonesia. Tidak semua wilayah bisa dijangkau tuktuk ini. Tuktuk biasanya menggunakan argo kecuali bila di kota kecil, di mana mereka akan memberlakukan sistem fixed price. Supir tuktuk biasanya tidak bisa berkomunikasi bahasa Inggris, jadi kalau anda kesulitan, maka usahakan meminta tolong seseorang untuk menjelaskan dalam bahasa Hindi. Namun demikian, mereka mudah mengerti perintah sederhana dalam Inggris. Beberapa kata Hindi yang bisa dipakai adalah :sida” = jalan lurus, “lena/lelo” = belok, “right lena” = belok kanan, “bas” = stop, “kidna” = berapa, “ruko/rukiye” = tunggu, “dure” = jauh.

U: Untuk mereka yang berniat menjelajah India dengan menggunakan kereta api bisa melakukan reservasi tiket kereta online. Kereta di India tergolong murah, sesuai dengan kelasnya. Di musim liburan, reservasi harus dipesan jauh hari. Bila mendadak akan ada program tatkal, yaitu program di mana disiapkan suatu gerbong khusus yang cuma dibuka sehari sebelum tanggal keberangkatan. Anda dapat mengontak agen perjalanan di India untuk mengurus hal ini, karena biasanya untuk memperoleh tatkal, anda harus menginap dan menunggu di depan loket tiket. Bila benar-benar tidak mendapatkan tiket, anda tetap bisa menaiki kereta dengan membayar 100 rupee, namun tidak memiliki kursi sama sekali. Anda bisa duduk di pojok mana pun, bahkan di toilet. Tapi, saya harap anda tidak nekat melakukan hal ini. Perjalanan kereta India sangat jauh, bisa memakan waktu puluhan jam, jadi lebih baik melakukan reservasi jauh hari sebelumnya.

V: Visiting Taj Mahal? Ada yang bilang belum afdol ke India kalau belum ke Taj Mahal. Sekedar pemberitahuan, India terbagi atas empat musim. Musim panas dari April hingga Juni, hujan dari Juli hingga September, dingin dari Oktober hingga Desember dan musim semi dari Januari hingga Maret. Pembukaan musim panas secara resmi biasanya setelah perayaan Festival Holi dilangsungkan. Musim terbaik ke India adalah saat musim dingin dan musim semi. Pada beberapa daerah di utara, musim panas bisa amat ekstrim. Karena Taj Mahal berada di Agra, maka saya sarankan jangan mengunjunginya di musim panas, karena di siang hari suhu permukaan bisa mencapai 45 derajat. Satu hal lagi, Taj Mahal tutup di hari Jumat, jadi kunjungi tempat ini di hari-hari lainnya. Untuk memasukinya, turis internasional cukup membayar 750 rupee sambil memperlihatkan paspor.

W: What about phone card? Untuk hal ini, India memang agak rumit. Jangan terpikir bisa membeli kartu telepon di jalan lalu langsung aktif sepenuhnya. Di India, karena mereka sangat takut teroris, maka kepemilikan kartu telepon sangat dikontrol. Untuk memperoleh kartu telepon, anda harus mengunjungi agen telepon terdekat. Ada beberapa pilihan provider seperti Idea, Airtel, Vodafone, Tata Dokomo, dan lain sebagainya. Tiap daerah memiliki provider terbaik, namun secara umum Airtel sangat bagus digunakan di Delhi dan Vodafone sangat bagus untuk Mumbai. Jadi, pilihlah satu di antara kedua provider ini. Setelah memilih nomor, agen telepon anda akan mengisikan beberapa formulir dan selanjutnya anda harus menandatangi serta menyertakan pas foto 2x3cm atau 3x4cm dua buah berwarna, fotokopi paspor, dan fotokopi hotel tempat menginap. Setelahnya telepon dapat digunakan untuk menelepon selama sehari. Setidaknya diperlukan waktu 2-3 hari untuk aktif secara sempurna termasuk mendaftarkan untuk paket Blackberry misalnya. Cara mengaktifkannya adalah dengan menelpon operator dari provider tersebut dari telepon yang akan diaktifkan. Bila dokumen sudah mereka terima dan lolos pengecekan, maka telepon dapat aktif. Jangan lupa melengkapi dokumen bila mereka memintanya. Bila tidak, dengan segera kartu tidak dapat digunakan lagi. Paket Blackberry di India sekitar 15 rupee harian atau 399 rupee untuk bulanan. Biaya menelpon ke Indonesia juga tergolong murah, sekitar satu rupee per menit.

X: “Xtreme news“. India saat ini memang sedang disorot akibat banyaknya pemberitaan mengenai pemerkosaan dan pembunuhan. Is India safe? Di beberapa tempat seperti Bihar dan Delhi, anda harus super waspada. Jangan berada di luar hotel setelah pukul tujuh malam, jangan berjalan sendirian terutama bagi wanita, usahakan melintasi daerah yang ramai pengunjung, and don’t talk to strangers! Delhi terkenal tidak aman untuk solo traveler wanita, namun Mumbai relatif lebih aman. Jaga diri dan ikuti intuisi anda.

Y: Yang berminat melakukan belanja, India adalah surga belanja. India terkenal dengan sari yang bisa diperoleh dari harga Rp25.000 hingga puluhan juta rupiah, dengan harga 1000 rupee anda sudah dapat memiliki sari yang luar biasa cantiknya. Yang tidak berminat sari, bisa memililih salwar-kameez, yaitu berupa atasan, celana bawahan dan biasanya diserta dupatta = selendang di dada. Beberapa merek lokal yang dapat menjadi pilihan adalah Biba dan Global Desi. Model celana Aladdin amat bervariasi di sini dan dapat diperoleh dengan harga minimal 300 rupee. Aksesori gelang, kalung dan selendang juga mudah diperoleh, begitu pula benda-benda etnik India seperti karpet, lukisan, dan lain sebagainya. Beberapa kota memiliki pasar untuk berbelanja oleh-oleh, misalnya Colaba di Mumbai, Janpat Market, Connaught Place, dan Deli Hut di Delhi. Anda harus menawar jelas. Bulan Januari dan Agustus adalah musim sale di India, sehingga anda bisa mendapati penawaran hingga 70% di mal-mal besar yang ada. Sebut saja beberapa department store seperti Pantaloon atau Shopper Stop yang memuat barang-barang lokal ternama.

Z: Zip your bag, go and enjoy India!. India menawarkan beberapa pilihan dan bukan sekedar Taj Mahal. Buat saya, destinasi indah di India adalah Hampi Badami-Aihole-Pattadakal di Karnataka, Ajanta–Elora di Aurangabad, Mahabalipuram, Rajashtan, Orissa, Khajuraho-Orchha di Madya Pradesh dan Belur-Halebidu di Andra Pradesh. India is one of those beautiful countries in the world. I fell in love with it once, with its people, heritage and culture, hope you will too.


Menemukan Tuhan di Belur dan Halebidu

Belur dan Halebidu

Berawal dari sebuah percakapan di meja operasi di suatu Senin pagi di sebuah rumah sakit kanker Mumbai, antara saya dengan seorang teman yang berasal dari Karnataka:

Teman: “Sudah pernah ke Karnataka?”

Saya: “Sudah, dong.”

Teman: “Kamu kan suka kuil Hindu kuno, sudah lihat Halebidu dan Belur?”

Jawabannya tentu saja tidak. Kening saya mengkerut sambil berusaha mengingat-ngingat. Seluruh daftar monumen yang termasuk dalam Warisan Dunia UNESCO di India tentu saja sudah saya hapal di luar kepala. Jadi waktu teman saya mendadak menyebutkan nama ini, di satu pihak saya membela diri dengan alasan bahwa nama kuil ini tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Teman: “Memang, tapi dua kuil ini arsitekturnya bagus sekali. You can have heart attack there, trust me! Belum afdol rasanya kalau belum pernah ke sana…”

Saya tahu jawaban ini terlalu hiperbolis, namun pada akhirnya cukup bisa membuat saya mencari tahu dan ujung-ujungnya menenteng ransel untuk pergi ke Karnataka beberapa hari kemudian.

Perjalanan saya dimulai dengan insiden saya tertinggal pesawat dari Mumbai menuju Bangalore yang menyebabkan saya harus menaiki pesawat berikutnya. Ditambah lagi, insiden yang ‘kecil’ ini berbuntut panjang, karena mengakibatkan saya tertinggal dari bus tur yang membawa saya ke kedua kuil ini. Setelah perjalanannya panjang dan melelahkan, akhirnya saya bisa sampai di depan kuil Belur. Dari Bangalore, perjalanan bisa mencapai waktu empat hingga lima jam, karena lewat tol, maka perjalanan yang jauh ini tidak terasa karena tidak mengalami kemacetan. Terdapat situs bus perjalanan berpendingin udara milik pemerintah yang bisa dipesan online dengan harga 900 rupee (ekuivalen 170 ribu rupiah).

Belur dan Halebidu seringkali disebut-sebut sebagai kuil Hindu yang amat indah karena dipenuhi dengan dekorasi arsitektur Hoysala. Kuil-kuil ini dibangun di masa pemerintahan Hoysala, antara abad ke-11 hingga ke-14 Masehi yang merefleksikan budaya dinasti saat itu. Walaupun ukurannya tidak semegah kuil Khajuraho atau kuil Surya di Konark, konon yang membuatnya spesial adalah arsitekturnya sangat indah dan tidak erotis.

Belur dan Halebidu

Sampailah saya akhirnya di Halebidu. Seluruh penilaian saya yang agak merendahkan kualitas kedua kuil ini runtuh seketika saat saya memasuki pintu gerbangnya. Kuil ini bukanlah sebuah kuil biasa, namun suatu karya seni dalam wujud nyata. Seluruh dindingnya berpahatkan mitologi Hindu yang tidak berkesudahan berpadu dengan hewan, bunga, dan postur penari. Kuil yang “dijaga” oleh patung Nandi (sapi) ini merupakan hasil kerja dari raja Vishnu Vardhana selama 86 tahun yang konon belum selesai. Walau sekilas tampak sederhana, namun kuil ini memiliki pilar-pilar berukir yang memukau setiap pasang mata yang melihatnya. Ketinggian kuil ini dibuat sedemikian rupa sehingga terdapat harmonisasi antara struktur horizontal dan vertikal untuk menampung berbagai ukuran pahatan di dalamnya. Kuil ini memiliki empat pintu masuk, namun biasanya para pengunjung memasukinya dari arah samping. Halebidu terkenal akan keindahan arsitektur pahatan pada dinding luar kuil, dimulai dengan pahatan Ganesha yang terlihat sedang menari. Pada dasar dinding yang berpahat dapat ditemui motif-motif seperti gajah, singa, kuda, raksasa dalam mitologi Hindu, dan angsa. Hal yang membedakan arsitektur Hoysala dengan lainnya adalah strukturnya sangat detil, indah, halus, dan biasanya memiliki perhiasan di bagian kepala figur pahatan. Walau kuil ini diperuntukan untuk Shiva, namun berbagai wajah Vishnu dan berbagai avatarnya dapat ditemukan dengan mudah. Tidak ada satupun bagian dari dinding kuil ini yang tidak berpahatkan wajah dewa Shiva atau Vishnu.

Belur dan Halebidu

Belur merupakan kuil yang lebih sederhana dibanding Halebidu. Kuil ini didirikan oleh Shantaladevi, istri dari raja Vishnu. Kuil ini lebih didedikasikan untuk dewa Vishnu dan lebih terkenal akan arsitektur di dalam kuil. Walau dalam kegelapan, kami dapat meilhat keindahan dekorasi di dalam kuil ini. Terdapat suatu cerita yang tidak dapat dipisahkan dari kuil Belur ini. Alkisah anak dari arsitek yang membangun kuil ini menemukan patung dewa Vishnu di dalam kuil tampak rusak dan terdapat seekor kodok di dalam kuil. Ia kemudian melaporkannya kepada ayahnya, Jakana. Jakana mendengar hal ini langsung merasa kecewa dan memotong kedua tangannya. Oleh karenanya kuil ini juga dinamakan “kappechennigaraaya” yang berarti kuil katak. Sayangnya hari itu saya tidak melihat seekor katak satupun, jadi sulit buat saya mempercayai cerita ini.

Walau terdapat beberapa bagian dari kedua kuil ini yang rusak, namun siapapun dapat menilai bahwa arsitektur keduanya tidak terbantahkan. Saya amat beruntung bisa menjadi saksi untuk melihat arsitektur kedua kuil ini, karena memang dibandingkan kuil shiva lainnya, wajah Tuhan dapat ditemukan secara mudah dalam pahatan yang sedemikian luar biasa indahnya. Samar-samar masih terdengar ucapan pemandu saya sebelum ia mengakhiri turnya:

“Devils are everywhere, but in Belur and Halebidu, God is everywhere…”


Di Hampi, Bebatuan Berbicara dalam Kesunyian

Begitu banyak hal yang dikatakan banyak orang, begitu banyak hal yang kita dengar, dan begitu banyak pula hal yang kita bayangkan, namun terkadang pada kenyataannya kita sering mendapati semuanya tidak seindah bayangan yang ada. Semua teori ini tidak berlaku saat saya mencapai Hampi beberapa waktu lalu di musim dingin. Semua hal yang saya lihat amat sangat menakjubkan, lebih dari yang saya bayangkan dan dengar sebelumnya.

Berbekal dengan rasa penasaran, perjalanan saya menuju Hampi diawali dengan penerbangan ke Goa selama dua jam, dilanjutkan dengan perjalanan darat dengan memakai mobil selama delapan jam menuju Hampi, dengan melewati kota yang disebut Hospet. Sebagai suatu daerah kecil yang berada di bagian selatan dari sungai Tungabhadra di sebuah distrik di Karnataka dan dibatasi gundukan gunung berbatu, Hampi berbeda dengan daerah lainnya. Bagi umat Hindu sendiri, daerah ini amat keramat dan merupakan salah satu tujuan perjalanan religi mereka.

Kuil Virupaksha dari atas bukit Hamakuta
Kuil Virupaksha dari atas bukit Hamakuta.

Lotus mahal
Lotus mahal.

Relief di kuil Vitalla
Relief di kuil Vitalla.

Kolam bertangga
Kolam bertangga.

Perjalanan saya menyusuri Tungabhadra mengingatkan saya akan sebuah cerita kuno yang menyertai alur sungai sungai yang amat keramat di pesisir India Selatan ini. Bukan India namanya kalau setiap inci tempatnya tidak dipenuhi dengan mitos kuno. Alkisah seorang Raja bernama Lord Barah yang merupakan inkarnasi dari Vishnu sedang beristirahat dan dari kedua gigi depannya, keluar dua aliran air yang berbeda. Aliran air dari gigi sebelah kiri disebut Tunga dan yang berasal dari kanan dinamakan Bhadra. Keduanya bersaudara dan menyatu di Kundly membentuk aliran Tungabhadra, yang pada akhirnya akan bersatu dengan aliran sungai Khrishna.

Pemandu saya menuturkan bahwa Tungabhadra sendiri dikenal sebagai Pampa, yang tentu saja tidak bisa dipisahkan dari romantisme Shiva. Pampa adalah anak dari Brahma yang amat memuja Shiva, sehingga Shiva memutuskan untuk menikahinya. Dalam masanya, tempat ini dikenal sebagai Vijayanagara; ibukota dari kerajaan Karnataka yang amat terkenal dalam hal seni dan budayanya. Nama kuno daerah ini adalah Pampa kshetra, Kishkindha-kshetra atau Bhaskara-kshetra.

Memasuki Hampi, kombinasi antara reruntuhan, bukit bebatuan, kuil, perkebunan pisang dan tebu serta persawahan membuat waktu seakan berhenti di depan saya. Hampi memiliki hubungan mitologi yang erat terhadap Ramayana. Menurut cerita epik ini, kerajaan Kishkindha dipimpin oleh kedua kera yang bernama Vali dan Sugriva. Oleh karena terjadi perpecahan di antara keduanya, Sugriva menyingkir dan membawa pasukannya di bawah pimpinan Hanuman. Saat raja iblis bernama Ravana menyandera Sita (istri dari Rama) dan membawanya ke Lanka, Rama dan saudaranya yang bernama Lakshmana datang meminta pertolongan Sugriva setelah ia membunuh Vali. Hanumanlah yang akhirnya mengejar Sita hingga ke Lanka. Saat mengeksplor kota ini, siapapun bisa mencium aura Ramayana hingga ke setiap sudut bangunannya.

Mahanavami dibba
Mahanavami dibba.

Lakshmi-Narasimha
Lakshmi-Narasimha.

Kandang gajah
Kandang gajah.

Adalah sepasang pria Hindu bersaudara bernama Harihara dan Bukka yang menemukan kota Vijayanagar di tahun 1343 dan mereka memerintahnya hingga kesultanan Islam mengalahkan Raja Rama Raya yang memerintah Vijayanagar saat itu di tahun 1565.

Kejayaan masa bersejarah Hampi dan seluruh pertikaian antara Jain, Hindu dan Muslim saat itu tertuang di semua relief kuil dan reruntuhan di wilayah ini. Di Karnataka secara garis besar terdapat tiga tipe arsitektur india yang cukup terkenal, yaitu Vijayanagar, Chalukyan dan Hoysala. Masing-masing memiliki ciri khas sendiri. Keseluruhan arsitektur di Hampi mengikuti gaya Vijayanagar. Pahatannya biasanya besar, detil, namun penggambaran wajahnya tidak sehalus arsitektur Chalukyan atau Hoysala. Kuil bergaya Vijayanagar biasanya memiliki atap dan pilar pradakshina-patha atau lorong yang berliku. Atapnya berbentuk pyramid dan biasanya memiliki aksis barat-timur, dimana kuil akan menghadap ke arah timur. Kalyanamandapa merupakan salah satu gaya yang paling popular. Ditunjukan dengan pilar terbuka mandapa dan di bagian tengah dari ruangan terdapat semacam panggung kecil dengan beberapa anak tangganya.

Kuil Virupaksha merupakan kuil pertama yang membuat langkah saya terhenti. Saya mencapainya setelah menyebrang sungai dengan perahu kecil. Kuil yang masih aktif ini terletak ditengah wilayah yang disebut Hampi Bazaar. Hampi Bazaar sendiri sebuah area terbuka yang dipenuhi reruntuhan pilar di kiri-kanan. Sebagai kuil yang didedikasikan terhadap Virupaksha/Shiva, Dewa Kehancuran, kuil ini merupakan satu diantara lima kuil tertua di India. Kuil ini memiliki gerbang yang cukup lebar dan halaman yang cukup luas. Di sana-sini tampak beberapa peziarah sedang berdoa atau menjemur ornamen ziarahnya. Kuil ini biasanya ramai dikunjungi di bulan Desember, yang dipercaya sebagai saat dimana Pampa dinikahi oleh Shiva. Ritual dimulai dengan mandi di sungai Tungabhadra yang terletak di depan kuil sebelum peziarah memasuki kuil. Di dalam kuil ini konon terdapat sebuah patung sapi berkepala tiga, yang menggambarkan masa kini, masa lalu dan masa depan. Sayangnya saya tidak sempat melihatnya.

Karena saya mencapai Hampi cukup sore, maka sore itu ditutup dengan niat melihat matahari terbenam di atas bukit Hemakuta. Bukit ini tidak jauh dari Virupaksha. Hemakuta merupakan satu dari bukit tertinggi di Hampi, namun demikian bukit ini tidak curam dan di sana-sini terdapat reruntuhan kuil yang memberikan pemandangan skenik yang luar biasa indah. Saya menyempatkan melihat sekitar sebelum memilih tempat strategis untuk melihat senja nantinya. Tampak beberapa turis bule sudah duduk dengan manisnya di tempat yang sudah mereka pilih. Di lokasi bukit ini, tampak Sasivekalu Ganesha, sebuah patung Ganesha yang terpahat dalam ukuran kecil dengan pahatan ular yang melilit di daerah pingganya untuk melindungi daerah perutnya yang besar. Di balik patung ini terdapat pahatan seorang wanita yang memeluknya dari belakang, yang kemungkinan adalah ibunya, Parvati (istri dari Shiva) Tidak jauh dari patung ganesha kecil, terdapat kuil dengan patung Ganesha besar (Kadalekalu Ganesha). Reruntuhan di tempat ini memang mengundang decak kagum, sampai saya lupa di mana saya harus melihat senja saat itu. Pilihan saya akhirnya adalah duduk di bagian tepi dari bukit, di mana saya bisa melihat senja dan hutan yang berada di bawah tebing. Suatu lukisan yang kontras, namun sore saya saat itu tidak tergantikan dengan sore di belahan dunia manapun.

Kemegahan kuil Vittala sudah saya dengar sebelumnya, namun semuanya berbeda saat saya benar-benar berada di hadapannya di suatu pagi di Hampi. Tidak ada kata yang cukup untuk mendeskripsikan keindahan arsitekturnya. Kompleks kuil ini ditempuh dengan memakai kereta kecil. Memasuki lingkungan kuil, kita disambut dengan deretan pilar terbuka di kiri kanan. Saat gerbang kuil dimasuki, kita akan menemui halaman luas dengan ornamen padat berukir. Pesona Vishnu amat terihat di kompleks kuil ini, terutama di Mahamandapa yang merupakan bagian utama. Relief di pilar yang ada yang melukiskan keseluruhan Vishnu dalam bentuk sepuluh avatarnya, termasuk Krishna tentu saja. Setelah melewati bagian awal kompleks, perhatian kita akan tertuju pada sebuah struktur yang megah disebut stone chariot. Saya sendiri melihatnya seperti sebuah kotak musik. Tampak lambang Garuda mendominasi struktur ini; Garuda sendiri dalam legendanya merupakan kendaraan dari Vishnu, oleh karenanya chariot yang menghadap bagian kuil utama ini seakan sebuah pernyataan simbolik yang terpahat dengan indahnya. Secara garis besar, tema arsitektur kuil ini terbagi atas bagian militer, sipil, dan religius. Saya meneruskan langkah menyusuri bagian timur dari kompleks ini yang disebut eastern hall atau musicus hall. Yang membuat terpana adalah bangunan ini didirikan dan biasanya dipakai untuk tempat menari di zamannya. Setiap pilar dari bangunan ini dapat menimbulkan nada tertentu bila diketok dengan batang padat dan digunakan para pemusik saat itu unutk mengiringi tarian para penari. Pahatan pemusik, penarik dan singa yang bernama Yalis tampak mewarnai di dalam dinding bangunan ini. Sembari pemandu saya menjelaskan bagian dari kuil, saya yang tidak percaya mitos apapun seakan-akan bisa melihat gambaran semua cerita tentang Ramayana dalam perwujudan nyatanya. Cuma di Hampi, dan cuma Hampi yang bisa membuat saya seperti ini.

Bangunan berikutnya yang saya kunjungi dalam area Royal Citadel adalah Octagonal Water Pavilion yang mungkin dulunya merupakan tempat penampungan air. Saya termasuk pengagum stepwell di India dan berkelana untuk menjelajahinya. Octagon ini merupakan hal yang berbeda karena berada di tempat terbuka. Queen’s Bath merupakan struktur berbentuk persegi dengan eksterior yang sederhana dan memiliki kolam pemandian. Dinamakan seperti ini mungkin karena letaknya yang dekat dengan Royal Enclosure. Dipercaya bahwa bangunan ini dibangun raja Achyuta Raya yang sangat tertarik dengan olahraga air dan dipakai untuk pemandian bagi raja dan keluarganya. Tidak beberapa lama sampai juga saya di Royal Enclosure yang konon merupakan nukleus dari Hampi itu sendiri. Dengan area luas dan dikelilingi berlapis tembok, kompleks ini berisikan sekitar 45 buah bangunan di dalamnya. Kompleks ini memiliki dua pintu masuk di bagian utara dan satu buah di bagian barat. Pintu di bagian barat ini biasanya diperuntukan untuk keluarga istana saat itu. Memasuki kompleks dari bagian utara, kita akan disambut beberapa bangunan. Yang menarik perhatian saya tentu kolam bertangga yang kesimetrisannya di setiap segi sangat memukau. Tampak beberapa saluran air yang terhubung ke area ini. Kaki saya cukup lelah saat harus menanjak menaiki Mahanavami-dibba yang terdiri dari 3 tingkat. Bangunan ini dikenal sebagai “ruang kemenangan”. Bangunan kokoh ini dibangun di atas granit dan dihiasi dengan pahatan binatang, penari, pemusik serta kegiatan perburuan yang merepresentasikan keadaan masyarakat Vijanagara saat itu. King Audience Hall terletak tidak jauh dari Mahanavami. Menurut cerita masyarakat sekitar, di sinilah terdapat diskusi publik dan peradilan terjadi saat itu. Di sudut barat kompleks tampak sebuah kuil kecil bernama Hazara Rama yang didedikasikan untuk Vishnu dalam wujud Rama. Kuil ini terkenal dengan pahatan seribu wajah Rama di dindingnya. Langkah saya memasuki Lotus Mahal terhenti saat saya melihat struktur bangunan ini yang mengingatkan saya dengan bangunan Islam. Struktur ini merupakan perpaduan arsitektur India dan Islam dan dibangun di atas batu Adhisthana. Kubahnya didukung oleh 24 buah pilar dan bagian interiornya amat sederhana. Kubahnya tampak simetris dengan ukiran bermotif bunga. Keluar dari bangunan ini, kita memasuki wilayah elephant stables yang berbentuk memanjang dan memiliki 11 pintu dengan didominasi kubah berbentuk bundar dan memiliki pahatan lotus.

Malyavanta Hill
Malyavanta Hill.

Kuil Vitalla dengan "stone chariot"-nya
Kuil Vitalla dengan “stone chariot“-nya.

Sebuah kuil di Mahakuta Hill
Sebuah kuil di Mahakuta Hill.

Sambil berjalan kembali ke hotel, saya menyempatkan diri mengunjungi patung Lakshmi-Narasimha yang merupakan bangunan monolitik setinggi tujuh meter yang sangat memukau siapapun yang melihatnya. Patung ini memahat sebuah ikon yang disebut Narasimha yang bertangan empat walau keempat tangannya tampak hancur. Di belakangnya tampak sosok Sesha, sebuah naga berkepala tujuh. Awalnya, sebuah pahatan Lakshmi terdapat di pangkuan paha kiri Narasimha ini. Sebuah lingga yang cukup besar terletak tak jauh dari patung ini yang dasarnya diliputi air. Narasimha sendiri merupakan avatar ke-empat dari Vishnu. Digambarkan sebagai sosok setengah manusia dan setengah singa yang memiliki cakar. Dikenal sebagai pelindung terkuat bagi para pemujanya. Narasimha merupakan perlambang keberadaan Tuhan dimanapun dalam situasi seperti apapun. Salah seorang teman saya dari daerah selatan yang menyembahnya mengungkapkan begitu banyak kuil di wilayah Andhra Pradesh yang diperuntukkan untuk dewa ini.

Petualangan saya di Hampi ditutup dengan kunjungan saya ke sebuah kuil Vishnu di Malyavanta Hill dan Pattabhirama. Sedemikian banyak reruntuhan dan kuil di Hampi, hingga sulit saya tuangkan semuanya dalam bentuk tulisan. Hampi ini merupakan salah satu tempat terbaik di India yang patut dikunjungi siapapun, sebuah surga bagi para pemuja bangunan bersejarah ataupun bagi seorang penjelajah seperti saya. Tulisan saya hanyalah penggambaran secara luas tentang tempat ini. Hampi adalah sebuah tempat dimana setiap bebatuan dan reruntuhan di dalamnya berbicara dalam kesunyian dan untuk itu mereka tidak memerlukan sebuah pengakuan.

  • Disunting oleh SA 18/07/2013

Sebuah Puisi Tersembunyi di Madhya Pradesh

Embun itu masih ada, waktu kami beranjak pergi menuju Orchha yang letaknya cukup jauh dari Khajuraho. Masih bertempat di Madhya Pradesh, Orchha terletak 15 km dari stasiun kota Jhansi atau sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil dari khajuraho. Saya berharap keputusan yang saya ambil tepat untuk mengunjungi tempat ini mengingat tidak begitu banyak informasi yang saya peroleh dari internet sebelumnya.

“Orchha” artinya “tersembunyi”. Dan seperti arti dari namanya, semua hal yang ada di kota kecil ini memang seakan-akan “tersembunyi” dari sentuhan peradaban luar, menyepi di pinggir Sungai Betwa. Kota kuno yang seakan tertidur ini mengisahkan peradaban dinasti raja Bundela pada masa sekitar abad ke-15 di setiap sudut istana, benteng, dan kuilnya. Akibat letaknya yang memang tersembunyi di antara hutan yang mengelilinginya, kota ini bahkan terbebas dari sentuhan penjajahan kerajaan Mughal di masa itu.

Jahangir Mahal.
Jahangir Mahal.

Memasuki kota ini, tampak beberapa backpacker sedang lalu-lalang. Musim dingin memang waktu terbaik mengunjungi tempat ini. Di kiri-kanan jalan tampak beberapa usaha hostel kecil yang memasang tarif sekitar 750-1000 ruppee dan kafe-kafe kecil memasang promosi simbol Lonely Planet sebagai rekomendasinya.

Orchha Fort Complex adalah bangunan yang pertama kali menyambut saya saat menginjakkan kaki di kota ini. Di dalam kompleks ini, dapat ditemui istana Raaj Mahal. Adalah Rudra Pratap Singh dari dinasti Bundela yang membangun konstruksi awal dari Raaj Mahal walau akhirnya baru kelar dibangun di masa pemerintahan Bharti Chandra. Istana ini berdesain seperti bujur sangkar, namun terbagi menjadi dua sayap. Di satu sisi bangunan ini memiliki empat lantai dan di tiga sisi lainnya memiliki lima lantai. Raja Madhukar Shah-lah yang pada akhirnya menyempurnakan desain dari Raaj Mahal di akhir abad ke-16 setelah melakukan beberapa renovasi. Kombinasi arsitektur Hindu dan Islam amat kental terlihat di sini. Dinding istana Raaj Mahal ini sebagian melukiskan perjalanan hidup Rama dan Krishna, inkarnasi dewa Wisnu, sedangkan sebagian lain melukiskan kegiatan masyarakat seperti duel, berburu, menggambar, dan lain-lain.Kondisi istana ini sebenarnya cukup memprihatinkan, karena memang kurang dipelihara. Tampak sebagian lukisan di dinding yang koyak dan terhapus oleh waktu. Sebagian dinding lain dipenuhi coretan-coretan nakal pengunjung. Sayang sekali karena bangunan ini sangat kokoh dan indah secara historis.

Raaj Mahal.
Raaj Mahal.

Jehangir Mahal adalah bangunan kedua yang dapat ditemui dalam lokasi kompleks ini. Bangunan indah berlantai tiga dengan air mancur di tengah-tengahnya ini dibangun dan diperuntukan bagi raja Jehangir setiap beliau berkunjung ke Orchha dan merupakan simbol persahabatan Bundela dan Mughal. Area dalam bangunan ini amat gelap, dan tidak dianjurkan berfoto memakai ‘blitz’ karena dapat merusak lukisan di dinding yang ada. Hati-hati saat menaiki tangga, karena memang licin dan cukup curam. Pemandangan di atas balkon lantai atas memang sangat memukau dengan kabut yang mengelilingi bangunan ini. Di kejauhan tampak tempat penyimpanan kandang kuda raja dan Turkish bath serta kompleks kuil shiva Panchmukhi Mahadeva. Sudut mata saya menangkap sebuah bangunan dua lantai yang dinamakan Rai Praveen Mahal , dikelilingi oleh taman Anand Mahal di sekitarnya. Pemandu saya segera menjawab rasa keingintahuan saya dengan menjelaskan siapa Rai Praveen yang dimaksud ini. Lambat laun terungkaplah sebuah kisah cinta yang menyertai sosok ini. Praveen adalah seorang penari istana yang sangat terkenal kecantikan dan bakatnya bahkan dalam hal berpuisi, berkuda, dan memainkan alat musik. Selain sebagai penari, ia juga merupakan istri dari Raja Indrajit Singh yang memerintah di abad ke-16. Bangunan Praveen Mahal ini dibangun olehnya sebagai lambang cintanya terhadap Rai Praveen. Lukisan di dinding melukiskan Rai Praveen dalam berbagai gaya dan ungkapan emosi. Sedemikian tersohornya kabar kecantikan Rai Praveen, sehingga menarik perhatian raja Jehangir dari Mughal untuk memperisterinya dan menaruhnya di harem. Saat itu Indrajit sangat tidak berdaya, sehingga Rai Praveen akhirnya mendatangi sendiri istana Mughal untuk menemui Jehangir demi menyelamatkan Orchha. Pada kesempatan itu Praveen mengungkapkan isi hatinya dalam puisi. Puisi itu menggambarkan bahwa ia hanyalah seorang kasta terendah dalam Hindu. Raja Jehangir yang memang seorang yang bijak dapat menangkap kegelisahan Rai Praveen dalam puisinya. Ia pun menghargai keinginan Praveen dan membiarkannya kembali ke Orchha dengan penuh rasa hormat. Raj Praveen Mahal akhirnya bukan hanya sebuah monumen belaka, namun perwujudan kesetiaan seorang isteri terhadap suaminya.

Rai Praveen Mahal.
Rai Praveen Mahal.

Kisah cinta Praveen tidak menghentikan langkah saya menyusuri kompleks ini lebih lanjut. Sheesh Mahal adalah bangunan yang masih merupakan bagian dari Jehangir Mahal yang sudah berubah fungsi menjadi hotel. Wow, ada hotel di dalam sebuah benteng, saya tidak dapat membayangkan sensasinya seperti apa bermalam di sana. Kuil Raja Ram Nadir merupakan satu-satunya kuil yang menyembah Ram sebagai raja. Raja Madhukar Singh terkenal sebagai pemuja Krishna, sedangkan istrinya Ganeshi Bai sangat memuja Ram. Lagi-lagi pemandu saya membuai saya dengan legenda mengenai asal muasal nama tempat ini. Alkisah Madhukar Singh sering meledek dan membujuk istrinya untuk juga menyembah Krishna. Hal ini berbuah pertengkaran yang menyebabkan sang istri diam-diam pergi ke Ayodhya untuk menemui Ram dan dibawa ke Orchha. Sesampai di Ayodhya, Ram bersedia ikut dengannya namun mengajukan tiga persyaratan. Pertama, ia bersedia pergi ke Orchha dalam bentuk bayi. Kedua, sesampainya di Orchha, ia akan menjadi raja di sana. Dan terakhir bila muncul Pushya Nakshatra (zodiak ke-9 dari 27 zodiak dlm astrologi Hindu), ia akan selamanya bersemayam di tempat ia berada. Ratu tentu saja mengiyakan semua persyaratan ini dan dengan gembira membawa Ram ke Orchha. Sementara itu Madhukar bermimpi tentang Krishna yang menyuruh dirinya untuk tidak membeda-bedakan antara dirinya dan Ram, oleh karena kedua sosok ini sebenarnya adalah perwujudan yang sama. Setelah sang ratu kembali, Madhukar menghadiahinya berbagai hal sebagai wujud permintaan maaf. Hal ini ditolak mentah-mentah oleh ratu yang memilih berdiam di dalam kamarnyadi dalam istana sambil berniat akan membawa bayi Ram ke Chatturbuj keesokan harinya. Namun ternyata takdir berkata lain. Malam itu terjadilah Pushya Nakshatra, sehingga bayi Ram pun bertransformasi dan melebur ke dalam sosok istana. Sebagai janji ratu pada Ram, istana tersebut akhirnya dinamakan Ram Raj Nadir, sebuah istana dan sebuah kuil yang memuja Ram.

Chaturbhuj Monastery of Orchha.
Chaturbhuj Monastery of Orccha.

Chaturbhuj Monastery Orchha yang terletak di kawasan sebelah barat ini sudah menarik perhatian saya semenjak datang. Sosoknya yang tinggi menjulang di atas bukit mengingatkan saya akan salah satu gereja katedral bergaya Eropa di Goa. Amatlah kaget waktu saya mengetahui bahwa ini adalah sebuah kuil Hindu yang awalnya diperuntukan untuk “menyimpan” Dewa Ram. Arti kata Chaturbhuj adalah seseorang berlengan empat, yang tentu saja merefleksikan Dewa Wisnu. Bangunan batu ini tampak sepi dari ornamen, kecuali tampak gambaran lotus yang terbenam di bagian eksteriornya. Untuk memasukinya, kita harus menaiki beberapa rangkaian anak tangga namun tidak terjal. Bangunan ini memang sangat unik dengan menara yang berbentuk lancip selayaknya gereja. Senter amat diperlukan karena pada siang haripun area dalam bangunan gelap dan tampak kotoran kelewar di sana-sini. Menilik arsitekturnya yang berbeda, amat pantas bila bangunan ini adalah sosok perhatian utama dibanding bangunan lain di Orchha.

Raaj Mahal.
Raaj Mahal.

Kuil Lakshmi Narayan merupakan bangunan unik yang merupakan perpaduan antara benteng dan kuil dan keharmonisan gaya Bundela dan Mughal. Dindingnya secara rapi tertata lukisan yang indah. Bangunan ini didedikasikan untuk menyembah dewi Lakshmi, walau hingga kini tidak spesifik Dewa mana yang disembah di sini.

Orchha juga dikelilingi bangunan seperti kuil kecil yang disebut chhatris yang terletak di sepanjang sungai Betwan. Bangunan ini berjumlah sekitar 14 buah dan merupakan bangunan dasar dari arsitektur Hindu dengan gaya Mughal. Namun demikian, di balik sosoknya yang berwarna kecoklatan dengan atap runcingnya, keberadaannya di balik kabut dan refleksinya pada permukaan air menambah sisi melankolis dari sungai Betwan itu sendiri.

Satu hal yang saya sadari dari akhir perjalanan ini adalah bahwa Orchha bukanlah kumpulan arsitektur bangunan kuno belaka, namun sebuah kota yang setiap dindingnya punya cerita; yang setiap lukisannya merefleksikan sebuah budaya dimana dongeng tentang persahabatan, cinta, pengorbanan, pengkhianatan, dan mitos seakan bersuara dari setiap sudut monumen yang ada…

  • Disunting oleh SA 20/02/2012

Menelusuri Seni Bercinta di Kuil Khajuraho

Siapapun pasti pernah mendengar tentang Kama Sutra dari India, bukan? Kama Sutra merupakan turunan dari bahasa Sanskrit yang berarti seni bercinta, ditulis secara indah oleh Vatsyayana. Konon, Kama Sutra ini pertama kali disebarkan oleh Nandi, seekor sapi keramat penjaga dari Dewa Shiva saat ia mencuri dengar Shiva ketika sedang berhubungan seksual dengan istrinya Parvati.

Saya yang memang sangat tertarik dengan keindahan budaya India sangat penasaran dengan Kama Sutra ini. Dulu saya memang pernah mendengar adanya kuil Kama Sutra di India, tapi memang tidak terpikir akan mencarinya. Dari pencarian melalui internet, saya menemukan bahwa relief Kama Sutra bisa ditemukan di dua tempat di India, yaitu di kuil Khajuraho, Madhya Pradesh dan Konark di Orissa. Saya memutuskan mengunjungi Khajuraho dulu, karena Orissa relatif lebih dekat dari Mumbai jadi bisa saya kunjungi kapan pun.

Dimulailah “perjalanan cinta” saya mengunjungi kuil Khajuraho ini. Untuk menuju Khajuraho, saya naik kereta ekspres dari Mumbai. Kebetulan saya pergi saat musim dingin, menjelang natal dan memang di bulan Desember, India daerah utara memang sangat ekstrim dinginnya, hingga empat sampai lima derajat Celcius di pagi dan malam hari. Walau namanya ekspres, tetap saya perjalanan kereta sekitar 26 jam. Keretanya lumayan nyaman, dengan biaya sekitar 1000 rupee (sekitar Rp176.000). Kompartemen 2-tier sleeper class memang pilihan terbaik mengingat perjalanan yang cukup panjang. Jhansi adalah stasiun terakhir dari perjalanan kereta saya. Sebuah mobil lalu menjemput saya untuk diantar ke Khajuraho. Saya yang tadinya sudah sangat lelah kembali segar bugar saat menikmati perjalanan berpemandangan indah sepanjang jalur Jhansi-Khajuraho yang memakan waktu 3 jam. Di kiri dan kanan jalan terbentang persawahan, di sana-sini terdapat kuil-kuil kecil kuno. Terasa seperti kembali ke masa lalu.

Kuil Lakhsmana.
Kuil Lakshmana.

Khajuraho ternyata adalah sebuah kota kecil di distrik Chattarpur, Madhya Pradesh. Kota ini memiliki sekitar 85 kuil, walau hanya 25 yang terpelihara. Pagi itu begitu cerah saat kami memasuki kota ini. Hotel bintang tiga yang kami pesan memang terletak di sekitar kuil Khajuraho yang akan kami kunjungi. Di sekitar kompleks ini banyak sekali hotel bintang tiga dan guesthouse dengan tarif 500-1000 rupee/malam. Untuk memasuki kawasan monument kuil Khajuraho, turis asing membayar 250 rupee yang merupakan harga standar setiap UNESCO Heritage Site di India, sedangkan penduduk lokal hanya membayar 10 rupee.

Seni yang mengagumkan, itu adalah kata pertama yang muncul di benak saya pertama kali melihatnya. Saya sudah melihatnya beberapa kali di internet, tapi melihat kuil ini secara nyata memang luar biasa. Nama Khajuraho berasal dari kata “Kharjuravahaka“, yang berarti “seseorang yang membawa kurma”. Namun demikian, seseorang yang lama tinggal di India pasti tahu “khaju” yang artinya cashew atau kacang mete/biji jambu monyet. Konon, awalnya dinamakan demikian karena saat itu di kompleks monumen ini banyak barisan pohon khaju. Kompleks monumen khajuraho terbagi wilayahnya menjadi barat, timur dan selatan. Dari semuanya, barat adalah yang paling utama. Keseluruhan kuil di kompleks monumen Khajuraho memiliki kesatuan desain yang mendasar. Kuil-kuil ini umumnya terbuat dari sandstones yang berasal dari Panna atau Sungai Ken yang direkatkan satu sama lain dengan memakai konsep mortise dan tenon joint. Beberapa kuil seperti Brahma dan Lalguan-Mahadeva terbuat dari granit.

Kejayaan kultur dinasti Chandella yang memerintah India sekitar abad 9-13 SM terurai dengan adanya keberadaan kuil Khajuraho ini, saat ia “ditemukan” kembali oleh arsitek Inggris bernama T.S. Burt di tahun 1838.

Berpose di salah satu kuil.
Berpose di salah satu kuil.

Kuil-kuil di Khajuraho memiliki konsep pahatan erotis yang sangat indah dan detil. Kuil-kuil ini sendiri kebanyakan didedikasikan ke dewa Shiva, Vaishnava dan Jaina. Keseluruhan ruang di dalam kuil terhubungkan secara eksternal dan internal, sebagai satu aksis dari timur ke barat, sehingga merupakan konsep ruang yang terstruktur. Elemen utama tiap kuil adalah “ardha-mandapa” (pintu masuk), “mandapa” (hall), “antrala” (pintu masuk tempat pemujaan), dan “garbha griha” (tempat pemujaan). Atap-atap kuil Khajuraho sangat tinggi dan berundak-undak berbentuk piramida. Interior di dalam kuil memperlihatkan detil dekorarif yang sangat luar biasa, dari mulai pilar, dinding, lantai, hingga plafon. Motif gemotris dan bunga banyak dipakai di sini dan menunjukan tingkat keahlian pahat yang tinggi.

Pahatan-pahatan relief di kompleks monumen ini bisa terbagi menjadi lima bagian secara umum, Pertama adalah pahatan dewa-dewa, kedua adalah keluarga dari dewa-dewa ini, ketiga adalah dewi-dewi yang biasanya memakai pakaian dan perhiasan yang indah dalam berbagai pose sedang menari, keempat tentang hal-hal umum seperti guru, penari, dan beberapa pasangan yang sedang bercinta, dan kelima adalah hewan-hewan dalam mitos agama Hindu termasuk Vyala, suatu monster berwujud singa.

Detil pahatan.
Detil pahatan.

Pahatan erotis di Khajuraho memang membuat kita sulit melepaskan diri dari pandangan. Struktur ini membawa kita ke interpretasi yang berbeda-beda. Beberapa merasa bahwa ini adalah suatu kemunduran moral, sedangkan yang lain menghargainya sebagai ilustrasi dari seluruh postur erotis dari kitab kuno Kama Sutra. Seluruh posisi bercinta ada di sini, dengan satu atau lebih pasangan, bahkan dengan binatang (baca: kuda). Saya kaget mendengar ini, pemandu saya justru bilang itu wajar karena kalau raja berperang, dia akan terpisah dari istrinya selama berbulan-bulan. Jadi tidak ada ratu, kuda pun jadi.

Pahatan ini juga menunjukan adanya seni bercinta di saat zaman India kuno yang sarat dengan penggabungan ritual simbolik, yoga (latihan spiritual), bhoga (kenikmatan fisik), hingga tercapai kepuasan yang hakiki. Sangat bisa dimengerti bahwa saat itu mereka tidak tabu terhadap seks, sehingga cukup bebas mengeksplornya, mengingat Kama atau kenikmatan seksual adalah satu dari empat tujuan hidup sesuai kitab kuno.

Kandariya-Mahadeva adalah kuil terbesar yang cukup menyolok keberadaannya di kompleks kuil di barat ini dan merupakan kuil yang memiliki keseluruhan konsep elemen utama. Dengan tinggi sekitar 30 meter dengan desain yang simetris dan proporsional, kuil ini sangat indah. Pahatan di kuil ini tampak lebih tinggi dan langsing, namun konturnya lebih halus. Di dalam kuil Varaha, bisa ditemui struktur Varaha yang merupakan salah satu dari bentuk inkarnasi dewa Vishnu. Menariknya, menurut mitos, Vishnu menyelamatkan bumi dari banjir dengan meletakkannya di atas moncongnya. Sebaliknya, struktur Nandi setinggi 1,8 meter bisa ditemui di dalam kuil Visvanatha. Nandi merupakan kendaraan dari Dewa Shiva. Chitragupta adalah satu-satunya kuil di kompleks ini yang didedikasikan untuk Surya, dewa matahari. Beberapa reliefnya memperlihatkan aksi gajah sedang berperang atau aktivitas berburu lainnya. Totalnya ada 11 kuil dalam kompleks bagian barat. Tidak ada tradisi tertentu, hanya tiap hendak memasuki kuil harus melepas alas kaki dan dilarang mengabdikan foto dari Vyala. Jangan kaget bila kadang turis lokal ingin mengajak berfoto bersama, hal ini biasa terjadi di India.

Kuil Jain.
Kuil Jain.

Di kompleks bagian timur terdapat tiga kuil Brahma dan tiga kuil Jain, sedangkan bagian selatan memiliki dua kuil, bisa dicapai dengan sepeda atau mobil dalam waktu 20 menit dari kompleks kuil bagian barat. Kuil-kuil di kompleks timur dan selatan ini lebih sederhana desain pahatannya. Walau disebut kuil Brahma, kuil-kuil ini ternyata didedikasikan untuk Dewa Vishnu. Yang menarik waktu saya melihat pahatan di kuil Chaturbuja yang justru menunjukan hubungan monogami dewa dengan dewi pasangannya, seperti Shiva dengan Parvati atau Vishnu dengan Lakshmi. Chaturbuja di bagian selatan adalah satu-satunya kuil tanpa pahatan erotis di Khajuraho.

Puas menjelajah kompleks monumen Khajuraho, kita bisa menikmati jajanan sekitar kompleks. Di tempat ini banyak restoran lokal dengan harga sangat murah dan enak, beberapa yang saya coba adalah Raja’s Café, Bamboori Treat dan Paradise yang juga direkomendasikan di banyak situs. Restoran-restoran ini beberapa memiliki view ke arah monumen, jadi bisa dibayangkan anda sedang makan malam sambil menatap kuil Khajuraho di bawah sinar lampu di kejauhan. Khajuraho juga memiliki acara light and sound yang diselenggarakan tiap malam di kompleks kuil. Bisa dicoba tapi disarankan jangan lupa memakai lotion anti-nyamuk! Untuk belanja oleh-oleh, toko kerajinan tangan tersebar di sini, namun harus pandai menawar memang. Saya membeli oleh-oleh gantungan kunci bergambar pahatan erotis untuk teman-teman.

Perjalanan saya pun berakhir setelah menghabiskan tiga hari di Khajuraho. Amatlah benar bila tempat ini termasuk dalam buku “1000 Places You Must Visit Before You Die“. Seluruh kata-kata yang saya tulis di atas ini rasanya tidak pernah cukup untuk merangkum keindahannya. Simply beautiful, that’s it!

  • Disunting oleh SA 19/12/2012

© 2017 Ransel Kecil