Artikel-artikel yang ditulis oleh Nina Irawati (halaman 1 dari 2)

Taj Mahal: Sebuah Memorial Cinta atau Kuil Bagi Shiva?

Kemegahan Taj Mahal
Kemegahan Taj Mahal.

Di antara sekian banyak warisan UNESCO di India, Taj Mahal merupakan destinasi utama yang biasanya menjadi niat awal para turis mengunjungi negara ini. Namanya muncul lebih dari 42 ribu kali bila kita memasukan kata kunci ini di kotak pencarian Google. Berbagai ulasan di beberapa situs wisata mengenai tempat ini banyak mengungkap keindahannya yang mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya dan dibuktikan dengan adanya pengunjung yang dapat mencapai sekitar 45 ribu per hari.

Menulis tentang Taj Mahal ternyata lebih sulit daripada menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Taj Mahal adalah salah satu monumen di India yang tidak mampu dideskripsikan keindahannya melalui torehan pena. Mengunjungi Taj kali kedua ini, saya bermaksud membuktikan semua kontroversinya yang pernah marak beberapa tahun lalu. Entahlah, kisah cinta yang melatarbelakangi pembuatan monumen ini yang selalu didengung-dengungkan menurut saya masih “kurang cukup” sebagai alasan pembuatannya.

Berlokasi di Agra yang merupakan bagian utara dari Uttar Pradesh, di pinggir sungai Yamuna, Taj Mahal konon dibangun pada tahun 1631 oleh Shah Jahan, seorang raja dari dinasti Mughal sebagai bentuk cinta kasihnya terhadap istri ketiganya yang bernama Mumtaz ul-Zamani. Mumtaz sendiri diceritakan meninggal dunia saat melahirkan anak ke-14 nya. Bagian utama mausoleum selesai pada tahun 1648, sedangkan lima tahun berikutnya daerah taman dan bangunan lainnya baru dapat diselesaikan. Taj Mahal sendiri merupakan gabungan dari arsitektur Mughal dan Persia, dan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan dari penjuru dunia lainnya, misalnya Afganistan, Arab, Bangladesh, Sri Lanka, Cina, dan lainnya. Marmer putih merupakan bahan utama dalam pendirian bangunan megah ini selain berbagai jenis batu berharga lainnya dan konon diperoleh dari daerah Makrana, Rajashtan. Dua puluh ribu buruh bekerja siang-malam selama 22 tahun untuk membangun Taj yang megah ini.

Agra dapat dicapai dengan menggunakan kereta api, bis ataupun pesawat dari kota-kota besar di India. Perjalanan kereta api dari New Delhi sekitar dua jam saja.

Darwaza i-rauja dengan pasak berjumlah 11
Darwaza i-rauja dengan pasak berjumlah 11.

Memasuki Taj Mahal, pengunjung lokal akan dikenai biaya 10 rupee (kecuali kunjungan malam 510 rupee), sedangkan turis asing 750 rupee, tiga kali lipat bila dibandingkan tempat peninggalan UNESCO lainnya. Barang-barang elektronik, rokok, korek api, dan bahkan makanan atau minuman tidak diperkenankan untuk dibawa. Sebagai gantinya, pengunjung akan mendapatkan satu botol air mineral setelah membayar tiket masuk. Pengamanan saat memasuki Taj Mahal hampir serupa di bandara. Wajar saja, mengingat beberapa kali monumen ini diancam akan dibom oleh teroris. Bagi para fotografer, pemakaian tripod tidak diperkenankan (percayalah, saya tidak pernah mengerti alasannya) dan harus ditinggal di bagian sekuriti. Kotak deposit disewakan di bagian sekuriti dengan biaya 20 rupee saja. Namun saran saya, sejak awal, hanya membawa tas tangan berisikan kacamata hitam, dompet, hp dan kamera saja untuk menghindari masalah dengan sekuriti ini. Taj Mahal dapat dikunjungi kapanpun, kecuali hari Jumat. Tidak disarankan datang saat musim panas, karena temperaturnya biasa mencapai 50 derajat.

Darwaza-i Rauza merupakan pintu gerbang utama yang akan kita temui sesaat sebelum memasuki area utama Taj Mahal. Dari gerbang ini dapat dilihat kekuatan arsitektur Mughal yang seirama dengan tulisan kaligrafi yang terlukis di dinding Taj Mahal nantinya.

Setelah itu, kita akan disambut dengan taman Mughal seluas 300m. Taman ini terbagi empat dengan adanya air mancur dan sepasang jalan setapak. Konon taman ini merupakan penggambaran dari lukisan tentang surga yang memiliki 4 sungai yang mengalir di dalamnya. Desainnya simetris sedemikian rupa bagaikan bayangan pada kaca dan semua mengarah ke mausoleum. Terdapat kolam berbentuk oktagonal di pertengahan taman yang dapat menunjukkan refleksi Taj di dalam air. Hingga kini, taman ini merupakan area yang menjadi tempat bagi para pengunjung untuk mengabdikan momen di Taj Mahal dengan kameranya atau sekedar duduk-duduk menikmati keindahan taman yang cukup teduh. Di pertengahan taman terdapat sebuah bangku marmer yang biasanya menjadi tempat bagi para pengunjung untuk berfoto dengan gaya seperti sedang “menjepit” bagian kubah dari Taj Mahal. Bangku ini merupakan bangku yang sama yang diduduki Ratu Diana saat berfoto di depan Taj Mahal.

Di penghujung taman, menjulanglah sosok bangunan utama dari komplek ini yaitu daerah mausoleum yang berbentuk struktur oktagonal simetris dengan empat buah pintu masuk berbentuk lengkung busur. Bangunan marmer putih ini ditaburi arsitektur campuran Persia dan Hindustani. Di sana-sini tampak berbagai pahatan dekoratif dan bunga lotus. Kaligrafi Qur’an mewarnai dinding dengan torehan surat Ya Sin, Al Fajr, AL Ikhlas, dan lain-lain.

Keempat menara (chattris) yang juga berbentuk simetris berada di sekeliling mausoleum ini. Nampak pula kedua makam dari Mumtaz. Di sinilah pemandu tur biasanya akan membuai Anda dengan kisah cinta sang raja yang telah jatuh cinta pertama kali pada Mumtaz saat melihatnya dari balik dinding istana semenjak usia 15 tahun. Mumtaz digambarkan sedemikian cantiknya, yang bahkan diungkapkan dengan untaian baris kata, “even the moon feels shy to hit her face“. Di kanan dan kiri mausoleum ini terdapat bangunan yang hampir sama miripnya satu sama lain, terbuat dari batu pasir merah, dimana yang satu diperuntukan untuk mausoleum kedua istri Shah Jahan lainnya dan yang satunya sebagai makam pembantu kesayangan Mumtaz itu sendiri. Di penghujung kompleks ini sendiri terdapat dua bangunan lainnya, yang digunakan sebagai masjid dan guest house. Desain masjid ini hampir sama dengan desain Jama Masjid di Delhi yang juga dibangun Shah Jahan. Tampak struktur lain yang lebih kecil yang konon merupakan music house di zamannya dan kini dijadikan museum.

Keindahan Taj selain menimbulkan decak kagum, namun juga berbagai mitos dan kontroversi turut berjalan mengiringinya. Adalah P.N. Oak, seorang penulis dari India yang memperdalam mitologi, mengungkap “cerita sesungguhnya” dari Taj Mahal melalui bukunya pada tahun 2001. Sedemikian kuatnya kontroversi ini sehingga pemerintah India melarang pencetakan buku dan bahkan mengancam para penerbit yang berusaha mencetak ulang. Cerita P.N. Oak inilah yang membawa saya kembali mengunjungi Taj setelah bertahun-tahun larut dengan kisah cinta dari tempat ini, yang mestinya dibangun dengan alasan lebih dari sekedar cinta di baliknya. Bagi saya sendiri, semua monumen di India memiliki cerita yang cukup unik untuk ditelusuri.

Opini mengenai Taj awalnya adalah sebuah kuil Shiva diawali dengan kerancuan arti dari nama Taj itu sendiri. Seperti kita telah tahu bahwa pada kata Mumtaz, terdapat lafal Taz dan bukan Taj. Mahal sendiri dapat diartikan sebagai istana; bukan mausoleum atau makam. Nama Taj Mahal sendiri tidak pernah muncul dalam beberapa pencatatan selama dinasti Shah Jahan atau anaknya, Aurangzeb. Padahal dengan jumlah buruh sedemikian banyak dan modal uang yang sedemikian besar untuk membangunnya, sewajarnya terdapat pencatatan mengenai hal ini. Nama Taj ini bahkan justru lebih sering disebutkan dengan kata Tejo Mahalaya, yang menunjukan sebagai nama kuil Hindu bagi Shiva. Aurangzeb yang memang terkenal anti-hIndu bahkan lebih sering menyebutnya sebagai tempat suci.

Di India, konon pernah disebutkan adanya 12 jyotirlingas (lambang Shiva yang utama) dan dikatakan yang terbesar dan terakhir berada di Taj dalam bentuk Naganathesawar; di mana Shiva berada dalam relung ular kobra. Struktur ini yang diprediksi tertimbun di bawah makam “palsu” dari Mumtaz di areal Taj. Agra sendiri sebagai kota Shiva memiliki ritual dan kepercayaan kuno yang telah berlangsung berabad tahun lamanya. Kepercayaan Agra juga menunjukkan bahwa kota ini memiliki lima patung Shiva, yang hingga kini baru ditemukan empat di antaranya, oleh karena di Taj Mahal-lah patung shiva kelima ini konon berada.

P.N. Oak juga menuturkan berbagai bukti lainnya, misalnya kadar karbon-14 pintu sisi timur Taj yang ternyata berusia 500 tahun sebelum masa pemerintahan Shah Jahan dan hilangnya struktur gajah yang pernah disebutkan oleh turis asing yang pernah mengunjungi Taj pada masa 1700 an. Tidak diketahuinya secara jelas kapan Mumtaz sebenarnya meninggal dunia, kapan Taj didirikan, dan kenyataan bahwa Shah Jahan memiliki lebih dari 5000 wanita di haremnya membuat motif pembuatan Taj berdasar cinta semata rasanya terlalu dipaksakan.

Langkah kaki saya berusaha menyelami bukti arsitektur Taj sebagai kuil Hindu yang konon merupakan rampasan perang dari seorang Raja Rajput bernama Jaisingh dari Jaipur. Di awali dengan gerbang utama, maka dapat dilihat motif seperti kubah atau mangkuk terbalik selalu berjumlah ganjil, yaitu 11, dimana hal ini merupakan kepercayaan dalam Hindu. Memasuki daerah makam yang octagonal. Oktagonal merupakan bangunan bergaya Hindu, karena Hindu sendiri memiliki arti 8 arah mata angin. Keempat menara yang ada di sekililing bangunan utama juga merupakan arsitektur Hindu, karena menara (minaret) dalam bangunan Muslim umumnya berada pada bahu bangunan utama, sedangkan pada Hindu berdiri dari bagian lantainya. Ornamen lotus yang menghiasi di seluruh dinding Taj Mahal jelas bukan menampilkan ciri Islam, karena memang lotus merupakan lambang dari Hindu. Hal ini makin diperkuat oleh adanya lambang Trident yang tersembunyi di antara struktur lotus ini. Trident ini sendiri merupakan lambang dari dewa Shiva. Pada bagian atap dari kubah Taj, tampak lambang yang sering disalahartikan sebagai lambang bulan sabit dan bintang. Namun bila diperhatikan secara awas, maka lambang ini membentuk kalash (pot sesembahan) dan kemudian buah kelapa dan dua buah daun mangga yang jelas merupakan ciri persembahan pemeluk Hindu bagi Dewanya. Tampak di sana-sini motif ular menghiasi dinding Taj, sebuah struktur yang tidak mungkin ada di bangunan Muslim di belahan dunia manapun.

Bila kita memperhatikan dengan seksama, saat kita memasuki bangunan utama Taj, maka dapat terlihat bahwa Taj sebenarnya tidak hanya memiliki satu lantai. Taj sendiri ternyata memiliki tujuh lantai dengan jumlah ruangan hingga 1.000 buah, sebuah kenyataan yang rasanya tidak pas dengan sebutan moumen untuk sebuah makam. Lantai paling dasar yang berada di bawah permukaan air sungai (ciri dari bangunan kuno Hindu) terkubur dalam pintu batu bata. Konon di lantai inilah beberapa patung dewa Hindu ditempatkan di sana. P.N. Oak menuturkan bahwa Taj didirikan di pinggir sungai atau pantai, suatu kekhasan dari kuil Hindu yang memang selalu mendirikan bangunan kuilnya di dekat sungai dan menghadap ke arah Timur.

Mumtaz sendiri meninggal di Bushnapur dan makamnya hingga kini masih terdapat utuh di sana. Maka dipertanyakanlah keberadaan kedua makam di dalam Taj dan mengapa satu makam terletak lebih tinggi dibanding makam yang lain. Apakah bagian tubuh Mumtaz terbelah dua? PN Oak menuliskan bahwa makam ini seakan dibuat untuk menutupi “sesuatu”. Di bagian depan makam akan kita dapati lantai datar tanpa ornamen yang konon awalnya merupakan tempat patung Nandi (sapi) yang memang biasa terletak berhadapan dengan dewa Shiva di setiap bagian depan altar kuil Hindu. Music House yang berada dalam kompleks makin menunjukkan bahwa bangunan ini bukan merupakan bangunan Muslim, karena memang hanya di Hindu terdapat ruang ini untuk mengakomondasi para pemeluknya bernyanyi saat beribadah.

Perjalanan saya ke Taj kali ini tidak membuat saya terjebak dalam opini kontroversi tentang asal muasal Taj. Keindahan bangunan yang dengan seluruh kisah masa lalunya mestinya tidak perlu diperdebatkan. Sebuah bangunan yang membuat India merasa bangga memilikinya sebagai warisan kunonya. Amatlah wajar apabila memang benar Shah Jahan merubah kuil Hindu sebagai bukti kekuasaannya yang telah menang terhadap raja di Rajashtan. Shah Jahan sendiri nampaknya tidak berniat untuk memperoleh kredit atas pendirian Taj. Oleh karenanya struktur awal Taj dirombak dan bagian emas serta batu berlian lainnya dipindahkan dan kaligrafi Quran ditorehkan, hanya agar struktur ini tidak kembali direbut oleh Raja Rajput. Mungkin itulah alasannya mengapa bangunan ini tidak tercatat pendiriannya. Entahlah.

Memandang Taj di kejauhan, maka yang tertinggal hanyalah decak kekaguman dan haru akan suatu monumen megah di pinggir sungai suci Yamuna, yang punya cerita cinta yang sangat besar sebagai latar belakangnya. Sebuah cerita cinta seorang raja terhadap ratu yang paling dikasihinya atau cerita cinta pemeluk Hindu terhadap dewa Shivanya…

Let the splendor of the diamond, pearl and ruby vanish like the magic shimmer of the rainbow. Only let this one teardrop, the Taj Mahal, glisten spotlessly bright on the cheek of time…
(Rabindranath Tagore)

Sepenggal Kisah Fotografer dari Siem Reap

Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.
Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.

Pilihanlah mempertemukan saya dengan seorang Kimleng Sang, dan oleh karenanya saya sama sekali tidak merasa menyesal.

Selesai menjelajah India, saya selalu terpikir untuk menjelajahi Kamboja, tepatnya untuk melihat Angkor Wat yang sangat tersohor itu, walau agak ragu. Jujur saja, sejak awal saya memang tidak terlalu menyukai kuil Buddha yang menurut saya terlalu biasa bila dibandingkan dengan kuil Hindu. Namun demikian, ingatan mengenai film Tomb Rider memang sudah terpatri sedemikian rupa, sehingga cukup untuk menggeret langkah saya untuk terbang ke sana.

Perkenalan saya dengan Kim diawali dengan rangkaian pencarian akan seorang pemandu tur di Siem Reap. Bagi saya ini penting, karena saya memang berkelana seorang diri. Beberapa nama telah saya kantongi dan setelah membaca serta menelusuri lebih lanjut, saya memutuskan untuk menghubungi Kim melalui email. Gayung bersambut, Kim bersedia untuk memandu saya selama dua hari untuk melihat seluruh kompleks Angkor dan mengabadikannya dengan kamera.

Kimleng berpose di salah satu kuil.
Kimleng berpose di salah satu kuil.

Angkor Wat.
Angkor Wat.

Angkor Wat dan danau kecil di depannya.
Angkor Wat dan danau kecil di depannya.

Hari itu pun tiba. Kim dengan sabar telah menunggu saya di lobi hotel sejak pukul delapan pagi sesuai dengan rencana sebelumnya. Tuk-tuk miliknya tampak bersih beralas selembar kain putih pada joknya. Saya pun duduk dengan nyamannya. Caranya mengendarai pun amat hati-hati sambil tidak lupa berhenti untuk menunjukkan tempat-tempat yang layak untuk difoto.

Kim bukan hanya supir tuk-tuk, namun juga fotografer. Nikon D5000-nya setia berada dalam gendongan bahu kanannya sambil menemani saya menyusuri keseluruhan kompleks Angkor Wat. Dengan sabar ia akan membantu memperbaiki kualitas foto saya dengan mengganti pengaturan kamera Nikon D1700 yang saya bawa. Di beberapa tempat yang memerlukan lensa wide angle dan saya tidak memilikinya, ia akan meminjamkannya dengan senang hati. Saya yang penasaran akan isi tas ranselnya, semakin kaget sewaktu mengetahui ia membawa beberapa lensa, pembersih lensa, tripod dan bahkan perlengkapan untuk melindungi kamera bila hujan. “Supaya Madam bisa motret dengan nyaman”, ujarnya perlahan. Tak lama ia pun menawarkan handuk dan air mineral dingin. Usut demi usut rupanya Kim memiliki semacam kotak pendingin kecil di dalam tuk-tuknya.

Kim sangat mengenal seluk-beluk daerah Angkor Wat dan tepatnya mengetahui tempat-tempat terbaik untuk fotografi. Hal terakhir ini yang membedakannya dengan pemandu lain, apalagi bagi saya yang memang sengaja datang untuk memotret (dan dipotret sebagai bonusnya). Kompleks Angkor yang sangat ramai itu hampir tidak pernah terekam dalam hasil bidikan saya. Kim tahu kapan persisnya kami harus berada agar terhindar dari kerumunan. Bayangkan, dalam keramaian di kuil Bayon pun, kami mengetahui jalan setapak yang memisahkan kami dari pengunjung lain. Kim pula yang dapat membuat saya menempuh jalan berlumpur, memanjat reruntuhan, melompat sana-sini untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal. Semut-semut manis yang menggerogoti kaki kami tidak digubrisnya. Saya tidak hanya memerlukan jasanya untuk menjelaskan sejarah bangunan yang kami kunjungi, namun juga ‘mata’ fotografer yang dimilikinya. Kami dapat berlama-lama memotret reruntuhan kuil yang berlumut, karena kami terbuai akan kekontrasan warnanya. Sebagai gantinya, tidak jarang Nikon milik saya berpindah ke tangannya, agar saya dapat diabadikan dengan leluasa. Kim amat hobi memotret orang, dan untungnya saya hobi berpose, jadilah kami pasangan sepadan.

Sambil menyerumput kopi saat makan siang, Kim pun menuturkan kisah hidupnya hingga menjadi seperti sekarang. Kimleng Sang dilahirkan 35 tahun lalu di sebuah desa kecil di provinsi Takeo, dekat perbatasan Kamboja dengan Vietnam. Latar belakangnya yang hanya pendidikan setingkat SD, membuatnya menjadi buruh kasar untuk membantu ekonomi keluarganya yang memang pas-pasan. Takdirlah yang membawanya untuk menjadi petugas keamanan di Phnom Penh sambil menyempatkan untuk belajar bahasa Inggris. Akhirnya ia memutuskan untuk mengadu nasib di Siem Reap tahun 2000 dan membeli tuk-tuk dengan seluruh uang tabungannya. Semakin lama bahasa Inggris Kim pun terasah dengan banyaknya turis asing yang memakai jasanya. Kemampuan fotografinya baru tergali beberapa tahun terakhir, saat ia memiliki beberapa klien yang memang seorang fotografer. Seorang fotografer bernama David Bibbing dari Kanada mengajarinya cara memotret. Penyuntingan foto juga dipelajarinya, hingga kini ia masih sering berkonsultasi bila memiliki kesulitan saat menyunting fotonya. David pula yang memberinya kenang-kenangan berupa sebuah kamera D-SLR.

Berawal dari itu semua, kini Kim menabung untuk membeli kamera Nikon yang lebih canggih. Dengan memungut biaya jasa US$40 untuk sehari penuh tur di Angkor Wat dan US$50 untuk Banteay-Srei, hal ini tentu saja tidak sukar baginya. Jasa Kim ini memang sedikit mahal dari jasa tuk-tuk yang rutin ditawarkan oleh hotel yang saya tempati. Untuk tur Angkor sekitar US$15 dan ekstra biaya untuk pemandu US$22, jadi total yang mereka biasa tawarkan US$37. Namun dengan selisih US$3 saja, saya telah mendapatkan supir tuk-tuk, pemandu dan fotografer pribadi. It’s more than just good deal to me!

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Perjuangan Kim berbuah manis. Kini namanya sudah cukup terkenal di berbagai forum dan banyak fotografer asing yang mengenalnya. Tidak jarang pula pelancong yang sengaja memakai jasanya agar dapat dipotret dengan leluasa. Bagaikan membawa seorang fotografer pribadi ke dalam kompleks Angkor. Kim dapat mengumpulkan foto-foto hasil bidikannya dalam USB flashdisk agar dapat langsung diterima oleh kliennya setelah selesai tur. Dalam sebulan Kim dapat memperoleh klien 7-10 orang. Oleh karenanya, jauh-jauh hari biasanya para klien telah mengontaknya.

Hasil jepretan Kimleng untuk saya.
Hasil jepretan Kimleng untuk saya.

Foto-foto hasil bidikan Kim sendiri tersimpan dengan rapi dalam situs pribadinya. Berbagai ulasan mengenainya dapat ditemukan di situs semacam Trip Advisor. Sebagian besar memuji sikapnya yang sopan, ramah, dan selalu bersedia membantu dalam hal apapun. Saya selalu ingat akan satu ulasan yang menyebutkan saat seorang turis bermaksud memotret Angkor di kala matahari terbit. Tanpa sengaja, filter lensanya terjatuh ke dalam pinggir danau saat ia bermaksud mengabadikan refleksi Angkor dalam air. Turis ini pun merasa bahwa filter ini tidak akan ditemukan dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Yang membuatnya kaget adalah saat Kim menemuinya kembali saat membawa filter tersebut di siang hari. Rupanya Kim kembali mendatangi danau yang sama untuk mencari filter tersebut. Ia beralasan bahwa bila ia mencarinya saat terjatuh tadi, gerakan tubuhnya di dalam air akan mengganggu riakan serta menimbulkan distorsi. Hal ini tentu saja akan mengganggu para fotografer yang memang saat itu sedang duduk-duduk untuk mengabadikan refleksi Angkor dalam air sambil menunggu matahari terbit.

Dua hari bersama Kim membuat perjalanan saya sangat berkesan. Dari Kim pula saya mengetahui bahwa tuk-tuk dalam bahasa Khmer sebenarnya disebut remork motor, namun para turis lebih suka menyebutnya tuk-tuk. Saya selalu mengingatnya setiap kali saya melihat hasil-hasil bidikan saya selama di Angkor. Saya tidak hanya menemukan seorang supir tuk-tuk yang ramah, namun juga seorang fotografer yang handal dan teman perjalanan dengan pribadi yang menyenangkan. Ya, sebuah pilihan lah yang membawa saya ke Siem Reap dan mengenal seorang Kimleng Sang, bukan Angelina Jolie.

  • Disunting oleh LEN 17/12/2013

Wajah Bajai di India

Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning
Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning.

Siapa yang tidak kenal bajai. Kendaraan sederhana ini selalu menemani hari-hari semasa saya belajar di Mumbai. Hal ini dikarenakan bajai di Mumbai mudah didapat, memakai argo dan jelas tarifnya murah. Memang awalnya sulit, mengingat umumnya supir bajai ini tidak bisa berbahasa Inggris. Maka dengan Hindi yang terbata-bata, saya menuntun mereka untuk menuju tempat yang saya inginkan. Yang membedakan supir bajai di India dengan Jakarta adalah mereka sangat mudah menolak penumpang, seringkali malas memutar balik, terlebih jika penumpang ingin bepergian ke arah yang berlawanan. Entah kenapa, supir bajai ini cenderung belok ke arah kiri. Benar-benar menjengkelkan.

Tak kenal maka tak sayang. Karena saya memang sayang akan kendaraan beroda tiga yang setia mengantar saya ke mana saja ini, tak pelak lagi saya pun tertarik mencari tahu tentangnya. Ternyata benar bajai itu berasal dari India. Kendaraan yang di India disebut “auto” ini (walau beberapa turis masih menyebutnya “tuk-tuk”) dibuat oleh perusahaan Bajaj Group, yang didirikan oleh Jamnalal Bajaj di Rajasthan pada tahun 1930-an. Pada tahun 1959, perusahaan ini diizinkan oleh pemerintah India untuk membuat kendaraan beroda dua dan tiga. Perusahaan ini semakin berkembang, hingga dalam kurun waktu setahun terakhir, mereka telah menjual sekitar 480.000 kendaraan roda tiga yang hampir setengahnya di ekspor ke luar India. Jumlah yang sangat fantastis.

Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil
Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil.

Bajai beragam warna menunggu penumpang
Bajai beragam warna menunggu penumpang.

Bajai berwarna biru
Bajai berwarna biru.

Bila bajai di Jakarta umumnya berwarna merah dan biru (sehingga sering diplesetkan sebagai BMW, singkatan dari “Bajai Merah Warnanya”), maka di Mumbai atau Delhi bajai ini biasanya berwarna hitam, dengan argo yang terletak di sisi kiri. Hal yang berbeda saya temui ketika saya menjelajahi wilayah Rajashtan, India. Di wilayah ini, tampak berbagai penampakan dari kendaraan beroda tiga kesayangan saya ini. Secara garis besar, bajai di sana akan diwarnai dengan ornamen warna-warni sesuai khas daerah masing-masing. Yang menjadi favorit saya adalah bajai yang berada di wilayah Juhunjhunu, Rajashtan. Tampak bajai dipenuhi pita warna-warni, lukisan dewa-dewinya dan lonceng. bajai di Jaisalmer biasanya lebih sederhana, berwarna kebiruan. Sedangkan di wilayah Jodhpur, bajai berbentuk lebih ramping dan berhiaskan pita, namun bagian belakangnya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menampung penumpang lebih banyak. Variasi lainnya, ada bajai yang tampak berbentuk sedikit ‘bulat’ dengan warna kekuningan seperti ikan mas koki.

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (1).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (2).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (3).

Umumnya bajai diperuntukkan untuk tiga penumpang di belakang dan seorang supir demi alasan keamanan. Walau jumlah ini juga disesuaikan dengan besarnya badan penumpang. Berhubung teman-teman saya dari Tanzania umumnya bertubuh besar, dengan sendirinya tiga orang di belakang akan membuat sesak. Namun jangan salah, di India 10 orang pun bisa muat di dalam satu bajai. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepala bila melihat supir bajai duduk berimpitan dengan dua hingga empat penumpang di depan. Terkadang polisi bisa menegur bila melihat situasi ini. Namun bukan supir bajai namanya kalau tidak bisa berdalih. Penumpang ekstra tersebut akan turun saat berpapasan dengan polisi untuk kemudian naik kembali setelah berada cukup jauh.

Berbagai wajah bajai dapat ditemukan di India dengan semua ciri khasnya. Namun kesamaannya tetap ada, tetap berjalan dengan bunyi yang berisik dan hanya supir bajai (dan Tuhan) yang tahu kapan mereka akan belok.

Pagoda Shwedagon, Rumah Suci Bagi Rambut Sang Buddha

Di tengah pusat kota Yangon (Ranggon), Myanmar, sebuah pagoda menjulang dengan megahnya membelah cakrawala. Pagoda Shwedagon atau yang juga dikenal sebagai Pagoda Emas memang merupakan tempat tersuci di Myanmar ini, yang didirikan di bagian barat dari Danau Kandawgyi, tepat di daerah perbukitan suci Singgutara. Konon, di tempat inilah terdapat keempat struktur suci Buddha, yaitu staf dari Kakusandha, air suci Koṇāgamana, jubah Kassapa dan rambut suci Siddharta Gautama.

Sekitar 2.500 tahun yang lalu, hidup seorang raja bernama Okkalapa yang memerintah Suvvanabhumi. Raja ini mengetahui bahwa seorang Buddha akan “muncul” setiap 5.000 tahun sekali. Pada saat itu, Siddharta masih menjadi seorang pangeran Hindu di India Utara dan belum mendapatkan ‘pencerahan’. Sesuai perhitungan Okkalapa, saat pemerintahannya, semestinya seorang Buddha baru akan datang.

Bukit Singgutara telah lama memiliki sebutan suci, karena di tempat inilah warisan dari ketiga Buddha terdahulu dikuburkan. Untuk mempertahankan kesucian bukit ini, maka Raja Okkalapa merasa bahwa harus ada hadiah yang diberikan oleh Buddha yang baru. Sedemikian takutnya Okkalapa, sehingga ia pun mengunjungi bukit ini untuk memohon. Okkalapa tidak mengetahui pada saat itu Siddharta sudah mendapatkan pencerahan. Dikisahkan Sang Buddha yang baru muncul dalam alam meditasi Okkalapa dan menyerukan untuk bersabar menantikan hadiah dari-Nya.

Ketika Siddharta sedang menyelesaikan meditasinya di bawah pohon Bodhi, pada hari ke-49, datang seorang pedagang bernama Tappusa dan Bhalika yang rupanya utusan dari Okkalapa. Kedua pedagang ini menawarkan kue madu pada Sang Buddha dan kepada keduanya, Buddha menitipkan kedelapan buah rambut sucinya sebagai ucapan terima kasih. Namun dalam perjalanan kembali menuju Myanmar, keduanya dirampok, sehingga mereka hanya sanggup membawa empat buah rambut suci Buddha. Kedatangan mereka disambut dengan meriah dan keempat rambut suci dikuburkan di bukit Singgutara untuk mempertahankan kesuciannya. Dikisahkan bahwa ketika keempat rambut suci ini dikeluarkan dari kotaknya, maka bumi bergoncang hebat, orang buta dapat melihat kembali, dan pohon-pohon berbunga. Akhirnya didirikanlah sebuah pagoda setinggi 300 kaki, yang hingga kini dapat dilihat dari sudut kota manapun, yang dihiasi dengan emas dan batu permata.

Pendirian pagoda Shwedagon hingga kini tidak diketahui, namun diperkirakan sekitar abad ke-11. Setelah didirikan, pagoda ini mengalami beberapa renovasi dan tetap selamat dari segala ancaman alam dan bahkan saat penjajahan bangsa asing di Myanmar. Keteguhan pagoda ini untuk terus bertahan membangkitkan semangat pada rakyat Myanmar yang sangat menyanjung dan membanggakannya. Bahkan pada tahun 2007, seluruh pendeta melakukan protes dan berjalan dari pagoda ini untuk membebaskan Aung San Suu Kyi.

Dari segi arsitektur, Shwedagon merupakan suatu kompleks luas berwarna keemasan. Terdapat empat buah pintu masuk. Turis asing dapat memasukinya dengan biaya delapan dolar Amerika. Alas kaki harus ditanggalkan di sini. Setelah menaiki lif, kita akan sampai di salah satu pintu masuk kawasan pagoda. Tampak bentuk singa mistis mengawal setiap pintu masuk pagoda ini. Suatu bentuk yang sama yang dapat kita temui pada kuil Hindu di India. Beberapa pemeluk agama Buddha telah bersiap untuk melakukan ritual doa dengan membawa bunga teratai, dupa, daun emas dan lain-lain. Penduduk lokal tidak dikenakan biaya untuk memasuki pagoda ini. Para pemeluk agama Buddha yang mengunjunginya akan mengelilingi pagoda ini sesuai arah jarum jam, umumnya sebanyak tiga kali. Pagoda dapat dicapai dari bandara internasional dengan menggunakan taksi bandara dengan biaya sekitar 7.000 kyat (satu dolar Amerika setara dengan 950 kyat).

Bagian dasar dari stupa atau jedi ini terbuat dari batu bata yang dilapisi oleh batang emas. Bagian selanjutnya adalah teras yang hanya dapat dimasuki para pendeta. Bentukan seperti lonceng adalah struktur yang terdapat di atasnya, selanjutnya semacam bentuk turban, pot sesembahan terbalik, kelopak lotus, tunas pisang, dan selanjutnya mahkota. Bagian mahkota ini dihiasi sekitar 5.500 berlian dan 2.300 batu rubi.

Astrologi dan ajaran Buddha tidak dapat dipisahkan dari hidup warga Myanmar. Posisi planet ditentukan sesuai hari kapan mereka dilahirkan. Satu minggu terbagi menjadi delapan hari, karena hari Rabu terbagi atas siang dan malam. Setiap hari memiliki lambang hewan masing-masing, misalnya macan untuk senin, singa untuk selasa, gajah bercula untuk rabu siang dan tidak bercula untuk malam, tikus untuk kamis, babi untuk jumat, naga untuk sabtu, dan minggu disimbolkan oleh garuda. Setiap planet memiliki patung Buddha masing-masing dan para pemeluknya akan memandikan, menaruh bunga serta berdoa di patung masing-masing.

Oleh karena akar dari Buddha adalah ajaran Hindu, maka dalam beberapa hal cukup banyak kemiripan dari kedua ajaran ini. Namun satu hal yang berbeda, adalah kepercayaan mereka terhadap Rahu dan Ketu. Kedua planet ini pernah saya ungkap saat membahas kuil Konark. Perbedaannya dengan Hindu adalah, bagi warga Buddhist Myanmar, kedua planet ini terpisah. Ketu dianggap sebagai raja dari semua planet dan keseluruhan planet menentukan hidup manusia kecuali Ketu. Planet yang menjadi hari dimana kita dilahirkan akan menentukan jalan hidup kita secara keseluruhan, namun beberapa planet tertentu dapat mempengaruhi fase-fase dalam hidupnya. Warga Myanmar akan mengunjungi ahli astrologi ini untuk meminta saran dalam setiap tahapan penting dalam hidupnya misalnya pernikahan, ujian, lamaran kerja, dan sebagainya.

Kuil-kuil kecil berisikan patung Buddha dengan berbagai gaya dan posisi berada dalam area kompleks ini. Para pemeluk dibebaskan untuk berdoa di kuil manapun yang mereka suka. Dari kejauhan nampak bagian kuil yang sering menjadi tempat untuk doa khusus, misalnya mendapatkan anak. Beberapa wanita dengan khusyuk berdoa dalam kuil ini.

Beberapa orang asing berusaha mencuri lonceng-lonceng dari pagoda ini yang memang luar biasa indahnya. Sebut saja Philip de Brito yang berusaha mencuri 30 ton lonceng, namun saat menuju Portugis, lonceng-lonceng ini terjatuh ke Sungai Bago dan kemudian hilang. Lonceng di pagoda kemudian diganti, dan kembali dicuri oleh prajurit dari Inggris. Namun saat menuju Kolkata, kapalnya karam, walaupun lonceng dapat diselamatkan dan diletakkan pada bagian tenggara pagoda.

Keindahan pagoda emas ini dapat dinikmati kapanpun, waktu terbaik adalah di malam hari, karena pagoda ini akan dilingkupi lampu yang bertaburan berpadu dengan kemolekan cahaya emas dari pagoda itu sendiri. Saya sendiri lebih memilih pagi hari untuk mengunjunginya, saat pagoda berwarna kontras dengan birunya langit di atasnya. Samar-samar tercium bau dupa yang baru saja dibakar dan terdengar suara lonceng-lonceng kecil tertiup angin. Seorang gadis kecil tampak berdiri di dekat saya sambil membawa setangkai lotus di tangan mungilnya untuk dipersembahkan kepada Sang Buddha.

Sebuah Kuil bagi Sang Surya

Kuil dari kejauhan
Kuil dari kejauhan.

Nun jauh di Orissa/Odisha, sekitar dua jam perjalanan dari kota Bhubaneswar, sebuah kuil megah berdiri di daerah yang dinamakan Konark. Konark yang juga dikenal dengan nama Konaditya atau Arkakshetra berasal dari turunan dua kata; “Kona” yang berarti sudut dan “Arka” yang berarti surya.

Berbagai misteri dan cerita mengiringi perjalanan saya memasuki kuil ini. Konark tidak dapat dipisahkan dengan cerita Samba, anak dari Krishna yang menderita lepra dan menjadi sembuh akibat bantuan dari dewa matahari. Lambat laun makin terurai legenda Dharmapada mengenai seorang raja dari abad ke-13 Masehi bernama Narasimhadeva I yang memerintahkan pendirian sebuah kuil bagi dewa matahari. Konark yang juga dikenal sebagai pagoda hitam dibangun dengan bulir-bulir keringat 12.000 pemahat terbaik di wilayah ini yang bekerja di bawah ancaman hukuman mati bila tidak mampu menyelesaikan perintah raja. Kebengisan Narasimha makin terasa saat perintah penyelesaian kuil dipercepat dari jadwal. Sri Samantaray sebagai kepala pemahat mengakui ketidaksanggupannya, sehingga berakhir dengan pemecatan. Kisah bergulir di mana kepala pemahat yang baru bernama Bisu akhirnya berhasil menyelesaikan pembangunan kuil, namun satu hal tertinggal, mahkota dari kuil (“kalasa“) selalu gagal diletakkan di tempatnya. Tidak seorang pun pemahat mengetahui solusinya.

Pintu gerbang
Pintu gerbang.

Sebelum pagi tiba, kuil harus sudah harus diselesaikan. Alkisah seorang anak berusia 12 tahun, anak dari Bisu memberanikan diri untuk menolong. Dalam pemikirannya, ia mengetahui solusi bagaimana mahkota diletakkan setelah mempelajari manuskrip kuil. Ia pun mendaki bangunan kuil dan meletakkan kalasa di tempatnya tepat di penghujung malam. Berita ini sampai ke telinga raja dan menyebabkan ketakutan di antara para pemahat yang mengira raja mungkin akan marah bila mengetahui kuil justru diselesaikan oleh orang lain. Sebagai konsekuensi, bocah tersebut, Dharmapada, akhirnya melakukan bunuh diri agar raja tidak menghukum mati pemahat lain. Raja yang mendengar hal ini langsung merasa bahwa kuil ini membawa sial (“asuva“) dan seluruh penjuru negeri diperintahkan untuk tidak menyembahnya.

Legenda Dharmapada bukanlah satu-satunya cerita yang konon menyebabkan runtuhnya kejayaan kuil ini. Sebuah kisah narasi dari Sri Radhanath Ray mengungkapkan seorang sakti bernama Sumanyu Risi mengutuk dewa matahari karena menggoda anak perempuannya yang bernama Chandrabhaga. Para sejarawan sendiri lebih mempercayai bahwa penyerangan Kalapahad lah yang melatarbelakangi kehancuran kuil ini. Sebagai seorang raja muslim, penyerangan kuil dimulai dengan penghancuran Dadhinauti yang menyebabkan kuil roboh dan berbagai dindingnya hancur. Pahatan dewa surya berhasil diselamatkan para pandeta di Konark denga cara menyimpannya beberapa tahun di bawah pasir dan selanjutnya dipindahkan ke kuil Jaganath di Puri. Cerita lain mengungkapkan patung dewa ini sekarang tersimpan di museum nasional di Delhi. Pemindahan figur dewa dari Konark ini menyebabkan Konark tidak lagi dianggap sebagai tempat untuk ziarah bagi pemujanya saat itu dan kehilangan kejayaannya. Konark menyepi menjadi sebuah runtuhan kuil yang tersembunyi selama beberapa tahun lamanya di balik hutan di Orissa.

Sosok campuran singa, gajah dan manusia
Sosok campuran singa, gajah dan manusia.

Aura misteri semakin kental saat saya memasuki gerbang kuil ini dan menyelami secara dekat bangunan megah ini. Kedua pahatan berwujud seperti singa menyambut saya di muka gerbang ini. Posisi patung singa ini mencengkeram gajah yang sedang menduduki pahatan berwujud manusia. Dipercaya bahwa singa melambangkan kesombongan dan gajah melambangkan uang, sehingga keduanya lah yang mampu menghancurkan manusia. Struktur Konark yang kokoh berpadu harmonis dengan dalamnya filosofi dalam arsitektur yang terkubur di dalam bebatuan yang membangunnya. Konark berwujud seperti sebuah kereta dengan 12 pasang pahatan roda raksasa dan tujuh patung kuda (hanya satu yang selamat dari reruntuhan), sebagai pernyataan simbolis suatu kendaraan dewa surya. Kekuatan misteri Konark bagaikan ucapan selamat datang bagi saya yang tertatih menaiki anak tangganya yang lumayan melelahkan. Konark bermakna lebih dari sekedar bangunan bagi sang surya. Sebuah filosofi Tantrisisme mewarnai dinding kuil ini dalam bentuk pahatan naga dengan segala wujudnya. Sepanjang dinding Konark membisikkan cerita Negara yang diperintah raja Naga yang berwujud ular berkepala tujuh berselang seling dengan pahatan penyatuan pasangan manusia yang terkadang dipisahkan oleh roda kehidupan yang merupakan perlambang dari kendaraan sang dewa surya.

Sosok naga
Sosok naga.

Wujud pahatan sosok naga yang berhamburan di Konark membangkitkan suatu tanya dalam diri saya tentang apakah wujud ini merupakan apresiasi keberadaan dunia lain yang diperintah naga atau merupakan suatu perwujudan Rahu dan Ketu yang merupakan raksasa dalam astrologi Hindu; yang dipercaya menelan matahari atau bulan sehingga menyebabkan gerhana. Entahlah. Bahkan pemandu saya tidak bisa menjawabnya.

Berbagai pahatan erotis Kamasutra antara sepasang manusia (“maithuna“) membuai kedua mata saya bagaikan alunan musik Kanya yang mengiringi langkah saya memasuki bangunan utama kuil ini. Aura misteri pun semakin dalam terasa. Pahatan Kamasutra di Konark memang tidak sehalus dan sedetil di kuil Khajuraho, namun sosoknya yang berukuran lebih besar dan lebih tinggi membuatnya seakan “berteriak” untuk meyakinkan keberadaannya. Maithuna merupakan satu dari lima komponen dalam ritual Panchamakara yang bertujuan untuk mencapai spiritualitas tertinggi. Suatu pemikiran yang cukup menarik bila dikaitkan dengan teori para ahli kuno yang mengisyaratkan bahwa bintang juga hadir secara berpasangan, walau pasangan dari dewa surya tidak diketahui hingga kini.

Dinding kuil dihiasi dengan berbagai pahatan geometris, bunga, penunggang kuda, gajah, aktivitas berburu dan juga ketiga wujud sang surya yang diposisikan sedemikian rupa untuk menangkap sinar pada saat pagi, siang, dan senja.

Konark menyiratkan perjalanan waktu yang berada dalam pengaruh dewa matahari. Ketujuh kuda yang “menarik” kuil ke arah timur mereprestasikan jumlah hari dalam seminggu, sedangkan ke-12 roda kehidupan menyiratkan 12 bulan dalam setahun. Roda raksasa berdiameter sekitar 10 kaki ini memiliki delapan palang yang menyiratkan kedelapan tahapan dalam kehidupan seorang wanita.

Bagian depan kuil utama
Bagian depan kuil utama.

Perpaduan erat antara misteri, legenda, arsitektur, dan kemegahan Konark membawa saya pada dunia lain yang mungkin maknanya di luar batas pemahaman yang kita miliki. Namun demikian berada di sini, membuat saya berusaha mengerti mengapa saat itu Dharmapada bersikeras untuk membantu penyelesaian kuil megah yang pernah ada ini. Seorang bocah yang cukup naif, yang memiliki keberanian untuk menyelamatkan hidup orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri. Konark bukanlah sekedar cerita mengenai kamasutra atau dewa surya, namun lebih kepada makna pengorbanan hidup yang hakiki. Legenda Dharmapada mungkin terkubur dalam reruntuhan kuil, namun namanya tetap menghiasi cerita rakyat dan menjadi aspirasi seluruh pemahat muda hingga kini.