Artikel-artikel yang ditulis oleh Madi Muktiyono (halaman ke-2 dari 2)

The Owl Museum, Penang Hill, Malaysia

Satu tempat yang menarik perhatian saya saat mengunjungi Penang Hill adalah The Owl Museum. The Owl Museum merupakan museum burung hantu pertama di Asia Tenggara, tempatnya amat unik, di dalamnya terdapat koleksi patung, gambar, foto, lukisan, replika, film, boneka kayu, dan lainnya yang berbentuk burung hantu. Museum ini berisi lebih dari 1.000 koleksi replika burung hantu, koleksi ini berasal lebih dari 20 negara seperti Jepang, Korea Selatan, Uruguay, China, Vietnam, Thailand, Inggris, Indonesia dan Perancis.

Eksibisi yang ditata menarik di The Owl Museum.
Eksibisi yang ditata menarik di The Owl Museum.

Untuk menuju ke tempat ini saya naik bus Rapid Penang dari Komtar dan turun langsung di depan pintu gerbang Penang Hill, kemudian dilanjutkan naik kereta kabel menuju puncak Penang Hill. Museum ini terletak di tempat yang nyaman, udaranya sangat sejuk ditambah dengan pemandangan langit biru dan laut biru yang tampak menyatu dari kejauhan.

The Owl Museum sangat mudah untuk ditemukan, terdapat plang nama besar yang bertuliskan “The Owl Museum”. Dari luar bangunan The Owl Museum terlihat dengan mayoritas bahan kayu, terlihat amat bernafaskan etnik. Gedung museum ini jadi satu dengan gedung tempat menjual makanan dan cinderamata di Penang Hill. The Owl Museum terletak di bawah tempat penjual makanan dan cinderamata.

Poster, gambar dan ilustrasi burung hantu dalam pigura-pigura cantik.
Poster, gambar dan ilustrasi burung hantu dalam pigura-pigura cantik.

Boneka-boneka lucu burung hantu.
Boneka-boneka lucu burung hantu.

Di depan tangga menuju pintu masuk The Owl Museum terdapat lobi penjualan tiket, saya membeli tiket masuk di tempat tersebut seharga RM5 (sekitar Rp15.000). Harga sebenarnya untuk tiket masuk adalah RM10, namun ada diskon RM5 bila pengunjung masih mahasiswa dan bisa menunjukan kartu mahasiswa, kebetulan status saya selain sebaga karyawan swasta saya juga berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana, saya tunjukanlah kartu mahasiswa saya kepada petugas, dan saya pun berhasil mendapat potongan setengah harga.

Satu langkah memasuki The Owl Museum langsung disuguhi ornamen burung hantu yang unik. Terdapat banyak ornamen burung hantu yang terbuat dari bermacam-macam material seperti kayu, batu, logam, kaca, tanah liat, plastik, tanduk kerbau, kerang, kacang-kacangan, tanaman serat, kristal, porselen, gerabah, kertas dan barang-barang daur ulang. Semuanya sangat unik.

Ada beberapa lukisan dan gambar burung hantu yang tertempel dengan rapi di dinding museum. Selain itu terdapat pula koleksi burung hantu dalam bentu patung dan boneka yang tersusun rapi di dalam rak kaca, semua dalam bentuk yang berbeda, terlihat sangat menarik.

Toko cinderamata.
Toko cinderamata.

Rak penuh dengan patung burung hantu.
Rak penuh dengan patung burung hantu.

Di sudut sebelah kiri dekat dengan pintu masuk terdapat meja dan dan kursi kayu, di atas meja itu tersusun replika burung hantu yang terbuat dari kayu yang dibuat dengan cara dipahat. Di sekitar meja tersebut juga terdapat alat-alat ukir dan pahat yang menandakan bahwa replika burung hantu tersebut dibuat dari kayu yang diukir dan dipahat. Sungguh kombinasi karya yang penuh dengan nilai seni.

Di sebelah kanan pintu masuk terdapat karpet tebal yang tergelar di lantai, dan di atas karpet tersebut terdapat banyak boneka burung hantu. Kemudian tepat di depan karpet tersebut terdapat TV layar datar yang memutarkan video dan film yang bertemakan burung hantu.

Satu hal unik lain dalam museum ini adalah kutipan kata-kata yang terpampang di dalam museum. Ada satu kutipan yang paling menarik perhatian saya, bunyinya, “A wise old owl lived in an oak, the more he saw the less he spoke, the less he spoke the more he heard. Why can’t we be like that wise old bird?”.

Tempat yang paling terakhir saya kunjungi adalah toko cinderamata museum, di tempat itu dijual boneka, kaos, patung, jam, alat tulis, gantungan kunci, pin, dan lain sebagainya. Harga-harganya juga terjangkau.

Tempat ini sangat direkomendasikan bagi semua pelancong yang sedang berlibur di Penang, terutama saat mengunjungi Penang Hill. The Owl Museum buka setiap hari dari pukul 9:00 sampai dengan pukul 18:00.

  • Disunting oleh SA 24/06/2013

Naik Sleeper Train Dari Penang ke Kuala Lumpur

Usai menikmati keindahan George Town, Penang, saya melanjutkan perjalan saya ke Kuala Lumpur. Dalam perjalanan tersebut ada satu hal yang saya rasakan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, yaitu naik rangkaian kereta api bertempat tidur (sleeper train).

Ada dua alasan kenapa saya memilih sleeper train, alasan pertama adalah untuk menghilangkan rasa penasaran, yang kedua untuk menghemat biaya penginapan. Rangkaian kereta tersebut berangkat dari Butterworth pukul 23.00 dan sampai di Kuala Lumpur sekitar pukul 06.00. Tidur di sleeper train sangat nyaman, tidur nyenyak sampai pagi dan sampai di Kuala Lumpur. Badan kembali segar di pagi hari.

Kereta berangkat dari Butterworth yang letaknya bukan di Pulau Penang, tapi sudah menyeberang ke semenanjung Malaysia. Negara bagian Pulau Penang memang terbagi dua, yakni pulaunya itu sendiri dan sebagian semenanjung Malaysia. Untuk meuju Butterworth, saya menggunakan kapal feri yang berangkat dari dermaga (Weld Quay) yang letaknya tidak jauh dari penginapan saya di George Town. Perjalanan tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Sesampainya di Butterworth saya pun langsung menuju stasiun kereta api Butterworth yang letaknya tidak jauh dari dermaga. Petunjuk arah menuju stasiun kereta cukup lengkap dan jelas, jadi tidak perlu takut tersasar.

Peron stasiun Butterworth di malam hari.
Peron stasiun Butterworth di malam hari.

Sesampainya di stasiun Butterworth saya langsung membeli tiket sleeper train di loket pembelian, harganya RM46 (sekitar Rp150.000). Jangan sampai salah beli tiket, sleeper train dari Butterworth ke Kuala Lumpur dioperasikan oleh perusahaan kereta api nasional, Keretapi Tanah Melayu (KTM) Berhad. Sebenarnya tiket bisa dipesan secara online di situs web KTM, tapi saya memutuskan untuk beli langsung saja di loket stasiun Butterworth.

Ruang tunggu stasiun Butterworth.
Ruang tunggu stasiun Butterworth.

Stasiun kereta di Butterworth sangat nyaman, ruang tunggunya sangat dingin oleh pendingin udara. Kantinnya juga sangat nyaman, banyak penjual berbagai makanan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kala itu masih pukul 20.00, sedangkan kerata berangkat pukul 23.00, sengaja saya datang lebih awal agar tidak kehabisan tiket. Sehabis membeli tiket saya pun membeli beberapa makanan di kantin stasiun yang letaknya di belakang. Di sana dijual berbagai makanan yang harganya relatif murah. Kantin tersebut juga dilengkapi fasilitas TV kabel, jadi menunggu kereta tidak menjadi hal yang membosankan!

Menurut jadwal, kereta akan berangkat pukul 23.00 dan sampai di KL Sentral pukul 06.00. Keretanya tepat waktu! Sebelum pukul 23.00 pengumuman sudah berbunyi melalui pengeras suara bahwa kereta sudah siap dan penumpang harap bersiap-siap menuju peron.

Dengan rasa penuh antusias saya naik ke dalam kereta. Setelah memasuki gerbong saya sejenak terkesima dengan kenyamanan interior gerbong. Tempat tidurnya ada di sisi kiri dan kanan jendela. Di tengah-tengah ada lorong panjang untuk berjalan. Saya tidur di tempat tidur bagian bawah, ukuran tempat tidurnya lumayan, tidak terlalu lebar tapi juga tidak sempit. Sepreinya berwarna putih, sarung bantalnya juga. Kereta terus melaju, satu jam pertama saya masih memandangi suasana malam dari jendela, setelah itu saya menutup tirai jendela dan siap untuk tidur.

Tempat tidur bersusun yang nyaman di gerbong.
Tempat tidur bersusun yang nyaman di gerbong.

Suasana gerbong kereta malam dari Butterworth ke Kuala Lumpur.
Suasana gerbong kereta malam dari Butterworth ke Kuala Lumpur.

Esok paginya, saat kereta sebentar lagi sampai di stasiun KL Sentral, ada petugas yang mengingatkan bahwa kereta sesaat lagi akan sampai tujuan. Saya pun terbangun dengan segar. Saya pun bergegas merapikan barang bawaan saya kemudian turun dari kereta dan siap untuk menjelajahi Kuala Lumpur.

  • Disunting oleh SA 24/06/2013

Wisata Pulau di Taman Nasional Ujung Kulon

Ada surga di ujung paling barat Pulau Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon namanya. Di tempat yang merupakan wilayah taman nasional yang dilindungi ini hidup badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya.

Bentang alam di Taman Nasional Ujung Kulon amat beragam, mulai dari bentang alam laut, bentang alam hutan rawa dan ekosistem daratan. Jadi, saat saya berkunjung ke taman nasional yang asri ini, saya bisa merasakan serunya petualangan trekking di bentang rawa dan hutan yang masih alami dan snorkeling di bentang alam laut yang masih bersih dengan perpaduan pasir putih nan indah.

Menikmati senja.
Menikmati senja.

Terdapat sensasi tersendiri saat trekking di bentang alam hutan Taman Nasional Ujung Kulon. Di hutan ini, saya bisa melihat hamparan keanekaragaman hayati tetumbuhan. Sekitar lima ratus jenis tumbuh-tumbuhan hidup di hutan ini. Hutan ini merupakan kawasan hutan nasional yang dilindungi dan tumbuhan tersebut tumbuh terlindungi dengan baik. Tumbuh besar dan lebat, saat di tempat ini saya melihat beberapa pohon yang umurnya sudah ratusan tahun.

Saat trekking di sela-sela pepohonan yang tumbuh dengan amat rimbun, sesekali saya menemukan pohon yang tumbang membentang di jalur trekking. Keadaan ini agak menghalangi para trekker, namun menjadi tantangan tersendiri. Nilai petualangannya terasa lebih kental. Kadang saya berjalan menunduk, merangkak, sampai terkadang meloncat. Hutan pohon-pohon besar, suara-suara serangga dan burung dan jalanan berlumpur, menjadi perpaduan petualangan sempurna.

Salah satu tujuan trekking di tempat ini adalah untuk mencoba keberuntungan untuk bisa menyaksikan badak jawa dengan mata kepala sendiri. Populasi badak jawa di hutan ini tidak terlalu banyak. Badak jawa pernah masuk di daftar yang dikeluarkan oleh Masyarakat Zoologi London (ZSL) dan Badan Konservasi Alam Internasional (IUCN) sebagai salah satu dari daftar seratus flora dan fauna yang paling terancam punah. Dari tahun ke tahun populasinya semakin berkurang. Berdasarkan pengawasan populasi dengan kamera video, diketahui tidak sampai lima puluh ekor badak jawa yang hidup di Taman Nasional ini.

Saya sempat mengobrol dengan salah satu penjaga Kawasan Hutan Taman Nasional Ujung Kulon, menurut beliau, badak jawa jarang terlihat di sekitar wilayah trekking. Badak jawa hidup terpencar di tengah-tengah hutan dan cenderung menjauhi keramaian. Kala itu tampaknya kurang beruntung, saya tidak bisa melihat penampakan badak jawa. Setelah mendapatkan penjelasan dari petugas hutan, saya lantas tidak langsung kecewa. Menurut penjaga hutan, beliau saja sebagai penjaga hutan yang sehari-hari hidup dan menjaga di pos hutan, jarang melihat hewan itu.

Sensasi lain yang bisa dirasakan di sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah kegiatan wisata island hopping. Ada beberapa pulau menawan nan elok yang harus dikunjungi, di antaranya adalah Pulau Peucang, Pulau Handeleum, Cidaun, dan Pulau Badul.

Saya menginap di Pulau Peucang, pulau kecil yang amat menawan dengan pasir putih halus terhampar luas. Bentuk penginapan di Pulau Peucang ini berbentuk barak-barak rumah panggung yang lokasinya tidak jauh dari bibir pantai. Saya bermalam di sini bersama teman-teman saya.

Memberi makan rusa.
Memberi makan rusa.

Tinggal dan bermalam di Pulau Peucang sangat mengasyikkan, di belakang penginapan terhampar luas hutan dengan rerimbunan hijau pohon yang asri. Di depan penginapan sejauh mata memandang, terlihat birunya laut dengan ombak yang tenang. Di sekitaran penginapan berlalu lalang hewan-hewan hutan yang sesekali menghampiri penginapan untuk mencari makan. Mulai dari monyet-monyet kecil, babi hutan sampai rusa. Benar-benar serasa menjadi tarzan atau anak hutan, hidup bersama dengan hewan-hewan liar. Sensasi petualangan alam liarnya amat terasa.

Hal unik lain yang saya rasakan di tempat ini adalah kelakuan dan tingkah hewan-hewan liar yang kadang membuat jengkel, terutama monyet-monyet kecil yang berkeliaran. Monyet-monyet tersebut sering sekali mendekati penginapan untuk mencuri makanan. Saat saya dan teman-teman saya sedang makan dan santai bersama, monyet-monyet langsung datang berbondong-bondong dengan raut muka celingak-celinguk bak perampok yang ingin mencuri makanan. Saya pun harus siap siaga mengamankan pasokan makanan agar tidak terampas oleh monyet-monyet nakal. Begitu pula dengan rusa dan babi hutan, mereka juga datang ke kerumunan kami yang sedang makan, namun untungnya geliat rusa dan babi hutan tidak seberingas monyet-monyet yang sedang mengintai makanan. Intinya, saya harus waspada akan makanan saya dari intaian hewan-hewan liar.

Sebenarnya saya tidak terlalu merasa risih dan terganggu dengan kondisi seperti itu, saya malah merasakan pesona fauna yang sebelumnya belum pernah saya rasakan. Kalau berkunjung ke kebun binatang, kita hanya disuguhkan pemandangan hewan-hewan yang terkurung di kandang, maka di kawasan Ujung Kulon kita akan hidup bersama hewan-hewan yang terlepas bebas di hutan liar.

Tepat di depan penginapan terdapat pantai pasir putih yang indah. Ombaknya tenang, airnya bening dan pasir putihnya sangat halus. Kala itu, di sore hari yang cerah, saya dan kawan-kawan menikmati keindahan tersebut, santai bersama di pinggir pantai, main air, berenang dan sampai ke tengah laut untuk snorkeling.

Malam harinya, kami makan malam bersama di pinggir pantai, menikmati hidangan seadanya. Makan malam ditemani suara ombak menjadi begitu nikmat, walaupun makan tidak dengan menu istimewa. Seusai menyantap hidangan makan malam, kami semua santai dan bercengkerama ria di dermaga pantai. Ada yang memancing di atas kapal yang tersandar di ujung dermaga dan ada pula yang hanya sekedar tidur dengan mata terbuka menatap ke kerlipan bintang.

Pesona Kawasan Ujung Kulon tidak hanya terbatas di Pulau Peucang, tapi juga terdapat di beberapa tempat lainnya, tempat lain yang saya kunjungi adalah Pulau Cidaun. Tempat ini merupakan kawasan habitat Banteng liar, hewan bertanduk ini hidup liar di lahan rerumputan yang begitu luas. Perjalanan dari Pulau Peucang ke Pulau Cidaun tidak terlalu memakan waktu, hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, kapal sudah berlabuh di dermaganya.

Saya turun perlahan dari kapal dan langsung jalan beriringan menuju habitat kawanan banteng. Setelah berjalan kaki lima menit, hamparan padang rumput sudah terlihat, dari jauh terlihat kerumunan banteng yang sedang merumput. Saya tidak berani mendekat, hanya melihat sambil mengabadikan foto saja dari jauh. Seru rasanya melihat langsung banteng-banteng liar, serasa berada di Afrika.

Setelah puas melihat padang rumput dan banteng-banteng, saya langsung mampir ke tepi pantai untuk menikmati senja. Hari semakin sore, senja dan semburat jingga mulai menyala-nyala. Dari bibir pantai dan dari atas demaga terlihat sang surya yang mulai tenggelam perlahan. Sampai tiba saatnya langit mulai gelap, saya pun kembali ke penginapan di Pulau Peucang.

Perjalanan di lanjutkan untuk meraih pesona pulau lain, yaitu Pulau Handeleum dan Pulau Badul. Perjalanan dengan kapal dari Pulau Peucang ke Pulau Handeleum tidak begitu jauh dan memakan waktu, apalagi di atas kapal saya disuguhkan dengan pamandangan laut yang menawan. Perjalanan sangat amat tidak terasa, tahu-tahu kapal sudah merapat di dermaga Pulau Handeleum.

Hal yang paling menarik di Pulau Handeleum adalah fasilitas kayaking. Kayaking dilakukan di Pulau Handeleum dengan menyusuri sungai sampai ke dalam pulau. Satu kayak bisa diisi lima sampai enam orang plus ditemani satu petugas yang mendayung. Kabarnya di sungai ini terdapat buaya liar, bisa dibayangkan bagaimana sensasi kayaking di sungai ini. Dengan alasan takut buaya dan malas untuk merogoh kocek untuk biaya kayaking, saya memilih untuk menikmati keindahan pantai di Pulau Handeleum sambil berfoto-foto ria di dermaga.

Bersama teman-teman.
Bersama teman-teman.

Destinasi selanjutnya dilanjutkan ke Pulau Badul, pulau kecil yang berada di tengah laut. Pulaunya amat elok. Saya snorkeling di pulau ini. Air lautnya jernih, pasir pantainya putih dan terdapat banyak karang-karang kecil. Saya pun menyempatkan untuk mengumpulkan karang dan kerang kecil yang lucu.

Pulau Badul amat kecil dan sepi, serasa di pulau pribadi. Saat saya menjejakkan kaki di sana, hanya rombongan kami yang berada di sana.

Kebersamaan penuh makna dengan kawan-kawan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon berakhir di Pulau Badul. Setelah puas menyelami keindahan Pulau Badul, saya dan kawan-kawan satu per satu menaiki kapal untuk kembali ke daratan Pulau Jawa. Taman Nasional Ujung Kulon sangat fenomenal, sungguh pengalaman liburan yang luar biasa.

  • Disunting oleh PW & SA 18/12/2012

Icip-Icip Ayam Taliwang Asli Lombok

Bagi saya belum resmi ke Pulau Lombok kalau belum menyantap Ayam Taliwang. Kala berlibur di Lombok, saya sempatkan diri saya untuk icip-icip Ayam Taliwang di salah satu restoran di sekitar Pantai Senggigi Lombok. Bagi yang belum tahu Ayam Taliwang, makanan ini adalah menu khas Lombok yang khas dengan bumbu pedasnya. Sejarahnya, menu lezat ini ditemukan oleh juru masak dari kalangan Kesultanan Sumbawa. Pertama kali menu ini dirintis oleh sang Ibu Tua Maknawiyah bernama Pupuq yang berasal dari Kampung Taliwang, Ibu ini bekerja sebagai penjual nasi ayam. Kala itu Ayam Taliwang amat tenar dan kemudian bermunculan pedagang-pedagang baru asal kampung itu yang semakin menjamur menggunakan nama Ayam Taliwang pula.

Ayam Taliwang Bumbu Pedas
Ayam Taliwang Bumbu Pedas.

Bagi penggemar makanan pedas, pasti akan suka dengan menu ini, pedasnya dijamin akan memanjakan lidah Anda. Ayam Taliwang dibuat dengan bahan dasar ayam kampung berukuran kecil yang umurnya harus masih muda, sekitar tiga sampai empat bulan, karena kondisi umur ayamnya yang masih muda bentuk ayamnya kecil, sehingga bisa dihidangkan utuh satu ekor tanpa dipotong-potong lagi.

Siang itu, matahari mulai naik dan bersinar terik, saya dan ketiga teman saya duduk di dermaga kapal Pulau Gili Trawangan untuk kembali ke Pulau Lombok. “Nanti, sesampainya di Pantai Senggigi kita harus berburu Ayam Taliwang, ya,” ajak saya ke ketiga teman saya. “Oh, tentunya! Suatu keharusan itu,” jawab ketiga teman saya serentak. Sudah hampir satu jam lebih saya menunggu kapal, tapi kapal belum menunjukan tanda-tanda kemunculannya. Karena kelelahan saya menunggu sampai terkantuk-kantuk. Saya merasa lelah karena hari sebelumnya waktu saya habis untuk berpetualang di Tiga Gili, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Setalah hampir dua jam menunggu, akhirnya kapal yang saya tunggu-tunggu pun muncul, langsunglah saya menuju ke tepian pantai dan langsung menaiki kapal dengan perlahan sambil membayangkan kelezatan Ayam Taliwang.

Saya bertanya pada supir taksi untuk menujukan tempat restoran Ayam Taliwang yang paling enak. “Mau ke mana, dek?”, tanya sang supir pada kami. “Kita mau ke Pantai Senggigi Pak, tapi sebelum itu kita mau cari restoran Ayam Taliwang yang enak di sekitaran Senggigi, kira-kira di mana ya, Pak?”, tanya saya penasaran. “Oh, Kalau restoran Ayam Taliwang banyak, kok, di sekitar Senggigi, nanti akan saya tunjukan tempat yang paling enak dan nyaman,” sang supir menjelaskan. Taksi terus melaju, sampai akhirnya sampai di Senggigi. Supir taksi langsung mengarahkan taksinya ke arah restoran yang menurut keterangannya tempatnya bersih dan menunya enak. Taksi pun berhenti di depan restoran tersebut, ternyata lokasinya tepat di pinggir Jalan Raya Senggigi.

Saya pun menuruni taksi, dan langsung melangkahkan kaki saya untuk masuk ke dalam, kesan pertama memasuki restoran itu menorehkan kesan yang baik, restorannya lumayan luas dan rapi. Ada beberapa meja dan bangku kayu yang disusun memanjang dan ada pula yang disusun melingkar dengan payung kayu diatasnya. Saya pun disambut dengan pelayan yang ramah yang kemudian langsung menyodorkan buku menu.

“Pak, Menu Ayam Taliwang di sini ada berapa macam ya,” tanya saya sesaat setelah disodorkan buku menu. “Cuma ada satu jenis, dek, Ayam Taliwang bumbu pedas,” jawab sang pelayan singkat. Saya pun langsung memesan Ayam Taliwang empat porsi, untuk saya dan ketiga teman saya. Tidak lupa, selain itu saya juga memesan Plecing Kangkung sebagai menu tambahan.

Plecing Kangkung
Plecing Kangkung.

Setelah dua puluh menit ditunggu pelayan berjalan dari dapur restoran menghampiri kami dengan menu sesuai pesanan saya. Akhirnya Ayam Taliwang terhidang di depan mata saya. Ayam Taliwang utuh satu ekor dan sungguh menggugah selera. Tak pakai pikir panjang, setelah berdoa dalam hati, kami makan Ayam Taliwang itu. Gigitan pertama, sungguh menggugah selera, dagingnya terasa sangat empuk, terasa sekali bumbunya menyerap sampai ke dalam daging. Gigitan kedua, makin menambah selera saya untuk segera menghabiskan santapan yang begitu lezat. Disela menikmati Ayam Taliwang tidak lupa saya icip-icip Plecing Kangkung sebagai menu tambahan. Plecing Kangkung yang begitu lezat, sungguh terasa perpaduan bumbu yang sempurna di mulut, Plecing Kangkung memang pendamping yang pas untuk Ayam Taliwang.

Tiba pada suapan terakhir, rasanya tetap nikmat dan lezat sampai pada suapan terakhir. Rasa kecapnya, rasa cabainya, bumbu rempah-rempahnya, semua terasa menjadi suatu kombinasi citra rasa yang sempurna. Diakhiri dengan menyeruput es teh manis, kemudian saya pun memanggil pelayan untuk meminta bon dan lekas membayar. Setelah itu saya meninggalkan restoran dan lanjut ke Pantai Senggigi yang letaknya tidak jauh dari restoran.

  • Disunting oleh SA 28/11/2012

Goa Pindul, Gunung Kidul

Terkesima saya melihat surga kecil tersembunyi di Desa Beji, kecamatan Karang mojo, Kabupaten Gunung Kidul. Goa Pindul namanya. Saya menyusuri goa ini dengan decak kagum yang tiada henti-hentinya. Mereka yang menyukai kegiatan cave tubing atau penyusuran goa dengan menggunakan ban yang mengapungkan tubuh kita, pasti suka dengan Goa Pindul karena kondisinya cocok untuk kegiatan ini.

Welcome to Goa Pindul. Sungguh pesona yang luar biasa, dari bibir goa saja sudah terasa daya tarik  keindahan yang memanggil-manggil.
Welcome to Goa Pindul. Sungguh pesona yang luar biasa, dari bibir goa saja sudah terasa daya tarik keindahan yang memanggil-manggil.

Cave Tubing atau menyusuri goa dimulai. Stalaktit dan stalakmit mulai menyapa. Terduduk ala cave tubing dengan mulut ternganga mendongak keatas melihat keindahan yang sempurna.
Cave tubing atau menyusuri goa dimulai. Stalaktit dan stalakmit mulai menyapa. Terduduk dengan mulut ternganga mendongak ke atas melihat keindahan yang sempurna.

Dari celah goa, sinar sang surya menyapa, seraya berkata 'selamat berpetualang di Goa Pindul'.
Dari celah goa, sinar sang surya menyapa, seraya berkata “selamat berpetualang di Goa Pindul”.

Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.
Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.

Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.
Saat semua pelancong terpesona dengan keelokan goa, sibuk menyusuri goa dan berenang. Sang pemandu Goa Pindul membantu mengambil gambar dengan kamera, merekam saat saat istimewa di tempat super istimewa.

  • Disunting oleh PW & SA 06/11/2012

Taman Lampion

Taman lampion, bukan taman sembarang taman, melainkan taman yang unik dengan kekhasan lampionnya. Taman lampion, destinasi yang berbeda dan menawan.

Persis dengan namanya, taman lampion, di tempat ini di sana-sini bertebaran lampion menerangi taman dengan sinarnya. Sejauh mata memandang terlihat lampion yang bersinar dan berkelip, ada yang tergelantung diatas, ada yang tertanam ditanah, dan ada pula yang mengapung di kolam. Bentuknya pun beragam, mulai dari bentuk yang tak beraturan, bentuk yang menyerupai bangunan-bangunan legendaris dunia, menyerupai tokoh-tokoh kartun, sampai yang menyerupai dunia flora dan fauna.

Lampu bertuliskan Lampion Garden
Lampu bertuliskan Lampion Garden

Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya saat mengunjungi taman-taman lampion di Indonesia, negeri indah yang saya banggakan ini. Saya tidak begitu mengetahui di Indonesia tepatnya ada berapa banyak taman lampion, yang saya ketahui, dan tentunya cukup lumayan terkenal namanya yaitu, taman lampion di Batu Night Spectacular (BNS) kota Malang dan taman lampion di Taman Pelangi di kota Yogyakarta. Saya sudah meninggalkan jejak di kedua tempat ini, pesona kedua tempat ini menorehkan keindahan di memori saya.

Seperti namanya, Batu Night Spectacular terletak di Kota Batu Malang, Jawa timur. Satu hal yang menjadi keistimewaan Batu Night Spectacular adalah tempat ini terletak di kota yang mata sejuk dengan suasana yang menenangkan. Di Batu Night Spectacular ini, sambil menikmati keindahan taman lampion pengunjung juga dimanjakan dengan beragam wahana menarik seperti go-kart, sepeda udara, rumah hantu, bumper car, dan masih banyak lagi. Semua pengunjung dapat merasakan serunya menikmati sensasi wahana-wahana tersebut sambil ditemani sorotan sinar lampion.

Atraksi lampion di BNS
Atraksi lampion di BNS

Batu Night Spectacular cocok untuk wisata bersama keluarga, cocok untuk dikunjungi semua kalangan umur, mulai dari anak-anak sampai dewasa. yang datang bersama keluarga silahkan bergembira ria bersama anggota keluarganya, anak-anak kecil dijamin sumringah melihat wahana-wahana yang menarik untuk di coba. Yang sudah dewasa, tempat ini juga pas dijadikan tempat berpacaran, coba bayangkan betapa romantisnya berpacaran ditemani lampu-lampu lampion dan dinginnya udara perbukitan, ibarat judul film nih, otomatis romantis!

Tempat kedua yang pesonanya tidak kalah menarik adalah Taman Pelangi di Yogyakarta. Taman Pelangi Yogyakarta letaknya di monumen Jogja Kembali. Jadi, monumen Jogja Kembali sekarang dikelilingi taman lampion yang terlihat semakin keren. Konsepnya sama dengan taman lampion yang ada di Malang, konsep taman lampion dengan wahan-wahana permainan sebagai komplementer. Hal lain yang tidak kalah seru untuk dinikmati, disini pengunjung disuguhi live music yang lumayan “yahud”. Saat saya berkunjung ke sana, saya disuguhi penampilan band indie yang salah satu anggotanya cukup handal memainkan biola.

Suhu di Taman Pelangi di Yogyakarta ini tidak sedingin taman lampion di Malang karena ia tidak terletak di perbukitan. Tapi, malam itu tetap terasa dingin dengan sentuhan semilir angin malamnya. Ditemani semilir angin saya berjalan mengelilingi Taman Pelangi Yogyakarta, saya keluarkan kamera saya untuk mengabadikan kelipan lampu-lampu lampion, terlihat indah terekam lensa kamera, kelipan lampu-lampu lampion terlihat bak kelipan bintang di langit.

Di Taman Pelangi Yogyakarta terdapat wahana-wahana yang seru, seperti sepeda air, bola air, trampolin, becak mini, dan masih banyak lagi. Saya sempat menikmati wahana sepeda air, saya bermain sepeda air bersama sepupu saya, kita main sepeda air bertiga, saling kejar-kejaran, dan sempat berlomba kebut-kebutan menggunakan sepeda air dari ujung kolam yang satu ke ujung kolam lainnya. Amat seru! Bermain bak anak kecil yang masa kecilnya kurang bahagia.

Bagi saya, taman lampion merupakan destinasi yang unik. Bagi yang bosan dengan destinasi pantai atau gunung, taman lampion bisa dijadikan tujuan destinasi pilihan. Dan bagi yang bosan keluar masuk nongkrong di kafe atau mal, taman lampion dapat dijadikan alternatif yang menarik.

  • Disunting oleh PW & SA 06/11/2012

Uji Nyali di Bukit Bangkirai

Berada di atas Canopy Bridge.
Berada di atas Canopy Bridge.

Di pagi yang cerah sekitar pukul delapan pagi, selepas menyelesaikan sarapan di hotel di Balikpapan. Saya bergegas untuk check out dari hotel dan kemudian saya duduk di lobi, menunggu kawan yang akan menemani saya melancong di sekitar kota Balikpapan.

Sesuai dengan rencana sebelumnya, saya dan keempat kawan saya berencana untuk mengunjungi kawasan Bukit Bangkirai. Kawasan hijau yang merupakan kawasan hutan konservasi yang terletak di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Untuk melihat keindahannya, dibutuhkan jarak tempuh sekitar 50 km yang menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Perjalanan yang cukup jauh, tapi tidak membosankan, karena di sepanjang perjalanan menuju Bukit Bangkirai, saya disuguhkan pemandangan bukit bukit nan hijau dan hutan yang penuh dengan pepohonan. Suasana dalam perjalanan menjadi semakin seru saat mobil melaju memasuki hutan, melewati jalan kecil yang berkelok, berbatu dan berkerikil, membuat mobil jadi bergoyang.

Menara tangga menuju Canopy Bridge.
Menara tangga menuju Canopy Bridge.

Bukit Bangkirai sendiri merupakan kawasan hutan hujan tropis yang dilindungi dan dikelola oleh PT. Inhutani I. Disini, terhampar luas hutan yang masih alami. Kawasan yang luasnya mencapai 1.500 hektar ini dijadikan wisata alam yang dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Hamparan hutan hujan tropis ini diberi nama Bukit Bangkirai karena disini tumbuh Pohon Bangkirai. Pohon ini merupakan tumbuhan berkayu keras dan kuat. Pohon Bangkirai bisa berdiameter hingga 120 cm dan dapat mencapai tinggi sekitar 40 meter. Pohon yang memiliki kayu yang berwarna kuning dengan tingkat kekerasan kayu Pohon Bangkirai yang cukup tinggi. Tak heran kalau jenis kayu ini sering di pergunakan untuk jembatan, bantalan rel kereta api, perahu kayu, konstruksi bangunan dan lain sebagainya. Saat berada di kawasan Bukit Bangkirai, saya merasa takjub dengan memandangi besarnya pohon Bangkirai yang berumur lebih dari 150 tahun.

Satu hal yang menjadi daya tarik kawasan Bukit Bangkirai adalah Canopy Bridge atau jembatan tajuk yang dibuat menggantung diantara lima pohon Bangkirai yang tumbuh di kawasan ini. Jembatan ini menggantung di Pohon Bangkirai setinggi kurang lebih 30 meter dari atas tanah. Faktor kekerasan, ketinggian dan kekuatan Pohon Bangkirai inilah yang menjadikan dasar PT. Inhutani I, untuk membuat jembatan tajuk. Bagi penduduk di Kalimantan Timur pasti sudah tidak asing lagi dengan jembatan tajuk ini. Jembatan ini terkenal karena merupakan jembatan tajuk pertama yang ada di Indonesia, kedua di Asia dan kedelapan di dunia.

Pelancong yang memiliki rasa takut berada di ketinggian, dapat mencoba untuk menguji nyali dengan cara menyusuri jembatan tajuk ini. Untuk orang yang tidak memiliki rasa takut akan ketinggian, mungkin bukan suatu masalah. Saya saja, orang yang termasuk tidak memiliki ketakutan terhadap ketinggian, sempat merasa takut dan berdebar debar saat menyusuri jembatan ini.

Gapura selamat datang.
Gapura selamat datang.

Saat menaiki anak tangga yang pertama rasa takut mulai menghampiri, saya melangkah menaiki anak tangga satu persatu. Entah ada berapa anak tangga, yang saya ingat kira-kira perlu waktu sekitar tiga menit untuk mencapai puncak tangga.

Sesampainya di puncak tangga, saya menemukan pemandangan yang sangat indah, sepanjang mata memandang terlihat hamparan luas hutan hujan tropis, terlihat hijau dan segar. Ketika kaki saya berpijak di ujung puncak tangga, didepan saya tepat terlilit jembatan tajuk yang menghubungkan pohon bangkirai yang satu dengan pohon bangkirai yang lainnya. Uji nyali dimulai. Di mulai dengan membaca doa dalam hati, saya melangkahkan langkah saya yang pertama di atas jembatan, pada saat jembatan bergoyang dan seketika hormon adrenalin saya naik, sangat menegangkan sekali rasanya. Saat itu, saya berupaya untuk tetap menenangkan diri, saya sambil terus berupaya melangkahkan kaki saya menyusuri jembatan.

Saat diri sudah mulai tenang, saya melanjutkan langkah saya selanjutnya, rasa takut perlahan luntur ditelan keberanian saya. Terus melangkah, jembatan terus bergoyang seiring dengan langkah kaki saya dan kedua kawan saya. Goyangan di ketinggian 30 meter inilah, yang membawa kenikmatan tersendiri. Sambil menyusuri jembatan, saya menikmati keindahan hutan hujan tropis yang masih asri, sesekali ditemani bunyi burung dan tidak lupa pula untuk berfoto.

Sekitar setengah jam lebih saya beruji nyali di ketinggian, saya kembali ke ujung tangga untuk kembali turun menyusuri anak tangga. Rasa penasaran saya akan jembatan tajuk di Bukit Bangkirai telah terlampiaskan. Puas rasanya. Tempat ini sangat menarik dan sangat direkomendasikan untuk semua pelancong yang menginginkan jenis liburan yang berbeda.

Penasaran dengan sensasi dan ingin menguji adrenalin anda, silahkan kunjungi Bukit Bangkirai dan temukan pesona dan uji nyalinya.

  • Disunting oleh PW 20/10/2012

Menengok Keunikan Tempat Ibadah di Semarang

Hampir semua orang pasti sudah tahu kota ini, kota besar di Jawa Tengah yang merupakan ibukota provinsi. kota ini terkenal dengan wilayah dataran rendahnya, terutama daerah Semarang Bawah, yakni sekitar empat kilometer dari garis pantai. Kawasan dataran rendah tersebut kerap dilanda banjir yang disebabkan luapan air laut atau biasa dikenal dengan istilah rob.

Bicara soal banjir Semarang Bawah, saya jadi ingat lagu “Jangkrik Genggong” yang dalam salah satu penggalan liriknya berbunyi “Semarang kaline banjir, aja sumelang ora dipikir, jangkrik mlumpat saba neng tangga…“. Tuh kan, saking terkenalnya banjir di Semarang, sampai-sampai hal ini dimasukan dalam bait lirik lagu.

Pastinya sudah banyak sekali pejalan yang sering mengunjungi kota ini, baik itu hanya untuk sekedar lewat atau sengaja niat untuk menikmati keindahan kota ini. Kala itu, saya singgah di Semarang memang sengaja berniat untuk berplesir.

Seperti biasa, saya melancong ala backpacker, keliling kota Semarang bersama teman-teman kampus. Saat plesiran kala itu ada hal unik yang saya temukan dari Kota Semarang. Kota ini memiliki banyak bangunan tempat ibadah yang bersejarah dengan arsitektur menawan. Kala itu, saya mengunjungi Kelenteng Sam Po Kong, Gereja Blenduk, dan Masjid Agung Jawa Tengah. Semua tempat ibadah tersebut memiliki keunikan tersendiri, dan sangat indah untuk di kunjungi. Mari kita bahas satu per satu!

Kelenteng Sam Po Kong

Kelenteng Sam Po Kong.
Kelenteng Sam Po Kong.

Kala siang itu matahari bersinar cukup terik, saya memasuki gerbang pintu kelenteng, saya sudah disuguhkan keindahan arsitektur pintu gerbang dengan gaya arsitektur Tiongkok yang khas. Setelah langkah saya sampai di dalam komplek kelenteng, sesuai dugaan saya, ternyata bagian dalamnya memang menawan.

Kelenteng ini merupakan bangunan yang amat bersejarah yang terletak di barat daya Semarang. Dahulu kala kelenteng ini merupakan tempat pendaratan pertama Laksamana China beragama Islam yang bernama Cheng Ho. Berdasarkan informasi yang saya dapat saat mengunjungi kelenteng tersebut, saat Cheng Ho singgah di Semarang dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam, beliau juga mendirikan bangunan untuk tempat beribadah agama Islam dengan arsitektur Tiongkok (saat ini bernama Kelenteng Sam Po Kong). Dalam pembangunan tempat ibadah tersebut terdapat unsur akulturasi antara budaya Tiongkok dengan Islam. Dalam perkembangannya, karena bangunan tempat ibadah tersebut berarsitektur Tiongkok, orang Indonesia keturunan Tiongkok menganggap bangunan tersebut sebagai kelenteng. Sampai saat ini kelenteng tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat ibadah. Selain itu tempat ini juga kerap dijadikan tempat untuk berziarah sekaligus berwisata sambil menikmati Kota Semarang.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk.
Gereja Blenduk.

Gereja ini terletak di Kota Lama Semarang. Saya singgah di sini sambil mengambil banyak foto di berbagai sudut. Kota lama identik dengan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur Eropa, kalau dibandingkan dengan Jakarta, tempat ini mirip dengan Kota Tua, yang ada Museum Fatahillah-nya.

Begitu pun dengan gereja blenduk, bangunannya tua dengan arsitektur Eropa. Bangunan tua peninggalan kolonial Belanda ini merupakan Gereja tertua di Jawa Tengah. Dari bagian depan bangunan tua terlihat tulisan “Gereja GPIB Immanuel”, bukan Gereja Blenduk. Saat saya berkunjung ke sana, saya tidak masuk ke dalam gereja tersebut karena di dalam sedang dilangsungkan ibadah, selain itu gereja ini juga bukan merupakan tempat wisata umum seperti halnya dengan Kelenteng Sam Pho Kong. Hanya umat Kristiani yang berniat ingin beribadah saja yang dapat masuk ke bangunan tua ini. Kala itu, saya hanya berfoto-foto memotret keindahan bangunannya.

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah.
Masjid Agung Jawa Tengah.

Sampai di tempat ini, sang surya sudah tenggelam, dan hari mulai berganti malam. Sesampainya di pintu gerbang, saya di sambut dengan penampakan Masjid Agung yang bersinar terang, lagi-lagi saya terpesona, terpatri di tempat saya berpijak sejenak. Saat setelah sadar terbangun dari hipnotis pesona Masjid Agung saya perlahan melangkahkan kaki saya menuju bagian atas masjid. Sesampainya di atas, terbaca oleh saya pada prasasti atau semacam piagam pengesahan yang terbuat dari keramik bahwa Masjid Agung Jawa Tengah ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006.

Sungguh luar biasa. Malam itu, Masjid Agung terlihat bersinar terang disinari oleh cahaya lampu, terlihat arsitektur Masjid yang begitu mempesona. Terlihat atap kubah dengan struktur tumpang yang dikelilingi lima pilar putih. Menurut saya, masjid ini terlihat sangat elegan, dengan gaya arsitektur modern.

Di depan Masjid ini, dekat dengan pintu masuk, terdapat menara masjid yang menjulang tinggi. Berdasarkan informasi penduduk setempat di atas menara tersebut terdapat restoran kecil yang biasa digunakan untuk tempat makan umum. Setiap pengunjung masjid ini bisa menaiki menara ini baik untuk sekedar melihat pemandangan dari atas atau untuk bersantai ria sambil makan sambil menikmati pemandangan kota Semarang. Satu hal yang saya sesalkan kala itu adalah saya tidak bisa naik ke menara tersebut, karena saya sampai sudah terlalu malam, jadi menara tersebut sudah ditutup.

Itulah ketiga tempat ibadah yang menurut saya amat menarik, terdapat tiga tempat ibadah unik untuk tiga agama berbeda dalam satu kota. Sungguh realita prularisme agama yang dibingkai dalam nuasa keindahan. Semoga keindahan tersebut juga bisa dimaknai sebagai indahnya toleransi beragama.

  • Disunting oleh SA 16/09/2012

Ujung Genteng, “Tanah Lot” di Pulau Jawa

Sesuai dengan namanya, Ujung Genteng, pantai ini memang benar-benar terletak paling “ujung”, ke arah selatan kota Sukabumi. Kala itu, saya memulai perjalanan ke Ujung Genteng dari Depok saat hari sudah mulai berganti malam. Entah mengapa saya lebih suka perjalanan malam, lebih asyik berjalan menyusuri destinasi ditemani dinginnya malam. Duduk anteng di bis, memandangi sinar lampu, sinar rembulan dan kelap-kelip bintang dari bilik jendela, satu hal yang dirasa: nikmat!

Seperti biasa, saya dan teman-teman kampus, berpetualang dengan cara “menggembel”. Saya harus naik bis tanpa AC. Walau tanpa pendingin, hawa panas dan gerah tidak terasa, entah karena angin malam yang dengan semilirnya masuk melalui celah jendela, atau karena saya sudah terbiasa menggembel dalam perjalanan.

Bis terus melaju, sampai akhirnya tepat tengah malam saya sampai di Kota Sukabumi. Perjalanan belum usai, karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Surade. Saya turun perlahan dan tak lama kemudian saya langsung dikerumuni banyak supir van yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke Surade. Saya sempat bingung ketika dikerumuni banyak supir, namun saya tetap berusaha bernegosiasi untuk mendapatkan tarif van termurah.

Setelah bernegosiasi ria dengan beberapa supir van, akhirnya saya dan teman-teman saya mendapatkan harga termurah, langsunglah kami semua memasukkan daypack ke dalam van.

Perjalanan dilanjutkan ke Surade, trek menuju surade lumayan panjang, masih sekitar tiga jam lagi. Saya merasakan petualangan yang seru di destinasi menuju Surade, ditemani trek yang berliku-liku, menanjak, menurun, dan terkadang dijumpai jalan yang rusak, perjalanan terasa seperti offroad. Mau tidur pun sulit, van bergoyang bak penari dangdut handal. Memandang keluar hanya terlihat bayang-bayang semak dan pepohonan, sesekali terlihat cahaya saat melewati depan rumah penduduk.

Tak terasa tiga jam berlalu, van mulai berhenti perlahan, pertanda sudah sampai kawasan Ujung Genteng. Saat pintu van terbuka, saya langsung disapa oleh angin pantai, semilir membelai rambut saya. Ombak pun tidak mau kalah menyambut saya, dalam kegelapan terdengar suara ombak berdebur, pantai memang tidak terlihat jelas, tapi saya bisa merasakan sensasi keindahannya.

Waktu sudah menunjukan sepertiga malam, bagi umat muslim seharusnya sedang fokus sholat tahujud, tapi saya dan teman-teman saya baru saja sampai serta kebingunan untuk mencari homestay untuk bermalam. Inilah hal-hal tak terduga yang terkadang saya temukan dalam perjalanan. Namun, Hal-hal yang tak terduga itulah yang biasanya paling berkesan.

Setelah keluar masuk homestay dan ternyata penuh semua, kami semua tidak kehabisan akal. Kami bertanya pada penduduk sekitar yang masih bercengkerama di warung pinggir pantai mengenai alternatif penginapan, setelah diskusi panjang, akhirnya kami semua diarahkan ke rumah penduduk yang letaknya agak jauh dari pantai.

Saya terus berjalan menyusuri jalan berbatu, sampai akhirnya tiba di rumah penduduk yang pemiliknya bersedia agar rumahnya disewakan sebagai tempat penginapan. Sungguh tidak terduga, saya ternyata bermalam di rumah penduduk. Tarifnya jauh lebih murah dari homestay.

Rumah tersebut ternyata lumayan besar, tidak kalah nyaman dengan homestay. Tanpa pikir panjang karena semua sudah kelelahan, kami langsung terbaring mengambil posisi tidur paling nyaman. Semua bergegas tidur agar energi pulih tuk bekal petualangan esok ke pantai, air terjun, dan goa.

Mentari pagi mulai muncul dari ufuk timur, saya sudah terbangun dari lelap kemudian langsung bersiap-siap tuk memulai petualangan sesungguhnya.

Dengan angkot carteran, saya berpetualang di kawasan Ujung Genteng, destinasi nomor wahid yang saya singgahi adalah Air Terjun Cikaso. Air terjun ini memiliki pesona luar biasa, disini saya disuguhkan empat air terjun sekaligus, keempatnya berjejer dalam posisi berdampingan. Terpana saya memandangi air terjun sambil merasakan kesejukan cipratan buih air terjun, sebuah pesona yang unik. Terlihat lumut-lumut menyelimuti tebing-tebing air tenjun, terlihat hijau terang dan amat menyegarkan mata. Air terjunnya sangat deras, membentuk sebuah kubangan air luas menyerupai danau. Airnya jernih dan sejuk, bisa digunakan untuk berenang.

Disarankan untuk tidak berenang terlalu jauh mendekati letak posisi air terjun, karena semakin menjauh semakin dalam, tidak disarankan untuk orang yang tidak mahir berenang.

Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.
Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.

Saat di sana, saya tidak berenang sungguhan, saya hanya di pinggiran main air sambil membasahkan kaki saja. Saat teman-teman saya sibuk berenang, saya malah sibuk mengabadikan keindahan Cikaso dengan kamera saya, saya abadikan dari berbagai sudut, semuanya tampak sempurna, indah terekam dalam lensa saya.

Puas dengan pesona Air Terjun Cikaso, saya lanjut ke lokasi selanjutnya, yaitu Goa Walet. Saya caving di sini. Letak goa Walet tidak terlalu jauh dari Air Terjun Cikaso, mobilisasi dengan angkot carteran hanya sekitar lima belas menit. Akses menuju goa ini hanya berupa jalan setapak, jadi angkot tidak bisa mendekat. Selanjutnya modal kaki, jalan menyusuri jalan setapak, melewati perkampungan dan sawah-sawah, sensasi trekking-nya amat terasa.

Terus melangkah menyusuri hamparan padi, sampai akhirnya tiba di bibir goa. Setelah izin dengan penduduk setempat, mulailah saya memasuki goa, akses pertama yang harus dilalui adalah jalan menurun yang terjal. Bahu-membahu kami memasuki goa tersebut. Goa amat gelap, bermodalkan sinar lampu petromaks, saya berjalan membuntuti seorang penduduk setempat yang menjadi pemandu wisata dadakan. Walaupun terasa pengap, sedikit udara, kegerahan, dan pakaian terbasahi dengan keringat yang mengucur, saya tetap menikmati sensasi caving di goa Walet, sangat direkomendasikan bagi para pelancong yang singgah di kawasang Ujung Genteng.

Pantai Pangumbahan.
Pantai Pangumbahan.

Puas dengan bentang alam air terjun dan goa, saya melanjutkan destinasi utama, yaitu pantai. Di kawasan Ujung Genteng, saya singgah ke beberapa pantai. Pertama, Pantai Ujung Genteng itu sendiri, lalu Pantai Pangumbahan dan terakhir Pantai Amanda Ratu. Ketiga pantai tersebut memiliki keunikan yang berbeda, masing-masing memiliki daya magnet atau daya tarik yang berbeda. Pantai Ujung Genteng memiliki keunikan dengan karang-karangnya. Terdapat banyak karang di sekitar bibir pantainya, bila air surut akan terlihat lebih jelas hamparan karang yang luas, jadi para pelancong bisa menikmati keindahan karang-karang ini sambil berjalan menjauh dari bibir pantai ke arah laut.

Berbeda lagi dengan Pantai Pangumbahan, di sini saya disuguhkan dengan keunikan penyu dan tukik. Pantai ini terkenal dengan habitat penyu menetaskan telur-telurnya. Penyu-penyu menjadikan pantai ini sebagai tempat yang paling nyaman untuk bertelur, bila para pelancong beruntung, pada tengah malam bisa melihat secara langsung prosesi penyu bertelur. Di dekat pintu masuk pantai ini terdapat penangkaran penyu, telur-telur penyu dieramkan dengan sistem penangkaran, tukik yang menetas dari telur tersebut akan dilepaskan kembali ke lautan lepas. Satu keunikan lagi dari pantai ini yaitu para pelancong dapat ikut bersama melepaskan tukik ke laut lepas, biasanya disore hari, sayang sekali saat saya berkunjung ke sana saya agak telat, sehingga prosesi pelepasan tukik ke laut lepas terlewatkan. Tapi tak mengapa, karena kekecewaan itu terbayarkan dengan keindahan pantainya. Pantainya amat indah, pasir putihnya terhampar luas, melangkahkan kaki di pantai ini akan merasakan kelembutan tiap butir pasirnya. Sama seperti pantai-pantai lain yang langsung menghadap ke Samudera Hindia, ombak di pantai ini amat besar, mengalir dengan derasnya menuju bibir pantai. Jadi, jangan coba-coba berenang terlalu jauh dari bibir pantai.

Pulau Kecil di Amanda Ratu.
Pulau Kecil di Amanda Ratu.

Pantai lain yang tidak kalah elok adalah Pantai Amanda Ratu. Pantai ini sudah mulai dikembangkan oleh investor pariwisata setempat, sehingga fasilitas di kawasan pantai ini sudah cukup eksklusif. Terdapat penginapan mewah di sekitar pantai ini, penginapan yang langsung terletak di pinggir pantai. Untuk para pelancong tipe “menggembel” sebaiknya tidak menginap di sini, karena dijamin harganya agak menguras kantong. Lebih baik mencari homestay di sekitar Pantai Ujung genteng yang harganya bersahabat dengan kantong. Tapi, bagi pelancong khas “koper” yang menginginkan fasilitas yang agak mewah, Amanda Ratu sangat direkomendasikan untuk dijadikan tempat menginap, karena fasilitas di Amanda Ratu sudah lumayan lengkap, termasuk fasilitas kolam renang di dalamnya.

Saya menyebut Pantai Amanda ratu dengan Tanah Lot versi Ujung Genteng. Pantai Amanda Ratu selintas memang menyerupai Pantai Tanah Lot yang terkenal di Pulau Dewata sana. Kemiripan itu terletak pada pulau kecil yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.


Catatan dari Dieng Culture Festival

“Don’t be a tourist. Plan less. Go slowly. I traveled in the most inefficient way possible and it took me exactly where I wanted to go.”

Serupa dengan petikan Andrew Evans di atas, yang berkelana dari Washington D.C. ke Antartika, saya juga termasuk golongan orang yang selalu merencanakan perjalanan dengan perencanaan yang seadanya, kalau kata anak abege zaman sekarang tidak perlu persiapan yang rempong, atau merepotkan. Hal ini sudah kebiasaan saya sejak dulu: Sederhana, cepat dan praktis. Langkah saya ke Dataran Tinggi Dieng untuk kali kedua, persiapannya yang ringkas, berkemas dadakan yang super cepat, dan dengan daypack dan gembolan yang tidak begitu banyak.

Dulu, kesan pertama amat memesona dan menegangkan. Kali ini, kesan kedua, sangat amat memesona dan lebih menegangkan. Kali kedua ini saya datang untuk menyambangi Dieng Culture Festival. Beragam acara akan disajikan dalam acara ini, mulai dari ritual rambut gimbal, pentas seni budaya, wayang kulit, pesta kembang api dan lain-lain.

Hari Jumat petang, terlihat dari jendela gedung kantor, langit yang mulai meredup, badan masih terpaku di depan meja kantor, tapi jiwa dan pikiran sudah melayang dan melambung di Dieng sana. Bola mata yang tak lepas memandangi jarum jam yang berjalan begitu lama menuju pukul lima. Satu menit… dua menit… tiga menit… saya nantikan. Begitu lama rasanya sampai akhirnya, teng! Jam lima! Saya langsung keluarkan langkah kaki seribu menuju meeting point di Rawamangun, untuk jumpa kawan-kawan JKT24 bersama pergi menuju Dataran Tinggi Dieng.

Rasa menegangkan, heboh, dan penasaran campur aduk jadi satu di perjalanan dari Jakarta menuju Dieng. Perjalanan malam yang panjang, damai tanpa macet, duduk santai sambil memandang kanan kiri jalan yang dipenuhi kilauan dan kelip lampu jalan, ditambah earphone yang selalu tersangkut di telinga. Rentetan lagu terputar dalam playlist, satu demi satu terdengar menenangkan jiwa. Tiba-tiba terdengar lagu “Scream” dari Usher. Salah satu bait yang menurut saya klop dengan suasana malam itu, entah kebetulan atau apa, bunyinya:

If you wanna scream, yeah, Let me know and I’ll take you there”.

Tentu saja! Ini sesuai sekali dengan gambaran hati saya. Saya ingin teriak! Please take me to Dieng! Saya ingin teriak sekencang-kencangnya di sana, di pinggir kawah, atau di pinggiran bukit. Bagi saya semua lelah, mulai jenuh, penat dan tekanan kerja, akan keluar terbuang bersama teriakan itu.

Jalan Pantura dan Jalan Trans Selatan Jawa menjadi saksi perjalanan tujuh ratus dua puluh menit menuju Dieng. Pagi menjelang siang, saya sampai di Dataran Tinggi Dieng. Saya jejakkan telapak kaki saya untuk kali kedua, matahari belum terlalu naik seratus delapan puluh derajat, terasa campuran udara dingin dan hangat, perpaduan yang sempurna rasa hangatnya sinar sang surya dengan dinginnya hembusan semilir angin.

Sebelum lebih menyelami keindahan Dieng, terlebih dahulu saya dan teman-teman JKT24 merapat ke homestay untuk menaruh daypack. Tiba di teras homestay terlihat dari luar homestay yang tidak begitu besar. Seketika saya berpikir, mungkin saya dan teman-teman JKT24 tidak akan tertampung semua. Ternyata homestay ini sangat besar memanjang ke belakang, ada empat kamar, satu ruang tamu, satu ruang televisi, satu ruang keluarga, satu toilet dan satu dapur.

Kawah Sileri dan Telaga Warna

Kawah Sileri
Kawah Sileri

Daypack, carrier, dan semua barang gembolan saya dan teman-teman JKT24 telah rampung dimasukkan ke homestay. Kemudian, dengan minibus, kami bergegas pergi menyelami keindahan Bumi Dieng. Pertama, ke Kawah Sileri. Kawah yang indah, gumpulan asap kawah membumbung tinggi ke langit yang begitu indah, langit tinggi yang terang berwana toska, dibalut gumpalan awan yang bergerak saling mengejar dan bertubrukan satu sama lain. Tubrukannya membentuk keindahan awan yang tak terhingga. Di sekeliling kawah tertampang bukit hijau luas membentang, hijau perkebunan sayur-mayur milik penduduk yang tumbuh dengan suburnya, hijau dan indah, pantulan warna hijaunya amat menyegarkan mata.

Puas menikmati panorama Kawah Sileri, berlanjut menghampiri keindahan Telaga Warna. Lokasinya tidak begitu jauh dari Kawah Sileri. Sekitar dua tahun yang lalu, kunjungan pertama saya ke Telaga Warna menorehkan bekas keindahan yang luar biasa di memori saya. Kunjungan kedua lebih membekas. Mengapa? karena tidak seperti kunjungan saya yang pertama, kala itu, di kunjungan saya yang kedua, saya menyusuri keindahan panorama Telaga Warna melalui atas bukit. Menyusuri jalan setapak munuju atap bukit, ditemani rumput ilalang di kanan-kiri jalan, hembusan angin semilir yang sesekali terdengar di telinga dan menggoyangkan Mandevilla sanderi (bunga terompet) yang bergelantungan di dahan. Terus melangkah, mendaki bukit, langkah demi langkah tak terasa lelahnya, sampai pada langkah terakhir tiba di atap bukit. Saya terdiam sejenak dengan mulut ternganga, terhipnotis dengan mahakarya Sang Maha Agung yang begitu sempurna menciptakan Bumi Dieng. Telaga Warna ini penuh pesona, terlihat berdampingan tiga telaga berwana. Damai rasanya.

Telaga Warna
Telaga Warna

Telaga Warna
Telaga Warna dari sisi lain

Itulah seni perjalanan bagi saya, menemukan ketenangan yang tiada tara.

Langit mulai memudar, warna toska mulai luntur seiring datangnya senja. Saya memutuskan untuk beranjak ke Dieng Theater yang letaknya tidak terlalu jauh dari Telaga Warna. Teater ini bentuknya tidak terlalu besar, tapi saya tidak peduli dengan ukurannya. Bagi saya, yang paling penting adalah film yang diputar malam itu yang menampilkan sejarah Bumi Dieng.

Hari semakin malam, udara semakin dingin, saya dan teman-teman JKT24 memutuskan untuk kembali ke homestay untuk sejenak bersih-bersih badan. Dari kawasan Telaga Warna dan Dieng Theater, kami jalan kaki ke homestay. Dengan udara yang dingin yang menusuk, kami jalan bersama beriringan menyusuri trotoar, sambil berceloteh ringan dan bercanda. Udara yang dingin itu seketika menjadi hangat dengan kebersamaan kami. Sampai di homestay, tidak ada yang berani mandi malam itu. Jangankan mandi, untuk sekedar cuci muka saja rasanya dingin sekali. Malam itu, empat belas derajat Celcius, saya terbalut dengan jaket gunung yang nampaknya tidak cukup menghangatkan tubuh saya. Badan kedinginan, nafas mulai mengembun, sesekali gigi tesentak karena dingin. Ini adalah kali kedua saya ke sini dan saya tetap tidak bisa beradaptasi dengan dingin yang menusuk seperti ini.

Wayang Kulit

Usai bersih-bersih dan cuci muka, saya tetap niatkan keluar homestay untuk melihat pertunjukan wayang kulit di komplek Candi Arjuna. Acara wayang kulit ini merupakan salah satu bagian dari serangkaian acara Dieng Culture Festival, jadi sayang sekali bila harus dilewatkan begitu saja. komplek Candi Arjuna tidak begitu jauh dari homestay. Penonton langsung disambut dengan iringan gamelan yang terdengar merdu. Dalang Wayang kulit dengan lincahnya mengayunkan tangannya, para pengiring suara dan sinden dengan dialek khas Jawa yang kental, membuat pertunjukan semakin meriah. Dentingan suara gamelan sungguh menenteramkan malam.

Sudah saatnya tubuh di istirahatkan untuk persiapan esok harinya untuk bangun sedini mungkin agar bisa mengejar matahari terbit di Bukit Sikunir.

Mengejar Mahatari

Matahari terbit di Bukit Sikunir
Matahari terbit di Bukit Sikunir

Ketukan pintu membangunkan saya dari lelap. Terdengar suara teman saya membangunkan saya untuk segera bergegas menuju Bukit Sikunir. Subuh itu, saya bergegas dari kasur karena minibus yang akan mengantarkan kami menuju Bukit Sikunir sudah menunggu, tidak terpikir di benak saya untuk mandi terlebih dahulu, subuh itu hawa menjadi semakin dingin, suhu mencapai tiga belas derajat Celcius.

Minibus melaju perlahan, hawa dingin masuk melewati celah-celah jendela, suasana hening dan sepi, semua masih mengantuk. Kendaraan terus melaju sampai akhirnya bunyi ampas rem terdengar menandakan kami telah tiba di pemberhentian terakhir. Perjuangan untuk menikmati matahari terbit belum usai, saya pun masih harus menanjak Bukit Sikunir tuk sampai ke puncaknya. Jalan perlahan menyusuri tanah setapak menanjak, dibantu dengan cahaya senter yang redup akhirnya saya sampai di puncak. Memandang luas ke hamparan bukit, terlihat Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, siluet jingga mulai muncul di langit yang gelap, semakin lama berubah menjadi kemerahan, ditemani semilir angin yang membawa hawa dingin, awan putih yang bergumpal tampak di bawah bukit, seketika saya takjub karena saya berdiri diatas awan. Bukit Sikunir, sebuah bukit di atas awan. Mentari perlahan muncul, siluet jingga semakin terang, cahayanya menghapus kegelapan, dan membawa kehangatan. Kamera saya siap siagakan untuk mengabadikan sunrise yang begitu indah, amat sempurna!

Ritual Rambut Gembel

Ritual rambut gembel
Ritual rambut gembel

Rambut gembel adalah rambut yang tumbuh pada anak-anak atau bocah, umurnya kisaran lima sampai sepuluh tahun, bentuk rambutnya ikal dan tidak teratur. Berdasarkan keterangan penduduk sekitar dan para pemangku adat, sebelum rambut ini muncul dan tumbuh pada diri sang anak, anak tersebut akan mengalami demam dan panas tinggi disertai mengigau saat tidur. Gejala ini baru berhenti dengan sendirinya saat rambut sang anak mulai tumbuh secara ikal dan kusut tidak beraturan. Ritual ruwatan rambut gembel adalah tradisi peninggalan leluhur yang dari dulu hingga sekarang masih terjaga. Banyak anak di Dieng yang rambutnya tumbuh seperti itu, berdasarkan keterangan penduduk sekitar, rambut gembel yang tumbuh pada anak itu dianggap sebagai bala, sehingga para anak yang telah dipangkas rambut gembelnya, dipercayai akan tumbuh menjadi anak baik, panjang umur dan banyak rezeki. Sebaliknya, bila tidak dicukur, ia akan menjadi anak yang tidak beruntung dan kelakuannya menjadi nakal.

Siang itu matahari mulai meninggi, acara ritual siap untuk dimulai. Rombongan pemangku adat dan arak-arakan sudah mulai memasuki pelataran candi. Kala itu, ada enam orang anak yang mengikuti ritual rambut gembel, anak-anak tesebut berusia empat sampai tujuh tahun. Sebelum prosesi ruwat dimulai, setiap anak yang diruwat harus dipenuhi permintaannya. Bedasarkan informasi pemuka adat, bila permintaan itu tidak terpenuhi, sekali pun rambut gembel sudah dicukur, rambut gembel akan tumbuh kembali. Oleh karena itu, orang tua wajib mengabulkan permintaan sang anak. Kala itu, permintaan tiap anak beragam dan sangat unik: ada yang meminta sepeda, domba, ayam jago sampai makanan kecil. Semuanya dikabulkan oleh orang tuanya.

Bagi saya, ritual ini adalah bagian budaya Indonesia yang berharga nilainya, patut dijaga tradisinya. Kita harus mendukung acara itu agar terus terlaksana dalam tahun-tahun berikutnya. Siapa tahu dengan dukungan penuh orang Indonesia, acara ini bisa diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Hampir tiga jam acara ritual rambut gembel berlangsung, saya bergegas untuk melangkahkan kaki dari komplek Candi Arjuna untuk kembali ke homestay. Sesampainya di homestay langsunglah saya mengemas daypack dan bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta.

  • Disunting oleh SA 23/07/2012

Artikel selanjutnya

© 2017 Ransel Kecil