Semua tulisan yang ditulis oleh Madi Muktiyono

Madi Muktiyono

Madi Muktiyono. Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia. Bekerja sebagai penasehat legal di salah satu perusahaan energi di Jakarta, sambil kuliah melanjutkan magister kenotariatan di kampus yang sama. Bermimpi bisa keliling Indonesia untuk menyelami keindahan negeri dari Sabang sampai Merauke.

Wisata Pulau di Taman Nasional Ujung Kulon

Ada surga di ujung paling barat Pulau Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon namanya. Di tempat yang merupakan wilayah taman nasional yang dilindungi ini hidup badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya.

Bentang alam di Taman Nasional Ujung Kulon amat beragam, mulai dari bentang alam laut, bentang alam hutan rawa dan ekosistem daratan. Jadi, saat saya berkunjung ke taman nasional yang asri ini, saya bisa merasakan serunya petualangan trekking di bentang rawa dan hutan yang masih alami dan snorkeling di bentang alam laut yang masih bersih dengan perpaduan pasir putih nan indah.

Menikmati senja.
Menikmati senja.

Baca seutuhnya →

Icip-Icip Ayam Taliwang Asli Lombok

Bagi saya belum resmi ke Pulau Lombok kalau belum menyantap Ayam Taliwang. Kala berlibur di Lombok, saya sempatkan diri saya untuk icip-icip Ayam Taliwang di salah satu restoran di sekitar Pantai Senggigi Lombok. Bagi yang belum tahu Ayam Taliwang, makanan ini adalah menu khas Lombok yang khas dengan bumbu pedasnya. Sejarahnya, menu lezat ini ditemukan oleh juru masak dari kalangan Kesultanan Sumbawa. Pertama kali menu ini dirintis oleh sang Ibu Tua Maknawiyah bernama Pupuq yang berasal dari Kampung Taliwang, Ibu ini bekerja sebagai penjual nasi ayam. Kala itu Ayam Taliwang amat tenar dan kemudian bermunculan pedagang-pedagang baru asal kampung itu yang semakin menjamur menggunakan nama Ayam Taliwang pula.

Ayam Taliwang Bumbu Pedas
Ayam Taliwang Bumbu Pedas.

Baca seutuhnya →

Goa Pindul, Gunung Kidul

Terkesima saya melihat surga kecil tersembunyi di Desa Beji, kecamatan Karang mojo, Kabupaten Gunung Kidul. Goa Pindul namanya. Saya menyusuri goa ini dengan decak kagum yang tiada henti-hentinya. Mereka yang menyukai kegiatan cave tubing atau penyusuran goa dengan menggunakan ban yang mengapungkan tubuh kita, pasti suka dengan Goa Pindul karena kondisinya cocok untuk kegiatan ini.

Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.
Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.

Baca seutuhnya →

Taman Lampion

Taman lampion, bukan taman sembarang taman, melainkan taman yang unik dengan kekhasan lampionnya. Taman lampion, destinasi yang berbeda dan menawan.

Persis dengan namanya, taman lampion, di tempat ini di sana-sini bertebaran lampion menerangi taman dengan sinarnya. Sejauh mata memandang terlihat lampion yang bersinar dan berkelip, ada yang tergelantung diatas, ada yang tertanam ditanah, dan ada pula yang mengapung di kolam. Bentuknya pun beragam, mulai dari bentuk yang tak beraturan, bentuk yang menyerupai bangunan-bangunan legendaris dunia, menyerupai tokoh-tokoh kartun, sampai yang menyerupai dunia flora dan fauna.

Baca seutuhnya →

Uji Nyali di Bukit Bangkirai

Berada di atas Canopy Bridge.
Berada di atas Canopy Bridge.

Di pagi yang cerah sekitar pukul delapan pagi, selepas menyelesaikan sarapan di hotel di Balikpapan. Saya bergegas untuk check out dari hotel dan kemudian saya duduk di lobi, menunggu kawan yang akan menemani saya melancong di sekitar kota Balikpapan.

Sesuai dengan rencana sebelumnya, saya dan keempat kawan saya berencana untuk mengunjungi kawasan Bukit Bangkirai. Kawasan hijau yang merupakan kawasan hutan konservasi yang terletak di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Untuk melihat keindahannya, dibutuhkan jarak tempuh sekitar 50 km yang menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Perjalanan yang cukup jauh, tapi tidak membosankan, karena di sepanjang perjalanan menuju Bukit Bangkirai, saya disuguhkan pemandangan bukit bukit nan hijau dan hutan yang penuh dengan pepohonan. Suasana dalam perjalanan menjadi semakin seru saat mobil melaju memasuki hutan, melewati jalan kecil yang berkelok, berbatu dan berkerikil, membuat mobil jadi bergoyang.

Baca seutuhnya →

Menengok Keunikan Tempat Ibadah di Semarang

Hampir semua orang pasti sudah tahu kota ini, kota besar di Jawa Tengah yang merupakan ibukota provinsi. kota ini terkenal dengan wilayah dataran rendahnya, terutama daerah Semarang Bawah, yakni sekitar empat kilometer dari garis pantai. Kawasan dataran rendah tersebut kerap dilanda banjir yang disebabkan luapan air laut atau biasa dikenal dengan istilah rob.

Bicara soal banjir Semarang Bawah, saya jadi ingat lagu “Jangkrik Genggong” yang dalam salah satu penggalan liriknya berbunyi “Semarang kaline banjir, aja sumelang ora dipikir, jangkrik mlumpat saba neng tangga…“. Tuh kan, saking terkenalnya banjir di Semarang, sampai-sampai hal ini dimasukan dalam bait lirik lagu.

Pastinya sudah banyak sekali pejalan yang sering mengunjungi kota ini, baik itu hanya untuk sekedar lewat atau sengaja niat untuk menikmati keindahan kota ini. Kala itu, saya singgah di Semarang memang sengaja berniat untuk berplesir.

Seperti biasa, saya melancong ala backpacker, keliling kota Semarang bersama teman-teman kampus. Saat plesiran kala itu ada hal unik yang saya temukan dari Kota Semarang. Kota ini memiliki banyak bangunan tempat ibadah yang bersejarah dengan arsitektur menawan. Kala itu, saya mengunjungi Kelenteng Sam Po Kong, Gereja Blenduk, dan Masjid Agung Jawa Tengah. Semua tempat ibadah tersebut memiliki keunikan tersendiri, dan sangat indah untuk di kunjungi. Mari kita bahas satu per satu!

Baca seutuhnya →

Ujung Genteng, “Tanah Lot” di Pulau Jawa

Sesuai dengan namanya, Ujung Genteng, pantai ini memang benar-benar terletak paling “ujung”, ke arah selatan kota Sukabumi. Kala itu, saya memulai perjalanan ke Ujung Genteng dari Depok saat hari sudah mulai berganti malam. Entah mengapa saya lebih suka perjalanan malam, lebih asyik berjalan menyusuri destinasi ditemani dinginnya malam. Duduk anteng di bis, memandangi sinar lampu, sinar rembulan dan kelap-kelip bintang dari bilik jendela, satu hal yang dirasa: nikmat!

Seperti biasa, saya dan teman-teman kampus, berpetualang dengan cara “menggembel”. Saya harus naik bis tanpa AC. Walau tanpa pendingin, hawa panas dan gerah tidak terasa, entah karena angin malam yang dengan semilirnya masuk melalui celah jendela, atau karena saya sudah terbiasa menggembel dalam perjalanan.

Bis terus melaju, sampai akhirnya tepat tengah malam saya sampai di Kota Sukabumi. Perjalanan belum usai, karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Surade. Saya turun perlahan dan tak lama kemudian saya langsung dikerumuni banyak supir van yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke Surade. Saya sempat bingung ketika dikerumuni banyak supir, namun saya tetap berusaha bernegosiasi untuk mendapatkan tarif van termurah.

Pulau Kecil di Amanda Ratu.
Pulau Kecil di Amanda Ratu.

Baca seutuhnya →

Catatan dari Dieng Culture Festival

“Don’t be a tourist. Plan less. Go slowly. I traveled in the most inefficient way possible and it took me exactly where I wanted to go.”

Serupa dengan petikan Andrew Evans di atas, yang berkelana dari Washington D.C. ke Antartika, saya juga termasuk golongan orang yang selalu merencanakan perjalanan dengan perencanaan yang seadanya, kalau kata anak abege zaman sekarang tidak perlu persiapan yang rempong, atau merepotkan. Hal ini sudah kebiasaan saya sejak dulu: Sederhana, cepat dan praktis. Langkah saya ke Dataran Tinggi Dieng untuk kali kedua, persiapannya yang ringkas, berkemas dadakan yang super cepat, dan dengan daypack dan gembolan yang tidak begitu banyak.

Telaga Warna
Telaga Warna

Baca seutuhnya →