Artikel-artikel yang ditulis oleh Madi Muktiyono (halaman ke-1 dari 2)

Tembok Berlin, Sorong, Papua Barat: Rajanya Makanan Laut

Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.
Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.

Namanya “Tembok Berlin”, seperti nama kota di Eropa, namun ini hanya kemiripan nama saja dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Eropa. Tembok Berlin adalah tempat makan makanan laut paling ramai di kunjungi di Kota Sorong, Papua Barat.

Saya kurang begitu paham mengapa tempat ini dinamakan Tembok Berlin. Saya sempat bertanya kepada pedagang disekitar Tembok Berlin dan petugas hotel tempat saya menginap, namun mereka pun kurang begitu paham mengenai filosifi asal-muasal nama itu.

Saya berjalan menyusuri Tembok Berlin, megarahkan pandangan ke arah laut, terlihat kapal-kapal besar mulai dari kapal tanker sampai dengan kapal pinisi, angin berhembus sejuk membawa hawa kesegaran. Saya menghentikan langkah di sebuah tenda, tempat penjual makanan kecil untuk rehat sejenak ditemani segelas susu hangat. Saya duduk tepat di depan tembok pembatas antara pantai dengan jalan raya tepi pantai, santai sambil menyeruput susu hangat, kehangatannya sangat cocok di udara dingin akibat mendung.

Sore hari yang damai, awan-awan terlihat sedikit menghitam, namun tidak mengurangi magnet keindahan Kota Sorong menjelang senja. Suasana begitu santai, berkumpul bersama penduduk lokal, kawula muda, berdialog santai menunggu senja.

Senja yang ditunggu tidak begitu sempurna, terhalang awan-awan hitam, sang surya pun tidak begitu terlihat jelas, namun tetap terlihat rona jingga khas senja yang menjadi pemanis suasana.

***

Kepiting asam-manis sungguh menggugah selera.
Kepiting asam-manis sungguh menggugah selera.

Penjual sedang membakar ikan.
Penjual sedang membakar ikan.

Selepas senja, lapar melanda, perutku serasa memanggil-manggil untuk segera diisi. Saya kembali menyusuri Tembok Berlin ke arah selatan, mencari warung-warung penjual makanan laut. Saya amat penasaran dengan dengan sensasi makan makanan laut di pinggir laut Tembok Berlin. Sebelum pergi ke Sorong, kawanku pernah berpesan pada saya agar menyempatkan diri makan makanan laut di Tembok Berlin. Katanya tidak sah ke Sorong bila tidak menikmati makanan di Tembok Belin.

Saya terus melangkah mengamati warung-warung seafood yang mulai ramai. Dari kejauhan sudah tercium aroma sedapnya ikan-ikan laut yang dibakar. Saya sempat bingung ingin makan di mana, ada beberapa warung yang menjual makanan laut. Saya sempat berputar-putar mencari warung yang paling ramai dengan asumsi bahwa tempat yang ramai berarti makanannya paling enak dan favorit.

Saya menghentikan langkah di Warung Miranda. Warung ini tidak terlihat seperti restoran mewah, namun ramai, bangunan warung menggunakan bangunan semi permanen dan tanpa pendingin udara, hanya menggunakan pendingin alam, semilir angin laut yang membawa udara yang cukup sejuk. Belum mulai makan namun saya sudah bisa membayangi betapa nikmatnya menyantap seafood makanan laut langsung di tepi laut.

Warung Miranda kala itu amat ramai, saya sempat kebingungan mencari tempat, butuh beberapa menit sampai akhirnya saya dapat tempat meja di pojok kanan. Saya langsung membuka menu. Saya lihat harga makanan di daftar menu, cukup menyenangkan karena harganya tidak terlalu mahal. Menunya banyak pilihan, mulai dari udang, cumi, kepiting, dan ikan bakar, semuanya dengan pilihan bumbu saus mentega, goreng tepung dan asam-manis.

Warung makan Marinda yang ramai pengunjung.
Warung makan Marinda yang ramai pengunjung.

“Pak, saya mau pesan,” kataku sedikit teriak memanggil seorang bapak paruh baya yang sedang sibuk merapikan piring. “Iya mas, mau pesan apa?” tanya bapak itu sambil menyiapkan catatan dan pena. “Saya pesan kepiting asam manis, kangkung cah satu, dan minumnya air es jeruk nipis,” pesanku dengan porsi yang tidak terlalu banyak. “Siap ditunggu pesanannya, Mas.” bapak itu kemudian langsung bergegas menuju tempat masak.

Sepuluh menit menunggu, semua makanan yang saya pesan terhidang lengkap. Saatnya makan! Satu ekor kepting basar terhidang di hadapan saya, inilah menu yang saya tunggu-tunggu, sebelum sampai di Sorong bahkan saya sudah bertekad dalam hati untuk makan kepiting di Tembok Berlin, akhirnya kesampaian juga.

Belajar dari pengalaman makan kepiting menggunakan alat pemecah cangkang di Rumah Makan Dandito Balikpapan, Kalimantan Timur. Saya melihat ke sekeliling meja mencari alat untuk membuka cangkang kepiting, semacam tang atau palu khusus, namun nampaknya tidak disediakan.

Sebelum makan saya mencuci tangan sampai bersih, saya siap makan kepiting hanya dengan tangan. Seperti biasa, saya merasakan sensasi memecah cangkang kepiting, makin membuat makan terasa nikmat. Aroma saus asam-manis, yang menjadi saus kepiting makin menyeruak. Saus ini menyelimuti dan menyerap ke dalam kepiting rongga-rongga kepiting, saya makan perlahan, saya hisap perlahan, begitu nikmat dan lezat!

Dimakan bersama cah kangkung terasa lebih nikmat.
Dimakan bersama cah kangkung terasa lebih nikmat.

Rasa pedas sausnya sungguh amat terasa, makin mantaplah rasanya. Tak lupa saya menimati kelezatan cah kangkung yang tak kalah menggugah selera saya, begitu nikmat rasanya perpaduan yang sempurna.

Usai makan cangkang kepiting bertebaran di sekeliling piring, meja tempat saya makan menjadi sedikit kotor, saya makan berantakan seperti anak kecil. Saya puas dengan rasanya, amat enak dan sesuai dengan harapan saya. Harga makanan yang murah, suasana yang nyaman di pinggir laut, dan rasanya yang amat memanjakan lidah menjadikan Tembok Berlin sebagai tempat rajanya makanan laut.

  • Disunting oleh SA 27/09/2014

Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur

Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo.

Dari sekian banyak cerita perjalanan saya di Indonesia, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat yang punya paling banyak cerita. Terlalu banyak keindahan yang bisa di ceritakan sampai tiada habisnya.

Saya mengunjungi Taman Nasional Komodo bertepatan dengan acara puncak Sail Komodo 2013. Sengaja saya pilih waktu yang bertepatan dengan acara tersebut, agar dapat merasakan nuansa salah satu acara pariwisata terbesar di Indonesia. Banyak sekali serangkaian acara yang di selanggarakan pada acara puncak Sail Komodo 2013, mulai dari acara pariwisata dan acara budaya. Saking banyaknya, saya harus membagi waktu untuk menikmati kedua acara tersebut.

Sabtu pagi yang cerah saya sudah berdiri di dermaga Labuan Bajo, dan siap untuk berpetualang di Taman Nasional Komodo selama satu hari penuh. Sengaja saya memilih one day trip, karena saya ingin melihat pergelaran budaya di hari berikutnya.

Penjelasan mengenai trekking oleh ranger.
Penjelasan mengenai trekking oleh ranger.

Selamat datang di Taman Nasional Komodo!
Selamat datang di Taman Nasional Komodo!

“Hari ini ada dua pilihan, pilihan pertama kita ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca, tapi kita tidak ke pulau-pulau kecil di sekitarnya untuk snorkeling, karena waktu pasti tidak akan cukup. Dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo saja akan ditempuh selama tiga jam, pulang pergi sudah enam jam dan itu cuma perjalanannya saja,” ujar sang penjaga kapal. “Pilihan kedua, kita ke Pulau Rinca saja—tidak usah ke Pulau Komodo—kemudian kita bisa keliling ke Pulau-Pulau sekitarnya sambil snorkeling,” lanjut penjelasan dari penjaga kapal.

“Enaknya bagaimana ya, Pakl supaya bisa berpetualang dari pagi sampai sore sampai puas,” tanya saya dan keempat rekan saya serentak. “Saran saya lebih baik pilihan kedua saja, kita tidak usah ke Pulau Komodo, karena terlalu jauh dari Labuan Bajo. Kalau hanya mau lihat komodo saja sih mending ke Pulau Rinca, di sana lebih banyak komodonya daripada di Pulau Komodo. Dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca pun tidak begitu jauh, hanya sekitar satu setengah jam. Setelahnya kita masih punya banyak waktu untuk mengelilingi pulau-pulau kecil di sekitarnya yang lebih eksotis dari Pulau Komodo, bisa menikmati pantainya dan snorkeling lebih lama,” jelas petugas kapal sembari memberi saran.

Sip deh Pak kalau begitu, kita pakai pilihan kedua saja untuk petualangan hari ini,” serentak saya dan keempat teman saya memilih. Suara bising mesin kapal pun mulai terdengar, dan kapal siap berlabuh meninggalkan dermaga Labuan Bajo.

Pulau Sebayur
Pulau Sebayur. Cantik, ya?

Savana di Taman Nasional Komodo
Savana di Taman Nasional Komodo.

Kapal terus melaju menembus ombak, saya melihat banyak kapal-kapal yang lego jangkar yang akan meramaikan acara puncak Sail Komodo 2013. Saya sungguh terkesan dengan panorama yang luar biasa terbentang dihadapan mata saya, laut yang biru, dan pulau-pulau menjadi perpaduan yang mempesona.

Asyik mengobrol dengan rekan-rekan saya, satu setengah jam berlalu tanpa terasa tiba-tiba kapal sudah mendekat ke Dermaga Pulau Rinca. Setelah merapat kami pun perlahan menuruni kapal dan siap berpetualang di Pulau Rinca.

Tak jauh dari dermaga terdapat pintu masuk Pulau Rinca, di pintu masuk saya dan rekan-rekan saya langsung di sambut oleh ranger yang akan mendampingi saya Trekking di Pulau Rinca. Baru saja melewati pintu masuk, saya langsung disuguhi tanah lapang berisi pohon-pohon bakau, terhampar perbukitan savana yang membuat saya merasa sedang berada di Afrika.

Komodo!
Komodo!

Komodo Resort
Komodo Resort.

Sebelum trekking dimulai saya dan rekan-rekan saya harus lapor dahulu di pos lapor dengan menulis identitas diri masing-masing, semacam buku tamu. Kemudian setelah itu ranger menjelaskan tentang jenis-jenis trekking. Di Pulau Rinca ada beberapa trek yang bisa dipilih. Dari jalur pendek sampai panjang yang memakan waktu satu hingga tiga jam. Rute trekking-nya sama sekali tidak membosankan. Oleh ranger saya diajak menanjak, menurun, melewati bebatuan dan hutan menikmati nuasa liar Pulau Rinca. Sungguh terasa petualangan liarnya.

Baru beberapa meter berjalan dari pos lapor, komodo-komodo sudah menyambut. Mereka berada di bawah rumah dan dapur para ranger. Para komodo banyak berkeliaran di sini, berkeliarannya komodo di area ini karena bau makanan yang memancing mereka berkumpul. Penciuman hewan pemangsa ini memang sangat tajam. Para komodo tanpak sedang tiduran di tanah, namun para ranger tetap menginstruksikan saya agar tetap waspada, sambil waspada saya tetap berfoto mengambil gambar dengan sudut yang pas.

Trekking dilanjutkan kembali, di tengah trek saya melewati sarang tempat komodo bertelur. Sarang komodo ini berbentuk lubang berkedalaman sekitar 2 meter. Di tempat inilah sang kadal raksasa ini bertelur. Tampak di dekat lubang tersebut seekor komodo betina yang menjaga sarang.

Sepanjang trekking, ranger terus mengingatkan agar tetap waspada dan berhati-hati. Terutama saat berada di sekeliling pepohonan karena anak komodo biasanya tinggal di atas pohon. Jangan sampai tertiban atau kejatuhan ludahnya yang mengandung banyak bakteri. Itulah mengapa, para peserta trekking harus selalu berada dekat dengan rangernya. Agar lebih aman dan perjalanan trekking lebih nyaman.

Dari sepanjang jalan trekking tempat trekking di Pulau Rinca yang menurut saya paling berkesan adalah saat berada di Puncak Bukit. Saat saya berada di puncak bukit saya memberhentikan sejenak langkah saya dengan pandangan mata melihat sekeliling. Terhampar birunya laut yang bergradasi dengan birunya langit, ditambah dengan hijaunya pepohonan di kejauhan. Sungguh panorama yang indah dipandang, amat menenangkan mata. Kumpulan bebatuan dan ilalang semakin menambah keelokannya. Apalagi kala itu cuaca sedang bagus dan mendukung, pemandangan semakin luar biasa.

Tak terasa trekking pun usai, puas berpetualang di Pulau Rinca, saya lekas melanjutkan petualangan selanjutnya yaitu menuju Pulau Sebayur. Pulau Sebayur berada tepat di perbatasan Taman Nasional Komodo. Pulau ini bisa dicapai dengan menempuh perjalanan laut kira-kira selama setengah jam dari Pulau Rinca ataupun selama kira-kira 1,5 jam dari Pulau Labuan Bajo. Kala itu perjalanan kapal agak cepat, hanya sekitar satu jam kapal sudah merapat di dermaga Pulau Sebayur.

Pulau Sebayur dikenal oleh banyak pelancong sebagai salah satu di antara lokasi menyelam dan snorkeling yang paling bagus di Kawasan Taman Nasional Komodo. Pulau ini disewakan oleh pemerintah kepada pihak asing dalam jangka waktu yang cukup lama, kurang lebih selama 30 tahun, investor asing yang menyewa tanah di Pulau ini membangun fasilitas penginapan yang luar biasa indahnya. Suatu kombinasi yang sempurna, pulau indah yang dikelilingi oleh laut, difasilitasi dengan resor yang menawarkan, laksana sebuah area pantai dan pulau pribadi.

Resor di pulau ini bernama Komodo Resort. Saya tidak menginap di sini. Dari luar, resor sangat terlihat antik sekaligus mewah, masing-masing kamar memiliki sebuah teras pribadi di mana orang bisa menikmati pemandangan laut. saya berpikiran suatu saat nanti ingin bulan madu di sini.

Saya juga merasa puas mengamati keindahan ekosistem penghuni dasar laut, mulai dari koral, terumbu karang, beragam jenis ikan cantik bisa diamati dengan bebas di sini.

Pulau sebayur meninggalkan bekas keindahan yang sampai sekarang masih terbayang di pikiran saya, dari sekian banyak pulau yang saya kunjungi di Indonesia, Pulau Sebayur termasuk menjadi pulau terfavorit bagi saya.

  • Disunting oleh SA 18/03/2014

Iboih Inn Bar & Resto Pulau Weh, Aceh

Dermaga tempat bersantai
Dermaga tempat bersantai.

Berbicara mengenai Sabang, tak bisa menghindar dari lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”. Benar saja, Indonesia adalah negara kepulauan, dan kepulauan tersebut dimulai dari ujung paling barat yaitu Pulau Weh dengan Sabang sebagai pusat kotanya. Beruntung sekali bagi saya bisa mengunjungi tempat seindah ini. Banyak tempat menarik di Pulau Weh, diantaranya yang saya kunjungi adalah Tugu Nol Kilometer, Iboih, Rubiah, Gapang, Sabang sebagai pusat kota Pulau Weh, dan Sumur Tiga, dan dari semua tempat tersebut yang paling berkesan menurut saya adalah Iboih.

Pintu masuk Iboih Inn melalui dermaga
Pintu masuk Iboih Inn melalui dermaga.

Resepsionis
Resepsionis.

Iboih terletak di bagian tengah Pulau Weh. Butuh sekitar satu setengah jam perjalanan menggunakan mobil dari Pelabuhan Balohan menuju Iboih. Iboih memiliki banyak pantai yang menawan. Sesampainya di Iboih mobil yang saya naiki parkir di sekitar dermaga Iboih, pas di tepi pantai. Suasana laut mulai saya rasakan, hembusan angin saya dengar seakan sedang menyapa saya “Selamat Datang di Iboih”.

Hari sudah menunjukan Pukul 12 siang, namun matahari tidak begitu terik, tak lama setelah itu saya langsung mencari tempat untuk menginap. Banyak sekali penginapan di Iboih, mulai dari tarif yang murah sampai dengan tarif yang mahal. Setelah berdikusi dengan teman saya, akhirnya saya putuskan untuk menginap di Iboih Inn.

Banyak pertimbangan mengapa saya memilih untuk menginap di Iboih Inn, salah satunya menurut referensi dari masyarakat lokal, Iboih Inn merupakan salah satu penginapan yang ternyaman. Dari segi harga, Iboih Inn memang tergolong agak mahal dibandingkan dengan penginapan yang lainnya, namun hal ini sebanding dengan kenyamanan yang di dapat yang mungkin tidak bisa di dapat dari penginapan lain.

Saya pikir, sudah jauh-jauh datang dari Jakarta ke Sabang, untuk harga soal belakangan, yang penting saya dan teman saya bisa menginap di penginapan ternyaman dan terindah, dan menurut saya Iboih Inn merupakan penginapan yang tepat untuk saya.

Untuk menuju penginapan ini, dari dermaga Pantai Iboih Inn ada dua cara, cara yang pertama bisa minta dijemput di dermaga Pantai Iboih oleh pihak Penginapan Iboih Inn menggunakan kapal, atau jalan kaki lewat perbukitan. Saya jalan kaki menuju atas perbukitan, karena saya belum booking sebelumnya, terdapat jalan setapak menuju Iboih Inn, jalannya rapi dan dari jalan itu terlihat pemandangan laut dan pantai yang menyenangkan mata. Perjalanan dilanjutkan jalan kaki 15 menit sebelum sampai di Iboih Inn.

Saya langsung menuju resepsionis untuk memesan kamar. Untungnya masih ada kamar tersedia. Saya memilih kamar yang paling mahal yang letaknya pas di tepi laut. Terdapat bebagai macam jenis kamar di Iboih Inn, mulai dari Budget Room, Deluxe Seaview-fan, dan Deluxe AC Seaview.

Dermaga apung
Dermaga apung.

Jenis Budget Room terletak di atas perbukitan, letaknya agak jauh dari tepi laut, jenis kamar ini adalah jenis kamar yang paling murah harganya Rp200.000 (tahun 2013) harga tersebut sudah termasuk free sarapan. Tipe kamar ini ada yang twin bed ada pula yang single bed, bisa di pilih sesuai dengan kebutuhan.

Tipe kamar yang kedua adalah Deluxe Seaview-Fan, letak kamar ini agak dekat dengan laut, tidak dilengkapi dengan AC hanya kipas angin saja, harganya sekitar Rp300.000 (tahun 2013), harga ini sudah termasuk sarapan.

Tipe Kamar yang terakhir adalah Deluxe AC Seaview, letak kamar ini pas sekali di pinggir laut, harganya Rp400.000 (tahun 2013). saya menginap di tipe kamar ini, sengaja saya memilih tempat ternyaman, tak masalah bagi saya harus mengeluarkan kocek yang lebih mahal, asalkan bisa mendapatkan kenyamanan yang lebih. Saya cukup puas dengan kenyamanan di kamar ini, dari kamar saya terlihat laut yang amat biru, saya bisa merasakan hembusan angin pantai dan bisa mendengarkan suara ombak. Kenyamanan tidak cukup sampai di situ, kamar ini juga dilengkapi pendingin udara dan air panas di kamar mandinya.

Persewaan alat snorkeling
Persewaan alat snorkeling.

Kamar Deluxe AC Sea-View tempat saya menginap
Kamar Deluxe AC Sea-View tempat saya menginap.

Terdapat banyak fasilitas-fasilitas menarik di penginapan ini, di antaranya bar dan resto yang terdapat di tepi laut dan dermaga apung. Bar dan restorannya menyediakan banyak makanan yang enak dengan harga yang terjangkau, saya sempat memesan nasi goreng di restoran ini. Di dekat restoran dan bar terdapat dermaga tempat untuk bersantai ria, terdapat meja dan bangku yang nyaman untuk ngobrol-ngobrol dan menikmati hangatnya matahari. Terdapat juga dermaga terapung yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai ataupun memancing.

Fasilitas lain di penginapan ini disediakan persewaan alat-alat snorkeling, harganya relatif murah, selain ini terdapat pula persewaan kamera bawah air, jadi para pengunjung yang suka dengan aktivitas laut tidak perlu takut karena fasilitas semuanya sudah disediakan di sini. Iboih Inn juga menyediakan persewaan kapal kecil yang bisa digunakan untuk menyeberang ke Pulau Rubiah yang letaknya tidak jauh dari Iboih.

Menu sarapan Iboih Inn sangat istimewa dan lengkap: nasi, lauk dan sayur.

Secara keseluruhan saya puas menginap di Iboih Inn, bagi anda yang berniat untuk berlibur ke Pulau Weh terutama di daerah Iboih, penginapan ini bisa dijadikan salah satu pilihan terbaik, informasi lebih lengkapnya dan pemesanan bisa di hubungi di:

Iboih Inn
Teupin Layeu, Iboih, Pulau Weh
Sabang, Aceh, Indonesia
E-mail: iboih.inn@gmail.com atau contact@iboihinn.com
Telepon: +62 811 841 570, +62 812 699 1659

  • Disunting oleh SA 04/03/2014

Menyantap Mie Aceh dan Sate Gurita di Aceh

Kedai Sate Gurita di Pujasera Pulau Sabang
Kedai Sate Gurita di Pujasera Pulau Sabang

Saat saya berkunjung ke Aceh, saya mencoba beberapa menu masakan khas daerah ini, di antaranya yang menurut saya memiliki cita rasa tersendiri adalah mie aceh dan sate gurita. Mie aceh saya nikmati di Banda Aceh dan sate gurita saya nikmati di Sabang.

Restoran Mie Razali
Restoran Mie Razali

Mie Aceh yang digoreng kering
Mie Aceh yang digoreng kering

Menikmati mie aceh langsung di Aceh tentunya terdapat sensasi tersediri bagi saya, rasanya beda dengan menikmati mie aceh di kota asal saya yaitu Jakarta. Saat di Aceh, saya menimati mie aceh di salah satu restoran mie aceh yang cukup terkenal, Restoran Mie Razali. Letak restoran ini tidak jauh dari hotel tempat saya menginap yaitu di Hotel 61 Jalan Panglima Polim, Banda Aceh. Saya saat berkunjung ke restoran ini, tempatnya tak sepi, tempatnya ramai mungkin karena strategis, mudah dijangkau karena letaknya di pusat kota.

Saya tahu dari papan nama restoran ini Mie Razali nampaknya sudah ada sejak tahun 1967. Namanya diambil sesuai dengan nama pemiliknya, Razali, yang kini telah almarhum. Bisnis mie di retsoran tersebut kini ditangani dan diteruskan oleh keluarganya.

Secara umum di restoran Mie Razali ini ada tiga menu, yaitu mie kuah basah, mie goreng basah dengan sedikit kuah, dan mie goreng kering tanpa kuah. Di restoran ini saya memesan mie kesukaan saya, yaitu mie aceh goreng yang kering. Setelah pesanan saya terhidang di meja saya, aromanya begitu menggoda selera. Setelah saya makan, suapan pertama rasanya begitu menggoda, saya pun makan dengan enaknya, rasanya amat maknyus.

Sate Gurita dengan Bumbu Kacang
Sate Gurita dengan Bumbu Kacang

Mie aceh terlihat unik bila dibandingkan dengan mie lainnya, perbedaan dengan mie lainnya terutama pada bentuknya. Mie yang saya makan di restoran Mie Razali ini terbuat dari tepung dan berwarna kuning, ukurannya sedikit lebih besar dari mie biasanya. Bila saya rasakan dengan lidah saya, mie aceh terdiri dari berbagai macam bumbu masakan, yang saya rasakan ada rasa cabai, bawang putih, kemiri, bawang merah dan kacang tanah.

Di Restoran Mie Razali, menu hidangannya sangat variatif. Sebagai pelengkap, mie acehnya juga bisa dihidangkan dengan mencampurkan daging, udang atau kepiting. Kala itu sebenarnya saya penasaran dengan mie aceh yang dicampur dengan kepiting besar, namun saya urungkan memesannya, karena saya takut alergi kepiting.

Menu lain yang saya coba saat saya berkunjung ke Aceh adalah sate gurita, makanan khas ini lebih tepatnya saya coba saat saya berkunjung ke Sabang, Pulau Weh, salah satu pulau yang terletak di Aceh.

Makanan laut memang menjadi primadona kuliner di kota yang menjadi titik nol kilometer Indonesia ini, dari berbagai jenis makanan laut, gurita merupakan salah satu kuliner yang paling unik dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia. Gurita memang mudah ditemui di sekitar perairan dangkal Pulau Weh. Nelayan lokal sering kali menemukan gurita di antara hasil tangkapan mereka.

Saya menikmati sate gurita ini di Kedai Pujasera Kota Sabang bersama teman saya dan supir mobil yang sewa di Sabang. Letaknya tidak jauh dari Hotel Tempat saya menginap. Di kedai ini, sate gurita bisa dihidangkan dengan bumbu padang yang terdiri dari paduan cabai merah, kunyit, serta jintan yang dikentalkan dengan tepung beras dan sagu, atau dengan pilihan kedua yaitu bumbu kacang. Kala itu saya dan teman saya memesan sate gurita dengan bumbu kacang.

Saat saya mencicipi sate gurita ini, tanpa sadar, tusuk demi tusuk sate ini habis saya nikmati. Begitu nikmat terasa di lidah saya, daging yang saya rasakan sedikit kenyal dan gurih berbalur bumbu kacang, Sensasi kenyalnya, waktu saya kuyah dan bumbu rasa manis khas pada gurita keluar dan bercampur dengan bumbu dagingnya keluar, makyus sekali! sate ini menjadi santapan nikmat dan cocok sebagai pengisi perut yang lapar di malam hari itu setelah sebelumnya seharian saya berkeliling di Pulau Weh.

Secara keseluruhan sate gurita di Kedai Pujasera ini rasanya cukup lezat, manis, serta dagingnya kenyal dan gurih. Sekali menikmati sate gurita, saya merasa ketagihan.

Intinya, bila berkunjung ke Aceh dan Sabang jangan lupa menikmati kedua makanan tersebut. Rasanya enak dan harganya juga sangat terjangkau. Selamat berlibur sekaligus menikmati kuliner nusantara!

  • Disunting oleh SA 04/03/2014

Danau Maninjau dan Kelok 44, Dua Sejoli yang Menawan

Danau Maninjau, orisinalitas karya Sang Maha Pencipta, terbalut keindahan sempurna. Danau yang terletak di Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat ini, menyimpan magnet keindahan yang membangkitkan gairah para pecinta keindahan alam. Danau ini terbentuk dari proses vulkanik akibat letusan Gunung Sitinjau ini sangat patut untuk dikunjungi saat berkunjung ke Sumatera Barat.

Danau Maninjau dari Kelok 44
Danau Maninjau dari Kelok 44.

Untuk meraih keindahan Danau Maninjau, ada dua opsi jalur yang dilalui. Pertama, dari arah barat, yaitu dari Padang melewati Pariaman, yang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Kedua, dari arah timur, yaitu dari Padang melewati Bukittinggi, kemudian dilanjutkan ke danau Maninjau melalui lintasan Kelok 44, dan waktu perjalanan yang ditempuh kurang lebih 3 jam saja. Akses menuju danau Maninjau sangat mudah, karena melewati jalan utama Lubuk Basung-Bukittinggi. Untuk transportasi dapat menggunakan angkutan umum, travel, dan mobil atau motor pribadi.

Keramba di Danau Maninjau
Keramba di Danau Maninjau.

Maninjau dari Atas Bukit
Maninjau dari Atas Bukit.

Saya sengaja pergi dari arah timur, karena sehari sebelumnya saya baru saja keliling Bukittinggi. Selain itu, saya juga ingin merasakan sensasi melewati Kelok 44 yang sudah terkenal itu.

Kelok 44 merupakan daerah perbukitan yang berada di atas danau Maninjau, tepatnya di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dinamakan Kelok 44 karena memang terdapat 44 buah kelokan, di mana setiap kelok diberi nomor secara berurutan. Dalam bahasa Minang, sering disebut dengan Kelok Ampek Puluh Ampek.

Dari kelok 44, terlihat pesona danau Maninjau yang begitu anggun. Terlihat di sekeliling danau, tampak barisan bukit berdiri tegak, terlihat hijau nan cantik. Tampak panorama danau dengan nuansa kebiruan berpayungkan langit yang dipenuhi gumpalan awan yang bergerak teratur. Sesekali saya memperlambat laju kendaraan untuk sekedar menikmati panorama dari atas, sungguh damai rasanya.

Gapura "Selamat Datang" di Kelok 44.
Gapura "Selamat Datang" di Kelok 44.

Museum Nuya Hamka
Museum Nuya Hamka.

Sawah di tepi danau
Sawah di tepi danau.

Di tepi danau Maninjau, terdapat banyak budidaya keramba ikan patin. Tak heran kegiatan perekonomian Maninjau ‘hidup’ berkat budidaya ikan tersebut. Ketika mengunjungi Danau Maninjau, saya sempat berbincang di tepian Danau dengan penduduk sekitar yang merupakan pengelola keramba ikan. Mereka mengatakan bila tidak ada budidaya seperti ini di danau Maninjau, niscaya perekonomian kawasan Maninjau akan mati.

Danau Maninjau dan Kelok 44 meninggalkan jejak keindahan di memori saya. Sungguh menawan. Keindahannya seakan mengingatkan diri saya agar tidak lupa untuk singgah lagi di tanah Maninjau.


Pantai dan Resort di Pulau Bintan

Berjemur di bawah terik matahari
Berjemur di bawah terik matahari.

Jika Anda seorang pencinta pantai, Anda mungkin sudah mendengar tentang pulau Bintan yang terletak di provinsi Kepulauan Riau. Namanya sudah cukup terkenal dan selalu sukses membuat orang penasaran. Termasuk saya, sebelum saya mengunjunginya, pulau ini selalu membuat saya penasaran.

Akhirnya rasa penasaran saya terhadap pulau Bintan pun sirna, akhir Februari lalu saya berhasil mengunjungi pulau Bintan untuk menengok keindahannya. Ada dua hal yang identik dengan pulau Bintan, dua hal itu pula yang menjadi alasan bagi saya untuk mengunjungi pulau Bintan, yaitu pantai dan resort.

Salah satu sudut pantai
Salah satu sudut pantai.

Nyiur melambai
Nyiur melambai.

Cara terbaik untuk menuju pulau Bintan dari Jakarta adalah dengan penerbangan langsung ke Tanjung Pinang, Batam atau Singapura. Dari Batam, perjalanan akan dilanjutkan menyeberang dengan speed boat, begitupun dari Singapura bisa dilanjutkan menyeberang dengan speed boat.

Saya mengunjungi pulau ini dari Batam, mengambil penerbangan paling pagi dari Jakarta menuju Batam. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menyeberang selat dari Pelabuhan Punggur. Pada sore yang cerah, perahu mulai bergerak ke arah selatan meninggalkan Pelabuhan Punggur, laut terlihat sangat jelas dan biru. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saya tiba di Pelabuhan Tanjung Uban dan kemudian di jemput oleh teman saya untuk menuju Bintan Resort.

Bintan Resort adalah tujuan utama saya saat mengunjungi pulau Bintan. Pasalnya, tempat ini memiliki daya tarik yang kuat dari keindahan resort dan pantainya. Banyak tempat menarik di Bintan Resort, tempat pertama yang saya kunjungi adalah pasar oleh-oleh. Tempat ini merupakan pusat penjualan cinderamata yang dibentuk untuk mempromosikan budaya, seni dan kerajinan Indonesia. Di tempat ini terdapat barang kerajinan budaya, pakaian dan aneka kuliner, semuanya tersebar di lebih dari 20 outlet. Selanjutnya ke seberang pasar oleh-oleh saya mengunjungi Kampoeng Lago, di sini saya menemukan banyak tempat spa.

Hari berikutnya, saya pergi ke Nirwana Garden Resort. Dari luar, resort ini terlihat begitu mewah dan begitu dimasuki, tentu saja dalamnya ternyata mewah pula. Saya berkeliling di resort, kolam renang dan pantai sekitar yang sangat indah.

Jetski yang disewakan
Jetski yang disewakan.

Nirwana Garden Resort
Nirwana Garden Resort.

Ada beberapa pantai indah di pulau Bintan. Salah satunya adalah pantai yang terletak di Nirwana Garden Resort. Pantai di sekitar Nirwana Garden Resort sangat bersih dan alami. Saya menikmati berjalan di sepanjang pantai, sambil melihat air yang tampak berkilauan seperti kristal karena terkena sinar sang surya dan saya menikmati setiap langkah saya di pasir yang begitu lembut. Saya melihat ke sekeliling dan melihat wajah-wajah pengunjung dengan suka citanya menghabiskan waktu di Bintan. Ada yang berenang dan ada yang menikmati berjemur di pantai tanpa terganggu dan ada pula yang menikmati fasilitas olahraga air di sekitar pantai.

Saya melangkah ke pantai sebelah yaitu pantai Mayang Sari. Pantai ini cocok dijadikan tempat untuk mendapatkan sinar matahari yang hangat. Banyak orang menikmati berjemur di bawah terik matahari. Pantainya sepi dan tidak terlalu ramai. Seorang teman menjelaskan bahwa Bintan Resort adalah tujuan wisata yang relatif populer, terutama bagi turis dari Singapura.

Jika Anda memiliki kesempatan untuk mengunjungi salah satu bagian terindah Indonesia, Pulau Bintan dapat menjadi pilihan terbaik untuk liburan. Have fun!


Hotel Carolina, Kenyamanan di Tepi Danau Toba

Loncat ke Danau Toba dari dermaga kecil ini
Loncat ke Danau Toba dari dermaga kecil ini.

Bulan Maret lalu saya berkesempatan untuk berkeliling di provinsi Sumatera Utara, mulai dari Medan, Pematangsiantar, Parapat, sampai Berastagi. Saya pun mengunjungi ikon provinsi Sumatera Utara yang namanya sudah tersohor di Indonesia bahkan dunia, yaitu Danau Toba dan Pulau Samosir.

Danau Toba sudah menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi turis asing. Tak heran, bila fasilitas pariwisata di Danau Toba sudah cukup memadai, termasuk fasilitas penginapan dan hotel yang lumayan banyak dan bervariasi.

Hotel Carolina adalah salah satu hotel yang tersedia di Pulau Samosir. Letaknya di Tuktuk Siadong. Saat saya mengunjungi Danau Toba, saya menginap dan bermalam di hotel ini. Saya mendapatkan informasi tentang hotel ini dari internet. Saat saya mencari beberapa referensi hotel di internet terdapat banyak pilihan, namun Hotel Carolina yang berhasil menarik perhatian saya. Mulai dari pertimbangan harga, tempat dan pemandangan di sekitarnya.

Suasana kamar "Hill 2"
Suasana kamar “Hill 2”.

Menuju Danau Toba saya berangkat dari Parapat, dari Parapat menyeberang menggunakan kapal ke pulau Samosir tepatnya di daerah Tuktuk Siadong. Saat kapal yang saya naiki hendak merapat di Tuktuk Siadong, pemandangan Pulau Samosir dan keindahan Danau Toba terlihat amat menenangkan. Kapal merapat di Tuktuk Siadong tepat di dermaga milik Hotel Carolina. Saya menuruni kapal dengan langkah perlahan. Sesaat setelah turun saya langsung menuju lobi hotel.

Hotel Carolina tidak jauh dari dermaga kapal, tinggal jalan menuju ke atas sudah terlihat lobi hotel dengan arsitektur Batak yang amat khas. Jenis kamar di Hotel Carolina terdiri dari kelas ekonomi yang terdiri dari “Economy – Hill 1”, “Economy – Hill 2” dan “Economy – Beach”. Kemudian, kelas “Standard” yang terdiri dari rooms “Standard – Hill”, “Standard – Beach”, dan kelas “Deluxe”, yang terdiri dari kamar “Deluxe – Hill” dan “Deluxe – Beach”. Perbedaan Hill dan Beach terletak pada lokasi, kamar-kamar “Hill” terletak agak di atas seperti di bukit, sedangkan kamar-kamar “Beach” hampir terletak di tepi danau dengan pemandangan Danau Toba yang terlihat amat jelas.

Pekarangan hotel
Pekarangan hotel.

Menikmati pesisir Danau Toba
Menikmati pesisir Danau Toba.

Saat saya sampai di hotel Carolina, saya tidak sempat memesan sebelumnya. Saya dan teman saya sudah niat langsung pesan di tempat saja. Sayangnya, kala itu sudah banyak kamar yang penuh, tinggal tersisa kelas “Hill 2”, saya pun menginap di kamar kelas ini. Saya menginap sekamar berdua dengan teman saya dengan harga Rp150.000. Kamarnya kecil, namun bersih dan nyaman. Di dalamnya ada dua tempat tidur yang terpisah. Ada dua sofa juga yang terletak di depan jendela dengan pemandangan keluar langsung ke bukit yang terlihat juga Danau Toba walau tidak begitu jelas.

Hari sudah semakin sore, setelah menaruh dan merapikan barang bawaan di kamar, saya dan kawan saya bergegas menuju tepian Danau Toba yang dikelola oleh Hotel Carolina. Hanya tamu Hotel Carolina yang boleh masuk ke tempat ini. Tempatnya sangat nyaman, di tepian pinggir danau dengan nuasa di pinggir pantai. Banyak orang berenang di sini, yang juga dilengkapi dermaga dan papan loncat untuk terjun di Danau Toba. Terdapat banyak gazebo dengan bangku kayu yang tersusun rapi untuk duduk bersantai memandangi Danau Toba.

Esok paginya, saya menyantap sarapan di restoran hotel, tempatnya dekat dengan lobi hotel. Restoran yang amat nyaman, lumayan luas, ada fasilitas live music juga. Tersedia berbagai masakan yang harganya tidak terlalu mahal, mulai dari masakan barat, Indonesia dan Cina. Rasanya sangat lezat.

Di antara fasilitas yang bagus dan nyaman, ada satu lagi fasilitas yang menjadi nilai tambah di Hotel Carolina, yaitu fasilitas penyewaan mobil dan motor. Jadi, pengunjung hotel yang ingin berkeliling di Pulau Samosir tidak perlu khawatir kesulitan kendaraan. Saya menggunakan fasilitas penyewaan ini yaitu menyewa sepeda motor yang saya gunakan untuk berkeliling di Pulau Samosir, harga sewanya tidak terlalu mahal, hanya Rp40.000/per hari.

Secara keseluruhan Hotel Carolina di mata saya sangat positif. Tempatnya nyaman, indah di tepi Danau Toba, fasilitas untuk berenang di Danau Toba juga nyaman dan aman. Fasilitas kamar juga nyaman dan harga tidak terlalu mahal, dan untuk urusan makanan tidak perlu khawatir untuk memilih makanan enak.

Bila anda mempunyai rencana ke Danau Toba dan Pulau Samosir, dan ingin melihat indahnya danau dari tepian Danau Toba, sambil berenang untuk merasakan kesegaran air danau, pilihlah hotel yang terletak tepat di tepi danau Toba dan memiliki lokasi yang aman untuk berenang, Hotel Carolina salah satunya.

Hotel Carolina
Tuktuk Siadong – Pulau Samosir
Sumatera Utara
Indonesia 22395
Tel.: +62 625 451210 / +62 625 451100
Faks.: +62 625 451250
E-mail: carolina@indosat.net.id


Berenang Bersama Ubur-Ubur Danau Kakaban, Kalimantan Timur

Dermaga Danau Kakaban
Dermaga Danau Kakaban.

Danau Kakaban terletak di Pulau Kakaban, Kalimantan Timur. Letaknya tidak jauh dari Pulau Derawan. Pulau Kakaban adalah salah satu dari total 31 pulau yang tergabung dalam Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Pulau Kakaban masih cenderung murni dan jarang dikunjungi orang karena lokasi jauh terpencil dan belum ada sarana transportasi yang memadai layaknya tempat wisata alam lainnya.

Danau ini agak berbeda dan unik dengan kebanyakan danau yang ada di Indonesia, di dalam danau ini terdapat ubur-ubur yang tidak menyengat. Berdasarkan informasi dari kawan saya, ubur-ubur seperti ini hanya terdapat di dua tempat di dunia, yaitu di Danau Kakaban, Kalimantan Timur dan Jellyfish Lake di Palau, Mikronesia di kawasan tenggara Laut Pasifik.

Kami bergaya di dermaga
Kami bergaya di dermaga.

Berdasarkan laporan yang disusun oleh Kuenen, peneliti dari Belanda saat melakukan ekspedisi Snellius I pada tahun 1929-1933, melakukan penelitian hidrografi dan geologi dengan mengumpulkan sedimen dasar laut. Menurutnya, Pulau Kakaban terbentuk dari atol yang terangkat dari lempeng samudra dari kedalaman 200-300 meter. Pada awalnya terdapat daratan yang dikelilingi atol, lama kelamaan daratan tenggelam ke dasar laut karena proses geologi. Karang yang membentuk atol ini semakin tinggi, sementara daratan di bagian tengahnya semakin tenggelam sehingga sekarang ini atol pulau Kakaban mencapai ketinggian 40-60 meter di atas permukaan laut. Dan atol setinggi ini diperkirakan terbentuk selama 1-2 juta tahun.

Perjalanan menuju Pulau Kakaban saya awali dari Pulau Derawan karena kebutulan kala itu saya menginap di sebuah penginapan di Pulau Derawan. dari Pulau Derawan memakan waktu empat puluh lima menit menggunakan perahu cepat.

Sesampainya di dermaga Pulau Kakaban saya disuguhi pemandangan laut yang sangat indah, airnya biru dan bening, dasar lautnya terlihat dari dermaga. Sejauh mata memandang terhampar laut biru yang menenangkan mata. Dari dermaga saya harus menaiki tangga kayu yang sudah disediakan pengelola setempat. Danau Kakaban terletak ditengah pulau dan saya harus melewati tangga yang dikelilingi pepohonan bakau besar yang membentuk hutan mangrove. Jalan di tanngga ini harus serba hati-hati karena kondisinya licin.

Saat saya mengunjungi tempat ini saya berenang dan menyelam ke dasar danaunya untuk bertemu ubur-ubur unik ini. Danaunya amat luas dan semakin ketengah semakin dalam, walaupun saya bisa berenang saya tetep berenang membawa pelampung untuk jaga-jaga saja bila saya lelah.

Saya hanya membawa pelampung dan kaca mata renang saja, tidak membawa fin atau kaki katak. Satu hal yang harus diingat saat berenang di danau ini adalah jangan menggunakan kaki katak atau fin, karena benda ini akan membahayakan ubur-ubur bila terkena atau tertendang fin saat kita berenang, dikhawatirkan banyak ubur-ubur yang mati, jadi berenanglah dengan hati-hati dan tetap menjada kelestarian biota Danau Kakaban.

Saya bersama ubur-ubur
Saya bersama ubur-ubur.

Ubur-ubur di Danau Kakaban
Ubur-ubur di Danau Kakaban.

Tak sulit untuk bertemu dengan ubur-ubur lucu ini karena jumlahnya amat banyak, mungkin ratusan, atau bahkan ribuan. Bagi saya terdapat sensasi unik tersendiri berenang bersama ubur-ubur ini, saya sempat memegangnya terasa seperti agar-agar, kenyal-kenyal menggemaskan. banyak ubur-ubur yang berkeliaran di depan mata saya, berenang kesana kemari. dan Fakta unik lainnya adalah ubur-ubur ini berenang dengan cara mundur.

Saat saya lelah saya mengapungkan diri saya sejenak di permukaan air danau dengan pelampung sambil membayangkan sungguh luar biasa bentang alam di Indonesia. Pulau dan Danau Kakaban memang tercipta sebagai anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia. Tempat seperti Danau Kakaban harus dirawat dan di jaga sebagai kawasan konservasi, harus dikelola secara arif dan bijaksana oleh para pihak terkait, agar kawasan tersebut tetap lestari dan berkesinambungan hingga waktu-waktu yang akan datang. Sebagai warisan yang dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

Pengalaman yang tak terlupakan berenang di Danau Kakaban. Setelah puas berenang di Danau Kakaban saya kembali ke Dermaga Pulau Kakaban, tiba saatnya bagi saya untuk menyelami keindahan laut disekitar Pulau Kakaban, dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju Pulau Sangalaki.


Pulau Kemaro, Pulau Kecil di Tengah Sungai Musi

Pagoda di Pulau Kemaro
Pagoda di Pulau Kemaro

Saat saya berkunjung ke Palembang, saya mengunjungi suatu pulau unik yang terletak di tengah Sungai Musi, Pulau Kemaro namanya. Kemaro dalam bahasa Palembang berarti “kemarau”. Menurut masyarakat Palembang, nama tersebut diberikan karena pulau ini tidak pernah tergenang air. Ketika air pasang besar dan volume air Sungai Musi meningkat, Pulau Kemaro tidak akan kebanjiran dan akan terlihat dari kejauhan terapung di atas perairan Sungai Musi.

Pulau Kemaro sudah menjadi tempat plesiran terkenal di Palembang. Pulau ini terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan. Untuk menuju Pulau ini saya menggunakan kapal kecil yang saya sewa dari Dermaga bawah Jembatan Ampera yang lokasinya bersebelahan dengan halte Trans Musi Ampera. Untuk sampai ke pulau ini, dari dermaga saya harus menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit menyusuri arus liar Sungai Musi.

Sesaat kapal yang saya naiki masih melaju di Sungai Musi dan belum berlabuh di Dermaga Pulau Kemoaro, Pagoda besar di Pulau Kemaro sudah bisa terlihat, saya melihat kemegahan pagoda dari kejauhan.

Mengarungi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro
Mengarungi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro

Saat saya menapakkan kaki di pulau ini, saya merasakan nuansa Tionghoa yang kental. Ini bisa dilihat dari kemeriahan warna dan kemegahan pagoda dan kelenteng yang menghiasi pulau tersebut. Pagoda Pulau Kemaro dibangun pada 2006, tingginya mencapai sembilan lantai. Pagoda ini merupakan pagoda tertinggi di Palembang, dan kini Pagoda ini telah menjadi ikon pulau Kemaro. Nuansa Cinanya begitu amat kental. Bagi saya tidak perlu jauh-jauh pergi ke negara China untuk lihat Pagoda, Di Indonesia ternyata juga ada, saya cukup mampir ke Pulau Kemaro sudah bisa melihat pagoda bergaya dan bernuansa China.

Selain pagoda, Di Pulau Kemaro terdapat sebuah kelenteng Buddha yang selalu dikunjungi penganutnya, terutama pada perayaan Cap Go Meh. Tidak hanya masyarakat keturunan Tiong Hoa di Kota Palembang, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

Di Pulau Kemaro terdapat sebuah batu besar yang bertuliskan mengenai sejarah Pulau Kemaro. Dari tulisan tersebut saya mengetahui sejarah dan legenda Pulau Kemaro. Legenda Pulau Kemaro menceritakan kisah cinta antara Putri Raja Palembang, Siti Fatimah dengan saudagar kaya sekaligus pangeran asal negeri China, Tan Bun Ann. Keduanya saling jatuh cinta dan sepakat untuk menikah. Siti Fatimah mengajukan syarat pada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Tan Bun Ann kemudian mengirim seorang pengawalnya pulang ke Tiongkok untuk meminta emas dan restu pada orang tuanya. Tentu saja permintaan ini disetujui orang tua Tan Bun Ann. Untuk menjaga emas tersebut dari bajak laut, guci berisi emas tersebut ditutupi dengan asinan sawi. Sesampainya di dekat Pulau Kemaro, Tan Bun Ann terdorong untuk memeriksa isi guci. Melihat isinya hanya asinan sawi, ia pun kesal dan membuang guci-guci itu ke sungai. Namun, guci terakhir yang ia lempar tidak sengaja pecah. Di situlah ia melihat keping-keping emas. Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Sang putri pun ikut menerjunkan diri ke sungai dan juga tenggelam. Sang putri dikuburkan di Pulau Kemaro tersebut dan untuk mengenangnya dibangunlah kuil.

Hal unik lain dari Pulau Kemaro adalah keberadaan Pohon Cinta. Pohon Cinta ini adalah sebuah beringin yang sudah cukup tua dengan ranting yang sangat rimbun. Konon, bila seseorang menuliskan nama dirinya dan pasangannya di pohon itu, maka jalinan cinta mereka akan semakin langgeng. Sebelum bergegas pulang kembali ke Jembatan Ampera, saya menghampiri pohon ini, terlihat pohon begitu besar dan rimbun. Terkait dengan mitos pohon itu, saya tidak mencoba menuliskan nama saya di pohon tersebut, karena saya kurang percaya dengan hal-hal yang agak berbau mitos seperti itu.


Museum Kereta Api Ambarawa

Sebenarnya saya sudah beberapa kali mengunjungi Semarang, tapi dari kesekian kalinya saya ke Semarang selalu tidak sempat untuk mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa. Ini semua karena pengaruh letak Ambarawa yang agak jauh dari pusat kota Semarang.

Kali ini saya benar-benar niatkan untuk ke sana. Pagi-pagi buta saya sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta menunggu penerbangan ke Semarang. Kala itu ada banyak rencana dan kegiatan yang akan saya lakukan di Semarang, tapi satu hal wajib yang harus terlaksana adalah mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa.

Tampak depan museum
Tampak depan museum.

Interior museum
Interior museum.

Sekitar pukul 6.30 pagi saya sudah mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang dan bergegas menuju Ambarawa. Untuk menuju Ambarawa saya tidak menggunakan taksi atau jasa shuttle, tapi bis Trans-Semarang atau BRT.

Saya menunggu bis Trans-Semarang di halte Kalibanteng. Tidak terlalu lama menunggu, sekitar lima menit kemudian bis sudah datang. Saya pun menaiki bus dan membayar tarif sebesar Rp3.500. Bila ingin menuju Ambarawa, dengan gamblang petugas BRT menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada rute langsung ke Ambarawa, tapi dia menyarankan untuk tetap naik bis menuju lokasi terdekat ke Ambarawa, nanti dari tempat terdekat itu perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan bis biasa.

Peralatan teknis perkeretaapian
Peralatan teknis perkeretaapian.

Halaman museum yang asri
Halaman museum yang asri.

Dari shelter bis Trans-Semarang Banyumanik, bis ke arah Ambarawa tarifnya hanya Rp5.000. Sebelum naik bis saya mengingatkan keneknya bahwa saya akan turun di pertigaan Monumen Palagan.

Sekitar jam 10.00 saya sampai di Monumen Palagan. Sebenarnya perjalanan normal menuju Ambarawa bisa ditempuh dengan waktu sekitar satu setengah jam, namun kala itu ada insiden kecelakaan antar truk yang menyebabkan jalan menjadi macet.

Sesampainya di Monumen Palagan, untuk menuju Museum Kereta Api Ambarawa bisa jalan kaki sebentar sekitar sepuluh menit, tapi karena cuaca kala itu sudah cukup terik saya memutuskan untuk naik angkot bewarna hijau dengan tarif Rp2.000 dan turun di depan Museum Kereta Api Ambarawa.

Saat tiba di depan museum saya melihat spanduk pengumuman bahwa Museum Kereta Api Ambarawa sedang dalam masa renovasi. Dalam pengumuman tersebut sebenarnya dalam masa renovasi museum ditutup, tapi entah mengapa saat saya melihat ke arah dalam museum suasana tetap ramai pengunjung, dan juga banyak bus pariwisata parkir di halaman depan museum. Saya membuat kesimpulan sendiri bahwa museum tidak ditutup dalam masa renovasi ini.

Di dalam museum terdapat banyak poster yang menjelaskan mengenai sejarah Stasiun Kereta Api Ambarawa. Menurut sejarah, pada awalnya tujuan dibangunnya stasiun Ambarawa ini adalah untuk keperluan mengangkut tentara Belanda pada masa pemerintahan kolonial. Stasiun ini dibangun atas perintah Raja Willem I. Tahun 1976 Stasiun Ambarawa dijadikan sebagai tempat melestarikan lokomotif uap.

Lokomotif 2502 yang sedang dalam perawatan
Lokomotif 2502 yang sedang dalam perawatan.

Lokomotif 30023 yang tampak amat tua
Lokomotif 30023 yang tampak amat tua.

Lokomotif 5210 yang terparkir di halaman dan tidak beroperasi lagi
Lokomotif 5210 yang terparkir di halaman dan tidak beroperasi lagi.

Saya melihat ke sekeliling museum, terdapat banyak lokomotif tua terparkir di sekitarnya, sebagian masih ada yang bisa digunakan dan sebagian sudah harus pensiun beroperasi. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Lokomotif itu sangat terkenal pada zamannya, walaupun umurnya sudah tua sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.

Sayangnya saya tidak bisa mencoba menaiki kereta wisata itu karena ketinggalan. sesaat setelah saya masuk museum, kereta uap baru saja jalan, saya pun ketinggalan kereta uap. Namun saya tidak lantas kecewa karena toh tujuan utama saya datang ke museum ini sebenarnya hanya ingin melihat sejarah kereta api di Indonesia sekaligus ingin melihat lokomotif dan kereta tua sejak zaman kolonial Belanda.

Tempat ini amat direkomendasikan untuk semua orang yang suka wisata sejarah sekaligus wisata alam, para pengunjung bisa naik kereta lori wisata dengan kapasitas 15-20 penumpang yang akan dijalankan menyusuri rel Ambarawa-Tuntang sambil menikmati hijaunya alam Ambarawa sambil mengetahui sejarah kereta api di Indonesia. Untuk info, Rute yang dilayani oleh kereta wisata kuno ini adalah Ambarawa-Bedono dan Ambarawa-Tuntang. Kereta wisata ini biasanya hanya melayani bila jumlah peserta wisata mencapai jumlah tertentu, atau bisa juga melayani rombongan dengan sistem sewa per gerbong.

  • Disunting oleh SA 18/07/2013

Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil