Artikel-artikel yang ditulis oleh Madi Muktiyono (halaman 1 dari 4)

Tembok Berlin, Sorong, Papua Barat: Rajanya Makanan Laut

Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.
Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.

Namanya “Tembok Berlin”, seperti nama kota di Eropa, namun ini hanya kemiripan nama saja dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Eropa. Tembok Berlin adalah tempat makan makanan laut paling ramai di kunjungi di Kota Sorong, Papua Barat.

Saya kurang begitu paham mengapa tempat ini dinamakan Tembok Berlin. Saya sempat bertanya kepada pedagang disekitar Tembok Berlin dan petugas hotel tempat saya menginap, namun mereka pun kurang begitu paham mengenai filosifi asal-muasal nama itu.

Saya berjalan menyusuri Tembok Berlin, megarahkan pandangan ke arah laut, terlihat kapal-kapal besar mulai dari kapal tanker sampai dengan kapal pinisi, angin berhembus sejuk membawa hawa kesegaran. Saya menghentikan langkah di sebuah tenda, tempat penjual makanan kecil untuk rehat sejenak ditemani segelas susu hangat. Saya duduk tepat di depan tembok pembatas antara pantai dengan jalan raya tepi pantai, santai sambil menyeruput susu hangat, kehangatannya sangat cocok di udara dingin akibat mendung.

Sore hari yang damai, awan-awan terlihat sedikit menghitam, namun tidak mengurangi magnet keindahan Kota Sorong menjelang senja. Suasana begitu santai, berkumpul bersama penduduk lokal, kawula muda, berdialog santai menunggu senja.

Senja yang ditunggu tidak begitu sempurna, terhalang awan-awan hitam, sang surya pun tidak begitu terlihat jelas, namun tetap terlihat rona jingga khas senja yang menjadi pemanis suasana.

***

Kepiting asam-manis sungguh menggugah selera.
Kepiting asam-manis sungguh menggugah selera.

Penjual sedang membakar ikan.
Penjual sedang membakar ikan.

Selepas senja, lapar melanda, perutku serasa memanggil-manggil untuk segera diisi. Saya kembali menyusuri Tembok Berlin ke arah selatan, mencari warung-warung penjual makanan laut. Saya amat penasaran dengan dengan sensasi makan makanan laut di pinggir laut Tembok Berlin. Sebelum pergi ke Sorong, kawanku pernah berpesan pada saya agar menyempatkan diri makan makanan laut di Tembok Berlin. Katanya tidak sah ke Sorong bila tidak menikmati makanan di Tembok Belin.

Saya terus melangkah mengamati warung-warung seafood yang mulai ramai. Dari kejauhan sudah tercium aroma sedapnya ikan-ikan laut yang dibakar. Saya sempat bingung ingin makan di mana, ada beberapa warung yang menjual makanan laut. Saya sempat berputar-putar mencari warung yang paling ramai dengan asumsi bahwa tempat yang ramai berarti makanannya paling enak dan favorit.

Saya menghentikan langkah di Warung Miranda. Warung ini tidak terlihat seperti restoran mewah, namun ramai, bangunan warung menggunakan bangunan semi permanen dan tanpa pendingin udara, hanya menggunakan pendingin alam, semilir angin laut yang membawa udara yang cukup sejuk. Belum mulai makan namun saya sudah bisa membayangi betapa nikmatnya menyantap seafood makanan laut langsung di tepi laut.

Warung Miranda kala itu amat ramai, saya sempat kebingungan mencari tempat, butuh beberapa menit sampai akhirnya saya dapat tempat meja di pojok kanan. Saya langsung membuka menu. Saya lihat harga makanan di daftar menu, cukup menyenangkan karena harganya tidak terlalu mahal. Menunya banyak pilihan, mulai dari udang, cumi, kepiting, dan ikan bakar, semuanya dengan pilihan bumbu saus mentega, goreng tepung dan asam-manis.

Warung makan Marinda yang ramai pengunjung.
Warung makan Marinda yang ramai pengunjung.

“Pak, saya mau pesan,” kataku sedikit teriak memanggil seorang bapak paruh baya yang sedang sibuk merapikan piring. “Iya mas, mau pesan apa?” tanya bapak itu sambil menyiapkan catatan dan pena. “Saya pesan kepiting asam manis, kangkung cah satu, dan minumnya air es jeruk nipis,” pesanku dengan porsi yang tidak terlalu banyak. “Siap ditunggu pesanannya, Mas.” bapak itu kemudian langsung bergegas menuju tempat masak.

Sepuluh menit menunggu, semua makanan yang saya pesan terhidang lengkap. Saatnya makan! Satu ekor kepting basar terhidang di hadapan saya, inilah menu yang saya tunggu-tunggu, sebelum sampai di Sorong bahkan saya sudah bertekad dalam hati untuk makan kepiting di Tembok Berlin, akhirnya kesampaian juga.

Belajar dari pengalaman makan kepiting menggunakan alat pemecah cangkang di Rumah Makan Dandito Balikpapan, Kalimantan Timur. Saya melihat ke sekeliling meja mencari alat untuk membuka cangkang kepiting, semacam tang atau palu khusus, namun nampaknya tidak disediakan.

Sebelum makan saya mencuci tangan sampai bersih, saya siap makan kepiting hanya dengan tangan. Seperti biasa, saya merasakan sensasi memecah cangkang kepiting, makin membuat makan terasa nikmat. Aroma saus asam-manis, yang menjadi saus kepiting makin menyeruak. Saus ini menyelimuti dan menyerap ke dalam kepiting rongga-rongga kepiting, saya makan perlahan, saya hisap perlahan, begitu nikmat dan lezat!

Dimakan bersama cah kangkung terasa lebih nikmat.
Dimakan bersama cah kangkung terasa lebih nikmat.

Rasa pedas sausnya sungguh amat terasa, makin mantaplah rasanya. Tak lupa saya menimati kelezatan cah kangkung yang tak kalah menggugah selera saya, begitu nikmat rasanya perpaduan yang sempurna.

Usai makan cangkang kepiting bertebaran di sekeliling piring, meja tempat saya makan menjadi sedikit kotor, saya makan berantakan seperti anak kecil. Saya puas dengan rasanya, amat enak dan sesuai dengan harapan saya. Harga makanan yang murah, suasana yang nyaman di pinggir laut, dan rasanya yang amat memanjakan lidah menjadikan Tembok Berlin sebagai tempat rajanya makanan laut.

  • Disunting oleh SA 27/09/2014

Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur

Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo.

Dari sekian banyak cerita perjalanan saya di Indonesia, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat yang punya paling banyak cerita. Terlalu banyak keindahan yang bisa di ceritakan sampai tiada habisnya.

Saya mengunjungi Taman Nasional Komodo bertepatan dengan acara puncak Sail Komodo 2013. Sengaja saya pilih waktu yang bertepatan dengan acara tersebut, agar dapat merasakan nuansa salah satu acara pariwisata terbesar di Indonesia. Banyak sekali serangkaian acara yang di selanggarakan pada acara puncak Sail Komodo 2013, mulai dari acara pariwisata dan acara budaya. Saking banyaknya, saya harus membagi waktu untuk menikmati kedua acara tersebut.

Sabtu pagi yang cerah saya sudah berdiri di dermaga Labuan Bajo, dan siap untuk berpetualang di Taman Nasional Komodo selama satu hari penuh. Sengaja saya memilih one day trip, karena saya ingin melihat pergelaran budaya di hari berikutnya.

Penjelasan mengenai trekking oleh ranger.
Penjelasan mengenai trekking oleh ranger.

Selamat datang di Taman Nasional Komodo!
Selamat datang di Taman Nasional Komodo!

“Hari ini ada dua pilihan, pilihan pertama kita ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca, tapi kita tidak ke pulau-pulau kecil di sekitarnya untuk snorkeling, karena waktu pasti tidak akan cukup. Dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo saja akan ditempuh selama tiga jam, pulang pergi sudah enam jam dan itu cuma perjalanannya saja,” ujar sang penjaga kapal. “Pilihan kedua, kita ke Pulau Rinca saja—tidak usah ke Pulau Komodo—kemudian kita bisa keliling ke Pulau-Pulau sekitarnya sambil snorkeling,” lanjut penjelasan dari penjaga kapal.

“Enaknya bagaimana ya, Pakl supaya bisa berpetualang dari pagi sampai sore sampai puas,” tanya saya dan keempat rekan saya serentak. “Saran saya lebih baik pilihan kedua saja, kita tidak usah ke Pulau Komodo, karena terlalu jauh dari Labuan Bajo. Kalau hanya mau lihat komodo saja sih mending ke Pulau Rinca, di sana lebih banyak komodonya daripada di Pulau Komodo. Dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca pun tidak begitu jauh, hanya sekitar satu setengah jam. Setelahnya kita masih punya banyak waktu untuk mengelilingi pulau-pulau kecil di sekitarnya yang lebih eksotis dari Pulau Komodo, bisa menikmati pantainya dan snorkeling lebih lama,” jelas petugas kapal sembari memberi saran.

Sip deh Pak kalau begitu, kita pakai pilihan kedua saja untuk petualangan hari ini,” serentak saya dan keempat teman saya memilih. Suara bising mesin kapal pun mulai terdengar, dan kapal siap berlabuh meninggalkan dermaga Labuan Bajo.

Pulau Sebayur
Pulau Sebayur. Cantik, ya?

Savana di Taman Nasional Komodo
Savana di Taman Nasional Komodo.

Kapal terus melaju menembus ombak, saya melihat banyak kapal-kapal yang lego jangkar yang akan meramaikan acara puncak Sail Komodo 2013. Saya sungguh terkesan dengan panorama yang luar biasa terbentang dihadapan mata saya, laut yang biru, dan pulau-pulau menjadi perpaduan yang mempesona.

Asyik mengobrol dengan rekan-rekan saya, satu setengah jam berlalu tanpa terasa tiba-tiba kapal sudah mendekat ke Dermaga Pulau Rinca. Setelah merapat kami pun perlahan menuruni kapal dan siap berpetualang di Pulau Rinca.

Tak jauh dari dermaga terdapat pintu masuk Pulau Rinca, di pintu masuk saya dan rekan-rekan saya langsung di sambut oleh ranger yang akan mendampingi saya Trekking di Pulau Rinca. Baru saja melewati pintu masuk, saya langsung disuguhi tanah lapang berisi pohon-pohon bakau, terhampar perbukitan savana yang membuat saya merasa sedang berada di Afrika.

Komodo!
Komodo!

Komodo Resort
Komodo Resort.

Sebelum trekking dimulai saya dan rekan-rekan saya harus lapor dahulu di pos lapor dengan menulis identitas diri masing-masing, semacam buku tamu. Kemudian setelah itu ranger menjelaskan tentang jenis-jenis trekking. Di Pulau Rinca ada beberapa trek yang bisa dipilih. Dari jalur pendek sampai panjang yang memakan waktu satu hingga tiga jam. Rute trekking-nya sama sekali tidak membosankan. Oleh ranger saya diajak menanjak, menurun, melewati bebatuan dan hutan menikmati nuasa liar Pulau Rinca. Sungguh terasa petualangan liarnya.

Baru beberapa meter berjalan dari pos lapor, komodo-komodo sudah menyambut. Mereka berada di bawah rumah dan dapur para ranger. Para komodo banyak berkeliaran di sini, berkeliarannya komodo di area ini karena bau makanan yang memancing mereka berkumpul. Penciuman hewan pemangsa ini memang sangat tajam. Para komodo tanpak sedang tiduran di tanah, namun para ranger tetap menginstruksikan saya agar tetap waspada, sambil waspada saya tetap berfoto mengambil gambar dengan sudut yang pas.

Trekking dilanjutkan kembali, di tengah trek saya melewati sarang tempat komodo bertelur. Sarang komodo ini berbentuk lubang berkedalaman sekitar 2 meter. Di tempat inilah sang kadal raksasa ini bertelur. Tampak di dekat lubang tersebut seekor komodo betina yang menjaga sarang.

Sepanjang trekking, ranger terus mengingatkan agar tetap waspada dan berhati-hati. Terutama saat berada di sekeliling pepohonan karena anak komodo biasanya tinggal di atas pohon. Jangan sampai tertiban atau kejatuhan ludahnya yang mengandung banyak bakteri. Itulah mengapa, para peserta trekking harus selalu berada dekat dengan rangernya. Agar lebih aman dan perjalanan trekking lebih nyaman.

Dari sepanjang jalan trekking tempat trekking di Pulau Rinca yang menurut saya paling berkesan adalah saat berada di Puncak Bukit. Saat saya berada di puncak bukit saya memberhentikan sejenak langkah saya dengan pandangan mata melihat sekeliling. Terhampar birunya laut yang bergradasi dengan birunya langit, ditambah dengan hijaunya pepohonan di kejauhan. Sungguh panorama yang indah dipandang, amat menenangkan mata. Kumpulan bebatuan dan ilalang semakin menambah keelokannya. Apalagi kala itu cuaca sedang bagus dan mendukung, pemandangan semakin luar biasa.

Tak terasa trekking pun usai, puas berpetualang di Pulau Rinca, saya lekas melanjutkan petualangan selanjutnya yaitu menuju Pulau Sebayur. Pulau Sebayur berada tepat di perbatasan Taman Nasional Komodo. Pulau ini bisa dicapai dengan menempuh perjalanan laut kira-kira selama setengah jam dari Pulau Rinca ataupun selama kira-kira 1,5 jam dari Pulau Labuan Bajo. Kala itu perjalanan kapal agak cepat, hanya sekitar satu jam kapal sudah merapat di dermaga Pulau Sebayur.

Pulau Sebayur dikenal oleh banyak pelancong sebagai salah satu di antara lokasi menyelam dan snorkeling yang paling bagus di Kawasan Taman Nasional Komodo. Pulau ini disewakan oleh pemerintah kepada pihak asing dalam jangka waktu yang cukup lama, kurang lebih selama 30 tahun, investor asing yang menyewa tanah di Pulau ini membangun fasilitas penginapan yang luar biasa indahnya. Suatu kombinasi yang sempurna, pulau indah yang dikelilingi oleh laut, difasilitasi dengan resor yang menawarkan, laksana sebuah area pantai dan pulau pribadi.

Resor di pulau ini bernama Komodo Resort. Saya tidak menginap di sini. Dari luar, resor sangat terlihat antik sekaligus mewah, masing-masing kamar memiliki sebuah teras pribadi di mana orang bisa menikmati pemandangan laut. saya berpikiran suatu saat nanti ingin bulan madu di sini.

Saya juga merasa puas mengamati keindahan ekosistem penghuni dasar laut, mulai dari koral, terumbu karang, beragam jenis ikan cantik bisa diamati dengan bebas di sini.

Pulau sebayur meninggalkan bekas keindahan yang sampai sekarang masih terbayang di pikiran saya, dari sekian banyak pulau yang saya kunjungi di Indonesia, Pulau Sebayur termasuk menjadi pulau terfavorit bagi saya.

  • Disunting oleh SA 18/03/2014

Iboih Inn Bar & Resto Pulau Weh, Aceh

Dermaga tempat bersantai
Dermaga tempat bersantai.

Berbicara mengenai Sabang, tak bisa menghindar dari lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”. Benar saja, Indonesia adalah negara kepulauan, dan kepulauan tersebut dimulai dari ujung paling barat yaitu Pulau Weh dengan Sabang sebagai pusat kotanya. Beruntung sekali bagi saya bisa mengunjungi tempat seindah ini. Banyak tempat menarik di Pulau Weh, diantaranya yang saya kunjungi adalah Tugu Nol Kilometer, Iboih, Rubiah, Gapang, Sabang sebagai pusat kota Pulau Weh, dan Sumur Tiga, dan dari semua tempat tersebut yang paling berkesan menurut saya adalah Iboih.

Pintu masuk Iboih Inn melalui dermaga
Pintu masuk Iboih Inn melalui dermaga.

Resepsionis
Resepsionis.

Iboih terletak di bagian tengah Pulau Weh. Butuh sekitar satu setengah jam perjalanan menggunakan mobil dari Pelabuhan Balohan menuju Iboih. Iboih memiliki banyak pantai yang menawan. Sesampainya di Iboih mobil yang saya naiki parkir di sekitar dermaga Iboih, pas di tepi pantai. Suasana laut mulai saya rasakan, hembusan angin saya dengar seakan sedang menyapa saya “Selamat Datang di Iboih”.

Hari sudah menunjukan Pukul 12 siang, namun matahari tidak begitu terik, tak lama setelah itu saya langsung mencari tempat untuk menginap. Banyak sekali penginapan di Iboih, mulai dari tarif yang murah sampai dengan tarif yang mahal. Setelah berdikusi dengan teman saya, akhirnya saya putuskan untuk menginap di Iboih Inn.

Banyak pertimbangan mengapa saya memilih untuk menginap di Iboih Inn, salah satunya menurut referensi dari masyarakat lokal, Iboih Inn merupakan salah satu penginapan yang ternyaman. Dari segi harga, Iboih Inn memang tergolong agak mahal dibandingkan dengan penginapan yang lainnya, namun hal ini sebanding dengan kenyamanan yang di dapat yang mungkin tidak bisa di dapat dari penginapan lain.

Saya pikir, sudah jauh-jauh datang dari Jakarta ke Sabang, untuk harga soal belakangan, yang penting saya dan teman saya bisa menginap di penginapan ternyaman dan terindah, dan menurut saya Iboih Inn merupakan penginapan yang tepat untuk saya.

Untuk menuju penginapan ini, dari dermaga Pantai Iboih Inn ada dua cara, cara yang pertama bisa minta dijemput di dermaga Pantai Iboih oleh pihak Penginapan Iboih Inn menggunakan kapal, atau jalan kaki lewat perbukitan. Saya jalan kaki menuju atas perbukitan, karena saya belum booking sebelumnya, terdapat jalan setapak menuju Iboih Inn, jalannya rapi dan dari jalan itu terlihat pemandangan laut dan pantai yang menyenangkan mata. Perjalanan dilanjutkan jalan kaki 15 menit sebelum sampai di Iboih Inn.

Saya langsung menuju resepsionis untuk memesan kamar. Untungnya masih ada kamar tersedia. Saya memilih kamar yang paling mahal yang letaknya pas di tepi laut. Terdapat bebagai macam jenis kamar di Iboih Inn, mulai dari Budget Room, Deluxe Seaview-fan, dan Deluxe AC Seaview.

Dermaga apung
Dermaga apung.

Jenis Budget Room terletak di atas perbukitan, letaknya agak jauh dari tepi laut, jenis kamar ini adalah jenis kamar yang paling murah harganya Rp200.000 (tahun 2013) harga tersebut sudah termasuk free sarapan. Tipe kamar ini ada yang twin bed ada pula yang single bed, bisa di pilih sesuai dengan kebutuhan.

Tipe kamar yang kedua adalah Deluxe Seaview-Fan, letak kamar ini agak dekat dengan laut, tidak dilengkapi dengan AC hanya kipas angin saja, harganya sekitar Rp300.000 (tahun 2013), harga ini sudah termasuk sarapan.

Tipe Kamar yang terakhir adalah Deluxe AC Seaview, letak kamar ini pas sekali di pinggir laut, harganya Rp400.000 (tahun 2013). saya menginap di tipe kamar ini, sengaja saya memilih tempat ternyaman, tak masalah bagi saya harus mengeluarkan kocek yang lebih mahal, asalkan bisa mendapatkan kenyamanan yang lebih. Saya cukup puas dengan kenyamanan di kamar ini, dari kamar saya terlihat laut yang amat biru, saya bisa merasakan hembusan angin pantai dan bisa mendengarkan suara ombak. Kenyamanan tidak cukup sampai di situ, kamar ini juga dilengkapi pendingin udara dan air panas di kamar mandinya.

Persewaan alat snorkeling
Persewaan alat snorkeling.

Kamar Deluxe AC Sea-View tempat saya menginap
Kamar Deluxe AC Sea-View tempat saya menginap.

Terdapat banyak fasilitas-fasilitas menarik di penginapan ini, di antaranya bar dan resto yang terdapat di tepi laut dan dermaga apung. Bar dan restorannya menyediakan banyak makanan yang enak dengan harga yang terjangkau, saya sempat memesan nasi goreng di restoran ini. Di dekat restoran dan bar terdapat dermaga tempat untuk bersantai ria, terdapat meja dan bangku yang nyaman untuk ngobrol-ngobrol dan menikmati hangatnya matahari. Terdapat juga dermaga terapung yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai ataupun memancing.

Fasilitas lain di penginapan ini disediakan persewaan alat-alat snorkeling, harganya relatif murah, selain ini terdapat pula persewaan kamera bawah air, jadi para pengunjung yang suka dengan aktivitas laut tidak perlu takut karena fasilitas semuanya sudah disediakan di sini. Iboih Inn juga menyediakan persewaan kapal kecil yang bisa digunakan untuk menyeberang ke Pulau Rubiah yang letaknya tidak jauh dari Iboih.

Menu sarapan Iboih Inn sangat istimewa dan lengkap: nasi, lauk dan sayur.

Secara keseluruhan saya puas menginap di Iboih Inn, bagi anda yang berniat untuk berlibur ke Pulau Weh terutama di daerah Iboih, penginapan ini bisa dijadikan salah satu pilihan terbaik, informasi lebih lengkapnya dan pemesanan bisa di hubungi di:

Iboih Inn
Teupin Layeu, Iboih, Pulau Weh
Sabang, Aceh, Indonesia
E-mail: iboih.inn@gmail.com atau contact@iboihinn.com
Telepon: +62 811 841 570, +62 812 699 1659

  • Disunting oleh SA 04/03/2014

Menyantap Mie Aceh dan Sate Gurita di Aceh

Kedai Sate Gurita di Pujasera Pulau Sabang
Kedai Sate Gurita di Pujasera Pulau Sabang

Saat saya berkunjung ke Aceh, saya mencoba beberapa menu masakan khas daerah ini, di antaranya yang menurut saya memiliki cita rasa tersendiri adalah mie aceh dan sate gurita. Mie aceh saya nikmati di Banda Aceh dan sate gurita saya nikmati di Sabang.

Restoran Mie Razali
Restoran Mie Razali

Mie Aceh yang digoreng kering
Mie Aceh yang digoreng kering

Menikmati mie aceh langsung di Aceh tentunya terdapat sensasi tersediri bagi saya, rasanya beda dengan menikmati mie aceh di kota asal saya yaitu Jakarta. Saat di Aceh, saya menimati mie aceh di salah satu restoran mie aceh yang cukup terkenal, Restoran Mie Razali. Letak restoran ini tidak jauh dari hotel tempat saya menginap yaitu di Hotel 61 Jalan Panglima Polim, Banda Aceh. Saya saat berkunjung ke restoran ini, tempatnya tak sepi, tempatnya ramai mungkin karena strategis, mudah dijangkau karena letaknya di pusat kota.

Saya tahu dari papan nama restoran ini Mie Razali nampaknya sudah ada sejak tahun 1967. Namanya diambil sesuai dengan nama pemiliknya, Razali, yang kini telah almarhum. Bisnis mie di retsoran tersebut kini ditangani dan diteruskan oleh keluarganya.

Secara umum di restoran Mie Razali ini ada tiga menu, yaitu mie kuah basah, mie goreng basah dengan sedikit kuah, dan mie goreng kering tanpa kuah. Di restoran ini saya memesan mie kesukaan saya, yaitu mie aceh goreng yang kering. Setelah pesanan saya terhidang di meja saya, aromanya begitu menggoda selera. Setelah saya makan, suapan pertama rasanya begitu menggoda, saya pun makan dengan enaknya, rasanya amat maknyus.

Sate Gurita dengan Bumbu Kacang
Sate Gurita dengan Bumbu Kacang

Mie aceh terlihat unik bila dibandingkan dengan mie lainnya, perbedaan dengan mie lainnya terutama pada bentuknya. Mie yang saya makan di restoran Mie Razali ini terbuat dari tepung dan berwarna kuning, ukurannya sedikit lebih besar dari mie biasanya. Bila saya rasakan dengan lidah saya, mie aceh terdiri dari berbagai macam bumbu masakan, yang saya rasakan ada rasa cabai, bawang putih, kemiri, bawang merah dan kacang tanah.

Di Restoran Mie Razali, menu hidangannya sangat variatif. Sebagai pelengkap, mie acehnya juga bisa dihidangkan dengan mencampurkan daging, udang atau kepiting. Kala itu sebenarnya saya penasaran dengan mie aceh yang dicampur dengan kepiting besar, namun saya urungkan memesannya, karena saya takut alergi kepiting.

Menu lain yang saya coba saat saya berkunjung ke Aceh adalah sate gurita, makanan khas ini lebih tepatnya saya coba saat saya berkunjung ke Sabang, Pulau Weh, salah satu pulau yang terletak di Aceh.

Makanan laut memang menjadi primadona kuliner di kota yang menjadi titik nol kilometer Indonesia ini, dari berbagai jenis makanan laut, gurita merupakan salah satu kuliner yang paling unik dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia. Gurita memang mudah ditemui di sekitar perairan dangkal Pulau Weh. Nelayan lokal sering kali menemukan gurita di antara hasil tangkapan mereka.

Saya menikmati sate gurita ini di Kedai Pujasera Kota Sabang bersama teman saya dan supir mobil yang sewa di Sabang. Letaknya tidak jauh dari Hotel Tempat saya menginap. Di kedai ini, sate gurita bisa dihidangkan dengan bumbu padang yang terdiri dari paduan cabai merah, kunyit, serta jintan yang dikentalkan dengan tepung beras dan sagu, atau dengan pilihan kedua yaitu bumbu kacang. Kala itu saya dan teman saya memesan sate gurita dengan bumbu kacang.

Saat saya mencicipi sate gurita ini, tanpa sadar, tusuk demi tusuk sate ini habis saya nikmati. Begitu nikmat terasa di lidah saya, daging yang saya rasakan sedikit kenyal dan gurih berbalur bumbu kacang, Sensasi kenyalnya, waktu saya kuyah dan bumbu rasa manis khas pada gurita keluar dan bercampur dengan bumbu dagingnya keluar, makyus sekali! sate ini menjadi santapan nikmat dan cocok sebagai pengisi perut yang lapar di malam hari itu setelah sebelumnya seharian saya berkeliling di Pulau Weh.

Secara keseluruhan sate gurita di Kedai Pujasera ini rasanya cukup lezat, manis, serta dagingnya kenyal dan gurih. Sekali menikmati sate gurita, saya merasa ketagihan.

Intinya, bila berkunjung ke Aceh dan Sabang jangan lupa menikmati kedua makanan tersebut. Rasanya enak dan harganya juga sangat terjangkau. Selamat berlibur sekaligus menikmati kuliner nusantara!

  • Disunting oleh SA 04/03/2014

Danau Maninjau dan Kelok 44, Dua Sejoli yang Menawan

Danau Maninjau, orisinalitas karya Sang Maha Pencipta, terbalut keindahan sempurna. Danau yang terletak di Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat ini, menyimpan magnet keindahan yang membangkitkan gairah para pecinta keindahan alam. Danau ini terbentuk dari proses vulkanik akibat letusan Gunung Sitinjau ini sangat patut untuk dikunjungi saat berkunjung ke Sumatera Barat.

Danau Maninjau dari Kelok 44
Danau Maninjau dari Kelok 44.

Untuk meraih keindahan Danau Maninjau, ada dua opsi jalur yang dilalui. Pertama, dari arah barat, yaitu dari Padang melewati Pariaman, yang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Kedua, dari arah timur, yaitu dari Padang melewati Bukittinggi, kemudian dilanjutkan ke danau Maninjau melalui lintasan Kelok 44, dan waktu perjalanan yang ditempuh kurang lebih 3 jam saja. Akses menuju danau Maninjau sangat mudah, karena melewati jalan utama Lubuk Basung-Bukittinggi. Untuk transportasi dapat menggunakan angkutan umum, travel, dan mobil atau motor pribadi.

Keramba di Danau Maninjau
Keramba di Danau Maninjau.

Maninjau dari Atas Bukit
Maninjau dari Atas Bukit.

Saya sengaja pergi dari arah timur, karena sehari sebelumnya saya baru saja keliling Bukittinggi. Selain itu, saya juga ingin merasakan sensasi melewati Kelok 44 yang sudah terkenal itu.

Kelok 44 merupakan daerah perbukitan yang berada di atas danau Maninjau, tepatnya di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dinamakan Kelok 44 karena memang terdapat 44 buah kelokan, di mana setiap kelok diberi nomor secara berurutan. Dalam bahasa Minang, sering disebut dengan Kelok Ampek Puluh Ampek.

Dari kelok 44, terlihat pesona danau Maninjau yang begitu anggun. Terlihat di sekeliling danau, tampak barisan bukit berdiri tegak, terlihat hijau nan cantik. Tampak panorama danau dengan nuansa kebiruan berpayungkan langit yang dipenuhi gumpalan awan yang bergerak teratur. Sesekali saya memperlambat laju kendaraan untuk sekedar menikmati panorama dari atas, sungguh damai rasanya.

Gapura "Selamat Datang" di Kelok 44.
Gapura "Selamat Datang" di Kelok 44.

Museum Nuya Hamka
Museum Nuya Hamka.

Sawah di tepi danau
Sawah di tepi danau.

Di tepi danau Maninjau, terdapat banyak budidaya keramba ikan patin. Tak heran kegiatan perekonomian Maninjau ‘hidup’ berkat budidaya ikan tersebut. Ketika mengunjungi Danau Maninjau, saya sempat berbincang di tepian Danau dengan penduduk sekitar yang merupakan pengelola keramba ikan. Mereka mengatakan bila tidak ada budidaya seperti ini di danau Maninjau, niscaya perekonomian kawasan Maninjau akan mati.

Danau Maninjau dan Kelok 44 meninggalkan jejak keindahan di memori saya. Sungguh menawan. Keindahannya seakan mengingatkan diri saya agar tidak lupa untuk singgah lagi di tanah Maninjau.