Artikel-artikel yang ditulis oleh Lisa Siregar

Tips Menulis Catatan Perjalanan dari Agustinus Wibowo

Agustinus Wibowo

Buat petualang seperti Agustinus Wibowo, perjalanan bukan soal pergi ke tempat-tempat paling asing di bumi.

“Kunci sebuah perjalanan adalah refleksi,” kata Agustinus, di sela-sela sesi berbagi dengan komunitas National Geographic pada hari Sabtu, 14 Mei lalu.

Agustinus, yang muncul dengan pakaian tradisional Afghanistan shalwar
qamiz
berwarna putih, dengan lancar membagi cerita seputar perjalanannya di Afghanistan, Tajikistan, Kazakhstan, Kirgizstan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Sebagian besar ceritanya memang sudah dimuat di buku-bukunya, “Selimut Debu” dan “Garis Batas”, tapi lebih istimewa memang ketika mendengar langsung pengalaman tukang jalan yang satu ini. Ada beberapa hal tentang proses pembuatan buku yang tidak termuat di mana pun. Misalnya, cerita bahwa buku pertamanya, “Selimut Debu” diselesaikan tanpa sempat bertemu dengan editornya, Hetih Rusli. Buku keduanya, “Garis Batas” dibuat dalam waktu dua tahun dan melalui empat kali penulisan ulang. Naskah pertama “Garis Batas” panjangnya
mencapai 600 halaman. Menurut Hetih, jumlah tersebut terlalu panjang dan perlu peringkasan supaya pembeli mau membaca. Mau tidak mau, beberapa detail terpaksa dibuang untuk menjaga fokus buku.

Agustinus juga dengan rendah hati berbagi tips mengenai caranya menulis sepanjang perjalanan. Menurut pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 29 tahun lalu ini, sebuah catatan perjalanan haruslah sesuatu yang personal dan jujur.

“Buku saya adalah kumpulan potret dan pengalaman supaya pembaca mendapat the bigger picture dari tempat yang saya kunjungi,” ujar Agustinus. Fotografer ini menolak membawa laptop saat dalam perjalanan, tapi ia selalu berbekal kamera, kamera video, perekam suara dan buku harian ke mana pun ia pergi.

“Setiap hari saya menulis, bisa sampai lima dan enam halaman,” katanya. “Kadang, seharian saya sibuk motret dan tidak menulis, jadi tergantung kondisi juga.”

Kamera dan perekam suara adalah senjata Agustinus untuk memecah kebekuan dengan orang yang baru dia kenal. Biasanya, dia memotret orang lokal atau merekam suara mereka untuk diperlihatkan kembali, dan umumnya semua senang difoto atau direkam suaranya. Agustinus, yang lancar berbagai bahasa yang berlaku di Asia Tengah, mulai dari Pashto, Farsi hingga Urdu, mengatakan bahwa orang-orang di Afghanistan, misalnya, kebanyakan tulus dan tanpa kepura-puraan.

Sebuah catatan perjalanan yang baik menurut Agustinus adalah tulisan yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca. Agar bisa mencapai hasil seperti ini, seorang pejalan harus bisa belajar menertawakan kesedihannya. Agustinus mengambil contoh ketika ia mengalami kesialan di perjalanan, seperti kamera hilang atau ditipu orang. Ia menceritakan bagaimana ia terus memacu dirinya untuk terus berjalan walaupun hampir patah semangat.

Travel writing tidak boleh egosentris, ini semua bukan tentang si penulis, walaupun karakter penulis harus ada di dalamnya,” kata Agustinus.

Proses menulis adalah cermin dari proses perjalanan itu sendiri. Ketika di Afghanistan, Agustinus yang menganut agama Buddha sempat mengalami kejadian tidak enak, dimana alat makan yang dia pakai sebelumnya harus dibuang oleh penduduk setempat karena ia seorang bukan beragama Islam.

“Saya luruhkan ego saya dan mencoba berpikir dengan cara pandang mereka,” kata Agustinus.

Sebuah perspektif pejalan akan terbentuk ketika terjadi komunikasi dengan orang yang berbeda. Dengan cara inilah, Agustinus berusaha menceritakan Afghanistan di buku pertamanya, “Selimut Debu”.

“Saya menceritakan Afghanistan melalui pandangan berbeda dari berbagai orang, bukan lewat kuesioner atau semacamnya,” katanya. “Dari sini, saya harap pembaca bisa menggambarkan Afghan yang lain dari yang mereka lihat di televisi.”

Ketika menulis “Garis Batas”, Agustinus merasa perlu memberi sebuah benang merah dari sejumlah catatan perjalanannya. Melalui refleksi pulalah, ia memberi judul “Garis Batas”.

“Saya melihat bagaimana negara-negara ini hanyalah bidak dalam percaturan politik negara tetangga,” kata Agustinus. Sebagai negara eks Uni Soviet, identitas mereka tercabut ketika pemerintahan komunis berkuasa. Sekarang, ketika mereka merdeka, bangsa-bangsa ini merasa bingung dengan identitas aslinya yang sudah sekian lama terambil. Mereka dengan bangga menyebut dirinya orang Muslim, meski tidak tahu apa kalimat syahadat, bacaan shalat dan puasa Ramadan. Yang penting adalah identitas.

“Saya melihat bagaimana garis batas menentukan nasib hidup seseorang,” kata Agustinus. “Di Afghanistan, banyak uang tapi tidak ada fasilitas apa-apa, di Tajikistan, semuanya teratur tapi nyaris 95% penduduknya menganggur.”

Agustinus melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas suku terpecah karena adanya garis batas seusai runtuhnya negara Uni Soviet. Sebuah keluarga bisa mengucap bahasa yang berbeda, mata uang berbeda dan bahkan pahlawan yang beda. Ia juga mengkritisi bagaimana garis batas menciptakan kebanggaan semu bagi orang-orang yang terkotak-kotakkan di dalamnya, terkungkung dalam sebuah konsep bernama negara.

“Saya melihat bahwa tidak semua negara memimpikan kemerdekaan dan demokrasi,” katanya.

Buku-buku Agustinus ditulis dalam bentuk narasi. Selama penulisan dan pengeditan buku berlangsung, selama itulah riset untuk verifikasi data dilakukan. Bagaimanapun, perjalanan yang dilakukan Agustinus adalah sebuah napak tilas sejarah yang berlangsung sejak dulu kala, mulai dari masa peperangan Gengis Khan hingga terbentuknya pemerintahan Taliban, yang merupakan hasil rekayasa pemerintahan Pakistan dan Amerika Serikat.

Seusai penulisan buku keduanya, “Garis Batas”, Agustinus merasa ia mencapai titik ia menganggap dirinya sebagai penduduk dunia. Tak lagi penting agama yang ia anut dan status kependudukannya, selain untuk masalah formalitas belaka.

“Sekarang, buat saya rumah bukan lagi sebuah konsep geografis,” katanya. “Bukan juga kampung halaman, tapi tempat orang akan menyambut saya.”

Karena itu, Agustinus merasa dirinya kaya karena punya berbagai tempat yang bisa dipanggil rumah di mana-mana.

Kebetulan editor Agustinus, Hetih, duduk di sebelah saya sepanjang diskusi sesi pertama, sebelum akhirnya naik panggung untuk ikut berbagi cerita. Menurut Hetih, sudah ada rencana untuk menerbitkan buku-buku Agustinus ke dalam bahasa asing, tapi ia harus bersaing dengan penulis-penulis dari luar negeri pula. Untuk itu, Agustinus berencana kembali ke Indonesia pada akhir tahun untuk menghadiri Ubud
Writer Festival 2011.

Satu lagi hal penting dalam menulis catatan perjalanan adalah lamanya tinggal di suatu tempat.

“Kita harus menghindari kesan pertama,” katanya. “Sebuah perjalanan tidak boleh singkat, karena kita harus bisa mengangkat selubung impresi tersebut.”

Mendengar perkataan Agustinus tersebut, saya berkesimpulan bahwa ini bukan saja persoalan cara menulis, tetapi juga bekal dalam menjalani hidup.

  • Disunting oleh SA 25/05/2011

Menjadi Orang Danau di Kashmir

Perahu di Dal Lake, Kashmir

Saat saya terbangun pada pagi pertama saya di Dal Lake yang terletak di negara bagian Kashmir, saya merasa seperti berada di rumah di Jakarta. Saya mendengar suara adzan subuh bersahut-sahutan di danau. Bedanya, danau tersebut baru sepi kembali setelah pukul enam pagi. Seiring matahari menampakkan diri, kecantikan gunung Himalaya yang berpucuk salju pun mulai terlihat.

Di antara kami berempat, saya mungkin yang paling tidak banyak tidur selama tinggal di Dal Lake, danau kedua terbesar di Srinagar, ibukota musim panas untuk negara bagian India paling utara, Kashmir. Walaupun suhu di luar sangat dingin untuk saya yang biasa hidup di negara tropis, saya selalu bangun paling pagi dan tidur paling malam. Saya sangat menikmati duduk di teras depan, menonton langit berubah warna dan warga danau yang lalu lalang dengan perahu tradisional mereka, shikara.

Perajin di Kashmir

Kalau berkunjung ke Kashmir, tinggal di rumah perahu adalah pengalaman unik yang harus dicoba. Di Dal Lake, ada sekitar 500 keluarga yang tinggal di atas rumah perahu (houseboat). Setiap rumah perahu sudah dipalang sedemikian rupa sehingga tidak akan bergoyang kalau kita berjalan-jalan di atasnya. Memang, ruang gerak jadi terbatas karena kita tidak bisa melangkah kaki keluar begitu saja untuk jalan-jalan. Namun lokasi Dal Lake yang dikelilingi pegunungan Himalaya membuat betah untuk diam berlama-lama. Biaya penginapannya juga tidak mahal. Ketika saya menginap dua malam di sana, saya hanya membayar Rs. 4000 (sekitar Rp800.000). Biaya ini termasuk makan pagi, makan malam, dan tur sehari ke tujuan pilihan.

Rumah Sampan di Kashmir

Karena mereka sudah sekian lama tinggal di danau, unit-unit kecil masyarakat pun sudah terbentuk untuk mempermudah kehidupan mereka. Inilah warna kehidupan orang danau. Mereka tidak harus pergi ke kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dari pasar apung, toko obat, warung sampai bank, semuanya lewat di depan rumah perahu tempat kami tinggal.

Setiap rumah perahu di Dal Lake punya nama, mulai dari “Morning Glory” hingga “Bob Marley”. Rumah perahu pilihan kami kebetulan punya nama yang sederhana, “Bul-Bul”, sesederhana hidup keluarga Ahmad yang mengurusnya. Walaupun sederhana, nama itu cukup berkesan untuk saya, karena di Kashmir inilah kali pertama saya melihat burung Bul-Bul yang mungil dan memiliki jambul melengkung di kepalanya.

Kashmir adalah negara bagian dengan mayoritas Muslim terbanyak di India. Di India, nama negara bagian ini dikenal sebagai Jammu dan Kashmir, jadi jangan bingung kalau kamu akan sering melihat akronim J&K di sekitar kota Srinagar.

Orang-orang yang saya temui menyebut diri mereka orang Kashmir (Kashmiri), bukan India (Indian). Mayoritas Muslim di Kashmir menjunjung tinggi budaya Sufi, menjadikan kehidupan sehari-hari mereka damai. Walau begitu, saya menangkap adanya kegelisahan seiring krisis politik yang kerap melanda daerah ini. Sampai saat ini, Kashmir menjadi wilayah sengketa antara India dan Pakistan. Wajah cantik Kashmir menyimpan banyak konflik berdarah yang puncaknya terjadi pada tahun 1990, dimana terjadi kerusuhan dan serangan bom oleh pemerintahan India.

Tahun lalu, Kashmir mendapat peraturan jam malam dari pemerintah India karena banyaknya demonstrasi dan peledakan bom oleh gerakan separatis di beberapa kota kecil di sekitar lembah tersebut. Selama enam bulan, kondisi industri pariwisata di Srinagar menurun drastis karena tidak ada turis. Anak lelaki tertua keluarga Ahmad kemudian pindah keluar kota untuk menjalankan bisnis lain. Menurut keluarga Ahmad, saat ini bisnis pariwisata sudah mulai bangkit semenjak peraturan tersebut dicabut bulan Januari lalu. Namun saya sendiri jarang sekali melihat turis di seputar Srinagar. Mungkin banyak yang menganggap lokasi tersebut tidak aman. Bahkan ketika kami baru mendarat di bandara internasional Srinagar, suasana cukup terasa tegang karena bandara dan jalan utama dijaga ketat oleh tentara India.

Karena lokasinya yang berada di kaki Himalaya, Kashmir menyimpan potensi pariwisata yang unik dari wilayah-wilayah lain di India. Di Srinagar sendiri, ada empat taman cantik warisan pemerintahan Mughal yang menguasai India sejak 1526 selama lima abad. Di taman Chesmashahi, ada mata air pegunungan yang dulu dianggap suci. Dari taman Nishat dan Shalimar, kita bisa melihat Dal Lake dari atas karena lokasinya di lansekap bukit. Yang paling unik adalah Tulip Garden, yang hanya dibuka ketika tulip berkembang setiap bulan Juni selama lima belas hari setiap tahunnya.

Ada juga situs-situs suci yang menjadi kebanggaan orang Srinagar. Salah satunya adalah masjid putih Hazratbal yang terletak di pinggir Dal Lake. Masjid ini dibuat sebagai tempat penyimpanan janggut nabi Muhammad. Saya sempat mengunjungi masjid tersebut. Awalnya, saya tertegun melihat pintu masuk masjid yang dijaga tentara.

Why do they guard the mosque?” tanya saya kepada seorang penduduk Dal Lake yang juga teman baru saya. “Craziness.” jawabnya. Sebagai orang Muslim, menjadi bagian dari umat minoritas adalah hal yang baru untuk saya, dan ini adalah pengalaman berharga yang saya dapat di Srinagar.

Walaupun dijaga ketat, semua orang tetap bisa keluar masuk dengan leluasa. Saya sempat sedih ketika melihat larangan perempuan masuk ke dalam masjid. Namun ternyata, ada bagian khusus yang dibangun untuk perempuan, jadi bukan dipisah oleh hamparan kain seperti masjid umumnya di Jakarta.

Bahkan ketika pukul sepuluh pagi, banyak yang mengunjungi masjid ini untuk beribadah. Beberapa di antara mereka duduk di atas rumput halaman masjid untuk shalat dan berdoa. Saya pun ikut-ikutan duduk di rumput. Tanahnya dingin dan bersih. Karena lokasinya di pinggir danau, suasananya sangat tenang. Rasanya damai sekali dan tidak ingin pergi. Dan yang jelas, saya bisa merasakan atmosfir kecintaan terhadap Islam yang sangat tebal. Ada seorang bapak yang berkendara motor dan berhenti sejenak di depan masjid untuk berdoa dan menyampaikan penghargaannya. Saya melihat dua orang ibu berjalan mundur ketika mereka meninggalkan masjid supaya tidak membelakangi situs suci tersebut.

Dari Srinagar, ada beberapa tur sehari untuk diikuti. Kita bisa memancing ikat trout, atau sekadar trekking di Himalaya. Saya dan teman-teman pergi ke Sonamarg, sebuah kota kecil sekitar tiga jam perjalanan dari Dal Lake, dimana kita bisa menikmati sisa-sisa salju musim dingin. Kebanyakan turis pergi main ski di Gulmarg, kota lain yang juga berjarak tiga jam perjalanan. Kota-kota ini terletak di lereng gunung, sekitar tiga ribu kaki di atas permukaan laut. Supaya tidak salah kostum (seperti saya!), jangan lupa untuk memeriksa temperatur lokasi sebelum waktu ketibaan kita di Kashmir.

Walaupun banyak hal yang bisa dilihat, hal-hal yang paling saya ingat jsutru adalah waktu yang saya habiskan di rumah perahu Bul-Bul. Menonton cricket (mereka terkejut ketika tahu kami tidak pernah main cricket), mendengarkan cerita rakyat (Dal Lake adalah danau yang dibuat oleh laki-laki bernama Kash untuk perempuan yang dicintainya, Mir), belajar bahasa Kashmiri sembari minum teh Kashmir (kahwa) untuk menahan dingin.

Mereka juga tidak materialistis hanya karena kami turis. Beberapa kali, keluarga Ahmad justru membantu kami menawar harga belanjaan dengan alasan, orang lokal harus menghargai tamu agar mereka mau datang lagi. Sewaktu akan bertolak ke Sonamarg, kami meminta mereka menyiapkan makan siang.

How much will our lunch cost?” tanya saya kepada salah seorang anak keluarga Ahmad. “A couple of euros, or poundsterlings,” jawabnya bercanda. Jawaban yang sama juga diberikan ketika saya bertanya berapa biaya ekstra yang harus kami bayar untuk kunjungan ke masjid Hazratbal dan tur keliling danau naik shikara di pagi terakhir kami di Kashmir. Pada akhirnya, mereka hanya meminta tambahan Rs. 500 (sekitar seratus ribu rupiah) untuk biaya makan siang kami berempat. Dua wisata terakhir yang tidak termasuk biaya akomodasi malah digratiskan.

Disinilah saya merasa terkesan dengan kesederhanaan hidup mereka. Tidak banyak barang yang bisa disimpan di dalam rumah perahu, tapi begitu banyak kenangan yang dibagikan untuk setiap tamunya. Mereka juga meminta saya menulis pesan dan kesan dalam bahasa Indonesia di buku tamu untuk diperlihatkan kalau nanti ada orang Indonesia yang berkunjung ke sana.

Oh ya, satu catatan penting kalau kita berkunjung ke Kashmir, pastikan kita sudah mengatur waktu pulang sejak awal. Keketatan pengamanan di bandara Srinagar bisa menyita waktu dua-tiga jam, karena ada banyak pos pemeriksaan yang harus dilewati. Waktu kami akan pulang, kami melewati sekitar lima pos pemeriksaan. Itupun kami beruntung karena supir kami memiliki authorized pass untuk melewati dua gerbang penjagaan sebelum masuk bandara, sehingga kami bisa check in tepat waktu.

Selain dipenuhi tentara, banyak burung beterbangan di dalam bandara Srinagar. Sungguh pengalaman yang berbeda.

Ketika menunggu panggilan boarding, saya melihat seekor burung berjambul yang bertengger di atas papan pengumuman. Seperti diingatkan akan waktu yang saya habiskan di rumah perahu Bul-Bul, saya pun tersenyum. Kalau ada kesempatan kembali, saya tahu di mana saya akan tinggal.

  • Disunting oleh SA 22/03/2011

© 2017 Ransel Kecil