Penulis: Kasman Taslim (halaman 3 dari 3)

Minaret Dua Budaya

Pintu masuk utama Alai Darwaza dibangun pada tahun 1311 oleh Alauddin Khalji dan makam Imam Zamim di depannya dengan latar belakang Qutub Minar.
Pintu masuk utama Alai Darwaza

Pintu masuk utama Alai Darwaza dibangun pada tahun 1311 oleh Alauddin Khalji dan makam Imam Zamim di depannya dengan latar belakang Qutub Minar.

Dari balik kaca jendela mobil sedan tua, terlihat puncak menara Qutub Minar yang berwarna merah menjulang tinggi dari kejauhan. Minaret lima lantai setinggi 72,5 m ini dibangun dari susunan batu sandstone merah merupakan minaret tertinggi di dunia dan masuk dalam UNESCO World heritage Site. Minaret yang terletak tidak jauh di pinggiran selatan kota Delhi dengan ciri Arsitektur Indo-Islamic yang terinspirasi dari Minaret Jam di Herat, Afghanistan.

Sesampainya di depan pintu masuk, supir memberikan kartu nama dengan tulisan nomer mobil di belakangnya. “Here is the vehicle number, buy the ticket there, the entrance is there and I will wait at the parking lot”, jelasnya sambil menunjuk lokasi parkir yang terletak di seberang jalan.

Jalanan terlihat lengang karena mobil tidak diperkenankan parkir di sepanjang jalan. Para pedagang dan tempat penjualan tiket masuk pun dipusatkan di satu tempat bersebelahan dengan lokasi parkir mobil. Di atas loket penjualan tiket tertera tiket masuk untuk orang lokal dijual seharga Rs 10 sedangkan untuk orang asing Rs 500. Sudah sangat umum, pemerintah India memberlakukan perbedaan harga tiket kepada turis lokal dan internasional hampir di semua lokasi kunjungan wisatawan.

Lokasi pintu masuk komplek Qutub tepat berada di seberang loket penjualan tiket masuk. Suasana agak ramai pada saat itu karena bertepatan dengan musim liburan awal tahun. Mayoritas pengunjung adalah wisatawan lokal yang berlibur dengan keluarga mereka. Setelah melewati pintu masuk dan berjalan melewati taman yang terawat rapih, Qutub Minar semakin terlihat secara keseluruhan hingga kepala ini harus mendongak ke atas. Ukiran Ayat ayat Qur’an berukuran besar menghiasi permukaan dinding Qutub Minar.

Qutub Minar dengan ukiran kaligrafi
Qutub Minar dengan ukiran kaligrafi

Menurut sejarah, pada 1192 penguasa perang Aybak menyerbu dan menduduki Delhi sekaligus membangun dinasti Islam pertama di India. Pembangunan Qutub Minar dipelopori oleh Qutb-ud-din Aybak penguasa Islam pertama di India pada tahun 1193 untuk merayakan kemenangan sekaligus sebagai simbol masuknya ajaran Islam untuk mendominasi di negara dengan populasi pemeluk agama Hindu. Hingga akhir hidupnya Aybak hanya mampu menyelesaikan lantai dasar Qutub Minar. Penerusnya, Iltutmish menantu dari Aybak berhasil menambah 3 lantai dan pada tahun 1368 Firuz Shah Tughlug berhasil menyelesaikan lantai ke lima dari Qutub Minar yang saat ini menjadi mahakarya arsitektur Mughal

Sebelum membangun Qutub Minar, pada tahun yang sama Aybak menginstruksikan untuk membangun masjid pertama di India yang diberi nama Quwwat-ul-Islam. Masjid seluas 1376 meter persegi ini dibangun berlantai batu dengan lorong berpilar di sekelilingnya. Dinding masjid setinggi 16 m sampai saat ini masih berdiri. Pembangunan komplek Qutub dibantu oleh tukang batu India yang kemudian menganut agama Islam.

Sisa bangunan masjid Quwwat-ul-Islam yang masih berdiri
Sisa bangunan masjid Quwwat-ul-Islam yang masih berdiri

Setelah Aybak meninggal, masjid ini terus diperluas oleh penerusnya, Iltutmish yang berasal dari Turkestan. Iltutmish dijual oleh saudara laki lakinya sebagai budak ke seorang pedagang asal Bukhara. Sebagai budak Iltutmish dibawa ke Ghazni, Afghanistan hingga akhirnya dibeli oleh Aybak dan dibawa ke Delhi. Sepak terjangnya dalam menaklukan Delhi menarik perhatian Aybak hingga akhirnya Iltutmish menikahi putri Aybak dan setelah Aybak meninggal Iltutmish menjadi penerus kekuasaan mertuanya.

Iltutmish meninggal pada 1236 dan dimakamkan di dalam komplek Qutub. Makam berukuran 9 meter persegi dari luar terlihat seperti dinding batu yang sederhana. Interior dalamnya terlihat sangat indah dengan dekorasi pola geometris dan ukiran kaligrafi memenuhi semua permukaan dinding. Makam Iltutmish terletak ditengah tengah ruangan dan dipercaya dulunya memiliki atap kubah yang akhirnya runtuh karena terlalu berat. Terdapat juga mihrab pada dinding bagian barat yang terbuat dari batu marmer putih.

Iltutmish membangun makamnya sendiri sebelum ia meninggal pada tahun 1235
Iltutmish membangun makamnya sendiri sebelum ia meninggal pada tahun 1235

Alauddin Khalji seorang Pashtuns, suku yang banyak ditemui di Afghanistan, mewarisi kekuasaan semeninggalnya Iltutmish. Alauddin Khalji juga memperluas batas komplek Qutub dan membangun Alai Darwaja pada 1311 sebagai pintu masuk utama yang berada di sisi selatan menuju masjid Quwwat-ul-Islam.

Ukiran batu sandstone dan marmer pada dinding Alai Darwaja
Ukiran batu sandstone dan marmer pada dinding Alai Darwaja

Alauddin Khalji yang sangat ambisius membangun Minaret kedua, Alai Minar disebelah utara yang rencananya akan berukuran dua kali lebih tinggi dari Qutub Minar. Tapi sayangnya ia meninggal tanpa menyelesaikan minaretnya yang baru berdiri setinggi 25 meter. Alauddin Khalji dimakamkan di komplek Qutub bersebelahan dengan madrasah yang dibangunnya dan hingga kini tidak ada yang meneruskan proyek minaretnya.

Alai Minar yang tidak terselesaikan
Alai Minar yang tidak terselesaikan.

Apabila diperhatikan lebih detil, terdapat banyak kejanggalan pada bangunan di komplek Qutub. Detil desain bangunan yang bertentangan dengan desain bangunan Islam pada umumnya. Contohnya deretan pillar yang berada di sekeliling masjid Quwwat-ul-Islam dengan bentuk dan desain yang berbeda, tidak ada satupun kesamaan dengan pilar lainnya. ini menunjukan tidak adanya konsep kesatuan yang pada umumnya ditemukan banyak pengulangan desain yang sama pada bangunan Islam. Selain itu juga ditemukan relief pola bunga teratai yang biasanya ditemui di candi candi Hindu.

Pilar yang disusun dari reruntuhan batu candi Hindu
Pilar yang disusun dari reruntuhan batu candi Hindu

Relief yang biasanya ditemukan di candi Hindu
Relief yang biasanya ditemukan di candi Hindu

Yang paling aneh ditemukan detil ukiran berupa figur manusia. Tidak pernah ditemukan detil berupa figure manusia pada bangunan berarsitektur Islam dimanapun dan penggunaan figur seperti manusia dan hewan bertentangan dengan ajaran Islam.

Relief berfigur manusia di komplek Qutub
Relief berfigur manusia di komplek Qutub

Lalu pertanyaannya kenapa penguasa saat itu membenarkan penggunaan detil desain yang tidak biasa pada bangunan berarsitektur Islam?

Ditemukan prasasti yang menarik yang menjelaskan awal berdirinya komplek ini. Qutub Minar dibangun diatas pondasi candi Hindu dan material yang digunakan berasal dari reruntuhan 27 candi yang dihancurkan pada masa masuknya Islam ke India. Dengan waktu yang sangat terbatas dan mempercepat terciptanya kerajaan Islam di kawasan tersebut, Aybak menggunakan pasukan gajah perang untuk meruntuhkan candi candi yang dianggap musrik dan membangun masjid dan minaret dengan bongkahan batu candi.

Sangat ironis memang. Masjid pertama di India yang dibangun sebagai bukti masuknya Islam ke India, secara estetika menunjukan bangunan yang tidak Islami. Qutub Minar tidak hanya menunjukan elemen budaya pemenang, tapi juga sekaligus mewariskan budaya yang mereka kalahkan.

  • Disunting oleh ARW 12/07/2011

Delapan Jam di Dubai

Transit di Dubai lebih dari delapan jam? Pemegang paspor Indonesia bisa membeli Transit Visa maksimal untuk 36 jam di agen perjalanan yang terletak di terminal kedatangan dengan syarat transit di Dubai lebih dari delapan jam dan memiliki tiket penerbangan selanjutnya. Berikut beberapa rekomendasi tempat yang menarik untuk dikunjungi dalam waktu delapan jam:

Dubai Creek

Tempat berlabuhnya kapal dagang pada jalur perdagangan tua dari India sampai pantai timur Afrika. Tradisi dagang sejak berabad abad tahun yang lalu masih tetap dipertahankan di sungai dengan panjang 14 km hingga saat ini. Di sepanjang sungai terlihat Dhow atau kapal dagang yang terbuat dari kayu dan aktivitas pekerja bongkar muat kapal.

Dubai Creek membelah jantung kota Dubai menjadi dua, kota tua Diera Dubai sebagai cikal bakal Dubai saat ini dan Bur Dubai dengan pembangunannya yang sangat pesat. Di ujung dari Dubai Creek terdapat cagar alam tempat bermigrasinya berbagai jenis unggas, salah satunya burung flamingo yang ramai berdatangan pada akhir musim panas.

Arba, Taksi Air di Dubai

Menyusuri Dubai Creek dengan abra atau taksi air adalah yang terbaik untuk menikmati pemandangan perpaduan antara kota tua dan modern.

Dubai Museum

Dubai Museum

Tempat yang tepat untuk melihat budaya dan tradisi tua kota Dubai di masa sebelum ditemukannya minyak bumi. Terletak di kawasan kota tua dan merupakan bangunan tertua di Dubai yang dibangun pada tahun. Bangunan tua yang terbuat dari batu dan tanah liat yang dulunya berfungsi sebagai benteng dikembangkan dengan struktur moderen dengan membangun ruang bawah tanah untuk mengakomodir koleksi museum.

Memasuki bangunan benteng tua dapat dilihat perahu kayu tradisional dan senjata pertahanan masa lalu. Menuruni ramp melingkar ke ruang bawah tanah yang terletak di bawah menara seolah melihat Dubai Creek yang membelah gurun pasir kota Dubai yang belum ditumbuhi bangunan pencakar langit lengkap dengan burung burung berterbangan diatasnya. Setibanya di ruang bawah tanah terdapat diorama dengan ukuran yang sebenarnya kehidupan sehari hari dan aktivitas perdangangan lau waktu itu. Dimulai dari suasana tempat pembuatan kapal, keledai pengangkut barang, kapal dagang yang penuh muatan siap berlayar dan aktivitas pekerja kapal.

Di seberang jembatan kayu terdapat lorong sempit yang dipenuhi toko rempah, gerabah, tekstil, pengerajin kayu, pandai besi di kiri dan kanannya menggambarkan suasana pasar masa lalu. Di ujung jalan terlihat langgar dan ana kanak kecil sedang belajar mengaji.

Diorama terakhir membawa kita ke kehidupan bawah air. Ikan-ikan yang sedang berenang di sekitar pencari mutiara dan terlihat lambung kapal di atasnya dan dilengkapi dengan permainan cahaya dan suara deru ombak. Sebelum keluar terlihat suasana kehidupan tepi pantai, nelayan yang sedang membuat perahu, penjual ikan menunggu pelanggan dan pengerajin sedang merajut jala ikan.

Bastakia Quarter

Bastakia Quarter

Satu satunya kawasan tua yang masih bertahan hingga saat ini. Terletak tidak jauh dan dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Dubai Museum, Bastakia menawarkan suasana pemukiman masa lalu yang berawal dari pedagang Bastak asal Persia yang membangun rumah mereka pada abad ke-19. Kini pemukiman tua itu difungsikan sebagai galeri, toko cindera mata, rumah makan dan pusat kebudayaan. Apabila anda suka dengan fotografi, jangan lewatkan lorong labirin yang sempit di antara rumah-rumah dengan menara angin atau badgir yang menjulang tinggi.

Sheikh Saeed Al-Maktoum House

Rumah Sheikh Saeed Al-Maktoum

Dibangun di tepi Dubai Creek pada tahun 1896 sebagai rumah tinggal dari Sheikh Saeed Al-Maktoum. Rumah berdinding tebal dua tingkat dengan 4 buah menara angin yang berfungsi sebagai alat ventilasi udara memiliki taman yang luas. Saat ini rumah milik bekas penguasa saat itu difungsikan sebagai museum yang masih menyimpan foto-foto dan dokumen bersejarah. Rumah Sheikh Saeed Al-Maktoum wajib dikunjungi oleh kolektor uang logam dan penggemar/kolektor perangko.

Wafi

Wafi

Terletak di tengah hiruk-pikuknya Burj Dubai yang dikenal sebagai “kota dalam kota” menawarkan pengalaman berbelanja ekslusif dari berbagai merk terkenal di dunia seperti Chanel, Versace, Robert Cavalla, Iceberg, Jeagar, Kitson, Graff, Chopard, Links of London, Mont Blanc, dan masih banyak lagi. Mal dengan desain berkonsep arsitektur Mesir dengan bangunan berbentuk piramida juga dilengkapi dengan spa, club, restoran, kafe dan bar, klub malam dan hotel berbintang lima. Di sini juga dijadikan starting point jasa transportasi Big Bus Tour dengan armada bisnya yang berangkat setiap 30 menit mengunjungi tempat tempat menarik di Dubai.

Jumeirah Public Beach

Hotel Burj Dubai

Tidak sanggup menginap di hotel pinggir pantai? Jangan khawatir, Jumeirah Public Beach terbuka untuk umum dan tidak dikenakan biaya sama sekali. Pantai dengan pasir putih dan air jernih berwarna biru kehijau terletak tepat di sebelah hotel Jumeirah dan titik yang tepat untuk berfoto dengan latar belakang Burj Dubai, satu satunya hotel berbintang 7 di dunia. Berada di kawasan tempat tinggal pinggir pantai yang umumnya dihuni para ekspatriat, berpakaian renang dua potong diperbolehkan.

Atlantis on the Palm

Atlantis at the Palm Hotel

Terletak di ujung dari pulau buatan di reklamasi pantai Dubai yang berbentuk pohon palem tempat kawasan hunian mewah tepi pantai. Resor tematik aquaventure berbintang enam dilengkapi dengan taman hiburan air dan anda bisa memiliki kesempatan berenang dengan lumba-lumba. Dikarenakan waktu yang sangat terbatas sehingga tidak memungkinkan untuk masuk dan mencoba wahana permainan air di Atlantis, tapi menyusuri jalan di pulau buatan manusia merupakan pengalaman yang menarik.

Dubai Mall

Menyandang predikat sebagai mal terbesar di dunia. Semua yang anda cari hampir bisa dipastikan dapat ditemui di Dubai Mall yang memiliki 1.200 toko. Sebagai surga belanja dan pusat hiburan keluarga terbesar, Dubai Mall dilengkapi dengan kolam ikan indoor terbesar di dunia sebagai rumah dari 33.000 ikan air laut yang terdiri dari 85 spesies ikan yang hidup berdampingan dengan ikan hiu dan pari. Untuk si kecil, terdapat taman tematik indoor SEGA Republic Park yang menyediakan berbagai sarana permainan berteknologi canggih. Selain itu Dubai Mall juga dilengkapi dengan ice ring berukuran Olimpiade yang dapat digunakan untuk umum maupun untuk acara khusus seperti kompetisi ice skating, konser musik dan pertandingan hoki.

Air Mancur Terbesar

Burj Khalifa

Jangan lupa menyaksikan atraksi air mancur terbesar di dunia, menari diiringi dengan permainan musik dan pencahayaan di sore hari dengan latar belakang gedung tertinggi di dunia Burj Khalifa. Anda juga bisa menikmati kota Dubai dari Burj Khalifa observation deck dengan membeli tiket di kaunter “On The Top”.

  • Disunting oleh SA 04/07/2011

Cerita Si Pembuat Roti

Pembuat Naan di Kabul, Afghanistan

Di bawah sinar matahari yang perlahan bergerak ke arah barat, di depan pintu sebuah toko swalayan kecil yang berada di jalan Wazir Akhbar Khan, terletak tepat di depan bundaran jalan terlihat hal yang menarik. Seorang anak lelaki kecil dengan rambut coklat yang berantakan dan berpipi kemerahan berjalan cepat sambil memeluk roti yang berbentuk panjang. Seorang kakek tua dengan garis kerut tegas di wajahnya dan berjanggut putih lengkap dengan turbannya mengayuh sepeda dengan tumpukan roti di dudukan belakang. Seorang wanita dengan wajah tertutup burqa berwarna biru membawa roti yang dibungkus selembar kain tipis.

Di hari yang lain secara tidak sengaja saya melewati sebuah toko penjual roti, tidak jauh dari “Chicken Street” jalan yang sangat populer di kalangan turis sebagai tempat membeli cinderamata. Setelah beberapa langkah melewati toko roti itu, saya berhenti sejenak dan kemudian kembali ke toko tersebut untuk mengambil beberapa gambar. Siang itu tepat pukul dua belas siang ketika orang sedang berangkat menuju masjid untuk melakukan ibadah sholat Jumat, sedangkan pembuat roti sedang membuat dan mempersiapkan roti jualannya.

Toko roti kecil itu disebut “Nanwaee”, dari luar terlihat hanya pintu dan jendela kaca yang bertuliskan karakter bahasa Dari dengan cat berwarna merah. Di balik kaca tertata rapih roti pipih berbentuk panjang yang masih panas. Masyarakan lokal menyebut roti ini naan atau lebih tepatnya naan-i-Afghani berasal dari bahasa Persia yang secara harfiah berarti roti Afghanistan. Naan sangat umum didapatkan di negara-negara di Asia Tengah dan Asia Selatan, hanya saja bentuk dan variasi bahan dan topping yang sedikit berbeda.

Bediri di depan pintu dengan kamera di tangan, tukang roti itu sudah mengenali bahwa saya adalah orang asing yang datang bukan untuk membeli roti. Sambil menggerakan tanggannya dia menyuruh saya masuk “Come in, take picture”. Setelah mengambil beberapa gambar sesuai permintaan mereka, saya dipersilahkan duduk di atas dipan kayu yang sedikit kotor dengan serpihan tepung gandum.

Keempat pembuat roti itu bekerja sama sesuai tugasnya masing masing. Yang duduk di sudut ruangan dengan lengan baju tergulung mengaduk adonan gandum yang dicampur sedikit garam dan ragi. Pembuat roti di depannya memotong, menimbang dan membentuk adonan yang telah siap. Pembuat roti yang duduk di depan tungku api atau tandoor dengan cekatan menempelkan adonan roti panjang dengan bantalan kain ke dalam dinding tandoor yang berupa tungku api terbuat dari tanah liat. Dan yang terakhir duduk dekat jendela kaca bertugas menata roti yang sudah matang untuk siap dijual.

Pembuat roti itu adalah Ahmed, dengan dua tongkat besi, kedua tangannya sangat terampil mencungkil roti-roti yang telah matang berwarna kecoklatan dari tandoor. Sejak umur dua belas tahun, selepas pulang sekolah Ahmed selalu membantu seorang pembuat roti di dekat rumahnya. Pada saat itu Ahmed harus bekerja untuk membantu keluarganya. Selain membawa pulang sepotong roti gratis, Ahmed juga mendapatkan sedikit uang yang diberikan kepada Ibunya. Saat ini Ahmed berumur tiga puluh lima tahun, dengan dibantu tiga temannya Dia mengelola toko rotinya sendiri.

Walaupun hanya mengelola toko roti kecil, hingga kini Ahmed tidak pernah menyesali keputusannya dulu meninggalkan sekolah. Pada masa itu Ahmed kecil hidup di keluarga yang berkekurangan. Orang tuanya bekerja serabutan dan uang yang dihasilkan habis untuk kebutuhan sehari hari. Ditambah lagi mencari pekerjaan sangatlah sulit di tengah perang yang berkelanjutan saat itu.

Sampai akhirnya Ahmed menemukan seorang Mullah yang memiliki usaha toko roti dan membutuhkan pembuat roti. Pengalamannya membuat roti membuat Ahmed diterima bekerja penuh waktu di toko roti milik Mullah. Seiring berjalannya waktu Ahmed membuat toko rotinya sendiri dengan pinjaman modal dari Mullah tempat di mana dia bekerja saat itu.

Dalam sehari Ahmed bisa menjual 1.500 buah roti yang harganya telah ditetapkan pemerintah Afghanistan sebesar 10 Afs per buah. “Biasanya orang selalu datang pada saat jam jam makan pagi siang dan malam untuk membeli roti,” kata Ahmed. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Kabul, mereka hanya menyiapkan lauknya di rumah dan membeli roti di toko roti yang menjamur di setiap sudut kota Kabul.

Tak lama seorang gadis kecil bermata hijau dengan pakaian yang lusuh datang ke toko roti Ahmed meminta sepotong roti. Sambil memberikan sepotong roti, Ahmed berkata, “Gadis itu berasal dari keluarga orang miskin seperti saya dulu. Miskin, kaya, polisi, pemerintah, masyarakat biasa bahkan Taliban, semua makan roti ini,” candanya sambil menunjukan naan yang baru diangkat dari tandoor.

  • Disunting oleh SA 23/06/2011

Pasar Burung Ka Firushi

Lelaki Tua Penjual Burung

Lelaki Tua Penjual Burung

Jalan beraspal dua arah itu padat disesaki mobil-mobil tua. rumah rumah toko tiga lantai di sepanjang jalan terlihat kusam bercat pudar tertutup debu. Setiap jengkal tempat kosong di pinggir jalan selalu terisi gerobak pedagang kaki lima yang menjual kebutuhan sehari-hari seolah berlomba mencari nafkah. Belum lagi ditambah ramainya pengunjung yang berlalu lalang menambah kesemerawutan siang itu. Wajah yang berparas asing ini pun tenggelam dalam kesibukan mereka. Tidak ada anak-anak kecil yang membuntuti ke mana saya pergi, tidak ada sorotan mata mengikuti seperti alat perekam gambar, tidak ada ramahnya tegur sapa “Hello, mister”. Saya pun tidak merasa sebagai orang asing ketika mereka tidak peduli dengan keberadaan saya.

Di bawah teriknya matahari dan hembusan angin kencang bercampur debu, dengan cekatan teman saya Qurban Ali membelah keramaian dan hiruk-pikuknya Pasar Kabul sambil sesekali menoleh ke belakang untuk meyakinkan saya tidak tertinggal. Pasar Kabul ini memang termasuk pasar yang besar di kota Kabul, Afghanistan. Hampir semua kebutuhan sehari hari bisa didapati di pasar ini. Uniknya mereka juga mengenal sistem pengelompokan tempat, penempatan toko yang menjual produk yang sama di satu tempat yang mempermudah pengunjung mencari barang tertentu. Ada tempat khusus menjual daging potong, buah dan biji-bijian, tekstil, plastik, karpet, gerabah, alat-alat dapur dan lain lain. Semakin kami masuk jauh ke dalam pasar, kepadatan pengunjung pun semakin berkurang hingga akhirnya kami tiba di tempat khusus menjual burung dan perlengkapannya yang disebut masyarakat lokal Ka Firushi.

Sangkar-Sangkar Burung

Sangkar-Sangkar Burung

Memasuki kawasan pasar burung Ka Firushi yang terletak di belakang Masjid Pul-e Khishti seperti mundur ke kehidupan berpuluh-puluh tahun yang lalu, tidak tersentuh oleh perang dan modernisasi. Lorong-lorong panjang dan sempit beratapkan terpal dan beralaskan tanah dengan bangunan tanah lempung dan struktur kayu yang tak terpelihara di kiri dan kanannya. Sangkar burung yang beraneka ragam besar dan bentuknya tergantung di sepanjang lorong Ka Firushi. Kicauan merdu berbagai jenis burung turut meramaikan perbincangan tawar-menawar antara pembeli dan penjual burung.

Sudut Lain Pasar Burung

Walaupun penjudian tidak dibenarkan pada masa kekuasaan Taliban di Afghanistan, pertaruhan burung dibenarkan pada saat ini dengan alasan adu burung merupakan tradisi yang menyenangkan dan sudah dilakukan secara turun-temurun. Dimulai di musim semi, kegiatan favorit di Kabul ini diadakan setiap hari Jumat di taman-taman kota, dengan nilai taruhan per orang sebesar antara USD20 sampai USD200. Burung yang menang bisa dihargai sampai USD500, tak heran pemilik burung tersebut sangat memelihara dan memanjakan burung pemenangnya.

  • Disunting oleh SA 20/06/2011

Mencari Kendaraan Tumpangan

Saya teringat masa kecil itu. Bersama teman seusia saya, kami naik bak belakang mobil atau kontainer di perempatan lampu merah, mengejar mobil boks dan bergantungan di pintu belakang, bahkan menaiki bis umum dan cepat-cepat melompat keluar ketika kenek-nya menagih bayaran. Bukan berarti pada saat itu saya tidak punya ongkos untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah, tapi kenakalan yang spontan dan tanpa memikirkan resiko itu kami lakukan untuk kesenangan semata.

Konsep tersebut kurang lebih sama dengan istilah “hitchhiking” atau menumpang kendaraan di kalangan pejalan. Kendaraan tumpangan tentu saja moda transportasi apa pun yang tersedia agar kita bisa tiba di tempat tujuan. Dengan mencari kendaraan tumpangan kita bisa meminimalkan biaya perjalanan, bahkan gratis, tentunya tanpa mengabaikan faktor keselamatan dan atas kesepakatan kedua belah pihak.

Berikut beberapa tips dari rangkaian pengalaman saya sewaktu melancong melalui jalan darat melintasi tujuh negara di Asia.

Memiliki peta akan sangat membantu dalam melihat lokasi Anda, mempermudah untuk menentukan rute yang akan ditempuh, memperkirakan seberapa jauh dan waktu yang dibutuhkan, dan merencanakan tempat perhentian.

Berpenampilan sopan, perlu diingat bahwa Anda tidak mengenal pemberi tumpangan dan demikian juga sebaliknya. Untuk berhasil membuat seseorang memutuskan menghentikan kendaraannya sangat tergantung dari kesan pertama penampilan Anda. Apa batasannya berpenampilan sopan? Berpikirlah Anda layaknya sebagai pemberi tumpangan, apakah Anda mau memberi tumpangan terhadap diri Anda? Tentunya Anda tidak akan mendekati orang yang berkarakter kriminal bukan?

Lokasi Anda menghentikan kendaraan sangat mempengaruhi keberhasilan mendapatkan tumpangan. Berhentilah di tempat yang mudah dilihat, tidak di belokan jalan atau di tengah keramaian misalnya, ini akan memberi pengendara sedikit waktu berpikir untuk memutuskan menepi. Hindari tempat dengan tanda dilarang berhenti. Akan lebih mudah mencari tumpangan di tempat seperti lampu merah, pom bensin, perhentian rumah makan dan pangkalan truk. Untuk rute antar kota sebaiknya menunggu di pinggir kota atau jalur antar kota, karena kendaraan dalam kota biasanya tidak berpergian jarak jauh.

Menghentikan kendaraan dengan cara melambaikan tangan, mengacungkan ibu jari, atau menuliskan tujuan Anda di karton dengan huruf yang besar. Apabila Anda berkelompok sebaiknya lakukan bersama-sama. Pemberi tumpangan akan mengurungkan niatnya untuk memberi tumpangan apabila hanya satu orang yang menghentikan kendaraan dan tiba tiba muncul yang lainnya. Mendapatkan tumpangan itu perlu waktu. Ingat, tidak semua kendaraan akan berhenti, tidak semua kendaran yang berhenti akan memberikan tumpangan dan tidak semua pemberi tumpangan memiliki arah yang sama dengan Anda. Jadi, harus sabar dan punya waktu yang fleksibel.

Komunikasi akan menjadi sulit terutama di negara yang tidak menggunakan huruf latin dan tidak berbahasa Inggris seperti di Thailand, Kamboja dan Republik Tiongkok, apalagi di kota-kota kecil. Jangan sia-siakan kesempatan apabila Anda berhasil menghentikan kendaraan, inilah peluang Anda meyakinkan untuk mendapatkan tumpangan. Jelaskan kondisi dan tujuan Anda, tanya ke mana tujuan mereka. Jangan hanya mencari kendaraan yang memiliki tujuan akhir yang sama dengan Anda. Yang penting searah dan Anda bisa berhenti di lokasi strategis tempat di mana mudah mendapatkan kendaraan. Selanjutnya carilah tumpangan yang lain hingga tiba di tempat tujuan. Menyiapkan kartu bertuliskan kata atau kalimat sederhana dan nama tempat dalam bahasa mereka akan sangat membantu menyampaikan pesan yang Anda ingin sampaikan.

Berkemas seringan mungkin. Tidak mudah mendapatkan tumpangan di jalan. Biasanya saya memutuskan berjalan sambil berharap ada kendaraan yang mau berhenti daripada menunggu berjam-jam di tempat yang sama. Membawa ransel seringan mungkin sangat memudahkan perjalanan Anda. Sudah pasti ransel Anda akan setia menempel di pundak Anda kemanapun Anda pergi. Walaupun tujuan Anda menumpang kendaraan, bisa dipastikan Anda tetap harus berjalan. Selain itu akan memudahkan pemberi tumpangan karena tidak memakan tempat. Ada baiknya membawa beberapa cinderamata dari tempat Anda untuk diberikan kepada pemberi tumpangan.

Keamanan adalah yang paling utama, gunakan akal sehat. Apabila pemberi tumpangan bersedia memberi tumpangan lalu Anda berubah pikiran, jangan segan-segan membatalkannya. Bilang saja Anda menunggu di sisi jalan yang salah. Sebenarnya pemberi tumpangan memiliki kekhawatiran yang lebih besar daripada kekhawatiran penumpang.

Terakhir, nikmati perjalanan Anda. Anggaran transportasi yang Anda hemat dapat digunakan untuk memperpanjang masa liburan selama beberapa hari, atau berikan hadiah untuk diri Anda dengan makan makanan enak atau membeli sesuatu karena telah berhasil menumpang.

Walaupun menumpang memiliki resiko yang sangat kecil, tulisan ini tidak bermaksud mempengaruhi pembaca untuk melakukannya.

  • Disunting oleh SA 06/04/2011
Halaman selanjutnya

© 2020 Ransel Kecil