Artikel-artikel yang ditulis oleh Kasman Taslim (halaman ke-1 dari 3)

Negombo si “Little Rome”

Kota yang satu ini patut dikunjungi apabila anda berkunjung ke Sri Lanka. Terletak tidak jauh dari Bandaranaike International Airport, kota ini sering dijadikan persinggahan para turis yang baru saja tiba atau sebelum meninggalkan Sri Lanka. Sebagai gambaran Bandaranaike International Airport terletak 37 kilometer dari Colombo, ibukota Negara Sri Lanka.

Dari Bandaranaike International Airport, Negombo mudah dicapai dengan menggunakan beberapa alternatif moda transportasi. Yang paling mudah dan nyaman adalah menggunakan jasa penjemputan yang disediakan dari hotel atau taksi, tentunya dengan harga yang lumayan mahal berkisar dari Rs1.500 hingga Rs2.500 (US$1 = Rs129).

Penjaga pantai Negombo
Penjaga pantai Negombo.

Terminal bis Negombo
Terminal bis Negombo.

Berkeliling Negombo dengan bajaj
Berkeliling Negombo dengan bajaj.

Alternatif lain menggunakan bajai yang disebut masyarakat lokal sebagai three wheelers dengan harga berkisar dari Rs500. Bajaj tidak diperbolehkan masuk kawasan bandara, tapi tersedia di luar komplek bandara, begitu keluar bandara belok kanan hingga melewati gerbang masuk komplek bandara.
Yang paling murah adalah menggunakan bis umum. Keluar dari bandara belok kiri kurang lebih 100 meter tersedia fasilitas angkutan bis bandara gratis yang mengantar penumpang ke terminal bus terdekat di Katunayake lima menit dari bandara. Dari terminal bis Katunaye juga bisa menggunakan bajai atau bis umum untuk menuju Negombo.

Negombo terkenal dengan industri perikanan
Negombo terkenal dengan industri perikanan.

Kanal buatan Belanda yang masih digunakan nelayan
Kanal buatan Belanda yang masih digunakan nelayan.

Bis dari terminal bis Kutanaye menuju terminal bis di Negombo seharga Rs24 ditempuh kurang lebih 30 menit, sangat murah memang tapi bukan untuk mereka yang tidak suka berdesak-desakan dengan penumpang lain. Dari terminal bis Negombo dilanjutkan menggunakan bis yang melewati Lewis Place seharga Rs12 melintasi jalan di sepanjang pantai yang dipenuhi penginapan, rumah makan, pertokoan dan hiburan malam.

Bis yang melewati Lewis Place hanya tersedia hingga pukul 19.00 dengan interval setiap 30 menit. Apabila anda tiba di terminal bis Negombo lewat dari pukul 19.00 bisa menggunakan bajai seharga Rs150. Dari terminal bis Negombo juga tersedia berbagai bis tujuan ke kota lain.
Pernah menjadi pelabuhan dagang Portugis dan Belanda, Negombo dijuluki sebagai “Little Rome” dengan peninggalan bangunan tua abad ke-17 dan komunitas Katolik yang mencapai dua pertiga dari total populasi kota Negombo.

Gedung perpustakaan tua di kompleks kuil Buddha
Gedung perpustakaan tua di kompleks kuil Buddha.

Deretan depan dalam bis dikhususkan untuk para biksu
Deretan depan dalam bis dikhususkan untuk para biksu.

Gereja Katolik
Gereja Katolik.

Dua hari sudah lebih dari cukup untuk melihat atraksi wisata di Negombo dan bebelanja di toko cinderamata di sepanjang jalan Lewis Place atau bersantai di hamparan pantai berpasir putih yang lumayan bersih dan terawat.

Kuil Hindu
Kuil Hindu.

Tidak perlu menggunakan jasa operator pariwisata untuk menikmati kota Negombo. Di sepanjang jalan sesekali pengendara bajaj akan menawarkan bajajnya untuk mengunjungi beberapa atraksi wisata di Negombo dengan harga pasaran Rs1.500 dan berlangsung kurang lebih dua jam. Tanya atraksi wisata apa saja yang akan dikunjungi, dengan tanggap si supir bajai akan menyebutkan satu persatu beserta penjelasannya. Bermodalkan peta dan sepeda sewaan seharga Rs250 merupakan cara yang paling ekonomis menjelajah kota Negombo.

  • Disunting oleh SA 18/10/2012

Tips Menggunakan Dubai Metro

Dubai memiliki beberapa pilihan sarana transportasi yang nyaman dan “ekonomis”, salah satunya adalah Dubai Metro yang diresmikan pada tahun 2009. Dubai Metro merupakan sistem kereta otomatis tanpa pengemudi terpanjang di dunia. Ia memiliki dua jalur komuter, jalur merah sepanjang 52 kilometer melintasi Rashidiya hingga Jebel Ali dan jalur hijau yang melintasi area dari Al Qusais hingga Al Jadaf. Dubai Metro sangat mengedepankan kenyamanan penumpang dengan menyediakan gerbong untuk pelanggan kelas “Gold”-nya, gerbong khusus wanita dan anak-anak, lapangan parkir mobil gratis pagi pengguna Dubai Metro, dan bus pengumpan gratis yang melayani daerah di sekitar stasiun Metro.

Arsitektur salah satu stasiun Dubai Metro
Arsitektur salah satu stasiun Dubai Metro.

Sejumlah 29 stasiun di jalur merah melintasi beberapa atraksi wisata utama modern di Dubai seperti pusat perbelanjaan dan landmark ikon kota Dubai mulai dari Terminal 1 dan 3 bandara Dubai, kawasan perbelanjaan Diera City Center, Burj Al Arab—sebuah hotel berbintang tujuh, Dubai Mall dengan Burj Khalifa—gedung tertinggi di dunia, Mall of the Emirates, Medinat Jumeirah, pulau buatan The Palm dan The Atlantis, hingga Dubai Marina—kota kanal buatan. Sejumlah 18 stasiun di jalur hijau melintasi area kawasan kota tuanya, di sekitar The Creek. Wilayah ini dimulai dari Terminal 2 bandara Dubai, souk (pasar) yang menjual emas dan rempah, Shaeek Shaid House, Heritage and Diving Village, Bastakiya, Dubai Museum, Dubai Creek Abra (taksi air) dan Wafi City Mall.

Untuk menggunakan Dubai Metro, kita diharuskan membeli “Nol Card” berupa kartu plastik atau kertas.

Kartu plastik Nol Card bisa juga digunakan untuk bus umum dan taksi air, serta berlaku selama lima tahun dan dapat menyimpan kredit hingga maksimum 500 AED.

Terdapat empat jenis Nol card. Nol Blue Card diperoleh dengan mendaftar secara online dan membutuhkan 10 hari kerja. Nol Gold Card untuk yang menginginkan perjalanan dengan gerbong VIP. Kedua kartu ini lebih cocok apabila anda berdomisili di Dubai.

Di samping itu juga ada Nol Silver Card, kartu standar bisa menyimpan kredit dan cocok untuk pejalan yang sering mengunjungi Dubai.

Untuk pengunjung singkat atau turis lebih cocok menggunakan Nol Red Card. Kartu Nol dari bahan kertas tidak bisa menyimpan kredit dan hanya bisa digunakan maksimal 10 kali perjalanan atau lima kali tiket terusan harian (Daily Passes) dengan mengisi ulang sesuai harga standar per segmen perjalanan (trip). Selain harga per segmennya, setiap kartu kertas Nol Red Card dikenakan biaya tambahan 2 AED yang tidak dapat diuangkan kembali (bukan merupakan deposit).

Interior gerbong Dubai Metro yang bersih dan modern
Interior gerbong Dubai Metro yang bersih dan modern.

Apabila anda sering melakukan perjalanan lebih baik membeli tiket terusan harian seharga 14 AED/hari plus 2 AED untuk kartunya dan bebas digunakan tak terbatas untuk Metro dan bus selama sehari.
Perlu diperhatikan dalam membeli Red Nol Card, mekanismenya tidak sama seperti MRT di Singapura yang tinggal menentukan awal dan akhir stasiun. Dengan Metro Dubai, harga tiket tidak ditentukan awal dan tujuan stasiun, melainkan dengan sistem zona yang dilintasi: single zone, two zones, dan all zones.

Saya sendiri sempat bingung pada awalnya. Single zone saya maknai kalau saya naik dan turun di stasiun di sepanjang jalur yang berwarna sama, sedangkan two zones saya maknai kalau saya naik di stasiun di jalur hijau dan turun di jalur merah atau sebaliknya.

Papan penunjuk sistem zona
Papan penunjuk sistem zona.

Seperti yang terlihat di foto jalur metro melintasi beberapa zona; zona lima, enam, dua dan satu.
Ketika anda membeli tiket di mesin pembelian, terdapat tiga pilihan: single zone, two zones, dan all zones. Supaya tidak salah beli, pilih single zone apabila stasiun keberangkatan dan tujuan akhir anda berada di zona yang sama (contohnya, dari Terminal 1 bandara Dubai ke Diera City yang sama-sama berada di zona lima). Pilih two zones apabila zona tujuan akhir anda berada di sebelah zona stasiun keberangkatan anda (contohnya dari Terminal 1 bandara di zona lima ke Burj Khalifa di zona enam). Terakhir, pilih all zones apabila dari stasiun keberangkatan anda hingga stasiun tujuan akhir melintasi lebih dari dua zona (contohnya dari Terminal 1 bandara di zona lima ke Dubai Marina di zona dua atau Zebel Ali di zona satu).

Apabila anda ragu, lebih baik beli tiket melalui petugas di loket.

Jam operasional setiap hari dari pukul 05:00 pagi – tengah malam (00:00), kecuali hari Kamis dan Jumat kereta beroperasi hingga pukul 01:00 dini hari, dan khusus hari Jumat dibuka pukul 01.00 siang. Untuk hari besar tertentu seperti malam tahun baru, jam operasional Dubai metro akan beroperasi lebih panjang.


Mesjid Agung Sheik Zayed, Abu Dhabi

Tiba di Dubai International Airport menjelang matahari bergerak ke ufuk barat, saya masih memiliki setengah hari sebelum keberangkatan penerbangan lanjutan pagi keesokan harinya. Dengan mengantongi visa Uni Emirat Arab (UEA) yang berlaku selama 30 hari, saya pun bergegas menuju ke kaunter imigrasi untuk menuju ke kota terbesar di UEA yang juga ibukota negara, Abu Dhabi.

Sarana dan infrastruktur transportasi di Dubai sangat memudahkan mengunjungi Abu Dhabi dengan menggunakan bus umum. Bus berangkat setiap hari dimulai dari pukul 5.30 pagi hingga bus terakhir 11.30 malam dari kedua terminal. Terminal bus Al-Ghubaiba di Dubai dan terminal bus Al-Wadha di Abu Dhabi dengan interval keberangkatan setiap 30 menit atau lebih awal apabila bus sudah terisi penuh. Tiket bus menuju Abu Dhabi seharga 25 AED dan menuju Dubai seharga 15 AED.

Menumpang taksi murah ke lokasi
Menumpang taksi murah ke lokasi.

Setelah kurang lebih dua jam di dalam bus yang nyaman, terkantuk-kantuk melintasi pemandangan monoton gurun kering sejauh 130 kilometer, saya tiba di terminal bus Al-Wadha, Abu Dhabi. Dari sini saya menggunakan taksi borongan menuju masjid Agung Sheikh Zayed, masjid terbesar di UEA dan ke-6 terbesar di dunia. Dari riset saya di internet, biaya taksi dari terminal bus menuju masjid Agung Sheik Zayed seharga 35 AED, tapi saat itu saya menghindari taksi yang terlihat mengkilap dan beralih menghentikan taksi yang terlihat sedikit kusam. Saya menawar seharga 20 AED sekali jalan dan akhirnya disetujui si supir taksi, pekerja imigran asal Pakistan.

Motif lantai dan pilar yang menawan
Motif lantai dan pilar yang menawan.

Lantai marmer berdekorasi indah
Lantai marmer berdekorasi indah.

Sebenarnya masjid Agung Sheik Zayed bisa ditempuh dengan menggunakan bus umum. Tapi karena masalah waktu yang mengharuskan saya kembali ke Dubai pada hari yang sama, saya memutuskan untuk menggunakan taksi.

Dari kejauhan, dari balik jendela taksi terlihat minaret dan kubah besar dari masjid Agung Sheik Zayed. Sesuai namanya bangunan masjid berarsitektur Islam kontemporer yang berwarna putih ini dipelopori oleh presiden pertama UEA, HH Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Mesjid yang memiliki empat minaret dan 82 kubah berukuran besar dibangun dengan biaya US$545 juta dan bisa menampung hampir 50.000 umat.

Tampak depan
Tampak depan.

Mesjid Agung Sheikh Zayed ini dibangun tidak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat dari edukasi dan budaya Islam yang terbuka bagi siapa saja dan tidak dikenakan biaya apapun, termasuk untuk jasa pemandu yang sangat berpengalaman. Mesjid Agung Sheikh Zayed dibuka setiap hari mulai dari pukul 9.00 pagi hingga 10.00 malam (tutup Jumat pagi) dan khusus selama bulan Ramadan tutup 12.00 malam (tutup hari Jumat).

Pilar megah
Pilar megah.

Mimbar imam
Mimbar imam.

Desain dan pembangunan masjid ini melibatkan 3.000 pekerja dan mendatangkan seniman dan material dari berbagai negara di antaranya berasal dari Italia, Jerman, Moroko, India, Turki, Iran, RRC, Inggris, Selandia Baru, Yunani dan UEA. Mesjid ini dilengkapi dengan perpustakaan dengan berbagai koleksi buku literatur Islam dalam berbagai bahasa antara lain Arab, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Jerman dan Korea!

Interior
Interior.

Mesjid yang berdiri di atas tanah seluas 22.412 meter persegi atau seluas lima kali lapangan bola memiliki 1.000 kolom marmer dan dilapisi dengan batu berharga seperti lapis lazuli, red agate, amethyst, abalone shell dan mother of pearl. Halaman utama masjid seluas 17.000 meter persegi berbatu marmer putih dengan dekorasi pola bunga dikelilingi oleh kolam refleksi seluas 7.847 meter persegi yang mengelilingi masjid.

Desain interior ruangan pun berlomba tidak mau kalah menandingi estetika eksterior masjid. Marmer putih asal Italia dengan pola bunga menghiasi ruang sholat. Di ruang utama terdapat lampu gantung terbesar di dunia dengan diameter 10 meter dan setinggi 15 meter. Lampu gantung seberat sembilan ton yang tergantung di bawah kubah utama dihiasi ribuan kristal Swarovski asal Austria. Lantai ruang utama dihiasi karpet rajutan tangan terbesar di dunia yang dirancang oleh seniman asal Iran dan dibuat oleh 1.300 pengerajin karpet yang didatangkan langsung dari Mashhadin, desa kecil di Iran yang terkenal dengan keahlian penduduknya membuat karpet.

Ketika malam
Ketika malam.

Interior di sisi lain
Interior di sisi lain.

Pilar-pilar dan refleksi
Pilar-pilar dan refleksi.

Tempat berwudhu
Tempat berwudhu.

Kiblat setinggi 23 meter dengan lebar 50 meter dihiasi oleh seni kaligrafi 99 nama yang menggambarkan Allah, di disain oleh seniman kaligrafi ternama UEA. Secara keseluruhan masjid ini melibatkan seniman kaligrafi asal Syria, Turki dan Jordan.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi masjid ini adalah sebelum dan setelah matahari terbenam. Ketika gelap, kolam refleksi di sekeliling masjid akan merefleksikan deretan kolom sepanjang halaman masjid. Pencahayaan masjid ini juga unik, dirancang arsitek tata lampu Jonathon Spiers, sorotan proyeksi awan abu kebiru biruan pada dinding luar masjid intensitas cahayanya selalu berubah setiap malam mengikuti fase bulan. Redup ketika bulan sabit, terang ketika bulan purnama.

  • Disunting oleh SA 02/08/2012

Roti Isi Ikan Khas Eminonu

Susunan meja kayu berukuran kecil tumpah ruah ke area publik. Tempat duduk pun penuh diduduki ramainya pengunjung yang sedang bersantap siang. Belum lagi terlihat antrian panjang di depan perahu yang terombang ambing di pinggir dermaga. Beberapa pria dengan seragam hitam dan bordiran warna kuning berlomba lomba memanggil pengunjung, “Balik Elmek… Balik Elmek… Balik Elmek…” untuk masuk ke dalam tendanya.

Roti dijual melalui perahu kecil yang bersandar
Roti dijual melalui perahu kecil yang bersandar

Penasaran dengan makanan apa yang disiapkan dan dijual di atas perahu itu, sayapun duduk di anak tangga sambil membuka helai halaman pada puku panduan yang saya bawa. Di halaman itu tertulis:

“The cheapest way to enjoy fresh fish from the waters around Istanbul is to buy a ‘balik ekmek’ (fish sandwich) from a boatman.”

Rupanya secara tidak sengaja saya menemukan penjual roti isi ikan khas Eminonu yang sangat populer di kalangan masyarakat lokal Istanbul. Di sepanjang bibir dermaga Eminonu terdapat beberapa penjual roti isi ikan yang merapatkan perahunya di Teluk Golden Horn. Siang itu saya memilih penjual dengan pengunjung paling banyak, biasanya banyaknya pembeli mencerminkan kualitas dari makanan yang dijual.

Papan harga
Papan harga

Roti isi ikan siap disantap!
Roti isi ikan siap disantap!

Empat orang pembuat roti isi di dalam perahu bekerja dengan cekatan, dua orang memanggang ikan segar, biasanya sejenis ikan kembung yang banyak ditemui di perairan Turki, dan duanya lagi memasukan ikan panggang, irisan selada dan bawang bombai ke dalam roti berukuran setengah kaki. Bergabung dengan antrian di depan perahu, kami pun bergerak sangat cepat. Mungkin karena tidak ada menu lain yang dijual selain roti isi ikan. Memesannya pun sangat sederhana, hanya dengan menyebutkan jumlah roti isi yang mau dibeli dan dengan lincah petugas di depan perahu akan memberikan roti isi yang terbungkus kertas dan menarik bayaran sebesar lima lira per roti isi.

Menikmati roti sambil bersantai
Menikmati roti sambil bersantai

Sultan Ahmed Square
Sultan Ahmed Square

Melihat tempat duduk kosong yang baru saja ditinggalkan pengunjung sebelumnya, saya duduk di kursi rendah di bawah bangunan berstruktur besi yang ditutupi tenda berwarna merah. Tempat yang sangat pas untuk berisitirahat dan bersantap siang dengan pemandangan minaret menghiasi garis cakrawala kota tua Sultan Ahmed. Suasana masih diramaikan dengan kicauan burung camar yang berterbangan.

Roti isi ikan disantap dengan taburan garam dan perasan air jeruk nipis yang sudah tersedia di atas meja. Sesekali penjual minuman datang menawarkan minuman pickle juice, minuman yang terdiri dari irisan beberapa jenis acar sayuran. Terus terang, untuk urusan rasa, saya lebih memilih kebab, tapi roti isi ini patut dicoba apabila anda berkunjung ke Istanbul.

  • Disunting oleh SA 27/072012

Memesan Kopi/Teh Ala Singlish

Sudah menjadi kebiasaan kalau tidak bisa tidur, saya selalu keluar mencari cemilan atau sekedar minum sambil menikmati suasana menjelang hari berganti. Malam itu di North Bridge Rd., Singapura, sudah terlihat sepi. Lampu pusat perbelanjaan di seberang jalan sudah dipadamkan. Jalanan terasa lengang oleh lalu lalang kendaraan. Pelanggan kopitiam (rumah makan yang menyediakan kopi dan teh) bisa dihitung dengan jari.

Di malam yang hampir larut itu, saya memesan segelas es teh susu. “Can I have iced milk tea please?”. Dengan muka bertanya-tanya, tukang kopi itu pun mengulangi “Tea with ice, ah?”, “…and milk!” lanjut saya. “It’s iced tea lor…” tukang kopi kembali meyakinkan pesanan saya. Daripada pusing saya pun meng-iya-kan saja kesimpulan si tukang kopi sambil mengeluarkan recehan S$1.20.

Tukang kopi itu pun membuatkan pesanan saya, memasukkan beberapa sendok susu kental manis, disusul menuangkan air teh dan es batu ke dalam gelas dan mengaduk rata. “Nah, your iced tea, one twenty cents.” Dalam hati saya, “It’s iced milk tea, not iced tea!” Masih terheran dan penasaran dengan perdebatan kecil itu pun saya tetap membayar pada akhirnya.

Duduk di satu-satunya meja dengan logo rokok tak tercoret tepat di pinggir jalan, saya pun menikmati segelas es teh susu yang disebut tukang kopi “iced tea“.

Tak berapa lama, sebuah taksi menepi dan memarkirkan kendaraannya. Supir taksi itu duduk di meja yang sama dengan yang saya tempati. Dengan menggunakan bahasa Hokkien, saya mengerti supir taksi itu memesan segelas kopi. Ketika pesanannya datang, segelas kopi itu tidak terlihat seperti kopi hitam, lebih tepatnya seperti kopi susu.

Iseng-iseng saya pun bertanya, “You asked a coffee, didn’t you?”.

Yes, this is the coffee,” jawab si supir taksi.

So it’s not a coffee milk?” lanjut saya.

Sambil tersenyum si supir taksi kembali mengatakan, “No, it is a coffee!”

Supir taksi itupun menjelaskan istilah-istilah yang digunakan orang Singapura ketika memesan kopi atau teh. Di Singapura kalau memesan teh atau kopi berarti sudah otomatis dicampur dengan susu kental manis. Tidak perlu menambahkan kata susu. Berbeda dengan warung kopi di Jakarta. Kopi ya kopi saja, kalau mau ditambah susu berarti kopi susu.

Lain kali, saya pikir, jika ingin memesan kopi atau teh di kopitiam, maka saya harus mematuhi beberapa peraturan istilah berikut:

Kopi/Teh: kopi/teh dicampur dengan condensed milk/susu kental manis. Di Indonesia setara dengan kopi/teh susu.

Kopi-C/Teh-C: kopi dicampur dengan evaporated milk/susu tawar dan gula pasir

Kopi-O/Teh-O: kopi/teh dicampur dengan gula pasir. Di Indonesia setara dengan kopi/teh manis.

Kopi/Teh Kosong: kopi/teh tanpa gula dan susu. Di Indonesia setara dengan kopi/teh tawar/pahit.

Semua kopi dan teh disajikan panas, apabila mau disajikan dingin tinggal ditambahkan kata “Peng” yang berarti es, di akhir seperti Kopi-O Peng.

  • Disunting oleh SA 25/06/2012.

Merlion, Kisah Ikan Berkepala Singa

Konon datanglah tiga putra Raja Iskandar Dzulkarnain, Bichitram, Paladutani dan Nilatanam. Mendengar berita ini, Raja Palembang Trimurti Tribuana mengunjungi mereka dan membawa pulang ke kota. Ketika berita ketiga putra raja ini sedang berada di Palembang tersebar, rakyat dan penguasa dari segala penjuru berdatangan dan memberi tahta kepada mereka. Putra raja tertua diangkat menjadi Raja Minangkabau dengan predikat Sang Sapurba. Putra Raja kedua menjadi Raja Tajung Pura dengan predikat Sang Maniaka. Nilatanam, putra bungsu berpredikat Sang Utama yang lebih dikenal dengan nama Sang Utama atau Sri Tri Buana menetap di Palembang dan menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya.

Merlion di malam hari.
Merlion di malam hari.

Suatu hari Sri Tri Buana melakukan perjalanan untuk menemukan wilayah kekuasaan baru. Dia pergi ke Bintan yang dikuasain oleh seorang ratu kaya raya, Sakidar Syah yang pada akhirnya mengadopsi Sri Tribuana sebagai putranya sekaligus penerusnya.

Ketika Sri Tri Buana pergi berburu ke Tanjung Bemian, dari tebing batu tinggi dia melihat melihat sebuah pulau dengan hamparan pantai berpasir putih. Dia bertanya kepada Demang Lebar Daun, Indra Bopal, “Daratan apakah itu?” Bopal menjawab “Kami menyebutnya Temasik, yang mulia”, yang dalam bahasa jawa kuno bermakna kota laut.

Dengan segera Sri Tri Buana pergi menuju ke Temasik. Setelah perahu mendarat, mereka pergi berburu ke Kuala Temasik. Sekejap mereka melihat seekor binatang tanpa sempat mengenali binatang apa. Demang Lebar Daun pun mengira-ngira, “Binatang itu terlihat seperti seekor singa”. Sri Tri Buana lalu mengirim pesan ke Ratu Sakidar Syah bahwa dia tidak akan kembali ke Bintan dan akan menetap di Temasik dan mendirikan “pura”, yang berasal dari bahasa Sansekerta, berarti kota. Ia menamai Temasik sebagai Singapura, atau “Kota Singa”, pada abad ke-11. Sri Tri Buana memimpin Singapura selama 48 tahun hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di Singapura.

Siapa yang menyangka monster ikan berkepala singa menjadi ikon pariwisata negara tetangga yang sukses mendatangkan turis dari berbagai penjuru dunia. Teringat ketika teman yang baru tiba dari Singapura selalu saja membawa cinderamata mulai dari kaos, gantungan kunci, magnet kulkas, coklat dengan ikon Merlion yang merepresentasikan singa dari “Kota Singa” dan ikan dari Temasik si “Kota Laut”. Bahkan foto wajib yang harus dimiliki adalah berfoto di depan Merlion yang sedang menyemburkan air.

Desain logo Singapore Tourism Board yang sudah dipatenkan pada tahun 1966 ini digunakan sejak 1964 hingga 1997. Enam tahun setelah itu, pada 15 September 1972 pematung Lim Nang Seng membuat patung Merlion dan diletakkan di muara sungai Singapura, sebagai simbol menyambut pengunjung dengan ucapan “selamat datang di kota Singapura”. Sayangnya, pandangan Merlion dari waterfront tertutup ketika jembatan Esplanade selesai dibangun.

Merlion setinggi delapan meter yang dibangun dengan biaya S$165,000 pun dipindahkan pada tahun 2002 ke seberang jembatan Esplanade di mana Merlion Park berada saat ini dengan biaya sebesar S$6,000,000. Dengan memanfaatkan latar belakang dramatis gedung pencakar langit yang menghiasi horison kota Singapura, Merlion kembali menghiasi Marina Bay dan menyemburkan air dari mulutnya yang sempat terhenti sejak tahun 1998.

Merlion Park merupakan salah satu atraksi gratis yang paling banyak dikunjungi, ratusan ribu pengunjung menyempatkan datang setiap harinya untuk berfoto dengan Merlion dan mereka tetap kembali meskipun sudah pernah mengunjungi sebelumnya. Desain Merlion Park yang baru sangat berorientasi kepada kebutuhan warga Singapura maupun para turis. Merlion Park membuat dermaga yang memungkinkan pengunjung berfoto di depan Merlion dengan latar belakang horison kota. Undakan tempat duduk di sepanjang bibir sungai mendekatkan pengunjung dengan permukaan air ketika duduk menikmati panorama Marina Bay.

Terdapat delapan alternatif lokasi baru Merlion Park yang diusulkan saat itu. Pihak pemerintah Singapura menginginkan Merlion tetap berada di sekitar muara sungai Singapura yang memiliki makna sejarah tempat di mana Sri Tri Buana melihat penampakan seekor binatang yang dia anggap sebagai singa sekaligus menjadi cikal bakal nama Negara Singapura. Dengan pemindahan Merlion 120 meter dari tempat aslinya, terlihat semangat jiwa perubahan yang menjadi karakter terbentuknya Singapura.

  • Disunting oleh SA 11/06/2012

Cordial House Hotel, Istanbul

Resepsionis
Resepsionis.

Berbekal dari tulisan tangan di secarik kertas, dengan mudah saya tiba di penginapan Cordial House Hotel, Istanbul. Goresan tinta merah itu memandu saya setibanya di Bandara Internasional Ataturk.

“Beli dua jeton saja sekaligus karena nanti mesti pindah jalur kereta. Jeton itu koin plastik untuk naik tram, satu koin seharga dua lira, bisa beli di mesin atau di petugas yang berdiri di pintu masuk. Dari stasiun bandara ambil jalur merah, lalu pindah ke jalur biru di Zeytinburnu dan turun di stasiun Cemberlitas, satu stasiun sebelum Sultan Ahmed…”

Jalan sedikit sudah di Divanyolu Cadessi
Jalan sedikit sudah sampai di Divanyolu Cadessi.

Cordial House berada di Divanyolu Caddesi (“Jalan” Divanyolu), Peykhane Sokak, No. 19, tepat setelah stasiun Cemberlitas. Terdapat plang jalan yang bertuliskan “Divanyolu Caddesi” yang mengarah ke jalan selebar dua kendaraan yang menurun dengan permukaan jalan berupa susunan batu dan bollard di kedua bahu jalan. Cordial House hanya ditandai dengan dua buah neon sign berbentuk oval berwarna biru dengan tulisan Cordial House Hotel.

Rekomendasi penginapan dari seorang teman yang baru saja mengunjungi Istanbul ternyata tidak salah. Walaupun belum terdaftar di buku panduan Lonely Planet, penginapan ini sangat saya rekomendasikan untu pejalan ketat anggaran yang tidak terlalu suka keramaian turis seperti yang banyak terlihat di kawasan Sultan Ahmed.

Bar
Bar.

Lokasi Cordial House hanya 40 meter dari stasiun Cemberlitas dan Divanyolu Square di mana terdapat hamam terkenal, yakni Cemberlitas Hamami, dan juga tempat Column of Constantine berada. Atraksi utama kota Istanbul seperti Grand Bazaar (200m), Blue Mosque (250m), Basilica Cistern (300m), Haga Sophia (350m), Topkapi Palace (650m) sangat dekat ditempuh dengan berjalan kaki. Bahkan kawasan Eminonu tempat penyeberangan feri ke sisi benua Asia dan kawasan kota modern Beyoglu hanya berjarak beberapa menit dengan menggunakan tram.

Cordial House memiliki kamar single, double, twin, triple, dan quadruple dengan kamar mandi di dalam. Juga tersedia male dorm, female dorm dan mixed dorm yang cukup luas dan kamar mandi bersama di luar. Kekurangannya untuk dormitory hanya tersedia satu colokan listrik yang digunakan secara bergantian di kamar dengan kapasitas delapan orang. Setiap dormitory juga hanya memiliki satu kunci yang digunakan bersama penghuni kamar, orang pertama yang masuk ke kamar harus mengambil di resepsionis, demikian juga orang terakhir yang keluar kamar harus menyerahkan kembali ke resepsionis.

Restoran
Restoran.

Pernah suatu hari ketika saya meminta kunci ke resepsionis, ternyata salah satu penghuni kamar sudah mengambilnya terlebih dahulu, sedangkan pintu kamar masih dalam kondisi terkunci. Akhirnya saya harus mencari kunci tersebut ke kamar mandi sambil berteriak “Anyone has Room 33 key?”. Untungnya saya menginap di male dorm, coba kalau di mixed dorm, mungkin saya akan memasuki kamar mandi wanita juga untuk mencari kunci.

Berbagai fasilitas dan layanan tersedia mulai dari wireless internet (tidak berfungsi untuk BlackBerry), air panas, belajar mempersiapkan kopi Turki, penitipan koper, pemanas ruangan, safety box, dan potongan harga untuk paket tur, pertunjukan whirling dervish dan Turkish bath. Juga tersedia sarapan pagi yang disajikan secara prasmanan di ruang makan yang terletak di lantai bawah tanah dengan menu seperti telur rebus, roti, buah zaitun, berbagai jenis keju dan selai, jus, teh dan kopi Turki. Sarapan disediakan dengan tambahan biaya. Namun, pada saat itu saya memesan melalui agoda.com yang memberikan fasilitas sarapan pagi gratis.

Ruang bersama
Ruang bersama atau “common room“.

Prasmanan sarapan pagi
Prasmanan sarapan pagi.

Secara keseluruhan fasilitas di Cordial House sangat terjaga kebersihan dan kerapihannya. Tatanan desain interior terlihat sederhana dan modern dengan menggunakan permainan warna pada dinding dan langit-langitnya. Codial House juga sangat peka terhadap penggunaan energi listrik. Koridor utama menuju kamar menggunakan sensor gerak yang secara otomatis memadamkan lampu ketika tidak ada orang yang lewat. Menempati bangunan empat lantai, Cordial House dilengkapi dengan lif kecil yang sudah usang, mirip seperti lif barang.

Alamat

Binbirdirek Mh.
Peykhane Caddesi 19
34400 Istanbúl, Turki
Tel.: +90 0212 518 0576
Situs web: www.cordialhouse.com

Peta

  • Disunting oleh SA 11/06/2012

Menghindari Penipuan di Istanbul

Istanbul secara umum bisa dikatakan sebagai kota destinasi pariwisata yang aman dan nyaman. Tetapi, seperti di kota-kota metropolis mana pun di dunia, tetap saja tidak jarang ditemui kasus penipuan atau kejahatan yang terkadang menyulut emosi, dan pada akhirnya membuat kualitas liburan kita pun jadi berantakan. Berencana mengunjungi Istanbul dalam waktu dekat? Berikut tips-tips yang sangat perlu dibaca untuk menghindari aksi penipuan atau kejahatan yang umum dialami para pejalan. Di manapun anda berada, tetap gunakan akal sehat. Tips-tips di bawah juga berlaku untuk destinasi lain di dunia.

Salah Satu Pub di Istanbul

  • Hindari menukar uang ke lira Turki (TL) di tempat penukaran uang di dalam Bandara Internasional Ataturk. Banyak kejadian nilai uang yang diterima tidak sesuai/lebih kecil dari kurs penukaran yang tertera di papan tabel penukaran mata uang asing dengan alasan dipotong komisi. Apabila terpaksa harus menukarkan di tempat penukaran uang asing di dalam bandara, tanyalah terlebih dahulu berapa nilai yang akan anda terima dan sebaiknya tukar sejumlah yang dibutuhkan. Untuk transportasi menuju ke kawasan Sultan Ahmed misalnya, dibutuhkan dua token seharga dua lira masing-masing (koin plastik yang digunakan untuk menaiki tram).
  • Waspada di keramaian seperti bazar, bus dan tram, dan jalanan atau tempat-tempat umum seperti İstiklâl Caddesi untuk menghindari menjadi korban pencopetan. Selalu pegang dan posisikan ransel atau tas anda di bagian yang mudah terlihat seperti di depan dada, tidak dibiarkan menggantung di samping yang sangat mudah terlepas atau di belakang punggung yang memudahkan pencopet melubangi tas dengan silet. Meskipun tidak menjamin anda tidak menjadi korban pencopetan, tetapi pencopet akan selalu mencari korban yang lebih mudah dijambret.
  • Gunakan sabuk uang untuk menyimpan barang-barang berharga seperti uang dan paspor. Lebih aman kalungkan di depan dada dengan mengitari atas bahu dan bawah ketiak. Sekalipun menggunakan sabuk uang di pinggang dan diletakkan di dalam lapisan celana, terkadang secara tidak sadar, akibat banyak bergerak, sabuk uang tersebut keluar dan terlihat sehingga menarik pelaku kejahatan. Pisahkan uang yang digunakan sehari-hari dari sabuk uang dan simpan di tempat yang mudah terjangkau. Juga, jangan sesekali membuka dompet di sembarang tempat.
  • Ketika bepergian dengan anak kecil, waspadalah apabila ada sekelompok orang yang mengaggumi anak anda dengan berkerumun di sekitar anda dan anak anda. Ini hanyalah usaha untuk mengalihkan perhatian anda untuk memudahkan aksi pencopetan mereka.
  • Hindari ajakan minum, khususnya untuk para pria. Dilakukan oleh anak muda yang berpenampilan trendi terutama di kawasan Beyoglu, İstiklâl Caddesi. Dimulai dengan sapaan yang sangat bersahabat, atau pura-pura meminjam korek api, selanjutnya penipu tersebut mengenalkan diri, asal dan pekerjaannya untuk mengawali perbincangan dan pada akhirnya anda akan diajak untuk minum di salah satu pub/kafe pilihan mereka. Ketika mereka berhasil menggiring anda ke tempat yang mereka maksud, anda akan dikenalkan dengan teman-teman perempuan mereka sembari memesan minuman di meja yang sama. Kemudian, anda bertanggung jawab untuk membayar paksa semua pesanan minuman tersebut dengan harga yang tidak wajar.
  • Jangan memungut semir sepatu yang terjatuh. Semir sepatu sengaja dijatuhkan dengan harapan ada orang yang melihatnya dan mengembalikan ke tukang semir sepatu tersebut. Sebagai rasa terima kasih maka tukang semir sepatu akan menawarkan menyemir sepatu anda dengan secara cuma-cuma sambil menceritakan kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya dengan harapan anda memberikan sedikit uang sebagai rasa iba.
  • Apabila ingin berfoto dengan topi khas Turki yang dijajakan pedagang, minta izin terlebih dahulu. Kadang-kadang si penjual akan menggertak dan memaksa anda membeli topi yang dipakai. Hindari ajakan mengikuti mereka dengan orang yang mencurigakan, walaupun tampak bersahabat. Ujung-ujungnya bisa berupa ajakan untuk berjalan kaki entah ke mana sambil menceritakan sejarah objek wisata tertentu, atau mengajak masuk melihat-lihat ke toko mereka yang entah di mana dengan alasan mengambil kartu nama. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika masuk ke perangkap mereka.
  • Disunting oleh SA 11/03/2012

Atraksi Wajib-Kunjung Istanbul

Kalau sebelumnya saya menulis rekomendasi atraksi utama kota Istanbul yang tidak dipungut bayaran, kali ini rekomendasi beberapa atraksi yang wajib dikunjungi karena memberikan pengalaman unik dan melihat secara langsung peninggalan sejarah dari masa kekasairan Roma, Ottoman hingga Istanbul modern saat ini.

Selat Bosphorus

Selat Bosphorus
Selat Bosphorus

Selat Bosphorus terletak di antara benua Asia dan Eropa dan menghubungi Laut Marmara dan Laut Hitam. Bosphorus terkenal akan wisata pesiar dengan pemandangan dan beberapa peninggalan sejarah tepi benua Asia dan Eropa. Untuk menikmati wisata pesiar Bosphorus bisa menggunakan jasa penyeberangan kapal feri Sehir Hatlari, jasa kapal pesiar Turyol atau jasa kapal pesiar swasta yang banyak bertebaran di Eminonu. Alternatif lain bagi yang tidak punya banyak waktu, coba penyeberangan kapal feri dari Eminonu ke Kadikoy, berbaur dengan masyarakat lokal, yang juga merupakan tempat pas untuk menikmati pemandangan kota Sultan Ahmed dengan pemandangan Blue Mosque, Hagia Sophia dan Topkapi Palace. Sedangkan di sisi Asia akan terlihat barak militer Selimiye. Harga tiket penyeberangan dua lira dan pesiar mulai dari 12-25 lira.

Hagia Sophia

Hagia Sophia
Hagia Sophia

Hagia Sophia, gereja yang dibangun pada tahun 537 Masehi oleh Justinian, kaisar Byzantine, menjadi gereja yang termegah dan terbesar di dunia pada saat itu, hingga akhirnya dialihfungsikan menjadi mesjid pada tahun 1453 oleh Sultan Mehmet ketika berhasil mengalahkan Constantinople. Tokoh sekuler Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki kemudian mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum pada tahun 1935. Hagia Sophia buka setiap hari, kecuali hari Senin dengan tiket masuk 20 lira.

Basilica Cistern

Basilica Cistern
Basilica Cistern

Terletak di bawah tanah, bangunan kecil sekaligus loket tiket masuk di seberang Hagia Sophia, Basilica Cistern membawa pengunjung ke suasana tenang dari keramaian kota Istanbul. Dikenal juga sebagai “istana tenggelam”, waduk tertutup yang memiliki 336 kolom marmer dan granit ini dibangun pada tahun 532 Masehi untuk memenuhi kebutuhan air istana agung Constatinople dan Topkapi. Basilica Cistern berkapasitas 100.000 ton, mendatangkan air dari hutan Belgrade yang mengalir melalui jembatan air sepanjang 19 kilometer. Ada dua kolom yang paling menarik perhatian di dalam Basilica Cistern, kolom dengan alas kepala Medusa yang dalam mitologi Yunani dipercaya sebagai jelmaan perempuan berambut ular. Basilica Cistern buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.

Topkapı Palace

Maket Topkapı Palace
Maket Topkapı Palace

Terletak di atas bukit dengan pemandangan bebas ke Selat Bosphorus dan Laut Marmara, merupakan atraksi wisata yang paling banyak dikunjungi di Istanbul. Dibangun pada tahun 1478 oleh Sultan Mehmet II, digunakan sebagai hunian dari para sultan Ottoman selama hampir 400 tahun, kini termasuk warisan dunia UNESCO sebagai Kota Tua Istanbul. Istana ini menyimpan koleksi harta sultan mulai dari perhiasan berharga, kereta, pakaian, senjata dan artefak suci. Salah satu tempat yang paling menarik adalah Harem, dulunya hanya boleh dimasuki oleh orang terdekat Sultan termasuk keluarga, istri, selir dan pembantu pribadinya. Semua kehidupan di dalam Harem diatur oleh ibu sultan. Topkapi Palace tutup pada hari Selasa dan buka dari hari Rabu hingga Senin dengan tiket masuk 20 lira, tiket tambahan masuk Harem 15 lira. Tersedia pula pemandu grup dengan biaya 10 lira dan sistem audio pemandu bertarif lima lira.

Çemberlitaş Hamamı

Çemberlitaş Hamamı
Çemberlitaş Hamamı

Berkunjung ke Turki tidak lengkap tanpa mencoba Hamam atau pemandian ala Turki yang menyegarkan. Walaupun terasa sedikit risih dimandikan orang lain, pemandian tradisional Turki yang berawal dari tahun 600 Masehi memberikan pengalaman yang berakar dari kebudayaan Romawi dan Yunani kuno. Cemberlitas Hamami di Istanbul dibangun pada tahun 1584 dan masih beroperasi hingga saat ini. Bangunan tua berkubah dengan interior berbatu marmer dan dihiasi ornamen yang indah, pencahayaan dan temperatur suhu udara yang terkontrol dengan ritual pemandian masa lalu menciptakan suasana yang santai. Untuk mengalami pengalaman yang unik ini pengunjung dikenakan biaya 70 lira dan terbuka untuk pria dan wanita dengan ruang yang terpisah.

Whirling Dervishes

Whirling Dervishes
Whirling Dervishes

Nikmati pertunjukan whirling dervishes Sufi yang sangat magis. Dimulai dengan pembacaan doa dan dialuni suara gendering dan seruling, penari bertopi coklat dengan jubah putih yang terkembang berputar-putar sebagai simbol dari bulan yang mengelilingi matahari, sambil mengangkat tangan kanan ke atas dan tangan kiri ke bawah, simbol dari “tuhan” dan bumi. Kebudayaan yang dimulai sejak abad ke-13 dapat disaksikan di beberapa tempat, salah satunya Dede Efendi House dekat Blue Mosque sekaligus menjadi museum dengan koleksi peralatan musik tradisional Sufi. Tiket masuk 50 lira setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu.

Istanbul Museum of Modern Art

Istanbul Museum of Modern Art
Istanbul Museum of Modern Art

Sebagai alternatif bagi yang ingin melihat Istanbul masa kini, kunjungilah tempat ini. Dibangun pada tahun 2004, galeri seni ini memamerkan karya-karya seni abad ke-20 karya seniman lokal maupun internasional. Terdapat juga perpustakaan seni, toko cinderamata, kafe dan restoran dimana pengunjung dapat menikmati secangkir kopi Turki sambil melihat perahu hilir mudik atau matahari terbenam. Istanbul Museum of Modern Art buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari libur keagamaan. Dikenakan tarif tiket masuk seharga 7 lira dan jika ingin tiket gratis, datanglah pada hari Kamis. Mengambil foto tidak diperkenankan sama sekali.

Galata Tower

Galata Tower
Galata Tower

Salah satu ikon kota Istanbul, menara yang memiliki sembilan lantai dan tinggi 70 meter ini dibangun pada abad pertengahan. Pada zaman Byzantine, menara ini terbuat dari kayu, kemudian dibangun kembali dengan menggunakan batu pada tahun 1384. saat ini menara dilengkapi dengan dua lif. Sesuai fungsinya sebagai menara pemantau, lantai teratas menara merupakan tempat yang tepat untuk menikmati pemandangaqn kota, sambil minum teh atau kopi di kafe yang tersedia di lantai yang sama menunggu matahari terbenam. Galata Tower buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.

  • Disunting oleh SA 17/01/12

Satu Hari Atraksi Gratis Istanbul

Untuk ukuran pejalan dari Asia Tenggara, berwisata di Istanbul tidak bisa dikatakan murah. Setibanya di bandara saja kita harus mengeluarkan uang sebesar US$25 untuk Visa on Arrival, membeli koin (disebut “jeton“) tram sekali jalan senilai 2 lira dan setiap ganti/transfer tram harus membeli koin lagi. Biaya penginapan berupa asrama paling murah sekitar US$9/malam, sekali makan untuk makanan sederhana seperti kabab atau falafel dan sebotol air mineral adalah 5 lira. Belum lagi harga tiket masuk museum atau atraksi wisata yang terkenal rata-rata seharga 20 lira atau museum yang kurang popular seharga 10 lira. Hitung semua itu sesuai kurs 1 lira = Rp5.000 (dibulatkan).

Untuk yang anggarannya pas-pasan atau ingin berhemat, jangan khawatir. Istanbul menyediakan banyak pilihan atraksi wisata yang tidak dikenakan bayaran. Berikut beberapa atraksi wisata gratis yang bisa dijadikan prioritas, terangkum dalam sehari perjalanan. Jangan lupa ambil peta wisata gratis yang tersedia di bandara atau penginapan!

08.00 – 09.00: Hippodrome

Hippodrome
Hippodrome

Dulunya pernah menjadi Hippodrome atau lapangan pacuan kuda terbesar di dunia. Pembangunan Hippodrome dimulai pada abad 203 Masehi oleh kaisar Roma Septimius Severus dan diselesaikan oleh Constantine Agung pada abad 330 Masehi. Hippodrome yang pada saat itu bertempat duduk sejumlah 100.000 juga digunakan sebagai tempat upacara, kegiatan olah raga, kegiatan sosial dan bahkan tempat eksekusi mati.

Hingga kini tidak banyak yang tersisa, hanya tiga buah monumen kuno yang masih berdiri. Salah satu monumennya adalah obelisk Mesir yang berasal dari 1490 SM, dibawa oleh kaisar Roma ke Istanbul pada abad ke-4 Masehi. Obelisk setinggi 25,6 meter terbuat dari batu granit langka berwarna merah muda yang berdiri di atas balok perunggu dengan ukiran penonton yang sedang menyaksikan lomba pacuan kereta. Di sisi yang lain dari Sultan Ahmed Square juga terdapat air mancur sebagai hadiah untuk Sultan Abdulhamit dan rakyatnya yang diberikan oleh kaisar Jerman Wilhelm II pada tahun 1898 sekaligus untuk memperingati bersekutunya Jerman dan Ottoman.

09.00 – 10.00: Blue Mosque

Blue Mosque
Blue Mosque

Bila minaret yang tersebar di kota Istanbul tidak menarik perhatian Anda, mungkin hanya Blue Mosque dengan enam minaretnya yang menjulang tinggi dan terletak di seberang Hippodrome akan mengubah pikiran Anda. Dibangun oleh kaisar ke-14 kekaisaran Ottoman antara tahun 1609 – 1616 sebagai tandingan dari Museum Hagia Sophia yang berada di seberangnya. Konon kondisi Blue Mosque saat ini berawal dari kesalahpahaman antara keinginan Sultan dan arsiteknya. Awalnya sultan menginginkan mesjid berminaret terbuat dari emas (“altin” jika dalam bahasa Turki), tetapi sang arsitek mengartikan masjid dengan 6 (“alti”) minaret.

Nama Blue Mosque berasal dari 20.000 keping keramik Iznik berwarna biru berbentuk pola tradisional Ottoman dengan bentuk bunga lili, carnation dan tulip yang menghiasi langit-langit mesjid. Interior mesjid menjadi lebih indah dengan masuknya sinar matahari melalui 260 jendela berkaca patri yang berada di sekeliling dinding mesjid. Blue Mosque ditutup selama 30 menit pada waktu sholat dan selama sholat Jumat.

10.00 – 11.30: Gulhane Park

Gulhane Park
Gulhane Park

Dengan berjalan kaki dari Blue Mosque Anda akan melewati Museum Hagia Sophia dan menikmati atau mengambil foto arsitektur bangunan yang pernah menjadi gereja di masa kekaisaran Roma dan dialihfungsikan menjadi mesjid pada masa kekuasaan Ottoman.

Gulhane Park merupakan taman bersejarah dan tertua di kota Istanbul yang ramai dilewati pengunjung dari Blue Mosque dan Museum Hagia Sophia yang menuju Topkapi Palace. Berjalan di jalan setapak yang lebar dengan rindangnya pohon di kiri dan kanannya disertai pemandangan Selat Bosphorus dan Laut Marmara tentu akan menjadi pengalaman tersendiri.

11.30-14.00: Grand Bazaar

Grand Bazaar
Grand Bazaar

Untuk menuju Grand Bazaar dari Gulhane Park bisa menaiki tram dari stasiun Gulhane ke arah Zeytinburnu dan turun di stasiun Cemberlitas dengan menggunakan satu koin seharta 2 lira. Setibanya di Cemberlitas terlihat Column of Constantine setinggi 35 meter yang juga dikenal sebagai Burnt Column setelah terbakar pada tahun 1779. Column of Constantine didirikan pada tahun 330 Masehi untuk memperingati berdirinya Byzantium sebagai ibukota baru kekaisaran Roma. Makan siang di restoran yang menjual Turkish kabab dan jus buah delima segar di seberang jalan dan selang beberapa toko terdapat pemandian Turki yang bersejarah, Cemberlitas Hamami.

Dengan mengikuti jalan setapak dan banyak bertanya Anda akan tiba di Grand Bazaar yang didirikan sejak tahun 1461. Terdapat 4.000 kios yang tersebar di 64 jalan. Anda kemungkinan besar akan tersesat di pasar yang dikunjungi hampir 400.000 orang per harinya. Memiliki peta Grand Bazaar walking tour tentu akan sangat membantu untuk menghemat waktu. Grand Bazaar tutup pada hari Minggu, selama bulan Ramadhan, dan beberapa hari besar. Setelah puas berkeliling, carilah pintu keluar yang mengarah ke stasiun Beyazit.

14.00 – 17.00: Taksim Square & Istiklal Caddesi

Istiklal Caddesi
Istiklal Cadessi

Dari Stasiun Beyazit di seberang Grand Bazaar, naiklah tram dengan tujuan Kabatas, lalu ganti tram menuju Taksim. Tarifnya 4 lira. Perjalanan dari Beyazit menuju Taksim memakan waktu kurang lebih 30 menit. Tram akan berhenti tepat di Taksim Square, sebuah ruang terbuka. Berjalanlah ke arah Monument of Republic yang tidak jauh dari Taksim Square, lalu ikuti jalur kereta berserjarah yang melintasi jalan sepanjang 3 kilometer dari Monument of Republic hingga ke ujung jalan (“cadessi”) Istiklal.

Jalan yang berada di kawasan Beyoglu ini juga disebut Grand Avenue dan dilintasi jutaan manusia setiap harinya. Terdapat pertokoan, kafe, bar, galeri seni, museum, restoran, bioskop, bangunan religius dan kedutaan besar di kedua sisi jalan dengan beragamnya bangunan dari yang berarsitektur klasik hingga modern. Di penghujung jalan Istiklal, tempat di mana jalur kereta berakhir, ikutilah jalan berbatu yang menurun, melintasi Galata Tower di sebelah kanan dan terus berjalan hingga menemukan jalan utama dan diteruskan ke arah Galata Bridge.

17.00 – 18.00: Galata Bridge

Pemandangan dari Galata Bridge
Galata Bridge

Jembatan sepanjang 500 meter yang baru dibangun pada tahun 1992 ini menghubungkan kota tua Istanbul dan kota modernnya. Selain dapat dilalui kendaraan beroda empat, jembatan ini juga menyediakan jalur tram dan pejalan kaki. Galata Bridge ramai dikunjungi pemancing ikan dari pagi hingga malam dan masyarakat lokal untuk mencari jajanan. Di bawah Galata Bridge terdapat deretan rumah makan dan kafe yang menjajakan teh dan kopi, serta berbagai makanan laut.

Dari Galata Bridge terlihat pemandangan kota tua Istanbul dengan bangunan masjid Ottoman dan minaretnya yang menjulang, Galata Tower dan burung camar berterbangan. Jangan lupa mencoba balik ekmek, roti yang diisi irisan sayuran dan ikan goreng seharga 5 lira.

18.00 – 18.30: Spice Bazaar

Spice Bazaar
Spice Bazaar

Spice Bazaar dibangun pada tahun 1664 yang biaya sewa kiosnya digunakan untuk membiayai perawatan Masjid Yeni Cami (New Mosque) yang terletak tidak jauh dari situ. Di sini terdapat 86 kios yang menjual aneka rempah, obat obatan tradisional, aneka jenis cemilan dan cinderamata.

18.30 – 19.00: Yeni Camii Mosque

Mesjid Yeni Camii
Yeni Camii Mosque

Terletak di seberang Spice Bazaar, Yeni Cami, meskipun dikenal dengan nama New Mosque, dibangun sebelum Blue Mosque pada tahun 1597. Yeni Cami memiliki halaman yang megah dengan air mancur tempat mengambil air wudhu yang terletak di tengahnya. Terdapat dua minaret dan beberapa kubah yang bertingkat. Interior mesjid dipenuhi oleh dekorasi batu marmer dan keramik Iznik berwarna emas, putih, biru dan hijau.

Untuk kembali ke penginapan, stasiun tram terdekat adalah Eminonu, tapi lebih baik berjalan kaki sambil melihat Hagia Sophia dan Blue Mosque dengan pencahayaan lampu di malam hari.

  • Disunting oleh SA 08/01/12

Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil