Ini untuk pertama kalinya saya ke luar negeri dan tujuan pertama jatuh ke Singapura, dalam sebuah ekskursi kampus. Singapura sangat berbeda dari tanah air. Udaranya bersih, orang-orangnya sigap dan berjalan dengan cepat, lalu lintasnya teratur. Banyak tempat-tempat menarik di sini yang bisa dikunjungi, salah satunya adalah Singapore Art Museum.

Tampak Depan Museum
Tampak Depan Museum

Singapore Art Museum atau yang disingkat sebagai SAM ini berada di Bras Basah Rd., sepuluh menit dari stasiun MRT Bugis. Tiket masuk hanya lima dolar Singapura bagi pelajar dan sepuluh dolar untuk masyarakat umum. Sebagai tanda masuk, kita akan mendapat stiker bulat berwarna hijau yang harus ditempel di pakaian kita.

Bentuk museum dari fasad depan cukup megah dan serba berwarna putih, khas sekali zaman kolonial. Kontras dengan eksteriornya, interiornya beraura modern. Ditilik dari sejarahnya, sebelum digunakan sebagai museum, bangunan ini memang beberapa kali dipugar dan digunakan untuk kepentingan yang berbeda. Bangunan tiga lantai ini dibagi menjadi dua bagian, plaza dan galeri. Plaza adalah ruang publik di mana kita diperbolehkan minum dan makan. Galeri adalah ruang pameran yang peraturannya lebih ketat, antara lain tidak diperbolehkan membawa alat perekam video, mengambil foto tanpa blitz, dan tidak menyentuh karya.

Sayang, saya tidak melihat sosok pemandu museum di sana. Saat ditanya, rupanya mereka mempunyai jadwal tersendiri. Untuk hari Senin, waktu saya berkunjung ke sana, pemandu museum baru ada pukul dua siang. Tak ingin menunggu, saya langsung saja menikmati koleksi museum tanpa dipandu. Pemandu museum ada yang berbahasa Inggris, Mandarin dan Jepang. Untuk yang berbahasa Jepang ada di hari Selasa hingga Jumat pukul 10.30, sedangkan Mandarin ada pada hari Jumat pukul 7.45 malam.

Beruntung sekali saya karena bisa menunjungi SAM saat itu karena di sana sedang berlangsung dua pameran besar berisi karya-karya seni visual yang berasal dari seluruh dunia. Dua acara itu adalah “Asia Pacific Breweries Foundation Signature Art Prize 2011 Finalists Exhibition” dan “The Collectors Show: Chimera, Asian Contemporary Art from Private Collections”. Acara yang pertama diselenggarakan pada 11 November 2011 hingga 4 Maret 2012 merupakan pameran karya finalis dari 130 nominasi karya seni yang berasal dari 24 negara di area Asia Pasifik. Hanya 15 karya finalis yang dipamerkan, dan karya seniman Indonesia termasuk di dalamnya!

Instalasi 'V' oleh Li Hui
Instalasi karya Li Hui, berjudul “V” (2011)

Kompetisi ini diisi oleh karya-karya yang beragam entah itu media, tema atau ukuran, rasanya tidak ada yang tidak bagus. Ada beberapa karya finalis yang menarik hati saya, salah satunya adalah karya intalasi dengan video milik Sheba Chhachhi dari India. Berada di satu ruang di mana di sisi kanan dan kirinya penuh dengan banyak tumpukan buku yang sengaja ditata berantakan, lalu ada proyektor LCD besar ditaruh di dinding tengah dan proyektor-proyektor LCD lebih kecil yang ditidurkan, dengan ditata memanjang seolah menjadi “penengah” buku-buku tersebut. Jika lampu sekitar dimatikan, alangkah indahnya suasana yang tercipta. Karya yang berjudul “The Water Diviner” ini membuat saya merasa berada di laut sebenarnya. Pemenang kompetisi adalah lukisan akrilik di atas kanvas milik Rodel Tapaya dari Filipina.

Instalasi karya Sehba Chhacchi, berjudul The Water Diviner (2008)
Instalasi karya Sheba Chhachhi, berjudul “The Water Diviner” (2008)

Karya Aida Makoto, berjudul Ash Color Mountains (2009-2010)
Karya Aida Makoto, berjudul “Ash Color Mountains” (2009-2010)

Karya Rodel Tapaya, berjudul Baston ni Kabunian, Bilang Pero di Mabilang (Cane of Kabunian, numbered but cannot be counted) (2010)
Karya Rodel Tapaya, berjudul “Baston ni Kabunian, Bilang Pero di Mabilang (Cane of Kabunian, numbered but cannot be counted)” (2010)

Pameran yang kedua menyatukan karya-karya besar dari seni kontemporer Asia yang berasal dari seluruh dunia. Pameran ini menyuguhkan karya kontemporer dalam bentuk yang beragam dan ukuran yang besar serta berasal dari lukisan ke patung, media baru dan multimedia interaktif. Pameran ini dilaksanakan pada tanggal 14 Januari hingga 25 Maret 2012 dan merupakan acara paralel dari Art Stage Singapore 2012 yang diadakan oleh Singapore Art Museum. Salah satu hasil karya grup seniman Tromarama dari Indonesia, koleksi Arif Suherman, juga dipamerkan di sini. Karyanya menampilkan komposisi kode binari, rentetan angka “1” dan “0” yang membentuk gambar mata berkedip.

Karya Binari oleh Arif Suherman dari Indonesia
Instalasi karya Tromarama, berjudul “Extraneous” (2010), koleksi Arif Suherman

Singapore Art Museum buka setiap hari, Senin sampai Minggu dibuka pukul 10.00 hingga 19.00, kecuali Jumat, ditutup pada pukul 21.00. SAM juga dilengkapi dengan toko aksesoris dan restoran. Cocok untuk bersantai malam-malam. Saya merekomendasikan tempat ini kepada siapapun yang cinta pada seni dan berharap ada orang-orang hebat yang akan mewujudkan museum seni di Indonesia. Semoga!

  • Disunting oleh SA 01/03/2012