Kesibukan kami yang cukup padat setiap minggunya seakan harus ditebus dengan kegiatan melarikan diri dari kejenuhan rutinitas dengan sekedar berkumpul atau mengunjungi tempat-tempat wisata atau hiburan di akhir pekan. Pagi itu saya dan dua sahabat saya memutuskan untuk mengunjungi pantai Tanjung Papuma sebagai kegiatan melepas penat di akhir pekan.
Pantai dengan pasir putih alami dan tidak terlalu jauh dari pusat kota membuat saya tidak pernah bosan ketika berkunjung ke pantai ini. Apalagi hanya bermodalkan tidak lebih dari Rp7.000,- kita bisa memasuki lokasi wisata pantai yang dikelola oleh Perhutani ini. Bahkan jika berkunjung tidak pada akhir pekan atau hari libur, para pengunjung cukup membayar Rp5.000,- saja.

Pantai lengang di Tanjung Papuma
Pantai lengang di Tanjung Papuma

Secara geografis, Tanjung Papuma adalah tempat wisata pantai yang berada di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kabupaten Jember sendiri berjarak sekitar 197 km dari ibukota propinsi, Surabaya. Sedangkan jarak Tanjung Papuma dengan pusat Jember sekitar 37 km. Jarak yang relatif dekat ini yang membuat saya yang arek Jember, cukup sering berkunjung ke Tanjung Papuma. Tanjung Papuma sendiri berarti dataran yang menjorok ke laut yang bernama Papuma. Papuma sendiri merupakan akronim dari Pasir Putih Malikan. Malikan adalah nama dari pantai ini yang diberikan oleh Perhutani selaku pengelola.

Minggu, 15 April 2012. Pukul 7.30, kami bertiga berangkat dengan menaiki sepeda motor hingga sekitar pukul 8 pagi kami bertiga sampai di persimpangan jalan menuju pantai Tanjung Papuma. “Selamat Datang di Tanjung Papuma”. Baliho berukuran sedang menyambut kedatangan kami pagi ini.

<em>Snorkeling</em> di Tanjung Papuma
Snorkeling di Tanjung Papuma

Dalam perjalanan kali ini, ransel kecil yang saya bawa cukup diisi dengan jas hujan dan peralatan mandi seadanya. Walaupun udara cukup cerah saya tetap membawa jas hujan. Mengingat akhir-akhir ini Jember memang sering diguyur hujan ketika senja dimulai.

Perjalanan menuju Tanjung Papuma belum selesai namun aroma pantai sudah mulai terasa disini. Kami masih harus menempuh perjalanan lagi dari baliho hingga sampai ke Tanjung Papuma. Mulai dari baliho hingga sampai ke loket pantai Tanjung Papuma, setiap pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan jati, perbukitan dan persawahan yang cukup asri. Pemandangan yang cukup menyegarkan mata.

Setelah membeli tiket di loket kami harus melalui jalanan yang menanjak dan menurun mulai dari loket hingga sampai ke pantai Tanjung Papuma. Tidak heran jika hampir di setiap sudut jalan terdapat peringatan pada semua pengendara agar selalu berhati-hati. Hingga akhirnya kami sampai di salah satu pantai kebanggaan masyarakat Jember.

Suasana pantai sangatlah lengang. Pengunjung yang datang pagi itu cukup sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari, hingga salah satu sahabat saya berkata, “Serasa di pantai yang masih terisolasi ya…”.

Suasana pantai pagi itu memang tidak seperti biasanya yang ramai akan pengunjung. Suasana pantai cukup sepi dan hanya terlihat beberapa pengunjung saja. Saya sempat bingung dengan kondisi pantai pagi itu hingga akhirnya sahabat saya lainnya berkata, “Mungkin karena besok Ujian Nasional dan sekarang masih pagi juga kan”.

Tanpa pikir panjang, kami bertiga langsung berjalan-jalan di pinggir pantai sambil berfoto dengan kamera saku yang saya bawa. Kami menyusuri tiap sudut tempat yang ada di pantai ini. Mulai dari menyusuri bebatuan kokoh di sekitar pantai hingga melihat-lihat penginapan-penginapan yang ada di Tanjung Papuma.

Selain menyuguhkan pasir putih alami, Tanjung Papuma juga memiliki beberapa bukit kecil berupa bebatuan kokoh, sehingga setiap pengunjung yang datang bisa melihat keindahan Tanjung Papuma dari ketinggian sekitar 20 meter ketika mendaki ke atas bukit tersebut.

Setelah merasa cukup puas berjalan-jalan, rugi rasanya jika berkunjung ke pantai tanpa berenang. Berkunjung ke pantai tanpa berenang ibarat sayur tanpa garam. Ada yang kurang rasanya. Apalagi matahari yang semakin terik semakin mendorong kami untuk segera berenang. Pantai Tanjung Papuma yang mempunyai ombak yang cukup besar dan merupakan pantai selatan dengan berbagai mitosnya membuat kami hanya berenang di pinggiran pantai saja. Berenang bersama teman seperjalan dengan didera ombak cukup menyenangkan dan berhasil membantu melepaskan segala kepenatan saya.

Setelah puas berenang, menikmati es kelapa muda di bawah pohon sambil memandangi indahnya pantai yang mulai ramai pengunjung sepertinya juga sangat menyenangkan. Dengan bermodalkan Rp 18.000,00 kami mendapatkan bisa mendapatkan 3 es kelapa muda yang banyak dijual di warung-warung makan sederhana yang menjamur di sekitar pantai Tanjung Papuma. Para pengunjung juga bisa menikmati ikan bakar yang merupakan hasil tangkapan nelayan yang tinggal di sekitar Tanjung Papuma dan diolah di warung-warung makan tersebut.

Tak terasa hari sudah hampir sore, kami memutuskan untuk segera membersihkan diri di kamar mandi umum yang ada di Tanjung Papuma. Terdapat banyak lokasi pemandian umum dan toilet di sekitar pantai, cukup dengan Rp 2.000,00 pengunjung bisa menggunakan air sebanyak mungkin untuk sekali mandi. Setelah membersihkan diri, kami memutuskan untuk segera pulang mengingat sisa waktu pada hari itu akan kami gunakan untuk mempersiapkan rutinitas kami berikutnya.

Salah satu sudut pantai di Tanjung Papuma
Salah satu sudut pantai di Tanjung Papuma

Berat memang untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum menikmati proses tenggelamnya matahari di Tanjung Papuma, namun masing-masing dari kami memiliki urusan masing-masing yang harus dipersiapkan. Meskipun pantai Tanjung Papuma merupakan pantai selatan, namun kondisi geografis yang berupa tanjung memungkinkan pengunjung untuk bisa menikmati proses terbenamnya matahari di Tanjung Papuma.

Setiap perjalanan selalu memiliki arti bagi setiap individu yang melakukannya. Bagi saya perjalanan kali ini semakin membuat saya bersyukur masih bisa menikmati salah satu ciptaan Tuhan yang luar biasa indah dan di sisi lain perjalanan ini semakin memperkokoh persahabatan kami.

  • Disunting oleh SA 03/05/2012