Memupuk Persahabatan di Las Vegas

Menikmati Gurun Nevada

Setelah tertidur kurang lebih lima belas menit, saya terbangun mendengar suara telepon teman saya, JB, berdering. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi saat itu, dan kami berada di sebuah hotel di Las Vegas.

“Ada apa?” tanya saya pada JB.

Dengan nada suara mengantuk, JB menjelaskan bahwa teman satu grup kami, Anthony, tidak dapat menemukan jalan pulang menuju hotel. Ketika kami semua terlalu lelah untuk melanjutkan berpesta, Anthony memutuskan untuk tetap tinggal. Tampaknya setelah berpesta Anthony terlalu mabuk sehingga ia tidak dapat menemukan hotel yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari klub yang terakhir kami singgahi.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Dunia Baru

Sudut kota San Francisco

Hampir setiap tengah malam, saya terbangun dari tidur. Udara terasa begitu dingin, dan suara mobil terdengar lalu lalang di kejauhan. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk sadar bahwa saya tidak berada di rumah. Saya meringkuk di atas ranjang yang terletak di apartemen, dan mengendus aroma ruangan yang mungkin masih tercium berbeda walau sebenarnya saya sudah mulai terbiasa. Dinginnya terasa berbeda, begitu juga dengan udara luar yang tercium sampai ke dalam. Ternyata roommate saya membuka jendela kamar. Ketika saya melihat ke luar jendela yang terbuka, terlihat jelas jalanan lengang, beberapa bangunan bertingkat yang saya tidak familiar sebelumnya. Ya, saya berada di tempat asing.

Hampir satu bulan berselang semenjak saya meninggalkan Jakarta, Indonesia. Saya ingat, pada hari itu semuanya terasa begitu sulit. Perasaan hati campur aduk, di antara kesedihan yang amat sangat terselip secercah harapan akan sesuatu yang lebih baik. Hari demi hari yang semakin merapat selalu mengingatkan saya bahwa saya akan meninggalkan keluarga dan sahabat tercinta, dan saya selalu bilang pada diri sendiri bahwa itu tidak apa. Negeri Paman Sam tidak jauh, hanya selang terbang sehari. San Francisco sesungguhnya dekat, hanya ketakutan dan kesedihan yang membuat jarak jadi begitu terasa.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Gerbang ke Masa Silam

Angkor Wat, dilihat dari seberang kolam
Angkor Wat, dilihat dari seberang kolam

Mungkin pagi hari itu bukan pagi yang biasa untuk saya. Ia tidak biasa bukan karena matahari yang bersembunyi di balik awan mendung, atau karena udara sejuk yang saya rasakan ketika kami menginjakkan kaki di bandara. Pagi itu menjadi luar biasa karena saya mengalaminya di sebuah negeri asing yang selama ini hanya bisa saya bayangkan lewat mimpi, atau saya rasakan kehadirannya melalui lembaran buku.

Selasa, 12 Oktober 2010, pesawat yang ayah dan saya tumpangi mendarat di Siem Reap, sebuah kota kecil yang terletak di jantung Indo-China, Kamboja. Sebuah saksi di dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi panggung perhatian para arkeolog dan sejarawan dunia. Mahakarya apa yang tertinggal di Siem Reap, mungkin kita semua sudah tahu. Namun, sebelum tulisan ini menuju ke sana, saya akan menceritakan kronologi perjalanan saya yang tak kalah menarik.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Menggambar Sebuah Kenangan Perjalanan

Andong & pintu biru

Pada pertengahan tahun 2010, tepatnya bulan Mei, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota Solo dan Yogyakarta. Tidak ada rencana atau tujuan khusus ketika saya merencanakan liburan di kota tua ini, hanya ada perasaan ingin bertualang yang begitu besar, melepaskan diri dari hiruk pikuk kota Jakarta, kota kelahiran dan tempat tinggal saya yang keadaannya semakin memprihatinkan dari hari ke hari. Salah satu tujuan yang ingin dicapai ketika merencanakan jalan-jalan ke Solo dan Yogyakarta, adalah untuk menggambar sebanyak mungkin di kota-kota tersebut.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan