Artikel-artikel yang ditulis oleh Galih Suharjan

Memupuk Persahabatan di Las Vegas

Menikmati Gurun Nevada

Setelah tertidur kurang lebih lima belas menit, saya terbangun mendengar suara telepon teman saya, JB, berdering. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi saat itu, dan kami berada di sebuah hotel di Las Vegas.

“Ada apa?” tanya saya pada JB.

Dengan nada suara mengantuk, JB menjelaskan bahwa teman satu grup kami, Anthony, tidak dapat menemukan jalan pulang menuju hotel. Ketika kami semua terlalu lelah untuk melanjutkan berpesta, Anthony memutuskan untuk tetap tinggal. Tampaknya setelah berpesta Anthony terlalu mabuk sehingga ia tidak dapat menemukan hotel yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari klub yang terakhir kami singgahi.

Didera perasaan cemas, saya dan JB memutuskan untuk mencari Anthony saat itu juga. Namun JB mempersilahkan saya untuk tetap tidur, karena menurutnya saya nampak sangat lelah. Saya menyerah dan melanjutkan tidur saya yang jauh dari lelap, karena kepala masih berputar dan musik dari diskotik sebelumnya masih terngiang di telinga. Ketika JB keluar kamar untuk mencari Anthony, terbayang di kepala saya kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi. Bagaimana jika Anthony tidak bisa ditemukan? Apa yang akan terjadi pada kami semua? Dan sebenarnya, bagaimana saya bisa sampai di tempat ini? Di tengah gurun pasir Nevada? Ah, mungkin saya berlebihan.

Pada awalnya, Vegas tidak pernah menjadi tujuan wisata impian saya. Jadi, ketika para sahabat mengundang untuk menghabiskan liburan musim semi di kota wisata tersebut, awalnya saya tidak tertarik. Namun saya sadar, menemukan teman baru di negara di mana⎯pada saat itu⎯saya baru menghabiskan kurang lebih satu setengah bulan bukanlah hal yang mudah. Dalam pikiran saya, siapa tahu perjalanan ini akan menjadi sebuah pengikat bersama mereka. Demikian, saya menyatakan persetujuan saya untuk pergi. Langkah yang saya ambil tidak salah. Tidak hanya menemukan sebuah grup road trip, saya mengalami petualangan yang sungguh baru dan belum pernah ada dalam pengalaman perjalanan saya sebelumnya.

Melintasi Gurun Nevada

Kami berenam meninggalkan San Francisco, California pada hari Kamis, 24 Maret, pukul delapan pagi. Perjalanan akan membutuhkan waktu kurang lebih sembilan jam untuk sampai ke negara bagian Nevada. Sepanjang perjalanan itu, tidak hanya saya menjelajahi lansekap Amerika dalam alam pikiran, namun saya juga berusaha untuk mempelajari budaya negara ini yang tetap terasa baru.

Kurang lebih dua setengah bulan berselang sejak saya tinggal di benua Amerika, kurang lebih tepat dua bulan saya menjalin pertemanan dengan kawan-kawan baru. Hampir semua sahabat baru saya adalah warga negara Amerika, dengan latar belakang kultur beragam. Bukan karena saya tidak mau berteman dengan anak-anak Indonesia, namun hingga saat ini saya memang belum sempat bertemu dengan satu-pun anak Indonesia di kampus saya maupun di kota ini, kecuali beberapa yang memang dikenalkan sedari saya di Jakarta. Adanya kesempatan untuk menjalin pertemanan dengan warga negara asing juga menunda niat saya untuk mencari tahu komunitas Indonesia di San Francisco. Jadi, setidaknya untuk saat ini, saya berusaha untuk mengembangkan pengalaman dan jaringan perkawanan dengan bergaul bersama anak-anak dari negeri⎯yang menurut saya⎯asing ini.

Kembali ke perjalanan. Saya merasa seperti terlempar ke dalam sebuah film yang menampilkan adegan road trip di dalamnya. Kami menyetel musik keras-keras, bermain pistol mainan yang memuntahkan bola-bola ping-pong warna-warni, mengagumi deretan bukit-bukit indah sepanjang jalan, sambil menikmati sedikit soda yang dicampur dengan alkohol, yang menghangatkan tubuh kami dan menuai senyum konyol yang selalu muncul di wajah.

Jalan Bebas Hambatan ke Las Vegas

Hamparan padang rumput luas yang membentang di negara bagian Nevada memang memukau. Terlebih lagi karena kami semua menuju Las Vegas, sebuah kota di mana harapan untuk bersenang-senang membumbung tinggi dalam angan. Maka ketika lansekap mulai berubah perlahan, perbukitan yang coklat berubah menjadi biru, dan lampu-lampu mulai berkilau menyapa kami di kejauhan, kami tahu bahwa sebentar lagi petualangan kami akan dimulai. Asyik!

Kira-kira pada pukul tujuh malam, kami tiba di tujuan. Penginapan kami adalah sebuah hotel bernama Circus Circus yang terletak di jalan utama Las Vegas, The Strip. Pemandangan pertama yang saya jumpai ketika masuk hotel adalah kasino beserta ratusan mesin berjejer yang menawarkan keuntungan sekejap. Kami melewati mesin-mesin tersebut dengan tatapan takjub. Berapa banyak wisatawan yang menuai untung? Berapa banyak dari mereka yang merugi besar? Berapa tinggi harapan yang digantung, dan berapa yang kembali dengan memuaskan? Namun pada saat itu, kami hanya ingin berberes dan untuk kemudian secepatnya keluar hotel dan bermain.

Kami bersiap di kamar hotel, menghangatkan diri dengan beberapa teguk minuman sebelum meluncur ke lobi dan akhirnya keluar hotel. Petualangan kami di malam pertama-pun dimulai. Ketika cahaya matahari meredup dan diganti oleh gemerlap bangunan yang berkilau oleh lampu-lampu warna-warni, Vegas nampak seperti perbatasan antara mimpi dan kenyataan. Tidak pernah saya sangka bahwa bangunan yang biasanya saya lihat di layar kaca, nampak jauh lebih besar dan megah. Saya yang selama ini memandang rendah Vegas sebagai tempat yang bodoh, palsu, cetek, dan tidak layak kunjung, mendadak terkesima dan merasa takjub atas kemegahan dan gemerlap kota yang memang sungguh menyilaukan ini. Setelah bertemu dengan beberapa teman yang berangkat terlebih dahulu dari San Francisco, kami akhirnya mulai menelusuri beberapa bar, hotel, dan diskotik yang terlihat menggoda. Dimulai dari Wynn, Caesar’s Palace, sampai ke The Cosmopolitan. Semuanya terletak di satu kawasan The Strip.

Tak dipungkiri, pengaruh alkohol memang begitu mempengaruhi grup kami. Malam itu memang malam pertama, tetapi kami semua hampir tak bisa mengingat detail demi detail yang terjadi. Semua terbayang samar dalam ingatan. Kami hanya ingat akan beberapa hal konyol yang terjadi di perjalanan menuju klub, di mana musik yang diputar dari diskotik terdengar keluar, di mana mesin-mesin kasino nampak menyala liar, dan tawa seperti tak kunjung usai. Kami berkenalan dengan beberapa teman baru malam itu, berbagi ceria dalam waktu singkat, dan berdansa di tengah musik yang menjerit hingga pagi tiba. Namun tidak lama setelahnya, ketika sudah sampai di hotel, saya merasa khawatir akan keberadaan Anthony yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya.

Kira-kira pukul setengah tujuh pagi, saya mendengar pintu kamar hotel terbuka. JB datang dengan membawa Anthony yang terlihat sangat lelah dan hampir tak sadar. Ternyata Anthony tersesat jauh, dan ditemukan JB kira-kira satu kilometer dari hotel di pinggir jalan, hampir tertidur. Melihat Anthony datang dengan keadaan utuh, saya merasa lega dan melanjutkan tidur yang tertunda hingga pukul satu siang.

Langit Las Vegas

Siang terasa seperti malam di dalam kamar. Setiap hotel dipersenjatai dengan tirai anti cahaya matahari yang sungguh ampuh mengimitasi suasana malam hari. Tampaknya semua pengunjung Las Vegas tidak rela tidur pagi mereka diganggu oleh sang surya. Demikian hari kedua kami lanjutkan dengan mengisi ulang tubuh dengan energi, minum air putih yang banyak dan makan apapun yang terlihat pantas. Kemudian ketika matahari terbenam, kami melanjutkan berpesta kembali di beberapa tempat yang berbeda. Begitu pula dengan pagi setelahnya dan malam berikutnya.

Kami tidak sempat menyaksikan berbagai macam pertunjukan menarik yang tersaji, dan saya sendiri cukup menyayangkan hal tersebut. Nampaknya kami terlalu bernafsu untuk menghabiskan akhir minggu dengan berpesta sebanyak mungkin. Hari terakhir di Vegas diakhiri dengan berbagai hal konyol yang bahkan saya sendiri tak percaya bahwa itu bisa terjadi. Hanya, biarkan hal tersebut kami simpan sendiri, sebagai satu-satunya cinderamata yang bisa kami kenang kembali ketika kami sampai di realita.

Hari itu hari Minggu pagi, ketika kami semua berangkat meninggalkan Vegas dan berpulang ke San Francisco. Ketika duduk di mobil dan bersiap melaju, saya menyempatkan diri memperhatikan wajah dan ekspresi kawan-kawan. Ada yang masih terkantuk-kantuk, ada yang tak kuasa menahan senyum karena mengingat kejadian-kejadian konyol hari-hari sebelumnya, ada yang selalu menggumam dan meracau karena masih dipengaruhi alkohol yang tertenggak semalam. Saya menghitung teman-teman di dalam mobil. Enam orang termasuk saya, lengkap sudah, tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang tersesat di luar.

Bersama Sahabat Baru di Dunia Baru

Yang terjadi di Vegas biarkan tetap di sana. Dan biarkan teman-teman ini menjadi sahabat baru saya. Seperti teman saya Cory berkata, “cerita perjalanan ini akan menjadi harta karun yang bisa kita buka dan nikmati kapan saja.”

  • Disunting oleh SA 02/05/2011

Dunia Baru

Sudut kota San Francisco

Hampir setiap tengah malam, saya terbangun dari tidur. Udara terasa begitu dingin, dan suara mobil terdengar lalu lalang di kejauhan. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk sadar bahwa saya tidak berada di rumah. Saya meringkuk di atas ranjang yang terletak di apartemen, dan mengendus aroma ruangan yang mungkin masih tercium berbeda walau sebenarnya saya sudah mulai terbiasa. Dinginnya terasa berbeda, begitu juga dengan udara luar yang tercium sampai ke dalam. Ternyata roommate saya membuka jendela kamar. Ketika saya melihat ke luar jendela yang terbuka, terlihat jelas jalanan lengang, beberapa bangunan bertingkat yang saya tidak familiar sebelumnya. Ya, saya berada di tempat asing.

Hampir satu bulan berselang semenjak saya meninggalkan Jakarta, Indonesia. Saya ingat, pada hari itu semuanya terasa begitu sulit. Perasaan hati campur aduk, di antara kesedihan yang amat sangat terselip secercah harapan akan sesuatu yang lebih baik. Hari demi hari yang semakin merapat selalu mengingatkan saya bahwa saya akan meninggalkan keluarga dan sahabat tercinta, dan saya selalu bilang pada diri sendiri bahwa itu tidak apa. Negeri Paman Sam tidak jauh, hanya selang terbang sehari. San Francisco sesungguhnya dekat, hanya ketakutan dan kesedihan yang membuat jarak jadi begitu terasa.

Caffe Triste

Setelah terbang kurang lebih dua puluh jam, saya sampai. Mungkin benar kata para petualang, San Francisco sangatlah indah. Tak henti-hentinya saya bergumam dalam hati, bahwa kota ini mungkin adalah salah satu ‘hadiah’ yang diberikan bumi kepada Amerika. Sebuah pahatan alam yang terasa nyata di dalam hiruk-pikuk kota modern, di antara penghuninya yang bekerja dan bermain siang maupun malam, di antara udara sejuk yang bergumul dengan hangatnya sinar matahari pantai barat, dan di atas bukit-bukitnya yang selalu menciptakan bayangan panjang dari gedung-gedungnya yang tinggi menjulang. Saya langsung jatuh cinta. Seperti laiknya pendatang yang mengarungi samudera dan udara, seberapa lama-pun perjalanan mereka, lelah terobati ketika samar-samar lampu gemerlap tampak di bukit-bukit. Kabut tipis datang dan menciptakan ilusi magis. Burung camar berterbangan di teluk yang terletak di sisi jalan bebas hambatan, berkicau menyambut pendatang untuk bersenang-senang.

Lalu Lintas di Jembatan Golden Gate

Garis langit San Francisco di malam hari

Lalu lintas di San Francisco

Distrik Bisnis di San Francisco

Sebagai calon pelajar yang akan menghabiskan waktu kurang lebih tiga setengah tahun, saya memiliki banyak waktu untuk menjelajahi kota. Dan dengan demikian tak perlu terburu-buru. Namun tetap naluri wisatawan mendominasi diri. Dan karena saya datang bersama paman—yang hanya akan berada di kota selama dua minggu—maka semakin lengkaplah nafsu untuk berplesir. Perjalanan saya di kota ini diwarnai oleh kekaguman sekaligus keterkejutan yang datang silih berganti. Misalnya, saya terkejut akan bedanya pecinan di San Francisco dengan pecinan Jakarta. Pecinan San Francisco terasa seperti dunia lain. Sebuah daerah masyarakat Cina yang terkonsentrasi, di mana para penghuninya tidak menggunakan bahasa Inggris sama sekali untuk bercakap-cakap, menyerahkan bon restoran dengan aksara Cina, serta adanya kebiasaan meludah di pinggir jalan. Sangat aneh untuk saya, yang terbiasa dengan pecinan di Jakarta (Indonesia) di mana komunitas Tionghoa-nya bisa berbahasa Indonesia dan membaur dengan masyarakat setempat. Terlalu dini untuk menilai apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang positif maupun negatif, namun ‘kejanggalan’ itu tetap membuat saya berdecak.

Amerika memang sebuah ‘benua baru’. Sebuah keajaiban yang seperti dihadiahkan kepada bangsa Eropa ratusan tahun yang lalu, walau demi itu mereka membunuh sebuah peradaban tua yang sudah menempati benua ini sebelumnya. Apa yang ada di pikiran Christopher Columbus ketika ia melihat sebuah daratan di barat, setelah berbulan-bulan mengarungi samudera tanpa beristirahat? Apakah ia melihat sebuah cikal bakal negara adidaya? Sebuah Romawi modern. Sulit dibayangkan bahwa negara ini dibangun dan berdiri di atas tanah ‘baru’. Memang, sejarah peradaban dunia tidak pernah lepas dari penaklukan dan perebutan wilayah, serta pembantaian besar-besaran. Namun tetap saja pencapaian yang diraih Amerika berhasil membuat hati saya ciut. Ada di antah berantah mana saya sekarang? Dunia ini baru buat saya, dan saya merasa sungguh kecil.

Walau demikian, di antara perasaan tertinggal dan galau yang kerap menghampiri, saya tak kuasa untuk mengagumi setiap sudut kota ini. San Francisco terasa sangat romantis. Ia cantik laiknya seperti seorang putri yang menggeliat bahagia ketika pagi tiba, dan bersolek nakal ketika malam datang. Ia sejuk dan terkadang dingin menggigit pada waktu tertentu, namun kembali menghangat ketika matahari bersinar cerah tanpa awan. Selusuri jalanan ramai di pecinan dan anda akan bersua dengan wajah-wajah tua ras Asia, yang seakan baru saja mengadu nasib di negeri ini beberapa hari yang lalu. Anda juga akan menemukan ratusan galeri seni yang tersebar di seluruh kota, mungkin minimal dua galeri pada setiap blok-nya, memajang hasrat kreatif yang menggebu-gebu ingin diapresiasi. Di antara pencakar langit yang menjulang tinggi, anda bisa menangkap siluet tipis Bay Bridge berdiri di atas laut. Tengadahkan kepala anda setiap saat, dan bila beruntung anda akan menyaksikan burung-burung camar yang terbang beriringan, mungkin mereka berusaha menghindari kabut dingin yang datang dari teluk. Atau jika anda berkelana lebih jauh lagi ke selatan, anda akan disambut oleh bendera raksasa bermotif pelangi, silahkan tersenyum dan selamat datang sekali lagi ke San Francisco.

Tidak berlebihan kiranya untuk mengatakan bahwa ‘tiada waktu terbuang di San Francisco’. Setiap detiknya adalah santapan lezat, pemandangan indah yang selalu menghampiri, dan inspirasi tiada henti.

Panorama Jembatan Golden Gate

Baru kemarin, saya terbangun lagi dari mimpi. Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Dingin masih menusuk, langit gelap, dan teman-teman saya terlelap. Saya melihat ke arah luar jendela, dan tampak bulan sabit bersinar terang. Bintang bersinar cerah seperti biasa, tanda bahwa kota ini baru selesai berpesta. Saatnya San Francisco, putri yang cantik, untuk tidur dan menyambut pagi yang sebentar lagi tiba. Siapa tahu, sewaktu matahari menyambut saya di antah-berantah, saya akan semakin berbahagia.

Disunting oleh SA 14/02/2011


Gerbang ke Masa Silam

Mungkin pagi hari itu bukan pagi yang biasa untuk saya. Ia tidak biasa bukan karena matahari yang bersembunyi di balik awan mendung, atau karena udara sejuk yang saya rasakan ketika kami menginjakkan kaki di bandara. Pagi itu menjadi luar biasa karena saya mengalaminya di sebuah negeri asing yang selama ini hanya bisa saya bayangkan lewat mimpi, atau saya rasakan kehadirannya melalui lembaran buku.

Selasa, 12 Oktober 2010, pesawat yang ayah dan saya tumpangi mendarat di Siem Reap, sebuah kota kecil yang terletak di jantung Indo-China, Kamboja. Sebuah saksi di dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi panggung perhatian para arkeolog dan sejarawan dunia. Mahakarya apa yang tertinggal di Siem Reap, mungkin kita semua sudah tahu. Namun, sebelum tulisan ini menuju ke sana, saya akan menceritakan kronologi perjalanan saya yang tak kalah menarik.

Lanskap Siem Reap hampir sama dengan pulau Jawa, namun ia tidak memiliki pegunungan. Sepanjang mata memandang adalah tanah datar yang di beberapa bagiannya ditanami sawah.

Candi di kompleks Ta Prohm, dengan pohon yang seperti memeluknya
Candi di kompleks Ta Prohm, dengan pohon yang seperti memeluknya

Pada hari pertama, kami memilih untuk tidak mengunjungi candi-candi yang berserakan di kota kecil itu. Kami mengelilingi Siem Reap sambil melihat-lihat pemukiman yang pada musim hujan tergenang oleh air. Kami diantar kendaraan Tuk-Tuk, kendaraan sejenis delman namun menggunakan motor sebagai penariknya.

Kami menyaksikan dan merasakan detail-detail yang sering kami—sebagai orang yang tinggal di kota besar Jakarta—lupakan atau mungkin kami abaikan. Sepanjang perjalanan tercium bau tanah yang segar, bercampur dengan aroma ternak yang samar. Angin bertiup sepoi-sepoi. Langit memamerkan arak-arakan awannya yang berkumpul semakin padat di utara. Kemudian saya sadari bahwa awan-awan di Siem Reap memiliki formasi yang sedikit berbeda dengan awan di daerah kepulauan Indonesia. Tentu saja, karena Siem Reap merupakan bagian dari benua Asia yang maha luas, maka baik kontur tanah maupun langitnya-pun pasti akan berbeda walau hanya sedikit. Sebuah detail menarik yang baru saya temui kali ini di dalam “sejarah perjalanan” saya.

Candi di kompleks Ta Prohm
Candi di kompleks Ta Prohm

Dalam perjalanan berkeliling kota hari pertama itu, kami menemukan banyak hal menarik. Sapi-sapi yang berkeliaran di pinggir jalan. Anjing liar yang selalu menggongong bercanda. Candi-candi kecil yang menyembul dari balik pepohonan di hutan, sampai kepada anak-anak Kamboja yang memiliki sorot mata begitu ramah.

Siem Reap adalah kota yang sangat bersahaja, dengan masyarakat yang terlihat sederhana. Sulit untuk membayangkan bahwa pada keesokan harinya, kami akan menyaksikan salah satu kompleks bangunan terindah yang pernah diciptakan oleh umat manusia.

Angkor Wat, dilihat dari seberang kolam
Angkor Wat, dilihat dari seberang kolam

Kami memulai tur keliling candi pada hari kedua, dan berangkat pukul sembilan pagi dari hotel. Setelah membeli tiket terusan untuk tiga hari seharga US$40 per orang, kami langsung meluncur ke kompleks Angkor Wat. Udara pagi itu sedikit dingin dan berangin, memperindah suasana mistis Siem Reap, dan tentunya membuat saya semakin gelisah serta tidak sabar untuk menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri candi legendaris itu.

Angkor sebenarnya bukan sekedar candi. Lebih dari itu, ia merupakan kompleks kota kuno, yang dipercaya memiliki tata kota terbaik pada masanya dan dihuni oleh penduduk sebanyak satu juta jiwa. Sebagai perbandingan, kota London pada saat itu dihuni sebanyak “hanya” sekitar 100 ribu jiwa.

Ukiran penari Apsara yang saya temukan di dalam Angkor Wat
Ukiran penari Apsara yang saya temukan di dalam Angkor Wat

Perjalanan menuju kompleks Angkor bisa ditempuh sekitar 15 menit dari tengah kota Siem Reap menggunakan Tuk-tuk. Kami melewati jalan yang begitu bersih dan tampak masih asli, diselingi kicauan burung dan sosok monyet-monyet yang bergantung dari dahan satu ke dahan lainnya. Kemudian kami disambut oleh kolam yang sangat besar, mengingatkan saya akan kolam-kolam kuno Majapahit yang tersebar di daerah Jawa Timur. Di tengah kolam tersebut, sebuah jembatan kokoh berdiri memanjang. Di ujung jembatan tersebut, terlihat mahakarya yang selama ini saya tunggu-tunggu kehadirannya di depan mata. Situs yang menggetarkan dunia, Angkor Wat.

Dari kejauhan, pucuk-pucuk Angkor Wat terlihat sangat tinggi menantang angkasa. Pada masa di mana gedung pencakar langit merupakan hal biasa, dan menara Eiffel sudah tidak terlalu ajaib lagi, penampakan Angkor Wat tetap menimbulkan sensasi aneh dalam tubuh. Ada desir yang terasa kuat di dalam dada setiap saya menyaksikan bangunan candi. Aura mistis yang begitu kuat mencengkram setiap indra, membumbungkan imajinasi saya akan sebuah kota yang dulu pernah jaya, bangsa besar yang mampu memahat budaya mereka di atas tanah kekuasaannya.

Dibangun pada masa pemerintahan Jayawarman II pada tahun 1112, Angkor Wat merupakan sebuah candi Hindu yang sekaligus berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir Jayawarman II. Ketika saya memasuki candi ini, terbersit sedikit perasaan iri dan terkalahkan yang berhubungan dengan kondisi candi-candi di Indonesia. Candi-candi di Indonesia tidak kalah rumit dan megahnya, bahkan menurut saya dalam beberapa aspek candi-candi Indonesia memiliki pencapaian yang lebih dari candi di Kamboja. (Tentu tujuan dari tulisan ini bukan untuk membandingkan. Saya hanya ingin berbagi kegelisahan saya terhadap kondisi candi di Indonesia yang oleh pemerintah direnovasi sedemikian rupa, namun malah menjauhi nuansa asli yang mereka bawa.) Angkor Wat hanya satu dari puluhan candi-candi yang tersebar di Siem Reap, yang bahkan menurut saya pribadi bukan yang “terbaik” dari semua candi Kamboja. Ia memang sebuah karya arsitektural yang luar biasa, dilihat dari ukurannya, dan pencapaian artistiknya yang nyaris sempurna. Namun, ketika saya menaiki Tuk-Tuk ke perhentian selanjutnya, kejutan yang saya temui bahkan lebih dahsyat dari Angkor Wat.

Pintu gerbang candi Ta Prohm
Pintu gerbang candi Ta Prohm

Perhentian selanjutnya adalah sebuah candi yang diapit oleh empat gerbang raksasa. Di dalam candi tersebut bertahtakan wajah-wajah Jayawarman VII yang tersenyum dingin, menghadap ke arah empat mata angin. Angkor Thom atau disebut juga dengan Bayon, adalah candi terunik, dengan representasi wajah raja yang mungkin merupakan raja yang memiliki narsisisme tertinggi di dunia. Memasuki Angkor Thom seperti membiarkan diri tersesat ke dalam masa lampau. Yang membuat Angkor Thom lebih memikat dari Angkor Wat adalah situsnya yang masih relatif sepi. Kicau burung-burung saling bercengkrama menemani “wajah-wajah raja” yang setiap saat menyembul dari balik bebatuan.

Salah satu candi Ta Prohm yang ditumbuhi oleh akar pepohonan
Salah satu candi Ta Prohm yang ditumbuhi oleh akar pepohonan

Pintu gerbang menuju candi Angkor Thom, dengan wajah Jayawarman VII menghadap empat arah mata angin
Pintu gerbang menuju candi Angkor Thom, dengan wajah Jayawarman VII menghadap 4 arah mata angin

Hampir semua candi di Siem Reap menawarkan “karcis menuju masa lalu,” dan akan terlalu panjang jika saya menjelaskan satu-persatu pengalaman saya di candi-candi lain. Saran yang bisa saya berikan dalam wisata candi di Siem Reap, adalah agar Anda menyediakan waktu beberapa hari untuk mengelilingi kota Angkor. Adalah mustahil untuk mengelilingi kota Angkor dan berhenti di setiap candinya hanya dalam satu hari. Anda membutuhkan minimal dua hari untuk turun dan meresapi keindahan candi-candi tersebut. Saya pribadi menganjurkan tiga hari, atau bahkan lebih.

Selain mahakarya berupa candi-candi, Siem Reap juga menawarkan restoran-restoran dan warung kopi kelas atas. Anda bisa berkunjung ke kawasan Old Market di tengah kota, dan di sini akan anda temui bangunan-bangunan kolonial peninggalan Perancis yang disulap menjadi tempat wisata. Old Market adalah tujuan yang tepat bagi yang gemar berbelanja, serta melepas penat pada sore atau malam hari.

Apa lagi yang ada di Siem Reap? Banyak, bahkan mungkin terlalu banyak untuk dihabiskan hanya dalam waktu lima hari. Siem Reap adalah permata baru di Asia yang akan semakin bersinar. Banyak tempat-tempat yang belum saya kunjungi seperti Floating Village, candi Banteay Srey, Night Market, dan Artisan Angkor. Beberapa candi sedang dalam rekonstruksi besar-besaran, dan dalam tahun-tahun berikutnya diperkirakan akan selesai. Saya sendiri berencana untuk datang kembali.

Pagi itu, tanggal 16 Oktober 2010, saya akan meninggalkan Siem Reap. Saya akan merindukan candi-candi indah di dalam hutan, semilir angin yang bertiup di wajah ketika Tuk-Tuk membawa saya pergi jauh, aroma tanah dan rerumputan yang menebarkan hawa sejuk, serta senyuman dari masyarakat Kamboja yang sangat tulus dan ramah. Ketika pesawat mulai lepas landas, saya mengintip dari balik jendela dan menatap ke bawah. Ada genangan banjir di beberapa tempat. Siem Reap mungkin tidak sempurna, tapi ia adalah salah satu kenangan perjalanan terbaik yang pernah saya punya. Masyarakat bersahaja yang menciptakan mahakarya.

Disunting oleh ARW 3/11/10


Menggambar Sebuah Kenangan Perjalanan

Andong & pintu biru

Pada pertengahan tahun 2010, tepatnya bulan Mei, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota Solo dan Yogyakarta. Tidak ada rencana atau tujuan khusus ketika saya merencanakan liburan di kota tua ini, hanya ada perasaan ingin bertualang yang begitu besar, melepaskan diri dari hiruk pikuk kota Jakarta, kota kelahiran dan tempat tinggal saya yang keadaannya semakin memprihatinkan dari hari ke hari. Salah satu tujuan yang ingin dicapai ketika merencanakan jalan-jalan ke Solo dan Yogyakarta, adalah untuk menggambar sebanyak mungkin di kota-kota tersebut.

Terminal 3 Soekarno-Hatta

Ketika berkunjung ke sebuah tempat yang jauh, selalu ada hasrat untuk mengabadikan momen dan fenomena yang kita lihat. Ada keinginan untuk suatu saat nanti menatap kembali satu demi satu gambar yang mengingatkan kita akan tempat indah yang pernah kita kunjungi. Selain menggunakan kamera, ada cara lain yang mungkin sudah lama ditinggalkan, yaitu dengan membuat sketsa tempat-tempat yang berkesan di hati kita.

Menggambar ataupun membuat sketsa perjalanan mungkin bukan sebuah ide yang populer lagi, terutama pada jaman di mana teknologi terkadang sudah melampaui imajinasi manusia yang terliar sekalipun. Namun buat saya, selalu ada sebuah perasaan bahagia ketika saya menggoreskan pensil atau pena di atas sehelai kertas putih. Ada sensasi yang tak terkatakan ketika garis-garis yang saya buat membentuk sesuatu yang menyerupai pemandangan cantik yang saya lihat di depan mata. Ketika gambar tersebut sudah hampir selesai, untuk kemudian saya warnai pada kesempatan berikutnya, saya akan menikmati setiap warna yang saya tumpahkan ke dalam kertas. Alangkah ajaibnya ketika saya merasakan bahwa gambar tersebut nampak seperti nyata. Tempat yang dahulu pernah dikunjungi, tempat yang begitu indah, kini hadir kembali dalam bentuk yang sama sekali berbeda, namun tidak kalah cantiknya.

Benteng Kesunanan Surakarta

Pintu biru Daleman, Kasunanan Solo

Ketika kita memindahkan suasana ataupun obyek ke sebuah kertas, besar kemungkinan bahwa kita akan menghadirkan sebuah karya yang lebih indah dari bentuk aslinya. Hal ini tidak semata-mata dikarenakan oleh kecenderungan pelukis untuk melebihkan nilai estetis dari obyek yang ia gambar, namun memang sudah menjadi salah satu karakter khas lukisan untuk tampil lebih menarik dan indah dibanding obyek aslinya. Jika kita menyetujui teori tersebut, maka hampir semua obyek-obyek yang kita lihat selama kita melakukan perjalanan akan terlihat lebih menarik dalam versi sketsa atau lukisan.

Tentunya, untuk mencapai kondisi di mana kita bisa menghadirkan sebuah lukisan yang indah, kita membutuhkan waktu untuk berlatih. Namun hal tersebut bukan alasan untuk menunda kita melakukan aktivitas sketsa dalam perjalanan. Justru untuk meraih kemampuan yang kita inginkan, kita bisa berlatih sebanyak mungkin. Setiap goresan yang kita buat adalah berharga, setiap usaha yang kita lakukan pasti bermanfaat untuk melatih kemampuan gambar kita, dan tidak ada kata terlambat untuk memulai menggambar, kapan saja dan di mana saja. Obyek-obyek yang tersebar pada saat kita melakukan perjalanan merupakan sesuatu yang mungkin tidak akan kita temui lagi pada waktu dekat, dan dengan demikian menjadi sangat berharga untuk kita abadikan dalam suatu bentuk karya seni.

Bangsal Siti Hinggil Keraton Yogyakarta

Sebuah karya yang bisa dikatakan ‘indah’ pun, merupakan bagian dari sebuah kondisi yang sangat subyektif dan tergantung kepada selera orang yang menilai. Sketsa yang tampak sangat sederhana bisa terlihat lebih indah dibanding sketsa yang tampilannya rumit dan detail, demikian juga sebaliknya.

Salah satu pemberi insipirasi saya untuk melakukan kegiatan melukis kota dan suasana adalah sebuah situs internet beralamat www.urbansketchers.com. Dalam situs tersebut, para anggota menyumbangkan gambar atau lukisan yang mereka buat ketika mereka mengunjungi sebuah tempat. Tidak harus tempat atau obyek yang jauh, bisa juga sebuah obyek yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hasil karya para anggota yang bisa kita lihat di situs tersebut mencerminkan betapa luas dan kaya ciri khas serta potensi tiap individu. Dari sketsa dengan garis-garis sederhana sampai lukisan dengan teknik mewarnai yang mendekati aslinya, semua ada tergambar di sana.

Di situs tersebut tidak terlihat ketakutan berlebihan akan garis distorsi ataupun proporsi yang tidak sesuai. Usaha untuk menampilkan garis yang tidak distorsi beserta dengan proporsi yang sesuai tentu ada. Namun hal tersebut bukan fokus utama yang ada dalam pikiran para pelukis ketika mereka menggambar. Terkadang ketakutan kita akan kesalahan, justru merupakan rintangan utama kita dalam menghasilkan sebuah karya. Pelukis di komunitas Urban Sketchers berusaha untuk tetap mengapresiasi setiap karya, sambil terus menghasilkan karya-karya lain yang diharapkan akan lebih baik dari karya sebelumnya.

Urban Sketchers tidak memiliki sebuah peraturan khusus dalam menggambar, namun mereka memiliki satu prinsip dasar: kita menggambar apa yang kita lihat. Kejujuran ketika menggambar sebuah obyek adalah sesuatu yang sangat dihargai, dan dipegang teguh oleh para pelukis kota tersebut. Para pelukis akan menggambar di lokasi, dan mereka menggambar sesuai dengan apa yang mereka lihat, tanpa mengurangi ataupun menambahkan obyek apapun. Hal ini akan menghadirkan sebuah karya seni yang jujur terhadap realita, dan pada akhirnya menambah nilai dari karya itu sendiri. Prinsip inilah yang terus saya pegang ketika saya menggambar obyek ataupun suasana yang bisa saya temukan dalam perjalanan.

Demikian, berbekal semangat untuk menghasilkan karya-karya, dengan dua buah buku sketsa Moleskine yang berbeda (satu diperuntukkan khusus cat air, dan satu lagi diperuntukkan sketsa pensil dan pena), saya menyelusuri kota Solo dan Yogyakarta, mencari sudut-sudut menarik dan kejadian-kejadian unik yang tak akan saya temukan di tempat lain.

Hari pertama, tiba di bandara Adisutjipto Yogyakarta pukul 17.00 WIB. Karena matahari sudah hampir terbenam, saya tidak melakukan aktivitas sketsa outdoor pada hari itu. Satu hal yang sering terlewat dalam perhatian ketika kita merencanakan perjalanan yang melibatkan aktivitas sketsa, adalah bahwa ada hal-hal khusus yang harus diperhatikan, salah satunya perencanaan kegiatan. Misalnya, aktivitas sketsa outdoor akan jauh lebih baik dan nyaman dilakukan pada waktu pagi, siang, atau sore. Ketika gelap, akan sangat sulit atau bahkan tak mungkin kita menghasilkan sketsa atau lukisan yang sesuai dengan yang diinginkan. Sederhana, namun sering terlupa. Untuk itu ada baiknya mendatangi tempat-tempat yang ingin digambar pada saat pagi, siang, atau sore hari. Malam hari bisa dipakai untuk beristirahat atau melakukan kegiatan lain.

Karena sudah gelap, maka hari pertama saya mampir sebentar di Yogyakarta. Pada malam harinya kami (saya berdua dengan saudara yang menjemput saya di bandara Adisutjipto) menuju Solo untuk menginap di Hotel Lor In. Keesokan paginya, saya memulai perjalanan sketsa pertama di Kraton Kasunanan Surakarta. Keraton Surakarta merupakan salah satu keraton yang paling indah yang pernah saya datangi, dengan sisa-sisa kemegahan masa lalu yang masih tampak. Benteng keraton yang mengelilingi kawasan abdi dalem, kerbau bule yang dinamai Kyai Slamet, sampai pohon besar yang menyerupai gapura di pintu masuk keraton, seperti menyimpan misteri tersendiri.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, karena media sketsa bisa menghadirkan sebuah karya yang lebih indah dari aslinya, maka setiap obyek menarik yang saya temukan dalam perjalanan menjadi sangat menggoda untuk digambar. Bahkan obyek-obyek wisata yang terdengar umum serta ‘standar’ seperti Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Yogyakarta, sampai Candi Prambanan, akan menjadi sangat menarik untuk dilukis.

Relief singa di Candi Prambanan

Pada hari ketiga dan keempat, saya berkunjung ke Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan. Sketsa dan lukisan yang saya buat di kedua tempat ini merupakan karya yang paling memuaskan untuk saya. Bukan tentang bagus tidaknya karya tersebut, melainkan lebih ke perasaan saya ketika melukis obyek-obyek tersebut. Saya sangat mencintai keraton dan candi yang tersebar di Indonesia, khususnya di Jawa. Merupakan kebahagiaan tersendiri ketika saya berhasil menuangkan imaji keraton dan candi yang begitu indah ke dalam lembaran kertas.

Hari kelima, yang merupakan hari terakhir, saya habiskan sepenuhnya di Hotel Lor In, Solo. Kebetulan Hotel Lor In adalah business hotel yang memiliki konsep desain interior menyerupai boutique hotel, dan dengan demikian banyak sekali sudut-sudut yang bisa dieksplorasi dan dipindahkan dalam bentuk gambar.

Sekitar pukul 15.00 WIB di hari kelima, dengan mobil kami meninggalkan hotel untuk meluncur ke bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Beberapa jam lagi pesawat kami akan lepas landas menuju Jakarta. Ada perasaan sedih ketika saya melihat pohon-pohon, pegunungan, dan sawah yang kami lewati. Perasaan yang mengatakan bahwa dalam waktu yang cukup lama, saya tidak bisa lagi menatap salah satu candi Jawa terindah, dan memindahkan relief-relief kuno tersebut ke atas kertas. Saya mungkin harus menunggu entah berapa lama lagi untuk menemukan dan mengeksplorasi langgam-langgam arsitektur tak terduga yang baru tersadari ketika saya menggambar arsitektur kolonial di Malioboro kemarin sore. Saya juga tidak tahu kapan lagi saya bisa menelusuri benteng Keraton Kasunanan, sambil selalu berdecak kagum sekaligus sedih pada kemegahan dan kekuasaan yang kini telah berlalu.

Salah satu transisi menuju halaman Keraton Yogyakarta

Namun saya tahu, sampai waktu yang akan tiba nanti, sampai saya kembali untuk menggambar mereka kembali, saya sudah berhasil menyimpan kenangan indah di dalam dua buku sketsa yang saya bawa. Oleh-oleh yang paling berharga yang bisa saya lihat dan nikmati ketika tiba-tiba saya rindu akan tanah Jawa.

  • Disunting oleh ARW & SA 23/07/10

© 2017 Ransel Kecil