
Hampir setiap tengah malam, saya terbangun dari tidur. Udara terasa begitu dingin, dan suara mobil terdengar lalu lalang di kejauhan. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk sadar bahwa saya tidak berada di rumah. Saya meringkuk di atas ranjang yang terletak di apartemen, dan mengendus aroma ruangan yang mungkin masih tercium berbeda walau sebenarnya saya sudah mulai terbiasa. Dinginnya terasa berbeda, begitu juga dengan udara luar yang tercium sampai ke dalam. Ternyata roommate saya membuka jendela kamar. Ketika saya melihat ke luar jendela yang terbuka, terlihat jelas jalanan lengang, beberapa bangunan bertingkat yang saya tidak familiar sebelumnya. Ya, saya berada di tempat asing.
Hampir satu bulan berselang semenjak saya meninggalkan Jakarta, Indonesia. Saya ingat, pada hari itu semuanya terasa begitu sulit. Perasaan hati campur aduk, di antara kesedihan yang amat sangat terselip secercah harapan akan sesuatu yang lebih baik. Hari demi hari yang semakin merapat selalu mengingatkan saya bahwa saya akan meninggalkan keluarga dan sahabat tercinta, dan saya selalu bilang pada diri sendiri bahwa itu tidak apa. Negeri Paman Sam tidak jauh, hanya selang terbang sehari. San Francisco sesungguhnya dekat, hanya ketakutan dan kesedihan yang membuat jarak jadi begitu terasa.
Baca selengkapnya »