Artikel-artikel yang ditulis oleh Fuji Adriza

Karimunjawa Bagian “Pojokan”

Menjelang senja, ketika akhirnya KMP Muria berlabuh di dermaga Karimunjawa, kami turun. Sebagaimana ratusan penumpang lain yang telah terombang-ambing ombak lautan selama lebih dari setengah hari, badan masih sempoyongan dan terasa pegal. Penumpang kapal ramai bukan main. Akibatnya, saya dan kawan-kawan hanya kebagian tempat duduk di tangga menuju geladak bawah.

Minggu pagi di bulan Juli itu saya dan kawan-kawan berangkat dari Pelabuhan Kartini Jepara sekitar pukul 08:00 dengan armada tambahan. Sebenarnya kami berniat menyeberang sehari sebelumnya. Namun Sabtu pagi itu tiket sudah terjual habis. Kami tidak kebagian dan harus tertahan selama sehari di Jepara. Saat-saat waktu padat, KMP Muria memang sering kelebihan penumpang. Penumpang yang akan menyeberang melebih jumlah tiket yang disediakan. Sebenarnya untung juga, saya jadi mendapat kesempatan untuk bertandang ke Museum Kartini di alun-alun Jepara, selain itu saya juga bisa “cuci mata” melihat gadis-gadis Jepara yang manis sedang lari sore.


Menyelam tanpa perlengkapan (“skindiving“)

Di dermaga, kami dijemput Pak Solichul. Selama di Karimunjawa, kami menginap di rumah beliau. Pengalaman tinggal di rumah Pak Kul adalah yang paling berkesan dari jalan-jalan saya ke Karimunjawa. Pak Kul merupakan salah seorang tokoh di Karimunjawa, pemimpin cabang sebuah ormas keagamaan sekaligus pegawai di kecamatan. Beberapa tahun yang lalu seorang kawan pernah melakukan penelitian di Karimunjawa. Suatu sore ia kebingungan karena belum tahu akan menginap di mana malam itu. Ketika ia sedang kebingungan itulah Pak Kul menghampiri. Merasa kasihan, Pak Kul mengajaknya untuk menginap di rumah. Kebetulan di samping rumah Pak Kul juga ada sebuah paviliun yang lumayan besar. Sejak itulah kediaman Pak Kul silih berganti disambangi para pelancong, informasinya pun beredar hanya dari mulut ke mulut. “Padahal saya sama sekali nggak ada niat cari duit,” ujar Pak Kul mengenang di satu malam. Sekarang di depan paviliun itu terbentang sebuah spanduk bertuliskan “Rumah Singgah Pantura”.

Kediaman Pak Kul berada di Desa Alang-Alang. Di belakang sebuah masjid. Lumayan jauh, sekitar sepuluh menit berkendara dari alun-alun. Meskipun terpencil, rumah Pak Kul istimewa. Lima meter dari pintu belakang rumah, laut sudah menghampar. Selain itu, beberapa ratus meter ke arah selatan kita akan tiba di Pantai Ujung Gelam. Setiap hari saya dan kawan-kawan menikmati senja di pantai itu; snorkeling dan skindiving di taman koral ditemani schooling ikan teri, atau sekadar duduk-duduk di pantai menikmati matahari senja yang merona.

Di sana sambungan listrik PLN belum masuk. Sumber listrik hanya berasal dari generator yang disediakan swadaya oleh warga, generator yang di atas pukul 23.00 WIB akan dimatikan oleh Pak Kul. Padahal, hanya beberapa ratus meter dari rumah beliau ada gardu listrik PLN. Pantas, di atap masjid saya melihat ada sebuah panel surya. Di negara yang pemerintahnya sibuk dagelan ini ternyata masih ada desa yang “dipaksa” untuk mandiri energi.

Tiap hari setelah makan malam, Pak Kul menyempatkan diri untuk ikut duduk-duduk mengobrol bersama kami. Beliau senang bercerita, kami senang mendengarkan. Klop sudah. Kami mendapatkan pengetahuan gratis mengenai asal-usul nama Karimunjawa, mengenai Sunan Nyamplungan dan orang-orang pertama yang mendiami Pulau Karimunjawa, bahkan sampai pada mitos mengenai kawasan bernama Karang Kapal yang kerap membuat karam kapal yang melintasi Laut Jawa.

“Para kapten kapal yang karam itu konon melihat kerlap-kerlip lampu kota di sekitar Karang Kapal,” Pak Kul berkisah. “Mereka menyangka sudah tiba di Semarang. Eh, tahu-tahu kapalnya kandas.”

Matahari terbenam di Ujung Gelam
Matahari terbenam di Ujung Gelam

Pak Kul juga menceritakan betapa masyarakat desa sudah berkali-kali memperjuangkan masuknya listrik ke kampung mereka. Perjuangan yang tampaknya tidak ditanggapi secara serius oleh instansi terkait karena sampai saat ini tiang listrik belum terpancang. “Gardunya dekat sini tapi kami sendiri nggak dapat listrik,” berapi-api Pak Kul bercerita. “Disuruh urunan untuk beli tiang pun kami mau, tapi tetap belum ditanggapi.” Ironis memang. Sementara pemerintah Jepara dan Jawa Tengah gencar mempromosikan Karimunjawa sebagai tujuan wisata, masih ada desa di sana yang belum dapat sambungan listrik.

Saya jadi berpikir. Setiap kita, setiap manusia yang suka pergi ke tempat-tempat yang jauh, sebenarnya bisa menjadi “penyambung lidah rakyat”. Asal si pejalan itu mampu menyeret dirinya dari pusat semesta karena ketika sedang berkelana ke suatu tempat, yang asing bukanlah tempat itu. Merekalah, sang pejalan, sebenarnya yang asing. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Agustinus Wibowo sang pengembara, “Di awal perjalanan, kita belajar menghilangkan diri. Semakin kita berjalan, semakin kita menemukan diri.” Jika sudah begitu, niscaya dengan serta merta seorang pejalan mampu menjadi pembawa kabar dari tempat-tempat yang luput dari perhatian pemerintah, pembawa kabar dari “Indonesia Bagian Pojokan”.

  • Disunting oleh SA 26/04/2012

Yang Muda Yang Bisa Menginap di Mana Saja

Seringkali akomodasi menjadi hal yang menghambat seseorang untuk melakukan perjalanan. Mau pergi ke suatu tempat, yang dipikirkan pertama kali adalah “Mau menginap di mana?”, “Kalau di hotel, kan, mahal.” Sebenarnya tidak begitu, terlebih untuk anak muda. Anak muda yang memiliki tubuh masih fit tidak perlu khawatir perihal akomodasi karena yang muda bisa menginap di mana saja.

Saya pernah menginap di stasiun kereta. Enak atau tidak tergantung stasiun keretanya. Di stasiun kereta besar yang memiliki fasilitas lengkap, menginap di emperan mungkin masih terasa seperti menginap di kamar kos-kosan. Bangku panjangnya cukup lebar untuk dipakai tidur, lantainya berkeramik, ada warung bahkan kios makanan cepat saji, ada mushala dan kamar mandi di pojokan. Dan biasanya di stasiun yang agak besar lumayan banyak orang yang juga tidur di sana.

Lain lagi jika tidur di stasiun kecil. Biasanya di stasiun kecil kamar mandi dikunci bertepatan dengan berakhirnya aktivitas di stasiun. Jadi kalau menginap di stasiun seperti Karangasem, Probolinggo, atau di Banyuwangi baru saya harus cepat-cepat menunaikan segala urusan sebelum kamar mandi digembok.
Soal kemananan, bukan berarti stasiun besar lebih tidak aman dibanding stasiun kecil. Menurut saya, aman atau tidak tergantung diri masing-masing. Jika pandai menjaga diri, di manapun akan aman karena kejahatan dapat mengancam seseorang di mana saja.

Tempat lain yang pernah saya inapi adalah SPBU atau pom bensin. “Hotel kuda laut” kalau kata bapak Indra Azwan, sang pencari kebenaran dari Malang. Tidak usah ragu jika ingin menginap di sana. Para karyawan dan pengelola pom bensin di Indonesia sudah mahfum bahwa sesekali akan ada pemuda berduit pas-pasan yang akan menumpang menginap di sana. Di pom bensin biasanya ada mushala dan kamar-mandi dan di pom bensin yang agak besar biasa ada swalayan.

Saya juga pernah menginap di pelabuhan. Di Pelabuhan Ketapang ada sebuah mushala kecil yang cukup nyamana untuk diinapi, meskipun tidak boleh tidur di dalam. Lazimnya dataran rendah, biasanya nyamuk di pelabuhan kejam-kejam. Makanya jika ke mana-mana selalulah membawa sleeping bag dan obat nyamuk oles. Sekedar sleeping bag tidak akan cukup untuk menghambat tekad nyamuk-nyamuk nakal untuk menghisap darah manusia.

Menginap di Pelabuhan Mentok Pulau Bangka juga sangat berkesan bagi saya. Karena jauh dari mana-mana dan terletak di ujung barat Pulau Bangka, pelabuhan ini sunyi senyap di malam hari. Ketika mendarat di sana, saya seperti keluar dari mesin waktu yang membawa saya ke masa lalu. Orang-orang berebut turun dari kapal feri membawa koper-koper besar, dinanti oleh para penjemput yang menyongsong dengan gembira dari dermaga. Dekat dermaga ada sebuah mercusuar tua yang memancarkan cahaya kuning temaram, yang terus berputar sendu memandu haluan kapal yang melintasi selat berhala. Agar bisa tidur dengan nyaman, saya harus menggabungkan dua bangku panjang untuk digunakan sebagai tempat berbaring.

Selain tempat-tempat di atas masih banyak tempat lain yang bisa diinapi: masjid, kantor polisi, emperan toko, dan lain-lain. Sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan selama menginap di berbagai “kamar koboi” tersebut. Bahkan di sebuah masjid di kawasan Kuta, seorang bapak paruh baya secara tak terduga memberi saya dan seorang kawan “sangu” Rp. 20.000. “Untuk musafir,” kata beliau. Jadi tidak ada alasan bagi anak muda untuk menunda-nunda melakukan perjalanan, terlebih dengan alasan tiada uang untuk menyewa penginapan.

  • Disunting oleh SA 17/04/2012

Suatu Sore di Pantai Dreamland

Kami memacu motor ke bagian selatan Pulau Dewata. Setelah kompleks Garuda Wisnu Kencana terlewati, kami tiba di gerbang Pecatu Indah Resort. Inilah pintu masuk ke Pantai Dreamland, pantai yang semakin populer sejak grup band Michael Learns to Rock menjadikannya sebagai tempat syuting video klip lagu “Someday”, terletak di dalam kompleks resor milik Tommy Soeharto ini.

Gerbang Pecatu Indah Resort. Pintu masuk Pantai Dreamland

Untuk menikmati hamparan pasir putih Dreamland, setiap pengunjung dikenai biaya Rp 10.000/orang. Tidak ada pos penjualan karcis, hanya satpam berseragam yang memungut lembaran sepuluh ribu yang keluar dari kantong pengunjung.

Deretan Kios

Dari tempat parkir, kami berempat bersama puluhan wisatawan lain berjalan menuruni jalan berbatu yang menuju ke deretan kios. Di sampingnya air menggenang dalam sebuah laguna kecil yang entah alami, entah buatan. Sesekali saya berpapasan dengan para peselancar yang dengan cuek, bertelanjang dada dengan kulit coklat karena dibakar matahari, menenteng papan kesayangan mereka.

Senja Pantai Dreamland

Pantai Dreamland

Pantai ini semakin ramai. Bukan saja oleh para peselancar yang sengaja datang untuk menjajal ombaknya atau bule yang berbaring terlentang sambil membaca buku dengan hanya dua potong-bikini sebagai pelindung tubuh. Tapi juga oleh wisatawan yang datang berombongan. Sekarang banyak juga biro perjalanan yang mengagendakan kunjungan ke Dreamland sebagai paket wisata andalan. Tidak percaya? Cobalah tengok ke parkiran dan anda pasti akan menemukan deretan bis pariwisata.

Pedagang di Pantai Dreamland

Banyaknya pengunjung tentunya juga menarik banyak pedagang untuk berjualan di sini. Perlahan semakin banyak kios-payung yang berdiri dengan makanan dan minuman ringan serta topi dan baju bernuansa pantai tertata rapi di atas lapak. Saya cuma berharap agar keasrian pantai ini lestari dan benar-benar menjadi “tanah impian” penduduk jimbaran. Sesuai dengan namanya; Dreamland.

  • Disunting oleh SA & ARW 6/08/2011

Jalan Panjang ke Kawah Ijen

Belum pukul delapan ketika kami berempat akhirnya diturunkan Pak Nurul Anshori di depan pos ojek Tamansari, Jambu, Banyuwangi. Tujuh belas kilometer dari Kawah Ijen. Selanjutnya kami harus menumpang truk pembawa belerang ke Paltuding, titik awal pendakian Gunung Ijen.

Kawah Ijen 17km

Sebelumnya, dari Sasak Perot kami menumpang angkutan pedesaan (angdes) yang dikemudikan Pak Nur. Di atas pick-up Daihatsu, yang baknya sudah dimodifikasi itu, kami berhimpit-himpitan bersama beberapa penduduk sekitar yang baru kembali dari pasar. “Angkutan dari Sasak Perot ke Jambu semakin jarang,” ujar Pak Nur tadi. “Kalah saing sama sepeda motor. Sekarang setiap orang bisa saja menjadi tukang ojek.”

Sebelum melompat ke atas mobil Pak Nur, saya sempat dibuat kesal oleh beberapa orang tukang ojek yang memaksa kami untuk menumpang motor mereka. Berkali-kali mereka membual bahwa tidak ada angkutan ke Tamansari. Bahkan ketika akhirnya ada angdes yang berhenti, para tukang ojek ini berkongsi dengan sopirnya untuk menaikkan ongkos gila-gilaan. Tarif yang seharusnya Rp. 7.000/orang naik drastis menjadi Rp. 25.000/orang. Kami beruntung karena menyetop Pak Nur, beliau mematok tarif biasa.

Pagi itu Tamansari tampak lengang. Semua warung dan kios masih tutup. Jalanan sepi. Dari tadi hanya beberapa motor tua yang lewat. Di belakang pos ojek tersebut terhampar luas kebun cengkeh milik Perkebunan Lidjen. Pepohonan cengkeh di sana kebanyakan sudah tua dimakan usia.

Di pos ojek itu kami berkenalan dengan Pak Abidi, seorang penambang belerang. Beliau sangat ramah dan murah senyum. “Saya sudah sembilan belas tahun,” jawab Pak Abidi sambil tersenyum bangga ketika ditanyai sudah berapa lama menjadi penambang. Kata beliau, sekarang para penambang sedang senang karena baru-baru ini harga belerang naik Rp. 50, dari Rp. 600/kg menjadi Rp. 650/kg. Dalam sehari seorang penambang bisa membawa turun lebih dari satu kuintal bongkahan sulfur padat.

Penambang belerang istirahat

“Semua tergantung kekuatan. Kalau kuat, ya, bawa pulang banyak. Kalau sedang tidak fit tentu cuma bisa bawa sedikit,” lanjut Pak Abidi.

Sekitar pukul setengah delapan truk pembawa belerang muncul. Bak birunya sudah dipenuhi para penambang lain yang juga akan mencari nafkah pagi itu. Kami berempat melompat naik ke atas bak truk. Kemudian truk tersebut menderu ke arah Paltuding. Melewati perkebunan cengkeh, berganti menjadi perkebunan kopi, kemudian tanpa diduga menelusup ke kanopi rerimbunan hutan raya.

Truk seringkali terguncang-guncang karena mulai dari awal kebun kopi jalanan mulai berantakan. Aspalnya jebol dan hancur di mana-mana. Di pertengahan jalan, truk kami berpapasan dengan sekelompok orang yang sedang kerepotan mendorong motor rusak akibat tidak kuat menanggung medan yang ekstrem. Jelas rute ini kurang sesuai jika dijajal touring sepeda motor.

Pangkalan penambang di Paltuding

Satu jam kemudian kami tiba di Paltuding. Truk berhenti di halaman sebuah pondok yang digunakan untuk menimbang bawaan para penambang belerang. Pagi itu sudah banyak pikulan yang keranjangnya penuh oleh bongkah belerang. Mereka ditaruh di sekitar pondok, menunggu untuk ditimbang.

Selain yang berangkat pagi-pagi, ternyata juga banyak para penambang yang bermalam di sekitar lokasi penambangan. Tidak puas dengan bawaan siang, sebagian rela lembur demi mendapatkan uang lebih. “Ada yang bermalam di Paltuding, ada juga yang di Pondok Bunder,” ujar Bu Yati, seorang pemilik warung di depan pondok penimbangan belerang. Kami sarapan dulu di warung milik Bu Yati. Harga makanan di sana murah sekali; nasi telor dengan mie dan kering tempe dijual Rp 3.000. Beliau menambahkan, “Jangan khawatir, Dik. Di atas sana (Pondok Bunder) masih ada warung, kok.”

Syarat mendaki ke Kawah Ijen gampang saja. Anda hanya perlu mengisi buku tamu kemudian membayar biaya retribusi Rp 4.000/orang. Jika membawa kamera anda diwajibkan membayar ekstra Rp 3.000/kamera.

Jalan tanah curam dan panjang

Dari Paltuding rute hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 3 km menyusuri jalan tanah yang lumayan lebar. Dua per tiga trek awal–dari Paltuding sampai Pondok Bunder–lumayan terjal. Sepertiga terakhir, mulai dari Pondok Bunder sampai ke bibir kawah, trek berubah menjadi landai. Yang seru adalah jalur dari bibir kawah sampai ke bawah, lokasi penambangan belerang. Mengingatkan saya pada summiting Gunung Merapi, Jawa Tengah, dari Pasar Bubrah ke Puncak. Total waktu trekking sampai turun ke kawah adalah sekitar tiga jam.

Tiap sebentar kami berpapasan dengan para penambang yang tampak kesusahan memikul keranjang belerang masing-masing. Sesekali, di antara derit bambu pikulan dan langkah-langkah kecil kepayahan mereka, para penambang menawarkan dagangan sampingan, “Kembang belirang, Mas?”

Kawah Ijen

Ketika akhirnya tiba di bibir Kawah Ijen, saya terpana mendapati kombinasi menawan antara toska, abu-abu, putih, dan biru langit. Kawah Ijen berdiameter sekitar 1 km. Titik terdalamnya adalah 175 m. Pemandangan yang tidak biasa. Pantas saja Lonely Planet edisi Indonesia menobatkannya sebagai salah satu dari empat top volcanoes di Pulau Jawa.

Dari bibir kawah kami berempat melanjutkan perjalanan ke bawah, ke lokasi penambangan belerang. Fase inilah yang paling berat. Untuk turun kami harus menembus asap belerang coklat pekat yang menghambat padangan dan pernapasan. Asap tebal dan jalur kecil nan terjal membuat perjalanan ini menjadi mengerikan. Berkali-kali langkah saya terhenti di antara boulder besar andesit. Mata ini terasa pedas. Udara juga susah untuk dihirup. Apalagi kami harus berbagi jalan dengan para penambang. Salah-salah melangkah alamat tamat ditelan jurang.

Perjalanan ke Kawah Ijen

Di tengah asap tebal itu jalan kami hanya dituntun oleh keranjang-keranjang penuh belerang para penambang yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Untuk menghemat waktu, para penambang sengaja membawa dua set keranjang bambu sekaligus. Keduanya akan dipikul secara bergantian. Bolak-balik memang, tapi rasa-rasanya itu cara yang paling efektif untuk menghemat waktu dan tenaga.

Pikulan Belerang

Saya senang sekali ketika akhirnya keluar dari cekikan asap belerang, sampai juga kami di bawah. Genangan raksasa berwarna hijau toska sudah di depan mata. Dengan riang kami meniti jalan setapak melewati aliran air panas, tantangan terakhir sebelum tiba di lokasi penambangan.

Bersama Pak Tasripan

Ketika kami tiba hanya tampak satu orang di sana. Dia sedang sibuk mengutak-atik sebuah pompa air. Namun tidak ada lagi aktivitas penambangan belerang, semuanya sudah ke bawah kecuali bapak itu. Namanya pak Tasripan. “Saya nanti jam empat turun ke Pos Bunder. Malam ini mau menginap di sana saja,” ungkapnya. “Oh, iya. Besok Jumat nggak ada yang nambang.”

Pak Tasripan berbaik hati mengambilkan lelehan belerang yang sudah membeku dari bibir pipa untuk kami. Dengan gesit beliau menembus asap panas, meruduk ke bawah pipa besi yang mengalirkan belerang. Terjawab sudah mengapa ekspresi Pak Tasripan selalu meringis, itu adalah sikap defensif terhadap hawa panas yang dikobarkan asap sulfur.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Tidak lama lagi asap belerang akan semakin pekat. Kami tidak mau mengambil risiko, waktunya pulang. Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan salam perpisahan ke Pak Tasripan, kemudian kembali meniti jalan terjal berbatu ke bibir kawah. Dan turun dari haribaan Gunung Ijen, Si Gunung Kesepian.

Disunting oleh ARW 11/02/2011


Memburu Udang Raksasa

Suatu pagi di bulan Juli. Pak Adi tampak gagah dengan pakaian melautnya; kaos lengan panjang berkerah, celana training, dan sepatu boot. Beliau berjalan menyusuri jalan setapak menuju dermaga nelayan tradisional Teluk Karang. Saya dan Fajar mengekor di belakang karena pagi itu kami akan ikut melaut, menemani Pak Adi menjaring lobster.

Pak Adi adalah salah satu dari sekian banyak nelayan pemburu udang raksasa di Teluk Karang, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan. Di usia paruh bayanya beliau masih kuat melaut setiap pagi demi beberapa kilogram lobster. Biasanya Pak Adi ke dermaga mengendarai motor Jupiter MX kesayangannya. Namun karena hari ini kami ikut, beliau rela berjalan kaki.

“Perahu yang agak besar itu punya Lung Madi,” ujar Pak Adi ketika kami tiba di dermaga. Lung, bagi masyarakat Melayu Singkawang, merupakan panggilan terhadap orang yang dihormati. “Perahu saya yang itu.”

Perahu bermotor tempel Pak Adi panjangnya hanya sekitar tiga meter dan berwarna hijau pupus. Bagian haluannya dilukis membentuk kepala ikan hiu, dengan mata dan gigi yang sama tajamnya. Mesin tempelnya, tentu saja, berada di buritan.

“Airnya kita pompa dulu, baru kemudian kita melaut.” Pak Adi mengeluarkan sebuah pompa air paralon dari buritan. Sementara beliau memompa, saya dan Fajar membantu menimba air dengan botol bekas oli mesin. Sebentar kemudian air yang menggenangi dek sudah kering. Tambatan sudah dilepas dan kami siap untuk melaut.

Kami bertiga mendorong perahu kecil itu ke laut, lalu melompat ke atasnya. Setelah agak jauh dari dermaga barulah mesin dinyalakan dan perahu meluncur santai di laut yang tenang. Pemandangan pagi itu sungguh mengagumkan. Matahari baru saja muncul dari cakrawala, menyinari deretan batu granit raksasa yang memagari pesisir Teluk Karang dengan semburat jingga.

“Itu namanya Batu Peringgi,” kata Pak Adi sambil menunjuk sebuah batu besar seperti labu. Di dekat batu peringgi beberapa orang bercaping tampak sibuk melakukan sesuatu. “Mereka sedang mencari udang kecil,” jelas Pak Adi tanpa diminta.

Perahu terus meluncur. Batu Burung sudah terlewati dan sebentar lagi kami akan memapas Pulau Simping, pulau terkecil di dunia yang telah diakui PBB. Pulau Simping berada dalam kawasan Sinka Island Park yang dikelola oleh pihak swasta. Kawasan wisata ini komplit; ada pantai, kolam renang, taman Rindu Alam di puncak Gunung Kote, dan kebun binatang Sinka Zoo.

Di sebelah daratan, lereng Gunung Lapis tampak masih diselimuti kabut tipis sehingga obyek wisata Rindu Alam seolah-olah berada di atas awan.

Namun ada sesuatu yang aneh. Sampai saat itu saya belum melihat satu pun instrumen penangkap lobster. Penasaran, saya bertanya pada Pak Adi. Beliau lalu menjawab, “Cara menangkap lobster berbeda dengan menangkap ikan. Lobster ditangkap pakai labuh, jaring. Labuh ditaruh di laut, dibiarkan di sana, waktu melaut pagi-pagi begini labuh diangkat. Nanti lobsternya terperangkap di sana.”

Saya dan Fajar manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Tidak disangka-sangka pagi itu kami dapat banyak sekali ilmu dan pengalaman baru.

Ketika kami sedang asyik berfoto-foto, tiba-tiba Pak Adi memelankan laju perahu. “Nah, kita sudah sampai,” ujarnya. Sejurus kemudian beliau sudah sibuk menarik-narik dan memeriksa labuh. Perahu kecil itu bergerak pelan seiring tarikan demi tarikan.

Agak jauh ke tengah laut, kapal-kapal pukat tarik berseliweran dengan berisik. Tadi Pak Adi sempat menyinggung soal keresahan nelayan tradisional terhadap eksistensi kapal pukat tarik tersebut. Pukat tarik merusak ekosistem laut karena sistemnya “hajar bleh!”, semua diembat. Beliau juga menambahkan bahwa kapal-kapal tersebut kebanyakan bukan dari Teluk Karang, “Mereka dari kampung yang jauh di selatan sana.”

Di labuh pertama hanya ada satu ekor lobster. Selebihnya hanya laba-laba laut, kepiting, ikan, tengkuyung, dan bulu babi yang terjaring. Kemudian kami meluncur ke labuh kedua.

Labuh kedua sedikit lebih baik, dapat dua ekor lobster. Kami diajari Pak Adi cara melepaskan lobster dari labuh. Triknya sederhana; cukup pegang punggungnya dan lepaskan tubuhnya dari jaring dengan lembut. Ekornya akan menggelepar-gelepar, tapi jika kau memegangnya dengan benar tidak akan sampai melukai tanganmu.

Peruntungan kembali memburuk di labuh ketiga, cuma dapat satu ekor. “Beginilah hidup nelayan. Kadang dapat banyak, kadang sedikit, kadang nggak dapat sama sekali,” jelas Pak Adi ketika mendapati muka kecewa kami karena tangkapan hari itu hanya sedikit. “Udangnya kita taruh di laut saja dulu. Jualnya sekalian saja sama tangkapan besok.”

Biasanya, jika cuaca bagus, dalam sehari Pak Adi bisa membawa pulang sekitar 2 kg lobster. Per kilogramnya dihargai sekitar Rp. 50,000. “Rekor saya 32 kg,” dengan senyum bangga beliau berkata. “Waktu itu saya sampai kesusahan membawanya pulang.”

Selain kenangan gembira itu Pak Adi juga pernah punya pengalaman buruk selama melaut. Beberapa tahun yang lalu, ketika istrinya ikut melaut, perahu kecil itu oleng, terbalik, kemudian tenggelam. Untung beberapa orang nelayan yang kebetulan sedang nongkrong di pantai melihatnya lalu bergegas menolong. Perahu dan istri beliau berhasil diselamatkan.

Ketika pantulan cahaya matahari sudah mulai membutakan, kami meluncur kembali ke daratan. Usai sudah perburuan lobster hari ini.

Tiba-tiba saya teringat kisah “The Old Man and The Sea” karya Ernest Hemingway. Pak Adi persis seperti si orang tua, melaut sendiri setiap hari tanpa ada kawan yang menemani.

Disunting oleh SA 22/01/11


© 2017 Ransel Kecil