Karimunjawa Bagian “Pojokan”

Menjelang senja, ketika akhirnya KMP Muria berlabuh di dermaga Karimunjawa, kami turun. Sebagaimana ratusan penumpang lain yang telah terombang-ambing ombak lautan selama lebih dari setengah hari, badan masih sempoyongan dan terasa pegal. Penumpang kapal ramai bukan main. Akibatnya, saya dan kawan-kawan hanya kebagian tempat duduk di tangga menuju geladak bawah.

Minggu pagi di bulan Juli itu saya dan kawan-kawan berangkat dari Pelabuhan Kartini Jepara sekitar pukul 08:00 dengan armada tambahan. Sebenarnya kami berniat menyeberang sehari sebelumnya. Namun Sabtu pagi itu tiket sudah terjual habis. Kami tidak kebagian dan harus tertahan selama sehari di Jepara. Saat-saat waktu padat, KMP Muria memang sering kelebihan penumpang. Penumpang yang akan menyeberang melebih jumlah tiket yang disediakan. Sebenarnya untung juga, saya jadi mendapat kesempatan untuk bertandang ke Museum Kartini di alun-alun Jepara, selain itu saya juga bisa “cuci mata” melihat gadis-gadis Jepara yang manis sedang lari sore.


Menyelam tanpa perlengkapan (“skindiving“)

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Yang Muda Yang Bisa Menginap di Mana Saja

Seringkali akomodasi menjadi hal yang menghambat seseorang untuk melakukan perjalanan. Mau pergi ke suatu tempat, yang dipikirkan pertama kali adalah “Mau menginap di mana?”, “Kalau di hotel, kan, mahal.” Sebenarnya tidak begitu, terlebih untuk anak muda. Anak muda yang memiliki tubuh masih fit tidak perlu khawatir perihal akomodasi karena yang muda bisa menginap di mana saja.

Saya pernah menginap di stasiun kereta. Enak atau tidak tergantung stasiun keretanya. Di stasiun kereta besar yang memiliki fasilitas lengkap, menginap di emperan mungkin masih terasa seperti menginap di kamar kos-kosan. Bangku panjangnya cukup lebar untuk dipakai tidur, lantainya berkeramik, ada warung bahkan kios makanan cepat saji, ada mushala dan kamar mandi di pojokan. Dan biasanya di stasiun yang agak besar lumayan banyak orang yang juga tidur di sana.

Lain lagi jika tidur di stasiun kecil. Biasanya di stasiun kecil kamar mandi dikunci bertepatan dengan berakhirnya aktivitas di stasiun. Jadi kalau menginap di stasiun seperti Karangasem, Probolinggo, atau di Banyuwangi baru saya harus cepat-cepat menunaikan segala urusan sebelum kamar mandi digembok.
Soal kemananan, bukan berarti stasiun besar lebih tidak aman dibanding stasiun kecil. Menurut saya, aman atau tidak tergantung diri masing-masing. Jika pandai menjaga diri, di manapun akan aman karena kejahatan dapat mengancam seseorang di mana saja.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Akomodasi

Suatu Sore di Pantai Dreamland

Pantai Dreamland

Kami memacu motor ke bagian selatan Pulau Dewata. Setelah kompleks Garuda Wisnu Kencana terlewati, kami tiba di gerbang Pecatu Indah Resort. Inilah pintu masuk ke Pantai Dreamland, pantai yang semakin populer sejak grup band Michael Learns to Rock menjadikannya sebagai tempat syuting video klip lagu “Someday”, terletak di dalam kompleks resor milik Tommy Soeharto ini.

Untuk menikmati hamparan pasir putih Dreamland, setiap pengunjung dikenai biaya Rp 10.000/orang. Tidak ada pos penjualan karcis, hanya satpam berseragam yang memungut lembaran sepuluh ribu yang keluar dari kantong pengunjung.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Jalan Panjang ke Kawah Ijen

Belum pukul delapan ketika kami berempat akhirnya diturunkan Pak Nurul Anshori di depan pos ojek Tamansari, Jambu, Banyuwangi. Tujuh belas kilometer dari Kawah Ijen. Selanjutnya kami harus menumpang truk pembawa belerang ke Paltuding, titik awal pendakian Gunung Ijen.

Kawah Ijen 17km

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Memburu Udang Raksasa

Suatu pagi di bulan Juli. Pak Adi tampak gagah dengan pakaian melautnya; kaos lengan panjang berkerah, celana training, dan sepatu boot. Beliau berjalan menyusuri jalan setapak menuju dermaga nelayan tradisional Teluk Karang. Saya dan Fajar mengekor di belakang karena pagi itu kami akan ikut melaut, menemani Pak Adi menjaring lobster.

Pak Adi adalah salah satu dari sekian banyak nelayan pemburu udang raksasa di Teluk Karang, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan. Di usia paruh bayanya beliau masih kuat melaut setiap pagi demi beberapa kilogram lobster. Biasanya Pak Adi ke dermaga mengendarai motor Jupiter MX kesayangannya. Namun karena hari ini kami ikut, beliau rela berjalan kaki.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan