Saya harus ke Bali, itu adalah hal yang menyenangkan. Tapi kalau harus terbang ke Bali, itu kabar lain lagi.

Meski penerbangan ini hanya akan memakan waktu 1,5 jam, entah mengapa perasaan yang pernah saya alami ketika harus mengudara selama 14 jam ke Amsterdam mendadak menyerang. Terlebih lagi ketika saya sadar bahwa pesawat yang akan ditumpangi adalah Boeing 747 yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding pesawat yang mengantar saya ke Eropa itu. Aduuh… pesawat kecil kan ketinggian jelajahnya rendah dan untuk itu resiko terkena turbulensi yang bisa jadi jauh lebih besar. Ya… saya memang fobia terbang!

Pelebon Raja Puri Peliatan IX Ida Dwagung

Tapi ketakutan itu saya lawan habis-habisan. Pada 2 November 2010 ini ada upacara Pelebon. Jika saya melewatakan Palebon ini hanya gara-gara takut terbang, seumur hidup pasti akan menyesalinya. Ya, kapan lagi saya bisa menyaksikan Upakara Pelebon yang hanya diadakan untuk seorang raja!

Upacara sebelum Pelebon
Foto-foto oleh Faramita Dewi

Sebenarnya saya sudah ketinggalan beberapa prosesi upakara awal seperti memandikan jenazah, mencari air suci dan lain-lainnya, namun saya beruntung masih bisa melihat arak-arakan Nagabanda dari Puri Ubud.

Pelebon adalah sebutan lain Ngaben yang diperuntukkan raja, pada hakikatnya adalah pengembalian wujud manusia pada esensinya: tanah, air, udara dan api. Melalui media pembakaran, abu yang dihasilkan merepresentasikan tanah, uap dan asap yang dihasilkan adalah manifestasi udara, api yang menjilat jilat adalah amarah (keburukan) yang sirna, dan sisa tulang belulang yang dihaluskan dan dicampur dengan air merepresentasikan air. Esensi raga yang berunsur air ini lah yang kemudian dilarung ke laut. Pelebon hanya dilakukan oleh keluarga kerajaan dalam upacara hari ini adalah Puri Peliatan Ubud. Lalu, dengan purnanya prosesi pelebon, secara fisik mendiang Raja Ida Dwagung akan sempurna kembali ke asalnya, dan rohnya akan sempurna pergi ke nirwana.

Pelebon bagi keluarga yang ditinggalkan juga mengandung banyak arti. Salah satunya adalah sebagai cara untuk melupakan satu sama lain: keluarga tak boleh lagi mengingat-ingat raja, dan raja tak lagi mengingat-ingat keluarganya. Namun yang paling menarik adalah bahwa prosesi Pelebon ini ternyata juga menjadi sarana bagi keluarga untuk memanjatkan pengharapan kepada Sang Hyang Widhi supaya kelak raja bereinkarnasi menjadi karakter atau personalitas yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk itulah keluarga mengadakan Pelebon dengan semegah-megahnya. Mereka percaya bahwa keindahan, kemegahan, dan kesempurnaan fisik dari sarana Pelebon seperti Bade, Lembu, Nagabanda dan lainnya menyimbolkan kebaikan.

Pelebon Ida Dwagung Penglingsir Puri Peliatan ini adalah Pelebon termegah kedua setelah Presiden NIT bertahun-tahun yang lalu yang secara sosial juga berkedudukan sebagai raja di Bali. Jika pada umumnya keluarga kerajaan non Raja memakai Bade bertingkat tujuh atau sembilan, rakyat strata terendah memakai bade bersusun hanya satu atau tiga, maka Raja memiliki bade bersusun sebelas; jumlah tingkatan bade paling tinggi dalam strata sosial di Bali.

Lembu Pelebon

Simbol kemegahan sebuah Pelebon juga dilambangkan oleh Lembu yang dinaiki raja ketika kremasi. Lembu tunggangan raja dibuat sangat istimewa dan paling besar ukurannya dibanding anggota kerajaan lainnya. Dan untuk melengkapi kesempurnaan fisiknya, lembu ini dibuat dari material bermutu tinggi dengan kehalusan pahat yang luar biasa, dihias dengan perhiasan emas berdetail ukiran nan indah, dan dinaikkan di atas undakan emas yang juga berukir teramat indah.

Nagabanda

Untuk menyimbolkan strata sosial tertinggi, Raja yang wafat juga ditemani oleh sebentuk Nagabanda. Hanya raja yang pergi ke nirwana dengan didampingi sosok naga nan anggun dan perkasa berwarna hitam dan berhias mahkota. Nagabanda yang dikirim oleh Puri Ubud ini sebelum sampai di Puri Peliatan dijamu terlebih dahulu dengan upakara penyambutan di sekitar pasar Ubud yang menyimbolkan bahwa keluarga kerajaan Peliatan telah menerima Nagabanda dengan baik dan menyampaikan rasa terima kasihnya pada pihak Puri yang mengirim Nagabanda.

Pemandangan arak-arakan patung naga itu benar-benar menakjubkan. Terlihat patung ini dibuat sangat teliti dan indah. Naga ini berwarna hitam. Hitam dalam terminologi Bali adalah simbol dari air atau kehidupan. Di sekujur lehernya terdapat bertumpuk-tumpuk perhiasan emas, ini melukiskan tingginya kasta empunya naga. Dan tentu saja, hanya raja yang berhak ditemani Nagabanda dalam perjalanannya menuju nirwana.

Nagabanda ini tak sendiri. Beberapa hasta di depannya terdapat sepasang ogoh-ogoh berbentuk kakek nenek yang bernama Kaki Patuk dan Dadong Roret. Kedua ogoh-ogoh itu secara kasat mata adalah karya seni nan luar biasa naturalis. Saya jadi teringat koleksi Madamme Tussaud, namun saya yakin seniman-seniman Museum lilin itu tak akan bisa menandingi kesempurnaan Kaki Patuk dan Dadong Roret ini karena kedua ogoh-ogoh ini tak terbuat dari lilin, melainkan kombinasi styrofoam, busa, dan cat saja. Material yang terdengar sangat sederhana ini bisa menjelma menjadi patung yang sedemikian nyatanya. Kaki Pathuk dan Dadong Roret ini adalah simbolisasi untuk Sang Hyang Widhi yang kepada-Nya umat Hindu memohon dan memberikan penghormatan. Bersanding di sisi kanan kiri Nagabanda di dalam puri, ketiga simbol sakral ini sangat mencuri perhatian.

Kaki Patuk dan Dadong Roret

Benar-benar pemandangan nan indah. Semua fobia terbang itu terbayar sudah.

Saat ini, semua sarana Pelebon telah selesai dirakit dan ditempatkan di Puri Peliatan. Lembu dan Bade yang berukuran sangat besar terpaksa harus bersanding di luar Puri. Sementara Nagabanda yang memang bertugas mendampingi Raja sudah lima hari ini menjalankan perannya, mendampingi jasad Sang Raja. Dan tak lama lagi, semua simbol kemegahan upakara Pelebon itu nanti akan dikremasi bersama jasad Ida Dwagung Penglingsir Puri Peliatan pada tanggal 2 November 2010 (hari ini).

Disunting oleh ARW 2/11/10