Artikel-artikel yang ditulis oleh Dita Ramadhani

“Live on Board” di Komodo

Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca
Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca

Tujuan perjalanan saya ke Komodo sangat jelas. Live on board (tinggal di kapal) selama lima hari dan menyelam 15 kali. Perjalanan kali ini telah direncanakan dengan matang oleh saya dan delapan orang teman sejak bulan November 2013. Kami sengaja memilih akhir Maret sampai awal April 2014 sebagai agenda perjalanan kami mengingat curah hujan rendah di daerah Nusa Tenggara Timur pada bulan itu. Awalnya saya berpikir di akhir Maret, Komodo akan bersemi hijau dan saya tidak mungkin bertemu dengan savana cokelat indah khas Komodo yang terkenal. Ternyata salah. Komodo di bulan Maret justru menghadirkan gabungan antara savana dan “musim semi” yang baru mulai.

Trekking di Pulau Rinca
Trekking di Pulau Rinca

Saya dan teman–teman terbang paling pagi dari Denpasar ke Labuan Bajo. Sampai di sana kami disambut udara panas dan matahari terik khas timur Indonesia . Setelah makan siang, kami bertemu dengan tur operator kami, CnD, sebelum akhirnya bertolak ke kapal KM. Embun Laut menggunakan kapal kecil.

Menikmati Pantai Mawan
Menikmati Pantai Mawan

Mengejar matahari terbenam
Mengejar matahari terbenam

Pemilik KM. Embun Laut sekaligus instruktur selam CnD bernama Condo Subagio atau Pak Condo. Kapal tiga level ini dulunya kapal kargo yang kemudian “disulap” oleh Pak Condo menjadi kapal wisata. Terdiri dari lima kamar tamu, dua kamar mandi, Embun Laut mampu mengakomodasi hingga 10 orang tamu. Meskipun lebih populer sebagai tur menyelam, CnD juga menyediakan jasa bagi mereka yang tidak melakukan penyelaman.

Komodo terdiri dari 17 pulau besar dan kecil. Pulau besarnya hanya Pulau Rinca dan Komodo. Di dua pulau inilah habitat utama Komodo. Kami menyempatkan berkunjung ke kantor Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca dan melakukan trekking, melihat pemandangan Gili Lawa Laut dari atas. Ditemani dua jagawana (forest ranger), trekking siang kami menyenangkan dan informatif. Cerita seputar Komodo si kadal besar begitu menarik. Misalnya, Komodo berenang untuk menyeberang dari pulau satu ke lainnya. Mereka menutup lubang hidung dengan lidah mereka yang panjang bercabang sembari berenang.

Penyelaman kami di Komodo berjalan lancar. Kami puas melihat biota laut luar biasa seperti manta ray, ikan napoleon, black tip dan white tip shark, serta beragam karang (coral reef) yang kaya. Kami menyelam ke satu goa kecil dimana konon ikan–ikan berenang terbalik di dalamnya. Tidak hanya di atas permukaan laut, di bawah lautpun Komodo benar-benar indah.

Matahari terbenam
Matahari terbenam

Berkunjung ke Komodo belum lengkap tanpa berjemur di pantai dengan pasir kemerahan. Kami dibawa ke Pantai Mawan dan menikmati pantai itu untuk kami sendiri. Mewah. Sehari sebelum kembali ke Labuan Bajo, kami trekking ke pulau tak berpenghuni demi mengejar matahari terbenam. Langit bersih Komodo memang benar – benar juara! Pagi hari biasanya langit kemerahan ungu, siang hingga sore biru cerah, malam hari penuh puluhan rasi bintang. Liburan kami di Komodo sukses membuat kami semua tidak ingin pulang. Saya sendiri ingin kembali lagi ke Komodo suatu hari nanti. Semoga.

  • Disunting oleh SA 16/06/2014

Kota Tua Veliky Novgorod, Rusia

Perjalanan ke Veliky Novgorod memakan waktu sekitar lima jam dengan kereta cepat dari Moskow. Novgorod terletak antara kota Moskow dan St. Petersburg, sepanjang sungai Volkhov. Novgorod baru saja berulang tahun ke-900 saat saya tiba. Kota ini sendiri berumur lebih tua dari itu (nama kota Novgorod tercatat sejak tahun 862). Menurut sejarahnya, Novgorod adalah kota perdagangan penting dan pernah melepaskan diri dari Rusia. Kota ini memiliki sejarah panjang dengan bangsa Skandinavia dan disebut sebagai ibu kota bagi empat raja Viking. Banyak manuskrip Slavik dan Finlandia ditemukan di kota ini.

The Kremlin di Novgorod.
The Kremlin di Novgorod.

Restoran Tall Ship di tepi Sungai Volkhlov.
Restoran Tall Ship di tepi Sungai Volkhlov.

Pada tahun 1570, Novgorod “dipaksa” bergabung kembali oleh Rusia setelah mengalami kelaparan berkepanjangan dan pembunuhan massal oleh Pangeran Ivan (Ivan The Terrible). Kremlin yang ada di Novgorod bisa jadi Kremlin pertama di Rusia. Kremlin sendiri berarti “gerbang”. Di dalam Kremlin terdapat Monumen Millennium of Russia, bercerita tentang 100 tokoh paling berpengaruh di Rusia. Terdapat pula Katedral St. Sophia. Kubah gereja Rusia yang berbentuk bawang bombay terinspirasi dari topi prajurit perang. Ketika perang musim dingin, bentuk ini tidak menahan salju di atas kepala.

Patung perunggu yang menceritakan 100 tokoh paling berpengaruh di Rusia.
Patung perunggu yang menceritakan 100 tokoh paling berpengaruh di Rusia.

Mengingat kota ini berpenduduk padat, penyebaran informasi/tanda bahaya bagi masyarakat jaman dulu menggunakan lonceng kota. Ada banyak lonceng di dalam Kremlin yang memiliki fungsi informasi berbeda. Dari Kremlin, saya dan teman-teman menyebrangi jembatan ke sisi seberang sungai ke arah Yugoslav Court dan beberapa katedral kecil yang sangat tua. Toko-toko tanda mata pun banyak ditemui. Penduduk Novgorod terkenal sebagai pengrajin kayu yang hasilnya lebih halus dan (tentu saja) harganya lebih mahal daripada di Moskow.

Taman bermain di sisi luar The Kremlin.
Taman bermain di sisi luar The Kremlin.

Di tepi luar Kremlin dibuat taman bermain anak-anak di bagian sungai tertinggi dan kering. Buat saya terlihat agak “maksa”, tapi mungkin ini cara mereka agar Kremlin tetap ramai dikunjungi. Sedangkan di jembatannya banyak dipakai untuk para pasangan “mengunci” janji mereka dengan gembok. Kemudian mereka menulis atau grafir nama-nama mereka di gembok tersebut.

Satu tempat menarik di Novgorod adalah restauran Tall Ship di tepi sungai Volkhov. Ruang makan resto ini pun menyerupai ruang kemudi kapal. Dengan balkon menghadap Kremlin, restauran ini memang punya daya tarik tersendiri. Setelah menikmati makan malam di sini, saya dan teman=teman berjalan kaki menyusuri sungai menuju hotel tempat kami menginap.

Mungkin karena letaknya yang lebih tinggi, udara Novgorod lebih dingin dari Moskow. Bongkahan-bongkahan es juga lebih banyak. Alhasil saya menahan dingin udara dan angin selama 30 menit sambil memegang payung karena hujan deras sepanjang perjalanan pulang. Saya membayangkan Novgorod akan lebih menyenangkan ketika musim panas. Tepi sungai pasti lebih ramai penduduk dan pengunjung.


Menikmati Moskow di Bulan April

St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.
St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.

Moskow begitu suram pada akhir musim dingin. Salju yang tidak cair sempurna masih ada di rerumputan, sungai dan pohon. Saya tiba di Moskow pada pertengahan April. Langit kelabu, jalanan kotor oleh salju bercampur tanah. Kesan “pasca” negara adidaya masih jelas terlihat dari gedung–gedung tinggi dan bentuk bangunan mereka yang berseni serta berwarna–warni.

Beruntung saya tinggal di hotel yang tak jauh dari pusat kota. Hanya 20-25 menit jalan kaki menuju Lapangan Merah (Red Square) dan Kremlin. Gerimis turun saat saya dan teman–teman berencana keliling kota dengan jalan kaki. Namun tidak ada yang urung untuk tetap menelusuri budaya Rusia. Kami berangkat tepat setelah makan siang!

Alexander Park
Alexander Park

Jalan–jalan kami diawali dengan mengunjungi Katedral Christ the Saviour yang merupakan gereja ortodoks tertinggi di dunia. Gereja ini dibangun pada tahun 1883 dan diruntuhkan semasa perang. Alih–alih dibangun kembali, pemerintah malah membangun kolam renang air panas untuk umum di atas tanah reruntuhannya dan menuai protes dari banyak pihak. Akhirnya pada bulan Agustus 2000, gereja ini dibangun kembali dengan mengulang tiap detil desain, lukisan, ukiran maupun pahatan mimbar. Di dalam, mural serta kubah sungguh indah, sayang pengunjung tidak diperbolehkan memotret.

Lapangan Merah hanya terletak 10 menit dari situ. Tapi, terlebih dahulu kami masuk ke dalam Kremlin. Kremlin berada di tengah antara Sungai Moskva (selatan), Katedral St. Basil dan Lapangan Merah (timur), Alexander Park (barat). Kremlin terdiri dari lima istana, empat katedral, dinding dan menara Kremlin. Empat katedral kecil di dalam Kremlin berbeda “aliran” karena Tsarina terdahulu ingin meraih sebanyak mungkin simpati rakyat dengan membangun gereja–gereja yang berbeda untuk mereka. Saat ini Kremlin masih digunakan sebagai kediaman resmi presiden Rusia.

Lapangan Merah (Red Square)
Lapangan Merah (Red Square)

Hal lucu yang kami temui di salah satu katedral di dalam Kremlin itu adalah bagaimana asal pelukis memengaruhi warna pada setiap lukisan yang ada. Pelukis gereja asal Rusia selalu melukis karakter/tokoh orang/ malaikat dengan warna kulit putih. Sementara pemugaran dan perbaikan gereja dilakukan oleh pelukis asal Itali yang menggunakan warna gelap untuk kulit (coklat tua). Sehingga ada bagian – bagian tertentu dimana manusia dan malaikat digambarkan dengan warna kulit putih dan ada yang berkulit hitam padahal mural itu menggambarkan satu rangkaian cerita.

The Kremlin
The Kremlin

Dari tepi Kremlin pemandangan kota Moskow sangat indah. Wisata gereja kami pun sungguh berkesan. Kami berjalan ke gerbang luar menuju taman kota yang membentang sepanjang sisi depan Kremlin ke arah lapangan merah. Dekat gerbang luar kami mendapati bangunan terpisah yang dijaga ketat. Ternyata bangunan tersebut adalah apartemen Lenin. Di situlah dia menghabiskan masa–masa terakhir hidupnya dengan membawa seluruh keluarga besarnya menetap di sana.

Lapangan Merah dikelilingi bangunan–bangunan tua yang indah, termasuk gereja St. Basil yang merupakan ikon terkenal kota Moskow. Saya sengaja memotret St. Basil saat siang dan malam hari karena menurut kabar, bangunan tersebut memiliki karisma mistis yang berbeda saat terang dan gelap. Di bagian luar lapangan merah banyak kaki lima menjajakan tanda mata dan pin-pin kuno jaman perang.

Satu hal yang sangat disayangkan dari Lapangan Merah adalah bangunan panjang di sisi kiri yang dialihfungsikan menjadi pusat perbelanjaan dengan lampu terang-benderang yang mengingatkan saya akan istana di Disneyland.

Tidak sulit menemukan restauran atau kafe enak di Moskow. Resto fusion Asia pun banyak. Hanya saja harganya memang mirip dengan standar Eropa. Siap–siap tutup mata saat bayar. Ada satu restoran Ukraina yang letaknya dekat Kremlin. Dengan suasana hangat khas petani, resto ini sangat nyaman dengan pilihan makan beragam seperti lidah sapi rebus, vodka cabai (chilli vodka) serta roti dadar dengan salmon mentah dan keju.

Pusat kota Moskow menyenangkan bagi saya. Ada kesan klasik dan modern jadi satu. Lapangan merah dan Taman Alexander selalu “hidup” siang dan malam menjadi tempat nongkrong berbagai usia. Satu lagi hal menarik dari Moskow adalah Moskow Metpo (dibaca: Metro) atau kereta bawah tanah. Keretanya mungkin sama saja dengan kereta bawah tanah negara lain, tapi stasiun bawah tanahnya mengesankan. Selalu ada desain berbeda yang ditemui di tiap stasiun, entah mural atau mozaik yang menceritakan perang, atau patung-patung serta pedang–pedang tembaga sepanjang lorong stasiun. Lebih mirip basement istana atau bunker perang daripada stasiun kereta.

Moskow mempunyai pasar tradisional yang terkenal, Izmailovo. Letaknya agak jauh dari pusat kota namun barang–barang yang dijual jauh lebih murah. Selain tanda mata umum seperti kaus, matryoshka, magnet atau gantungan kunci, Izmailovo menjual barang–barang bekas menarik dengan berbagai harga mulai dari kamera analog, lukisan tua dan pin kuno.

  • Disunting oleh SA 27/06/2013

Bermain Bersama Gajah di Tesso Nilo

Perjalanan ke Taman Nasional Tesso Nilo hanya memakan waktu empat jam dari kota Pekanbaru, Riau. Saya dan teman-teman menyewa mobil seharga Rp500.000 untuk sekali jalan (termasuk ongkos pak supir dan uang makannya) dari Pekanbaru ke taman nasional menuju Flying Squad Camp. Jangan bayangkan di sana menginap dengan tenda karena akomodasi di Tesso Nilo semuanya rumah-rumah kecil untuk tamu walaupun namanya “camp“. Biayanya? Gratis, asalkan menghubungi Flying Squad Camp yang ada sebelum perjalanan. Biaya untuk penginapan bisa dialihkan ke anggaran makan yang berkisar antara Rp15.000 – Rp25.000 per sekali makan.

Kamar di "Flying Squad Camp"
Kamar tempat menginap saya

“Tesso Nilo” diambil dari nama dua sungai besar yang ada di Riau, Sungai Tesso dan Sungai Nila. Kira-kira 20 menit dari camp, ada jembatan yang melintas Sungai Nila. Nah, di sini tempat masyarakat mencuci baju, mandi dan memancing. Kebetulan saya dan teman-teman gemar mandi di sungai, jadi tidak mungkin melewatkan kesempatan ini. Air sungai sedikit kemerahan karena bercampur gambut. Yang unik, pinggiran sungai semuanya pasir putih mirip pantai. Kami menemukan batang kayu besar mencuat dari bukit samping sungai dan lompat ke air dari situ secara bergantian. Ketika hari mulai gelap kami naik dan duduk-duduk di pasir putih sambil menunggu mobil jemputan.
Sebelum tahun 2000, taman nasional ini “habis” dirambah para pembalak liar. Jangan heran jika memasuki wilayah taman nasional, jarang ditemui pohon hutan alam karena didominasi pohon akasia (pohon akasia merupakan pohon tanaman industri pulp dan kertas). Adanya pohon akasia menandakan daerah ini dulunya ditebang habis, kemudian ditanami kembali oleh satu jenis pohon saja demi keperluan bisnis.

Mahout melatih gajah
Mahout” melatih gajah

Nama “Flying Squad” sendiri terkait dengan program elephant flying squad, yaitu sebuah program yang dirintis WWF-Indonesia, sebuah organisasi konservasi, untuk melatih gajah liar menjadi “jinak” demi mitigasi konflik manusia dan gajah di kawasan Tesso Nilo. Gajah-gajah ini dilatih melakukan patroli di hutan dan menghalau gajah liar untuk meminimalisir konflik antara masyarakat dan gajah liar yang masuk ke desa-desa. Walaupun terdengar menyenangkan, pekerjaan melatih gajah sangat berat. Para pelatih disebut “em>mahout“, berasal dari Bahasa India. Nyawa adalah taruhan terbesar dalam pekerjaan mereka. Menghalau gajah liar yang marah adalah pekerjaan yang hasilnya tidak bisa diprediksi.

Tujuan perjalanan saya ke Taman Nasional Tesso Nilo untuk bertemu para mahout serta peneliti harimau Sumatra. Tiap hari saya mendengar kisah pekerjaan mereka yang begitu inspiratif dalam melatih gajah atau mencari jejak harimau, termasuk bertemu dengan masyarakat lokal.

Masing-masing gajah memiliki karakter tersendiri. Ada 10 gajah latih di sana bernama Ria, Lisa, Indro, Rahman, Nofi, Dono, Tesso, Nela, Imbo dan Jambo.

Mahout memandikan gajah
Mahout memandikan gajah

Penduduk sekitar mandi dan mencuci baju
Penduduk sekitar mandi dan mencuci baju

Bagi yang datang ke sana dan tertarik melihat gajah sedang mandi, para mahout akan senang menemani. Satu peringatan dari saya saat naik gajah: pegang talinya yang erat! Saya sendiri jatuh ke sungai saat naik gajah. Pengalaman lucu yang tak terlupakan. Selama dekat gajah, pakai lotion anti serangga karena banyak lalat yang menempel di badan gajah, atau ambil satu ranting dengan beberapa cabang daun dan tepuk badan gajah agar lalat pergi.


Sepotong Kisah di Daerah Perbatasan

Ini bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan. Tapi yang membuat kabupaten Nunukan menarik adalah letak geografisnya. Nunukan merupakan sebuah pulau kecil yang terpisah dari pulau utama Kalimantan namun masuk dalam provinsi Kalimantan Timur. Untuk menuju ke sana, saya naik pesawat Sriwijaya Air dari Jakarta sampai Balikpapan. Setelah itu, dilanjutkan dengan Susi Air dari Balikpapan sampai Tarakan, kemudian Tarakan sampai Nunukan—semuanya di hari yang sama.

Pelabuhan
Pelabuhan

Tidak banyak yang bisa dilihat di kota Nunukan sendiri (sebagai informasi, nama ibukota kabupaten dan kabupatennya sama). Kebanyakan hanya toko-toko kecil sepi dan rumah penduduk. Namun, ketika menuju komplek gedung-gedung pemerintahannya, mereka boleh bangga. Semua gedung pemerintahan di Nunukan, seperti kantor dinas atau bupati, rata-rata seperti “istana”. Gedungnya besar dan megah dengan taman luas. Buat saya, rasanya aneh melihat pemandangan komplek gedung mewah ini di atas bukit yang sepi dengan kota berpenduduk jarang (sekitar hanya sepuluh jiwa per kilometer persegi).

Menuju Sebuku
Menuju Sebuku

Saat itu, tujuan saya ke Nunukan adalah untuk melakukan assessment sosial di wilayah hutan alam. Jadi, esok harinya perjalanan saya lanjutkan dengan perahu motor cepat selama 1,5 jam menuju Desa Sebuku. Paginya saya sempatkan mampir ke mini market samping hotel. Cemilan kemasan buatan Malaysia memenuhi rak. Semua tampak menggiurkan dan enak. Makanan-makanan ini pun dijual di warung-warung kecil pelabuhan Nunukan. Pelabuhan boleh jadi tempat paling trendi di Nunukan. Malam minggu pelabuhan penuh orang jualan, duduk-duduk melihat kapal antar propinsi dan antar negara berlabuh.

Desa Sebuku
Kampung di Dekat Pelabuhan

Oke, kembali ke tujuan saya ke Nunukan. Kenapa daerah itu yang dipilih? Sederhana. Alasannya adalah Gajah Nunukan atau pygmy elephant menetap di wilayah hutan alam yang saya datangi. Dilihat dari DNA, Gajah Nunukan berbeda dengan Gajah Sumatera, Afrika maupun Thailand. Belum ada teori pasti kenapa ada gajah di Kalimantan. Menurut catatan sejarah, gajah-gajah ini bisa jadi didatangkan sebagai upeti atau hadiah untuk raja pada zaman dahulu. Secara fisik, Gajah Nunukan lebih kecil dari Gajah Sumatera, berambut dan bertelinga kurang lebar.

Perjalanan perahu motor cepat ke Desa Sebuku terasa cepat, melewati perkebunan sawit di kanan dan kiri, hutan sekunder dan hutan bakau. Seorang kolega saya melihat pesut (mamalia air), sayangnya saya terlalu sibuk memotret hutan waktu itu. Sampai di Desa Sebuku, saya kaget mendapati perkebunan sawit sangat luas (sampai lima hektar ke dalam hutan). Saya deg-degan. Isu inilah yang akan saya tanyakan pada saat wawancara dengan masyarakat lokal di sana.

Saya menginap di kamp perusahaan pengelola hutan alam. Tempatnya bersih dan rapi. Esok pagi seusai sarapan saya menuju Desa Tabuh Lestari dan Samaenre. Mulai dengan naik perahu motor cepat selama 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan ojek. Ini mungkin ojek termahal yang pernah saya gunakan. Rp70.000 sekali jalan. Bukan karena jauh, tapi bensin langka. Di Nunukan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) buka hanya beberapa kali sebulan, kadang tidak buka sama sekali. Akhirnya, bensin dijual ilegal oleh masyarakat dengan harga Rp18.000 per botol minuman ukuran sedang, sekitar 600cc.

Hutan yang Digarap
Hutan yang Digarap

Sampai di desa, saya melakukan wawancara dengan beberapa tokoh desa dan mendapati fakta bahwa beberapa perusahaan sawit dan batu bara beroperasi di sekitar desa mereka. Pemerintah daerah juga sudah mengeluarkan cetak biru kota mandiri di dekat situ lengkap dengan SPBU, pusat perbelanjaan kecil, komplek perumahan, sekolah, dan sebagainya. Sungguh saya tak habis pikir. Selama ini bensin dijual ilegal di Nunukan karena langka, dan pemerintah mau buka lahan untuk kota mandiri dengan SPBU? Belum lagi bahan bakar perahu motor cepat yang harus dikeluarkan dari tengah kota ke daerah Desa Sebuku.

Sedih melihat hal-hal seperti ini harus terjadi di Indonesia, terutama di daerah perbatasan. Banyak kebun sawit milik masyarakat kita yang kemudian dijual ke Malaysia. Kesadaran mereka untuk menjaga hutan dan wilayah sekitar bisa dibilang kecil. Salah siapa?

  • Disunting oleh SA 24/02/2012

Munich, Kota Para “Biksu”

Marienplatz Town Hall
Marienplatz Town Hall, foto oleh Jimmy Syahirsyah

Munich atau Munchen berasal dari kata “Munch” yang berarti biksu atau pendeta. Satu fakta yang menarik dari kota ini adalah bir. Bukan dari rasa saja, namun dari sejarah dibalik pembuatannya. Ketika orang-orang Eropa bermigrasi ke Munich untuk belajar teologi, kota ini dipenuhi para pendeta/calon pendeta. Bahkan penentuan lokasi pembangunan gedung-gedung di pusat kota disesuaikan dengan letak gereja terbesar di sana. Sebagai calon pendeta, hal-hal yang berbau duniawi tentu saja dilarang, kecuali minum bir. Para calon pendeta ini kemudian menciptakan bir mereka masing-masing dan diberi nama sesuai dengan “pemimpin” mereka. Paulaner untuk pengikut Santo Paul dan Agustiner untuk pengikut Santo Agustin. (Paulaner Brauhaus bisa ditemui di East Mall Grand Indonesia, Jakarta).

Sampai sekarang, baik Paulaner maupun Agustiner merajai pasar bir di Munich. Di pusat kota Munich, Marienplatz, restoran khas Bavaria, Agustiner, menggunakan gedung bekas seminari masih lengkap dengan patung-patung kayu malaikat. Saya ditemani seorang wartawan kenalan saya, Sonja Gibis. Dialah yang menceritakan kisah di balik restoran tersebut.

Boot di Mittenwald
Foto oleh Dita Ramadhani

Sebagai sebuah kota, Munich merupakan kota tua yang sangat rapi dan “berkelas”. Bayangkan saja betapa kagetnya saya ketika naik taksi Toyota hybrid Prius. Di Indonesia yang punya mobil ini masih sangat jarang. Di sana armada taksi menggunakan mobil-mobil mewah keluaran VW, Mercedes, BMW dan Volvo. Nyaman? Pasti!

Satu pengalaman menarik yang saya dapati di kota Munich adalah “para peselancar” sungai. Di Eisbach, sebelah Haus der Kunst ada sebuah jembatan yang dilewati sungai buatan. Entah tahun berapa sebuah bendungan dibangun. Akibat aliran sungai yang deras, bendungan itu menjadi semacam tembok yang membuat air sungai “terbentur” dan kembali ke arah air datang. Di titik inilah, orang-orang mulai mendapat ide untuk berselancar di sungai. Yang lebih gila lagi, suhu air sungai tersebut bisa mencapai empat derajat celcius atau lebih rendah dari itu. Para peselancar wajib menutupi seluruh bagian badan mereka.

Pegunungan Alpen Mittenwald
Pegunungan Alpen, foto oleh Jimmy Syahirsyah

Selain menjelalah kota Munich dan beberapa museum seperti Alte Pinakhotek dan Pinakhotek der Moderne, saya menyempatkan diri ke Mittenwald, sebuah kota perbatasan Jerman dan Swiss. Yang menarik di sana tentu saja pegunungan Alpen. Waktu kecil salah satu buku favorit saya adalah Heidy dari Alpen. Saya selalu membayangkan pegunungan Alpen yang dingin, penuh domba, rerumputan, serta bunga-bunga kecil. Citra pegunungan Alpen begitu identik dengan salju dan dingin. Ketika saya berkunjung ke sana, Alpen masih hijau, hanya puncak-puncaknya yang mulai memutih oleh salju.

Hari Gereja di Mittenwald
Hari Gereja, foto oleh Jimmy Syahirsyah

Udara hari itu cukup hangat. Yang saya sayangkan saya datang di hari gereja. Kota itu sepi, hampir semua toko dan restoran tutup, penduduk berada di gereja untuk berdoa meminta kebaikan untuk keluarga atau kenalan mereka yang sudah tiada. Saya tidak patah semangat dan tetap berjalan ke atas, berharap kantor turis dan kereta gantung beroperasi. Sesampainya di atas, parkiran kantor penuh mobil, namun kereta gantung tidak bergerak. Ada alur jalan ke atas untuk para wisatawan yang ingin melanjutkan ke sisi yang lebih tinggi. Tapi saya tidak mencoba naik karena harus mengejar kereta pulang ke Munich yang memakan waktu hampir 3 jam. Jadi, yang saya lakukan adalah duduk-duduk memandang ke bawah. Melihat penduduk kota yang berpakaian serba hitam khusus hari itu, berkumpul di town hall dan berdoa. Pemandangan yang langka bagi saya.

Satu catatan penting jika berpegian ke Munich: urus multiple schengen visa! Dari Munich, Anda bisa ke Italia dengan kereta selama tiga jam dan Austria satu jam saja. Saya harus cukup puas dengan visa single entry dan melihat kemungkinan jalan-jalan menarik di luar kota Munich tapi tetap berada di dalam Jerman.

Sebelum pulang ke tanah air, saya memutuskan ikut tur ke kastil Neuschwanstein di Schwangau. Kastil inilah yang menginspirasikan Walt Disney menciptakan kastil Putri Tidur Aurora atau Kastil “Disney” yang selalu kita lihat di setiap film dan publikasi keluaran Disney. Saya tetap semangat menjelajah kastil meskipun hujan gerimis dan berkabut sepanjang hari. Ludwig II, raja yang memerintahkan pembuatan kastil tersebut adalah seorang eksentrik, individualis, homoseksual, dan kematiannya masih menjadi misteri hingga kini.

Kata teman jurnalis saya yang asli warga Munich, dibandingkan kastil lain di Eropa, Neuschwanstein adalah kastil “maksa”. Kastil ini dibangun saat Bavaria sedang mengalami krisis ekonomi, sehingga banyak memakai materi bangunan berkualitas menengah dan rendah. Ludwig II ingin mempersembahkan Neuschwanstein untuk teman baik sekaligus komposer terkenal asal Jerman, Richard Wagner. Ludwig II seorang pecinta opera. Cerita yang paling disukainya adalah Tristan dan Isolde (kisah cinta tragis yang mirip Romeo dan Juliet). Di kamar tidur sang raja ada mural yang bercerita mengenai Tristan dan Isolde dari awal hingga akhir cerita. Dia memiliki satu ruangan opera di dalam kastil. Penyanyi opera saat itu umumnya bertubuh besar dan subur. Sang raja menganggap hal itu tidak indah. Dia selalu memerintahkan penyanyi opera tidak beraksi di atas panggung. Mereka harus menyanyi dari balik layar atau sisi lain yang tertutup. Ludwig II juga tidak suka bertemu orang lain. Dia membuat sistem meja makan mekanik yang memungkinkan meja berisi makanan lengkap bisa ditarik muncul ke kamar tidurnya lewat lantai kamar. Sayang para pengunjung tidak diperkenankan memotret bagian dalam kastil, tidak ada gambar untuk memperlihatkannya.

Disunting oleh ARW 08/02/2011


Mencari Kesederhanaan di Danau Sentarum

Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) merupakan taman nasional yang ada di wish list teratas taman nasional wajib kunjung saya. Saya melompat kegirangan ketika kantor mengirim saya ke sana untuk survei lapangan. Satu hal yang membuat saya lebih gembira lagi adalah saya akan ditemani oleh Jimmy Syahirsyah, seorang wildlife photographer handal sekaligus kolega saya di kantor. Jimmy bekerja di Kalimantan Barat dan rutin keluar masuk hutan untuk berbagai ekspedisi sehingga kami jarang sekali bertemu.

Rumah di Danau Sentarum

Untuk menuju TNDS, cara tercepat adalah dengan pesawat Trigana Air dari Pontianak sampai Putusibbau. Pesawat jurusan ini hanya terbang dua kali seminggu, Kamis dan Sabtu dengan harga tiket Rp 700.000,-. Dari Putussibau, kami naik mobil sampai ke daerah Lanjak di Kapuas Hulu. Total perjalanan darat saya 6 jam: dua jam di jalan beraspal sementara empat jam berikutnya jalan tanah putih yang sangat buruk pada beberapa titik. Untung saja malam itu kami hanya ditemani hujan gerimis dan tanpa pungutan liar dari masyarakat sekitar.

Perjalanan ke TNDS memakan waktu 1 jam 10 menit dari pelabuhan Lanjak dengan speedboat. Sebelumnya saya dan Bang Jimmy harus melapor ke kantor perwakilan TNDS untuk membayar karcis masuk dan mengurus Simaksi (Surat Ijin Masuk Wilayah Konservasi). Biaya yang dikenakan adalah Rp 30.000,- untuk Simaksi dan Rp 1,500,- untuk karcis masuk TNDS per orang per hari. Matahari sudah terik di atas sana ketika kami duduk rapi di speedboat. Satu hal yang sangat menarik sekaligus khas dari danau ini adalah warna airnya yang gelap sehingga semua benda di atas air terefleksikan secara sempurna. Namun hal ini juga yang membuat udara dua kali lebih panas karena matahari memantul dengan baik. Ketika saya di sana air sedang pasang akibat musim hujan berkepanjangan tahun ini. Saat kemarau, beberapa wilayah danau bisa dilewati oleh sepeda motor.

Kami menuju rumah kepala desa (kades) di kampung Meliau. Total ada 21 kampung yang tersebar di danau. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya:

  • Listrik belum mencapai TNDS. Listrik bisa dinikmati oleh mereka yang bisa membeli genset.
  • Danau merupakan sumber kehidupan sekaligus pusat kegiatan masyarakat (mulai dari mandi, mencuci, memancing, tempat pembuangan, dll).
  • Ada dua jenis buaya yang hidup di danau: buaya senyulong (buaya pemakan ikan) dan buaya pemakan daging.
  • Danau ini merupakan salah satu penghasil ikan toman (fishzilla).
  • Meskipun semua rumah di atas air, masyarakat juga memelihara ternak seperti sapi, babi dan ayam yang ditempatkan pada kandang terapung lengkap dengan anjing penjaga.
  • Menangkap ikan adalah pekerjaan utama masyarakat danau.
  • Ada petani–petani madu yang menghasilkan madu organik. Produksi mereka mencapai 16 ton pada tahun 2009 kemarin.
  • Dalam kehidupan sehari–hari, masyarakat di sana berbicara dalam bahasa Melayu Iban (bahasa yang sama dipakai di Serawak).
  • Sinyal telepon hanya ada di beberapa area tertentu.
  • Pernikahan di usia remaja merupakan hal yang wajar.

Perahu Panjang

Sisa hari itu kami habiskan untuk berjalan–jalan di danau sekitar kampung Meliau dengan perahu panjang. Saya melihat pulau terapung. Nelayan yang menemani kami bercerita bahwa pulau tersebut sering berpindah–pindah tempat sebelum akhirnya diam di satu titik. Saat pulau bergerak, nelayan sering mengaitkan tali perahu mereka di pohon yang tumbuh di pulau apung, menebeng pulau sampai agak jauh ke tengah. Sebelum sunset, kami berburu foto tanaman kantung semar yang tumbuh subur di pinggir–pinggir hutan.

Di malam hari kami bediskusi dengan Bapak Kades mengenai kegiatan konservasi masyarakat, panen ikan toman, panen padi di Kapuas Hulu sambil membuat rencana survei selama di danau.

Kami bangun pagi sekali keesokan harinya. Di dapur, keluarga Bapak Kades sudah menyiapkan peralatan “piknik” untuk kami yang terdiri dari kompor minyak tanah portable, panci, nasi, piring, sendok sampai bumbu–bumbu untuk memasak. Kami naik perahu kayu ditemani dua orang kampung yang sudah kenal baik dengan Bang Jimmy. Kami menuju hutan untuk melihat kegiatan menangkap ikan masyarakat di sana. Sebuah pengalaman baru bagi saya masuk hutan naik perahu kayu dengan jarak pohon yang rapat di kanan kiri. Beberapa kali kami tersesat dan harus memutar. Ketika air pasang, kondisi “jalan” tidak bisa diprediksi, jarak antar pohon seringkali tidak cukup dilewati perahu. Namun, perjalanan siang itu sungguh luar biasa. Saya melihat banyak binatang liar dan langka di dalam hutan.

Makan Siang bersama Nelayan

Jam satu siang kami kelaparan. Keluar hutan, kami bertemu nelayan–nelayan sedang makan siang. Mereka membagi tangkapan ikan mereka untuk kami masak bersama jamur yang tadi sempat kami petik di dalam hutan. Ikan dan jamur segar direbus kemudian diberi bumbu, makan di tengah danau dengan kicauan burung. Satu hal yang “mahal sekali” harganya untuk warga Jakarta seperti saya.

Kantung Semar

Menunggu matahari bergeser, kami duduk–duduk di gundukan batu sambil mengobrol. Hanya saya satu–satunya orang yang tidak bercakap dalam bahasa Iban. Pukul tiga sore kami masuk hutan lagi menuju Danau Belaram. Pemandangan di sana cantik sekali dan untuk pertama kalinya saya melihat burung pecut ular. Pecut ular memiliki kepala seperti bangau, bersayap seperti elang dan kaki berselaput seperti bebek. Jumlahnya hanya tinggal 2.000 ekor saja di Kalimantan. Sayang saya tidak berhasil memotret burung langka ini karena mereka terbang cepat. Kami pulang saat hari mulai gelap. Suasana danau cukup mencekam ketika malam hari. Kami kembali ke rumah Bapak Kades.

Nelayan Istirahat

Hari berikutnya, saya dan Bang Jimmy mendatangi beberapa kampung. Banyak objek foto menarik kegiatan warga: membuat tepung beras, selai ikan, panen ikan toman serta bekas kebakaran hutan akibat kemarau berkepanjangan pada 2004 silam. Kami juga mengunjungi petani madu organik. Dari petani inilah saya mengetahui satu fakta baru tentang madu: “usia khasiat” madu hanya enam bulan sejak madu tersebut dikemas.

Saya bersiap kembali ke Lanjak dengan speedboat keesokan paginya. Namun sebelum kami menuju pelabuhan Lanjak, kami menyempatkan berpamitan ke kampung sebelah dimana salah satu rumah betan/ rumah panjang (long house) berada. Warga kampung tersebut sedang menyiapkan pesta pernikahan. Sungguh menyenangkan melihat semua orang bergotong royong membantu persiapan pesta. Bahan–bahan sayuran yang sedang direndam semua berasal dari hutan. Bapak – bapak menghias teras rumah panjang dengan kain bermotif warna warni serta pelaminan sederhana namun terkesan meriah. Tidak ada yang rumit buat mereka. Semua tersedia di alam, semua orang bersaudara, semua orang membantu tanpa pamrih—nilai yang tidak banyak saya temui di kota besar.

Burung Enggang (Hornbill)

Dalam perjalanan menuju pelabuhan Lanjak, saya melihat sekumpulan bekantan. Jarak mereka hanya sekitar tiga meter dari speedboat kami. Belum pernah saya melihat primata sedekat itu di alam bebas. Selain bekantan, entah berapa belas hornbill (burung enggang), ular, dan kera yang saya temui selama di sana.

  • Disunting oleh ARW & SA 19/07/10

Tiga Hari di Berlin yang Putih

Berlin

Ketika saya datang, Jerman sedang tertutup salju. Putih di mana-mana.

Penerbangan Frankfurt – Berlin yang seharusnya saya tumpangi dibatalkan dua jam sebelumnya karena cuaca buruk. Saya mengantri kurang lebih satu jam untuk check in dan baggage drop di bandara Frankfurt ketika petugas Lufthansa berkata pada saya, “Your plane has been cancelled. I will transfer you to a long distance train.” Saya lalu bertanya, “How long does it take from here to Berlin by train?” Dia menjawab, “Four to five hours. And the train will leave in 20 minutes.” Spontan saya membalas, “That’s bad.” Petugas Lufthansa tadi hanya meringis, sambil mengangguk. Tampaknya saya pelanggan nomor ke sekian yang memberi respon seperti itu.

Singkat cerita, saya mengikuti tanda menuju peron Long Distance Train dan mendapati lorong-lorong yang dingin dan sepi. Saya harus naik kereta tujuan Frankfurt Main Stadion sebelum akhirnya berganti kereta Inter City Express (ICE) menuju stasiun Hauptbahnhof di Berlin. Udara Frankfurt hari itu menemani saya di angka minus empat.

Kereta ICE mengingatkan saya sedikit pada Hogwarts Express, tentu saja dengan versi lebih modern. Saya duduk di kompartemen dengan jendela besar. Pemandangan hanya terdiri dari pohon–pohon tak berdaun dan salju tebal. Empat jam yang cukup depresif.

Sesampainya di Berlin, saya disambut rasa lapar dan kesal karena _SIM card_ (kartu telpon seluler) yang saya beli di Frankfurt ternyata tidak ada voucher isi ulangnya di Berlin. Alhasil saya membeli _SIM card_ O2 baru seharga 14 Euro dan _voucher_ kredit pulsa senilai 16 Euro. Mahal memang.

Namun hati saya langsung terhibur ketika menemukan restoran kebab Turki di stasiun Hauptbahnhof. Saya menghabiskan sepiring besar nasi dan daging lembu berbumbu sambil mengobrol dengan dua orang teman yang menjemput saya, Nelva dan Mas Yusuf.

Seharian saya habiskan untuk perjalanan tadi. Badan terasa capek. Saya langsung tidur lebih cepat malam itu agar besok badan segar dan siap menikmati kota Berlin.

Berlin yang Dingin dan Putih

13 Februari 2010

Saya memutuskan untuk menikmati Berlin dengan Sightseeing Bus Hop On Hop Off. Harga tiketnya 15 Euro dengan 16 perhentian (tujuan wisata). Saya berkeliling dengan bis sambil mendengarkan cerita masing-masing tempat perhentian dengan earphone yang tersedia. Saya turun di perhentian ke-13 di Brandenburg Tor atau Gerbang Brandenburg.

Bradenburg Tor
Bradenburg Tor

Gerbang Brandenburg dulunya adalah gerbang kota, adalah simbol kemenangan bagi Berlin dan Jerman. Gerbang ini juga dekat dengan Hotel Aldon, tempat Leonardo DiCaprio dan Ewan McGregor menginap hari itu terkait dengan pemutaran film di acara The 60th Berlinalle. Banyak orang berkumpul di depan hotel menanti sang bintang. Saya?

Meneruskan petualangan musim dingin ini, saya menumpang bis nomor 100 jurusan Zoological Garten–Alexanderplatz yang melewati banyak objek wisata di Berlin. Hasilnya? Saya bolak-balik dengan bis 100 sampai empat kali. Saya memuaskan diri turun di Berliner Dom, German Historical Museum, Gedung Berlin TV, dan Reichstag Building. Meskipun sendiri, saya puas dengan jalan–jalan hari itu.

Berlin TV Building
Berlin TV Building

Berliner Dom
Berliner Dom

14 Februari 2010

Suhu udara naik sedikit. Matahari bersinar terang sejak pukul delapan. Tapi angin dingin luar biasa menusuk tulang berhembus sejak pagi. Hari ini saya ditemani oleh Nelva, mahasiswi Indonesia yang sudah lima tahun menetap di Berlin. Menu kami hari itu adalah Tembok Berlin dan Checkpoint Charlie.

Kami naik kereta S Bahn dari Zoological Garten dan turun di Osbahnhoft, lalu jalan kaki sedikit. Saya sungguh menyukai grafiti yang ada di sepanjang sisa tembok Berlin. Masing–masing grafiti menceritakan pemikiran sang artis. Menarik. Sangat menarik.

Berlin Wall GraffitiBerlin Wall Graffiti
Grafiti di Berlin Wall

Setelah cukup berlama–lama di Tembok Berlin, saya menuju Checkpoint Charlie—tempat pengecekan paspor ketika Rusia dan Amerika masih membagi wilayah Berlin. Satu hal yang sangat saya sayangkan dari lokasi ini, semua dikelilingi toko-toko dan kafe yang kekini-kinian sehingga jalan bersejarah Checkpoint Charlie menjadi sempit. Sisi historis jalan tersebut menjadi baur dengan kehidupan urban kota Berlin. Saya sendiri tidak menikmati Checkpoint Charlie karena penuh dengan turis yang sibuk berfoto–foto dan menelusuri sisa-sisa sejarah yang ada di situ. Mereka berjalan lambat dan membuat pedestrian zone padat tersendat.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang ketika saya dan Nelva menuju restoran Lebanon Al Redda di dekat daerah Pankow—daerah yang populasinya penuh para imigran. Saya cukup kaget bahwa hampir setengah pengunjung restoran tersebut adalah orang Indonesia. Setelah makanan tersaji, rasanya saya mengerti alasannya kenapa: dengan harga 6 Euro kita bisa makan nasi dan daging dengan porsi sangat besar! Sambal yang tersaji pedas berminyak (pasti disuka orang Indonesia) serta teh panas refill yang bisa diambil sebanyak kita mau. Saya pun ingin kembali lagi ke restoran ini jika diberikan kesempatan berkunjung ke Berlin di lain waktu.

Reichstag Building
Reichstag Building

Nelva dan saya menuju Reichstag Building dan Brandenburg Tor untuk foto–foto di sore hari. Akhirnya saya punya kesempatan foto diri dengan ikon–ikon kota Berlin (terima kasih buat Nelva!).

Pukul enam sore, I called it a day. Angin dingin masih berhembus sadis. Yang ada di kepala saya hanya kamar hangat dan mandi air panas.

15 Februari 2010

Hari terakhir di Berlin. Saya memutuskan untuk berkunjung ke German Historical Museum. Harga karcis masuknya 5 Euro untuk semua pameran. Gedung berlantai dua itu membagi koleksinya menjadi dua zaman. Lantai pertama untuk sejarah Jerman modern. Lantai dua untuk sejarah Jerman lama.

German Historical Museum
German Historical Museum

Saya melakukan kunjungan saya sesuai dengan kronologis waktu. Saya naik ke lantai dua dan menemukan koleksi peninggalan sejarah invasi Roma. Baju zirah peperangan, lukisan–lukisan Rembrandt, mesin cetak pertama di Jerman, topi Napoleon Bonaparte ketika perang Waterloo, baju kaisar, sampai lukisan Germania dalam beberapa versi. Luar biasa. Semua lukisan di sana berkesan magis. Namun satu lukisan yang sangat spesial buat saya hari itu adalah lukisan Marriane (lukisan yang dijadikan cover album terakhir Coldplay, Viva La Vida). Peperangan dan wanita sebagai simbol kemerdekaan. Menatap lukisan tersebut, saya merasakan kerinduan besar pada semangat kemerdekaan dan kemenangan atas perang sekaligus keletihan yang amat sangat.

Saya menikmati sejarah Jerman modern di lantai satu. Tentu saja kebanyakan bercerita soal Nazi, holocaust dan kamp konsentrasi Auswitch. Saya bergidik sembari mengingat–ingat film berlatar belakang Nazi yang saya tonton: Schindler List, The Downfall dan Inglorious Basterds. Pengutukan atas nama HAM yang pernah saya lakukan ketika menonton film–film tersebut tidak ada apa-apanya dengan perasaan saya ketika melihat foto–foto penghuni kamp Auswitch dan instalasi seni proses pembunuhan massal orang–orang Yahudi dengan gas beracun. Perasaan saya campur aduk: marah, sedih dan terhina sekaligus. Tapi lebih dari itu, saya menyukai keseluruhan koleksi lantai satu German Historical Museum.

Kunjungan saya berikutnya adalah masjid. Saya penasaran dengan kehidupan muslim Indonesia di Berlin. Menurut Wikipedia, terdapat 36 masjid di Jerman dan 9% populasi masyarakat Jerman merupakan orang muslim. Untuk negara Eropa, jumlah tersebut cukup besar. Saya datang ke masjid khusus orang Indonesia di daerah Pankow. Di Jerman hanya ada satu masjid yang berbentuk masjid (dengan kubah dan bulan bintang), yaitu milik orang–orang Turki. Konon tanah untuk pembangunan masjid tersebut merupakan hadiah dari pemerintah Jerman untuk Turki. Sementara itu masjid–masjid lain biasanya berbentuk hall di gedung–gedung apartemen.

Selesai salat Asar, saya menuju Alexanderplatz untuk menemui Nelva. Ternyata dia bersama dua orang temannya. Saya diajak mereka makan prasmanan di restoran milik orang Indonesia. Namanya restorannya MamaYes. Pemiliknya adalah Reza dan Tengku. Menyenangkan. Restoran mungil yang sangat homey. Makanan prasmanan bisa dinikmati dengan harga 5 Euro saja.

Malamnya kami menuju perayaan film Berlinalle untuk mencari suasana festival dan crowd pecinta film. Tentu saja acara sudah selesai, tapi orang–orang masih berkumpul dan memenuhi arena red carpet. Berlinalle mengingatkan saya akan Jiffest di Jakarta. Bedanya, aktor–aktor film yang diputar pada acara tersebut datang menghadiri pemutaran film mereka. Leonardo DiCaprio datang pada preview Shutter Island dan Ewan McGregor datang pada preview Ghostwriter. Kami berfoto dekat red carpet sebelum menutup hari dengan pergi ke Billy Wilder’s pub. Kami menghabiskan beberapa jam dengan ngobrol–ngobrol sampai pagi. Di perjalanan pulang, saya melihat Berlin untuk terakhir kalinya.

Tujuh Hal tentang Jerman

  1. Hampir semua film berbahasa selain Jerman disulih suara (dubbing), baik yang tayang di televisi maupun di bioskop. Saya menonton rerun Friends dan Southpark berbahasa Jerman di televisi. Hilarious.
  2. Tanda–tanda jalan dan papan informasi di Jerman menggunakan bahasa Jerman. Jadi ada baiknya belajar sedikit bahasa Jerman sebelum pergi ke sana.
  3. Orang Turki adalah imigran terbanyak di Jerman, hampir 14.000 orang. Karena itu Anda tidak akan kesulitan mencari restaurant Turki.
  4. Tembok Berlin yang masih asli tanpa grafiti berada di daerah Mitte, Berlin.
  5. Walikota kota Berlin, Klaus Woweirit, adalah seorang gay. Masyarakat Berlin menyukai walikota mereka.
  6. Pada bulan Februari, Jerman mengadakan karnaval untuk mengusir roh jahat musim dingin. Selama karnaval berlangsung orang bebas minum minuman alkohol kapan saja. Kota teramai yang merayakan karnival ini adalah Bonn.
  7. Selalu beli tiket harian untuk transportasi publik. Tiket tersebut bisa dipakai untuk bis dan kereta (bahn).

Disunting oleh ARW & SA 08/03/2010


© 2017 Ransel Kecil