Artikel-artikel yang ditulis oleh Dita Ramadhani (halaman 1 dari 2)

“Live on Board” di Komodo

Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca
Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca

Tujuan perjalanan saya ke Komodo sangat jelas. Live on board (tinggal di kapal) selama lima hari dan menyelam 15 kali. Perjalanan kali ini telah direncanakan dengan matang oleh saya dan delapan orang teman sejak bulan November 2013. Kami sengaja memilih akhir Maret sampai awal April 2014 sebagai agenda perjalanan kami mengingat curah hujan rendah di daerah Nusa Tenggara Timur pada bulan itu. Awalnya saya berpikir di akhir Maret, Komodo akan bersemi hijau dan saya tidak mungkin bertemu dengan savana cokelat indah khas Komodo yang terkenal. Ternyata salah. Komodo di bulan Maret justru menghadirkan gabungan antara savana dan “musim semi” yang baru mulai.

Trekking di Pulau Rinca
Trekking di Pulau Rinca

Saya dan teman–teman terbang paling pagi dari Denpasar ke Labuan Bajo. Sampai di sana kami disambut udara panas dan matahari terik khas timur Indonesia . Setelah makan siang, kami bertemu dengan tur operator kami, CnD, sebelum akhirnya bertolak ke kapal KM. Embun Laut menggunakan kapal kecil.

Menikmati Pantai Mawan
Menikmati Pantai Mawan

Mengejar matahari terbenam
Mengejar matahari terbenam

Pemilik KM. Embun Laut sekaligus instruktur selam CnD bernama Condo Subagio atau Pak Condo. Kapal tiga level ini dulunya kapal kargo yang kemudian “disulap” oleh Pak Condo menjadi kapal wisata. Terdiri dari lima kamar tamu, dua kamar mandi, Embun Laut mampu mengakomodasi hingga 10 orang tamu. Meskipun lebih populer sebagai tur menyelam, CnD juga menyediakan jasa bagi mereka yang tidak melakukan penyelaman.

Komodo terdiri dari 17 pulau besar dan kecil. Pulau besarnya hanya Pulau Rinca dan Komodo. Di dua pulau inilah habitat utama Komodo. Kami menyempatkan berkunjung ke kantor Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca dan melakukan trekking, melihat pemandangan Gili Lawa Laut dari atas. Ditemani dua jagawana (forest ranger), trekking siang kami menyenangkan dan informatif. Cerita seputar Komodo si kadal besar begitu menarik. Misalnya, Komodo berenang untuk menyeberang dari pulau satu ke lainnya. Mereka menutup lubang hidung dengan lidah mereka yang panjang bercabang sembari berenang.

Penyelaman kami di Komodo berjalan lancar. Kami puas melihat biota laut luar biasa seperti manta ray, ikan napoleon, black tip dan white tip shark, serta beragam karang (coral reef) yang kaya. Kami menyelam ke satu goa kecil dimana konon ikan–ikan berenang terbalik di dalamnya. Tidak hanya di atas permukaan laut, di bawah lautpun Komodo benar-benar indah.

Matahari terbenam
Matahari terbenam

Berkunjung ke Komodo belum lengkap tanpa berjemur di pantai dengan pasir kemerahan. Kami dibawa ke Pantai Mawan dan menikmati pantai itu untuk kami sendiri. Mewah. Sehari sebelum kembali ke Labuan Bajo, kami trekking ke pulau tak berpenghuni demi mengejar matahari terbenam. Langit bersih Komodo memang benar – benar juara! Pagi hari biasanya langit kemerahan ungu, siang hingga sore biru cerah, malam hari penuh puluhan rasi bintang. Liburan kami di Komodo sukses membuat kami semua tidak ingin pulang. Saya sendiri ingin kembali lagi ke Komodo suatu hari nanti. Semoga.

  • Disunting oleh SA 16/06/2014

Kota Tua Veliky Novgorod, Rusia

Perjalanan ke Veliky Novgorod memakan waktu sekitar lima jam dengan kereta cepat dari Moskow. Novgorod terletak antara kota Moskow dan St. Petersburg, sepanjang sungai Volkhov. Novgorod baru saja berulang tahun ke-900 saat saya tiba. Kota ini sendiri berumur lebih tua dari itu (nama kota Novgorod tercatat sejak tahun 862). Menurut sejarahnya, Novgorod adalah kota perdagangan penting dan pernah melepaskan diri dari Rusia. Kota ini memiliki sejarah panjang dengan bangsa Skandinavia dan disebut sebagai ibu kota bagi empat raja Viking. Banyak manuskrip Slavik dan Finlandia ditemukan di kota ini.

The Kremlin di Novgorod.
The Kremlin di Novgorod.

Restoran Tall Ship di tepi Sungai Volkhlov.
Restoran Tall Ship di tepi Sungai Volkhlov.

Pada tahun 1570, Novgorod “dipaksa” bergabung kembali oleh Rusia setelah mengalami kelaparan berkepanjangan dan pembunuhan massal oleh Pangeran Ivan (Ivan The Terrible). Kremlin yang ada di Novgorod bisa jadi Kremlin pertama di Rusia. Kremlin sendiri berarti “gerbang”. Di dalam Kremlin terdapat Monumen Millennium of Russia, bercerita tentang 100 tokoh paling berpengaruh di Rusia. Terdapat pula Katedral St. Sophia. Kubah gereja Rusia yang berbentuk bawang bombay terinspirasi dari topi prajurit perang. Ketika perang musim dingin, bentuk ini tidak menahan salju di atas kepala.

Patung perunggu yang menceritakan 100 tokoh paling berpengaruh di Rusia.
Patung perunggu yang menceritakan 100 tokoh paling berpengaruh di Rusia.

Mengingat kota ini berpenduduk padat, penyebaran informasi/tanda bahaya bagi masyarakat jaman dulu menggunakan lonceng kota. Ada banyak lonceng di dalam Kremlin yang memiliki fungsi informasi berbeda. Dari Kremlin, saya dan teman-teman menyebrangi jembatan ke sisi seberang sungai ke arah Yugoslav Court dan beberapa katedral kecil yang sangat tua. Toko-toko tanda mata pun banyak ditemui. Penduduk Novgorod terkenal sebagai pengrajin kayu yang hasilnya lebih halus dan (tentu saja) harganya lebih mahal daripada di Moskow.

Taman bermain di sisi luar The Kremlin.
Taman bermain di sisi luar The Kremlin.

Di tepi luar Kremlin dibuat taman bermain anak-anak di bagian sungai tertinggi dan kering. Buat saya terlihat agak “maksa”, tapi mungkin ini cara mereka agar Kremlin tetap ramai dikunjungi. Sedangkan di jembatannya banyak dipakai untuk para pasangan “mengunci” janji mereka dengan gembok. Kemudian mereka menulis atau grafir nama-nama mereka di gembok tersebut.

Satu tempat menarik di Novgorod adalah restauran Tall Ship di tepi sungai Volkhov. Ruang makan resto ini pun menyerupai ruang kemudi kapal. Dengan balkon menghadap Kremlin, restauran ini memang punya daya tarik tersendiri. Setelah menikmati makan malam di sini, saya dan teman=teman berjalan kaki menyusuri sungai menuju hotel tempat kami menginap.

Mungkin karena letaknya yang lebih tinggi, udara Novgorod lebih dingin dari Moskow. Bongkahan-bongkahan es juga lebih banyak. Alhasil saya menahan dingin udara dan angin selama 30 menit sambil memegang payung karena hujan deras sepanjang perjalanan pulang. Saya membayangkan Novgorod akan lebih menyenangkan ketika musim panas. Tepi sungai pasti lebih ramai penduduk dan pengunjung.

Menikmati Moskow di Bulan April

St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.
St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.

Moskow begitu suram pada akhir musim dingin. Salju yang tidak cair sempurna masih ada di rerumputan, sungai dan pohon. Saya tiba di Moskow pada pertengahan April. Langit kelabu, jalanan kotor oleh salju bercampur tanah. Kesan “pasca” negara adidaya masih jelas terlihat dari gedung–gedung tinggi dan bentuk bangunan mereka yang berseni serta berwarna–warni.

Beruntung saya tinggal di hotel yang tak jauh dari pusat kota. Hanya 20-25 menit jalan kaki menuju Lapangan Merah (Red Square) dan Kremlin. Gerimis turun saat saya dan teman–teman berencana keliling kota dengan jalan kaki. Namun tidak ada yang urung untuk tetap menelusuri budaya Rusia. Kami berangkat tepat setelah makan siang!

Alexander Park
Alexander Park

Jalan–jalan kami diawali dengan mengunjungi Katedral Christ the Saviour yang merupakan gereja ortodoks tertinggi di dunia. Gereja ini dibangun pada tahun 1883 dan diruntuhkan semasa perang. Alih–alih dibangun kembali, pemerintah malah membangun kolam renang air panas untuk umum di atas tanah reruntuhannya dan menuai protes dari banyak pihak. Akhirnya pada bulan Agustus 2000, gereja ini dibangun kembali dengan mengulang tiap detil desain, lukisan, ukiran maupun pahatan mimbar. Di dalam, mural serta kubah sungguh indah, sayang pengunjung tidak diperbolehkan memotret.

Lapangan Merah hanya terletak 10 menit dari situ. Tapi, terlebih dahulu kami masuk ke dalam Kremlin. Kremlin berada di tengah antara Sungai Moskva (selatan), Katedral St. Basil dan Lapangan Merah (timur), Alexander Park (barat). Kremlin terdiri dari lima istana, empat katedral, dinding dan menara Kremlin. Empat katedral kecil di dalam Kremlin berbeda “aliran” karena Tsarina terdahulu ingin meraih sebanyak mungkin simpati rakyat dengan membangun gereja–gereja yang berbeda untuk mereka. Saat ini Kremlin masih digunakan sebagai kediaman resmi presiden Rusia.

Lapangan Merah (Red Square)
Lapangan Merah (Red Square)

Hal lucu yang kami temui di salah satu katedral di dalam Kremlin itu adalah bagaimana asal pelukis memengaruhi warna pada setiap lukisan yang ada. Pelukis gereja asal Rusia selalu melukis karakter/tokoh orang/ malaikat dengan warna kulit putih. Sementara pemugaran dan perbaikan gereja dilakukan oleh pelukis asal Itali yang menggunakan warna gelap untuk kulit (coklat tua). Sehingga ada bagian – bagian tertentu dimana manusia dan malaikat digambarkan dengan warna kulit putih dan ada yang berkulit hitam padahal mural itu menggambarkan satu rangkaian cerita.

The Kremlin
The Kremlin

Dari tepi Kremlin pemandangan kota Moskow sangat indah. Wisata gereja kami pun sungguh berkesan. Kami berjalan ke gerbang luar menuju taman kota yang membentang sepanjang sisi depan Kremlin ke arah lapangan merah. Dekat gerbang luar kami mendapati bangunan terpisah yang dijaga ketat. Ternyata bangunan tersebut adalah apartemen Lenin. Di situlah dia menghabiskan masa–masa terakhir hidupnya dengan membawa seluruh keluarga besarnya menetap di sana.

Lapangan Merah dikelilingi bangunan–bangunan tua yang indah, termasuk gereja St. Basil yang merupakan ikon terkenal kota Moskow. Saya sengaja memotret St. Basil saat siang dan malam hari karena menurut kabar, bangunan tersebut memiliki karisma mistis yang berbeda saat terang dan gelap. Di bagian luar lapangan merah banyak kaki lima menjajakan tanda mata dan pin-pin kuno jaman perang.

Satu hal yang sangat disayangkan dari Lapangan Merah adalah bangunan panjang di sisi kiri yang dialihfungsikan menjadi pusat perbelanjaan dengan lampu terang-benderang yang mengingatkan saya akan istana di Disneyland.

Tidak sulit menemukan restauran atau kafe enak di Moskow. Resto fusion Asia pun banyak. Hanya saja harganya memang mirip dengan standar Eropa. Siap–siap tutup mata saat bayar. Ada satu restoran Ukraina yang letaknya dekat Kremlin. Dengan suasana hangat khas petani, resto ini sangat nyaman dengan pilihan makan beragam seperti lidah sapi rebus, vodka cabai (chilli vodka) serta roti dadar dengan salmon mentah dan keju.

Pusat kota Moskow menyenangkan bagi saya. Ada kesan klasik dan modern jadi satu. Lapangan merah dan Taman Alexander selalu “hidup” siang dan malam menjadi tempat nongkrong berbagai usia. Satu lagi hal menarik dari Moskow adalah Moskow Metpo (dibaca: Metro) atau kereta bawah tanah. Keretanya mungkin sama saja dengan kereta bawah tanah negara lain, tapi stasiun bawah tanahnya mengesankan. Selalu ada desain berbeda yang ditemui di tiap stasiun, entah mural atau mozaik yang menceritakan perang, atau patung-patung serta pedang–pedang tembaga sepanjang lorong stasiun. Lebih mirip basement istana atau bunker perang daripada stasiun kereta.

Moskow mempunyai pasar tradisional yang terkenal, Izmailovo. Letaknya agak jauh dari pusat kota namun barang–barang yang dijual jauh lebih murah. Selain tanda mata umum seperti kaus, matryoshka, magnet atau gantungan kunci, Izmailovo menjual barang–barang bekas menarik dengan berbagai harga mulai dari kamera analog, lukisan tua dan pin kuno.

  • Disunting oleh SA 27/06/2013

Bermain Bersama Gajah di Tesso Nilo

Perjalanan ke Taman Nasional Tesso Nilo hanya memakan waktu empat jam dari kota Pekanbaru, Riau. Saya dan teman-teman menyewa mobil seharga Rp500.000 untuk sekali jalan (termasuk ongkos pak supir dan uang makannya) dari Pekanbaru ke taman nasional menuju Flying Squad Camp. Jangan bayangkan di sana menginap dengan tenda karena akomodasi di Tesso Nilo semuanya rumah-rumah kecil untuk tamu walaupun namanya “camp“. Biayanya? Gratis, asalkan menghubungi Flying Squad Camp yang ada sebelum perjalanan. Biaya untuk penginapan bisa dialihkan ke anggaran makan yang berkisar antara Rp15.000 – Rp25.000 per sekali makan.

Kamar di "Flying Squad Camp"
Kamar tempat menginap saya

“Tesso Nilo” diambil dari nama dua sungai besar yang ada di Riau, Sungai Tesso dan Sungai Nila. Kira-kira 20 menit dari camp, ada jembatan yang melintas Sungai Nila. Nah, di sini tempat masyarakat mencuci baju, mandi dan memancing. Kebetulan saya dan teman-teman gemar mandi di sungai, jadi tidak mungkin melewatkan kesempatan ini. Air sungai sedikit kemerahan karena bercampur gambut. Yang unik, pinggiran sungai semuanya pasir putih mirip pantai. Kami menemukan batang kayu besar mencuat dari bukit samping sungai dan lompat ke air dari situ secara bergantian. Ketika hari mulai gelap kami naik dan duduk-duduk di pasir putih sambil menunggu mobil jemputan.
Sebelum tahun 2000, taman nasional ini “habis” dirambah para pembalak liar. Jangan heran jika memasuki wilayah taman nasional, jarang ditemui pohon hutan alam karena didominasi pohon akasia (pohon akasia merupakan pohon tanaman industri pulp dan kertas). Adanya pohon akasia menandakan daerah ini dulunya ditebang habis, kemudian ditanami kembali oleh satu jenis pohon saja demi keperluan bisnis.

Mahout melatih gajah
Mahout” melatih gajah

Nama “Flying Squad” sendiri terkait dengan program elephant flying squad, yaitu sebuah program yang dirintis WWF-Indonesia, sebuah organisasi konservasi, untuk melatih gajah liar menjadi “jinak” demi mitigasi konflik manusia dan gajah di kawasan Tesso Nilo. Gajah-gajah ini dilatih melakukan patroli di hutan dan menghalau gajah liar untuk meminimalisir konflik antara masyarakat dan gajah liar yang masuk ke desa-desa. Walaupun terdengar menyenangkan, pekerjaan melatih gajah sangat berat. Para pelatih disebut “em>mahout“, berasal dari Bahasa India. Nyawa adalah taruhan terbesar dalam pekerjaan mereka. Menghalau gajah liar yang marah adalah pekerjaan yang hasilnya tidak bisa diprediksi.

Tujuan perjalanan saya ke Taman Nasional Tesso Nilo untuk bertemu para mahout serta peneliti harimau Sumatra. Tiap hari saya mendengar kisah pekerjaan mereka yang begitu inspiratif dalam melatih gajah atau mencari jejak harimau, termasuk bertemu dengan masyarakat lokal.

Masing-masing gajah memiliki karakter tersendiri. Ada 10 gajah latih di sana bernama Ria, Lisa, Indro, Rahman, Nofi, Dono, Tesso, Nela, Imbo dan Jambo.

Mahout memandikan gajah
Mahout memandikan gajah

Penduduk sekitar mandi dan mencuci baju
Penduduk sekitar mandi dan mencuci baju

Bagi yang datang ke sana dan tertarik melihat gajah sedang mandi, para mahout akan senang menemani. Satu peringatan dari saya saat naik gajah: pegang talinya yang erat! Saya sendiri jatuh ke sungai saat naik gajah. Pengalaman lucu yang tak terlupakan. Selama dekat gajah, pakai lotion anti serangga karena banyak lalat yang menempel di badan gajah, atau ambil satu ranting dengan beberapa cabang daun dan tepuk badan gajah agar lalat pergi.

Sepotong Kisah di Daerah Perbatasan

Ini bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan. Tapi yang membuat kabupaten Nunukan menarik adalah letak geografisnya. Nunukan merupakan sebuah pulau kecil yang terpisah dari pulau utama Kalimantan namun masuk dalam provinsi Kalimantan Timur. Untuk menuju ke sana, saya naik pesawat Sriwijaya Air dari Jakarta sampai Balikpapan. Setelah itu, dilanjutkan dengan Susi Air dari Balikpapan sampai Tarakan, kemudian Tarakan sampai Nunukan—semuanya di hari yang sama.

Pelabuhan
Pelabuhan

Tidak banyak yang bisa dilihat di kota Nunukan sendiri (sebagai informasi, nama ibukota kabupaten dan kabupatennya sama). Kebanyakan hanya toko-toko kecil sepi dan rumah penduduk. Namun, ketika menuju komplek gedung-gedung pemerintahannya, mereka boleh bangga. Semua gedung pemerintahan di Nunukan, seperti kantor dinas atau bupati, rata-rata seperti “istana”. Gedungnya besar dan megah dengan taman luas. Buat saya, rasanya aneh melihat pemandangan komplek gedung mewah ini di atas bukit yang sepi dengan kota berpenduduk jarang (sekitar hanya sepuluh jiwa per kilometer persegi).

Menuju Sebuku
Menuju Sebuku

Saat itu, tujuan saya ke Nunukan adalah untuk melakukan assessment sosial di wilayah hutan alam. Jadi, esok harinya perjalanan saya lanjutkan dengan perahu motor cepat selama 1,5 jam menuju Desa Sebuku. Paginya saya sempatkan mampir ke mini market samping hotel. Cemilan kemasan buatan Malaysia memenuhi rak. Semua tampak menggiurkan dan enak. Makanan-makanan ini pun dijual di warung-warung kecil pelabuhan Nunukan. Pelabuhan boleh jadi tempat paling trendi di Nunukan. Malam minggu pelabuhan penuh orang jualan, duduk-duduk melihat kapal antar propinsi dan antar negara berlabuh.

Desa Sebuku
Kampung di Dekat Pelabuhan

Oke, kembali ke tujuan saya ke Nunukan. Kenapa daerah itu yang dipilih? Sederhana. Alasannya adalah Gajah Nunukan atau pygmy elephant menetap di wilayah hutan alam yang saya datangi. Dilihat dari DNA, Gajah Nunukan berbeda dengan Gajah Sumatera, Afrika maupun Thailand. Belum ada teori pasti kenapa ada gajah di Kalimantan. Menurut catatan sejarah, gajah-gajah ini bisa jadi didatangkan sebagai upeti atau hadiah untuk raja pada zaman dahulu. Secara fisik, Gajah Nunukan lebih kecil dari Gajah Sumatera, berambut dan bertelinga kurang lebar.

Perjalanan perahu motor cepat ke Desa Sebuku terasa cepat, melewati perkebunan sawit di kanan dan kiri, hutan sekunder dan hutan bakau. Seorang kolega saya melihat pesut (mamalia air), sayangnya saya terlalu sibuk memotret hutan waktu itu. Sampai di Desa Sebuku, saya kaget mendapati perkebunan sawit sangat luas (sampai lima hektar ke dalam hutan). Saya deg-degan. Isu inilah yang akan saya tanyakan pada saat wawancara dengan masyarakat lokal di sana.

Saya menginap di kamp perusahaan pengelola hutan alam. Tempatnya bersih dan rapi. Esok pagi seusai sarapan saya menuju Desa Tabuh Lestari dan Samaenre. Mulai dengan naik perahu motor cepat selama 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan ojek. Ini mungkin ojek termahal yang pernah saya gunakan. Rp70.000 sekali jalan. Bukan karena jauh, tapi bensin langka. Di Nunukan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) buka hanya beberapa kali sebulan, kadang tidak buka sama sekali. Akhirnya, bensin dijual ilegal oleh masyarakat dengan harga Rp18.000 per botol minuman ukuran sedang, sekitar 600cc.

Hutan yang Digarap
Hutan yang Digarap

Sampai di desa, saya melakukan wawancara dengan beberapa tokoh desa dan mendapati fakta bahwa beberapa perusahaan sawit dan batu bara beroperasi di sekitar desa mereka. Pemerintah daerah juga sudah mengeluarkan cetak biru kota mandiri di dekat situ lengkap dengan SPBU, pusat perbelanjaan kecil, komplek perumahan, sekolah, dan sebagainya. Sungguh saya tak habis pikir. Selama ini bensin dijual ilegal di Nunukan karena langka, dan pemerintah mau buka lahan untuk kota mandiri dengan SPBU? Belum lagi bahan bakar perahu motor cepat yang harus dikeluarkan dari tengah kota ke daerah Desa Sebuku.

Sedih melihat hal-hal seperti ini harus terjadi di Indonesia, terutama di daerah perbatasan. Banyak kebun sawit milik masyarakat kita yang kemudian dijual ke Malaysia. Kesadaran mereka untuk menjaga hutan dan wilayah sekitar bisa dibilang kecil. Salah siapa?

  • Disunting oleh SA 24/02/2012