Artikel-artikel yang ditulis oleh Dita Anggrawati

Museum Fujiko F. Fujio: Bernostalgia dengan Doraemon

“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali…”

Familiar dengan lagu di atas? Mungkin anda sama seperti saya, tumbuh dan besar dengan cerita-cerita Doraemon, yang memungkinkan daya khayal kita tumbuh tinggi tanpa batas. Zaman saya kecil, komik Doraemon itu salah satu bacaan favorit selain rajin menonton film kartunnya di televisi. Sampai sekarang pun rasanya saya masih menikmati cerita-cerita Doraemon terutama seri Doraemon Petualangan. Hanya di seri Doraemon Petualangan, Nobita tiba-tiba menjadi keren dan berubah jadi sosok pahlawan! Saya pun sering berandai-andai, jika saja pintu ke mana saja itu nyata, alangkah menyenangkan. Tinggal sebut mau ke mana, dalam sekejap mata bisa sampai. Ah, Doraemon…

Antrian shuttle bus Doraemon Museum di stasiun Noborito.
Antrian shuttle bus Doraemon Museum di stasiun Noborito.

Kafetaria museum
Kafetaria museum.

Patung Doraemon, Nobita dan Piisuke.
Patung Doraemon, Nobita dan Piisuke.

Kecintaan saya terhadap anime ini membuat saya merasa wajib untuk mengunjungi Fujiko F. Fujio Museum di Jepang. Saya sendiri sebetulnya lebih senang menyebutnya Doraemon Museum, karena sebagian besar isi museum itu menceritakan tentang Doraemon. Kebetulan letaknya juga tidak terlalu jauh dari Tokyo, hanya sekitar 20 menit dari stasiun Shinjuku dengan Odakyu line, jadi masih terjangkau. Tiket masuknya tidak dijual langsung di museum, tetapi hanya bisa dibeli di Lawson yang ada di Jepang. Harga tiketnya 1000 Yen per orang. Jadi jika berniat berkunjung ke museum ini, sesampainya di Jepang sebaiknya langsung menuju Lawson terdekat untuk pemesanan tiket, agar tidak kehabisan. Pihak museum membatasi jumlah tiket setiap jamnya untuk memberikan kenyamanan terhadap pengunjungnya.

Meskipun begitu, saya tidak menyangka animo pencinta Doraemon sedemikian besarnya. Atau mungkin karena saya berkunjung di hari Sabtu. Di saat ujung minggu seperti ini, pengunjung museum sangat padat, kebanyakan adalah keluarga dengan anak-anaknya, jadi saya tidak bisa menghabiskan waktu agak lama di satu objek tertentu karena antrian yang terus berjalan.

Museum ini menyediakan shuttle bus dari stasiun Noborito dengan tarif 200 Yen sekali jalan. Tetapi karena saya punya waktu lebih banyak, saya memutuskan untuk turun di stasiun Mukogaoka Yuen dan menuju museum dengan berjalan kaki. Begitu keluar dari stasiun, saya seperti berada di sebuah kota kecil yang tertata apik. Saya pun memutuskan mengikuti jalan besar seperti yang tertera pada peta, dan menemukan papan petunjuk arah menuju museum. Di tengah jalan, saya bertemu sepasang remaja yang juga menuju museum Doraemon, mengingatkan saya akan Nobita dan Shizuka.

Jalan menuju ke museum
Jalan menuju ke museum.

Gian Soft Cream
Tertarik mencoba “Gian Soft Cream”?

Cinderamata Doraemon
Cinderamata Doraemon.

Sesampainya di museum, ternyata sudah banyak orang yang mengantri. Saya pun segera masuk barisan karena jam sudah menunjukkan lewat pukul 12, yakni jam yang tertera di tiket masuk yang saya beli. Sebelum masuk ke area museum, kita akan dibekali dengan pemandu audio elektronik dengan pilihan bahasa Jepang atau bahasa Inggris. Oh iya, tidak diperbolehkan membawa makanan, minuman ataupun mengambil foto di dalam museum.

Di lantai pertama kita akan disuguhi gambar-gambar asli karya Fujiko F. Fujio, yang aslinya bernama Hiroshi Fujimoto, dan cerita dibalik karya tersebut. Contohnya, ada satu gambar tentang dewi dalam salah satu cerita Doraemon dengan rambut panjang berwarna hijau terang, rupanya warna hijau itu adalah warna yang salah digunakan oleh asisten beliau, namun akhirnya melihat hasilnya yang cukup bagus malah digunakan sebagai warna utama. Ditampilkan juga deretan laci yang dibangun sampai ke atap bangunan dan diberi nomor. Itulah cara beliau menyimpan semua karya aslinya selama ini. Disimpan dalam laci kayu di dalam ruangan dengan temperatur tertentu. Saya takjub melihat laci sebanyak itu!

Selepas ruang pameran, ditampilkan sejarah perjalanan Fujiko F. Fujio bagaimana beliau menjadi seorang seniman manga. Lahir di tahun 1933, beliau memulai debut karya pertamanya di tahun 1951. Doraemon sendiri mulai diciptakan sekitar tahun 1961. Dipamerkan juga barang-barang bersejarah seperti paspor yang dulu beliau pakai dan foto-foto beliau jaman dahulu. Kemudian, yang juga sangat menarik, dipamerkan meja kerja beliau ketika membuat semua karya-karyanya. Bahkan saya juga baru tahu bahwa beliau selalu melakukan riset terlebih dahulu sebelum membuat seri-seri Doraemon Petualangan itu. Ingat cerita Nobita dan Doraemon yang berteman dengan Piisuke, hewan jinak mirip dinosaurus yang dipelihara Nobita? Ternyata ada banyak sekali buku-buku tentang dinosaurus dan patung-patung hewan jaman purba di meja kerja Fujiko F. Fujio!

Naik ke lantai dua, kita akan menjumpai ruang pameran berisi cerita-cerita Doraemon seri petualangan, sembari mendengar penjelasan melalui pemandu audio elektronik. Saya jadi mengingat-ingat seri Doraemon yang sudah pernah saya baca. Di lantai ini pula ada satu bagian yang membuat saya terharu, diceritakan tentang keseharian Fujiko F. Fujio diluar pekerjaannya, yakni keseharian beliau sebagai seorang suami dan ayah. Bagaimana beliau masih menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk putri-putrinya (beliau punya tiga putri), dan bermain bersama mereka. Di satu video, Mrs. Fujimoto (istri Fujiko F. Fujio) mengakui bahwa suaminya betul-betul memisahkan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadinya. Bahkan ketika anak-anaknya masih kecil, mereka tidak mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang seniman manga terkenal. Ada satu surat yang ditulis oleh Mrs. Fujimoto ditujukan kepada suaminya, yang isinya membuat saya hampir menangis. Di surat itu, Mrs. Fujimoto menuliskan kerinduannya terhadap suaminya, (Fujiko F. Fujio meninggal tahun 1996), dan menyatakan bahwa dia yakin spirit suaminya hadir bersama karya-karyanya yang sampai sekarang masih menginspirasi jutaan anak di dunia.

Lapangan bermain Doraemon
Lapangan bermain yang biasa digunakan karakter-karakter di Doraemon.

Pintu Ke Mana Saja
“Pintu Ke Mana Saja”.

Bangkitkan nostalgia masa kecil di sini
Bangkitkan nostalgia masa kecil di sini.

Tampak depan museum yang modern
Tampak depan museum yang modern.

Nah, di lantai ketiga yang merupakan lantai paling atas, disediakan tempat bermain di bagian atap di mana kita bebas mengambil foto sebanyak-banyaknya dengan ‘Doraemon’. Apabila lapar, terdapat kafe dan makanan makanan untuk dibawa keluar. Selesai makan dan puas berfoto dengan Doraemon, saatnya kembali turun ke lantai dasar dan berbelanja suvenir di toko cinderamata. Di sini tersedia berbagai macam barang dengan karakter buatan Fujiko F. Fujio. Agak terkejut juga melihat banyak barang dengan gambar Giant, ternyata dia populer juga, ya.

Misi tercapai. Selesai sudah kunjungan singkat saya ke museum ini. Sejenak saya seperti kembali ke masa lalu, bernostalgia dengan semua cerita-cerita Doraemon yang dulu sering menemani saya. Menghidupkan kembali mimpi-mimpi semasa kecil dulu. Doraemon merupakan anime terkenal dan abadi. Saya pun kembali menuju stasiun, kali ini menumpang shuttle bus (yang interiornya juga dipenuhi gambar Doraemon!) dan membawa saya menuju stasiun Noborito, sembari berdendang sepanjang jalan.

“La, la, la… Aku sayang sekali… Doraemon…”

  • Disunting oleh LEN 28/11/2013

Selamat Datang di Pulau Nami!

Sapaan hangat yang ditulis di papan tembus pandang itu menarik perhatian begitu saya menginjakkan kaki di pulau kecil ini. Ya, sapaan itu tertulis dalam bahasa Indonesia (atau mungkin bahasa Melayu, mengingat ada bendera Indonesia, Malaysia dan Singapura di bawah tulisan itu), bukan bahasa Inggris apalagi bahasa Korea di mana Pulau Nami ini berada.

Terkenal sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar drama Korea terkenal “Winter Sonata“, Pulau Nami sekarang menjadi salah satu tujuan wisata favorit para turis yang berkunjung ke Korea Selatan. Terletak kurang lebih 63 km dari kota Seoul, kita dapat menjangkau pulau ini dengan beberapa cara. Apabila menggunakan kendaraan pribadi atau mobil sewaan, tinggal arahkan mobil menuju Gapyeong Wharf. Tempat ini merupakan pintu masuk ke “Naminara Republic”. Menuju pulau Nami dengan transportasi umum? Silakan memilih naik shuttle bus atau menggunakan kereta ITX, kereta ekspres yang baru saja beroperasi sejak bulan Februari 2012.

Kapal kecil ke Pulau Nami.
Kapal kecil ke Pulau Nami.

Pintu gerbang Pulau Nami dan penjaganya.
Pintu gerbang Pulau Nami dan penjaganya.

Sesampainya di Gapyeong Wharf, kita harus membeli tiket masuk yang mereka sebut “visa fee“. Asyiknya, berbeda dengan kebanyakan di tempat lain, Pulau Nami ini mematok harga “visa” lebih murah untuk orang asing. Harga “visa” untuk orang asing adalah 8.000 won, atau sekitar Rp72.000, sementara harga “visa” yang diperuntukkan untuk warga setempat adalah 10.000 won. Mau lebih murah lagi? Datang saja ke pulau Nami diatas jam enam malam, harga “visa”-nya 4.000 won saja. Tapi, jangan lupa membawa senter karena penerangan sangat jarang.

Sengaja dibuat seolah-olah sebuah “negara” yang berdiri sendiri, Pulau Nami menamai wilayah mereka yang hanya seluas 480.000 meter per segi atau kurang lebih lima kilometer per segi itu dengan sebutan “Naminara Republic” sejak tahun 2006. Mereka mempunyai stempel resmi, seragam resmi para perangkat negara (yang agak mirip koboi, lengkap dengan topinya), harga “visa” dan “paspor”. Paspor ini merupakan sebutan untuk tiket terusan (pass) gratis yang berlaku selama satu tahun. Pemegang paspor Naminara Republic berhak untuk keluar masuk pulau ini selama setahun penuh sejak waktu pembeliannya. Harga paspor itu dibanderol 25.000 won (sekitar Rp225.000). Cukup murah untuk sebuah daerah wisata yang lengkap seperti Pulau Nami.

Setelah mendapatkan visa, kita harus mengantri naik feri menuju Pulau Nami, karena pulau ini sejatinya terletak di tengah-tengah Danau Cheongpyeong. “Visa” yang dibeli sebelumnya sudah termasuk biaya pulang pergi untuk naik feri ini. Feri berangkat setiap 10 – 30 menit sekali,  semakin sore semakin lama selang waktu keberangkatannya. Feri terakhir beroperasi hingga pukul 21.45 malam. Malas naik feri? Ada cara terkeren untuk mencapai pulau Nami yang ada di tengah danau itu. Caranya? Naik zip wire! Pemerintah “Naminara Republic” menyediakan flying fox untuk menyeberangi Danau Cheongpyeong. Cukup membayar 38.000 won (sekitar Rp341.000), maka anda bisa meluncur ria menyeberangi Danau Cheongpyeong menuju Pulau Nami. Tentu saja, zip wire ini hanya ditujukan untuk yang berani. Maksudnya, mungkin, berani tidak membayar begitu mahal untuk menyeberang danau!

Piknik di Pulau Nami.
Piknik di Pulau Nami.

Winter Sonata Cafe.
Winter Sonata Cafe.

Winter Sonata Lane.
Winter Sonata Lane.

Begitu memasuki daerah Pulau Nami, kita akan disambut dengan deretan pohon tinggi yang berjejer lurus. Dingin sekali rasanya melihat suasana alam yang masih terjaga seperti itu. Pulau Nami ini memang menjunjung konsep perpaduan antara manusia, hewan dan tumbuhan untuk “living in harmony far away from crowd and civilization“. Jadi pulau ini memang seperti tempat berlibur untuk bersantai dan istirahat bagi warga kota Seoul dan sekitarnya. Mereka masih bisa menikmati udara bersih, tanaman yang rindang, tupai yang berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya, cantik sekali. Pada umumnya pengunjung adalah pasangan muda yang asyik berpacaran. Tidak jarang juga, saya melihat keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang menghabiskan waktu mereka dengan berpiknik di pulau ini. Di suatu sudut pulau, malah ada tempat yang disediakan untuk menyimpan buku yang dapat dibaca oleh pengunjung dengan bebas. Saya melihat seorang ibu yang sedang tekun membacakan cerita dari buku untuk kedua putrinya, manis sekali.

Berkeliling di pulau selain jalan kaki, bisa juga menggunakan kereta yang disediakan oleh “pemerintah Naminara Republic”. Penyewaan sepeda dan Nami Car juga ada. Tidak akan capek, deh, keliling pulau kecil ini. Tempat yang paling populer di Pulau Nami tak lain tak bukan adalah Winter Sonata Lane. Tempat romantis ini menjadi lokasi utama pengambilan gambar drama Korea yang terkenal pada zamannya itu. Nama sebenarnya Metaseqouia Lane. Metaseqouia Lane sebenarnya merupakan jajaran pepohonan yang ditanam oleh tim Seoul National University di tahun 1977. Di sekitarnya banyak terdapat tempat yang berbau Winter Sonata. Ada patung pemeran cowok dan cewek utama di drama Korea tersebut, penyewaan sepeda, Winter Sonata Café dan toko cinderamata. Penggemar drama Winter Sonata pasti akan “menggila” di sini. Selain Winter Sonata Lane ini, banyak juga spot lain yang menjadi lokasi pengambilan gambar drama seperti First Kiss Bridge, lokasi di mana kedua tokoh utama melakukan ciuman pertama. Aduhai.

Seperti halnya tempat wisata terkenal, tidak perlu khawatir akan akomodasi dan kuliner. Di Pulau Nami, terdapat berbagai macam restoran, mulai dari tradisional Korea, Jepang, Cina, sampai masakan Italia. Mau lebih lama menjelajah Pulau Nami? Tinggal pesan kamar di Naminara Hotel Jeonggwanru saja untuk bermalam. Anda tidak akan menemukan internet dan TV di hotel ini, karena konsepnya memang sengaja mendekatkan diri ke alam. Tarifnya cukup terjangkau dan ada potongan harga pula jika menginap di hari minggu sampai kamis. Lumayan, kan?

Namun dari semua itu, yang membuat saya salut dengan pulau kecil ini adalah bagaimana mereka melakukan branding. Bagaimana mereka mencoba menarik para turis mancanegara dengan semua fasilitas yang ada. Tidak jauh dari deretan pepohonan tinggi tadi, anda akan menemukan deretan papan dengan bendera beberapa negara. Papan ini memuat foto dan beberapa informasi penting tentang negara yang bersangkutan. Sayangnya seluruh informasi ditulis dalam bahasa Hanggeul. Buat saya, ini sungguh strategi pemasaran yang menarik. Bisa ditebak, para turis ini pasti akan senang sekali melihat nama dan bendera negaranya terpasang di sebuah pulau kecil yang jaraknya ribuan kilometer dari negara asalnya. Belum lagi bagaimana mereka menggunakan nama tenar Winter Sonata sebagai salah satu media promosi wisatanya. Wah, semakin ramai sepertinya pulau kecil ini. Tahun 2012 ini, Pulau Nami diperkirakan telah dikunjungi oleh sekitar 500.000 wisatawan mancanegara. Itu baru jumlah wisatawan yang mengunjungi Nami melalui agen perjalanan dan semacamnya. Belum termasuk yang perorangan dan backpacker macam saya dan teman-teman.

Satu lagi yang membuat saya salut dengan Pulau Nami. Mereka menyediakan fasilitas prayer room (musholla) untuk pengunjung yang beragama Islam. Letaknya di dalam bangunan yang jadi satu dengan restoran dan ruang pameran seni. Saya sangat terkejut mendapati fasilitas musholla di sini. Jujur saja, fasilitas musholla di Pulau Nami ini sangat pantas dan termasuk salah satu yang terbaik menurut saya. Dengan semua fasilitas itu, saya tidak apabila sutau hari nanti, Pulau Nami akan jadi ikon pariwisata Korea Selatan. Daebak, Nami!

Ada dua cara menggunakan kendaraan umum yang cukup mudah menuju Pulau Nami:

  • Gunakan shuttle bus Naminara. Ada dua tempat di mana kita bisa menemukan shuttle bus ini, yakni Insa-dong (di sebelah Tapgol Park) dan di Jamsil. Bus berangkat pukul 09.30 pagi dari masing-masing tempat tersebut dan hanya satu kali keberangkatan setiap harinya. Jadi pastikan untuk memesan terlebih dahulu (bisa melalui email ke namibus@naminara.com). Harga tiket sekitar 23.000 won (sekitar Rp206.000) untuk perjalanan pulang-pergi dan “visa” untuk Pulau Nami.
  • Gunakan ITX (Intercity Train Xpress), kereta ekspres yang menghubungkan Seoul dengan Cheongchun. Dari Seoul bisa berangkat dari Yongsan atau stasiun Cheongyangni dan berhenti di stasiun Gapyeong (merupakan stasiun kereta terdekat dengan Gapyeong Wharf untuk menuju Pulau Nami). Dari stasiun Gapyeong dilanjutkan dengan taksi dengan ongkos sekitar 3.000-4.000 won saja ke Gapyeong Wharf.
  • Disunting oleh PW & SA 18/12/2012

Romantisnya George Town

Pernah dengar pameo “city for the newlyweds and the nearly deads“? George Town di Pulau Penang menurut saya adalah salah satu kota yang pantas mendapat julukan seperti ini. Kotanya yang tidak terlalu besar, tenang, damai, memberikan banyak kejutan yang menyenangkan. Berencana menikah di tahun naga ini? kenapa tidak menghabiskan bulan madu anda di kota ini? Ini dia beberapa titik yang bisa dikunjungi!

Pesona malam Penang Hill

Penang Hill
Penang Hill dari kereta pendaki.

Kereta ini bergerak ke atas dengan pelan, semakin lama semakin cepat dengan sudut ketinggian yang semakin curam. Saya yang memilih duduk di bagian depan kereta hanya bisa menahan napas, antara takut dan terlalu riang. Untung saja kereta ini baru direnovasi sehingga terlihat kuat dan bisa diandalkan, kalau tidak mungkin saya akan berpikiran macam-macam. Namun pikiran itu cepat teralihkan ketika kereta bergerak semakin ke atas, dan pemandangan indah terhampar di hadapan saya. Klik, klik! Pemandangan itu pun terabadikan dalam jepretan kamera saya.

Sempat ditutup selama beberapa waktu, tahun 2011 kemarin kereta Penang Hill itu kembali dibuka untuk umum. Begitu tiba di atas bukit, kita akan disambut oleh pemandangan yang luar biasa. Pemandangan kota George Town dan Pulau Penang akan terhampar luas di hadapan kita. Penang Bridge yang terkenal itupun terlihat seperti garis tipis dari kejauhan, menghubungkan Penang dengan semenanjung Malaysia. Di atas bukit ini pun kita akan menemukan kafe dan hotel, bagi yang berminat untuk menghabiskan waktu lebih lama.

Pemandangan dari Penang Hill ketika malam
Pemandangan dari Penang Hill ketika malam.

Ketika malam menjelang, langit perlahan akan berubah menjadi gelap, lampu-lampu kota mulai menyala. Penang Bridge pun mulai memunculkan warnanya, selintas garis kuning di atas laut yang menandakan eksistensinya. Ah! George Town dan Pulau Penang terlihat bercahaya! Indah sekali melihat pesona malam pulau ini dari ketinggian. Mendadak suasana menjadi sangat romantis, melihat kilau cahaya malam kota dari ketinggian. Beberapa turis yang datang bersama pasangan, semakin dekat berpelukan. Mungkin selain udara malam yang memang cukup dingin di ketinggian, pasangan ini juga berusaha menyimpan memori romantis ini sebanyak mungkin dalam pikiran mereka. Tidak perlu berkata-kata ketika menikmati pemandangan indah seperti ini, cukup bergandengan tangan dan lihatlah senyum bahagia yang terpancar di muka pasangan. Such a romantic place to share with your beloved ones, right?

Menuju Penang Hill ini cukup menggunakan bus Rapid Penang no. 204 dari Komtar. Tidak usah khawatir harus turun di mana, karena Penang Hill ini adalah pemberhentian terakhir. Siapkan uang pas, sebesar RM2.70 sebelum naik bus ini. Ingat, uang pas ya, karena supir bus tidak akan memberikan kembalian. Nah, setelah membayar, pilihlah tempat duduk dengan nyaman, karena perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 30-40menit dari Pusat Kota. Sekedar ngopi-ngopi di kafe dengan pasangan, atau berminat untuk menghabiskan malam di hotel yang ada di Penang Hill juga bisa menjadi pilihan. Jika hanya menghabiskan waktu, belilah tiket pulang-pergi untuk naik dan turun dengan kereta, sebesar RM30 (dewasa) dan RM15 (anak-anak). Jika berminat menghabiskan malam, cukup beli tiket satu arah saja. Karena tiket yang dibeli hanya berlaku di hari pembelian saja.

Gurney Drive Hawker Centre

Selepas berpetualang mendaki bukit dengan kereta di Penang Hill, sempatkanlah mengisi perut di pusat jajanan yang terletak di pinggir pantai, “Gurney Drive Hawker Centre” namanya. Terletak tidak jauh dari pusat kota, pusat makanan serba ada ini menyediakan berbagai jenis makanan khas Penang yang memang terkenal dengan wisata kulinernya. Ingin mencoba char kwe tiauw khas Penang yang terkenal? di sini tempatnya. Siap-siap mengantri ya, karena peminat makanan ini cukup banyak. Teman saya saja harus sabar menunggu hampir 15 menit lamanya untuk menunggu giliran memesan makanan ini.

Pasembur
Pasembur.

Penjual pasembur
Penjual pasembur.

Satu lagi makanan yang harus dicoba, yakni “rojak” atau “pasembur”. Bermacam-macam gorengan dipotong dan disiram dengan bumbu merah manis pedas, lengkap dengan irisan timun. Lezat dan unik. Kalau char kwe tiauw tadi bisa dinikmati dengan RM3 saja, maka rojak ini paling tidak harus mengeluarkan RM6, karena harga gorengan RM2 per buah. Semakin banyak gorengan yang kita pesan, ya semakin mahal harganya.

Selepas makan, mari berjalan-jalan di pasar malam dadakan yang ada di sepanjang jalan dekat Gurney Drive Hawker Centre. Ada satu kios yang menjual magnet unik dengan tulisan-tulisan Cina yang lengkap dengan wisdomnya. Sang penjual semangat sekali menerangkan arti dari tulisan-tulisan Cina yang tertera di barang dagangannya. Salah satu teman saya akhirnya membeli satu buah magnet yang bertulisan “Wo Ai Ni”, atau “I Love You”!

Cinderamata magnet
Cinderamata magnet.

Di seberang pasar malam, terdapat jalur pejalan kaki sepanjang pantai yang biasa digunakan penduduk setempat untuk berbagai aktivitas. Ada pemuda yang sibuk berlari, keluarga yang mengajak anak-anaknya makan, dan tentu saja, untuk pasangan-pasangan baru yang ingin menikmati suasana malam kota George Town. Berjalan-jalan sepanjang trotoar, menikmati udara pantai dan suasana malam kota yang ramai sambil bergandengan tangan dengan pasangan, terdengar menarik bukan?

Menuju Gurney Drive Hawker Centre ini cukup naik bus Rapid Penang no. 103/101/304, ongkosnya RM1.40 dari Komtar. Letaknya tidak jauh dari kota, jadi katakan pada supir tempat tujuan kamu, agar tidak salah turun ya, karena letaknya yang tidak searah dengan jalur tujuan bus (kita harus menyeberang, dan jalan sedikit karena lokasi berada di tikungan jalan). Gurney Drive Hawker Centre ini terletak tidak jauh dari Gurney Plaza dan buka sampai tengah malam.

Semilir angin siang Esplanade

City Hall
City Hall.

Papan informasi bus gratis
Papan informasi bus gratis.

Di hari berikutnya, kamu dan pasangan bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota sepanjang hari. Saya menyebutnya, a heritage walk in a heritage city. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah daerah Padang Lama. Di sini banyak terdapat bangunan-bangunan dengan gaya Victoria yang wajib diabadikan. Lihat saja bangunan City Hall dan Town Hall yang cantik sekali dijadikan latar belakang foto bersama pasangan, seperti di Eropa!

Selepas berfoto, nikmatilah semilir angin siang di taman sepanjang Esplanade sambil duduk-duduk di tepi pantai bersama pasanganmu. Bertukar cerita apa saja dengan pasanganmu sembari menyantap es krim rasa kelapa yang segar, untuk menghilangkan dahaga di tengah panasnya udara kota George Town.

Kali ini saya menyarankan kamu untuk mencoba berkeliling kota dengan bus gratis yang disediakan pemerintah kota George Town. Bus ini berhenti di setiap titik pemberhentian dengan titik-titik menarik di seluruh kota. Untuk menuju City Hall ini, berhentilah di titik pemberhentian no. 17, di dekat dewan kota Penang. Untuk kembali ke Komtar, tunggu lagi bus gratis di titik pemberhentian no. 18, di Esplanade.

Love Chair Pinang Peranakan Mansion

"Kursi cinta"
“Kursi cinta” di Peranakan Mansion.

Peranakan Mansion
Peranakan Mansion.

Terletak di daerah Little India, Penang Peranakan Mansion ini terkenal dengan kebudayaan khas Cina peranakan yang cukup populer di Malaysia dahulu. Alkisah, seorang saudagar Cina kaya-raya menikah dengan perempuan Malaysia dan terlahirlah budaya Cina peranakan yang biasa disebut dengan budaya “baba-nyonya” ini. Cukup membayar RM10, kita dapat berkeliling rumah ini dan mengagumi semua perabotannya yang berkelas serta sejarah rumah ini yang sudah berumur lebih dari 100 tahun lamanya. Saran saya, mintalah bantuan pemandu yang ada untuk lebih memahami arti dari setiap ruangan dan perabotan yang ada di rumah ini.

Satu hal yang unik di rumah ini adalah “love chair” atau “kursi cinta” yang terletak di lantai dua. Love chair ini adalah kursi dari bahan rotan yang biasa dipakai oleh orang-orang zaman dahulu untuk berpacaran. Jika sedang berpacaran, mereka akan duduk berhadapan, bertukar cerita saling bertatapan. Namun, jika sedang bermusuhan, mereka akan duduk saling membelakangi, bercakap-cakap tanpa melihat muka pasangan.

Banyak titik foto menarik yang bisa diambil bersama pasangan di tempat ini. Namun, foto yang wajib diambil, tentu saja, pose kamu dan pasangan di love chair legendaris ya!

Menuju ke tempat ini, bisa ditempuh dengan bus gratis, mintalah supir untuk menurunkan kamu di titik pemberhentian no. 3, Little India. Jika terlalu lama menunggu bus, tinggal berjalan kaki tak jauh dari titik pemberhentian no. 18, Esplanade menuju Jalan Gereja. Cek situs web-nya untuk keterangan lebih lanjut.

  • Disunting oleh SA 27/08/2012

© 2017 Ransel Kecil