Artikel-artikel yang ditulis oleh Dianing Ratri

‘Banchan’, ‘Side Dish’ dari Korea

Banchan di Restoran

Untuk sebagian besar penggemar makanan Korea, bibimbap dan bulgogi mungkin merupakan hal yang tidak asing lagi. Terlebih lagi kimchi, yang jenisnya mencapai lebih dari seratus jenis. Tapi mungkin banyak yang tidak
mengetahui bahwa kimchi merupakan bagian dari banchan (반찬) atau side dish ala Korea. Bagi saya pribadi, banchan adalah kenikmatan tersendiri dalam menyantap hidangan korea karena selain lezat, banchan juga disajikan cuma-cuma ketika kita memesan main dish sebagai wujud layanan lebih dan bisa di-refill (diisi ulang).

Seperti halnya kimchi, banchan terdiri dari berbagai jenis masakan dan bahan pangan. Sayuran, umbi, sampai daging dan makanan laut biasanya menjadi bahan utama banchan dengan saus gochujang sebagai bumbu. Contoh masakannya sendiri adalah kimchi, kearan-mari (dadar gulung), kimchi-jeon (pancake kimchi), dan gyeranjjim (telur pindang). Setiap daerah juga memiliki banchan khasnya sendiri yang terkadang tidak bisa dijumpai di daerah
lainnya. Favorit saya adalah Ojingo-jjut, acar cumi mentah yang dibumbui dengan saus gochujang. Rasanya seperti memakan sashimi yang kaya rasa karena memiliki rasa pedas, gurih dan manis.

Biasanya restoran atau warung di Korea menyajikan dua sampai tiga jenis banchan untuk menemani hidangan utama; terdiri dari acar lobak kuning, kimchi, dan satu jenis lainnya. Sayangnya kita tidak bisa memesan banchan
tertentu karena setiap restoran memasak banchan yang berbeda-beda setiap hari. Namun di situlah faktor menarik dari banchan. Kita akan selalu menebak-nebak banchan apa yang akan disajikan hari ini sembari berharap salah satu
favorit kitalah yang akan disajikan. Pengalaman paling mengejutkan bagi saya adalah ketika saya pergi ke sebuah restoran di dekat Ewha Womans University. Saat itu saya dan teman memesan dua porsi kimchi chigae (stewed kimchi dan daging) sebagai lauk utama. Terkejutlah kami ketika pesanan kami datang disertai 12 macam banchan dalam satu nampan kayu besar yang rasanya jauh lebih nikmat dibandingkan kimchi chigae itu sendiri.

Banchan di Restoran

Banchan di Restoran

Keluarga Korea sendiri umumnya memasak banchan dalam jumlah banyak untuk disimpan dalam kurun waktu tertentu, terutama jenis acar seperti kimchi. Karena banchan merupakan masakan yang tahan lama, mereka biasanya mengepak banchan dalam wadah kedap udara yang disimpan dalam lemari es. Setiap keluarga biasanya menyiapkan tiga sampai empat jenis banchan untuk setiap penyajian makanan, namun jumlahnya bisa bertambah sampai dua belas jenis saat ada perayaan. Untuk orang-orang yang sibuk atau mereka yang tinggal sendiri, banchan siap saji juga bisa dibeli di supermarket dalam ukuran gram, kemasan kecil, atau kalengan. Jika anda berkunjung ke Korea, datanglah ke restoran tradisional yang menyajikan makanan Korea, karena disanalah banchan lezat disajikan, gratis dan bisa isi ulang!


  • Disunting oleh SA 03/05/2010


Warung Kopi Namu Are, Seoul

Kafe Namu Are, SeoulHari ini saya memutuskan untuk mengunjungi warung kopi Namu Are di Seoul, Korea Selatan, walau sebenarnya saya bukan penggemar kopi. Sulit untuk tidak mengunjungi beragam warung kopi di Seoul karena biasanya mereka mendekorasi warungnya dengan tema yang menarik dan lucu.

“Namu” dalam bahasa Korea berarti pohon. Dan “are” berarti “di bawah”. Jadi sudah jelas maksudnya adalah “di bawah pohon”. Warung kopi Namu Are terletak di dekat kampus saya di Ewha Women’s University dan stasiun kereta api Sinchon. Lokasinya sulit ditemukan karena warungnya mungil, dan terletak di gang kecil. Hanya ada satu penanda kecil di depannya. Bentuk warung kopi ini seperti sebuah rumah kecil. Begitu masuk, Anda akan disambut dengan sebuah mesin penggerinda kopi.

Latte ArtSeperti halnya warung-warung kopi lainnya di Seoul, Namu Are menyajikan berbagai kopi _hand-drip_, kopi reguler, teh, jus buah, serta kue dan cokelat buatan rumahan. Harga minumannya antara 5.000 – 6.000 won (Rp 40.000 – Rp 50.000). Berbagai camilan ditawarkan antara 1.000 – 10.000 won (Rp 8.000 – Rp 80.000).

Kopi _hand-drip_ terlalu kuat buat saya, jadi saya lebih memilih _vanilla latte_. Teman saya memilih _black cappucino_. Minuman saya datang dengan penampilan _latte art_ yang lucu sekali, karakter Sinchan! Kami juga memesan kepingan kue cokelat. Kami mendapatkan nougat pisang dan air mineral gratis! Rasa kopinya lezat sekali. Anda juga bisa mengisi ulang (_refill_) gratis kopi Americano untuk kopi jenis apapun yang Anda beli.

Peppermint Tea

Kami memang ingin duduk lama di warung kopi itu. Pesanan selanjutnya pun tak dapat dielakkan. Kali ini teh _peppermint_. Harganya hampir sama dengan kopi, yaitu 5.000 won. Mahal juga buat secangkir teh! Tapi saya tak menyesal karena disajikan dengan poci, dua gelas dan sebuah jam pasir. Mereka menggunakan daun teh, bukan seduhan. Bau dan rasanya sangat kuat. Sayang mereka tak menambahkan gula. Masyarakat Korea tidak minum teh dengan gula.

Mesin Penggerinda Kopi di Namu Are

Suasana di warung kopi ini sungguh unik. Walaupun tempatnya kecil, kita merasa ada di rumah dengan lantunan musik yang menenangkan. Mereka punya banyak koleksi buku berbahasa Korea, _board game_ (permainan papan), juga selimut untuk melindungi tubuh Anda ketika musim dingin. Koneksi internet nirkabel juga tersedia dengan colokan listrik di berbagai sudut. Dapurnya sendiri adalah dapur terbuka.

Dapur terbuka Namu Are

Disunting oleh SA, ARW 1/3/2010.


© 2017 Ransel Kecil