Ho Chi Minh City
Saya punya kesempatan menghabiskan Natal hingga Tahun Baru di Vietnam Selatan bersama keluarga pada Desember 2009 lalu. Kami tidak begitu merasakan hingar-bingar Natal dan Tahun Baru karena kami baru tiba 25 Desember malam. Yang masih bisa kami lihat hanya dekorasi Natal di pertokoan. Sementara itu, perayaan tahun baru di Vietnam tidak terlalu ramai karena umumnya warga diam di rumahnya karena pesta kembang api dilarang. Mereka lebih merayakan _Lunar New Year_, mirip perayaan imlek teman-teman Tiong Hoa. Vietnam juga mempunyai 12 binatang yang menandai setiap tahunnya, bedanya tidak ada shio kelinci tapi ada shio kucing. Kami pulang tepat tanggal 1 Januari 2010. Bisa dibilang kami “setahun” di Vietnam.

Sebenarnya 8 hari di Vietnam bisa dibilang tanggung. Terlalu lama jika hanya berputar-putar di sekitar Ho Chi Minh City, tapi terlalu singkat untuk bisa pergi hingga ke Vietnam Utara atau Kamboja. Saya dan keluarga akhirnya memilih untuk ikut tur di sekitar Vietnam Selatan saja.

Pertama-tama kami tiba di Ho Chi Minh City (HCMC). Sesuai namanya, di kota ini ada banyak sekali patung “Uncle Ho”, sebutan Ho Chi Minh, seorang pahlawan yang sangat dihormati di Vietnam. HCMC ini merupakan kota yang cukup maju, dengan berbagai gedung bergaya Perancis, juga ada taman umum yang sering juga disebut “Little Paris” karena konon mirip _Champs Elysees_ di Paris, Perancis. Yang khas dari HCMC tidak lain adalah kabel listriknya yang ruwet dan sepeda motor di mana-mana, demikian menurut pemandu wisata kami.

Di HCMC, ada banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi, antara lain Reunification Palace (Istana Presiden, sebelum dipindah ke Hanoi), Museum of War (Museum Perang Vietnam), Notredame Cathedral (katedral dengan bentuk Notredame de Paris versi mini), dan Kantor Pos Pusat, juga pusat kerajinan kayu Tay Son. Kerajinan kayu yang khas dari Tay Son ini berupa kayu yang dilukis atau dihias dengan kulit telur atau cangkang kerang mutiara.

Untuk tempat berbelanja suvenir, masih di HCMC, ada Ben Tanh _market_. Pasar ini dibagi menjadi dua lapis: lapisan paling luar dijaga oleh pedagang yang berseragam, barang-barang di kios luar ini tidak bisa ditawar; sementara lapisan dalam dijaga oleh pedagang biasa yang barangnya bisa ditawar hingga kurang lebih sepertiganya. Karena saya sangat suka benda-benda kerajinan, saya berbelanja banyak: dompet, tas, gantungan ponsel hingga memesan Ao Dai, baju khas Vietnam. Bentuk Ao Dai mirip dengan baju kurung Malaysia, hanya saja belahan pinggirnya sampai ke pinggang yang dipadukan dengan celana panjang, karena baju ini biasa digunakan wanita Vietnam untuk bekerja dan juga bersepeda.

Pasar Ben Tanh juga menjual macam-macam makanan khas Vietnam dari buah-buahan, kopi, hingga pho. Pho adalah sejenis mie yang terbuat dari tepung beras, disajikan dengan daging (ayam, sapi, ikan, atau vegetarian). Selain itu ada juga lumpia Vietnam yang kulitnya transparan, isinya udang dan sayuran. Lumpia ini rasanya sedikit pahit, tapi layak dicoba. Sementara itu, jajanan favorit saya adalah ketan berwarna-warni yang ditaburi santan dan gula. Rasanya macam-macam, dari hasil mencuri dengar, warna-warna beras tersebut berasal dari bunga-bungaan dan tumbuh-tumbuhan. Sayangnya saya tidak sempat menanyakan nama jajanan ini.

Masakan lain yang tidak kalah unik adalah Xoi Chien Pong (_fried ball sticky rice_), sesuai namanya, makanan ini terbuat dari beras ketan yang digoreng. Semula adonannya kecil (kira-kira satu sendok makan) lalu digoreng hingga mengembang seperti bola yang besar. Rasanya manis dan juga lengket. Sayangnya masakan ini termasuk masakan yang susah ditemukan di tempat lain di Vietnam. Karena memang sangat suka mencicip makanan (dan juga karena saya tidak punya pantangan) saya dan kakak juga mencoba masakan dari bekicot dan belut. Rasa bekicot ternyata mirip cumi-cumi, hanya saja bentuknya tidak sedap dipandang. Dari hasil bertanya, kami menemukan bahwa daging kucing dan anjing juga sering diolah menjadi masakan Vietnam.

!http://ranselkecil.com/images/41t.jpg (Bekicot sebagai Santapan)!

Dari Ho Chi Minh City kami pergi ke Can Thountuk menjelajahi Sungai Mekong dan sekitarnya. Sebelumnya, kami harus menempuh 4 jam perjalanan naik mobil. Sebenarnya jaraknya hanya sekitar 200 km, namun banyaknya polisi tidur di jalan menyebabkan mobil hanya bisa melaju dengan kecepatan 60 km/jam, padahal batas maksimum kecepatan adalah 80 km/jam. Di sepanjang jalan disediakan banyak warung kopi dengan _hammock_, tujuannya supaya supir yang mengantuk bisa tidur sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Sayangnya, rombongan kami tidak berhenti di restoran yang ada hammock-nya.

Dari Can Tho, kami barulah berperahu mengitari Sungai Mekong. Kami singgah di desa di pinggir Sungai Mekong untuk mencicipi (dan berbelanja) cemilan khas Vietnam, dari permen kelapa, manisan jahe, dodol pisang, hingga brondong. Ya, brondong yang terbuat dari beras dan gula yang juga sering dijual di sepanjang jalan antar kota di Pulau Jawa.

!http://ranselkecil.com/images/40t.jpg (Sungai Mekong)!

Kami juga pergi ke Cu Chi Tunnel, terowongan bawah tanah yang dibuat orang Vietnam pada masa perang. Anda yang bertubuh sehat dan tidak mengidap phobia ruang sempit, disarankan mencoba masuk terowongan ini untuk lebih memaknai arti kemerdekaan bagi suatu bangsa. Jika tertarik dengan sejarah perang Vietnam, tersedia beberapa pondok di area Cu Chi Tunnel yang menyediakan penjelasan yang detail mengenai perang, terutama di Cu Chi Tunnel, tentunya menurut versi orang Vietnam. Di area ini juga ada lapangan tembak, satu-satunya tempat di Vietnam yang melegalkan penggunaan senjata api.

!http://ranselkecil.com/images/39t.jpg (Chu Chi Tunnel)!

Masih ada banyak tempat yang bisa dikunjungi di Vietnam Selatan, antara lain kebun binatang di HCMC, Sungai Saigon, Museum of History, dan lain-lain. HCMC sendiri sudah merupakan satu kota yang menarik untuk dijelajahi, terutama untuk orang yang lebih suka berwisata belanja atau kuliner. Satu tips yang paling penting adalah, hati-hati dengan barang bawaan anda. Di HCMC rupanya ada banyak kasus penjambretan, salah satu korbannya adalah ibu saya. Saya sempat menyaksikan pencurian kaca spion mobil yang dilakukan terang-terangan saat sedang macet di jalan. Intinya, tetap berhati-hati dan waspada, terutama di tempat ramai, biarpun hal yang kurang mengenakkan terjadi, Vietnam tetap menjadi tempat tujuan wisata yang menarik. Jika ada rejeki, ada baiknya pergi ke Vietnam di tahun 2010 bulan Oktober, karena ada perayaan 1000 tahun kota Hanoi.

Disunting oleh ARW/SA. Pemutakhiran oleh SA-100210.