Artikel-artikel yang ditulis oleh Bayu Adi Persada

Tambatan Hati di Ujung Barat Republik

Sejak kecil, saya sudah mengenal dua kota terujung di Indonesia, Sabang dan Merauke. Terima kasih kepada R. Suharjo untuk lagunya, “Dari Sabang sampai Merauke”. Melalui lagu inilah, saya menjadi tahu bahwa Indonesia adalah negara besar dengan jajaran pulau-pulaunya. Sabang di ujung barat republik, tepatnya di Pulau Weh, sebelah barat laut Banda Aceh dan Merauke di ujung timur Papua, bersebelahan dengan negara Papua Nugini.

Sebagai seorang pecinta negeri dan petualang, saya selalu menyimpan hasrat untuk sebisa mungkin menyambangi setiap jengkal negeri ini. Ketika akhirnya menginjakkan kaki di Sabang, sebuah fraktal kecil hasrat tersebut terpenuhi.

Lembayung di Pantai Iboih.
Lembayung di Pantai Iboih.

Menikmati desiran angin semilir di Iboih, mengunjungi titik nol, dan menembus gulita jalanan menuju kota Sabang memberikan pengalaman tak terlupakan. Dan tentunya, sangat menyenangkan untuk kembali diceritakan.

Kami kehabisan tiket kapal cepat di Pelabuhan Ule Lheue pagi itu. Hari itu adalah hari Jumat dan memang sedang libur. Banyak orang yang ingin menyebrang ke Pelabuhan Balohan di Kota Sabang, Pulau Weh.

Karena membludaknya penumpang, penyedia kapal feri menambah satu lagi keberangkatan kapal feri. Saya pun agak lega karena memang agenda aktifitas yang padat, setiap jam yang terbuang pasti berarti.

Kapal terjadwal berangkat jam 10 pagi. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, kapten kapal memutuskan berangkat empat jam kemudian, jam dua siang! Penumpang yang sudah masuk kapal tak bisa keluar lagi karena gerbang kapal memang sudah dinaikkan. Akhirnya kami terpaksa menunggu kapal berangkat di geladak kapal dekat parkiran kendaraan. Maklum, tiket ekonomi.

Kapal merapat di Pelabuhan Balohan sekitar jam empat. Kami langsung menaiki becak motor di depan pelabuhan untuk mengantarkan kami ke penginapan yang sudah dipesan di Iboih.

Sebenarnya bisa saja kami memilih taksi Toyota Avanza dengan harga yang tak jauh berbeda. Akan tetapi, menikmati perjalanan dengan becak menelusuri jalanan Pulau Weh pasti memberikan kesan tersendiri.

Putra, supir becak motor saya, sepanjang perjalanan tak lepas bercerita tentang tanah kelahirannya. Beliau mulai dari tempat-tempat yang mesti dikunjungi, oleh-oleh khas Sabang, sampai ke tragedi tsunami Aceh di penghujung tahun 2004. Menurut Putra, Pulau Weh tidak begitu terkena imbas tsunami. Hanya pantai sebelah barat saja yang mendapat efeknya tapi tidak ada korban jiwa di sini. Syukurlah.

Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan berkelok-kelok, naik bukit, dan turun bukit, kami sampai juga di Iboih. Hati langsung bergejolak ingin segera menikmati pantai yang sudah mahsyur di khalayak pejalan dunia.

Setelah terlebih dahulu menaruh barang bawaan di sebuah bungalow kecil yang kami sewa, kami langsung beranjak ke tepian pantai. Menikmati matahari terbenam yang biarpun tak begitu terlihat tapi kehangatannya masih tetap terasa. Sambil menikmati sepiring nasi goreng dan es kelapa muda. That was definitely the best way to greet the night.

Keesokan harinya, saya bangun pagi sekali untuk ibadah Subuh dan tentunya menunggu matahari datang kembali menyapa sang alam. Belum banyak orang di sekitar pantai Iboih, kalau tidak mau dibilang kosong. Warga sekitar belum memulai harinya pagi itu. Entah, mungkin mereka masih lelah menjamu para turis semalaman.

Matahari pun mulai menjelang. Ia mengumandangkan pagi akan tiba. Saya tak bisa diam dengan kamera dikalungkan dan ponsel di tangan kanan.

Biru air di Pantai Iboih.
Biru air di Pantai Iboih.

Saya sibuk mengabadikan lukisan paling indah Yang Kuasa dengan goresan kuas biru, pirus, kuning, dan oranye yang menyejukkan hati. Lukisan megah pada kanvas langit. Foto dari kamera untuk dokumentasi pribadi, sedang foto dengan ponsel untuk langsung dimasukkan ke Instagram.

Air laut yang jernih terus menggoda saya untuk berenang sambil menikmati pagi. Akhirnya, saya pun melompat tinggi dari jembatan kayu dan… “Byuuur!”

Rasanya ingin sekali berlama-lama mengitari setiap sudut pantai Iboih dari laut. Akan tetapi, kami harus segera bersiap-siap untuk agenda utama hari itu. Agenda yang sudah diimpikan dari jauh-jauh hari. Menyelam!

Kami dipertemukan dengan Mica, warga negara Jerman yang sudah 15 tahun tinggal di Indonesia. Dia sudah fasih sekali berbahasa Indonesia. Mica adalah instruktur kami untuk hari itu. Menurut Iskandar, pemilik Rubiah Tirta Divers, penyedia jasa diving yang kami sewa, Mica adalah satu-satunya instruktur yang bebas tugas pagi itu mengingat banyaknya turis lain yang sudah punya jadwal menyelam.

Tak masalah. Ternyata, Mica adalah penyelam dan instruktur yang fasih. Tempat menyelam kami berada di selat antara Pulau Weh dan Pulau Rubiah. Setelah terlebih dahulu briefing, kami sudah siap terjun belasan meter di bawah permukaan laut. Here we go!

Kehidupan laut di lepas pantai Iboih.
Kehidupan laut di lepas pantai Iboih.

Mica membawa kami ke sebuah bangkai kapal. Jangan bayangkan kapal besar. Ia hanya sebuah perahu nelayan yang sudah tenggelam bertahun-tahun hingga penuh ditumbuhi karang-karang.

Mica mengatakan kalau mau benar-benar menyaksikan bangkai kapal yang besar di perairan Sabang, minimal harus bisa menyelam sampai kedalaman 30 meter. Wow, saya belum sampai tahap keahlian itu, saya pikir.

Nelayan menjaring tangkapannya.
Nelayan menjaring tangkapannya.

Wah, tiba-tiba ada scorpion fish berenang-renang santai di karang landai. Saya dengan sigap langsung membidikkan kamera ke makhluk cantik ini.

Mica menepuk tangan saya keras sekali ketika ingin menyentuh sekumpulan karang cantik. Saya sontak kaget. Ada apa gerangan? Lalu Mica menunjukkan ada bulu babi yang bersembunyi di balik lubang karang. Untung saja saya tidak sampai terkena jarum beracunnya!

Segerombolan besar ikan-ikan kecil berkumpul di sisi karang yang lain. Mungkin jumlahnya ribuan. Saya kurang tahu nama jenis ikan tersebut. Yang jelas warnanya oranye dengan besar tubuhnya tak lebih besar dari satu ruas jari kelingking. Mereka berputar-putar tak tentu arah tanpa takut akan kedatangan kami.

Saya dibuat kaget ketika Mica tiba-tiba diserang ikan berukuran agak besar. Ternyata, Mica menyelam terlalu mendekat ke karang hingga dianggap mengganggu sarang ikan tersebut. Ikan besar itu langsung menyerang Mica untuk mengusirnya agar menjauh dari sarang. Mica pun kewalahan menghadapi ikan yang sedang marah itu dan hanya bisa menahan serangan ikan dengan kaki kataknya.

Agak mengagetkan tapi itu pengalaman yang sangat seru. Pertama kali saya melihat ikan menyerang penyelam seperti itu. Saya sempat mengabadikan serangan ikan tersebut meski sebenarnya sedikit was-was juga saat itu.

Karena penunjuk oksigen kami sudah sampai di titik merah, Mica memberikan kode untuk berhenti. Ia memutuskan menyudahi penyelaman itu. Terhitung kurang lebih 45 menit kami berada di bawah laut. Empat puluh lima menit yang sangat-sangat mengesankan.

Sayang sekali, agenda penyelaman kami berhenti di sana. Sebenarnya saya masih ingin menyelam lebih lama. Namun apa daya, biaya dan waktu belum mengizinkan. Meskipun begitu, saya berjanji akan kembali suatu saat nanti untuk menyelami lebih banyak keindahan bawah laut di Sabang.

Hari itu, kami masih sempat menikmati sisi pantai Iboih yang lain. Terletak di depan sebuah kompleks bungalow Lisa, hamparan laut di depannya mungkin adalah spot terbaik untuk snorkeling. Kami menghabiskan sore sampai lelah menghampiri.

Meski pengalamannya tak seindah penyelaman pagi tadi, menyelam hamparan lautan Iboih tak pernah membosankan. Saya selalu lupa waktu.

Sebelum malam menjelang, kami menyempatkan diri melihat sunset di titik nol. Dengan motor sewaan, kami berkendara sejauh delapan kilometer lebih ke barat untuk sampai di sana. Banyak tikungan tajam dan berbahaya membuat kami harus sangat berhati-hati. Seorang teman tiba-tiba terjatuh setelah tak dapat mengendalikan laju motornya di kelokan tajam. Untung saja tidak terjadi luka serius dan masih bisa melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami sampai juga di monumen titik nol. Sebuah monumen yang membuktikan bahwa kami sudah ada di titik paling barat di republik ini. Meski agak kecewa karena kondisi monumen yang kurang terawat, lembayung tetap cantik tersaksi di ujung barat.

Keesokan paginya, kami harus kembali ke Banda Aceh. Jadwal kepal cepat di Pelabuhan Balohan tercatat jam delapan pagi. Kami tak punya banyak waktu di pagi hari namun beruntung karena masih sempat menjemput terbitnya matahari sebelum berangkat ke pelabuhan.

Memang berat meninggalkan semua yang mengesankan di Iboih ini. Tidak hanya di Iboih, keseluruhan Pulau Weh pasti akan membuat kami rindu untuk kembali. Keindahan alamnya, kehangatan masyarakatnya, legit kopinya, atau kelezatan sate guritanya. Tak habis hal-hak menarik yang bisa didapati di sini.

Karena kesemua pengalaman itulah, hati kian tertambat di ujung barat.

  • Disunting oleh SA 11/06/2012

Perayaan Hidup Kedua

Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di halaman upacara. Orang-orang berteriak sampai memekikkan telinga. Saya tersentak lalu beranjak mencari tahu apa yang terjadi.

Saya semakin terkejut melihat seekor babi berlari tak tentu arah. Ternyata, babi yang akan dikorbankan terlepas dari ikatan di sebatang bambu. Dengan badan berdarah-darah, babi itu mencoba melepaskan diri dari kerumunan orang-orang.

Orang-orang di sekitar panik menyelamatkan diri naik ke rumah-rumah seketika itu juga. Untung saja tak berapa lama, situasi dapat dinetralisir. Babi mampu kembali ditangkap dan diikat. Itulah akhir perjuangan heroik dari seekor babi yang akan dikorbankan sebagai bagian dari ritual upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Babi yang Dikurbankan
Babi yang dikurbankan

Saya sampai di terminal bis Lita di kota Makassar malam itu untuk melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja. Sempat takjub melihat wujud bis yang terlampau eksklusif. Serius. Saya sudah siap menumpang bis apa saja tapi ketika kemudian bis yang tersedia terlampau nyaman, saya merasakan rentetan keberuntungan dimulai. Harganya pun cukup murah, Rp110.000,- untuk delapan jam perjalanan malam ke Toraja. Kursinya nyaman, jarak antar kursi cukup luas. Bahkan ada wi-fi! Moda transportasi yang patut diadaptasi untuk bis antar provinsi di Jawa.

Perjalanan delapan jam pun jadi tak terasa. Yang saya tahu, tiba-tiba bis sudah berhenti pagi itu. Jam masih menunjukkan jam lima pagi.

Bis berhenti sebentar di depan sebuah gang. Saya masih tertidur pulas saat sang kernek membangunkan. Dari awal, saya memang meminta sopir untuk menurunkan saya di penginapan murah yang juga menyediakan penyewaan motor.

Kernek bis mengantarkan saya ke Hotel Bison, hotel sederhana di dekat Jalan Raya Rantepao. Hanya 20 meter dari jalan raya, masuk lewat gang kecil. Meski cukup sederhana, hotel ini nyaman sekali dengan konsep bangunan rumahan. Harga per malam juga sangat terjangkau, Rp150.000,-, ditambah mereka menyediakan motor untuk disewa seharga Rp65.000,- per hari minus bahan bakar.

Alam Toraja yang Asri
Alam Toraja yang asri

Saya tak punya kemewahan akan waktu hari itu. Mesti memanfaatkan setiap menitnya untuk sebanyak-banyaknya menjelajahi kota penuh kultur unik nan bersahaja ini. Sekitar jam tujuh pagi, saya pergi ke lobi untuk mencari-cari informasi. Tak banyak juga informasi yang bisa penjaga hotel ini berikan. Untung saja saya bertemu John Rante, seorang pemandu wisata yang rumahnya berdekatan dengan hotel.

Saya berbincang banyak sampai sepakat untuk menyewa jasa Pak John sebagai pemandu wisata seharian itu. Setelah tawar menawar, harganya pun cukup murah Rp150.000,- sudah termasuk bensin motornya. Sebenarnya tarif normalnya Rp250.000,- belum termasuk ongkos bensin. Namun, karena memang bukan musim liburan, saya bisa mendapat tarif terbaik.

Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah pesta pemakaman di Kecamatan Kete Kesu. Pestanya berlangsung cukup sederhana dibanding trademark upacara pemakaman yang sering diberitakan memakan biaya sampai ratusan juta bahkan miliaran. Keluarga yang berkabung kebetulan hanya keluarga petani.

Akan tetapi, mereka tetap harus mengorbankan tiga ekor tedong (kerbau) dan tiga ekor bai (babi) sebagai teman menuju dunia yang lain bagi yang sudah wafat. Meski ‘cuma’ sedikit hewan yang dikurbankan, tetap saja biayanya sampai puluhan juta jika menghitung satu kerbau biasa dijual Rp15-30 juta dan satu babi Rp1-3 juta. Belum ditambah biaya-biaya lainnya.

Saya mencoba menelisik masuk ke dalam. Memberi salam pada keluarga yang berkabung kemudian menuju dapur yang sepertinya sedang ramai. Terdengar sampai luar suaranya, suara ibu-ibu mengoceh dan goresan panci. Benar saja, mereka sedang rumpi rupanya. Saya sempat mengabadikan aktivitas unik mereka, sambil menguyah sesuatu, entah apa, meminum kopi hitam Toraja, dan menanak nasi satu gentong.

Mereka memandang saya asing. Wajar tentu saja. Akan tetapi, mereka ternyata ramah sekali. Tak lama, saya ditawari kopi. Secangkir kopi dan tak lupa kue-kue khas Toraja yang terbuat dari beras merah. Saya lupa namanya. Yang jelas, rasanya legit dan renyah, tak kalah dengan kue-kue dari toko.

Pak John lalu menceritakan banyak hal tentang ritual pemakaman itu. Masyarakat Toraja menganggap ada dua kehidupan yang mesti dijalani. Sebelum dan setelah mati. Ketika mati, mereka harus diperlakukan istimewa demi kebahagiaan hidup setelahnya. Puya, nama ‘dunia’ setelah kematian untuk masyarakat Toraja. Hewan-hewan yang dikurbankan menjadi teman bagi yang wafat di Puya. Sebuah prosesi untuk meninggikan yang tiada.

Kemudian, saya mampir ke Kuburan Batu yang terletak di Desa Lemo, Kecamatan Sanggalange. Mengapa dinamakan kuburan batu? Sesederhana karena memang mayatnya dikuburkan di tebing-tebing batu. Selain dikuburkan di sana, dibuat juga replika manusia dari kayu lengkap dengan baju adatnya.

Kuburan Batu di Desa Lemo
Kuburan batu di Desa Lemo

Beberapa kuburan di sana terlihat masih baru. Ada juga pahatan-pahatan yang baru dibuat sebagai persiapan sebagai tempat persemayaman terakhir orang-orang yang meninggal.

“Walau terlihat kecil, sebenarnya lubang di dalamnya besar sekali. Bisa menampung beberapa mayat,” jelas Pak John sambil menunjuk sebuah kuburan di ujung tebing.

Setiap sisi tebing di bukit itu dipenuhi kuburan dengan replika manusia. Saya sempat mengitari tebing ke sisi-sisi yang berbeda dan selalu mendapati kuburan-kuburan batu yang lain. Menurut Pak John, semakin ke belakang dan tersembunyi, berarti kasta atau tingkatan orang tersebut lebih rendah.

Di sekitar kompleks kuburan batu, banyak warga sekitar yang menjual kerajinan khas Toraja. Selain bentuknya yang khas, harganya juga tak terlalu mahal. Kain cantik buatan tangan sepanjang dua meter misalnya hanya dihargai Rp60-80 ribu. Patung-patung khas atoraja dengan bentuk pasangan orang tua diharga Rp25-60 ribu tergantung ukuran.

Pak John mengantar saya ke tempat pemakaman bayi atau Baby’s grave di Kampung Kambira, Kecamatan Sanggala. Tempat pemakaman bayi hanya berupa pohon besar diselimuti sabut-sabut hitam sebagai penutup lubang tempat bayi-bayi dimakamkan. Pohon ini diperuntukkan bagi bayi yang meninggal di dalam kandungan atau berusia di bawah enam bulan.

Dari sana, kami beranjak ke pasar tradisional di Kampung Tokesan. Di sini, seperti banyak pasar tradisional lain, ramai penjual menjajakan berbagai macam dagangan, mulai dari kebutuhan sehari-hari, sampai daging babi juga ada. Pasarnya mulai dari pagi hingga siang menjelang sore.

Saya kembali terkagum-kagum saat sampai di Kampung Bonoran di Kecamatan Kete Kesu, lokasi rumah-rumah adat Tongkonan. Ada dua belas rumah khas Toraja berjejer rapi di kedua sisi. Atap Rumah adat Tongkonan sekilas mirip tanduk kerbau.

“Bukan tanduk kerbau. Itu perahu,” kata Pak John mengoreksi. Menurut sejarah, nenek moyang orang Toraja dulu memang pelaut. Ketika sampai di daratan, mereka membuat rumah dengan memanfaatkan perahu-perahu mereka.

Kompleks Rumah Adat Tongkonan
Kompleks rumah adat Tongkonan

Di depan setiap rumah adat, hampir pasti selalu dipajang jejeran tanduk-tanduk kerbau yang telah dikurbankan. Lengkap dengan patung kepala kerbau dari kayu.

Dari salah satu rumah yang saya masuki, kondisi dalam rumah tersebut pun terlampau sederhana, hanya terdiri dari 3 ruangan. Kamar, ruang keluarga, dan ruang makan. Dapur, ruang makan, dan bahkan WC digabung menjadi satu di tengah. Agak risih ya.

Saya sangat penasaran ketika Pak John akan mengajak saya ke kuburan yang disimpan di goa. Dalam hati, “Di tebing, di gunung, di pohon, sekarang di gua?” Memang Toraja kaya akan budaya menghormati yang tiada. Sampai-sampai mereka rela bertaruh nyawa untuk memakamkan orang-orang yang mereka cintai di tempat yang mereka anggap terbaik.

Lokasi kuburan goa ini ada di daerah Londa, sebelah selatan Rantepao. Untuk melihat ke dalam goa, kita mesti menyewa lampu petromax seharga Rp25.000,-. Masuk ke goa ini mesti ekstra hati-hati, jalanan agak terjal, sempit, dan licin. Salah-salah bisa terpeleset.

Lokasi Kuburan Goa di Londa
Lokasi kuburan goa di Londa

Masih ada mayat yang baru dikubur dua tahun lalu. Peti matinya masih utuh. Berbeda dengan banyak peti mati lainnya yang sudah rapuh dan berlubang sehingga tulang-belulang pun sampai terjulur keluar. Sesaji juga banyak sekali diberikan oleh warga yang berziarah. Rokok, bunga, air minum, atau buah-buahan. Semuanya diberikan sebagai bekal yang sudah wafat di alam sana. Walaupun yang terjadi sesajinya kian hari kian menumpuk, tak ada satu pun yang berani mengambil atau sekedar membersihkan. Alasannya klise, atau tidak, karena takut dihantui sepanjang hidup.

Naik beberapa anak tangga di sisi bukit dekat goa, Pak John menunjukkan ada kuburan tertinggi yang terletak hampir di puncak tebing terjal. Sudutnya hampir tegak lurus. Tak terbayang bagaimana orang-orang bisa sampai ke sana hanya untuk menguburkan mayat. Ceroboh sedikit malah bisa ikut menjadi mayat. Tapi itulah, kata Pak John, sebuah dedikasi akan sebuah ritual. “Mereka yang berangkat ke atas memang harus ahli. Ke atas hanya dengan berbekal bambu sebagai penyangga.”

Luar biasa.

Semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin mewah pula jenazahnya mesti dilengkapi. Seringkali dengan kain-kain mahal dan perhiasan. Oleh karena itu, biasanya jenazah orang-orang seperti itu diletakkan di tebing paling atas agar sulit dicapai orang lain.

Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah sebuah akhir. Justru, mati adalah gerbang menuju Puya, dunia yang baru. Dunia di mana arwah-arwah kembali menjalani hidup yang lain bersama dengan para hewan yang dikurbankan. Sungguh sebuah penghargaan yang tinggi pada kematian dan hidup setelah mati.

Bagi mereka, mati adalah hidup yang kedua kali.

Itulah sekelumit kisah perjalanan saya di Toraja. Memang cuma sehari, tapi saya tak bisa melupakan setiap menit penelusuran budaya unik di sana. Masih banyak yang belum saya saksikan, salah satunya adalah mitos mayat berjalan sendiri. Suatu hari saya pasti akan kembali untuk mencari tahu lebih banyak, dan menelusuri lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Toraja yang bersahaja.

Seorang jurnalis dan penulis, Patricia Schultz, memasukkan Toraja dalam bukunya, “1000 Places to See Before You Die”. Well, kini saya tahu benar mengapa dia berpendapat demikian.

Dalam hati, saya mengangguk seraya setuju.

  • Disunting oleh SA 03/05/2012

Kebahagiaan Sederhana di Desa Sawarna

Saya memasukkan barang-barang seperlunya ke dalam ransel kecil. Ya, saya kembali melakukan perjalanan. Perjalanan impulsif untuk ke-sekian kali. Setelah resmi menjadi kaum urban dan berinteraksi dengan rutinitas pekerjaan, saya tak pernah mau menanggalkan ransel tersimpan tak terpakai.

Jadi, seketika waktu senggang, saya mencari destinasi yang mungkin dikunjungi saat akhir pekan tiba. Tak jauh dari Jakarta, tapi tetap menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar melepas kepenatan.

Setelah mencari-cari destinasi yang cocok di forum pejalan, akhirnya pilihan pun jatuh ke Desa Sawarna, desa kecil di Provinsi Banten. Ada seseorang yang mengajak jalan bersama ke sana dengan harga terjangkau. Saya tentu tak pikir dua kali untuk ikut mendaftar.

Secara geografis, Desa Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, di sebelah barat Provinsi DKI Jakarta. Untuk mencapai ke desa tersebut, perjalanan dengan mobil atau bus memakan waktu 7-8 jam.

Waktu terbaik untuk mengunjunginya memang di bulan-bulan pertengahan, April-September saat musim kemarau tiba. Jalanan menjadi terjal dan becek kala musim hujan. Arus air sungai yang deras pun bisa menjadi penghambat untuk menikmati kearifan alam di sana.

Oleh karena itu, sebenarnya pemilihan waktu awal Februari untuk berkunjung amat beresiko. Hujan masih dengan senang hati mengguyur setiap tempat sesuai jatahnya masing-masing.

Potensi hujan mengacaukan liburan saya semakin besar ketika di Terminal Kampung Rambutan, turun hujan deras saat kami akan berangkat ke Desa Sawarna. Namun, di sini bukan waktunya untuk mundur!

Cuaca masih mendung saat bis kami sudah mendekati lokasi. Karena tak punya kemampuan menari tarian tolak hujan, saya hanya bisa meminta pada Yang Maha Baik untuk tidak mengijinkan hujan turun dua hari ini. Perjalanan ini akan amat sayang jika tak bisa dinikmati sepenuhnya hanya karena hujan turun. Saya tak ingin pulang hanya dengan kelelahan tanpa sempat menikmati sepercik kemegahan alam di sini.

Sampai juga kami di lokasi. Cuaca tiba-tiba berubah cerah. Seperti ada yang mendengar pinta saya pagi tadi. Alhamdulillah.

Kesan awal, seperti hampir semua destinasi wisata, desa ini menarik. Hanya saja, sisi menariknya pasti berbeda dan saya akan segera mengetahuinya dalam dua hari ke depan.

Ada jembatan kayu yang menghubungkan kami dengan Desa Sawarna. Kurang lebih panjangnya 20 meter dan hanya cukup untuk dilewati motor. Sungai di bawah jembatan agak dangkal. Arusnya tak begitu deras. Terlihat banyak juga anak-anak kecil mandi atau sekedar bermain di sana.

Masuk ke lingkungan desa, sudah ada kepala desa (setidaknya, begitulah pengamatan saya, atau mungkin beliau hanya petugas yang diminta untuk mengumpulkan “tarif masuk”). Beliau menunggu di sebuah rumah-rumahan kayu, dan meminta tarif masuk Rp. 2000 per tamu untuk sekali kunjungan. Murah sekali.

Kami berjalan menuju homestay yang sudah dipesan. Sepanjang mata memandang, sisi-sisi modernitas tercermin dibalik tembok-tembok rumah warga di sini.

Jalanan setapak desa ini sudah disemen. Walaupun beberapa sisi jalan desa masih tanah, tetapi kemajuan kental terlihat. Hampir semua rumah dibuat permanen, listrik juga sudah masuk ke desa, dan beberapa penduduk sudah memiliki motor sendiri.

Sampai di homestay, saya cukup terkejut dengan kondisi homestay yang akan kami inapi semalam ini. Rumahnya cukup besar, bahkan sangat besar, untuk ukuran desa. Fasilitasnya pun lengkap dengan meja pingpong dan lapangan voli. Awalnya, saya berpikir hanya akan menginap di rumah warga yang sederhana. Bagaimanapun juga, homestay yang nyaman ini adalah kejutan yang amat mudah dinikmati.

Desa ini masih seperti desa kebanyakan, di tengah sawah dan terlintasi sungai. Meski begitu, masyarakatnya sama sekali tidak konservatif. Mereka sudah berpikiran maju untuk menjadikan potensi pariwisata desanya menjadi penghidupan. Banyak sekali rumah-rumah penduduk dijadikan homestay. Beberapa masyarakat bahkan memiliki profesi sampingan menjadi pemandu wisata.

Pak Saep, pemandu wisata kami, berpendapat senada, “Ini semua bukan bantuan pemerintah. Masyarakat sendiri yang punya inisiatif menjadikan desa jadi kampung wisata.”

Agenda kami padat. Maklum, hanya dua hari dan cukup banyak tempat yang mesti dikunjungi. Alhasil, setelah beristirahat sebentar, kami memulai trekking ke Goa Lalay.

Sawah menghijau di Desa Sawarna
Sawah menghijau di Desa Sawarna

Di siang yang cukup terik, kami menelusuri sawah-sawah membujur. Seperti bunga yang akan merekah, sawah yang kami lewati masih hijau. Sejauh mata memandang, hanya hijau menentramkan yang kami lihat. Beberapa kali bertemu petani ramah yang menyambut kami dengan dialek Sunda mereka yang kental.

Mudah tak selamanya kami lewati. Dua kali kami harus berusaha melawan arus deras sungai. Untung saja sungainya tak dalam. Meski begitu, harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset. Bawaan kamera dan ponsel bisa dalam bahaya.

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai di destinasi pertama, Goa Lalay. Lalay menurut bahasa Sunda artinya kelelawar. Pak Saep mengatakan goa ini penuh kelelawar kala malam menjelang. Saat Maghrib menjelang Isya, biasanya gerombolan kelelawar ini keluar dari sarangnya.

Ada sungai kecil yang mengalir dari dalam goa ini. Sayangnya, berhubung musim hujan, aliran air pun lebih deras dari biasanya. Kalau dilihat dari luar, memang sepertinya tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam. Saya pikir sayang sekali sudah jauh-jauh, tapi tidak melihat stalaktit Goa Lalay yang konon memang terkenal. Akhirnya, saya dan beberapa teman memaksakan diri masuk. Walau awalnya agak sulit karena bebatuan licin ditambah arus yang deras, justru air menjadi agak tenang ketika sampai di dalam.

Di dalam, tak terlihat ada kelelawar satu pun. Menurut Pak Saep, mereka bersarang terlalu ke dalam. Kondisi di dalam goa tidak memungkinkan kita untuk menelusuri lebih ke dalam. Tak berjodoh dengan para lalay rupanya.

Setidaknya, stalaktit-stalaktit tadi sudah mau bercengkerama dengan kami.

Selepas dari Goa Lalay, kami kembali melanjutkan perjalanan. Melewati pematang-pematang sawah, bukit-bukit kecil, dan tak ketinggalan jalanan penuh lumpur. Beberapa teman sangat kelelahan, apalagi yang perempuan. Banyak juga tragedi-tragedi kecil, seperti ada yang tercemplung ke sawah, terpeleset ketika jalan turun, atau sekedar terkilir saat menapak.

Tapi saya yakin, semua kelelahan dan kesialan itu terbayar ketika telapak sudah bersentuhan dengan pasir pantai.

Kembali mendengar deru ombak dan menikmati aliran air laut di sela-sela kaki memberi kenikmatan tersendiri. Untuk saya, pantai tak pernah gagal memberi kesan menawan.

Dari sana, Karang Taraje sudah terlihat amat dekat. Namun sayang, sepertinya saya belum diizinkan mampir di sana. Jalanan menuju ke sana dijaga segerombolan anjing penjaga ternak yang terkenal ganas. Daripada mencari masalah, lebih baik mengurungkan niat pergi untuk mendekat.

“Taraje” dalam bahasa setempat artinya tangga. Mudah ditebak kenapa dinamakan demikian: bentuk karangnya memang menyerupai tangga. Kalau memandang dari arah pantai, sisa air di karang dari tabrakan ombak seakan bergerak, bertahap, menuruni anak tangga.

Beberapa penduduk terlihat sedang memancing dengan cara yang unik. Dengan seutas bambu, mereka memancing agak ke tengah laut sambil mendera ombak. Ikan yang didapat pun cuma ikan-ikan kecil. Memang bukan untuk dijual, tapi dikonsumsi sendiri.

Kami harus menaiki bukit yang cukup terjal untuk sampai ke agenda terakhir sekaligus puncak, hari itu. Menunggu sang surya terbenam di Tanjung Kelayar. Sebenarnya kalau enggan menaiki bukit, melewati jalan memutar juga bisa dilakukan. Tinggal memilih, lebih senang jalan berbatu dan licin atau jalanan menanjak yang juga licin.

Akhir hari itu menjadi sempurna ketika matahari akan mengucap salam pamit pada semesta. Indahnya tak terucap, cantiknya tak terungkap. Benar-benar pemandangan luar biasa sebagai hadiah bagi kami yang sudah rela berpeluh demi sampai di sini. Terasa tenang sekali perasaan. Seakan kami tak mau mengijinkan matahari pergi begitu cepat.

Cuaca cerah sehari tadi membuat sempurna spektrum peninggalan sang surya. Lukisan paling cantik satu semesta dari Yang Kuasa. Membuat insan-insan lebih merasakan makna mendalam akan malam. Terang tak selamanya jaya, ada waktu masing-masing seperti juga manusia yang tak selamanya merasakan kenikmatan.

Senja di Karang Taraje
Senja di Karang Taraje

Sambil menikmati semangkuk mi rebus dan segelas es kelapa, saya terduduk santai di pasir putih. Bercengkerama dengan teman seperjalan. Tak lupa mendirikan tripod sebagai penyangga kamera. Kami banyak mengambil gambar sampai lupa waktu. Cahaya senja semakin menghilang. Kami mesti segera beranjak pulang.

Esok paginya kami menuntaskan agenda perjalanan ini dengan mengunjungi Pantai Ciantir. Dari perkampungan warga tempat lokasi homestay, bisa dicapai dengan berjalan kaki 10 menit. Pasir putih sejauh mata memandang membuat pantai ini cantik penuh pesona. Tak kalah dibanding banyak pantai-pantai cantik lain di Pulau Jawa, bahkan Bali ataupun Lombok.

Pasir dan biru langit di Pantai Ciantir
Pasir dan biru langit di Pantai Ciantir

Kami ingin memanfaatkan waktu langka ini sebaik-baiknya. Ada yang bermain bola, bersantai sambil minum es kelapa, atau sekedar menghabiskan memori di kamera.
Saat hari beranjak siang, kami mesti kembali ke penginapan untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta.

Rasanya tak ingin cepat berpisah dengan kehangatan dan kebersahajaan desa ini. Setelah semuanya, saya merasa beruntung pernah merasakan keduanya itu. Meski cuma sebentar, tak hanya kepenatan yang hilang, pencerahan pun muncul akan cara-cara sederhana menikmati hidup.

Jiwa kembali siap menjalani rutinitas di hari hari berikutnya tanpa pernah lupa akan satu hal, menjelajahi sisi lain bumi Tuhan.

  • Disunting oleh SA 28/04/2012

© 2017 Ransel Kecil