Artikel-artikel yang ditulis oleh Aziz Syam

Dari Bawah Laut Hingga Atas Bukit Pulau Kanawa

Bar saat senja
Bar saat senja

Perahu saya berlabuh setelah perjalanan dua hari satu malam mengelilingi Pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, di sebuah pulau kecil yang sudah disulap menjadi resort sederhana dengan pemandangan yang luar biasa bernama Pulau Kanawa. Menginjakkan kaki di Pulau Kanawa sekitar jam dua siang, tubuh terasa tidak sabar untuk segera melihat apa yang tersembunyi di perairan sekitar pulau ini.

Bawah laut Pulau Kanawa begitu memanjakan mata saya. Kegiatan snorkeling saya mulai dari dermaga yang berada di utara pulau lalu berlanjut menuju ke arah barat. Berbagai koral dan ikan yang beraneka warna menemani sepanjang kepakan kaki di permukaan laut. Petualangan bawah laut ini berawal dari sambutan rombongan ikan menuju laut lepas, ikan nemo yang malu-malu bersembunyi dibalik koral, dan berakhir dengan bertemunya saya dengan penyu yang berenang santai, tenang, dan bebas. Hingga tak terasa saya sudah berenang cukup jauh hingga ke bagian barat pulau ini.

Pesisir pantai Pulau Kanawa
Pesisir pantai Pulau Kanawa

Restoran outdoor
Restoran outdoor

Setelah lelah snorkeling dan badan yang kering dengan sendirinya, saya menghabiskan sore dengan membaca buku di hammock yang berada di samping dermaga. Di pantai sebelah utara pulau ini dengan mudahnya terlihat bayi ikan hiu yang berenang di pinggir pantai menemani pengunjung yang menghabiskan waktu tidur sore di pantai yang sepi ditemani angin semilir yang menjemput tenggelamnya matahari.

Malam hari dihabiskan dengan makan malam di restoran yang ada di pulau dengan tiga bagian restoran yaitu dalam ruangan, luar ruangan yang ditemui dengan pohon rindang berbalut lampu temaram, dan bar kecil di luar ruangan dengan musik mengalun. Pilihan menu terdiri dari berbagai pasta yang memang bukan makanan lokal namun apa boleh buat hanya ini satu-satunya tempat bersantap di pulau kecil ini. Listrik pulau ini padam pada pukul 11 malam, setelah makan malam saya berjalan santai menuju pantai hanya untuk merebahkan badan ke pasir dan mata saya tak berhenti menatap gugusan bintang terbaik yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Dermaga
Dermaga

Fasilitas Bale'
Fasilitas Bale’

Pemandangan dari atas bukit
Pemandangan dari atas bukit

Waktu menunjukkan jam empat pagi, saya terbangun dan pergi ke arah selatan pulau untuk melihat matahari terbit dari puncak bukit. Dengan penerangan senter, saya mendaki bukit yang cukup dengan waktu lima belas menit untuk mencapai ke puncak. Setelah sampai puncak, lambat laun sang surya menampakkan dirinya menerangi seluruh kecantikan pulau ini. Pemandangan dari atas bukit ke arah pantai dan laut dapat terlihat gradasi putih pantai dengan biru laut yang begitu menawan.

Sayang sekali saya hanya menghabiskan satu malam di Pulau Kanawa yang indah ini. Setelah sarapan pagi kapal menuju Labuan Bajo telah berlabuh dan siap mengantarkan saya serta pengunjung lain pulang. Satu malam di Pulau Kanawa seperti mimpi bagi saya, keindahan dari atas bukit hingga bawah laut tidak tercela.


Menyambut Pagi di Lok Baintan

Sesaat setelah menunaikan ibadah sholat subuh, saya melawan dinginnya kota Banjarmasin dengan sepeda motor untuk menjemput teman saya yang bernama Nurul menuju warung soto banjar Bang Amat, dimana perahu sewaan kami atau yang biasa disebut orang Banjar “kelotok” menunggu. Sesampainya di warung soto banjar Bang Amat, teman kami satu lagi bernama Micah telah menunggu bersama kelotok yang sudah kami pesan sehari sebelumnya seharga Rp200.000. Kelotok yang dapat menampung hingga sepuluh orang tersebut memang terlalu besar untuk kami bertiga, namun tidak ada pilihan lain karena kami tidak mempunyai rombongan sebesar itu. Jadilah kami bertiga naik ke kelotok tersebut dan siap melihat keunikan pasar terapung Lok Baintan.

Pasar Terapung
Pasar terapung.

Pasar terapung Lok Baintan adalah pasar terapung yang direkomendasikan Nurul sebagai orang Banjar asli karena pasar terapung ini berbeda dengan pasar terapung Kuin yang berada di aliran sungai Barito. Pasar terapung Lok Baintan berada di aliran Sungai Martapura dan kata Nurul, pasar terapung ini lebih sepi dan lebih tradisional karena sebagian besar wisatawan berkunjung ke pasar terapung Kuin yang telah terkenal.

Pasar Terapung
Pasar terapung dari sisi lain.

Perjalanan dimulai dari warung soto banjar Bang Amat menuju ke pasar terapung Lok Baintan yang memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan kami berkejaran dengan terbitnya sang fajar yang menembus kabut pagi di Sungai Martapura. Kami dapat menikmati pemandangan aktifitas pagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai serta bersamaan dengan para penjual pasar terapung yang muncul dari berbagai anak sungai menuju arah yang sama dengan kami.

Kami datang lebih awal sehingga lokasi pasar terapung masih terbilang sepi. Tidak lama kemudian kami dapat melihat para pedagang dan pembeli berdatangan satu persatu dari balik kabut pagi yang masih menemani. Transaksi jual beli di pasar terapung ini sebagian besar dilakukan oleh para perempuan, mulai dari seorang ibu yang mendayung kelotok bersama anaknya yang berusia sekitar lima tahun hingga ibu-ibu lanjut usia yang sekedar ingin bercengkerama dengan teman sebaya mereka.

Bercengkerama di atas Kelotok Bercengkerama di atas Kelotok.

Bahan makanan yang dijual di pasar ini tidak selalu sama setiap harinya karena para penjual di sini langsung menjual sayuran, buah-buahan, serta bahan makanan lainnya langsung dari kebun mereka masing-masing. Saat kami berkunjung ke pasar terapung ini ternyata sedang musim pisang dan jeruk, sehingga begitu banyak pedagang yang menjajakan buah-buahan tersebut. Selain sayuran dan buah-buahan terdapat pula kue basah khas banjar yang sangat cocok untuk dimakan di pagi hari. Pembayaran di pasar ini sebagian masih melakukan transaksi berupa barter dan sebagian lagi menggunakan uang.

Hanya sekitar satu sampai dua jam para penjual dan pembeli melakukan transaksi jual beli di pasar terapung ini. Setelah membeli beberapa kue basah serta sekantong jeruk kami pun pulang bersamaan dengan para pedagang dan penjual yang satu persatu meninggalkan lokasi pasar terapung Lok Baintan tersebut. Dalam perjalanan pulang kami menyempatkan untuk mampir ke jembatan gantung Lok Baintan yang bertempat tidak jauh dari pasar terapung Lok Baintan.

Jembatan Gantung Lok Baintan Jembatan Gantung Lok Baintan.

Jembatan gantung Lok Baintan memang tidak terlalu modern dan megah namun kesederhanaan inilah yang membuat saya tertarik untuk melihatnya lebih dekat. Ketika pagi hari seperti saat kami datang, dari atas jembatan ini kami dapat melihat lalu-lalang para pelajar menyebrangi sungai menuju sekolah serta para pekerja yang melewati jembatan yang apabila dilewati sepeda motor akan bergoyang. Suasana sederhana seperti inilah yang jarang saya temukan di kota besar seperti Jakarta.

Soto Banjar
Soto Banjar.

Akhirnya kami sampai kembali ke warung soto banjar Bang Amat yang juga merupakan akhir dari perjalanan kami. Sepertinya sangat tepat waktu saat kami tiba di warung soto ini, saat itu pula waktu sarapan pagi. Kami segera memesan soto banjar yang mempunyai kuah bening dengan irisan telur bebek dan suwiran daging ayam. Makan soto banjar dengan pemandangan lalu lalang kelotok sungai Martapura serta pikiran yang merangkum seluruh perjalanan membuat pagi itu begitu sempurna.

  • Disunting oleh SA 20/02/2012

The House Hostel, Sokcho, Korea Selatan

Sampai di Inter-City Bus Terminal di Sokcho saya melanjutkan berjalan kaki selama lima menit. Ya, hanya selama lima menit dari terminal bahkan plang nama penginapan ini sudah terlihat saat kita keluar terminal. The House Hostel merupakan salah satu akomodasi yang begitu hangat baik interior hingga manajer penginapan di kota yang dingin ini.

Mr. Yoo sebagai manajer dari hostel ini menyambut saya di meja resepsionis. Saya pikir serupa dengan hostel yang pernah saya inapi, petugas resepsionis hanya akan melayani urusan administrasi dan langsung memberikan kunci kamar. Ternyata Mr. Yoo sangat berbeda, setelah memberikan kunci kamar lalu ia memberikan peta pariwisata Sokcho dan menjelaskan satu persatu termasuk bagaimana cara menuju ke tempat yang harus dikunjungi di peta, tanpa diminta. Kerennya lagi Mr. Yoo menjelaskan hingga mendetil naik bis nomor berapa, jam berapa, lama perjalanan, dan dia tidak menjual tur, jadi saya diberikan informasi bagaimana saya bisa keliling Sokcho sendiri.

Resepsionis.
Resepsionis.

Nama The House Hostel sepertinya bukan tanpa maksud, melainkan suasana dan atmosfer dari hostel ini dibuat sedemikian rupa seperti layaknya rumah sendiri. Lobi sekaligus ruang resepsionis hostel ini memang tidak begitu besar namun keragaman perabot dan pernak-pernik yang merupakan simbol dari penjelajah dunia kumpul di ruangan ini. Uang kertas dari seluruh dunia dipajang di dinding resepsionis dan uang receh dari berbagai negara tersebar di meja resepsionis itu tersendiri yang semuanya itu sumbangan dari traveler yang menginap di hostel ini. Masuk ke lobi sekaligus ruang resepsionis di The House Hostel seperti ruang tamu untuk pengunjung rumah Mr. Yoo.

Pintu masuk hostel.
Pintu masuk hostel.

Yang tidak kalah serunya adalah ruang makan dan dapur dari The House Hostel. Satu meja makan dengan enam kursi kayu diletakkan di tengah ruangan seperti ruang makan rumah sendiri. Selain itu di ruang makan ini juga terdapat komputer untuk menggunakan fasilitas internet gratis. Asiknya, teh atau kopi dapat dinikmati secara gratis sepanjang waktu. Seluruh tamu yang menggunakan gelas dan piring diharuskan mencuci sendiri di tempat cuci yang telah disediakan. Jadi seluruh kegiatan di hostel ini bebasis layanan mandiri karena sejauh saya mengamati, The House Hostel cuma punya tiga karyawan, dan mereka adalah anggota keluarga dari Mr. Yoo sendiri.

Salah satu sudut hostel.
Salah satu sudut hostel.

Meja untuk merilekskan diri.
Meja untuk merilekskan diri.

Lokasi yang paling saya senangi dan sebagian besar tamu dari The House Hostel adalah teras yang sangat mengasyikkan. Asyik karena banyak bangku dan meja taman tempat para pejalan berbagi cerita satu sama lain. Selain itu suasana pagi yang dingin dan sejuk di Sokcho ditemani secangkir kopi dan suasana teras yang terasa seperti di rumah membuat kita betah berlama-lama di teras hostel ini. Lucunya lagi, anjing peliharaan Mr. Yoo yang rumah mungilnya berada di sekitar teras hostel selalu ingin ikut berbincang dengan tamu yang datang.

Ruang sosialisasi dan fasilitas komputer berinternet.
Ruang sosialisasi dan fasilitas komputer berinternet.

Fasilitas di tiap kamar yang ada di The House Hostel antara lain pendingin udara, kulkas kecil, televisi, pengering rambut, dan koneksi wifi. Sepeda juga disediakan di hostel ini secara gratis untuk tamu yang ingin berkeliling kota Sokcho dengan bersepeda. Kota Sokcho sangat ramah dengan sepeda. Terdapat jalur sepeda pada tiap ruas jalan di kota ini yang mengitari berbagai objek wisata seperti danau dan pantai sehingga turis yang datang ke kota ini sangat mudah untuk menikmati kota yang mempunyai tagline “The Sky to Sea Activity“.

Saya memesan penginapan ini dengan menggunakan reservasi kolektif di internet dan saran saya lebih baik melakukan reservasi tersebih dahulu sebelum menginap di hostel ini karena The House Hostel merupakan penginapan favorit di kota Sokcho.

  • Disunting oleh SA 19/12/2012

© 2017 Ransel Kecil