Artikel-artikel yang ditulis oleh Arif Widianto (halaman ke-1 dari 2)

Tentang Kopi

Tulisan ini adalah kontribusi dari Arif Widianto, sahabat kami sejak lama yang juga penginisiasi Ransel Kecil. Terima kasih, Mas Arif!

Biji kopi

Minum kopi akan selalu berbeda.

Saya kenal kopi ya kopi murni. Kopi sejati. Asli. Kopi racikan nenek saya.

Biji kopi mentah berwarna hijau itu dipanggang di atas wajan. Setelah itu biji kopi matang digiling halus. Kopi bubuk dimasukkan kaleng. Setiap hari, kakek dan nenek saya bisa bikin kopi asli seperti itu. Ada dua anak beruntung di rumah, saya dan adik, ya, kita boleh cicip kopi.

Kopi gaya orang Jawa biasanya ditambah gula. Manis. Kental. Kopi akan menghangatkan suasana pagi itu sebelum kakek pergi ke sawah. Atau sebelum nenek pergi ke pasar.

Ketika saya mulai bekerja, saat itu baru mulai budaya minum kopi instan.

Kopi bubuk instan, begitu awalnya. Urusan gula harus ditambah sendiri.

Kemudian ada yang membuat kopi susu. Saya ingat agak merasa aneh saat itu, kopi kok dicampur susu? Mana saya anak desa ini gak senang susu. Eh ternyata semua orang suka saja, termasuk saya. Laris.

Varian kopi instan pun beragam: kopi bubuk, kopi dan gula, kopi-susu-gula, kopi-gula-ginseng, kopi-gula-coklat, dan banyak macam lagi. Ada pula kopi instan dalam kaleng, kopi instan botol plastik. Dengan aneka rasa.

Orang kemudian mengenal kopi dingin. Sebelumnya, kopi itu selalu panas.

Semua yang serba instan mungkin dibuat untuk membuat segalanya gampang. Bahkan untuk urusan kopi.

Tak terasa, setelah puluhan tahun, setelah merasuki jutaan rumah, ratusan juta cangkir, milyaran tegukan, kopi instan sudah menjadi budaya.

Gemerisik bungkus plastik. Tinggal sobek. Tuang air panas. Aduk. Jadilah, kopi instan. Kopinya kita, hingga beberapa saat kemudian…

Budaya instan kemudian menghadirkan kedai kopi. Ada kedai kopi murahan hingga kedai kopi mahal.

Kedai kopi bisa hadir dalam bentuk waralaba kedai yang tertata rapi dan cantik di pojok perempatan di depan Sarinah. Kedai kopi bisa maujud dalam remang-remang berbau busuk got dan semerbak sampah di pinggir terminal Pulogadung.

Bersyukurlah Anda yang pernah menikmati kedua sensasi kedai kopi macam itu. Itulah kehidupan. Kehidupan bisa dikenal dari secangkir kopi setiap orang.

Saya lupa berapa kali minum kopi di warung yang menyajikan kopi bungkus seperti itu. Tak terhitung. Semua itu membawa kenangan tersendiri.

Ada saat tengah malam nongkrong makan Indomie telor bersama kawan-kawan kos di Pasar Cideng.

Ada juga saat ketika di Jakarta tak ada angkutan dan mobil di jalan raya. Hanya lalu lalang mobil tentara, ambulan, dan bunyi sirine. Bahkan saya pun bisa berdiri di tengah jalan Thamrin saking sepinya. Tapi masih ada saja penjaja kopi beredar di jalanan. Dari mereka lah dahaga kopi terpuaskan.

Juga ketika saya terjebak di Terminal Tirtonadi Solo dalam perjalanan ke Jombang menumpang bus. Tak ada bus ke Jawa Timur karena jalan rusuh oleh pendukung Bu Mega yang gagal terpilih jadi presiden. Kopi di terminal mengingatkan saya kejadian ketika saya harus balik lagi naik bus ke Jakarta.

Kopi memang kawan yang tepat untuk saat menunggu.

Jadi ingat pula saat minum kopi berdua saat bersama pacar yang kemudian jadi ibunya anak-anak.

Kopi menciptakan kenangan. Atau kenangan tercipta karena kopi?

Hingga kemudian, saya, dan juga banyak orang lain, kembali ingat bahwa negara ini ada produsen kopi berkualitas.

Kalau kita punya kopi berkualitas, kenapa kita hanya merasakan gula berasa kopi? Karena saking manisnya. Atau kenapa pula hanya puas dengan kopi berasa jagung? Meski sudah diberi banyak tulisan tentang “murni”, “asli”, dll.

Hanya dari kedai kopi lah kita berharap bisa mendapat kopi bermutu. Ya, memang tidak semua kedai kopi. Mayoritas kedai kecil menjual kopi instan. Tapi saya pernah mencicipi kopi asli, khas, kuat, diracik secara tubruk di sebuah kedai pinggir jalan di sebuah kota kecil (lupa di mana!). Beberapa kedai kopi mahal menyajikan varian kopi berkualitas dari lokal hingga asing.

Eh, omong-omong kopi mahal, kopi mahal pertama saya cicipi di kota Las Vegas.

Saya pernah berlagak demikian. Jadi tuan berkantong tebal minum kopi di kedai mahal. Tidak sepenuhnya ingin berlagak sih, tapi keadaan memaksa demikian.

Saya baru kenalan dengan anak Venezuela ini. Saat itu saya tak bisa tidur karena jetlag. Tampaknya dia juga demikian, entah karena apa. Saat itu sudah lewat tengah malam. Kami ketemu di tengah jalan, dan kebetulan ada kedai kopi itu, Saya ajak kawan ini. Perlente dan ganteng anaknya. Hush, jangan curiga macam-macam. Bayangkan Marlon Brando muda ketemu Rano Karno muda, kira-kira begitulah wajah dua orang di kedai itu, tak bisa dibayangkan…

Kami berdua dari negara miskin. Wajar dong sekali-kali ngopi, di Amerika lagi. Ingat pesan istri saya ini, kalau ingin merasakan kemewahan memuaskan mulut dan perut, cicipi makanan atau minuman di tempat makanan itu berasal. Ingin sushi, ya nanti makan di Jepang. Ingin kopi Starbucks, jadi wajar dong di Amerika. Begitulah argumentasi pikiran saya.

Saya bayar $4 untuk secangkir kopi hangat di kedai berlogo hijau itu. Saya kira relatif tidak mahal kalau makanan cepat saji pun dijual seharga $7-$10. Hampir tiap hari makan di restoran cepat saji, sebab itu makanan termurah. Tidak ada warung pojok yang jual nasi bungkus di negeri Amerika. Harga kopi itu relatif murah. Relatif untuk situasi saat itu.

Itulah kopi pertama saya di Starbucks. Bahkan saya lupa bagaimana rasa kopinya.

Secangkir kopi

Kedai kopi yang awalnya murni urusan jual beli kopi, saat ini jadi ranah publik. Tempat untuk bertemu dan bikin janji. Mungkin itulah mereka berani jual lebih mahal.

Kopi instan dan kedia kopi menawarkan budaya instan. Segala yang instan awalnya dibuat sebagai pengganti. Bila bepergian, kita pasti repot bila harus membuat kopi sendiri, maka dibuatlah kopi instan seperti itu. Ironisnya, budaya kopi instan justru menjadi gaya minum kopi massif. Hingga gaya ngopi di rumah pun menjadi budaya kopi instan. Industri punya peran besar dalam hal ini. Tak tak sepenuhnya salah mereka. Kita sendiri yang terlalu terlena. Atau kita sendiri juga menikmatinya.

Konyolnya, produk kopi instan dari dua perusahaan kopi terbesar di Indonesia saat ini sudah menyasar pasar negara lain seperti Malaysia dan bahkan higga Afrika sana.

Tapi jangan lupa, negeri kita mempunya kopi berkualitas. Beragam varian rasa dari seluruh nusantara. Ragam kopi ini, bila dibikin sendiri di rumah, seperti yang dilakukan nenek saya dulu, pasti jadi pengalaman minum kopi tak terlupakan dan tidak mahal.

Kopi Arabika 1.000 gram berkualitas cukup bagus bisa kita beli seharga Rp120.000, termasuk ongkos kirim. Bila dicampur kopi Robusta lokal, biaya itu bisa lebih murah lagi. Katakanlah kita memakai 8 gram biji kopi untuk satu cangkir, sejumlah kopi tadi cukup untuk membuat sekitar 125 cangkir. Ingat 8 gram kopi bisa jadi sudah terlalu “kuat” bagi sebagian orang. Jika satu bungkus kopi instan dijual seharga paling murah Rp1.000, maka kita perlu dana Rp 125.000 untuk membuat 125 cangkir kopi. Di luar gula, bila kita memang suka, dana yang kita keluarkan hampir sama. Anda bisa mencicipi aneka kopi dari Aceh, Jawa, Toraja, Papua, Flores, dan lain-lain. Dengan kualitas dan rasa yang jauh berbeda!

Ada kopi yang pahitnya minta ampun. Ada yang diselingi asam menyakitkan perut, bila Anda tak cocok. Ada pula aneka rasa buah-buahan, coklat, juga aroma sekitar kopi yang bisa masuk ke rasa kopi. Bahkan ada satu jenis kopi asing dari Afrika yang punya tiga rasa berbeda ketika baru masuk mulut, ketika kita hisap di dalam rongga mulut, dan setelah kopi masuk tenggorokan. Sensasi ngopi tak akan sama.

Ah, membahas kopi aja jadi panjang lebar begini. Tapi membahas kopi rasanya tak akan pernah selesai.

Karena terkenalnya kopi sebagai minuman kaum muslim, Paus Pope Clement VIII konon ditekan sejawatnya untuk mendeklarasikan sebagai “Temuan Pahit Setan”. Setelah mencicipinya, konon katanya Paus berkata, “Minuman setan ini begitu lezat. Kita harus mencurangi Setan dengan membaptisnya”. Hehehe, ada-ada saja, anggap saja cerita hiburan.

Kita pergi ke kedai kopi bila memang ada keperluan. Atau, bila suasana tidak mendukung dan perlu tendangan kafein, kadang bikin kopi instan juga tak masalah. Lalu ingatlah saat-saat memilih varian kopi, suara gilingan menghancurkan biji kopi, menunggu tetesan air panas merayu bubuk kopi agar menyumbangkan aroma dan rasanya, hingga kemudian siap satu cangkir kopi hitam. Kemudian saat duduk sendiri, bersama kawan, atau bersama orang yang kita cintai, masuknya rasa pahit, asam, aroma rempah, buah-buahan, coklat, dan ragam rasa lainnya merasuk ke dalam otak kita. Seolah ingin mengatakan dunia begitu berwarna. Pahit, memang. Tapi kita akan selalu menikmatinya.

Pada akhirnya minum kopi adalah merasakan pengalaman yang berbeda.


Ketika Anak Bertamasya

Liburan bersama keluarga tentu menjadi impian kita semua. Lebih-lebih bisa melaksanakannya lengkap dengan seluruh keluarga. Saya dan istri pernah suatu ketika liburan ke tiga negara ASEAN tanpa putri kecil kami. Jalan-jalan berdua tanpa anak mungkin memang asyik. Rasanya bisa terbebas dari kesibukan mengasuh. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kangen. Sepi. Keceriaan yang sehari-hari kami hadapi rasanya hilang. Aduh, rasanya trenyuh. Maklum, sehari-hari kami biasa bertiga dan saya kerja di rumah. Sejak itu kami bertekad tidak akan pernah meninggalkan anak kami liburan.

Namun, ternyata jalan-jalan bersama anak tidak selalu segampang yang kita bayangkan. Berikut cerita kami.

Anak Jalan-jalan
Dalam perjalanan naik motor.

Usia Anak

Kami mengajak putri kami liburan “sungguhan” pertama kali pada awal 2008. Catatan: yang saya maksud sungguhan adalah meniatkan perjalanan itu sebagai liburan, bukan perjalanan untuk urusan lain sambil liburan. Usianya saat itu masih 1 tahun 8 bulan. Kami membayangkan mengenalkan liburan tentu mudah dan menyenangkan. Namun apa yang terjadi? Ia sering menangis, sering takut pada hal-hal yang kita rasa “biasa”, takut pada orang yang tidak dikenal (lebih-lebih wisatawan mancanegara), lalu menangis lagi.

Anak terlalu kecil lebih banyak menangis, karena mungkin takut, kurang pengenalan, atau pada dasarnya karakter anak begitu. Saat itu putri kami takut melihat gelombang di pantai, maklum, rumah kami jauh dari laut. Tapi tak lama ia jadi suka bermain air. Ia juga takut melihat orang asing. Makanan juga jadi hal yang vital untuk diperhatikan. Untungnya karena masih ASI, faktor makanan masih agak mudah.

Kemudian ada masalah penting yang justru harus dipertimbangkan jauh hari sebelum ingin mengajak anak berjalan-jalan. Ingatan anak di bawah tiga tahun itu masih tidak permanen. Jadi bila Anda bayangkan mengajak anak jalan-jalan lalu berharap itu jadi tabungan kenangannya di masa mendatang, jangan berharap demikian. Pada umur 4 tahun, putri kami sudah melupakan kenangannya pada saat jalan-jalan di usia 2 tahun. Untungnya kami punya rekaman lengkap perjalanan dan video perjalanan lampau. Putri kami suka melihat-lihat foto dan video perjalanannya dulu. Jadilah ia selalu memperbarui kenangan-kenangannya meski banyak yang terlupa.

Mengenal Penyu
Agak takut dengan Penyu.

Menurut saya, usia paling pas untuk mengajak anak jalan-jalan adalah ketika usianya empat tahun atau lebih. Pada usia itu, anak sudah terbentuk nalar dan logikanya, jadilah ia lebih gampang diberi pengertian, lebih menikmati perjalanan dan tempat baru, dan juga bisa mengingat kenangan perjalanannya. Pada usia anak empat tahun, ia juga mudah diarahkan untuk mempunyai banyak kegiatan, dan menikmati kegiatan itu.

Namun, ada dilema pula, karena logikanya sudah “berjalan”, kadang-kadang anak jadi ribet, susah untuk dikendalikan. Alasannya macam-macam. Banyak protes. Suka mengeluh. Dan seterusnya. Tapi itulah tantangannya sebagai orang tua. Kita akan senang kalau bisa menghasilkan petualangannya yang hebat dan dikenang anak, sementara ia juga bisa menikmatinya.

Penginapan

Menginap adalah hal wajib ketika jalan-jalan. Namun ada sedikit masalah bagi putri kami yang sudah lama tidak menginap di hotel/hostel itu. Ketika awalnya dibilang akan menginap di hotel, ia tidak tahu hotel itu apa. Awalnya ia senang-senang saja. Masalah baru dimulai setelah anak akan tidur.

Ternyata ia tak mau tidur. Lalu ia menangis. Kemudian dia bilang sedih. “Aku tak mau tidur di sini. Aku mau tidur di kamarku sendiri di rumah Jakarta.” Nah, ketahuan deh alasannya. Malam itu kami berusaha menjelaskan konsep hotel itu bagaimana, bahwa rumah akan kami tinggalkan beberapa hari, dan nanti setelah liburan kita bisa kembali ke rumah lagi. Setelah itu kami cerita dongeng tentang anak yang suka berpetualang meski pada awalnya takut tidak bisa tidur di tempat asing. Karena keberaniannya, akhirnya sang anak bisa melihat tempat-tempat indah di seluruh dunia.

Menggambar di waktu senggang dalam liburan
Kegiatan senggang waktu liburan.

Beberapa hari kemudian kami pindah hotel ke daerah lain. Kebetulan hotelnya lebih nyaman dari yang pertama. Anak kami langsung cocok. Meski ada sedikit masalah dengan shower, karena ia takut mandi disiram langsung dari pancuran! Tapi secara keseluruhan akhirnya anak kami sudah bisa menginap dengan nyaman. Ketika sampai di rumah ia malah merengek, “Aku pingin mandi pakai shower yang airnya langsung bisa panas.”

Makanan

Makanan adalah hal penting yang tak boleh diremehkan dalam setiap perjalanan bersama keluarga. Jangan sampai tidak. Jangan sampai keluarga ada yang sakit akibat telat makan. Atau sakit perut gara-gara makan yang tidak benar.

Makanan di Pesawat
Mengenal makanan di pesawat.

Namun topik makanan dengan anak kecil tidak berhenti di situ. Bagi anak kecil, makanan juga harus menarik, tidak membosankan, dan juga tidak pedas. Merica aja bagi mereka pedas! Setiap orang tua pasti pernah merasakan hal ini, ketika asyiknya makan, eh si anak melihat ada butir hitam di sayur. Tiba-tiba saja selera makan hilang. Ketika ditanya, ia bilang ia tak mau makan karena ada bintik hitam. Ketika bintik hitam dihilangkan, ia masih saja berdalih dengan macam-macam alasannya lainnya.

Yang pasti, anak juga perlu diajak menikmati makanan. Berbagai jenis makanan! Sudah sejak lama kami mengajari putri kami agar ia berani mencoba makanan baru yang pertama kali ia lihat. Kami bilang padanya kalau dia tidak berani mencicipi, ia tentu tak tahu apa rasa makanan itu. Kami bilang, kalau ia tak suka, ia boleh bilang nanti ia bisa memilih makanan yang lain.

Sebenarnya tidak hanya untuk anak, tapi kalau ingin jalan-jalan dengan lancar, kita harus bisa mencicipi segala jenis makanan di daerah tujuan. Khususnya ke daerah lain yang punya kebiasaan makanan berbeda. Anak seyogyanya dilatih terlebih dahulu. Anak harus terbiasa makan tidak hanya gurih dan enak, namun eksotismenya juga harus dinikmati: apakah itu sayuran, agak pedas sedikit, makanan asin, makanan asam, makanan manis dan jenis makanan lainnya. Nasi, pasta, spaghetti, kentang, roti, ubi, mi, pizza, shawarma, salad, dan seterusnya. Dan jangan lagi kambuh alasan kalau tidak makan nasi nanti tidak kenyang.

Petualangan

Dan pada akhirnya adalah petualangan. Sebagai orang tua, kita punya tanggungjawab tentang hal ini. Dalam menyusun rencana perjalanan, adalah penting untuk membawa misi menjadikan perjalanan itu petualangan yang hebat. Petualangan bisa mengajarkan kesenangan, keceriaan, tantangan, sejarah, seni, keindahan, kedamaian desa, kebaikan, kerja keras, menabung, dan seterusnya. Jangan sampai jalan-jalan hanya untuk niatan negatif, seperti gengsi, pamer, atau hal-hal lainnya.

Di Kebun Bunga
Di kebun anggrek.

Seyogyanya anak juga menikmati perjalanan itu sendiri, juga makna dalam perjalanan. Kita sebagai orang tua selalu harus bisa menjelaskan konsep-konspep rumit yang kita temui dalam perjalananan kepada anak, seperti: perbedaan budaya, perilaku sosial, perbedaan agama, arti kesenian, dan lain-lain. Cara lain biar anak menikmati perjalanannya adalah membawa serangkaian mainan atau rancangan kegiatan yang bisa ia nikmati selama perjalanan. Kita bisa membawa semacam puzzle, alat untuk permainan fisik misalnya layangan, frisbee, buku gambar dan pensil warna, dan lain-lain. Contohnya putri kami, ia suka menggambar, maka setiap pulang bepergian dari suatu tempat, ia bisa menikmati kesendiriannya menggambar.

Tarian tradional Bali
Tarian tradisional.

Pada jalan-jalan terakhir kami beberapa bulan lalu, rencana perjalanan kami agak lengkap: mulai dari melihat pantai, sunset/sunrise, tarian tradisional, kebun binatang, kebun bunga, desa konservasi, dan juga melihat hewan langka. Kami juga sempatkan mengunjungi pasar tradisional, pasar oleh-oleh, dan kampung-kampung lokal untuk menikmati makan yang murah. Sayang kami tidak bisa mengunjungi museum karena keterbatasan waktu.

Kalau anak mendapatkan petualangan berharga dalam hidupnya, kita tentu bisa berdoa semoga ia bisa menjadikan hal itu bekal yang berharga dalam kehidupannya.

  • Disunting oleh SA 13/10/2010

A untuk Apel

Salah satu kenangan dalam perjalanan ke negeri asing adalah masalah berkomunikasi. Bagi Anda yang bisa bahasa lokal negeri itu, tentu hal ini tidak terasa. Tetapi bagi yang tidak bisa pasti ada beberapa kesan tentang hal ini. Ini adalah catatan perjalanan saya.

Bandara Los Angeles
Bandara Los Angeles

Saat itu saya berada di bandara Los Angeles (LAX), Amerika Serikat. Bandara LA, adalah kanal transportasi udara yang sibuk. Maklumat dalam bahasa Inggris, Spanyol, China, dan Jepang itu terdengar membahana tiada henti; pesannya agar kita tidak meninggalkan bagasi sembarangan. Memandang sekilas, banyak manusia dari segala ras, berjalan-berkeliling, sibuk dengan segala urusan mereka. Ada muda-mudi Jepang yang ngejreng dandanannya. Seorang pekerja yang menilik penampilannya adalah dari India, terlihat rapi dan ringkas. banyak wisatawan China yang sudah renta, dan lebih banyak lagi warga A.S. Sekelompok keluarga, dengan beberapa wanita, lelaki, dan anak-anak, patuh berjalan seperti gembalaan. Menilik perawakan dan wajah mereka, saya kira dari Bangladesh. Seorang petugas membawa tanda besar bertuliskan IOM dengan sabar melayani mereka. Kelompok itu menjalani imigrasi khusus yang terpisah untuk imigran. Riuh dan ramai, itulah bandara LA.

Perlu diketahui, ini adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri, juga pertama kali ke Amerika, demikian halnya uji-coba perdana kemampuan bahasa Inggris saya, yang menurut saya masih belepotan. Karena tujuan akhir adalah AS, maka saya diwajibkan mendaftarkan di imigrasi sebelum melanjutkan untuk transit penerbangan lokal. Setelah masuk imigrasi dan diikuti registrasi kedua di imigrasi, semuanya memakan waktu hampir 2 jam, akhirnya saya bisa keluar gerbang.

Akibatnya, saya hampir terlambat mengejar penerbangan selanjutnya. Waktu tersisa kira-kira 40-an menit. Mana saya tidak punya referensi atau riset mengenai bandara itu sebelumnya.

Saya keluar dan bertanya kepada seorang petugas bandara berkulit hitam. Saya tahu dia petugas bandara karena ada lencana bertuliskan TSA. “Bagaimana saya harus ke Gerbang 6?,” tanya saya. Bapak agak diam sejenak. Apakah bahasa Inggris saya kurang jelas? Ataukah pertanyaan saya yang bodoh?

Tapi dia lalu menjawab, “Oh, kamu bisa jalan ke sana” Dia menunjuk arah di belakang saya. “Atau kamu bisa naik bis berkode A” Saya saat itu di Gerbang 7. Tapi saya benar-benar tak tahu bahwa Gerbang 6 adalah gerbang selanjutnya, bukan memutar atau berada di wilayah lain, seperti di Bandara Soekarno-Hatta misalnya. Perlu diketahui, bandara LA strukturnya berbentuk U. Makanya saya memutuskan bertanya takut gerbang itu berada di wilayah lain itu.

“Ugh, okay. Bus A, ya?” tanya saya.

“Ya, A… seperti untuk A, p, e, l. Apel. Tahu kan?”

Apel? Batin saya. Oh iya, A, si Apel. Ah parah betul nih, masak A saja saya tidak tahu. Demikian pikir saya. Lalu saya bilang, “Terima kasih, Tuan.”

Itulah sebagian contoh komunikasi di negeri asing, dengan kemampuan bahasa Inggris seperti saya. Problem komunikasi dalam bahasa adalah sebuah hal yang menarik dalam setiap perjalanan. Banyak kisah lain. Anda pun pasti punya.

Tapi ketika saya mendarat di lokasi tujuan dan menumpang taksi. Saya sempatkan ngobrol dengan pengemudinya. Dan saya mendapatkan pujian bahwa bahasa Inggris saya bagus. Dia bertanya, “Apakah saya sering berkunjung ke Amerika?” Nah. Belum tentu kalau kita merasa kurang bagus ternyata menurut orang lain tidak bagus. Bahkan menurut pengemudi itu, dia bilang banyak orang Amerika yang bahkan tidak bisa berbahasa Inggris. Saya agak tak percaya. Tapi ketika ada orang lain yang memuji bahasa Inggris saya lagi, saya baru percaya bahwa bahasa saya meski jelek, cukup untuk bisa bertahan berpetualang di sana.

Masalah lain adalah ketika melakukan perjalanan di negara yang tidak mempunyai tulisan dasar huruf latin, seperti Jepang, China, Thailand, atau negera-negara Arab.

Papan Petunjuk di Bandar Beijing
Di Bandara Beijing

Suatu ketika di bandara Beijing, China, saya ingin bertanya di manakah lokasi tempat makan. Dan meluncurlah jawaban ala pantomim itu. Tunjuk sana. Tunjuk situ. Wajah melotot. Frustrasi. Tanya ke petugas lain sama saja. Tanpa keluar bahasa Inggris pun. Mungkin ada yang bisa, tapi sangat sedikit.

Suasana di sebuah pasar malam, Thailand
Suasana di sebuah pasar malam, Thailand

Di Thailand juga sama parahnya. Rata-rata orang di sana kurang cakap berbahasa Inggris. Tapi jangan takut untuk mencoba, ada beberapa yang bisa bahasa Inggris, meskipun itu juga sangat terbatas. Suatu ketika ketika sampai lokasi pemberhentian terakhir angkutan di Krabi. Saya tanya pada petugas tentang lokasi hotel saya, saya tunjukkan cetakan nama hotel itu sambil mengucapkannya. Dia mungkin tahu. Tapi dia tidak bisa menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Atau dia juga tidak bisa menulis aksara latin. Parah kan?

Yang lebih menyakitkan adalah ketika orang lokal pun tidak mengenal angka. Tuntas sudah keterasingan kita. Bayangkan ketika untuk membayar pun tidak tahu. Salah satu strategi saya biasanya hanya menyodorkan uang kecil, lalu meminta penjual itu mengambilnya. Beres sudah.

Yang agak tak enak adalah ketika kita mencicipi makanan lezat, lalu kita tak tahu nama makanan itu. Orang lokal pun tak bisa menjelaskan dengan jelas. Kita tak mampu menangkap bahasanya. Tulisan pun tidak membantu.

Itulah problem bahasa. Susah, memang. Tapi jangan takut. Berani untuk berkomunikasi sering membantu perjalanan kita. Bahkan mungkin jadi kenangan terindah dalam perjalanan Anda.

Suatu ketika saya pernah ngobrol dengan orang Thailand, Jepang, dan Arab. Mereka semua tidak bisa bahasa Inggris. Dan saya tidak bisa bahasa mereka. Dan meluncurlah bahasa kita yang asing itu. Bahasa tubuh. Bahasa melotot. Bahasa senyum. Tapi saya tahu mereka bilang bahwa Indonesia itu bagus, orangnya suka senyum seperti mereka. Dan komunikasi dunia tercipta.


Melanconglah Selagi Muda

Mungkin Anda teringat dengan catatan saya tentang perjalanan yang gagal? Kalau dipikir kembali, selain faktor kurang matangnya perencanaan, ada hal lain yang banyak menyebabkan rencana perjalanan itu jadi berat. Ya betul, karena kami berkeluarga.

Membuat rencana perjalanan bagi keluarga tampak jauh lebih rumit. Ada banyak hal yang harus dipikirkan: orang yang lebih banyak, tujuan spesifik dan harus cocok bagi seluruh anggota keluarga, transportasi yang tidak bisa sembarangan, pemilihan waktu dan lama kunjungan yang lebih santai, dan pada akhirnya semua bermuara pada bujet yang lebih banyak.

Jumlah orang yang lebih banyak tentu akan membuat rencana perjalanan lebih kompleks daripada perjalanan seorang atau dua orang. Apalagi dengan anak kecil, hal itu akan menambah persyaratan ke banyak hal lainnya. Yang paling utama terpengaruh adalah waktu kunjungan yang lebih lama. Jangan sampai keluarga (atau anak) jatuh sakit karena punya niat menghemat waktu lalu memutuskan mengunjungi dua atau tiga lokasi dalam satu hari. Mungkin mereka menikmatinya, tapi ketika kembali ke hotel barulah keluhan atau gejala kelelahan itu akan muncul. Waktu yang lebih lama berakibat pada bujet akomodasi yang lebih banyak.

“Berkelanalah sebelum menikah. Jelajahi seluruh dunia ini satu atau dua kali sebelum Anda mendapat kesulitan bahkan sebelum merencanakan rencana perjalanan itu sendiri.”

Tujuan jalan-jalan keluarga juga terbatas, kalau tidak bisa dibilang kurang menantang. Lokasi wisata yang terlalu keras (adventure) harus dihindari. Apakah tempat yang harus dikunjungi itu harus familiar dengan dunia anak, mungkin tidak harus. Kita bisa saja mengajak anak ke museum sambil mengenalkan banyak pengetahuan baru baginya. Jadi lupakan saja wisata petualangan, kecuali anak sudah pada usia cukup, dan ini berarti di atas 7 tahun. Anda bisa menunggu anak 7 tahun? Sabarlah.

Pertimbangan penting lainnya adalah makanan, apalagi kalau anak masih kecil. Contohnya selain tidak boleh pedas, makanan harus sudah familiar dengan si anak. Bayangkan kalau anak kita tidak mau makan hanya karena ia punya alasan “Aku tidak suka makanan itu karena ia banyak bintik hitam-hitamnya”, “Aku tidak suka mie dicampur sama jamur dan lain-lain”, “Aku tidak suka ada kentangnya dikasih keju”, dan masih banyak alasan lain. Beruntunglah orang tua yang selalu bisa mengenalkan makanan baru pada anaknya. Anak seperti ini adalah jenis yang sudah siap untuk jalan-jalan.

Transportasi bagi keluarga juga tidak bisa macam-macam. Bukan berarti harus kelas eksekutif atau harus pesawat, biar perjalanan lebih cepat. Tetapi mungkin tidak akan bisa mencoba kereta semacam kelas ekonomi. Atau kita tidak bisa mencoba jeep, kalau anak masih terlalu kecil.

Belum lagi kalau Anda dan istri juga bekerja. Mencari cuti bagi kita sendiri saja sudah cukup susah apalagi bisa memadukan cutinya dua orang. Apalagi kalau anak sudah sekolah jangan sampai dibuat pusing untuk mencari padanan waktu yang tepat untuk tiga orang atau lebih ini.

Saya menulis ini bukan karena menyesal sudah menikah dan mempunyai anak kecil usia empat tahun. Tulisan ini saya buat sebagai tips bagi mereka yang menunda untuk jalan-jalan selagi mereka muda. Ketika saya cerita sama istri akan menulis ide tulisan ini, dia langsung menjawab, “Ya, setuju itu. Semua orang muda harus memanfaatkan waktunya sesegera mungkin untuk jalan-jalan keliling dunia.” Tiap orang punya kesempatan dan jalan yang berbeda. Saya menikmati dan selalu ingin melakukan perjalanan bersama keluarga, bila kesempatan memungkinkan. Ada saat jalan-jalan sendiri atau bersama istri saja, dan saat itu adalah waktu yang kurang menyenangkan, entah karena kangen atau sebab lain. Saya juga ingin memberi putri saya kesempatan yang berbeda dengan saya. Saya hanya mengenal tanah Jawa dan pulau-pulau sekitarnya. Saya berharap banyak anak saya bisa mengenal negara, bahasa, dan orang dari seluruh penjuru dunia. Saya akan bahagia kalau bisa menemani dan menjawab semua pertanyaannya.

Berkelanalah sebelum menikah. Jelajahi seluruh dunia ini satu atau dua kali sebelum Anda mendapat kesulitan bahkan sebelum merencanakan rencana perjalanan itu sendiri. Setiap perjalanan itu akan sangat berharga bagi kehidupan Anda di masa mendatang, baik karir atau kehidupan keluarga. Jangan sampai uang habis hanya untuk ganti gadget saja. Harga dua telpon seluler canggih yang Anda pakai dalam dua tahun mungkin cukup untuk tiket pesawat ke Eropa. Jadi, backpacking-lah ke Eropa atau ke Amerika Latin atau Afrika selagi Anda muda. Jangan menunggu dan menyesal belakangan.

  • Disunting oleh SA 27/05/10

Perjalanan yang Gagal

“Suatu waktu, pembatalan rencana itu bahkan bisa lebih penting daripada keasyikan perjalanan itu sendiri. Mungkin faktor keselamatan, hal pembiayaan membengkak, mungkin juga kesehatan, dan banyak hal-hal yang bisa mempengaruhi lainnya.”

Saya dan istri sudah lama menginginkan sebuah perjalanan menikmati alam. Lebih-lebih alam Indonesia yang indah. Kami senang dengan segarnya alam, khususnya istri saya Yani, dia adalah sahabat alam. Pengalamannya menjelajahi alam jauh lebih banyak daripada saya.

Kira-kira satu bulan yang lalu kami menggodok rencana ke Gunung Bromo, Jawa Timur ini. Sungguh sangat kebetulan ada rencana mengunjungi saudara di Malang, jadi kami rencanakan setelah dari itu kita lalu ke Bromo. Rencana yang cukup masuk akal.

Proses perencanaannya tidak terlalu rumit, karena ini perjalanan lokal. Kami memutuskan akan akan menumpang kereta api Gajayani rute Jakarta-Malang. Kami belum pernah naik kereta ini. Mungkin akan menarik meski tiketnya cukup mahal, Rp300.000,- untuk hari biasa. Kalau ramai, tiket bisa melambung sampai Rp350.000,-. Saya membeli tiketnya melalui kantor pos. Saya baru tahu hal ini setelah mengecek laman situs PT Kereta Api. Kita cukup datang ke kantor pos yang ada fasilitas onlinenya lalu sampaikan pemesanan kita, dan kita bisa langsung mendapat kupon tiket secara langsung. Asyik bukan? Tentu saja selain kantor pos kita bisa pula memesan tiket melalui layanan telpon dan membayar melalui ATM.

Cerita berlanjut, tapi saya kembali sibuk dengan pekerjaan. Istri sibuk dengan ujian kuliahnya. Dan rencana perjalanan ini tiba-tiba terabaikan.

Akhirnya kami berangkat. Kereta api Gajayana menurut pendapat saya sangat bagus. Ia sudah memakai gerbong terbaru produksi PT. Inka, Madiun, perusahaan lokal khusus manufaktur kereta api. Gerbongnya terlihat canggih dan modern. Ada loker penyimpanan luas dan lega yang mirip di pesawat terbang. Tas ukuran 75cm bisa masuk. Toiletnya pun cukup lapang, ukurannya sekitar 1,5 m x 1,5 m. Sangat nyaman deh. Hanya satu hal, lama perjalanan Jakarta-Malang menurut jadwalnya adalah 15 jam. Sangat lama. Tapi syukurlah kami bisa menghadapinya, meski dengan badan penat dan capek.

Malang adalah nostalgia bagi saya. Saya menempuh pendidikan setingkat SMA selama tiga tahun di kota ini. Saya terakhir berkunjung pada 2004, dan itu hanya kunjungan setengah hari. Jadi kunjungan pada 2010 ini merupakan nostalgia lama yang tertunda. Pada sekitar pukul 10 siang kami menginjakkan kaki di Malang.

Wisata Kuliner

Setelah silaturrahmi pada bekas induk semang saya di daerah Bareng (pusat Malang) dan Sawojajar (timur luar Malang), saya mengajak istri dan putri kami yang berusia empat tahun, bernostalgia dengan makanan ala Malang yang dulu saya santap.

Kami sempat mencicipi pecel di Jl. Kawi pada pagi hari yang mendung itu. Pecel ini masih berdiri, dengan konsep dan layanan yang sama, persis 15 tahun lalu. Rasanya juga mirip saya kira. Maklum saya hampir lupa rasanya. Harga sebuah nasi pecel dengan bumbu dan sayur dan sebuah tempe adalah Rp5000,-. Dulu, pada jaman saya sekolah dan ngekos, harga pecel ini termasuk kelas mahal.

Selain ke pecel Kawi, kami juga berkunjung ke Toko Oen yang terletak di samping Toko Buku Gramedia di Jl. Basuki Rahmat. Ini adalah sebuah rumah makan yang berdiri sejak masa kolonial Belanda. Yang terkenal dari restoran ini adalah konsepnya yang mengusung gaya jaman dulu, dari interior hingga menunya. Menu utamanya, yang juga terkenal, adalah es krim dan makanan Barat. Selain di Malang, Toko Oen lainnya berada di Semarang, Jawa Tengah dan juga di negeri Belanda. Kami pernah membaca bahwa yang di Malang bukan dimiliki jaringan keluarga Oen lagi. Tapi itu tidak begitu penting, selain juga tidak sempat menanyakan langsung, yang jelas Toko Oen adalah peninggalan sejarah kota Malang dan restoran ini menjadi daya tarik wisata sendiri bagi kota ini. Karena dulu hanya anak kos, saya belum pernah mencicipi restorani ini. Dari luar terlihat pengunjung restoran ini adalah bule-bule. Pasti mahal, begitu pikir saya.

Ternyata, harganya memang lebih agak mahal, tapi masih terjangkau. Wajarlah menurut saya. Es krimnya paling mahal Rp30.000,-. Kami mencicipi Banana Split dan satu lagi es California sesuatu, yang saya tak ingat nama lengkapnya. Rasa Banana Split-nya memang halus. Putri saya yang memang penyuka es krim langsung asyik menikmatinya. Kalau es California itu rasanya kurang pas, menurut saya esnya terlalu banyak. Tapi ada campuran manisan buah di dalamnya. Ini mirip makanan kecil saya dulu, hehehe. Kami tidak mencicipi makanan karena saya perhatikan menu di situ banyak mengandung babi.

Setelah dari Oen, kami mampir ke masjid Agung di barat alun-alun kota Malang untuk ibadah Dhuhur. Setelah itu kami lalu menuju pojok timur alun-alun untuk menikmati tahu telor, harganya Rp6.000,- per porsi. Makanan ini adalah nostalgia bagi saya. Dulu, ketika suka keluyuran ke Gramedia, atau ke Blok M (julukan Jl. Majapahit) untuk berburu buku bekas, atau juga nonton di Sarinah, salah satu tempat makan yang terjangkau adalah kios tahu telor ini. Tapi rasanya aneh. Maklum saja, pagi hari kami sudah menikmati pecel, makanan siang dengan bumbu kacang mungkin jadi kurang terasa. Tidak ada sayurnya, pula!

Pada keesokan harinya, kami menikmati bakso bakar yang ada di Jl. Pahlawan Trip. Wow, sungguh asyik kota Malang yang memang terkenal dengan bakso dan bakwannya ini. Bakso bakar ini rasanya enak, unsur MSG-nya pun tidak terlalu terasa. Dan yang paling menarik, harganya terjangkau. Saya lupa harga masing-masing dan tidak sempat membuat dokumentasi, tapi kalau tidak salah saya hanya perlu membayar Rp30-ribuan untuk enam porsi bakso dan beserta dua gelas jus (tiga porsi dibungkus, hehehe!).

Rencana ke Bromo yang Gagal

Akhirnya kembali ke rencana perjalanan ke Bromo. Kami berdiskusi keras tentang hal ini. Saya tak ingin mengecewakan istri yang sangat menginginkan berkunjung ke sana. Sementara itu, saya juga ingin kita rasional. Kami mengajak anak kami yang masih empat tahun, dan di tengah perjalanan, ternyata persiapan kami kurang. Kami juga meminta pendapat pada orang-orang yang pernah ke sana. Setelah berpikir cukup lama, kami rasa usia anak kami masih terlalu kecil. Coba ia sudah enam atau tujuh tahun, mungkin ia bisa menikmati suasana Bromo. Faktor ini menjadi penentu keputusan kami. Akhirnya keputusan dibuat. Kami membatalkan rencana ke Bromo.

Kadangkala suatu rencana perjalanan bisa gagal. Suatu waktu, pembatalan rencana itu bahkan bisa lebih penting daripada keasyikan perjalanan itu sendiri. Mungkin faktor keselamatan, hal pembiayaan membengkak, mungkin juga kesehatan, dan banyak hal-hal yang bisa mempengaruhi lainnya. Apalagi bagi pelancong yang sudah berkeluarga seperti kami. Tentu, perencanaan yang jauh lebih baik akan jauh lebih sempurna. Kami memang kerang matang membahas hal ini. Kami pun memanen akibatnya.

Itu pelajaran berharga bagi kami. Dalam setiap perjalanan kami harus mempersiapkan dan merencanakan dengan matang. Setiap perencanaan yang kurang matang selalu berakibat fatal, entah gagal atau beresiko. Saya hanya bersyukur gagalnya rencana ini “hanya” dalam perjalanan lokal, rasa kehilangannya tidak terlalu mendalam. Bayangkan bila ini rencana perjalanan di luar negeri, padahal kita sudah menginjak tanah negeri itu. Sangat bisa terjadi dan sangat sayang, bukan?

Disunting oleh SA 30/05/2010


Bersahabat dengan Perjalanan yang Panjang

Setiap pelancong pasti pernah bertemu dengan perjalanan yang panjang. Lagipula, perjalanan lintas benua atau lintas negara mana ada yang tanpa perjalanan panjang. Bahkan perjalanan lokal pun pasti mengalami perjalanan yang panjang.

Perjalanan panjang bisa terjadi pada moda transportasi apa saja. Contoh kecil saja, dalam perjalanan antar kota di Jawa atau Sumatera dengan bis, perjalanan akan menghabiskan waktu enam jam, atau lebih. Bahkan bis lintas Jawa-Sumatera bisa menempuh waktu dua hari atau lebih. Begitu pula perjalanan dengan kereta api, atau juga dengan pasawat terbang lintas benua.

Suasana Kabin pesawat

Interior bis jarak jauh

Perlu disadari bahwa ada moda transportasi yang memang pada dasarnya membosankan, seperti bis atau pesawat. Bila kita bosan, kita hanya bisa berdiri atau olah tubuh secukupnya, lalu kita dipaksa menancapkan pantat kita di kursi kembali. Di pesawat agak lumayan, kadang-kadang kita bisa berjalan berkeliling sampai kita bosan. Di bis, kita harus berpuas diri dengan kursi kita yang nyaman itu.

Tentu saja waktu perjalanan juga mempengaruhi hal ini. Perjalanan panjang tapi terjadi malam hari tentu akan mengurangi unsur bosan ini. Bahkan kita bisa memanfaatkan untuk istirahat. Tapi, banyak pula saat kita tak dapat berkompromi dengan waktu. Kita mendapatkan perjalanan siang hari dengan waktu lebih dari delapan jam misalnya.

Perasaan-perasaan seperti bosan, stres, mengesalkan, atau ketersendirian adalah hal biasa dalam perjalanan yang panjang. Belum lagi kondisi fisik lelah, pantat panas, punggung nyeri, atau kesulitan menuntaskan hajat, dan rasa lapar yang menggila.

Nah, cukup dengan alasan-alasan buruk di atas? Tulisan ini dibuat tidak untuk mengajak takut akan perjalanan panjang, lebih-lebih membencinya. Sejujurnya saya sangat rindu akan perjalanan panjang. Mungkin rindu tapi benci. Ia bikin kangen, tapi kalau kita mengalaminya membuat kita ingin secepatnya melewati tapi kita juga takut itu akan segera selesai.

Kita harus berteman dengannya. Juga mungkin saya bisa bilang setiap pelancong yang sukses adalah mereka yang selalu dapat bersahabat dengan perjalanan yang panjang, dan mereka itu mampu menjadikan perjalanan itu kehidupan yang bermakna, tak peduli apakah itu perjalanan yang panjang atau pendek.

Beberapa cara bersahabat dengan perjalanan yang panjang:

* Mencari teman baru. Bila tak kenal dengan orang sebelah dalam suatu perjalanan, saatnya membuat perkenalan dan jadikan mereka sahabat baru. Mulailah dengan tersenyum. Lalu katakan hai. Dan kita akan lupa dengan waktu. Tentu saja bila mereka mau.
* Wah, orang disamping kiri dan kanan tidur. Lalu orang di depan kita asyik nonton video, sementara orang di belakang kita hanyalah anak kecil yang asyik main PSP. Gawat. Gimana dong? Saatnya ambil buku bacaan. Buku adalah teman perjalanan abadi yang tak pernah membosankan. Kalau orang sebelah kanan bangun, letakkan buku dan ajak ngobrol buku kesukaan mereka. Syukur-syukur bila mereka bertanya dahulu Anda membaca apa.
* Bila semua orang tidur. Anda terbangun sendiri. Buku sudah habis terbaca. Saatnya me-review perjalanan. Cek tiket. Menuliskan catatan penting, siapa tahu berguna. Menulis formulir visa. Membaca kembali syarat-syarat imigrasi dan hal-hal lainnya.

Mengisi imigrasi

* Kalau semua sudah dilakukan padahal perjalanan masih empat jam lagi, saatnya berkeliling pesawat. Selain untuk meluruskan kaki, bisa pula untuk melihat situasi dan penyegaran. Ajak ngobrol orang-orang yang juga sama-sama bosan dan melakukan hal yang sama, biasanya mereka di tempat dekat toilet. Biasanya mereka melakukan senam yoga yang tak beraturan. Atau hanya pura-pura menunggu WC. Padahal mereka hanya ingin berdiri saja, capek duduk selama 10 jam lebih.
* Mengecek foto dan mentransfer hasil jepretan ke laptop.
* Makan dan minum. Dalam perjalanan panjang, apalagi lintas benua dan lintas waktu, kita biasanya mendapatkan jatah konsumsi selama dua kali, atau bisa lebih. Dalam pengamatan saya, strategi pemberian konsumsi biasanya dilakukan satu hingga dua jam setelah _take off_ dan juga satu hingga dua jam sebelum mendarat. Pemberian pertama mungkin untuk menjaga agar penumpang tidak kelaparan. Pemberian kedua dilakukan untuk “membangunkan” penumpang dan menjaga kondisi agar mereka siap untuk pendaratan. Bila Anda terlalu lelah dan mungkin melewatkan hal itu karena tertidur, Anda bisa bertanya dan meminta apakah melewatkan konsumsi.

Makanan di pesawat

Kontrol Hiburan dan telepon dalam pesawat

* Bila moda transportasi menyediakan hiburan, seperti dalam pesawat jarak jauh, manfaatkan untuk menonton video atau mendengarkan musik. Atau bila Anda punya alat elektronik seperti iPod, bisa pula membawa dan mengatur koleksi pribadi untuk dinikmati dalam perjalanan. Ada pula yang bilang menonton video atau musik selama perjalanan lintas benua juga sebagai strategi untuk mengatasi _jetlag_. Jadi fisik dipaksa untuk lelah, sehingga ketika akan sampai tujuan, kita akan kelelahan dan tidur. Tapi ini tidak sepenuhnya sukses. Ini juga tergantung lama dan jadwal perjalanan. Beberapa maskapai saat ini bahkan menyediakan saluran telepon berbayar kartu kredit atau Wi-Fi di atas pesawat. Bisa pula Anda memanfaatkan hal ini, tapi pastikan Anda mengetahui biayanya sebelum menggunakan fasilitas ini.
* Apalagi, ya? Bila tak ada ide lagi yang bisa dilakukan, Anda bisa memotret. Memotret jalanan yang dilewati, memotret awan, atau memotret orang-orang yang tertidur. Tapi jangan semua orang dipotret. Hati-hati, ada sopan santun untuk hal ini karena posisi tidur adalah pose yang kurang bagus. Potretlah hanya teman Anda. Atau konteks seluruh pesawat. Bahkan untuk hal terakhir ini usahakan mereka yang dipotret mengetahui dan memperbolehkan Anda memotret. Pramugari biasanya keberatan dipotret, tapi juga mungkin karena kebijakan perusahaannya.

Tentu saja banyak hal lain yang bisa dilakukan selain hal-hal di atas. Tulisan ini hanya menggambarkan dan memberi bayangan apa yang terjadi dalam perjalanan panjang. Seyogyanya kita sudah siap sebelum melakukan perjalanan dan kita bisa bersahabat dengannya.

Bila tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Satu-satunya hal terbaik untuk berteman dengan perjalanan panjang adalah dengan tidur yang nyenyak.

Disunting oleh SA 20/04/2010


Menaklukkan Puncak Wat Tham Sua

Hari itu adalah Senin. Siang pun sudah terik. Panas matahari terasa membakar kulit. Saya lihat jam Casio digital di tangan, ternyata sudah pada angka sembilan. Siang itu adalah hari terakhir kami di Krabi, Thailand. Tidak ada rencana perjalanan siang itu sebab sorenya nanti kami harus siap untuk perjalanan kami ke Bangkok.

Kami lalu melapor akan meninggalkan (check out) guest house pada resepsionis. Urusan uang dan tagihan tuntas sudah. Tapi kami masih punya waktu enam jam tersisa. Setelah berunding sebentar, kami lalu bikin rencana instan. Kami akan menghabiskan waktu ini dengan bersepeda motor. Mungkin asyik bermotor di Krabi. Cuaca juga cerah, kalau tidak dibilang panas.

Kami tanya pada resepsionis, kemana kira-kira kami bisa menghabiskan waktu tiga jam di Krabi? Dari berbagai pilihan, akhirnya kami setuju untuk pergi ke Wat Tham Sua atau Tiger Cave Temple (Candi Gua Harimau). Wat ini terletak sekitar 5 km dari kota ke arah timur. Yang menarik adalah, untuk mencapai areal utama wat, kita harus naik anak tangga yang berjumlah 1.237 buah!

Areal Wat Tham Sua bawah

Menurut Krabi Tourism, selain sebagai pusat meditasi dan ibadah, ini adalah juga tempat arkeologi dan sejarah. Peralatan dari batu, keramik, dan cetakan untuk membuat kaki Budha ditemukan di sini. Tidak ada harimau atau hewan liar di komplek candi ini, kecuali monyet-money nakal dan usil.

Setelah menitipkan ransel kami di penginapan, kami lalu bergegas ke persewaan motor terdekat. Kami mendapatkan dua sepeda motor tipe otomatis, sebuah Yamaha dan Fina (entah apakah ini merk motor atau bukan). Harga sewanya sekitar 150 Baht / hari. Kondisi motor tersebut cukup bagus, meski tidak bisa dibilang baru. Sebelum keluar dari kota kami mampir ke kantor pariwisata di jalan Utarakit. Ada seorang ibu bertugas di sana. Inggrisnya cukup fasih. Kami diberi dua buah peta Krabi. Setelah itu perjalanan berlanjut. Satu kilometer dari kota, kami menjumpai pom bensin, dan siaplah motor itu untuk mengantarkan petualangan kami.

Jalanan Krabi ke arah timur itu bagus dan halus. Siang itu saya memakai kaos berkerah tanpa lengan berwarna hijau. Udara cukup panas. Namun semilir angin dan segarnya udara cukup menyejukkan kami. Tapi tak lama, kami lalu menjumpai pertigaan ke kanan arah Bandara Krabi (dan Had Yai), dari situ Wat tujuan kami sudah dekat. Rambu-rambu di Krabi cukup ramah, semua dalam dua bahasa Thai dan Inggris. Kami tidak kesulitan menemukan lokasi itu meski sempat barbalik arah karena melewatkan sebuah petunjuk jalan.

Dan benar, beberapa menit kemudian ada tanda belokan ke kiri menuju Wat Tham Sua. Memang jalanan masuk ke wat masih beberapa kilometer, tapi dari kejauhan tampak megah stupa besar berwarna putih dan stupa keemasan di atas bukit yang tinggi. Dengan berbekal petunjuk itu kami mengarahkan kendaraan ke sana. Sampai di sana, kami memarkirkan motor di tempat yang disediakan. Tak ada preman parkir di sini.

Anak Tangga ke Puncak Wat Tham Sua

Sesampainya di lokasi, kami semua semua terkejut. Kami tampaknya cukup meremehkan arti 1.237 anak tangga itu (atau sekitar 600m). Atau mungkin kami mendengarkan penjelasan sebelumnya sambil lalu, lewat telinga kiri keluar telinga kanan. Ternyata artinya benar-benar literal. anak tangganya berjumlah 1.237 buah untuk menuju lokasi wat utama di atas bukit. Yang parah, anak tangganya ternyata sangat terjal!

Sontak sebagian dari kami semua langsung patah arang, putus asa sebelum bertanding. Setelah berunding, saya dan istri memutuskan untuk mencoba ke atas, kami ingin melihat wat tersebut. Kakak ipar dan suaminya memilih di bawah. Kami maklum dengan keputusan dan kondisi mereka saat itu. Tapi sebelum berangkat, Yani istri saya, memutuskan membeli bekal di sebuah toko di area wat itu. Saya, kakak ipar, dan suaminya memilih menunggu duduk di bawah pohon melihat sekelompok monyet bermain di areal permainan mereka, dengan ayunan ban bekas, saling mengejek dan kejar-kejaran dengan teman-teman mereka.

Yani kembali dengan sekantung makanan, terlihat dua buah pisang, botol minuman, dan kantung snack. Dia tampak gembira ingin memberi makan monyet. Tapi kami bertiga langsung tersenyum kecut. Sebelum istri kembali tadi, kami melihat sendiri ada seorang wisatawan membawa snack dan dijarah oleh sekelompok monyet itu. Lalu seorang raja monyet, maklum badannya besar, muncul dari entah di mana kemudian merebut makanan itu dari kawanannya. Dan ia berpesta snack itu di atas pohon. Ya, banyak isinya berjatuhan ke bawah. Hal yang kami khawatirkan itu langsung terbukti, tiba-tiba saja datang tiga hingga empat monyet merebut semua yang dibawa istri saya. Dia langsung teriak-teriak dan tak kuasa mempertahankan bawaannya. Satu-satunya jalan aman adalah melepaskan itu semua, dan mereka langsung membawanya kabur. Pisang dan snack dijarah siang bolong! Untung dia tidak dicakar atau digigit. Kami semua tertawa!

Sekelompok monyet berpesta pora

Yang tersisa dari bawaan istri hanyalah sebotol air dalam kemasan. Cukuplah untuk bekal kami. Kami kemudian kemudian memulai perjalanan ke atas. Bismillah semoga kami bisa mencapai puncak wat! Sayang kalau melewatkan kesempatan padahal kami sudah di sini.

Sambil melangkahkan kaki perlahan, saya bercerita pada istri bahwa saya pernah merasakan pengalaman naik ke puncak wisata religi semacam ini di tanah Jawa, yaitu di lokasi makam Sunan Muria, dekat Kudus, Jawa Tengah. Untuk mencapai lokasi makam Sunan Muria kita harus naik anak tangga yang jumlahnya lebih dari 700-an buah. Anak tangga di Wat Tham Sua ini jumlahnya lebih banyak. Selain itu alurnya pun berbelok-belok dan lebih terjal.

Alur tangga Wat Tham Sua

Kami menjumpai beberapa wisatawan, dan ketika mereka bisa bahasa Inggris, kami menanyakan apakah cukup berharga untuk naik ke atas. Jawaban mereka hampir mirip, keren, pemandangannya bagus, sepadan dengan usahanya. Wah tampaknya menarik. Kami berusaha memantapkan kaki ke atas.

Tapi pada anak tangga ke 250-an, istri saya menyerah. Kakinya gemetar. Cukup melelahkan memang. Selain terjal ruas anak tangga pun sangat sempit, bahkan ada yang selebar 10 cm (bila sangat terjal), dan dengan tinggi antar anak tangga sekitar 30 cm. Saya menyadari ketakutannya bila hal ini terjadi hingga puncak. Setelah berunding dan ambil napas di perhentian, akhirnya dia memutuskan turun. Saya memutuskan akan mencoba hingga puncak. Saya bertekad penuh untuk berhasil agar bisa melihat puncak wat.

Pada anak tangga ke 500-an ke atas, ternyata anak tangga mulai landai dan normal. Landai di sini maksudnya tidak terlalu terjal. Ruas anak tangga normal kira-kira 25 cm, dengan tinggi antar tangga lebih dari 20 cm. Ya, seperti jarak tangga pada umumnya. Saya berpikir mungkin anak tangga awal memang didesain untuk mengetes pengunjung yang ingin naik, benarkah begitu?

Toilet di Wat Tham Sua

Beberapa kali saya istirahat. Maklum, saya tidak melakukan latihan khusus sebelum melakukan perjalanan ini. Saya mudah cepat lelah. Entah berapa kali saya berhenti dan istirahat, sekadar meringankan napas dan minum air. Tapi mungkin akibat terlalu sering berhenti inilah malah semakin mempercepat rasa lelah dan payah. Pada anak tangga ke-520 saya menjumpai toilet. Saya menyempatkan kencing sebentar di situ. Ada dua toilet dalam alur ke atas, sebuah lagi ada di dekat puncak wat. Toilet terakhir adalah untuk membersihkan badan bagi mereka yang berniat ibadah.

Patung Hariam Wat Tham Sua

Di pertengahan jalur ada sebuah tempat sesembahan(?) dengan patung seorang pendeta dan harimau. Mungkin inilah visualisasi pendeta Jumnean Seelasettho yang kisahnya bermeditasi di bukit ini lalu mendengar suara harimau, maka kemudian Wat ini diberi nama demikian. Suasana cukup sepi dan hening. Karena merasa saya orang asing dan saya bukan orang Budha, pikiran macam-macam bergejolak, campur aduk antara takut dan ingin menghormati tempat ini. Semakin ke atas memang semakin sepi. Mungkin semakin sedikit orang yang kuat melanjutkan perjalanan ke puncak wat. Semakin sepi, saya semakin ingin menuntaskan perjalanan ini dan segera kembali ke bawah. Ada seorang wanita melewati saya yang kelelahan terduduk di ruas anak tangga. Saya tak malu, dia lebih hebat. Tak tampak tersengal sedikit pun napasnya.

Akhirnya sampailah saya pada anak tangga ke-1.237 itu. Fiuuuuuh. Lelah tapi juga puas telah sampai di tingkat ini. Tampak seekor anjing putih belang tidur di bawah bangunan bawah yang teduh itu. Saya merasa agak tenang dan nyaman karena ada seseorang lain di areal wat, wanita tadi yang telah melewati saya. Saya melepas alas kaki saya di areal wat itu.

Stupa Emas Wat Tham Sua

Patung Budha di Wat Tham Sua

Ada stupa emas di wat itu. Juga sebuah patung Budha berlapis emas. Keduanya besar dan megah. Patung Budha itu sendiri dikelilingi patung ular. Entah apa arti simbolisnya. Di area tengah patung dan stupa ada patung-patung Budha kecil dalam berbagai posisi, mungkin ini areal sembahyang. Juga ada bendera resmi Thailand dan bendera kuning agama Budha negara itu. Ada pula deretan antena, mungkin antena komunikasi. Inilah campuran budaya dan teknologi maju. Bukit ini, mungkin tertinggi di Krabi, adalah areal tepat untuk menaruh antena komunikasi.

Puncak Wat Tham Sua dan Pemandangan Krabi

Pemandangan Kota Krabi dari Puncak Wat Tham Sua

Udara terasa segar di puncak wat itu. Angin berhembus kencang. Bunyinya kencang menggetarkan. Saya bisa melihat berkeliling, seluruh area Krabi terlihat dari sini. Perbukitan. Hutan. Pinggir pantai.

Awan hitam yang besar dan terasa dekat bergulung-gulung di angkasa. Wanita muda tadi sudah turun. Saya sendiri lagi. Sepi. Sunyi. Menenangkan sesungguhnya. Tapi saya juga takut. Saya tunggu beberapa menit ternyata belum ada pengunjung lain yang sampai ke tingkat atas ini. Saya tidak ingin berbuat salah dengan melakukan kegiatan tidak pantas di wat ini. Saya tidak tahu saya harus apa lagi, akhirnya saya memutuskan turun.

Ketika memasang sendal, saya melihat anjing tadi ternyata sudah bangun. Dia sudah menunggu saya di pintu keluar menuju anak tangga di bawah. Hebat sekali anjing ini. Dia tahu ada pengunjung dan berusaha menyambutnya. Saya pikir para pendeta sengaja meletakkan makhluk ini sebagai penjaga di sana. Padahal mereka tinggal di tempat lain, melalui alur tangga yang lain, sekitar 130 buah anak tangga dari bawah.

Dalam perjalanan turun saya menjumpai beberapa pengunjung lain. Lebih banyak penduduk lokal Thailand. Ada bapak dengan anak. Dua lelaki muda bergaya punk. Turis asing dengan anak-anak mereka yang berusia 7 dan 10 tahunan. Lebih banyak berpasangan dan hanya satu orang (wanita tadi) yang sendirian. Beberapa dari mereka bertanya pada saya bagaimana di atas. Saya bilang bagus. Saya ingin menyemangati mereka untuk melihat dan merasakan pengalaman berhasil sampai di atas. Lebih-lebih bisa menikmati pemandangan Krabi dari ketinggian itu. Saya juga cukup banyak bertukar senyum dan salam dengan penduduk lokal yang tak bisa berkomunikasi selain Thai. Saya berjumpa dua orang wanita lokal Thailand, dan kebetulan salah seorang dari mereka bisa bahasa Inggris. Dia memuji saya bahwa meski bukan penganut Budha saya dianggap mengagumkan karena berhasil mencapai puncak wat dengan seluruh usaha saya. Saya kemudian melanjutkan perjalanan turun kembali.

Perjalanan turun, seperti umumnya perjalanan pulang, biasanya terasa lebih cepat. Total waktu yang saya perlukan untuk perjalanan naik dan turun adalah 1 jam 30 menit. Waktu yang sangat lama mengingat orang lain hanya memerlukan 50 menit saja.

Satu hal yang selalu saya ingat dari perjalanan ke puncak Wat Tham Sua adalah saya berhasil mencapai sesuatu. Entah ini spiritualitas atau semacam kebajikan. Tapi menurut saya, bila kita sudah menetapkan tujuan dan berhasil mencapainya dengan seluruh usaha, itu adalah kepuasan batin dalam spiritualitas.


Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand (BKK)

Bandara Suvarnabhumi

Bandara Suvarnabhumi (kode IATA: BKK, ICAO: VTBS), juga dikenal sebagai Bandara Internasional Bangkok, adalah bandara internasional yang melayani wilayah Bangkok, Thailand. Bandara ini resmi dibuka untuk penerbangan terbatas pada 15 September 2006, dan dibuka untuk semua rute domestik dan internasional pada 28 September 2006. Kode nama BKK diturunkan dari nama Don Mueang setelah bandara lama itu meniadakan penerbangan internasionalnya.

Koridor ruang keberangkatan Suvarnabhumi

Bandara ini terletak di Racha Thewa di distrik Bang Phli, provinsi Samut Prakan, sekitar 25 km timur Bangkok. Nama Suvarnabhumi dipilih sendiri oleh Raja Bhumibol Adulyajed, merujuk pada kerajaan emas yang diduga berada di Asia Tenggara (Thailand, red). Bandara ini didesain oleh Helmut Jahn dari Murphy/Jahn Architects. Badana ini mempunyai menara kontrol tertinggi di dunia (132.2 m), dan bangunan-tunggal bandara ke-3 terbesar di dunia (563.000 km²). Bandara ini merupakan bandara tersibuk di Asia dan juga pertemuan jalur kargo yang utama.

Churn Milk Sculpture
Copyright Wikipedia

Melihat bandara ini, yang terlihat adalah struktur dan imaji modernitas. Gaya dan arsiteknya modern. Warna metalik adalah mayoritas, dengan kerangka dan penyangga terlihat terbuka. Namun warna siluet biru menghias kerangka logam itu dan nyalanya membuat pendar-pendar indah. Kaca adalah struktur utama yang sangat berperan dalam menunjukkan gaya arsitektur ini. Kerangka penyangga tampak kokoh memamerkan kekuatannya dan ini memang sengaja ditunjukkan oleh desainernya. Selain itu, struktur dan siluet melengkung, pola atap memang seperti bongkah telur yang banyak, adalah mayoritas. Untuk mengimbangi modernitasnya, bandara ini menambahkan instalasi seni yang bergaya Thailand seperti di area keberangkatan yang akan segera terlihat segera setelah melewati imigrasi, juga patung besar di area kedatangan (lantai dua atau satu?).

Peta Lantai Empat Bandara Suvarnabhumi
Klik untuk melihat gambar ukuran lebih besar

Fasilitas yang ada di bandara ini: berbagai restoran makanan siap saji dari berbagai jaringan internasional, makanan Asia atau Thailand, dan juga beberapa restoran dan toko yang buka 24 jam di area keberangkatan. Area ruang tunggu bahkan menyediakan lebih banyak pilihan lagi selain melimpahnya toko bebas pajak menjual berbagai produk bermerk internasional. Telepon umum berbayar kartu kredit juga melimpah di area keberangkatan di lantai empat dan beberapa di lantai lainnya. Umat muslim jangan khawatir untuk mendapat makanan halal karena ada beberapa toko yang khusus menjualnya (ada tiga atau empat) di keberangkatan, entah di area tunggu. Jangan khawatir pula, ada musholla yang sangat representatif di lantai tiga.

Bila Anda melakukan perjalanan ke banyak negara Asia, atau melakukan perjalanan ke Amerika dan negara utara lainnya, kemungkinan banyak akan melalui bandara ini. Mungkin ini bukan bandara terbaik di dunia, terlebih dari fasilitas untuk pelancong yang melakukan transit, tapi saya mempunyai pengalaman tak terlupakan di bandara ini.

Sumber: Wikipedia


Ziarah Wali Sembilan

Baiklah, ini bukan ide biasa. Rencana perjalanan ini bisa dibilang khusus dibuat bagi pemeluk agama Islam. Bahkan ide ini pun bisa mengerucut lagi kepada sebagian umat Islam yang tidak mempunyai masalah dengan kegiatan ziarah ke makam. Karena kami tahu ada sebagian yang mempunyai pandangan ziarah ke makam adalah kegiatan bid’ah, kami mohon maaf, tulisan ini dibuat tidak untuk mengundang perdebatan fikih agama. Namun sebagai wisata sejarah, kami kira ziarah wali sembilan sangat masuk akal dilaksanakan oleh siapa saja.

Apa dan Kemana Ziarah Wali Sembilan?

Yang dimaksud Ziarah Wali Sembilan (atau Wali Songo dalam bahasa Jawa) adalah mengunjungi (minimal) sembilan lokasi makam orang-orang khusus yang dikenal sebagai wali, dan juga mengunjungi beberapa lokasi sejarah kewalian lainnya (bila ada). Makam-makam mereka tersebar di seluruh Jawa. Wali adalah tokoh agama Islam yang dipercaya sebagai penyebar awal ajaran agama Islam di Indonesia (dan Jawa pada khususnya) pada abad 17.

Sembilan Wali Sembilan ini antara lain:
* Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim, juga dikenal Syaikh Makhdum Ibrahim As-Samarqandy adalah wali pertama dan sesepuh dari wali sembilan. Ia adalah keturunan ke-11 dari Husain bin Ali r.a. (cucu Nabi SAW). Makamnya di Desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
* Sunan Ampel atau Raden Rahmat, putra Maulana Malik Ibrahim, ia konon mempunyai garis keturunan dari Majapahit juga. Makamnya dekat Masjid Ampel (area Kembang Jepun), Surabaya.
* Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim, putra Sunan Ampel. Makamnya dekat alun-alun Tuban, Jawa Timur.
* Sunan Drajat atau Raden Qasim, putra Sunan Ampel. Makamnya di Desa Drajat, Lamongan, Jawa Timur.
* Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq, putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah adik dari Sunan Bonang. Makamnya di areal Masjid Menara Kudus, Kudus, Jawa Tengah. Masjid Menara Kudus juga menarik dari sisi arsitektur karena mengusung seni Jawa (menara) sebagai bangunan masjid.
* Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin, adalah keturunan Maulan Ishak. Sunan Giri adalah keturunan ke-12 dari Husain bin Ali, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Makamnya di Giri, Gresik, Jawa Timur.
* Sunan Kalijaga atau Raden Said, adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Ia adalah murid Sunan Bonang. Makamnya di Kadilange, Demak, Jawa Tengah.
* Sunan Muria atau Raden Umar Said, adalah putra Sunan Kalijaga. Makamnya di Bukit Muria, Jawa Tengah.
* Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Makamnya di Cirebon, Jawa Barat.

Ziarah Wali Sembilan secara tradisional lazimnya dilakukan oleh jamaah pengajian. Tapi kadangkala ada kelompok lepas, lintas desa, dan ada orang yang mengkoordinir pelaksanaan perjalanan ini, termasuk menyewa bus dan sopir, lalu mereka yang menjadi pemimpin perjalanan. Karena tradisional, akomodasinya pun sangat sederhana, disamping alasan penghematan dan alasan lain. Misal, busnya tidak ber-AC, selain karena murah, kebanyakan orang desa tidak kuat ber-AC. Lalu menginapnya pun di masjid-masjid di sepanjang perjalanan yang biasanya terbuka kepada para peziarah semacam ini. Sopir-sopir bis paket ziarah seperti ini biasanya sudah tahu letak masjid-masjid tertentu yang bisa digunakan untuk menginap.

Karena letak tempat ziarah wali sembilan terhitung dekat dan dalam Pulau Jawa, tidak menutup peluang melakukan perjalanan ini secara independen. Perjalanan bisa dilakukan dengan kendaraan roda empat, menggunakan bis atau mini bus. Bahkan ada beberapa orang yang penulis ketahui melaksanakan dengan kendaraan bermotor roda dua, meski pelaksanaan dan pragmatisnya kurang kami sarankan. Jangan heran pula bila saat ini ada pula agen wisata di Jawa Timur yang mengusung paket ziarah Wali Sembilan dan memberi tarip dolar.

Selain berkunjung ke wali-wali di atas, biasanya ada pula tempat persinggahan dan kunjungan lain, misalnya: Masjid Agung Demak, Gua Saparwadi (lebih dikenal dengan nama Gua Pamijahan) terletak di kaki gunung Mujarod di desa Pamijahan, Tasikmalaya, Masjid Banten, dan juga lokasi Makam KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur di Jombang. Sebagai bonus, sifat kunjungan ke tempat-tempat ini tidak wajib, namun peziarah Wali Sembilan banyak mengunjunginya selain karena letaknya yang juga terlewati oleh jalur, juga sebagai alternatif perjalanan agar tidak membosankan (setelah dari pantai utara lalu lewat jalur selatan).

Rencana Perjalanan

Bila dilakukan dari Jakarta, perjalanan ini bisa dilakukan dengan urutan berikut: Masjid Agung Banten, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Masjid Demak, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Gresik, Sunan Ampel, Jombang, dan Gua Pamijahan.

Bila dilakukan dari Jawa Timur, urutannya sebagai berikut: Sunan Ampel, Sunan Gresik, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Masjid Demak, Sunan Gunung Jati, Masjid Agung Banten, Gua Pamijahan, lewat jalur selatan, dan Jombang.

Tentunya alur dan lokasi bisa disesuai dari jalur mulai perjalanan. Lama waktu bisa dilakukan antara lima hari dan enam hari. Bisa pula ditambah mengunjungi berbagai tempat wisata yang tersebar di sepanjang jalur perjalanan tersebut. Tempat menginap ideal dengan kemungkinan hotel tersedia di Surabaya, Tuban, Kudus, Cirebon.

Referensi data Wali Sembilan: Wikipedia.

Disunting oleh SA 28/02/10.


Kisah Uang $100 yang tak Sampai ke Amerika

Uang $100 dan paspor

Jika ada pertanyaan, apa perjalanan saya yang paling bermakna, saya pasti langsung bilang perjalanan pada bulan Juni-Juli 2007. Seluruh hal yang memberikan makna dan daya tarik ada pada perjalanan medio 2007 itu. Kejutan, impian, kepertamaan, dan _happy ending_. Semua ada. Inilah cerita saya.

Kejutan pertama adalah pada Maret 2007. Dalam sebuah klasemen lomba, saya merasa bahwa ada kans cukup besar kalau saya akan mendapat tempat untuk diundang dalam lomba desain di Amerika Serikat. Ceritanya begini, ada sebuah perusahaan Amerika yang mengadakan lomba tahunan, lombanya bidang komputer, mulai dari pemrograman hingga desain grafis. Lomba diadakan secara online, dan semua peserta dari seluruh penjuru dunia bisa mengikutinya. Dari hasil lomba online tersebut, akan diambil 12 besar peraih skor terbanyak, dan mereka akan diundang untuk berlomba langsung di Las Vegas, Amerika Serikat (A.S.). Wow. “Gilaaaaaaaa!”, begitulah saya membatin.

Meski belum cukup pasti apakah saya akan diundang karena hasil akhir menunggu pengumpulan skor pada akhir April 2007, saya beranikan diri untuk mempersiapkan segala macam dokumen. Alasan saya: 1) saya punya _feeling_ saya bisa dapat tempat; dan 2) Ini ke Amerika, dan saya dengar segala persiapan dokumen di sana _ribet_, lebih baik saya siap lebih awal. Dan lagi, saya belum punya paspor! Ini paspor pertama.

Pada akhir Maret 2007 saya bergegas ke kantor imigrasi Jakarta Selatan. Pada awal April akhirnya paspor jadi. Rasanya saya begitu terpesona. Betapa tidak, saya sudah berumur, 28 tahun cukup berumur bukan? Sudah menikah. Sudah mempunyai anak. Baru punya paspor. Udik _bener deh_ saya. Tapi memang, hingga awal 2007, saya tidak pernah punya impian bisa ke luar negeri. Alih-alih berpikir, seperti kebanyakan orang Jakarta yang berpenghasilan pas-pasan, jalan-jalan adalah urusan nomor sekian dan ini mungkin mendekati daftar paling akhir prioritas kami. Jadi inikah paspor pertama itu, demikian batin saya. Saya tatap kertas-kertas kosong dengan nomor berlobang di setiap halamannya. Saya merasa ini dokumen paling keren sepanjang hidup saya. Saya punya banyak buku, tapi menurut saya buku kecil ini paling keren. Berapa stempel negara akan menghiasi halaman-halaman ini ya? Dari kecil saya selalu punya cita-cita untuk mempunyai pekerjaan yang bisa membawa saya keliling dunia. Tapi semua cita-cita itu kandas setidaknya hingga usia saya 28 tahun itu, karena ternyata saya tersesat dan hanya _ngumpet_ di kolong Jakarta. Inikah saatnya semua petualangan itu akan dimulai?

Sebenarnya kalau dibilang paspor pertama dan perjalanan pertama, jujurnya ini bukan yang pertama. Saya bepergian ke luar negeri pertama kali pada 2002, untuk menunaikan ibadah haji (ssst, saya diberangkatkan orang tua, saya pasti tidak mampu menabung pada tahun itu dan saya masih bujangan). Jadi kalau dibilang apakah haji itu perjalanan independen, sepertinya bukan. Perjalanan ibadah haji cukup gampang, semua sudah diatur mulai dari keberangkatan, jalur khusus imigrasi, termasuk akomodasi dan transportasi utama di Arab Saudi. Semua sudah siap. Kita tinggal mengikuti jadwal dan kegiatan yang sudah diberikan, pasti dijamin lancar. Ya, menurut saya _travel agent_ haji bernama pemerintah Indonesia sudah mengatur semua dengan cukup baik meski fasilitas bisa dipertanyakan. Kemudian ketika dalam dokumen pembuatan paspor ada sebuah kolom isian semacam ini, apakah Anda mempunyai paspor sebelumnya. Saya tanyakan kepada petugas imigrasi di sana, mereka bilang paspor haji itu dokumen khusus dan bukan paspor. Jadi, ya, ini adalah perjalanan ke luar negeri pertama dengan paspor pertama.

Baiklah, mari kita percepat kisah ini. Saya akhirnya mendapat tempat di daftar klasemen lomba tersebut. Saya masuk dalam salah satu orang yang diundang untuk berangkat ke Las Vegas, Amerika Serikat, dengan syarat harus punya dokumen visa. Dua minggu hampir tiga, aplikasi visa turis B1/B2 Amerika Serikat itu akhirnya disetujui. Wah, terima kasih pak Bush, presiden AS saat itu, saya tidak menyangka Anda sebaik itu memberikan peluang bagi orang dari Jombang udik ini. Saya takut setengah mati bakal ditolak karena asal saya Jombang dikenal kota santri. Anda tahu bukan, santri banyak mengaji. Dan mengaji adalah kegiatan umat Islam. Muslim itu kebanyakan teroris, bukan begitu pemikiran teman-teman pak Bush saat itu? Tapi syukurlah, mungkin karena bantuan teman-teman di tempat saya bekerja sebelumnya yang saya sebut sebagai referensi dalam dokumen aplikasi visa, akhirnya saya diberi kesempatan ini. Padahal ada seorang teman istri saya yang bekerja di kedutaan Amerika bilang, “Ini susah, _lho_. Kamu harus bisa menunjukkan komitmen akan kembali ke Indonesia. Biasanya yang disetujui adalah orang yang sudah pernah melakukan kunjungan ke negera lain, jadi ada komitmen mereka akan kembali” Sebagai informasi, Amerika dikenal ketat dalam pemberian visa kunjungan karena banyak kejadian orang tidak ingin kembali ke negara asalnya sesampainya mereka di negeri impian orang itu. Paspor baru dengan visa baru untuk kunjungan ke Amerika. Benar-benar tidak dibayangkan.

Waktu berlalu cepat. Setelah sibuk berkemas, saya mulai berpikir tentang uang saku. Betapa tidak. Ini Amerika, dan Las Vegas. Kota judi. Jadi pasti tidak ada nasi. Saya yakin pasti harus makan burger, mungkin BigMac atau Wendy’s. Untung saya suka keduanya. Makan burger adalah hobi sampingan saya saat usia 22-25 tahunan, dan itulah yang membuat saya buncit. Harga burger di Vegas tentu lebih mahal daripada di sini. Dan _oh my_, dompet dan kartu gesek saya lagi kembang kempis. Selain persiapan, saya tentu harus meninggalkan dana untuk keluarga di rumah, dan sisa uang sangat sedikit. Setelah buat belanja tas koper dorong merk Condotti dan juga keperluan lain, saya hitung uang tersisa hanya sekitar $300. Berapa duit yang harus saya bawa ya, untuk minimal bertahan hidup? Karena saya diundang, penyelenggara bilang akan memberikan makan pagi dan siang di tempat. Jadi kira-kira saya hanya perlu mengeluarkan dana untuk makan malam, atau kadang-kadang makan siang bila ingin jalan-jalan. Saya bisa menghemat ongkos untuk hal itu. Karena bingung dan tidak tahu tanya ke mana, saya kemudian tanya penyelenggara, berapa sih uang saku yang cukup untuk hidup di Vegas selama satu minggu? Jessie Ford, sang _event manager_ tersebut pasti cukup heran. Ini orang dari dunia ketiga kasihan amat. Makanya dia lalu bilang $100 dolar mungkin cukup. Kalau dihitung-hitung sehari makan burger atau lainnya, dan sebuah paket burger (atau makanan) seharga $15, lima hari akan menghabiskan $75. Jadi sepertinya cukup. Uang $100 dolar yang katanya harus rapih dan tidak boleh terlipat itu akhirnya saya masukkan amplop. Saya letakkan amplop itu di ruas tersendiri dalam tas pinggang. Ruas lainnya berisi paspor, tiket, dan dokumen lain.

Dengan itu semua saya lalu berangkat ke Vegas. Saya menyisakan beberapa ratus ribu rupiah (tak sampai 500 ribu rupiah) untuk transpor dari dan ke bandara, dan untuk jaga-jaga ketika pulang ke Indonesia nanti.

Berikut adalah rangkaian perjalanan saya ke Vegas:
# 25 Juni 2007, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng (CGK) – Suvarnabhumi, Bangkok (BKK), menumpang Garuda Indonesia kode penerbangan GA 866. Berangkat pada 10:00 PM. Sampai di Bangkok 1:30 AM. Lama perjalanan 3 jam 30 menit. Transit di Suvarnabhumi sekitar 4 jam 30 menit.
# 26 Juni 2007, Suvarnabhumi, Bangkok (BKK) – San Fransisco, A.S. (SFO), menumpang Northwest Airlines kode penerbangan NW 28. Berangkat pada 6:00 AM. Sampai di San Fransisco diperkirakan pada 9:55 AM, pada tanggal yang sama waktu setempat (telat 1 hari di sana). Lama perjalanan 17 jam 55 menit. Transit di San Fransisco sekitar 2 jam 10 menit.
# 26 Juni 2007, San Fransisco, A.S. (SFO) – MacCarran, Las Vegas, A.S (LAS), menumpang pesawat US Airways kode penerbangan US 395. Berangkat pada 12:45 PM. Sampai di Las Vegas pada 2:14 PM.

Saya berangkat sendiri. Pada 26 Juni 2007 dini hari itu, sampailah kaki pemuda kelahiran Jombang ini di negeri Siam. Bandara Suvarnabhumi sungguh megah. Bangunannya modern. Bersih. Elok. Pas kalau ditujukan sebagai bandara transit dunia. Bandara ini baru dibuka pada September 2006. Pada Juni 2007 ketika saya ke sana, tentu semua masih baru dan _kinclong_.

Koridor ruang keberangkatan Suvarnabhumi

Setelah keluar pesawat Garuda, saya lalu mengklaim bagasi dan keluar imigrasi. Entah bagaimana saya merasa aneh, kenapa harus keluar imigrasi? Konon ini berhubungan dengan tiket saya yang dipesan atas nama Garuda Indonesia, dan penerbangan Northwest seperti rangkaian tiket lain. Akhirnya saya keluar dari lantai dua (kalau tidak salah). Saya sempatkan diri melihat area kedatangan di lantai satu. Lalu kemudian naik ke lantai tiga dan kemudian ke lantai empat.

Hampir semua toko di lantai tiga saat itu tutup. Tapi saya masih ada melihat beberapa buka, termasuk sebuah toko _grocery_ FamilyMart di sudut kelokan dekat tangga otomatis di lantai tiga itu. Di lantai tiga itu pula saya lihat pula ada ruang mushalla. Wah, hebat Thailand ini. Saya tak mengira negeri dengan penduduk mayoritas Budha menyediakan ruang ibadah bagi umat muslim yang sangat representatif dan tempatnya tidak tersembunyi pula. Kemudian saya naik ke lantai empat. Di sinilah area utama keberangkatan. Dari ujung koridor luas dan terbuka itu berderet gerbang reservasi tiket. Di kejauhan terlihat koridor A dan di kejauhan lainnya koridor W yang paling ujung.

Loket NorthwestSaya kemudian mencari koridor tempat maskapai Northwest, saat itu pada koridor N. Waktu masih menunjukkan pukul dua pagi lebih beberapa menit. Gerai tiket internasional baru akan dibuka pukul tiga, karena penerbangan saya pukul enam, standar untuk penerbangan internasional loket akan dibukan tiga jam sebelumnya. Baiklah saya mau mencoba tidur sebentar di kursi tunggu yang dingin itu.

Pada pukul tiga pagi terlihat beberapa staf bandara mengatur sistem antrian berkelok-kelok. Wah, pasti penumpangnya banyak sekali. Setelah dibuka pada pukul tiga, saya langsung ikut antri. Tampak seluruh penumpang dicek ulang, dan bagasi diberi tag dari perusahaan keamanan (saya lupa namanya). Keren. Atau gila? Ya, mungkin wajar, ini adalah perjalanan ke Amerika. Saya lalu maju ke meja tiket untuk mengklaim tiket saya (biasanya yang disebut tiket hanyalah kupon penerbangan, dan bukan _boarding pass_). Baru melangkah beberapa saat, baru sadar saya harus berbahasa Inggris. Panik. Harap maklum, karena sebelumnya saya menumpang Garuda, mereka juga masih memakai bahasa Indonesia. Tapi ini harus terjadi. Dan terjadilah.

Klik, klak, demikian bunyi papan ketik komputer. Wajah petugas wanita keturunan India itu tampak heran. Lalu dia telpon-telpon. Bahasa Inggrisnya nyerocos. Saya penasaran dan menajamkan telinga. Saya mendengar lamat-lamat kata ini: “Contract stopped. Failed. Problem. Garuda Indonesia.” Wow. “Apa ini?” batin saya. Saya teringat berita beberapa hari sebelumnya tentang Garuda Indonesia dan maskapai penerbangan lain yang dilarang masuk ke negara-negara Uni Eropa. Apakah ini berhubungan? Hati saya berdegup.

Akhirnya setelah cukup jelas, sang petugas lalu menerangkan kepada saya. Beritanya bisa dirangkum seperti ini. Menurut sang petugas, maskapainya saat itu menghentikan kerjasama dengan Garuda (dan dia bilang baru saja terjadi). Karena penghentian kerjasama ini, mungkin kerjasama penerbangan lanjutan, maka maskapainya, Northwest, tidak bisa bisa lagi menerima penerbangan lanjutan dari Garuda, seperti tiket saya ini. Dia menyarakan saya menghubungi petugas Garuda, mengapa mereka melakukan itu, sebab menurut dia ini bukan kesalahan saya atau _travel agent_ saya (sebenarnya perusahaan sponsor yang memesankan itu lewat _travel agent_ di Amerika Serikat).

_Ugh_. Bencana.

Saya lalu berkeliling mencari loket Garuda Indonesia. Ada seorang petugas wanita di sana. Orangnya bisa berbahasa Indonesia. Asyik. Saya lalu bercerita masalah saya. Wah, tampaknya dia bingung kenapa ini terjadi. Dia lalu telpon supervisornya, seorang laki-laki. Setelah tahu masalah saya, bapak tersebut lalu mengajak saya ke loket Northwest lagi, dan kali ini saya cuma diam menunggu. Akhir setelah mereka berdiskusi, sang bapak petugas kembali ke saya dan menjelaskan berita duka itu. Tiket saya memang tidak diakui. Petugas Garuda menyalahkan pihak _travel agent_. Tapi saya menyalahkan Garuda, kenapa masih menjual tiket terusan kalau kontrak sudah akan dihentikan. Ah, karena saya bingung siapa yang salah, saya lalu tanya petugas Northwest, menurut dia saya sebaiknya bagaimana? Setelah berpikir sebentar, wanita keturunan India berusia 30-an itu lalu menyarankan saya untuk menghubungi _travel agent_ atau perusahaan sponsor. Apalagi waktu masih pukul empat pagi. Di Amerika masih siang. Demikian katanya. Semoga mereka masih membantu.

Menelpon ke Amerika. Habis berapa duit ya? Apakah tidak mahal? Perlu diketahui, saat itu saya tidak tahu ada teknologi bernama Skype. Hal lain adalah saya takut tidak bisa menjelaskan dengan baik masalah ini. Inggris saya belepotan. Tapi baiklah, saya harus berusaha.

Untungnya saya mempunyai kartu kredit. Meski limit tidak begitu banyak. Tapi saya kira cukup untuk menelpon. Katakanlah sampai 1 juta rupiah pun saya siap. Bila itu terjadi. Saya berpikir, sejelek-jeleknya ini tidak ada solusinya, saya akan beli tiket balik ke Jakarta saja. Untungnya pula di bandara Suvarnabhumi tersedia pay phone berbasis kartu kredit yang jumlahnya melimpah. Saya tidak membayangkan bagaimana tagihan telepon nanti bila harus memakai fasilitas roaming internasional dari ponsel saya.

Peta Lantai Empat Bandara Suvarnabhumi
Klik untuk melihat gambar ukuran lebih besar

Akhirnya saya sukses menjelaskan masalah saya lewat telepon. Dan pihak _travel agent_ berjanji akan membantu saya. Nyalakan saja _handphone_-mu. Wow, untung telpon seluler saya yang dua band bisa aktif di Thailand. Baik, demikian pikir saya. Beberapa saat kemudian mereka menelpon, dan bilang, tolong saya ke loket Northwest, dia ingin berbicara dengan petugas yang menangani saya tadi. Saya kembali ke loket Northwest, lalu saya berikan ponsel saya. Petugas wanita tadi lalu berbicara dengan _travel agent_ saya melalui telepon. Setelah itu saya disuruh menunggu.

Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Jarum jam bergerak lambat tak mau kompromi dengan degup jantung saya. Tak terasa pukul lima pagi. Belum ada kabar dari _travel agent_. Saya sudah duduk. Sudah tidur-tiduran di kursi yang makin terasa seperti es. Mencoba selonjorkan kaki di atas koper. Mencoba membaca buku. Saya siap apapun yang terjadi.

Prayer Room di Suvarnabhumi Airport

Tak lama kemudian jarum jam bergerak ke pukul lima lebih 10 menit. Ah, waktunya Subuh. Saya lalu turun ke lantai tiga, tempat Prayer Room, dengan semua bawaan saya. Setelah salat Subuh, saya sempatkan meluruskan punggung di mushalla yang sepi itu. Hanya ada seorang, sepertinya warga Thailand, mungkin seorang petugas kebersihan yang salat di situ. Lalu sepi kembali. Saya tidak dapat memejamkan mata.

Pukul enam lewat beberapa menit, mungkin lebih 10 menit, tiba-tiba telpon saya berbunyi. Singkat kata, _travel agent_ bilang dia mendapat tiket pengganti. Saya akan terbang dengan maskapai United yang akan berangkat pada pukul tujuh pagi. Dia lalu tanya saya di mana. Saya bilang di bandara, lantai lainnya dari area keberangkatan. Dia lalu bilang, cepetan kamu lari. Bergegas saya merapikan barang. Mencatat detil maskapai United tadi. Terakhir saya tanya, ini bagaimana saya meminta tiket saya, kan semuanya sudah tidak diakui? Petugas _travel agent_ itu lalu menjawab, berikan saja paspormu dan bilang kami sudah memesankan tiketmu.

Saya lalu bergegas. Berlari. Hampir melompat. Mendorong kereta dorong sekencang-kencangnya. Lalu di lantai empat, membabi buta untuk mencari letak kaunter tiket maskapai United, dan segera meluncur menuju mereka. Terengah-engah. Saya berikan paspor saya. “Saya punya tiket untuk ke Las Vegas baru dipesan oleh _travel agent_ saya. Tolong segera diproses. Ini paspor saya!” Demikian kata saya hampir setengah berteriak. Petugas itu tanya “Mana bukti kupon tiket dan lain-lain?” Saya menjawab, “Sudah cari saja pasti ada nama saya!”

Dan benar. Ada sebuah tiket tercantum atas nama saya. Tiket segera dicetak. Ada perubahan rute penerbangan. Penerbangan tidak langsung ke Amerika, tapi harus transit di Tokyo, Jepang. Saya akan menumpang United kode penerbangan UA 838 dari Bangkok (BKK) ke Narita, Tokyo, Jepang (NRT). Berangkat pada 6:50 AM. Akan sampai di Narita pada 3:00 PM. Dari Tokyo nanti saya akan Los Angeles, kemudian dilanjutkan ke Las Vegas.

Petugas itu lalu bilang, nanti kamu ikuti petugas ini. Dia menunjukkan seorang pemuda Thailand. Karena penerbangan akan segera berangkat dalam sepuluh hingga dua puluh menit ke depan, kamu akan diantarkan melalui imigrasi yang cepat. Ikuti saja dia. Baik, kata saya. Kami lalu berlari-lari ke pintu masuk keberangkatan. Menuju ruang imigrasi khusus diplomat, dan memang sangat cepat. Lalu masuk ke area pemeriksaan barang. Gila. Semua tas harus dibuka. Amerika memang paranoid. Dan karena panik, saya akhirnya merelakan pasta gigi Pepsodent saya ikut dibuang di tempat sampah karena tidak terbungkus plastik dengan baik. Pemuda Thailand yang mengawal saya di luar area tunggu teriak ikuti saja alur menuju ke _gate_. “Baik. Terima kasih banyak ya!”

Akhirnya saya masuk ke pesawat. Lima atau sepuluh menit kemudian pintu pesawat ditutup. _Ufffh_. Saya tak bisa melukiskan perasaan yang tepat saat itu. Beberapa saat kemudian saya mengecek semua barang bawaan dan akhirnya tahulah saya. Amplop tempat berisi uang $100 tadi hilang entah di mana. Ah, semoga itu berguna untuk orang yang menemukannya. Kemungkinan besar tertinggal di mushalla saat saya terburu-buru mencatat detil penerbangan dan amplop terlupa di rak sepatu. Jadi saya akan terbang ke Amerika Serikat berbekal beberapa ratus ribu rupiah.

Saya tersesat di Vegas

Sesampainya di Vegas, saya lalu mengambil dana sisa di rekening saya sebesar $200. Sepertinya tak mungkin hanya memegang $100. Dan $200 itulah sisa uang saya. Tak ada dana lain.

Dengan dana itulah saya bisa bertahan lima hari di Vegas (dan diperpanjang menjadi enam hari, karena terjadi kesalahan pemesanan tiket kembali). Dengan dana itu pula saya sempat membeli beberapa suvenir untuk dibagikan, termasuk aksesoris bayi untuk anak saya Sofia. Hanya $200. Tapi kalau dipikir-pikir kembali. Dari jumlah, nilai, dan pengalaman, pengeluaran sebesar $200 pada 2007 jauh lebih berharga dibanding pengeluaran saya tahun-tahun berikutnya yang lebih banyak.

Itulah cerita perjalanan pertama saya. Itulah kisah uang $100 dolar yang tak sampai ke Amerika. Kisah ini tidak akan terlupakan dalam sejarah hidup saya.

Disunting oleh SA 24/02/10.


Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil