Artikel-artikel yang ditulis oleh A. P. Edi Atmaja

Dari Tele, Memandang Toba

Semburat fajar di Danau Toba
Semburat fajar di Danau Toba

Berawal dari kesuntukan sehabis berminggu-minggu menghadapi angka-angka akuntansi di kelas, teman saya Rakhmat Alfian mengusulkan ide luar biasa: melancong ke danau Toba. Luar biasa karena ide itu pada mulanya sama sekali tanpa perencanaan. Dibisikkan dari kelas-kelas, akhirnya terkumpul sembilan belas manusia nekat yang terpikat oleh ajakan edan itu.

Jumat malam selepas kelas, dengan menyewa tiga minibus, kami bertolak dari Medan. Yohanes Binur Haryanto, putra asli Deli Serdang, Sumatera Utara, bertugas sebagai navigator. Yobin—sapaan Yohanes Binur Haryanto—pulalah yang bertugas menyetir mobil, ditemani dan bergantian dengan Mangiring Silalahi, Aulia Yudha Prathama, Ignatius Hernindio Dwiananto, dan Muhamad Iqbal.

Kami menempuh rute sepanjang 175 km dengan melewati Lubuk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sampailah di Parapat persis waktu subuh. Di Parapat, danau Toba tampak amat luas di keremangan pagi. Terdapat pelabuhan rakyat, Ajibata dan Tigaraja namanya, buat menyeberang ke pulau Samosir. Pelabuhan Ajibata untuk penyeberangan mobil, pelabuhan Tigaraja untuk penyeberangan orang. Sebelum menyeberang, kami dijamu kerabat Yobin yang tinggal di Parapat sembari menikmati semburat fajar di tepian danau Toba.

Kondisi yang tak dapat dielakkan memisahkan kami menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diputuskan untuk berangkat lebih dulu melalui pelabuhan Tigaraja, sementara kelompok lain menunggu hingga dibuka penyeberangan mobil melalui pelabuhan Ajibata. Dalam kegentingan situasi akibat berpisahnya kongsi, teman kami Dian Vitta Agustina tak mampu lagi melanjutkan perjalanan—kembali ke Medan.

Tomok
Tomok

Toba, dari Tele
Toba, dari Tele

***

Saya beserta sebagian besar teman lain menyeberang melalui pelabuhan Ajibata dengan menaiki feri. Tujuan kami desa Tomok. Di sanalah tempat pertemuan kami dengan kelompok bermobil yang bakal menyusul kemudian.

Di atas feri, angin danau berembus sepoi-sepoi. Sejauh mata memandang, terpampang perbukitan hijau yang mengelilingi danau Toba. Di lain sisi tampak rumah-rumah bolon—rumah adat Samosir—dan nyiur-nyiur dan kapal-kapal yang tengah bersandar—semua panorama yang disaput awan tipis. Indah sekali. Semakin indah karena kami juga ditemani seniman cilik yang mendendangkan lagunya.

Perjalanan tak lama karena segera saja kami sampai di Tomok. Tomok adalah tempat singgah pertama dan utama feri-feri yang menuju Samosir. Di Tomok, suasana riuh oleh para penjual yang menggelar lapak dan para pembeli yang berdesak-desakan mencari makanan, barang kerajinan, dan tetek bengek lain yang khas Toba-Samosir. Tomok sejatinya pasar akbar di tepi danau.

Cukup lama kami berbelanja di Tomok hingga datanglah kawan-kawan kami yang membawa mobil. Sebelum bertolak dari Tomok, kami mengunjungi makam Raja Sidabutar yang wingit dan mengambil banyak sekali foto. Foto-foto, buat kami, merupakan tautan yang menghubungkan kita dengan generasi mendatang: semacam sistem pengendalian intern supaya di masa depan anak-cucu kita masih bisa melihat apa yang seharusnya (masih) ada di masa mereka.

Segera mencebur
Segera mencebur

Siang cukup terik dan kami berada dalam perjalanan menuju Tuktuk, desa penginapan populer para turis. Populer karena di Tuktuk terdapat banyak penginapan bagus yang menawarkan pemandangan langsung danau Toba dari tepian.

Lantaran perut mulai keroncongan, kami memutuskan mencari rumah makan. Bukan sembarang rumah makan, melainkan rumah makan yang khusus menghidangkan makanan halal. Memang agak sukar menemukan penjual makanan halal di pulau yang juga merupakan kabupaten ini. Harus benar-benar selektif dan mensyaratkan penjual tak menawarkan sama sekali makanan non-halal di buku menunya.

Sehabis makan, kami melanjutkan perjalanan dan melewati sebuah pertigaan dengan gapura besar bermotif ukiran Batak Toba. Di sana terdapat padang rumput hijau yang luas nian. Naluri narsistik kami segera terbit. Jadilah padang rumput itu menjadi tempat mejeng yang hiruk piruk di siang bolong. Momen-momen nan bersejarah itu lekas dipotret oleh Muhammad Reza Budiman.

***

Sesampainya di Tuktuk, berkat diplomasi Yobin, kami mendapat penginapan murah yang cukup nyaman dan—yang paling penting—memungkinkan kami untuk menikmati danau Toba teramat dekat. Tanpa banyak cakap, saya dan beberapa teman segera berganti pakaian dan mencebur ke danau.

Brrr. Segarnya air danau menguliti rasa capai setelah semalaman lebih berkendara. Betah rasanya berlama-lama berendam di danau Toba. Selain jernih, air tak berombak dan tak berasa asin sehingga seolah seperti berenang di kolam renang raksasa.

Sehabis berenang, tidur menjadi langkah selanjutnya buat merontokkan penat. Dalam urusan renang—dan tampaknya semua cabang olahraga lain—jangan pernah sekalipun melawan Muhammad Taufik Taqdir, yang biasa dipanggil Opik. Ketika semua puas berenang—yang tadinya capai menjadi segar lalu capai kembali—Opik masih asyik berakrobat di danau. Angin mulai berembus kencang dan hujan jatuh rintik-rintik tanda akan datang badai, tapi si Opik masih saja berenang.

Bangun dari tidur, ternyata beberapa teman telah pulang mendahului kami. Idah Rosida, Retisa Heryati Siwi, dan Agmalun Hasugian mesti kembali ke Medan dan tak mungkin menginap lantaran suatu agenda. Jadilah Anggina Rizki Harahap dan Izzah Annisa saja kaum perempuan yang tersisa bersama kami.

Usai sembahyang Isya, kami menuju tempat makan yang unik karena pemiliknya penyuka reptil. Sembari menyantap hidangan, kami dan reptil saling memandang tentang siapa dari kami yang harus memperkenalkan diri duluan.

Sekembalinya ke penginapan, ternyata acara tak lantas selesai (“Malam Minggu pulak!” kata anak Medan). Acara selanjutnya, bakar-bakaran ikan! Tentu bukan membakar ikan belaka yang jadi pokok acara. Bakar-bakaran jadi asyik dan semarak sebab ditingkahi dengan obrolan tak berkesudahan yang dilengkapi dengan olok-olok menyenangkan. Judulnya bakar-bakaran ikan, tapi isinya rupa-rupa upaya buat memunculkan keakraban dan mempererat persahabatan.

***

Keesokan paginya kami bersiap meninggalkan penginapan dan, tentu saja, Tuktuk. Tujuan kami selanjutnya adalah Tele, puncak tertinggi di Samosir. Di Tele terdapat menara pandang yang konon mampu menyajikan lanskap danau Toba secara lengkap dan utuh.

Melewati persawahan, pohon-pohon, bukit-bukit, para bule yang bersepeda, dan kuburan-kuburan Batak yang dibangun teramat megah, pulau Samosir tak kalah dengan pulau Bali—paling tidak menurut saya. Keduanya dipersamakan oleh kebudayaan dan religi yang kuat, namun sayang diperbedakan oleh dukungan finansial yang ibarat bumi dengan langit.

Penginapan bergaya rumah Bolon
Penginapan bergaya rumah Bolon

Patung-patung di makam Raja Sidabutar
Patung-patung di makam Raja Sidabutar

Sesampainya di Tele, pendapat saya tadi semakin teguh: betapa orang goblok, culun, katrok, dan kodian sajalah yang berpendapat bahwa danau Toba itu jelek, kumuh, dan oleh karenanya tak patut diperhatikan. Memandang Toba dari puncak Tele, saya seperti terbawa ke alam surgawi yang indah, terhanyut oleh kekaguman pada tanah kebanggaan saudara kami suku Batak, dan tersandera oleh kenangan manis tak berkesudahan yang terus membekas hingga kini.

Di Tele, ketika teman-teman lain seperti Syaeful Amri, Alfauzi Saiful Anwar, Adib Fathoni, dan Septano Guna Aji berfoto-foto mesra, saya merasa bahwa saya pasti, harus, dan akan mengunjungi danau Toba dan pulau Samosir lagi suatu hari nanti, dengan perasaan yang tak kalah mesra dibanding foto-foto mereka semua.


Terpana Pesona Air Terjun Dua Warna

Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.
Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.

Pelesir itu, buat Agmalun Hasugian, mesti menyejukkan pikir. Pelesir yang memenatkan pikiran seharusnya dihindari. Pelesir-pelesir yang bikin suntuk semacam itu, menurut Agmal, justru digemari masyarakat urban dewasa ini. Berkaraoke, belanja di mal, menonton film di bioskop, atau menyantap makanan di restoran-restoran mahal menjadi budaya masyarakat yang tinggal di perkotaan, tak terkecuali Medan, yang bagi Agmal adalah hiburan-hiburan kelas rendah yang konsumtif.

Maka, ketika pada suatu siang sehabis sembahyang Jumat Agmal mengajak teman-temannya, termasuk saya, untuk berpelesir, kami paham bahwa pelesir yang dia maksud pasti bakalan asyik. Dan ternyata benar, destinasi yang dia tawarkan sangat memikat hati: air terjun dua warna.

***

Pos penjaga hutan (ranger).
Pos penjaga hutan (ranger).

Air terjun dua warna dapat ditempuh dengan menyewa angkutan kota (angkot) yang jamak ditemui di Medan. Kota Medan, saya rasa, memiliki sistem perangkotan (maafkan kalau afiksasi saya terdengar janggal di telinga) yang baik. Angkot ditempeli nomor yang menunjukkan trayeknya. Jika anda hendak ke Merdeka Walk, misalnya, anda mesti naik angkot bernomor 103—dan sampailah anda di sana.

Jangan kaget ketika sopir menyetir ugal-ugalan. Sopir angkot di Medan memang merasa punya sembilan nyawa. Melesat di lajur kanan, sang sopir bisa saja tiba-tiba banting setir ke kiri ketika melihat calon penumpang melambaikan tangan atau tatkala seseorang bilang, “Minggir, Bang.” Pegangan pun harus kuat karena si sopir bisa mengerem dan mengegas angkot secara mendadak. Walaupun begitu, keselamatan penumpang agaknya masih menjadi perhatian. Saat menaikkan penumpang, angkot belum akan jalan kalau penumpang tersebut belum duduk nyaman di jok yang tersedia.

Di atas Sutra.
Di atas Sutra.

Bersama angkot Medan sewaan, kami menuju objek wisata air terjun dua warna yang terletak di Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Perjalanan ditempuh selama lebih-kurang dua jam, melalui Jalan Jamin Ginting yang panjangnya bukan main: terentang dari Kota Medan hingga Kabupaten Deli Serdang.

Menuju air terjun dua warna, kami mesti melewati kawasan Perkemahan Pramuka Bandar Baru, Sibolangit, Sumatera Utara. Bumi perkemahan yang pada 1972 diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah berjalan kaki selama beberapa menit, sampailah kami di pos penjaga hutan (ranger) yang bakal memandu kami.

Kenapa mesti dipandu? Soalnya, buat mencapai air terjun kami mesti menerobos lebatnya pepohonan di Taman Hutan Raya Bukit Barisan yang termasuk dalam wilayah lereng Gunung Sibayak (2.212 m), salah satu gunung berapi aktif (stratovolcano) di Sumatera Utara. Tanpa pemandu, perjalanan akan menemui banyak masalah. Hutan yang lebat sangat mudah membuat orang tersesat. Kendati telah ada jalan setapak, hanya penjaga hutanlah yang mengerti jalan setapak mana yang mengarah ke tujuan. Ngarai-ngarai yang curam juga mesti diwaspadai karena kerap dijumpai di rute yang dilalui.
Beserta rombongan lain dan seorang pemandu yang merokok terus sepanjang waktu, kami berjalan kaki menikmati rimbunnya hutan dan segarnya napas alam. Sehabis dua jam berjalan—melewati jalanan berlumpur, mendaki batu-batu besar seukuran kerbau, menyeberang kali—dan diselingi mengaso berkali-kali, sampailah kami di lokasi.

Seperti namanya, terdapat dua macam air terjun yang mengadang kami. Air terjun pertama setinggi sekira 50 meter dan mengalirkan air berwarna hijau/biru. Sementara air terjun yang lain setinggi kira-kira 20 meter dan mengucurkan air jernih layaknya air terjun pada umumnya. Keduanya membentuk telaga yang berwarna hijau/biru dan putih keabu-abuan di mana pengunjung dapat berenang di sana. Telaga berwarna hijau/biru bersuhu sangat dingin, sedangkan telaga berwarna putih keabu-abuan bersuhu hangat.

Konon, sejauh ini belum diketahui siapa yang kali pertama menemukan air terjun itu. Informasi singkat menjelaskan bahwa seseorang bernama Imanuel Sinuraya-lah yang pada 2004 mengetahui keberadaan air terjun ini secara tak sengaja. Di samping itu, belum ada bukti ilmiah yang dapat menjelaskan penyebab perbedaan warna dan suhu air terjun itu. Keterbatasan informasi dan belum adanya fasilitas yang memadai membuat keberadaan air terjun dua warna menerbitkan rasa penasaran banyak orang, terutama mereka yang berjiwa petualang.

Ketika sampai di sana, sudah banyak pengunjung yang mandi, berenang, atau sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan. Sebagian lain menikmati seduhan mi instan yang dijual pedagang dadakan yang mangkal di lokasi tersebut. Tak sedikit pula yang mengisi botol-botol minum mereka dengan air yang mengucur dari titik-titik mata air di dinding lembah.

***

Puas mandi dan berenang, bersama rombongan dan pemandu kami meninggalkan air terjun dua warna. Menempuh rute dan waktu yang sama saat keberangkatan, sampailah kami di pos penjaga hutan kembali. Capai, penat, dan berkeringat tentu, tapi kami sangat menikmati pelesir ini.

Berjingkat di batu-batu.
Berjingkat di batu-batu.

Kami pulang ke tempat tinggal kami di Padang Bulan, Medan, dengan menaiki Sutra. Sutra adalah angkutan antarkota/kabupaten berwujud bus tanggung yang, antara lain, menghubungkan Kabupaten Deli Serdang dengan Kota Medan. Sutra sejatinya cuma merek usaha angkutan. Ada juga merek lain seperti Borneo, Dairi, Sinabung, dan seterusnya, yang sesungguhnya wujudnya, ya, itu-itu juga.

Menaiki Sutra ini merupakan pengalaman yang tak akan pernah kami lupakan. Sebab, tidak seperti angkutan lain, oleh kernet kami tidak dipersilakan masuk, tapi disuruh memanjat ke atap. Lho? Ya, di atap bus kami menikmati perjalanan pulang yang sungguh mengasyikkan.

Meniti tali melewati ngarai.
Meniti tali melewati ngarai.

Sembari berpegangan pada pegangan besi di atap bus, embusan angin menerpa muka kami. Pohon-pohon di tepi jalan melambaikan daun mereka melihat kami melintas. Para ‘penunggang atap bus’ lain yang berpapasan dengan kami menyapa kami dengan teriakan mereka. Sesekali sopir melajukan bus dengan kencang, dan itu memacu adrenalin kami.

Wisata alam sampai kapan pun menawarkan pesona yang nilainya tak dapat diutarakan dengan kata-kata. Yang memesona bukan semata destinasinya, melainkan bagaimana kita mencapai destinasi itu. Lebih daripada apa pun adalah kesadaran kita untuk terus menjaga hutan, pohon-pohon, batu-batu, tanah berlumpur, ngarai, lembah, mata air, telaga, dan air terjun agar semuanya itu bisa dinikmati pula oleh generasi sesudah kita.

  • Disunting oleh SA 27/09/2014

© 2017 Ransel Kecil