Artikel-artikel yang ditulis oleh Alie Poedjakusuma

Menjemput Senja di Masjid Raya

Waktu sudah menunjuk lima belas menit lepas dari pukul lima sore saat saya langkahkan kaki meninggalkan hotel di Peunayong, Banda Aceh. Tujuan saya kali ini: merasakan senja menghujam Banda Aceh di kompleks Masjid Raya Baiturrahman.

Matahari memang sudah berada di ufuk barat; tapi senja belum lahir. Panas sore masih cukup menyengat dan membuat keringat mengucur perlahan. Aku memilih berjalan kaki menyusuri trotoar, melewati simpang lima kota, dan menyeberang jembatan yang melintang di atas Krueng Aceh.

Tak jauh selepas jembatan, menara tinggi Masjid Raya sudah menjulang; menjadi penanda arah tujuan saya yang sudah tepat. Beberapa sisi menara tampak rusak; mungkin sisa musibah tsunami yang belum diperbaiki.

Becak; lebih serupa becak motor khas medan –motor dua tak dengan kereta tempel- lalu lalang mengantarkan penumpang. Di sisi utara Masjid Raya, labi-labi jurusan Lhoknga dan Darussalam tampak menunggu terisi penumpang.

Labi-labi, angkutan kota versi Banda Aceh adalah mobil bak terbuka yang bagian belakangnya telah dimodifikasi dengan menambahkan atap; dan jendela tentu saja. Dua buah bangku panjang melintang sejajar di kedua sisinya.

Matahari belum juga surut; sementara jam tangan membentuk garis lurus memanjang. Tepat pukul delapan belas.

Banda Aceh memang masih termasuk dalam daerah waktu Indonesia barat; namun waktunya tidak serta merta sama dengan Jakarta. Jadilah aku beruntung menikmati indahnya sore bersama ratusan warga ibukota Nanggroe di halaman Masjid Raya.

Tak jauh dari menara di muka masjid, sebuah kolam ikan dipadati anak-anak yang riang melihat ikan-ikan berebut pangan. Digantung dalam plastik panjang oleh orang tua mereka, puluhan ikan berebut menggigit, membuat air kolam riuh beriak.

Di bawah pohon disamping menara, remaja putri duduk melingkar; mendengarkan guru ngajinya. Anak-anak yang lebih kecil, tampak menyimak ustadnya melafalkan ayat-ayat suci di sisi selatan masjid. Mereka duduk manis di atas rumput, dinaungi pohon-pohon menjulang yang rindang.

Kuputari masjid, berjalan melalui sisi utara, melewati bagian ‘belakang’ masjid dan kembali ke plasa depannya lewat sisi selatan. Detail-detail di dindingnya memukau. Himbauan berpakaian muslim tercetak besar pada papan besi. Sayangnya aku hanya berkaus oblong dan sandal jepit.

Puas memandangnya dari luar; kuambil wudhu dan masuk ke dalam. Selagi menunggu adzan maghrib, mataku menelanjangi interiornya. Lampu-lampu gantung, ornamen-ornamen, hingga karpet merah yang terbentang; syahdu terasa.

Jamaah mulai berdatangan; menyusun baris-baris shalat. Kumandang adzan menandai kelahiran senja, pukul tujuh malam waktu Banda Aceh. Dalam hati aku berdoa semoga dapat kembali bersama yang tercinta; menikmati senja lagi. Di masjid ini lagi.


Penangkaran Buaya Lo Than Muk, Medan

Pernah membayangkan halaman belakang anda dijaga 2.800 ekor buaya? Tidak perlu dibayangkan, cukuplah datang ke lokasi penangkaran buaya milik Lo Than Muk di Asam Kumbang, Medan Selayang, Kota Medan.

Taman buaya Asam Kumbang, demikian biasa disebut dapat dicapai dari pusat Kota Medan dengan taksi atau kendaraan sewaan. Beberapa angkutan nampak berseliweran, tapi saya tidak tahu nomor dan jurusannya. Cobalah bertanya di terminal apabila hendak menggunakan angkutan umum.

Memberi makan buaya
Memberi makan buaya

Cukup membayar tiket masuk seharga Rp5000,-, anda sudah dapat melihat lebih dekat buaya di pekarangan belakang rumah. Tidak jinak tentu saja, karena bukan jenis hewan peliharaan biasa semacam kucing atau anjing. Konon penangkaran ini adalah yang terbesar di dunia. Saya tidak tahu apakah Steve Irwin, si penakluk buaya dari Australia itu sudah pernah mampir ke sini atau belum.

Buaya menyeringai
Buaya menyeringai

Halaman belakang rumah seluas dua hektar itu sudah disulap dengan bak-bak penampungan reptilia ganas ini. Sebuah kolam seukuran separuh lahan pun ada melengkapi wisata unik yang ditawarkan. Sayangnya, anda tidak dapat bersampan-ria sembari melemparkan sarapan. Salah-salah malah anda yang jadi sarapan!

Berbagai macam buaya ada di sini, kebanyakan dari jenis buaya muara. Dari buaya yang hitam legam hingga buaya albino alias buaya putih. Dari yang lengkap anggota tubuhnya sampai yang buntung alias tidak berekor pun ada.

Tanda bahaya
Tanda bahaya

Usianya beragam, mulai dari balita hingga diatas 50 tahun. Saat saya datang berkunjung, dua ekor buaya berukuran jumbo berumur 38 tahun tampak tertidur pulas sementara seorang pawang tampak membersihkan kandangnya.

Jika cukup tega, cukup membayar Rp30.000,- untuk seekor itik atau ayam yang dapat anda lemparkan ke kolam tempat buaya-buaya berenang. Ini tentunya lebih menarik daripada hanya melihat buaya yang hilir-mudik, sesekali menguap, dan tertidur atau berenang perlahan. Di atas kolam, dua buah pohon rindang nampak dipenuhi kuntul berjubah putih.

Buaya-buaya bertumpuk
Buaya-buaya bertumpuk

Membeli itik untuk memberi makan buaya
Membeli itik untuk memberi makan buaya

Meski ada banyak buaya di sini, tidak ada satupun yang nasibnya berakhir buruk menjadi tas kulit bermerek. Sang pemilik penangkaran tidak mengizinkan buaya-buaya peliharaannya diperlakukan demikian.

Jika ingin membawa cinderamata, anda bisa berfoto dengan buaya-buaya mini berusia muda atau membeli kerajinan kayu berbentuk buaya yang dijual di kios depan pintu masuk penangkaran.

  • Disunting oleh SA 08/05/2012

Mengunjungi Museum Batik Pekalongan

Menyusuri pantai utara Jawa, kita dapat menemukan berbagai warisan budaya. Batik, yang jadi warisan dunia versi UNESCO, memiliki akar kuat di pantai utara (pantura). Pekalongan, kota di pesisir utara Jawa, adalah salah satunya. Menamakan diri “kota batik”, Pekalongan memang sudah sejak dulu dikenal sebagai salah satu sentra penghasil batik, disamping Yogyakarta dan Solo tentunya.

Tidak punya cukup waktu berkeliling di pusat grosir batik atau perkampungan sentra pembuatan batik, saya mencoba mengunjungi Museum Batik Pekalongan. Mentari yang membakar khas pesisir sudah mulai bergeser ke barat. Jam buka museum hampir habis, tapi sayang rasanya jika tidak berkeliling. Saya membayar tiket masuk museum Rp5.000,- di pintu masuk.

Fasad Museum Batik Pekalongan
Fasad Museum Batik Pekalongan

Pengunjung museum yang terletak di Jl. Jatayu ini menempati gedung peninggalan kolonial. Dahulu, gedung dipakai sebagai kantor walikota, dan kantor pabrik gula. Bangunan berlanggam art deco ini disulap menjadi museum dengan tiga ruang pamer.

Saya didampingi pemandu museum berparas ayu memasuki ketiga ruang pamer. Kain-kain batik khas pesisir Jawa di pamerkan di ruangan utama. Dari motif batik Cirebon, Pekalongan, hingga Lasem (Rembang) dapat dijumpai di sini. Canting, dan bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatannya turut pula dipamerkan.

Beberapa Koleksi Museum Batik Pekalongan
Beberapa Koleksi Museum Batik Pekalongan

Pemandu memang melarang saya memotret dan menyentuh koleksi. Saya mengabaikan larangan pertama. Sambil berkeliling, kamera yang menempel di pinggang saya jepretkan tanpa lampu kilat. Sekedar koleksi, pikir saya singkat!

Saya kurang berminat di ruang pamer kedua, yang memamerkan koleksi batik istri presiden dan wakilnya. Koleksi-koleksi di ruangan ini disumbangkan pertengahan Juli tahun ini, dan saat ini masih dipamerkan. Formalitas dan pencitraan agaknya tidak terpisahkan juga di museum yang buka setiap hari pukul 9.00-15.00 WIB ini.

Ruang pamer terakhir menyuguhkan koleksi kain batik dengan motif-motif khas Yogyakarta dan Solo. Beberapa peristiwa lampau yang turut menyertakan batik pun ditampilkan dalam foto-foto.

Ruang pamer agaknya tidak dapat mengambil hati saya, keingintahuan lebih terpuaskan di selasar workshop. Setelah kompor dinyalakan, lilin-lilin mulai cair, canting-canting mungil pun mulai menari di atas kain mori.

Saya beruntung, bersama beberapa rekan seperjalanan, kami tidak dimintai biaya tambahan. Biasanya, pengunjung yang akan mencoba membatik harus membayar ekstra untuk workshop semacam ini.

Tidak mudah, itu yang saya rasakan ketika mulai menulisi kain, walaupun dengan nama saya sendiri, bukan menggambar bunga, atau motif lainnya. Lilin yang saya goreskan tidak merata, seringkali terlalu banyak di awal, menembus kain menyentuh kulit. Panas.

Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan
Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan

Blok-blok motif untuk batik cetak juga tersedia, beragam motifnya. Pembilasan dan pewarnaan kain ditampilkan di museum ini dengan sederhana, mungkin sesederhana yang dilakukan para perajin batik. Museum dengan koleksi kurang lebih 1.700-an motif batik ini jelas sayang dilewatkan jika Anda punya waktu mampir disela perjalanan Anda melintasi pantura.

Canting dan Malam
Canting dan Malam

Bagi pecinta batik, berkunjunglah secara rutin. Setiap empat bulan koleksi akan diganti. Mengingat keterbatasan ruang pamer, tidak semua koleksi ditampilkan sekaligus, tapi bergiliran. Sayang, koleksi motif batik Semarang dan Maluku yang saya harap dapat dijumpai di sini belum ada. Mungkin lain waktu ketika saya kembali, koleksi yang saya harapkan sudah bisa dinikmati.

Sebelum menempuh kembali perjalanan, sempatkanlah menyeberang jalan, dan mengabadikan foto di tugu-tugu aksara bermotif batik yang membentuk kata “BATIK”.

  • Disunting oleh SA 09/02/2012

© 2017 Ransel Kecil