Arsip untuk kategori Esai Foto

Magnet Spiritual

Arab Saudi serupa lampu, dan umat Muslim adalah laron-laron yang tak henti beterbangan menghampirinya. Tiap tahunnya jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke sini untuk melaksanakan ibadah umroh atau haji, ritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad 1400 tahun yang lalu. Di negeri berdebu ini beragam manusia dan budaya yang melekat padanya berinteraksi, berdinamika, bergesekan, serta berangkulan di bawah nafas yang sama: perjalanan spiritual.

Selama dua puluh empat jam non-stop para peziarah bergantian bertawaf mengelilingi Ka'bah selama tujuh kali.
Selama dua puluh empat jam non-stop para peziarah bergantian bertawaf mengelilingi Ka’bah selama tujuh kali.

Baca seutuhnya →

Raja Ampat

Lelahnya karena perjalanan dari tepat pukul 12.00 WIB dini hari tadi pagi hingga sore ini ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIT terbayar sudah. Saya sekarang berada di salah satu tempat impian saya: Raja Ampat, Indonesia.

Setelah cukup beristirahat, saya dan teman seperjalanan mulai menjelajahi kepulauan ini pada hari berikutnya.

Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya...

Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya…

Baca seutuhnya →

Marrakech dalam Warna dan Aroma

Marrakech merupakan tempat yang benar-benar menantang sekaligus memanjakan panca indera saya sebagai seorang backpacker wanita yang berpetualang seorang diri. Di satu sisi saya harus selalu waspada akan keselamatan barang-barang dari tangan-tangan jahil, menajamkan insting agar tidak diganggu atau dibuntuti pria hidung belang, serta mengira-ngira arah agar tidak tersesat di lika-liku souk kota tua. Di sisi lain mata dan lensa saya dimanjakan oleh eksotika kerajinan dan warna di setiap sudut kotanya.

Marrakech 1

Baca seutuhnya →

Memotret Laos Melalui Luang Prabang dan Van Vieng

Laos adalah destinasi “underdog” di Asia Tenggara. Namun, tahukah anda, justru di negara ini terdapat kecantikan alam dan hasil budaya yang mengagumkan, seolah belum pernah terjamah. Safir Soeparna membawa kita dalam perjalanan visual yang mencengangkan sepanjang Luang Prabang, yang menjadi UNESCO World Heritage Site, serta Van Vieng, kota kecil yang tenang bagi pejalan yang ingin lepas dari hiruk-pikuk perkotaan, terutama mungkin kecenderungan modernisasi negara tetangganya seperti Thailand atau Vietnam.

Mulai dari kota yang klasik sampai alam penuh rona, Laos memiliki semuanya, tanpa harus terjebak keramaian pengunjung.

Beberapa pemuda lokal terlihat berkunjung ke candi yang sudah berumur ribuan tahun untuk beribadah. Mayoritas penduduk Laos merupakan penganut Buddha Theravada.

Beberapa pemuda lokal terlihat berkunjung ke candi yang sudah berumur ribuan tahun untuk beribadah. Mayoritas penduduk Laos merupakan penganut Buddha Theravada.

Baca seutuhnya →

Mengintip Sekolah “Laskar Pelangi”

Sekolah Laskar Pelangi berdiri terseok di tanah tanpa ubin, berdinding kayu berlubang. Pencahayaan masuk dari celah-celah di antara kayu-kayu yang disusun horizontal memanjang dari kiri ke kanan. Kondisi kelas berantakan, dengan lebah berseliweran. Di luarnya tampak dua buah kayu penyangga karena bangunan nyaris roboh. Di sebelah kanan sekolah ada sumur dan di dekatnya ada balai kecil. Dibangun di atas bukit bekas penambangan timah, sekolah ini menjadi replika SD Muhammadiyah yang digunakan untuk keperluan film Laskar Pelangi. Semua ditata sedemikian rupa sehingga mendekati kondisi aslinya.

Berada di Desa Selingsing, Kecamatan Gantong, Belitung Timur, sekolah Laskar Pelangi adalah simbol dan gambaran sekolah dengan fasilitas minim dan serba kurang ideal. Meski demikian, banyak sekali pesan moral dan semangat hidup pantang menyerah yang kita saksikan dari film ini. Laskar Pelangi bukan hanya menginspirasi semua orang, tetapi telah menunjukkan kepada kita bahwa fasilitas sekolah yang apa adanya atau biasa-biasa saja telah mampu melahirkan peserta didik yang luar biasa.

Sekolah "Laskar Pelangi"
Sekolah “Laskar Pelangi”.

Baca seutuhnya →

Semburat India

India adalah negeri penuh warna dan budaya. Ragam etnis, bahasa, kepercayaan dan sejarah yang panjang menjadikannya salah satu tempat yang penuh perbedaan. Tidak heran India menjadi salah satu destinasi utama pengelana di dunia. Safir Soeparna membawakan kepada kita beberapa sorotan khazanah dunia ini melalui foto-fotonya yang apik.

Pakaian eksentrik para Sadhu, atau mereka yang memutuskan untuk hanya beribadah selama sisa hidupnya, menjadi pemandangan tersendiri saat saya berada di Varanasi, salah satu kota tersuci umat Hindu di India.

Baca seutuhnya →

Menyesapi Panorama Wat Arun

Jam nyaris berdetak ke angka sembilan saat saya sampai di Wat Arun. Keindahan Wat Arun yang berdiri kokoh menantang matahari, mengundang decak kagum saya. Begitu menarik, unik dan memesona. Sejenak saya menatap langit dan menghela nafas, lalu menyisir setiap sudut bangunan yang memiliki arsitektur sangat megah ini. Gontai langkah saya pun perlahan mengukir lantai. Potongan kaca dan keramik warna-warni pada dindingnya membuat bangunan bersejarah tersebut tampak semakin indah dan elegan. Didorong penasaran yang tinggi untuk menyaksikan pemandangan yang lebih leluasa, saya mencoba mengumpulkan keberanian mendaki anak tangga yang menanjak tajam. Sungguh memanjakan mata. Rasa lelah seolah terbayar lunas, manakala disuguhkan panorama memukau. Di atas, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Tuhan.

Ah, beginilah seharusnya hidup. Wat Arun memang menyuguhkan ‘surga’ bagi pecinta wisata.

Wat Arun, Kuil Sang Senja
Wat Arun, Kuil Sang Senja

Baca seutuhnya →

Menyusuri Heningnya Gangga Di Varanasi

Hari itu saya sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Dari jendela kamar atas tempat saya menginap saya mengintip ke arah langit, saat itu ia masih berwarna biru tua dengan rona keunguan. Matahari bahkan belum tampak. Lalu, tiba-tiba, saya mendengar suara dari arah bawah, tatapan saya pun teralihkan. Saya akhirnya mengamati gang sempit di depan pintu penginapan, ternyata sudah banyak orang berlalu-lalang. Ya, di Varanasi denyut kehidupan memang dimulai lebih awal dibandingkan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi di India. Ditemani oleh dua orang teman seperjalanan, Daniel dan Vasanti, sayapun bergegas pergi keluar penginapan, ke arah tepian Sungai Gangga demi mendapati perahu sewaan yang bisa kami pakai menyusuri sungai. Salah satu hal yang wajib wisatawan lakukan ketika sedang mengunjungi kota Varanasi, katanya. Ditemani warga lokal pemilik perahu yang kami temui di jalan, sampailah kami bertiga di tepian sungai, dekat dengan dek kapal.

Suasana Pagi di Sungai Gangga
Suasana Pagi di Sungai Gangga

Baca seutuhnya →

68 Derajat Lintang Utara

Dua puluh jam perjalanan dari Stockholm melintasi pedesaan Swedia membawa saya ke impian yang jadi nyata: melintasi Lingkar Arktik, di mana kita semakin dekat dengan kutub Utara. Suhu di sini bisa tak bersahabat ketika musim dingin. Kontras antara dataran Swedia yang landai dan Norwegia yang curam menyambut saya di perbatasan.

Gerbong kereta sudah semakin sepi ditinggal penumpang di pos-pos perhentian sebelumnya. Saya menghabiskan kopi yang saya beli satu jam yang lalu, mempersiapkan tas dan membereskan selimut dan bantal yang saya gunakan di gerbong tidur. Lalu saya melihat keluar…

Baca seutuhnya →

Senandung Gedser

Deru kapal feri itu membuat saya tersenyum lebar, girang mengantisipasi petualangan selanjutnya. Inilah kali pertama saya melintas batas negara Schengen, dari Jerman ke Denmark. Setelah melalui empat jam di darat dari Berlin ke Rostock, petualangan Skandinavia saya baru dimulai. Kapal yang saya tumpangi perlahan mulai ramai. Tak pikir panjang, saya langsung berkeliling kapal merekam memori.

Baca seutuhnya →