Artikel-artikel dari kategori Esai Foto

Magnet Spiritual

Arab Saudi serupa lampu, dan umat Muslim adalah laron-laron yang tak henti beterbangan menghampirinya. Tiap tahunnya jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke sini untuk melaksanakan ibadah umroh atau haji, ritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad 1400 tahun yang lalu. Di negeri berdebu ini beragam manusia dan budaya yang melekat padanya berinteraksi, berdinamika, bergesekan, serta berangkulan di bawah nafas yang sama: perjalanan spiritual.

Selama dua puluh empat jam non-stop para peziarah bergantian bertawaf mengelilingi Ka'bah selama tujuh kali.
Selama dua puluh empat jam non-stop para peziarah bergantian bertawaf mengelilingi Ka’bah selama tujuh kali.

Lantai 3 Masjidil Haram merupakan tempat luas tak beratap yang langsung dilewati oleh angin malam. Di sini biasa terlihat beberapa penziarah tidur berselimutkan sajadah selepas sholat malam sembari menunggu Shubuh.
Lantai 3 Masjidil Haram merupakan tempat luas tak beratap yang langsung dilewati oleh angin malam. Di sini biasa terlihat beberapa penziarah tidur berselimutkan sajadah selepas sholat malam sembari menunggu Shubuh.

Ritual dalam ibadah umroh yang terakhir, tahalul, mensyaratkan para penziarah laki-laki untuk mencukur rambut mereka. Hal tersebut melahirkan banyak barber shop yang tersebar di sekitar Masjidil Haram. Ongkosnya 10 real untuk cukur pendek dan 20 real untuk cukur sampai habis.
Ritual dalam ibadah umroh yang terakhir, tahalul, mensyaratkan para penziarah laki-laki untuk mencukur rambut mereka. Hal tersebut melahirkan banyak barber shop yang tersebar di sekitar Masjidil Haram. Ongkosnya 10 real untuk cukur pendek dan 20 real untuk cukur sampai habis.

Di Mekkah, hampir semua hal dipisahkan tempatnya antara laki-laki dan perempuan.
Di Mekkah, hampir semua hal dipisahkan tempatnya antara laki-laki dan perempuan.

Berburu binatang merupakan salah satu hal yang dilarang untuk dilakukan di Mekkah. Itulah sebabnya kota ini dihuni oleh banyak sekali burung merpati. Berburu binatang merupakan salah satu hal yang dilarang untuk dilakukan di Mekkah. Itulah sebabnya kota ini dihuni oleh banyak sekali burung merpati.

Pemandangan dari Jabal Rahmah, bukit yang dipercaya sebagai tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa setelah mereka dilempar dari surga. Para penziarah menuliskan nama mereka dan pasangan mereka di bebatuan yang ada di sini karena dipercaya membawa berkah.
Pemandangan dari Jabal Rahmah, bukit yang dipercaya sebagai tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa setelah mereka dilempar dari surga. Para penziarah menuliskan nama mereka dan pasangan mereka di bebatuan yang ada di sini karena dipercaya membawa berkah.

Sebuah toko di pusat kota Jeddah yang sudah tentu mengundang orang Indonesia untuk masuk.
Sebuah toko di pusat kota Jeddah yang sudah tentu mengundang orang Indonesia untuk masuk.

Sepasang lanjut usia duduk berteduh di bawah papan peringatan di pinggir Laut Merah, Kota Jeddah. Di dasar laut ini konon terkubur jasad Fir'aun dan pasukannya yang ditenggelamkan oleh Nabi Musa.
Sepasang lanjut usia duduk berteduh di bawah papan peringatan di pinggir Laut Merah, Kota Jeddah. Di dasar laut ini konon terkubur jasad Fir’aun dan pasukannya yang ditenggelamkan oleh Nabi Musa.

Payung-payung raksasa dipasang di halaman Masjid Nabawi, Madinah, untuk melindungi para penziarah dari sengatan matahari.
Payung-payung raksasa dipasang di halaman Masjid Nabawi, Madinah, untuk melindungi para penziarah dari sengatan matahari.

Seorang pegawai sedang membuat roti khubuz (roti bundar pipih khas Arab) di sebuah kedai di Kota Madinah.
Seorang pegawai sedang membuat roti khubuz (roti bundar pipih khas Arab) di sebuah kedai di Kota Madinah.

  • Disunting oleh SA 17/04/2013

Raja Ampat

Lelahnya karena perjalanan dari tepat pukul 12.00 WIB dini hari tadi pagi hingga sore ini ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIT terbayar sudah. Saya sekarang berada di salah satu tempat impian saya: Raja Ampat, Indonesia.

Setelah cukup beristirahat, saya dan teman seperjalanan mulai menjelajahi kepulauan ini pada hari berikutnya.

Saya sedang tengah tertidur di kapal ketika teman-teman berteriak, "Pelangi!" Setelah mencari sesaat, saya menemukannya tengah malu-malu bersembunyi di balik awan, di batas horizon.

Saya sedang tengah tertidur di kapal ketika teman-teman berteriak, “Pelangi!” Setelah mencari sesaat, saya menemukannya tengah malu-malu bersembunyi di balik awan, di batas horizon.

Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya...

Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya…

Setelah menambatkan tali kapal, kami turun dan melewati dermaga berpagar merah.

Setelah menambatkan tali kapal, kami turun dan melewati dermaga berpagar merah.

Kami terus melangkah dengan riang walau matahari bersinar terik tanpa ampun, karena kami tahu, kami sedang berada di salah satu surga di Indonesia.

Kami terus melangkah dengan riang walau matahari bersinar terik tanpa ampun, karena kami tahu, kami sedang berada di salah satu surga di Indonesia.

Melewati pagar biru di pulau cantik ini, kami mencari penduduk yang biasa membuat kerajinan tangan anyaman khas pulau ini.

Melewati pagar biru di pulau cantik ini, kami mencari penduduk yang biasa membuat kerajinan tangan anyaman khas pulau ini.

Kami lalu bertemu dengan Mama Maria, yang sedang menganyam topi. Berbagai kerajinan yang tersedia berupa tas, topi, tempat buku, dan lainnya, mulai dari harga Rp100.000 hingga Rp350.000 per buah.

Kami lalu bertemu dengan Mama Maria, yang sedang menganyam topi. Berbagai kerajinan yang tersedia berupa tas, topi, tempat buku, dan lainnya, mulai dari harga Rp.100.000 hingga Rp.350.000 per buah.

Sambil melihat para Mama menganyam, aku tersenyum melihat adik kecil yang tengah berbaring manja di kaki Mamanya ini...

Sambil melihat para ibu menganyam, aku tersenyum melihat adik kecil yang tengah berbaring manja di kaki ibunya ini…

Sembari menunggu, aku melihat ke halaman.

Sembari menunggu, aku melihat ke halaman. Ya, ampun!

Ah, kalau adik satu yang satu ini pasti baru saja dikeroyok temannya dengan pasir.

Ah, kalau adik satu yang satu ini pasti baru saja dikeroyok temannya dengan pasir.

Tak lama kemudian, topi pesanan kami sudah selesai. "Terima kasih, Mama!" Sampai jumpa lagi, Pulau Arborek. Kami pasti kembali lagi.

Tak lama kemudian, topi pesanan kami sudah selesai. “Terima kasih, Mama!” Sampai jumpa lagi, Pulau Arborek. Kami pasti kembali lagi.

  • Disunting oleh SA 18/02/2013

Marrakech dalam Warna dan Aroma

Marrakech merupakan tempat yang benar-benar menantang sekaligus memanjakan panca indera saya sebagai seorang backpacker wanita yang berpetualang seorang diri. Di satu sisi saya harus selalu waspada akan keselamatan barang-barang dari tangan-tangan jahil, menajamkan insting agar tidak diganggu atau dibuntuti pria hidung belang, serta mengira-ngira arah agar tidak tersesat di lika-liku souk kota tua. Di sisi lain mata dan lensa saya dimanjakan oleh eksotika kerajinan dan warna di setiap sudut kotanya.

Marrakech 1

Kota tua atau biasa disebut medina adalah jantung tradisi dan budaya setiap kota di Maroko. Alun-alun Djemaa El Fna adalah jantung dari medina Marrakech. Kalau anda tersesat, sebutkan kata sakti “Djemaa El Fna” maka orang akan menunjukkan jalan ke sana. Mulai dari dukun sakti, peramal masa depan, pawang ular, seniman tato henna hingga atraksi akrobatik, semua hadir dalam lapangan ini.

Marrakech 2

Jangan lupa mencoba kesegaran jus d’orange atau jus jeruk khas Maroko, escargot, dan minuman tradisional yang terbuat dari jahe dan rempah-rempah lainnya dari pedagang-pedagang di Djemaa El Fna.

Marrakech 3

Tak lengkap rasanya kalau tidak tersesat di dalam souk atau pasar medina. Barisan kain dan karpet aneka warna dapat membuat anda terlena sehingga tidak tahu kemana harus melangkah. Jalan-jalan sempit penuh cabang seolah tanpa ujung telah menanti anda. Sungguh membingungkan. Hindari berjalan sendirian di souk saat matahari telah terbenam.

Marrakech 4

Aneka suvenir, kilau kerajinan tembaga berhias kaca patri, serta keramik dari berbagai bentuk dan ukuran cukup menggoda siapa saja yang datang untuk merogoh beberapa dirham.

Marrakech 5

Eksotika rempah-rempah akan menghentikan langkah kita dengan aromanya yang kuat dan menyegarkan. Mereka mempunyai segala jenis rempah-rempah yang bisa digunakan untuk makanan, minuman dan obat-obatan.

Marrakech 6

Permainan warna dan bidang geometri berpadu di setiap sudut kota Marrakech, menjadi ciri khas tersendiri bagi kota ini.

Marrakech 7

Penggemar kucing atau bukan, bersiap-siaplah karena akan ada banyak sekali kucing yang berkeliaran di setiap sudut Marrakech, berpose untuk anda.

Marrakech 8

Di saat sinar matahari semakin kuat menyengat bumi, pergilah ke Jardin Majorelle. Anda akan disambut oleh barisan pohon bambu, kaktus, taman bunga aneka rupa serta kolam-kolam ikan yang tertata sedemikian rupa menyejukkan siapa saja yang melihatnya.

Marrakech 9

Potret Marrakech tak lengkap rasanya tanpa keagungan masjid Koutoubia di saat senja. Alunan adzan terdengar dari puncak menara memanggil umatnya untuk berserah diri di hadapan Yang Kuasa.

  • Disunting oleh SA 04/02/2013

Memotret Laos Melalui Luang Prabang dan Van Vieng

Laos adalah destinasi “underdog” di Asia Tenggara. Namun, tahukah anda, justru di negara ini terdapat kecantikan alam dan hasil budaya yang mengagumkan, seolah belum pernah terjamah. Safir Soeparna membawa kita dalam perjalanan visual yang mencengangkan sepanjang Luang Prabang, yang menjadi UNESCO World Heritage Site, serta Van Vieng, kota kecil yang tenang bagi pejalan yang ingin lepas dari hiruk-pikuk perkotaan, terutama mungkin kecenderungan modernisasi negara tetangganya seperti Thailand atau Vietnam.

Mulai dari kota yang klasik sampai alam penuh rona, Laos memiliki semuanya, tanpa harus terjebak keramaian pengunjung.

Vang Vieng, kota yang terkenal sebagai backpacker's wildest party town, juga terkenal dengan blue lagoon-nya. Untuk menemukan blue lagoon, ternyata tidak perlu berangkat jauh ke Iceland.

Vang Vieng, kota yang terkenal sebagai “backpacker's wildest party town“, juga terkenal dengan blue lagoon-nya. Untuk menemukan blue lagoon, ternyata tidak perlu berangkat jauh ke Islandia.

Plain of Jars masuk ke dalam nominasi UNESCO World Heritage Site. Sekumpulan Jar raksasa kuno ini tersebar di kota Phonesavanh, kota yang terkenal dengan sisa-sisa bahan reaktif peninggalan Vietnam War yang masih memiliki potensi untuk meledak . Sejarah jar raksasa ini masih merupakan misteri yang belum terpecahkan.

Plain of Jars masuk ke dalam nominasi UNESCO World Heritage Site. Sekumpulan “jar” raksasa kuno ini tersebar di kota Phonesavanh, kota yang terkenal dengan sisa-sisa bahan reaktif peninggalan Perang Vietnam yang masih memiliki potensi untuk meledak. Sejarah “jar” raksasa ini masih merupakan misteri yang belum terpecahkan.

Luang Prabang masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage Site karena arsitektur teakwood yang dapat ditemui pada rumah para penduduknya.

Luang Prabang masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage Site karena arsitektur teakwood yang dapat ditemui pada rumah para penduduknya.

Beberapa pemuda lokal terlihat berkunjung ke candi yang sudah berumur ribuan tahun untuk beribadah. Mayoritas penduduk Laos merupakan penganut Buddha Theravada.

Beberapa pemuda lokal terlihat berkunjung ke candi yang sudah berumur ribuan tahun untuk beribadah. Mayoritas penduduk Laos merupakan penganut Buddha Theravada.

Perahu-perahu nelayan di Muang Ngoi terlihat sedang "parkir" di tepian sungai. Muang Ngoi merupakan daerah terisolasi yang menjadi tujuan para traveler yang ingin menjauh dari keramaian kota. Listrik di Muang Ngoi hanya aktif dari jam 9 pagi hingga lima sore.

Perahu-perahu nelayan di Muang Ngoi terlihat sedang "parkir" di tepian sungai. Muang Ngoi merupakan daerah terisolasi yang menjadi tujuan para pejalan yang ingin menjauh dari keramaian kota. Listrik di Muang Ngoi hanya aktif dari jam sembilan pagi hingga lima sore.

Air terjun bertingkat Kuang Si merupakan panorama yang ramai didatangi traveler yang singgah di Luang Prabang. Pengunjung dapat mendaki hingga 'kolam' paling atas dan menikmati keindahan 'infinity pool' alami.

Air terjun bertingkat Kuang Si merupakan panorama yang ramai didatangi pejalan yang singgah di Luang Prabang. Pengunjung dapat mendaki hingga 'kolam' paling atas dan menikmati keindahan 'infinity pool' alami.

Meski terlihat sebagai kota yang sederhana, banyak cafe atau bar di Luang Prabang menawarkan aktifitas yang unik. Fashion Show pakaian tradisional Laos dapat dilihat setiap malam di Hive Bar.

Meski terlihat sebagai kota yang sederhana, banyak kafe atau bar di Luang Prabang menawarkan aktivitas yang unik. Pagelaran busana pakaian tradisional Laos dapat dilihat setiap malam di Hive Bar, contohnya.

Panorama Nong Khiaw terkenal dengan kesunyiannya. Bersepeda di sepanjang sungai merupakan kenikmatan tersendiri bagi traveler yang ingin menjauh dari hiruk pikuk kota.

Panorama Nong Khiaw terkenal dengan kesunyiannya. Bersepeda di sepanjang sungai merupakan kenikmatan tersendiri bagi pejalan yang ingin menjauh dari hiruk pikuk kota.

Titik tertinggi Vang Vieng cocok menjadi tempat bermeditasi.

Titik tertinggi Vang Vieng cocok menjadi tempat bermeditasi.

  • Disunting oleh SA 20/10/2012

Mengintip Sekolah “Laskar Pelangi”

Sekolah Laskar Pelangi berdiri terseok di tanah tanpa ubin, berdinding kayu berlubang. Pencahayaan masuk dari celah-celah di antara kayu-kayu yang disusun horizontal memanjang dari kiri ke kanan. Kondisi kelas berantakan, dengan lebah berseliweran. Di luarnya tampak dua buah kayu penyangga karena bangunan nyaris roboh. Di sebelah kanan sekolah ada sumur dan di dekatnya ada balai kecil. Dibangun di atas bukit bekas penambangan timah, sekolah ini menjadi replika SD Muhammadiyah yang digunakan untuk keperluan film Laskar Pelangi. Semua ditata sedemikian rupa sehingga mendekati kondisi aslinya.

Berada di Desa Selingsing, Kecamatan Gantong, Belitung Timur, sekolah Laskar Pelangi adalah simbol dan gambaran sekolah dengan fasilitas minim dan serba kurang ideal. Meski demikian, banyak sekali pesan moral dan semangat hidup pantang menyerah yang kita saksikan dari film ini. Laskar Pelangi bukan hanya menginspirasi semua orang, tetapi telah menunjukkan kepada kita bahwa fasilitas sekolah yang apa adanya atau biasa-biasa saja telah mampu melahirkan peserta didik yang luar biasa.

Sekolah "Laskar Pelangi"
Sekolah “Laskar Pelangi”.

Papan sekolah bertuliskan "Laskar Pelangi"
Papan sekolah bertuliskan “Laskar Pelangi”.

Bangku dan meja belajar
Bangku dan meja belajar.

Turis berkunjung
Turis berkunjung.

Papan penyangga bangunan sekolah
Tiang-tiang penyangga bangunan sekolah.

  • Disunting oleh SA 13/08/2012

Semburat India

India adalah negeri penuh warna dan budaya. Ragam etnis, bahasa, kepercayaan dan sejarah yang panjang menjadikannya salah satu tempat yang penuh perbedaan. Tidak heran India menjadi salah satu destinasi utama pengelana di dunia. Safir Soeparna membawakan kepada kita beberapa sorotan khazanah dunia ini melalui foto-fotonya yang apik.

Pakaian eksentrik para Sadhu, atau mereka yang memutuskan untuk hanya beribadah selama sisa hidupnya, menjadi pemandangan tersendiri saat saya berada di Varanasi, salah satu kota tersuci umat Hindu di India.

Pakaian eksentrik para Sadhu, atau mereka yang memutuskan untuk hanya beribadah selama sisa hidupnya, menjadi pemandangan tersendiri saat saya berada di Varanasi, salah satu kota tersuci umat Hindu di India.

Hampir semua publikasi foto hanya menampilkan sisi selatan Taj Mahal. Namun menurut saya, sisi timur sang mauseloum tidaklah kalah memukau.

Hampir semua publikasi foto hanya menampilkan sisi selatan Taj Mahal. Namun menurut saya, sisi timur sang mauseloum tidaklah kalah memukau.

Memandangi Golden Temple, atau yang dikenal lokal sebagai Harmandir Sahib, merupakan kenikmatan tersendiri bagi para umat Sikh yang datang berziarah.

Memandangi Golden Temple, atau yang dikenal lokal sebagai Harmandir Sahib, merupakan kenikmatan tersendiri bagi para umat Sikh yang datang berziarah.

Gambar pegunungan Himalaya yang indah ini saya ambil dari balkoni kamar hotel saya di Manali yang hanya seharga tiga puluh ribu rupiah saja semalam.

Gambar pegunungan Himalaya yang indah ini saya ambil dari balkoni kamar hotel saya di Manali yang hanya seharga tiga puluh ribu rupiah saja semalam.

Shimla, kota yang kental akan arsitektur khas Inggris, tidak memperkenankan kendaraan beremisi karbon memasuki area townhall. Alhasil, jasa pengangkutan barang benar-benar dilakoni oleh tenaga manusia.

Shimla, kota yang kental akan arsitektur khas Inggris, tidak memperkenankan kendaraan beremisi karbon memasuki area townhall. Alhasil, jasa pengangkutan barang benar-benar dilakoni oleh tenaga manusia.

Saat berkemah di Triund (2875 m di atas laut), saya menjalin persahabatan dengan pendaki gunung berasal dari Inggris dan Labrador retriever peliharaannya.

Saat berkemah di Triund (2875 m di atas laut), saya menjalin persahabatan dengan pendaki gunung berasal dari Inggris dan Labrador retriever peliharaannya.

Pendaki gunung yang berhasil mencapai Triund dianjurkan untuk berteriak melepaskan perasaan apapun yang dipendam di dalam hati di bukit ini.

Pendaki gunung yang berhasil mencapai Triund dianjurkan untuk berteriak melepaskan perasaan apapun yang dipendam di dalam hati di bukit ini.

Nek Chand Fantasy Rock Garden di Chandigarh mengingatkan saya pada Alice in Wonderland. Taman seluas dua puluh kali lapangan sepakbola ini terbuat dari hasil daur ulang bahan-bahan sisa kontruksi bangunan yang tidak terpakai.

Nek Chand Fantasy Rock Garden di Chandigarh mengingatkan saya pada Alice in Wonderland. Taman seluas dua puluh kali lapangan sepakbola ini terbuat dari hasil daur ulang bahan-bahan sisa kontruksi bangunan yang tidak terpakai.

  • Disunting oleh SA 01/08/2012

Menyesapi Panorama Wat Arun

Jam nyaris berdetak ke angka sembilan saat saya sampai di Wat Arun. Keindahan Wat Arun yang berdiri kokoh menantang matahari, mengundang decak kagum saya. Begitu menarik, unik dan memesona. Sejenak saya menatap langit dan menghela nafas, lalu menyisir setiap sudut bangunan yang memiliki arsitektur sangat megah ini. Gontai langkah saya pun perlahan mengukir lantai. Potongan kaca dan keramik warna-warni pada dindingnya membuat bangunan bersejarah tersebut tampak semakin indah dan elegan. Didorong penasaran yang tinggi untuk menyaksikan pemandangan yang lebih leluasa, saya mencoba mengumpulkan keberanian mendaki anak tangga yang menanjak tajam. Sungguh memanjakan mata. Rasa lelah seolah terbayar lunas, manakala disuguhkan panorama memukau. Di atas, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Tuhan.

Ah, beginilah seharusnya hidup. Wat Arun memang menyuguhkan ‘surga’ bagi pecinta wisata.

Wat Arun, Kuil Sang Senja
Wat Arun, Kuil Sang Senja

Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun
Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun

Menara Wat Arun
Menara Wat Arun

Detil Bangunan Wat Arun
Detil Bangunan Wat Arun

Biksu-Biksu Berjalan
Biksu-Biksu Berjalan

Kota Bangkok dari Wat Arun
Kota Bangkok dari Wat Arun

  • Disunting oleh SA 16/02/2012

Menyusuri Heningnya Gangga Di Varanasi

Hari itu saya sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Dari jendela kamar atas tempat saya menginap saya mengintip ke arah langit, saat itu ia masih berwarna biru tua dengan rona keunguan. Matahari bahkan belum tampak. Lalu, tiba-tiba, saya mendengar suara dari arah bawah, tatapan saya pun teralihkan. Saya akhirnya mengamati gang sempit di depan pintu penginapan, ternyata sudah banyak orang berlalu-lalang. Ya, di Varanasi denyut kehidupan memang dimulai lebih awal dibandingkan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi di India. Ditemani oleh dua orang teman seperjalanan, Daniel dan Vasanti, sayapun bergegas pergi keluar penginapan, ke arah tepian Sungai Gangga demi mendapati perahu sewaan yang bisa kami pakai menyusuri sungai. Salah satu hal yang wajib wisatawan lakukan ketika sedang mengunjungi kota Varanasi, katanya. Ditemani warga lokal pemilik perahu yang kami temui di jalan, sampailah kami bertiga di tepian sungai, dekat dengan dek kapal.

Suasana Pagi di Sungai Gangga
Suasana Pagi di Sungai Gangga

Gadis Penjual Bunga
Gadis Penjual Bunga

Bunga dan Lilin untuk Dilepaskan ke Sungai
Bunga dan Lilin untuk Dilepaskan ke Sungai

Di bawah rona langit ungu-merah jambu, kami memulai kegiatan di atas perahu dengan melepaskan lilin bertahtakan bunga yang kami beli dari putri pemilik kapal. Konon bunga dan lilin adalah lambang doa
dan harapan, dan dengan melepaskannya ke sungai, niscaya doa dan harapan itu akan menjadi kenyataan. Sayang, kami hanya beberapa saat berada di atas perahu kayu. Kota Varanasi yang kemarin begitu mengejutkan saya dengan carut-marutnya, pagi itu semuanya terasa sangat tenang dan hening. Tidak ada lagi bunyi klakson yang agresif serta raungan mesin. Walaupun dengan sedikit pengalaman tidak menyenangkan yang kami alami dari pemilik kapal, kesyahduan pagi itu tetap tidak terkalahkan.

Seorang Pria Bersiap-siap untuk Mandi dan Mensucikan Diri di Sungai Gangga
Seorang Pria Bersiap-siap untuk Mandi dan Mensucikan Diri di Sungai Gangga

Sekelompok Peziarah Mandi di Tepi Sungai
Sekelompok Peziarah Mandi di Tepi Sungai

Para Peziarah Mengantri untuk Menenggelamkan Tubuhnya dengan Khusyuk
Para Peziarah Mengantri untuk Menenggelamkan Tubuhnya dengan Khusyuk

Seorang Bocah Pemulung Sampah di Tepi Sungai Gangga
Seorang Bocah Pemulung Sampah di Tepi Sungai Gangga

Selama menelusuri tepian sungai, baik dengan berjalan kaki maupun di atas perahu, mata saya dimanjakan dengan berbagai hal menarik yang seringkali membuat saya berdecak kagum. Hampir di setiap susunan anak tangga menurun menuju Sungai Gangga tidak pernah kosong oleh kegiatan manusia. Kebanyakan dari mereka adalah para peziarah yang datang dari berbagai penjuru kota di India. Seolah tidak peduli dengan keruhnya air dan banyaknya sampah yang terapung, banyak dari mereka yang dengan kusyuknya merendamkan tubuhnya atau sekedar membersihkan diri di tepian sungai. Mereka tampak tenang dan apa adanya, walau jelas-jelas di hadapan mereka ada puluhan wisatawan berlalu lalang di atas perahu kayu memperhatikan setiap gerak-gerik yang ada. Setiap bulir air di Sungai Gangga yang mengaliri tubuh manusia dipercaya dapat menghapus dosa-dosa serta kesalahan mereka di masa lalu serta menguapkan karma yang seharusnya mereka jalani. Sungai ini juga menjadi tempat utama bagi penganut Hindu dalam menghanyutkan abu kremasi atau jenazah keluarga yang meninggal dunia. Kesuciannya menjadikan sungai tersebut sebuah gerbang kehidupan akhir dari masa kini, menuju awal kehidupan baru di masa yang akan datang.

Peziarah Bermeditasi dan Menyendiri Menghadap Sungai Gangga
Peziarah Bermeditasi dan Menyendiri Menghadap Sungai Gangga

Tidak jauh dari tepian sungai, sesekali kita melihat kehadiran orang yang sedang menyendiri dan bermeditasi. Tidak sedikit dari mereka terlihat sudah cukup tua dan renta. Konon, menghabiskan sisa hidup di Varanasi dan meninggal di tepi Sungai Gangga merupakan pilihan bagi masyarakat Hindu di India. Layaknya Yerusalem yang merupakan kota penting dalam sejarah tiga agama besar dunia, kehadiran kota Varanasi amatlah penting bagi tiga agama besar di India yakni agama Budha, Jain dan Hindu. Di Varanasi, konon Siddharta Gautama untuk pertama kalinya menyampaikan prinsip ajaran dasar agama Budha. Di kota itu pula, diketahui Parshvanath yang merupakan salah seorang pemuka ajaran Jain dilahirkan. Sedangkan bagi umat Hindu, kota Varanasi dipercayai sebagai sebuah kota yang dibangun oleh Dewa Siwa (salah satu dari Dewa Trimurti). Di dalam kota tersebut, mengalir pula air suci yang dicurahkan oleh putri Dewa Siwa dan Parvati yakni Dewi Gangga, dewi kesuburan dan pembersih dosa. Dalam mitologi umat Hindu, Dewi Gangga sering dilambangkan sebagai seorang wanita cantik yang selalu membawa kendi berisikan air suci untuk dicurahkan ke bumi, curahan air suci itu kemudian sampai saat ini diyakini sebagai Sungai Gangga.

  • Disunting oleh SA 02/02/2012

68 Derajat Lintang Utara

Dua puluh jam perjalanan dari Stockholm melintasi pedesaan Swedia membawa saya ke impian yang jadi nyata: melintasi Lingkar Arktik, di mana kita semakin dekat dengan kutub Utara. Suhu di sini bisa tak bersahabat ketika musim dingin. Kontras antara dataran Swedia yang landai dan Norwegia yang curam menyambut saya di perbatasan.

Gerbong kereta sudah semakin sepi ditinggal penumpang di pos-pos perhentian sebelumnya. Saya menghabiskan kopi yang saya beli satu jam yang lalu, mempersiapkan tas dan membereskan selimut dan bantal yang saya gunakan di gerbong tidur. Lalu saya melihat keluar…

Pos penjagaan mungil di atas fjord, seolah mengasingkan diri dari dunia. Salju tidak turun, tetapi menutupi bukit-bukit fjord secara tidak merata.

Satu jam kemudian, siang yang suram menyelimuti kedatangan saya di stasiun kereta api Narvik, Norwegia. Inilah kali pertama saya melihat salju!

Sejauh mata memandang, semua salju…

Bis yang akan membawa saya ke bandara sudah menunggu di ujung jalan. Saya tidak akan menginap di sini malam ini.

Sedikit terkantuk-kantuk, saya mengintip sebuah jembatan yang akan kami lalui…

Hujan masih turun sedikit-sedikit ketika itu.

Namun, ada harapan. Sinar matahari menyinari fjord.

Rumah mungil di ujung dermaga ini menarik perhatian saya. Sungguh membuat ingin dikunjungi, tapi apa daya!

Enam puluh menit kemudian, saya sampai di bandara Narvik. Bandara mungil yang turut melayani kota-kota kecil di sekitarnya.

Saya termenung sekali lagi, melihat warna biru terbasuh hangatnya matahari, menunggu tumpangan saya selanjutnya.


Senandung Gedser

Deru kapal feri itu membuat saya tersenyum lebar, girang mengantisipasi petualangan selanjutnya. Inilah kali pertama saya melintas batas negara Schengen, dari Jerman ke Denmark. Setelah melalui empat jam di darat dari Berlin ke Rostock, petualangan Skandinavia saya baru dimulai. Kapal yang saya tumpangi perlahan mulai ramai. Tak pikir panjang, saya langsung berkeliling kapal merekam memori.

Kapal bertolak sekitar pukul dua siang, melintasi bagian kecil dari Laut Baltik.

Sepanjang perjalanan, langit biru dengan suhu yang sangat bersahabat. Angin kencang tidak membuat saya tetap di dalam.

Kebebasan sebenarnya ada di sini. Di dek kapal yang sepi, tidak ada orang lain. Hanya saya dan matahari.

Apa yang akan saya bicarakan bersama mitra perjalanan saya di sini, jika ada? Makna hidup? Atau, mungkin kami hanya akan melihat ke belakang, ke daratan yang kami tinggalkan demi daratan baru…

…di ujung sana, di Gedser, Denmark. Ditemani olehnya, oleh senandung air laut yang terpecah oleh tubuh kapal yang melaju…


© 2017 Ransel Kecil