<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ranselkecil.com</title>
	<atom:link href="http://ranselkecil.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ranselkecil.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 13:44:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Sang Pengelana Bersepeda</title>
		<link>http://ranselkecil.com/transportasi/sang-pengelana-bersepeda/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/transportasi/sang-pengelana-bersepeda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 13:44:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Adinugroho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3070</guid>
		<description><![CDATA[Banyak cara untuk berkelana, salah satunya adalah dengan bersepeda. Ada yang ekstrim, menjelajahi jarak antar kota dengan sepeda, bahkan ada juga yang antar benua. Ada juga yang kasual, menjelajahi kota dengan sepeda. Semuanya sah-sah saja. 

Bersepeda saat ini tidak hanya moda transportasi, tapi juga gaya hidup dan kepercayaan. Terlepas dari kontroversi tentang sepeda di jalan raya dan perkotaan, ia sudah lama menjadi bagian dari perjalanan, baik sebagai objek maupun subjek. 

Saya mewawancarai <a href="http://www.rezaprabowo.com">Reza Prabowo</a>, seorang penggiat kreatif dan teknologi informasi dari Bandung yang juga senang bersepeda serta jalan-jalan. Setiap aspek dari perjalanan Reza pasti didedikasikan untuk kesenangannya pada sepeda. Menurut kami beliau orang yang cocok untuk topik ini, jadi silakan dibaca kutipannya!

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/rezaprabowo.jpg" alt="Reza Prabowo" title="Reza Prabowo" class="full" />
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak cara untuk berkelana, salah satunya adalah dengan bersepeda. Ada yang ekstrim, menjelajahi jarak antar kota dengan sepeda, bahkan ada juga yang antar benua. Ada juga yang kasual, menjelajahi kota dengan sepeda. Semuanya sah-sah saja. </p>
<p>Bersepeda saat ini tidak hanya moda transportasi, tapi juga gaya hidup dan kepercayaan. Terlepas dari kontroversi tentang sepeda di jalan raya dan perkotaan, ia sudah lama menjadi bagian dari perjalanan, baik sebagai objek maupun subjek. </p>
<p>Saya mewawancarai <a href="http://www.rezaprabowo.com">Reza Prabowo</a>, seorang penggiat kreatif dan teknologi informasi dari Bandung yang juga senang bersepeda serta jalan-jalan. Setiap aspek dari perjalanan Reza pasti didedikasikan untuk kesenangannya pada sepeda. Menurut kami beliau orang yang cocok untuk topik ini, jadi silakan dibaca kutipannya!</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/rezaprabowo.jpg" alt="Reza Prabowo" title="Reza Prabowo" class="full" /></p>
<h3>Apakah Reza pernah melakukan perjalanan jauh dengan sepeda? Di mana dan sejauh apa?</h3>
<p>Pernah beberapa kali, pertama kali dekat, Jakarta &#8211; Bogor &#8211; Jakarta, sekitar 120km dalam satu hari tapi banyak berhentinya. Lalu, yang kedua Bandung &#8211; Jakarta via Purwakarta, sekitar 180km dalam delapan jam. Pernah juga Jakarta &#8211; Anyer &#8211; Jakarta, sekitar 250km tapi dua hari, kita menginap di Cilegon. Kalau di luar negeri sempat mencoba bersepeda keliling Amsterdam dan Kopenhagen. Waktu di Helsinki sempat ingin bersepeda tetapi kesulitan mencari pinjaman sepeda! Terakhir sih di Singapura, dapat sekitar 100km keliling-keliling dua hari, dan ternyata negara ini punya jalan pesepeda yang nyaris sempurna menurut saya.</p>
<h3>Persiapan apa saja yang dibutuhkan untuk perjalanan dengan sepeda?</h3>
<p>Lebih banyak persiapan mental dibanding fisik. Sebelum perjalanan, usahakan latihan lagi bersepedanya, jadi tidak kaget ketika diajak jarak lumayan jauh. Menurut saya sepeda itu lebih menantang mental pesepedanya dibanding fisiknya. Siap dengan kondisi jalan dan cuaca yang tidak menentu, situasi darurat (bocor ban, kecelakaan) juga penting. Lalu soal logistik, persiapkan sepeda dalam kondisi prima sebelum digunakan, kalau sempat, bawa ke bengkel untuk servis, dan lengkapilah dengan baik sepeda untuk perjalanan dengan tas sepeda atau kardus sepeda karena sering sekali sepeda rusak di perjalanan karena perlengkapan kurang baik. Jangan lupa bawa P3K, <em>mini-tool</em>, <em>tire lever</em>, <em>spare tubes</em>, helm, <em>windbreaker</em> dan lampu sepeda. GPS atau telepon pintar ber-GPS juga sangat membantu di perjalanan.</p>
<h3>Idealnya, berapa minimum jarak perjalanan jauh dengan sepeda?</h3>
<p>Tergantung sudah biasa seberapa jauh setiap hari. Kalau biasanya bersepeda baru bisa 20km, jangan coba lebih dari dua kali jarak tersebut. Lebih baik sedikit-sedikit naik tapi rutin. Naikkan porsi latihan, minggu pertama 20km, kedua 40km, lalu coba 80km, baru ikut perjalanan sepeda jarak jauh. Kalau sudah percaya diri bisa ikut &#8220;<em>Century ride</em>&#8220;, bersepeda 160km dalam waktu kurang dari 12 jam or even &#8220;<em>randonneuring</em>&#8220;, bersepeda 200km lebih. Saya pribadi biasanya sekitar 120km itu masih dapat dinikmati, di atas 150km sudah mulai menyiksa, dan mendekati 200km itu rasanya sudah seperti mau menyerah di jalan. Tetapi setelah sampai tujuan, rasa puas selalu ada dan jangan lupa katakan, &#8220;<em>it is always worth the trip!</em>&#8220;.</p>
<h3>Sepeda apa yang cocok dibeli untuk perjalanan jarak menengah dan jauh?</h3>
<p>Idealnya, menurut saya, adalah <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Racing_bicycle">road bikes</a></em>, <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Touring_bike">touring bikes</a></em> atau <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cyclo-cross_bicycle">cyclo-cross</a></em>. Alasannya sepeda tipe-tipe seperti ini memang dirancang untuk melahap jarak yang jauh dengan efisiensi tinggi, namun memang konsekuensinya permukaan yang dilalui agak terbatas. Bagi yang lebih doyan <em>offroad</em> lebih baik menggunakan <em>mountain bike</em>.</p>
<h3>Apa kekurangan dan kelebihan bersepeda sebagai sarana perjalanan dibanding dengan kendaraan bermotor atau dengan kegiatan seperti jalan kaki/<em>trekking</em>, misalnya?</h3>
<p>Dengan menggunakan sepeda, kita bisa belajar dan melihat kontur daerah non-urban seperti desa dengan lebih intens, karena kita harus bergelut dengan konturnya itu sendiri. Detilnya menjadi lebih diingat. Berjalan-jalan dengan kendaraan bermotor kurang memberikan detil dan interaksi yang sepadan. </p>
<p>Kalau kata Ernest Hemingway, &#8220;<em>It is by riding a bicycle that you learn the contours of a country best, since you have to sweat up the hills and coast down them. Thus you remember them as they actually are, while in a motor car only a high hill impresses you, and you have no such accurate remembrance of country you have driven through as you gain by riding a bicycle</em>.&#8221;</p>
<h3>Perjalanan dengan sepeda apa yang menurut Reza menantang di dunia?</h3>
<p>Saya bermimpi untuk mencoba rute-rute yang dilewati pada <em>grand tour</em>, seperti Perancis dengan Le Tour de France, salah satu lokasi legendarisnya L&#8217;Alpe d&#8217;Huez dan mungkin Italia dengan Giro d&#8217;Italia.</p>
<h3>Sudah berapa lama Reza bersepeda dan apa alasannya? Berapa total jarak ditempuh?</h3>
<p>Saya waktu masih SMP tiap hari Minggu diajak ayah keliling kota Medan sekitar 10km tiap perjalanan. Saya baru mulai lagi bersepeda tahun 2010, seketika jatuh cinta dengan sepeda sebagai moda transportasi, olahraga dan rekreasi. Kemudian, saya telah melihat beberapa negara di Eropa membudayakan sepeda sebagai salah satu solusi pemecah masalah transportasi, saya jadi lebih giat lagi, melihat keadaan transportasi di Indonesia yang didominasi kendaraan bermotor. Tahun 2011 saya mencatat 5.400km dalam satu tahun dari <a href="http://www.endomondo.com/profile/483183">aplikasi Endomondo saya</a>.</p>
<h3>Pernah bersepeda di luar negeri? Bagaimana rasanya?</h3>
<p>Pernah, and sangat fantastis! Kita bisa melihat lebih banyak dengan sepeda. Jalan dan infrastruktur di tempat-tempat yang saya kunjungi lebih berpihak kepada pesepeda dan pejalan kaki, jadi saya merasa sangat nyaman bersepeda, apalagi di Kopenhagen, ibukota pesepeda dunia. Masyarakatnya pun sudah terbiasa melihat sepeda di jalan dan menghargainya. Terlihat ada sinergi yang baik antar berbagai tipe pengguna jalan, baik kendaraan bermotor maupun pesepeda dan pejalan kaki. Sesuatu yang pastinya bisa kita pelajari untuk Indonesia.</p>
<p>Terima kasih atas waktunya, Reza!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/transportasi/sang-pengelana-bersepeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>London, Britania Raya</title>
		<link>http://ranselkecil.com/tempat/london-britania-raya/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/tempat/london-britania-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 03:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kosim Lauw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3049</guid>
		<description><![CDATA[Situs <a href="http://www.tripadvisor.com" target="_new">Trip Advisor</a> baru baru ini menobatkan London sebagai “<em>The Best Destination of 2012</em>” pilihan para wisatawan. Bisa dibayangkan, dengan adanya penghargaan tersebut ditambah dengan penyelenggaraan Olimpiade musim panas di bulan Juli &#038; Agustus 2012, kota ini semakin menjadi tujuan utama turis-turis dari seluruh dunia. 

Sesuai hukum ekonomi, dengan semakin banyaknya pengunjung akan berimbas ke semakin mahal biaya hidup di sana terutama untuk para wisatawan. Apalagi pemerintah kota London mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 20% yang akan semakin menipiskan dompet dan kartu kredit terutama untuk akomodasi dan makan minum.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/kosim_london_bigben.jpg" alt="Big Ben di Palace of Westminster" title="Big Ben di Palace of Westminster" class="full" />
<span class="caption">Big Ben di Palace of Westminster</span>

Namun jangan takut, dengan perencanaan yang matang terutama yang membawa keluarga, kita masih bisa ikut menikmati kota kosmopolitan dengan biaya rendah tetapi menuai hasil semaksimal mungkin karena masih banyak atraksi wisata yang bisa dinikmati dengan gratis.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Situs <a href="http://www.tripadvisor.com" target="_new">Trip Advisor</a> baru baru ini menobatkan London sebagai “<em>The Best Destination of 2012</em>” pilihan para wisatawan. Bisa dibayangkan, dengan adanya penghargaan tersebut ditambah dengan penyelenggaraan Olimpiade musim panas di bulan Juli &#038; Agustus 2012, kota ini semakin menjadi tujuan utama turis-turis dari seluruh dunia. </p>
<p>Sesuai hukum ekonomi, dengan semakin banyaknya pengunjung akan berimbas ke semakin mahal biaya hidup di sana terutama untuk para wisatawan. Apalagi pemerintah kota London mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 20% yang akan semakin menipiskan dompet dan kartu kredit terutama untuk akomodasi dan makan minum.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/kosim_london_taxi.jpg" alt="Taksi London yang khas itu!" title="Taksi London yang khas itu!" width="800" height="531" class="full" /><br />
<span class="caption">Taksi London yang khas itu!</span></p>
<p>Namun jangan takut, dengan perencanaan yang matang terutama yang membawa keluarga, kita masih bisa ikut menikmati kota kosmopolitan dengan biaya rendah tetapi menuai hasil semaksimal mungkin karena masih banyak atraksi wisata yang bisa dinikmati dengan gratis.</p>
<p>Perlu diketahui mayoritas atraksi terkenal berada di area tengah kota terutama di sekitar Sungai Thames yang juga merupakan sungai terpanjang di Inggris. Meskipun semua atraksi di tengah kota, namun jangan membayangkan kita bisa ke mana-mana dengan jalan kaki, maklum pusat kota London itu sangat besar, sekitar 624 km persegi. Sekedar pembanding, luas Singapura sekarang saja sekitar 704 km persegi (sudah termasuk wilayah reklamasi). Cara paling mudah dan efektif untuk mengunjungi semua tempat adalah dengan membeli tiket bis wisata keliling (<em>sightseeing bus</em>) yang berlaku selama 24 jam dari saat kita membeli tiket. </p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/kosim_london_dd.jpg" alt="Bis tingkat yang juga ikon London" title="Bis tingkat yang juga ikon London" width="800" height="531" class="full" /><br />
<span class="caption">Bis tingkat yang juga ikon London</span></p>
<p>Beberapa lokasi menarik dapat dikunjungi di London, terlepas anda membeli tiket bis wisata keliling atau berkelana sendiri, antara lain:</p>
<h3>Buckingham Palace</h3>
<p>Selain melihat dari dekat tempat tinggal Ratu Elizabeth II, kita juga bisa melihat upacara penggantian pasukan pengawal ratu yang dilaksanakan pukul 11:30 (setiap hari saat musim panas atau setiap dua hari sekali saat musim dingin). Tips untuk melihat upacara penggantian pengawal adalah datang sebelum pukul 11:00 dan berdirilah di depan pagar istana, karena upacaranya dilakukan di dalam halaman istana. Oh ya, apabila kita berkunjung saat musim panas, maka biasanya Buckingham Palace juga membuka diri untuk dikunjungi oleh para wisatawan, tentu dengan catatan apabila sedang tidak ada acara kenegaraan.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/kosim_london_buck.jpg" alt="Pintu gerbang di Buckingham Palace" title="Pintu gerbang di Buckingham Palace" class="full" /><br />
<span class="caption">Pintu gerbang di Buckingham Palace</span></p>
<h3>St. James’s Park</h3>
<p>Taman kerajaan paling tua dan paling terkenal di London sekaligus mungkin juga yang paling indah seluas 23 hektar. Berjarak sangat dekat dari Buckingham Palace, taman ini menjadi destinasi berikutnya setelah upacara penggantian pengawal. Jangan lupa membawa cemilan apabila mengunjungi taman ini, apalagi bila membawa anak kecil, karena di taman yang indah ini anak-anak bisa bermain dengan aneka satwa seperti bebek, angsa, burung dara, bangau bahkan tupai. Untuk para orang tua, kegiatan paling nikmat adalah duduk berselonjor di kursi taman dan mengawasi anak-anak yang bermain dengan satwa yang ada sambil mengistirahatkan kaki yang pegal setelah berdiri sekian lama melihat upacara pergantian pengawal.</p>
<p>Untuk para remaja, jangan lupa mengunjungi Hard Rock Café yang pertama di dunia. Berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari St James’s Park. Di sini, toko merchandise dan kafe tidak berada di gedung yang sama, tetapi dipisahkan oleh satu jalan kecil. Hendak ke toko atau kafe? Siap-siap antri panjang, ya!</p>
<h3>Big Ben, <em>The Clock Tower</em></h3>
<p>Big Ben atau <em>The Clock Tower</em> yang selesai dibangun tahun 1859 dan menyatu dengan The Palace of Westminster (House of Parliament) adalah menara jam yang paling terkenal di seluruh dunia. Letaknya di samping Sungai Thames membuat menara ini terlihat sangat ikonik dan bisa dilihat dari jauh.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/kosim_london_bigben.jpg" alt="Big Ben di Palace of Westminster" title="Big Ben di Palace of Westminster" class="full" /><br />
<span class="caption">Big Ben di Palace of Westminster</span></p>
<h3>Westminster Abbey</h3>
<p>Gereja tempat pernikahan pangeran William dan Kate. Dengan membeli tiket masuk, pengunjung bisa memasuki gereja tersebut dan membayangkan dirinya menjadi saksi upacara pernikahan terakbar di tahun 2011.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/kosim_london_westminster.jpg" alt="Westminster Abbey" title="Westminster Abbey" width="800" height="531" class="full" /><br />
<span class="caption">Westminster Abbey</span></p>
<h3>Tower of London</h3>
<p>Dibangun tahun 1078 oleh William &#8220;Sang Penakluk&#8221; sebagai benteng pertahanan. Benteng tersebut sempat beralih fungsi menjadi penjara pada abad ke-11 sebelum dikembalikan menjadi tempat tinggal raja pada abad ke-12. Saat ini, Tower of London menjadi salah satu tujuan favorit apabila mengunjungi London.</p>
<h3>Tower Bridge</h3>
<p>Terletak di depan Tower of London, merupakan jembatan kebanggaan warga London yang menunjukkan kemajuan teknologi bangsa Inggris. Dibangun selama delapan tahun (1886-1894), pada bagian tengah jembatan bisa diangkat naik turun saat kapal melewatinya dan hebatnya lagi masih berfungsi dengan baik sampai hari ini. Di bagian atas jembatan saat ini difungsikan sebagai ruang pameran Tower Bridge. Dengan harga tiket £8 untuk dewasa dan £3.40 untuk anak-anak, kita bisa masuk ke ruang pameran yang menceritakan proses pembangunan saat itu, termasuk kebanggaan mereka bahwa untuk pembangunan proyek sebesar itu dengan peralatan kerja yang sederhana. Tercatat hanya ada sepuluh korban jiwa yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja. Hm, saya jadi membandingkan kalau dibangun di Indonesia kira-kira bagaimana ya? Sekedar informasi, saat Perang Dunia ke-II, Tower Bridge ini tidak dibom pihak Nazi via udara karena pasukan angkatan udara Nazi menjadikan jembatan ini sebagai penanda mereka terbang di atas wilayah London.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/kosim_london_towerb.jpg" alt="Tower Bridge" title="Tower Bridge" width="800" height="570" class="full" /><br />
<span class="caption">Tower Bridge</span></p>
<h3>Trafalgar Square</h3>
<p>Lapangan paling besar dan paling terkenal di London. Selain turis, para demonstran juga menjadikan lapangan ini sebagai tempat mereka menyuarakan aspirasi mereka. Di sini terletak National Gallery yang akan memuaskan para pecinta seni dengan koleksi lebih dari 2.300 lukisan, termasuk karya Van Gogh, Renoir, Claude Monet dan Leonardo da Vinci.</p>
<h3>Leicester Square</h3>
<p>Pusat hiburan malam di London, di sinilah berkumpulnya semua teater, bioskop, klub malam, kafe dan restoran.</p>
<h3>London Eye, City Hall dan St. Mary Axe</h3>
<p>Didominasi oleh besi baja dan kaca, ketiga bangunan tersebut menunjukan sisi lain dari wajah London yang terus berbenah menjadi kota modern. Apalagi dengan semakin dekatnya Olimpiade 2012, London juga membangun kereta kabel dari pusat kota ke stadion. Dengan demikian, pengunjung bisa mengunjungi stadion tanpa khawatir terkena macet sambil menyaksikan keindahan kota London dari ketinggian. </p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/kosim_london_eye.jpg" alt="London Eye" title="London Eye" width="800" height="531" class="full" /><br />
<span class="caption">London Eye dari seberang Sungai Thames</span></p>
<h3>Oxford Street</h3>
<p>Kalau di Singapura ada Orchard Road, di Hong Kong ada Ladies Market, maka di London ada Oxford Street yang merupakan pusat perbelanjaan yang sangat ramai tidak hanya di Oxford Street, tapi juga jalan-jalan di sekitarnya. Di sini juga terdapat toko Marks &#038; Spencer yang terbesar.</p>
<h3>Borough Market</h3>
<p>Pusat jajanan serba ada yang buka hanya hari Kamis sampai Sabtu. Untuk penggemar kuliner, pastikan kunjungan anda ke pasar ini. Berhubung pasar ini di kunjungi banyak wisatawan, harap maklum kalau harga yang ditawarkan merupakan harga turis alias mahal&#8230;</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/kosim_london_boroughmarket.jpg" alt="Borough Market" title="Borough Market" width="800" height="534" class="full" /><br />
<span class="caption">Borough Market</span></p>
<h3>Harrods</h3>
<p>Siapa yang tidak kenal toserba elit ini? Siapa sangka toserba terkenal ini awalnya adalah toko penjual daun teh yang kemudian lambat laun menjelma menjadi toserba yang sangat luas. Untuk pengunjung yang baru pertama kali ke sini dijamin tersasar, yang kemungkinan akan sangat menyenangkan buat kaum hawa. Untuk kaum adam, ada baiknya anda membawa GPS (<em>global positioning system</em>) agar bisa mengungsikan pasangan anda keluar toko sebelum mereka menjadi kalap dan menjebol dompet anda!</p>
<p>Setelah membaca daftar kunjungan di atas yang lumayan panjang, pertanyaan selanjutnya adalah berapa hari yang diperlukan untuk mengunjungi ini semua? Saya sarankan agar tinggal minimal dua sampai tiga malam dengan catatan menginap di tengah kota sehingga efisien dalam hal pengaturan waktu dan mengatur tenaga. Badan dan pikiran pun tetap segar dari pagi hingga malam tiba. </p>
<p>Jadi, tunggu apa lagi? Segera masukkan Britania Raya sebagai tujuan anda berikutnya, apalagi persyaratan pendaftaran visa Britania Raya bagi warga negara Indonesia saat ini relatif lebih mudah dari sebelumnya.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 09/05/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/tempat/london-britania-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hong Kong: Sebuah Catatan Ringan (Bagian 1)</title>
		<link>http://ranselkecil.com/catatan/hong-kong-sebuah-catatan-ringan-bagian-1/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/hong-kong-sebuah-catatan-ringan-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 11:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Samanta Limbrada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3036</guid>
		<description><![CDATA[Hong Kong adalah sebuah tempat yang menarik untuk saya. Sebuah perpaduan Timur dan Barat dari Cina (tepatnya provinsi Guangdong) dan kolonialisme Inggris. Meski Hong Kong sudah diserahkan kembali ke Cina pada tahun 1997 (saya pun masih cukup ingat dengan seremoninya di televisi waktu itu), namun Hong Kong saat ini adalah salah satu <em>Special Administrative Region</em> (SAR, sering disebut "Hong Kong SAR") dari Cina yang mempunyai hak otonomi khusus. Wilayah otonomi khusus lainnya adalah Macau.

Sekitar awal bulan ini, saya mendapati kenyataan bahwa bulan ini: pekerjaan saya di kantor sedang lengang, kursus bahasa Perancis saya setiap hari Minggu sedang libur, dan seorang teman dekat ditugaskan di Hong Kong selama sekitar enam bulan.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/sam_hk_peak.jpg" alt="Puncak Hong Kong" title="Puncak Hong Kong" width="500" />
<span class="caption">Puncak Hong Kong</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hong Kong adalah sebuah tempat yang menarik untuk saya. Sebuah perpaduan Timur dan Barat dari Cina (tepatnya provinsi Guangdong) dan kolonialisme Inggris. Meski Hong Kong sudah diserahkan kembali ke Cina pada tahun 1997 (saya pun masih cukup ingat dengan seremoninya di televisi waktu itu), namun Hong Kong saat ini adalah salah satu <em>Special Administrative Region</em> (SAR, sering disebut &#8220;Hong Kong SAR&#8221;) dari Cina yang mempunyai hak otonomi khusus. Wilayah otonomi khusus lainnya adalah Macau.</p>
<p>Sekitar awal bulan ini, saya mendapati kenyataan bahwa bulan ini: pekerjaan saya di kantor sedang lengang, kursus bahasa Perancis saya setiap hari Minggu sedang libur, dan seorang teman dekat ditugaskan di Hong Kong selama sekitar enam bulan.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/sam_hk_peak.jpg" alt="Puncak Hong Kong" title="Puncak Hong Kong" width="500" /><br />
<span class="caption">Puncak Hong Kong</span></p>
<p>Saya pun mulai mencari-cari tiket untuk berlibur di bulan ini, karena mulai bulan depan sepertinya akan susah untuk mendapat persetujuan cuti. Awalnya saya memilih tujuan wisata lokal yang lebih hemat atau mungkin Bangkok, yang lebih dekat. Namun saya pikir, kapan lagi saya ke Hong Kong dan mendapatkan akomodasi gratis? Walau, pada akhirnya nanti, saya ternyata menyewa kasur ekstra seharga HK$100 per malam, saya anggap itu sangatlah murah.</p>
<p>Akhirnya, saya mendapatkan tiket Jetstar seharga US$320 dari Jakarta ke Hong Kong dengan persinggahan di Singapura. Setelah dikurs, sekitar dua juta sembilan ratus rupiah. Lumayanlah! Namun, yang baru saya betul-betul sadari kemudian adalah, ternyata saya berangkat pagi hari tanggal 21 April dan baru tiba jam 19:45. Ketika di Singapura pun akan susah untuk keluar dari Changi karena hanya transit selama tiga jam.</p>
<p>Tapi, mau bagaimana lagi?</p>
<p>Pada hari H, saya pun berangkat dengan sebuah ranselk (yang saya <em>check-in</em>-kan, karena takut menjadi beban saat transit, dan lagipula saya membawa beberapa bahan cair). Persinggahan di Changi selama tiga jam tidaklah terasa lama. Waktu itu tepat waktu makan siang dan sayapun memesan sebuah roti lapis tuna di restoran cepat saji Subway dan juga segelas <em>smoothies</em> mangga dari Boost Juice. Selepas makan, saya memutuskan untuk melihat Cactus Garden di Terminal 1 yang ternyata cukup menarik dengan berbagai jenis spesies kaktus yang belum pernah saya lihat sebelumnya.</p>
<p>Penerbangan ke Hong Kong dari Singapura berlangsung selama tiga setengah jam dan tanpa makanan! Saya cukup kecewa dan menyumpahi diri sendiri karena membuang roti cokelat dari penerbangan sebelumnya (yang ternyata dioperasikan oleh ValuAir). Hasilnya, saya mendarat di Hong Kong dengan kondisi sangat lapar. Suhu di Hong Kong saat itu tidak berbeda jauh dengan Jakarta atau Singapura, tapi memang lebih sejuk.</p>
<p>Saya pun langsung mengisi ulang Octopus Card saya (yang saya pinjam dari seorang teman) sebanyak HK$200, dan diberitahu bahwa tarif naik Airport Express (kereta cepat) ke Central Station adalah HK$100 dengan menggunakan Octopus Card tersebut. Cukup mahal. Namun ternyata yang dinamakan Airport Express bukanlah MTR (kereta rapid) biasa, namun sebuah kereta super cepat yang bertempat duduk seperti kabin pesawat dan hanya berhenti di tiga stasiun, yaitu Tsing Yi (di Lantau Island), Kowloon, dan Hong Kong. Saya harus turun di Hong Kong Station. Aneh juga, saya baru saja mendarat di Hong Kong, dan sekarang saya naik kereta ke Hong Kong. Ternyata sebelumnya saya belum sampai di Hong Kong?</p>
<p>Saya pun bertemu dengan teman saya yang sedang ditugaskan di Hong Kong itu di Central Station (hanya berbeda lantai dengan Hong Kong Station). Target malam itu adalah naik Peak Tram dan tentunya ke The Peak. Namun karena saya sangat lapar, saya pun makan sejenak di McDonald&#8217;s di mal yang terhubung dengan Central Station tersebut.</p>
<p>Sehabis makan, karena terburu-buru (The Peak tutup jam 11 malam), kamipun naik taksi ke Peak Tram, yang sebetulnya cukup dekat dengan Central Station, dengan ongkos HK$20 (tarif minimal) dan langsung membeli tiket tram pulang pergi dan tiket ke <em>viewing terrace</em> seharga HK$65. Peak Tram adalah tram yang sangat bersejarah karena sudah ada sejak tahun 1888 dan tram-nya pun masih asli (meski sudah tidak terbuat dari kayu lagi) dan berfungsi dengan baik dan terkomputerisasi. Naik Peak Tram adalah pengalaman yang sangat unik karena tram menaiki bukit dengan kemiringan 45 derajat dan seolah-olah gedung-gedung di sekitarnyalah yang miring 45 derajat.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/sam_hk_taksi.jpg" alt="Taksi di Hong Kong" title="Taksi di Hong Kong" width="500" /><br />
<span class="caption">Taksi di Hong Kong</span></p>
<p>Saya dan teman saya pun langsung bergegas menuju <em>viewing terrace</em> dimana kita dapat melihat pulau Hong Kong dari atas bukit (aslinya bernama Victoria Peak). Dan di atas sana udara cukup dingin (dan sedikit berkabut). Indah sekali gedung-gedung berwarna-warni di wilayah Hong Kong dan Kowloon yang dipisahkan oleh sebuah selat dan juga pemandangan di sekitarnya yang dapat kita lihat 360 derajat. Mungkin lain kali saya akan kembali kesini untuk menikmati matahari terbenam dan sinarnya yang keemasan menerpa gedung-gedung tinggi itu, yang satu-per-satu menyalakan lampunya.</p>
<p>Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan kami pun diusir dari teras karena akan segera tutup, meski masih sempat menikmati plaza yang berada di bawahnya. Kami memutuskan untuk menuju ke hotel (sebetulnya adalah <em>serviced apartment</em>) yang terletak di wilayah Tsim Sha Tsui (baca: Chim Sa Choy) di Kowloon dengan taksi karena tidak yakin MTR masih beroperasi. Kami pun naik taksi dan menyeberangi selat di antara Hong Kong dan Kowloon dengan melewati terowongan yang cukup panjang. Saya pun terkesima karena belum pernah melewati terowongan bawah laut sebelumnya.</p>
<p>Saat turun di Tsim Sha Tsui, betapa kagetnya kami ketika sang supir meminta ongkos sebesar HK$180! Kami pun protes meski sia-sia karena supir taksi kami tidak berbahasa Inggris. Akhirnya kami mengerti bahwa taksi tersebut adalah taksi dari Hong Kong Island, dan untuk melewati terowongan, dikenakan tarif ekstra sebesar HK$45, dan dia pun harus kembali lagi dari Kowloon melewati terowongan tersebut, sehingga total tarif ekstra sebesar HK$90. Sungguh mahal, mengingat secara jarak, Peak Tram dan Tsim Sha Tsui sangatlah dekat meski terpisah oleh selat Hong Kong. Akhirnya sopir taksi kami pun memberi keringanan sedikit dan kami boleh membayar 160HKD. Kami belajar. Jangan pernah naik taksi jika harus menyeberangi selat Hong Kong. Lebih baik naik kapal feri atau MTR (dan ternyata MTR beroperasi sampai jam satu pagi!). Namun dengan MTR pun, jika kita melewati terowongan itu, akan dikenakan tarif ekstra sebesar kira-kira HK$6.</p>
<p>Sebelum ke hotel, saya dan teman saya sempat mencari makanan pencuci mulut di wilayah Tsim Sha Tsui dan akhirnya menemukan sebuah tempat dan saya memesan <em>mango with sago balls in coconut milk</em>, <em>squid balls</em>, dan <em>Portuguese egg tart</em>, ditutup dengan <em>bubble tea</em> dari tempat favorit kami, Gong Cha.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 09/05/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/hong-kong-sebuah-catatan-ringan-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perayaan Hidup Kedua</title>
		<link>http://ranselkecil.com/catatan/perayaan-hidup-kedua/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/perayaan-hidup-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 06:06:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bayu Adi Persada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3023</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di halaman upacara. Orang-orang berteriak sampai memekikkan telinga. Saya tersentak lalu beranjak mencari tahu apa yang terjadi.

Saya semakin terkejut melihat seekor babi berlari tak tentu arah. Ternyata, babi yang akan dikorbankan terlepas dari ikatan di sebatang bambu. Dengan badan berdarah-darah, babi itu mencoba melepaskan diri dari kerumunan orang-orang.

Orang-orang di sekitar panik menyelamatkan diri naik ke rumah-rumah seketika itu juga. Untung saja tak berapa lama, situasi dapat dinetralisir. Babi mampu kembali ditangkap dan diikat. Itulah akhir perjuangan heroik dari seekor babi yang akan dikorbankan sebagai bagian dari ritual upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. 

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/bayu_hidupkedua_01.jpg" alt="Babi yang Dikurbankan" title="Babi yang Dikurbankan" width="800" height="450" class="full" />
<span class="caption">Babi yang dikurbankan</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di halaman upacara. Orang-orang berteriak sampai memekikkan telinga. Saya tersentak lalu beranjak mencari tahu apa yang terjadi.</p>
<p>Saya semakin terkejut melihat seekor babi berlari tak tentu arah. Ternyata, babi yang akan dikorbankan terlepas dari ikatan di sebatang bambu. Dengan badan berdarah-darah, babi itu mencoba melepaskan diri dari kerumunan orang-orang.</p>
<p>Orang-orang di sekitar panik menyelamatkan diri naik ke rumah-rumah seketika itu juga. Untung saja tak berapa lama, situasi dapat dinetralisir. Babi mampu kembali ditangkap dan diikat. Itulah akhir perjuangan heroik dari seekor babi yang akan dikorbankan sebagai bagian dari ritual upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. </p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/bayu_hidupkedua_01.jpg" alt="Babi yang Dikurbankan" title="Babi yang Dikurbankan" width="800" height="450" class="full" /><br />
<span class="caption">Babi yang dikurbankan</span></p>
<p>Saya sampai di terminal bis Lita di kota Makassar malam itu untuk melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja. Sempat takjub melihat wujud bis yang terlampau eksklusif. Serius. Saya sudah siap menumpang bis apa saja tapi ketika kemudian bis yang tersedia terlampau nyaman, saya merasakan rentetan keberuntungan dimulai. Harganya pun cukup murah, Rp110.000,- untuk delapan jam perjalanan malam ke Toraja. Kursinya nyaman, jarak antar kursi cukup luas. Bahkan ada wi-fi! Moda transportasi yang patut diadaptasi untuk bis antar provinsi di Jawa.</p>
<p>Perjalanan delapan jam pun jadi tak terasa. Yang saya tahu, tiba-tiba bis sudah berhenti pagi itu. Jam masih menunjukkan jam lima pagi.</p>
<p>Bis berhenti sebentar di depan sebuah gang. Saya masih tertidur pulas saat sang kernek membangunkan. Dari awal, saya memang meminta sopir untuk menurunkan saya di penginapan murah yang juga menyediakan penyewaan motor. </p>
<p>Kernek bis mengantarkan saya ke Hotel Bison, hotel sederhana di dekat Jalan Raya Rantepao. Hanya 20 meter dari jalan raya, masuk lewat gang kecil. Meski cukup sederhana, hotel ini nyaman sekali dengan konsep bangunan rumahan. Harga per malam juga sangat terjangkau, Rp150.000,-, ditambah mereka menyediakan motor untuk disewa seharga Rp65.000,- per hari minus bahan bakar.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/bayu_hidupkedua_03.jpg" alt="Alam Toraja yang Asri" title="Alam Toraja yang Asri" width="800" height="600" class="full" /><br />
<span class="caption">Alam Toraja yang asri<span></p>
<p>Saya tak punya kemewahan akan waktu hari itu. Mesti memanfaatkan setiap menitnya untuk sebanyak-banyaknya menjelajahi kota penuh kultur unik nan bersahaja ini. Sekitar jam tujuh pagi, saya pergi ke lobi untuk mencari-cari informasi. Tak banyak juga informasi yang bisa penjaga hotel ini berikan. Untung saja saya bertemu John Rante, seorang pemandu wisata yang rumahnya berdekatan dengan hotel. </p>
<p>Saya berbincang banyak sampai sepakat untuk menyewa jasa Pak John sebagai pemandu wisata seharian itu. Setelah tawar menawar, harganya pun cukup murah Rp150.000,- sudah termasuk bensin motornya. Sebenarnya tarif normalnya Rp250.000,- belum termasuk ongkos bensin. Namun, karena memang bukan musim liburan, saya bisa mendapat tarif terbaik.</p>
<p>Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah pesta pemakaman di Kecamatan Kete Kesu. Pestanya berlangsung cukup sederhana dibanding <em>trademark</em> upacara pemakaman yang sering diberitakan memakan biaya sampai ratusan juta bahkan miliaran. Keluarga yang berkabung kebetulan hanya keluarga petani. </p>
<p>Akan tetapi, mereka tetap harus mengorbankan tiga ekor tedong (kerbau) dan tiga ekor bai (babi) sebagai teman menuju dunia yang lain bagi yang sudah wafat. Meski &#8216;cuma&#8217; sedikit hewan yang dikurbankan, tetap saja biayanya sampai puluhan juta jika menghitung satu kerbau biasa dijual Rp15-30 juta dan satu babi Rp1-3 juta. Belum ditambah biaya-biaya lainnya.   </p>
<p>Saya mencoba menelisik masuk ke dalam. Memberi salam pada keluarga yang berkabung kemudian menuju dapur yang sepertinya sedang ramai. Terdengar sampai luar suaranya, suara ibu-ibu mengoceh dan goresan panci. Benar saja, mereka sedang rumpi rupanya. Saya sempat mengabadikan aktivitas unik mereka, sambil menguyah sesuatu, entah apa, meminum kopi hitam Toraja, dan menanak nasi satu gentong. </p>
<p>Mereka memandang saya asing. Wajar tentu saja. Akan tetapi, mereka ternyata ramah sekali. Tak lama, saya ditawari kopi. Secangkir kopi dan tak lupa kue-kue khas Toraja yang terbuat dari beras merah. Saya lupa namanya. Yang jelas, rasanya legit dan renyah, tak kalah dengan kue-kue dari toko. </p>
<p>Pak John lalu menceritakan banyak hal tentang ritual pemakaman itu. Masyarakat Toraja menganggap ada dua kehidupan yang mesti dijalani. Sebelum dan setelah mati. Ketika mati, mereka harus diperlakukan istimewa demi kebahagiaan hidup setelahnya. Puya, nama &#8216;dunia&#8217; setelah kematian untuk masyarakat Toraja. Hewan-hewan yang dikurbankan menjadi teman bagi yang wafat di Puya. Sebuah prosesi untuk meninggikan yang tiada.</p>
<p>Kemudian, saya mampir ke Kuburan Batu yang terletak di Desa Lemo, Kecamatan Sanggalange. Mengapa dinamakan kuburan batu? Sesederhana karena memang mayatnya dikuburkan di tebing-tebing batu. Selain dikuburkan di sana, dibuat juga replika manusia dari kayu lengkap dengan baju adatnya. </p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/bayu_hidupkedua_02.jpg" alt="Kuburan Batu di Desa Lemo" title="Kuburan Batu di Desa Lemo" width="800" height="600" class="full" /><br />
<span class="caption">Kuburan batu di Desa Lemo</span></p>
<p>Beberapa kuburan di sana terlihat masih baru. Ada juga pahatan-pahatan yang baru dibuat sebagai persiapan sebagai tempat persemayaman terakhir orang-orang yang meninggal.</p>
<p>&#8220;Walau terlihat kecil, sebenarnya lubang di dalamnya besar sekali. Bisa menampung beberapa mayat,&#8221; jelas Pak John sambil menunjuk sebuah kuburan di ujung tebing.</p>
<p>Setiap sisi tebing di bukit itu dipenuhi kuburan dengan replika manusia. Saya sempat mengitari tebing ke sisi-sisi yang berbeda dan selalu mendapati kuburan-kuburan batu yang lain. Menurut Pak John, semakin ke belakang dan tersembunyi, berarti kasta atau tingkatan orang tersebut lebih rendah. </p>
<p>Di sekitar kompleks kuburan batu, banyak warga sekitar yang menjual kerajinan khas Toraja. Selain bentuknya yang khas, harganya juga tak terlalu mahal. Kain cantik buatan tangan sepanjang dua meter misalnya hanya dihargai Rp60-80 ribu. Patung-patung khas atoraja dengan bentuk pasangan orang tua diharga Rp25-60 ribu tergantung ukuran.</p>
<p>Pak John mengantar saya ke tempat pemakaman bayi atau Baby&#8217;s grave di Kampung Kambira, Kecamatan Sanggala. Tempat pemakaman bayi hanya berupa pohon besar diselimuti sabut-sabut hitam sebagai penutup lubang tempat bayi-bayi dimakamkan. Pohon ini diperuntukkan bagi bayi yang meninggal di dalam kandungan atau berusia di bawah enam bulan. </p>
<p>Dari sana, kami beranjak ke pasar tradisional di Kampung Tokesan. Di sini, seperti banyak pasar tradisional lain, ramai penjual menjajakan berbagai macam dagangan, mulai dari kebutuhan sehari-hari, sampai daging babi juga ada. Pasarnya mulai dari pagi hingga siang menjelang sore. </p>
<p>Saya kembali terkagum-kagum saat sampai di Kampung Bonoran di Kecamatan Kete Kesu, lokasi rumah-rumah adat Tongkonan. Ada dua belas rumah khas Toraja berjejer rapi di kedua sisi. Atap Rumah adat Tongkonan sekilas mirip tanduk kerbau. </p>
<p>&#8220;Bukan tanduk kerbau. Itu perahu,&#8221; kata Pak John mengoreksi. Menurut sejarah, nenek moyang orang Toraja dulu memang pelaut. Ketika sampai di daratan, mereka membuat rumah dengan memanfaatkan perahu-perahu mereka.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/bayu_hidupkedua_04.jpg" alt="Kompleks Rumah Adat Tongkonan" title="Kompleks Rumah Adat Tongkonan" width="800" height="600" class="full" /><br />
<span class="caption">Kompleks rumah adat Tongkonan</span></p>
<p>Di depan setiap rumah adat, hampir pasti selalu dipajang jejeran tanduk-tanduk kerbau yang telah dikurbankan. Lengkap dengan patung kepala kerbau dari kayu. </p>
<p>Dari salah satu rumah yang saya masuki, kondisi dalam rumah tersebut pun terlampau sederhana, hanya terdiri dari 3 ruangan. Kamar, ruang keluarga, dan ruang makan. Dapur, ruang makan, dan bahkan WC digabung menjadi satu di tengah. Agak risih ya.</p>
<p>Saya sangat penasaran ketika Pak John akan mengajak saya ke kuburan yang disimpan di goa. Dalam hati, “Di tebing, di gunung, di pohon, sekarang di gua?” Memang Toraja kaya akan budaya menghormati yang tiada. Sampai-sampai mereka rela bertaruh nyawa untuk memakamkan orang-orang yang mereka cintai di tempat yang mereka anggap terbaik.</p>
<p>Lokasi kuburan goa ini ada di daerah Londa, sebelah selatan Rantepao. Untuk melihat ke dalam goa, kita mesti menyewa lampu petromax seharga Rp25.000,-. Masuk ke goa ini mesti ekstra hati-hati, jalanan agak terjal, sempit, dan licin. Salah-salah bisa terpeleset. </p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/bayu_hidupkedua_05.jpg" alt="Lokasi Kuburan Goa di Londa" title="Lokasi Kuburan Goa di Londa" width="800" height="600" class="full" /><br />
<span class="caption">Lokasi kuburan goa di Londa</span></p>
<p>Masih ada mayat yang baru dikubur dua tahun lalu. Peti matinya masih utuh. Berbeda dengan banyak peti mati lainnya yang sudah rapuh dan berlubang sehingga tulang-belulang pun sampai terjulur keluar. Sesaji juga banyak sekali diberikan oleh warga yang berziarah. Rokok, bunga, air minum, atau buah-buahan. Semuanya diberikan sebagai bekal yang sudah wafat di alam sana. Walaupun yang terjadi sesajinya kian hari kian menumpuk, tak ada satu pun yang berani mengambil atau sekedar membersihkan. Alasannya klise, atau tidak, karena takut dihantui sepanjang hidup. </p>
<p>Naik beberapa anak tangga di sisi bukit dekat goa, Pak John menunjukkan ada kuburan tertinggi yang terletak hampir di puncak tebing terjal. Sudutnya hampir tegak lurus. Tak terbayang bagaimana orang-orang bisa sampai ke sana hanya untuk menguburkan mayat. Ceroboh sedikit malah bisa ikut menjadi mayat. Tapi itulah, kata Pak John, sebuah dedikasi akan sebuah ritual. &#8220;Mereka yang berangkat ke atas memang harus ahli. Ke atas hanya dengan berbekal bambu sebagai penyangga.&#8221;</p>
<p>Luar biasa.</p>
<p>Semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin mewah pula jenazahnya mesti dilengkapi. Seringkali dengan kain-kain mahal dan perhiasan. Oleh karena itu, biasanya jenazah orang-orang seperti itu diletakkan di tebing paling atas agar sulit dicapai orang lain.</p>
<p>Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah sebuah akhir. Justru, mati adalah gerbang menuju Puya, dunia yang baru. Dunia di mana arwah-arwah kembali menjalani hidup yang lain bersama dengan para hewan yang dikurbankan. Sungguh sebuah penghargaan yang tinggi pada kematian dan hidup setelah mati.</p>
<p>Bagi mereka, mati adalah hidup yang kedua kali.</p>
<p>Itulah sekelumit kisah perjalanan saya di Toraja. Memang cuma sehari, tapi saya tak bisa melupakan setiap menit penelusuran budaya unik di sana. Masih banyak yang belum saya saksikan, salah satunya adalah mitos mayat berjalan sendiri. Suatu hari saya pasti akan kembali untuk mencari tahu lebih banyak, dan menelusuri lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Toraja yang bersahaja.</p>
<p>Seorang jurnalis dan penulis, Patricia Schultz, memasukkan Toraja dalam bukunya, “<em>1000 Places to See Before You Die</em>”. <em>Well</em>, kini saya tahu benar mengapa dia berpendapat demikian. </p>
<p>Dalam hati, saya mengangguk seraya setuju. </p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 03/05/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/perayaan-hidup-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Minggu di Tanjung Papuma</title>
		<link>http://ranselkecil.com/tempat/hari-minggu-di-tanjung-papuma/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/tempat/hari-minggu-di-tanjung-papuma/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 05:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gerry Masbut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3016</guid>
		<description><![CDATA[Kesibukan kami yang cukup padat setiap minggunya seakan harus ditebus dengan kegiatan melarikan diri dari kejenuhan rutinitas dengan sekedar berkumpul atau mengunjungi tempat-tempat wisata atau hiburan di akhir pekan. Pagi itu saya dan dua sahabat saya memutuskan  untuk mengunjungi pantai Tanjung Papuma sebagai kegiatan melepas penat di akhir pekan.
Pantai dengan pasir putih alami dan tidak terlalu jauh dari pusat kota membuat saya tidak pernah bosan ketika berkunjung ke pantai ini. Apalagi hanya bermodalkan tidak lebih dari Rp7.000,- kita bisa memasuki lokasi wisata pantai yang dikelola oleh Perhutani ini. Bahkan jika berkunjung tidak pada akhir pekan atau hari libur, para pengunjung cukup membayar Rp5.000,- saja.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/Gerry_TjPapuma_02.jpg" alt="Pantai lengang di Tanjung Papuma" title="Pantai lengang di Tanjung Papuma" class="full" />
<span class="caption">Pantai lengang di Tanjung Papuma</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesibukan kami yang cukup padat setiap minggunya seakan harus ditebus dengan kegiatan melarikan diri dari kejenuhan rutinitas dengan sekedar berkumpul atau mengunjungi tempat-tempat wisata atau hiburan di akhir pekan. Pagi itu saya dan dua sahabat saya memutuskan  untuk mengunjungi pantai Tanjung Papuma sebagai kegiatan melepas penat di akhir pekan.<br />
Pantai dengan pasir putih alami dan tidak terlalu jauh dari pusat kota membuat saya tidak pernah bosan ketika berkunjung ke pantai ini. Apalagi hanya bermodalkan tidak lebih dari Rp7.000,- kita bisa memasuki lokasi wisata pantai yang dikelola oleh Perhutani ini. Bahkan jika berkunjung tidak pada akhir pekan atau hari libur, para pengunjung cukup membayar Rp5.000,- saja.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/Gerry_TjPapuma_02.jpg" alt="Pantai lengang di Tanjung Papuma" title="Pantai lengang di Tanjung Papuma" class="full" /><br />
<span class="caption">Pantai lengang di Tanjung Papuma</span></p>
<p>Secara geografis, Tanjung Papuma adalah tempat wisata pantai yang berada di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kabupaten Jember sendiri berjarak sekitar 197 km dari ibukota propinsi, Surabaya. Sedangkan jarak Tanjung Papuma dengan pusat Jember sekitar 37 km. Jarak yang relatif dekat ini yang membuat saya yang arek Jember, cukup sering berkunjung ke Tanjung Papuma. Tanjung Papuma sendiri berarti dataran yang menjorok ke laut yang bernama Papuma. Papuma sendiri merupakan akronim dari Pasir Putih Malikan. Malikan adalah nama dari pantai ini yang diberikan oleh Perhutani selaku pengelola.</p>
<p>Minggu, 15 April 2012. Pukul 7.30, kami bertiga berangkat dengan menaiki sepeda motor hingga sekitar pukul 8 pagi kami bertiga sampai di persimpangan jalan menuju pantai Tanjung Papuma. “Selamat Datang di Tanjung Papuma”. Baliho berukuran sedang menyambut kedatangan kami pagi ini.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/Gerry_TjPapuma_03.jpg" alt="&lt;em&gt;Snorkeling&lt;/em&gt; di Tanjung Papuma" title="&lt;em&gt;Snorkeling&lt;/em&gt; di Tanjung Papuma" width="500" height="331" /><br />
<span class="caption"><em>Snorkeling</em> di Tanjung Papuma</span></p>
<p>Dalam perjalanan kali ini, ransel kecil yang saya bawa cukup diisi dengan jas hujan dan peralatan mandi seadanya. Walaupun udara cukup cerah saya tetap membawa jas hujan. Mengingat akhir-akhir ini Jember memang sering diguyur hujan ketika senja dimulai. </p>
<p>Perjalanan menuju Tanjung Papuma belum selesai namun aroma pantai sudah mulai terasa disini. Kami masih harus menempuh perjalanan lagi dari baliho hingga sampai ke Tanjung Papuma. Mulai dari baliho hingga sampai ke loket pantai Tanjung Papuma, setiap pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan jati, perbukitan dan persawahan yang cukup asri. Pemandangan yang cukup menyegarkan mata.</p>
<p>Setelah membeli tiket di loket kami harus melalui jalanan yang menanjak dan menurun mulai dari loket hingga sampai ke pantai Tanjung Papuma. Tidak heran jika hampir di setiap sudut jalan terdapat peringatan pada semua pengendara agar selalu berhati-hati. Hingga akhirnya kami sampai di salah satu pantai kebanggaan masyarakat Jember.</p>
<p>Suasana pantai sangatlah lengang. Pengunjung yang datang pagi itu cukup sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari, hingga salah satu sahabat saya berkata, “Serasa di pantai yang masih terisolasi ya&#8230;”.</p>
<p>Suasana pantai pagi itu memang tidak seperti biasanya yang ramai akan pengunjung. Suasana pantai cukup sepi dan hanya terlihat beberapa pengunjung saja. Saya sempat bingung dengan kondisi pantai pagi itu hingga akhirnya sahabat saya lainnya berkata, “Mungkin karena besok Ujian Nasional dan sekarang masih pagi juga kan”. </p>
<p>Tanpa pikir panjang, kami bertiga langsung berjalan-jalan di pinggir pantai sambil berfoto dengan kamera saku yang saya bawa. Kami menyusuri tiap sudut tempat yang ada di pantai ini. Mulai dari menyusuri bebatuan kokoh di sekitar pantai hingga melihat-lihat penginapan-penginapan yang ada di Tanjung Papuma.</p>
<p>Selain menyuguhkan pasir putih alami, Tanjung Papuma juga memiliki beberapa bukit kecil berupa bebatuan kokoh, sehingga setiap pengunjung yang datang bisa melihat keindahan Tanjung Papuma dari ketinggian sekitar 20 meter ketika mendaki ke atas bukit tersebut.</p>
<p>Setelah merasa cukup puas berjalan-jalan, rugi rasanya jika berkunjung ke pantai tanpa berenang. Berkunjung ke pantai tanpa berenang ibarat sayur tanpa garam. Ada yang kurang rasanya. Apalagi matahari yang semakin terik semakin mendorong kami untuk segera berenang. Pantai Tanjung Papuma yang mempunyai ombak yang cukup besar dan merupakan pantai selatan dengan berbagai mitosnya membuat kami hanya berenang di pinggiran pantai saja. Berenang bersama teman seperjalan dengan didera ombak cukup menyenangkan dan berhasil membantu melepaskan segala kepenatan saya.</p>
<p>Setelah puas berenang, menikmati es kelapa muda di bawah pohon sambil memandangi indahnya pantai yang mulai ramai pengunjung sepertinya juga sangat menyenangkan. Dengan bermodalkan Rp 18.000,00 kami mendapatkan bisa mendapatkan 3 es kelapa muda yang banyak dijual di warung-warung makan sederhana yang menjamur di sekitar pantai Tanjung Papuma. Para pengunjung juga bisa menikmati ikan bakar yang merupakan hasil tangkapan nelayan yang tinggal di sekitar Tanjung Papuma dan diolah di warung-warung makan tersebut.</p>
<p>Tak terasa hari sudah hampir sore, kami memutuskan untuk segera membersihkan diri di kamar mandi umum yang ada di Tanjung Papuma. Terdapat banyak lokasi pemandian umum dan toilet di sekitar pantai, cukup dengan Rp 2.000,00 pengunjung bisa menggunakan air sebanyak mungkin untuk sekali mandi. Setelah membersihkan diri, kami memutuskan untuk segera pulang mengingat  sisa waktu pada hari itu akan kami gunakan untuk mempersiapkan rutinitas kami berikutnya.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/05/Gerry_TjPapuma_01.jpg" alt="Salah satu sudut pantai di Tanjung Papuma" title="Salah satu sudut pantai di Tanjung Papuma" width="500" height="233" /><br />
<span class="caption">Salah satu sudut pantai di Tanjung Papuma</span></p>
<p>Berat memang untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum menikmati proses tenggelamnya matahari di Tanjung Papuma, namun masing-masing dari kami memiliki urusan masing-masing yang harus dipersiapkan. Meskipun pantai Tanjung Papuma merupakan pantai selatan, namun kondisi geografis yang berupa tanjung memungkinkan pengunjung untuk bisa menikmati proses terbenamnya matahari di Tanjung Papuma.</p>
<p>Setiap perjalanan  selalu memiliki arti bagi setiap individu yang melakukannya. Bagi saya perjalanan kali ini semakin membuat saya bersyukur masih bisa menikmati salah satu ciptaan Tuhan yang luar biasa indah dan di sisi lain perjalanan ini semakin memperkokoh persahabatan kami.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 03/05/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/tempat/hari-minggu-di-tanjung-papuma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebahagiaan Sederhana di Desa Sawarna</title>
		<link>http://ranselkecil.com/catatan/kebahagiaan-sederhana-di-desa-sawarna/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/kebahagiaan-sederhana-di-desa-sawarna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 13:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bayu Adi Persada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3005</guid>
		<description><![CDATA[Saya memasukkan barang-barang seperlunya ke dalam ransel kecil. Ya, saya kembali melakukan perjalanan. Perjalanan impulsif untuk ke-sekian kali. Setelah resmi menjadi kaum urban dan berinteraksi dengan rutinitas pekerjaan, saya tak pernah mau menanggalkan ransel tersimpan tak terpakai. 

Jadi, seketika waktu senggang, saya mencari destinasi yang mungkin dikunjungi saat akhir pekan tiba. Tak jauh dari Jakarta, tapi tetap menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar melepas kepenatan.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/04/bayu_sawarna_03.jpg" alt="Sawah menghijau di Desa Sawarna" title="Sawah menghijau di Desa Sawarna" width="800" height="600" class="full" />
<span class="caption">Sawah menghijau di Desa Sawarna</span>

Setelah mencari-cari destinasi yang cocok di forum pejalan, akhirnya pilihan pun jatuh ke Desa Sawarna, desa kecil di Provinsi Banten. Ada seseorang yang mengajak jalan bersama ke sana dengan harga terjangkau. Saya tentu tak pikir dua kali untuk ikut mendaftar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya memasukkan barang-barang seperlunya ke dalam ransel kecil. Ya, saya kembali melakukan perjalanan. Perjalanan impulsif untuk ke-sekian kali. Setelah resmi menjadi kaum urban dan berinteraksi dengan rutinitas pekerjaan, saya tak pernah mau menanggalkan ransel tersimpan tak terpakai. </p>
<p>Jadi, seketika waktu senggang, saya mencari destinasi yang mungkin dikunjungi saat akhir pekan tiba. Tak jauh dari Jakarta, tapi tetap menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar melepas kepenatan.</p>
<p>Setelah mencari-cari destinasi yang cocok di forum pejalan, akhirnya pilihan pun jatuh ke Desa Sawarna, desa kecil di Provinsi Banten. Ada seseorang yang mengajak jalan bersama ke sana dengan harga terjangkau. Saya tentu tak pikir dua kali untuk ikut mendaftar.</p>
<p>Secara geografis, Desa Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, di sebelah barat Provinsi DKI Jakarta. Untuk mencapai ke desa tersebut, perjalanan dengan mobil atau bus memakan waktu 7-8 jam.</p>
<p>Waktu terbaik untuk mengunjunginya memang di bulan-bulan pertengahan, April-September saat musim kemarau tiba. Jalanan menjadi terjal dan becek kala musim hujan. Arus air sungai yang deras pun bisa menjadi penghambat untuk menikmati kearifan alam di sana.</p>
<p>Oleh karena itu, sebenarnya pemilihan waktu awal Februari untuk berkunjung amat beresiko. Hujan masih dengan senang hati mengguyur setiap tempat sesuai jatahnya masing-masing. </p>
<p>Potensi hujan mengacaukan liburan saya semakin besar ketika di Terminal Kampung Rambutan, turun hujan deras saat kami akan berangkat ke Desa Sawarna. Namun, di sini bukan waktunya untuk mundur!</p>
<p>Cuaca masih mendung saat bis kami sudah mendekati lokasi. Karena tak punya kemampuan menari tarian tolak hujan, saya hanya bisa meminta pada Yang Maha Baik untuk tidak mengijinkan hujan turun dua hari ini. Perjalanan ini akan amat sayang jika tak bisa dinikmati sepenuhnya hanya karena hujan turun. Saya tak ingin pulang hanya dengan kelelahan tanpa sempat menikmati sepercik kemegahan alam di sini.</p>
<p>Sampai juga kami di lokasi. Cuaca tiba-tiba berubah cerah. Seperti ada yang mendengar pinta saya pagi tadi. Alhamdulillah.</p>
<p>Kesan awal, seperti hampir semua destinasi wisata, desa ini menarik. Hanya saja, sisi menariknya pasti berbeda dan saya akan segera mengetahuinya dalam dua hari ke depan.</p>
<p>Ada jembatan kayu yang menghubungkan kami dengan Desa Sawarna. Kurang lebih panjangnya 20 meter dan hanya cukup untuk dilewati motor. Sungai di bawah jembatan agak dangkal. Arusnya tak begitu deras. Terlihat banyak juga anak-anak kecil mandi atau sekedar bermain di sana.</p>
<p>Masuk ke lingkungan desa, sudah ada kepala desa (setidaknya, begitulah pengamatan saya, atau mungkin beliau hanya petugas yang diminta untuk mengumpulkan “tarif masuk”). Beliau menunggu di sebuah rumah-rumahan kayu, dan meminta tarif masuk Rp. 2000 per tamu untuk sekali kunjungan. Murah sekali.</p>
<p>Kami berjalan menuju <em>homestay</em> yang sudah dipesan. Sepanjang mata memandang, sisi-sisi modernitas tercermin dibalik tembok-tembok rumah warga di sini.</p>
<p>Jalanan setapak desa ini sudah disemen. Walaupun beberapa sisi jalan desa masih tanah, tetapi kemajuan kental terlihat. Hampir semua rumah dibuat permanen, listrik juga sudah masuk ke desa, dan beberapa penduduk sudah memiliki motor sendiri. </p>
<p>Sampai di <em>homestay</em>, saya cukup terkejut dengan kondisi <em>homestay</em> yang akan kami inapi semalam ini. Rumahnya cukup besar, bahkan sangat besar, untuk ukuran desa. Fasilitasnya pun lengkap dengan meja pingpong dan lapangan voli. Awalnya, saya berpikir hanya akan menginap di rumah warga yang sederhana. Bagaimanapun juga, <em>homestay</em> yang nyaman ini adalah kejutan yang amat mudah dinikmati. </p>
<p>Desa ini masih seperti desa kebanyakan, di tengah sawah dan terlintasi sungai. Meski begitu, masyarakatnya sama sekali tidak konservatif. Mereka sudah berpikiran maju untuk menjadikan potensi pariwisata desanya menjadi penghidupan. Banyak sekali rumah-rumah penduduk dijadikan <em>homestay</em>. Beberapa masyarakat bahkan memiliki profesi sampingan menjadi pemandu wisata.</p>
<p>Pak Saep, pemandu wisata kami, berpendapat senada, &#8220;Ini semua bukan bantuan pemerintah. Masyarakat sendiri yang punya inisiatif menjadikan desa jadi kampung wisata.&#8221;</p>
<p>Agenda kami padat. Maklum, hanya dua hari dan cukup banyak tempat yang mesti dikunjungi. Alhasil, setelah beristirahat sebentar, kami memulai <em>trekking</em> ke Goa Lalay.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/04/bayu_sawarna_03.jpg" alt="Sawah menghijau di Desa Sawarna" title="Sawah menghijau di Desa Sawarna" width="800" height="600" class="full" /><br />
<span class="caption">Sawah menghijau di Desa Sawarna</span></p>
<p>Di siang yang cukup terik, kami menelusuri sawah-sawah membujur. Seperti bunga yang akan merekah, sawah yang kami lewati masih hijau. Sejauh mata memandang, hanya hijau menentramkan yang kami lihat. Beberapa kali bertemu petani ramah yang menyambut kami dengan dialek Sunda mereka yang kental. </p>
<p>Mudah tak selamanya kami lewati. Dua kali kami harus berusaha melawan arus deras sungai. Untung saja sungainya tak dalam. Meski begitu, harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset. Bawaan kamera dan ponsel bisa dalam bahaya.</p>
<p>Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai di destinasi pertama, Goa Lalay. Lalay menurut bahasa Sunda artinya kelelawar. Pak Saep mengatakan goa ini penuh kelelawar kala malam menjelang. Saat Maghrib menjelang Isya, biasanya gerombolan kelelawar ini keluar dari sarangnya.</p>
<p>Ada sungai kecil yang mengalir dari dalam goa ini. Sayangnya, berhubung musim hujan, aliran air pun lebih deras dari biasanya. Kalau dilihat dari luar, memang sepertinya tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam. Saya pikir sayang sekali sudah jauh-jauh, tapi tidak melihat stalaktit Goa Lalay yang konon memang terkenal. Akhirnya, saya dan beberapa teman memaksakan diri masuk. Walau awalnya agak sulit karena bebatuan licin ditambah arus yang deras, justru air menjadi agak tenang ketika sampai di dalam.</p>
<p>Di dalam, tak terlihat ada kelelawar satu pun. Menurut Pak Saep, mereka bersarang terlalu ke dalam. Kondisi di dalam goa tidak memungkinkan kita untuk menelusuri lebih ke dalam. Tak berjodoh dengan para lalay rupanya. </p>
<p>Setidaknya, stalaktit-stalaktit tadi sudah mau bercengkerama dengan kami.</p>
<p>Selepas dari Goa Lalay, kami kembali melanjutkan perjalanan. Melewati pematang-pematang sawah, bukit-bukit kecil, dan tak ketinggalan jalanan penuh lumpur. Beberapa teman sangat kelelahan, apalagi yang perempuan. Banyak juga tragedi-tragedi kecil, seperti ada yang tercemplung ke sawah, terpeleset ketika jalan turun, atau sekedar terkilir saat menapak.</p>
<p>Tapi saya yakin, semua kelelahan dan kesialan itu terbayar ketika telapak sudah bersentuhan dengan pasir pantai.</p>
<p>Kembali mendengar deru ombak dan menikmati aliran air laut di sela-sela kaki memberi kenikmatan tersendiri. Untuk saya, pantai tak pernah gagal memberi kesan menawan.</p>
<p>Dari sana, Karang Taraje sudah terlihat amat dekat. Namun sayang, sepertinya saya belum diizinkan mampir di sana. Jalanan menuju ke sana dijaga segerombolan anjing penjaga ternak yang terkenal ganas. Daripada mencari masalah, lebih baik mengurungkan niat pergi untuk mendekat.</p>
<p>“Taraje” dalam bahasa setempat artinya tangga. Mudah ditebak kenapa dinamakan demikian: bentuk karangnya memang menyerupai tangga. Kalau memandang dari arah pantai, sisa air di karang dari tabrakan ombak seakan bergerak, bertahap, menuruni anak tangga.</p>
<p>Beberapa penduduk terlihat sedang memancing dengan cara yang unik. Dengan seutas bambu, mereka memancing agak ke tengah laut sambil mendera ombak. Ikan yang didapat pun cuma ikan-ikan kecil.  Memang bukan untuk dijual, tapi dikonsumsi sendiri.</p>
<p>Kami harus menaiki bukit yang cukup terjal untuk sampai ke agenda terakhir sekaligus puncak, hari itu. Menunggu sang surya terbenam di Tanjung Kelayar. Sebenarnya kalau enggan menaiki bukit, melewati jalan memutar juga bisa dilakukan. Tinggal memilih, lebih senang jalan berbatu dan licin atau jalanan menanjak yang juga licin.</p>
<p>Akhir hari itu menjadi sempurna ketika matahari akan mengucap salam pamit pada semesta. Indahnya tak terucap, cantiknya tak terungkap. Benar-benar pemandangan luar biasa sebagai hadiah bagi kami yang sudah rela berpeluh demi sampai di sini. Terasa tenang sekali perasaan. Seakan kami tak mau mengijinkan matahari pergi begitu cepat.</p>
<p>Cuaca cerah sehari tadi membuat sempurna spektrum peninggalan sang surya. Lukisan paling cantik satu semesta dari Yang Kuasa. Membuat insan-insan lebih merasakan makna mendalam akan malam. Terang tak selamanya jaya, ada waktu masing-masing seperti juga manusia yang tak selamanya merasakan kenikmatan.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/04/bayu_sawarna_02.jpg" alt="Senja di Karang Taraje" title="Senja di Karang Taraje" width="800" height="511" class="full" /><br />
<span class="caption">Senja di Karang Taraje</span></p>
<p>Sambil menikmati semangkuk mi rebus dan segelas es kelapa, saya terduduk santai di pasir putih. Bercengkerama dengan teman seperjalan. Tak lupa mendirikan tripod sebagai penyangga kamera. Kami banyak mengambil gambar sampai lupa waktu. Cahaya senja semakin menghilang. Kami mesti segera beranjak pulang. </p>
<p>Esok paginya kami menuntaskan agenda perjalanan ini dengan mengunjungi Pantai Ciantir. Dari perkampungan warga tempat lokasi <em>homestay</em>, bisa dicapai dengan berjalan kaki 10 menit. Pasir putih sejauh mata memandang membuat pantai ini cantik penuh pesona. Tak kalah dibanding banyak pantai-pantai cantik lain di Pulau Jawa, bahkan Bali ataupun Lombok.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/04/bayu_sawarna_01.jpg" alt="Pasir dan biru langit di Pantai Ciantir" title="Pasir dan biru langit di Pantai Ciantir" width="800" height="533" class="full" /><br />
<span class="caption">Pasir dan biru langit di Pantai Ciantir</span></p>
<p>Kami ingin memanfaatkan waktu langka ini sebaik-baiknya. Ada yang bermain bola, bersantai sambil minum es kelapa, atau sekedar menghabiskan memori di kamera.<br />
Saat hari beranjak siang, kami mesti kembali ke penginapan untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta. </p>
<p>Rasanya tak ingin cepat berpisah dengan kehangatan dan kebersahajaan desa ini. Setelah semuanya, saya merasa beruntung pernah merasakan keduanya itu. Meski cuma sebentar, tak hanya kepenatan yang hilang, pencerahan pun muncul akan cara-cara sederhana menikmati hidup.</p>
<p>Jiwa kembali siap menjalani rutinitas di hari hari berikutnya tanpa pernah lupa akan satu hal, menjelajahi sisi lain bumi Tuhan.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 28/04/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/kebahagiaan-sederhana-di-desa-sawarna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karimunjawa Bagian &#8220;Pojokan&#8221;</title>
		<link>http://ranselkecil.com/catatan/karimunjawa-bagian-pojokan/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/karimunjawa-bagian-pojokan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 06:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fuji Adriza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2995</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang senja, ketika akhirnya KMP Muria berlabuh di dermaga Karimunjawa, kami turun. Sebagaimana ratusan penumpang lain yang telah terombang-ambing ombak lautan selama lebih dari setengah hari, badan masih sempoyongan dan terasa pegal. Penumpang kapal ramai bukan main. Akibatnya, saya dan kawan-kawan hanya kebagian tempat duduk di tangga menuju geladak bawah. 

Minggu pagi di bulan Juli itu saya dan kawan-kawan berangkat dari Pelabuhan Kartini Jepara sekitar pukul 08:00 dengan armada tambahan. Sebenarnya kami berniat menyeberang sehari sebelumnya. Namun Sabtu pagi itu tiket sudah terjual habis. Kami tidak kebagian dan harus tertahan selama sehari di Jepara. Saat-saat waktu padat, KMP Muria memang sering kelebihan penumpang. Penumpang yang akan menyeberang melebih jumlah tiket yang disediakan. Sebenarnya untung juga, saya jadi mendapat kesempatan untuk bertandang ke Museum Kartini di alun-alun Jepara, selain itu saya juga bisa "cuci mata" melihat gadis-gadis Jepara yang manis sedang lari sore.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/04/fuji_karimunjawa_01.jpg" alt="" title="Menyelam tanpa perlengkapan (&#34;&#60;em&#62;skindiving&#60;/em&#62;&#34;) di Karimunjawa" class="full" />
<span class="caption">Menyelam tanpa perlengkapan ("<em>skindiving</em>")</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang senja, ketika akhirnya KMP Muria berlabuh di dermaga Karimunjawa, kami turun. Sebagaimana ratusan penumpang lain yang telah terombang-ambing ombak lautan selama lebih dari setengah hari, badan masih sempoyongan dan terasa pegal. Penumpang kapal ramai bukan main. Akibatnya, saya dan kawan-kawan hanya kebagian tempat duduk di tangga menuju geladak bawah. </p>
<p>Minggu pagi di bulan Juli itu saya dan kawan-kawan berangkat dari Pelabuhan Kartini Jepara sekitar pukul 08:00 dengan armada tambahan. Sebenarnya kami berniat menyeberang sehari sebelumnya. Namun Sabtu pagi itu tiket sudah terjual habis. Kami tidak kebagian dan harus tertahan selama sehari di Jepara. Saat-saat waktu padat, KMP Muria memang sering kelebihan penumpang. Penumpang yang akan menyeberang melebih jumlah tiket yang disediakan. Sebenarnya untung juga, saya jadi mendapat kesempatan untuk bertandang ke Museum Kartini di alun-alun Jepara, selain itu saya juga bisa &#8220;cuci mata&#8221; melihat gadis-gadis Jepara yang manis sedang lari sore.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/04/fuji_karimunjawa_01.jpg" alt="" title="Menyelam tanpa perlengkapan (&quot;&lt;em&gt;skindiving&lt;/em&gt;&quot;) di Karimunjawa" class="full" /><br />
<span class="caption">Menyelam tanpa perlengkapan (&#8220;<em>skindiving</em>&#8220;)</span></p>
<p>Di dermaga, kami dijemput Pak Solichul. Selama di Karimunjawa, kami menginap di rumah beliau. Pengalaman tinggal di rumah Pak Kul adalah yang paling berkesan dari jalan-jalan saya ke Karimunjawa. Pak Kul merupakan salah seorang tokoh di Karimunjawa, pemimpin cabang sebuah ormas keagamaan sekaligus pegawai di kecamatan. Beberapa tahun yang lalu seorang kawan pernah melakukan penelitian di Karimunjawa. Suatu sore ia kebingungan karena belum tahu akan menginap di mana malam itu. Ketika ia sedang kebingungan itulah Pak Kul menghampiri. Merasa kasihan, Pak Kul mengajaknya untuk menginap di rumah. Kebetulan di samping rumah Pak Kul juga ada sebuah paviliun yang lumayan besar. Sejak itulah kediaman Pak Kul silih berganti disambangi para pelancong, informasinya pun beredar hanya dari mulut ke mulut. “Padahal saya sama sekali <em>nggak</em> ada niat cari duit,” ujar Pak Kul mengenang di satu malam. Sekarang di depan paviliun itu terbentang sebuah spanduk bertuliskan “Rumah Singgah Pantura”.</p>
<p>Kediaman Pak Kul berada di Desa Alang-Alang. Di belakang sebuah masjid. Lumayan jauh, sekitar sepuluh menit berkendara dari alun-alun. Meskipun terpencil, rumah Pak Kul istimewa. Lima meter dari pintu belakang rumah, laut sudah menghampar. Selain itu, beberapa ratus meter ke arah selatan kita akan tiba di Pantai Ujung Gelam. Setiap hari saya dan kawan-kawan menikmati senja di pantai itu; <em>snorkeling</em> dan <em>skindiving</em> di taman koral ditemani <em>schooling</em> ikan teri, atau sekadar duduk-duduk di pantai menikmati matahari senja yang merona.</p>
<p>Di sana sambungan listrik PLN belum masuk. Sumber listrik hanya berasal dari generator yang disediakan swadaya oleh warga, generator yang di atas pukul 23.00 WIB akan dimatikan oleh Pak Kul. Padahal, hanya beberapa ratus meter dari rumah beliau ada gardu listrik PLN. Pantas, di atap masjid saya melihat ada sebuah panel surya. Di negara yang pemerintahnya sibuk dagelan ini ternyata masih ada desa yang “dipaksa” untuk mandiri energi.</p>
<p>Tiap hari setelah makan malam, Pak Kul menyempatkan diri untuk ikut duduk-duduk mengobrol bersama kami. Beliau senang bercerita, kami senang mendengarkan. Klop sudah. Kami mendapatkan pengetahuan gratis mengenai asal-usul nama Karimunjawa, mengenai Sunan Nyamplungan dan orang-orang pertama yang mendiami Pulau Karimunjawa, bahkan sampai pada mitos mengenai kawasan bernama Karang Kapal yang kerap membuat karam kapal yang melintasi Laut Jawa. </p>
<p>“Para kapten kapal yang karam itu konon melihat kerlap-kerlip lampu kota di sekitar Karang Kapal,” Pak Kul berkisah. “Mereka menyangka sudah tiba di Semarang. Eh, tahu-tahu kapalnya kandas.”</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/04/fuji_karimunjawa_02.jpg" alt="Matahari terbenam di Ujung Gelam" title="Matahari terbenam di Ujung Gelam" width="800" height="533" class="full" /><br />
<span class="caption">Matahari terbenam di Ujung Gelam</span></p>
<p>Pak Kul juga menceritakan betapa masyarakat desa sudah berkali-kali memperjuangkan masuknya listrik ke kampung mereka. Perjuangan yang tampaknya tidak ditanggapi secara serius oleh instansi terkait karena sampai saat ini tiang listrik belum terpancang. “Gardunya dekat sini tapi kami sendiri nggak dapat listrik,” berapi-api Pak Kul bercerita. “Disuruh urunan untuk beli tiang pun kami mau, tapi tetap belum ditanggapi.” Ironis memang. Sementara pemerintah Jepara dan Jawa Tengah gencar mempromosikan Karimunjawa sebagai tujuan wisata, masih ada desa di sana yang belum dapat sambungan listrik. </p>
<p>Saya jadi berpikir. Setiap kita, setiap manusia yang suka pergi ke tempat-tempat yang jauh, sebenarnya bisa menjadi “penyambung lidah rakyat”. Asal si pejalan itu mampu menyeret dirinya dari pusat semesta karena ketika sedang berkelana ke suatu tempat, yang asing bukanlah tempat itu. Merekalah, sang pejalan, sebenarnya yang asing. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Agustinus Wibowo sang pengembara, “Di awal perjalanan, kita belajar menghilangkan diri. Semakin kita berjalan, semakin kita menemukan diri.” Jika sudah begitu, niscaya dengan serta merta seorang pejalan mampu menjadi pembawa kabar dari tempat-tempat yang luput dari perhatian pemerintah, pembawa kabar dari “Indonesia Bagian Pojokan”.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 26/04/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/karimunjawa-bagian-pojokan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Muda Yang Bisa Menginap di Mana Saja</title>
		<link>http://ranselkecil.com/akomodasi/yang-muda-yang-bisa-menginap-di-mana-saja/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/akomodasi/yang-muda-yang-bisa-menginap-di-mana-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 13:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fuji Adriza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akomodasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2990</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali akomodasi menjadi hal yang menghambat seseorang untuk melakukan perjalanan. Mau pergi ke suatu tempat, yang dipikirkan pertama kali adalah "Mau menginap di mana?", "Kalau di hotel, kan, mahal." Sebenarnya tidak begitu, terlebih untuk anak muda. Anak muda yang memiliki tubuh masih fit tidak perlu khawatir perihal akomodasi karena yang muda bisa menginap di mana saja.

Saya pernah menginap di stasiun kereta. Enak atau tidak tergantung stasiun keretanya. Di stasiun kereta besar yang memiliki fasilitas lengkap, menginap di emperan mungkin masih terasa seperti menginap di kamar kos-kosan. Bangku panjangnya cukup lebar untuk dipakai tidur, lantainya berkeramik, ada warung bahkan kios makanan cepat saji, ada mushala dan kamar mandi di pojokan. Dan biasanya di stasiun yang agak besar lumayan banyak orang yang juga tidur di sana.

Lain lagi jika tidur di stasiun kecil. Biasanya di stasiun kecil kamar mandi dikunci bertepatan dengan berakhirnya aktivitas di stasiun. Jadi kalau menginap di stasiun seperti Karangasem, Probolinggo, atau di Banyuwangi baru saya harus cepat-cepat menunaikan segala urusan sebelum kamar mandi digembok.
Soal kemananan, bukan berarti stasiun besar lebih tidak aman dibanding stasiun kecil. Menurut saya, aman atau tidak tergantung diri masing-masing. Jika pandai menjaga diri, di manapun akan aman karena kejahatan dapat mengancam seseorang di mana saja.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seringkali akomodasi menjadi hal yang menghambat seseorang untuk melakukan perjalanan. Mau pergi ke suatu tempat, yang dipikirkan pertama kali adalah &#8220;Mau menginap di mana?&#8221;, &#8220;Kalau di hotel, kan, mahal.&#8221; Sebenarnya tidak begitu, terlebih untuk anak muda. Anak muda yang memiliki tubuh masih fit tidak perlu khawatir perihal akomodasi karena yang muda bisa menginap di mana saja.</p>
<p>Saya pernah menginap di stasiun kereta. Enak atau tidak tergantung stasiun keretanya. Di stasiun kereta besar yang memiliki fasilitas lengkap, menginap di emperan mungkin masih terasa seperti menginap di kamar kos-kosan. Bangku panjangnya cukup lebar untuk dipakai tidur, lantainya berkeramik, ada warung bahkan kios makanan cepat saji, ada mushala dan kamar mandi di pojokan. Dan biasanya di stasiun yang agak besar lumayan banyak orang yang juga tidur di sana.</p>
<p>Lain lagi jika tidur di stasiun kecil. Biasanya di stasiun kecil kamar mandi dikunci bertepatan dengan berakhirnya aktivitas di stasiun. Jadi kalau menginap di stasiun seperti Karangasem, Probolinggo, atau di Banyuwangi baru saya harus cepat-cepat menunaikan segala urusan sebelum kamar mandi digembok.<br />
Soal kemananan, bukan berarti stasiun besar lebih tidak aman dibanding stasiun kecil. Menurut saya, aman atau tidak tergantung diri masing-masing. Jika pandai menjaga diri, di manapun akan aman karena kejahatan dapat mengancam seseorang di mana saja.</p>
<p>Tempat lain yang pernah saya inapi adalah SPBU atau pom bensin. &#8220;Hotel kuda laut&#8221; kalau kata bapak Indra Azwan, sang pencari kebenaran dari Malang. Tidak usah ragu jika ingin menginap di sana. Para karyawan dan pengelola pom bensin di Indonesia sudah mahfum bahwa sesekali akan ada pemuda berduit pas-pasan yang akan menumpang menginap di sana. Di pom bensin biasanya ada mushala dan kamar-mandi dan di pom bensin yang agak besar biasa ada swalayan.</p>
<p>Saya juga pernah menginap di pelabuhan. Di Pelabuhan Ketapang ada sebuah mushala kecil yang cukup nyamana untuk diinapi, meskipun tidak boleh tidur di dalam. Lazimnya dataran rendah, biasanya nyamuk di pelabuhan kejam-kejam. Makanya jika ke mana-mana selalulah membawa sleeping bag dan obat nyamuk oles. Sekedar <em>sleeping bag</em> tidak akan cukup untuk menghambat tekad nyamuk-nyamuk nakal untuk menghisap darah manusia.</p>
<p>Menginap di Pelabuhan Mentok Pulau Bangka juga sangat berkesan bagi saya. Karena jauh dari mana-mana dan terletak di ujung barat Pulau Bangka, pelabuhan ini sunyi senyap di malam hari. Ketika mendarat di sana, saya seperti keluar dari mesin waktu yang membawa saya ke masa lalu. Orang-orang berebut turun dari kapal feri membawa koper-koper besar, dinanti oleh para penjemput yang menyongsong dengan gembira dari dermaga. Dekat dermaga ada sebuah mercusuar tua yang memancarkan cahaya kuning temaram, yang terus berputar sendu memandu haluan kapal yang melintasi selat berhala. Agar bisa tidur dengan nyaman, saya harus menggabungkan dua bangku panjang untuk digunakan sebagai tempat berbaring.</p>
<p>Selain tempat-tempat di atas masih banyak tempat lain yang bisa diinapi: masjid, kantor polisi, emperan toko, dan lain-lain. Sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan selama menginap di berbagai “kamar koboi” tersebut. Bahkan di sebuah masjid di kawasan Kuta, seorang bapak paruh baya secara tak terduga memberi saya dan seorang kawan “sangu” Rp. 20.000. “Untuk musafir,” kata beliau. Jadi tidak ada alasan bagi anak muda untuk menunda-nunda melakukan perjalanan, terlebih dengan alasan tiada uang untuk menyewa penginapan.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 17/04/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/akomodasi/yang-muda-yang-bisa-menginap-di-mana-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menonton Konser di Negeri Tetangga</title>
		<link>http://ranselkecil.com/catatan/menonton-konser-di-negeri-tetangga/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/menonton-konser-di-negeri-tetangga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2012 01:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arresty Wahyu Andhini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2963</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang telah kita ketahui, demam Korea saat ini sedang melanda Indonesia. Dimulai sejak beberapa tahun yang lalu dimana drama-drama Korea seperti <em>Winter Sonata</em> dan <em>Fullhouse</em> menjadi tayangan favorit pemirsa Indonesia, lalu disusul dengan begitu populernya <em>boyband</em> dan <em>girlband</em> asal negeri ginseng tersebut di tengah kalangan pelajar dan mahasiswa di negeri ini. Pada akhirnya, “invasi” Korea ini pun menyebar ke sektor-sektor lain, seperti <em>fashion</em> dan bahkan <em>consumer goods</em>.

Saya pun termasuk korban <em>Hallyu</em> atau <em>Korean Wave</em>—sebuah istilah untuk menyebut tersebarnya budaya Korea ini di seluruh penjuru dunia. Dimulai sejak masa kuliah di mana saat itu <em>boyband</em> Super Junior, sebuah <em>boyband</em> beranggotakan 13 personil dengan ketampanan khas Asia, sedang sangat terkenal dengan single “<em>Sorry Sorry</em>” yang memiliki lagu dan <em>dance</em> yang unik. Atas pengaruh seorang teman, akhirnya saya pun jatuh hati kepada <em>boyband</em> yang satu ini hingga akhirnya kecintaan saya ini mengantarkan saya terbang untuk pertamakalinya ke negeri tetangga, Singapura. Lho, memang apa hubungannya? Ya, saya sengaja <em>bela-belain</em> pergi ke negeri Merlion itu untuk menonton konser Super Junior yang bertajuk “<em>Super Show 3</em>”.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang telah kita ketahui, demam Korea saat ini sedang melanda Indonesia. Dimulai sejak beberapa tahun yang lalu dimana drama-drama Korea seperti <em>Winter Sonata</em> dan <em>Fullhouse</em> menjadi tayangan favorit pemirsa Indonesia, lalu disusul dengan begitu populernya <em>boyband</em> dan <em>girlband</em> asal negeri ginseng tersebut di tengah kalangan pelajar dan mahasiswa di negeri ini. Pada akhirnya, “invasi” Korea ini pun menyebar ke sektor-sektor lain, seperti <em>fashion</em> dan bahkan <em>consumer goods</em>.</p>
<p>Saya pun termasuk korban <em>Hallyu</em> atau <em>Korean Wave</em>—sebuah istilah untuk menyebut tersebarnya budaya Korea ini di seluruh penjuru dunia. Dimulai sejak masa kuliah di mana saat itu <em>boyband</em> Super Junior, sebuah <em>boyband</em> beranggotakan 13 personil dengan ketampanan khas Asia, sedang sangat terkenal dengan single “<em>Sorry Sorry</em>” yang memiliki lagu dan <em>dance</em> yang unik. Atas pengaruh seorang teman, akhirnya saya pun jatuh hati kepada <em>boyband</em> yang satu ini hingga akhirnya kecintaan saya ini mengantarkan saya terbang untuk pertamakalinya ke negeri tetangga, Singapura. Lho, memang apa hubungannya? Ya, saya sengaja <em>bela-belain</em> pergi ke negeri Merlion itu untuk menonton konser Super Junior yang bertajuk “<em>Super Show 3</em>”.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/04/stage3.jpg" alt="Panggung di Singapore Indoor Stadium" title="Panggung di Singapore Indoor Stadium" width="800" height="443" class="full" /></p>
<p>Konser tersebut berlangsung di Singapore Indoor Stadium (SIS), sebuah <em>venue</em> di daerah Kallang di sisi Timur Singapura yang memang sering digunakan sebagai tempat konser artis-artis kelas dunia seperti Coldplay, Muse, hingga Justin Bieber. Untuk mencapai SIS, dapat menggunakan MRT jalur warna kuning yang akan melalui stasiun Stadium. Kalau diukur dari Orchard Road, kira-kira hanya memakan waktu 20 menit untuk sampai di sana. Kemudian, kita hanya perlu berjalan beberapa puluh meter untuk mencapai bangunan SIS yang megah itu.</p>
<p>Waktu itu, konser dijadwalkan mulai pada pulul 16.00 dan ketika saya tiba di sana sekitar pukul 14.00, sudah tampak antrian mengular para &#8220;ELF&#8221;—sebutan fans Super Junior—yang memiliki tiket standing. Tiket saya sendiri adalah tiket seating dengan nomor seat yang sudah ditentukan sehingga saya tidak perlu mengantri lagi. Namun keuntungan pemegang tiket standing, posisi mereka akan lebih dekat ke panggung daripada mereka yang duduk di kursi. Harga kedua jenis tiket tersebut pun sama.</p>
<p>Saya dan teman-teman saya (kami semua total berlima), mendapatkan posisi kursi tepat di tribun tengah. Panggung konser Super Junior ini bisa dibilang cukup <em>extravagant</em> di mana mereka menggunakan konsep “dekat dengan penonton” sehingga hampir setengah area konser habis untuk tata panggung saja. Selain dua panggung utama, mereka juga menggunakan panggung <em>runway</em> yang disusun sedemkian rupa sehingga dapat melewati para penonton di hampir seluruh penjuru area. Oleh karena itu, stadion yang sanggup menampung hingga 8,000 penonton itu kali ini hanya digunakan untuk kapasitas 5,000 orang. Karena itulah, meski di depan tribun kami ada kursi-kursi VVIP yang memisahkan tempat kami dari panggung utama, kalau dihitung-hitung, jarak dengan panggung utama juga akhirnya tidak sampai 10 meter.</p>
<p>Karena selama konser dilarang untuk mengambil gambar, para penonton dapat menitipkan kamera di loker-loker yang disediakan di SIS dengan membayar sebesar S$1. Kenyataannya sih banyak juga yang bisa memotret dengan leluasa, termasuk saya. Hanya saja, para petugas keamanan memang lebih ketat mengawasi area berdiri. Mereka berhak meminta penonton keluar dari area panggung jika mereka ketahuan mengambil gambar. Mungkin karena area berdiri sangat dekat dengan panggung sehingga dikhawatirkan <em>flash</em> dari kamera akan mengganggu pertunjukan.</p>
<p>Secara keseluruhan, menonton konser di Singapore Indoor Stadium merupakan pengalaman yang sangat memuaskan. <em>Sound system</em>-nya sempurna, sungguh tidak tampak adanya kecacatan di masalah suara selama konser. Jelas dan memuaskan. <em>Lighting effect</em>-nya juga sangat keren dengan menggunakan efek-efek cahaya sorot warna-warni sepanjang pertunjukan berlangsung. Dan karena kita sedang membicarakan Singapore yang terkenal sebagai negeri yang teratur, tentu saja para penonton di sini pun sangat tertib dari sejak mengantri di luar hingga konser berakhir dengan sukses. Dua jempol untuk tempat konser yang satu ini.</p>
<p>Namun, satu peringatan untuk para penonton konser di SIS yang menggunakan MRT sebagai sarana transportasi: jika Anda tidak memiliki EZ Link Card, lebih baik Anda membeli tiket pulang sejak sebelum menonton konser karena jika Anda membelinya saat pulang, akan ada ratusan orang mengantri tiket di mesin penjual otomatis yang jumlahnya terbatas itu.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 09/04/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/menonton-konser-di-negeri-tetangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Dunia Desain Swedia Begitu Terkenal?</title>
		<link>http://ranselkecil.com/dari-kami/kenapa-dunia-desain-swedia-begitu-terkenal/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/dari-kami/kenapa-dunia-desain-swedia-begitu-terkenal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 09:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Adinugroho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2972</guid>
		<description><![CDATA[Ada kalanya, kita perlu menilik lebih dalam tentang budaya dan ekonomi sebuah negara. Ada kalanya pula, kita bisa melihat sebuah destinasi dari kacamata profesi kita sendiri. Sebagai seorang desainer grafis, saya mau tidak mau mengamati industri dan kebijakan desain sebuah negara, salah satunya adalah Swedia. Beruntung, saya sempat mengunjungi negara ini dua tahun silam. Untuk memenuhi rasa ingin tahu saya, saya lakukan sedikit riset dan merangkum soal kebijakan desain Swedia hingga produk-produknya terkenal di mancanegara sebagai pelopor desain yang baik dan apik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada kalanya, kita perlu menilik lebih dalam tentang budaya dan ekonomi sebuah negara. Ada kalanya pula, kita bisa melihat sebuah destinasi dari kacamata profesi kita sendiri. Sebagai seorang desainer grafis, saya mau tidak mau mengamati industri dan kebijakan desain sebuah negara, salah satunya adalah Swedia. Beruntung, saya sempat mengunjungi negara ini dua tahun silam. Untuk memenuhi rasa ingin tahu saya, saya lakukan sedikit riset dan merangkum soal kebijakan desain Swedia hingga produk-produknya terkenal di mancanegara sebagai pelopor desain yang baik dan apik.</p>
<p>Swedia adalah salah satu negara di Eropa utara yang berbatasan langsung dengan Norwegia di sisi barat, Denmark di selatan dan Finlandia di timur. Sistem pemerintahannya adalah monarki konstitusional. Luas daerahnya adalah 450.000 km persegi, ibukotanya Stockholm dan populasinya berjumlah 9,4 juta jiwa. Bahasa resminya adalah Bahasa Swedia. Pendapatan bruto per kapitanya adalah salah satu yang tertinggi di dunia dalam kisaran $47.934 (2010). Mata uangnya adalah Krona Swedia, karena negara ini belum meratifikasi perjanjian zona mata uang tunggal Euro.</p>
<p>Usia negara Swedia sangat panjang, merdeka sejak abad ke-13, dan pernah menjadi kekuatan besar di Eropa pada abad ke-17. Seperti negara-negara Eropa pada saat itu, Swedia juga mempraktekkan kolonialisme dan mendirikan koloni di benua lain, seperti di Afrika.</p>
<p>Sebagai bagian dari negara-negara Skandinavia, Swedia memiliki hubungan erat dengan Norwegia dan Denmark, khususnya. Sejarah menunjukkan bahwa batas-batas antar negara ini dulu berubah-ubah, dan satu negara pernah menjadi bagian dari negara lainnya. Secara kultural, ketiga negara ini satu rumpun. Bahasanya pun tak jauh berbeda, mata uangnya bernama sama walau bernilai berbeda, memiliki perjanjian keimigrasian sendiri yang dinamakan Nordic Passport Union, di mana setiap warganegara Swedia, Denmark, Norwegia dan Finlandia dapat berdomisili di masing-masing negara ini tanpa <em>residence permit</em> atau izin tinggal. Oleh karenanya, ketika berbicara soal produk budaya dari Swedia, misalnya desain, kita tak bisa memungkiri peran besar sejarah kebudayaan Skandinavia (atau Nordik, jika dilihat lebih luas) secara utuh.</p>
<p>Swedia di masa modern ini adalah sebuah negara yang sangat damai dan makmur. Ia menjadi salah satu tujuan pencari suaka, terutama dari timur tengah. Kemakmuran ini menjadi daya tarik bagi siapapun untuk mencari penghidupan yang tenang. Tingkat kemiskinannya termasuk paling rendah di dunia, dan pembagian kekayaannya cukup merata pada populasinya. Masyarakat Swedia juga dekat dengan alam, karena dianugerahi alam yang indah dan produktif. Semua ini menyumbang pada kualitas hidup yang tinggi. Tentu, ada konsekuensinya, masyarakat Swedia harus membayar pajak yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.</p>
<p>Dunia desain Swedia terkait dengan dunia desain Skandinavia secara umum, yang juga berawal dari konteks sejarah seni rupa. Modernisme, realisme, <em>Arts &#038; Crafts movement</em>, dan <em>Art Nouveau</em>/”<em>Jugendstil</em>” banyak mempengaruhi desain dari daerah ini. Revolusi Industri, Perang Dunia ke-1 dan ke-2 sangat berpengaruh terhadap gaya desain, menuju ke desain yang lebih praktis, realistis, tegas dan bisa diproduksi massal. Moralitas juga menjadi isu utama mengingat peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang terjadi dalam rangka Perang Dunia ke-1 dan ke-2 tersebut.</p>
<p>Desain-desain Swedia hari ini lekat dengan gaya desain industrial dan minimal atau “bersih” dan “efektif”. Ini dapat dilihat dari berbagai merek atau <em>brand</em> ternama yang berasal dari negara ini seperti Ericsson, IKEA, H&#038;M, Hasselblad, Koenigsegg, Filippa K., WESC, Absolut Vodka, Husqvarna, Tetra Pak, dan lain sebagainya. </p>
<p>Sama seperti negara-negara Skandinavia lain, pemerintah Swedia mempromosikan desain sebagai salah satu industri yang mendatangkan devisa. Untuk meningkatkan daya saing, pemerintah mendirikan institusi atau organisasi yang mempromosikan desain dengan cara mendokumentasikan dan memberikan insentif pada desainer untuk selalu berkarya.</p>
<p>Dengan kekayaan alam yang melimpah dan tradisi budaya folklor yang kuat, negara-negara Skandinavia memiliki sejarah kerajinan dan buah tangan yang panjang dan kaya. Pekerjaan kerajinan sudah ada sejak zaman Viking, berupa karya tekstil, lukisan cadas, sampai zaman pertengahan yang dapat dilihat dari dekorasi interior, perabotan, perhiasan, benda-benda dekorasi dan seremonial.  </p>
<p>Masyarakat kerajinan Swedia sendiri memiliki konsep “<em>beautifying everyday objects in a simple modern way for a substantial market</em>”, atau menciptakan benda-benda estetis namun tetap sesuai dengan zaman modern dan menurut permintaan pasar. Dengan fokus pada konsep ini, setiap barang kerajinan mestilah memiliki nilai guna dan jual untuk kebutuhan sehari-hari. Pelopornya adalah pengrajin bernama Wilhelm Kåge tahun 1917, yang banyak merancang barang-barang rumah tangga seperti cangkir, pot, vas dan lain-lain. Konsep ini dipandang sebagai seni non-elitis, atau seni untuk rakyat. Pergerakan ini kemudian membawa Swedia ke revolusi industri dan berusaha menembus pasar internasional. Beberapa perusahaan besar terkenal seperti Volvo, Saab, Electrolux, Lego, Ericofon, Luxo dan Poulsen mulai bermunculan.</p>
<p>Desain-desain dari Swedia tidak memerlukan elemen-elemen berlebihan. Banyak produk dari Swedia juga menggunakan bahan alam tanpa pemrosesan yang terlalu banyak, dibiarkan “<em>bare</em>” atau “seadanya”. Hal ini disebabkan oleh kekayaan alam dan keselarasan kehidupan manusianya dengan alam. Desain minimalis juga disebabkan oleh kebutuhan objek-objek untuk memiliki nilai fungsional yang tinggi, karena terkait dengan premis “<em>survivalism</em>”. Dalam arti kata lain, masyarakat Swedia, terutama di bagian utara, hidup di iklim yang tidak begitu bersahabat, oleh karena itu pemanfaatan maksimal bahan, materi dan desain diarahkan ke nilai fungsional dan praktikal. Barang-barang ini harus mudah diimplementasikan dan mudah digunakan, berdaya tahan tinggi dan sekaligus memiliki nilai estetis. Kalaupun ada dekorasi, itu adalah <em>vestige</em> atau “peninggalan” dari sejarah seni rupa abad ke-20 awal. Desain-desain Skandinavia sering disebut sebagai desain yang “demokratis”, dalam arti ia harus dapat diproduksi massal dan dinikmati oleh seluas mungkin khalayak.</p>
<p>Desain juga berkembang menjadi industri. Beberapa tahun terakhir jumlah biro desain dan tenaga kerja yang bekerja di bidang ini di Skandinavia meningkat secara signifikan. Di Swedia saja, jumlah biro desain adalah sejumlah 8.459 perusahaan, jika termasuk biro arsitektur maka jumlahnya meningkat menjadi 11.199 perusahaan. Jumlah pegawai yang bekerja di industri ini adalah 4.238 jiwa dan 9.177 jiwa jika termasuk biro arsitektur, dan kebanyakan adalah <em>small to medium enterprises</em> (SME) yang terdiri dari hanya tiga sampai empat pegawai (Nordic Innovation Center, 2005). Swedia menempati urutan tertinggi dalam jumlah-jumlah ini dibandingkan negara-negara lain di Skandinavia, kecuali bagian jumlah pegawai (termasuk biro arsitektur), yang dipegang Denmark dengan 10.369 jiwa.</p>
<p>Peningkatan jumlah perusahaan desain dan tenaga kerja yang bekerja di bidang ini sejak tahun 1993 sampai 2002 adalah 272%, atau hampir tiga kali lipat, terutama desain grafis yang meningkat 410%. Sebanyak 78% perusahaan desain terletak di Stockholm, Goteborg dan Malmo, dan 50% dari jumlah ini ada di daerah metropolitan Stockholm (Manchester Business School, 2006). Peningkatan jumlah ini juga berdasarkan permintaan jasa desain oleh industri lain, dengan sejumlah 72% dari 1.000 perusahaan non-desain yang disurvei mengatakan ada peningkatan permintaan jasa desain (SVID, 2004). Jumlah perputaran uang yang terjadi di industri desain Swedia tahun 2003 adalah Rp10 triliun (Nordic Innovation Center, 2005). Dari sisi pendidikan desain, jumlah mahasiswa yang terdaftar pada pendidikan desain formal meningkat tiga kali lipat dari 1993 ke 2003 (330%). Dengan angka ini, profesi desainer di Swedia cenderung berlatarbelakang pendidikan formal.</p>
<p>Pemerintah Swedia sudah melakukan beberapa insentif untuk mendorong perkembangan industri desain, karena mereka memandang industri ini cukup memberi banyak keuntungan bagi negara, baik secara finansial, sosial maupun kultural. Beberapa insiatif itu, seperti diuraikan oleh Nordic Innovation Center (2005), antara lain adalah:</p>
<ul>
<li><strong>Tahun 1996</strong>: Working Group on Architecture, Form and Design didirikan, dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan.</li>
<li>
<strong>Tahun 1998</strong>: Agenda for Design in the Future (<em>Handlingsprogrammet framtidsformer</em>) dirancang oleh parlemen Swedia, berisi enam tujuan utama negara dalam arsitektur dan desain.</li>
<li>
<strong>Tahun 2003, Januari</strong>: Swedish Industrial Design Foundation (SVID) dan Svensk Form (Masyarakat Desain dan Kerajinan Swedia) menerbitkan proposal “<em>Design as Development Power in Industry and Public Affairs</em>” kepada pemerintah, dan pemerintah mengucurkan dana Rp27 milyar untuk mendeklarasikan tahun 2005 sebagai “<em>Design Year</em>”. Dana ini juga digunakan untuk mendanai proyek-proyek lain yang meningkatkan daya saing &#038; potensi Usaha Kecil-Menengah (UKM) dalam bidang desain.</li>
<li>
<strong>Tahun 2004, Februari</strong>: The Council for Architecture, Form and Design didirikan oleh pemerintah berdasarkan Agenda for Design in the Future tahun 1998. Dewan ini beranggotakan beberapa profesional desain. Tujuan dewan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran, minat dan pengetahuan tentang arsitektur dan desain. Salah satu program kerjanya adalah memperjuangkan kepentingan desain dalam kebijakan sektor publik.</li>
<li>
<strong>Tahun 2005</strong>: “<em>Design Year</em>” atau “Tahun Desain” untuk seluruh Swedia yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah. Svensk Form menjadi panitianya. Tujuan dari “Design Year” ini adalah membangun peningkatan pemahaman desain jangka panjang di Swedia. Sekitar 150 badan pemerintah berpartisipasi, dengan cara mempertimbangkan desain pada setiap kebijakan dan pembelian (<em>procurement</em>) yang mereka laksanakan. Lebih dari 500 organisasi, negeri dan swasta, turut diundang untuk berpartisipasi. </li>
<li>
<strong>Tahun 2005</strong>: The Design-Year Group for Growth and Innovation didirikan sebagai hasil dari “<em>Design Year</em>” 2005, membantu mendukung pemerintah dan organisasi yang menjalankannya. Tugas utamanya adalah untuk mengevaluasi proyek-proyek berkaitan dengan desain dan hubungan antar organisasi, industri dan pemerintah. Pesertanya juga bagian dari The Council for Architecture, Form and Design.</li>
</ul>
<p>Dunia pendidikan desain di Swedia cukup terbangun dengan baik dengan hadirnya beragam institusi dan universitas yang terkait dengan dunia desain, seperti desain grafis, desain produk, busana, fotografi dan lainnya, terutama untuk tahap sarjana. Pada tahun ajaran 2002/2003 ada 7.072 mahasiswa yang mengambil jurusan terkait desain (Nordic Innovation Center, 2005). Hanya desain interior yang kurang diminati. Beberapa perguruan tinggi ternama untuk program desain adalah Beckman’s School of Design, Stockholm, Carl Malmsten’s Centre of Wood Technology and Design, Goteborg University, School of Design and Crafts, Kalmar-Nybro, School of Design, Konstfack, Stockholm; Lund University; Umeå Institute of Design, dan lainnya.</p>
<h3>Swedish Design Award</h3>
<p>Swedish Design Award (SDA) adalah penghargaan desain terkemuka di Swedia, yang diorganisir oleh Svensk Form. Diadakan dua tahun sekali sejak 2006, dahulunya penghargaan ini dinamakan &#8220;<i>Excellent Swedish Design Award</i>&#8221; dari tahun 1983 ke 2002. Disingkat menjadi “<em>Design S</em>”, penghargaan ini diberikan kepada mereka yang berkarya di bidang desain produk, jasa atau lingkungan tertentu. SDA menghargai individu desainer maupun perusahaan. Berbeda dengan tradisi penghargaan lain yang membaginya dalam kategori, penghargaan ini diberikan berdasarkan studi kasus setiap proyek atau perusahaan. Untuk memenangkan penghargaan ini, sebuah produk atau jasa desain mestilah:</p>
<ul>
<li>meningkatkan penjualan</li>
<li>
menentukan <em>brand positioning</em> yang sukses</li>
<li>
menyumbang secara signifikan pada pembangunan masyarakat</li>
<li>
menyelamatkan kehidupan</li>
<li>
menyederhanakan proses kerja tertentu</li>
<li>
membuka kemudahan akses</li>
<li>
membantu masyarakat mencapai masyarakat yang berkelanjutan</li>
<li>
membuat hidup menjadi mudah</li>
</ul>
<p>Hadiah yang diberikan tidak berupa uang tunai, tetapi <em>exposure</em> atau perhatian dari media massa, industri dna pemerintah-pemerintah negara lain dengan diadakannya bengkel, seminar, materi promosi, publikasi online dan rilis media. <em>Brand</em> “<em>Design S</em>” pun melekat pada produk-produk yang mereka hasilkan, yang dengan bangga bisa mereka tempelkan sebagai “label tanda kemenangan”. </p>
<h3>Svensk Form</h3>
<p>Seperti telah disebutkan pada uraian sebelumnya, Svensk Form adalah Masyarakat Desain dan Kerajinan Swedia, sebuah organisasi nirlaba yang berdasarkan keanggotaan, diberikan mandat oleh pemerintah Swedia untuk mempromosikan desain Swedia di dalam maupun luar negeri. Organisasi ini didirikan tahun 1845. Ketika itu ia didirikan untuk melindungi kualitas karya kerajinan Swedia yang mengalami “serangan” dari proses massal manufaktur industri yang menurunkan kualitas barang-barang karya kerajinan.</p>
<p>Beberapa tujuan organisasi ini adalah:</p>
<ul>
<li>mendemonstrasikan manfaat-manfaat desain yang baik untuk pembangunan sosial;</li>
<li>
menstimulasi pembangunan desain di Swedia;</li>
<li>
meningkatkan respek atau penghargaan pada karya-karya desain; dan</li>
<li>
mengembangkan dan mendalamkan sikap/pemahaman terhadap masalah-masalah bentuk dan desain.</li>
</ul>
<p>Lingkup kerja Svensk Form meliputi beragam spektrum ilmu dan terapan desain, seperti produk, servis/jasa, lingkungan, sampai bidang dari kerajinan sampai desain produk/industri. Svensk Form adalah penengah antara industri dan desainer, dan ia bekerja bersama desainer untuk melobi pemerintah soal kesadaran desain.</p>
<p>Publikasi yang dimilikinya antara lain majalah desain “<em>FORM</em>”, buletin yang diterbitkan teratur, situs web dan beberapa kegiatan periodikal di Stockholm serta secara nasional. </p>
<p>Selain memajukan pemahaman dan industri desain di Swedia, Svensk Form juga mempromosikan desain “hijau” atau berkelanjutan, yang mengajak desainer untuk menciptakan produk yang ramah lingkungan, ramah aspek sosial dan ramah ekonomi. Pertimbangan-pertimbangan ini terintegrasi dalam tahapan kehidupan sebuah produk mulai dari rancangan, manufaktur, pemasaran sampai komunikasi publik.</p>
<p>Organisasi ini memiliki 13 perwakilan regional di negara-negara bagian Swedia. Seluruh perwakilan ini melaksanakan program kerja terpusat dan daerah, yang temanya kultural dan industrial. Program-program kerjanya juga merambah dunia internasional, dengan publikasi majalah FORM secara internasional, mengikuti pameran, konferensi, <em>trade fair</em>, dan kunjungan kerja atau studi banding baik dari dalam ke luar negeri maupun sebaliknya. Svensk Form juga mengadakan kegiatan Pecha Kucha-nya sendiri, yaitu <em>sharing session</em> antara praktisi desain dan industri dalam format presentasi singkat.  Terkait dengan dunia pendidikan, Svensk Form juga mengadakan pameran-pameran karya universitas, beasiswa dan hadiah atau penghargaan khusus. </p>
<h3>Studi Kasus: IKEA</h3>
<p>IKEA adalah perusahaan swasta yang didaftarkan di Belanda, namun berasal dari selatan Swedia. Didirikan oleh Ingvar Kamprad ketika berumur 17 tahun, pada tahun 1943. Bisnis utamanya adalah menjual perabotan yang dikemas <em>flat</em> beserta aksesorisnya. Barang-barang IKEA biasanya dibawa pulang dalam kemasan rata/ringkas dan dirakit sendiri oleh pemiliknya. Konsep utama bisnis ini serupa dengan konsep desain Swedia dari dahulu, yakni menciptakan barang-barang bernilai desain tinggi, namun tetap menjawab kebutuhan masyarakat luas (non-elitis). Harga-harganya ditekan semurah mungkin. Saat ini, IKEA memiliki lebih dari 300 cabang di 37 negara di berbagai benua dan negara di dunia (Eropa, Amerika Utara, Asia dan Australia). Visi IKEA adalah untuk “Menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk banyak orang.” Berdasarkan visi ini, IKEA menyediakan berbagai produk fungsional yang didesain baik untuk rumah tangga. Harganya ditekan semurah mungkin tanpa kompromi terlalu besar pada kualitas dan dampaknya pada lingkungan. </p>
<p>Produk-produk IKEA kebanyakan memenuhi kebutuhan rumah tangga dan kantor, seperti keperluan makan, perabotan untuk kamar tidur, barang-barang yang bisa merorganisir (<em>storing items</em>), perabotan kantor sampai pernak-pernik aksesoris yang bisa membuat tempat tinggal atau kerja lebih hidup dengan desain yang apik. Setidaknya ada tiga prinsip perancangan produk IKEA, antara lain:</p>
<ul>
<li><strong>Desain</strong>: Desainer IKEA memulai rancangan dari anggaran atau harga jual, bukan sebaliknya. Dengan pengetahuan manufaktur yang memadai, desainer-desainer ini dapat mengetahui bagaimana rancangan yang baik diproduksi semurah mungkin.</li>
<li>
<strong>Fungsi</strong>: Produk-produk IKEA berfokus pada fungsi, yaitu pemenuhan kebutuhan. Setiap sudut, setiap warna, setiap bentuk dan setiap eksekusi memiliki maksud dan tujuan yang jelas.</li>
<li>
<strong>Harga rendah</strong>: Berbagai metode manufaktur/produksi ditelaah untuk mencapai harga serendah mungkin. Contohnya, memindahkan produksi ke negara-negara berkembang, menggunakan bahan dan metode produksi yang murah, dan menyerahkan pemasangan atau perakitan ke konsumer akhir (end consumer). Barang-barangnya dikirim <em>flat-packed</em> dalam kemasan ramping sehingga menghemat biaya.
</li>
</ul>
<p>Antara produk-produknya adalah karpet, kursi, tempat tidur, peralatan makan, meja kerja, meja makan, lemari, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Swedia telah lama menjadi pelopor dunia desain di dunia, bersama-sama dengan negara-negara Skandinavia lain. Ia bahkan menjadi pemimpin desain di daerah Skandinavia. Ciri-ciri utama desain Swedia adalah minimal, fungsional, ramah lingkungan dan non-elitis (mudah dipasarkan dan massal), yang juga berasal dari latar belakang geografi, sosial dan kultural negaranya. Strategi desain modern zaman ini pun mengikuti konsep ini, dan pemerintahnya menyadari betul bagaimana industri desain berkontribusi tidak hanya untuk industri desain itu sendiri, tetapi untuk industri lain dan kesehatan ekonomi nasional secara umum. Pemerintahnya banyak memberikan insentif pada industri desain melalui mandat organisasi dan pengembangan pendidikan desain.</p>
<p>Indonesia harus mempelajari bagaimana Swedia membuat konsensus tentang perkembangan desainnya, kemudian merumuskan apa yang harus mereka lakukan terhadap khazanah seni rupa, kerajinan dan desain tersebut, untuk kemudian dijadikan komoditas yang dapat membantu perekonomian nasional.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li><a href="http://www.sweden.se/eng/Home/Lifestyle/Fashion-design/Facts/Swedish-design/ ">Design: Swedish design knows no bounds &#8211; SWEDEN.SE</a>. (Desember 2010). Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
Basio, Jim. (23 Januari 2009). <a href="http://viget.com/inspire/swedish-design-inspiration/">Swedish Design Inspiration | Viget</a>. Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
<a href="www.sverigeturism.se/smorgasbord/smorgasbord/society/history/">History: The Birth of The Swedish Nation State</a>. (n.d.). Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
Chopra, Riddhima. (31 Desember 2009). <a href="http://www.slideshare.net/riddhimachopra/ikea-case-study">IKEA Case Study</a>. Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
U.S. Department of State. <a href="http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/2880.htm#econ ">Sweden</a>. (19 Juli 2011). Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
Svensk Form. <a href="http://www.svenskform.se/en/programme-svensk-form ">About Svensk Form</a>. (n.d.). Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
<a href="http://www.sweden.se/eng/Home/Quick-facts/">Quick facts about Sweden</a>. (n.d.). Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
Centre for Business Research &#8211; Manchester Business School. (2006). <a href="http://www.bis.gov.uk/files/file21906.pdf">International evidence on design, Near Final Report for the DTI</a>. Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
Mitchell, Rosie. (n.d.). <a href="http://michelangelo.pixel-online.org/files/Manual_of_fine_arts/New%20Manual%2013%20scandinavia.pdf">Art of Scandinavia: Design in the 20th Century</a>. Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
Nordic Innovation Centre, The Future in Design Research Team. (2004). <a href="http://www.nordicinnovation.org/Global/_Publications/Reports/2005/The%20Future%20in%20Design%20-%20the%20competitiveness%20and%20industrial%20dynamics%20of%20the%20Nordic%20design%20industry.pdf">The Future in Design: The Competitiveness and Industrial Dynamics of the Nordic Design Country</a>. Diakses pada 16 Maret 2012.
</li>
<li>
Power, Dominic; Lindström, Joel; &#038; Hallencreutz, Daniel. (2004). Country Report: The Swedish Design Industry. Nordic Innovation Centre: Oslo.
</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/dari-kami/kenapa-dunia-desain-swedia-begitu-terkenal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- This Quick Cache file was built for (  ranselkecil.com/feed/ ) in 0.53968 seconds, on May 18th, 2012 at 11:44 am UTC. -->
<!-- This Quick Cache file will automatically expire ( and be re-built automatically ) on May 18th, 2012 at 12:44 pm UTC -->
