<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ranselkecil.com</title>
	<atom:link href="http://ranselkecil.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ranselkecil.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Feb 2012 01:42:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Menyesapi Panorama Wat Arun</title>
		<link>http://ranselkecil.com/foto/menyesapi-panorama-wat-arun/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/foto/menyesapi-panorama-wat-arun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 15:52:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setepanus Edi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2866</guid>
		<description><![CDATA[Jam nyaris berdetak ke angka sembilan saat saya sampai di Wat Arun. Keindahan Wat Arun yang berdiri kokoh menantang matahari, mengundang decak kagum saya. Begitu menarik, unik dan memesona. Sejenak saya menatap langit dan menghela nafas, lalu menyisir setiap sudut bangunan yang memiliki arsitektur sangat megah ini. Gontai langkah saya pun perlahan mengukir lantai. Potongan kaca dan keramik warna-warni pada dindingnya membuat bangunan bersejarah tersebut tampak semakin indah dan elegan. Didorong penasaran yang tinggi untuk menyaksikan pemandangan yang lebih leluasa, saya mencoba mengumpulkan keberanian mendaki anak tangga yang menanjak tajam.  Sungguh memanjakan mata. Rasa lelah seolah terbayar lunas, manakala disuguhkan panorama memukau. Di atas, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Tuhan. 

Ah, beginilah seharusnya hidup. Wat Arun memang menyuguhkan 'surga' bagi pecinta wisata. 

<img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/Wat-Arun-The-Temple-of-The-Dawn.jpg" alt="Wat Arun, Kuil Sang Senja" title="Wat Arun, Kuil Sang Senja" />
<span class="caption">Wat Arun, Kuil Sang Senja</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jam nyaris berdetak ke angka sembilan saat saya sampai di Wat Arun. Keindahan Wat Arun yang berdiri kokoh menantang matahari, mengundang decak kagum saya. Begitu menarik, unik dan memesona. Sejenak saya menatap langit dan menghela nafas, lalu menyisir setiap sudut bangunan yang memiliki arsitektur sangat megah ini. Gontai langkah saya pun perlahan mengukir lantai. Potongan kaca dan keramik warna-warni pada dindingnya membuat bangunan bersejarah tersebut tampak semakin indah dan elegan. Didorong penasaran yang tinggi untuk menyaksikan pemandangan yang lebih leluasa, saya mencoba mengumpulkan keberanian mendaki anak tangga yang menanjak tajam.  Sungguh memanjakan mata. Rasa lelah seolah terbayar lunas, manakala disuguhkan panorama memukau. Di atas, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Tuhan. </p>
<p>Ah, beginilah seharusnya hidup. Wat Arun memang menyuguhkan &#8216;surga&#8217; bagi pecinta wisata. </p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/Wat-Arun-The-Temple-of-The-Dawn.jpg" alt="Wat Arun, Kuil Sang Senja" title="Wat Arun, Kuil Sang Senja" /><br />
<span class="caption">Wat Arun, Kuil Sang Senja</span></p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/Looking-up-Phra-Prang-pagoda-at-Wat-Arun-temple.jpg" alt="Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun" title="Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun" /><br />
<span class="caption">Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun</span></p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/The-top-of-Wat-Arun.jpg" alt="Menara Wat Arun" title="Menara Wat Arun" /><br />
<span class="caption">Menara Wat Arun</span></p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/Detail-from-Wat-Arun3.jpg" alt="Detil Bangunan Wat Arun" title="Detil Bangunan Wat Arun" /><br />
<span class="caption">Detil Bangunan Wat Arun</span></p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/The-Walking-Monk1.jpg" alt="Biksu-Biksu Berjalan" title="Biksu-Biksu Berjalan" /><br />
<span class="caption">Biksu-Biksu Berjalan</span></p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/View-from-Wat-Arun.jpg" alt="Kota Bangkok dari Wat Arun" title="Kota Bangkok dari Wat Arun" /><br />
<span class="caption">Kota Bangkok dari Wat Arun</span></p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 16/02/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/foto/menyesapi-panorama-wat-arun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengunjungi Museum Batik Pekalongan</title>
		<link>http://ranselkecil.com/tempat/mengunjungi-museum-batik-pekalongan/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/tempat/mengunjungi-museum-batik-pekalongan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 04:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alie Poedjakusuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2848</guid>
		<description><![CDATA[Menyusuri pantai utara Jawa, kita dapat menemukan berbagai warisan budaya. Batik, yang jadi warisan dunia versi UNESCO, memiliki akar kuat di pantai utara (pantura). Pekalongan, kota di pesisir utara Jawa, adalah salah satunya. Menamakan diri "kota batik", Pekalongan memang sudah sejak dulu dikenal sebagai salah satu sentra penghasil batik, disamping Yogyakarta dan Solo tentunya.

Tidak punya cukup waktu berkeliling di pusat grosir batik atau perkampungan sentra pembuatan batik, saya mencoba mengunjungi Museum Batik Pekalongan. Mentari yang membakar khas pesisir sudah mulai bergeser ke barat. Jam buka museum hampir habis, tapi sayang rasanya jika tidak berkeliling. Saya membayar tiket masuk museum Rp5.000,- di pintu masuk.

<img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/DSC_6086a.jpg" alt="Fasad Museum Batik Pekalongan" title="Fasad Museum Batik Pekalongan" />
<span class="caption">Fasad Museum Batik Pekalongan</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyusuri pantai utara Jawa, kita dapat menemukan berbagai warisan budaya. Batik, yang jadi warisan dunia versi UNESCO, memiliki akar kuat di pantai utara (pantura). Pekalongan, kota di pesisir utara Jawa, adalah salah satunya. Menamakan diri &#8220;kota batik&#8221;, Pekalongan memang sudah sejak dulu dikenal sebagai salah satu sentra penghasil batik, disamping Yogyakarta dan Solo tentunya.</p>
<p>Tidak punya cukup waktu berkeliling di pusat grosir batik atau perkampungan sentra pembuatan batik, saya mencoba mengunjungi Museum Batik Pekalongan. Mentari yang membakar khas pesisir sudah mulai bergeser ke barat. Jam buka museum hampir habis, tapi sayang rasanya jika tidak berkeliling. Saya membayar tiket masuk museum Rp5.000,- di pintu masuk.</p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/DSC_6086a.jpg" alt="Fasad Museum Batik Pekalongan" title="Fasad Museum Batik Pekalongan" /><br />
<span class="caption">Fasad Museum Batik Pekalongan</span></p>
<p>Pengunjung museum yang terletak di Jl. Jatayu ini menempati gedung peninggalan kolonial. Dahulu, gedung dipakai sebagai kantor walikota, dan kantor pabrik gula. Bangunan berlanggam <em>art deco</em> ini disulap menjadi museum dengan tiga ruang pamer.</p>
<p>Saya didampingi pemandu museum berparas ayu memasuki ketiga ruang pamer. Kain-kain batik khas pesisir Jawa di pamerkan di ruangan utama. Dari motif batik Cirebon, Pekalongan, hingga Lasem (Rembang) dapat dijumpai di sini. Canting, dan bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatannya turut pula dipamerkan.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/DSC_6146.jpg" alt="Beberapa Koleksi Museum Batik Pekalongan" title="Beberapa Koleksi Museum Batik Pekalongan" width="500" /><br />
<span class="caption">Beberapa Koleksi Museum Batik Pekalongan</span></p>
<p>Pemandu memang melarang saya memotret dan menyentuh koleksi. Saya mengabaikan larangan pertama. Sambil berkeliling, kamera yang menempel di pinggang saya jepretkan tanpa lampu kilat. Sekedar koleksi, pikir saya singkat!</p>
<p>Saya kurang berminat di ruang pamer kedua, yang memamerkan koleksi batik istri presiden dan wakilnya. Koleksi-koleksi di ruangan ini disumbangkan pertengahan Juli tahun ini, dan saat ini masih dipamerkan. Formalitas dan pencitraan agaknya tidak terpisahkan juga di museum yang buka setiap hari pukul 9.00-15.00 WIB ini.</p>
<p>Ruang pamer terakhir menyuguhkan koleksi kain batik dengan motif-motif khas Yogyakarta dan Solo. Beberapa peristiwa lampau yang turut menyertakan batik pun ditampilkan dalam foto-foto.</p>
<p>Ruang pamer agaknya tidak dapat mengambil hati saya, keingintahuan lebih terpuaskan di selasar <em>workshop</em>. Setelah kompor dinyalakan, lilin-lilin mulai cair, canting-canting mungil pun mulai menari di atas kain mori.</p>
<p>Saya beruntung, bersama beberapa rekan seperjalanan, kami tidak dimintai biaya tambahan. Biasanya, pengunjung yang akan mencoba membatik harus membayar ekstra untuk <em>workshop</em> semacam ini.</p>
<p>Tidak mudah, itu yang saya rasakan ketika mulai menulisi kain, walaupun dengan nama saya sendiri, bukan menggambar bunga, atau motif lainnya. Lilin yang saya goreskan tidak merata, seringkali terlalu banyak di awal, menembus kain menyentuh kulit. Panas.</p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/DSC_6187.jpg" alt="Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan" title="Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan" /><br />
<span class="caption">Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan</span></p>
<p>Blok-blok motif untuk batik cetak juga tersedia, beragam motifnya. Pembilasan dan pewarnaan kain ditampilkan di museum ini dengan sederhana, mungkin sesederhana yang dilakukan para perajin batik. Museum dengan koleksi kurang lebih 1.700-an motif batik ini jelas sayang dilewatkan jika Anda punya waktu mampir disela perjalanan Anda melintasi pantura.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/DSC_6147.jpg" alt="Canting dan Malam" title="Canting dan Malam" width="500" height="832" /><br />
<span class="caption">Canting dan Malam</span></p>
<p>Bagi pecinta batik, berkunjunglah secara rutin. Setiap empat bulan koleksi akan diganti. Mengingat keterbatasan ruang pamer, tidak semua koleksi ditampilkan sekaligus, tapi bergiliran. Sayang, koleksi motif batik Semarang dan Maluku yang saya harap dapat dijumpai di sini belum ada. Mungkin lain waktu ketika saya kembali, koleksi yang saya harapkan sudah bisa dinikmati.</p>
<p>Sebelum menempuh kembali perjalanan, sempatkanlah menyeberang jalan, dan mengabadikan foto di tugu-tugu aksara bermotif batik yang membentuk kata &#8220;BATIK&#8221;.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 09/02/2012</li</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/tempat/mengunjungi-museum-batik-pekalongan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Praha, Si Tua yang Eksotis</title>
		<link>http://ranselkecil.com/catatan/praha-si-tua-yang-eksotis/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/praha-si-tua-yang-eksotis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 06:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rico Dwi Nugrahatama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2831</guid>
		<description><![CDATA[<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/Astronomical-Clock.jpg" alt="Astronomical Clock" title="Astronomical Clock" width="500" />
<span class="caption">Astronomical Clock</span>

"<em>The city is like fairytale</em>", demikian kata kolega saya yang berasal dari Jerman mengomentari kecantikan ibukota negara tetangganya. Ya, ia berkomentar tentang Praha, ibukota Republik Ceko. Tidak ada lagi istilah Cekoslowakia, mengingat Ceko dan Slowakia telah memisahkan diri menjadi negara merdeka sejak tahun 1993. Benar saja, selama kurang lebih tujuh jam perjalanan bus dari Budapest, Hongaria, tempat saya menimba ilmu, saya disuguhi pemandangan yang agak berbeda. Memasuki ‘gerbang’ Praha, pertama-tama kita akan melihat banyak perusahaan multinasional di kanan dan kiri maupun gedung-gedung bertingkat. Dari kejauhan, menariknya, bangunan Prague Castle yang menjulang dapat terlihat di antara bukit-bukit. Saya semakin tidak sabar dibuatnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>The city is like fairy tale</em>&#8220;, demikian kata kolega saya yang berasal dari Jerman mengomentari kecantikan ibukota negara tetangganya. Ya, ia berkomentar tentang Praha, ibukota Republik Ceko. Tidak ada lagi istilah Cekoslowakia, mengingat Ceko dan Slowakia telah memisahkan diri menjadi negara merdeka sejak tahun 1993. Benar saja, selama kurang lebih tujuh jam perjalanan bus dari Budapest, Hongaria, tempat saya menimba ilmu, saya disuguhi pemandangan yang agak berbeda. Memasuki ‘gerbang’ Praha, pertama-tama kita akan melihat banyak perusahaan multinasional di kanan dan kiri maupun gedung-gedung bertingkat. Dari kejauhan, menariknya, bangunan Prague Castle yang menjulang dapat terlihat di antara bukit-bukit. Saya semakin tidak sabar dibuatnya.</p>
<p>Tiba di stasiun bus Florence, berbekal <em>single ticket</em> seharga 24 koruna (sekitar 12.000 rupiah) saya yang dijemput kawan CouchSurfing lantas menjajal transportasi publik di Ceko. Seperti tempat-tempat lain di Eropa pada umumnya, jalur metro, tram, dan bus di Ceko sangat terpadu. Tiket saya berlaku satu jam dan dapat digunakan untuk semua jenis transportasi. Langit yang semakin gelap membuat saya semakin terdorong untuk sesegera mungkin sampai di &#8216;<em>centrum</em>&#8216; atau pusat kota.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/Old-Town-Square.jpg" alt="Old Town Square" title="Old Town Square" width="500" /><br />
<span class="caption">Old Town Square</span></p>
<p>Old Town Square! Saya masih ternganga betapa indahnya bangunan-bangunan asli warisan Bohemia di sekitarnya. Powder Gate, sebuah gerbang kuno mistik dari abad ke-13 akan menyambut Anda begitu melangkahkan kaki menuju Old Town. Tak jauh dari situ terdapat Municipal House, yakni bangunan cantik khas Art Nouveau yang dalam masa Revolusi Velvet digunakan sebagai tempat pertama bertemunya pemerintah komunis Cekoslowakia dan pemerintahan sipil yang baru. Tibalah saatnya berkunjung ke Old Town Hall, tempat hampir seluruh turis internasional berkumpul. Jangan lupakan pengalaman seumur hidup melihat jam astronomikal atau Old Town Orloj yang tersohor! Setiap satu jam sekali, jam ini berbunyi dan uniknya, terdapat boneka-boneka yang bergerak, lengkap dengan suasana mistis seperti keberadaan tengkorak ataupun hantu-hantu (masih dalam boneka).</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/Charles-Bridge.jpg" alt="Charles Bridge" title="Charles Bridge" width="500" /><br />
<span class="caption">Charles Bridge</span></p>
<p>Malam itu pula saya berjalan melewati Charles Bridge, yang juga menjadi salah satu ikon Praha. Jembatan tertua di Praha ini secara strategis menghubungkan Old Town dan Lesser Town. Di jembatan ini juga mengalir Sungai Vltava. Saya tidak tahu alasannya, tetapi jelas sekali kesan yang saya dapat tentang senja di Praha adalah tua, mistis, dan senyap. Berbeda sekali dengan kegemerlapan kota Budapest, misalnya. Mungkin ini yang memang ditonjolkan oleh pariwisata di Praha, bahwa untuk menarik sebanyak-banyaknya wisatawan adalah dengan memiliki keunggulan kompetitif. Ah, andai saja pariwisata Indonesia memiliki pemahaman yang sama, pikirku.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/Astronomical-Clock.jpg" alt="Astronomical Clock" title="Astronomical Clock" width="500" /><br />
<span class="caption">Astronomical Clock</span></p>
<p>Keesokan harinya saya bepergian ke salah satu daerah wajib-kunjung di Praha, yakni Prague Castle. Inilah kompleks kastil terluas di seluruh Praha. Di dalamnya terdapat St. Vitus Cathedral yang bernuansa <em>gothic</em>. Sulit mendeskripsikannya, karena selain saya bukan ahlinya, katedral ini menyimpan pesona tersendiri. Sisi-sisi yang runcing menjulang, hitam, ditambah patung-patung iblis semakin menambah kesan menyeramkan. Tepat di belakang katedral ini terdapat area yang dinamakan Hradcany. Bangunan-bangunan di sekitarnya tidak kalah cantik, semisal Schwarzenberg Palace yang mudah dikenali keberadaannya berupa arsitektur kaya khas Sgraffito yang dibangun pada abad ke-16. Pemandangan Golden Lane tidak boleh terlewatkan, yakni jalanan tersempit di kawasan Prague Castle bahkan Praha sekalipun. Di dalamnya terdapat miniatur-miniatur rumah di masa lalu lengkap dengan aksesorisnya. </p>
<p>Di sisi baratdaya Hradcany ini, terdapat tempat wisata yang tidak kalah menarik. Kompleks gereja Strahov Monastery, adalah salah satu yang tertua di Republik Ceko. Kompleks ini bergaya Baroque dan ditemukan pada tahun 1140. Di tempat lain, Lesser Town menawarkan gereja St. Nicholas, masih bergaya sama (Baroque) dengan arsitektur yang juga indah. Atau Josefov, tempat bermukimnya orang-orang Yahudi di Praha. Lokasi yang sangat dekat dari Old Town ini terkenal berkat Parizska Street-nya (baca: Paris), kawasan super elit dimana puluhan bahkan ratusan rumah mode terkenal dunia berkumpul. Old New Synagogue, sinagog tertua di seluruh daratan Eropa berada di sini. Terdapat pula Old Jewish Cemetery, tempat dimana orang-orang Yahudi dikebumikan maupun sinagog lain yang tidak kalah tuanya, Pinkas Synagogue. Saya sendiri sempat mengunjungi beberapa bangunan berarsitektur megah lain seperti National Museum (Wenceslas Square) dan National Theatre yang keduanya bergaya Neo-Renaissance atau The Dancing House yang terkenal berkat gedungnya yang tak lazim (baca: miring). Kesemuanya semakin meyakinkan saya bahwa Praha adalah kota tua yang budaya Eropa-nya amat kental sekaligus beragam.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/St.-Vitus-Cathedral.jpg" alt="St. Vitus Cathedral" title="St. Vitus Cathedral" width="500" /><br />
<span class="caption">St. Vitus Cathedral</span></p>
<p>Seperti biasa, setiap awal minggu perkuliahan dosen saya selalu menanyakan ke manakah kami selama liburan. Ketika tiba giliran saya, saya menjawab dengan mantap: Ceko! Ia, yang orang Hongaria, bertanya kembali (masih dalam bahasa Hongaria) yang kurang lebih artinya “<em>Which one is the best, Budapest or Prague?</em>” Karena memang bingung, awalnya saya jawab keduanya sama-sama kota yang cantik. Tetapi karena dipaksa memilih, saya katakan “<em>Prague, because the city seems older than Budapest</em>”. Dosen saya langsung berujar, “<em>Yes, exactly, because Prague was safer during World War I and II. But here in Budapest, bombs were everywhere at that time</em>”.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 08/02/2012</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/praha-si-tua-yang-eksotis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbincang Bersama Jejak Petjinan</title>
		<link>http://ranselkecil.com/dari-kami/berbincang-bersama-jejak-petjinan/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/dari-kami/berbincang-bersama-jejak-petjinan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 11:09:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2808</guid>
		<description><![CDATA[Tidak banyak yang bergerak sendiri untuk memajukan pemahaman budaya di Indonesia, sekaligus mempromosikan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan. Salah satunya adalah Jejak Petjinan, sebuah inisiatif seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa untuk mengangkat warisan budaya Tionghoa yang ternyata usianya lebih panjang dari negara Indonesia itu sendiri. Kami berkesempatan mewawancarai Paulina Mayasari, penggagas program ini beberapa waktu lalu. Program ini mendapat <a href="http://www.unaoc.org/actions/grants-and-competitions/wifi/championing-change/2010-winners/">penghargaan The Intercultural Innovation Award</a> yang diselenggarakan bersama oleh United Nations Alliance of Civilizations dan BMW Group. Berkat usahanya ini, Paulina Mayasari diundang ke Rio de Janeiro tahun 2010 untuk menghadiri acara bertajuk 2010 Marketplace of Ideas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/Screen-Shot-2011-02-02-at-5.53.46-PM.png" alt="Logo Komunitas Jejak Petjinan" title="Logo Komunitas Jejak Petjinan" width="500" /></p>
<p>Tidak banyak yang bergerak sendiri untuk memajukan pemahaman budaya di Indonesia, sekaligus mempromosikan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan. Salah satunya adalah Jejak Petjinan, sebuah inisiatif seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa untuk mengangkat warisan budaya Tionghoa yang ternyata usianya lebih panjang dari negara Indonesia itu sendiri. Kami berkesempatan mewawancarai Paulina Mayasari, penggagas program ini beberapa waktu lalu. Program ini mendapat <a href="http://www.unaoc.org/actions/grants-and-competitions/wifi/championing-change/2010-winners/">penghargaan The Intercultural Innovation Award</a> yang diselenggarakan bersama oleh United Nations Alliance of Civilizations dan BMW Group. Berkat usahanya ini, Paulina Mayasari diundang ke Rio de Janeiro tahun 2010 untuk menghadiri acara bertajuk 2010 Marketplace of Ideas.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/28267_122915717750274_110223579019488_108661_7423347_n.jpg" alt="Paulina Mayasari dan Franz Magnis-Suseno" title="Paulina Mayasari dan Franz Magnis-Suseno" width="500" /><br />
<span class="caption">Paulina Mayasari dan Franz Magnis-Suseno. Foto hak cipta Jejak Petjinan/Riyanto Dedek Lesmana.</span></p>
<p>Berikut cuplikan wawancaranya.</p>
<h3>Apa itu Jejak Petjinan?</h3>
<p>Jejak Petjinan adalah komunitas yang ingin menelusuri jejak Tionghoa di Indonesia, dan kami menceritakan hasil penelusuran itu melalui acara wisata budaya bernama &#8220;Melantjong Petjinan Soerabaia&#8221;.</p>
<h3>Apa yang mengawali atau menginspirasi lahirnya Jejak Petjinan?</h3>
<p>Sebagai orang Tionghoa, saya merasa tradisi masyarakat Tionghoa sudah mulai terkikis. Saya suka bingung bertanya kepada orang yang lebih tua dan tidak ada yang tahu, itu juga yang membuat saya mulai mencari tahu makna-makna di balik tradisi yang masih dijalankan sampai sekarang.</p>
<p>Waktu peristiwa Mei 1998, saya masih kuliah di Universitas Trisakti. Sempat <i>shock</i> dan tidak paham dengan peristiwa itu, kenapa kami, Tionghoa, masih diperlakukan seperti itu. Sempat baca berita juga tentang Teguh Karya yang juga <i>shock</i> atas peristiwa itu, lantas kesehatannya menurun dan akhirnya beliau meninggal. Saya jadi berpikir, bahkan seorang yang besar seperti dia, sudah berkarya begitu banyak untuk Indonesia pun bisa <i>shock</i> dan kurang bisa menerima kenyataan itu, apalagi saya. Saya bahkan sempet ingin jadi warga negara lain. Saya jadi rajin mencari informasi tentang program <i>permanent residence</i>, <i>green card</i>, dan sejenisnya.</p>
<p>Lalu lama kelamaan, saya melihat di negara lain pun sedikit banyak para pendatang juga selalu mengalami hal-hal seperti diskriminasi dan ketidakadilan lainnya. Saya juga mendengar banyak cerita dari teman2 saya yang pernah sekolah dan tinggal di luar negeri. Semuanya tergantung pada dirinya sendiri, apakah mau diam saja atau melakukan sesuatu untuk merubah keadaan. Saya putuskan untuk melakukan sesuatu dan Jejak Petjinan ini awalnya. </p>
<h3>Kegiatan apa sajakah yang sudah dilaksanakan? Apa bentuknya?</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/250441_205142962860882_110223579019488_504403_8036249_n.jpg" alt="Melancong Petjinan Batavia (1)" title="KMelancong Petjinan Batavia (1)" width="500" /><br />
<span class="caption">Melancong Petjinan Batavia (1). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.</span></p>
<p>Kegiatan yang sudah pernah dilakukan Jejak Petjinan antara lain pameran foto bersama, kumpul-kumpul (&#8220;kumkum&#8221;/&#8221;kopdar&#8221;) Jejak Petjinan, &#8220;cangkrukan&#8221; bareng Jejak Petjinan, &#8220;ik&#8217;ol&#8217;san&#8221; (&#8220;Ikutan Ngobrol Santai&#8221;), juga SKETSA (Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara). Ke depan, saya ingin sekali di Indonesia ada Chinese Indonesian Cultural Centre, semacam pusat kebudayaan Tionghoa. Kenapa dari Jepang ada, Belanda juga, tapi dari suku-suku atau etnis-etnis di Indonesia sendiri tidak ada? Padahal, suku/etnis di Indonesia banyak sekali!</p>
<p>Nah, di pusat kebudayaan ini, kita bisa mencari data tentang jejak Tionghoa di Indonesia, bisa belajar budaya, makanan, tradisi, semuanya. Sekarang ini kami sedang mengumpulkan data dengan membuat gerakan bernama SKETSA, Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara. Kenapa Nusantara? karena Tionghoa di Indonesia sudah ada sebelum Indonesia ada!</p>
<p>Langkah pertama gerakan ini kami wujudkan dalam bentuk <a href="www.sketsa.jejakpetjinan.org">situs web</a>, yang berbentuk wiki. Situ ini bisa dikerjakan ramai-ramai, siapapun yang berminat untuk membantu mengumpulkan, silakan daftar dan login, lalu bisa ikut mengerjakan. Rencana ke depannya akan ada pameran kelilingnya juga, tapi ini tunggu tanggal mainnya, ya!</p>
<h3>Bagaimana hasil atau dampak dari kegiatan-kegiatan tersebut? Apa respon masyarakat?</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/247933_205151649526680_110223579019488_504495_2822618_n.jpg" alt="Melancong Petjinan Batavia (2)" title="Melancong Petjinan Batavia (2)" width="500" /><br />
<span class="caption">Melancong Petjinan Batavia (2). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.</span></p>
<p>Mereka menyambut hangat ide-ide acara yang diadakan ini. Dari hasil kuesioner yang kami adakan, hampir semua menganggap acara ini bagus, menambah wawasan dan pengetahuan serta bersemangat untuk mengikuti acara-acara berikutnya. </p>
<h3>Menurut Jejak Petjinan, apakah bentuk promosi pariwisata yang paling baik untuk Indonesia? Apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara independen selama ini dianggap lebih efektif dari program pemerintah?</h3>
<p>Jejak Petjinan tidak punya kapasitas untuk menjawab problematika pariwisata Indonesia. Namun, kalau kami diperkenankan untuk memberikan pendapat, kadang-kadang birokrasi dan peraturan pemerintah memang cenderung mengekang kreativitas dan hanya mengakomodir kepentingan dari sudut pandang pemerintah saja. Jadinya program pemerintah sering terkesan tidak sampai sasaran atau tidak efektif. </p>
<h3>Kendala-kendala seperti apa yang dihadapi di lapangan ketika melaksanakan kegiatan?</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/247488_205151069526738_110223579019488_504491_5521457_n.jpg" alt="Melancong Petjinan Batavia (3)" title="Melancong Petjinan Batavia (3)" width="500" /><br />
<span class="caption">Melancong Petjinan Batavia (3). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.</span></p>
<p>Banyak, pertama tidak banyak orang Tionghoa terutama dari kalangan muda, yang tertarik untuk menyediakan waktu untuk membantu mengembangkan komunitas ini. Selain itu, minat masyarakat untuk pelestarian juga kurang, apalagi dananya.</p>
<p>Selain itu, untuk membuat konsep tema acara seperti ini tidak mudah, karena tempat yang kami datangi mungkin belum diketahui orang banyak, hampir tidak ada data tentang tempat tersebut. Kami perlu wawancara, survei, baca buku, dan menghabiskan waktu untuk mencari data.</p>
<h3>Apa rencana ke depan?</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/32075_116232545085258_110223579019488_80865_198630_n.jpg" alt="Kartu Pos Jejak Petjinan" title="Kartu Pos Jejak Petjinan" width="500" /><br />
<span class="caption">Kartu Pos Jejak Petjinan. Foto hak cipta Jejak Petjinan/Paulina Mayasari.</span></p>
<p>Yang ingin dicapai adalah adanya sebuah sumber atau pusat informasi yang selalu mutakhir dan akurat tentang Tionghoa di Indonesia, di mana pengunjung bisa mencari tahu apa saja tentang jejak Tionghoa di Indonesia. Ini kami mulai dengan gerakan SKETSA, gerakan pengumpulan data Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara. </p>
<p>Melalui Melantjong Petjinan Soerabaia, Jejak Petjinan ingin mengumpulkan orang-orang yang punya rasa ingin tahu yang sama mengenai jejak Tionghoa di Indonesia dalam situasi dan kondisi rileks sehingga hilang rasa enggan untuk tersenyum dan menyapa dengan sekitarnya. Harapannya, lama-kelamaan tidak ada pagar antar etnis Tionghoa dengan etnis lain di Indonesia, sehingga hilanglah stereotipe-stereotipe yang buruk, akhirnya dapat melihat apa adanya. Terkadang, ada laporan dari narasumber bahwa para peserta datang lagi sendiri ataupun beramai-ramai dan berinteraksi dengan penduduk lagi sampai puas. </p>
<p>Terima kasih kami ucapkan kepada Paulina Mayasari yang bersedia diwawancara.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Foto-foto diambil dengan izin dari <a href="http://www.facebook.com/jejakpetjinan">halaman Facebook Jejak Petjinan</a>.</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/dari-kami/berbincang-bersama-jejak-petjinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusuri Heningnya Gangga Di Varanasi</title>
		<link>http://ranselkecil.com/foto/menyusuri-heningnya-gangga-di-varanasi/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/foto/menyusuri-heningnya-gangga-di-varanasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 10:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mulia Idznillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2801</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu saya sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Dari jendela kamar atas tempat saya menginap saya mengintip ke arah langit, saat itu ia masih berwarna biru tua dengan rona keunguan. Matahari bahkan belum tampak. Lalu, tiba-tiba, saya mendengar suara dari arah bawah, tatapan saya pun teralihkan. Saya akhirnya mengamati gang sempit di depan pintu penginapan, ternyata sudah banyak orang berlalu-lalang. Ya, di Varanasi denyut kehidupan memang dimulai lebih awal dibandingkan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi di India. Ditemani oleh dua orang teman seperjalanan, Daniel dan Vasanti, sayapun bergegas pergi keluar penginapan, ke arah tepian Sungai Gangga demi mendapati perahu sewaan yang bisa kami pakai menyusuri sungai. Salah satu hal yang wajib wisatawan lakukan ketika sedang mengunjungi kota Varanasi, katanya. Ditemani warga lokal pemilik perahu yang kami temui di jalan, sampailah kami bertiga di tepian sungai, dekat dengan dek kapal.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/suasana-pagi-di-sungai-gangga.jpg" alt="Suasana Pagi di Sungai Gangga" title="Suasana Pagi di Sungai Gangga" class="full" />
<span class="caption">Suasana Pagi di Sungai Gangga</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu saya sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Dari jendela kamar atas tempat saya menginap saya mengintip ke arah langit, saat itu ia masih berwarna biru tua dengan rona keunguan. Matahari bahkan belum tampak. Lalu, tiba-tiba, saya mendengar suara dari arah bawah, tatapan saya pun teralihkan. Saya akhirnya mengamati gang sempit di depan pintu penginapan, ternyata sudah banyak orang berlalu-lalang. Ya, di Varanasi denyut kehidupan memang dimulai lebih awal dibandingkan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi di India. Ditemani oleh dua orang teman seperjalanan, Daniel dan Vasanti, sayapun bergegas pergi keluar penginapan, ke arah tepian Sungai Gangga demi mendapati perahu sewaan yang bisa kami pakai menyusuri sungai. Salah satu hal yang wajib wisatawan lakukan ketika sedang mengunjungi kota Varanasi, katanya. Ditemani warga lokal pemilik perahu yang kami temui di jalan, sampailah kami bertiga di tepian sungai, dekat dengan dek kapal.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/suasana-pagi-di-sungai-gangga.jpg" alt="Suasana Pagi di Sungai Gangga" title="Suasana Pagi di Sungai Gangga" class="full" /><br />
<span class="caption">Suasana Pagi di Sungai Gangga</span></p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/gadis-penjual-bunga.jpg" alt="Gadis Penjual Bunga" title="Gadis Penjual Bunga" class="full" /><br />
<span class="caption">Gadis Penjual Bunga</span></p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/bunga-dan-lilin-untuk-dilepaskan-ke-sungai.jpg" alt="Bunga dan Lilin untuk Dilepaskan ke Sungai" title="Bunga dan Lilin untuk Dilepaskan ke Sungai" width="500" /><br />
<span class="caption">Bunga dan Lilin untuk Dilepaskan ke Sungai</span></p>
<p>Di bawah rona langit ungu-merah jambu, kami memulai kegiatan di atas perahu dengan melepaskan lilin bertahtakan bunga yang kami beli dari putri pemilik kapal. Konon bunga dan lilin adalah lambang doa<br />
dan harapan, dan dengan melepaskannya ke sungai, niscaya doa dan harapan itu akan menjadi kenyataan. Sayang, kami hanya beberapa saat berada di atas perahu kayu. Kota Varanasi yang kemarin begitu mengejutkan saya dengan carut-marutnya, pagi itu semuanya terasa sangat tenang dan hening. Tidak ada lagi bunyi klakson yang agresif serta raungan mesin. Walaupun dengan sedikit pengalaman tidak menyenangkan yang kami alami dari pemilik kapal, kesyahduan pagi itu tetap tidak terkalahkan.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/seorang-pria-bersiap-siap-untuk-mandi-dan-mensucikan-diri-di-sungai-gangga.jpg" alt="Seorang Pria Bersiap-siap untuk Mandi dan Mensucikan Diri di Sungai Gangga" title="Seorang Pria Bersiap-siap untuk Mandi dan Mensucikan Diri di Sungai Gangga" class="full" /><br />
<span class="caption">Seorang Pria Bersiap-siap untuk Mandi dan Mensucikan Diri di Sungai Gangga<span></p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/sekumpulan-peziarah-mandi-di-tepi-sungai.jpg" alt="Sekelompok Peziarah Mandi di Tepi Sungai" title="Sekelompok Peziarah Mandi di Tepi Sungai" class="full" /><br />
<span class="caption">Sekelompok Peziarah Mandi di Tepi Sungai</span></p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/para-peziarah-antri-menenggelamkan-tubuhnya-sambil-dengan-khusyu.jpg" alt="Para Peziarah Mengantri untuk Menenggelamkan Tubuhnya dengan Khusyuk" title="Para Peziarah Mengantri untuk Menenggelamkan Tubuhnya dengan Khusyuk" class="full" /><br />
<span class="caption">Para Peziarah Mengantri untuk Menenggelamkan Tubuhnya dengan Khusyuk</span></p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/seorang-bocah-pemulung-sampah-dikisaran-sungai-gangga.jpg" alt="Seorang Bocah Pemulung Sampah di Tepi Sungai Gangga" title="Seorang Bocah Pemulung Sampah di Tepi Sungai Gangga" class="full" /><br />
<span class="caption">Seorang Bocah Pemulung Sampah di Tepi Sungai Gangga</span></p>
<p>Selama menelusuri tepian sungai, baik dengan berjalan kaki maupun di atas perahu, mata saya dimanjakan dengan berbagai hal menarik yang seringkali membuat saya berdecak kagum. Hampir di setiap susunan anak tangga menurun menuju Sungai Gangga tidak pernah kosong oleh kegiatan manusia. Kebanyakan dari mereka adalah para peziarah yang datang dari berbagai penjuru kota di India. Seolah tidak peduli dengan keruhnya air dan banyaknya sampah yang terapung, banyak dari mereka yang dengan kusyuknya merendamkan tubuhnya atau sekedar membersihkan diri di tepian sungai. Mereka tampak tenang dan apa adanya, walau jelas-jelas di hadapan mereka ada puluhan wisatawan berlalu lalang di atas perahu kayu memperhatikan setiap gerak-gerik yang ada. Setiap bulir air di Sungai Gangga yang mengaliri tubuh manusia dipercaya dapat menghapus dosa-dosa serta kesalahan mereka di masa lalu serta menguapkan karma yang seharusnya mereka jalani. Sungai ini juga menjadi tempat utama bagi penganut Hindu dalam menghanyutkan abu kremasi atau jenazah keluarga yang meninggal dunia. Kesuciannya menjadikan sungai tersebut sebuah gerbang kehidupan akhir dari masa kini, menuju awal kehidupan baru di masa yang akan datang. </p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/02/peziarah-bermeditasi-dan-menyendiri-menghadap-sungai-gangga.jpg" alt="Peziarah Bermeditasi dan Menyendiri Menghadap Sungai Gangga" title="Peziarah Bermeditasi dan Menyendiri Menghadap Sungai Gangga" class="full" /><br />
<span class="caption">Peziarah Bermeditasi dan Menyendiri Menghadap Sungai Gangga</span></p>
<p>Tidak jauh dari tepian sungai, sesekali kita melihat kehadiran orang yang sedang menyendiri dan bermeditasi. Tidak sedikit dari mereka terlihat sudah cukup tua dan renta. Konon, menghabiskan sisa hidup di Varanasi dan meninggal di tepi Sungai Gangga merupakan pilihan bagi masyarakat Hindu di India. Layaknya Yerusalem yang merupakan kota penting dalam sejarah tiga agama besar dunia, kehadiran kota Varanasi amatlah penting bagi tiga agama besar di India yakni agama Budha, Jain dan Hindu. Di Varanasi, konon Siddharta Gautama untuk pertama kalinya menyampaikan prinsip ajaran dasar agama Budha. Di kota itu pula, diketahui Parshvanath yang merupakan salah seorang pemuka ajaran Jain dilahirkan. Sedangkan bagi umat Hindu, kota Varanasi dipercayai sebagai sebuah kota yang dibangun oleh Dewa Siwa (salah satu dari Dewa Trimurti). Di dalam kota tersebut, mengalir pula air suci yang dicurahkan oleh putri Dewa Siwa dan Parvati yakni Dewi Gangga, dewi kesuburan dan pembersih dosa. Dalam mitologi umat Hindu, Dewi Gangga sering dilambangkan sebagai seorang wanita cantik yang selalu membawa kendi berisikan air suci untuk dicurahkan ke bumi, curahan air suci itu kemudian sampai saat ini diyakini sebagai Sungai Gangga. </p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 02/02/2012</li</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/foto/menyusuri-heningnya-gangga-di-varanasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaos Ransel Kecil (Lagi)</title>
		<link>http://ranselkecil.com/dari-kami/kaos-ransel-kecil-lagi/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/dari-kami/kaos-ransel-kecil-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 00:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2763</guid>
		<description><![CDATA[Kaos Ransel Kecil datang lagi! Kali ini kami kembali berkolaborasi bersama <a href="http://www.neuro-designs.com">Neuro-Designs</a> untuk membuat kaos yang dapat diajak bepergian bersama ke destinasi berikutnya.

Tema kaos kali ini adalah "<i>Love your passport</i>". Sayangi paspor Indonesia Anda walau banyak usaha yang harus dihadapi untuk bepergian ke negara-negara lain. Tanpa paspor ini, kita tak bisa menikmati perjalanan ke hampir semua negara di dunia sambil mempelajari budayanya, mencicipi makanannya, berpetualang dengan berbagai sarana transportasi sampai tersesat di tempat antah-berantah!

<img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/tshirt_photomockup.jpg" alt="Kaos Ransel Kecil Edisi ke-2" title="Kaos Ransel Kecil" />
<span class="caption">Kaos Ransel Kecil. Hanya ilustrasi. Warna tidak 100% akurat.</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaos Ransel Kecil datang lagi! Kali ini kami kembali berkolaborasi bersama <a href="http://www.neuro-designs.com">Neuro-Designs</a> untuk membuat kaos yang dapat diajak bepergian bersama ke destinasi berikutnya.</p>
<p>Tema kaos kali ini adalah &#8220;<i>Love your passport</i>&#8220;. Sayangi paspor Indonesia Anda walau banyak usaha yang harus dihadapi untuk bepergian ke negara-negara lain. Tanpa paspor ini, kita tak bisa menikmati perjalanan ke hampir semua negara di dunia sambil mempelajari budayanya, mencicipi makanannya, berpetualang dengan berbagai sarana transportasi sampai tersesat di tempat antah-berantah!</p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/tshirt_photomockup.jpg" alt="Kaos Ransel Kecil Edisi ke-2" title="Kaos Ransel Kecil" /><br />
<span class="caption">Kaos Ransel Kecil. Hanya ilustrasi. Warna tidak 100% akurat.</span></p>
<p>Seperti <a href="http://ranselkecil.com/dari-kami/kaos-ransel-kecil/">kaos Ransel Kecil yang pertama</a>, kaos ini akan diproduksi dengan material <i>cotton-combed</i> 24S dan dikemas dengan kotak yang didesain apik oleh teman-teman kami di Neuro-Designs.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/images/315.jpg" width="500" /><br />
<span class="caption">Kemasan</span></p>
<h3>Harga</h3>
<p>Harganya Rp100.000, <strong>bebas biaya pengiriman untuk tempat-tempat di Pulau Bali dan Pulau Jawa</strong>. Teman-teman yang berada di luar daerah-daerah tersebut (atau di luar negeri), harga di atas akan ditambahkan biaya pengiriman oleh <a href="http://www.tiki-online.com/">TIKI</a> atau <a href="http://www.jne.co.id/">JNE</a>. Untuk pengiriman ke luar negeri, pemesan akan menanggung sendiri tarif bea dan cukai yang terkait.</p>
<h3>Hasil Penjualan untuk Apa?</h3>
<p>Hasil keuntungan penjualan akan digunakan untuk membantu biaya <em>server</em> dan <em>hosting</em>. Selain itu, setiap kontributor baru akan mendapatkan kaos ini gratis. Ini adalah salah satu cara untuk berdonasi. </p>
<h3><em>Preorder</em></h3>
<p>Kaos ini tidak dibuat <i>ready-stock</i>, karena itu kami harus menginventarisasi pemesanan terlebih dahulu per gelombang. Setiap gelombang pemesanan jumlahnya 12 buah kaos.</p>
<p>Silakan isi <a href="http://ranselkecil.wufoo.com/forms/pemesanan/" target="_blank">formulir pemesanan awal</a>. </p>
<p>Setelah itu tunggu email konfirmasi dari kami tentang jumlah total pembayaran yang dilakukan beserta informasi rekening.</p>
<h3>Konfirmasi Pembayaran</h3>
<p>Setelah melakukan pembayaran harap lakukan <a href="http://ranselkecil.wufoo.com/forms/konfirmasi-pembayaran/" target="_blank">konfirmasi pembayaran</a>.</p>
<p>Terima kasih atas dukungannya!</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li><em>Template</em> foto kaos hak cipta <a href="http://www.angelaacevedo.com">Angel A. Acevedo</a>, disediakan gratis dan bebas royalti.</li>
<li>Untuk saat ini, kaos Ransel Kecil yang pertama sudah tidak kami produksi lagi.</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/dari-kami/kaos-ransel-kecil-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Kuliner Cirebon</title>
		<link>http://ranselkecil.com/makanan/nikmatnya-kuliner-cirebon/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/makanan/nikmatnya-kuliner-cirebon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 13:24:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setepanus Edi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2749</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia tak hanya kaya wisata alam yang memukau. Untuk urusan perut, berbagai daerah di Tanah Air memiliki daftar menu teramat panjang untuk dijajal. Kota Cirebon salah satu contoh yang cukup menggambarkan melimpahnya ragam kuliner nusantara yang tak terkira lezatnya. Apa sajakah warisan kuliner dari Cirebon itu?

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Tahu-Gejrot-1024x685.jpg" alt="Tahu Gejrot" title="Tahu Gejrot" width="500" />
<span class="caption">Tahu Gejrot</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia tak hanya kaya wisata alam yang memukau. Untuk urusan perut, berbagai daerah di Tanah Air memiliki daftar menu teramat panjang untuk dijajal. Kota Cirebon salah satu contoh yang cukup menggambarkan melimpahnya ragam kuliner nusantara yang tak terkira lezatnya. Apa saja warisan kuliner dari kota Cirebon itu? Mari kita simak!</p>
<h3>Empal Gentong</h3>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Empal-Gentong-1024x685.jpg" alt="Empal Gentong" title="Empal Gentong" width="875" height="585" /><br />
<span class="caption">Empal Gentong</span></p>
<p>Menu ini berupa daging dan jeroan sapi yang dibanjiri kuah mirip soto. Rasanya sungguh lezat, tapi memang sangat berkolesterol. Sesuai namanya, daging dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong yang terbuat dari tanah liat. Empal gentong dapat disajikan dengan nasi atau lontong, kemudian disiram kuah bumbu yang khas, ditambah taburan bawang goreng dan daun kucai. Bagi penyuka pedas, sambal empal gentong sangat cocok untuk uji nyali karena dibuat dari saripati cabai merah kering yang dikemudian ditumbuk.</p>
<h3>Nasi Jamlang</h3>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Nasi-Jamlang-1024x732.jpg" alt="Nasi Jamlang" title="Nasi Jamlang" width="875" height="625" /><br />
<span class="caption">Nasi Jamlang</span></p>
<p>Nasi putih yang penyajiannya dibungkus dengan daun jati sehingga membuat nasi putih itu terasa berbeda. Anda bisa memilih berbagai jenis lauk sesuai selera. Mulai dari telur dadar, ayam goreng, daging sapi, ati sapi, otak sapi, pepes tahu, udang goreng, perkedel hingga rendang jeroan. Jangan lupa mencoba sambalnya, berupa irisan cabe merah pedas.</p>
<h3>Nasi Lengko</h3>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Nasi-Lengko-1024x685.jpg" alt="Nasi Lengko" title="Nasi Lengko" width="875" height="585" /><br />
<span class="caption">Nasi Lengko</span></p>
<p>Makanan ini mirip nasi pecel yang di atasnya ditaburi irisan kubus-kubus mentimun, taoge, daun bawang, potongan tempe dan tahu, kemudian dilumuri bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng.</p>
<h3>Tahu Gejrot</h3>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Tahu-Gejrot-1024x685.jpg" alt="Tahu Gejrot" title="Tahu Gejrot" width="875" height="585" /><br />
<span class="caption">Tahu Gejrot</span></p>
<p>Berupa tahu yang di potong kecil-kecil ditaruh di atas piring kecil terbuat dari tanah liat kemudian disajikan dengan bumbu gula merah, cabai, bawang merah dan bawang putih yang diulek. Berbeda dengan tahu lainnya, tahu cirebon rasanya tawar dan teksturnya kasar, tapi justru ini daya tariknya. Tahu Gejrot menjadi jajanan yang membuat kita terus ingin melahapnya, apalagi dengan porsinya yang kecil. </p>
<p>Itu hanya segelintir daftar makanan yang dapat dijadikan referensi jika Anda berkunjung ke kota ini. Di luar menu itu, kota udang ini masih menyimpan segudang khazanah kuliner yang dijamin membuat lidah bergoyang. </p>
<p>Tertarik mengecap sedapnya kuliner kota Cirebon? Segera langkahkan kaki menuju Cirebon.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 23/01/12</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/makanan/nikmatnya-kuliner-cirebon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjelajah Cepat Asia Tenggara dengan Bus</title>
		<link>http://ranselkecil.com/transportasi/menjelajah-cepat-asia-tenggara-dengan-bus/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/transportasi/menjelajah-cepat-asia-tenggara-dengan-bus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 09:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rakhmad Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2708</guid>
		<description><![CDATA[<b>Catatan Editor</b>: <em>Kami meralat bagian perjalanan penulis memasuki Laos dari Thailand. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa perlu membuat dan membayar </em>Visa on Arrival<em> di imigrasi. Terima kasih. Mohon maaf atas kesalahan ini.</em>

Cerita ini adalah pengalaman <em>backpacking</em> pertama saya ke luar negeri seorang diri. Semua dimulai dengan sebuah perjalanan dengan ojek ke pelabuhan kapal feri internasional di Batam Centre. Setelah melalui imigrasi, saya tumpangi kapal feri yang berangkat tepat pukul 17:45 meninggalkan Pulau Batam menuju Johor Bahru, Malaysia. Tarifnya Rp240.000 dan waktu tempuhnya adalah satu jam 45 menit.

Setibanya di pelabuhan feri Stulang Laut di Johor Bahru, Malaysia, saya mencari taksi menuju terminal bus Larkin. Jika Anda menemui calo, hindarilah dan langsung saja ke agen pejualan tiket. Tiket bus ke Kuala Lumpur untuk jam keberangkatan 23.30 seharga RM31 saya beli tanpa pikir panjang. Jadwal ini adalah yang terakhir untuk hari itu. Lebih baik menaiki bus terakhir di malam hari karena perjalanannya cukup singkat, sekitar empat jam. Sampai di Kuala Lumpur saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk pagi menjelang.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Bus berangkat meninggalkan terminal bus Larkin. Tepat pukul empat pagi bus tiba di terminal bus Puduraya, Kuala Lumpur. Bus tidak memasuki kawasan terminal. Semua penumpang diturunkan di sisi luar terminal bus Puduraya tepatnya di sekitar perempatan sebuah jalan raya. Di tempat ini banyak juga penumpang lainnya yang sedang duduk menunggu waktu pagi tiba. Tak jauh dari tempat bus berhenti terdapat sebuah rumah makan yang buka 24 jam yang bisa dijadikan alternatif untuk menghilangkan rasa bosan selama menunggu waktu pagi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Catatan Editor</b>: <em>Kami meralat bagian perjalanan penulis memasuki Laos dari Thailand. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa perlu membuat dan membayar </em>Visa on Arrival<em> di imigrasi. Terima kasih. Mohon maaf atas kesalahan ini.</em></p>
<p>Cerita ini adalah pengalaman <em>backpacking</em> pertama saya ke luar negeri seorang diri. Semua dimulai dengan sebuah perjalanan dengan ojek ke pelabuhan kapal feri internasional di Batam Centre. Setelah melalui imigrasi, saya tumpangi kapal feri yang berangkat tepat pukul 17:45 meninggalkan Pulau Batam menuju Johor Bahru, Malaysia. Tarifnya Rp240.000 dan waktu tempuhnya adalah satu jam 45 menit.</p>
<p>Setibanya di pelabuhan feri Stulang Laut di Johor Bahru, Malaysia, saya mencari taksi menuju terminal bus Larkin. Jika Anda menemui calo, hindarilah dan langsung saja ke agen pejualan tiket. Tiket bus ke Kuala Lumpur untuk jam keberangkatan 23.30 seharga RM31 saya beli tanpa pikir panjang. Jadwal ini adalah yang terakhir untuk hari itu. Lebih baik menaiki bus terakhir di malam hari karena perjalanannya cukup singkat, sekitar empat jam. Sampai di Kuala Lumpur saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk pagi menjelang.</p>
<p>Jarum jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Bus berangkat meninggalkan terminal bus Larkin. Tepat pukul empat pagi bus tiba di terminal bus Puduraya, Kuala Lumpur. Bus tidak memasuki kawasan terminal. Semua penumpang diturunkan di sisi luar terminal bus Puduraya tepatnya di sekitar perempatan sebuah jalan raya. Di tempat ini banyak juga penumpang lainnya yang sedang duduk menunggu waktu pagi tiba. Tak jauh dari tempat bus berhenti terdapat sebuah rumah makan yang buka 24 jam yang bisa dijadikan alternatif untuk menghilangkan rasa bosan selama menunggu waktu pagi.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Bus-Kuala-Lumpur-Malaysia-Hat-Yai-Thailand..jpg" alt="Bus dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Hat Yai, Thailand" title="Bus dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Hat Yai, Thailand" width="500" /><br />
<span class="caption">Bus dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Hat Yai, Thailand</span></p>
<p>Ketika hari mulai terang, saya datangi terminal bus Puduraya yang terdapat di seberang jalan untuk membeli tiket tujuan Hat Yai, Thailand. Akhirnya tiket bus tujuan Kuala Lumpur, Malaysia – Hat Yai, Thailand saya dapatkan dengan harga RM50. Bus ini akan berangkat pukul sembilan pagi. Jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Saya manfaatkan sisa waktu ini dengan menjelajahi sebagian kecil dari kota Kuala Lumpur dengan berjalan kaki. </p>
<p>Tepat pukul sembilan pagi bus berangkat meninggalkan Kuala Lumpur. Pemandangan di kiri dan kanan sepanjang perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Hat Yai, Thailand terlihat monoton karena didominasi oleh deretan pepohonan kelapa sawit.</p>
<p>Bus tiba di kantor imigrasi Malaysia di perbatasan. Semua penumpang turun dari bus untuk melakukan prosedur imigrasi. Selesai proses ini semua penumpang masuk kembali ke dalam bus untuk menuju kantor imigrasi Thailand yang waktu tempuhnya sekitar tiga menit. </p>
<p>Tak lama kemudian bus tiba di Hat Yai, Thailand sekitar pukul tujuh malam. Tanpa menunggu lama, saya mencari tiket tujuan Phuket. Tiket Hat Yai ke Phuket ini tarifnya &#3647;400.</p>
<p>Tepat pukul 20.30 bus berangkat meninggalkan Hat Yai menuju Phuket. Kali ini bus terlihat sedikit lusuh. Sekitar pukul empat pagi bus tiba di Terminal Bus Phuket. Suasana di terminal tampak sepi dan hanya ada beberapa penumpang yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu. Terminal bus Phuket ini terbuka dan tidak dibatasi oleh tembok, sehingga dapat didatangi siapa saja termasuk penyedia jasa ojek yang akan mencari penumpang. </p>
<p>Hari masih tampak gelap. Namun beberapa loket penjualan tiket sudah mulai buka. Saya tak akan lama di sini, karena tujuan berikutnya sudah di depan mata: Bangkok. Setelah terjadi tawar-menawar dengan petugas loket di sini, akhirnya tiket Phuket – Bangkok seharga &#3647;470 saya dapatkan. Seperti biasa, jadwal terakhir pukul 19.30 malam nanti menjadi pilihan. Hasilnya, saya memiliki waktu seharian untuk berkeliling Phuket.</p>
<p>Matahari masih bersembunyi di ufuk timur. Waktu Subuh masih tersisa. Saya mulai bertanya kepada orang-orang di sekitar terminal mengenai keberadaan mesjid terdekat. Sempat ragu tentang adanya mesjid, namun terpatahkan oleh tawaran penyedia jasa ojek yang bersedia mengantarkan ke mesjid terdekat dengan tarif &#3647;40. </p>
<p>Mesjid yang diberi nama Yameay ini bentuknya cukup besar, bersih, dan nyaman. Saat memasuki mesjid, saya berpapasan dengan seorang pria paruh baya menggunakan sorban putih yang ternyata bisa berbahasa Melayu. </p>
<p>Saya menuju pelabuhan Phuket, tempat berlabuhnya kapal wisata, lalu memutuskan membeli paket tur ke teluk Phang Nga. Rata-rata penumpang di kapal ini didominasi oleh turis berambut pirang, hanya beberapa saja yang berwajah Asia. Dari kejauhan tampak beberapa deretan pulau berbentuk bukit besar yang ditutupi oleh tumbuhan hijau. Semakin kapal mendekat semakin jelas terlihat keindahan dan eksotisme Pulau Phi-Phi, salah satu pulau di teluk ini. Subhanallah. Selama lebih kurang 20 menit para penumpang dimanjakan untuk menyaksikan keindahan pulau yang pernah menjadi lokasi syuting film &#8220;<em>The Beach</em>&#8220;-nya Leonardo Di Caprio ini.</p>
<p>Setelah puas menikmati keindahan Pulau Phi-Phi, melakukan snorkeling dan makan siang, kapal beranjak pulang menuju Phuket. Semua penumpang tampak kelelahan dan memilih beristirahat di kursi masing-masing. Ketika sampai di pelabuhan, satu per satu penumpang turun dari kapal dan menuju bus masing-masing. Saya menaiki bus yang khusus mengantarkan langsung ke terminal bus Phuket bersama beberapa penumpang lainnya.</p>
<p>Saatnya tiba untuk menaiki bus yang akan membawa saya ke Bangkok. Perjalanan ini memakan waktu lebih kurang 14 jam. Di akhir perjalanan, sinar matahari mulai benderang. Mentari perlahan beranjak naik. Tampak dari kejauhan gedung-gedung pencakar langit kota Bangkok. Sepintas wujud Bangkok mirip dengan Jakarta.</p>
<p>Sekitar pukul delapan pagi bus tiba di Terminal Chatuchak Bangkok. Selama sehari saya menghabiskan waktu di Bangkok untuk berkeliling. Puas menikmati pemandangan kota Bangkok yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta ini, saya kembali ke terminal bus untuk menuju kota selanjutnya, yakni Nong Khai, masih di negara yang sama.</p>
<p>Bus akan berangkat sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Lama perjalanan dari Bangkok menuju Nong Khai adalah sekitar delapan jam.</p>
<p>Bus tiba di Nong Khai, Thailand, sekitar pukul empat pagi. Hari masih gelap. Suasana di terminal tampak sepi. Hanya terlihat beberapa penumpang saja yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu dan beberapa pekerja sekitar terminal.</p>
<p>Nong Khai adalah kota yang terletak di timur laut Thailand, tepat berbatasan dengan Laos. Saya menuju kantor imigrasi Thailand dengan menggunakan tuk-tuk seharga &#3647;60. Saya melewati jembatan persahabatan Thailand – Laos dengan bus khusus perbatasan bertarif &#3647;20. Lama perjalanan melintasi perbatasan hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa <em>Visa on Arrival</em>, hanya menunjukkan paspor.</p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Roti-Besar-Khas-Laos.-Vientiane-Laos.jpg" alt="Roti Baguette Khas Laos" title="Roti Baguette Khas Laos" /><br />
<span class="caption">Roti Baguette Khas Laos</span></p>
<p>Kota Vientiane sangat berdebu, sehingga kurang nyaman. Karena bertepatan dengan hari Jumat, saya pun menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah sholat Jumat di Mesjid Jamia.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Sholat-Jumat-di-Masjid-Jamia.-Vientiane-Laos.jpg" alt="Sholat Jumat di Masjid Jamia, Vientiane, Laos" title="Sholat Jumat di Masjid Jamia, Vientiane, Laos" width="500" /><br />
<span class="caption">Sholat Jumat di Masjid Jamia, Vientiane, Laos</span></p>
<p>Setelah puas menikmati Vientiane, terminal bus lokal saya sambangi untuk mencari tiket tujuan Hanoi, Vietnam. Bus Vientiane, Laos – Hanoi, Vietnam dapat merupakan <em>Sleeper Bus</em> yang kursinya berbentuk tempat tidur sehingga posisi kaki hanya bisa lurus ke depan. Sekitar pukul dua dini hari bus tiba di perbatasan Laos – Vietnam, tepatnya di kota kecil Nam Phao, Laos. Di perbatasan ini bus berhenti menunggu hingga kantor imigrasi Laos buka di pagi hari. Banyak juga bus lainnya yang berhenti dan menunggu di sini.</p>
<p>Ketika hari mulai terang, saya dan beberapa penumpang lainnya turun sebentar membersihkan diri di sebuah toilet umum yang tidak jauh dari tempat pemberhentian bus. Udara sangat dingin. Seluas mata memandang saya hanya melihat perbukitan berkabut. Kantor imigrasi mulai buka dan petugas bus mengurus inspeksi paspor para penumpangnya. Selain warga negara Laos atau Vietnam penumpang diharuskan untuk datang sendiri ke imigrasi.</p>
<p>Selesai melakukan inspeksi paspor, semua penumpang kembali masuk ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan menuju imigrasi Vietnam. Jarak dari imigrasi Laos ke imigrasi Vietnam sangat dekat. Tidak sampai lima menit bus sudah sampai di kantor imigrasi Vietnam, tepatnya di kkota Cau Treo. Semua penumpang turun kembali untuk melakukan inspeksi paspor. Suasana di sini tampak berkabut. Jarak pandang hanya sekitar 100 meter. Warga negara Indonesia tidak perlu visa kunjungan ke Vietnam.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Pemeriksaan-Sebelum-Memasuki-Vietnam.-Cau-Treo-Vietnam.jpg" alt="Pemeriksaan Sebelum Memasuki Vietnam di Cau Treo" title="Pemeriksaan Sebelum Memasuki Vietnam di Cau Treo" width="500" /><br />
<span class="caption">Pemeriksaan Sebelum Memasuki Vietnam di Cau Treo</span></p>
<p>Perjalanan dilanjutkan ke Hanoi. Hujan turun tidak begitu deras menemani perjalanan pagi ini. Bus berhenti di tempat peristirahatan untuk makan siang. Semua penumpang diharuskan turun walau tidak ikut makan siang. Hal ini dilakukan oleh petugas bus untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehilangan barang. Di tempat peristirahatan ini Saya tidak ikut makan karena takut tidak terjamin kehalalannya. </p>
<p>Selama perjalanan menuju Hanoi, pemandangan menyuguhkan deretan perbukitan, hutan, sungai, hamparan sawah dan kehidupan warga di sekitar perbatasan Vietnam yang masih banyak menggunakan sepeda sebagai alat transportasi.</p>
<p>Sekitar pukul tujuh malam bus tiba di terminal bus Hanoi. Menggunakan taksi, saya menuju Old Quarter untuk mencari penginapan. Penginapan hostel bertarif lima dolar AS per malam saya dapatkan. Tubuh yang lelah membutuhkan istirahat.</p>
<p>Hari kedua di Vietnam. Saya mulai bersiap-siap untuk mengunjungi Halong Bay yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban alam di dunia. Tepat pukul delapan pagi seorang pemandu wisata tur ke Halong Bay mendatangi hostel untuk menjemput. Bus yang saya tumpangi berkeliling Old Quarter untuk menjemput turis lainnya.</p>
<p>Perjalanan dari Hanoi ke Halong Bay memakan waktu sekitar tiga jam. Setibanya di Halong Bay peserta tur memasuki pelabuhan dan diajak menikmati keindahan lokasi ini dengan kapal wisata yang bercorak tradisional, menyusuri perbukitan karst. Peserta tur puas menikmati Halong Bay yang eksotis dan menyaksikan gua stalaktit dan stalagmit.</p>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Eksotisme-Halong-Bay.-Halong-Vietnam-3.jpg" alt="Eksotisme Halong Bay" title="Eksotisme Halong Bay" width="500" /><br />
<span class="caption">Eksotisme Halong Bay</span></p>
<p>Setelah kapal merapat di pelabuhan, peserta tur turun dari kapal dan menuju bus untuk selanjutnya diantar ke tujuan masing-masing. Bus berjalan membawa seluruh peserta tur untuk menikmati perjalanan tiga jam menuju Hanoi. </p>
<p>Hari ketiga di Hanoi, saya tak memiliki agenda khusus. Pilihan jatuh pada mengelilingi Old Quarter. Tempat-tempat menarik di sekitar wilayah ini adalah Danau Hoan Kiem dan Mesjid Hanoi. Karena kelelahan, saya pulang ke hostel dan tertidur pulas hingga pukul 10 malam.</p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Pesona-Danau-Hoan-Kiem.-Hanoi-Vietnam-9.jpg" alt="Pesona Danau Hoan Kiem, Hanoi, Vietnam" title="Pesona Danau Hoan Kiem, Hanoi, Vietnam" /><br />
<span class="caption">Pesona Danau Hoan Kiem, Hanoi, Vietnam</span></p>
<p>Memasuki hari terakhir di Hanoi. Selasa, 29 November 2011, saya mulai berkemas mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa. Tertera di tiket bahwa pesawat yang akan saya naiki akan berangkat pukul 10.45 waktu setempat. Bis dari kota Hanoi ke bandara memakan waktu 45 menit. Perjalanan Hanoi – Singapura ini membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Sesampainya di Singapura, saya langsung menaiki MRT (Mass Rapid Transit) ke stasiun HarbourFront, lalu menuju pelabuhan feri yang akan membawa saya kembali ke Batam.</p>
<p>Tepat pukul 20.00 kapal feri berangkat meninggalkan Singapura. Perjalanan dengan kapal feri ke Batam ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Persediaan Rupiah sudah mulai menipis. Saat sudah terasa sangat lelah dan ingin segera sampai di rumah tiba-tiba seorang tukang ojek menawarkan ojeknya sambil berkata, “Mau cari penginapan, Mas?”</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>
Disunting oleh SA 18/01/12, 17/01/12
</li>
<li>&#3647; = Baht Thailand, silakan cek kurs terkini di Google</li>
<li>RM = Ringgit Malaysia, silakan cek kurs terkini di Google</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/transportasi/menjelajah-cepat-asia-tenggara-dengan-bus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atraksi Wajib-Kunjung Istanbul</title>
		<link>http://ranselkecil.com/rencana/atraksi-wajib-kunjung-istanbul/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/rencana/atraksi-wajib-kunjung-istanbul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 04:19:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasman Taslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rencana Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2679</guid>
		<description><![CDATA[Kalau sebelumnya saya menulis rekomendasi atraksi utama kota Istanbul yang tidak dipungut bayaran, kali ini rekomendasi beberapa atraksi yang wajib dikunjungi karena memberikan pengalaman unik dan melihat secara langsung peninggalan sejarah dari masa kekasairan Roma, Ottoman hingga Istanbul modern saat ini. Antara lain yang saya ulas adalah Selat Bosphorus, Hagia Sophia, Basilica Cistern, Topkapı Palace, Çemberlitaş Hamamı, <em>Whirling Dervishes</em>, Istanbul Museum of Modern Art dan Galata Tower.

<img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_0973-haga-sophia.jpg" alt="Hagia Sophia" title="Hagia Sophia" />
<span class="caption">Hagia Sophia</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau sebelumnya saya menulis rekomendasi atraksi utama kota Istanbul yang tidak dipungut bayaran, kali ini rekomendasi beberapa atraksi yang wajib dikunjungi karena memberikan pengalaman unik dan melihat secara langsung peninggalan sejarah dari masa kekasairan Roma, Ottoman hingga Istanbul modern saat ini. </p>
<h3>Selat Bosphorus</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_1026-bosphorus.jpg" alt="Selat Bosphorus" title="Selat Bosphorus" width="500" /><br />
<span class="caption">Selat Bosphorus</span></p>
<p>Selat Bosphorus terletak di antara benua Asia dan Eropa dan menghubungi Laut Marmara dan Laut Hitam. Bosphorus terkenal akan wisata pesiar dengan pemandangan dan beberapa peninggalan sejarah tepi benua Asia dan Eropa. Untuk menikmati wisata pesiar Bosphorus bisa menggunakan jasa penyeberangan kapal feri Sehir Hatlari, jasa kapal pesiar Turyol atau jasa kapal pesiar swasta yang banyak bertebaran di Eminonu. Alternatif lain bagi yang tidak punya banyak waktu, coba penyeberangan kapal feri dari Eminonu ke Kadikoy, berbaur dengan masyarakat lokal, yang juga merupakan tempat pas untuk menikmati pemandangan kota Sultan Ahmed dengan pemandangan Blue Mosque, Hagia Sophia dan Topkapi Palace. Sedangkan di sisi Asia akan terlihat barak militer Selimiye. Harga tiket penyeberangan dua lira dan pesiar mulai dari 12-25 lira.</p>
<h3>Hagia Sophia</h3>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_0973-haga-sophia.jpg" alt="Hagia Sophia" title="Hagia Sophia" /><br />
<span class="caption">Hagia Sophia</span></p>
<p>Hagia Sophia, gereja yang dibangun pada tahun 537 Masehi oleh Justinian, kaisar Byzantine, menjadi gereja yang termegah dan terbesar di dunia pada saat itu, hingga akhirnya dialihfungsikan menjadi mesjid pada tahun 1453 oleh Sultan Mehmet ketika berhasil mengalahkan Constantinople. Tokoh sekuler Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki kemudian mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum pada tahun 1935. Hagia Sophia buka setiap hari, kecuali hari Senin dengan tiket masuk 20 lira.</p>
<h3>Basilica Cistern</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_0797-basilica-cistern.jpg" alt="Basilica Cistern" title="Basilica Cistern" width="500" /><br />
<span class="caption">Basilica Cistern</span></p>
<p>Terletak di bawah tanah, bangunan kecil sekaligus loket tiket masuk di seberang Hagia Sophia, Basilica Cistern membawa pengunjung ke suasana tenang dari keramaian kota Istanbul. Dikenal juga sebagai &#8220;istana tenggelam&#8221;, waduk tertutup yang memiliki 336 kolom marmer dan granit ini dibangun pada tahun 532 Masehi untuk memenuhi kebutuhan air istana agung Constatinople dan Topkapi. Basilica Cistern berkapasitas 100.000 ton, mendatangkan air dari hutan Belgrade yang mengalir melalui jembatan air sepanjang 19 kilometer. Ada dua kolom yang paling menarik perhatian di dalam Basilica Cistern, kolom dengan alas kepala Medusa yang dalam mitologi Yunani dipercaya sebagai jelmaan perempuan berambut ular. Basilica Cistern buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.</p>
<h3>Topkapı Palace</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_0681-topkapi-palace.jpg" alt="Maket Topkapı Palace" title="Maket Topkapı Palace" width="500" /><br />
<span class="caption">Maket Topkapı Palace</span></p>
<p>Terletak di atas bukit dengan pemandangan bebas ke Selat Bosphorus dan Laut Marmara, merupakan atraksi wisata yang paling banyak dikunjungi di Istanbul. Dibangun pada tahun 1478 oleh Sultan Mehmet II, digunakan sebagai hunian dari para sultan Ottoman selama hampir 400 tahun, kini termasuk warisan dunia UNESCO sebagai Kota Tua Istanbul. Istana ini menyimpan koleksi harta sultan mulai dari perhiasan berharga, kereta, pakaian, senjata dan artefak suci. Salah satu tempat yang paling menarik adalah Harem, dulunya hanya boleh dimasuki oleh orang terdekat Sultan termasuk keluarga, istri, selir dan pembantu pribadinya. Semua kehidupan di dalam Harem diatur oleh ibu sultan. Topkapi Palace tutup pada hari Selasa dan buka dari hari Rabu hingga Senin dengan tiket masuk 20 lira, tiket tambahan masuk Harem 15 lira. Tersedia pula pemandu grup dengan biaya 10 lira dan sistem audio pemandu bertarif lima lira.</p>
<h3>Çemberlitaş Hamamı</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_0399-cemberlitas-hamami.jpg" alt="Çemberlitaş Hamamı" title="Çemberlitaş Hamamı" width="500" /><br />
<span class="caption">Çemberlitaş Hamamı</span></p>
<p>Berkunjung ke Turki tidak lengkap tanpa mencoba Hamam atau pemandian ala Turki yang menyegarkan. Walaupun terasa sedikit risih dimandikan orang lain, pemandian tradisional Turki yang berawal dari tahun 600 Masehi memberikan pengalaman yang berakar dari kebudayaan Romawi dan Yunani kuno. Cemberlitas Hamami di Istanbul dibangun pada tahun 1584 dan masih beroperasi hingga saat ini. Bangunan tua berkubah dengan interior berbatu marmer dan dihiasi ornamen yang indah, pencahayaan dan temperatur suhu udara yang terkontrol dengan ritual pemandian masa lalu menciptakan suasana yang santai. Untuk mengalami pengalaman yang unik ini pengunjung dikenakan biaya 70 lira dan terbuka untuk pria dan wanita dengan ruang yang terpisah. </p>
<h3><em>Whirling Dervishes</em></h3>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_0158-whirling-dervishes.jpg" alt="Whirling Dervishes" title="Whirling Dervishes" /><br />
<span class="caption"><em>Whirling Dervishes</em></span></p>
<p>Nikmati pertunjukan <em>whirling dervishes</em> Sufi yang sangat magis. Dimulai dengan pembacaan doa dan dialuni suara gendering dan seruling, penari bertopi coklat dengan jubah putih yang terkembang berputar-putar sebagai simbol dari bulan yang mengelilingi matahari, sambil mengangkat tangan kanan ke atas dan tangan kiri ke bawah, simbol dari &#8220;tuhan&#8221; dan bumi. Kebudayaan yang dimulai sejak abad ke-13 dapat disaksikan di beberapa tempat, salah satunya Dede Efendi House dekat Blue Mosque sekaligus menjadi museum dengan koleksi peralatan musik tradisional Sufi. Tiket masuk 50 lira setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu.</p>
<h3>Istanbul Museum of Modern Art</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_0147-istanbul-modern.jpg" alt="Istanbul Museum of Modern Art" title="Istanbul Museum of Modern Art" width="500" /><br />
<span class="caption">Istanbul Museum of Modern Art</span></p>
<p>Sebagai alternatif bagi yang ingin melihat Istanbul masa kini, kunjungilah tempat ini. Dibangun pada tahun 2004, galeri seni ini memamerkan karya-karya seni abad ke-20 karya seniman lokal maupun internasional. Terdapat juga perpustakaan seni, toko cinderamata, kafe dan restoran dimana pengunjung dapat menikmati secangkir kopi Turki sambil melihat perahu hilir mudik atau matahari terbenam. Istanbul Museum of Modern Art buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari libur keagamaan. Dikenakan tarif tiket masuk seharga 7 lira dan jika ingin tiket gratis, datanglah pada hari Kamis. Mengambil foto tidak diperkenankan sama sekali.</p>
<h3>Galata Tower</h3>
<p><img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_0907.jpg" alt="Galata Tower" title="Galata Tower" width="500" /><br />
<span class="caption">Galata Tower</span></p>
<p>Salah satu ikon kota Istanbul, menara yang memiliki sembilan lantai dan tinggi 70 meter ini dibangun pada abad pertengahan. Pada zaman Byzantine, menara ini terbuat dari kayu, kemudian dibangun kembali dengan menggunakan batu pada tahun 1384. saat ini menara dilengkapi dengan dua lif. Sesuai fungsinya sebagai menara pemantau, lantai teratas menara merupakan tempat yang tepat untuk menikmati pemandangaqn kota, sambil minum teh atau kopi di kafe yang tersedia di lantai yang sama menunggu matahari terbenam. Galata Tower buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 17/01/12
</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/rencana/atraksi-wajib-kunjung-istanbul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertandang ke Buddha Tooth Relic Temple and Museum</title>
		<link>http://ranselkecil.com/tempat/bertandang-ke-buddha-tooth-relic-temple-and-museum/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/tempat/bertandang-ke-buddha-tooth-relic-temple-and-museum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 07:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setepanus Edi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=2625</guid>
		<description><![CDATA[Singapura seolah tak pernah habis dikupas. Terlepas dari objek-objek wisata populer dan identik sebagai tempat wisata belanja, masih banyak sudut lainnya yang bisa dijelajahi. Salah satunya yang sayang jika tidak disinggahi yaitu Buddha Tooth Relic Temple and Museum atau Museum dan Kuil Relik Gigi Sang Buddha. Sebuah monumen budaya hidup yang terletak di South Bridge Road yang merupakan jantung Pecinan (Chinatown). Tidaklah sulit menemukan kuil ini, karena bisa dijangkau dengan Mass Rapid Transit (MRT). 

Buddha Tooth Relic Temple and Museum berdiri megah, terdiri dari empat lantai. Umumnya ciri khas vihara atau kuil, dominasi warna merah dan emas kentara sekali. Bangunan ini sendiri dikonsep dan dirancang oleh Shi Fa Zhao. Secara garis besar rancangan kuil ini dilandasi unsur-unsur dan sejarah Dinasti Tang dan Mandala Buddhis, yaitu representasi dari alam semesta Buddhis seperti yang terungkap dalam situs resmi kuil ini.

<img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Buddha-Tooth-Relic-Temple-1024x685.jpg" alt="Buddha Tooth Relic Temple" title="Buddha Tooth Relic Temple" />
<span class="caption">Buddha Tooth Relic Temple</span>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Singapura seolah tak pernah habis dikupas. Terlepas dari objek-objek wisata populer dan identik sebagai tempat wisata belanja, masih banyak sudut lainnya yang bisa dijelajahi. Salah satunya yang sayang jika tidak disinggahi yaitu Buddha Tooth Relic Temple and Museum atau Museum dan Kuil Relik Gigi Sang Buddha. Sebuah monumen budaya hidup yang terletak di South Bridge Road yang merupakan jantung Pecinan (Chinatown). Tidaklah sulit menemukan kuil ini, karena bisa dijangkau dengan Mass Rapid Transit (MRT). </p>
<p>Buddha Tooth Relic Temple and Museum berdiri megah, terdiri dari empat lantai. Umumnya ciri khas vihara atau kuil, dominasi warna merah dan emas kentara sekali. Bangunan ini sendiri dikonsep dan dirancang oleh Shi Fa Zhao. Secara garis besar rancangan kuil ini dilandasi unsur-unsur dan sejarah Dinasti Tang dan Mandala Buddhis, yaitu representasi dari alam semesta Buddhis seperti yang terungkap dalam situs resmi kuil ini.</p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Buddha-Tooth-Relic-Temple-1024x685.jpg" alt="Buddha Tooth Relic Temple" title="Buddha Tooth Relic Temple" /><br />
<span class="caption">Buddha Tooth Relic Temple</span></p>
<p>Begitu memasuki lantai satu, mata kita langsung tertuju kepada Patung Bodhisattva Avalokitesvara yang tengah duduk indah di atas tahta teratai, dan dikelilingi oleh patung-patung kecil sepanjang sisinya. Tata cahaya yang indah semakin menambah kesan menggagumkan bagi siapapun yang mengunjunginya. Saat saya tiba, suasana kuil cukup ramai karena sedang ada aktivitas ibadah. Beruntung saya bertemu dengan biksu dari Indonesia. Saya diajaknya melihat relik yang dipercaya para pemimpin umat Buddha sebagai relik suci Gigi Sang Buddha, terdapat di dalam sebuah stupa yang terbuat dari 320 kilogram emas hasil sumbangan umat. Peninggalan suci ini disimpan di lantai empat. Sayang tidak diperkenankan mengambil gambar, bahkan karena sucinya tempat ini, untuk masuk ke dalam pun harus melepas alas kaki. </p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Patung-Bodhisattva-Avalokitesvara--1024x685.jpg" alt="Patung Bodhisattva Avalokitesvara" title="Patung Bodhisattva Avalokitesvara" /><br />
<span class="caption">Patung Bodhisattva Avalokitesvara</span></p>
<p>Selain menyimpan relik suci Gigi Sang Buddha, di lantai empat ini kita dapat menemukan beribu-ribu patung kecil Buddha yang disusun teratur dalam wadah kotak kaca. Ada pula bangunan dengan atap berbentuk pagoda yang di dalamnya terdapat lonceng besar dan dapat diputar-putar. Bagian depannya, ditumbuhi berbagai tanaman hias membuat suasana tampak asri.</p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Rooftop-Berbentuk-Pagoda-1024x708.jpg" alt="Atap Berbentuk Pagoda" title="Atap Berbentuk Pagoda" /><br />
<span class="caption">Atap Berbentuk Pagoda</span></p>
<p>Bagian menarik lain dari kuil ini adalah Buddhist Culture Museum yang terletak di lantai tiga. Di sini kita dapat  menemui berbagai jenis patung Buddha dari penjuru negeri lengkap dengan penjelasan sejarahnya. Perasaan takjub menghampiri hati saya karena bangga secara langsung dapat melihat koleksi benda-benda bersejarah yang bernilai seni tinggi. Saya juga sempat melihat relik yang dijual dengan harga yang sungguh fantastik. Puas berkeliling museum, saya menurun ke lantai dua, yang adalah ruang perpustakaan. Di tempat ini semua dokumen baik asli maupun replika tentang sejarah Buddha tersimpan rapi.</p>
<p><img class="full" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2012/01/Buddhist-Culture-Museum-1024x685.jpg" alt="Buddhist Culture Museum" title="Buddhist Culture Museum" width="875" /><br />
<span class="caption">Buddhist Culture Museum</span></p>
<p>Buddha Tooth Relic Temple and Museum sendiri merupakan salah satu kuil Buddha dengan bangunan yang masih terjaga dan terawat, di tengah-tengah modernitas masyarakat Singapura. Penasaran? Sediakan waktu luang untuk mengunjunginya, karena kita butuh waktu lama jika ingin detail melihat kuil ini. Ah, Singapura memang tak henti menggoda.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>
Disunting oleh SA 11/01/12
</li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/tempat/bertandang-ke-buddha-tooth-relic-temple-and-museum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

