Di sebuah forum di internet, ada yang menanyakan, apa itu visa. Pernah dengar kata visa? Mungkin lebih sering dikaitkan dengan Visa, jaringan kartu kredit dan debit global. Walaupun kita sering menemukan manfaat dalam jaringan pembayaran Visa ketika dalam perjalanan, visa yang dimaksud di sini adalah dokumen verifikasi yang dikeluarkan oleh suatu negara terkait dengan pemohon dari negara lain yang ingin melakukan perjalanan ke negara yang dimohonkan visanya.

“Semakin bebas rakyat suatu negara untuk melakukan perjalanan ke negara lain, tanpa harus memohon visa kunjungan, misalnya, maka dapat dikatakan pemerintah dan rakyat negara tersebut semakin dipercaya di pergaulan dunia. ”

Lho, kenapa? Bukankah berbekal paspor saja cukup? Begini, situasi sosial, geografi dan politik banyak menentukan bagaimana pemerintah sebuah negara bersikap dalam menerima pendatang dari negara lain. Keadaan ini dipengaruhi lagi oleh hubungan bilateral dan multilateral, baik dalam lingkup yang spesifik maupun universal. Aman dikatakan bahwa sebagian besar perjalanan antara penduduk negara yang satu dan yang lain di seluruh dunia ini memerlukan visa sebagai sarana verifikasi apakah si pelaku perjalanan layak melakukan perjalanan tersebut, sekaligus meregulasi kegiatan dan lalu lintas pendatang (“alien”) di negara masing-masing. Ada beberapa pengecualian, di mana menurut asas reciprocal (balasan), perjalanan penduduk antara dua negara satu sama lain dibebaskan dari ketentuan tertentu, misal, membebaskan keperluan untuk memohon visa kunjungan sementara. Namun, tidak semua berasas reciprocal. Ada yang hanya satu pihak, kembali lagi tergantung dari hubungan bilateral, multilateral dan berbagai dimensi kepentingan lainnya. Asas reciprocal juga merambah elemen-elemen lain seperti besarnya biaya yang dikenakan. Misalnya, Amerika Serikatmengenakan biaya sebesar USD131 kepada setiap pemohon visa kunjungan, maka beberapa negara seperti Brazil dan Chile juga menetapkan tarif yang sama, khusus pada warga negara Amerika Serikat!

Itu baru soal kunjungan sementara, mungkin kunjungan wisata, mengunjungi teman/keluarga, bisnis dan lain-lain. Ada beragam kepentingan non-penduduk/non-warganegara, misalnya belajar atau bekerja. Hal ini dimungkinkan dengan regulasi yang bervariasi. Jenis-jenis visa yang ditawarkan tergantung kebijakan negara bersangkutan. Lazimnya, semakin penting peran atau posisi negara tersebut di percaturan dunia, semakin kompleks jenis-jenis visa yang ditawarkan. Permohonan visa biasanya dilakukan di kedutaan negara bersangkutan di negara kita, atau kalau tidak ada, di negara terdekat. Ya, benar, kita harus menuju ke negara terdekat dulu sebelum bisa memohon visa.

Sebuah visa bukanlah izin, apalagi kepastian. Ia juga bukan undangan, dan tidak menaruh hak apapun terhadap si pelaku perjalanan. Dengan memegang visa negara tertentu, jika memang diperlukan, maka si pelaku perjalanan semata telah diverifikasi identitas dan niatnya. Mereka yang tidak memiliki visa tidak akan diperbolehkan masuk ke negara tujuan, karena dinilai belum “memperkenalkan diri dan maksud” kunjungan, berpotensi membahayakan keamanan negara tujuan.

Penerbitan visa biasanya dilakukan dengan cara menempelkan secarik kertas atau stiker di atas satu atau dua halaman paspor, disertai informasi mengenai identitas pemohon dan regulasi yang diterapkan ke atasnya. Ketika sudah tidak berlaku lagi, lembar ini biasanya dicoret, dicap atau ada juga yang dibiarkan saja.

Ada beberapa asosiasi negara/regional yang memanfaatkan sistem aplikasi visa bersama, biasanya hanya berlaku untuk kunjungan wisata, sosial atau bisnis, di mana satu kali permohonan, visa yang didapatkan berlaku untuk beberapa negara yang tergabung dalam asosiasi tersebut. Contoh paling mudah adalah visa Schengen di negara-negara Uni Eropa, visa untuk beberapa negara Amerika Tengah seperti Guatemala, El Salvador, Honduras, dan Nikaragua, visa CAPRICOM untuk negara-negara Karibia (sudah tidak berlaku) dan yang dalam perencanaan adalah Univisa untuk negara-negara regional Afrika di bagian selatan dan Afrika bagian timur. ASEAN? Belum punya rencana, tampaknya!

Dari penerapan kebijakan visa ini bisa kita lihat bagaimana pergaulan antarnegara di dunia. Semakin bebas rakyat suatu negara untuk melakukan perjalanan ke negara lain, tanpa harus memohon visa kunjungan, misalnya, maka dapat dikatakan pemerintah dan rakyat negara tersebut semakin dipercaya di pergaulan dunia.

Jangan abaikan keperluan permohonan visa ini, karena selain bisa jadi satu-satunya jalan menuju ke tempat tujuan, juga terkadang menguras energi, waktu dan biaya. Beberapa negara maju menerapkan tarif visa yang mahal dan itu hanya tarif administrasi, artinya jika visa tak keluar, uang pun tak kembali! Selalu cek keperluan visa ketika ingin berkunjung ke suatu negara. Memang menyusahkan, tetapi mari kita sama-sama menjadi warga negara Indonesia yang baik dan patuh, sehingga semakin dipercaya sebagai warga dunia yang baik dan patuh, pula. Mana tahu, ada negara yang lambat laun menghapuskan kebijakan visa kunjungan terhadap kita, sehingga semakin mudahlah kita jalan-jalan!

  • Menurut data dari Henley & Partners, warga negara Indonesia bisa memasuki 46 negara tanpa harus melakukan permohonan visa kunjungan sebelum keberangkatan. Warga negara Malaysia sejumlah 151 negara, dan yang paling tinggi adalah warga negara Inggris, sejumlah 166 negara.
  • Bagaimana pun, Wikipedia menunjukkan data berbeda: warga negara Indonesia bisa memasuki 63 negara tanpa permohonan visa sebelum keberangkatan. Namun di Wikipedia dijelaskan bahwa angka tersebut termasuk paspor diplomatik dan dinas.