Beberapa hari yang lalu berkembang berita mengenai kemungkinan warga negara Indonesia (WNI) dibebaskan dari keperluan mengurus visa untuk bepergian ke negara-negara Schengen di Eropa. Perlu ditekankan bahwa negara-negara Schengen ini tetap terbatas, dan tidak menjadi keseluruhan benua Eropa. Oleh karena itu, menyebut kasus ini sebagai “bebas visa ke Eropa” sebenarnya salah kaprah. Negara-negara yang termasuk perjanjian Schengen adalah Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luxembourg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia dan Switzerland.

Berita ini mulai ada di harian Tribun News, yang mengutip perkataan Kepala Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, Rochadi Iman Santoso, yang menyimpulkan bahwa Indonesia tinggal mencapai status “Aneks 1”. Tidak jelas apa yang dimaksud Aneks 1, dan siapa yang memiliki regulasi ini (Indonesia? Negara-Negara Perjanjian Schengen?).

“Saat ini, dalam lingkup keimigrasian dunia, Indonesia baru mencapai status Aneks 2. Salah satu hasilnya adalah pengurusan visa untuk negara Schengen tidak lagi memakan waktu berminggu-minggu, melainkan hanya 3-5 hari saja,” kata Rochadi lagi.

Terakhir kali saya melakukan aplikasi visa Schengen, butuh setidaknya 10 hari. Saya tidak tahu apakah baru-baru ini prosedur ini dipersingkat sampai jadi 3-5 hari saja. Tidak ada keterangan yang memastikan informasi ini baik di halaman Kedutaan Jerman atau Kedutaan Belanda di Jakarta, misalnya. Yang ada, pemohon diminta untuk mengajukan aplikasi paling tidak 15 hari sebelum keberangkatan.

“Saat ini, dalam lingkup keimigrasian dunia, Indonesia baru mencapai status Aneks 2. Salah satu hasilnya adalah pengurusan visa untuk negara Schengen tidak lagi memakan waktu berminggu-minggu, melainkan hanya 3-5 hari saja.” Rochadi Iman Santoso

Isu lain adalah untuk memenuhi status “Aneks 1”, salah satu usaha yang diperlukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan mengimplementasikan secara penuh program paspor elektronik. Paspor elektronik memang sudah ditawarkan di beberapa Kantor Imigrasi, misalnya Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Biayanya juga lebih mahal, per tulisan ini dibuat, tarifnya Rp600.000. Bandingkan dengan paspor biasa yang bertarif Rp200.000. Tentu saja, tarif ini tidak termasuk biaya-biaya administrasi lain dan agen atau calo, misalnya.

Apa beda paspor biasa dan elektronik, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, paspor elektronik dikatakan memiliki chip yang ditanamkan di salah satu bagian paspor, entah itu kulit/cover atau halaman tertentu. Chip ini memiliki informasi biometrik seperti sidik jari, kemungkinan juga iris (seperti pada layanan Kartu Tanda Penduduk elektronik/e-KTP) dan informasi biodata seperti nama, tempat & tanggal lahir, alamat rumah, pekerjaan dan lain-lain. Dengan informasi yang sudah dipindai secara elektronik ini, pengguna paspor dapat mengalami proses yang lebih cepat di gerbang imigrasi, baik itu di Indonesia maupun di salah satu negara Schengen di Eropa. Menurut artikel itu lagi, bahkan pemegang paspor bisa menggunakan salah satu gerbang otomatis (bayangkan langsung melewati imigrasi tanpa harus bertatap muka dan ditanya-tanya oleh petugas, namun langsung melakukan pemindaian cepat di mesin).

Hal ini berarti, untuk menikmati fasilitas bebas visa kunjungan ke negara-negara Schengen di Eropa, kemungkinan besar kita harus memiliki paspor elektronik terlebih dahulu. Bisa saja hal ini berarti kita harus mengurus paspor baru lagi.

Tampaknya masih butuh beberapa tahun lagi (lima tahun?) agar WNI dapat menikmati keuntungan bebas visa kunjungan ke negara-negara Schengen. Saya juga agak bingung, kenapa berita ini hanya muncul di Tribun News, atau setidaknya begitulah yang saya lihat. Semua hasil pencarian di Google menampilkan hasil salinan berita ini, yang berjudul “Selangkah Lagi WNI Tak Perlu Visa Untuk ke Eropa”. Tampaknya, Tribun News perlu mencari klarifikasi lagi pada kedutaan-kedutaan yang bersangkutan, tidak hanya klaim dari pegawai imigrasi.

Mungkin kita memang tak perlu senang dulu.