Artikel-artikel dari kategori Dari Kami (halaman ke-2 dari 3)

Ransel Baru, Namun Masih Kecil

Selamat datang di Ransel Kecil yang baru. Sudah hampir dua tahun blog ini ada, selama itu pulalah kami mencoba untuk mengumpulkan cerita-cerita. Cerita-cerita mereka yang tidak hanya melakukan perjalanan, tetapi juga sudi mengabadikan dalam kata dan gambar.

Terima kasih kami ucapkan kepada semua kontributor yang sudah menulis dan mengirimkan foto. Tanpa Anda semua, Ransel Kecil tidak mungkin seperti sekarang.

Terima kasih juga kepada pembaca kami, follower di Twitter, “penyuka” di Facebook, dan mereka yang menyampaikan pujiannya secara pribadi kepada kami. Tidak hanya soal puja-puji, kami juga menghargai kritik dan saran pembaca selama ini.

Kami sadar blog ini masih jauh dari sempurna, banyak sekali rencana di hati dan kepala yang mungkin tidak selaras dengan tindakan. Kami, Sigit Adinugroho dan Arif Widianto menjalankan blog ini sebagai proyek pribadi, hobi, sesuatu yang mengisi kesenjangan, karena kecintaan kami pada perjalanan. Arif Widianto berencana tidak lagi membantu mengelola blog ini ke depan, sehingga pengelolanya praktis tinggal satu orang. Dalam kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Arif yang sudah membantu hal teknis dan berbagi tulisan di blog ini selama hampir dua tahun.

Apa yang Baru?

Untuk saat ini, inilah yang bisa kami tawarkan:

Pemutakhiran tampilan. Tak sekedar itu, kami juga menambahkan rubrik baru, yakni Esai Foto, bagi Anda yang ingin menampilkan foto-foto perjalanan dalam bentuk narasi bertema tertentu. Atas dasar itu jugalah, ruang baca setiap entri diperlebar.

Situs mobile. Bagi pengguna telepon atau alat pintar, khususnya yang menjalankan iOS, seperti iPhone dan iPod Touch, silakan nikmati situs kami dalam layar kecil Anda.

Migrasi ke WordPress. Setelah hampir dua tahun kami menggunakan TextPattern, kami berpikir sudah saatnya berpindah ke sistem manajemen konten yang lebih komprehensif untuk mendukung beberapa fitur yang kami inginkan dengan lebih mudah. Proses migrasi ini memakan waktu berbulan-bulan, terutama karena sistem template yang berbeda.

Rencana ke Depan

Proses redesain ini tidak lepas dari keinginan kami untuk terus mengembangkan diri, perlahan tapi pasti. Jika ditanya apa rencana ke depan, kami tidak tahu pasti. Tapi begini kira-kira:

Aplikasi mobile. Ingin sekali mengembangkan semacam aplikasi mobile tentang perjalanan, atau sekedar feed dari blog ini. Tapi semuanya masih konseptual. Jika ada yang ingin berkolaborasi, silakan hubungi kami dan kami akan senang hati berdiskusi.

Rubrik baru/situs Tumblr. Kami ingin terus menambahkan variasi konten di blog ini. Format yang sekarang cenderung mengutamakan artikel yang diolah lebih matang, sehingga jarang diperbaharui. Kami ingin ada rubrik khusus atau mikroblog di mana kami bisa memperbaharui secara lebih sering dengan materi-materi “daur ulang” dari ranah web, misalnya pranala atau berita-berita khusus perjalanan.

Kontributor mandiri. Selama ini, kontributor menyerahkan artikel melalui email, lalu kami sunting. Ke depan, kami ingin mengimplementasikan sistem di mana kontributor dapat menuliskan artikel langsung di dalam sistem. Tentunya, setiap artikel akan tetap kami sunting terlebih dahulu.

Memperbaiki format beberapa artikel. Karena migrasi dari TextPattern ke WordPress, beberapa format artikel menjadi berubah. Karena jumlah artikel kami ratusan, maka butuh waktu untuk memperbaiki semuanya.

Selain itu, ada hal yang kami tetap lanjutkan, seperti tidak adanya komentar. Banyak yang bertanya, kenapa Ransel Kecil tidak memiliki komentar? Alasannya sederhana: Kami ingin menjaga kualitas konten di sini. Banyak komentar dalam blog di dunia maya yang tidak berkualitas, tidak mendukung konten entri, sampai menjadi perdebatan yang tidak sehat. Sebagai gantinya, kami memiliki akun Twitter untuk berkomunikasi dengan komunitas kami. Jika Anda ingin berkomentar, simpan komentar tersebut dan tuliskan dalam sebuah artikel tanggapan, itu akan jauh lebih baik.

Jika Anda punya ide atau bersedia berkolaborasi, silakan kontak kami.

Sekali lagi, terima kasih atas waktu dan perhatiannya, semoga pembaharuan Ransel Kecil yang sedikit ini punya arti bagi Anda.


Kaos Ransel Kecil

Pemutakhiran 4 Juli 2011: Pemesanan kaos sudah ditutup. Jika Anda ingin memesan kaos, tunggu pengumuman kami selanjutnya. Terima kasih!

Pemutakhiran 1 Juli 2011: 27 kaos gelombang 1 sudah dikirim hari ini.

Bagaimana rasanya jika bepergian dengan kaos Ransel Kecil?

Bekerjasama dengan Neuro-Designs, kami akan memproduksi kaos Ransel Kecil. Kaos-kaos ini dibuat dari bahan cotton combed 24S dan dikemas oleh Neuro-Designs.

Keuntungan dari penjualan ini bukanlah untuk kepentingan komersil. Setidaknya ada dua hal yang mendasari produksi kaos Ransel Kecil ini.

Yang pertama, kami ingin bisa mulai memberikan sesuatu kepada kontributor kami. Dengan membeli kaos-kaos ini, keuntungannya akan kami gunakan untuk membelikan kaos lagi kepada setiap kontributor lama dan baru.

Kedua, untuk jangka panjang. Akhir-akhir ini, kami mengalami lonjakan pengunjung yang luar biasa, dengan rata-rata 1.000 – 1.500 pageview unik setiap bulan sejak awal tahun 2011. Server kami sempat kelebihan bandwidth dua kali, yang membuat kami terpaksa menaikkan batasnya. Ke depan, jika memang kebutuhan server Ransel Kecil semakin meningkat, dana yang ada digunakan untuk menopang sebagian pengeluaran bulanan.

Dari dua tujuan kami itu, kami sangat mengharapkan bantuan Anda untuk meningkatkan kualitas blog ini dari masa ke masa, salah satunya adalah dengan membeli kaos ini!

Desain Kaos

Konsep rancangan kaosnya seputar brand dari Ransel Kecil itu sendiri, dengan kutipan perjalanan dari pelaku perjalanan legendaris Paul Theroux di depannya.

Kaos Tampak Depan
Tampak Depan

Kaos Tampak Belakang
Tampak Belakang

Desain kaos lebih jelas (jika ada perbedaan warna, itu karena warna monitor dan cetak berbeda, pada intinya coklat tua):

Desain & Warna

Kaos akan dikirim dalam kemasan seperti ini:

Kemasan Neuro-Designs

Pemesanan

Harga: IDR80.000,- per kaos*

Pemesanan dilakukan dengan mengisi formulir ini. Pemutakhiran 4 Juli 2011: Pemesanan kaos sudah ditutup. Jika Anda ingin memesan kaos, tunggu pengumuman kami selanjutnya. Terima kasih!

Setelah email kami terima, kami akan mengkonfirmasi lagi pesanan Anda jika produksi kaos telah selesai, menginformasikan total biaya yang diperlukan (harga kaos + biaya pengiriman) dan memberitahukan rekening bank yang dituju.

*Belum termasuk biaya pengiriman dari Jakarta. Pengiriman domestik akan dilakukan via TIKI. Pengiriman internasional akan dilakukan via kurir yang disetujui oleh pembeli. Semua jenis pajak dan bea cukai pengiriman internasional dibebankan pada pembeli.

Jika ada pertanyaan lebih lanjut atau masalah, silakan kirim email ke info@ranselkecil.com.

Terima kasih atas dukungannya!


Ransel Kecil di Majalah Her World Indonesia

Ransel Kecil masuk majalah! Terima kasih untuk Kenny Santana atas rekomendasinya di majalah Her World Indonesia edisi Mei 2011. Klik pada gambar untuk memperbesar.


Tips Menulis Catatan Perjalanan dari Agustinus Wibowo

Agustinus Wibowo

Buat petualang seperti Agustinus Wibowo, perjalanan bukan soal pergi ke tempat-tempat paling asing di bumi.

“Kunci sebuah perjalanan adalah refleksi,” kata Agustinus, di sela-sela sesi berbagi dengan komunitas National Geographic pada hari Sabtu, 14 Mei lalu.

Agustinus, yang muncul dengan pakaian tradisional Afghanistan shalwar
qamiz
berwarna putih, dengan lancar membagi cerita seputar perjalanannya di Afghanistan, Tajikistan, Kazakhstan, Kirgizstan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Sebagian besar ceritanya memang sudah dimuat di buku-bukunya, “Selimut Debu” dan “Garis Batas”, tapi lebih istimewa memang ketika mendengar langsung pengalaman tukang jalan yang satu ini. Ada beberapa hal tentang proses pembuatan buku yang tidak termuat di mana pun. Misalnya, cerita bahwa buku pertamanya, “Selimut Debu” diselesaikan tanpa sempat bertemu dengan editornya, Hetih Rusli. Buku keduanya, “Garis Batas” dibuat dalam waktu dua tahun dan melalui empat kali penulisan ulang. Naskah pertama “Garis Batas” panjangnya
mencapai 600 halaman. Menurut Hetih, jumlah tersebut terlalu panjang dan perlu peringkasan supaya pembeli mau membaca. Mau tidak mau, beberapa detail terpaksa dibuang untuk menjaga fokus buku.

Agustinus juga dengan rendah hati berbagi tips mengenai caranya menulis sepanjang perjalanan. Menurut pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 29 tahun lalu ini, sebuah catatan perjalanan haruslah sesuatu yang personal dan jujur.

“Buku saya adalah kumpulan potret dan pengalaman supaya pembaca mendapat the bigger picture dari tempat yang saya kunjungi,” ujar Agustinus. Fotografer ini menolak membawa laptop saat dalam perjalanan, tapi ia selalu berbekal kamera, kamera video, perekam suara dan buku harian ke mana pun ia pergi.

“Setiap hari saya menulis, bisa sampai lima dan enam halaman,” katanya. “Kadang, seharian saya sibuk motret dan tidak menulis, jadi tergantung kondisi juga.”

Kamera dan perekam suara adalah senjata Agustinus untuk memecah kebekuan dengan orang yang baru dia kenal. Biasanya, dia memotret orang lokal atau merekam suara mereka untuk diperlihatkan kembali, dan umumnya semua senang difoto atau direkam suaranya. Agustinus, yang lancar berbagai bahasa yang berlaku di Asia Tengah, mulai dari Pashto, Farsi hingga Urdu, mengatakan bahwa orang-orang di Afghanistan, misalnya, kebanyakan tulus dan tanpa kepura-puraan.

Sebuah catatan perjalanan yang baik menurut Agustinus adalah tulisan yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca. Agar bisa mencapai hasil seperti ini, seorang pejalan harus bisa belajar menertawakan kesedihannya. Agustinus mengambil contoh ketika ia mengalami kesialan di perjalanan, seperti kamera hilang atau ditipu orang. Ia menceritakan bagaimana ia terus memacu dirinya untuk terus berjalan walaupun hampir patah semangat.

Travel writing tidak boleh egosentris, ini semua bukan tentang si penulis, walaupun karakter penulis harus ada di dalamnya,” kata Agustinus.

Proses menulis adalah cermin dari proses perjalanan itu sendiri. Ketika di Afghanistan, Agustinus yang menganut agama Buddha sempat mengalami kejadian tidak enak, dimana alat makan yang dia pakai sebelumnya harus dibuang oleh penduduk setempat karena ia seorang bukan beragama Islam.

“Saya luruhkan ego saya dan mencoba berpikir dengan cara pandang mereka,” kata Agustinus.

Sebuah perspektif pejalan akan terbentuk ketika terjadi komunikasi dengan orang yang berbeda. Dengan cara inilah, Agustinus berusaha menceritakan Afghanistan di buku pertamanya, “Selimut Debu”.

“Saya menceritakan Afghanistan melalui pandangan berbeda dari berbagai orang, bukan lewat kuesioner atau semacamnya,” katanya. “Dari sini, saya harap pembaca bisa menggambarkan Afghan yang lain dari yang mereka lihat di televisi.”

Ketika menulis “Garis Batas”, Agustinus merasa perlu memberi sebuah benang merah dari sejumlah catatan perjalanannya. Melalui refleksi pulalah, ia memberi judul “Garis Batas”.

“Saya melihat bagaimana negara-negara ini hanyalah bidak dalam percaturan politik negara tetangga,” kata Agustinus. Sebagai negara eks Uni Soviet, identitas mereka tercabut ketika pemerintahan komunis berkuasa. Sekarang, ketika mereka merdeka, bangsa-bangsa ini merasa bingung dengan identitas aslinya yang sudah sekian lama terambil. Mereka dengan bangga menyebut dirinya orang Muslim, meski tidak tahu apa kalimat syahadat, bacaan shalat dan puasa Ramadan. Yang penting adalah identitas.

“Saya melihat bagaimana garis batas menentukan nasib hidup seseorang,” kata Agustinus. “Di Afghanistan, banyak uang tapi tidak ada fasilitas apa-apa, di Tajikistan, semuanya teratur tapi nyaris 95% penduduknya menganggur.”

Agustinus melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas suku terpecah karena adanya garis batas seusai runtuhnya negara Uni Soviet. Sebuah keluarga bisa mengucap bahasa yang berbeda, mata uang berbeda dan bahkan pahlawan yang beda. Ia juga mengkritisi bagaimana garis batas menciptakan kebanggaan semu bagi orang-orang yang terkotak-kotakkan di dalamnya, terkungkung dalam sebuah konsep bernama negara.

“Saya melihat bahwa tidak semua negara memimpikan kemerdekaan dan demokrasi,” katanya.

Buku-buku Agustinus ditulis dalam bentuk narasi. Selama penulisan dan pengeditan buku berlangsung, selama itulah riset untuk verifikasi data dilakukan. Bagaimanapun, perjalanan yang dilakukan Agustinus adalah sebuah napak tilas sejarah yang berlangsung sejak dulu kala, mulai dari masa peperangan Gengis Khan hingga terbentuknya pemerintahan Taliban, yang merupakan hasil rekayasa pemerintahan Pakistan dan Amerika Serikat.

Seusai penulisan buku keduanya, “Garis Batas”, Agustinus merasa ia mencapai titik ia menganggap dirinya sebagai penduduk dunia. Tak lagi penting agama yang ia anut dan status kependudukannya, selain untuk masalah formalitas belaka.

“Sekarang, buat saya rumah bukan lagi sebuah konsep geografis,” katanya. “Bukan juga kampung halaman, tapi tempat orang akan menyambut saya.”

Karena itu, Agustinus merasa dirinya kaya karena punya berbagai tempat yang bisa dipanggil rumah di mana-mana.

Kebetulan editor Agustinus, Hetih, duduk di sebelah saya sepanjang diskusi sesi pertama, sebelum akhirnya naik panggung untuk ikut berbagi cerita. Menurut Hetih, sudah ada rencana untuk menerbitkan buku-buku Agustinus ke dalam bahasa asing, tapi ia harus bersaing dengan penulis-penulis dari luar negeri pula. Untuk itu, Agustinus berencana kembali ke Indonesia pada akhir tahun untuk menghadiri Ubud
Writer Festival 2011.

Satu lagi hal penting dalam menulis catatan perjalanan adalah lamanya tinggal di suatu tempat.

“Kita harus menghindari kesan pertama,” katanya. “Sebuah perjalanan tidak boleh singkat, karena kita harus bisa mengangkat selubung impresi tersebut.”

Mendengar perkataan Agustinus tersebut, saya berkesimpulan bahwa ini bukan saja persoalan cara menulis, tetapi juga bekal dalam menjalani hidup.

  • Disunting oleh SA 25/05/2011

Ransel Kecil di The BOBs

Penghargaan blog The BOBs oleh Deutsche Welle

Berita menggembirakan datang malam kemarin dari panitia penghargaan blog The BOBs, yang diorganisir oleh Deutsche Welle, sebuah kantor berita/media dari Jerman: Ransel Kecil menjadi salah satu dari 11 nominasi untuk kategori Blog Indonesia terbaik (“Best Blog Indonesian”). Selanjutnya, untuk bisa memenangkan penghargaan ini ada dua jalur, yakni BOBs User Prize yang dilihat dari jumlah pemilih terbanyak dari sesi jajak pendapat sampai 11 April, lalu BOBs Jury Prize yang ditentukan oleh panelis juri, dan pemenangnya akan diundang ke Bonn, Jerman untuk menerima hadiahnya.

Kami ingin menggunakan kesempatan ini untuk berterima kasih atas kontribusi, saran, kritik dan dukungan teman-teman pembaca sekalian selama lebih dari satu tahun blog ini berdiri.

Dengan segenap hati, kami mengajak teman-teman untuk membantu kami mendapatkan BOBs User Prize dengan memilih kami di jajak pendapat the BOBs sampai 11 April 2011.

Bagaimana caranya? Tinggal klik di sini, sign in melalui Facebook atau Twitter dan pilih kami dari kategori “Best Blog Indonesian”. Anda bisa melakukan pemilihan setiap 24 jam sekali, jadi, tolong bantu kami!

Terima kasih sekali lagi!


Mengubah Diri dengan Perjalanan

Ada beberapa diskusi menarik yang terjadi di ranah maya, mengenai bagaimana merasakan perjalanan yang sesungguhnya. 

Kita melihat bahwa, pertama, ada orang-orang yang menjalani kehidupan berkelana sebagai kodrat hidupnya. Mereka menghidupi dirinya dari serangkaian kegiatan-kegiatan yang ditempuh selama hidup di negeri asing. Mereka bukanlah sekedar wisatawan yang biasa berlibur dari cuti yang susah-payah didapat dari kantornya, atau yang tertatih-tatih mencari tiket dengan harga promo. Mereka benar-benar tinggal secara permanen di negeri asing, untuk kemudian merasa cukup di situ dan berpindah lagi ke negeri lainnya, tapi tak pernah—atau entah kapan—pulang. Di banyak kesempatan, mereka tak banyak bicara. Mereka lebih suka memendam seluruh pengalaman, meresapinya, baru kemudian mewujudkannya dalam karya yang lebih “berbobot”.

Kemudian, tentu saja yang kedua, yakni orang-orang yang melakukan perjalanan dengan pemaknaan yang lebih ringan, dan bahkan sangat ringan: mereka yang melakukan perjalanan sesekali dalam episode hidupnya, karena kesempatan yang terbuka dalam waktu-waktu tertentu. Mereka ini tak lama di suatu tempat. Paling lama hanya sebulan, lalu kembali lagi ke rutinitas awal. Ada yang cuma tiga hari, lalu pulang. Setelah pulang, mereka bercerita pada keluarga dan teman-temannya, berbagi foto di jejaring sosial, bahkan mungkin menulis blog seperti di sini.

Adalah kutipan twit dari Bram Pitoyo yang membuat saya berpikir: “That is, if you intend to travel! Most don’t. They simply go on trips, then go back home, sore and unchanged.

Unchanged”. 

Apakah semua perjalanan yang sudah saya buat selama ini menjadi sia-sia? Apa yang dapat membuat saya lebih menghayati kehidupan perjalanan, sehingga dapat mengubah saya?  Apakah tak cukup dengan sesekali bepergian, lalu pulang, dan melepaskan baju pergi, untuk kembali ke baju kerja dan baju kehidupan biasa? Mungkinkah saya menjalani apa yang dijalani oleh Bram Pitoyo, Agustinus Wibowo atau beberapa orang lain yang saya tahu? Apakah kita semua memiliki kesempatan yang sama? 

Kalau soal kesempatan, mungkin sama. Tinggal kemauan. Apa yang mendorong kita untuk bisa bekerja dan hidup di luar negeri selama ini? Uang, ternyata. 

Pengalaman bisa jadi hanya faktor kedua. Pengalaman pun, kemudian, hanya berkisar tentang mewujudkan fantasi sesaat kita tentang imaji-imaji yang dibangun dari budaya populer: televisi, film, buku, komik, dan mungkin permainan video. Tiba-tiba kita ingin ke Paris. Kenapa? Karena imaji yang dibangun oleh media. 

Salutnya, orang-orang yang melakukan perjalanan sepenuhnya sebagai cara hidup ini bepergian berdasarkan keinginan merengkuh pengalaman sebagai prioritas. Tidak hanya dibatasi oleh cita rasa dan mimpi, mereka ternyata punya definisi sendiri tentang pengalaman. Mereka tahu apa yang ingin dicari. Punya tujuan jelas, dan rencana yang komprehensif! Mereka tak peduli hidup sedikit susah, dengan terpaan perbedaan kultural dan adaptasi yang keras. Mereka ditempa oleh perjalanan. 

Mendengar semua pengalaman mereka, saya ingin segera melupakan semua urusan pekerjaan dan kehidupan di sini—mungkin sejenak saja?—untuk kemudian berburu kesempatan untuk hidup seperti itu. Bisa jadi ada lowongan pekerjaan yang bisa membawa saya ke suatu tempat untuk menetap dalam kurun waktu tertentu. Ide lain adalah saya kemudian meminta kantor saya yang sekarang untuk relokasi, dengan segala justifikasinya yang sulit itu. Mungkin, saya masih ada koneksi di suatu tempat nun jauh di sana. Gilanya, mungkin saya akan mencoba banting setir menghadapi suatu bidang pekerjaan tertentu, atau kehidupan lain, asal kesempatan itu membuka saya menjalani kehidupan seperti manusia-manusia hebat itu tadi.

Saya menghela nafas panjang.

Tunggu dulu. Tapi ada orang-orang yang karena perjalanan-perjalanan singkatnya, yang terkesan lebih ringan dan rileks, tetap mampu memberikan inspirasi. Tidak ada yang berat seperti renungan-renungan saya di sini, di blog ini. 

Barangkali yang patut saya pikirkan adalah apakah perjalanan-perjalanan singkat saya itu apakah sudah mengubah saya? Dari sisi apa? Pemahaman lintas-budaya? Pencarian jati diri? Penemuan minat dan bakat sejati? Apakah dari seluruh perjalanan saya yang menghabiskan tenaga dan sumber daya itu hanya untuk bersenang-senang saja? Kalaupun ada belajar sesuatu yang baru, tidak empiris, tidak menyeluruh, tidak meresapi dan lain sebagainya? Lain kalau kita tinggal di suatu daerah hampir satu tahun lamanya…

Toh, setiap pengalaman pasti akan ada dampaknya pada diri kita. Mungkin kecil, mungkin besar. Mungkin cepat, mungkin perlahan. Mungkin bertahap, mungkin sekaligus. Hanya saja, jika kita memang memilih menjadi petualang sejati yang menetap sementara lalu berpindah-pindah, pengalaman-pengalaman yang kita dapatkan menjadi sesuatu yang lebih koheren dan menjadikan kita individu yang tidak cepat menyimpulkan sesuatu. Mungkin inilah yang diperlukan orang-orang Indonesia yang kurang mengapresiasi proses!

Namun, jika pun kita memilih jalan yang kebanyakan orang pilih—mungkin karena terdera tuntutan tanggungjawab ini dan itu di tempat tinggal—“berlibur” atau melakukan perjalanan sedikit demi sedikit lalu kembali lagi juga dapat mengubah diri kita. Kita memang tak akan mendapatkan pengalaman koheren seperti cara lain itu, tapi setidaknya kita tahu kita tidak hidup dalam satu poros perspektif & nilai, dan yang lebih penting, membuat kita memiliki kebutuhan untuk memperkaya diri kita dengan perspektif baru setiap waktu, sehingga tubuh kita pun setuju untuk langsung mengalami (dan menikmati) sebuah perjalanan fisik.

Disunting oleh ARW 10/03/2011


Satu Tahun Perjalanan

Pada hari ini satu tahun lalu, sebuah ruang baru di dunia maya terbuka. Ruang itu bernama Ransel Kecil. Seperti sudah kami kenalkan melalui tulisan perdana, ini adalah awal dari semua perjalanan impian kita semua!

Kisah blog ini memang berawal dari mimpi. Bagaimana bukan mimpi, dua orang pengelola blog ini adalah pemula dalam dunia perjalanan. Keduanya tidak dekat dengan agen perjalanan, bukan praktisi penerbangan/transportasi, dan juga tidak berkecimpung di dunia hospitality. Namun keduanya sangat antusias dengan perjalanan. Sigit adalah seorang desainer. Arif adalah seorang programmer-desainer-wirausahawan-dan-bapak-seorang-anak. Pekerjaan sehari-hari keduanya jauh dari dunia perjalanan. Dengan segala keterbatasan waktu, batasan karena urusan pekerjaan, keterbatasan biaya, dan urusan keluarga (bagi Arif), impian jalan-jalan banyak yang harus disimpan dahulu. Namun mereka tak bisa menyimpan impiannya untuk berbagi tentang perjalanan mereka. Tentu saja mereka juga ingin membaca dan terinspirasi dengan membaca cerita dari pelancong lainnya. Keduanya percaya setiap cerita perjalanan dari masing-masing individu mempunyai ruh untuk menginspirasi bagi kebaikan orang lain. Itulah niat dan misi singkat Ransel Kecil. Menginspirasi melalui berbagi cerita perjalanan.

Catatan perjalanan dua orang mungkin akan terbatas, namun catatan dari 15 kontributor akan membuat sebuah media berbeda. Dari 15 kontributor itu lahirlah 74 tulisan yang selalu memberi inspirasi setiap kita membaca. Dedikasi kami persembahkan kontributor kami (urut abjad): Arif Widianto, Dessy Tri Anandani Bambang, Dianing Ratri, Dita Ramadhani, Faramita Dewi, Fuji Adriza, Galih Suharjan, Isyana Artharini, Muhammad Arif, Pria Purnama, Rika Safrina, Samanta Limbrada, Sigit Adinugroho, Willy Irawan dan Yani Widianto.

Dari tangan-tangan 15 orang inilah kita bisa berbagi cerita tentang kota yang indah, makanan yang menggugah selera, penginapan yang menarik, hingga tempat dan kegiatan dari berbagai dunia. Dari 15 orang ini kita dibawa berkeliling dunia mulai dari ujung Pulau Sempu hingga pelosok hutan Kalimantan Barat; berkunjung ke negeri-negeri eksotis seperti Vietnam dan Kamboja; hingga dunia Barat yang menarik seperti Berlin dan Las Vegas; menikmati indahnya lanskap Vietnam hingga Norwegia; membayangkan lezatnya makanan dari Thailand dan Korea; dan juga menengok kegiatan Palebon (Ngaben) dan Nyepi di Bali.

Tapi akhirnya 74 tulisan tidak akan bermakna bila tidak ada yang membaca, dan untuk itulah ucapan apresiasi kami persembahkan pada pembaca Ransel Kecil. Menurut statistik dari Google Analytics: tak kurang dari 17.290 pengunjung mampir ke ruang ini, mencatatkan 35.064 halaman yang terbaca. Dari catatan terakhir, Ransel Kecil dikunjungi oleh 1.840-an pengunjung per bulan, semua itu membaca kira-kira 3.800-an halaman.

Terakhir, dalam perjalanan satu tahun ini, kami pengelola Ransel Kecil pasti ada banyak kekeliruan, kesalahan, atau kekhilafan. Bagi para kontributor mungkin ada yang kurang puas dengan cara kami mengedit tulisan, bagaimana kami memotong, mengubah redaksi tulisan, atau juga tidak menampilkan foto yang telah Anda buat dengan bagus. Bagi pembaca, mungkin kami kurang bagus dalam editan, kurang sopan dalam penyajian, atau mungkin ada kealpaan untuk membalas sapaan Anda. Untuk itu semua, kami mohon maaf. Kami berniat untuk memberikan yang terbaik. Tapi kami manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, untuk itulah kami menerima kritik dan saran dari Anda.

Sungguh perjalanan yang menarik dalam satu tahun ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana perjalanan Ransel Kecil di tahun yang akan datang. Pasti akan lebih menarik.

Anda tertarik untuk berbagai pengalaman perjalanan? Ayo, kami bersedia dan akan gembira menampungnya. Tulisan Anda pasti akan memberi impian dan inspirasi. Juga pihak-pihak lain yang ingin berbagi kepada pembaca Ransel Kecil, kami siap menyambut ajakannya.

Mari kita lanjutkan perjalanan!


Duka Kami untuk Korban Bencana Wasior-Mentawai-Merapi

Bencana beruntun melanda negeri kita. Mulai dari banjir di Wasior. Gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai. Lalu letusan Gunung Merapi.

Kita semua berduka. Mari kita bantu melalui berbagai lembaga kemanusiaan yang ada, semoga sedikit yang bisa kita salurkan bisa meringankan beban saudara-saudara kita.

Palang Merah Indonesia

# Bank BCA, KCU Thamrin Jakarta, Nomor Rekening 206.300668.8, atas nama Kantor Pusat PMI.
# Bank Mandiri, KCP JKT Krakatau Steel, Nomor Rekening: 070-00-0011601-7, atas nama Palang Merah Indonesia.
# BRI, KC Pancoran, Jakarta, Nomor Rekening: 0390-01-000030-30-3, atas nama Palang Merah Indonesia.
# Donasi dari luar negeri, Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Baja, No. Rekening: 070-00-0584905-9, Atas nama: Palang Merah Indonesia, SWIFT code: BMRIIDJA

Telepon Humas PMI: +62.21.7992325
E-mail: pmi@pmi.or.id
Sumber: http://www.pmi.or.id/ina/

Disunting oleh ARW 05/11/10


Menjadi Pengelana yang Beretika

Industri pariwisata adalah industri yang sangat besar. Menurut data barometer World Tourism Organization (WTO), jumlah turis sepanjang tahun 2009 adalah 880 juta jiwa, peningkatan tajam terjadi di wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah. Jumlah uang yang dibelanjakan hingga tengah tahun 2010? Sekitar US$852 milyar! Untuk Indonesia sendiri, data dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan ada sekitar 6,5 juta kunjungan pada tahun 2009, setidaknya satu juta rupiah dibelanjakan oleh setiap turis asing setiap hari. Kehadiran sarana transportasi yang memudahkan dan murah membuat perjalanan untuk tujuan apapun menjadi mudah, bahkan spontan. Semakin mudahnya regulasi dan infrastruktur membuat mereka yang tadinya berpikir dua kali untuk membelanjakan uangnya demi sebuah liburan langsung tanpa pikir panjang membeli tiket jauh-jauh hari demi harga murah, lalu memesan tempat penginapan di daerah tujuan, yang diselesaikan kurang dari sepuluh menit! Begitu mudahnya, sekarang semua orang bisa liburan, bukan orang kaya saja.

Semua ini ada dampaknya, tentu, secara positif ia meningkatkan sirkulasi uang dan menggairahkan ekonomi. Perjalanan juga mencerahkan dan mendidik masyarakat regional dan internasional. Namun, pasti ada dampak negatifnya. Dampak lingkungan, sosial, budaya dan bahkan ekonomi.

Perjalanan menghabiskan sumber daya alam secara signifikan jika dilihat secara kolektif. Hotel menggunakan banyak sekali air dan listrik, misalnya. Apalagi ketika musim puncak. Semakin populer sebuah destinasi wisata, maka semakin banyaklah sumber daya alam dan manusia yang dibutuhkan untuk menopangnya. Pencemaran udara, air dan tanah tak dapat dihindarkan. Seberapa banyak dari kita yang cukup sebal dengan pembangunan beragam hotel mewah di Bali atau daerah yang sedang naik daun? Kalau kita menyusuri perjalanan dari Da Nang, sebuah kota di Vietnam tengah menuju kota kecil bersejarah Hoi An, maka kita mendapati banyak sekali proyek konstruksi resor-resor mewah dari luar negeri, yang menurut saya, mengurangi jiwa dari tujuan tersebut. Contoh lebih dekat adalah Pulau Tidung di lepas pantai Jakarta. Beberapa waktu lalu di Twitter ada yang menampilkan foto di sekitar pulau itu yang cantiknya sempurna seperti dalam sebuah kartu pos. Lalu seketika, teman saya, Monika Halim, menyahut bahwa gambar itu tidak sesuai aslinya. Bagi seorang Monika yang sudah pernah mengunjungi Pulau Tidung secara langsung, ternyata daerah itu sudah kotor dengan sampah, dan tak secantik foto tersebut.

Keterlibatan turis asing dalam membangun ekosistem tertentu, seperti misalnya, pelacuran, juga berdampak negatif pada aspek sosial. Belum lagi jika bicara peredaran obat-obatan terlarang dan bentuk human trafficking lain. Beberapa waktu lalu kita juga dihebohkan dengan isu kawin kontrak antara wanita lokal dan pengunjung asing, di Jawa Barat.

Terkadang, bahkan suatu lokasi terpaksa menyingkirkan budaya dan norma aslinya demi mendukung kebutuhan dan permintaan turis asing. Turis datang dengan ekspektasi yang sudah dibangun oleh pendatang sebelumnya yang kemudian semakin membiaskan identitas awal dari sebuah destinasi. Contohnya, Bandung dikenal sebagai kota belanja, padahal penobatannya adalah sebagai pusat pendidikan, teknologi dan baru-baru ini, industri kreatif.

Istilah “turis” sendiri sudah membentuk konotasi negatif. “Industri pariwisata” menjadi wilayah yang kental dengan kebutuhan untuk memenuhi target penjualan. Tujuannya adalah menarik sebanyak mungkin turis domestik atau internasional dengan mengemas pengalaman secara kolektif, yang belum tentu memberikan makna sesungguhnya dari sebuah perjalanan bagi konsumen. Contoh dekat, Singapura. Mereka berusaha keras membangun negara menjadi sebuah tujuan wisata “buatan” dan menjualnya selayaknya makanan cepat saji. Kalau saja kita ingat Universal Studios. Siapa lagi konsumennya kalau bukan masyarakat regional seperti keluarga-keluarga mampu Indonesia.

Inilah yang salah dari istilah “industri pariwisata”. Pariwisata menjadi dunia yang termanufaktur. Persepsi ideal dari sebuah destinasi dibuat dan dipasarkan mengikuti konsep industri. Akibatnya, makna pengelanaan yang sesungguhnya gagal didapatkan. Pengalaman otentik dari identitas lokal tidak tersentuh sama sekali. Berapa banyak dari kita yang tahu sejarah Singapura, misalnya? Apa yang membuat kita datang ke Singapura? Tahukah dulu Singapura itu adalah perkampungan pelabuhan miskin bagian dari Malaysia bernama Temasek? Siapa sajakah yang menjadi bagian sejarah populasi di sana? Tak ada yang tertarik mempelajarinya.

Hal ini jugalah yang mendasari konsep Ransel Kecil, bagaimana istilah “turis” dan “wisatawan” itu kurang cocok dengan semangat yang kami usung. “Pengelana” atau “pelaku perjalanan” rasanya lebih tepat, karena menyiratkan semangat menggebu untuk tidak sekedar terperangkap stereotipe destinasi, tapi membuat diri kita siap untuk terkejut, terkesima, kesal, senang, marah. Perjalanan bukanlah berusaha menyamakan foto atau gagasan tentang suatu lokasi atau pengalaman, tapi menemukan kisah, empati dan kejutan kita sendiri.

Bagaimana menjadi pengelana yang beretika? Besok, ketika merencanakan perjalanan, cobalah pelajari secara ekstensif daerah tujuan Anda, tidak hanya soal akomodasi, transportasi dan pusat perbelanjaan, tapi tentang sejarah kota atau negara tersebut, kondisi geopolitis, seni dan sastra, makanan, temukan teman lama atau baru, serta berusaha untuk tidak ikut paket tur lokal. Sebisa mungkin, perjalanan antarkota dilakukan dengan moda transportasi lokal seperti bis atau kereta api. Banyak-banyaklah bersepeda. Habiskan uang Anda untuk pengrajin dan makanan lokal, bukan makanan cepat saji jaringan. Tinggal di hostel atau hotel lokal. Jalan kaki. Belanja di pasar lokal. Hindari memberi kepada pengemis atau berterimakasih dengan bentuk uang atau benda, karena akan membentuk budaya pamrih. Jangan buang sampah sembarangan. Habiskan makanan Anda. Buang sisa makanan tersebut ke tempat sampah. Pelajari sopan santun dan adat lokal.

Menjadi turis atau pelaku perjalanan bukan berarti kita bebas melakukan apa saja. Sudah bayar mahal, bukan berarti kita menjadi raja beberapa hari di tempat tujuan. Tetap saja, banyak etika dan aturan yang perlu kita perhatikan selama di tempat tujuan. Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.

Ketika perjalanan itu selesai, renungkanlah kembali, tidak hanya soal berapa banyak uang yang Anda habiskan, tapi tentang makna yang Anda dapatkan dari perjalanan tersebut. Apa yang bisa saya pelajari untuk diri saya, keluarga saya, teman-teman saya, kota saya, negara saya?

Disunting oleh ARW 14/10/10


Visa: Membatasi atau Memudahkan?

Di sebuah forum di internet, ada yang menanyakan, apa itu visa. Pernah dengar kata visa? Mungkin lebih sering dikaitkan dengan Visa, jaringan kartu kredit dan debit global. Walaupun kita sering menemukan manfaat dalam jaringan pembayaran Visa ketika dalam perjalanan, visa yang dimaksud di sini adalah dokumen verifikasi yang dikeluarkan oleh suatu negara terkait dengan pemohon dari negara lain yang ingin melakukan perjalanan ke negara yang dimohonkan visanya.

“Semakin bebas rakyat suatu negara untuk melakukan perjalanan ke negara lain, tanpa harus memohon visa kunjungan, misalnya, maka dapat dikatakan pemerintah dan rakyat negara tersebut semakin dipercaya di pergaulan dunia. ”

Lho, kenapa? Bukankah berbekal paspor saja cukup? Begini, situasi sosial, geografi dan politik banyak menentukan bagaimana pemerintah sebuah negara bersikap dalam menerima pendatang dari negara lain. Keadaan ini dipengaruhi lagi oleh hubungan bilateral dan multilateral, baik dalam lingkup yang spesifik maupun universal. Aman dikatakan bahwa sebagian besar perjalanan antara penduduk negara yang satu dan yang lain di seluruh dunia ini memerlukan visa sebagai sarana verifikasi apakah si pelaku perjalanan layak melakukan perjalanan tersebut, sekaligus meregulasi kegiatan dan lalu lintas pendatang (“alien”) di negara masing-masing. Ada beberapa pengecualian, di mana menurut asas reciprocal (balasan), perjalanan penduduk antara dua negara satu sama lain dibebaskan dari ketentuan tertentu, misal, membebaskan keperluan untuk memohon visa kunjungan sementara. Namun, tidak semua berasas reciprocal. Ada yang hanya satu pihak, kembali lagi tergantung dari hubungan bilateral, multilateral dan berbagai dimensi kepentingan lainnya. Asas reciprocal juga merambah elemen-elemen lain seperti besarnya biaya yang dikenakan. Misalnya, Amerika Serikatmengenakan biaya sebesar USD131 kepada setiap pemohon visa kunjungan, maka beberapa negara seperti Brazil dan Chile juga menetapkan tarif yang sama, khusus pada warga negara Amerika Serikat!

Itu baru soal kunjungan sementara, mungkin kunjungan wisata, mengunjungi teman/keluarga, bisnis dan lain-lain. Ada beragam kepentingan non-penduduk/non-warganegara, misalnya belajar atau bekerja. Hal ini dimungkinkan dengan regulasi yang bervariasi. Jenis-jenis visa yang ditawarkan tergantung kebijakan negara bersangkutan. Lazimnya, semakin penting peran atau posisi negara tersebut di percaturan dunia, semakin kompleks jenis-jenis visa yang ditawarkan. Permohonan visa biasanya dilakukan di kedutaan negara bersangkutan di negara kita, atau kalau tidak ada, di negara terdekat. Ya, benar, kita harus menuju ke negara terdekat dulu sebelum bisa memohon visa.

Sebuah visa bukanlah izin, apalagi kepastian. Ia juga bukan undangan, dan tidak menaruh hak apapun terhadap si pelaku perjalanan. Dengan memegang visa negara tertentu, jika memang diperlukan, maka si pelaku perjalanan semata telah diverifikasi identitas dan niatnya. Mereka yang tidak memiliki visa tidak akan diperbolehkan masuk ke negara tujuan, karena dinilai belum “memperkenalkan diri dan maksud” kunjungan, berpotensi membahayakan keamanan negara tujuan.

Penerbitan visa biasanya dilakukan dengan cara menempelkan secarik kertas atau stiker di atas satu atau dua halaman paspor, disertai informasi mengenai identitas pemohon dan regulasi yang diterapkan ke atasnya. Ketika sudah tidak berlaku lagi, lembar ini biasanya dicoret, dicap atau ada juga yang dibiarkan saja.

Ada beberapa asosiasi negara/regional yang memanfaatkan sistem aplikasi visa bersama, biasanya hanya berlaku untuk kunjungan wisata, sosial atau bisnis, di mana satu kali permohonan, visa yang didapatkan berlaku untuk beberapa negara yang tergabung dalam asosiasi tersebut. Contoh paling mudah adalah visa Schengen di negara-negara Uni Eropa, visa untuk beberapa negara Amerika Tengah seperti Guatemala, El Salvador, Honduras, dan Nikaragua, visa CAPRICOM untuk negara-negara Karibia (sudah tidak berlaku) dan yang dalam perencanaan adalah Univisa untuk negara-negara regional Afrika di bagian selatan dan Afrika bagian timur. ASEAN? Belum punya rencana, tampaknya!

Dari penerapan kebijakan visa ini bisa kita lihat bagaimana pergaulan antarnegara di dunia. Semakin bebas rakyat suatu negara untuk melakukan perjalanan ke negara lain, tanpa harus memohon visa kunjungan, misalnya, maka dapat dikatakan pemerintah dan rakyat negara tersebut semakin dipercaya di pergaulan dunia.

Jangan abaikan keperluan permohonan visa ini, karena selain bisa jadi satu-satunya jalan menuju ke tempat tujuan, juga terkadang menguras energi, waktu dan biaya. Beberapa negara maju menerapkan tarif visa yang mahal dan itu hanya tarif administrasi, artinya jika visa tak keluar, uang pun tak kembali! Selalu cek keperluan visa ketika ingin berkunjung ke suatu negara. Memang menyusahkan, tetapi mari kita sama-sama menjadi warga negara Indonesia yang baik dan patuh, sehingga semakin dipercaya sebagai warga dunia yang baik dan patuh, pula. Mana tahu, ada negara yang lambat laun menghapuskan kebijakan visa kunjungan terhadap kita, sehingga semakin mudahlah kita jalan-jalan!

  • Menurut data dari Henley & Partners, warga negara Indonesia bisa memasuki 46 negara tanpa harus melakukan permohonan visa kunjungan sebelum keberangkatan. Warga negara Malaysia sejumlah 151 negara, dan yang paling tinggi adalah warga negara Inggris, sejumlah 166 negara.
  • Bagaimana pun, Wikipedia menunjukkan data berbeda: warga negara Indonesia bisa memasuki 63 negara tanpa permohonan visa sebelum keberangkatan. Namun di Wikipedia dijelaskan bahwa angka tersebut termasuk paspor diplomatik dan dinas.

Artikel sebelumnya Artikel selanjutnya

© 2017 Ransel Kecil