Industri pariwisata adalah industri yang sangat besar. Menurut data barometer World Tourism Organization (WTO), jumlah turis sepanjang tahun 2009 adalah 880 juta jiwa, peningkatan tajam terjadi di wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah. Jumlah uang yang dibelanjakan hingga tengah tahun 2010? Sekitar US$852 milyar! Untuk Indonesia sendiri, data dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan ada sekitar 6,5 juta kunjungan pada tahun 2009, setidaknya satu juta rupiah dibelanjakan oleh setiap turis asing setiap hari. Kehadiran sarana transportasi yang memudahkan dan murah membuat perjalanan untuk tujuan apapun menjadi mudah, bahkan spontan. Semakin mudahnya regulasi dan infrastruktur membuat mereka yang tadinya berpikir dua kali untuk membelanjakan uangnya demi sebuah liburan langsung tanpa pikir panjang membeli tiket jauh-jauh hari demi harga murah, lalu memesan tempat penginapan di daerah tujuan, yang diselesaikan kurang dari sepuluh menit! Begitu mudahnya, sekarang semua orang bisa liburan, bukan orang kaya saja.

Semua ini ada dampaknya, tentu, secara positif ia meningkatkan sirkulasi uang dan menggairahkan ekonomi. Perjalanan juga mencerahkan dan mendidik masyarakat regional dan internasional. Namun, pasti ada dampak negatifnya. Dampak lingkungan, sosial, budaya dan bahkan ekonomi.

Perjalanan menghabiskan sumber daya alam secara signifikan jika dilihat secara kolektif. Hotel menggunakan banyak sekali air dan listrik, misalnya. Apalagi ketika musim puncak. Semakin populer sebuah destinasi wisata, maka semakin banyaklah sumber daya alam dan manusia yang dibutuhkan untuk menopangnya. Pencemaran udara, air dan tanah tak dapat dihindarkan. Seberapa banyak dari kita yang cukup sebal dengan pembangunan beragam hotel mewah di Bali atau daerah yang sedang naik daun? Kalau kita menyusuri perjalanan dari Da Nang, sebuah kota di Vietnam tengah menuju kota kecil bersejarah Hoi An, maka kita mendapati banyak sekali proyek konstruksi resor-resor mewah dari luar negeri, yang menurut saya, mengurangi jiwa dari tujuan tersebut. Contoh lebih dekat adalah Pulau Tidung di lepas pantai Jakarta. Beberapa waktu lalu di Twitter ada yang menampilkan foto di sekitar pulau itu yang cantiknya sempurna seperti dalam sebuah kartu pos. Lalu seketika, teman saya, Monika Halim, menyahut bahwa gambar itu tidak sesuai aslinya. Bagi seorang Monika yang sudah pernah mengunjungi Pulau Tidung secara langsung, ternyata daerah itu sudah kotor dengan sampah, dan tak secantik foto tersebut.

Keterlibatan turis asing dalam membangun ekosistem tertentu, seperti misalnya, pelacuran, juga berdampak negatif pada aspek sosial. Belum lagi jika bicara peredaran obat-obatan terlarang dan bentuk human trafficking lain. Beberapa waktu lalu kita juga dihebohkan dengan isu kawin kontrak antara wanita lokal dan pengunjung asing, di Jawa Barat.

Terkadang, bahkan suatu lokasi terpaksa menyingkirkan budaya dan norma aslinya demi mendukung kebutuhan dan permintaan turis asing. Turis datang dengan ekspektasi yang sudah dibangun oleh pendatang sebelumnya yang kemudian semakin membiaskan identitas awal dari sebuah destinasi. Contohnya, Bandung dikenal sebagai kota belanja, padahal penobatannya adalah sebagai pusat pendidikan, teknologi dan baru-baru ini, industri kreatif.

Istilah “turis” sendiri sudah membentuk konotasi negatif. “Industri pariwisata” menjadi wilayah yang kental dengan kebutuhan untuk memenuhi target penjualan. Tujuannya adalah menarik sebanyak mungkin turis domestik atau internasional dengan mengemas pengalaman secara kolektif, yang belum tentu memberikan makna sesungguhnya dari sebuah perjalanan bagi konsumen. Contoh dekat, Singapura. Mereka berusaha keras membangun negara menjadi sebuah tujuan wisata “buatan” dan menjualnya selayaknya makanan cepat saji. Kalau saja kita ingat Universal Studios. Siapa lagi konsumennya kalau bukan masyarakat regional seperti keluarga-keluarga mampu Indonesia.

Inilah yang salah dari istilah “industri pariwisata”. Pariwisata menjadi dunia yang termanufaktur. Persepsi ideal dari sebuah destinasi dibuat dan dipasarkan mengikuti konsep industri. Akibatnya, makna pengelanaan yang sesungguhnya gagal didapatkan. Pengalaman otentik dari identitas lokal tidak tersentuh sama sekali. Berapa banyak dari kita yang tahu sejarah Singapura, misalnya? Apa yang membuat kita datang ke Singapura? Tahukah dulu Singapura itu adalah perkampungan pelabuhan miskin bagian dari Malaysia bernama Temasek? Siapa sajakah yang menjadi bagian sejarah populasi di sana? Tak ada yang tertarik mempelajarinya.

Hal ini jugalah yang mendasari konsep Ransel Kecil, bagaimana istilah “turis” dan “wisatawan” itu kurang cocok dengan semangat yang kami usung. “Pengelana” atau “pelaku perjalanan” rasanya lebih tepat, karena menyiratkan semangat menggebu untuk tidak sekedar terperangkap stereotipe destinasi, tapi membuat diri kita siap untuk terkejut, terkesima, kesal, senang, marah. Perjalanan bukanlah berusaha menyamakan foto atau gagasan tentang suatu lokasi atau pengalaman, tapi menemukan kisah, empati dan kejutan kita sendiri.

Bagaimana menjadi pengelana yang beretika? Besok, ketika merencanakan perjalanan, cobalah pelajari secara ekstensif daerah tujuan Anda, tidak hanya soal akomodasi, transportasi dan pusat perbelanjaan, tapi tentang sejarah kota atau negara tersebut, kondisi geopolitis, seni dan sastra, makanan, temukan teman lama atau baru, serta berusaha untuk tidak ikut paket tur lokal. Sebisa mungkin, perjalanan antarkota dilakukan dengan moda transportasi lokal seperti bis atau kereta api. Banyak-banyaklah bersepeda. Habiskan uang Anda untuk pengrajin dan makanan lokal, bukan makanan cepat saji jaringan. Tinggal di hostel atau hotel lokal. Jalan kaki. Belanja di pasar lokal. Hindari memberi kepada pengemis atau berterimakasih dengan bentuk uang atau benda, karena akan membentuk budaya pamrih. Jangan buang sampah sembarangan. Habiskan makanan Anda. Buang sisa makanan tersebut ke tempat sampah. Pelajari sopan santun dan adat lokal.

Menjadi turis atau pelaku perjalanan bukan berarti kita bebas melakukan apa saja. Sudah bayar mahal, bukan berarti kita menjadi raja beberapa hari di tempat tujuan. Tetap saja, banyak etika dan aturan yang perlu kita perhatikan selama di tempat tujuan. Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.

Ketika perjalanan itu selesai, renungkanlah kembali, tidak hanya soal berapa banyak uang yang Anda habiskan, tapi tentang makna yang Anda dapatkan dari perjalanan tersebut. Apa yang bisa saya pelajari untuk diri saya, keluarga saya, teman-teman saya, kota saya, negara saya?

Disunting oleh ARW 14/10/10