Ada beberapa diskusi menarik yang terjadi di ranah maya, mengenai bagaimana merasakan perjalanan yang sesungguhnya. 

Kita melihat bahwa, pertama, ada orang-orang yang menjalani kehidupan berkelana sebagai kodrat hidupnya. Mereka menghidupi dirinya dari serangkaian kegiatan-kegiatan yang ditempuh selama hidup di negeri asing. Mereka bukanlah sekedar wisatawan yang biasa berlibur dari cuti yang susah-payah didapat dari kantornya, atau yang tertatih-tatih mencari tiket dengan harga promo. Mereka benar-benar tinggal secara permanen di negeri asing, untuk kemudian merasa cukup di situ dan berpindah lagi ke negeri lainnya, tapi tak pernah—atau entah kapan—pulang. Di banyak kesempatan, mereka tak banyak bicara. Mereka lebih suka memendam seluruh pengalaman, meresapinya, baru kemudian mewujudkannya dalam karya yang lebih “berbobot”.

Kemudian, tentu saja yang kedua, yakni orang-orang yang melakukan perjalanan dengan pemaknaan yang lebih ringan, dan bahkan sangat ringan: mereka yang melakukan perjalanan sesekali dalam episode hidupnya, karena kesempatan yang terbuka dalam waktu-waktu tertentu. Mereka ini tak lama di suatu tempat. Paling lama hanya sebulan, lalu kembali lagi ke rutinitas awal. Ada yang cuma tiga hari, lalu pulang. Setelah pulang, mereka bercerita pada keluarga dan teman-temannya, berbagi foto di jejaring sosial, bahkan mungkin menulis blog seperti di sini.

Adalah kutipan twit dari Bram Pitoyo yang membuat saya berpikir: “That is, if you intend to travel! Most don’t. They simply go on trips, then go back home, sore and unchanged.

Unchanged”. 

Apakah semua perjalanan yang sudah saya buat selama ini menjadi sia-sia? Apa yang dapat membuat saya lebih menghayati kehidupan perjalanan, sehingga dapat mengubah saya?  Apakah tak cukup dengan sesekali bepergian, lalu pulang, dan melepaskan baju pergi, untuk kembali ke baju kerja dan baju kehidupan biasa? Mungkinkah saya menjalani apa yang dijalani oleh Bram Pitoyo, Agustinus Wibowo atau beberapa orang lain yang saya tahu? Apakah kita semua memiliki kesempatan yang sama? 

Kalau soal kesempatan, mungkin sama. Tinggal kemauan. Apa yang mendorong kita untuk bisa bekerja dan hidup di luar negeri selama ini? Uang, ternyata. 

Pengalaman bisa jadi hanya faktor kedua. Pengalaman pun, kemudian, hanya berkisar tentang mewujudkan fantasi sesaat kita tentang imaji-imaji yang dibangun dari budaya populer: televisi, film, buku, komik, dan mungkin permainan video. Tiba-tiba kita ingin ke Paris. Kenapa? Karena imaji yang dibangun oleh media. 

Salutnya, orang-orang yang melakukan perjalanan sepenuhnya sebagai cara hidup ini bepergian berdasarkan keinginan merengkuh pengalaman sebagai prioritas. Tidak hanya dibatasi oleh cita rasa dan mimpi, mereka ternyata punya definisi sendiri tentang pengalaman. Mereka tahu apa yang ingin dicari. Punya tujuan jelas, dan rencana yang komprehensif! Mereka tak peduli hidup sedikit susah, dengan terpaan perbedaan kultural dan adaptasi yang keras. Mereka ditempa oleh perjalanan. 

Mendengar semua pengalaman mereka, saya ingin segera melupakan semua urusan pekerjaan dan kehidupan di sini—mungkin sejenak saja?—untuk kemudian berburu kesempatan untuk hidup seperti itu. Bisa jadi ada lowongan pekerjaan yang bisa membawa saya ke suatu tempat untuk menetap dalam kurun waktu tertentu. Ide lain adalah saya kemudian meminta kantor saya yang sekarang untuk relokasi, dengan segala justifikasinya yang sulit itu. Mungkin, saya masih ada koneksi di suatu tempat nun jauh di sana. Gilanya, mungkin saya akan mencoba banting setir menghadapi suatu bidang pekerjaan tertentu, atau kehidupan lain, asal kesempatan itu membuka saya menjalani kehidupan seperti manusia-manusia hebat itu tadi.

Saya menghela nafas panjang.

Tunggu dulu. Tapi ada orang-orang yang karena perjalanan-perjalanan singkatnya, yang terkesan lebih ringan dan rileks, tetap mampu memberikan inspirasi. Tidak ada yang berat seperti renungan-renungan saya di sini, di blog ini. 

Barangkali yang patut saya pikirkan adalah apakah perjalanan-perjalanan singkat saya itu apakah sudah mengubah saya? Dari sisi apa? Pemahaman lintas-budaya? Pencarian jati diri? Penemuan minat dan bakat sejati? Apakah dari seluruh perjalanan saya yang menghabiskan tenaga dan sumber daya itu hanya untuk bersenang-senang saja? Kalaupun ada belajar sesuatu yang baru, tidak empiris, tidak menyeluruh, tidak meresapi dan lain sebagainya? Lain kalau kita tinggal di suatu daerah hampir satu tahun lamanya…

Toh, setiap pengalaman pasti akan ada dampaknya pada diri kita. Mungkin kecil, mungkin besar. Mungkin cepat, mungkin perlahan. Mungkin bertahap, mungkin sekaligus. Hanya saja, jika kita memang memilih menjadi petualang sejati yang menetap sementara lalu berpindah-pindah, pengalaman-pengalaman yang kita dapatkan menjadi sesuatu yang lebih koheren dan menjadikan kita individu yang tidak cepat menyimpulkan sesuatu. Mungkin inilah yang diperlukan orang-orang Indonesia yang kurang mengapresiasi proses!

Namun, jika pun kita memilih jalan yang kebanyakan orang pilih—mungkin karena terdera tuntutan tanggungjawab ini dan itu di tempat tinggal—“berlibur” atau melakukan perjalanan sedikit demi sedikit lalu kembali lagi juga dapat mengubah diri kita. Kita memang tak akan mendapatkan pengalaman koheren seperti cara lain itu, tapi setidaknya kita tahu kita tidak hidup dalam satu poros perspektif & nilai, dan yang lebih penting, membuat kita memiliki kebutuhan untuk memperkaya diri kita dengan perspektif baru setiap waktu, sehingga tubuh kita pun setuju untuk langsung mengalami (dan menikmati) sebuah perjalanan fisik.

Disunting oleh ARW 10/03/2011