Ada kalanya, kita perlu menilik lebih dalam tentang budaya dan ekonomi sebuah negara. Ada kalanya pula, kita bisa melihat sebuah destinasi dari kacamata profesi kita sendiri. Sebagai seorang desainer grafis, saya mau tidak mau mengamati industri dan kebijakan desain sebuah negara, salah satunya adalah Swedia. Beruntung, saya sempat mengunjungi negara ini dua tahun silam. Untuk memenuhi rasa ingin tahu saya, saya lakukan sedikit riset dan merangkum soal kebijakan desain Swedia hingga produk-produknya terkenal di mancanegara sebagai pelopor desain yang baik dan apik.

Swedia adalah salah satu negara di Eropa utara yang berbatasan langsung dengan Norwegia di sisi barat, Denmark di selatan dan Finlandia di timur. Sistem pemerintahannya adalah monarki konstitusional. Luas daerahnya adalah 450.000 km persegi, ibukotanya Stockholm dan populasinya berjumlah 9,4 juta jiwa. Bahasa resminya adalah Bahasa Swedia. Pendapatan bruto per kapitanya adalah salah satu yang tertinggi di dunia dalam kisaran $47.934 (2010). Mata uangnya adalah Krona Swedia, karena negara ini belum meratifikasi perjanjian zona mata uang tunggal Euro.

Usia negara Swedia sangat panjang, merdeka sejak abad ke-13, dan pernah menjadi kekuatan besar di Eropa pada abad ke-17. Seperti negara-negara Eropa pada saat itu, Swedia juga mempraktekkan kolonialisme dan mendirikan koloni di benua lain, seperti di Afrika.

Sebagai bagian dari negara-negara Skandinavia, Swedia memiliki hubungan erat dengan Norwegia dan Denmark, khususnya. Sejarah menunjukkan bahwa batas-batas antar negara ini dulu berubah-ubah, dan satu negara pernah menjadi bagian dari negara lainnya. Secara kultural, ketiga negara ini satu rumpun. Bahasanya pun tak jauh berbeda, mata uangnya bernama sama walau bernilai berbeda, memiliki perjanjian keimigrasian sendiri yang dinamakan Nordic Passport Union, di mana setiap warganegara Swedia, Denmark, Norwegia dan Finlandia dapat berdomisili di masing-masing negara ini tanpa residence permit atau izin tinggal. Oleh karenanya, ketika berbicara soal produk budaya dari Swedia, misalnya desain, kita tak bisa memungkiri peran besar sejarah kebudayaan Skandinavia (atau Nordik, jika dilihat lebih luas) secara utuh.

Swedia di masa modern ini adalah sebuah negara yang sangat damai dan makmur. Ia menjadi salah satu tujuan pencari suaka, terutama dari timur tengah. Kemakmuran ini menjadi daya tarik bagi siapapun untuk mencari penghidupan yang tenang. Tingkat kemiskinannya termasuk paling rendah di dunia, dan pembagian kekayaannya cukup merata pada populasinya. Masyarakat Swedia juga dekat dengan alam, karena dianugerahi alam yang indah dan produktif. Semua ini menyumbang pada kualitas hidup yang tinggi. Tentu, ada konsekuensinya, masyarakat Swedia harus membayar pajak yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Dunia desain Swedia terkait dengan dunia desain Skandinavia secara umum, yang juga berawal dari konteks sejarah seni rupa. Modernisme, realisme, Arts & Crafts movement, dan Art Nouveau/”Jugendstil” banyak mempengaruhi desain dari daerah ini. Revolusi Industri, Perang Dunia ke-1 dan ke-2 sangat berpengaruh terhadap gaya desain, menuju ke desain yang lebih praktis, realistis, tegas dan bisa diproduksi massal. Moralitas juga menjadi isu utama mengingat peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang terjadi dalam rangka Perang Dunia ke-1 dan ke-2 tersebut.

Desain-desain Swedia hari ini lekat dengan gaya desain industrial dan minimal atau “bersih” dan “efektif”. Ini dapat dilihat dari berbagai merek atau brand ternama yang berasal dari negara ini seperti Ericsson, IKEA, H&M, Hasselblad, Koenigsegg, Filippa K., WESC, Absolut Vodka, Husqvarna, Tetra Pak, dan lain sebagainya.

Sama seperti negara-negara Skandinavia lain, pemerintah Swedia mempromosikan desain sebagai salah satu industri yang mendatangkan devisa. Untuk meningkatkan daya saing, pemerintah mendirikan institusi atau organisasi yang mempromosikan desain dengan cara mendokumentasikan dan memberikan insentif pada desainer untuk selalu berkarya.

Dengan kekayaan alam yang melimpah dan tradisi budaya folklor yang kuat, negara-negara Skandinavia memiliki sejarah kerajinan dan buah tangan yang panjang dan kaya. Pekerjaan kerajinan sudah ada sejak zaman Viking, berupa karya tekstil, lukisan cadas, sampai zaman pertengahan yang dapat dilihat dari dekorasi interior, perabotan, perhiasan, benda-benda dekorasi dan seremonial.

Masyarakat kerajinan Swedia sendiri memiliki konsep “beautifying everyday objects in a simple modern way for a substantial market”, atau menciptakan benda-benda estetis namun tetap sesuai dengan zaman modern dan menurut permintaan pasar. Dengan fokus pada konsep ini, setiap barang kerajinan mestilah memiliki nilai guna dan jual untuk kebutuhan sehari-hari. Pelopornya adalah pengrajin bernama Wilhelm Kåge tahun 1917, yang banyak merancang barang-barang rumah tangga seperti cangkir, pot, vas dan lain-lain. Konsep ini dipandang sebagai seni non-elitis, atau seni untuk rakyat. Pergerakan ini kemudian membawa Swedia ke revolusi industri dan berusaha menembus pasar internasional. Beberapa perusahaan besar terkenal seperti Volvo, Saab, Electrolux, Lego, Ericofon, Luxo dan Poulsen mulai bermunculan.

Desain-desain dari Swedia tidak memerlukan elemen-elemen berlebihan. Banyak produk dari Swedia juga menggunakan bahan alam tanpa pemrosesan yang terlalu banyak, dibiarkan “bare” atau “seadanya”. Hal ini disebabkan oleh kekayaan alam dan keselarasan kehidupan manusianya dengan alam. Desain minimalis juga disebabkan oleh kebutuhan objek-objek untuk memiliki nilai fungsional yang tinggi, karena terkait dengan premis “survivalism”. Dalam arti kata lain, masyarakat Swedia, terutama di bagian utara, hidup di iklim yang tidak begitu bersahabat, oleh karena itu pemanfaatan maksimal bahan, materi dan desain diarahkan ke nilai fungsional dan praktikal. Barang-barang ini harus mudah diimplementasikan dan mudah digunakan, berdaya tahan tinggi dan sekaligus memiliki nilai estetis. Kalaupun ada dekorasi, itu adalah vestige atau “peninggalan” dari sejarah seni rupa abad ke-20 awal. Desain-desain Skandinavia sering disebut sebagai desain yang “demokratis”, dalam arti ia harus dapat diproduksi massal dan dinikmati oleh seluas mungkin khalayak.

Desain juga berkembang menjadi industri. Beberapa tahun terakhir jumlah biro desain dan tenaga kerja yang bekerja di bidang ini di Skandinavia meningkat secara signifikan. Di Swedia saja, jumlah biro desain adalah sejumlah 8.459 perusahaan, jika termasuk biro arsitektur maka jumlahnya meningkat menjadi 11.199 perusahaan. Jumlah pegawai yang bekerja di industri ini adalah 4.238 jiwa dan 9.177 jiwa jika termasuk biro arsitektur, dan kebanyakan adalah small to medium enterprises (SME) yang terdiri dari hanya tiga sampai empat pegawai (Nordic Innovation Center, 2005). Swedia menempati urutan tertinggi dalam jumlah-jumlah ini dibandingkan negara-negara lain di Skandinavia, kecuali bagian jumlah pegawai (termasuk biro arsitektur), yang dipegang Denmark dengan 10.369 jiwa.

Peningkatan jumlah perusahaan desain dan tenaga kerja yang bekerja di bidang ini sejak tahun 1993 sampai 2002 adalah 272%, atau hampir tiga kali lipat, terutama desain grafis yang meningkat 410%. Sebanyak 78% perusahaan desain terletak di Stockholm, Goteborg dan Malmo, dan 50% dari jumlah ini ada di daerah metropolitan Stockholm (Manchester Business School, 2006). Peningkatan jumlah ini juga berdasarkan permintaan jasa desain oleh industri lain, dengan sejumlah 72% dari 1.000 perusahaan non-desain yang disurvei mengatakan ada peningkatan permintaan jasa desain (SVID, 2004). Jumlah perputaran uang yang terjadi di industri desain Swedia tahun 2003 adalah Rp10 triliun (Nordic Innovation Center, 2005). Dari sisi pendidikan desain, jumlah mahasiswa yang terdaftar pada pendidikan desain formal meningkat tiga kali lipat dari 1993 ke 2003 (330%). Dengan angka ini, profesi desainer di Swedia cenderung berlatarbelakang pendidikan formal.

Pemerintah Swedia sudah melakukan beberapa insentif untuk mendorong perkembangan industri desain, karena mereka memandang industri ini cukup memberi banyak keuntungan bagi negara, baik secara finansial, sosial maupun kultural. Beberapa insiatif itu, seperti diuraikan oleh Nordic Innovation Center (2005), antara lain adalah:

  • Tahun 1996: Working Group on Architecture, Form and Design didirikan, dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan.
  • Tahun 1998: Agenda for Design in the Future (Handlingsprogrammet framtidsformer) dirancang oleh parlemen Swedia, berisi enam tujuan utama negara dalam arsitektur dan desain.
  • Tahun 2003, Januari: Swedish Industrial Design Foundation (SVID) dan Svensk Form (Masyarakat Desain dan Kerajinan Swedia) menerbitkan proposal “Design as Development Power in Industry and Public Affairs” kepada pemerintah, dan pemerintah mengucurkan dana Rp27 milyar untuk mendeklarasikan tahun 2005 sebagai “Design Year”. Dana ini juga digunakan untuk mendanai proyek-proyek lain yang meningkatkan daya saing & potensi Usaha Kecil-Menengah (UKM) dalam bidang desain.
  • Tahun 2004, Februari: The Council for Architecture, Form and Design didirikan oleh pemerintah berdasarkan Agenda for Design in the Future tahun 1998. Dewan ini beranggotakan beberapa profesional desain. Tujuan dewan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran, minat dan pengetahuan tentang arsitektur dan desain. Salah satu program kerjanya adalah memperjuangkan kepentingan desain dalam kebijakan sektor publik.
  • Tahun 2005: “Design Year” atau “Tahun Desain” untuk seluruh Swedia yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah. Svensk Form menjadi panitianya. Tujuan dari “Design Year” ini adalah membangun peningkatan pemahaman desain jangka panjang di Swedia. Sekitar 150 badan pemerintah berpartisipasi, dengan cara mempertimbangkan desain pada setiap kebijakan dan pembelian (procurement) yang mereka laksanakan. Lebih dari 500 organisasi, negeri dan swasta, turut diundang untuk berpartisipasi.
  • Tahun 2005: The Design-Year Group for Growth and Innovation didirikan sebagai hasil dari “Design Year” 2005, membantu mendukung pemerintah dan organisasi yang menjalankannya. Tugas utamanya adalah untuk mengevaluasi proyek-proyek berkaitan dengan desain dan hubungan antar organisasi, industri dan pemerintah. Pesertanya juga bagian dari The Council for Architecture, Form and Design.

Dunia pendidikan desain di Swedia cukup terbangun dengan baik dengan hadirnya beragam institusi dan universitas yang terkait dengan dunia desain, seperti desain grafis, desain produk, busana, fotografi dan lainnya, terutama untuk tahap sarjana. Pada tahun ajaran 2002/2003 ada 7.072 mahasiswa yang mengambil jurusan terkait desain (Nordic Innovation Center, 2005). Hanya desain interior yang kurang diminati. Beberapa perguruan tinggi ternama untuk program desain adalah Beckman’s School of Design, Stockholm, Carl Malmsten’s Centre of Wood Technology and Design, Goteborg University, School of Design and Crafts, Kalmar-Nybro, School of Design, Konstfack, Stockholm; Lund University; Umeå Institute of Design, dan lainnya.

Swedish Design Award

Swedish Design Award (SDA) adalah penghargaan desain terkemuka di Swedia, yang diorganisir oleh Svensk Form. Diadakan dua tahun sekali sejak 2006, dahulunya penghargaan ini dinamakan “Excellent Swedish Design Award” dari tahun 1983 ke 2002. Disingkat menjadi “Design S”, penghargaan ini diberikan kepada mereka yang berkarya di bidang desain produk, jasa atau lingkungan tertentu. SDA menghargai individu desainer maupun perusahaan. Berbeda dengan tradisi penghargaan lain yang membaginya dalam kategori, penghargaan ini diberikan berdasarkan studi kasus setiap proyek atau perusahaan. Untuk memenangkan penghargaan ini, sebuah produk atau jasa desain mestilah:

  • meningkatkan penjualan
  • menentukan brand positioning yang sukses
  • menyumbang secara signifikan pada pembangunan masyarakat
  • menyelamatkan kehidupan
  • menyederhanakan proses kerja tertentu
  • membuka kemudahan akses
  • membantu masyarakat mencapai masyarakat yang berkelanjutan
  • membuat hidup menjadi mudah

Hadiah yang diberikan tidak berupa uang tunai, tetapi exposure atau perhatian dari media massa, industri dna pemerintah-pemerintah negara lain dengan diadakannya bengkel, seminar, materi promosi, publikasi online dan rilis media. BrandDesign S” pun melekat pada produk-produk yang mereka hasilkan, yang dengan bangga bisa mereka tempelkan sebagai “label tanda kemenangan”.

Svensk Form

Seperti telah disebutkan pada uraian sebelumnya, Svensk Form adalah Masyarakat Desain dan Kerajinan Swedia, sebuah organisasi nirlaba yang berdasarkan keanggotaan, diberikan mandat oleh pemerintah Swedia untuk mempromosikan desain Swedia di dalam maupun luar negeri. Organisasi ini didirikan tahun 1845. Ketika itu ia didirikan untuk melindungi kualitas karya kerajinan Swedia yang mengalami “serangan” dari proses massal manufaktur industri yang menurunkan kualitas barang-barang karya kerajinan.

Beberapa tujuan organisasi ini adalah:

  • mendemonstrasikan manfaat-manfaat desain yang baik untuk pembangunan sosial;
  • menstimulasi pembangunan desain di Swedia;
  • meningkatkan respek atau penghargaan pada karya-karya desain; dan
  • mengembangkan dan mendalamkan sikap/pemahaman terhadap masalah-masalah bentuk dan desain.

Lingkup kerja Svensk Form meliputi beragam spektrum ilmu dan terapan desain, seperti produk, servis/jasa, lingkungan, sampai bidang dari kerajinan sampai desain produk/industri. Svensk Form adalah penengah antara industri dan desainer, dan ia bekerja bersama desainer untuk melobi pemerintah soal kesadaran desain.

Publikasi yang dimilikinya antara lain majalah desain “FORM”, buletin yang diterbitkan teratur, situs web dan beberapa kegiatan periodikal di Stockholm serta secara nasional.

Selain memajukan pemahaman dan industri desain di Swedia, Svensk Form juga mempromosikan desain “hijau” atau berkelanjutan, yang mengajak desainer untuk menciptakan produk yang ramah lingkungan, ramah aspek sosial dan ramah ekonomi. Pertimbangan-pertimbangan ini terintegrasi dalam tahapan kehidupan sebuah produk mulai dari rancangan, manufaktur, pemasaran sampai komunikasi publik.

Organisasi ini memiliki 13 perwakilan regional di negara-negara bagian Swedia. Seluruh perwakilan ini melaksanakan program kerja terpusat dan daerah, yang temanya kultural dan industrial. Program-program kerjanya juga merambah dunia internasional, dengan publikasi majalah FORM secara internasional, mengikuti pameran, konferensi, trade fair, dan kunjungan kerja atau studi banding baik dari dalam ke luar negeri maupun sebaliknya. Svensk Form juga mengadakan kegiatan Pecha Kucha-nya sendiri, yaitu sharing session antara praktisi desain dan industri dalam format presentasi singkat. Terkait dengan dunia pendidikan, Svensk Form juga mengadakan pameran-pameran karya universitas, beasiswa dan hadiah atau penghargaan khusus.

Studi Kasus: IKEA

IKEA adalah perusahaan swasta yang didaftarkan di Belanda, namun berasal dari selatan Swedia. Didirikan oleh Ingvar Kamprad ketika berumur 17 tahun, pada tahun 1943. Bisnis utamanya adalah menjual perabotan yang dikemas flat beserta aksesorisnya. Barang-barang IKEA biasanya dibawa pulang dalam kemasan rata/ringkas dan dirakit sendiri oleh pemiliknya. Konsep utama bisnis ini serupa dengan konsep desain Swedia dari dahulu, yakni menciptakan barang-barang bernilai desain tinggi, namun tetap menjawab kebutuhan masyarakat luas (non-elitis). Harga-harganya ditekan semurah mungkin. Saat ini, IKEA memiliki lebih dari 300 cabang di 37 negara di berbagai benua dan negara di dunia (Eropa, Amerika Utara, Asia dan Australia). Visi IKEA adalah untuk “Menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk banyak orang.” Berdasarkan visi ini, IKEA menyediakan berbagai produk fungsional yang didesain baik untuk rumah tangga. Harganya ditekan semurah mungkin tanpa kompromi terlalu besar pada kualitas dan dampaknya pada lingkungan.

Produk-produk IKEA kebanyakan memenuhi kebutuhan rumah tangga dan kantor, seperti keperluan makan, perabotan untuk kamar tidur, barang-barang yang bisa merorganisir (storing items), perabotan kantor sampai pernak-pernik aksesoris yang bisa membuat tempat tinggal atau kerja lebih hidup dengan desain yang apik. Setidaknya ada tiga prinsip perancangan produk IKEA, antara lain:

  • Desain: Desainer IKEA memulai rancangan dari anggaran atau harga jual, bukan sebaliknya. Dengan pengetahuan manufaktur yang memadai, desainer-desainer ini dapat mengetahui bagaimana rancangan yang baik diproduksi semurah mungkin.
  • Fungsi: Produk-produk IKEA berfokus pada fungsi, yaitu pemenuhan kebutuhan. Setiap sudut, setiap warna, setiap bentuk dan setiap eksekusi memiliki maksud dan tujuan yang jelas.
  • Harga rendah: Berbagai metode manufaktur/produksi ditelaah untuk mencapai harga serendah mungkin. Contohnya, memindahkan produksi ke negara-negara berkembang, menggunakan bahan dan metode produksi yang murah, dan menyerahkan pemasangan atau perakitan ke konsumer akhir (end consumer). Barang-barangnya dikirim flat-packed dalam kemasan ramping sehingga menghemat biaya.

Antara produk-produknya adalah karpet, kursi, tempat tidur, peralatan makan, meja kerja, meja makan, lemari, dan lain sebagainya.

Kesimpulan

Swedia telah lama menjadi pelopor dunia desain di dunia, bersama-sama dengan negara-negara Skandinavia lain. Ia bahkan menjadi pemimpin desain di daerah Skandinavia. Ciri-ciri utama desain Swedia adalah minimal, fungsional, ramah lingkungan dan non-elitis (mudah dipasarkan dan massal), yang juga berasal dari latar belakang geografi, sosial dan kultural negaranya. Strategi desain modern zaman ini pun mengikuti konsep ini, dan pemerintahnya menyadari betul bagaimana industri desain berkontribusi tidak hanya untuk industri desain itu sendiri, tetapi untuk industri lain dan kesehatan ekonomi nasional secara umum. Pemerintahnya banyak memberikan insentif pada industri desain melalui mandat organisasi dan pengembangan pendidikan desain.

Indonesia harus mempelajari bagaimana Swedia membuat konsensus tentang perkembangan desainnya, kemudian merumuskan apa yang harus mereka lakukan terhadap khazanah seni rupa, kerajinan dan desain tersebut, untuk kemudian dijadikan komoditas yang dapat membantu perekonomian nasional.