Logo Komunitas Jejak Petjinan

Tidak banyak yang bergerak sendiri untuk memajukan pemahaman budaya di Indonesia, sekaligus mempromosikan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan. Salah satunya adalah Jejak Petjinan, sebuah inisiatif seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa untuk mengangkat warisan budaya Tionghoa yang ternyata usianya lebih panjang dari negara Indonesia itu sendiri. Kami berkesempatan mewawancarai Paulina Mayasari, penggagas program ini beberapa waktu lalu. Program ini mendapat penghargaan The Intercultural Innovation Award yang diselenggarakan bersama oleh United Nations Alliance of Civilizations dan BMW Group. Berkat usahanya ini, Paulina Mayasari diundang ke Rio de Janeiro tahun 2010 untuk menghadiri acara bertajuk 2010 Marketplace of Ideas.

Paulina Mayasari dan Franz Magnis-Suseno
Paulina Mayasari dan Franz Magnis-Suseno. Foto hak cipta Jejak Petjinan/Riyanto Dedek Lesmana.

Berikut cuplikan wawancaranya.

Apa itu Jejak Petjinan?

Jejak Petjinan adalah komunitas yang ingin menelusuri jejak Tionghoa di Indonesia, dan kami menceritakan hasil penelusuran itu melalui acara wisata budaya bernama “Melantjong Petjinan Soerabaia”.

Apa yang mengawali atau menginspirasi lahirnya Jejak Petjinan?

Sebagai orang Tionghoa, saya merasa tradisi masyarakat Tionghoa sudah mulai terkikis. Saya suka bingung bertanya kepada orang yang lebih tua dan tidak ada yang tahu, itu juga yang membuat saya mulai mencari tahu makna-makna di balik tradisi yang masih dijalankan sampai sekarang.

Waktu peristiwa Mei 1998, saya masih kuliah di Universitas Trisakti. Sempat shock dan tidak paham dengan peristiwa itu, kenapa kami, Tionghoa, masih diperlakukan seperti itu. Sempat baca berita juga tentang Teguh Karya yang juga shock atas peristiwa itu, lantas kesehatannya menurun dan akhirnya beliau meninggal. Saya jadi berpikir, bahkan seorang yang besar seperti dia, sudah berkarya begitu banyak untuk Indonesia pun bisa shock dan kurang bisa menerima kenyataan itu, apalagi saya. Saya bahkan sempet ingin jadi warga negara lain. Saya jadi rajin mencari informasi tentang program permanent residence, green card, dan sejenisnya.

Lalu lama kelamaan, saya melihat di negara lain pun sedikit banyak para pendatang juga selalu mengalami hal-hal seperti diskriminasi dan ketidakadilan lainnya. Saya juga mendengar banyak cerita dari teman2 saya yang pernah sekolah dan tinggal di luar negeri. Semuanya tergantung pada dirinya sendiri, apakah mau diam saja atau melakukan sesuatu untuk merubah keadaan. Saya putuskan untuk melakukan sesuatu dan Jejak Petjinan ini awalnya.

Kegiatan apa sajakah yang sudah dilaksanakan? Apa bentuknya?

Melancong Petjinan Batavia (1)
Melancong Petjinan Batavia (1). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.

Kegiatan yang sudah pernah dilakukan Jejak Petjinan antara lain pameran foto bersama, kumpul-kumpul (“kumkum”/”kopdar”) Jejak Petjinan, “cangkrukan” bareng Jejak Petjinan, “ik’ol’san” (“Ikutan Ngobrol Santai”), juga SKETSA (Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara). Ke depan, saya ingin sekali di Indonesia ada Chinese Indonesian Cultural Centre, semacam pusat kebudayaan Tionghoa. Kenapa dari Jepang ada, Belanda juga, tapi dari suku-suku atau etnis-etnis di Indonesia sendiri tidak ada? Padahal, suku/etnis di Indonesia banyak sekali!

Nah, di pusat kebudayaan ini, kita bisa mencari data tentang jejak Tionghoa di Indonesia, bisa belajar budaya, makanan, tradisi, semuanya. Sekarang ini kami sedang mengumpulkan data dengan membuat gerakan bernama SKETSA, Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara. Kenapa Nusantara? karena Tionghoa di Indonesia sudah ada sebelum Indonesia ada!

Langkah pertama gerakan ini kami wujudkan dalam bentuk situs web, yang berbentuk wiki. Situ ini bisa dikerjakan ramai-ramai, siapapun yang berminat untuk membantu mengumpulkan, silakan daftar dan login, lalu bisa ikut mengerjakan. Rencana ke depannya akan ada pameran kelilingnya juga, tapi ini tunggu tanggal mainnya, ya!

Bagaimana hasil atau dampak dari kegiatan-kegiatan tersebut? Apa respon masyarakat?

Melancong Petjinan Batavia (2)
Melancong Petjinan Batavia (2). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.

Mereka menyambut hangat ide-ide acara yang diadakan ini. Dari hasil kuesioner yang kami adakan, hampir semua menganggap acara ini bagus, menambah wawasan dan pengetahuan serta bersemangat untuk mengikuti acara-acara berikutnya.

Menurut Jejak Petjinan, apakah bentuk promosi pariwisata yang paling baik untuk Indonesia? Apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara independen selama ini dianggap lebih efektif dari program pemerintah?

Jejak Petjinan tidak punya kapasitas untuk menjawab problematika pariwisata Indonesia. Namun, kalau kami diperkenankan untuk memberikan pendapat, kadang-kadang birokrasi dan peraturan pemerintah memang cenderung mengekang kreativitas dan hanya mengakomodir kepentingan dari sudut pandang pemerintah saja. Jadinya program pemerintah sering terkesan tidak sampai sasaran atau tidak efektif.

Kendala-kendala seperti apa yang dihadapi di lapangan ketika melaksanakan kegiatan?

Melancong Petjinan Batavia (3)
Melancong Petjinan Batavia (3). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.

Banyak, pertama tidak banyak orang Tionghoa terutama dari kalangan muda, yang tertarik untuk menyediakan waktu untuk membantu mengembangkan komunitas ini. Selain itu, minat masyarakat untuk pelestarian juga kurang, apalagi dananya.

Selain itu, untuk membuat konsep tema acara seperti ini tidak mudah, karena tempat yang kami datangi mungkin belum diketahui orang banyak, hampir tidak ada data tentang tempat tersebut. Kami perlu wawancara, survei, baca buku, dan menghabiskan waktu untuk mencari data.

Apa rencana ke depan?

Kartu Pos Jejak Petjinan
Kartu Pos Jejak Petjinan. Foto hak cipta Jejak Petjinan/Paulina Mayasari.

Yang ingin dicapai adalah adanya sebuah sumber atau pusat informasi yang selalu mutakhir dan akurat tentang Tionghoa di Indonesia, di mana pengunjung bisa mencari tahu apa saja tentang jejak Tionghoa di Indonesia. Ini kami mulai dengan gerakan SKETSA, gerakan pengumpulan data Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara.

Melalui Melantjong Petjinan Soerabaia, Jejak Petjinan ingin mengumpulkan orang-orang yang punya rasa ingin tahu yang sama mengenai jejak Tionghoa di Indonesia dalam situasi dan kondisi rileks sehingga hilang rasa enggan untuk tersenyum dan menyapa dengan sekitarnya. Harapannya, lama-kelamaan tidak ada pagar antar etnis Tionghoa dengan etnis lain di Indonesia, sehingga hilanglah stereotipe-stereotipe yang buruk, akhirnya dapat melihat apa adanya. Terkadang, ada laporan dari narasumber bahwa para peserta datang lagi sendiri ataupun beramai-ramai dan berinteraksi dengan penduduk lagi sampai puas.

Terima kasih kami ucapkan kepada Paulina Mayasari yang bersedia diwawancara.