Artikel-artikel dari kategori Dari Kami (halaman ke-1 dari 3)

Pindah ke Singapura

Hari pertama di Singapura

Mohon maaf karena kami sudah sangat sibuk akhir-akhir ini, untuk pindah ke Singapura. Ya! Kami sekeluarga akhirnya bisa merasakan hidup hijrah di luar negeri, walau hanya dekat, ke Singapura. Tapi, ini pengalaman yang luar biasa buat kami. Anak kami, Janis, yang baru berusia 1,5 tahun, ikut bersama kami.

Ketika tahu akan pindah ke Singapura, kami mulai mencari-cari apartemen. Pilihan pertama kali selalu ke Airbnb, lalu baru beberapa situs lokal seperti 99.co dan Nestia. Kami juga sempat melihat-lihat PropertyGuru. Tetapi, pilihan selalu jatuh pada properti yang ada di Airbnb. Menurut kami, properti-properti yang ada di Airbnb terasa lebih bersahabat dan bernada “selamat datang”. Properti yang ada di situs-situs khusus properti lebih bersifat berjualan, dan kami selalu was-was apakah kami akan diwajibkan membayar banyak hal. Trik kami, cari apartemen yang disewakan utuh, kelihatan biasa saja, dengan pemilik langsung yang profilnya baik dan bersahabat, lalu mencoba negosiasi sewa jangka panjang. It always worked like a charm.

Ada beberapa pilihan daerah yang kami inginkan di Singapura, walau sebenarnya hampir setiap daerah baik. Paling hanya masalah jarak. Tapi, bertahun-tahun tinggal di pinggiran di Bekasi dan Depok, lalu bekerja di Jakarta setiap hari pulang-pergi, tidak membuat kami goyah hanya karena dapat tempat tinggal jauh. Beberapa pilihan kami adalah Pasir Ris, Katong, Tanah Merah dan sekitar Botanic Gardens.

Taman di samping tempat tinggal kami

Pasir Ris, karena menurut kami daerah itu cukup ramah dengan keluarga, dan relatif masih murah, tetapi sangat jauh dari kantor. Tapi, dekat dengan bandara. Katong, karena saya pribadi senang dengan suasananya yang seperti Kemang, namun aksesnya agak nanggung dengan MRT, walau akses bis cukup banyak. Tanah Merah juga punya beberapa lokasi yang cukup mumpuni, tapi terlalu ramai buat saya karena daerah persinggungan. Botanic Gardens, karena daerahnya tenang, banyak penghijauan, tetapi mungkin agak mahal.

Ketika memilih, akhirnya pilihan jatuh pada Katong. Terutama karena dapat Airbnb yang bersahabat di sini. Sebuah kondominium tua yang masih terawat, dikelola oleh sebuah perusahaan keluarga yang memang memiliki tanah dan propertinya sejak bertahun-tahun. Saya merasa lebih percaya karena langsung berhubungan dengan salah satu anggota keluarga yang mengelolanya, dan lebih percaya karena mereka sudah mengelolanya paling tidak 20 tahun. Kami menemukan sebuah unit apartemen sederhana satu kamar dengan luas lebih kurang 90 meter persegi (total). Pikir saya, paling tidak ini cukup buat sekarang. Harga sewa per bulan sudah termasuk listrik, air dan gas (utility). Wah, ini terbaik buat lokasi dan luasnya. Memang, kami bisa mencari unit dua kamar yang lebih luas dengan harga seperti itu, terutama di pinggiran, tapi akhirnya kami memutuskan untuk di sini dulu, minimal setahun. Anak kami, Janis, juga masih kecil.

Yang jadi kekurangan adalah unit ini berada di lantai empat dan tidak ada lif. Artinya, kami harus menaiki dan menuruni tangga setiap hari. Seminggu pertama sulit, tetapi setelah ditekuni, tidak begitu berarti. Kesulitan ini dikompensasi dengan fasilitas umum yang tersedia di dalam kondominium, seperti kolam renang, lapangan tenis, lapangan basket dan area publik (rumput dan fasilitas bermain anak) di tengahnya yang dapat kami akses 24 jam. Selain itu, di sebelah kondominium terdapat taman umum yang juga cukup luas. Tak ada halaman rumah, tapi kami punya dua halaman besar! This is very important!

Syukur, ketika kami datang, walau belum ada seprei, ada beberapa perabot dan alat rumah tangga yang sudah dipersiapkan, seperti kulkas, mesin cuci dengan pengering, AC, sofa dan meja, meja makan dan kursi, jemuran, sampai ketel buat masak air. Alat makan seperti sendok, garpu, piring, mangkok dan gelas juga sudah ada walau sedikit. Hari pertama kami datang, kami hanya perlu membeli rice cooker.

Silakan tunggu cerita-cerita kami selanjutnya di Singapura (dan harapan besar kami, juga di perjalanan lain di luar Singapura dan Indonesia).


Kaos Ransel Kecil Kembali!

Halo pembaca! Kami punya kabar gembira. Kaos Ransel Kecil kembali. Kali ini kami membuka toko online di Tees.co.id. Kami akan terus menambah koleksinya, kemungkinan tidak hanya kaos tapi juga barang-barang lain. Jadi, tunggu tanggal mainnya!

Kali ini, ada dua pilihan desain kaos. Keduanya merupakan rancangan kaos yang simple namun tetap keren dipakai ketika jalan-jalan.

Ransel Kecil Travel Checklist

Jangan pernah lupa baca ranselkecil.com sebelum berangkat! Ayo beli di sini.

Ransel Kecil Travel Checklist

Ransel Kecil Green Shirt

Warna hijau yang ini kami suka, dan logo ranselkecil.com tampak keren di sini. Yuk, beli!

Ransel Kecil Green Shirt

Terima kasih dukungannya, ya!


Berdoa untuk MH370

Malaysia Airlines penerbangan nomor MH370, yang juga di-codeshare dengan China Southern Airlines nomor CZ748, jurusan Kuala Lumpur-Beijing yang bertolak pada 00:41 dini hari waktu Kuala Lumpur tanggal 8 Maret 2014, hilang dari pantauan radar pukul 01:22 waktu setempat. Pesawat Boeing 777-200ER itu membawa 227 penumpang dan 12 awak kapal termasuk pilot dan ko-pilot. Pesawat itu seharusnya mendarat pukul 06:30 waktu Beijing. Sampai saat ini penyebab hilangnya pesawat itu dari radar masih menjadi misteri.

Mari kita sama-sama memanjatkan doa agar para penumpang dan awak kapal MH370 dapat ditemukan dengan selamat.

Berikut beberapa sorotan terakhir tragedi ini.

  • Negara-negara ASEAN, Amerika Serikat dan Australia turut membantu pencarian di Teluk Thailand, Selat Melaka dan sekitarnya.
  • Pada saat kejadian, pesawat dalam tahapan “cruising” dengan ketinggian 35.000 kaki atau 10,600 meter di atas permukaan laut, dan berkecepatan 471 knot atau 540 mil per jam atau 870 km per jam. Posisi terakhir ketika pesawat menghilang adalah 6°55′15″N 103°34′43″E. Seharusnya, pada saat itu, pesawat sudah menghubungi menara kontak Ho Chi Minh City.
  • Walaupun hilang kontak pada tepatnya 01:22 dini hari, pihak Malaysia Airlines baru memberikan konfirmasi kehilangan pesawat pada pukul 07:24 paginya. Sebelum dan sesaat menghilang, pesawat tidak memberikan pertanda atau sinyal apapun. Tidak ada indikasi adanya cuaca buruk atau masalah teknis.
  • Pesawat hilang sekitar 300km di selatan Pulau Thổ Chu yang merupakan milik Vietnam.
  • Dua orang penumpang dilaporkan naik pesawat menggunakan paspor curian dari warganegara Italia dan Austria. Kedua penumpang “palsu” ini terakhir dilaporkan membeli tiket pesawat Kuala Lumpur-Beijing secara bersamaan dengan harga yang sama. Seorang berkebangsaan Iran yang bernama “Mr. Ali” dikabarkan membantu memesan tiket ini di agen perjalanan.
  • Tidak dapat dipastikan apakah ada kemungkinan tindakan kriminal atau terorisme.
  • Tidak dapat dipastikan juga apakah ada kesalahan teknis dalam pesawat, atau semacam ledakan yang terjadi di udara.
  • Serpihan-serpihan yang tadinya diduga sebagai pintu atau jendela pesawat disangkal oleh pihak DCA (Department of Civil Aviation), Malaysia. Serpihan lain yang dikira mirip “sirip” atau “tail” juga disangkal oleh DCA.
  • Ditemukan sisa-sisa tumpahan minyak sepanjang 10-20 km di sekitar tempat hilangnya pesawat, namun terakhir dapat dipastikan bahwa tumpahan minyak itu bukan berasal dari pesawat terbang, tetapi tumpahan dari kapal
  • Panglima Royal Malaysian Air Force, Rodzali Daud, mengklaim ada rekaman radar militer yang menunjukkan pesawat udara sempat berputar balik sebelum hilang. Oleh karenanya, pencarian juga dilakukan di Selat Melaka untuk menjajal kemungkinan pesawat berada di bagian barat semenanjung Malaysia.
  • Pada hari ke-4, belum ada tanda-tanda ditemukannya jejak-jejak pesawat MH370. Wilayah pencarian diperluas dari 50 mil nautikal hingga 100 mil nautikal.
  • Untuk pengumuman dan pemutakhiran resmi dari Malaysia Airlines, laman khusus MH370 dipersiapkan di sini.

Mempersiapkan Komunikasi dalam Perjalanan

Komunikasi penting dalam perjalanan

Apakah anda pernah pergi ke luar negeri dan sulit mendapatkan penyedia layanan seluler yang cocok untuk keperluan dan durasi perjalanan anda? Jika ya, apa sering juga paket yang disediakan ternyata cukup mahal dan kualitasnya tidak sesuai dengan harganya?

Seringkali pejalan yang ke luar negeri mengalami masalah ini dan setiap negara punya struktur paket dan sistem yang berbeda-beda. Di Indonesia, kita biasa membeli paket perdana prabayar murah yang langsung aktif, beserta data. Di Amerika Serikat, sulit unutk mencari paket perdana prabayar, karena kebanyakan pascabayar yang sudah di-bundling dengan ponsel. Di Jepang, GSM tidak bisa dipakai.

Pejalan mancanegara yang datang dari luar negeri ke Indonesia juga mengalami masalah yang sama. Ada banyak pilihan dan mereka tidak tahu kualitas dan tarifnya. Padahal, komunikasi lokal dan internasional menjadi penting. Di era data sekarang, tidak hanya soal paket suara (telepon), tetapi juga paket data.

Berikut beberapa tips untuk mempersiapkan keperluan komunikasi anda selama perjalanan, baik itu dalam maupun luar negeri.

1. Riset tentang jenis jaringan yang tersedia

Tidak semua negara mendukung GSM dan CDMA, misalnya. Ada yang GSM saja, ada yang CDMA saja. Cek penyedia layanan seluler yang anda tuju di negara destinasi, dan lihat jenis jaringannya. Selain itu, cek juga apakah penyedia layanan seluler yang anda miliki sekarang dapat digunakan dalam jaringan di negara destinasi.

2. Persiapkan perangkat komunikasi

Apakah anda butuh ponsel pintar, biasa, atau satelit? Jika anda suka mendaki gunung mungkin lebih baik menggunakan ponsel satelit karena sinyalnya cukup sulit. Selain itu, perangkat komunikasi lain seperti komputer tablet dan jinjing juga menggunakan konsumsi data dan seluler.

3. Paket data bisa jadi lebih penting dari paket yang lain

SMS dan telepon bisa jadi lebih mahal dibandingkan dengan paket data dan chatting di WhatsApp, misalnya. Untuk itu, lihat apakah paket yang ditawarkan lebih banyak memberikan keuntungan di sisi data. Jika ya, pilihlah paket itu!

4. Cek fasilitas roaming dan tarif SMS/telepon dari penyedia layanan seluler anda

Sebagai backup, cek fasilitas roaming dan tarif SMS atau telepon dari penyedia layanan seluler yang anda miliki. Setidaknya, sebelum mencari paket perdana di destinasi, anda bisa memberi kabar singkat ke keluarga anda di rumah ketika baru sampai. Jangan menunda memberi kabar, ya.

5. Gunakan paket murah penyedia layanan seluler lokal

Beberapa penyedia layanan seluler lokal memberikan promo menarik, seperti paket data 7 hari sampai 30 hari dengan tarif terjangkau.

Bagi pejalan luar negeri yang ingin ke Indonesia, salah satunya adalah dengan mengunakan paket Super Obrol dari Mentari, yang memberikan gratis nelpon dan WhatsApp 24 jam hanya dengan sekali daftar. Ada dua paket, yakni Obrol Seharian dan Obrol Siang.

Paket Obrol Seharian untuk mendukung produktivitas anda sepanjang hari selama 24 jam penuh. Hanya Rp. 3000, Dapatkan 300 menit Nelpon ke semua nomor Indosat se-Indonesia + WhatsApp yang dapat digunakan selama 24 jam penuh dari waktu registrasi paket (00.00 – 24.00). Sisa kuota Nelpon & WhatsApp dapat digunakan hingga esok hari.

Cara Mengaktifkan paket:

Tekan *123*200# > SUPER OBROL > Obrol SEHARIAN

atau

Kirim SMS ketik SEHARIAN kirim ke 123

Paket Obrol Siang untuk mendukung produktivitas anda sepanjang hari mulai pukul 00.00 – 17.00. Hanya Rp 1000, dapatkan 100 menit Nelpon berkali-kali semua nomor Indosat se-Indonesia yang dapat digunakan selama 17 jam penuh dari waktu registrasi paket. Dan Sisa kuota Nelpon dapat digunakan hingga esok hari.

Cara mengaktifkan paket:

Tekan *123*200# > SUPER OBROL > Obrol SIANG

atau

Kirim SMS ketik SIANG kirim ke 123

Tulisan ini disponsori oleh Mentari Super Obrol.


Warta Ransel #2

Bagaimana mengendarai sepeda di Jakarta

Bukan masalah ada atau tidaknya artikel tentang ini di Wikihow, tetapi ternyata ada yang peduli bagaimana memandu pesepeda amatir untuk menavigasi Jakarta yang sudah hiruk-pikuk dengan sepeda motor, mobil dan pengguna jalan lain. Semoga berguna.

Suasana subway Kota New York tahun 1973

Foto-foto suasana subway di Kota New York tahun 1973, penuh grafiti

Foto-foto nostalgia dari subway (kereta bawah tanah) di Kota New York tahun 1973. Walau pada hari ini suasana stasiunnya tidak banyak berubah, yang jelas gerbong kereta hari ini lebih bersih, terutama bersih dari grafiti.

Jendela-jendela New York

Menikmati sebuah kota tidak hanya dari tulisan, tapi juga mencermati secara visual, lalu mendokumentasikannya. Jose Guizar adalah seorang desainer grafis di Kota New York yang rajin mendokumentasikan jendela-jendela di gedung-gedung kotanya dalam ilustrasi sederhana nan elegan.

Loco2

Loco2 adalah situs yang didedikasikan khusus untuk perjalanan kereta api di Eropa, sekaligus memfasilitasi pemesanan tiket secara terintegrasi.

Tips mengatasi takut terbang

Anda takut naik pesawat terbang? Anda tentu tidak sendiri, ini beberapa tipsnya.


Warta Ransel #1

Salam untuk pembaca semua. Mulai hari ini Ransel Kecil akan juga menulis soal berita-berita atau pernak-pernik dunia perjalanan, untuk menyemarakkan lagi isi situs ini. Kami akan memasukkan pranala-pranala yang relevan dengan dunia perjalanan dari waktu ke waktu. Semoga bisa berguna sebagai inspirasi atau referensi perjalanan.

Pemerintah Sri Lanka mulai melakukan pelacakan pada wisatawan

Pemerintah Sri Lanka mulai melakukan pelacakan pada wisatawan yang berkunjung ke negara mereka demi keselamatan dan keamanan. Beberapa kejadian kekerasan terjadi di negara itu dan jika dibiarkan akan mengancam industri pariwisatanya.

Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda

Rijskmuseum di Amsterdam, Belanda, dibuka kembali

Setelah renovasi yang memakan waktu 10 tahun dan biaya 498 juta dolar Amerika, Rijksmuseum, sebuah museum seni di Amsterdam, Belanda, dibuka kembali. Wajib kunjung jika ke sana.

Koleksi travel organizer dari Etsy

Jika ingin pernak-pernik wisata yang berbeda, coba beberapa opsi travel organizer dari Etsy ini, atau jadikan inspirasi untuk membeli di tempat lain.

Lion Air Bandung-Denpasar Jatuh di dekat Bandara Ngurah Rai

Penerbangan Lion Air dengan kode JT904 jurusan Bandung – Denpasar jatuh sebelum landasan (undershooting) di dekat Bandara Ngurah Rai, Pulau Bali. Tidak ada korban jiwa pada kecelakaan kali ini. Investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih berlanjut. Banyak spekulasi hadir soal kecelakaan ini, antara lain downdraft atau pergerakan udara secara tiba-tiba yang jika pesawat tidak kuat atau terlalu lambat, maka akan membuatnya jatuh.

Cap paspor dari berbagai negara di seluruh dunia

Beberapa koleksi cap paspor negara-negara eksotis yang mungkin tak semua dari kita bisa menerimanya. Cap paspor, menurut tulisan tersebut, adalah seperti “medali kehormatan” bagi para pengelana.


Kenapa Dunia Desain Swedia Begitu Terkenal?

Ada kalanya, kita perlu menilik lebih dalam tentang budaya dan ekonomi sebuah negara. Ada kalanya pula, kita bisa melihat sebuah destinasi dari kacamata profesi kita sendiri. Sebagai seorang desainer grafis, saya mau tidak mau mengamati industri dan kebijakan desain sebuah negara, salah satunya adalah Swedia. Beruntung, saya sempat mengunjungi negara ini dua tahun silam. Untuk memenuhi rasa ingin tahu saya, saya lakukan sedikit riset dan merangkum soal kebijakan desain Swedia hingga produk-produknya terkenal di mancanegara sebagai pelopor desain yang baik dan apik.

Swedia adalah salah satu negara di Eropa utara yang berbatasan langsung dengan Norwegia di sisi barat, Denmark di selatan dan Finlandia di timur. Sistem pemerintahannya adalah monarki konstitusional. Luas daerahnya adalah 450.000 km persegi, ibukotanya Stockholm dan populasinya berjumlah 9,4 juta jiwa. Bahasa resminya adalah Bahasa Swedia. Pendapatan bruto per kapitanya adalah salah satu yang tertinggi di dunia dalam kisaran $47.934 (2010). Mata uangnya adalah Krona Swedia, karena negara ini belum meratifikasi perjanjian zona mata uang tunggal Euro.

Usia negara Swedia sangat panjang, merdeka sejak abad ke-13, dan pernah menjadi kekuatan besar di Eropa pada abad ke-17. Seperti negara-negara Eropa pada saat itu, Swedia juga mempraktekkan kolonialisme dan mendirikan koloni di benua lain, seperti di Afrika.

Sebagai bagian dari negara-negara Skandinavia, Swedia memiliki hubungan erat dengan Norwegia dan Denmark, khususnya. Sejarah menunjukkan bahwa batas-batas antar negara ini dulu berubah-ubah, dan satu negara pernah menjadi bagian dari negara lainnya. Secara kultural, ketiga negara ini satu rumpun. Bahasanya pun tak jauh berbeda, mata uangnya bernama sama walau bernilai berbeda, memiliki perjanjian keimigrasian sendiri yang dinamakan Nordic Passport Union, di mana setiap warganegara Swedia, Denmark, Norwegia dan Finlandia dapat berdomisili di masing-masing negara ini tanpa residence permit atau izin tinggal. Oleh karenanya, ketika berbicara soal produk budaya dari Swedia, misalnya desain, kita tak bisa memungkiri peran besar sejarah kebudayaan Skandinavia (atau Nordik, jika dilihat lebih luas) secara utuh.

Swedia di masa modern ini adalah sebuah negara yang sangat damai dan makmur. Ia menjadi salah satu tujuan pencari suaka, terutama dari timur tengah. Kemakmuran ini menjadi daya tarik bagi siapapun untuk mencari penghidupan yang tenang. Tingkat kemiskinannya termasuk paling rendah di dunia, dan pembagian kekayaannya cukup merata pada populasinya. Masyarakat Swedia juga dekat dengan alam, karena dianugerahi alam yang indah dan produktif. Semua ini menyumbang pada kualitas hidup yang tinggi. Tentu, ada konsekuensinya, masyarakat Swedia harus membayar pajak yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Dunia desain Swedia terkait dengan dunia desain Skandinavia secara umum, yang juga berawal dari konteks sejarah seni rupa. Modernisme, realisme, Arts & Crafts movement, dan Art Nouveau/”Jugendstil” banyak mempengaruhi desain dari daerah ini. Revolusi Industri, Perang Dunia ke-1 dan ke-2 sangat berpengaruh terhadap gaya desain, menuju ke desain yang lebih praktis, realistis, tegas dan bisa diproduksi massal. Moralitas juga menjadi isu utama mengingat peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang terjadi dalam rangka Perang Dunia ke-1 dan ke-2 tersebut.

Desain-desain Swedia hari ini lekat dengan gaya desain industrial dan minimal atau “bersih” dan “efektif”. Ini dapat dilihat dari berbagai merek atau brand ternama yang berasal dari negara ini seperti Ericsson, IKEA, H&M, Hasselblad, Koenigsegg, Filippa K., WESC, Absolut Vodka, Husqvarna, Tetra Pak, dan lain sebagainya.

Sama seperti negara-negara Skandinavia lain, pemerintah Swedia mempromosikan desain sebagai salah satu industri yang mendatangkan devisa. Untuk meningkatkan daya saing, pemerintah mendirikan institusi atau organisasi yang mempromosikan desain dengan cara mendokumentasikan dan memberikan insentif pada desainer untuk selalu berkarya.

Dengan kekayaan alam yang melimpah dan tradisi budaya folklor yang kuat, negara-negara Skandinavia memiliki sejarah kerajinan dan buah tangan yang panjang dan kaya. Pekerjaan kerajinan sudah ada sejak zaman Viking, berupa karya tekstil, lukisan cadas, sampai zaman pertengahan yang dapat dilihat dari dekorasi interior, perabotan, perhiasan, benda-benda dekorasi dan seremonial.

Masyarakat kerajinan Swedia sendiri memiliki konsep “beautifying everyday objects in a simple modern way for a substantial market”, atau menciptakan benda-benda estetis namun tetap sesuai dengan zaman modern dan menurut permintaan pasar. Dengan fokus pada konsep ini, setiap barang kerajinan mestilah memiliki nilai guna dan jual untuk kebutuhan sehari-hari. Pelopornya adalah pengrajin bernama Wilhelm Kåge tahun 1917, yang banyak merancang barang-barang rumah tangga seperti cangkir, pot, vas dan lain-lain. Konsep ini dipandang sebagai seni non-elitis, atau seni untuk rakyat. Pergerakan ini kemudian membawa Swedia ke revolusi industri dan berusaha menembus pasar internasional. Beberapa perusahaan besar terkenal seperti Volvo, Saab, Electrolux, Lego, Ericofon, Luxo dan Poulsen mulai bermunculan.

Desain-desain dari Swedia tidak memerlukan elemen-elemen berlebihan. Banyak produk dari Swedia juga menggunakan bahan alam tanpa pemrosesan yang terlalu banyak, dibiarkan “bare” atau “seadanya”. Hal ini disebabkan oleh kekayaan alam dan keselarasan kehidupan manusianya dengan alam. Desain minimalis juga disebabkan oleh kebutuhan objek-objek untuk memiliki nilai fungsional yang tinggi, karena terkait dengan premis “survivalism”. Dalam arti kata lain, masyarakat Swedia, terutama di bagian utara, hidup di iklim yang tidak begitu bersahabat, oleh karena itu pemanfaatan maksimal bahan, materi dan desain diarahkan ke nilai fungsional dan praktikal. Barang-barang ini harus mudah diimplementasikan dan mudah digunakan, berdaya tahan tinggi dan sekaligus memiliki nilai estetis. Kalaupun ada dekorasi, itu adalah vestige atau “peninggalan” dari sejarah seni rupa abad ke-20 awal. Desain-desain Skandinavia sering disebut sebagai desain yang “demokratis”, dalam arti ia harus dapat diproduksi massal dan dinikmati oleh seluas mungkin khalayak.

Desain juga berkembang menjadi industri. Beberapa tahun terakhir jumlah biro desain dan tenaga kerja yang bekerja di bidang ini di Skandinavia meningkat secara signifikan. Di Swedia saja, jumlah biro desain adalah sejumlah 8.459 perusahaan, jika termasuk biro arsitektur maka jumlahnya meningkat menjadi 11.199 perusahaan. Jumlah pegawai yang bekerja di industri ini adalah 4.238 jiwa dan 9.177 jiwa jika termasuk biro arsitektur, dan kebanyakan adalah small to medium enterprises (SME) yang terdiri dari hanya tiga sampai empat pegawai (Nordic Innovation Center, 2005). Swedia menempati urutan tertinggi dalam jumlah-jumlah ini dibandingkan negara-negara lain di Skandinavia, kecuali bagian jumlah pegawai (termasuk biro arsitektur), yang dipegang Denmark dengan 10.369 jiwa.

Peningkatan jumlah perusahaan desain dan tenaga kerja yang bekerja di bidang ini sejak tahun 1993 sampai 2002 adalah 272%, atau hampir tiga kali lipat, terutama desain grafis yang meningkat 410%. Sebanyak 78% perusahaan desain terletak di Stockholm, Goteborg dan Malmo, dan 50% dari jumlah ini ada di daerah metropolitan Stockholm (Manchester Business School, 2006). Peningkatan jumlah ini juga berdasarkan permintaan jasa desain oleh industri lain, dengan sejumlah 72% dari 1.000 perusahaan non-desain yang disurvei mengatakan ada peningkatan permintaan jasa desain (SVID, 2004). Jumlah perputaran uang yang terjadi di industri desain Swedia tahun 2003 adalah Rp10 triliun (Nordic Innovation Center, 2005). Dari sisi pendidikan desain, jumlah mahasiswa yang terdaftar pada pendidikan desain formal meningkat tiga kali lipat dari 1993 ke 2003 (330%). Dengan angka ini, profesi desainer di Swedia cenderung berlatarbelakang pendidikan formal.

Pemerintah Swedia sudah melakukan beberapa insentif untuk mendorong perkembangan industri desain, karena mereka memandang industri ini cukup memberi banyak keuntungan bagi negara, baik secara finansial, sosial maupun kultural. Beberapa insiatif itu, seperti diuraikan oleh Nordic Innovation Center (2005), antara lain adalah:

  • Tahun 1996: Working Group on Architecture, Form and Design didirikan, dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan.
  • Tahun 1998: Agenda for Design in the Future (Handlingsprogrammet framtidsformer) dirancang oleh parlemen Swedia, berisi enam tujuan utama negara dalam arsitektur dan desain.
  • Tahun 2003, Januari: Swedish Industrial Design Foundation (SVID) dan Svensk Form (Masyarakat Desain dan Kerajinan Swedia) menerbitkan proposal “Design as Development Power in Industry and Public Affairs” kepada pemerintah, dan pemerintah mengucurkan dana Rp27 milyar untuk mendeklarasikan tahun 2005 sebagai “Design Year”. Dana ini juga digunakan untuk mendanai proyek-proyek lain yang meningkatkan daya saing & potensi Usaha Kecil-Menengah (UKM) dalam bidang desain.
  • Tahun 2004, Februari: The Council for Architecture, Form and Design didirikan oleh pemerintah berdasarkan Agenda for Design in the Future tahun 1998. Dewan ini beranggotakan beberapa profesional desain. Tujuan dewan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran, minat dan pengetahuan tentang arsitektur dan desain. Salah satu program kerjanya adalah memperjuangkan kepentingan desain dalam kebijakan sektor publik.
  • Tahun 2005: “Design Year” atau “Tahun Desain” untuk seluruh Swedia yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah. Svensk Form menjadi panitianya. Tujuan dari “Design Year” ini adalah membangun peningkatan pemahaman desain jangka panjang di Swedia. Sekitar 150 badan pemerintah berpartisipasi, dengan cara mempertimbangkan desain pada setiap kebijakan dan pembelian (procurement) yang mereka laksanakan. Lebih dari 500 organisasi, negeri dan swasta, turut diundang untuk berpartisipasi.
  • Tahun 2005: The Design-Year Group for Growth and Innovation didirikan sebagai hasil dari “Design Year” 2005, membantu mendukung pemerintah dan organisasi yang menjalankannya. Tugas utamanya adalah untuk mengevaluasi proyek-proyek berkaitan dengan desain dan hubungan antar organisasi, industri dan pemerintah. Pesertanya juga bagian dari The Council for Architecture, Form and Design.

Dunia pendidikan desain di Swedia cukup terbangun dengan baik dengan hadirnya beragam institusi dan universitas yang terkait dengan dunia desain, seperti desain grafis, desain produk, busana, fotografi dan lainnya, terutama untuk tahap sarjana. Pada tahun ajaran 2002/2003 ada 7.072 mahasiswa yang mengambil jurusan terkait desain (Nordic Innovation Center, 2005). Hanya desain interior yang kurang diminati. Beberapa perguruan tinggi ternama untuk program desain adalah Beckman’s School of Design, Stockholm, Carl Malmsten’s Centre of Wood Technology and Design, Goteborg University, School of Design and Crafts, Kalmar-Nybro, School of Design, Konstfack, Stockholm; Lund University; Umeå Institute of Design, dan lainnya.

Swedish Design Award

Swedish Design Award (SDA) adalah penghargaan desain terkemuka di Swedia, yang diorganisir oleh Svensk Form. Diadakan dua tahun sekali sejak 2006, dahulunya penghargaan ini dinamakan “Excellent Swedish Design Award” dari tahun 1983 ke 2002. Disingkat menjadi “Design S”, penghargaan ini diberikan kepada mereka yang berkarya di bidang desain produk, jasa atau lingkungan tertentu. SDA menghargai individu desainer maupun perusahaan. Berbeda dengan tradisi penghargaan lain yang membaginya dalam kategori, penghargaan ini diberikan berdasarkan studi kasus setiap proyek atau perusahaan. Untuk memenangkan penghargaan ini, sebuah produk atau jasa desain mestilah:

  • meningkatkan penjualan
  • menentukan brand positioning yang sukses
  • menyumbang secara signifikan pada pembangunan masyarakat
  • menyelamatkan kehidupan
  • menyederhanakan proses kerja tertentu
  • membuka kemudahan akses
  • membantu masyarakat mencapai masyarakat yang berkelanjutan
  • membuat hidup menjadi mudah

Hadiah yang diberikan tidak berupa uang tunai, tetapi exposure atau perhatian dari media massa, industri dna pemerintah-pemerintah negara lain dengan diadakannya bengkel, seminar, materi promosi, publikasi online dan rilis media. BrandDesign S” pun melekat pada produk-produk yang mereka hasilkan, yang dengan bangga bisa mereka tempelkan sebagai “label tanda kemenangan”.

Svensk Form

Seperti telah disebutkan pada uraian sebelumnya, Svensk Form adalah Masyarakat Desain dan Kerajinan Swedia, sebuah organisasi nirlaba yang berdasarkan keanggotaan, diberikan mandat oleh pemerintah Swedia untuk mempromosikan desain Swedia di dalam maupun luar negeri. Organisasi ini didirikan tahun 1845. Ketika itu ia didirikan untuk melindungi kualitas karya kerajinan Swedia yang mengalami “serangan” dari proses massal manufaktur industri yang menurunkan kualitas barang-barang karya kerajinan.

Beberapa tujuan organisasi ini adalah:

  • mendemonstrasikan manfaat-manfaat desain yang baik untuk pembangunan sosial;
  • menstimulasi pembangunan desain di Swedia;
  • meningkatkan respek atau penghargaan pada karya-karya desain; dan
  • mengembangkan dan mendalamkan sikap/pemahaman terhadap masalah-masalah bentuk dan desain.

Lingkup kerja Svensk Form meliputi beragam spektrum ilmu dan terapan desain, seperti produk, servis/jasa, lingkungan, sampai bidang dari kerajinan sampai desain produk/industri. Svensk Form adalah penengah antara industri dan desainer, dan ia bekerja bersama desainer untuk melobi pemerintah soal kesadaran desain.

Publikasi yang dimilikinya antara lain majalah desain “FORM”, buletin yang diterbitkan teratur, situs web dan beberapa kegiatan periodikal di Stockholm serta secara nasional.

Selain memajukan pemahaman dan industri desain di Swedia, Svensk Form juga mempromosikan desain “hijau” atau berkelanjutan, yang mengajak desainer untuk menciptakan produk yang ramah lingkungan, ramah aspek sosial dan ramah ekonomi. Pertimbangan-pertimbangan ini terintegrasi dalam tahapan kehidupan sebuah produk mulai dari rancangan, manufaktur, pemasaran sampai komunikasi publik.

Organisasi ini memiliki 13 perwakilan regional di negara-negara bagian Swedia. Seluruh perwakilan ini melaksanakan program kerja terpusat dan daerah, yang temanya kultural dan industrial. Program-program kerjanya juga merambah dunia internasional, dengan publikasi majalah FORM secara internasional, mengikuti pameran, konferensi, trade fair, dan kunjungan kerja atau studi banding baik dari dalam ke luar negeri maupun sebaliknya. Svensk Form juga mengadakan kegiatan Pecha Kucha-nya sendiri, yaitu sharing session antara praktisi desain dan industri dalam format presentasi singkat. Terkait dengan dunia pendidikan, Svensk Form juga mengadakan pameran-pameran karya universitas, beasiswa dan hadiah atau penghargaan khusus.

Studi Kasus: IKEA

IKEA adalah perusahaan swasta yang didaftarkan di Belanda, namun berasal dari selatan Swedia. Didirikan oleh Ingvar Kamprad ketika berumur 17 tahun, pada tahun 1943. Bisnis utamanya adalah menjual perabotan yang dikemas flat beserta aksesorisnya. Barang-barang IKEA biasanya dibawa pulang dalam kemasan rata/ringkas dan dirakit sendiri oleh pemiliknya. Konsep utama bisnis ini serupa dengan konsep desain Swedia dari dahulu, yakni menciptakan barang-barang bernilai desain tinggi, namun tetap menjawab kebutuhan masyarakat luas (non-elitis). Harga-harganya ditekan semurah mungkin. Saat ini, IKEA memiliki lebih dari 300 cabang di 37 negara di berbagai benua dan negara di dunia (Eropa, Amerika Utara, Asia dan Australia). Visi IKEA adalah untuk “Menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk banyak orang.” Berdasarkan visi ini, IKEA menyediakan berbagai produk fungsional yang didesain baik untuk rumah tangga. Harganya ditekan semurah mungkin tanpa kompromi terlalu besar pada kualitas dan dampaknya pada lingkungan.

Produk-produk IKEA kebanyakan memenuhi kebutuhan rumah tangga dan kantor, seperti keperluan makan, perabotan untuk kamar tidur, barang-barang yang bisa merorganisir (storing items), perabotan kantor sampai pernak-pernik aksesoris yang bisa membuat tempat tinggal atau kerja lebih hidup dengan desain yang apik. Setidaknya ada tiga prinsip perancangan produk IKEA, antara lain:

  • Desain: Desainer IKEA memulai rancangan dari anggaran atau harga jual, bukan sebaliknya. Dengan pengetahuan manufaktur yang memadai, desainer-desainer ini dapat mengetahui bagaimana rancangan yang baik diproduksi semurah mungkin.
  • Fungsi: Produk-produk IKEA berfokus pada fungsi, yaitu pemenuhan kebutuhan. Setiap sudut, setiap warna, setiap bentuk dan setiap eksekusi memiliki maksud dan tujuan yang jelas.
  • Harga rendah: Berbagai metode manufaktur/produksi ditelaah untuk mencapai harga serendah mungkin. Contohnya, memindahkan produksi ke negara-negara berkembang, menggunakan bahan dan metode produksi yang murah, dan menyerahkan pemasangan atau perakitan ke konsumer akhir (end consumer). Barang-barangnya dikirim flat-packed dalam kemasan ramping sehingga menghemat biaya.

Antara produk-produknya adalah karpet, kursi, tempat tidur, peralatan makan, meja kerja, meja makan, lemari, dan lain sebagainya.

Kesimpulan

Swedia telah lama menjadi pelopor dunia desain di dunia, bersama-sama dengan negara-negara Skandinavia lain. Ia bahkan menjadi pemimpin desain di daerah Skandinavia. Ciri-ciri utama desain Swedia adalah minimal, fungsional, ramah lingkungan dan non-elitis (mudah dipasarkan dan massal), yang juga berasal dari latar belakang geografi, sosial dan kultural negaranya. Strategi desain modern zaman ini pun mengikuti konsep ini, dan pemerintahnya menyadari betul bagaimana industri desain berkontribusi tidak hanya untuk industri desain itu sendiri, tetapi untuk industri lain dan kesehatan ekonomi nasional secara umum. Pemerintahnya banyak memberikan insentif pada industri desain melalui mandat organisasi dan pengembangan pendidikan desain.

Indonesia harus mempelajari bagaimana Swedia membuat konsensus tentang perkembangan desainnya, kemudian merumuskan apa yang harus mereka lakukan terhadap khazanah seni rupa, kerajinan dan desain tersebut, untuk kemudian dijadikan komoditas yang dapat membantu perekonomian nasional.


Berbincang Bersama Jejak Petjinan

Logo Komunitas Jejak Petjinan

Tidak banyak yang bergerak sendiri untuk memajukan pemahaman budaya di Indonesia, sekaligus mempromosikan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan. Salah satunya adalah Jejak Petjinan, sebuah inisiatif seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa untuk mengangkat warisan budaya Tionghoa yang ternyata usianya lebih panjang dari negara Indonesia itu sendiri. Kami berkesempatan mewawancarai Paulina Mayasari, penggagas program ini beberapa waktu lalu. Program ini mendapat penghargaan The Intercultural Innovation Award yang diselenggarakan bersama oleh United Nations Alliance of Civilizations dan BMW Group. Berkat usahanya ini, Paulina Mayasari diundang ke Rio de Janeiro tahun 2010 untuk menghadiri acara bertajuk 2010 Marketplace of Ideas.

Paulina Mayasari dan Franz Magnis-Suseno
Paulina Mayasari dan Franz Magnis-Suseno. Foto hak cipta Jejak Petjinan/Riyanto Dedek Lesmana.

Berikut cuplikan wawancaranya.

Apa itu Jejak Petjinan?

Jejak Petjinan adalah komunitas yang ingin menelusuri jejak Tionghoa di Indonesia, dan kami menceritakan hasil penelusuran itu melalui acara wisata budaya bernama “Melantjong Petjinan Soerabaia”.

Apa yang mengawali atau menginspirasi lahirnya Jejak Petjinan?

Sebagai orang Tionghoa, saya merasa tradisi masyarakat Tionghoa sudah mulai terkikis. Saya suka bingung bertanya kepada orang yang lebih tua dan tidak ada yang tahu, itu juga yang membuat saya mulai mencari tahu makna-makna di balik tradisi yang masih dijalankan sampai sekarang.

Waktu peristiwa Mei 1998, saya masih kuliah di Universitas Trisakti. Sempat shock dan tidak paham dengan peristiwa itu, kenapa kami, Tionghoa, masih diperlakukan seperti itu. Sempat baca berita juga tentang Teguh Karya yang juga shock atas peristiwa itu, lantas kesehatannya menurun dan akhirnya beliau meninggal. Saya jadi berpikir, bahkan seorang yang besar seperti dia, sudah berkarya begitu banyak untuk Indonesia pun bisa shock dan kurang bisa menerima kenyataan itu, apalagi saya. Saya bahkan sempet ingin jadi warga negara lain. Saya jadi rajin mencari informasi tentang program permanent residence, green card, dan sejenisnya.

Lalu lama kelamaan, saya melihat di negara lain pun sedikit banyak para pendatang juga selalu mengalami hal-hal seperti diskriminasi dan ketidakadilan lainnya. Saya juga mendengar banyak cerita dari teman2 saya yang pernah sekolah dan tinggal di luar negeri. Semuanya tergantung pada dirinya sendiri, apakah mau diam saja atau melakukan sesuatu untuk merubah keadaan. Saya putuskan untuk melakukan sesuatu dan Jejak Petjinan ini awalnya.

Kegiatan apa sajakah yang sudah dilaksanakan? Apa bentuknya?

Melancong Petjinan Batavia (1)
Melancong Petjinan Batavia (1). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.

Kegiatan yang sudah pernah dilakukan Jejak Petjinan antara lain pameran foto bersama, kumpul-kumpul (“kumkum”/”kopdar”) Jejak Petjinan, “cangkrukan” bareng Jejak Petjinan, “ik’ol’san” (“Ikutan Ngobrol Santai”), juga SKETSA (Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara). Ke depan, saya ingin sekali di Indonesia ada Chinese Indonesian Cultural Centre, semacam pusat kebudayaan Tionghoa. Kenapa dari Jepang ada, Belanda juga, tapi dari suku-suku atau etnis-etnis di Indonesia sendiri tidak ada? Padahal, suku/etnis di Indonesia banyak sekali!

Nah, di pusat kebudayaan ini, kita bisa mencari data tentang jejak Tionghoa di Indonesia, bisa belajar budaya, makanan, tradisi, semuanya. Sekarang ini kami sedang mengumpulkan data dengan membuat gerakan bernama SKETSA, Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara. Kenapa Nusantara? karena Tionghoa di Indonesia sudah ada sebelum Indonesia ada!

Langkah pertama gerakan ini kami wujudkan dalam bentuk situs web, yang berbentuk wiki. Situ ini bisa dikerjakan ramai-ramai, siapapun yang berminat untuk membantu mengumpulkan, silakan daftar dan login, lalu bisa ikut mengerjakan. Rencana ke depannya akan ada pameran kelilingnya juga, tapi ini tunggu tanggal mainnya, ya!

Bagaimana hasil atau dampak dari kegiatan-kegiatan tersebut? Apa respon masyarakat?

Melancong Petjinan Batavia (2)
Melancong Petjinan Batavia (2). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.

Mereka menyambut hangat ide-ide acara yang diadakan ini. Dari hasil kuesioner yang kami adakan, hampir semua menganggap acara ini bagus, menambah wawasan dan pengetahuan serta bersemangat untuk mengikuti acara-acara berikutnya.

Menurut Jejak Petjinan, apakah bentuk promosi pariwisata yang paling baik untuk Indonesia? Apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara independen selama ini dianggap lebih efektif dari program pemerintah?

Jejak Petjinan tidak punya kapasitas untuk menjawab problematika pariwisata Indonesia. Namun, kalau kami diperkenankan untuk memberikan pendapat, kadang-kadang birokrasi dan peraturan pemerintah memang cenderung mengekang kreativitas dan hanya mengakomodir kepentingan dari sudut pandang pemerintah saja. Jadinya program pemerintah sering terkesan tidak sampai sasaran atau tidak efektif.

Kendala-kendala seperti apa yang dihadapi di lapangan ketika melaksanakan kegiatan?

Melancong Petjinan Batavia (3)
Melancong Petjinan Batavia (3). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.

Banyak, pertama tidak banyak orang Tionghoa terutama dari kalangan muda, yang tertarik untuk menyediakan waktu untuk membantu mengembangkan komunitas ini. Selain itu, minat masyarakat untuk pelestarian juga kurang, apalagi dananya.

Selain itu, untuk membuat konsep tema acara seperti ini tidak mudah, karena tempat yang kami datangi mungkin belum diketahui orang banyak, hampir tidak ada data tentang tempat tersebut. Kami perlu wawancara, survei, baca buku, dan menghabiskan waktu untuk mencari data.

Apa rencana ke depan?

Kartu Pos Jejak Petjinan
Kartu Pos Jejak Petjinan. Foto hak cipta Jejak Petjinan/Paulina Mayasari.

Yang ingin dicapai adalah adanya sebuah sumber atau pusat informasi yang selalu mutakhir dan akurat tentang Tionghoa di Indonesia, di mana pengunjung bisa mencari tahu apa saja tentang jejak Tionghoa di Indonesia. Ini kami mulai dengan gerakan SKETSA, gerakan pengumpulan data Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara.

Melalui Melantjong Petjinan Soerabaia, Jejak Petjinan ingin mengumpulkan orang-orang yang punya rasa ingin tahu yang sama mengenai jejak Tionghoa di Indonesia dalam situasi dan kondisi rileks sehingga hilang rasa enggan untuk tersenyum dan menyapa dengan sekitarnya. Harapannya, lama-kelamaan tidak ada pagar antar etnis Tionghoa dengan etnis lain di Indonesia, sehingga hilanglah stereotipe-stereotipe yang buruk, akhirnya dapat melihat apa adanya. Terkadang, ada laporan dari narasumber bahwa para peserta datang lagi sendiri ataupun beramai-ramai dan berinteraksi dengan penduduk lagi sampai puas.

Terima kasih kami ucapkan kepada Paulina Mayasari yang bersedia diwawancara.


Kaos Ransel Kecil (Lagi)

Pemutakhiran 27 Februari 2012: Pemesanan sudah ditutup. Terima kasih partisipasinya. Bagi yang sudah memesan kaos, silakan tunggu kabar dari kami.

Kaos Ransel Kecil datang lagi! Kali ini kami kembali berkolaborasi bersama Neuro-Designs untuk membuat kaos yang dapat diajak bepergian bersama ke destinasi berikutnya.

Tema kaos kali ini adalah “Love your passport“. Sayangi paspor Indonesia Anda walau banyak usaha yang harus dihadapi untuk bepergian ke negara-negara lain. Tanpa paspor ini, kita tak bisa menikmati perjalanan ke hampir semua negara di dunia sambil mempelajari budayanya, mencicipi makanannya, berpetualang dengan berbagai sarana transportasi sampai tersesat di tempat antah-berantah!

Kaos Ransel Kecil Edisi ke-2
Kaos Ransel Kecil. Hanya ilustrasi. Warna tidak 100% akurat.

Seperti kaos Ransel Kecil yang pertama, kaos ini akan diproduksi dengan material cotton-combed 24S dan dikemas dengan kotak yang didesain apik oleh teman-teman kami di Neuro-Designs.


Kemasan

Harga

Harganya Rp100.000, bebas biaya pengiriman untuk tempat-tempat di Pulau Bali dan Pulau Jawa. Teman-teman yang berada di luar daerah-daerah tersebut (atau di luar negeri), harga di atas akan ditambahkan biaya pengiriman oleh TIKI atau JNE. Untuk pengiriman ke luar negeri, pemesan akan menanggung sendiri tarif bea dan cukai yang terkait.

Hasil Penjualan untuk Apa?

Hasil keuntungan penjualan akan digunakan untuk membantu biaya server dan hosting. Selain itu, setiap kontributor baru akan mendapatkan kaos ini gratis. Ini adalah salah satu cara untuk berdonasi.

Terima kasih atas dukungannya!

  • Template foto kaos hak cipta Angel A. Acevedo, disediakan gratis dan bebas royalti.
  • Untuk saat ini, kaos Ransel Kecil yang pertama sudah tidak kami produksi lagi.

Tentang Bebas Visa Kunjungan ke Negara-Negara Schengen

Beberapa hari yang lalu berkembang berita mengenai kemungkinan warga negara Indonesia (WNI) dibebaskan dari keperluan mengurus visa untuk bepergian ke negara-negara Schengen di Eropa. Perlu ditekankan bahwa negara-negara Schengen ini tetap terbatas, dan tidak menjadi keseluruhan benua Eropa. Oleh karena itu, menyebut kasus ini sebagai “bebas visa ke Eropa” sebenarnya salah kaprah. Negara-negara yang termasuk perjanjian Schengen adalah Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luxembourg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia dan Switzerland.

Berita ini mulai ada di harian Tribun News, yang mengutip perkataan Kepala Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, Rochadi Iman Santoso, yang menyimpulkan bahwa Indonesia tinggal mencapai status “Aneks 1”. Tidak jelas apa yang dimaksud Aneks 1, dan siapa yang memiliki regulasi ini (Indonesia? Negara-Negara Perjanjian Schengen?).

“Saat ini, dalam lingkup keimigrasian dunia, Indonesia baru mencapai status Aneks 2. Salah satu hasilnya adalah pengurusan visa untuk negara Schengen tidak lagi memakan waktu berminggu-minggu, melainkan hanya 3-5 hari saja,” kata Rochadi lagi.

Terakhir kali saya melakukan aplikasi visa Schengen, butuh setidaknya 10 hari. Saya tidak tahu apakah baru-baru ini prosedur ini dipersingkat sampai jadi 3-5 hari saja. Tidak ada keterangan yang memastikan informasi ini baik di halaman Kedutaan Jerman atau Kedutaan Belanda di Jakarta, misalnya. Yang ada, pemohon diminta untuk mengajukan aplikasi paling tidak 15 hari sebelum keberangkatan.

“Saat ini, dalam lingkup keimigrasian dunia, Indonesia baru mencapai status Aneks 2. Salah satu hasilnya adalah pengurusan visa untuk negara Schengen tidak lagi memakan waktu berminggu-minggu, melainkan hanya 3-5 hari saja.” Rochadi Iman Santoso

Isu lain adalah untuk memenuhi status “Aneks 1”, salah satu usaha yang diperlukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan mengimplementasikan secara penuh program paspor elektronik. Paspor elektronik memang sudah ditawarkan di beberapa Kantor Imigrasi, misalnya Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Biayanya juga lebih mahal, per tulisan ini dibuat, tarifnya Rp600.000. Bandingkan dengan paspor biasa yang bertarif Rp200.000. Tentu saja, tarif ini tidak termasuk biaya-biaya administrasi lain dan agen atau calo, misalnya.

Apa beda paspor biasa dan elektronik, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, paspor elektronik dikatakan memiliki chip yang ditanamkan di salah satu bagian paspor, entah itu kulit/cover atau halaman tertentu. Chip ini memiliki informasi biometrik seperti sidik jari, kemungkinan juga iris (seperti pada layanan Kartu Tanda Penduduk elektronik/e-KTP) dan informasi biodata seperti nama, tempat & tanggal lahir, alamat rumah, pekerjaan dan lain-lain. Dengan informasi yang sudah dipindai secara elektronik ini, pengguna paspor dapat mengalami proses yang lebih cepat di gerbang imigrasi, baik itu di Indonesia maupun di salah satu negara Schengen di Eropa. Menurut artikel itu lagi, bahkan pemegang paspor bisa menggunakan salah satu gerbang otomatis (bayangkan langsung melewati imigrasi tanpa harus bertatap muka dan ditanya-tanya oleh petugas, namun langsung melakukan pemindaian cepat di mesin).

Hal ini berarti, untuk menikmati fasilitas bebas visa kunjungan ke negara-negara Schengen di Eropa, kemungkinan besar kita harus memiliki paspor elektronik terlebih dahulu. Bisa saja hal ini berarti kita harus mengurus paspor baru lagi.

Tampaknya masih butuh beberapa tahun lagi (lima tahun?) agar WNI dapat menikmati keuntungan bebas visa kunjungan ke negara-negara Schengen. Saya juga agak bingung, kenapa berita ini hanya muncul di Tribun News, atau setidaknya begitulah yang saya lihat. Semua hasil pencarian di Google menampilkan hasil salinan berita ini, yang berjudul “Selangkah Lagi WNI Tak Perlu Visa Untuk ke Eropa”. Tampaknya, Tribun News perlu mencari klarifikasi lagi pada kedutaan-kedutaan yang bersangkutan, tidak hanya klaim dari pegawai imigrasi.

Mungkin kita memang tak perlu senang dulu.


Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil