Ada kalanya, kita perlu menilik lebih dalam tentang budaya dan ekonomi sebuah negara. Ada kalanya pula, kita bisa melihat sebuah destinasi dari kacamata profesi kita sendiri. Sebagai seorang desainer grafis, saya mau tidak mau mengamati industri dan kebijakan desain sebuah negara, salah satunya adalah Swedia. Beruntung, saya sempat mengunjungi negara ini dua tahun silam. Untuk memenuhi rasa ingin tahu saya, saya lakukan sedikit riset dan merangkum soal kebijakan desain Swedia hingga produk-produknya terkenal di mancanegara sebagai pelopor desain yang baik dan apik.
Tidak banyak yang bergerak sendiri untuk memajukan pemahaman budaya di Indonesia, sekaligus mempromosikan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan. Salah satunya adalah Jejak Petjinan, sebuah inisiatif seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa untuk mengangkat warisan budaya Tionghoa yang ternyata usianya lebih panjang dari negara Indonesia itu sendiri. Kami berkesempatan mewawancarai Paulina Mayasari, penggagas program ini beberapa waktu lalu. Program ini mendapat penghargaan The Intercultural Innovation Award yang diselenggarakan bersama oleh United Nations Alliance of Civilizations dan BMW Group. Berkat usahanya ini, Paulina Mayasari diundang ke Rio de Janeiro tahun 2010 untuk menghadiri acara bertajuk 2010 Marketplace of Ideas.
Pemutakhiran 27 Februari 2012: Pemesanan sudah ditutup. Terima kasih partisipasinya. Bagi yang sudah memesan kaos, silakan tunggu kabar dari kami.
Kaos Ransel Kecil datang lagi! Kali ini kami kembali berkolaborasi bersama Neuro-Designs untuk membuat kaos yang dapat diajak bepergian bersama ke destinasi berikutnya.
Tema kaos kali ini adalah “Love your passport“. Sayangi paspor Indonesia Anda walau banyak usaha yang harus dihadapi untuk bepergian ke negara-negara lain. Tanpa paspor ini, kita tak bisa menikmati perjalanan ke hampir semua negara di dunia sambil mempelajari budayanya, mencicipi makanannya, berpetualang dengan berbagai sarana transportasi sampai tersesat di tempat antah-berantah!

Kaos Ransel Kecil. Hanya ilustrasi. Warna tidak 100% akurat.
Beberapa hari yang lalu berkembang berita mengenai kemungkinan warga negara Indonesia (WNI) dibebaskan dari keperluan mengurus visa untuk bepergian ke negara-negara Schengen di Eropa. Perlu ditekankan bahwa negara-negara Schengen ini tetap terbatas, dan tidak menjadi keseluruhan benua Eropa. Oleh karena itu, menyebut kasus ini sebagai “bebas visa ke Eropa” sebenarnya salah kaprah. Negara-negara yang termasuk perjanjian Schengen adalah Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luxembourg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia dan Switzerland.
Berita ini mulai ada di harian Tribun News, yang mengutip perkataan Kepala Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, Rochadi Iman Santoso, yang menyimpulkan bahwa Indonesia tinggal mencapai status “Aneks 1”. Tidak jelas apa yang dimaksud Aneks 1, dan siapa yang memiliki regulasi ini (Indonesia? Negara-Negara Perjanjian Schengen?).
“Saat ini, dalam lingkup keimigrasian dunia, Indonesia baru mencapai status aneks 2. Salah satu hasilnya adalah pengurusan visa untuk negara Schengen tidak lagi memakan waktu berminggu-minggu, melainkan hanya 3-5 hari saja,” kata Rochadi lagi.
Selamat datang di Ransel Kecil yang baru. Sudah hampir dua tahun blog ini ada, selama itu pulalah kami mencoba untuk mengumpulkan cerita-cerita. Cerita-cerita mereka yang tidak hanya melakukan perjalanan, tetapi juga sudi menuliskan dalam kata.
Terima kasih kami ucapkan kepada semua kontributor yang sudah menulis, mengirimkan foto, dan berbagi satu sama lain. Tanpa Anda semua, Ransel Kecil tidak mungkin seperti sekarang.


Tampak Depan
Pemutakhiran 4 Juli 2011: Pemesanan kaos sudah ditutup. Jika Anda ingin memesan kaos, tunggu pengumuman kami selanjutnya. Terima kasih!
Pemutakhiran 1 Juli 2011: 27 kaos gelombang 1 sudah dikirim hari ini.
Bagaimana rasanya jika bepergian dengan kaos Ransel Kecil?
Bekerjasama dengan Neuro-Designs, kami akan memproduksi kaos Ransel Kecil. Kaos-kaos ini dibuat dari bahan katun dan dikemas oleh Neuro-Designs.
Keuntungan dari penjualan ini bukanlah untuk kepentingan komersil. Setidaknya ada dua hal yang mendasari produksi kaos Ransel Kecil ini.
Yang pertama, kami ingin bisa mulai memberikan sesuatu kepada kontributor kami. Dengan membeli kaos-kaos ini, keuntungannya akan kami gunakan untuk membelikan kaos lagi kepada setiap kontributor baru.
Kedua, untuk jangka panjang. Akhir-akhir ini, kami mengalami lonjakan pengunjung yang luar biasa, dengan rata-rata 1.000 – 1.500 pageview unik setiap bulan sejak awal tahun 2011. Server kami sempat kelebihan bandwidth dua kali, yang membuat kami terpaksa menaikkan batasnya. Ke depan, jika memang kebutuhan server Ransel Kecil semakin meningkat, dana yang ada digunakan untuk menopang sebagian pengeluaran bulanan.
Ransel Kecil masuk majalah! Terima kasih untuk Kenny Santana atas rekomendasinya di majalah Her World Indonesia edisi Mei 2011. Klik pada gambar untuk memperbesar.

Buat petualang seperti Agustinus Wibowo, perjalanan bukan soal pergi ke tempat-tempat paling asing di bumi.
“Kunci sebuah perjalanan adalah refleksi,” kata Agustinus, di sela-sela sesi berbagi dengan komunitas National Geographic pada hari Sabtu, 14 Mei lalu.
Agustinus, yang muncul dengan pakaian tradisional Afghanistan shalwar
qamiz berwarna putih, dengan lancar membagi cerita seputar perjalanannya di Afghanistan, Tajikistan, Kazakhstan, Kirgizstan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Sebagian besar ceritanya memang sudah dimuat di buku-bukunya, “Selimut Debu” dan “Garis Batas”, tapi lebih istimewa memang ketika mendengar langsung pengalaman tukang jalan yang satu ini. Ada beberapa hal tentang proses pembuatan buku yang tidak termuat di mana pun. Misalnya, cerita bahwa buku pertamanya, “Selimut Debu” diselesaikan tanpa sempat bertemu dengan editornya, Hetih Rusli. Buku keduanya, “Garis Batas” dibuat dalam waktu dua tahun dan melalui empat kali penulisan ulang. Naskah pertama “Garis Batas” panjangnya
mencapai 600 halaman. Menurut Hetih, jumlah tersebut terlalu panjang dan perlu peringkasan supaya pembeli mau membaca. Mau tidak mau, beberapa detail terpaksa dibuang untuk menjaga fokus buku.

Berita menggembirakan datang malam kemarin dari panitia penghargaan blog The BOBs, yang diorganisir oleh Deutsche Welle, sebuah kantor berita/media dari Jerman: Ransel Kecil menjadi salah satu dari 11 nominasi untuk kategori Blog Indonesia terbaik (“Best Blog Indonesian”). Selanjutnya, untuk bisa memenangkan penghargaan ini ada dua jalur, yakni BOBs User Prize yang dilihat dari jumlah pemilih terbanyak dari sesi jajak pendapat sampai 11 April, lalu BOBs Jury Prize yang ditentukan oleh panelis juri, dan pemenangnya akan diundang ke Bonn, Jerman untuk menerima hadiahnya.
Kami ingin menggunakan kesempatan ini untuk berterima kasih atas kontribusi, saran, kritik dan dukungan teman-teman pembaca sekalian selama lebih dari satu tahun blog ini berdiri.
Dengan segenap hati, kami mengajak teman-teman untuk membantu kami mendapatkan BOBs User Prize dengan memilih kami di jajak pendapat the BOBs sampai 11 April 2011.
Bagaimana caranya? Tinggal klik di sini, sign in melalui Facebook atau Twitter dan pilih kami dari kategori “Best Blog Indonesian”. Anda bisa melakukan pemilihan setiap 24 jam sekali, jadi, tolong bantu kami!
Terima kasih sekali lagi!
Ada beberapa diskusi menarik yang terjadi di ranah maya, mengenai bagaimana merasakan perjalanan yang sesungguhnya.
Kita melihat bahwa, pertama, ada orang-orang yang menjalani kehidupan berkelana sebagai kodrat hidupnya. Mereka menghidupi dirinya dari serangkaian kegiatan-kegiatan yang ditempuh selama hidup di negeri asing. Mereka bukanlah sekedar wisatawan yang biasa berlibur dari cuti yang susah-payah didapat dari kantornya, dan tertatih-tatih mencari tiket promo. Mereka benar-benar tinggal secara permanen di negeri asing, untuk kemudian merasa cukup di situ dan berpindah lagi ke negeri lainnya, tapi tak pernah—atau entah kapan—pulang. Di banyak kesempatan, mereka tak banyak bicara. Mereka lebih suka memendam seluruh pengalaman, meresapinya, baru kemudian mewujudkannya dalam karya yang lebih “berbobot”.


