Kategori: Tips (halaman 3 dari 4)

Menjadi Pejalan yang Bertanggungjawab

Penjual makanan lokal
Penjual makanan lokal menjadi alternatif konsumsi yang bertanggungjawab.

Beberapa tahun belakangan ini dalam dunia pariwisata muncul istilah “responsible traveler“, atau pejalan yang bertanggungjawab, sebagai akibat dari pesatnya kemajuan industri pariwisata dunia. Tahun lalu saja tercatat 900 juta turis melakukan perjalanan dan diperkirakan akan meningkat jumlahnya menjadi 1.6 milyar pada tahun 2020. Sudah pasti perpindahan pejalan yang begitu besar akan memberikan dampak negatif terhadap permasalahan sosial dan lingkungan. Responsible travel (perjalanan yang bertanggungjawab) merupakan suatu paradigma baru atau kesadaran dalam melakukan perjalanan yang menitikberatkan pada kelangsungan objek tujuan wisata, menghormati dan memberikan keuntungan kepada masyarakat lokal sekaligus lingkungannya.

Lantas apa yang dilakukan pejalan yang bertanggungjawab? Beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai pejalan yang bertanggungjawab untuk ikut serta menciptakan kelangsungan dari dunia pariwisata yang berkelanjutan dengan berkonstribusi memberikan dampak yang positif untuk masyarakat lokal beserta lingkungannya.

Atraksi lokal: sepeda onthel
Atraksi lokal: sepeda onthel!

Sebelum melakukan perjalanan ada baiknya mencari sebanyak banyaknya informasi mengenai tempat tujuan perjalanan Anda. Dengan mengetahui sejarah, budaya, lingkungan, kebiasaan, dan apa yang boleh dan tidak dilakukan akan sangat membantu memelihara kelangsungan dari obyek wisata tersebut, terutama untuk situs peninggalan budaya dunia. Mempelajari beberapa kata dasar yang digunakan di tempat tujuan perjalanan Anda juga akan membantu untuk berinteraksi dengan masyarakat lokal, tidak hanya itu, usaha kita untuk menggunakan bahasa mereka juga akan diapresiasi walaupun hanya sekedar kata sapaan “halo, selamat pagi, tolong dan terima kasih”.

PAndai-pAndailah berkemas seringan mungkin. Cari tahu melalui tulisan perjalanan di internet barang barang apa yang kira-kira diperlukan. Biasanya tidak semua barang yang kita bawa dalam melakukan perjalanan akan selalu terpakai. Bukalah karton atau plastik kemasan pembungkus barang-barang baru Anda seperti sikat gigi, pasta gigi, sabun dan lain lain yang tidak hanya memakan tempat di tas Anda tapi juga akan menambah jumlah sampah yang dihasilkan di negara tujuan. Terlebih lagi jika tujuan perjalanan Anda adalah di negara negara yang belum berkembang yang belum memiliki teknologi untuk mendaur ulang sampah plastik misalnya.

Berdayakan bisnis masyarakat setempat
Berdayakan bisnis masyarakat setempat, apalagi jika itu membantu penyandang cacat seperti warung ini.

Ada baiknya memilih tempat penginapan dan alat transportasi yang memberikan dampak terhadap lingkungan sekecil mungkin. Biasanya semakin besar suatu hotel maka semakin besar pula dampak yang ditimbulkan dari operasional hotel tersebut seperti jumlah daya listrik dan air yang terpakai serta limbah yang dihasilkan. Sedangkan polusi dari emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari pesawat udara sangat mempengaruhi pemanasan global. Memang sangat sulit untuk diterapkan, apalagi oleh budget traveler yang memiliki banyak keterbatasan, tapi asal tahu saja jumlah emisi karbondioksida yang dihasilkan oleh satu kali rute pulang pergi pesawat udara jarak jauh lebih besar daripada penggunaan rata-rata setahun mengendarai sebuah sepeda motor. Atau, boleh dicoba menggunakan penerbangan non-stop yang menghasilkan emisi karbondioksida lebih kecil dibanding dengan penerbangan udara yang transit di kota tertentu.

Pada saat melakukan perjalanan berusahalah beradaptasi dan berpartisipasi dengan budaya setempat seperti kata pepatah yang masih berlaku saat ini, “While in Rome do as the Romans”. Perjalanan Anda akan terasa lebih bermakna apabila Anda melihat budaya lain tidak dengan memaksakan sudut pAndang perspektif mata Anda, tetapi melalui perspektif yang sama sekali berbeda. Mematuhi rambu tAnda menyeberang di Singapura, mencoba menumpang kendaraan tuk-tuk di Bangkok, mencicipi salah satu dari berbagai jenis hidangan serangga di Phnom Penh, atau mengunjungi festival lokal misalnya, adalah bagian dari memaknai pengalaman budaya baru.

Mosaik Indochina
Warisan budaya, sejarah dan sosial terhubung dalam mosaik yang membentuk keutuhan.

Menggunakan jasa atau membeli barang produksi setempat juga dapat mendukung berlangsungnya usaha komunitas lokal seperti menggunakan jasa operator tur lokal, menggunakan pemandu lokal atau berbelanja di pasar tradisional. Hindari menawar secara berlebihan, apabila Anda ragu mengenai harga yang pantas, tanya staf tempat Anda menginap atau orang di sekitar Anda. Ingat menggunakan jasa mereka atau membeli barang kerajinan atau seni lokal artinya uang yang Anda belanjakan akan langsung masuk ke dompet masyarakat lokal dan keuntungan lebih yang Anda berikan akan sangat mempengaruhi kualiatas kehidupan pedagang tersebut. Sebelum membeli, tanya asal muasal dari barang tersebut. Jangan membeli barang barang yang terbuat dari sumber daya alam yang dilindungi atau illegal seperti sirip ikan hiu atau barang barang yang terbuat dari kulit atau bulu hewan yang terancam punah.
Di tempat objek wisata terutama yang dilindungi atau bagian dari objek wisata peninggalan budaya dunia, ikuti peraturan yang berlaku dengan tidak melintasi jalur yang tidak diperkenankan, hormati petugas yang merawat objek wisata tersebut dan tidak memindahkan atau merusak benda-benda atau temuan arkeologis. Hormati juga lingkungan yang Anda kunjungi dengan mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang barang-barang tertentu. Dengan hanya membuang sampah pada tempatnya dan menghemat penggunaan air dan listrik akan sangat menguntungkan bagi orang-orang yang tinggal atau bekerja di sekitar tempat objek wisata tersebut secara keseluruhan.

Hargai warisan sejarah lokal
Hargai warisan sejarah lokal, seperti situs sejarah Bamyan di Afghanistan ini.

Melakukan perjalanan adalah awal dari pengalaman baru, banyak sekali pengalaman atau pembelajaran yang didapat selama perjalanan. Setelah melakukan perjalanan ceritakan pengalaman menarik Anda sebagai pejalan yang bertanggungjawab kepada teman-teman. Tulis tips agar orang lain juga bisa ikut berpartisipasi memberikan dampak positif terhadap lingkungannya selama melakukan perjalanan mereka. Jangan lupa sisipkan foto di blog Anda, karena katanya sebuah gambar memiliki beribu makna. Tentunya tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi pejalan yang bertanggung jawab.

  • Disunting oleh SA 01/09/2011

Mencari Kendaraan Tumpangan

Saya teringat masa kecil itu. Bersama teman seusia saya, kami naik bak belakang mobil atau kontainer di perempatan lampu merah, mengejar mobil boks dan bergantungan di pintu belakang, bahkan menaiki bis umum dan cepat-cepat melompat keluar ketika kenek-nya menagih bayaran. Bukan berarti pada saat itu saya tidak punya ongkos untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah, tapi kenakalan yang spontan dan tanpa memikirkan resiko itu kami lakukan untuk kesenangan semata.

Konsep tersebut kurang lebih sama dengan istilah “hitchhiking” atau menumpang kendaraan di kalangan pejalan. Kendaraan tumpangan tentu saja moda transportasi apa pun yang tersedia agar kita bisa tiba di tempat tujuan. Dengan mencari kendaraan tumpangan kita bisa meminimalkan biaya perjalanan, bahkan gratis, tentunya tanpa mengabaikan faktor keselamatan dan atas kesepakatan kedua belah pihak.

Berikut beberapa tips dari rangkaian pengalaman saya sewaktu melancong melalui jalan darat melintasi tujuh negara di Asia.

Memiliki peta akan sangat membantu dalam melihat lokasi Anda, mempermudah untuk menentukan rute yang akan ditempuh, memperkirakan seberapa jauh dan waktu yang dibutuhkan, dan merencanakan tempat perhentian.

Berpenampilan sopan, perlu diingat bahwa Anda tidak mengenal pemberi tumpangan dan demikian juga sebaliknya. Untuk berhasil membuat seseorang memutuskan menghentikan kendaraannya sangat tergantung dari kesan pertama penampilan Anda. Apa batasannya berpenampilan sopan? Berpikirlah Anda layaknya sebagai pemberi tumpangan, apakah Anda mau memberi tumpangan terhadap diri Anda? Tentunya Anda tidak akan mendekati orang yang berkarakter kriminal bukan?

Lokasi Anda menghentikan kendaraan sangat mempengaruhi keberhasilan mendapatkan tumpangan. Berhentilah di tempat yang mudah dilihat, tidak di belokan jalan atau di tengah keramaian misalnya, ini akan memberi pengendara sedikit waktu berpikir untuk memutuskan menepi. Hindari tempat dengan tanda dilarang berhenti. Akan lebih mudah mencari tumpangan di tempat seperti lampu merah, pom bensin, perhentian rumah makan dan pangkalan truk. Untuk rute antar kota sebaiknya menunggu di pinggir kota atau jalur antar kota, karena kendaraan dalam kota biasanya tidak berpergian jarak jauh.

Menghentikan kendaraan dengan cara melambaikan tangan, mengacungkan ibu jari, atau menuliskan tujuan Anda di karton dengan huruf yang besar. Apabila Anda berkelompok sebaiknya lakukan bersama-sama. Pemberi tumpangan akan mengurungkan niatnya untuk memberi tumpangan apabila hanya satu orang yang menghentikan kendaraan dan tiba tiba muncul yang lainnya. Mendapatkan tumpangan itu perlu waktu. Ingat, tidak semua kendaraan akan berhenti, tidak semua kendaran yang berhenti akan memberikan tumpangan dan tidak semua pemberi tumpangan memiliki arah yang sama dengan Anda. Jadi, harus sabar dan punya waktu yang fleksibel.

Komunikasi akan menjadi sulit terutama di negara yang tidak menggunakan huruf latin dan tidak berbahasa Inggris seperti di Thailand, Kamboja dan Republik Tiongkok, apalagi di kota-kota kecil. Jangan sia-siakan kesempatan apabila Anda berhasil menghentikan kendaraan, inilah peluang Anda meyakinkan untuk mendapatkan tumpangan. Jelaskan kondisi dan tujuan Anda, tanya ke mana tujuan mereka. Jangan hanya mencari kendaraan yang memiliki tujuan akhir yang sama dengan Anda. Yang penting searah dan Anda bisa berhenti di lokasi strategis tempat di mana mudah mendapatkan kendaraan. Selanjutnya carilah tumpangan yang lain hingga tiba di tempat tujuan. Menyiapkan kartu bertuliskan kata atau kalimat sederhana dan nama tempat dalam bahasa mereka akan sangat membantu menyampaikan pesan yang Anda ingin sampaikan.

Berkemas seringan mungkin. Tidak mudah mendapatkan tumpangan di jalan. Biasanya saya memutuskan berjalan sambil berharap ada kendaraan yang mau berhenti daripada menunggu berjam-jam di tempat yang sama. Membawa ransel seringan mungkin sangat memudahkan perjalanan Anda. Sudah pasti ransel Anda akan setia menempel di pundak Anda kemanapun Anda pergi. Walaupun tujuan Anda menumpang kendaraan, bisa dipastikan Anda tetap harus berjalan. Selain itu akan memudahkan pemberi tumpangan karena tidak memakan tempat. Ada baiknya membawa beberapa cinderamata dari tempat Anda untuk diberikan kepada pemberi tumpangan.

Keamanan adalah yang paling utama, gunakan akal sehat. Apabila pemberi tumpangan bersedia memberi tumpangan lalu Anda berubah pikiran, jangan segan-segan membatalkannya. Bilang saja Anda menunggu di sisi jalan yang salah. Sebenarnya pemberi tumpangan memiliki kekhawatiran yang lebih besar daripada kekhawatiran penumpang.

Terakhir, nikmati perjalanan Anda. Anggaran transportasi yang Anda hemat dapat digunakan untuk memperpanjang masa liburan selama beberapa hari, atau berikan hadiah untuk diri Anda dengan makan makanan enak atau membeli sesuatu karena telah berhasil menumpang.

Walaupun menumpang memiliki resiko yang sangat kecil, tulisan ini tidak bermaksud mempengaruhi pembaca untuk melakukannya.

  • Disunting oleh SA 06/04/2011

Membuat/Memperpanjang Paspor Indonesia

Petunjuk ini dibuat untuk membantu warganegara Indonesia yang ingin membuat/memperpanjang paspornya sendiri, tanpa bantuan biro jasa atau calo. Jika waktu keberangkatan adalah kurang dari seminggu, kami tidak sarankan Anda untuk mengurus sendiri. Bagaimana pun, setiap perjalanan seharusnya direncanakan jauh-jauh hari. Mohon dicatat bahwa panduan di bawah adalah hanya untuk mereka yang akan memperpanjang atau membuat paspor baru.

Berikut keuntungan membuat paspor sendiri:

  1. Lebih murah, hanya biaya resmi yang dibayar.
  2. Mengerti prosedur.
  3. Membantu pemerintah memperbaiki birokrasi.
  4. Memberantas calo.

Adapun kekurangan mengurus paspor sendiri:

  1. Waktu yang dibutuhkan relatif lebih lama, minimal satu minggu. Yang kami dengar, ada yang dua minggu, bahkan satu bulan!
  2. Harus sediakan waktu minimal dua atau tiga hari kerja penuh untuk datang dan menunggu di kantor imigrasi (kanim).
  3. Masih saja ada hal-hal tak terduga seperti antrian yang “dipotong” pelanggan calo/biro jasa.
  4. Harus pintar-pintar memilih kanim yang layanannya paling maksimal.

Baiklah, mari kita tilik satu-persatu prosedur pembuatan paspor ini.

Sebelum Permohonan

Siapkan paling tidak tiga hari penuh untuk mengurusnya, tersebar dalam jenjang waktu tertentu. Hari ke-1 untuk mengambil formulir, mengisinya, membeli map/folder dan menyerahkan kelengkapan; hari ke-2 untuk foto dan wawancara; dan hari ke-3 untuk pengambilan paspor. Formulir permohonan bisa diambil di hari apa saja sebelum pengembalian. Kenapa harus hari penuh? Karena kita tak pernah tahu berapa lama dan panjang antriannya. Jika Anda sudah bekerja, mintalah izin satu hari atau setengah hari untuk setiap proses di atas.

Jika Anda beruntung, maka waktu yang diperlukan untuk cuti/izin hanya dua hari. Informasi detilnya di bawah.

Pemutakhiran: Pilihlah kanim yang terdekat dengan domisili Anda, atau jika yakin pada satu kanim walaupun lokasinya jauh, silakan menggunakan kanim kepercayaan Anda. Paspor bisa dibuat di kanim mana saja di seluruh Indonesia, terlepas dari domisilinya. Silakan cek jam operasi kanim yang Anda tuju, biasanya jam operasi berada di kisaran 08:00 pagi sampai 15:00/15:30 sore. Untuk foto dan wawancara, bisa sampai jam 16:30, atau sesuai jumlah antrian.

Pengisian Formulir

Pertama, Anda harus mengisi formulir aplikasi. Formulir ini bisa didapatkan di kanim dengan langsung datang. Untuk mengambil formulir tak perlu antri, tinggal minta saja dan bawa pulang lagi atau isi di tempat (tidak direkomendasikan isi di tempat, lebih baik dibawa pulang).

Saran kami, untuk menghemat waktu, gunakanlah layanan online yang tersedia di situs web Ditjen Imigrasi. Formulir pra-pemohonan online ini sama dengan formulir fisik yang kita dapatkan di kanim, bedanya kita mengunggah hasil imbasan (scan) dokumen persyaratan.

Normalnya, yang dibutuhkan adalah fotokopi untuk masing-masing dokumen berikut: kartu keluarga, kartu tanda penduduk (KTP), paspor lama (halaman depan saja), akta kelahiran/surat nikah/ijazah dan surat rekomendasi/izin atasan/sponsor. Jika belum bekerja, maka bersiaplah untuk meminta surat keterangan belum bekerja di kelurahan Anda. Jika paspor lama hilang, maka harus ada surat keterangan hilang. Jika memohon paspor untuk anak yang masih di bawah umur, fotokopi KTP dan paspor orang tua harus disertakan.

Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk sistem aplikasi online ini (termutakhir pada saat penulisan artikel ini).

Penyerahan Formulir

Jika Anda mengisi formulir fisik, maka siapkan dokumen-dokumen berikut pada saat datang ke kanim:

  • Formulir permohonan yang sudah diisi lengkap
  • Kelengkapan dokumen seperti disebutkan di atas rangkap dua: asli dan fotokopi. Dokumen asli dibawa hanya untuk ditunjukkan.
  • Paspor asli lama

Jika Anda mengisi formulir online, siapkan dokumen-dokumen berikut pada saat datang ke kanim:

  • Bukti pra-permohonan (file PDF yang sudah dicetak) yang Anda dapatkan ketika melakukan aplikasi online
  • Kelengkapan dokumen seperti disebutkan di atas rangkap dua: asli dan fotokopi. Asli dibawa hanya untuk ditunjukkan. (Di sinilah anehnya, kelengkapan dokumen fotokopi masih diminta lagi!)
  • Paspor asli lama

Prosedur penyerahan:

  • Datanglah paling lambat pukul 7:00 pagi. Lebih dari itu, Anda akan mengantri di belakang puluhan orang. Daftarkanlah nama Anda di pos keamanan, jika ada, karena pegawai yang mengatur antrian akan memanggil Anda satu per satu dari daftar ini. Jika tidak ada daftar ini, usahakan berdiri di depan pintu masuk dan laporkan diri Anda pada salah satu staf.
  • Khusus pemohon online, antrian dilakukan di loket terpisah. Di sinilah keistimewaan Anda. Pada saat tulisan ini dibuat, tidak banyak yang melakukan permohonan online, sehingga waktu menunggu sangat cepat.
  • Pemohon diharuskan membeli map/folder resmi seharga Rp7.500 di loket khusus. Laporkan diri Anda jika belum membeli map/folder ini, Anda akan diizinkan keluar dari antrian dahulu dan kembali lagi.
  • Ketika Anda dipanggil, serahkan seluruh dokumen kelengkapan kepada petugas penerima. Anda akan mendapatkan nomor antrian (manual dan online dibedakan).
  • Tunggu nama Anda dipanggil di loket penyerahan formulir dan kelengkapan. Ketika sampai di loket, tunjukkan dokumen asli. Anda akan ditanya maksud mengurus paspor (pergi ke luar negeri dalam rangka apa, bekerja di mana, dan sebagainya.)
  • Permohonan Anda diterima atau ditolak sesuai kondisi kelengkapan dan daftar cekal. Jika diterima, Anda diminta kembali lagi pada hari yang sama atau 2 – 3 hari kemudian untuk melakukan tahap selanjutnya: foto dan wawancara. Hal ini relatif, tergantung kebijakan setiap kanim/loket.

Pembayaran

Anda akan diminta melakukan pembayaran di kasir. Pada saat tulisan ini dibuat, harga pembuatan/perpanjangan paspor baru adalah Rp255.000 untuk 48 halaman. Rp200.000 adalah biaya resmi, sedangkan Rp55.000 adalah “biaya TI”. Untuk paspor 24 halaman biayanya Rp50.000. Untuk paspor elektronik (dengan chip) biayanya Rp600.000. Terserah Anda pilih yang mana.

Pembayaran bisa dilakukan di hari pengembalian formulir atau ketika foto dan wawancara.

Foto dan Wawancara

Nomor antrian foto dan wawancara didapat dengan tanda bukti pembayaran di kasir. Ketika Anda datang di hari foto dan wawancara, minta nomornya di kasir. Anda akan dipanggil sesuai nomor. Di sinilah antrian paling lama terjadi, siapkan bahan bacaan, laptop/ponsel, atau minuman. Lebih baik jika ada yang menemani.

Pada saat foto, Anda diharuskan membawa dokumen-dokumen asli sekali lagi untuk ditunjukkan. Setelah itu, Anda akan difoto dan diminta sidik jari masing-masing jari tangan kanan dan kiri.

Anda akan diwawancara perihal keperluan Anda ke luar negeri.

Anda kemudian diminta verifikasi identitas seperti nama dan tanggal lahir, dan menandatangani paspor.

Hasil dari foto dan wawancara ini Anda akan diberikan bukti untuk mengambil paspor sesuai perjanjian.

Pengambilan Paspor

Tanyakan pada petugas kapan paspor Anda akan diterbitkan. Datanglah pagi hari pada saat pengambilan dan langsung ke loket pengambilan, tanda tangan bukti pengambilan, dan nikmati perjalanan dengan paspor baru Anda! Selamat!

  • Disunting oleh ARW & SA 14/03/2011, 01/04/2011
  • Sebagian informasi dibantu oleh @Silverlines melalui Twitter

Memilih Hostel yang Tepat

Hostel adalah pilihan tepat untuk menginap dengan tarif yang relatif murah. Ada pilihan lain seperti apartemen mingguan, rumah penduduk atau hotel melati; namun untuk tinggal selama 2-3 hari hostel masih pilihan praktis tanpa pikir panjang. Hostel juga masih menjadi pilihan populer di negara-negara maju terutama bagi kawula muda.

Kelebihan hostel dibanding yang lain: prosedur pemesanan yang relatif cepat dan mudah (dapat dilakukan melalui internet), harga terjangkau (bisa sepersepuluh harga hotel!), dan lebih fleksibel dalam hal-hal tertentu (walau menuntut tanggungjawab lebih).

Namun, jika kurang cermat, kita bisa bagai membeli kucing dalam karung: lokasi tidak strategis, kotor, tidak aman, fasilitas kurang memadai, harga mahal, dan keluhan lain.

Kira-kira apa yang pantas menjadi pertimbangan dalam memilih hostel? Berikut tipsnya:

Lokasi: Tentukan lokasi yang paling strategis dengan tujuan perjalanan Anda. Jika ingin dekat dengan lokasi menyelam, pilih hostel di dekat laut. Jika ingin belanja di sebuah pasar tradisional, cari hostel 500-1000m dari pasar tersebut. Jika belum memiliki agenda pasti, lebih baik lokasi yang dekat dengan sarana transportasi, seperti stasiun kereta api, terminal bis, stasiun subway, atau bandara. Pertimbangannya, akan menghemat waktu dan tenaga untuk melancarkan perjalanan. Pertama, tak sulit dan memakan biaya untuk sekedar mencari lokasi hostel. Kedua, Anda bisa tepat waktu memperkirakan waktu keberangkatan dengan moda transportasi berikutnya!

Fasilitas: Beberapa hostel tak menyediakan mesin cuci, internet dan seprei. Usahakan semuanya termasuk dalam harga, atau bisa dibeli/disewa dengan ekstra harga yang murah. Jika bisa mencari hostel yang menyediakan keleluasaan menggunakan mesin cuci, Anda dapat menghemat bawaan! Cek juga apakah hostel tersebut menyediakan:

* Loker di dalam kamar hostel
* Free wifi sampai kamar
* Colokan listrik di setiap tempat tidur
* Pantry untuk memasak
* Lokasi yang dekat supermarket dan penukar mata uang asing

Sarapan: Jangan anggap enteng! Bisa saja mencari sarapan di luar, tapi jika bisa mendapatkan hostel yang harga per malamnya termasuk sarapan pagi, apalagi yang sifatnya prasmanan, akan jauh lebih baik. Sarapan yang bergizi adalah awal dari hari dan stamina yang prima. Minimal, hostel tersebut menyediakan pantry untuk memasak.

Tatacara pembayaran dan pembatalan: Pastikan apakah pembayaran dilakukan dengan deposit online lalu dilunaskan pada saat tatap muka atau sudah dibayar di muka seluruhnya. Lebih baik deposit sedikit (biasanya 2% – 10%), karena memberikan kita fleksibilitas dan jika hangus, tak rugi besar. Periksa juga peraturan pembatalan tempat tidur, apakah diperbolehkan. Jika diperbolehkan, berapa hari sebelum kedatangan, dan berapa biayanya.

Baca ulasan: Sangat sulit untuk menentukan tingkat kebersihan dan kenyamanan hostel hanya dari situs webnya. Coba lihat ulasan atau rekomendasi teman, salah satunya melalui blog ini!

Harga: Perhatikan harga pasar hostel di daerah yang Anda kunjungi dan bandingkan dengan fasilitas yang didapat. Periksa jika ada diskon untuk pemuda di bawah 26 tahun!

Tips ekstra: Beberapa hostel membolehkan kita untuk membawa seprei dan sarung bantal sendiri. Namun, mereka biasanya melarang keras kita tidur tanpa menggunakan seprei dan sarung bantal atau menggunakan kantung tidur, atas alasan kebersihan. Kalau kita tak membawa seprei dan sarung bantal sendiri, biasanya kita diharuskan menyewa milik hostel! Siapkan juga alternatif hostel lain di kota yang sama, tidak perlu pesan, hanya hafalkan atau catat alamatnya. Mana tahu, kita tak cocok atau sulit menemukan hostel yang kita pesan.

Selamat berhostel ria!

Disunting oleh ARW 22/11/10

Etika dan Tips Tidur di Asrama Hostel

Hostel biasanya memiliki kamar yang ditata seperti asrama: beberapa tempat tidur bertingkat ditata di dalam sebuah kamar/ruang. Dalam keadaan seperti ini, privasi menjadi kurang berlaku, setiap tamu bisa tahu kegiatan tamu yang lain. Mandi dan kegiatan lain di kakus dilakukan bergantian. Tidak semua nyaman dan terbiasa. Apalagi dalam satu asrama tidak hanya satu kewarganegaraan, tapi banyak, dan usianya sangat beragam!

Jika hendak tidur, pasti ada yang belum akan tidur. Lampu dimatikan, pasti akan ada yang menyalakannya lagi. Hal ini sudah lumrah. Sebaiknya kita menghargai mereka yang mencoba istirahat dengan membantu mematikan lampu. Kita yang mau istirahat juga harus menghargai mereka yang masih membutuhkan lampu. Mungkin bisa memakai penutup mata (eye shade). Jika masih ada kegiatan yang perlu kita lakukan, lebih baik menyalakan lampu kecil di dekat tempat tidur, atau turun ke ruang bersama (pantry, ruang tamu, dll).

Jika bercakap-cakap, jaga percakapan dan volumenya, jangan sampai mengganggu atau mengutarakan kata-kata sensitif.

Setelah memakai toilet, bersihkan toilet sebagaimana kita mau ketika awal ingin memakai. Jangan tinggalkan tisu atau sampah. Siramlah kloset hingga bersih.

Ketika meninggalkan kamar, jangan lupa untuk memberi tanda bahwa tempat tidur kita adalah milik kita, dengan menaruh tas kecil kosong atau baju di atasnya. Jangan meninggalkan barang-barang berharga apalagi yang berbahaya. Ada beberapa hostel yang menyediakan penanda untuk mengklaim tempat tidur, ini akan lebih baik dan jelas. Biasanya, penanda dibubuhkan nama kita. Barang-barang berharga ada baiknya disimpan di loker.

Selalu kunci pintu utama menuju kamar/ruang asrama untuk menjamin keamanan. Jangan sampai ada yang bisa menyusup masuk sembarangan dan membahayakan keamanan bersama.

Setiap hostel mewajibkan penggunaan seprei dan sarung bantal. Jangan lupa mengganti seprei dan sarung bantal baru jika disediakan setiap harinya. Jaga kerapihan kamar/ruang asrama dan kamar mandi bersama.

Kala bepergian dengan keluarga atau teman-teman, coba opsi kamar privat, atau pesan satu kamar asrama yang sesuai jumlah anggota kita. Misalnya, kalau empat orang, pesan yang “4-bed dorm“. Pasti lebih aman dan menyenangkan. Tak perlu segan satu sama lain.

Perlu diingat juga bahwa kamar asrama tidak selalu satu gender. Bagi wanita, coba pesan kamar asrama khusus wanita. Jika tidak tersedia, cari hostel yang menyediakannya. Hal ini untuk menjamin keamanan juga!

Di atas semua itu, perlu ada semangat menghormati dan menghargai satu sama lain. Semuanya ingin menikmati perjalanan atau liburan, jangan sampai merusak momen orang lain!

Disunting oleh ARW 22/11/10

Memilih Kamera untuk Perjalanan

Berbagai pilihan kamera!

Merekam kegiatan selama perjalanan adalah hal utama yang harus dilakukan, selain tentu saja menikmatinya secara langsung. Kenangan yang didapat dari memori bisa hilang atau tergerus dengan memori selanjutnya, tapi dengan bantuan alat perekam seperti kamera atau tulisan, perjalanan menjadi monumen yang lebih konkrit, dapat kita rujuk berkali-kali di masa akan datang, semoga sampai ke generasi anak cucu kita.

Kamera apakah yang kita diskusikan di sini? Dua jenis kamera: kamera fotografi (still photography) dan kamera video.

Banyak dari kita yang sudah memiliki kamera untuk merekam kegiatan sehari-hari, tak hanya perjalanan. Tapi ada juga yang masih mencari, atau memang merencanakan untuk memaksimalkan perekaman perjalanan dengan perangkat yang lebih memberikan fleksibilitas dan kemudahan. Ingat, kata kuncinya adalah fleksibilitas dan kemudahan, karena seberapa bagus pun kualitas kameranya, secara teknis fotografi, tetap manusia di belakang alatnya yang menentukan apakah hasil foto itu bagus atau tidak. Kamera-kamera lebih canggih, mahal dan yang memiliki fitur terkini bukan berarti dapat secara otomatis menghasilkan foto yang lebih baik! Kemajuan teknologi hanya membuat segalanya menjadi lebih fleksibel dan mudah. Misalnya, jika dulu kita harus “sedikit” repot dengan membeli dan memasang film, kini tidak lagi. Kamera digital sekarang juga memiliki layar elektronik sehingga kita tak perlu memicingkan mata lewat viewfinder.

Sebelum membeli kamera baru, perlu diperhatikan pertimbangan berikut ini:

Tujuan dokumentasi

Apa yang kita inginkan dari dokumentasi perjalanan kita? Apakah sebatas sebagai album yang kita lihat di kemudian hari? Atau sebagai sarana belajar fotografi dan menangkap momentum? Atau mungkin, bagian dari proyek kreatif pribadi (misalnya, kita bisa membuat film pendek ala dokumenter yang kemudian bisa kita tunjukkan ke teman-teman dan keluarga)?

Portabilitas

Setelah menentukan tujuan di atas, kita bisa menentukan seberapa banyak atau seberapa besar yang bisa kita bawa. Hal ini tidak hanya melihat dari seberapa jauh kita ingin mendedikasikan waktu kita untuk dokumentasi, tapi juga jenis kegiatan dan destinasi. Tidak pantas, misalnya, membawa begitu banyak peralatan jika kita berada di tengah keluarga yang justru membutuhkan perhatian lebih dari kita. Atau, tidak membawa tripod ketika ada kans bagus untuk mengambil foto long exposure. Umumnya, untuk perjalanan pribadi atau wisata yang cenderung santai, kita tak perlu membawa begitu banyak lensa dan kamera. Cukup satu kamera berkualitas, mata yang jeli, serta pengetahuan yang memadai.

Bagaimana dengan membawa dua jenis kamera? Misalnya, kamera Digital-Single Lens Reflex (D-SLR) dan kamera saku point-and-shoot? Kalau kita jalan sendirian, rasanya kurang praktis. Memang, ada kredo yang mengatakan bahwa D-SLR kita bawa ketika kita ingin menangkap momentum yang lebih ‘serius’ atau ‘teknis’, lalu secara bersamaan kita bawa kamera saku, yang sewaktu-waktu bisa kita keluarkan ketika momentum bagus tiba-tiba muncul dengan cepat. Kamera D-SLR tidak dapat menangkap momentum ini secepat kamera saku, misalnya. Tapi menurut saya, selama kita bukan fotografer professional yang sedang bekerja dalam sebuah penugasan, atau benar-benar mendedikasikan sepenuhnya waktu berlibur kita untuk dokumentasi, rasanya tak perlu membawa dua kamera sekaligus. Istilahnya, kalap, karena kita punya semua, maka harus semuanya. Dokumentasi adalah suatu seni juga, tujuannya bukan merekam sebanyak-banyaknya (kecuali memang ingin begitu), tetapi bagaimana semua direncanakan dengan matang, sehingga kita lebih selektif dalam merekam. Percayalah, berapa banyak foto-foto yang tak kita gunakan atau benar-benar dibanggakan?

Pengetahuan dan Pengalaman

Banyak yang bisa membeli kamera sangat mahal tapi ternyata hasilnya tidak nyata atau biasa saja. Bagaimana hasil yang nyata itu? Mungkin kita punya situs Flickr yang aktif, dan tidak hanya memotret ketika liburan. Atau, punya photoblog yang rutin diisi. Atau, kita seorang profesional. Yang jelas, kita memang punya antusiasme terhadap fotografi sehingga pengetahuan yang dimiliki pun memadai. Punya kamera mahal, tapi digunakan. Pengalaman dan jam terbangnya tinggi.

Jika memang siap untuk meginvestasikan uang dalam bentuk kamera yang mahal, ada baiknya diimbangi dengan dedikasi yang “mahal” juga. Jangan sampai sudah beli kamera mahal-mahal tetapi hasilnya tetap “sama” saja dengan kamera lebih murah. Yang membedakan adalah tujuan-tujuan spesifik, misalnya dalam kasus kamera D-SLR vs. kamera saku, D-SLR lebih unggul dalam menangkap objek-objek bergerak. Semuanya kembali ke tujuan dokumentasi di atas.

Membawa terlalu banyak kamera tapi naif menggunakannya juga membuat kita tampak seperti turis yang terlalu sibuk dengan hal-hal teknis tapi lupa menangkap dan merasakan momentum yang sebenarnya!

Membawa begitu banyak kamera, inginkah kita?

Anggaran

Faktor ini yang paling bisa diukur. Seberapa banyak uang yang mau kita keluarkan (atau, investasikan) untuk sebuah perangkat dokumentasi, baik itu kamera fotografi atau video. Ada yang berpendapat bahwa kita harus menganggap pembelian sebuah kamera sebagai sebuah investasi, dalam arti, uang yang benar-benar dihabiskan adalah setara jumlah penyusutan nilai barang ketika dijual lagi. Jadi, misalnya, kita beli kamera yang kemungkinan besar masih dicari orang di masa akan datang, sehingga ketika dijual lagi, turunnya nilai jual tidak terlalu jauh. Selisih antara nilai waktu dibeli dan dijual inilah yang sebenarnya kita bayar. Menurut saya, jangan ragu untuk berinvestasi di kamera yang kualitas dan reputasinya sangat baik. Mungkin permintaannya juga tinggi.

Kesimpulannya, jangan sampai besar pasak daripada tiang. Tidak hanya soal uang, tapi juga soal manusianya. Tujuan utama dari perjalanan adalah menangkap pengalaman yang tak bisa ditangkap oleh alat buatan manusia. Kecuali kita seorang profesional yang ditugaskan untuk meliput, ada baiknya kita teguh pada nalar dan kepraktisan kamera itu sendiri.

Disunting oleh ARW 26/09/10 & SA 15/11/10

Pentingnya Asuransi Perjalanan

Satu anggaran yang sering terlupakan dalam setiap perjalanan adalah asuransi perjalanan. Banyak dari kita, apalagi yang muda, yang pergi ke luar negeri jauh-jauh tanpa persiapan ini. “Sayang uangnya,” atau “saya optimis, tak akan terjadi apa-apa,” adalah beberapa tanggapan kenapa melangkahi kewajiban yang satu ini. Memang, hidup-mati, sehat-sakit dan kaya-miskin, tak ada yang tahu apa dan kapan akan terjadi pada diri kita. Namun, sebagai tanda sayang pada keluarga yang menunggu di rumah, pedulikah kita untuk membebaskan mereka dari rasa khawatir dan beban finansial?

Dalam setiap perjalanan, perlu dipahami bahwa resiko fisik dan psikologis itu nyata:

Sakit: Siapa yang mau sakit, tapi kita tak pernah tahu. Apalagi kalau kita berada di negeri antah-berantah yang biaya perobatannya mahal. Kalau sakitnya parah dan butuh evakuasi, siapa yang mau tanggung biaya dan koordinasinya?

Tindak kejahatan: Kecopetan, terluka karena tindak kriminal dan pelecehan seksual adalah beberapa kemungkinan terburuk. Tidak mengharapkan itu untuk terjadi, tetapi setidaknya setelah kita urus ke polisi setempat dan kedutaan besar Indonesia, kerugian finansial dapat tergantikan.

Kesalahan Maskapai: Seringkali kita mendengar bagasi yang salah kirim atau tertinggal. Seringkali juga kita mendengar penundaan atau pembatalan perjalanan pesawat terbang karena kelalaian maskapai, kesalahan teknis atau cuaca buruk. Tanpa asuransi, kemungkinan besar kitalah yang harus menanggung beban finansialnya.

Bencana alam: Memang asuransi perjalanan secara gamblang tak mendukung klaim berdasarkan kejadian yang tidak bisa dikontrol manusia seperti bencana alam, tetapi dalam kasus meletusnya gunung berapi Ejyafjallajokull di Islandia beberapa waktu lalu, ada satu analisa yang dapat diambil: pihak asuransi akan menilai berdasarkan peristiwa-peristiwa sekunder yang disebabkan oleh bencana tersebut, seperti penundaan/pembatalan penerbangan.

Kecelakaan: Rasanya skenario ini cukup jelas, tidak hanya kecelakaan transportasi udara tapi juga kecelakaan transportasi darat dan laut. Bagian ini juga mencakup kecelakaan yang disebabkan oleh kegiatan dalam perjalanan, misalnya yang terjadi ketika berenang di laut, atau mendaki gunung. Silakan periksa kembali polis asuransi kita apa benar ada lingkupnya.

Berapa anggaran yang perlu dialokasikan untuk asuransi perjalanan? Banyak macamnya, tergantung lama perjalanan, lingkup dan perusahaannya. Paling tidak, untuk perjalanan ke negeri-negeri di ASEAN, butuh anggaran minimal sekitar USD25 untuk 7-10 hari per orang. Untuk perjalanan ke Amerika atau Eropa, paling tidak minimal sekitar USD40 – 50 untuk satu minggu, sampai USD100 untuk satu bulan.

Selalu periksa lingkup asuransi perjalanan yang akan kita beli. Biasanya, asuransi perjalanan yang baik lingkupnya mencakup:

  • Kecelakaan fisik – termasuk meninggal dan cacat permanen
  • Transportasi – pembatalan atau penundaan
  • Bagasi – keterlambatan, kehilangan atau kerusakan
  • Rawat inap selama di lokasi perjalanan dan setelah pulang ke rumah
  • Rawat jalan
  • Obat-obatan selama di lokasi perjalanan dan setelah pulang ke rumah
  • Biaya dokter selama di lokasi perjalanan dan setelah pulang ke rumah
  • Biaya evakuasi ambulans (udara dan darat), baik masih hidup atau sudah meninggal dunia
  • Penggantian tiket pulang-pergi
  • Biaya penjemputan oleh keluarga, termasuk transportasi dan akomodasi

Jadi, ketika merencanakan perjalanan kita selanjutnya, masukkanlah anggaran untuk asuransi perjalanan. Sayangi diri kita dan keluarga yang menunggu di rumah!

Menghadapi Imigrasi

Jam Digital
Jam digital di Bandara Narita, menuju imigrasi

Melakukan perjalanan sebagai warga negara Indonesia (WNI) dan memegang paspor berwarna hijau itu suka membuat deg-degan jantung, apalagi kalau yang dituju negara yang memiliki sentimen terhadap WNI, baik itu tentang terorisme maupun tenaga kerja. Semua itu tak ubah juga seperti mencurigai seluruh WNI sebagai kriminal. Lebih deg-degan lagi kalau kita ternyata butuh visa yang didaftarkan sebelum berangkat, biasanya oleh negara-negara yang maju dan sentimennya tinggi sekali. Apa yang akan ditanya? Apa barang kita akan dibongkar? Prosedur macam apa yang harus dilalui? Apa visa yang tertera di paspor menjadi penjamin mutlak? Berikut beberapa tips universal menghadapi imigrasi, semoga dapat memperlancar urusan kita di pintu masuk negara mana pun!

h3. Lengkapi dokumentasi perjalanan

Menggunakan Google Docs untuk arsip dokumentasi perjalanan

Sebelum berangkat, lengkapi seluruh dokumentasi kita, sampai yang terkecil dan serasa “tak penting”. Yang pasti harus diingat:
* Nama dan alamat hotel/hostel/apartemen/rumah tempat tinggal di negara tujuan
* Hasil cetak reservasi hotel/hostel/apartemen yang kita pesan di internet atau agen perjalanan
* Tiket pesawat/kereta api/kapal pulang-pergi atau terusan (untuk keluar dari negara tersebut)
* Surat undangan untuk keperluan (bisa dari sebuah acara resmi atau dari warga negara/permanen di negara tujuan)
* Jadwal/rencana perjalanan (itinerary) yang ringkas dan informatif

Dokumentasi di bawah ini juga dibawa sebagai informasi pendukung:

* Bukti yang menunjukkan bahwa kita terikat tanggungjawab untuk kembali ke tanah air, misalnya Kartu Tanda Pelajar, kartu nama bisnis, atau kartu identitas pegawai
* Bukti yang menunjukkan kemampuan finansial seperti kartu kredit dan rekening koran
* Alamat kedutaan besar/konsulat jenderal Indonesia
* Hasil cetak Google Maps tempat-tempat penting yang akan kita kunjungi, misal hotel atau gedung pertemuan
* Fotokopi identitas seperti KTP dan paspor—untuk yang satu ini bisa diunggah dalam versi elektronik ke layanan seperti Google Documents
* Hasil cetak situs web atau brosur tempat-tempat yang kita kunjungi
* Tiket transportasi dalam-negara yang akan kita naiki (di luar tiket internasional), jika sudah siap

h3. Berpenampilan memadai

Bukan berarti sepatu kita harus mahal atau pakai dasi dan jas ke mana pun, tapi tunjukkan bahwa kita memang terpelajar dan berbudaya. Ada “sense of purpose“.

* Pakai kaos, blus, jas, atau kemeja? Apapun yang kita pakai, jangan pakai baju yang sudah rusak
* Jangan menampilkan grafis atau tulisan di baju yang memprovokasi, misalnya kalau ke Amerika jangan pakai kaos bernada intifada, kalau ke India jangan menunjukkan simbol yang menghina kebudayaannya
* Pakai jins oke-oke saja, tapi tinggalkan jins yang bolong-bolong itu di rumah, membuat kita tampak seperti gembel yang tak punya tujuan
* Hindari juga mengenakan pakaian dan perhiasan yang berlebihan, terlalu menarik perhatian (kalau berlapis, takut dicurigai membawa sesuatu; kalau terlalu ‘silau’, membuat kita mudah menjadi sasaran inspeksi acak)
* Sisir/ikat rambut, benahkan kerah, benahkan sepatu, intinya rapikan diri kita
* Pakai ikat pinggang yang tak menggunakan bahan metal yang mudah terdeteksi
* Tegakkan tubuh dan jalan dengan normal
* Yang terpenting, kita harus tampak nyaman, percaya diri dan mengenakan sesuatu yang memudahkan perjalanan

h3. Siapkan diri menjawab pertanyaan petugas

Tergantung negara tujuannya, ada baiknya kita menanyakan pada teman yang sudah pernah ke sana. Kira-kira apa yang akan ditanyakan, lalu bagaimana sebaiknya menjawabnya.

* Kalau tak yakin, pikirkan atau tuliskan mengenai pertanyaan yang mungkin dan siapkan jawabannya
* Tenangkan tubuh dan pasang wajah yang percaya diri, jawab *seperlunya*, jangan menambah-nambahkan atau bercanda berlebihan
* Jangan terlihat ragu dan bingung
* Jangan pernah melirik teman seperjalanan untuk menjawab sebuah pertanyaan, kecuali sangat diperlukan
* Jangan panik jika terjadi sesuatu, ikuti petunjuk, siapkan semua dokumentasi di atas

Pertanyaan yang lazim ditanyakan (beserta contoh jawaban) adalah:

* T: Berapa hari di sini? J: Satu minggu.
* T: Mau apa di sini? J: Mengunjungi teman.
* T: Temannya tinggal di mana? J: [sebutkan alamat lengkap]
* T: Bagaimana kamu kenal dia? J: Lewat internet
* T: Mau ke mana saja selama di negara ini? J: Kota A, kota B, kota C
* T: Mana tiket terusannya? J: [tunjukkan tiket-tiket]

Ada beberapa inspeksi sekunder yang membuat kita makin tertekan, tapi tetap jangan panik dan ikuti petunjuk petugas. Mereka biasanya melakukan inspeksi acak terhadap wajah-wajah yang mereka curigai, atau usia tertentu. Bukan berarti kita salah, kan? Kalau sudah masuk ke inspeksi sekunder, biasanya kita akan ditanyai hal-hal lebih dalam:

* Siapa nama ayah dan ibu?
* Kamu bekerja di mana, sekolah di mana?
* Apakah ada niat untuk bekerja dan tinggal di negara kami?
* Apa isu yang berkembang di negara kamu?
* Apa yang kamu tahu tentang hubungan negara kamu dan negara kami?

Bukan tidak mungkin mereka juga akan menggeledah isi tas kita. Tetap tenang dan jelaskan isinya jika ditanya.

h3. Etika bepergian bersama

* *Jangan* menunggu teman/anggota keluarga yang sedang diinspeksi terlalu dekat dengan kaunter imigrasi. Kita pasti diusir, kalau tidak dicurigai.
* *Dahulukan* yang lebih muda, anak kita, atau yang uzur, sehingga kalau ada masalah, kita masih ada di belakang. Untuk yang paspornya masih jadi satu dengan anak-anak kita, pergi bersama.
* Jika teman kita masuk ke inspeksi sekunder, bersabarlah. Kalau terlalu lama, kita bisa menanyakan petugas, dan memperkenalkan diri bahwa kita adalah temannya dan menanyakan apa yang menghambatnya terlalu lama.

h3. Etika di area imigrasi

* *Jangan* mengeluarkan kamera dan mengambil foto. Area imigrasi adalah area dengan pengamanan tinggi.
* *Sebisa mungkin* tidak mengoperasikan ponsel atau gadget lain. Nanti ada waktunya. Fokus pada kegiatan mengantri.
* Antri dengan tertib. Atur anggota keluarga kita dengan baik, terutama jika ada anak-anak.
* Jangan bercanda berlebihan hingga terdengar keras, apalagi bercanda tentang bom!

Disunting oleh ARW & SA 13/08/10

A untuk Apel

Salah satu kenangan dalam perjalanan ke negeri asing adalah masalah berkomunikasi. Bagi Anda yang bisa bahasa lokal negeri itu, tentu hal ini tidak terasa. Tetapi bagi yang tidak bisa pasti ada beberapa kesan tentang hal ini. Ini adalah catatan perjalanan saya.

Bandara Los Angeles
Bandara Los Angeles

Saat itu saya berada di bandara Los Angeles (LAX), Amerika Serikat. Bandara LA, adalah kanal transportasi udara yang sibuk. Maklumat dalam bahasa Inggris, Spanyol, China, dan Jepang itu terdengar membahana tiada henti; pesannya agar kita tidak meninggalkan bagasi sembarangan. Memandang sekilas, banyak manusia dari segala ras, berjalan-berkeliling, sibuk dengan segala urusan mereka. Ada muda-mudi Jepang yang ngejreng dandanannya. Seorang pekerja yang menilik penampilannya adalah dari India, terlihat rapi dan ringkas. banyak wisatawan China yang sudah renta, dan lebih banyak lagi warga A.S. Sekelompok keluarga, dengan beberapa wanita, lelaki, dan anak-anak, patuh berjalan seperti gembalaan. Menilik perawakan dan wajah mereka, saya kira dari Bangladesh. Seorang petugas membawa tanda besar bertuliskan IOM dengan sabar melayani mereka. Kelompok itu menjalani imigrasi khusus yang terpisah untuk imigran. Riuh dan ramai, itulah bandara LA.

Perlu diketahui, ini adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri, juga pertama kali ke Amerika, demikian halnya uji-coba perdana kemampuan bahasa Inggris saya, yang menurut saya masih belepotan. Karena tujuan akhir adalah AS, maka saya diwajibkan mendaftarkan di imigrasi sebelum melanjutkan untuk transit penerbangan lokal. Setelah masuk imigrasi dan diikuti registrasi kedua di imigrasi, semuanya memakan waktu hampir 2 jam, akhirnya saya bisa keluar gerbang.

Akibatnya, saya hampir terlambat mengejar penerbangan selanjutnya. Waktu tersisa kira-kira 40-an menit. Mana saya tidak punya referensi atau riset mengenai bandara itu sebelumnya.

Saya keluar dan bertanya kepada seorang petugas bandara berkulit hitam. Saya tahu dia petugas bandara karena ada lencana bertuliskan TSA. “Bagaimana saya harus ke Gerbang 6?,” tanya saya. Bapak agak diam sejenak. Apakah bahasa Inggris saya kurang jelas? Ataukah pertanyaan saya yang bodoh?

Tapi dia lalu menjawab, “Oh, kamu bisa jalan ke sana” Dia menunjuk arah di belakang saya. “Atau kamu bisa naik bis berkode A” Saya saat itu di Gerbang 7. Tapi saya benar-benar tak tahu bahwa Gerbang 6 adalah gerbang selanjutnya, bukan memutar atau berada di wilayah lain, seperti di Bandara Soekarno-Hatta misalnya. Perlu diketahui, bandara LA strukturnya berbentuk U. Makanya saya memutuskan bertanya takut gerbang itu berada di wilayah lain itu.

“Ugh, okay. Bus A, ya?” tanya saya.

“Ya, A… seperti untuk A, p, e, l. Apel. Tahu kan?”

Apel? Batin saya. Oh iya, A, si Apel. Ah parah betul nih, masak A saja saya tidak tahu. Demikian pikir saya. Lalu saya bilang, “Terima kasih, Tuan.”

Itulah sebagian contoh komunikasi di negeri asing, dengan kemampuan bahasa Inggris seperti saya. Problem komunikasi dalam bahasa adalah sebuah hal yang menarik dalam setiap perjalanan. Banyak kisah lain. Anda pun pasti punya.

Tapi ketika saya mendarat di lokasi tujuan dan menumpang taksi. Saya sempatkan ngobrol dengan pengemudinya. Dan saya mendapatkan pujian bahwa bahasa Inggris saya bagus. Dia bertanya, “Apakah saya sering berkunjung ke Amerika?” Nah. Belum tentu kalau kita merasa kurang bagus ternyata menurut orang lain tidak bagus. Bahkan menurut pengemudi itu, dia bilang banyak orang Amerika yang bahkan tidak bisa berbahasa Inggris. Saya agak tak percaya. Tapi ketika ada orang lain yang memuji bahasa Inggris saya lagi, saya baru percaya bahwa bahasa saya meski jelek, cukup untuk bisa bertahan berpetualang di sana.

Masalah lain adalah ketika melakukan perjalanan di negara yang tidak mempunyai tulisan dasar huruf latin, seperti Jepang, China, Thailand, atau negera-negara Arab.

Papan Petunjuk di Bandar Beijing
Di Bandara Beijing

Suatu ketika di bandara Beijing, China, saya ingin bertanya di manakah lokasi tempat makan. Dan meluncurlah jawaban ala pantomim itu. Tunjuk sana. Tunjuk situ. Wajah melotot. Frustrasi. Tanya ke petugas lain sama saja. Tanpa keluar bahasa Inggris pun. Mungkin ada yang bisa, tapi sangat sedikit.

Suasana di sebuah pasar malam, Thailand
Suasana di sebuah pasar malam, Thailand

Di Thailand juga sama parahnya. Rata-rata orang di sana kurang cakap berbahasa Inggris. Tapi jangan takut untuk mencoba, ada beberapa yang bisa bahasa Inggris, meskipun itu juga sangat terbatas. Suatu ketika ketika sampai lokasi pemberhentian terakhir angkutan di Krabi. Saya tanya pada petugas tentang lokasi hotel saya, saya tunjukkan cetakan nama hotel itu sambil mengucapkannya. Dia mungkin tahu. Tapi dia tidak bisa menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Atau dia juga tidak bisa menulis aksara latin. Parah kan?

Yang lebih menyakitkan adalah ketika orang lokal pun tidak mengenal angka. Tuntas sudah keterasingan kita. Bayangkan ketika untuk membayar pun tidak tahu. Salah satu strategi saya biasanya hanya menyodorkan uang kecil, lalu meminta penjual itu mengambilnya. Beres sudah.

Yang agak tak enak adalah ketika kita mencicipi makanan lezat, lalu kita tak tahu nama makanan itu. Orang lokal pun tak bisa menjelaskan dengan jelas. Kita tak mampu menangkap bahasanya. Tulisan pun tidak membantu.

Itulah problem bahasa. Susah, memang. Tapi jangan takut. Berani untuk berkomunikasi sering membantu perjalanan kita. Bahkan mungkin jadi kenangan terindah dalam perjalanan Anda.

Suatu ketika saya pernah ngobrol dengan orang Thailand, Jepang, dan Arab. Mereka semua tidak bisa bahasa Inggris. Dan saya tidak bisa bahasa mereka. Dan meluncurlah bahasa kita yang asing itu. Bahasa tubuh. Bahasa melotot. Bahasa senyum. Tapi saya tahu mereka bilang bahwa Indonesia itu bagus, orangnya suka senyum seperti mereka. Dan komunikasi dunia tercipta.

Melanconglah Selagi Muda

Mungkin Anda teringat dengan catatan saya tentang perjalanan yang gagal? Kalau dipikir kembali, selain faktor kurang matangnya perencanaan, ada hal lain yang banyak menyebabkan rencana perjalanan itu jadi berat. Ya betul, karena kami berkeluarga.

Membuat rencana perjalanan bagi keluarga tampak jauh lebih rumit. Ada banyak hal yang harus dipikirkan: orang yang lebih banyak, tujuan spesifik dan harus cocok bagi seluruh anggota keluarga, transportasi yang tidak bisa sembarangan, pemilihan waktu dan lama kunjungan yang lebih santai, dan pada akhirnya semua bermuara pada bujet yang lebih banyak.

Jumlah orang yang lebih banyak tentu akan membuat rencana perjalanan lebih kompleks daripada perjalanan seorang atau dua orang. Apalagi dengan anak kecil, hal itu akan menambah persyaratan ke banyak hal lainnya. Yang paling utama terpengaruh adalah waktu kunjungan yang lebih lama. Jangan sampai keluarga (atau anak) jatuh sakit karena punya niat menghemat waktu lalu memutuskan mengunjungi dua atau tiga lokasi dalam satu hari. Mungkin mereka menikmatinya, tapi ketika kembali ke hotel barulah keluhan atau gejala kelelahan itu akan muncul. Waktu yang lebih lama berakibat pada bujet akomodasi yang lebih banyak.

“Berkelanalah sebelum menikah. Jelajahi seluruh dunia ini satu atau dua kali sebelum Anda mendapat kesulitan bahkan sebelum merencanakan rencana perjalanan itu sendiri.”

Tujuan jalan-jalan keluarga juga terbatas, kalau tidak bisa dibilang kurang menantang. Lokasi wisata yang terlalu keras (adventure) harus dihindari. Apakah tempat yang harus dikunjungi itu harus familiar dengan dunia anak, mungkin tidak harus. Kita bisa saja mengajak anak ke museum sambil mengenalkan banyak pengetahuan baru baginya. Jadi lupakan saja wisata petualangan, kecuali anak sudah pada usia cukup, dan ini berarti di atas 7 tahun. Anda bisa menunggu anak 7 tahun? Sabarlah.

Pertimbangan penting lainnya adalah makanan, apalagi kalau anak masih kecil. Contohnya selain tidak boleh pedas, makanan harus sudah familiar dengan si anak. Bayangkan kalau anak kita tidak mau makan hanya karena ia punya alasan “Aku tidak suka makanan itu karena ia banyak bintik hitam-hitamnya”, “Aku tidak suka mie dicampur sama jamur dan lain-lain”, “Aku tidak suka ada kentangnya dikasih keju”, dan masih banyak alasan lain. Beruntunglah orang tua yang selalu bisa mengenalkan makanan baru pada anaknya. Anak seperti ini adalah jenis yang sudah siap untuk jalan-jalan.

Transportasi bagi keluarga juga tidak bisa macam-macam. Bukan berarti harus kelas eksekutif atau harus pesawat, biar perjalanan lebih cepat. Tetapi mungkin tidak akan bisa mencoba kereta semacam kelas ekonomi. Atau kita tidak bisa mencoba jeep, kalau anak masih terlalu kecil.

Belum lagi kalau Anda dan istri juga bekerja. Mencari cuti bagi kita sendiri saja sudah cukup susah apalagi bisa memadukan cutinya dua orang. Apalagi kalau anak sudah sekolah jangan sampai dibuat pusing untuk mencari padanan waktu yang tepat untuk tiga orang atau lebih ini.

Saya menulis ini bukan karena menyesal sudah menikah dan mempunyai anak kecil usia empat tahun. Tulisan ini saya buat sebagai tips bagi mereka yang menunda untuk jalan-jalan selagi mereka muda. Ketika saya cerita sama istri akan menulis ide tulisan ini, dia langsung menjawab, “Ya, setuju itu. Semua orang muda harus memanfaatkan waktunya sesegera mungkin untuk jalan-jalan keliling dunia.” Tiap orang punya kesempatan dan jalan yang berbeda. Saya menikmati dan selalu ingin melakukan perjalanan bersama keluarga, bila kesempatan memungkinkan. Ada saat jalan-jalan sendiri atau bersama istri saja, dan saat itu adalah waktu yang kurang menyenangkan, entah karena kangen atau sebab lain. Saya juga ingin memberi putri saya kesempatan yang berbeda dengan saya. Saya hanya mengenal tanah Jawa dan pulau-pulau sekitarnya. Saya berharap banyak anak saya bisa mengenal negara, bahasa, dan orang dari seluruh penjuru dunia. Saya akan bahagia kalau bisa menemani dan menjawab semua pertanyaannya.

Berkelanalah sebelum menikah. Jelajahi seluruh dunia ini satu atau dua kali sebelum Anda mendapat kesulitan bahkan sebelum merencanakan rencana perjalanan itu sendiri. Setiap perjalanan itu akan sangat berharga bagi kehidupan Anda di masa mendatang, baik karir atau kehidupan keluarga. Jangan sampai uang habis hanya untuk ganti gadget saja. Harga dua telpon seluler canggih yang Anda pakai dalam dua tahun mungkin cukup untuk tiket pesawat ke Eropa. Jadi, backpacking-lah ke Eropa atau ke Amerika Latin atau Afrika selagi Anda muda. Jangan menunggu dan menyesal belakangan.

  • Disunting oleh SA 27/05/10
Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya

© 2020 Ransel Kecil