Kategori: Tips (halaman 2 dari 12)

Perbedaan Berkelana Saat Sendiri dan Sesudah Berkeluarga


Berjalan di tepi Clarke Quay, Singapura
Dulu, ketika saya masih belum menikah, bepergian ke mana pun terasa lebih ringan, tetapi mungkin lebih kesepian. Kita dengan mudahnya membeli tiket (karena di situs pemesanan pesawat, biasanya sudah default untuk satu orang, berkemas untuk satu orang, dan menganggarkan semuanya untuk satu orang. Di perjalanan, bisa saja kita tidak makan atau ngemper di jalan. Tidak banyak yang dikhawatirkan.
Setelah berkeluarga, tentu semuanya berbeda. Bukan berarti tidak bisa menikmati perjalanan, tetapi memang banyak hal yang harus dipertimbangkan pada saat merencanakan dan menjalani perjalanan itu sendiri. Positifnya, semua terasa lebih indah, karena hal-hal kecil menjadi lebih bermakna dan kita belajar mengapresiasi hidup lebih baik.
Oh ya, tentu saja, melakukan perjalanan ketika belum punya anak, dan sesudah punya anak, adalah dua spektrum yang berbeda jauh. Tanpa anak, mirip seperti pacaran, dan keputusan relatif lebih mudah dibuat. Tapi tentu saja, ego masing-masing bisa berperan lebih besar, sehingga rencana gagal juga bisa terjadi.
Berikut beberapa tips untuk menghadapi perjalanan ketika sudah berkeluarga, apalagi memiliki anak.

Manusia berencana, situasilah yang menentukan

Kita bisa merencanakan segala sesuatu hingga detil ke menitnya, dan lokasinya, serta aktivitasnya, tetapi pada realitanya, situasi dan kondisi pada saat itulah yang menentukan. Misalnya, ketika kami berencana ingin pergi ke Philip Island di selatan kota Melbourne, semua tampak memungkinkan. Sampai pada hari-H di mana Janis, anak kami, tidak betah berada di kursi bayi di mobil di sana yang masih terlalu besar buatnya. Akibatnya, perjalanan itu kami batalkan. Rencana boleh dibuat, tapi lebih fleksibel-lah. Utamakan menikmati hal-hal yang ada di sekitar tanpa harus pergi jauh-jauh.

Lebih lama di satu tempat

Dulu, ketika single, saya ingin sapu jagat. Dua hari di kota A, satu hari di kota B, bahkan kadang dua kota untuk satu hari. Pokoknya, harus semuanya dapat. Buat apa sudah menabung banyak-banyak dan lama-lama tapi tidak melihat semuanya? Sekarang, semua berubah. Saya dan istri lebih banyak ingin menikmati suasana di satu kota atau satu tempat, selain karena tidak repot berkemas dan berpindah-pindah, juga dapat menikmati vibe satu kota.

Belajar apresiasi hal-hal kecil

Jika dulu kita lebih senang untuk mengejar tren, misalnya berkunjung ke tempat-tempat tertentu, mencoba makanan dan minuman tertentu, atau mengalami atraksi tertentu, maka saat ini kami dalam tahap dapat menikmati hal-hal kecil seperti jalan kaki dengan nyaman menghirup udara segar, mengamati orang-orang lalu-lalang, menyelami kehidupan di sebuah tempat seolah menjadi penghuni kota, berimajinasi lebih jauh: bagaimana kalau kita benar tinggal di sini? Lalu, berbahagia dengan apa yang ada dan yang lebih baik dari tempat asal. Atau, sekedar berbahagia bisa datang ke suatu tempat yang jauh setelah menabung berbulan-bulan.

Perlindungan perjalanan itu penting, jenderal!

Saya selalu rutin membeli asuransi perjalanan dengan coverage yang cukup baik. Bukan apa, jika terjadi apa-apa, dan biayanya banyak, tentu kita tak mau tabungan terkuras habis begitu saja, kan? Memang, kita keluar lebih banyak uang, tapi dengan jaminan yang membuat perjalanan kita lebih aman dan nyaman, tidak apa, kan? Anggaran yang saya keluarkan untuk keluarga biasanya Rp1-2 juta untuk asuransi perjalanan dengan durasi perjalanan 7-14 hari, tergantung dari produk asuransi yang Anda butuhkan. Biasanya saya menggunakan AIG, tapi saya juga ingin mencoba FWD dan WorldNomads. Beberapa asuransi juga melindungi perjalanan dari pembatalan misalnya karena sakit atau hal-hal mendadak lain dalam hidup, sampai puluhan ribu dolar Amerika.

Memilih penerbangan yang lebih nyaman

Jika melakukan perjalanan dengan bayi dan anak-anak yang lebih kecil, cobalah untuk berinvestasi sedikit dengan membeli tiket maskapai full-service dengan pelayanan prima. Anda tidak akan menyesal. Saya pernah beli tiket AirAsia dan tanpa membeli tambahan antrian cepatnya, saya barangkali harus mengantri panjang bersama penumpang lain, padahal saya membawa bayi yang waktu itu sedang rewel-rewelnya. It’s always good to splurge on flights.

Rumah vs. hotel

Menginap di rumah atau apartemen seperti model Airbnb atau HomeAway menjadi alternatif yang baik jika anda mengutamakan luas ruang dan fasilitas, tetapi bersiap untuk memasak dan membersihkan ruang sendiri. Saya biasanya menggunakan rumah atau apartemen karena tingkat privasi lebih tinggi dan beberapa host lebih bersahabat dari resepsionis hotel. Pada kasus lain, saya gunakan hotel jika saya merasa akses di sebuah tempat agak sulit, misalnya kendala bahasa, atau saya butuh fasilitas tambahan seperti sarapan pagi.

Belanja di tempat

Terkadang, belanja kebutuhan sehari-hari di tempat tujuan lebih masuk akal daripada membawa semuanya dari rumah. Misalnya, belanja toiletries atau makanan dan minuman untuk si kecil. Tentu saja, jangan lupa untuk menyiapkan makanan dan minuman si kecil selama di perjalanan pesawat, tapi secukupnya saja.

Mengurus SIM Internasional

Ketika berkunjung ke Australia awal tahun ini, saya sedikit menyesal karena tidak mengurus SIM (Surat Izin Mengemudi) internasional, sehingga bisa menyewa mobil sendiri dan menyetir sendiri, walau sebenarnya bisa melegalisir SIM Indonesia di konsulat. Tapi, sayangnya, waktu agak mepet pada saat itu.
Setelah pulang, saya berpikir, mari bersiap-siap mana tahu bisa ke luar negeri lagi dan harus menyetir (seperti, misalnya, ke Islandia).
Akhirnya, berbekal nekat dan informasi dari blog orang lain, saya pergi ke Korlantas Polri di Jl. MT. Haryono, Tebet, Jakarta Selatan. Karena tidak yakin ada tempat parkir, saya ke sana dengan transportasi umum.
Sesampainya di sana, sekitar pukul jam 8 pagi, saya langsung bertanya ke polisi yang bertugas di pos di depan, “Di mana tempat mengurus SIM internasional, Pak?”
“Bapak lurus saja sampai ke dalam, nanti ada mesjid, sebelah kirinya.”
Saya berharap semoga Bapaknya tidak melihat saya sebagai ahli neraka dan menyuruh saya bertaubat.
Ternyata benar, ada mesjid, tapi tempat pengurusan SIM internasional sebenarnya ada di dalam kompleks NTMC (National Traffic Management Center), tempat di mana polisi memonitor lalu lintas Jakarta dan sekitarnya melalui kamera pengintai yang dipasang di pinggir-pinggir jalan.
Ketika saya datang, kantor pengurusan SIM internasional belum buka. Kantornya baru buka pukul 08:30. Ada beberapa orang yang sudah menunggu dan mengambil nomor antrian. Tepat pukul 08:30, pintu dibuka dan terkejutnya saya karena tempat mengurusnya sungguh nyaman. Ada pendingin udara, dispenser minuman, bunga di tengah, dan sofa yang nyaman. Tidak ada calo atau orang yang jongkok atau berdiri tidak jelas di luar dan di dalam.
Ruang Tunggu Pengurusan SIM Internasional di Korlantas Polri
Ruang Tunggu Pengurusan SIM Internasional di Korlantas Polri
Ruang tunggu pengurusan SIM Internasional di Korlantas Polri.
Saya mempersiapkan beberapa persyaratan seperti:

  • SIM asli dan fotokopi
  • KTP asli dan fotokopi
  • Paspor asli dan fotokopi
  • Uang tunai Rp250.000
  • Materai Rp6.000, satu lembar
  • Pas foto 4x6cm terbaru berwarna berlatar belakang biru dan berdasi (laki-laki), satu lembar

Setelah menunggu sekitar lima menit, saya dipanggil dan diminta menyerahkan semua persyaratan di atas. Dokumen asli hanya dilihat dan diverifikasi saja, lalu dikembalikan. Kurang dari 30 detik, mbak polisi meminta saya membayar Rp250.000, tunai (tidak bisa digantikan dengan logam mulia atau perhiasan). Setelah dibuatkan tanda terima saya diminta kembali ke tempat duduk.
Bukti bayar
Bukti pembayaran.
Tidak sampai lima menit, tiba masanya untuk foto dan sidik jari di ruang terpisah. Setelah itu, foto saya langsung dicetak, sidik jari saya langsung direkam dan SIM internasional pun sudah di depan mata.
Saya senang sekali, karena prosesnya tidak sampai 15 menit dari awal saya duduk sampai menerima dokumen-dokumennya.
Sebenarnya, SIM internasional ala kepolisian Indonesia ini sifatnya endorsement, dan mudah dilakukan karena menerjemahkan dokumen SIM Indonesia yang sudah ada dan membuatnya dalam versi beberapa bahasa utama di dunia.
Alternatifnya, anda dapat pergi ke kedutaan atau konsulat Indonesia di negara tujuan dan melakukan proses terjemah resmi serta legalisir SIM Indonesia anda, dan SIM Indonesia anda pun dapat juga digunakan di luar negeri. Tapi, tentunya, cek juga regulasi lalu lintas setempat di negara tempat anda berada. Setiap negara punya aturan berbeda-beda.
Saya mendengar bahkan beberapa negara Eropa juga mau menerima SIM Indonesia apa adanya tanpa harus mengurus SIM internasional.
SIM Internasional sudah jadi!
Hore! SIM Internasional-nya sudah jadi!

5 Cara Dapatkan Tiket Pesawat Murah

Dulu saya lebih sering menerima saja harga tiket yang saya beli, tanpa memikirkan apa ada alternatif lain, misalnya dari segi maskapai, waktu, hari terbang, sampai bandara asal dan tujuan. Namun, sejak beberapa tahun terakhir dan mulai lebih aktif traveling lagi, saya menemukan ada beberapa cara yang biasanya dapat menurunkan sedikit atau banyak harga tiket pesawat. Paling tidak, bisa menghemat untuk akomodasi, makan atau visa.

Terbang pada tengah minggu

Ini mungkin trik yang awam digunakan. Biasanya, tarif pesawat cenderung lebih murah pada tengah minggu, misalnya Selasa, Rabu dan Kamis. Cobalah berangkat pada hari Rabu, lalu pulang lagi pada hari Kamis, misalnya. Bandara juga tidak seramai itu pada hari-hari tengah minggu ini.

Terbang pada siang hari

Biasanya, perjalanan bisnis dimulai pada pagi hari dan diakhiri pada malam hari. Coba untuk hindari jam-jam kritis ini, mulai dari jam 6 pagi hingga 9 pagi, lalu jam 6 sore hingga 9 malam. Jika ingin pagi, cobalah penerbangan jam 4 atau 5 pagi sekalian, dan jika ingin malam, cobalah penerbangan jam 9 ke atas. Selain itu, satu trik yang biasanya ampuh adalah cari jam terbang di atas jam 9 pagi, atau menjelang makan siang seperti jam 11 atau jam 12.

Terbanglah dengan maskapai flag carrier

Jika tujuan anda Helsinki, maka terbanglah dengan flag carrier atau maskapai penerbangan resmi negara tersebut, dalam kasus ini Finnair. Jika tujuan anda Hong Kong, cobalah terbang dengan Cathay Pacific. Tidak semua begini, tapi ada kalanya mereka sedang mempromosikan negaranya sendiri, sehingga maskapai resminya membanting harga.

Manfaatkan promosi stopover

Ketika saya terbang ke Melbourne, Australia, dari Jakarta, saya pilih Singapore Airlines dan saya mendapatkan harga yang relatif murah. Saya memang harus bersusah-payah transit di Singapura dulu (walau tak apa juga, sih!), tapi selisih harga dengan Garuda Indonesia yang penerbangan langsung dari Jakarta saat itu sampai 2-3 juta rupiah. Ternyata, Singapore Airlines memang ingin banyak pengunjung transit untuk menarik devisa dan kemungkinan menginap. Icelandair juga punya promosi serupa, memberikan 7 malam gratis di Reykjavik antara destinasi-destinasi Amerika Utara dan Eropa, dengan harga yang relatif lebih murah pula.

Terbang pada off-peak seasons

Jika anda terbang ke belahan bumi utara, cobalah terbang pada Oktober-Desember, kemungkinan harga lebih murah karena tidak banyak turis yang datang pada saat itu. Konsekuensinya sih, cuaca musim gugur memang gloomy dan suhunya sudah mulai sangat dingin.

Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya

© 2021 Ransel Kecil