Kategori: Tips (halaman 1 dari 12)

Tips Jalan Bersama Anak di Istanbul

Ketika kami memutuskan untuk pergi ke Istanbul, kami tidak tahu apakah kota ini ramah anak-anak atau tidak. Apakah ramah stroller atau tidak. Atau secara umum, apakah kota ini aman dan nyaman, mengingat banyak kejadian terorisme di sini dalam beberapa tahun terakhir. Ketika membeli tiket pun kami berpikir, is this the right thing?

Si kecil di Dolmabahce Palace
Pada saat itu, pikiran saya cuma seputar betapa cantiknya kota ini dan imajinasi berkat membaca buku Orhan Pamuk.
Akhirnya kami pe-de saja, toh kejadian tidak mengenakkan bisa terjadi di mana saja, bahkan di Singapura, tempat kami berdomisili saat ini.
Apakah Janis bisa survive 11 jam di udara, itu lain cerita. Tapi kami lebih percaya diri soal itu. Kami memutuskan naik Turkish Airlines, di antara pilihan lain Singapore Airlines. Yang penting langsung tanpa transit.
Kami sadar, orang tua manapun yang ingin membawa anak-anak-nya jalan di Istanbul, pasti akan berpikir banyak hal, mulai dari biaya, memilih akomodasi, penerbangan sampai rencana perjalanan. Berikut beberapa tips-nya, supaya perjalanan anda lancar.

Pilihlah penerbangan langsung

Sebisa mungkin, pilihlah penerbangan langsung dari Jakarta atau dari kota tempat anda tinggal. Dari Singapura, perjalanan memakan waktu 11 jam, dan di malam hari. Ini membuat kondisi tubuh lebih tidak letih dan tidak repot turun dan naik pesawat lagi. Kami memilih Turkish Airlines, dan servis mereka luar biasa.

Hotel atau Airbnb?

Kami memilih hotel dengan opsi sarapan, untuk memastikan anak kami sudah makan sesuatu setiap harinya sebelum beraktivitas. Tentu saja, Airbnb bisa jadi alternatif yang baik jika anda ingin lebih hemat atau punya ruang lebih lega. Tetapi, pilihlah Airbnb yang dekat dengan supermarket, sehingga anda tak perlu jauh-jauh untuk belanja makanan yang bisa dimasak untuk sarapan.

Sultanahmet atau Beyoglu?

Ada dua area populer untuk menginap di Istanbul: Sultanahmet dan Beyoglu. Keduanya dipisahkan selat Golden Horn yang membelah kota dari utara ke selatan. Sultanahmet adalah kota tua di mana Constantinople, ibukota Romawi, berada. Di sini pulalah anda bisa menemukan sebagian besar atraksi seperti Hagia Sofia, Basilica Cistern, Grand Bazaar dan Blue Mosque. Kelemahannya, area ini cukup padat dan hotelnya pun kecil-kecil. Beyoglu adalah kota “baru” nan trendi dengan pusat perbelanjaan seperti Istiklal Cadesi dan jalan bergaya Eropa modern. Di sini pula terdapat banyak cafe modern. Atraksi lain adalah Galata Tower, beberapa museum, Taksim Square, dan Dolmabahce Palace.
Kami memilih untuk tinggal di Beyoglu, tepatnya di Taksim, karena hotel yang kami inginkan ada di daerah ini. Aksesnya ternyata mudah karena dari Taksim kami bisa naik subway atau tram. Plus, di Beyoglu banyak supermarket dan makanan juga.
Ada alternatif lain jika anda sudah kedua kalinya ke Istanbul, anda bisa tinggal di Kadikoy, di sisi Asia. Dari sini memang untuk ke kota area utamanya harus naik subway atau kapal feri dulu (murah, dan sering), tapi tidak terlalu touristy seperti Sultanahmet atau Beyoglu, dan ada pasar Kadikoy dengan makanan-makanan yang murah meriah.

Belilah kartu Istanbulkart

Jika anda tidak punya banyak anggaran untuk transportasi, maka kartu Istanbulkart jadi solusi handal. Kartu ini sama fungsinya dengan kartu ezLink di Singapura atau Suica/Pasmo di Jepang, di mana kita bisa isi saldo tertentu dan dipakai di berbagai moda transportasi. Lebih kerennya lagi, untuk sampai lima orang, kita bisa menggunakan satu kartu saja. Anda dapat membelinya di stasiun Metro Istanbul atau halte tram mana saja, dengan memasukkan nominal yang diinginkan secara tunai.

Stroller mungkin tidak selalu berguna, tapi jika mesti, pakailah yang ringkas

Jalan dan trotoar di Istanbul masih banyak yang berbatu dan becek, serta trotoar tidak sambung-menyambung sehingga perlu kelihaian luar biasa dalam membawa stroller. Selain itu, di beberapa tempat seperti Beyoglu, naik turun tangga tidak dapat dihindari karena kontur kota yang berbukit. Untuk stasiun Metro Istanbul, kebanyakan dilengkapi lif, jadi aman. Untuk tram, masalah utama adalah ruang yang sempit dan keramaian penumpang. Saran kami, belilah stroller ringan yang mudah dilipat, tapi juga kokoh.

Uang tunai adalah raja

Meskipun pusat perbelanjaan menerima kartu kredit dan debit internasional, uang tunai masih menjadi raja terutama jika anda ingin menikmati street food, berbelanja di Grand Bazaar atau Pasar Kadikoy, atau membayar pengisian Istanbulkart.

Biarkan si kecil memuaskan rasa ingin tahu

Ketika kami berjalan di Jembatan Galata, jembatan yang menghubungkan antara Beyoglu, Janis tiba-tiba berhenti di salah satu kotak berisi ikan hasil pancingan seorang paman. Di jembatan ini memang banyak orang memancing. “Look! Fish!“, ujarnya riang. Ada kalanya, kita biarkan dia bersenang-senang, karena liburan tidak melulu agenda orang dewasa!

Look! Fish!

Makan makanan kesukaan si kecil

Kadang kami harus “mengalah” sedikit untuk tidak mencoba makanan baru atau yang lebih asing, demi si kecil berselera makan. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba hal baru juga!

Makanan enak favorit Janis di Galata Tower

Siapkan mental untuk macet dan antrian museum

Istanbul mirip seperti Jakarta: macet. Bedanya, Istanbul sudah memiliki sistem transportasi yang relatif lebih baik dari Jakarta. Namun, terkadang kita perlu naik Uber atau bis, dan perhitungan waktu di jalan harus memperkirakan waktu di kemacetan. Berangkatlah 30 menit lebih awal, terutama ke bandara. Selain itu, karena banyak atraksi turis di kota ini, antrian masuknya bisa panjang, belum lagi ada pengecekan keamanan, yang juga mengantri. Saran kami, jika anda membawa anak-anak:

  • Belilah tiket terusan museum atau Istanbul Museum Pass, atau Istanbul Tourist Pass, untuk menghindari antrian.
  • Jika tidak sempat beli tiket terusan, datanglah pagi hari ketika tempat itu buka.
  • Jika ada anggaran lebih, gunakanlah tur sehari untuk mengunjungi semua kunjungan wajib (di mana tiket dan transportasi diurus semua), sehingga hari lain anda bisa lebih santai.

Cobalah naik feri ke sisi Asia

Sisi Asia sering terlewatkan, apalagi jika anda hanya berkunjung selama kurang dari 24 jam (untuk transit misalnya). Tapi jika ada waktu, kunjungilah sisi Asia, rekomendasi kami adalah Kadikoy. Jangan lupa naik feri, yang sangat murah tarifnya jika anda membayar dengan Istanbulkart. Nikmati juga teh (chay) di atas feri, sambil melihat burung albatros dan jika beruntung, lantunan musik Turki dari pemusik di dalam kapal. Indah!

Manfaatkan taman bermain

Kami menemukan taman bermain umum di Taksim Square, dan tentunya, anak kami senang sekali bermain di sini. Ingat, kunjungan wisata harus bisa dinikmati semua orang, termasuk si kecil.

Bermain di Taksim Square
Orang Turki hampir semuanya ramah pada anak-anak. Janis bolak-balik dicubit pipinya, digoda, diminta foto bersama. Istanbul adalah kota yang ramah anak, tetapi dengan tips-tips di atas, semoga akan semakin mempermudah dan membahagiakan perjalanan anda sekalian. Selamat berlibur di Istanbul.

Merencanakan Perjalanan dengan Trello

Mungkin saat ini anda bertanya-tanya, “Apa pula Trello itu?”, atau yang sudah biasa menggunakannya di kantor akan menggerutu, “Aduh, di kantor sudah jenuh pakai itu, malah pas jalan-jalan disuruh pakai itu lagi!”
Ini bukan artikel berbayar, murni karena kecintaan saya pada aplikasi yang satu ini. Jika anda pernah mendengar papan kanban, atau sederhananya adalah metode perencanaan dan pengembangan produk atau proyek yang berdasar pada visualisasi apa yang direncanakan, apa yang sedang dilakukan, dan apa yang sudah selesai dilakukan. Berikut definisi situs LeanKit:

Kanban is Japanese for “visual signal” or “card.” Toyota line-workers used a kanban (i.e., an actual card) to signal steps in their manufacturing process. The system’s highly visual nature allowed teams to communicate more easily on what work needed to be done and when. It also standardized cues and refined processes, which helped to reduce waste and maximize value.

Terdengar berat? Ya, memang, awalnya metode ini digunakan dalam produksi pabrik di Jepang, lalu sekarang populer lagi di dunia startup yang gemerlap itu, untuk merencanakan dan mengembangkan perangkat lunak atau aplikasi yang sering kita pakai sehari-hari, misalnya aplikasi berbasis web atau aplikasi di ponsel. Intinya adalah pada visualisasinya sehingga lebih gampang dicerna. OK, sebelum kita jadi pusing, mari kita selami langsung Trello itu sendiri. Berikut adalah contoh papan kanban di Trello.

Wah, unyu juga, ya, background-nya?
Standarnya, dibagi menjadi tiga bucket, yakni “To Do” (yang akan dilakukan), “Doing” (yang sedang dilakukan), dan “Done” (yang selesai dilakukan). Tentu saja ada banyak cara lain untuk menggolongkan dan menamai bagian-bagian vertikal ini. Bebas sih. Tapi pada dasarnya struktur ini paling berguna untuk kebanyakan situasi.

Menambahkan lampiran seperti gambar

Jadinya ada preview seperti ini
Intinya, semacam to do list, tapi lebih komprehensif, lebih mendetil. Buat saya, satu vertikal to do list saja tidak cukup, karena untuk beberapa perjalanan yang kompleks, setiap aktivitas punya “anak-anaknya” lagi yang membutuhkan penjabaran. Bahkan dalam satu aktivitas ada check list yang lebih khusus. Belum lagi mengumpulkan pranala atau melampirkan foto, PDF, dan lain-lain. Bisa juga menggunakan Google Drive atau Dropbox, tapi tidak bisa melihat dengan jelas dan cepat apa yang harus dilakukan dan apa yang sedang dilakukan.
Setiap vertikal (disebut “list”) dapat memiliki sebanyak mungkin kartu (“card”), dan setiap kartu ini bisa dipindahkan ke vertikal lain dengan mudah, semudah menggesernya saja. Asyik, bukan?
Teman saya bahkan menggunakannya untuk merencanakan perjalanan dari hari ke hari, mirip seperti kalender. Jadi, misalnya:

Contoh itinerary per hari
Dalam setiap kartu di situ, dia akan memasukkan informasi tempat dari website lain, atau menambahkan check list apa yang akan dilakukannya.
Jadi, banyak sekali manfaat Trello ini untuk merencanakan perjalanan. Cara memakainya pun terserah anda, sesuai kebutuhan. Semua bisa diakses dari browser atau download aplikasinya di iOS maupun Android. Berbagi dengan sesama pejalan yang akan berkelana bersama-sama, dan tak perlu khawatir kehilangan arah atau dokumen tertentu.

Trik Memilih Kursi Penerbangan

Buat saya, posisi menentukan prestasi. Sama halnya dengan kursi penerbangan. Posisi menentukan situasi. Situasi apakah saya akan menjadi lebih nyaman dalam perjalanan pesawat atau tidak. Untuk penerbangan jarak jauh, ini menjadi penting. Ini beberapa “formula” saya. Tentu saja, kelasnya kelas ekonomi karena jarang-jarang saya punya kesempatan duduk di kelas bisnis atau kelas pertama.

Window vs. Aisle

Jika bepergian sendiri, untuk penerbangan jarak pendek, saya selalu mencoba memilih duduk dekat jendela (window seat, kursi A dalam diagram di atas). Ini karena saya terkadang takut terbang, dan melihat keluar jendela membantu sedikit untuk mengurangi ketakutan itu. Untuk penerbangan jarak jauh, saya lebih suka memilih duduk di gang (aisle seat, kursi B), agar mudah ke toilet atau jalan kaki agar sirkulasi darah lebih lancar.

Depan, Tengah, vs. Belakang

Jika saya membawa bayi yang masih bisa tidur dalam bassinet, saya akan duduk di paling depan, dekat dinding, atau sering disebut sebagai bulkhead seat (deretan C). Alasannya jelas, karena bassinet hanya bisa digantungkan di dinding. Jika saya bepergian sendiri, saya suka di tengah pesawat (deretan D), karena lebih tenang (jauh dari bayi dan toilet). Jika bepergian dengan anak kecil yang sudah bisa duduk, saya lebih memilih di baris paling belakang dari satu segmen, tapi bukan di belakang pesawat (deretan E). Ini karena saya dapat memastikan ruang privasi yang lebih buat saya dan anak saya, serta tidak ada orang yang akan terganggu di belakang saya. Memang sih, resikonya kursi tidak fully reclined, tapi tak apa.

3-4-3 vs. 3-3-3 vs. 2-4-2

Beberapa pesawat berbadan lebar memiliki skema 3-4-3, yakni 3 di sayap kiri, 4 di tengah dan 3 di kanan. Dalam hal ini, jika grup saya jumlahnya 3 orang, maka lebih baik berada di sayap kiri atau kanan. Logika mudah. Tapi, jika skemanya 3-3-3, saya lebih suka di tengah karena kami menguasai dua gang (aisle). Dalam kasus 2-4-2, agak lebih tricky. Saya mungkin akan memilih kursi tengah, dengan resiko ada orang lain di situ. Atau mungkin, tukar jam/pesawat jika memungkinkan. Untuk pesawat berbeadan sempit yang biasanya 3-3, sudah jelas, saya bebas memilih mana saja.

Bagian Tengah Pesawat

Beberapa riset menunjukkan bahwa duduk di bagian tengah pesawat (dekat sayap) berpotensi mengurangi guncangan turbulensi karena (katanya) lebih “seimbang”. Saya tak tahu pasti ini hoax apa bukan, tapi boleh dicoba, dan sejauh ini saya tak mengalami masalah berarti. Malah, ketika saya pernah duduk di kursi paling belakang sebuah pesawat Boeing 777-300ER, saya mengalami guncangan luar biasa dan mendengar bising mesin yang begitu kuat.

Kursi “premium”

Beberapa kursi dijual sebagai kursi “premium”, biasanya yang dekat dengan pintu darurat. Kalau anda sendiri, bolehlah dicoba, asal tahan dingin. Jika membawa anak-anak, biasanya tidak diperbolehkan duduk di dekat pintu darurat.

Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil