Kategori: Tempat (halaman 3 dari 5)

Ujung Genteng, “Tanah Lot” di Pulau Jawa

Sesuai dengan namanya, Ujung Genteng, pantai ini memang benar-benar terletak paling “ujung”, ke arah selatan kota Sukabumi. Kala itu, saya memulai perjalanan ke Ujung Genteng dari Depok saat hari sudah mulai berganti malam. Entah mengapa saya lebih suka perjalanan malam, lebih asyik berjalan menyusuri destinasi ditemani dinginnya malam. Duduk anteng di bis, memandangi sinar lampu, sinar rembulan dan kelap-kelip bintang dari bilik jendela, satu hal yang dirasa: nikmat!

Seperti biasa, saya dan teman-teman kampus, berpetualang dengan cara “menggembel”. Saya harus naik bis tanpa AC. Walau tanpa pendingin, hawa panas dan gerah tidak terasa, entah karena angin malam yang dengan semilirnya masuk melalui celah jendela, atau karena saya sudah terbiasa menggembel dalam perjalanan.

Bis terus melaju, sampai akhirnya tepat tengah malam saya sampai di Kota Sukabumi. Perjalanan belum usai, karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Surade. Saya turun perlahan dan tak lama kemudian saya langsung dikerumuni banyak supir van yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke Surade. Saya sempat bingung ketika dikerumuni banyak supir, namun saya tetap berusaha bernegosiasi untuk mendapatkan tarif van termurah.

Setelah bernegosiasi ria dengan beberapa supir van, akhirnya saya dan teman-teman saya mendapatkan harga termurah, langsunglah kami semua memasukkan daypack ke dalam van.

Perjalanan dilanjutkan ke Surade, trek menuju surade lumayan panjang, masih sekitar tiga jam lagi. Saya merasakan petualangan yang seru di destinasi menuju Surade, ditemani trek yang berliku-liku, menanjak, menurun, dan terkadang dijumpai jalan yang rusak, perjalanan terasa seperti offroad. Mau tidur pun sulit, van bergoyang bak penari dangdut handal. Memandang keluar hanya terlihat bayang-bayang semak dan pepohonan, sesekali terlihat cahaya saat melewati depan rumah penduduk.

Tak terasa tiga jam berlalu, van mulai berhenti perlahan, pertanda sudah sampai kawasan Ujung Genteng. Saat pintu van terbuka, saya langsung disapa oleh angin pantai, semilir membelai rambut saya. Ombak pun tidak mau kalah menyambut saya, dalam kegelapan terdengar suara ombak berdebur, pantai memang tidak terlihat jelas, tapi saya bisa merasakan sensasi keindahannya.

Waktu sudah menunjukan sepertiga malam, bagi umat muslim seharusnya sedang fokus sholat tahujud, tapi saya dan teman-teman saya baru saja sampai serta kebingunan untuk mencari homestay untuk bermalam. Inilah hal-hal tak terduga yang terkadang saya temukan dalam perjalanan. Namun, Hal-hal yang tak terduga itulah yang biasanya paling berkesan.

Setelah keluar masuk homestay dan ternyata penuh semua, kami semua tidak kehabisan akal. Kami bertanya pada penduduk sekitar yang masih bercengkerama di warung pinggir pantai mengenai alternatif penginapan, setelah diskusi panjang, akhirnya kami semua diarahkan ke rumah penduduk yang letaknya agak jauh dari pantai.

Saya terus berjalan menyusuri jalan berbatu, sampai akhirnya tiba di rumah penduduk yang pemiliknya bersedia agar rumahnya disewakan sebagai tempat penginapan. Sungguh tidak terduga, saya ternyata bermalam di rumah penduduk. Tarifnya jauh lebih murah dari homestay.

Rumah tersebut ternyata lumayan besar, tidak kalah nyaman dengan homestay. Tanpa pikir panjang karena semua sudah kelelahan, kami langsung terbaring mengambil posisi tidur paling nyaman. Semua bergegas tidur agar energi pulih tuk bekal petualangan esok ke pantai, air terjun, dan goa.

Mentari pagi mulai muncul dari ufuk timur, saya sudah terbangun dari lelap kemudian langsung bersiap-siap tuk memulai petualangan sesungguhnya.

Dengan angkot carteran, saya berpetualang di kawasan Ujung Genteng, destinasi nomor wahid yang saya singgahi adalah Air Terjun Cikaso. Air terjun ini memiliki pesona luar biasa, disini saya disuguhkan empat air terjun sekaligus, keempatnya berjejer dalam posisi berdampingan. Terpana saya memandangi air terjun sambil merasakan kesejukan cipratan buih air terjun, sebuah pesona yang unik. Terlihat lumut-lumut menyelimuti tebing-tebing air tenjun, terlihat hijau terang dan amat menyegarkan mata. Air terjunnya sangat deras, membentuk sebuah kubangan air luas menyerupai danau. Airnya jernih dan sejuk, bisa digunakan untuk berenang.

Disarankan untuk tidak berenang terlalu jauh mendekati letak posisi air terjun, karena semakin menjauh semakin dalam, tidak disarankan untuk orang yang tidak mahir berenang.

Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.
Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.

Saat di sana, saya tidak berenang sungguhan, saya hanya di pinggiran main air sambil membasahkan kaki saja. Saat teman-teman saya sibuk berenang, saya malah sibuk mengabadikan keindahan Cikaso dengan kamera saya, saya abadikan dari berbagai sudut, semuanya tampak sempurna, indah terekam dalam lensa saya.

Puas dengan pesona Air Terjun Cikaso, saya lanjut ke lokasi selanjutnya, yaitu Goa Walet. Saya caving di sini. Letak goa Walet tidak terlalu jauh dari Air Terjun Cikaso, mobilisasi dengan angkot carteran hanya sekitar lima belas menit. Akses menuju goa ini hanya berupa jalan setapak, jadi angkot tidak bisa mendekat. Selanjutnya modal kaki, jalan menyusuri jalan setapak, melewati perkampungan dan sawah-sawah, sensasi trekking-nya amat terasa.

Terus melangkah menyusuri hamparan padi, sampai akhirnya tiba di bibir goa. Setelah izin dengan penduduk setempat, mulailah saya memasuki goa, akses pertama yang harus dilalui adalah jalan menurun yang terjal. Bahu-membahu kami memasuki goa tersebut. Goa amat gelap, bermodalkan sinar lampu petromaks, saya berjalan membuntuti seorang penduduk setempat yang menjadi pemandu wisata dadakan. Walaupun terasa pengap, sedikit udara, kegerahan, dan pakaian terbasahi dengan keringat yang mengucur, saya tetap menikmati sensasi caving di goa Walet, sangat direkomendasikan bagi para pelancong yang singgah di kawasang Ujung Genteng.

Pantai Pangumbahan.
Pantai Pangumbahan.

Puas dengan bentang alam air terjun dan goa, saya melanjutkan destinasi utama, yaitu pantai. Di kawasan Ujung Genteng, saya singgah ke beberapa pantai. Pertama, Pantai Ujung Genteng itu sendiri, lalu Pantai Pangumbahan dan terakhir Pantai Amanda Ratu. Ketiga pantai tersebut memiliki keunikan yang berbeda, masing-masing memiliki daya magnet atau daya tarik yang berbeda. Pantai Ujung Genteng memiliki keunikan dengan karang-karangnya. Terdapat banyak karang di sekitar bibir pantainya, bila air surut akan terlihat lebih jelas hamparan karang yang luas, jadi para pelancong bisa menikmati keindahan karang-karang ini sambil berjalan menjauh dari bibir pantai ke arah laut.

Berbeda lagi dengan Pantai Pangumbahan, di sini saya disuguhkan dengan keunikan penyu dan tukik. Pantai ini terkenal dengan habitat penyu menetaskan telur-telurnya. Penyu-penyu menjadikan pantai ini sebagai tempat yang paling nyaman untuk bertelur, bila para pelancong beruntung, pada tengah malam bisa melihat secara langsung prosesi penyu bertelur. Di dekat pintu masuk pantai ini terdapat penangkaran penyu, telur-telur penyu dieramkan dengan sistem penangkaran, tukik yang menetas dari telur tersebut akan dilepaskan kembali ke lautan lepas. Satu keunikan lagi dari pantai ini yaitu para pelancong dapat ikut bersama melepaskan tukik ke laut lepas, biasanya disore hari, sayang sekali saat saya berkunjung ke sana saya agak telat, sehingga prosesi pelepasan tukik ke laut lepas terlewatkan. Tapi tak mengapa, karena kekecewaan itu terbayarkan dengan keindahan pantainya. Pantainya amat indah, pasir putihnya terhampar luas, melangkahkan kaki di pantai ini akan merasakan kelembutan tiap butir pasirnya. Sama seperti pantai-pantai lain yang langsung menghadap ke Samudera Hindia, ombak di pantai ini amat besar, mengalir dengan derasnya menuju bibir pantai. Jadi, jangan coba-coba berenang terlalu jauh dari bibir pantai.

Pulau Kecil di Amanda Ratu.
Pulau Kecil di Amanda Ratu.

Pantai lain yang tidak kalah elok adalah Pantai Amanda Ratu. Pantai ini sudah mulai dikembangkan oleh investor pariwisata setempat, sehingga fasilitas di kawasan pantai ini sudah cukup eksklusif. Terdapat penginapan mewah di sekitar pantai ini, penginapan yang langsung terletak di pinggir pantai. Untuk para pelancong tipe “menggembel” sebaiknya tidak menginap di sini, karena dijamin harganya agak menguras kantong. Lebih baik mencari homestay di sekitar Pantai Ujung genteng yang harganya bersahabat dengan kantong. Tapi, bagi pelancong khas “koper” yang menginginkan fasilitas yang agak mewah, Amanda Ratu sangat direkomendasikan untuk dijadikan tempat menginap, karena fasilitas di Amanda Ratu sudah lumayan lengkap, termasuk fasilitas kolam renang di dalamnya.

Saya menyebut Pantai Amanda ratu dengan Tanah Lot versi Ujung Genteng. Pantai Amanda Ratu selintas memang menyerupai Pantai Tanah Lot yang terkenal di Pulau Dewata sana. Kemiripan itu terletak pada pulau kecil yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.

Pulau Ubin, Destinasi Berbeda di Singapura

Sering kali wisatawan asal Indonesia apabila berkunjung ke Singapura, tidak akan melewatkan wisata ke Patung Merlion, Esplanade, Universal Studio, Sentosa Island, Marina Bay atau belanja di Orchard Road. Sebetulnya, banyak sekali destinasi yang cukup menarik di Singapura. Contohnya Pulau Ubin.

Pulau Ubin merupakan salah satu pulau yang ada di Singapura. Terletak di selat Johor sebelah timur dari pelabuhan udara Changi.

Asal-usulnya, menurut legenda Melayu, adalah dahulu kala terdapat tiga binatang yakni katak, babi dan gajah. Mereka saling menantang untuk mencapai pantai di Johor (Malaysia). Namun, ketiga binatang tersebut gagal mencapai pantai Johor. Babi dan gajah menyatu menjadi Pulau Ubin dan katak menjadi Pulau Sekudu.

Ketika zaman kolonialisme Inggris, ditemukan batu granit di pulau Ubin. Seketika Pulau Ubin menjadi pertambangan batu granit. Batu granit ini dijadikan bahan dasar pembuatan lantai/ubin bagi bangunan di Singapura termasuk Johor.

Suasana Sederhana di Pulau Ubin
Suasana sederhana di Pulau Ubin.

Kini, sejak sekitar tahun 1970-an, pertambangan batu granit perlahan-lahan mulai ditutup. Tahun 1999 pertambangan di Pulau Ubin resmi ditutup. Banyak penambang batu granit meninggalkan pulau ini menuju Pulau Singapura. Sekarang Pulau Ubin menjadi sepi, tetapi menjadi destinasi yang baik untuk mengeksplorasi bagian lain dari Singapura yang selama ini kita kenal. Kelebihan lain dengan ditutupnya pertambangan ini adalah banyak burung maupun hewan lain yang kembali ke pulau ini. Vegetasinya pun juga terjaga.

Banyak penduduk Singapura mengunjungi pulau ini sekedar untuk melepaskan kepenatan ataupun untuk berolahraga sepeda.

Ada beberapa cara untuk mencapai pulau Ubin ini. Bisa menggunakan taksi, tapi akan mahal harganya. Atau bisa juga dengan menggunakan MRT, turun di stasiun Tanah Merah dan lanjut dengan menggunakan bis SBS Transit No. 2 menuju Changi Village Terminal. Turun di Changi Village Terminal, lalu langsung menuju Changi Point Ferry Terminal. Arah petunjuknya sangat mudah. Langsung turun tangga menuju ke dermaga. Ada dua arah yang satu menuju ke perahu pulau Ubin atau ke pulau Pengerang. Khusus ke pulau Pengerang, harus membawa paspor, karena pulau ini termasuk wilayah Malaysia.

Dek di Pantai Pulau Ubin
Dek di Pantai Pulau Ubin.

Perahu (disebut juga bumboat) yang menuju ke pulau Ubin akan menunggu sampai penuh yakni 12 penumpang. Biayanya hanya S$2.50 per orang. Bila tidak sabar menunggu, bisa membayar Sing S$30 untuk langsung jalan. Uniknya, pembayaran ditarik saat di perahu, jadi tidak perlu mengantri membeli tiket.

Perjalanan sendiri akan memakan waktu sekitar 10-15 menit. Begitu sampai dermaga Pulau Ubin, kita akan disambut dengan air yang bening. Tidak berasa di Singapura, meski di kejauhan kelihatan pesawat yang akan mendarat maupun yang terbang, plus gedung-gedung apartemen.

Di dermaga Pulau Ubin banyak sepeda ataupun sepeda motor di sepanjang jalan menuju pulau. Kendaraan-kendaraan ini milik penghuni Pulau Ubin yang mungkin sedang sekolah di pulau utama di Singapura atau ada keperluan. Pulau Ubin tidak memiliki sekolah ataupun toko besar yang menjual keperluan sehari-hari.

Kapal Penyeberangan ke Pulau Ubin
Kapal penyeberangan ke Pulau Ubin.

Tidak jauh dari dermaga kita akan bertemu kantor polisi Pulau Ubin, pusat informasi turis, “ojek” mobil van yang bisa disewa buat keliling pulau plus tempat sewa sepeda. Sepeda disewa dengan harga S$2–S$20. Kondisi sepeda harus diperiksa dan dicoba sebentar. Jangan sampai menyesal karena rusak atau tidak nyaman, karena pulau Ubin lumayan luas dan ada beberapa jalan yang masih tanah dan becek. Tidak disangka, sepeda gunung yang saya sewa seharga S$10 ternyata bermerek Polygon yang notabene produksi Indonesia. Bangga dengan buatan negara sendiri!

Ternyata, banyak juga orang lokal yang mengunjungi pulau Ubin, baik dari anak-anak sekolah maupun orang umum. Yang memilih berjalan kaki untuk mengelilingi pulau, lumayan juga, mungkin sekalian buat jalan sehat.
Karena ingin menjelajah Pulau Ubin sendirian, aku tidak melihat peta yang terpampang di pinggir jalan, hanya ingin mengikuti kata hati dan alur jalan yang ada di Pulau Ubin. Banyak hal yang bisa dilihat di pulau ini, seperti quarry atau ceruk bekas tempat pertambangan granit, kuburan muslim, kuil Fo Shan Ting Da Bao Gong, maupun Chek Jawa.

Quarry yang ditinggalkan
Quarry yang ditinggalkan.

Banyak tanda peringatan di pulau ini untuk kenyamanan maupun keamanan pengunjung, seperti peringatan tertimpa buah yang jatuh, harus menuntun sepeda, tidak boleh berenang di quarry ataupun jalanan yang licin. Keselamatan menjadi yang pertama.

Pulau ini sekarang memiliki hotel yang lokasinya dekat kantor polisi tadi. Untuk yang mau berkemah, harus membawa tenda sendiri dan melaporkan diri, di mana akan berkemah, agar kalau terjadi sesuatu akan diketahui rimbanya.

Ada juga daerah yang memang dilarang untuk dimasuki, kebetulan di bagian sisi timur pulau, ada National Police Cadet Corps (NPCC), yang merupakan sekolah untuk menjadi polisi. Kalau untuk sekedar melewati sah-sah saja, asal jangan memasuki.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah adanya kuburan muslim. Ada dua letak kuburannya, namun kuburan lebih kelihatan seperti hutan, karena kuburannya tidak banyak dan juga tanda nisannya mirip nisan yang ada di kuburan kuno di Pulau Jawa atau kuburan di Jl. Kubor di dekat Kampong Arab (dekat Bugis) di pulau utama Singapura.

Sewaktu memasuki daerah Chek Jawa, di pos penjagaan, tidak ada orang yang menjaga. Ketika itu saya ingin sekali naik ke menara ataupun jalan di dermaga yang ada di Chek Jawa Wetland. Kita tidak diperbolehkan memasuki Chek Jawa Wetland tanpa adanya petugas yang menemani. Karena lama menunggu, saya putuskan untuk bersepeda lagi menuju bukit yang ada di pulau ini.

Ada sekitar lima quarry yang ada di pulau ini, seperti Ketam Quarry atau Ubin Quarry. Semuanya diberi pagar pelindung, supaya pengunjung tidak langsung berenang. Tidak ada penjaga yang mengawasi!

Bagi yang suka bersepeda gunung, jogging ataupun berolahraga yang lain, pulau ini menawarkan sesuatu yang menarik. Dengan udara yang sangat segar, tentunya tempat ini sangat cocok sebagai tempat beraktivitas, sambil melihat “desa” asli Singapura. Sepi dan tenang. Rumah penduduk tidak banyak dan jarang terlihat orang berlalu-lalang.

Sayang sekali, waktu saya berkunjung, belum waktunya buah durian berbuah. Tempat ini terkenal dengan buah duriannya.

Tidak terasa, sudah lebih dari tiga jam saya bersepeda mengelilingi pulau ini. Waktunya untuk meninggalkan Pulau Ubin. Saya ,enunggu isi penumpang perahu sampai 12 orang untuk kembali ke Changi Point Ferry Terminal.
Tidak ada salahnya untuk mengunjungi pulau Ubin sebagai liburan alternatif di Singapura, mencari sisi lain dari Singapura untuk mendapatkan keaslian kehidupan di Pulau Ubin.

Romantisnya George Town

Pernah dengar pameo “city for the newlyweds and the nearly deads“? George Town di Pulau Penang menurut saya adalah salah satu kota yang pantas mendapat julukan seperti ini. Kotanya yang tidak terlalu besar, tenang, damai, memberikan banyak kejutan yang menyenangkan. Berencana menikah di tahun naga ini? kenapa tidak menghabiskan bulan madu anda di kota ini? Ini dia beberapa titik yang bisa dikunjungi!

Pesona malam Penang Hill

Penang Hill
Penang Hill dari kereta pendaki.

Kereta ini bergerak ke atas dengan pelan, semakin lama semakin cepat dengan sudut ketinggian yang semakin curam. Saya yang memilih duduk di bagian depan kereta hanya bisa menahan napas, antara takut dan terlalu riang. Untung saja kereta ini baru direnovasi sehingga terlihat kuat dan bisa diandalkan, kalau tidak mungkin saya akan berpikiran macam-macam. Namun pikiran itu cepat teralihkan ketika kereta bergerak semakin ke atas, dan pemandangan indah terhampar di hadapan saya. Klik, klik! Pemandangan itu pun terabadikan dalam jepretan kamera saya.

Sempat ditutup selama beberapa waktu, tahun 2011 kemarin kereta Penang Hill itu kembali dibuka untuk umum. Begitu tiba di atas bukit, kita akan disambut oleh pemandangan yang luar biasa. Pemandangan kota George Town dan Pulau Penang akan terhampar luas di hadapan kita. Penang Bridge yang terkenal itupun terlihat seperti garis tipis dari kejauhan, menghubungkan Penang dengan semenanjung Malaysia. Di atas bukit ini pun kita akan menemukan kafe dan hotel, bagi yang berminat untuk menghabiskan waktu lebih lama.

Pemandangan dari Penang Hill ketika malam
Pemandangan dari Penang Hill ketika malam.

Ketika malam menjelang, langit perlahan akan berubah menjadi gelap, lampu-lampu kota mulai menyala. Penang Bridge pun mulai memunculkan warnanya, selintas garis kuning di atas laut yang menandakan eksistensinya. Ah! George Town dan Pulau Penang terlihat bercahaya! Indah sekali melihat pesona malam pulau ini dari ketinggian. Mendadak suasana menjadi sangat romantis, melihat kilau cahaya malam kota dari ketinggian. Beberapa turis yang datang bersama pasangan, semakin dekat berpelukan. Mungkin selain udara malam yang memang cukup dingin di ketinggian, pasangan ini juga berusaha menyimpan memori romantis ini sebanyak mungkin dalam pikiran mereka. Tidak perlu berkata-kata ketika menikmati pemandangan indah seperti ini, cukup bergandengan tangan dan lihatlah senyum bahagia yang terpancar di muka pasangan. Such a romantic place to share with your beloved ones, right?

Menuju Penang Hill ini cukup menggunakan bus Rapid Penang no. 204 dari Komtar. Tidak usah khawatir harus turun di mana, karena Penang Hill ini adalah pemberhentian terakhir. Siapkan uang pas, sebesar RM2.70 sebelum naik bus ini. Ingat, uang pas ya, karena supir bus tidak akan memberikan kembalian. Nah, setelah membayar, pilihlah tempat duduk dengan nyaman, karena perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 30-40menit dari Pusat Kota. Sekedar ngopi-ngopi di kafe dengan pasangan, atau berminat untuk menghabiskan malam di hotel yang ada di Penang Hill juga bisa menjadi pilihan. Jika hanya menghabiskan waktu, belilah tiket pulang-pergi untuk naik dan turun dengan kereta, sebesar RM30 (dewasa) dan RM15 (anak-anak). Jika berminat menghabiskan malam, cukup beli tiket satu arah saja. Karena tiket yang dibeli hanya berlaku di hari pembelian saja.

Gurney Drive Hawker Centre

Selepas berpetualang mendaki bukit dengan kereta di Penang Hill, sempatkanlah mengisi perut di pusat jajanan yang terletak di pinggir pantai, “Gurney Drive Hawker Centre” namanya. Terletak tidak jauh dari pusat kota, pusat makanan serba ada ini menyediakan berbagai jenis makanan khas Penang yang memang terkenal dengan wisata kulinernya. Ingin mencoba char kwe tiauw khas Penang yang terkenal? di sini tempatnya. Siap-siap mengantri ya, karena peminat makanan ini cukup banyak. Teman saya saja harus sabar menunggu hampir 15 menit lamanya untuk menunggu giliran memesan makanan ini.

Pasembur
Pasembur.

Penjual pasembur
Penjual pasembur.

Satu lagi makanan yang harus dicoba, yakni “rojak” atau “pasembur”. Bermacam-macam gorengan dipotong dan disiram dengan bumbu merah manis pedas, lengkap dengan irisan timun. Lezat dan unik. Kalau char kwe tiauw tadi bisa dinikmati dengan RM3 saja, maka rojak ini paling tidak harus mengeluarkan RM6, karena harga gorengan RM2 per buah. Semakin banyak gorengan yang kita pesan, ya semakin mahal harganya.

Selepas makan, mari berjalan-jalan di pasar malam dadakan yang ada di sepanjang jalan dekat Gurney Drive Hawker Centre. Ada satu kios yang menjual magnet unik dengan tulisan-tulisan Cina yang lengkap dengan wisdomnya. Sang penjual semangat sekali menerangkan arti dari tulisan-tulisan Cina yang tertera di barang dagangannya. Salah satu teman saya akhirnya membeli satu buah magnet yang bertulisan “Wo Ai Ni”, atau “I Love You”!

Cinderamata magnet
Cinderamata magnet.

Di seberang pasar malam, terdapat jalur pejalan kaki sepanjang pantai yang biasa digunakan penduduk setempat untuk berbagai aktivitas. Ada pemuda yang sibuk berlari, keluarga yang mengajak anak-anaknya makan, dan tentu saja, untuk pasangan-pasangan baru yang ingin menikmati suasana malam kota George Town. Berjalan-jalan sepanjang trotoar, menikmati udara pantai dan suasana malam kota yang ramai sambil bergandengan tangan dengan pasangan, terdengar menarik bukan?

Menuju Gurney Drive Hawker Centre ini cukup naik bus Rapid Penang no. 103/101/304, ongkosnya RM1.40 dari Komtar. Letaknya tidak jauh dari kota, jadi katakan pada supir tempat tujuan kamu, agar tidak salah turun ya, karena letaknya yang tidak searah dengan jalur tujuan bus (kita harus menyeberang, dan jalan sedikit karena lokasi berada di tikungan jalan). Gurney Drive Hawker Centre ini terletak tidak jauh dari Gurney Plaza dan buka sampai tengah malam.

Semilir angin siang Esplanade

City Hall
City Hall.

Papan informasi bus gratis
Papan informasi bus gratis.

Di hari berikutnya, kamu dan pasangan bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota sepanjang hari. Saya menyebutnya, a heritage walk in a heritage city. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah daerah Padang Lama. Di sini banyak terdapat bangunan-bangunan dengan gaya Victoria yang wajib diabadikan. Lihat saja bangunan City Hall dan Town Hall yang cantik sekali dijadikan latar belakang foto bersama pasangan, seperti di Eropa!

Selepas berfoto, nikmatilah semilir angin siang di taman sepanjang Esplanade sambil duduk-duduk di tepi pantai bersama pasanganmu. Bertukar cerita apa saja dengan pasanganmu sembari menyantap es krim rasa kelapa yang segar, untuk menghilangkan dahaga di tengah panasnya udara kota George Town.

Kali ini saya menyarankan kamu untuk mencoba berkeliling kota dengan bus gratis yang disediakan pemerintah kota George Town. Bus ini berhenti di setiap titik pemberhentian dengan titik-titik menarik di seluruh kota. Untuk menuju City Hall ini, berhentilah di titik pemberhentian no. 17, di dekat dewan kota Penang. Untuk kembali ke Komtar, tunggu lagi bus gratis di titik pemberhentian no. 18, di Esplanade.

Love Chair Pinang Peranakan Mansion

"Kursi cinta"
“Kursi cinta” di Peranakan Mansion.

Peranakan Mansion
Peranakan Mansion.

Terletak di daerah Little India, Penang Peranakan Mansion ini terkenal dengan kebudayaan khas Cina peranakan yang cukup populer di Malaysia dahulu. Alkisah, seorang saudagar Cina kaya-raya menikah dengan perempuan Malaysia dan terlahirlah budaya Cina peranakan yang biasa disebut dengan budaya “baba-nyonya” ini. Cukup membayar RM10, kita dapat berkeliling rumah ini dan mengagumi semua perabotannya yang berkelas serta sejarah rumah ini yang sudah berumur lebih dari 100 tahun lamanya. Saran saya, mintalah bantuan pemandu yang ada untuk lebih memahami arti dari setiap ruangan dan perabotan yang ada di rumah ini.

Satu hal yang unik di rumah ini adalah “love chair” atau “kursi cinta” yang terletak di lantai dua. Love chair ini adalah kursi dari bahan rotan yang biasa dipakai oleh orang-orang zaman dahulu untuk berpacaran. Jika sedang berpacaran, mereka akan duduk berhadapan, bertukar cerita saling bertatapan. Namun, jika sedang bermusuhan, mereka akan duduk saling membelakangi, bercakap-cakap tanpa melihat muka pasangan.

Banyak titik foto menarik yang bisa diambil bersama pasangan di tempat ini. Namun, foto yang wajib diambil, tentu saja, pose kamu dan pasangan di love chair legendaris ya!

Menuju ke tempat ini, bisa ditempuh dengan bus gratis, mintalah supir untuk menurunkan kamu di titik pemberhentian no. 3, Little India. Jika terlalu lama menunggu bus, tinggal berjalan kaki tak jauh dari titik pemberhentian no. 18, Esplanade menuju Jalan Gereja. Cek situs web-nya untuk keterangan lebih lanjut.

  • Disunting oleh SA 27/08/2012

Menikmati Pagi di Krabi

Hujan pagi ini di Jakarta mengingatkan saya pada suatu pagi di Krabi, kota kecil di Thailand selatan. Suara gemeritik hujan di luar, suara fan kipas yang terus menyala sepanjang malam di kamar, dan pemandangan penghuni kamar hostel lainnya yang masih tertidur dengan bertelanjang dada.

Krabi, kota favorit saya selama perjalanan enam hari kemarin di antara kota-kota lain yang saya kunjungi dari Kuala Lumpur, Melaka, dan Phuket. Kota kecil di Thailand Selatan ini mayoritas penduduknya beragama muslim. Walaupun tergolong kota kecil, Krabi menjadi tujuan wisata utama para pejalan di Thailand. Ia punya daya tarik sendiri.

Setelah hampir 12 jam perjalanan menggunakan kereta dari Kuala Lumpur ke Hat Yai, dilanjutkan empat jam perjalanan dengan van, sampailah saya di Krabi pada sore hari. Sampai di kota, saya dipandu oleh supir van dan dititipkan ke “taxi motor” (ojek) untuk diantarkan ke hostel tempat saya menginap, Pak Up Hostel. To the hostel, we go!

Where are you from?“, cetus bapak ojek itu. “Jakarta, Indonesia!”, jawab saya. “Oh, Indonesia, so you are muslim?” “Yes, I am muslim“, “Me too,” dengan nada yang lebih ceria dia menutup pembicaraan singkat kami. Kurang dari lima menit saya diantarkan dengan baik ke hostel, beliau tidak keberatan saya bayar 20 baht dari yang tadinya dia minta 30 baht.

Pak Up Hostel
Pak Up Hostel.

Keramahan penduduk lokal ini memang sudah saya rasakan sejak pertama menginjakkan kaki di Krabi. Beberapa kali berinteraksi dengan penduduk lokal di sini, mereka memang sangat ramah dengan wisatawan. Staf hostel yang ramah, supir tuk-tuk, petugas binatu, penjaga toko souvenir, sampai pramuniaga kafe tempat saya makan pad thai terenak selama saya di Krabi, mereka semua ramah. Meskipun dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, mereka berusaha mengerti apa yang kita bicarakan dan menjawab semampunya. Mungkin mereka sadar kota ini ramai dikunjungi wisatawan, jadi mereka sebisa mungkin berlaku ramah terhadap mereka. Kesan awal yang bagus sebelum akhirnya menutup mata hari itu.

Pagi pertama di Krabi, rintik hujan terdengar dari dalam kamar. Melihat jam menunjukkan pukul 06:00, saya bergegas ke kamar mandi untuk membasuh diri. Hujan bertambah deras ketika saya mandi. Oh tidak, jangan kau hambat rencana saya hari ini wahai hujan, gumam saya di kamar mandi. Dan persis ketika saya selesai mandi, hujan ternyata juga berhenti. Mungkin dia tahu saya ingin pergi, menikmati hari, ke Laut Andaman.

Rencananya pagi ini saya akan ikut tur sehari ke Pulau Phi Phi dan pulau-pulau di sekitar Laut Andaman. Tidak sabar, meski cuaca agak mendung. Jam tujuh saya sudah siap untuk pergi. Setelan kaos-celana pendek-sendal jepit dan dry bag saya rasa pas untuk hari ini. Masih ada waktu, pikir saya pagi itu melihat jam dan mengetahui bahwa masih ada satu jam lagi sebelum saya dijemput di hostel oleh staf tur. Penyedia paket tur ini memang menyediakan antar jemput dari hotel/hostel ke pelabuhan di Pantai Au Nang sebelum bertolak menggunakan perahu cepat.

Lalu, jalan-jalanlah saya di sekitar hostel sambil mencari cemilan untuk sarapan. Di Krabi, terdapat hutan bakau yang cukup luas. Ada pula tur mengelilingi hutan bakau dengan sampan atau kano.

Suasana kota Krabi
Suasana kota Krabi di pagi hari.

Hutan bakau
Hutan bakau.

Selesai berjalan-jalan singkat, berangkatlah saya untuk tur sehari ke Pulau Phi Phi dan Laut Andaman. Saya tidak akan bercerita tentang Laut Andaman di tulisan ini. Mungkin akan ada tulisan sendiri mengenai keindahan Laut Andaman. Tapi percayalah, ia indah sekali.

Menginap dua malam di Krabi bukanlah rencana awal saya. Rencana awal saya adalah tinggal di sini semalam untuk kemudian menghabiskan waktu lebih lama di Phuket. Namun, suasana pagi di Krabi ingin saya nikmati sekali lagi. Saya putuskan untuk menginap sehari lagi.

Pagi berikutnya saya bangun dan memutuskan untuk berkunjung ke Tiger Cave (Gua Harimau), sebelum berangkat ke Phuket. Tiger Cave direkomendasikan teman baik saya Willy Irawan, yang juga salah kontributor Ransel Kecil. Setelah saya cek ke staf hostel, ternyata Tiger Cave hanya berjarak sekitar 20 menit menggunakan tuk-tuk dari hostel. Tiger Cave merupakan kawasan kuil di mana para murid belajar untuk menjadi biksu. Konon di sini dulu juga menjadi tempat persembunyian harimau di sebuah gua di lokasi ini, oleh karenanya ia disebut sebagai Tiger Cave.

Selain melihat situs tempat persembunyian harimau tersebut, saya juga tertarik dengan keberadaan patung Buddha di atas bukit di lokasi ini. Patung Buddha tersebut bisa kita temui dengan menaiki 1.237 anak tangga! Bukan anak tangga normal menurut saya, karena di beberapa titik, anak tangga tersebut memiliki kemiringan yang cukup curam.

Saya ke Tiger Cave bersama Irham, seorang pejalan dari Yogyakarta yang kebetulan saya temui di hostel tempat saya menginap. Dia berencana backpacking 10 hari, mulai dari Singapiura dan berakhir di Bangkok, kalau saya tidak salah ingat. Karena dia juga belum ada rencana pagi ini, maka saya ajaklah dia. Kami membayar 50 baht per orang ke pak supir tuk-tuk pagi itu.

1.237 anak tangga ke puncak!
1.237 anak tangga ke puncak!

Patung-patung Buddha
Patung-patung Buddha.

Sejumlah 1.237 anak tangga untuk mencapai puncak adalah perjalanan mendaki yang cukup melelahkan, namun akhirnya kita berhasil menyelesaikannya setelah beberapa kali sempat berpikir untuk menyerah dan turun. Kami menghabiskan waktu setengah jam di atas. Tempatnya memang agak kurang terawat. Mungkin karena saat itu sedang sepi atau kami yang terlalu dini berkunjung.

Setelah sampai di atas juga saya menyesal tidak bangun lebih pagi lagi dan melihat matahari terbit. Sepertinya akan cantik sekali melihat matahari terbit dari sini, karena ini merupakan titik tertinggi di Krabi. Mungkin lain kali.

Puncak Tiger Cave
Puncak Tiger Cave.

Terima kasih Krabi untuk pagi-pagi yang berkesan, meski hanya sempat berjumpa dua kali.

  • Disunting oleh SA 13/08/2012

Mesjid Agung Sheik Zayed, Abu Dhabi

Tiba di Dubai International Airport menjelang matahari bergerak ke ufuk barat, saya masih memiliki setengah hari sebelum keberangkatan penerbangan lanjutan pagi keesokan harinya. Dengan mengantongi visa Uni Emirat Arab (UEA) yang berlaku selama 30 hari, saya pun bergegas menuju ke kaunter imigrasi untuk menuju ke kota terbesar di UEA yang juga ibukota negara, Abu Dhabi.

Sarana dan infrastruktur transportasi di Dubai sangat memudahkan mengunjungi Abu Dhabi dengan menggunakan bus umum. Bus berangkat setiap hari dimulai dari pukul 5.30 pagi hingga bus terakhir 11.30 malam dari kedua terminal. Terminal bus Al-Ghubaiba di Dubai dan terminal bus Al-Wadha di Abu Dhabi dengan interval keberangkatan setiap 30 menit atau lebih awal apabila bus sudah terisi penuh. Tiket bus menuju Abu Dhabi seharga 25 AED dan menuju Dubai seharga 15 AED.

Menumpang taksi murah ke lokasi
Menumpang taksi murah ke lokasi.

Setelah kurang lebih dua jam di dalam bus yang nyaman, terkantuk-kantuk melintasi pemandangan monoton gurun kering sejauh 130 kilometer, saya tiba di terminal bus Al-Wadha, Abu Dhabi. Dari sini saya menggunakan taksi borongan menuju masjid Agung Sheikh Zayed, masjid terbesar di UEA dan ke-6 terbesar di dunia. Dari riset saya di internet, biaya taksi dari terminal bus menuju masjid Agung Sheik Zayed seharga 35 AED, tapi saat itu saya menghindari taksi yang terlihat mengkilap dan beralih menghentikan taksi yang terlihat sedikit kusam. Saya menawar seharga 20 AED sekali jalan dan akhirnya disetujui si supir taksi, pekerja imigran asal Pakistan.

Motif lantai dan pilar yang menawan
Motif lantai dan pilar yang menawan.

Lantai marmer berdekorasi indah
Lantai marmer berdekorasi indah.

Sebenarnya masjid Agung Sheik Zayed bisa ditempuh dengan menggunakan bus umum. Tapi karena masalah waktu yang mengharuskan saya kembali ke Dubai pada hari yang sama, saya memutuskan untuk menggunakan taksi.

Dari kejauhan, dari balik jendela taksi terlihat minaret dan kubah besar dari masjid Agung Sheik Zayed. Sesuai namanya bangunan masjid berarsitektur Islam kontemporer yang berwarna putih ini dipelopori oleh presiden pertama UEA, HH Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Mesjid yang memiliki empat minaret dan 82 kubah berukuran besar dibangun dengan biaya US$545 juta dan bisa menampung hampir 50.000 umat.

Tampak depan
Tampak depan.

Mesjid Agung Sheikh Zayed ini dibangun tidak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat dari edukasi dan budaya Islam yang terbuka bagi siapa saja dan tidak dikenakan biaya apapun, termasuk untuk jasa pemandu yang sangat berpengalaman. Mesjid Agung Sheikh Zayed dibuka setiap hari mulai dari pukul 9.00 pagi hingga 10.00 malam (tutup Jumat pagi) dan khusus selama bulan Ramadan tutup 12.00 malam (tutup hari Jumat).

Pilar megah
Pilar megah.

Mimbar imam
Mimbar imam.

Desain dan pembangunan masjid ini melibatkan 3.000 pekerja dan mendatangkan seniman dan material dari berbagai negara di antaranya berasal dari Italia, Jerman, Moroko, India, Turki, Iran, RRC, Inggris, Selandia Baru, Yunani dan UEA. Mesjid ini dilengkapi dengan perpustakaan dengan berbagai koleksi buku literatur Islam dalam berbagai bahasa antara lain Arab, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Jerman dan Korea!

Interior
Interior.

Mesjid yang berdiri di atas tanah seluas 22.412 meter persegi atau seluas lima kali lapangan bola memiliki 1.000 kolom marmer dan dilapisi dengan batu berharga seperti lapis lazuli, red agate, amethyst, abalone shell dan mother of pearl. Halaman utama masjid seluas 17.000 meter persegi berbatu marmer putih dengan dekorasi pola bunga dikelilingi oleh kolam refleksi seluas 7.847 meter persegi yang mengelilingi masjid.

Desain interior ruangan pun berlomba tidak mau kalah menandingi estetika eksterior masjid. Marmer putih asal Italia dengan pola bunga menghiasi ruang sholat. Di ruang utama terdapat lampu gantung terbesar di dunia dengan diameter 10 meter dan setinggi 15 meter. Lampu gantung seberat sembilan ton yang tergantung di bawah kubah utama dihiasi ribuan kristal Swarovski asal Austria. Lantai ruang utama dihiasi karpet rajutan tangan terbesar di dunia yang dirancang oleh seniman asal Iran dan dibuat oleh 1.300 pengerajin karpet yang didatangkan langsung dari Mashhadin, desa kecil di Iran yang terkenal dengan keahlian penduduknya membuat karpet.

Ketika malam
Ketika malam.

Interior di sisi lain
Interior di sisi lain.

Pilar-pilar dan refleksi
Pilar-pilar dan refleksi.

Tempat berwudhu
Tempat berwudhu.

Kiblat setinggi 23 meter dengan lebar 50 meter dihiasi oleh seni kaligrafi 99 nama yang menggambarkan Allah, di disain oleh seniman kaligrafi ternama UEA. Secara keseluruhan masjid ini melibatkan seniman kaligrafi asal Syria, Turki dan Jordan.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi masjid ini adalah sebelum dan setelah matahari terbenam. Ketika gelap, kolam refleksi di sekeliling masjid akan merefleksikan deretan kolom sepanjang halaman masjid. Pencahayaan masjid ini juga unik, dirancang arsitek tata lampu Jonathon Spiers, sorotan proyeksi awan abu kebiru biruan pada dinding luar masjid intensitas cahayanya selalu berubah setiap malam mengikuti fase bulan. Redup ketika bulan sabit, terang ketika bulan purnama.

  • Disunting oleh SA 02/08/2012

Merlion, Kisah Ikan Berkepala Singa

Konon datanglah tiga putra Raja Iskandar Dzulkarnain, Bichitram, Paladutani dan Nilatanam. Mendengar berita ini, Raja Palembang Trimurti Tribuana mengunjungi mereka dan membawa pulang ke kota. Ketika berita ketiga putra raja ini sedang berada di Palembang tersebar, rakyat dan penguasa dari segala penjuru berdatangan dan memberi tahta kepada mereka. Putra raja tertua diangkat menjadi Raja Minangkabau dengan predikat Sang Sapurba. Putra Raja kedua menjadi Raja Tajung Pura dengan predikat Sang Maniaka. Nilatanam, putra bungsu berpredikat Sang Utama yang lebih dikenal dengan nama Sang Utama atau Sri Tri Buana menetap di Palembang dan menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya.

Merlion di malam hari.
Merlion di malam hari.

Suatu hari Sri Tri Buana melakukan perjalanan untuk menemukan wilayah kekuasaan baru. Dia pergi ke Bintan yang dikuasain oleh seorang ratu kaya raya, Sakidar Syah yang pada akhirnya mengadopsi Sri Tribuana sebagai putranya sekaligus penerusnya.

Ketika Sri Tri Buana pergi berburu ke Tanjung Bemian, dari tebing batu tinggi dia melihat melihat sebuah pulau dengan hamparan pantai berpasir putih. Dia bertanya kepada Demang Lebar Daun, Indra Bopal, “Daratan apakah itu?” Bopal menjawab “Kami menyebutnya Temasik, yang mulia”, yang dalam bahasa jawa kuno bermakna kota laut.

Dengan segera Sri Tri Buana pergi menuju ke Temasik. Setelah perahu mendarat, mereka pergi berburu ke Kuala Temasik. Sekejap mereka melihat seekor binatang tanpa sempat mengenali binatang apa. Demang Lebar Daun pun mengira-ngira, “Binatang itu terlihat seperti seekor singa”. Sri Tri Buana lalu mengirim pesan ke Ratu Sakidar Syah bahwa dia tidak akan kembali ke Bintan dan akan menetap di Temasik dan mendirikan “pura”, yang berasal dari bahasa Sansekerta, berarti kota. Ia menamai Temasik sebagai Singapura, atau “Kota Singa”, pada abad ke-11. Sri Tri Buana memimpin Singapura selama 48 tahun hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di Singapura.

Siapa yang menyangka monster ikan berkepala singa menjadi ikon pariwisata negara tetangga yang sukses mendatangkan turis dari berbagai penjuru dunia. Teringat ketika teman yang baru tiba dari Singapura selalu saja membawa cinderamata mulai dari kaos, gantungan kunci, magnet kulkas, coklat dengan ikon Merlion yang merepresentasikan singa dari “Kota Singa” dan ikan dari Temasik si “Kota Laut”. Bahkan foto wajib yang harus dimiliki adalah berfoto di depan Merlion yang sedang menyemburkan air.

Desain logo Singapore Tourism Board yang sudah dipatenkan pada tahun 1966 ini digunakan sejak 1964 hingga 1997. Enam tahun setelah itu, pada 15 September 1972 pematung Lim Nang Seng membuat patung Merlion dan diletakkan di muara sungai Singapura, sebagai simbol menyambut pengunjung dengan ucapan “selamat datang di kota Singapura”. Sayangnya, pandangan Merlion dari waterfront tertutup ketika jembatan Esplanade selesai dibangun.

Merlion setinggi delapan meter yang dibangun dengan biaya S$165,000 pun dipindahkan pada tahun 2002 ke seberang jembatan Esplanade di mana Merlion Park berada saat ini dengan biaya sebesar S$6,000,000. Dengan memanfaatkan latar belakang dramatis gedung pencakar langit yang menghiasi horison kota Singapura, Merlion kembali menghiasi Marina Bay dan menyemburkan air dari mulutnya yang sempat terhenti sejak tahun 1998.

Merlion Park merupakan salah satu atraksi gratis yang paling banyak dikunjungi, ratusan ribu pengunjung menyempatkan datang setiap harinya untuk berfoto dengan Merlion dan mereka tetap kembali meskipun sudah pernah mengunjungi sebelumnya. Desain Merlion Park yang baru sangat berorientasi kepada kebutuhan warga Singapura maupun para turis. Merlion Park membuat dermaga yang memungkinkan pengunjung berfoto di depan Merlion dengan latar belakang horison kota. Undakan tempat duduk di sepanjang bibir sungai mendekatkan pengunjung dengan permukaan air ketika duduk menikmati panorama Marina Bay.

Terdapat delapan alternatif lokasi baru Merlion Park yang diusulkan saat itu. Pihak pemerintah Singapura menginginkan Merlion tetap berada di sekitar muara sungai Singapura yang memiliki makna sejarah tempat di mana Sri Tri Buana melihat penampakan seekor binatang yang dia anggap sebagai singa sekaligus menjadi cikal bakal nama Negara Singapura. Dengan pemindahan Merlion 120 meter dari tempat aslinya, terlihat semangat jiwa perubahan yang menjadi karakter terbentuknya Singapura.

  • Disunting oleh SA 11/06/2012

Lubang Sembur Kiama, Australia

Tidak ada di dalam benak saya untuk pergi jauh-jauh keluar kota Sydney. Maklum, saya tidak punya kendaraan pribadi dan sialnya lagi SIM A sudah saya mati. Kakak sayalah yang membawa saya pergi jalan-jalan dan membuka mata saya betapa indahnya Australia ini. Maka saya dibawa ke suatu tempat yang bernama “Kiama Blow Hole“. Dalam Bahasa Indonesia, “blow hole” disebut sebagai “lubang sembur”, sebuah fenomena geologi di mana gua bawah tanah memiliki bukaan di permukaan, sehingga memancurkan air atau gas. Mendengar namanya saja sudah bikin penasaran seperti apa tempat itu.

Pemandangan pertama saat masuk ke kawasan lubang sembur. Tempat ini cukup ramai saat ujung minggu.
Pemandangan pertama saat masuk ke kawasan lubang sembur. Tempat ini cukup ramai saat ujung minggu.

Secara geografis, lokasi ini berada sekitar 110 km dari kota Sydney dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam. Pada awal perjalanan, pemandangan selama perjalanan cukup menarik, saya banyak melihat pohon, melewati bukit-bukit berbatu, jembatan yang besar. Namun lama-lama saya merasa bosan karena pemandangannya monoton.

Kebosanan saya terbayarkan begitu sampai di Kiama. Cuaca cerah dengan udara yang dingin menyambut saya begitu turun dari mobil. Begitu memasuki komplek Kiama Blow Hole, anda akan disambut oleh gagahnya mercusuar Kiama. Mercusuar ini diresmikan pada tahun 1887 dan di tahun-tahun berikutnya sampai sekarang, mercusuar Kiama ini masih berfungsi dengan baik. Ini bukti pemerintah setempat sangat peduli dengan bangunan-bangunan bersejarah yang penting untuk dilestarikan.

Mercusuar Kiama
Mercusuar Kiama

Pemandangan dari area parkir sangat indah, di mana kita bisa melihat hamparan laut lepas. Saya merasa bahwa setiap pantai, teluk, atau tempat apapun yang lautnya, pasti dijadikan objek wisata oleh pemerintah setempat. Hebatnya lagi, kebanyakan dari tempat wisata pantai/laut dapat dikunjungi gratis.

Pemandangan dari lahan parkir.
Pemandangan dari lahan parkir Kiama Blow Hole.

Sebelum air menyembur terdengar suara riuhnya air laut, seakan mengumpulkan tenaga untuk keluar dari lubang tersebut. Beberapa detik kemudian, “demmmmm…”, air laut pun tersembur ke atas udara disambut tepuk tangan turis-turis. Peristiwa alam seperti ini mirip dengan “bleduk kuwu” di Desa Grobogan Jawa Tengah. Namun, letupan lumpur di sana sudah tidak tinggi lagi.

Inilah keterangan bagaimana air laut sampai bisa menyembur ke atas.
Inilah keterangan bagaimana air laut sampai bisa menyembur ke atas.

Sudah 30 menit, namun air laut tidak menyembur ke atas. Harap sabar menanti.
Sudah 30 menit, namun air laut tidak menyembur ke atas. Harap sabar menanti.

Para turis masih setia menunggu letupan air. Sudah jauh-jauh dari Sydney kan sayang kalau melewatkan kesempatan melihat fenomena alam yang unik ini.
Para turis masih setia menunggu letupan air. Sudah jauh-jauh dari Sydney, sayang kalau melewatkan kesempatan melihat fenomena alam yang unik ini.

Lega bisa melihat semburan setelah hampir 45 menit menunggu.
Lega bisa melihat semburan setelah hampir 45 menit menunggu.

Jika ditanya, puaskah saya jauh-jauh datang ke Kiama dengan melihat letupan air seperti ini? Baguskah Kiama Blow Hole? Saya akan menjawab dengan positif, puas, karena memang sangat menarik.

Semua informasi tentang Kiama ada di website www.kiama.com.au. Setiap tahunnya Kiama dikunjungi lebih dari 500.000 turis. Wow… Ini hanya Kiama, belum lagi tujuan wisata yang lain di Australia. Tampaknya Australia berhasil mempromosikan pariwisatanya.

  • Disunting oleh SA 08/05/2012

Penangkaran Buaya Lo Than Muk, Medan

Pernah membayangkan halaman belakang anda dijaga 2.800 ekor buaya? Tidak perlu dibayangkan, cukuplah datang ke lokasi penangkaran buaya milik Lo Than Muk di Asam Kumbang, Medan Selayang, Kota Medan.

Taman buaya Asam Kumbang, demikian biasa disebut dapat dicapai dari pusat Kota Medan dengan taksi atau kendaraan sewaan. Beberapa angkutan nampak berseliweran, tapi saya tidak tahu nomor dan jurusannya. Cobalah bertanya di terminal apabila hendak menggunakan angkutan umum.

Memberi makan buaya
Memberi makan buaya

Cukup membayar tiket masuk seharga Rp5000,-, anda sudah dapat melihat lebih dekat buaya di pekarangan belakang rumah. Tidak jinak tentu saja, karena bukan jenis hewan peliharaan biasa semacam kucing atau anjing. Konon penangkaran ini adalah yang terbesar di dunia. Saya tidak tahu apakah Steve Irwin, si penakluk buaya dari Australia itu sudah pernah mampir ke sini atau belum.

Buaya menyeringai
Buaya menyeringai

Halaman belakang rumah seluas dua hektar itu sudah disulap dengan bak-bak penampungan reptilia ganas ini. Sebuah kolam seukuran separuh lahan pun ada melengkapi wisata unik yang ditawarkan. Sayangnya, anda tidak dapat bersampan-ria sembari melemparkan sarapan. Salah-salah malah anda yang jadi sarapan!

Berbagai macam buaya ada di sini, kebanyakan dari jenis buaya muara. Dari buaya yang hitam legam hingga buaya albino alias buaya putih. Dari yang lengkap anggota tubuhnya sampai yang buntung alias tidak berekor pun ada.

Tanda bahaya
Tanda bahaya

Usianya beragam, mulai dari balita hingga diatas 50 tahun. Saat saya datang berkunjung, dua ekor buaya berukuran jumbo berumur 38 tahun tampak tertidur pulas sementara seorang pawang tampak membersihkan kandangnya.

Jika cukup tega, cukup membayar Rp30.000,- untuk seekor itik atau ayam yang dapat anda lemparkan ke kolam tempat buaya-buaya berenang. Ini tentunya lebih menarik daripada hanya melihat buaya yang hilir-mudik, sesekali menguap, dan tertidur atau berenang perlahan. Di atas kolam, dua buah pohon rindang nampak dipenuhi kuntul berjubah putih.

Buaya-buaya bertumpuk
Buaya-buaya bertumpuk

Membeli itik untuk memberi makan buaya
Membeli itik untuk memberi makan buaya

Meski ada banyak buaya di sini, tidak ada satupun yang nasibnya berakhir buruk menjadi tas kulit bermerek. Sang pemilik penangkaran tidak mengizinkan buaya-buaya peliharaannya diperlakukan demikian.

Jika ingin membawa cinderamata, anda bisa berfoto dengan buaya-buaya mini berusia muda atau membeli kerajinan kayu berbentuk buaya yang dijual di kios depan pintu masuk penangkaran.

  • Disunting oleh SA 08/05/2012

Guildford, Surrey, Britania Raya

Inilah kota pertama yang saya kunjungi dalam perjalanan saya ke Britania Raya. Guildford terletak 43 km barat daya London. Kota kecil ini sangat mudah dikunjungi baik dari pusat kota London maupun dari Bandara Internasional Heathrow. Berbekal tiket terusan seharga ₤10.50 (dimulai dengan bis bandara menuju stasiun Woking kemudian dari stasiun Woking perjalanan dilanjutkan dengan kereta ke Guildford). Apabila ingin berkunjung dari pusat kota London (stasiun London Waterloo), Guilford bisa dicapai hanya dengan 35 menit perjalanan dan enaknya lagi kita tidak usah takut ketinggalan kereta, karena setiap 15-20 menit pasti ada rangkaian gerbong yang ke sana. Dengan segala kemudahan itu tidak heran Guildford menjadi destinasi favorit untuk liburan singkat para “Londoners” (sebutan untuk penduduk kota London) untuk menghindari hiruk-pikuk kota London terutama saat penghujung minggu.

Bus Bandara ke Woking
Bus Bandara ke Woking

Nama kota Guildford mulai mendunia semenjak tragedi pemboman oleh Gerilyawan Irlandia Utara pada dua pub lokal yang dipenuhi prajurit Ingggris pada tanggal 5 Oktober 1974.

Atraksi utama di Guildford adalah kastil Guildford, High Street dan North Street yang letaknya hanya berjarak satu blok. Yuk, kita kunjungi mulai dari kastil Guidford yang diyakini dibangun sekitar tahun 1086 (926 tahun yang lalu) oleh Raja William Sang Penakluk. Pada abad ke-12 Raja Henry III mengubah kastil ini menjadi istana yang paling megah si seluruh Inggris dan dilengkapi dengan taman-taman yang indah dan masih bisa kita nikmati hingga hari ini.

Kastil Guildford
Kastil Guildford

Puas mengunjungi kastil ini, saya melangkahkan kaki ke High Street yang dipenuhi oleh bangunan yang dibangun pada abad ke-16 dan ke-17. Apabila anda pernah menonton film “A Christmas Carol” yang diperankan oleh Jim Carrey, cobalah berjalan di High Street (terutama malam hari) yang dilapisi batu kerikil dan kiri-kanan diapit oleh bangunan kuno, niscaya kita akan merasa sedang berada dalam film tersebut. Hal tersebut tidak mengherankan, karena cerita A Christmas Carol dikarang oleh penulis Inggris Charles Dickens pada abad ke-18. Bangunan kuno di sini sekarang telah beralih fungsi menjadi toko, pub atau restoran.

High Street
High Street

High Street di malam hari
High Street di malam hari

North Street
North Street

Apabila anda ke Guildford saat penghujung minggu, cobalah berkunjung ke North Street yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima setiap Sabtu dan Minggu pagi. Di sini kita bisa membeli aneka buah dan sayur segar yang di jual langsung oleh para petani maupun makanan/jajanan yang mengugah selera. Hm… lezat! Tidak heran para Londoners menjadikan kota ini sebagai kota peristirahatan favorit mereka.

  • Disunting oleh SA 08/05/2012

London, Britania Raya

Situs Trip Advisor baru baru ini menobatkan London sebagai “The Best Destination of 2012” pilihan para wisatawan. Bisa dibayangkan, dengan adanya penghargaan tersebut ditambah dengan penyelenggaraan Olimpiade musim panas di bulan Juli & Agustus 2012, kota ini semakin menjadi tujuan utama turis-turis dari seluruh dunia.

Sesuai hukum ekonomi, dengan semakin banyaknya pengunjung akan berimbas ke semakin mahal biaya hidup di sana terutama untuk para wisatawan. Apalagi pemerintah kota London mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 20% yang akan semakin menipiskan dompet dan kartu kredit terutama untuk akomodasi dan makan minum.

Taksi London yang khas itu!
Taksi London yang khas itu!

Namun jangan takut, dengan perencanaan yang matang terutama yang membawa keluarga, kita masih bisa ikut menikmati kota kosmopolitan dengan biaya rendah tetapi menuai hasil semaksimal mungkin karena masih banyak atraksi wisata yang bisa dinikmati dengan gratis.

Perlu diketahui mayoritas atraksi terkenal berada di area tengah kota terutama di sekitar Sungai Thames yang juga merupakan sungai terpanjang di Inggris. Meskipun semua atraksi di tengah kota, namun jangan membayangkan kita bisa ke mana-mana dengan jalan kaki, maklum pusat kota London itu sangat besar, sekitar 624 km persegi. Sekedar pembanding, luas Singapura sekarang saja sekitar 704 km persegi (sudah termasuk wilayah reklamasi). Cara paling mudah dan efektif untuk mengunjungi semua tempat adalah dengan membeli tiket bis wisata keliling (sightseeing bus) yang berlaku selama 24 jam dari saat kita membeli tiket.

Bis tingkat yang juga ikon London
Bis tingkat yang juga ikon London

Beberapa lokasi menarik dapat dikunjungi di London, terlepas anda membeli tiket bis wisata keliling atau berkelana sendiri, antara lain:

Buckingham Palace

Selain melihat dari dekat tempat tinggal Ratu Elizabeth II, kita juga bisa melihat upacara penggantian pasukan pengawal ratu yang dilaksanakan pukul 11:30 (setiap hari saat musim panas atau setiap dua hari sekali saat musim dingin). Tips untuk melihat upacara penggantian pengawal adalah datang sebelum pukul 11:00 dan berdirilah di depan pagar istana, karena upacaranya dilakukan di dalam halaman istana. Oh ya, apabila kita berkunjung saat musim panas, maka biasanya Buckingham Palace juga membuka diri untuk dikunjungi oleh para wisatawan, tentu dengan catatan apabila sedang tidak ada acara kenegaraan.

Pintu gerbang di Buckingham Palace
Pintu gerbang di Buckingham Palace

St. James’s Park

Taman kerajaan paling tua dan paling terkenal di London sekaligus mungkin juga yang paling indah seluas 23 hektar. Berjarak sangat dekat dari Buckingham Palace, taman ini menjadi destinasi berikutnya setelah upacara penggantian pengawal. Jangan lupa membawa cemilan apabila mengunjungi taman ini, apalagi bila membawa anak kecil, karena di taman yang indah ini anak-anak bisa bermain dengan aneka satwa seperti bebek, angsa, burung dara, bangau bahkan tupai. Untuk para orang tua, kegiatan paling nikmat adalah duduk berselonjor di kursi taman dan mengawasi anak-anak yang bermain dengan satwa yang ada sambil mengistirahatkan kaki yang pegal setelah berdiri sekian lama melihat upacara pergantian pengawal.

Untuk para remaja, jangan lupa mengunjungi Hard Rock Café yang pertama di dunia. Berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari St James’s Park. Di sini, toko merchandise dan kafe tidak berada di gedung yang sama, tetapi dipisahkan oleh satu jalan kecil. Hendak ke toko atau kafe? Siap-siap antri panjang, ya!

Big Ben, The Clock Tower

Big Ben atau The Clock Tower yang selesai dibangun tahun 1859 dan menyatu dengan The Palace of Westminster (House of Parliament) adalah menara jam yang paling terkenal di seluruh dunia. Letaknya di samping Sungai Thames membuat menara ini terlihat sangat ikonik dan bisa dilihat dari jauh.

Big Ben di Palace of Westminster
Big Ben di Palace of Westminster

Westminster Abbey

Gereja tempat pernikahan pangeran William dan Kate. Dengan membeli tiket masuk, pengunjung bisa memasuki gereja tersebut dan membayangkan dirinya menjadi saksi upacara pernikahan terakbar di tahun 2011.

Westminster Abbey
Westminster Abbey

Tower of London

Dibangun tahun 1078 oleh William “Sang Penakluk” sebagai benteng pertahanan. Benteng tersebut sempat beralih fungsi menjadi penjara pada abad ke-11 sebelum dikembalikan menjadi tempat tinggal raja pada abad ke-12. Saat ini, Tower of London menjadi salah satu tujuan favorit apabila mengunjungi London.

Tower Bridge

Terletak di depan Tower of London, merupakan jembatan kebanggaan warga London yang menunjukkan kemajuan teknologi bangsa Inggris. Dibangun selama delapan tahun (1886-1894), pada bagian tengah jembatan bisa diangkat naik turun saat kapal melewatinya dan hebatnya lagi masih berfungsi dengan baik sampai hari ini. Di bagian atas jembatan saat ini difungsikan sebagai ruang pameran Tower Bridge. Dengan harga tiket £8 untuk dewasa dan £3.40 untuk anak-anak, kita bisa masuk ke ruang pameran yang menceritakan proses pembangunan saat itu, termasuk kebanggaan mereka bahwa untuk pembangunan proyek sebesar itu dengan peralatan kerja yang sederhana. Tercatat hanya ada sepuluh korban jiwa yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja. Hm, saya jadi membandingkan kalau dibangun di Indonesia kira-kira bagaimana ya? Sekedar informasi, saat Perang Dunia ke-II, Tower Bridge ini tidak dibom pihak Nazi via udara karena pasukan angkatan udara Nazi menjadikan jembatan ini sebagai penanda mereka terbang di atas wilayah London.

Tower Bridge
Tower Bridge

Trafalgar Square

Lapangan paling besar dan paling terkenal di London. Selain turis, para demonstran juga menjadikan lapangan ini sebagai tempat mereka menyuarakan aspirasi mereka. Di sini terletak National Gallery yang akan memuaskan para pecinta seni dengan koleksi lebih dari 2.300 lukisan, termasuk karya Van Gogh, Renoir, Claude Monet dan Leonardo da Vinci.

Leicester Square

Pusat hiburan malam di London, di sinilah berkumpulnya semua teater, bioskop, klub malam, kafe dan restoran.

London Eye, City Hall dan St. Mary Axe

Didominasi oleh besi baja dan kaca, ketiga bangunan tersebut menunjukan sisi lain dari wajah London yang terus berbenah menjadi kota modern. Apalagi dengan semakin dekatnya Olimpiade 2012, London juga membangun kereta kabel dari pusat kota ke stadion. Dengan demikian, pengunjung bisa mengunjungi stadion tanpa khawatir terkena macet sambil menyaksikan keindahan kota London dari ketinggian.

London Eye
London Eye dari seberang Sungai Thames

Oxford Street

Kalau di Singapura ada Orchard Road, di Hong Kong ada Ladies Market, maka di London ada Oxford Street yang merupakan pusat perbelanjaan yang sangat ramai tidak hanya di Oxford Street, tapi juga jalan-jalan di sekitarnya. Di sini juga terdapat toko Marks & Spencer yang terbesar.

Borough Market

Pusat jajanan serba ada yang buka hanya hari Kamis sampai Sabtu. Untuk penggemar kuliner, pastikan kunjungan anda ke pasar ini. Berhubung pasar ini di kunjungi banyak wisatawan, harap maklum kalau harga yang ditawarkan merupakan harga turis alias mahal…

Borough Market
Borough Market

Harrods

Siapa yang tidak kenal toserba elit ini? Siapa sangka toserba terkenal ini awalnya adalah toko penjual daun teh yang kemudian lambat laun menjelma menjadi toserba yang sangat luas. Untuk pengunjung yang baru pertama kali ke sini dijamin tersasar, yang kemungkinan akan sangat menyenangkan buat kaum hawa. Untuk kaum adam, ada baiknya anda membawa GPS (global positioning system) agar bisa mengungsikan pasangan anda keluar toko sebelum mereka menjadi kalap dan menjebol dompet anda!

Setelah membaca daftar kunjungan di atas yang lumayan panjang, pertanyaan selanjutnya adalah berapa hari yang diperlukan untuk mengunjungi ini semua? Saya sarankan agar tinggal minimal dua sampai tiga malam dengan catatan menginap di tengah kota sehingga efisien dalam hal pengaturan waktu dan mengatur tenaga. Badan dan pikiran pun tetap segar dari pagi hingga malam tiba.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera masukkan Britania Raya sebagai tujuan anda berikutnya, apalagi persyaratan pendaftaran visa Britania Raya bagi warga negara Indonesia saat ini relatif lebih mudah dari sebelumnya.

  • Disunting oleh SA 09/05/2012
Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya

© 2020 Ransel Kecil