Kategori: Makanan (halaman 3 dari 3)

Mencari Santapan Halal di Ho Chi Minh City

Bagi Anda yang memeluk agama Islam, setiap perjalanan selalu disibukkan dengan kegiatan mencari makanan halal, terutama di negeri yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam. Tentu, kita dapat mengunjungi beragam tempat makan yang ada dan memesan menu vegetarian atau ikan dan ayam, tetapi banyak juga dari kita yang cemas dengan cara mereka memasak, dan peralatan yang digunakan (apakah bekas memasak yang mengandung babi dan lain sebagainya). Kebutuhan mencari tempat makan yang benar-benar berkomitmen menyediakan makanan halal dengan metode yang halal pun tak terelakkan. Di Vietnam, relatif sulit menemui tempat makan yang 100% halal.

Interior Halal@Saigon

Kunjungi Halal@Saigon, restoran 100% halal di Ho Chi Minh City. Letaknya cukup strategis, di sebuah jalan yang dipenuhi dengan berbagai fasilitas yang diperlukan bagi kebanyakan turis asing seperti convenience store dan penukar mata uang asing. Terletak di jalan yang sama juga adalah hotel mewah Sheraton Ho Chi Minh City. Yang menarik, di jalan yang sama pula, terdapat sebuah mesjid (Mesjid Indian Jamia), yang mungkin satu-satunya di sini. Letaknya persis di seberang restoran ini.

Masjid Indian Jamia, Dong Du St., Ho Chi Minh City

Cara terbaik menuju restoran ini adalah dengan taksi. Banyak sekali pengunjung dari Malaysia yang datang di sini. Ho Chi Minh City sudah menjadi tujuan utama bagi wisatawan Malaysia dan Indonesia, dan pasar untuk restoran halal sangat besar.

Halal@Saigon sendiri adalah satu dari sekian (mungkin hanya ada tiga atau lima tempat serupa di kota ini) restoran yang menyediakan menu halal, baik itu sajian Vietnam atau Melayu/Malaysia. Pemiliknya adalah Dr. Shimi, seorang Malaysia yang sudah tinggal selama 15 tahun di Ho Chi Minh City. Tempat ini dibuka pada Februari 2009, jadi masih relatif baru! Dr. Shimi sendiri aktif dalam advokasi bisnis untuk pengusaha Malaysia di sini. Beliau adalah ketua Malaysian Business Chamber di Ho Chi Minh City. Anda pun tak perlu ragu kredibilitasnya.

Dari segi sajian, menurut saya pribadi, rasanya lebih cocok untuk lidah orang Indonesia dan Malaysia yang peka terhadap rasa asin, asam dan gurih. Kebanyakan wisatawan Indonesia dan Malaysia mungkin menganggap makanan Vietnam terlalu hambar. Makanan di Halal@Saigon adalah penyesuaian yang mendekati sempurna, walau ada kasus tertentu yang agak berlebihan, misalnya spring roll yang disajikan dengan saus kacang.

Pengalaman makan di sini akan dilengkapi dengan Dr. Shimi sendiri yang menyambut Anda dengan ramah. Beliau dengan mudah mengenali wajah Melayu atau Indonesia, dan langsung menyapa, “Apa kabar?”. Selain itu, pelayan di sini tidak ada yang berasal dari Malaysia atau Indonesia, tapi bisa berbahasa Melayu dengan fasih sekali. Bayangkan seseorang dari Kamboja yang bisa “bercakap Melayu”!

Vietnamese Springroll dengan Saus Kacang!

Sup Asam Manis yang segar di Halal@Saigon

Tumisan sapi yang harum dan segar

Ada beberapa restoran lain yang menyajikan menu halal seperti Lion City. Bedanya, Lion City tampaknya lebih fokus untuk menyajikan menu yang familiar dengan masyarakat Singapura. Ada opsi khusus yang menyajikan menu halal. Sedangkan Halal@Saigon sepenuhnya berkomitmen menyajikan menu halal.

Jika Anda sempat berkunjung ke Halal@Saigon, dan Anda adalah seorang muslim, tak perlu ragu untuk memesan apapun di sini, walau itu masakan Vietnam yang sudah Anda incar sebelumnya, tapi takut untuk pesan di restoran Vietnam lain. Butuh bukti lagi? Restoran ini sudah disertifikasi halal oleh Commission Board of Islam in Ho Chi Minh City!

Disunting oleh ARW 16/06/2010

‘Banchan’, ‘Side Dish’ dari Korea

Banchan di Restoran

Untuk sebagian besar penggemar makanan Korea, _bibimbap_ dan _bulgogi_ mungkin merupakan hal yang tidak asing lagi. Terlebih lagi _kimchi_, yang jenisnya mencapai lebih dari seratus jenis. Tapi mungkin banyak yang tidak
mengetahui bahwa kimchi merupakan bagian dari _banchan_ (반찬) atau side dish ala Korea. Bagi saya pribadi, banchan adalah kenikmatan tersendiri dalam menyantap hidangan korea karena selain lezat, banchan juga disajikan cuma-cuma ketika kita memesan main dish sebagai wujud layanan lebih dan bisa di-refill (diisi ulang).

Seperti halnya kimchi, banchan terdiri dari berbagai jenis masakan dan bahan pangan. Sayuran, umbi, sampai daging dan makanan laut biasanya menjadi bahan utama banchan dengan saus _gochujang_ sebagai bumbu. Contoh masakannya sendiri adalah kimchi, _kearan-mari_ (dadar gulung), _kimchi-jeon_ (pancake kimchi), dan _gyeranjjim_ (telur pindang). Setiap daerah juga memiliki banchan khasnya sendiri yang terkadang tidak bisa dijumpai di daerah
lainnya. Favorit saya adalah _Ojingo-jjut_, acar cumi mentah yang dibumbui dengan saus gochujang. Rasanya seperti memakan _sashimi_ yang kaya rasa karena memiliki rasa pedas, gurih dan manis.

Biasanya restoran atau warung di Korea menyajikan dua sampai tiga jenis banchan untuk menemani hidangan utama; terdiri dari acar lobak kuning, kimchi, dan satu jenis lainnya. Sayangnya kita tidak bisa memesan banchan
tertentu karena setiap restoran memasak banchan yang berbeda-beda setiap hari. Namun di situlah faktor menarik dari banchan. Kita akan selalu menebak-nebak banchan apa yang akan disajikan hari ini sembari berharap salah satu
favorit kitalah yang akan disajikan. Pengalaman paling mengejutkan bagi saya adalah ketika saya pergi ke sebuah restoran di dekat Ewha Womans University. Saat itu saya dan teman memesan dua porsi kimchi _chigae_ (stewed kimchi dan daging) sebagai lauk utama. Terkejutlah kami ketika pesanan kami datang disertai 12 macam banchan dalam satu nampan kayu besar yang rasanya jauh lebih nikmat dibandingkan kimchi chigae itu sendiri.

Banchan di Restoran

Banchan di Restoran

Keluarga Korea sendiri umumnya memasak banchan dalam jumlah banyak untuk disimpan dalam kurun waktu tertentu, terutama jenis acar seperti kimchi. Karena banchan merupakan masakan yang tahan lama, mereka biasanya mengepak banchan dalam wadah kedap udara yang disimpan dalam lemari es. Setiap keluarga biasanya menyiapkan tiga sampai empat jenis banchan untuk setiap penyajian makanan, namun jumlahnya bisa bertambah sampai dua belas jenis saat ada perayaan. Untuk orang-orang yang sibuk atau mereka yang tinggal sendiri, banchan siap saji juga bisa dibeli di supermarket dalam ukuran gram, kemasan kecil, atau kalengan. Jika anda berkunjung ke Korea, datanglah ke restoran tradisional yang menyajikan makanan Korea, karena disanalah banchan lezat disajikan, gratis dan bisa isi ulang!

  • Disunting oleh SA 03/05/2010

Warung Kopi Namu Are, Seoul

Kafe Namu Are, SeoulHari ini saya memutuskan untuk mengunjungi warung kopi Namu Are di Seoul, Korea Selatan, walau sebenarnya saya bukan penggemar kopi. Sulit untuk tidak mengunjungi beragam warung kopi di Seoul karena biasanya mereka mendekorasi warungnya dengan tema yang menarik dan lucu.

“Namu” dalam bahasa Korea berarti pohon. Dan “are” berarti “di bawah”. Jadi sudah jelas maksudnya adalah “di bawah pohon”. Warung kopi Namu Are terletak di dekat kampus saya di Ewha Women’s University dan stasiun kereta api Sinchon. Lokasinya sulit ditemukan karena warungnya mungil, dan terletak di gang kecil. Hanya ada satu penanda kecil di depannya. Bentuk warung kopi ini seperti sebuah rumah kecil. Begitu masuk, Anda akan disambut dengan sebuah mesin penggerinda kopi.

Latte ArtSeperti halnya warung-warung kopi lainnya di Seoul, Namu Are menyajikan berbagai kopi _hand-drip_, kopi reguler, teh, jus buah, serta kue dan cokelat buatan rumahan. Harga minumannya antara 5.000 – 6.000 won (Rp 40.000 – Rp 50.000). Berbagai camilan ditawarkan antara 1.000 – 10.000 won (Rp 8.000 – Rp 80.000).

Kopi _hand-drip_ terlalu kuat buat saya, jadi saya lebih memilih _vanilla latte_. Teman saya memilih _black cappucino_. Minuman saya datang dengan penampilan _latte art_ yang lucu sekali, karakter Sinchan! Kami juga memesan kepingan kue cokelat. Kami mendapatkan nougat pisang dan air mineral gratis! Rasa kopinya lezat sekali. Anda juga bisa mengisi ulang (_refill_) gratis kopi Americano untuk kopi jenis apapun yang Anda beli.

Peppermint Tea

Kami memang ingin duduk lama di warung kopi itu. Pesanan selanjutnya pun tak dapat dielakkan. Kali ini teh _peppermint_. Harganya hampir sama dengan kopi, yaitu 5.000 won. Mahal juga buat secangkir teh! Tapi saya tak menyesal karena disajikan dengan poci, dua gelas dan sebuah jam pasir. Mereka menggunakan daun teh, bukan seduhan. Bau dan rasanya sangat kuat. Sayang mereka tak menambahkan gula. Masyarakat Korea tidak minum teh dengan gula.

Mesin Penggerinda Kopi di Namu Are

Suasana di warung kopi ini sungguh unik. Walaupun tempatnya kecil, kita merasa ada di rumah dengan lantunan musik yang menenangkan. Mereka punya banyak koleksi buku berbahasa Korea, _board game_ (permainan papan), juga selimut untuk melindungi tubuh Anda ketika musim dingin. Koneksi internet nirkabel juga tersedia dengan colokan listrik di berbagai sudut. Dapurnya sendiri adalah dapur terbuka.

Dapur terbuka Namu Are

Disunting oleh SA, ARW 1/3/2010.

Bubur Nasi — Khao Tom

Sejak menemukan daun ketumbar ketika belanja di hipermarket terdekat, saya semakin tertarik ingin nyobain masak dengan resep khas Thailand. Dua makanan Thailand yang kami suka terutama Thom Yam dan Khao Tom. Soalnya dua makanan itu yang paling melekat di hati kami sewaktu backpacking ke Thailand tahun kemarin. Jadi ketika mencium aroma daun ketumbar, dia seakan-akan membawa saya kembali ke Krabi dengan bau pantainya yang khas itu.

Saya selalu terbayang-bayang dengan rasa Tom Yam yang sempat kami cicipi ketika ikut tur Phi Phi Island. Walaupun sempat sempat berkali-kali makan di Bangkok, tapi belum ada yang bisa menandingi kenikmatannya. Juga bubur nasi, atau Khao Tom ini, yang sempat selalu kami cicipi ketika sarapan pagi di daerah pertokoat dekat pasar Krabi. Ceritanya, sang penjual adalah ibu-ibu dan anaknya semuanya berjilbab, jadi artinya makanan halal. Tapi Kali ini saya akan bagi resep Khao Tom saja dulu. Thom Yam lain kali ya.

Nama melayu dari Khao Tom adalah bubur nasi Thailand (Thai Rice Soup). Yaitu nasi yang dimasak dengan campuran daging atau ikan. Ada Khao Tom Goong yang artinya bubur nasi dengan udang, Khao Tom Moo maksudnya bubur nasi dengan daging babi, dan ada juga Khao Tom Pla yaitu bubur nasi dengan ikan. Tapi yang di Krabi saya lihat buburnya dengan udang dan cumi. So saya menirunya. Jadi kita namakan saja saja Rice Soup with Seafood, bubur ayam dengan makanan laut.

Usut punya usut, akhirnya saya harus mencari resep Bubur Nasi ini hingga ke negeri China. Hehe, cuma hiperbola. Soalnya, setelah mencari, menelusuri, dan googling berhari-hari lamanya, anehnya, masing masing situs penyedia resep Khao Tom memberikan bumbu yang berbeda-beda. Apa karena soalnya selera orang kan juga beda beda ya? Ah mungkin sih.

Akhirnya saya pede aja bahwa saya adalah chef yang keren, dan saya coba menyarikannya dengan resep yang mudah bagi orang Indonesia, seperti saya. Halah. Beginilah resep Khao Tom a la saya:

Siapkan bahan-bahannya terlebih dahulu, yaitu:

* 2 piring – nasi yang sudah matang (ini untuk 4 orang), beberapa situs menyarankan nasi kemarin atau yang sudah menginap semalam. Mungkin karena untuk orang sakit biar kadar gulanya sedikit kali ya? _Kali aja sih_!
* 2 sendok makan – kecap ikan atau _fish sauce_,
* 1 sendok makan – kecap kedelai,
* 1/2 sendok teh – lada bubuk,
* Seledri atau daun bawang,
* 1 ruas jahe di iris iris seperti korek api, ini nanti untuk pelengkap,
* 5 siung – bawang putih diiris iris lalu di cacah-cacah, goreng sampai berwarna coklat ke emasan. Di bagi dua bagian untuk masak dan untuk pelengkap,
* Daun ketumbar secukupnya,
* Udang/cumi/ikan kakap/daging ayam/daging sapi,
* Air kaldu. (Dikira-kira sendiri ya.)

Cara masaknya:

* Saya memakai udang dan cumi, jadi untuk kaldunya saya kupas udang terlebih dahulu. Kemudian kulit udangnya yang saya rebus dengan air sebagai kaldu. Sisihkan.
* Goreng irisan bawang putih sampai coklat keemasan. Bagi dua bagian.
Didihkan kaldu tadi lagi. Setelah mendidih masukkan sebagian bawang goreng. Aduk.
* Lalu masukkan seledri, kecap, kecap ikan, dan lada. Aduk-aduk.
* Setelah mendidih masukkan nasinya. Aduk-aduk dan biarkan sampai mendidih.
* Kemudian masukkan daging atau seafoodnya. Aduk-aduk sampai matang.
* Setelah matang semuanya angkat.
* Sajikan dengan di taburi irisan daun ketumbar, irisan jahe, dan bawang goreng.
* Bisa juga ditambahin lada atau bubuk cabai kering kalo pengen pedas dan juga cuka.

Nah, jadilah Bubur Nasi dengan Makanan Laut ini.

Khao Tom Goong

Bubur ini cocok untuk orang yang sedang sakit atau dalam masa penyembuhan. Karena rempah-rempahnya mempunyai efek menghangatkan tubuh. Sehingga cocok juga di makan ketika hawa sedang dingin seperti musim bediding atau musim penghujan. Kalau di Thailand, bubur ini biasanya dihidangkan untuk sarapan. Disamping bisa membuat orang bersemangat untuk beraktivitas juga karena cara penyajiannya yang cepat.

Oke, selamat mencoba ya! Kalo enak kabar-kabar. Kalo _nggak_ enak, coba lagi!

Tulisan ini dimuat ulang (dan diedit secukupnya) dari blog Yani Widianto di:
http://yani.widianto.com/2010/01/11/bubur-thailand-khao-tom/

Halaman selanjutnya

© 2020 Ransel Kecil