Kategori: Dari Kami (halaman 1 dari 9)

Pindah ke Singapura

Hari pertama di Singapura
Mohon maaf karena kami sudah sangat sibuk akhir-akhir ini, untuk pindah ke Singapura. Ya! Kami sekeluarga akhirnya bisa merasakan hidup hijrah di luar negeri, walau hanya dekat, ke Singapura. Tapi, ini pengalaman yang luar biasa buat kami. Anak kami, Janis, yang baru berusia 1,5 tahun, ikut bersama kami.
Ketika tahu akan pindah ke Singapura, kami mulai mencari-cari apartemen. Pilihan pertama kali selalu ke Airbnb, lalu baru beberapa situs lokal seperti 99.co dan Nestia. Kami juga sempat melihat-lihat PropertyGuru. Tetapi, pilihan selalu jatuh pada properti yang ada di Airbnb. Menurut kami, properti-properti yang ada di Airbnb terasa lebih bersahabat dan bernada “selamat datang”. Properti yang ada di situs-situs khusus properti lebih bersifat berjualan, dan kami selalu was-was apakah kami akan diwajibkan membayar banyak hal. Trik kami, cari apartemen yang disewakan utuh, kelihatan biasa saja, dengan pemilik langsung yang profilnya baik dan bersahabat, lalu mencoba negosiasi sewa jangka panjang. It always worked like a charm.
Ada beberapa pilihan daerah yang kami inginkan di Singapura, walau sebenarnya hampir setiap daerah baik. Paling hanya masalah jarak. Tapi, bertahun-tahun tinggal di pinggiran di Bekasi dan Depok, lalu bekerja di Jakarta setiap hari pulang-pergi, tidak membuat kami goyah hanya karena dapat tempat tinggal jauh. Beberapa pilihan kami adalah Pasir Ris, Katong, Tanah Merah dan sekitar Botanic Gardens.
Taman di samping tempat tinggal kami
Pasir Ris, karena menurut kami daerah itu cukup ramah dengan keluarga, dan relatif masih murah, tetapi sangat jauh dari kantor. Tapi, dekat dengan bandara. Katong, karena saya pribadi senang dengan suasananya yang seperti Kemang, namun aksesnya agak nanggung dengan MRT, walau akses bis cukup banyak. Tanah Merah juga punya beberapa lokasi yang cukup mumpuni, tapi terlalu ramai buat saya karena daerah persinggungan. Botanic Gardens, karena daerahnya tenang, banyak penghijauan, tetapi mungkin agak mahal.
Ketika memilih, akhirnya pilihan jatuh pada Katong. Terutama karena dapat Airbnb yang bersahabat di sini. Sebuah kondominium tua yang masih terawat, dikelola oleh sebuah perusahaan keluarga yang memang memiliki tanah dan propertinya sejak bertahun-tahun. Saya merasa lebih percaya karena langsung berhubungan dengan salah satu anggota keluarga yang mengelolanya, dan lebih percaya karena mereka sudah mengelolanya paling tidak 20 tahun. Kami menemukan sebuah unit apartemen sederhana satu kamar dengan luas lebih kurang 90 meter persegi (total). Pikir saya, paling tidak ini cukup buat sekarang. Harga sewa per bulan sudah termasuk listrik, air dan gas (utility). Wah, ini terbaik buat lokasi dan luasnya. Memang, kami bisa mencari unit dua kamar yang lebih luas dengan harga seperti itu, terutama di pinggiran, tapi akhirnya kami memutuskan untuk di sini dulu, minimal setahun. Anak kami, Janis, juga masih kecil.
Yang jadi kekurangan adalah unit ini berada di lantai empat dan tidak ada lif. Artinya, kami harus menaiki dan menuruni tangga setiap hari. Seminggu pertama sulit, tetapi setelah ditekuni, tidak begitu berarti. Kesulitan ini dikompensasi dengan fasilitas umum yang tersedia di dalam kondominium, seperti kolam renang, lapangan tenis, lapangan basket dan area publik (rumput dan fasilitas bermain anak) di tengahnya yang dapat kami akses 24 jam. Selain itu, di sebelah kondominium terdapat taman umum yang juga cukup luas. Tak ada halaman rumah, tapi kami punya dua halaman besar! This is very important!
Syukur, ketika kami datang, walau belum ada seprei, ada beberapa perabot dan alat rumah tangga yang sudah dipersiapkan, seperti kulkas, mesin cuci dengan pengering, AC, sofa dan meja, meja makan dan kursi, jemuran, sampai ketel buat masak air. Alat makan seperti sendok, garpu, piring, mangkok dan gelas juga sudah ada walau sedikit. Hari pertama kami datang, kami hanya perlu membeli rice cooker.
Silakan tunggu cerita-cerita kami selanjutnya di Singapura (dan harapan besar kami, juga di perjalanan lain di luar Singapura dan Indonesia).

Kaos Ransel Kecil Kembali!

Halo pembaca! Kami punya kabar gembira. Kaos Ransel Kecil kembali. Kali ini kami membuka toko online di Tees.co.id. Kami akan terus menambah koleksinya, kemungkinan tidak hanya kaos tapi juga barang-barang lain. Jadi, tunggu tanggal mainnya!
Kali ini, ada dua pilihan desain kaos. Keduanya merupakan rancangan kaos yang simple namun tetap keren dipakai ketika jalan-jalan.

Ransel Kecil Travel Checklist

Jangan pernah lupa baca ranselkecil.com sebelum berangkat! Ayo beli di sini.
Ransel Kecil Travel Checklist

Ransel Kecil Green Shirt

Warna hijau yang ini kami suka, dan logo ranselkecil.com tampak keren di sini. Yuk, beli!
Ransel Kecil Green Shirt
Terima kasih dukungannya, ya!

Berdoa untuk MH370

Malaysia Airlines penerbangan nomor MH370, yang juga di-codeshare dengan China Southern Airlines nomor CZ748, jurusan Kuala Lumpur-Beijing yang bertolak pada 00:41 dini hari waktu Kuala Lumpur tanggal 8 Maret 2014, hilang dari pantauan radar pukul 01:22 waktu setempat. Pesawat Boeing 777-200ER itu membawa 227 penumpang dan 12 awak kapal termasuk pilot dan ko-pilot. Pesawat itu seharusnya mendarat pukul 06:30 waktu Beijing. Sampai saat ini penyebab hilangnya pesawat itu dari radar masih menjadi misteri.
Mari kita sama-sama memanjatkan doa agar para penumpang dan awak kapal MH370 dapat ditemukan dengan selamat.
Berikut beberapa sorotan terakhir tragedi ini.

  • Negara-negara ASEAN, Amerika Serikat dan Australia turut membantu pencarian di Teluk Thailand, Selat Melaka dan sekitarnya.
  • Pada saat kejadian, pesawat dalam tahapan “cruising” dengan ketinggian 35.000 kaki atau 10,600 meter di atas permukaan laut, dan berkecepatan 471 knot atau 540 mil per jam atau 870 km per jam. Posisi terakhir ketika pesawat menghilang adalah 6°55′15″N 103°34′43″E. Seharusnya, pada saat itu, pesawat sudah menghubungi menara kontak Ho Chi Minh City.
  • Walaupun hilang kontak pada tepatnya 01:22 dini hari, pihak Malaysia Airlines baru memberikan konfirmasi kehilangan pesawat pada pukul 07:24 paginya. Sebelum dan sesaat menghilang, pesawat tidak memberikan pertanda atau sinyal apapun. Tidak ada indikasi adanya cuaca buruk atau masalah teknis.
  • Pesawat hilang sekitar 300km di selatan Pulau Thổ Chu yang merupakan milik Vietnam.
  • Dua orang penumpang dilaporkan naik pesawat menggunakan paspor curian dari warganegara Italia dan Austria. Kedua penumpang “palsu” ini terakhir dilaporkan membeli tiket pesawat Kuala Lumpur-Beijing secara bersamaan dengan harga yang sama. Seorang berkebangsaan Iran yang bernama “Mr. Ali” dikabarkan membantu memesan tiket ini di agen perjalanan.
  • Tidak dapat dipastikan apakah ada kemungkinan tindakan kriminal atau terorisme.
  • Tidak dapat dipastikan juga apakah ada kesalahan teknis dalam pesawat, atau semacam ledakan yang terjadi di udara.
  • Serpihan-serpihan yang tadinya diduga sebagai pintu atau jendela pesawat disangkal oleh pihak DCA (Department of Civil Aviation), Malaysia. Serpihan lain yang dikira mirip “sirip” atau “tail” juga disangkal oleh DCA.
  • Ditemukan sisa-sisa tumpahan minyak sepanjang 10-20 km di sekitar tempat hilangnya pesawat, namun terakhir dapat dipastikan bahwa tumpahan minyak itu bukan berasal dari pesawat terbang, tetapi tumpahan dari kapal
  • Panglima Royal Malaysian Air Force, Rodzali Daud, mengklaim ada rekaman radar militer yang menunjukkan pesawat udara sempat berputar balik sebelum hilang. Oleh karenanya, pencarian juga dilakukan di Selat Melaka untuk menjajal kemungkinan pesawat berada di bagian barat semenanjung Malaysia.
  • Pada hari ke-4, belum ada tanda-tanda ditemukannya jejak-jejak pesawat MH370. Wilayah pencarian diperluas dari 50 mil nautikal hingga 100 mil nautikal.
  • Untuk pengumuman dan pemutakhiran resmi dari Malaysia Airlines, laman khusus MH370 dipersiapkan di sini.
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil