Kategori: Catatan Perjalanan (halaman 3 dari 10)

“Live on Board” di Komodo

Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca
Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca

Tujuan perjalanan saya ke Komodo sangat jelas. Live on board (tinggal di kapal) selama lima hari dan menyelam 15 kali. Perjalanan kali ini telah direncanakan dengan matang oleh saya dan delapan orang teman sejak bulan November 2013. Kami sengaja memilih akhir Maret sampai awal April 2014 sebagai agenda perjalanan kami mengingat curah hujan rendah di daerah Nusa Tenggara Timur pada bulan itu. Awalnya saya berpikir di akhir Maret, Komodo akan bersemi hijau dan saya tidak mungkin bertemu dengan savana cokelat indah khas Komodo yang terkenal. Ternyata salah. Komodo di bulan Maret justru menghadirkan gabungan antara savana dan “musim semi” yang baru mulai.

Trekking di Pulau Rinca
Trekking di Pulau Rinca

Saya dan teman–teman terbang paling pagi dari Denpasar ke Labuan Bajo. Sampai di sana kami disambut udara panas dan matahari terik khas timur Indonesia . Setelah makan siang, kami bertemu dengan tur operator kami, CnD, sebelum akhirnya bertolak ke kapal KM. Embun Laut menggunakan kapal kecil.

Menikmati Pantai Mawan
Menikmati Pantai Mawan

Mengejar matahari terbenam
Mengejar matahari terbenam

Pemilik KM. Embun Laut sekaligus instruktur selam CnD bernama Condo Subagio atau Pak Condo. Kapal tiga level ini dulunya kapal kargo yang kemudian “disulap” oleh Pak Condo menjadi kapal wisata. Terdiri dari lima kamar tamu, dua kamar mandi, Embun Laut mampu mengakomodasi hingga 10 orang tamu. Meskipun lebih populer sebagai tur menyelam, CnD juga menyediakan jasa bagi mereka yang tidak melakukan penyelaman.

Komodo terdiri dari 17 pulau besar dan kecil. Pulau besarnya hanya Pulau Rinca dan Komodo. Di dua pulau inilah habitat utama Komodo. Kami menyempatkan berkunjung ke kantor Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca dan melakukan trekking, melihat pemandangan Gili Lawa Laut dari atas. Ditemani dua jagawana (forest ranger), trekking siang kami menyenangkan dan informatif. Cerita seputar Komodo si kadal besar begitu menarik. Misalnya, Komodo berenang untuk menyeberang dari pulau satu ke lainnya. Mereka menutup lubang hidung dengan lidah mereka yang panjang bercabang sembari berenang.

Penyelaman kami di Komodo berjalan lancar. Kami puas melihat biota laut luar biasa seperti manta ray, ikan napoleon, black tip dan white tip shark, serta beragam karang (coral reef) yang kaya. Kami menyelam ke satu goa kecil dimana konon ikan–ikan berenang terbalik di dalamnya. Tidak hanya di atas permukaan laut, di bawah lautpun Komodo benar-benar indah.

Matahari terbenam
Matahari terbenam

Berkunjung ke Komodo belum lengkap tanpa berjemur di pantai dengan pasir kemerahan. Kami dibawa ke Pantai Mawan dan menikmati pantai itu untuk kami sendiri. Mewah. Sehari sebelum kembali ke Labuan Bajo, kami trekking ke pulau tak berpenghuni demi mengejar matahari terbenam. Langit bersih Komodo memang benar – benar juara! Pagi hari biasanya langit kemerahan ungu, siang hingga sore biru cerah, malam hari penuh puluhan rasi bintang. Liburan kami di Komodo sukses membuat kami semua tidak ingin pulang. Saya sendiri ingin kembali lagi ke Komodo suatu hari nanti. Semoga.

  • Disunting oleh SA 16/06/2014

Memburu Salju Musim Gugur (Bagian 1)

Toko peta tua di Gamla Stan
Toko peta tua di Gamla Stan.

Beberapa perjalanan udara, darat dan air membawa saya ke kota keberangkatan: Stockholm, Swedia, kota berpenduduk 1,2 juta jiwa. Musim gugur berarti kunjungan turis mengalami penurunan, sebelum melonjak lagi pada musim dingin yang sudah di pelupuk mata. Bis yang membawa saya dari Kopenhagen, Denmark itu berhenti di Cityterminalen pada waktu subuh. Hari sangat gelap, suhu dan angin menusuk dan menembus kulit. Hitungan suhu pun masih dianggap relatif “hangat” dengan kisaran 0-10°C, tetapi tentu ini sama sekali tidak hangat buat saya dan mereka yang berasal dari negara tropis.

Saya lihat dompet. Beruntung, saya sempat menukarkan sisa krona Denmark ke krona Swedia. Setelah mampir ke Pressbyrån, sebuah toko kecil serba ada, sarapan roti isi dan segelas susu hangat melegakan tubuh yang kelaparan ini. Jadwal selanjutnya, mencari hostel di bilangan Södermälarstrand, daerah yang cukup sentral di kota Stockholm. Perjalanan dengan kereta bawah tanah untuk satu zona mencabai 40 krona Swedia atau sekitar Rp52.000,-. Tarif ini relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan negara-negara maju lain seperti Jerman atau Amerika Serikat. Apalagi setelah menyadari ternyata jarak yang ditempuh cukup dekat, hanya sekitar tiga stasiun. Beberapa pertanyaan dan salah jalan berikutnya, sampailah saya di hostel yang dibangun dari kapal bermesin uap yang sudah dinon-aktifkan, tetapi masih mengapung di dermaga.

Sejauh mata memandang dari dalam “dek” hostel, saya melihat lanskap kota di seberang teluk Riddarfjärden: Stadshuset, dewan kota dengan menara bermahkotakan simbol negara, The Three Crowns. Central Station mendampingi di sebelah timurnya, dengan latar distrik Norrmalm, pusat kota modern Stockholm saat ini. Setelah itu, pandangan dengan mudahnya beralih ke bangunan- bangunan tua di Gamla Stan, atau secara harfiah berarti “kota tua”.

Sudut jalan Gamla Stan yang romantis
Sudut jalan Gamla Stan yang romantis.

Jika biasanya kota-kota di dunia hanya memiliki marka “semu” yang memisahkan daerah- daerahnya, maka Stockholm memiliki marka yang nyata: air. Kota ini terdiri dari sekian pulau yang dihubungkan oleh jembatan. Gamla Stan terletak di jantungnya, di sebuah pulau kecil yang menjadi cikal bakal kota Stockholm lebih 700 tahun yang lalu. Tak ubahnya seperti Kota Tua di Jakarta, Gamla Stan memiliki banyak sekali struktur bangunan yang masih mempertahankan keasliannya sejak zaman pertengahan. Tataletak jalan-jalannya pun masih menyerupai zaman itu, organik, seperti labirin dan sempit. Tak semua jalan itu bisa dilalui kendaraan bermotor, selain karena daerah konservasi, kebanyakan juga terlalu sempit untuk dilalui. Adalah mudah untuk tersasar di Gamla Stan, namun mudah juga untuk menikmatinya. Beberapa jalan utama padat sekali turis, tapi banyak jalan-jalan “tikus” yang membawa kita ke sisi “halaman belakang”. Beberapa ruas jalan memang memiliki kesan sebagai “tourist trap”, sisi lebih menarik justru jika kita berjalan menyusuri bagian- bagian yang lebih tersembunyi. Tiba-tiba, akan ada toko buku kecil yang menjual buku-buku fiksi berbahasa Swedia maupun Inggris. Di sisi lain, ada toko yang menjual peta dan gambar kuno. Jika jeli, akan ada restoran yang terletak cukup tersembunyi yang menawarkan pengalaman kuliner lebih autentik dan tenang karena jauh dari hiruk-pikuk para turis. Jika Anda ingin mencoba köttbullar, sajian gilingan daging (bakso) ala Swedia yang dilengkapi dengan kacang polong dan kentang tumbuk, coba sambangi salah satu tempat makan di sini, walau mungkin bukan dalam harga yang terbaik.

Gamla Stan
Gamla Stan.

Stockholm menobatkan dirinya sebagai ibukota budaya dari Skandinavia, sebuah wilayah yang mencakup Denmark, Norwegia dan Swedia. Banyak hal membuktikan vonis ini. Stockholm memiliki lebih dari 100 museum, tersebar di berbagai penjuru kota. Rasanya tak salah jika dikatakan penduduk Stockholm punya obsesi terhadap museum, karena hampir setiap topik atau tema dijadikan museum! Di Stadmuseum contohnya, ada pameran temporer mengenai apa isi dapur penghuni kota Stockholm, sampai studi material yang digunakan dalam interior dapur. Berbagai topik menarik disajikan di masing-masing institusinya: maritim, seni abad pertengahan dan kontemporer, musik, militer, sejarah, nautika, anak-anak, biologi, alam, Nobel sampai museum terbuka (bayangkan Taman Mini Indonesia Indah).

Pulau Djurgården, salah satu tujuan utama di Stockholm, merupakan pintu dari Kongligen nationalstadsparken, atau Royal National City Park di mana terdapat sekitar 20 museum. Saya sempatkan menikmati beberapa museum di pulau ini, terutama Vasamuseet, sebuah museum yang menunjukkan betapa dekat masyarakat Swedia dengan kultur maritim. Tema utama museum ini adalah sebuah kapal perang dari zaman pertengahan yang dievakuasi dari perairan kota. Raja Swedia pada saat itu, Gustavus Adolphus (1594–1632), pernah memerintahkan anak buahnya untuk membuat beberapa kapal perang besar yang bertujuan menegaskan eksistensi kekuatan kerajaan Swedia di negara-negara Laut Baltik. Ketika itu, Swedia sedang gencar-gencarnya berperang dengan Polandia, dan merasa cemas dengan perkembangan Perang Tiga-Puluh Tahun di Jerman. Selain itu, Swedia juga merasa was-was dengan musuh bebuyutannya, Denmark, yang dikhawatirkan akan mendominasi lalu lintas di daerah Baltik. Salah satu kapal utama, dan yang paling kuat direncanakan dinamakan Vasa, akan memimpin empat kapal lain. Kapal Vasa adalah kapal paling besar, namun pada hari perdana berlayar, 10 Agustus 1628, kapal ini tenggelam prematur tak jauh dari pulau Djurgården setelah memulai pelayaran dari tempat pembuatannya di Skeppsgarden, dekat Gamla Stan. Dugaannya, kapal ini tenggelam karena konstruksi tubuh kapal yang kurang baik, serta beban yang tidak mencukupi. Kapal menjadi tidak stabil dan terpaan angin mengakhiri riwayatnya. Sedihnya, sebagian besar personilnya juga terpaksa mengakhiri hidupnya.

Vasa Museum
Vasa Museum, tempat melihat kapal-kapal Viking tua.

Dua jam di museum ini membuat saya mengapresiasi bagaimana masyarakat Swedia menghargai sejarahnya, dan yang lebih penting lagi, memonumenkan kesalahan manusianya. Siapakah dari kita yang mau memuseumkan kesalahan untuk belajar dari kesalahan itu?

Walaupun belum puas berkeliling Stockholm, perjalanan harus saya lanjutkan dengan agenda utama: petualangan kereta api memburu salju musim gugur. Menumpang kereta malam, saya berangkat ke Östersund, sebuah kota di negeri Jamtland, sekitar tujuh jam perjalanan ke arah barat laut Stockholm.

  • Artikel ini pernah dimuat di Yahoo! Indonesia Travel tahun 2011, tetapi karena sudah tidak bisa ditemukan lagi, maka saya tulis ulang di sini. Semoga berkenan!

Pemakaman Unik di Trunyan

Deretan ancak saji
Deretan ancak saji.

Pada jalan-jalan edisi Pulau Bali ini, kami mengunjungi satu desa yang memiliki tradisi pemakaman yang tidak biasa. Lokasi desa ini terletak di Pinggir Danau Batur, Kintamani, Bali.

Berangkat dari hotel jam 10.00 pagi, tujuan kami adalah dermaga perahu Danau Batur. Perahu motor memang transportasi yang digunakan untuk mencapai Trunyan. Ketika kami tiba di dermaga segera berdatangan para pemilik perahu motor yang menawarkan jasa penyeberangan menuju desa.

“Ayo pak nyebrang, mumpung masih siang. Mayatnya juga masih baru ini. Baru dua minggu-an,” ujar salah satu pemilik perahu motor.

Istri saya yang sebelumnya tidak tahu mengenai pemakaman Desa Trunyan kaget dan sedikit takut. Dia bingung kenapa bapak ini menyebut kata mayat. Memang, perjalanan ini saya buat sebagai kejutan untuk istri. Harga paket yang ditawarkan menuju desa Trunyan adalah Rp600.000.

Saya sempat bertanya, “Kok, mahal banget pak harga paketnya?”

“Memang segitu harganya kecuali buat rombongan jadi Rp350.000 per pasangan,” jawab bapak pemilik perahu motor.

Pemandangan dari perahu motor

Pemandangan dari perahu motor
Pemandangan dari perahu motor.

Masih kaget dengan harga tersebut, saya dan istri memutuskan menunggu sebentar mungkin saja ada rombongan jadi kami bisa bergabung dengan rombongan tersebut. Menunggu sekitar 20 menit sambil mata awas melihat ke parkiran berharap ada rombongan datang tapi tetap nihil. Saya mendatangi lagi bapak itu untuk tawar-menawar akhirnya kami sepakat berangkat dengan harga Rp500.000. Saya dan istri berpikir, toh, sudah sampai di sini, agak sayang juga jika kami batal menyebrangi desa Trunyan. Setelah menyelesaikan pembayaran kami diberikan jaket pelampung. Nah, di sinilah muncul lika-liku seru perjalanan. Tiba-tiba muncul dua pasangan lagi yang akan bergabung dengan perahu kami. Kami coba mendatangi bapak tersebut untuk bertanya kalau yang berangkat rombongan berarti kami hanya perlu membayar Rp350.000, tetapi dia bersikeras dengan memberikan penjelasan yang tidak masuk di akal dan berkilah. Sebagai pejalan, memang harus berhadapan dengan hal-hal seperti ini. Tetapi, kami memilih melanjutkan perjalanan.

Tengkorak dan sesajen
Tengkorak dan sesajen.

Mayat di dalam anyaman
Mayat di dalam anyaman.

Perjalanan menyeberang danau disambut dengan dingin angin Gunung Batur. Istri saya musti merapatkan jaketnya karena dinginnya suhu pegunungan. Danau Batur sendiri berwarna coklat agak kehijauan dimana cukup banyak ditemui eceng gondok di perairan danau tersebut. Setelah berlayar 20 menit akhirnya kami merapat ke jeti kayu, dibantu dua orang penjaga pemakaman desa Trunyan. Ada kejadian unik di gerbang pemakaman desa Trunyan, kami diminta untuk membayar retribusi sebesar Rp20.000. Saya menolak membayar biaya ini karena sebelumnya kami dijanjikan tidak perlu membayar apapun lagi setelah membayar biaya boat di dermaga. Dengan sedikit berdebat kedua bapak tersebut akhirnya setuju kalau kami tidak perlu membayar apapun lagi.

Sisa-sisa tulang manusia berserakan (bersama sampah!)
Sisa-sisa tulang manusia berserakan (bersama sampah!).

Tengkorak-tengkorak dijejer rapi
Tengkorak-tengkorak dijejer rapi.

Tibalah kami di gerbang pemakaman Desa Trunyan, suasana mulai terasa agak mistis di mana aroma dupa yang dibakar di depan gerbang sudah menyebar di hidung. Setelah menapaki undakan tangga kami dapat melihat di sebelah kanan kami ada pohon besar. Pohon tersebut mungkin sudah berusia ratusan tahun dan pohon itulah lambang desa ini. “Tarumenyan” adalah nama pohon besar ini. “Taru” berarti pohon dan “menyan” berarti wangi jadi tarumenyan berarti pohon yang wangi. Pohon inilah yang dipercaya menyerap bau dari mayat-mayat yang dimakamkan. Di bawah pohon tersebut dijejerkan tengkorak-tengkorak manusia.

Tengkorak–tengkorak ini adalah mantan penduduk desa yang sudah meninggal dan dimakamkan di sini. Di sebelah kiri undakan tangga dapat dilihat jejeran anyaman bambu yang di dalamnya terdapat mayat-mayat dengan berbagai kondisi bergantung dari lama kematian mayat-mayat tersebut. Waktu kami datang, kami melihat mayat yang masih baru di mana pada mayat tersebut masih terdapat kulit kepala sedangkan di sebelahnya ada mayat lain yang sudah jadi tengkorak. Di dalam anyaman bambu itu mayat-mayat juga dibekali makanan dan minuman kesukaannya ketika hidup di dunia. Anyaman-anyaman bambu inilah makam bagi mayat-mayat di Desa Trunyan. Mayat-mayat tersebut tidak dikuburkan atau di-“aben” tetapi hanya diletakkan begitu saja didalam anyaman bambu. Hal yang menakjubkan memang tidak ada bau sama sekali di pemakaman ini.

Pengunjung dapat bebas berfoto di lokasi ini tetapi tetap perhatikan langkah kaki kita karena mungkin saja kita menginjak potongan tulang manusia, seperti yang dialami Pak Made, pemandu kami di desa Trunyan. Waktu itu kami meminta Pak Made untuk memotret kami berdua dengan latar belakang pohon Trunyan. Anehnya, Pak Made ini tidak mau mundur dari tempat berpijaknya untuk mengambil sudut gambar yang lebih bagus. Heran mengapa Pak Made tidak mau mundur untuk mendapat sudut yang lebih baik saya mendatangi Pak Made untuk mengarahkan ternyata di belakangnya terdapat banyak tumpukan tulang belulang yang mungkin terinjak jika dia lebih mundur lagi.

Setelah melihat-lihat beberapa saat dan mendengar prosesi pemakaman jenazah di Desa Trunyan kami diberitahu bahwa hanya penduduk yang meninggal dengan wajar dan telah dewasa atau anak kecil yang gigi susunya telah tanggal saja yang dimakamkan di sini, atau dikenal dengan nama “Sema Wayah” oleh penduduk sekitar. Sedangkan bayi yang meninggal akan dikuburkan di “Sema Muda”, untuk penduduk desa yang meninggal secara tidak wajar kecelakaan ataupun dibunuh akan dimakamkan di “Sema Bantas”. Ketiga pemakaman tersebut lokasinya berbeda-beda sebagaimana sudah diatur oleh aturan adat di Desa Trunyan. Prosesinya mayat akan dibawa dari desa dengan menggunakan boat dan diikuti keluarga dengan boat yang berbeda. Berbaliklah kami dari Sema Wayah menuju dermaga keberangkatan kami tadi sambil berpikir bahwa Indonesia ini memang unik.

  • Disunting oleh SA 23/04/2014
  • Tips: Jika ingin mengunjungi desa Trunyan, jadikan perjalanannya satu paket dengan Kintamani dan Danau Batur.

Sepenggal Kisah Fotografer dari Siem Reap

Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.
Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.

Pilihanlah mempertemukan saya dengan seorang Kimleng Sang, dan oleh karenanya saya sama sekali tidak merasa menyesal.

Selesai menjelajah India, saya selalu terpikir untuk menjelajahi Kamboja, tepatnya untuk melihat Angkor Wat yang sangat tersohor itu, walau agak ragu. Jujur saja, sejak awal saya memang tidak terlalu menyukai kuil Buddha yang menurut saya terlalu biasa bila dibandingkan dengan kuil Hindu. Namun demikian, ingatan mengenai film Tomb Rider memang sudah terpatri sedemikian rupa, sehingga cukup untuk menggeret langkah saya untuk terbang ke sana.

Perkenalan saya dengan Kim diawali dengan rangkaian pencarian akan seorang pemandu tur di Siem Reap. Bagi saya ini penting, karena saya memang berkelana seorang diri. Beberapa nama telah saya kantongi dan setelah membaca serta menelusuri lebih lanjut, saya memutuskan untuk menghubungi Kim melalui email. Gayung bersambut, Kim bersedia untuk memandu saya selama dua hari untuk melihat seluruh kompleks Angkor dan mengabadikannya dengan kamera.

Kimleng berpose di salah satu kuil.
Kimleng berpose di salah satu kuil.

Angkor Wat.
Angkor Wat.

Angkor Wat dan danau kecil di depannya.
Angkor Wat dan danau kecil di depannya.

Hari itu pun tiba. Kim dengan sabar telah menunggu saya di lobi hotel sejak pukul delapan pagi sesuai dengan rencana sebelumnya. Tuk-tuk miliknya tampak bersih beralas selembar kain putih pada joknya. Saya pun duduk dengan nyamannya. Caranya mengendarai pun amat hati-hati sambil tidak lupa berhenti untuk menunjukkan tempat-tempat yang layak untuk difoto.

Kim bukan hanya supir tuk-tuk, namun juga fotografer. Nikon D5000-nya setia berada dalam gendongan bahu kanannya sambil menemani saya menyusuri keseluruhan kompleks Angkor Wat. Dengan sabar ia akan membantu memperbaiki kualitas foto saya dengan mengganti pengaturan kamera Nikon D1700 yang saya bawa. Di beberapa tempat yang memerlukan lensa wide angle dan saya tidak memilikinya, ia akan meminjamkannya dengan senang hati. Saya yang penasaran akan isi tas ranselnya, semakin kaget sewaktu mengetahui ia membawa beberapa lensa, pembersih lensa, tripod dan bahkan perlengkapan untuk melindungi kamera bila hujan. “Supaya Madam bisa motret dengan nyaman”, ujarnya perlahan. Tak lama ia pun menawarkan handuk dan air mineral dingin. Usut demi usut rupanya Kim memiliki semacam kotak pendingin kecil di dalam tuk-tuknya.

Kim sangat mengenal seluk-beluk daerah Angkor Wat dan tepatnya mengetahui tempat-tempat terbaik untuk fotografi. Hal terakhir ini yang membedakannya dengan pemandu lain, apalagi bagi saya yang memang sengaja datang untuk memotret (dan dipotret sebagai bonusnya). Kompleks Angkor yang sangat ramai itu hampir tidak pernah terekam dalam hasil bidikan saya. Kim tahu kapan persisnya kami harus berada agar terhindar dari kerumunan. Bayangkan, dalam keramaian di kuil Bayon pun, kami mengetahui jalan setapak yang memisahkan kami dari pengunjung lain. Kim pula yang dapat membuat saya menempuh jalan berlumpur, memanjat reruntuhan, melompat sana-sini untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal. Semut-semut manis yang menggerogoti kaki kami tidak digubrisnya. Saya tidak hanya memerlukan jasanya untuk menjelaskan sejarah bangunan yang kami kunjungi, namun juga ‘mata’ fotografer yang dimilikinya. Kami dapat berlama-lama memotret reruntuhan kuil yang berlumut, karena kami terbuai akan kekontrasan warnanya. Sebagai gantinya, tidak jarang Nikon milik saya berpindah ke tangannya, agar saya dapat diabadikan dengan leluasa. Kim amat hobi memotret orang, dan untungnya saya hobi berpose, jadilah kami pasangan sepadan.

Sambil menyerumput kopi saat makan siang, Kim pun menuturkan kisah hidupnya hingga menjadi seperti sekarang. Kimleng Sang dilahirkan 35 tahun lalu di sebuah desa kecil di provinsi Takeo, dekat perbatasan Kamboja dengan Vietnam. Latar belakangnya yang hanya pendidikan setingkat SD, membuatnya menjadi buruh kasar untuk membantu ekonomi keluarganya yang memang pas-pasan. Takdirlah yang membawanya untuk menjadi petugas keamanan di Phnom Penh sambil menyempatkan untuk belajar bahasa Inggris. Akhirnya ia memutuskan untuk mengadu nasib di Siem Reap tahun 2000 dan membeli tuk-tuk dengan seluruh uang tabungannya. Semakin lama bahasa Inggris Kim pun terasah dengan banyaknya turis asing yang memakai jasanya. Kemampuan fotografinya baru tergali beberapa tahun terakhir, saat ia memiliki beberapa klien yang memang seorang fotografer. Seorang fotografer bernama David Bibbing dari Kanada mengajarinya cara memotret. Penyuntingan foto juga dipelajarinya, hingga kini ia masih sering berkonsultasi bila memiliki kesulitan saat menyunting fotonya. David pula yang memberinya kenang-kenangan berupa sebuah kamera D-SLR.

Berawal dari itu semua, kini Kim menabung untuk membeli kamera Nikon yang lebih canggih. Dengan memungut biaya jasa US$40 untuk sehari penuh tur di Angkor Wat dan US$50 untuk Banteay-Srei, hal ini tentu saja tidak sukar baginya. Jasa Kim ini memang sedikit mahal dari jasa tuk-tuk yang rutin ditawarkan oleh hotel yang saya tempati. Untuk tur Angkor sekitar US$15 dan ekstra biaya untuk pemandu US$22, jadi total yang mereka biasa tawarkan US$37. Namun dengan selisih US$3 saja, saya telah mendapatkan supir tuk-tuk, pemandu dan fotografer pribadi. It’s more than just good deal to me!

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Perjuangan Kim berbuah manis. Kini namanya sudah cukup terkenal di berbagai forum dan banyak fotografer asing yang mengenalnya. Tidak jarang pula pelancong yang sengaja memakai jasanya agar dapat dipotret dengan leluasa. Bagaikan membawa seorang fotografer pribadi ke dalam kompleks Angkor. Kim dapat mengumpulkan foto-foto hasil bidikannya dalam USB flashdisk agar dapat langsung diterima oleh kliennya setelah selesai tur. Dalam sebulan Kim dapat memperoleh klien 7-10 orang. Oleh karenanya, jauh-jauh hari biasanya para klien telah mengontaknya.

Hasil jepretan Kimleng untuk saya.
Hasil jepretan Kimleng untuk saya.

Foto-foto hasil bidikan Kim sendiri tersimpan dengan rapi dalam situs pribadinya. Berbagai ulasan mengenainya dapat ditemukan di situs semacam Trip Advisor. Sebagian besar memuji sikapnya yang sopan, ramah, dan selalu bersedia membantu dalam hal apapun. Saya selalu ingat akan satu ulasan yang menyebutkan saat seorang turis bermaksud memotret Angkor di kala matahari terbit. Tanpa sengaja, filter lensanya terjatuh ke dalam pinggir danau saat ia bermaksud mengabadikan refleksi Angkor dalam air. Turis ini pun merasa bahwa filter ini tidak akan ditemukan dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Yang membuatnya kaget adalah saat Kim menemuinya kembali saat membawa filter tersebut di siang hari. Rupanya Kim kembali mendatangi danau yang sama untuk mencari filter tersebut. Ia beralasan bahwa bila ia mencarinya saat terjatuh tadi, gerakan tubuhnya di dalam air akan mengganggu riakan serta menimbulkan distorsi. Hal ini tentu saja akan mengganggu para fotografer yang memang saat itu sedang duduk-duduk untuk mengabadikan refleksi Angkor dalam air sambil menunggu matahari terbit.

Dua hari bersama Kim membuat perjalanan saya sangat berkesan. Dari Kim pula saya mengetahui bahwa tuk-tuk dalam bahasa Khmer sebenarnya disebut remork motor, namun para turis lebih suka menyebutnya tuk-tuk. Saya selalu mengingatnya setiap kali saya melihat hasil-hasil bidikan saya selama di Angkor. Saya tidak hanya menemukan seorang supir tuk-tuk yang ramah, namun juga seorang fotografer yang handal dan teman perjalanan dengan pribadi yang menyenangkan. Ya, sebuah pilihan lah yang membawa saya ke Siem Reap dan mengenal seorang Kimleng Sang, bukan Angelina Jolie.

  • Disunting oleh LEN 17/12/2013

Dataran Tinggi Dieng: Dari Telaga hingga Puncak Gunung

Kabut menyeringai Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu
Kabut menyeringai Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu.

Suara meraung-raung seketika terdengar memekakkan telinga ketika supir memainkan gas dengan kaki kanannya. Asap hitam pekat pun menandai kualitas kendaraan yang saya tumpangi. Tanjakan cukup curam menanti di hadapan. Sebuah tanda peringatan dengan gambar jalan menanjak kembali mengingatkan pengguna jalan untuk selalu berhati-hati. Saya kemudian memperhatikan jalan sembari sesekali melirik supir di sebelah kanan yang terlihat tenang mengemudi sembari menimpali obrolan sang kernet.

Untuk dapat mencapai Dataran Tinggi Dieng, pelancong dapat menggunakan beberapa rute, misalnya dari Kabupaten Banjarnegara atau Wonosobo. Namun yang menjadi favorit wisatawan adalah rute dari Kabupaten Wonosobo. Entah karena sarana transportasi yang lebih baik atau memang merupakan jalur wisata sejak lama. Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kita akan dihadapkan perjalanan menanjak berliku yang hanya cukup untuk dilalui dua kendaraan. Bahkan di beberapa titik, salah satu kendaraan harus berhenti terlebih dahulu agar kendaraan dari arah berlawanan dapat lewat duluan.

Telaga warna dan desa di sekitarnya
Telaga warna dan desa di sekitarnya.

Berpapasan dengan warga
Berpapasan dengan warga.

Hamparan bunga-bunga
Hamparan bunga-bunga.

Terlepas dari itu, kita disuguhi pemandangan alam yang indah. Lereng pegunungan yang tampak seperti undakan hijau yang tertata rapih itu adalah tebing-tebing tanah yang disulap menjadi lahan pertanian. Sungguh pemandangan yang menakjubkan, meskipun kadang membuat bertanya-tanya bila musim hujan tiba: ancaman tanah longsor bisa menjadi masalah besar.

Angin menyeruak masuk ke dalam bis dari sela-sela kaca jendela. Sejuk. Ketinggian sudah mencapai lebih dari 1700 mdpl. Sore itu langit tampak cerah. Warna biru memenuhi langit. Kurasakan senyumku mengembang sendiri.

Tidak berapa lama bis kecil ini tiba di pertigaan Dataran Tinggi Dieng. Walau gapura sudah terlihat beberapa waktu lalu, namun tempat yang dituju masih harus menempuh waktu perjalanan sekitar 10 menit lagi. Dan sekarang, aku berdiri sendiri di tepi jalan yang cukup ramai oleh lalu lalang petani yang pulang dari ladang. Bis kecil itu kembali melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhirnya di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, sebuah daerah perbatasan yang tidak kalah menariknya dengan kompleks wisata Dataran Tinggi Dieng di Kabupaten Wonosobo ini. Saya membayar Rp10.000 untuk perjalanan ini.

Telaga warna Telaga warna.

Pepohonan dan langit biru
Pepohonan dan langit biru.

Ada beberapa pilihan penginapan di kawasan ini. Mulai dari harga Rp60.000 hingga beberapa ratus ribu. Tentunya dengan fasilitasnya masing-masing. Pilihan saya jatuh pada yang paling murah. Kamar saya berukuran kira-kira 3×3 meter, berisi satu buah tempat tidur yang cukup untuk dua orang dan satu buah meja kecil. Kamar mandi berbagi dengan penghuni lain. Tentunya tanpa air panas.

Saya segera melangkahkan kaki menuju ke Telaga Warna yang pesonanya sudah terkenal hingga ke mancanegara ini. Cuaca cukup bersahabat sore ini. Setelah berjalan kira-kira 1,4 km, saya tiba di Telaga Warna. Warna hijau tosca yang terlihat di permukaan telaga ini sungguh sangat menawan hati. Kabut tipis yang kadang terlihat mengambang di permukaan air memberikan kesan mistis. Udara sejuk mendekati dingin semakin menambah istimewa tempat ini. Jalan setapak yang mengelilingi telaga, pepohonan yang rindang memberi kenyamanan bagi pelancong yang hendak menikmati kesejukan dan keindahannya.

Telaga Warna sejatinya adalah danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang. Kandungan mineral sulfurnya yang cukup tinggi menyebabkan pewarnaan telaga ini bermacam-macam. Uniknya, hanya dibatasi oleh “pulau” kecil rerumputan, ada sebuah telaga lagi yaitu Telaga Pengilon. Berbeda dengan “tetangganya yang berwarna”, telaga ini bening seperti warna telaga pada umumnya.

Berjalan-jalan mengelilingi Telaga Warna ini sungguh sangat menyenangkan hati, terutama bila menyempatkan diri untuk sedikit berjalan menanjak ke puncak bukit. Titik paling bagus untuk menyaksikan keseluruhan bentuk telaga. Ada dua lokasi yaitu dari sisi dalam bagian selatan telaga mengikuti jalan berundak menanjak dan sisi luar bagian utara. Khusus untuk bagian luar ini, di puncak bukitnya ada area cukup luas untuk sekedar duduk bersantai bersama kawan seperjalanan. Sayangnya tidak diperbolehkan untuk berkemah di area Telaga Warna. Mungkin untuk mengurangi risiko kebakaran seperti yang terjadi sekitar 10-11 tahun yang lalu.

Di area parkir pun tersedia beberapa kios-kios yang menjajakan aneka panganan tradisional dan minuman hangat. Tempe berbalut adonan tepung yang biasa disebut tempe kemul yang masih panas sungguh sangat nikmat bersama dengan segelas teh panas manis di daerah dingin seperti ini.

Malam ini saya tidur lebih awal. Pukul tiga pagi saya harus memulai pendakian menuju puncak Gunung Prahu, bersama dengan Rafiq, salah satu pemuda setempat. Saya tertarik untuk menyaksikan langsung matahari terbit dan gugusan gunung-gunung di Jawa Tengah dan gumpalan awan. Ya, Gunung Prahu ini memang masih belum menjadi tujuan popular bagi para pelancong yang datang ke kawasan Dataran Tinggi Dieng. Menurut Rafiq, lebih banyak para pendaki gunung yang datang ke sini. Jalan menanjak sekitar dua jam mungkin yang membuat orang segan menyambangi gunung yang memiliki tinggi 2.565 meter di atas permukaan laut ini.

Senja di antara bukit
Senja di antara bukit.

Berjalan turun
Berjalan turun.

Melewati jalur tanjakan pertama, kami beristirahat sejenak, dan berbagi air minum. Sembari mengatur nafas, saya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat agak terbuka ini. Senyum saya seketika mengembang melihat titik-titik cahaya dari kejauhan dan ketinggian yang membentuk sebuah koloni seperti kunang-kunang yang bergerombol. Kumpulan titik-titik cahaya yang berasal dari rumah-rumah desa itu terhubung dengan lampu jalanan yang berujung pada kumpulan titik-titik cahaya lagi. Gelapnya malam, terangnya cahaya bintang di langit dan terpaan angin dingin di wajahku seketika menyeruakkan perasaan bahagia. Bukankah bahagia itu sederhana?

Tiga menit berlalu. Angin dingin menggigit seperti mengingatkanku untuk kembali berjalan. Tanjakan lain menunggu di depan. Setelah berjalan sekitar satu jam, tibalah kami di puncak Gunung Prahu. Titik puncak pertama ini ditandai dengan beberapa tiang menara repeater milik beberapa institusi pemerintah seperti TNI dan Polri untuk keperluan komunikasi radio mereka. Lokasi Gunung Prahu yang terletak di dataran tinggi perbatasan beberapa kabupaten sangat membantu melancarkan signal komunikasi.

Sayup-sayup saya mendengar suara dari masjid. Kulirik jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 04.00. Sepertinya kami berjalan terlalu cepat, sehingga kami masih menunggu harus menunggu matahari terbit. Rafiq lalu mengajak untuk mulai berjalan menyisiri punggungan puncak gunung menuju lokasi paling baik menyaksikan matahari terbit. Tidak sampai 15 menit kami tiba di tempat yang seperti berbukit-bukit luas ala savanna di perjalanan dari Sembalun menuju Plawangan Sembalun di Gunung Rinjani.

Di kawasan puncak Gunung Prahu ini hampir tidak ada titik untuk berlindung dari terpaan angin kencang. Selama kurang lebih satu jam kami dihantam kencangnya angin di puncak Gunung Prahu. Semburat garis merah perlahan mulai terlihat. Siluet gunung dari kejauhan mulai tampak. Kabut yang menyelimutinya pun mulai terlihat. Warna hangatnya mentari mulai memenuhi permukaan rerumputan dan bunga yang bertebaran di permukaan tanah. Samar-samar bangunan rumah di desa perlahan terlihat. Begitu pula dengan Telaga Warna.

Sekitar pukul 05.30, matahari mulai terlihat. Mula-mula hanya terlihat setengah hingga akhirnya bulat utuh seperti kuning telur mata sapi raksasa yang memenuhi siklus harian alam semesta. Semuanya terjadi dalam hitungan menit. Bisa kurasakan senyumku mengembang dari balik kamera yang sedari tadi sudah kupersiapkan di atas kaki tiga. Jemari saya yang beku sejak tiba di sini sudah tidak kuhiraukan lagi. Ujung jari telunjukku sibuk menekan tombol rana, sembari melawan kencangnya angin yang menggoyangkan kameraku. Rafiq pun sibuk mengambil gambar dengan kamera dari telepon selulernya. Untuk ditunjukkan kepada tamu-tamunya, begitu katanya ketika aku mengambil gambarnya.

Saya menyambut pagi dengan perasaan senang. Ketika pagi sudah terang, terlihat jelas gunung-gunung di Jawa Tengah dan Telaga Warna yang warna hijaunya tampak kecil seperti kolam ikan yang jarang dibersihkan. Bukit-bukit yang berjejer bergelombang mengingatkan saya akan serial animasi anak-anak Teletubbies. Saya berusaha untuk menjaga langkah kaki agar tidak menginjak bunga daisy yang banyak ditemukan di area puncak gunung ini.

Pukul 06.30 kami bersiap untuk turun. Berjalan dengan riang seperti anak kecil yang hendak main ke sungai beramai-ramai. Tampak dari kejauhan jalur pendakian berkelok-kelok. Sesekali Rafiq dan saya berlari menuruni jalur menurun ini. Pemandangan menakjubkan dengan udara segar pegunungan sangat sayang untuk ditinggalkan. Sungguh, saya tidak ingin turun dan meninggalkan pagi dari Gunung Prahu.

  • Disunting oleh LEN 25/11/2013

Museum Fujiko F. Fujio: Bernostalgia dengan Doraemon

“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali…”

Familiar dengan lagu di atas? Mungkin anda sama seperti saya, tumbuh dan besar dengan cerita-cerita Doraemon, yang memungkinkan daya khayal kita tumbuh tinggi tanpa batas. Zaman saya kecil, komik Doraemon itu salah satu bacaan favorit selain rajin menonton film kartunnya di televisi. Sampai sekarang pun rasanya saya masih menikmati cerita-cerita Doraemon terutama seri Doraemon Petualangan. Hanya di seri Doraemon Petualangan, Nobita tiba-tiba menjadi keren dan berubah jadi sosok pahlawan! Saya pun sering berandai-andai, jika saja pintu ke mana saja itu nyata, alangkah menyenangkan. Tinggal sebut mau ke mana, dalam sekejap mata bisa sampai. Ah, Doraemon…

Antrian shuttle bus Doraemon Museum di stasiun Noborito.
Antrian shuttle bus Doraemon Museum di stasiun Noborito.

Kafetaria museum
Kafetaria museum.

Patung Doraemon, Nobita dan Piisuke.
Patung Doraemon, Nobita dan Piisuke.

Kecintaan saya terhadap anime ini membuat saya merasa wajib untuk mengunjungi Fujiko F. Fujio Museum di Jepang. Saya sendiri sebetulnya lebih senang menyebutnya Doraemon Museum, karena sebagian besar isi museum itu menceritakan tentang Doraemon. Kebetulan letaknya juga tidak terlalu jauh dari Tokyo, hanya sekitar 20 menit dari stasiun Shinjuku dengan Odakyu line, jadi masih terjangkau. Tiket masuknya tidak dijual langsung di museum, tetapi hanya bisa dibeli di Lawson yang ada di Jepang. Harga tiketnya 1000 Yen per orang. Jadi jika berniat berkunjung ke museum ini, sesampainya di Jepang sebaiknya langsung menuju Lawson terdekat untuk pemesanan tiket, agar tidak kehabisan. Pihak museum membatasi jumlah tiket setiap jamnya untuk memberikan kenyamanan terhadap pengunjungnya.

Meskipun begitu, saya tidak menyangka animo pencinta Doraemon sedemikian besarnya. Atau mungkin karena saya berkunjung di hari Sabtu. Di saat ujung minggu seperti ini, pengunjung museum sangat padat, kebanyakan adalah keluarga dengan anak-anaknya, jadi saya tidak bisa menghabiskan waktu agak lama di satu objek tertentu karena antrian yang terus berjalan.

Museum ini menyediakan shuttle bus dari stasiun Noborito dengan tarif 200 Yen sekali jalan. Tetapi karena saya punya waktu lebih banyak, saya memutuskan untuk turun di stasiun Mukogaoka Yuen dan menuju museum dengan berjalan kaki. Begitu keluar dari stasiun, saya seperti berada di sebuah kota kecil yang tertata apik. Saya pun memutuskan mengikuti jalan besar seperti yang tertera pada peta, dan menemukan papan petunjuk arah menuju museum. Di tengah jalan, saya bertemu sepasang remaja yang juga menuju museum Doraemon, mengingatkan saya akan Nobita dan Shizuka.

Jalan menuju ke museum
Jalan menuju ke museum.

Gian Soft Cream
Tertarik mencoba “Gian Soft Cream”?

Cinderamata Doraemon
Cinderamata Doraemon.

Sesampainya di museum, ternyata sudah banyak orang yang mengantri. Saya pun segera masuk barisan karena jam sudah menunjukkan lewat pukul 12, yakni jam yang tertera di tiket masuk yang saya beli. Sebelum masuk ke area museum, kita akan dibekali dengan pemandu audio elektronik dengan pilihan bahasa Jepang atau bahasa Inggris. Oh iya, tidak diperbolehkan membawa makanan, minuman ataupun mengambil foto di dalam museum.

Di lantai pertama kita akan disuguhi gambar-gambar asli karya Fujiko F. Fujio, yang aslinya bernama Hiroshi Fujimoto, dan cerita dibalik karya tersebut. Contohnya, ada satu gambar tentang dewi dalam salah satu cerita Doraemon dengan rambut panjang berwarna hijau terang, rupanya warna hijau itu adalah warna yang salah digunakan oleh asisten beliau, namun akhirnya melihat hasilnya yang cukup bagus malah digunakan sebagai warna utama. Ditampilkan juga deretan laci yang dibangun sampai ke atap bangunan dan diberi nomor. Itulah cara beliau menyimpan semua karya aslinya selama ini. Disimpan dalam laci kayu di dalam ruangan dengan temperatur tertentu. Saya takjub melihat laci sebanyak itu!

Selepas ruang pameran, ditampilkan sejarah perjalanan Fujiko F. Fujio bagaimana beliau menjadi seorang seniman manga. Lahir di tahun 1933, beliau memulai debut karya pertamanya di tahun 1951. Doraemon sendiri mulai diciptakan sekitar tahun 1961. Dipamerkan juga barang-barang bersejarah seperti paspor yang dulu beliau pakai dan foto-foto beliau jaman dahulu. Kemudian, yang juga sangat menarik, dipamerkan meja kerja beliau ketika membuat semua karya-karyanya. Bahkan saya juga baru tahu bahwa beliau selalu melakukan riset terlebih dahulu sebelum membuat seri-seri Doraemon Petualangan itu. Ingat cerita Nobita dan Doraemon yang berteman dengan Piisuke, hewan jinak mirip dinosaurus yang dipelihara Nobita? Ternyata ada banyak sekali buku-buku tentang dinosaurus dan patung-patung hewan jaman purba di meja kerja Fujiko F. Fujio!

Naik ke lantai dua, kita akan menjumpai ruang pameran berisi cerita-cerita Doraemon seri petualangan, sembari mendengar penjelasan melalui pemandu audio elektronik. Saya jadi mengingat-ingat seri Doraemon yang sudah pernah saya baca. Di lantai ini pula ada satu bagian yang membuat saya terharu, diceritakan tentang keseharian Fujiko F. Fujio diluar pekerjaannya, yakni keseharian beliau sebagai seorang suami dan ayah. Bagaimana beliau masih menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk putri-putrinya (beliau punya tiga putri), dan bermain bersama mereka. Di satu video, Mrs. Fujimoto (istri Fujiko F. Fujio) mengakui bahwa suaminya betul-betul memisahkan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadinya. Bahkan ketika anak-anaknya masih kecil, mereka tidak mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang seniman manga terkenal. Ada satu surat yang ditulis oleh Mrs. Fujimoto ditujukan kepada suaminya, yang isinya membuat saya hampir menangis. Di surat itu, Mrs. Fujimoto menuliskan kerinduannya terhadap suaminya, (Fujiko F. Fujio meninggal tahun 1996), dan menyatakan bahwa dia yakin spirit suaminya hadir bersama karya-karyanya yang sampai sekarang masih menginspirasi jutaan anak di dunia.

Lapangan bermain Doraemon
Lapangan bermain yang biasa digunakan karakter-karakter di Doraemon.

Pintu Ke Mana Saja
“Pintu Ke Mana Saja”.

Bangkitkan nostalgia masa kecil di sini
Bangkitkan nostalgia masa kecil di sini.

Tampak depan museum yang modern
Tampak depan museum yang modern.

Nah, di lantai ketiga yang merupakan lantai paling atas, disediakan tempat bermain di bagian atap di mana kita bebas mengambil foto sebanyak-banyaknya dengan ‘Doraemon’. Apabila lapar, terdapat kafe dan makanan makanan untuk dibawa keluar. Selesai makan dan puas berfoto dengan Doraemon, saatnya kembali turun ke lantai dasar dan berbelanja suvenir di toko cinderamata. Di sini tersedia berbagai macam barang dengan karakter buatan Fujiko F. Fujio. Agak terkejut juga melihat banyak barang dengan gambar Giant, ternyata dia populer juga, ya.

Misi tercapai. Selesai sudah kunjungan singkat saya ke museum ini. Sejenak saya seperti kembali ke masa lalu, bernostalgia dengan semua cerita-cerita Doraemon yang dulu sering menemani saya. Menghidupkan kembali mimpi-mimpi semasa kecil dulu. Doraemon merupakan anime terkenal dan abadi. Saya pun kembali menuju stasiun, kali ini menumpang shuttle bus (yang interiornya juga dipenuhi gambar Doraemon!) dan membawa saya menuju stasiun Noborito, sembari berdendang sepanjang jalan.

“La, la, la… Aku sayang sekali… Doraemon…”

  • Disunting oleh LEN 28/11/2013

Sebuah Kuil bagi Sang Surya

Kuil dari kejauhan
Kuil dari kejauhan.

Nun jauh di Orissa/Odisha, sekitar dua jam perjalanan dari kota Bhubaneswar, sebuah kuil megah berdiri di daerah yang dinamakan Konark. Konark yang juga dikenal dengan nama Konaditya atau Arkakshetra berasal dari turunan dua kata; “Kona” yang berarti sudut dan “Arka” yang berarti surya.

Berbagai misteri dan cerita mengiringi perjalanan saya memasuki kuil ini. Konark tidak dapat dipisahkan dengan cerita Samba, anak dari Krishna yang menderita lepra dan menjadi sembuh akibat bantuan dari dewa matahari. Lambat laun makin terurai legenda Dharmapada mengenai seorang raja dari abad ke-13 Masehi bernama Narasimhadeva I yang memerintahkan pendirian sebuah kuil bagi dewa matahari. Konark yang juga dikenal sebagai pagoda hitam dibangun dengan bulir-bulir keringat 12.000 pemahat terbaik di wilayah ini yang bekerja di bawah ancaman hukuman mati bila tidak mampu menyelesaikan perintah raja. Kebengisan Narasimha makin terasa saat perintah penyelesaian kuil dipercepat dari jadwal. Sri Samantaray sebagai kepala pemahat mengakui ketidaksanggupannya, sehingga berakhir dengan pemecatan. Kisah bergulir di mana kepala pemahat yang baru bernama Bisu akhirnya berhasil menyelesaikan pembangunan kuil, namun satu hal tertinggal, mahkota dari kuil (“kalasa“) selalu gagal diletakkan di tempatnya. Tidak seorang pun pemahat mengetahui solusinya.

Pintu gerbang
Pintu gerbang.

Sebelum pagi tiba, kuil harus sudah harus diselesaikan. Alkisah seorang anak berusia 12 tahun, anak dari Bisu memberanikan diri untuk menolong. Dalam pemikirannya, ia mengetahui solusi bagaimana mahkota diletakkan setelah mempelajari manuskrip kuil. Ia pun mendaki bangunan kuil dan meletakkan kalasa di tempatnya tepat di penghujung malam. Berita ini sampai ke telinga raja dan menyebabkan ketakutan di antara para pemahat yang mengira raja mungkin akan marah bila mengetahui kuil justru diselesaikan oleh orang lain. Sebagai konsekuensi, bocah tersebut, Dharmapada, akhirnya melakukan bunuh diri agar raja tidak menghukum mati pemahat lain. Raja yang mendengar hal ini langsung merasa bahwa kuil ini membawa sial (“asuva“) dan seluruh penjuru negeri diperintahkan untuk tidak menyembahnya.

Legenda Dharmapada bukanlah satu-satunya cerita yang konon menyebabkan runtuhnya kejayaan kuil ini. Sebuah kisah narasi dari Sri Radhanath Ray mengungkapkan seorang sakti bernama Sumanyu Risi mengutuk dewa matahari karena menggoda anak perempuannya yang bernama Chandrabhaga. Para sejarawan sendiri lebih mempercayai bahwa penyerangan Kalapahad lah yang melatarbelakangi kehancuran kuil ini. Sebagai seorang raja muslim, penyerangan kuil dimulai dengan penghancuran Dadhinauti yang menyebabkan kuil roboh dan berbagai dindingnya hancur. Pahatan dewa surya berhasil diselamatkan para pandeta di Konark denga cara menyimpannya beberapa tahun di bawah pasir dan selanjutnya dipindahkan ke kuil Jaganath di Puri. Cerita lain mengungkapkan patung dewa ini sekarang tersimpan di museum nasional di Delhi. Pemindahan figur dewa dari Konark ini menyebabkan Konark tidak lagi dianggap sebagai tempat untuk ziarah bagi pemujanya saat itu dan kehilangan kejayaannya. Konark menyepi menjadi sebuah runtuhan kuil yang tersembunyi selama beberapa tahun lamanya di balik hutan di Orissa.

Sosok campuran singa, gajah dan manusia
Sosok campuran singa, gajah dan manusia.

Aura misteri semakin kental saat saya memasuki gerbang kuil ini dan menyelami secara dekat bangunan megah ini. Kedua pahatan berwujud seperti singa menyambut saya di muka gerbang ini. Posisi patung singa ini mencengkeram gajah yang sedang menduduki pahatan berwujud manusia. Dipercaya bahwa singa melambangkan kesombongan dan gajah melambangkan uang, sehingga keduanya lah yang mampu menghancurkan manusia. Struktur Konark yang kokoh berpadu harmonis dengan dalamnya filosofi dalam arsitektur yang terkubur di dalam bebatuan yang membangunnya. Konark berwujud seperti sebuah kereta dengan 12 pasang pahatan roda raksasa dan tujuh patung kuda (hanya satu yang selamat dari reruntuhan), sebagai pernyataan simbolis suatu kendaraan dewa surya. Kekuatan misteri Konark bagaikan ucapan selamat datang bagi saya yang tertatih menaiki anak tangganya yang lumayan melelahkan. Konark bermakna lebih dari sekedar bangunan bagi sang surya. Sebuah filosofi Tantrisisme mewarnai dinding kuil ini dalam bentuk pahatan naga dengan segala wujudnya. Sepanjang dinding Konark membisikkan cerita Negara yang diperintah raja Naga yang berwujud ular berkepala tujuh berselang seling dengan pahatan penyatuan pasangan manusia yang terkadang dipisahkan oleh roda kehidupan yang merupakan perlambang dari kendaraan sang dewa surya.

Sosok naga
Sosok naga.

Wujud pahatan sosok naga yang berhamburan di Konark membangkitkan suatu tanya dalam diri saya tentang apakah wujud ini merupakan apresiasi keberadaan dunia lain yang diperintah naga atau merupakan suatu perwujudan Rahu dan Ketu yang merupakan raksasa dalam astrologi Hindu; yang dipercaya menelan matahari atau bulan sehingga menyebabkan gerhana. Entahlah. Bahkan pemandu saya tidak bisa menjawabnya.

Berbagai pahatan erotis Kamasutra antara sepasang manusia (“maithuna“) membuai kedua mata saya bagaikan alunan musik Kanya yang mengiringi langkah saya memasuki bangunan utama kuil ini. Aura misteri pun semakin dalam terasa. Pahatan Kamasutra di Konark memang tidak sehalus dan sedetil di kuil Khajuraho, namun sosoknya yang berukuran lebih besar dan lebih tinggi membuatnya seakan “berteriak” untuk meyakinkan keberadaannya. Maithuna merupakan satu dari lima komponen dalam ritual Panchamakara yang bertujuan untuk mencapai spiritualitas tertinggi. Suatu pemikiran yang cukup menarik bila dikaitkan dengan teori para ahli kuno yang mengisyaratkan bahwa bintang juga hadir secara berpasangan, walau pasangan dari dewa surya tidak diketahui hingga kini.

Dinding kuil dihiasi dengan berbagai pahatan geometris, bunga, penunggang kuda, gajah, aktivitas berburu dan juga ketiga wujud sang surya yang diposisikan sedemikian rupa untuk menangkap sinar pada saat pagi, siang, dan senja.

Konark menyiratkan perjalanan waktu yang berada dalam pengaruh dewa matahari. Ketujuh kuda yang “menarik” kuil ke arah timur mereprestasikan jumlah hari dalam seminggu, sedangkan ke-12 roda kehidupan menyiratkan 12 bulan dalam setahun. Roda raksasa berdiameter sekitar 10 kaki ini memiliki delapan palang yang menyiratkan kedelapan tahapan dalam kehidupan seorang wanita.

Bagian depan kuil utama
Bagian depan kuil utama.

Perpaduan erat antara misteri, legenda, arsitektur, dan kemegahan Konark membawa saya pada dunia lain yang mungkin maknanya di luar batas pemahaman yang kita miliki. Namun demikian berada di sini, membuat saya berusaha mengerti mengapa saat itu Dharmapada bersikeras untuk membantu penyelesaian kuil megah yang pernah ada ini. Seorang bocah yang cukup naif, yang memiliki keberanian untuk menyelamatkan hidup orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri. Konark bukanlah sekedar cerita mengenai kamasutra atau dewa surya, namun lebih kepada makna pengorbanan hidup yang hakiki. Legenda Dharmapada mungkin terkubur dalam reruntuhan kuil, namun namanya tetap menghiasi cerita rakyat dan menjadi aspirasi seluruh pemahat muda hingga kini.

Berenang Bersama Ubur-Ubur Danau Kakaban, Kalimantan Timur

Dermaga Danau Kakaban
Dermaga Danau Kakaban.

Danau Kakaban terletak di Pulau Kakaban, Kalimantan Timur. Letaknya tidak jauh dari Pulau Derawan. Pulau Kakaban adalah salah satu dari total 31 pulau yang tergabung dalam Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Pulau Kakaban masih cenderung murni dan jarang dikunjungi orang karena lokasi jauh terpencil dan belum ada sarana transportasi yang memadai layaknya tempat wisata alam lainnya.

Danau ini agak berbeda dan unik dengan kebanyakan danau yang ada di Indonesia, di dalam danau ini terdapat ubur-ubur yang tidak menyengat. Berdasarkan informasi dari kawan saya, ubur-ubur seperti ini hanya terdapat di dua tempat di dunia, yaitu di Danau Kakaban, Kalimantan Timur dan Jellyfish Lake di Palau, Mikronesia di kawasan tenggara Laut Pasifik.

Kami bergaya di dermaga
Kami bergaya di dermaga.

Berdasarkan laporan yang disusun oleh Kuenen, peneliti dari Belanda saat melakukan ekspedisi Snellius I pada tahun 1929-1933, melakukan penelitian hidrografi dan geologi dengan mengumpulkan sedimen dasar laut. Menurutnya, Pulau Kakaban terbentuk dari atol yang terangkat dari lempeng samudra dari kedalaman 200-300 meter. Pada awalnya terdapat daratan yang dikelilingi atol, lama kelamaan daratan tenggelam ke dasar laut karena proses geologi. Karang yang membentuk atol ini semakin tinggi, sementara daratan di bagian tengahnya semakin tenggelam sehingga sekarang ini atol pulau Kakaban mencapai ketinggian 40-60 meter di atas permukaan laut. Dan atol setinggi ini diperkirakan terbentuk selama 1-2 juta tahun.

Perjalanan menuju Pulau Kakaban saya awali dari Pulau Derawan karena kebutulan kala itu saya menginap di sebuah penginapan di Pulau Derawan. dari Pulau Derawan memakan waktu empat puluh lima menit menggunakan perahu cepat.

Sesampainya di dermaga Pulau Kakaban saya disuguhi pemandangan laut yang sangat indah, airnya biru dan bening, dasar lautnya terlihat dari dermaga. Sejauh mata memandang terhampar laut biru yang menenangkan mata. Dari dermaga saya harus menaiki tangga kayu yang sudah disediakan pengelola setempat. Danau Kakaban terletak ditengah pulau dan saya harus melewati tangga yang dikelilingi pepohonan bakau besar yang membentuk hutan mangrove. Jalan di tanngga ini harus serba hati-hati karena kondisinya licin.

Saat saya mengunjungi tempat ini saya berenang dan menyelam ke dasar danaunya untuk bertemu ubur-ubur unik ini. Danaunya amat luas dan semakin ketengah semakin dalam, walaupun saya bisa berenang saya tetep berenang membawa pelampung untuk jaga-jaga saja bila saya lelah.

Saya hanya membawa pelampung dan kaca mata renang saja, tidak membawa fin atau kaki katak. Satu hal yang harus diingat saat berenang di danau ini adalah jangan menggunakan kaki katak atau fin, karena benda ini akan membahayakan ubur-ubur bila terkena atau tertendang fin saat kita berenang, dikhawatirkan banyak ubur-ubur yang mati, jadi berenanglah dengan hati-hati dan tetap menjada kelestarian biota Danau Kakaban.

Saya bersama ubur-ubur
Saya bersama ubur-ubur.

Ubur-ubur di Danau Kakaban
Ubur-ubur di Danau Kakaban.

Tak sulit untuk bertemu dengan ubur-ubur lucu ini karena jumlahnya amat banyak, mungkin ratusan, atau bahkan ribuan. Bagi saya terdapat sensasi unik tersendiri berenang bersama ubur-ubur ini, saya sempat memegangnya terasa seperti agar-agar, kenyal-kenyal menggemaskan. banyak ubur-ubur yang berkeliaran di depan mata saya, berenang kesana kemari. dan Fakta unik lainnya adalah ubur-ubur ini berenang dengan cara mundur.

Saat saya lelah saya mengapungkan diri saya sejenak di permukaan air danau dengan pelampung sambil membayangkan sungguh luar biasa bentang alam di Indonesia. Pulau dan Danau Kakaban memang tercipta sebagai anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia. Tempat seperti Danau Kakaban harus dirawat dan di jaga sebagai kawasan konservasi, harus dikelola secara arif dan bijaksana oleh para pihak terkait, agar kawasan tersebut tetap lestari dan berkesinambungan hingga waktu-waktu yang akan datang. Sebagai warisan yang dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

Pengalaman yang tak terlupakan berenang di Danau Kakaban. Setelah puas berenang di Danau Kakaban saya kembali ke Dermaga Pulau Kakaban, tiba saatnya bagi saya untuk menyelami keindahan laut disekitar Pulau Kakaban, dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju Pulau Sangalaki.

Pulau Kemaro, Pulau Kecil di Tengah Sungai Musi

Pagoda di Pulau Kemaro
Pagoda di Pulau Kemaro

Saat saya berkunjung ke Palembang, saya mengunjungi suatu pulau unik yang terletak di tengah Sungai Musi, Pulau Kemaro namanya. Kemaro dalam bahasa Palembang berarti “kemarau”. Menurut masyarakat Palembang, nama tersebut diberikan karena pulau ini tidak pernah tergenang air. Ketika air pasang besar dan volume air Sungai Musi meningkat, Pulau Kemaro tidak akan kebanjiran dan akan terlihat dari kejauhan terapung di atas perairan Sungai Musi.

Pulau Kemaro sudah menjadi tempat plesiran terkenal di Palembang. Pulau ini terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan. Untuk menuju Pulau ini saya menggunakan kapal kecil yang saya sewa dari Dermaga bawah Jembatan Ampera yang lokasinya bersebelahan dengan halte Trans Musi Ampera. Untuk sampai ke pulau ini, dari dermaga saya harus menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit menyusuri arus liar Sungai Musi.

Sesaat kapal yang saya naiki masih melaju di Sungai Musi dan belum berlabuh di Dermaga Pulau Kemoaro, Pagoda besar di Pulau Kemaro sudah bisa terlihat, saya melihat kemegahan pagoda dari kejauhan.

Mengarungi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro
Mengarungi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro

Saat saya menapakkan kaki di pulau ini, saya merasakan nuansa Tionghoa yang kental. Ini bisa dilihat dari kemeriahan warna dan kemegahan pagoda dan kelenteng yang menghiasi pulau tersebut. Pagoda Pulau Kemaro dibangun pada 2006, tingginya mencapai sembilan lantai. Pagoda ini merupakan pagoda tertinggi di Palembang, dan kini Pagoda ini telah menjadi ikon pulau Kemaro. Nuansa Cinanya begitu amat kental. Bagi saya tidak perlu jauh-jauh pergi ke negara China untuk lihat Pagoda, Di Indonesia ternyata juga ada, saya cukup mampir ke Pulau Kemaro sudah bisa melihat pagoda bergaya dan bernuansa China.

Selain pagoda, Di Pulau Kemaro terdapat sebuah kelenteng Buddha yang selalu dikunjungi penganutnya, terutama pada perayaan Cap Go Meh. Tidak hanya masyarakat keturunan Tiong Hoa di Kota Palembang, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

Di Pulau Kemaro terdapat sebuah batu besar yang bertuliskan mengenai sejarah Pulau Kemaro. Dari tulisan tersebut saya mengetahui sejarah dan legenda Pulau Kemaro. Legenda Pulau Kemaro menceritakan kisah cinta antara Putri Raja Palembang, Siti Fatimah dengan saudagar kaya sekaligus pangeran asal negeri China, Tan Bun Ann. Keduanya saling jatuh cinta dan sepakat untuk menikah. Siti Fatimah mengajukan syarat pada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Tan Bun Ann kemudian mengirim seorang pengawalnya pulang ke Tiongkok untuk meminta emas dan restu pada orang tuanya. Tentu saja permintaan ini disetujui orang tua Tan Bun Ann. Untuk menjaga emas tersebut dari bajak laut, guci berisi emas tersebut ditutupi dengan asinan sawi. Sesampainya di dekat Pulau Kemaro, Tan Bun Ann terdorong untuk memeriksa isi guci. Melihat isinya hanya asinan sawi, ia pun kesal dan membuang guci-guci itu ke sungai. Namun, guci terakhir yang ia lempar tidak sengaja pecah. Di situlah ia melihat keping-keping emas. Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Sang putri pun ikut menerjunkan diri ke sungai dan juga tenggelam. Sang putri dikuburkan di Pulau Kemaro tersebut dan untuk mengenangnya dibangunlah kuil.

Hal unik lain dari Pulau Kemaro adalah keberadaan Pohon Cinta. Pohon Cinta ini adalah sebuah beringin yang sudah cukup tua dengan ranting yang sangat rimbun. Konon, bila seseorang menuliskan nama dirinya dan pasangannya di pohon itu, maka jalinan cinta mereka akan semakin langgeng. Sebelum bergegas pulang kembali ke Jembatan Ampera, saya menghampiri pohon ini, terlihat pohon begitu besar dan rimbun. Terkait dengan mitos pohon itu, saya tidak mencoba menuliskan nama saya di pohon tersebut, karena saya kurang percaya dengan hal-hal yang agak berbau mitos seperti itu.

Di Hampi, Bebatuan Berbicara dalam Kesunyian

Begitu banyak hal yang dikatakan banyak orang, begitu banyak hal yang kita dengar, dan begitu banyak pula hal yang kita bayangkan, namun terkadang pada kenyataannya kita sering mendapati semuanya tidak seindah bayangan yang ada. Semua teori ini tidak berlaku saat saya mencapai Hampi beberapa waktu lalu di musim dingin. Semua hal yang saya lihat amat sangat menakjubkan, lebih dari yang saya bayangkan dan dengar sebelumnya.

Berbekal dengan rasa penasaran, perjalanan saya menuju Hampi diawali dengan penerbangan ke Goa selama dua jam, dilanjutkan dengan perjalanan darat dengan memakai mobil selama delapan jam menuju Hampi, dengan melewati kota yang disebut Hospet. Sebagai suatu daerah kecil yang berada di bagian selatan dari sungai Tungabhadra di sebuah distrik di Karnataka dan dibatasi gundukan gunung berbatu, Hampi berbeda dengan daerah lainnya. Bagi umat Hindu sendiri, daerah ini amat keramat dan merupakan salah satu tujuan perjalanan religi mereka.

Kuil Virupaksha dari atas bukit Hamakuta
Kuil Virupaksha dari atas bukit Hamakuta.

Lotus mahal
Lotus mahal.

Relief di kuil Vitalla
Relief di kuil Vitalla.

Kolam bertangga
Kolam bertangga.

Perjalanan saya menyusuri Tungabhadra mengingatkan saya akan sebuah cerita kuno yang menyertai alur sungai sungai yang amat keramat di pesisir India Selatan ini. Bukan India namanya kalau setiap inci tempatnya tidak dipenuhi dengan mitos kuno. Alkisah seorang Raja bernama Lord Barah yang merupakan inkarnasi dari Vishnu sedang beristirahat dan dari kedua gigi depannya, keluar dua aliran air yang berbeda. Aliran air dari gigi sebelah kiri disebut Tunga dan yang berasal dari kanan dinamakan Bhadra. Keduanya bersaudara dan menyatu di Kundly membentuk aliran Tungabhadra, yang pada akhirnya akan bersatu dengan aliran sungai Khrishna.

Pemandu saya menuturkan bahwa Tungabhadra sendiri dikenal sebagai Pampa, yang tentu saja tidak bisa dipisahkan dari romantisme Shiva. Pampa adalah anak dari Brahma yang amat memuja Shiva, sehingga Shiva memutuskan untuk menikahinya. Dalam masanya, tempat ini dikenal sebagai Vijayanagara; ibukota dari kerajaan Karnataka yang amat terkenal dalam hal seni dan budayanya. Nama kuno daerah ini adalah Pampa kshetra, Kishkindha-kshetra atau Bhaskara-kshetra.

Memasuki Hampi, kombinasi antara reruntuhan, bukit bebatuan, kuil, perkebunan pisang dan tebu serta persawahan membuat waktu seakan berhenti di depan saya. Hampi memiliki hubungan mitologi yang erat terhadap Ramayana. Menurut cerita epik ini, kerajaan Kishkindha dipimpin oleh kedua kera yang bernama Vali dan Sugriva. Oleh karena terjadi perpecahan di antara keduanya, Sugriva menyingkir dan membawa pasukannya di bawah pimpinan Hanuman. Saat raja iblis bernama Ravana menyandera Sita (istri dari Rama) dan membawanya ke Lanka, Rama dan saudaranya yang bernama Lakshmana datang meminta pertolongan Sugriva setelah ia membunuh Vali. Hanumanlah yang akhirnya mengejar Sita hingga ke Lanka. Saat mengeksplor kota ini, siapapun bisa mencium aura Ramayana hingga ke setiap sudut bangunannya.

Mahanavami dibba
Mahanavami dibba.

Lakshmi-Narasimha
Lakshmi-Narasimha.

Kandang gajah
Kandang gajah.

Adalah sepasang pria Hindu bersaudara bernama Harihara dan Bukka yang menemukan kota Vijayanagar di tahun 1343 dan mereka memerintahnya hingga kesultanan Islam mengalahkan Raja Rama Raya yang memerintah Vijayanagar saat itu di tahun 1565.

Kejayaan masa bersejarah Hampi dan seluruh pertikaian antara Jain, Hindu dan Muslim saat itu tertuang di semua relief kuil dan reruntuhan di wilayah ini. Di Karnataka secara garis besar terdapat tiga tipe arsitektur india yang cukup terkenal, yaitu Vijayanagar, Chalukyan dan Hoysala. Masing-masing memiliki ciri khas sendiri. Keseluruhan arsitektur di Hampi mengikuti gaya Vijayanagar. Pahatannya biasanya besar, detil, namun penggambaran wajahnya tidak sehalus arsitektur Chalukyan atau Hoysala. Kuil bergaya Vijayanagar biasanya memiliki atap dan pilar pradakshina-patha atau lorong yang berliku. Atapnya berbentuk pyramid dan biasanya memiliki aksis barat-timur, dimana kuil akan menghadap ke arah timur. Kalyanamandapa merupakan salah satu gaya yang paling popular. Ditunjukan dengan pilar terbuka mandapa dan di bagian tengah dari ruangan terdapat semacam panggung kecil dengan beberapa anak tangganya.

Kuil Virupaksha merupakan kuil pertama yang membuat langkah saya terhenti. Saya mencapainya setelah menyebrang sungai dengan perahu kecil. Kuil yang masih aktif ini terletak ditengah wilayah yang disebut Hampi Bazaar. Hampi Bazaar sendiri sebuah area terbuka yang dipenuhi reruntuhan pilar di kiri-kanan. Sebagai kuil yang didedikasikan terhadap Virupaksha/Shiva, Dewa Kehancuran, kuil ini merupakan satu diantara lima kuil tertua di India. Kuil ini memiliki gerbang yang cukup lebar dan halaman yang cukup luas. Di sana-sini tampak beberapa peziarah sedang berdoa atau menjemur ornamen ziarahnya. Kuil ini biasanya ramai dikunjungi di bulan Desember, yang dipercaya sebagai saat dimana Pampa dinikahi oleh Shiva. Ritual dimulai dengan mandi di sungai Tungabhadra yang terletak di depan kuil sebelum peziarah memasuki kuil. Di dalam kuil ini konon terdapat sebuah patung sapi berkepala tiga, yang menggambarkan masa kini, masa lalu dan masa depan. Sayangnya saya tidak sempat melihatnya.

Karena saya mencapai Hampi cukup sore, maka sore itu ditutup dengan niat melihat matahari terbenam di atas bukit Hemakuta. Bukit ini tidak jauh dari Virupaksha. Hemakuta merupakan satu dari bukit tertinggi di Hampi, namun demikian bukit ini tidak curam dan di sana-sini terdapat reruntuhan kuil yang memberikan pemandangan skenik yang luar biasa indah. Saya menyempatkan melihat sekitar sebelum memilih tempat strategis untuk melihat senja nantinya. Tampak beberapa turis bule sudah duduk dengan manisnya di tempat yang sudah mereka pilih. Di lokasi bukit ini, tampak Sasivekalu Ganesha, sebuah patung Ganesha yang terpahat dalam ukuran kecil dengan pahatan ular yang melilit di daerah pingganya untuk melindungi daerah perutnya yang besar. Di balik patung ini terdapat pahatan seorang wanita yang memeluknya dari belakang, yang kemungkinan adalah ibunya, Parvati (istri dari Shiva) Tidak jauh dari patung ganesha kecil, terdapat kuil dengan patung Ganesha besar (Kadalekalu Ganesha). Reruntuhan di tempat ini memang mengundang decak kagum, sampai saya lupa di mana saya harus melihat senja saat itu. Pilihan saya akhirnya adalah duduk di bagian tepi dari bukit, di mana saya bisa melihat senja dan hutan yang berada di bawah tebing. Suatu lukisan yang kontras, namun sore saya saat itu tidak tergantikan dengan sore di belahan dunia manapun.

Kemegahan kuil Vittala sudah saya dengar sebelumnya, namun semuanya berbeda saat saya benar-benar berada di hadapannya di suatu pagi di Hampi. Tidak ada kata yang cukup untuk mendeskripsikan keindahan arsitekturnya. Kompleks kuil ini ditempuh dengan memakai kereta kecil. Memasuki lingkungan kuil, kita disambut dengan deretan pilar terbuka di kiri kanan. Saat gerbang kuil dimasuki, kita akan menemui halaman luas dengan ornamen padat berukir. Pesona Vishnu amat terihat di kompleks kuil ini, terutama di Mahamandapa yang merupakan bagian utama. Relief di pilar yang ada yang melukiskan keseluruhan Vishnu dalam bentuk sepuluh avatarnya, termasuk Krishna tentu saja. Setelah melewati bagian awal kompleks, perhatian kita akan tertuju pada sebuah struktur yang megah disebut stone chariot. Saya sendiri melihatnya seperti sebuah kotak musik. Tampak lambang Garuda mendominasi struktur ini; Garuda sendiri dalam legendanya merupakan kendaraan dari Vishnu, oleh karenanya chariot yang menghadap bagian kuil utama ini seakan sebuah pernyataan simbolik yang terpahat dengan indahnya. Secara garis besar, tema arsitektur kuil ini terbagi atas bagian militer, sipil, dan religius. Saya meneruskan langkah menyusuri bagian timur dari kompleks ini yang disebut eastern hall atau musicus hall. Yang membuat terpana adalah bangunan ini didirikan dan biasanya dipakai untuk tempat menari di zamannya. Setiap pilar dari bangunan ini dapat menimbulkan nada tertentu bila diketok dengan batang padat dan digunakan para pemusik saat itu unutk mengiringi tarian para penari. Pahatan pemusik, penarik dan singa yang bernama Yalis tampak mewarnai di dalam dinding bangunan ini. Sembari pemandu saya menjelaskan bagian dari kuil, saya yang tidak percaya mitos apapun seakan-akan bisa melihat gambaran semua cerita tentang Ramayana dalam perwujudan nyatanya. Cuma di Hampi, dan cuma Hampi yang bisa membuat saya seperti ini.

Bangunan berikutnya yang saya kunjungi dalam area Royal Citadel adalah Octagonal Water Pavilion yang mungkin dulunya merupakan tempat penampungan air. Saya termasuk pengagum stepwell di India dan berkelana untuk menjelajahinya. Octagon ini merupakan hal yang berbeda karena berada di tempat terbuka. Queen’s Bath merupakan struktur berbentuk persegi dengan eksterior yang sederhana dan memiliki kolam pemandian. Dinamakan seperti ini mungkin karena letaknya yang dekat dengan Royal Enclosure. Dipercaya bahwa bangunan ini dibangun raja Achyuta Raya yang sangat tertarik dengan olahraga air dan dipakai untuk pemandian bagi raja dan keluarganya. Tidak beberapa lama sampai juga saya di Royal Enclosure yang konon merupakan nukleus dari Hampi itu sendiri. Dengan area luas dan dikelilingi berlapis tembok, kompleks ini berisikan sekitar 45 buah bangunan di dalamnya. Kompleks ini memiliki dua pintu masuk di bagian utara dan satu buah di bagian barat. Pintu di bagian barat ini biasanya diperuntukan untuk keluarga istana saat itu. Memasuki kompleks dari bagian utara, kita akan disambut beberapa bangunan. Yang menarik perhatian saya tentu kolam bertangga yang kesimetrisannya di setiap segi sangat memukau. Tampak beberapa saluran air yang terhubung ke area ini. Kaki saya cukup lelah saat harus menanjak menaiki Mahanavami-dibba yang terdiri dari 3 tingkat. Bangunan ini dikenal sebagai “ruang kemenangan”. Bangunan kokoh ini dibangun di atas granit dan dihiasi dengan pahatan binatang, penari, pemusik serta kegiatan perburuan yang merepresentasikan keadaan masyarakat Vijanagara saat itu. King Audience Hall terletak tidak jauh dari Mahanavami. Menurut cerita masyarakat sekitar, di sinilah terdapat diskusi publik dan peradilan terjadi saat itu. Di sudut barat kompleks tampak sebuah kuil kecil bernama Hazara Rama yang didedikasikan untuk Vishnu dalam wujud Rama. Kuil ini terkenal dengan pahatan seribu wajah Rama di dindingnya. Langkah saya memasuki Lotus Mahal terhenti saat saya melihat struktur bangunan ini yang mengingatkan saya dengan bangunan Islam. Struktur ini merupakan perpaduan arsitektur India dan Islam dan dibangun di atas batu Adhisthana. Kubahnya didukung oleh 24 buah pilar dan bagian interiornya amat sederhana. Kubahnya tampak simetris dengan ukiran bermotif bunga. Keluar dari bangunan ini, kita memasuki wilayah elephant stables yang berbentuk memanjang dan memiliki 11 pintu dengan didominasi kubah berbentuk bundar dan memiliki pahatan lotus.

Malyavanta Hill
Malyavanta Hill.

Kuil Vitalla dengan "stone chariot"-nya
Kuil Vitalla dengan “stone chariot“-nya.

Sebuah kuil di Mahakuta Hill
Sebuah kuil di Mahakuta Hill.

Sambil berjalan kembali ke hotel, saya menyempatkan diri mengunjungi patung Lakshmi-Narasimha yang merupakan bangunan monolitik setinggi tujuh meter yang sangat memukau siapapun yang melihatnya. Patung ini memahat sebuah ikon yang disebut Narasimha yang bertangan empat walau keempat tangannya tampak hancur. Di belakangnya tampak sosok Sesha, sebuah naga berkepala tujuh. Awalnya, sebuah pahatan Lakshmi terdapat di pangkuan paha kiri Narasimha ini. Sebuah lingga yang cukup besar terletak tak jauh dari patung ini yang dasarnya diliputi air. Narasimha sendiri merupakan avatar ke-empat dari Vishnu. Digambarkan sebagai sosok setengah manusia dan setengah singa yang memiliki cakar. Dikenal sebagai pelindung terkuat bagi para pemujanya. Narasimha merupakan perlambang keberadaan Tuhan dimanapun dalam situasi seperti apapun. Salah seorang teman saya dari daerah selatan yang menyembahnya mengungkapkan begitu banyak kuil di wilayah Andhra Pradesh yang diperuntukkan untuk dewa ini.

Petualangan saya di Hampi ditutup dengan kunjungan saya ke sebuah kuil Vishnu di Malyavanta Hill dan Pattabhirama. Sedemikian banyak reruntuhan dan kuil di Hampi, hingga sulit saya tuangkan semuanya dalam bentuk tulisan. Hampi ini merupakan salah satu tempat terbaik di India yang patut dikunjungi siapapun, sebuah surga bagi para pemuja bangunan bersejarah ataupun bagi seorang penjelajah seperti saya. Tulisan saya hanyalah penggambaran secara luas tentang tempat ini. Hampi adalah sebuah tempat dimana setiap bebatuan dan reruntuhan di dalamnya berbicara dalam kesunyian dan untuk itu mereka tidak memerlukan sebuah pengakuan.

  • Disunting oleh SA 18/07/2013
Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya

© 2020 Ransel Kecil