Ada surga di ujung paling barat Pulau Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon namanya. Di tempat yang merupakan wilayah taman nasional yang dilindungi ini hidup badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya.

Bentang alam di Taman Nasional Ujung Kulon amat beragam, mulai dari bentang alam laut, bentang alam hutan rawa dan ekosistem daratan. Jadi, saat saya berkunjung ke taman nasional yang asri ini, saya bisa merasakan serunya petualangan trekking di bentang rawa dan hutan yang masih alami dan snorkeling di bentang alam laut yang masih bersih dengan perpaduan pasir putih nan indah.

Menikmati senja.
Menikmati senja.

Terdapat sensasi tersendiri saat trekking di bentang alam hutan Taman Nasional Ujung Kulon. Di hutan ini, saya bisa melihat hamparan keanekaragaman hayati tetumbuhan. Sekitar lima ratus jenis tumbuh-tumbuhan hidup di hutan ini. Hutan ini merupakan kawasan hutan nasional yang dilindungi dan tumbuhan tersebut tumbuh terlindungi dengan baik. Tumbuh besar dan lebat, saat di tempat ini saya melihat beberapa pohon yang umurnya sudah ratusan tahun.

Saat trekking di sela-sela pepohonan yang tumbuh dengan amat rimbun, sesekali saya menemukan pohon yang tumbang membentang di jalur trekking. Keadaan ini agak menghalangi para trekker, namun menjadi tantangan tersendiri. Nilai petualangannya terasa lebih kental. Kadang saya berjalan menunduk, merangkak, sampai terkadang meloncat. Hutan pohon-pohon besar, suara-suara serangga dan burung dan jalanan berlumpur, menjadi perpaduan petualangan sempurna.

Salah satu tujuan trekking di tempat ini adalah untuk mencoba keberuntungan untuk bisa menyaksikan badak jawa dengan mata kepala sendiri. Populasi badak jawa di hutan ini tidak terlalu banyak. Badak jawa pernah masuk di daftar yang dikeluarkan oleh Masyarakat Zoologi London (ZSL) dan Badan Konservasi Alam Internasional (IUCN) sebagai salah satu dari daftar seratus flora dan fauna yang paling terancam punah. Dari tahun ke tahun populasinya semakin berkurang. Berdasarkan pengawasan populasi dengan kamera video, diketahui tidak sampai lima puluh ekor badak jawa yang hidup di Taman Nasional ini.

Saya sempat mengobrol dengan salah satu penjaga Kawasan Hutan Taman Nasional Ujung Kulon, menurut beliau, badak jawa jarang terlihat di sekitar wilayah trekking. Badak jawa hidup terpencar di tengah-tengah hutan dan cenderung menjauhi keramaian. Kala itu tampaknya kurang beruntung, saya tidak bisa melihat penampakan badak jawa. Setelah mendapatkan penjelasan dari petugas hutan, saya lantas tidak langsung kecewa. Menurut penjaga hutan, beliau saja sebagai penjaga hutan yang sehari-hari hidup dan menjaga di pos hutan, jarang melihat hewan itu.

Sensasi lain yang bisa dirasakan di sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah kegiatan wisata island hopping. Ada beberapa pulau menawan nan elok yang harus dikunjungi, di antaranya adalah Pulau Peucang, Pulau Handeleum, Cidaun, dan Pulau Badul.

Saya menginap di Pulau Peucang, pulau kecil yang amat menawan dengan pasir putih halus terhampar luas. Bentuk penginapan di Pulau Peucang ini berbentuk barak-barak rumah panggung yang lokasinya tidak jauh dari bibir pantai. Saya bermalam di sini bersama teman-teman saya.

Memberi makan rusa.
Memberi makan rusa.

Tinggal dan bermalam di Pulau Peucang sangat mengasyikkan, di belakang penginapan terhampar luas hutan dengan rerimbunan hijau pohon yang asri. Di depan penginapan sejauh mata memandang, terlihat birunya laut dengan ombak yang tenang. Di sekitaran penginapan berlalu lalang hewan-hewan hutan yang sesekali menghampiri penginapan untuk mencari makan. Mulai dari monyet-monyet kecil, babi hutan sampai rusa. Benar-benar serasa menjadi tarzan atau anak hutan, hidup bersama dengan hewan-hewan liar. Sensasi petualangan alam liarnya amat terasa.

Hal unik lain yang saya rasakan di tempat ini adalah kelakuan dan tingkah hewan-hewan liar yang kadang membuat jengkel, terutama monyet-monyet kecil yang berkeliaran. Monyet-monyet tersebut sering sekali mendekati penginapan untuk mencuri makanan. Saat saya dan teman-teman saya sedang makan dan santai bersama, monyet-monyet langsung datang berbondong-bondong dengan raut muka celingak-celinguk bak perampok yang ingin mencuri makanan. Saya pun harus siap siaga mengamankan pasokan makanan agar tidak terampas oleh monyet-monyet nakal. Begitu pula dengan rusa dan babi hutan, mereka juga datang ke kerumunan kami yang sedang makan, namun untungnya geliat rusa dan babi hutan tidak seberingas monyet-monyet yang sedang mengintai makanan. Intinya, saya harus waspada akan makanan saya dari intaian hewan-hewan liar.

Sebenarnya saya tidak terlalu merasa risih dan terganggu dengan kondisi seperti itu, saya malah merasakan pesona fauna yang sebelumnya belum pernah saya rasakan. Kalau berkunjung ke kebun binatang, kita hanya disuguhkan pemandangan hewan-hewan yang terkurung di kandang, maka di kawasan Ujung Kulon kita akan hidup bersama hewan-hewan yang terlepas bebas di hutan liar.

Tepat di depan penginapan terdapat pantai pasir putih yang indah. Ombaknya tenang, airnya bening dan pasir putihnya sangat halus. Kala itu, di sore hari yang cerah, saya dan kawan-kawan menikmati keindahan tersebut, santai bersama di pinggir pantai, main air, berenang dan sampai ke tengah laut untuk snorkeling.

Malam harinya, kami makan malam bersama di pinggir pantai, menikmati hidangan seadanya. Makan malam ditemani suara ombak menjadi begitu nikmat, walaupun makan tidak dengan menu istimewa. Seusai menyantap hidangan makan malam, kami semua santai dan bercengkerama ria di dermaga pantai. Ada yang memancing di atas kapal yang tersandar di ujung dermaga dan ada pula yang hanya sekedar tidur dengan mata terbuka menatap ke kerlipan bintang.

Pesona Kawasan Ujung Kulon tidak hanya terbatas di Pulau Peucang, tapi juga terdapat di beberapa tempat lainnya, tempat lain yang saya kunjungi adalah Pulau Cidaun. Tempat ini merupakan kawasan habitat Banteng liar, hewan bertanduk ini hidup liar di lahan rerumputan yang begitu luas. Perjalanan dari Pulau Peucang ke Pulau Cidaun tidak terlalu memakan waktu, hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, kapal sudah berlabuh di dermaganya.

Saya turun perlahan dari kapal dan langsung jalan beriringan menuju habitat kawanan banteng. Setelah berjalan kaki lima menit, hamparan padang rumput sudah terlihat, dari jauh terlihat kerumunan banteng yang sedang merumput. Saya tidak berani mendekat, hanya melihat sambil mengabadikan foto saja dari jauh. Seru rasanya melihat langsung banteng-banteng liar, serasa berada di Afrika.

Setelah puas melihat padang rumput dan banteng-banteng, saya langsung mampir ke tepi pantai untuk menikmati senja. Hari semakin sore, senja dan semburat jingga mulai menyala-nyala. Dari bibir pantai dan dari atas demaga terlihat sang surya yang mulai tenggelam perlahan. Sampai tiba saatnya langit mulai gelap, saya pun kembali ke penginapan di Pulau Peucang.

Perjalanan di lanjutkan untuk meraih pesona pulau lain, yaitu Pulau Handeleum dan Pulau Badul. Perjalanan dengan kapal dari Pulau Peucang ke Pulau Handeleum tidak begitu jauh dan memakan waktu, apalagi di atas kapal saya disuguhkan dengan pamandangan laut yang menawan. Perjalanan sangat amat tidak terasa, tahu-tahu kapal sudah merapat di dermaga Pulau Handeleum.

Hal yang paling menarik di Pulau Handeleum adalah fasilitas kayaking. Kayaking dilakukan di Pulau Handeleum dengan menyusuri sungai sampai ke dalam pulau. Satu kayak bisa diisi lima sampai enam orang plus ditemani satu petugas yang mendayung. Kabarnya di sungai ini terdapat buaya liar, bisa dibayangkan bagaimana sensasi kayaking di sungai ini. Dengan alasan takut buaya dan malas untuk merogoh kocek untuk biaya kayaking, saya memilih untuk menikmati keindahan pantai di Pulau Handeleum sambil berfoto-foto ria di dermaga.

Bersama teman-teman.
Bersama teman-teman.

Destinasi selanjutnya dilanjutkan ke Pulau Badul, pulau kecil yang berada di tengah laut. Pulaunya amat elok. Saya snorkeling di pulau ini. Air lautnya jernih, pasir pantainya putih dan terdapat banyak karang-karang kecil. Saya pun menyempatkan untuk mengumpulkan karang dan kerang kecil yang lucu.

Pulau Badul amat kecil dan sepi, serasa di pulau pribadi. Saat saya menjejakkan kaki di sana, hanya rombongan kami yang berada di sana.

Kebersamaan penuh makna dengan kawan-kawan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon berakhir di Pulau Badul. Setelah puas menyelami keindahan Pulau Badul, saya dan kawan-kawan satu per satu menaiki kapal untuk kembali ke daratan Pulau Jawa. Taman Nasional Ujung Kulon sangat fenomenal, sungguh pengalaman liburan yang luar biasa.

  • Disunting oleh PW & SA 18/12/2012