Penjaga perbatasan India-Pakistan menyeringai.
Penjaga perbatasan India-Pakistan menyeringai.

“Pakistan zindabad… Jai Hind… Pakistan zindabad… Jai Hind… Pakistan zindabad… Jai Hind…”

Seruan bermakna “Long live (jaya) Pakistan/India” yang bertalu-talu dan menggema itulah yang terdengar dari kejauhan. Dengan menumpangi motor bebek yang dikendarai Amjad, karyawan penginapan Regale Internet Inn tempat saya bermalam di Lahore, di sela-sela hari liburnya kami menuju ke desa Wagah, desa di perbatasan Pakistan–India. Dibutuhkan kurang lebih 30 menit melintasi jalan yang lenggang untuk menyaksikan upacara penurunan bendera sekaligus menandakan penutupan perbatasan. Upacara penurunan bendera dilakukan setiap sore sekitar pukul 17.00 atau lebih awal selama musim dingin, sebelum matahari terbenam.

Pasukan perbatasan Pakistan sedang beraksi.
Pasukan perbatasan Pakistan sedang beraksi.

Pengibaran bendera Pakistan.
Pengibaran bendera Pakistan oleh petugas lain.

Setelah membeli tiket seharga 10 Rs, kami jalan menuju pintu gerbang perbatasan Pakistan–India melewati jalan lebar beraspal yang diapit podium tempat duduk yang hampir terisi penuh. Pengunjung wanita duduk di podium sisi kiri jalan dan podium tembat duduk pria di sisi kanan nya. Tapi pada saat itu, deretan kursi paling depan masih tersisa beberapa kursi yang kosong. Menurut penuturan Amjad, meskipun tidak ada peraturan tertulis, deretan kursi paling depan biasanya sengaja dikosongkan dan diperuntukkan untuk orang asing.

Sambil menunggu pengunjung berdatangan dan dimulainya upacara penurunan bendera, terlihat beberapa pria tua menggunakan shalwar putih dan ber-kameez hijau memandu sorak pengunjung, menari sambil mengibarkan bendera Pakistan yang berwarna hijau putih dengan bulan sabit dan bintang. Dengan lantang pengunjung di kedua negara saling bersahutan berseru membanggakan negaranya masing masing seolah-olah tidak satupun yang mau mengalah. Walaupun seruan yang di sisi Pakistan terdengar sangat keras, terlihat lebih ramai pengunjung di sisi India. Mungkin karena berbanding lurus dengan jumlah populasinya, atau mungkin juga karena pengunjung di sisi India tidak dipungut biaya untuk menyaksikan upacara penurunan bendera yang dimulai sejak tahun 1959.

Pada tahun 1947, setelah Pakistan memperoleh kemerdekaan dari Hindustan yang kini dikenal sebagai India, desa Wagah terbelah menjadi dua, menjadi saksi dari eksodus besar-besaran jutaan manusia yang berpindah dari Pakistan ke India atau sebaliknya. Sisi timur desa Wagah masih berada di India dan sisi baratnya berada di Pakistan. Dikenal sebagai “Tembok Berlin Asia”, desa Wagah yang terletak di tengah-tengah, 27 km dari kota Amritsar di India dan 29 km dari kota Lahore di Pakistan, merupakan satu satunya perbatasan darat yang bisa diseberangi antar kedua negara, baik dari India ke Pakistan maupun sebaliknya. Perbatasan Wagah terbuka untuk orang asing, dibuka pukul 08.30 dan ditutup pukul 15.30. Sebaiknya menyeberang sepagi mungkin, proses melewati imigrasi bisa memakan waktu 30 menit sampai dua jam.

Pasukan berkuda Pakistan.
Pasukan berkuda Pakistan.

Upacara yang berlangsung sekitar 45 menit dimulai dengan semangat derap langkah pasukan India “Border Security Force” dengan seragam berwarna coklat dan pasukan Pakistan “Sutlej Rangers” dengan seragam berwarna hitam. Kedua pasukan memakai turban dengan lipatan berbentuk kipas di atasnya. Dengan langkah tegap kedua pasukan berjalan mendekati perbatasan, sesekali diselingi dengan ayunan kaki yang diangkat setinggi kepala mereka. Ketika kedua pasukan tiba di perbatasan, kedua pintu gerbang dibuka. Terdapat tiang bendera di masing-masing sisi kedua negara dengan ketinggian yang sama. Ketika menjelang matahari terbenam, kedua bendera diturunkan bersamaan dengan koordinasi yang sangat menarik. Formasi tali saling melintang, pada pertemuan persilangan tali kedua bendera akan bertemu di titik yang sama, meggambarkan kesetaraan kedua negara hingga akhirnya bendera dilipat. Yang paling mengejutkan ketika kedua pintu gerbang kembali ditutup dengan bantingan sangat keras, terlihat kesan marah di wajah kedua belah pasukan tersebut dan diikuti sorakan pengunjung.

Suasana upacara penutupan perbatasan antar kedua tentara.
Suasana upacara penutupan perbatasan antar kedua negara dengan tentaranya masing-masing.

Meskipun kedua pasukan penurunan bendera Pakistan dan India saling memberikan sikap hormat dan bersalaman, diakhiri dengan suara terompet di kedua sisi perbatasan yang mengingatkan masa lalu ketika mereka masih bersatu, secara keseluruhan proses dari awal hingga akhir terkesan sangat agresif. Apalagi dengan sorakan pengunjung yang terkesan memanas-manasi pasukannya masing-masing. Hanya pada saat penurunan kedua bendera, penonton terdiam untuk beberapa saat. Saya sendiri agak khawatir kalau saja terjadi kekacauan, karena ribuan pengunjung dengan kebanggaan nasionalismenya masing-masing sebenarnya bisa saja sangat mudah sekali tersulut emosinya. Saya sempat bertanya ke Amjad, apakah di luar dari upacara ini mereka tetap menunjukkan sikap yang tidak bersahabat. “Hanya di upacara ini saja mereka terlihat bermusuhan karena tradisi ini sudah berlangsung sejak lama berawal dari sejarah yang menyakitkan. Di luar itu mereka tetap berteman, mereka bercanda dari balik pintu gerbang dan kadang mereka saling mengunjungi.”

Pintu perbatasan India-Pakistan.
Pintu perbatasan India-Pakistan.

Ketika bendera disimpan di tempat masing-masing, upacara pun usai. Kini giliran pasukan berkuda dan pintu gerbang yang diserbu pengunjung untuk berfoto bareng.

  • Disunting oleh SA 19/09/2011