Berlin

Ketika saya datang, Jerman sedang tertutup salju. Putih di mana-mana.

Penerbangan Frankfurt – Berlin yang seharusnya saya tumpangi dibatalkan dua jam sebelumnya karena cuaca buruk. Saya mengantri kurang lebih satu jam untuk check in dan baggage drop di bandara Frankfurt ketika petugas Lufthansa berkata pada saya, “Your plane has been cancelled. I will transfer you to a long distance train.” Saya lalu bertanya, “How long does it take from here to Berlin by train?” Dia menjawab, “Four to five hours. And the train will leave in 20 minutes.” Spontan saya membalas, “That’s bad.” Petugas Lufthansa tadi hanya meringis, sambil mengangguk. Tampaknya saya pelanggan nomor ke sekian yang memberi respon seperti itu.

Singkat cerita, saya mengikuti tanda menuju peron Long Distance Train dan mendapati lorong-lorong yang dingin dan sepi. Saya harus naik kereta tujuan Frankfurt Main Stadion sebelum akhirnya berganti kereta Inter City Express (ICE) menuju stasiun Hauptbahnhof di Berlin. Udara Frankfurt hari itu menemani saya di angka minus empat.

Kereta ICE mengingatkan saya sedikit pada Hogwarts Express, tentu saja dengan versi lebih modern. Saya duduk di kompartemen dengan jendela besar. Pemandangan hanya terdiri dari pohon–pohon tak berdaun dan salju tebal. Empat jam yang cukup depresif.

Sesampainya di Berlin, saya disambut rasa lapar dan kesal karena _SIM card_ (kartu telpon seluler) yang saya beli di Frankfurt ternyata tidak ada voucher isi ulangnya di Berlin. Alhasil saya membeli _SIM card_ O2 baru seharga 14 Euro dan _voucher_ kredit pulsa senilai 16 Euro. Mahal memang.

Namun hati saya langsung terhibur ketika menemukan restoran kebab Turki di stasiun Hauptbahnhof. Saya menghabiskan sepiring besar nasi dan daging lembu berbumbu sambil mengobrol dengan dua orang teman yang menjemput saya, Nelva dan Mas Yusuf.

Seharian saya habiskan untuk perjalanan tadi. Badan terasa capek. Saya langsung tidur lebih cepat malam itu agar besok badan segar dan siap menikmati kota Berlin.

Berlin yang Dingin dan Putih

13 Februari 2010

Saya memutuskan untuk menikmati Berlin dengan Sightseeing Bus Hop On Hop Off. Harga tiketnya 15 Euro dengan 16 perhentian (tujuan wisata). Saya berkeliling dengan bis sambil mendengarkan cerita masing-masing tempat perhentian dengan earphone yang tersedia. Saya turun di perhentian ke-13 di Brandenburg Tor atau Gerbang Brandenburg.

Bradenburg Tor
Bradenburg Tor

Gerbang Brandenburg dulunya adalah gerbang kota, adalah simbol kemenangan bagi Berlin dan Jerman. Gerbang ini juga dekat dengan Hotel Aldon, tempat Leonardo DiCaprio dan Ewan McGregor menginap hari itu terkait dengan pemutaran film di acara The 60th Berlinalle. Banyak orang berkumpul di depan hotel menanti sang bintang. Saya?

Meneruskan petualangan musim dingin ini, saya menumpang bis nomor 100 jurusan Zoological Garten–Alexanderplatz yang melewati banyak objek wisata di Berlin. Hasilnya? Saya bolak-balik dengan bis 100 sampai empat kali. Saya memuaskan diri turun di Berliner Dom, German Historical Museum, Gedung Berlin TV, dan Reichstag Building. Meskipun sendiri, saya puas dengan jalan–jalan hari itu.

Berlin TV Building
Berlin TV Building

Berliner Dom
Berliner Dom

14 Februari 2010

Suhu udara naik sedikit. Matahari bersinar terang sejak pukul delapan. Tapi angin dingin luar biasa menusuk tulang berhembus sejak pagi. Hari ini saya ditemani oleh Nelva, mahasiswi Indonesia yang sudah lima tahun menetap di Berlin. Menu kami hari itu adalah Tembok Berlin dan Checkpoint Charlie.

Kami naik kereta S Bahn dari Zoological Garten dan turun di Osbahnhoft, lalu jalan kaki sedikit. Saya sungguh menyukai grafiti yang ada di sepanjang sisa tembok Berlin. Masing–masing grafiti menceritakan pemikiran sang artis. Menarik. Sangat menarik.

Berlin Wall GraffitiBerlin Wall Graffiti
Grafiti di Berlin Wall

Setelah cukup berlama–lama di Tembok Berlin, saya menuju Checkpoint Charlie—tempat pengecekan paspor ketika Rusia dan Amerika masih membagi wilayah Berlin. Satu hal yang sangat saya sayangkan dari lokasi ini, semua dikelilingi toko-toko dan kafe yang kekini-kinian sehingga jalan bersejarah Checkpoint Charlie menjadi sempit. Sisi historis jalan tersebut menjadi baur dengan kehidupan urban kota Berlin. Saya sendiri tidak menikmati Checkpoint Charlie karena penuh dengan turis yang sibuk berfoto–foto dan menelusuri sisa-sisa sejarah yang ada di situ. Mereka berjalan lambat dan membuat pedestrian zone padat tersendat.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang ketika saya dan Nelva menuju restoran Lebanon Al Redda di dekat daerah Pankow—daerah yang populasinya penuh para imigran. Saya cukup kaget bahwa hampir setengah pengunjung restoran tersebut adalah orang Indonesia. Setelah makanan tersaji, rasanya saya mengerti alasannya kenapa: dengan harga 6 Euro kita bisa makan nasi dan daging dengan porsi sangat besar! Sambal yang tersaji pedas berminyak (pasti disuka orang Indonesia) serta teh panas refill yang bisa diambil sebanyak kita mau. Saya pun ingin kembali lagi ke restoran ini jika diberikan kesempatan berkunjung ke Berlin di lain waktu.

Reichstag Building
Reichstag Building

Nelva dan saya menuju Reichstag Building dan Brandenburg Tor untuk foto–foto di sore hari. Akhirnya saya punya kesempatan foto diri dengan ikon–ikon kota Berlin (terima kasih buat Nelva!).

Pukul enam sore, I called it a day. Angin dingin masih berhembus sadis. Yang ada di kepala saya hanya kamar hangat dan mandi air panas.

15 Februari 2010

Hari terakhir di Berlin. Saya memutuskan untuk berkunjung ke German Historical Museum. Harga karcis masuknya 5 Euro untuk semua pameran. Gedung berlantai dua itu membagi koleksinya menjadi dua zaman. Lantai pertama untuk sejarah Jerman modern. Lantai dua untuk sejarah Jerman lama.

German Historical Museum
German Historical Museum

Saya melakukan kunjungan saya sesuai dengan kronologis waktu. Saya naik ke lantai dua dan menemukan koleksi peninggalan sejarah invasi Roma. Baju zirah peperangan, lukisan–lukisan Rembrandt, mesin cetak pertama di Jerman, topi Napoleon Bonaparte ketika perang Waterloo, baju kaisar, sampai lukisan Germania dalam beberapa versi. Luar biasa. Semua lukisan di sana berkesan magis. Namun satu lukisan yang sangat spesial buat saya hari itu adalah lukisan Marriane (lukisan yang dijadikan cover album terakhir Coldplay, Viva La Vida). Peperangan dan wanita sebagai simbol kemerdekaan. Menatap lukisan tersebut, saya merasakan kerinduan besar pada semangat kemerdekaan dan kemenangan atas perang sekaligus keletihan yang amat sangat.

Saya menikmati sejarah Jerman modern di lantai satu. Tentu saja kebanyakan bercerita soal Nazi, holocaust dan kamp konsentrasi Auswitch. Saya bergidik sembari mengingat–ingat film berlatar belakang Nazi yang saya tonton: Schindler List, The Downfall dan Inglorious Basterds. Pengutukan atas nama HAM yang pernah saya lakukan ketika menonton film–film tersebut tidak ada apa-apanya dengan perasaan saya ketika melihat foto–foto penghuni kamp Auswitch dan instalasi seni proses pembunuhan massal orang–orang Yahudi dengan gas beracun. Perasaan saya campur aduk: marah, sedih dan terhina sekaligus. Tapi lebih dari itu, saya menyukai keseluruhan koleksi lantai satu German Historical Museum.

Kunjungan saya berikutnya adalah masjid. Saya penasaran dengan kehidupan muslim Indonesia di Berlin. Menurut Wikipedia, terdapat 36 masjid di Jerman dan 9% populasi masyarakat Jerman merupakan orang muslim. Untuk negara Eropa, jumlah tersebut cukup besar. Saya datang ke masjid khusus orang Indonesia di daerah Pankow. Di Jerman hanya ada satu masjid yang berbentuk masjid (dengan kubah dan bulan bintang), yaitu milik orang–orang Turki. Konon tanah untuk pembangunan masjid tersebut merupakan hadiah dari pemerintah Jerman untuk Turki. Sementara itu masjid–masjid lain biasanya berbentuk hall di gedung–gedung apartemen.

Selesai salat Asar, saya menuju Alexanderplatz untuk menemui Nelva. Ternyata dia bersama dua orang temannya. Saya diajak mereka makan prasmanan di restoran milik orang Indonesia. Namanya restorannya MamaYes. Pemiliknya adalah Reza dan Tengku. Menyenangkan. Restoran mungil yang sangat homey. Makanan prasmanan bisa dinikmati dengan harga 5 Euro saja.

Malamnya kami menuju perayaan film Berlinalle untuk mencari suasana festival dan crowd pecinta film. Tentu saja acara sudah selesai, tapi orang–orang masih berkumpul dan memenuhi arena red carpet. Berlinalle mengingatkan saya akan Jiffest di Jakarta. Bedanya, aktor–aktor film yang diputar pada acara tersebut datang menghadiri pemutaran film mereka. Leonardo DiCaprio datang pada preview Shutter Island dan Ewan McGregor datang pada preview Ghostwriter. Kami berfoto dekat red carpet sebelum menutup hari dengan pergi ke Billy Wilder’s pub. Kami menghabiskan beberapa jam dengan ngobrol–ngobrol sampai pagi. Di perjalanan pulang, saya melihat Berlin untuk terakhir kalinya.

Tujuh Hal tentang Jerman

  1. Hampir semua film berbahasa selain Jerman disulih suara (dubbing), baik yang tayang di televisi maupun di bioskop. Saya menonton rerun Friends dan Southpark berbahasa Jerman di televisi. Hilarious.
  2. Tanda–tanda jalan dan papan informasi di Jerman menggunakan bahasa Jerman. Jadi ada baiknya belajar sedikit bahasa Jerman sebelum pergi ke sana.
  3. Orang Turki adalah imigran terbanyak di Jerman, hampir 14.000 orang. Karena itu Anda tidak akan kesulitan mencari restaurant Turki.
  4. Tembok Berlin yang masih asli tanpa grafiti berada di daerah Mitte, Berlin.
  5. Walikota kota Berlin, Klaus Woweirit, adalah seorang gay. Masyarakat Berlin menyukai walikota mereka.
  6. Pada bulan Februari, Jerman mengadakan karnaval untuk mengusir roh jahat musim dingin. Selama karnaval berlangsung orang bebas minum minuman alkohol kapan saja. Kota teramai yang merayakan karnival ini adalah Bonn.
  7. Selalu beli tiket harian untuk transportasi publik. Tiket tersebut bisa dipakai untuk bis dan kereta (bahn).

Disunting oleh ARW & SA 08/03/2010