Kami tiba di Melbourne sekitar pukul tujuh pagi waktu lokal, atau sekitar pukul empat pagi waktu Indonesia bagian barat. Janis yang tidur sepanjang perjalanan baru saja bangun sekitar 20 menit sebelum pendaratan. Menangis sedikit, tapi tetap pintar, ya Nak!

Begitu mendarat, kami langsung diwanti-wanti oleh pramugari untuk membersihkan dan membuang semua makanan yang dibawa, apalagi jika itu makanan segar, seperti nasi dan ikan bandeng yang kami bawa untuk Janis. Akhirnya, terpaksa kami buang, dan untungnya, ikan bandeng itu sudah agak bau. Karena khawatir diendus oleh anjing pelacak, kami juga terpaksa mencuci semua alat makan dengan sabun seadanya di toilet.

Menunggu di taman MCG
Halo Melbourne! Maafkan perut yang agak “offside“!

Antrian imigrasi berjalan lambat. Sekitar 50 orang ada di depan kami dan kami harus berpindah jalur ketika ada bagian yang dibuka. Sekitar 45 menit kemudian, kami lolos imigrasi. Syukurlah!

Kami sudah pesan shuttle bus ke kota, tapi kesulitan menemukan dan menelepon shuttle-nya. Lagipula, kami belum beli kartu telepon lokal, dan dengan antrian pembelian kartu telepon yang begitu panjang, kami terpaksa merelakan pesanan shuttle bus itu yang sudah “pakem” di jam tertentu. Akhirnya, kami pilih saja sembarang shuttle bus yang kiranya tersedia, dan langsung bayar di tempat. It worked. Kami memilih Starbus Shuttle dan biayanya sekitar A$18 pulang pergi untuk masing-masing dewasa, sedangkan anak kami karena masih di bawah 2 tahun, gratis.

unspecified-3
Kami mengantri untuk kartu sim ini selama 30 menit!

Bentuk shuttle-nya lucu, mobil dengan 9 tempat duduk lalu di belakangnya menarik wagon kecil tempat menaruh bagasi, jadi tidak mengambil tempat di dalam mobil. Seperti layaknya shuttle bus bandara, kami harus berkeliling mengantar tamu-tamu lain ke tempat penginapannya masing-masing.

Perjalanan dari bandara Tullamarine ke pusat kota Melbourne memakan waktu sekitar satu jam. Ternyata ada beberapa titik yang macet juga. Kami agak terburu-buru menuju penginapan Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne, karena sudah capek dan khawatir Janis butuh istirahat di tempat tidur.

Ini kali pertama kali kami ke Melbourne. Kotanya nyaman dan bersih, agak mendung ketika kami datang. Yang jelas, banyak taman dan hijau-hijau. Sekilas sangat walkable. Oh ya, untuk perjalanan kali ini kami memutuskan menyewa stroller City Mini (bukan yang GT) di BebaBaby, demi menghemat bawaan dan kenyamanan di jalan. Kami juga mengejar waktu karena rencananya stroller ini akan dikirim ke penginapan jam 12 siang, padahal jam menunjukkan jam 11:30 siang.

Kami tinggal di daerah Jolimont, tepat di seberang Melbourne Cricket Ground (MCG), stadium kriket terbesar di Melbourne. Lokasinya sangat strategis: tenang, di depan taman yang luas, namun tetap bisa jalan kaki ke sarana transportasi kereta.

Sekitar pukul 11:45 kami tiba di lokasi, namun apa daya, kami belum bisa masuk! Pemilik Airbnb mengatakan kami baru bisa check-in jam 3 sore. Kami bawa satu koper ukuran medium dan satu koper ukuran kecil. Bagaimana ini? Bagaimana membunuh waktu 3 jam, dalam keadaan belum mandi dan makan?

Pemilik Airbnb menyarankan kami ke stasiun Flinders St. atau Southern Cross, dua stasiun utama di pusat kota Melbourne, untuk menitipkan barang dan makan siang di sana. Tapi, jalan ke sana agak jauh dan kami agak malas dan capek.

Kami putuskan menunggu di taman, sambil menikmati suara burung dan angin semilir. Untungnya, cuaca sangat baik.

Bagaimana kelanjutan perjalanan kami? Apakah kami menunggu tiga jam di taman? Baca cerita selanjutnya, ya!