Sejak kecil, saya sudah mengenal dua kota terujung di Indonesia, Sabang dan Merauke. Terima kasih kepada R. Suharjo untuk lagunya, “Dari Sabang sampai Merauke”. Melalui lagu inilah, saya menjadi tahu bahwa Indonesia adalah negara besar dengan jajaran pulau-pulaunya. Sabang di ujung barat republik, tepatnya di Pulau Weh, sebelah barat laut Banda Aceh dan Merauke di ujung timur Papua, bersebelahan dengan negara Papua Nugini.

Sebagai seorang pecinta negeri dan petualang, saya selalu menyimpan hasrat untuk sebisa mungkin menyambangi setiap jengkal negeri ini. Ketika akhirnya menginjakkan kaki di Sabang, sebuah fraktal kecil hasrat tersebut terpenuhi.

Lembayung di Pantai Iboih.
Lembayung di Pantai Iboih.

Menikmati desiran angin semilir di Iboih, mengunjungi titik nol, dan menembus gulita jalanan menuju kota Sabang memberikan pengalaman tak terlupakan. Dan tentunya, sangat menyenangkan untuk kembali diceritakan.

Kami kehabisan tiket kapal cepat di Pelabuhan Ule Lheue pagi itu. Hari itu adalah hari Jumat dan memang sedang libur. Banyak orang yang ingin menyebrang ke Pelabuhan Balohan di Kota Sabang, Pulau Weh.

Karena membludaknya penumpang, penyedia kapal feri menambah satu lagi keberangkatan kapal feri. Saya pun agak lega karena memang agenda aktifitas yang padat, setiap jam yang terbuang pasti berarti.

Kapal terjadwal berangkat jam 10 pagi. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, kapten kapal memutuskan berangkat empat jam kemudian, jam dua siang! Penumpang yang sudah masuk kapal tak bisa keluar lagi karena gerbang kapal memang sudah dinaikkan. Akhirnya kami terpaksa menunggu kapal berangkat di geladak kapal dekat parkiran kendaraan. Maklum, tiket ekonomi.

Kapal merapat di Pelabuhan Balohan sekitar jam empat. Kami langsung menaiki becak motor di depan pelabuhan untuk mengantarkan kami ke penginapan yang sudah dipesan di Iboih.

Sebenarnya bisa saja kami memilih taksi Toyota Avanza dengan harga yang tak jauh berbeda. Akan tetapi, menikmati perjalanan dengan becak menelusuri jalanan Pulau Weh pasti memberikan kesan tersendiri.

Putra, supir becak motor saya, sepanjang perjalanan tak lepas bercerita tentang tanah kelahirannya. Beliau mulai dari tempat-tempat yang mesti dikunjungi, oleh-oleh khas Sabang, sampai ke tragedi tsunami Aceh di penghujung tahun 2004. Menurut Putra, Pulau Weh tidak begitu terkena imbas tsunami. Hanya pantai sebelah barat saja yang mendapat efeknya tapi tidak ada korban jiwa di sini. Syukurlah.

Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan berkelok-kelok, naik bukit, dan turun bukit, kami sampai juga di Iboih. Hati langsung bergejolak ingin segera menikmati pantai yang sudah mahsyur di khalayak pejalan dunia.

Setelah terlebih dahulu menaruh barang bawaan di sebuah bungalow kecil yang kami sewa, kami langsung beranjak ke tepian pantai. Menikmati matahari terbenam yang biarpun tak begitu terlihat tapi kehangatannya masih tetap terasa. Sambil menikmati sepiring nasi goreng dan es kelapa muda. That was definitely the best way to greet the night.

Keesokan harinya, saya bangun pagi sekali untuk ibadah Subuh dan tentunya menunggu matahari datang kembali menyapa sang alam. Belum banyak orang di sekitar pantai Iboih, kalau tidak mau dibilang kosong. Warga sekitar belum memulai harinya pagi itu. Entah, mungkin mereka masih lelah menjamu para turis semalaman.

Matahari pun mulai menjelang. Ia mengumandangkan pagi akan tiba. Saya tak bisa diam dengan kamera dikalungkan dan ponsel di tangan kanan.

Biru air di Pantai Iboih.
Biru air di Pantai Iboih.

Saya sibuk mengabadikan lukisan paling indah Yang Kuasa dengan goresan kuas biru, pirus, kuning, dan oranye yang menyejukkan hati. Lukisan megah pada kanvas langit. Foto dari kamera untuk dokumentasi pribadi, sedang foto dengan ponsel untuk langsung dimasukkan ke Instagram.

Air laut yang jernih terus menggoda saya untuk berenang sambil menikmati pagi. Akhirnya, saya pun melompat tinggi dari jembatan kayu dan… “Byuuur!”

Rasanya ingin sekali berlama-lama mengitari setiap sudut pantai Iboih dari laut. Akan tetapi, kami harus segera bersiap-siap untuk agenda utama hari itu. Agenda yang sudah diimpikan dari jauh-jauh hari. Menyelam!

Kami dipertemukan dengan Mica, warga negara Jerman yang sudah 15 tahun tinggal di Indonesia. Dia sudah fasih sekali berbahasa Indonesia. Mica adalah instruktur kami untuk hari itu. Menurut Iskandar, pemilik Rubiah Tirta Divers, penyedia jasa diving yang kami sewa, Mica adalah satu-satunya instruktur yang bebas tugas pagi itu mengingat banyaknya turis lain yang sudah punya jadwal menyelam.

Tak masalah. Ternyata, Mica adalah penyelam dan instruktur yang fasih. Tempat menyelam kami berada di selat antara Pulau Weh dan Pulau Rubiah. Setelah terlebih dahulu briefing, kami sudah siap terjun belasan meter di bawah permukaan laut. Here we go!

Kehidupan laut di lepas pantai Iboih.
Kehidupan laut di lepas pantai Iboih.

Mica membawa kami ke sebuah bangkai kapal. Jangan bayangkan kapal besar. Ia hanya sebuah perahu nelayan yang sudah tenggelam bertahun-tahun hingga penuh ditumbuhi karang-karang.

Mica mengatakan kalau mau benar-benar menyaksikan bangkai kapal yang besar di perairan Sabang, minimal harus bisa menyelam sampai kedalaman 30 meter. Wow, saya belum sampai tahap keahlian itu, saya pikir.

Nelayan menjaring tangkapannya.
Nelayan menjaring tangkapannya.

Wah, tiba-tiba ada scorpion fish berenang-renang santai di karang landai. Saya dengan sigap langsung membidikkan kamera ke makhluk cantik ini.

Mica menepuk tangan saya keras sekali ketika ingin menyentuh sekumpulan karang cantik. Saya sontak kaget. Ada apa gerangan? Lalu Mica menunjukkan ada bulu babi yang bersembunyi di balik lubang karang. Untung saja saya tidak sampai terkena jarum beracunnya!

Segerombolan besar ikan-ikan kecil berkumpul di sisi karang yang lain. Mungkin jumlahnya ribuan. Saya kurang tahu nama jenis ikan tersebut. Yang jelas warnanya oranye dengan besar tubuhnya tak lebih besar dari satu ruas jari kelingking. Mereka berputar-putar tak tentu arah tanpa takut akan kedatangan kami.

Saya dibuat kaget ketika Mica tiba-tiba diserang ikan berukuran agak besar. Ternyata, Mica menyelam terlalu mendekat ke karang hingga dianggap mengganggu sarang ikan tersebut. Ikan besar itu langsung menyerang Mica untuk mengusirnya agar menjauh dari sarang. Mica pun kewalahan menghadapi ikan yang sedang marah itu dan hanya bisa menahan serangan ikan dengan kaki kataknya.

Agak mengagetkan tapi itu pengalaman yang sangat seru. Pertama kali saya melihat ikan menyerang penyelam seperti itu. Saya sempat mengabadikan serangan ikan tersebut meski sebenarnya sedikit was-was juga saat itu.

Karena penunjuk oksigen kami sudah sampai di titik merah, Mica memberikan kode untuk berhenti. Ia memutuskan menyudahi penyelaman itu. Terhitung kurang lebih 45 menit kami berada di bawah laut. Empat puluh lima menit yang sangat-sangat mengesankan.

Sayang sekali, agenda penyelaman kami berhenti di sana. Sebenarnya saya masih ingin menyelam lebih lama. Namun apa daya, biaya dan waktu belum mengizinkan. Meskipun begitu, saya berjanji akan kembali suatu saat nanti untuk menyelami lebih banyak keindahan bawah laut di Sabang.

Hari itu, kami masih sempat menikmati sisi pantai Iboih yang lain. Terletak di depan sebuah kompleks bungalow Lisa, hamparan laut di depannya mungkin adalah spot terbaik untuk snorkeling. Kami menghabiskan sore sampai lelah menghampiri.

Meski pengalamannya tak seindah penyelaman pagi tadi, menyelam hamparan lautan Iboih tak pernah membosankan. Saya selalu lupa waktu.

Sebelum malam menjelang, kami menyempatkan diri melihat sunset di titik nol. Dengan motor sewaan, kami berkendara sejauh delapan kilometer lebih ke barat untuk sampai di sana. Banyak tikungan tajam dan berbahaya membuat kami harus sangat berhati-hati. Seorang teman tiba-tiba terjatuh setelah tak dapat mengendalikan laju motornya di kelokan tajam. Untung saja tidak terjadi luka serius dan masih bisa melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami sampai juga di monumen titik nol. Sebuah monumen yang membuktikan bahwa kami sudah ada di titik paling barat di republik ini. Meski agak kecewa karena kondisi monumen yang kurang terawat, lembayung tetap cantik tersaksi di ujung barat.

Keesokan paginya, kami harus kembali ke Banda Aceh. Jadwal kepal cepat di Pelabuhan Balohan tercatat jam delapan pagi. Kami tak punya banyak waktu di pagi hari namun beruntung karena masih sempat menjemput terbitnya matahari sebelum berangkat ke pelabuhan.

Memang berat meninggalkan semua yang mengesankan di Iboih ini. Tidak hanya di Iboih, keseluruhan Pulau Weh pasti akan membuat kami rindu untuk kembali. Keindahan alamnya, kehangatan masyarakatnya, legit kopinya, atau kelezatan sate guritanya. Tak habis hal-hak menarik yang bisa didapati di sini.

Karena kesemua pengalaman itulah, hati kian tertambat di ujung barat.

  • Disunting oleh SA 11/06/2012