Kuil dari kejauhan
Kuil dari kejauhan.

Nun jauh di Orissa/Odisha, sekitar dua jam perjalanan dari kota Bhubaneswar, sebuah kuil megah berdiri di daerah yang dinamakan Konark. Konark yang juga dikenal dengan nama Konaditya atau Arkakshetra berasal dari turunan dua kata; “Kona” yang berarti sudut dan “Arka” yang berarti surya.

Berbagai misteri dan cerita mengiringi perjalanan saya memasuki kuil ini. Konark tidak dapat dipisahkan dengan cerita Samba, anak dari Krishna yang menderita lepra dan menjadi sembuh akibat bantuan dari dewa matahari. Lambat laun makin terurai legenda Dharmapada mengenai seorang raja dari abad ke-13 Masehi bernama Narasimhadeva I yang memerintahkan pendirian sebuah kuil bagi dewa matahari. Konark yang juga dikenal sebagai pagoda hitam dibangun dengan bulir-bulir keringat 12.000 pemahat terbaik di wilayah ini yang bekerja di bawah ancaman hukuman mati bila tidak mampu menyelesaikan perintah raja. Kebengisan Narasimha makin terasa saat perintah penyelesaian kuil dipercepat dari jadwal. Sri Samantaray sebagai kepala pemahat mengakui ketidaksanggupannya, sehingga berakhir dengan pemecatan. Kisah bergulir di mana kepala pemahat yang baru bernama Bisu akhirnya berhasil menyelesaikan pembangunan kuil, namun satu hal tertinggal, mahkota dari kuil (“kalasa“) selalu gagal diletakkan di tempatnya. Tidak seorang pun pemahat mengetahui solusinya.

Pintu gerbang
Pintu gerbang.

Sebelum pagi tiba, kuil harus sudah harus diselesaikan. Alkisah seorang anak berusia 12 tahun, anak dari Bisu memberanikan diri untuk menolong. Dalam pemikirannya, ia mengetahui solusi bagaimana mahkota diletakkan setelah mempelajari manuskrip kuil. Ia pun mendaki bangunan kuil dan meletakkan kalasa di tempatnya tepat di penghujung malam. Berita ini sampai ke telinga raja dan menyebabkan ketakutan di antara para pemahat yang mengira raja mungkin akan marah bila mengetahui kuil justru diselesaikan oleh orang lain. Sebagai konsekuensi, bocah tersebut, Dharmapada, akhirnya melakukan bunuh diri agar raja tidak menghukum mati pemahat lain. Raja yang mendengar hal ini langsung merasa bahwa kuil ini membawa sial (“asuva“) dan seluruh penjuru negeri diperintahkan untuk tidak menyembahnya.

Legenda Dharmapada bukanlah satu-satunya cerita yang konon menyebabkan runtuhnya kejayaan kuil ini. Sebuah kisah narasi dari Sri Radhanath Ray mengungkapkan seorang sakti bernama Sumanyu Risi mengutuk dewa matahari karena menggoda anak perempuannya yang bernama Chandrabhaga. Para sejarawan sendiri lebih mempercayai bahwa penyerangan Kalapahad lah yang melatarbelakangi kehancuran kuil ini. Sebagai seorang raja muslim, penyerangan kuil dimulai dengan penghancuran Dadhinauti yang menyebabkan kuil roboh dan berbagai dindingnya hancur. Pahatan dewa surya berhasil diselamatkan para pandeta di Konark denga cara menyimpannya beberapa tahun di bawah pasir dan selanjutnya dipindahkan ke kuil Jaganath di Puri. Cerita lain mengungkapkan patung dewa ini sekarang tersimpan di museum nasional di Delhi. Pemindahan figur dewa dari Konark ini menyebabkan Konark tidak lagi dianggap sebagai tempat untuk ziarah bagi pemujanya saat itu dan kehilangan kejayaannya. Konark menyepi menjadi sebuah runtuhan kuil yang tersembunyi selama beberapa tahun lamanya di balik hutan di Orissa.

Sosok campuran singa, gajah dan manusia
Sosok campuran singa, gajah dan manusia.

Aura misteri semakin kental saat saya memasuki gerbang kuil ini dan menyelami secara dekat bangunan megah ini. Kedua pahatan berwujud seperti singa menyambut saya di muka gerbang ini. Posisi patung singa ini mencengkeram gajah yang sedang menduduki pahatan berwujud manusia. Dipercaya bahwa singa melambangkan kesombongan dan gajah melambangkan uang, sehingga keduanya lah yang mampu menghancurkan manusia. Struktur Konark yang kokoh berpadu harmonis dengan dalamnya filosofi dalam arsitektur yang terkubur di dalam bebatuan yang membangunnya. Konark berwujud seperti sebuah kereta dengan 12 pasang pahatan roda raksasa dan tujuh patung kuda (hanya satu yang selamat dari reruntuhan), sebagai pernyataan simbolis suatu kendaraan dewa surya. Kekuatan misteri Konark bagaikan ucapan selamat datang bagi saya yang tertatih menaiki anak tangganya yang lumayan melelahkan. Konark bermakna lebih dari sekedar bangunan bagi sang surya. Sebuah filosofi Tantrisisme mewarnai dinding kuil ini dalam bentuk pahatan naga dengan segala wujudnya. Sepanjang dinding Konark membisikkan cerita Negara yang diperintah raja Naga yang berwujud ular berkepala tujuh berselang seling dengan pahatan penyatuan pasangan manusia yang terkadang dipisahkan oleh roda kehidupan yang merupakan perlambang dari kendaraan sang dewa surya.

Sosok naga
Sosok naga.

Wujud pahatan sosok naga yang berhamburan di Konark membangkitkan suatu tanya dalam diri saya tentang apakah wujud ini merupakan apresiasi keberadaan dunia lain yang diperintah naga atau merupakan suatu perwujudan Rahu dan Ketu yang merupakan raksasa dalam astrologi Hindu; yang dipercaya menelan matahari atau bulan sehingga menyebabkan gerhana. Entahlah. Bahkan pemandu saya tidak bisa menjawabnya.

Berbagai pahatan erotis Kamasutra antara sepasang manusia (“maithuna“) membuai kedua mata saya bagaikan alunan musik Kanya yang mengiringi langkah saya memasuki bangunan utama kuil ini. Aura misteri pun semakin dalam terasa. Pahatan Kamasutra di Konark memang tidak sehalus dan sedetil di kuil Khajuraho, namun sosoknya yang berukuran lebih besar dan lebih tinggi membuatnya seakan “berteriak” untuk meyakinkan keberadaannya. Maithuna merupakan satu dari lima komponen dalam ritual Panchamakara yang bertujuan untuk mencapai spiritualitas tertinggi. Suatu pemikiran yang cukup menarik bila dikaitkan dengan teori para ahli kuno yang mengisyaratkan bahwa bintang juga hadir secara berpasangan, walau pasangan dari dewa surya tidak diketahui hingga kini.

Dinding kuil dihiasi dengan berbagai pahatan geometris, bunga, penunggang kuda, gajah, aktivitas berburu dan juga ketiga wujud sang surya yang diposisikan sedemikian rupa untuk menangkap sinar pada saat pagi, siang, dan senja.

Konark menyiratkan perjalanan waktu yang berada dalam pengaruh dewa matahari. Ketujuh kuda yang “menarik” kuil ke arah timur mereprestasikan jumlah hari dalam seminggu, sedangkan ke-12 roda kehidupan menyiratkan 12 bulan dalam setahun. Roda raksasa berdiameter sekitar 10 kaki ini memiliki delapan palang yang menyiratkan kedelapan tahapan dalam kehidupan seorang wanita.

Bagian depan kuil utama
Bagian depan kuil utama.

Perpaduan erat antara misteri, legenda, arsitektur, dan kemegahan Konark membawa saya pada dunia lain yang mungkin maknanya di luar batas pemahaman yang kita miliki. Namun demikian berada di sini, membuat saya berusaha mengerti mengapa saat itu Dharmapada bersikeras untuk membantu penyelesaian kuil megah yang pernah ada ini. Seorang bocah yang cukup naif, yang memiliki keberanian untuk menyelamatkan hidup orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri. Konark bukanlah sekedar cerita mengenai kamasutra atau dewa surya, namun lebih kepada makna pengorbanan hidup yang hakiki. Legenda Dharmapada mungkin terkubur dalam reruntuhan kuil, namun namanya tetap menghiasi cerita rakyat dan menjadi aspirasi seluruh pemahat muda hingga kini.