“Suatu waktu, pembatalan rencana itu bahkan bisa lebih penting daripada keasyikan perjalanan itu sendiri. Mungkin faktor keselamatan, hal pembiayaan membengkak, mungkin juga kesehatan, dan banyak hal-hal yang bisa mempengaruhi lainnya.”

Saya dan istri sudah lama menginginkan sebuah perjalanan menikmati alam. Lebih-lebih alam Indonesia yang indah. Kami senang dengan segarnya alam, khususnya istri saya Yani, dia adalah sahabat alam. Pengalamannya menjelajahi alam jauh lebih banyak daripada saya.

Kira-kira satu bulan yang lalu kami menggodok rencana ke Gunung Bromo, Jawa Timur ini. Sungguh sangat kebetulan ada rencana mengunjungi saudara di Malang, jadi kami rencanakan setelah dari itu kita lalu ke Bromo. Rencana yang cukup masuk akal.

Proses perencanaannya tidak terlalu rumit, karena ini perjalanan lokal. Kami memutuskan akan akan menumpang kereta api Gajayani rute Jakarta-Malang. Kami belum pernah naik kereta ini. Mungkin akan menarik meski tiketnya cukup mahal, Rp300.000,- untuk hari biasa. Kalau ramai, tiket bisa melambung sampai Rp350.000,-. Saya membeli tiketnya melalui kantor pos. Saya baru tahu hal ini setelah mengecek laman situs PT Kereta Api. Kita cukup datang ke kantor pos yang ada fasilitas onlinenya lalu sampaikan pemesanan kita, dan kita bisa langsung mendapat kupon tiket secara langsung. Asyik bukan? Tentu saja selain kantor pos kita bisa pula memesan tiket melalui layanan telpon dan membayar melalui ATM.

Cerita berlanjut, tapi saya kembali sibuk dengan pekerjaan. Istri sibuk dengan ujian kuliahnya. Dan rencana perjalanan ini tiba-tiba terabaikan.

Akhirnya kami berangkat. Kereta api Gajayana menurut pendapat saya sangat bagus. Ia sudah memakai gerbong terbaru produksi PT. Inka, Madiun, perusahaan lokal khusus manufaktur kereta api. Gerbongnya terlihat canggih dan modern. Ada loker penyimpanan luas dan lega yang mirip di pesawat terbang. Tas ukuran 75cm bisa masuk. Toiletnya pun cukup lapang, ukurannya sekitar 1,5 m x 1,5 m. Sangat nyaman deh. Hanya satu hal, lama perjalanan Jakarta-Malang menurut jadwalnya adalah 15 jam. Sangat lama. Tapi syukurlah kami bisa menghadapinya, meski dengan badan penat dan capek.

Malang adalah nostalgia bagi saya. Saya menempuh pendidikan setingkat SMA selama tiga tahun di kota ini. Saya terakhir berkunjung pada 2004, dan itu hanya kunjungan setengah hari. Jadi kunjungan pada 2010 ini merupakan nostalgia lama yang tertunda. Pada sekitar pukul 10 siang kami menginjakkan kaki di Malang.

Wisata Kuliner

Setelah silaturrahmi pada bekas induk semang saya di daerah Bareng (pusat Malang) dan Sawojajar (timur luar Malang), saya mengajak istri dan putri kami yang berusia empat tahun, bernostalgia dengan makanan ala Malang yang dulu saya santap.

Kami sempat mencicipi pecel di Jl. Kawi pada pagi hari yang mendung itu. Pecel ini masih berdiri, dengan konsep dan layanan yang sama, persis 15 tahun lalu. Rasanya juga mirip saya kira. Maklum saya hampir lupa rasanya. Harga sebuah nasi pecel dengan bumbu dan sayur dan sebuah tempe adalah Rp5000,-. Dulu, pada jaman saya sekolah dan ngekos, harga pecel ini termasuk kelas mahal.

Selain ke pecel Kawi, kami juga berkunjung ke Toko Oen yang terletak di samping Toko Buku Gramedia di Jl. Basuki Rahmat. Ini adalah sebuah rumah makan yang berdiri sejak masa kolonial Belanda. Yang terkenal dari restoran ini adalah konsepnya yang mengusung gaya jaman dulu, dari interior hingga menunya. Menu utamanya, yang juga terkenal, adalah es krim dan makanan Barat. Selain di Malang, Toko Oen lainnya berada di Semarang, Jawa Tengah dan juga di negeri Belanda. Kami pernah membaca bahwa yang di Malang bukan dimiliki jaringan keluarga Oen lagi. Tapi itu tidak begitu penting, selain juga tidak sempat menanyakan langsung, yang jelas Toko Oen adalah peninggalan sejarah kota Malang dan restoran ini menjadi daya tarik wisata sendiri bagi kota ini. Karena dulu hanya anak kos, saya belum pernah mencicipi restorani ini. Dari luar terlihat pengunjung restoran ini adalah bule-bule. Pasti mahal, begitu pikir saya.

Ternyata, harganya memang lebih agak mahal, tapi masih terjangkau. Wajarlah menurut saya. Es krimnya paling mahal Rp30.000,-. Kami mencicipi Banana Split dan satu lagi es California sesuatu, yang saya tak ingat nama lengkapnya. Rasa Banana Split-nya memang halus. Putri saya yang memang penyuka es krim langsung asyik menikmatinya. Kalau es California itu rasanya kurang pas, menurut saya esnya terlalu banyak. Tapi ada campuran manisan buah di dalamnya. Ini mirip makanan kecil saya dulu, hehehe. Kami tidak mencicipi makanan karena saya perhatikan menu di situ banyak mengandung babi.

Setelah dari Oen, kami mampir ke masjid Agung di barat alun-alun kota Malang untuk ibadah Dhuhur. Setelah itu kami lalu menuju pojok timur alun-alun untuk menikmati tahu telor, harganya Rp6.000,- per porsi. Makanan ini adalah nostalgia bagi saya. Dulu, ketika suka keluyuran ke Gramedia, atau ke Blok M (julukan Jl. Majapahit) untuk berburu buku bekas, atau juga nonton di Sarinah, salah satu tempat makan yang terjangkau adalah kios tahu telor ini. Tapi rasanya aneh. Maklum saja, pagi hari kami sudah menikmati pecel, makanan siang dengan bumbu kacang mungkin jadi kurang terasa. Tidak ada sayurnya, pula!

Pada keesokan harinya, kami menikmati bakso bakar yang ada di Jl. Pahlawan Trip. Wow, sungguh asyik kota Malang yang memang terkenal dengan bakso dan bakwannya ini. Bakso bakar ini rasanya enak, unsur MSG-nya pun tidak terlalu terasa. Dan yang paling menarik, harganya terjangkau. Saya lupa harga masing-masing dan tidak sempat membuat dokumentasi, tapi kalau tidak salah saya hanya perlu membayar Rp30-ribuan untuk enam porsi bakso dan beserta dua gelas jus (tiga porsi dibungkus, hehehe!).

Rencana ke Bromo yang Gagal

Akhirnya kembali ke rencana perjalanan ke Bromo. Kami berdiskusi keras tentang hal ini. Saya tak ingin mengecewakan istri yang sangat menginginkan berkunjung ke sana. Sementara itu, saya juga ingin kita rasional. Kami mengajak anak kami yang masih empat tahun, dan di tengah perjalanan, ternyata persiapan kami kurang. Kami juga meminta pendapat pada orang-orang yang pernah ke sana. Setelah berpikir cukup lama, kami rasa usia anak kami masih terlalu kecil. Coba ia sudah enam atau tujuh tahun, mungkin ia bisa menikmati suasana Bromo. Faktor ini menjadi penentu keputusan kami. Akhirnya keputusan dibuat. Kami membatalkan rencana ke Bromo.

Kadangkala suatu rencana perjalanan bisa gagal. Suatu waktu, pembatalan rencana itu bahkan bisa lebih penting daripada keasyikan perjalanan itu sendiri. Mungkin faktor keselamatan, hal pembiayaan membengkak, mungkin juga kesehatan, dan banyak hal-hal yang bisa mempengaruhi lainnya. Apalagi bagi pelancong yang sudah berkeluarga seperti kami. Tentu, perencanaan yang jauh lebih baik akan jauh lebih sempurna. Kami memang kerang matang membahas hal ini. Kami pun memanen akibatnya.

Itu pelajaran berharga bagi kami. Dalam setiap perjalanan kami harus mempersiapkan dan merencanakan dengan matang. Setiap perencanaan yang kurang matang selalu berakibat fatal, entah gagal atau beresiko. Saya hanya bersyukur gagalnya rencana ini “hanya” dalam perjalanan lokal, rasa kehilangannya tidak terlalu mendalam. Bayangkan bila ini rencana perjalanan di luar negeri, padahal kita sudah menginjak tanah negeri itu. Sangat bisa terjadi dan sangat sayang, bukan?

Disunting oleh SA 30/05/2010